Makassar, Suku Bugis, Kebiasaan ‘Bunuh Membunuh’ dan Pengalaman Minoritas yang Menyenangkan

“Lo anak mana, sih?” Seorang teman beda fakultas bertanya pada saya setelah kami kenalan di acara orientasi universitas.

“Dari Makassar, Sulawesi,” jawab saya.

‘Wow, ini pertama kali dalam hidup gue ketemu sama orang Sulawesi!”

Entah harus bete atau terharu.

Itu kejadian 20 tahun lalu. Merantau pertama kali ke Pulau Jawa, setelah hasil UMPTN membawa saya mewujudkan mimpi untuk kuliah di ibukota. Mudah-mudahan orang Makassar sudah tenar di Jakarta sekarang.

Ada juga yang merespons dengan, “Ooo dari Makassar. Gue tau tuh lagu sana. Anging Mammiri, kan? Lo tau dong artinya?”

“Enggak tahu. Gue kan orang Bugis.”

“Loh, katanya dari Makassar.”

Jadi begini. Makassar adalah nama kota ibukota dari provinsi Sulawesi Selatan sekaligus menjadi salah satu nama suku terbesar di sana.

Lho memangnya ada berapa suku, sih? Banyaaaaaak.

4 suku terbesar adalah : Makassar, Bugis, Toraja, dan Mandar. Tapi beberapa tahun lalu beberapa wilayah yang dihuni mayoritas suku Mandar sudah memisahkan diri menjadi provinsi baru, Sulawesi Barat.

Rumah adat khas Suku Toraja (Gambar : sulselprov.go.id)

Bahasa Bugis itu jauh berbeda dengan bahasa Makassar. Makanya lahir dan besar di Makassar pun belum tentu bisa berbahasa Makassar. Saya fasih 80% bahasa Bugis, tapi bahasa Makassar saya mungkin cuma 10% saja.

Sehari-hari di Kota Makassar, kami menggunakan bahasa Indonesia dengan logat/aksen lokal. Urusan bahasa ini pun sempat membuat proses adaptasi saya menjadi berwarna.

Pantai Losari, Makassar (Gambar : tempo.co)

Suatu malam di tempat kos, kami menonton beramai-ramai di ruang tamu. Beberapa sudah mulai mengantuk dan mengajak yang lain kembali ke kamar.

Mereka meninggalkan ruangan tanpa mematikan televisi. Spontan saya bertanya, “Televisinya tidak dibunuh?”

Mereka terlihat syok dan melihat ke arah saya, “Ha? Siapa yang dibunuh?”

“Ya televisinya.” Saya kebingungan melihat tampang mereka yang jadi horor begitu.

Spontan pada ngakak. Saya akhirnya sadar kalau kata “membunuh” tentu mengagetkan buat orang di luar Sulsel hehehe. Sementara kami di Makassar istilah mematikan alat-alat listrik sehari-hari ya biasa saja menggunakan kata “bunuh”.

Bingung bahasa enggak cuma yang serem-serem macam bunuh membunuh ini saja. Yang simpel-simpel macam membedakan ubi vs singkong saja lumayan bikin tukang gorengan depan Danau UI bete hahahaha.

Ceritanya pas lagi Ospek Universitas di suatu siang lapar banget dan dekat situ adanya tukang gorengan. Ramai yang beli. Jadi sambil ngantri kami langsung menyeletuk satu persatu. Saya ikutan, “Ubi ya, Bang.”

Saya tidak terlalu memperhatikan saat si Abang masuk-masukin pesanan ke kantong kertas. Langsung bayar, main ambil saja.

Saat agak jauh dan merogoh isinya baru kelihatan, alamak, saya ngomel dalam hati, “Kok masukinnya salah?”

Saya balik ke abang-abang tadi, “Bang, saya pesannya ubi kok ngasihnya ubi jalar?”

Abangnya bengong, “Itu kan memang ubi, Neng!”

