Bahrah Mekkah pic Dani Rosyadi

Piknik ala Gurun, Petualangan di Kotak Pasir Raksasa

 

(dimuat di Majalah Parenting Indonesia edisi Oktober 2015)

Oleh Jihan Davincka

***

Bermukim di Arab Saudi, Sang Negeri Penjaga Dua Kota Suci, memang agak unik. Ada beberapa peraturan lokal yang tidak umum diberlakukan di negara-negara lain. Semisal aturan bahwa perempuan tidak boleh menyetir mobil dan harus mengenakan abaya panjang berwarna hitam di ruang-ruang publik atau tempat-tempat umum.

Awal bermukim di kota Jeddah, bukan cuma masalah penyesuaian dengan banyaknya hal baru yang memenuhi kepala. Tapi juga kekhawatiran terhadap lingkungan baru bagi anak-anak.

Selama di Jakarta, saya tinggal dalam lingkungan perumahan kompleks. Tiap sore anak-anak bebas bermain di luar rumah. Bercanda dengan teman-temannya atau sekadar berlari-lari sambil bermain bola. Naik sepeda ramai-ramai juga sering.

Di Jeddah, suasananya berbeda. Kami tinggal dalam lingkungan apartemen. Lingkungan sehari-hari cenderung tertutup. Perempuan tidak terlalu  bebas kemana-mana. Boleh saja, sih, kemana-mana sendirian tanpa suami. Tapi tidak mungkin tiap sore menenteng anak bermain di playground yang harus ditempuh dengan berkendaraan.

Ternyata, ada banyak tempat-tempat menarik selain dua kota suci Mekkah dan Madinah. Tiap minggu, saya sekeluarga bermain ke taman bermain gratis yang tersebar di berbagai penjuru kota. Tiap bulan kami piknik bersama-sama dengan keluarga asal Indonesia lainnya yang bermukim di Jeddah. Semacam acara gathering keluarga.

Kehidupan perempuan di Jeddah Jihan Davincka
Teman-teman di Jeddah 🙂

Salah satu sisi positif tinggal di Saudi karena banyaknya keluarga perantau yang sama-sama berasal dari Indonesia juga. Rasa kesepian mudah dihalau karena banyak teman untuk berbagi.

Menghabiskan Senja di Gurun Bahrah

Lokasi: Kota Bahrah 

No. Telp./Website: –

Jam Buka: Buka sepanjang waktu

Harga Tiket: Gratis

Anak-anak saya dari dulu paling suka bermain pasir. Di taman-taman bermain umumnya disediakan arena untuk bermain pasir berupa sebuah kotak yang luasnya beragam. Umumnya memuat hingga belasan anak untuk bermain pasir dalam waktu yang sama.

Bayangkan bagaimana senangnya mereka diajak piknik ke padang pasir nan luas. Beramai-ramai pula dengan teman-temannya yang lain.

Belum lengkap  rasanya tinggal di Negeri Gurun jika belum mencoba menaklukkan daerah gurun. Di suatu sore saat akhir pekan, kami diajak teman-teman menghabiskan senja di Gurun Bahrah.

Gurun Bahrah Padang Pasir di Arab Saudi
Gurun Bahrah, Arab Saudi, foto : Dani Rosyadi

Kami pun pernah beramai-ramai menjajal Gurun Bahrah yang letaknya tidak jauh dari Kota Mekkah. Berangkat dari Kota Jeddah, hanya perlu menyetir sekitar 30-40 menit.

Sepanjang perjalanan saja, banyak area gurun berpasir yang kami lewati. Kepala anak-anak sudah menempel di kaca mobil, “Nanti kita yang ke sana itu, ya, Ma. Nanti bikin benteng-benteng ya, Ma. Boleh guling-guling, ya, Ma?”

Mereka sudah tidak sabar. Saya menanggapi sambil tertawa kecil, “Iya, iya. Nanti tempatnya kayak gitu. Tapi enggak boleh dorong-dorongan, ya.”

Benar saja. Anak-anak tampaknya tidak membuang waktu begitu kami tiba di lokasi. Anak-anak kami meluncur bolak balik di atas gundukan-gundukan pasir  yang berbentuk bukit-bukit kecil.