“Bukaaaaaan. Maksud saya tuh iniiiiiii…” Sambil menunjuk ke salah satu kelompok gorengan yang ada di wajan si Abang.

“Ya ampun, ini mah singkong! Ubi tuh yang iniiiiiii…”

Saya tetap ngotot, “Ini Ubi jalar, Bang!”

Untung abangnya enggak macam netizen masa kini yang doyan eyel-eyelan panjang lebar, “Ya udah, ganti aja sini.”

Ternyata ubi kayu yang umumnya kami sebut ‘Ubi’ di Makassar dikenali sebagai singkong di pergaulan ibukota. Ubi manis ya namanya Ubi Jalar kalau di Makassar.

Kembali mengalami masalah yang sama saat mau beli martabak. Saya pesan martabak eh dikasihnya terang bulan. Saya protes, dong!

Abangnya malah bingung, “Jangan becanda mentang-mentang udah malam ngomongin bulan. Ini martabak.”

Ternyata, istilah martabak itu default buat martabak manis. Martabak yang saya maksud adalah martabak telur. Karena di Makassar, tidak ada istilah martabak manis. Adanya Terang Bulan!

Seru ya jadi orang Indonesia. Sukunya ratusan, agamanya tidak hanya satu.

Menjadi minoritas pun tidak selalu teraniaya dan penuh drama. Banyak juga seru-serunya hehehe.

Yang penting jangan gampang baper dan sadari salah satu resiko minoritas ya kurang tenar.Β  Kurang tenar bisa mengundang banyak kesalahpahaman. Seperti teman-teman di ibukota di berbagai pertemanan yang sering banget berkomentar, “Wah, enak ya di Jakarta, Jee. Ketemu banyak makanan enak-enak.”

Banyak yang mengira orang-orang di luar Jawa itu penderitaannya seputar susah makan gitu-gitu. Padahal saya stres lho waktu pertama ngekos di Depok kenapa pada doyan makan Lele. Sumpah rasanya tawar enggak jelas di lidah saya yang dari kecil dibesarkan dekat pantai yang akrab dengan ikan-ikan laut yang gurihnya alami selevel Ikan Baronang, Ikan Bolu (Bandeng ala Sulawesi), dsb.

Ada dangke, keju tradisional khas dari susu kerbau yang berasal dari wilayah Enrekang, Sulawesi Selatan. Ada Nasu Likku / Likkua Manu’ yang mirip rendang ayam. Ada burasa’, lontong yang rasanya gurih karena dimasak dengan santan dibungkus daun pisang.

Selain Coto Makassar dan Sop Konro yang sudah banyak dikenal, masih ada Pallumara, Pallubasa atau Pallubutung. Semua diawali dengan kata Pallu tapi bahan dasar dari ketiga jenis masakan tersebut beda-beda : pallumara – ikan, pallubasa – daging sapi + jeroan, pallubutung – pisang raja.

Alih-alih baperan, mending manfaatkan kesempatan untuk memperkenalkan “diri”. Misalnya saat memasuki dunia kerja di mana rekan kerja saya seruangan kebanyakan orang Jawa. Ledek-ledekannya tuh semacam, “Eh Jee, di Makassar ada TV gak sih?” atau “Di Sulawesi orang ke mana-mana ngendarain babi hutan gitu kali ya, Jee.” Woooiiiii -_-.

Mereka juga biasanya otomatis berbahasa Jawa kepada sesama orang Jawa padahal lagi meeting sama saya juga. Daripada ceramah panjang lebar mengenai “Satu nusa satu bangsa satu bahasa kita bahasa persatuan Bahasa Indonesia”, mending bersikap lentur saja.

Saya meminta diajarkan bahasa Jawa. Dulu teringat susah payahnya saya membedakan cara mengucapkan LORO (dua) vs LORO (sakit) dalam bahasa Jawa hahaha.

Lama-lama saya pun mulai becanda dengan bahasa Bugis kepada mereka.