Pasirnya halus nyaris tanpa kerikil sama sekali, begitu diinjak biasanya langsung terburai. Asyiklah anak-anak menjerit sambil tertawa, “Awas tenggelam, pasirnya goyang-goyang.”

Bahrah Mekkah pic Dani Rosyadi
Anak-anak di Padang Bahrah (foto : Dani ROsyadi)

Kami, para orang tua saling melempar tawa melihat hebohnya mereka lari-larian ke sana ke mari. Di mata mereka, wilayah gurun mungkin sudah semacam kotak pasir raksasa.

Angin agak kencang saat hari masih terang. Menjelang senja, barulah mereda. Saat itulah, para ibu-ibu segera menggelar tikar dan membongkar barang bawaan masing-masing. Jauh-jauh Selepas senja memang sudah berniat makan malam bersama di sana. Namanya orang Indonesia, tidak bisa lepas dari selera nusantara. Jauh-jauh ke gurun, menunya tetap saja bakso kuah dan sate ayam.

Menjelang malam, mentari yang menjadi satu-satunya sumber penerangan di wilayah gurun mulai menghilang. Lampu-lampu mobil kami nyalakan sebagai sumber cahaya. Makin seru makan bareng-bareng dalam gelap karena penerangan sangat terbatas.

Anak-anak yang sudah kelelahan tidak begitu sulit diminta untuk duduk dan makan.

Tapi tetap sulit dibujuk pulang.

“Sudah gelap enggak bisa main lagi. Besok-besok lagi, ya, mainnya. Pulang, yuk.”

Karena malam, penglihatan terbatas. Mereka jadi bertanya-tanya, “Pasirnya masih ada kan, ya?”

“Masih ada, kok. Masih.”

Piknik di gurun terbuka memang seru. Murah meriah secara biaya tapi anak-anak senangnya tetap optimal. Tapi sebaiknya dilakukan di awal-awal musim panas atau di penghujung musim dingin. Kalau musim dingin saat puncak-puncaknya, suhu terlalu rendah. Bisa menggigil apalagi kalau menjelang senja sampai malam. Di puncak musim panas sebaliknya, suhu terlalu panas.

Melihat Kereta Api Antik di Madain Saleh

Lokasi: Kota Al Ula 

No. Telp./Website: https://www.worldheritagesite.org/sites/alhijr.html

Jam Buka: 07.00 – 18.00 

Harga Tiket: Gratis. Tapi harus disertai pemandu. Tarif pemandu tergantung rombongan. Umumnya minimal 300 riyal untuk kelompok berkisar 20 an orang)

“Ada kereta, ada kereta! Serbuuu …” Anak-anak langsung berhamburan begitu mobil-mobil kami sudah terparkir rapi di sisi sebuah tempat yang diperkenalkan oleh pemandu sebagai stasiun kereta api zaman dulu.

Stasiunnya sama sekali sudah tidak terpakai. Tapi bangunannya masih lengkap. Sebuah kereta api lengkap dengan gerbongnya juga masih berdiri tegak.

Stasiun Kereta di Al Hijr Madain Saleh Arab Saudi
Stasiun kereta di Madain Saleh, foto : Dani Rosyadi

Stasiun ini peninggalan dari Kekaisaran Ottoman yang pernah berniat menghubungkan Mekkah-Madinah dengan kota-kota lainnya di jazirah Arab. Kereta-keretanya akan digunakan untuk mengangkut jemaah haji ke tanah suci.

Di Perang Dunia I, pembangunannya terbengkalai. Oleh pemerintah Saudi, stasiun dan keretanya direnovasi dan dijadikan tempat wisata. Lokasi stasiun ini juga menjadi  bagian dari Madain Saleh. Oleh UNESCO, situs ini dinobatkan sebagai salah satu “Warisan Budaya Dunia” tahun 2008.

Madain Saleh terletak di kota Al Ula, berjarak sekitar 400 km dari Madinah. Kali ini, pikniknya kembali beramai-ramai.

Dari lokasi stasiun dan kereta tadi, kami kembali menyetir ramai-ramai dengan mengekor Pak Pemandu di belakang jeep-nya. Pemandu kami, seorang laki-laki paruh baya, yang kami panggil dengan sebutan Abu Ahmad. Orangnya cukup jenaka dan tidak kaku. Beliau menerangkan kepada kami dalam Bahasa Inggris.