Saking uniknya bahasa Bugis di telinga teman-teman kantor, kalau mereka lagi suntuk, saya disuruh ngobrol pakai Bahasa Bugis di depan orang-orang sebagai hiburan. Ya nasib, ya nasib hihihi. Tapi akhirnya mereka pun mau juga belajar bahasa Bugis. Biasanya pada semangat di kata makian. Saya ajarkan kata Ceba, yang artinya monyet.

Rasanya gimanaaaaa gitu, di ruangan divisi saya sering terdengar ucapan, “Aaaahh, dasar ceba lu!” Hahaha.

Kan jadinya masing-masing menambah perbendaharaan bahasa baru daripada nyinyir balik. Tahukah kalian menguasai makin banyak bahasa makin memperkecil resiko terkena penyakit Alzheimer, lho.

Tidak berarti yang mayoritas kita pasrahkan menjajah yang minoritas dong, ya. Kalau cuma bully-bully an dari teman-teman dekat yang jelas-jelas becandaan santai ya diterimakan saja. Lemesin aja shayyyyyy :D.

Lebih baik fleksibel saja. Namanya minoritas ya inginnya metode inklusi, saling menerima. Cuma praktik di lapangan ya seringnya kan masih mentok di “situ yang dikit situ yang adaptasi”.

Jangan digenggam terlalu kuat, mari dikendorkan segala perbedaan yang ada.Β Mudah-mudahan akan lebih banyak terasa yang indah-indahnya ketimbang naik pitamnya hehehe.

Manusia toh terbangun dan dibentuk oleh karakter bukan oleh identitas suku, agama, dan ras. Yang akan relevan selamanya ya budi baik kita kepada sesama tanpa memandang embel-embel identitas tadi, bukan?

Seperti kata pepatah Bugis, β€œIninnawa mitu denre sisappa, sipudoko, sirampe teppaja” (Hanya kebaikan yang akan saling mencari, saling menjaga, dalam kenangan yang tiada putus-putusnya).

Ayok, jalan-jalan ke Kota Makassar!

Pengaruh media sosial

Ruang Privasi vs Ruang Publik di Era Medsos?


FB masih mentok bahas Bu Tedjo. Twitter dan IG lagi rame bahas IG story seseadek artis yang lagi naik daun.

Wow, dia post video public di IG story akunnya sendiri. Besar kemungkinan lagi mabok πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ.

Langsung direpost membabibuta di akun gosip 😰😰😰. Duh, serem euy. Konon titel brand ambassador di beberapa produk langsung dicabut 😰.
Tiati Dek. Namanya public figure. Kalo mabok jangan main hape? 😳.

Susah juga mau nahan netijen yang julid. Secara praktik, batas penerapan UU ITE juga sulit diterapkan. Apalagi dese tenarnya gara-gara film yang memberi pesan moral soal bahayanya seks bebas pada usia sekolah πŸ˜₯.

Iya, itu hak/urusan pribadi. Who are we to judge. Tapi ya kalo ke-post di IG secara public ya gimana dah πŸ‘€.

Kalau sudah masuk ruang publik, ada konsekuensi yang mau gak mau harus diterima.

Era medsos menata ulang definisi “ruang publik”. Inilah masalahnya. Jadi sering terbentur, “Ah itu kan urusan pribadi”, “Jangan julid entar karma loh”.

Problemnya, media sosial itu bukan diari. Bahkan bukan media lokal. Selevel selebritis hampir selalu menggunakan status PUBLIC. Yang artinya apa pun yang mereka posting akan menjadi konsumsi SELURUH DUNIA. Literally!

Pengaruh media sosial

Bahkan media cetak nasional semisal tabloid gosip di era 90an belum tentu aksesnya beneran ke seluruh nusantara. Tapi internet mematahkan keterbatasan ini. Dunia online membuat informasi melayang sepuasnya sampai jauh dengan kecepatan luar biasa.