Berikutnya kami berhenti dimana banyak terdapat bangunan-bangunan yang terpahat di bukit batu. Abu Ahmad mengawali dengan ucapan, “You can pick your room. You’re going to stay at this hotel.”

Tentu saja maksudnya hanya bercanda. Bangunan-bangunan batu tadi dibangun di abad pertama oleh orang-orang dari suku Nabatean. Sebagian bangunan digunakan sebagai kuburan.

Abu Ahmad menerangkan dengan penuh semangat bahwa proses pembuatan bangunan tadi sangat unik. Mengandalkan tenaga manusia biasa. Hanya dipahat dengan menggunakan alat dari kayu dan batu disertai percikan air untuk melunakkan agar mudah dibentuk.  Sangat kami melongo, Abu Ahmad tersenyum puas, “Isn’t it amazing?”

Madain Saleh Al Hijr Kuburan Batu foto Dani Rosyadi Blog Jihan Davincka
Madain Saleh, foto : Dani Rosyadi

Di sekitar area tadi banyak wilayah padang pasir. Anak-anak berlarian ke sana kemari sambil berteriak-teriak.

Lokasi terakhir yang kami datangi bernama Ad Diwan. Bangunan batu khusus yang digunakan oleh orang-orang dari suku Nabatean tadi untuk berkumpul di acara-acara pemujaan. Ad Diwan juga berupa bangunan yang dibentuk dengan memahat perbukitan batu. Modelnya agak beda. Ruang tengahnya lebar dan tidak ada pintu.

Seharusnya masih ada beberapa titik yang biasanya ramai dikunjungi oleh para wisatawan. Sayang sekali, sudah terlalu sore untuk  melanjutkan jalan-jalan ke lokasi lainnya.

Karena anak-anak senang sekali bermain pasir, jadi cukup repot ketika harus mengumpulkan mereka masuk ke dalam mobil untuk melanjutkan perjalanan antar  lokasi tadi. Cukup makan waktu membujuk mereka.

Akhirnya sebelum senja benar-benar berada di puncaknya, kami sudah meninggalkan pintu gerbang Madain Saleh, hendak kembali ke Madinah, ke hotel tempat kami menginap.

Bersenang-senang di Pantai Thuwal

Lokasi: Kota Thuwal

No. Telp./Website: –

Jam Buka: Buka sepanjang waktu, tidak ada pagar/penghalang 

Harga Tiket: Gratis

Jeddah terletak di pesisir  barat Saudi, dimana terdapat beberapa pantai cantik di luar kota yang seru buat liburan.

Salah satunya Pantai Thuwal. Terletak di kota Thuwal, sekitar 80 km di utara Jeddah, dan ditempuh sekitar sejam dengan menyetir santai.

Bosan juga, ya, kalau terlalu mengandalkan fasilitas di mal-mal besar yang tersebar di berbagai penjuru kota untuk  menyenangkan hati anak-anak. Mereka perlu hiburan di luar ruangan. Sementara anak-anak lebih senang bergembira beramai-ramai. Masalahnya tidak mudah juga memberikan aktivitas untuk mereka tanpa menganggu orang lain. Di kota-kota besar, di tempat-tempat publik di Saudi, privasi dijaga ketat. Ribut sedikit pasti ada yang menegur.

Tinggal jauh dari tanah air jangan sampai menjauhkan anak-anak dari akarnya. Rata-rata dari kami sudah tinggal di Arab Saudi lebih dari 2 tahun. Kami ingin mengenalkan kebiasaan anak kecil sebaya mereka di tanah air. Kami pun seru-seruan dengan mengadakan lomba makan kerupuk buat mereka.

Anak-anak umumnya suka sekali makan kerupuk. “Ayo, ayo, ayoooo … ” Mereka merespons dengan penuh semangat saat diberitahu.

Kerupuk, bukan makanan langka di Arab Saudi. Maraknya pendatang asal tanah air membuat banyak orang membuka toko-toko yang menjual makanan khas dan barang-barang lain asal Indonesia.

Anak-anak Indonesia di Jeddah Pantai Thuwal Arab Saudi
Foto Lomba Kerupuk di Pantai Thuwal, Arab Saudi

Lomba makan kerupuk sebenarnya untuk anak-anak yang berusia di atas 5 tahun. Tapi yang kecil-kecil juga memaksa ikut serta dalam barisan. Mereka ikut ribut, “Mau kerupuk juga.”

Mereka awalnya bingung melihat kerupuknya diikatkan di seutas tali  dan berusaha memegangi kerupuk, “Kerupuknya goyang-goyang,” begitu alasan  mereka.

Setelah diterangkan aturan mainnya, barulah mereka paham dan permainan bisa segera dimulai.

Acara lomba-lomba dilanjutkan dengan permainan mencari harta karun bajak laut. Sudah disiapkan oleh tim ibu-ibu topi-topi handmade dan hadiah secukupnya bagi mereka. Menang kalah semua dapat hadiah tentunya.

Ini permainan untuk anak yang lebih kecil. Ibu-ibu mengubur bola-bola warna warni dalam pasir. Nanti mereka akan mengais-ngais di pasir dan memasukkan temuan bola-bola tadi  ke dalam kantong plastik. Pengumpul terbanyak akan menjadi pemenangnya.

Salah satu kelebihan pantai Thuwal dibanding pantai-pantai lain di kota Jeddah dan sekitarnya adalah kebersihan dan kelengkapan fasilitasnya. Di Thuwal, banyak petugas berseragam wara wiri membersihkan berbagai tempat di lokasi tempat wisatanya. Termasuk kamar-kamar mandi yang bebas digunakan oleh siapa saja.

Seringkali anak-anak berlarian dari arah pantai sambil memegang celana sambil panik, “Mau pipis, mau pipis!”

Tak ada masalah. Jumlah kamar mandi di sana cukup memadai dan kondisinya bersih dan sangat layak pakai. Sementara di beberapa pantai lain, fasilitas umumnya nyaris tidak ada dan tempatnya kurang terawat.

Anak-anak bermain di Pantai THuwal Arab Saudi JEddah
Pantai Thuwal, Saudi 🙂

Di pantai Thuwal, didirikan sebuah bangunan yang dibiarkan terbuka. Hanya ada atap yang menutupi seluruh bagian bangunan dan tiang-tiang penyangga yang berjajar rapi di sisi kanan dan kiri bangunan. Bangunan beton ini dibuat memanjang dan cukup luas untuk menampung hingga ratusan pengunjung.

Tidak cuma para orang tua yang ingin melepaskan penat dengan istirahat di atas gelaran tikar sambil memandangi birunya langit yang beradu dengan birunya air laut. Anak-anak pun tidak ketinggalan ingin bermain sepuasnya kala di sana.

Pilihan mereka untuk bersenang-senang tidak hanya dengan berenang. Sebagian anak-anak nampak asyik bermain-main dengan pasir halus yang mendominasi pelataran di pesisir pantai Thuwal.

Perairan di wilayah pantai Thuwal termasuk cukup aman untuk berenang. Karena letaknya bukan di laut lepas. Melainkan di wilayah teluk. Jadi, nyaris tanpa ombak dan pusaran airnya cukup tenang. Tak perlu khawatir melepas si kecil  berlarian ke dalam air bila sudah bosan bercengkrama dengan timbunan pasir.

Buat para perempuan dewasa, kostum wajib abaya tetap harus digunakan. Abaya, berupa kain hitam panjang yang menutup hingga ujung kaki tidak boleh dilepas sekali pun para perempuan dewasa ingin beraktifitas dalam air. Sebenarnya ada beberapa tempat yang memungkinkan para perempuan untuk melepas abayanya. Misalnya di wilayah yang termasuk dalam private beach.

Private beach biasanya tidak dibuka untuk umum. Perlu undangan khusus untuk bisa menikmati tempat khusus seperti ini. Kalaupun dibuka untuk umum, kita perlu merogoh kocek untuk membayar biaya masuk.

Pantai Thuwal sendiri termasuk tempat umum. Tidak dikenakan biaya apa pun tapi aturan yang berlaku adalah aturan khas Kerajaan Saudi. Termasuk kewajiban berabaya dalam kondisi apa pun bagi para perempuan dewasa.

Saat senja telah hampir usai, wilayah perairan harus dikosongkan. Ada petugas yang lalu lalang memberi peringatan agar semua pengunjung keluar dari air sebelum gelap datang.