Gambar : hongkiat.com

Sejak kembali membuka gembok akun IG, saya pikir 10x sebelum posting story. No more story tentang keseharian, biasanya posting rutinitas yoga pagi. Posting kegiatan anak2 sore2. Posting tentang kegalauan mau beli sofa bla bla bla hahaha.

Sekarang ya isinya kayak FB. Gak posting soal kegiatan sehari-hari lagi 😁😁😁 .

Sejak media sosial merajalela, sepertinya kesempatan untuk mendapat perhatian publik makin “merata”. Maksudnya bukan hanya artis atau selebritis di dunia nyata yang mudah mendapatkan penggemar/follower/susbcriber.

Batasan soal apa yang harus diposting segala macam jadi sangat debatable. Apalagi sekarang ada profesi endorser. Endorser menjadi profesi yang lumayan dikejar apalagi di era pandemi ini.

Walau makin mudah untuk mendapat tempat di “publik” tapi resikonya kan juga tidak sedikit. Salah posting sedikit saja, biar langsung duaaaarrrrr :(.

Definisi bijak bermedsos pun jadi abu-abu. Banyak kesempatan yang muncul, namun makin tinggi pula resiko yang harus ditanggung.

Jadi, balik ke era offline aja apa gimana hehehehe.

Sewa Rumah Cluster di Bintaro Sektor 9

Sewa rumah cluster di Bintaro ini spesifik di Sektor 9 karena sekolah anak-anak juga akhirnya di sektor 9 :D. Sedikit latar belakang kenapa tulisan ini terjadi hihihi, jadi setelah lebih dari satu dekade merantau, kami sekeluarga balik ke tanah air.

Karena anak-anak ini sudah terlanjur lahir dan besar serta memperoleh pendidikan di luar negeri semua, jadilah kami mencari sekolah internasional di sekitaran Jakarta. Di Jakartanya persis, mahal euy, gak sanggup hahahaha.

Ketemulah sekolah internasional yang lumayan terjangkau di area Bintaro. Bintaro sektor 9 tepatnya.

Baca Juga : “Review Sekolah Internasional di Bintaro dan Sekitar”

Dari situlah mau gak mau harus cari rumah deket-deket sekolahan biar enggak ribet nanti-nantinya. Rumah kami di area Jakarta Selatan semua dan jauuuuhhh dari sekolah barunya anak-anak nanti huhuhu.

Jadi terciptalah proyek cari sewa rumah cluster di Bintaro. Kok cluster? Mempertimbangkan alasan keamanan salah satunya. Terus nyaman aja, biasanya kalau cluster yang modern juga gak ada sekat-sekat pagar jadi lebih akrab aja gitu ama tetangga. Harapannya sih gitu, entahlah kenyataan di lapangan nanti :p.

Baca Juga : “TK di Bintaro dan Sekitar, Daftar Nama Sekolah, Harga, Bahasa Pengantar, dan Biaya.”

Alasan lain kenapa harus cluster adalah kerapian. Biasanya yang cluster-cluster baru itu masih seragam dan belum boleh dirombak aneh-aneh. Jadi ya itu, rapi aja ngeliatnya ^_^.

Ternyata di sektor 9 banyak kok perumahan cluster. Tapi terus nyadar beberapa cluster itu ternyata terintegrasi dan dipegang pengembang. Nah, yang dipegang pengembang ini rata-rata cakep deh lingkungan segala macam. Lokasi pun oke.

Pengembang paling mapan yang menguasai Bintaro Sektor 9 adalah Pengembang Jaya / Bintaro Jaya. Bintaro Jaya sendiri clusternya ada yang lama ada yang baru.

Cluster lama di Bintaro Sektor 9 yang dipegang pengembang Jaya misalnya : Mertilang, Mateo, dll. Nah, kalau cluster yang lama-lama ini belum fokus dan desainnya belum minimalis. Juga sudah banyak rumah yang direnovasi. Clusternya juga belum terintegrasi dengan lingkungan sekitar.