Setelah lelah bermain, silakan membersihkan diri di kamar-kamar mandi yang jumlahnya cukup banyak dan tersebar di berbagai penjuru wilayah pantai. Selanjutnya, marilah bersantai di atas tikar yang boleh digelar di atas pasir atau di atas lantai bangunan terbuka yang saya ceritakan sebelumnya.

Di malam hari, lampu-lampu bangunan akan dinyalakan. Beberapa penjual layangan akan bermunculan. Bila masih sanggup beraktifitas, kita bisa membeli beberapa  buah layangan dan bermain bersama si kecil di bawah siraman cahaya rembulan di tepi pantai ****

 

Jeddah, Tak Kenal Maka Tak Sayang

(dimuat di Majalah Pesona edisi Oktober/November 2014)

Oleh : Jihan Davincka

            Apa yang terlintas pertama kali di benak saat mendengar kata Jeddah?

Kota terbesar ke-2 di Arab Saudi ini menjadi salah satu tempat saya bermukim saat mengikuti suami yang berpindah tugas ke salah satu Negeri Petro Dolar ini.

fotografer Dani Rosyadi Masjid Apung
Masjid Apung, Jeddah-Arab Saudi, fotografer : Dani Rosyadi

Saya, sih, jujur saja. Saya takut. Sudah sering saya mendengar tentang keterbatasan yang harus dihadapi oleh kaum perempuan di wilayah ini. Yang paling mengganggu adalah aturan bahwa perempuan tidak boleh ke mana-mana tanpa suami. Duh, suami saya akan berada di kantor dari pagi sampai sore?

Belum lagi banyak mendengar cerita kalau kota-kota di negeri padang pasir satu ini agak terbelakang secara infrastruktur dan tata kota. Konon, bangunannya tua-tua dan dominasi padang pasir hingga ke tengah kota. Masa, sih?

Rupa-rupa Tempat Belanja di Jeddah  

            Selama ini, jemaah haji dan umrah hanya familiar dengan pusat perbelanjaan Balad. Nama tempat ini sebenarnya Corniche Commercial Center. Bangunannya sudah tua dan model kios-kiosnya mirip dengan pusat perbelanjaan ITC di Jakarta. Jadi wajar jika tak banyak yang tahu wajah lain pusat perbelanjaan di kota tempat berkumpulnya pendatang di Arab Saudi ini.

Padahal banyak sekali mal-mal besar yang tersebar di berbagai penjuru kota. Sebut saja yang paling luas dan megah, Red Sea Mall. Mal ini letaknya memang bukan di jantung kota. Tetapi agak ke pinggir bagian utara. Tepatnya di King Abdul Aziz Road. Mal megah ini bahkan punya lebih dari 10 pintu masuk.

Area mal di Kota Jeddah biasanya memang hanya terdiri dari 1-3 lantai, tapi arealnya sangat luas dengan lobi tengah yang lebar-lebar. Harus punya stamina yang kuat untuk menjelajahi bangunan mal.

Deretan mal besar di Tahlia Street
Deretan mal besar di Tahlia Street

Pusat mal mewah yang ada di tengah-tengah kota terletak di salah satu sudut Tahlia Street. Di ruas jalan tertentu di Tahlia ini berjajar mal-mal besar  seperti : Le Mall, Nojoud Mall, Jeddah Mall, Al Khayat dan Tahlia Shopping Center. Dilengkapi pula dengan butik-butik dari brand-brand internasional kenamaan, misalnya : Prada, Gucci, Louis Vuitton, Ralph Lauren, Dolce & Gabbana dll. Tak ketinggalan sebuah bangunan berselaput warna emas dengan tulisan “Versace” di atasnya.

Harga barang-barang bermerek level dunia di Jeddah tergolong lebih murah  daripada di tanah air. Karena umumnya pemerintah Arab Saudi tidak mengenakan pajak pada hampir semua jenis barang yang diperjualbelikan di sana. Menurut info dari seorang teman, selisih sebuah tas kualitas bagus dengan model dan brand yang sama itu rata-rata bisa mencapai ratusan ribu hingga satu juta rupiah. Wow!

Pasar-pasar tradisional atau pasar lokal juga bertebaran di Kota Jeddah. Sebut saja “Pasar Sepeda” yang letaknya dekat dengan monumen “Sepeda Nabi Adam” di Sitten Street. “Pasar Sepeda” adalah julukan khas untuk tempat ini dari para pemukim Jeddah yang berasal dari tanah air.