Kami kan penginnya gak perlu yang gede-gede lah ya hehehe, yang penting rapi dan lingkungan nyaman. To get the feeling memang baiknya sewa dulu kan sebelum membeli. Lagian kalau beli butuh waktu lamaaaaa. Mending sewa aja dulu ;).

Baca Juga : “Catering Harian Masakan Rumahan Enak dan Murah di Bintaro”

Makanya akhirnya fokus ke cluster baru dari Bintaro Jaya yang masih dalam pengembangan, belum 100% jadi semua tapi udah cakep-cakep (dan mahal-mahal, damn! Hahahahaha) :

1- Oriana Permata

Ini lokasinya juga oke, deket dari lokasi sekolah anak-anak. Tapi langsung kami skip karena ternyata pas awal 2020 kemaren, banjiiiiiirrrr huhuhu. APa karena itu ya harga sewanya relatif lebih murah?

Baca Juga : “Cluster Bintaro Sektor 9”

Bisa jadi lebih murah karena termasuk cluster yang paling lama. Jadi usia bangunan sudah lama juga. Bangunan tuh makin lama kan makin banyak masalah hehehe. Apalagi kalo gak dirawat.

Harga sewa per Juni 2020 pas kami hunting, ada yang nawarin 45 juta per tahun untuk rumah 3+1 kamar tidur dan 2+1 kamar mandi. Plus satunya itu service area. Itu harga buka untuk rumah kosong (tapi biasanya sudah ada AC dan kitchen set).

Itu belum nego loh. Baru buka harga. Mungkin bisa ditekan sampai 40 atau di bawahnya? Monggo dicoba hehehe.

2- Emerald

Emerald ini lokasinya cukup mantap. Terbagi dalam 5 cluster : Townhouse, Terrace, Garden, Residence, dan yang terbarunya adalah View.

Tiap cluster Emerald ini bloknya banyak bener. Gede-gede. Tiap cluster punya pintu gerbang masing-masing. Ke luar pintu gerbang langsung jalanan gede. Ada supermarket Hero persis di samping Emerald-View.

Juga ada Fresh Market di seberangnya Emerald-VIew. Paling enak nih kalau tinggal di Emerald-View nya.

Kami belum jodoh saja. Gak ketemu yang bener-bener cocok jadi gak nego harga juga.

Baca Juga : “Tempat Makan Enak dan Unik di BSD.”

Untuk info harga. Rumah dengan fasilitas kamar tidur 3+1 dan kamar mandi 2+1, buka harga rata-rata 50-55 juta per tahun. Itu kosongan ya. Paling dikasih AC atau kitchen set dan beberapa furniture kalau beruntung.

Saya rasa sih masih bisa ditekan sampai 45-50 juta per tahun. Kalau fully furnished atau semi furnished tentu lebih mahal, tergantung kondisi barang yang disediakan oleh landlord.

Sebagai informasi teman saya di JUni 2020 mulai ngontrak di Emerald View dengan fasilitas kamar tidur 4+1 dan kamar mandi 3+1, kondisi rumah baru dicat dan masih fresh, harga sewanya 70 juta setahun.

3 – Discovery Residences

Naini, akhirnya ngontrak di sini. Duh loveable banget cluster yang ini. Soal harga bisa dibilang sama dengan Emerald walau cluster Discovery terbilang lebih baru.

Tapi Discovery ini punya akses jalan sendiri. Enak buat lari-lari pagi. BIsa muter ampe jauh dan ada taman gede di tengah-tengah gitu. Nyaman banget lah pokoknya.

Baca Juga : “Tempat Memancing Keren di Tangerang.”

Discovery Residences so far lokasi utamanya terbagi 2. Saya tinggal di sisi yang sebelahan dengan RSPI Bintaro. Satunya lagi harus ngelewatin McD dan beberapa unit perkantoran.