“Pasar Sepeda” tempat yang tepat untuk berburu rupa-rupa jenis karpet. Harga karpet-karpet di sana juga lebih murah. Tak heran banyak teman sesama pemukim Jeddah yang memanfaatkan selisih harga ini untuk berdagang karpet di tanah air.

Pasar tradisional yang tidak kalah menariknya adalah Bab Shareef. Lokasinya cukup dekat dari pusat perbelanjaan Balad yang selama ini sudah dikenal luas di kalangan jemaah asal tanah air. Hanya saja Bab Shareef ini memang kurang gaungnya karena jarang diperkenalkan.

Area Bab Shareef
Area Bab Shareef

Bab Shareef lebih fokus kepada hasil-hasil tekstil. Seperti baju-baju, sajadah dan pashmina/kain jilbab. Harganya cukup menggiurkan jika dibeli ala grosiran. Satu lusin pashmina dengan kualitas bahan buatan Syria bisa diperoleh di harga sekitar 100-300 riyal. 1 riyal = kira-kira 3 ribu rupiah).

Tidak perlu repot-repot menawar barang jika berbelanja di Jeddah. Biasanya pedagang di pasar-pasar lokal ini lebih suka memberikan harga pas. Perlakuan mereka kepada calon pembeli juga terkesan agak ‘dingin’. Tidak terlalu heboh seperti jika berbelanja di tanah air. Tapi jangan sakit hati dulu. Mereka tetap senang dan buru-buru ramah jika kita memborong barang dagangan mereka.

Borong pashmina di Bab Shareef
Borong pashmina di Bab Shareef

Soal bahasa jangan terlalu khawatir. Tidak sedikit dari mereka yang cukup fasih berbahasa Indonesia tingkat dasar. Apalagi  kalau cuma untuk kegiatan jual beli saja. Kalau pun ada kendala komunikasi, cukup tuliskan harga yang kita inginkan di selembar kertas atau bisa meminjam kalkutor di toko yang bersangkutan.

Untuk jalan-jalan ke mal atau ke pasar, tidak perlu menunggu suami pulang kantor atau memaksa suami untuk cuti khusus. Juga tidak harus menanti akhir pekan tiba. Perempuan bebas-bebas saja jalan-jalan di siang hari tanpa suami.

Pasar di Jeddah
Pasar di Jeddah

Tidak sedikit teman saya yang berani menggunakan taksi umum seorang diri. Walau sebagian besar lebih memilih naik taksi beramai-ramai.

Enaknya karena di Jeddah banyak supir taksi asal Indonesia. Nah, kami biasanya tinggal menelepon salah satu dari mereka untuk kegiatan berbelanja atau sekadar jalan-jalan biasa. Mereka biasanya sudah hafal lokasi gedung tinggal kami jadi antar jemput langsung di depan bangunan apartemen. Seperti memiliki supir pribadi.

Hanya saja menggunakan ‘jasa khusus’ ini memerlukan ongkos lebih. Jauh lebih hemat jika menyetop  taksi umum langsung di jalan bagi yang sudah menghafal jalan. Biaya naik taksi di Jeddah paling banter rata-rata 10 riyal saja per trip.

Si Pengantin Laut Merah 

            Kota Jeddah berbatasan langsung dengan Laut Merah. Makanya, julukan Pengantin Laut Merah wajar diberikan kepada kota metropolitan di pesisir barat wilayah Arab Saudi ini.

Ruas jalan yang bersisian dengan tepian laut diberi nama Corniche Road. Corniche Road sebagian besar dimanfaatkan untuk tempat rekreasi untuk penduduk Jeddah.

Tempat yang paling terkenal dan menjadi persinggahan wajib jemaah haji dan umrah adalah Masjid Terapung. Julukan ini diberkan karena masjid ini konon sebagian pondasinya berada di bawah air. Dari pelataran masjid, kita bebas memandang ke arah perairan lepas.

Monumen yang tidak kalah pentingnya adalah Air Mancur King Fahd yang sanggup memancarkan air hingga ketinggian 320 m di atas permukaan Laut Merah. Yang membuatnya menjadi salah satu air mancur tertinggi di dunia.