Tawaran harga untuk rumah kamar tidur 3+1, kamar mandi 2+1, dan kosong mirip dengan EMerald, dibuka dengan harga 50-55 juta per tahun. Itu belum nego ya. Inget, kalok pinter nego pasti bisa dapat di bawah itu hehehehe.

Kami gak terlalu santai sih jadi berasa diburu-buru gak puas negonya :p. Akhirnya dapat rumah yang fully furnished. Tapi barang-barangnya biasa banget udah tua-tua gitu huhuhu. ACnya lengkap, kitchen set udah ada. Segala TV, kulkas, meja makan, tempat tidur, kasur, lemari, komplit!

Tapi ya gitu ya, furniture standar-standar aja :D. Harga sewa 62 juta setahun. Lumayan lah, soalnya gak perlu beli-beli barang lagi. Tinggal cuuusss bawa koper hehehe.

Nama-nama cluster di Discovery :

Discovery Cielo – Discovery Terra – Discovery Lumina – Discovery Fiore – Discovery Conserva – Discovery Eola – Discovery Famine – Discovery Serenity, dan yang masih baru banget … Discovery Amore.

4- Kebayoran Residences

Ini juga sempat kami lihat-lihat. Tapi clusternya lebih baru lagi. Juga terkesan lebih mewah makanya harga sewa lebih mahal. AKhirnya dicoret dari list. Ngapain deh nyari yang lebih mahal kalok udah ketemu yang dirasa bagus hehehe.

Rumahnya masih seger-seger karena baru hehehe. Kemarin ingat, ada rumah dengan tanah 70 an meter persegi, kamar tidur 2+1 ditawarin 55 juta per tahun. Kecil tapi mahaaaal. Ogah lah :p.

5- Bukit Menteng Pavillion

Yang satu ini baca namanya aja udah gentar hahahahaha. Jadi bener-bener gak dilirik sama sekali :p. Gak punya banyak waktu untuk ngider-ngider juga sih.

Mungkin kapan-kapan bolehlah ya disambangi buat kepo-kepo :D.

Begitulah sekelumit soal proyek sewa rumah cluster di Bintaro Sektor 9.

Kacang Tanah Untuk Diet … Bisakah?

Kacang tanah untuk diet, pernah dengar? 

“Kacang nih. Mau?”
“Enggaaaaa, lagi jerawatan, niii…”
“Huh?”
“Iyeeeee … kacang bikin jerawat makin-makin tauk!”

kacang tanah untuk diet

Nah lhooooo, berarti kacang malah bikin masalah kulit? Makan kacang malah membuat wajah makin enggak mulus. Boro-boro buat diet. Ngapain diet kalau muka bruntusan yak? Kita sih penginnya muka alus, bodi kurus, kulit mulus *maeninBuluMata*. 

Btw, secara spesifik di sini lagi bahas kacang tanah doang, ya. Kacang jenis ini yang paling populer di tanah air. Kalau almond dkk sih berat di ongkos huhuhu -_-.

Kenapa sih dengan kacang tanah?

Iya ya, ada apa dengan kacang tanah? Ya tidak ada apa-apa kok :p.

Maksudnya enggak ada efek buruk yang serius atau yang gimana-gimana. Kacang tanah (direbus atau disangrai) justru tergolong ke dalam kategori cemilan sehat ;). 

Baca :Β Resep Ampyang Kacang Gula Merah

Tapiiiiii, kalau kacang tanahnya digoreng, manfaat sehatnya bisa dibilang jadi berkurang drastis. Dirusak sama suhu membara si minyak goreng. Jadi, kalau mau bikin kering tempe, kacang tanah cukup disangrai gitu-gitu enggak perlu digoreng. Rasanya tetap enak, kok ^_^.

Ayo kenalan dengan si kacang tanah dulu :

1. Salah satu kandungan utama kacang tanah adalah Magnesium. Mineral yang ini sangat perlu untuk “menaklukkan” radikal bebas yang kesasar ke pembuluh darah, sel tubuh dan jantung. Plus memiliki Omega 3 alami yang fungsinya mengencerkan kekentalan darah. 

Makanya, banyak hasil penelitian yang menunjukkan 

manfaat kacang tanah sebagai penurun kolesterol ;). 

Nyata, dong. Kacang tanah oke untuk kesehatan jantung.

2. Tapiiiiiiii … kacang tanah termasuk makanan yang kadar lemaknya tidak rendah. Kabar baiknya, lemak yang dikandung oleh kacang tanah (alami) adalah lemak baik atau lemak sehat.

Kabar buruknya, ya tetap aja kandungan lemaknya tinggi hehehe. 

Jika dikonsumsi berlebihan ya pasti efeknya membuat badan makin montok (berat badan nambah). Hukum alam kalau tubuh kemasukan asupan kalori lebih.

Makanya, ngemil apa pun terkait kacang tanah memang harus dibatasi. Jangan makan satu toples atau dua toples sehari *tepokJidat*.

Segenggam tangan kacang tanah sehari bisa dianggap pas. Kalau konsumsinya dalam takaran ideal efeknya bisa membantu penurunan berat badan karena si kacang tanah ini ternyata kaya serat juga.

Intinya, segala sesuatu yang berlebihan pastinya kurang baik ;).

3. Klaim jika kacang tanah bikin jerawatan? Nah ini sih, fitnah! *pukPukKacangTanah*. 

Jerawat timbul umumnya dipicu oleh pH darah yang terlalu asam. Kalau terlalu asam, mengakibatkan darah lebih pekat dan akan mengganggu penyaluran nutrisi dan oksigen.

Kalau sudah begini, terus mengkonsumsi kacang tanah yang jelas-jelas berlemak abis plus sifatnya sebagai pembentuk asam tentu memicu kulit meradang yang salah satu efeknya adalah si jerawat tadi itu.

Itulah makanyaaaaaa … makan sayur, makan sayur, makan sayur :D.

Plus makan buah, makan buah, makan buah jugaaaaa. Sayuran dan buah-buahan yang kondisinya segar (jangan lupa dicuci bersih dan tak perlu dimasak) merupakan pembentuk basa utama. Akan membantu menetralkan kondisi pH yang terlalu asam.

Intinya … keseimbangan ^_^.

Pahamilah bahwa pembentuk basa dalam tubuh, jenis makanannya cukup terbatas sementara sisanya adalah pembentuk asam. Ayok kita konsumsi sayur/buah segar  MINIMAL SAMA  BANYAK -nya dengan asupan jenis lain seperti : nasi dan karbo lainnya, protein hewani, susu dsb.

Hidup sayur dan buah! (y).

4. Masih banyak kandungan gizi lain dalam kacang tanah. Seperti misalnya vitamin A, vitamin B kompleks, zat besi, kolin dan kalsium. 

Kacang tanah pun mengandung protein nabati yang tidak kalah tinggi. Jadi, asupan protein enggak melulu harus dari protein hewani. Sudah sering saya tulis berulang kali di berbagai resep tahu-tempe-jamur sebelum-sebelumnya :D.


So, jangan jiper mengkonsumsi kacang tanah lagi ya. Sebaiknya dimakan dengan cara TIDAK DIGORENG menggenang dalam minyak panas. 
Dan ingat prinsip “jangan lebay” dalam hal apa pun. Kalau kata Mbak Vetty Vera, “Terlalu banyak …jangan. Terlalu sedikit … jangan. Yang sedang-sedang saja” :p.

Sumber : Buku Rahasia Masak Wied Harry (Oleh : Wied Harry) 

Jadi jawaban untuk judul tulisannya sudah clear, yes? Tentu saja kacang tanah bagus untuk diet :). 

Kembali ke Indonesia

Setelah 11 tahun merantau terus dan pulang pas mudik doang hihihi, akhirnyaaaaa…kami sekeluarga kembali ke Indonesia.

Ini rencana lama. Sudah sejak akhir tahun 2019 kemarin sudah ketok palu, tok! Sepakat untuk kembali ke Indonesia setelah suami mendapat offer dari perusahaan di Jakarta.

Siapa yang menyangka proses kepulangan harus terjadi di tengah pandemi. Tapi rencana udah gak mungkin mundur lagi. Suami juga udah pulang ke Jakarta sebenarnya dari Februari. Pas April suami balik lagi ke Ireland buat jemput saya dan anak-anak.

Ini vlog proses kepulangan ke tanah air di masa pandemi 2020 yang prosesnya lumayan riweuh hehehehe.

Tulisan lengkap soal prosedur kepulangan dari luar negeri di Bandara Soetta terkait surat PCR Covid 19 segala macam bisa dilihat di postingan ini yaaaa πŸ˜ŠπŸ™ .

Yang tadi ini vlog pribadi aja. Sekadar kenang-kenangan betapa serunya proses repatriasi kami yang kemaren itu πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜….

Pagi-pagi udah bangun dan rapiin apartemen untuk terakhir kalinya. Sedih sih tapi no more drama karena masih panjang ini perjalanaaaan πŸ™„πŸ€­πŸ˜….

Jam 7 cusss ke Dublin. Antara pengin nangis sama masih ngantuk bangun dari jam 4. Mungkin terakhir kalinya melintasi jalan-jalan di Pulau Zamrud ini 😘.

Duh, belum apa-apa udah nostalgia aja bayangin jalan-jalan yang dulu-dulu pas masih di Ireland.

Yak, balik ke topik.

Penerbangan ke Amsterdam dari Dublin ternyata penuh! Gimana social distancingnya dah πŸ˜œπŸ˜…. Mendarat di Schiphol baru terasa sepiiiiii. Sedih lagi euy. Mana harus transit 23 jam 😭😭😭. Kami gak punya visa Schengen jadi stuck di International area selama itu huhuhu.

Hotel cuma ada 2. Hotel Mercure tutup, hotel satu lagi (Yotel Air) fully booked! 😰😰😰 Jadilah ngemper di kursi. Mana sepi. Takut juga mau tidur. Saya cuma tidur 3 jam. Terus gak bisa tidur lagi. Jadi jagain anak-anak aja yang lagi bobok.

Sempet jalan jalan ngerekam sudut-sudut bandara yang bener-bener senyap. Banyakan petugas yang lalu lalang daripada penumpang pesawat πŸ˜…. Lihat di vlog di link paling pertama di atas yak.

Kalau yang ini foto-foto narsis aja sekeluarga hihihihi :

Tulisan merah menyala “CANCELED” mendominasi papan pengumuman jadwal penerbangan 😒😒😒. Penerbangan ke Jakarta juga hanya terisi 30-40% dari total kapasitas pesawat.

Di beberapa gerai penjual oleh-oleh di Schiphol, kue wafel banting harga jadi 1 euro gitu. Daripada expired gitu kali ya, mending dijual murah. Itu juga entah bakal habis atau enggak. Secara penumpang sepiiiiiii :(,

Enak sih jadinya. Bisa social distancing dan toilet gak pernah ngantri hehehe. Bisa tidur di 3 kursi sekaligus per orang 😜🀭.

Lumayan lama nungguin buat boarding. Agak delay terbangnya. Penerbangan dari Amsterdam ini salah satu yang jadi tumpuan harapan bagi diaspora yang harus balik di masa pandemi. Penerbangan Timur Tengah masih banyak yang ‘libur’.

Sibuk dah pastinya foto-foto pas nunggu boarding :p.

Selanjutnya tiba di Jakarta dan proses ba bi Bu nya bisa kalian cek di link pertama tadi tuh yang saya kasih di paragraf awal tulisan ini.

And here we are, sudah hampir 2 minggu berada di tanah air. Agak ngumpet karena lagi karantina mandiri hehehe. Tapi kemaren sempet keluar karena ada kepentingan mendesak.