Pancaran airnya bisa dinikmati saat senja sudah mulai merambat turun. Di pagi hingga sore hari, air mancurnya tidak dioperasikan.

Spot kegemaran para pemukim Jeddah adalah wilayah North Corniche yang baru saja selesai dipugar di pertengahan 2013 lalu. Di sini ada playground yang menjadi kegemaran anak-anak. Ada areal memancing yang dicari-cari oleh bapak-bapak. Jogging track juga disediakan. Secara umum kawasannya cukup bersih. Fasilitas rekreasi di North Corniche ini bisa dinikmati tanpa dipungut bayaran sepeser pun.

Corniche Road Jeddah
Corniche Road Jeddah

Tempat Jalan-jalan di Sekitaran Jeddah

            Kota Mekkah sering menjadi tujuan utama kami saat akhir pekan tiba. Berziarah ke kota Nabi, Madinah, juga menjadi incaran di hari libur.

Tapi kedua kota suci tersebut bukan satu-satunya pesona wisata jikalau berdiam di wilayah Arab Saudi. Tempat wisata di sekitaran Jeddah ada beberapa. Kalau ingin bersantai di tepi pantai di luar kota, tempat favorit saya adalah Pantai Thuwal. Saya juga pernah ikut konvoi bersama teman-teman ke wilayah Bahrah. Sebuah padang pasir yang letaknya diantara Kota Mekkah dan Kota Jeddah.

Butuh sekitar satu jam perjalanan dengan mengendarai mobil untuk mencapai Pantai Thuwal dari Jeddah. Kotanya bernama yang sama yaitu Kota Thuwal.

Pantai Thuwal, foto : Dani Rosyadi
Pantai Thuwal, foto : Dani Rosyadi

Pantai Thuwal tergolong bersih dengan fasilitas umum yang lumayan lengkap. Ada bangunan khusus untuk berteduh jika ingin menghindari teriknya sinar matahari yang terlalu menyengat di siang hari di musim panas. Disediakan pula beberapa kamar mandi atau toilet umum. Ada petugas kebersihan yang wara wiri membersihkan lantai bangunan dan kamar mandi tadi.

Perairan di kawasan Thuwal ini tergolong berair tenang karena letaknya di wilayah teluk. Jadi, para pengunjung boleh berenang sepuasnya di laut lepas. Khusus untuk perempuan dewasa, kewajiban mengenakan abaya tetap harus dijalankan. Abaya adalah sejenis gamis longgar yang umumnya berwarna hitam dengan bahan khusus sehingga tidak terasa berat dan panas. Makanya tak heran jika mendapati banyak ibu-ibu yang terjun ke air tetap mengenakan abaya.

Sedangkan Padang Bahrah hanya berjarak kurang dari sejam dari Kota Jeddah jika ditempuh dengan mengendarai mobil pribadi. Tempatnya masih alami belum ada sentuhan tambahan dari manusia.

Saat ke Bahrah, kami sengaja ingin menikmati senja di padang pasir. Beberapa keluarga datang beramai-ramai lalu menggelar tikar dan makanan di tengah padang. Anak-anak berkeliaran ke sana kemari menikmati areal yang mungkin di bagi mereka dianggap sebagai kotak pasir raksasa.

Sementara ibu-ibu sibuk menyiapkan makanan sambil mengobrol. Rasanya tentu berbeda menikmati semangkok bakso hangat dan bertusuk-tusuk sate yang dibakar di tengah-tengah padang pasir.

Jadi, bagaimana? Masih membayangkan Jeddah sebagai kota yang mengekang, tidak modern dan tidak ramah? 😉

***

Shannon River Athlone Ireland pic dani Rosyadi

Athlone, Jantung Hati Sang Negeri Zamrud

(dimuat di Leisure Jalan-jalan Republika, edisi Februari 2015)

Oleh : Jihan Davincka

***

Tepian sungai yang di beberapa sudutnya dihiasi dermaga-dermaga kayu dengan beberapa perahu kecil yang sedang bersandar adalah salah satu pemandangan khas di  Sungai Shannon. Shannon, sungai terpanjang yang mengalir dari belahan utara ke belahan selatan Republik Irlandia. Melewati banyak kota-kota di sepanjang alirannya, termasuk Athlone, kota terbesar di wilayah midland, Republik Irlandia.

Athlone Ireland, The Bridge and Shannon River, pic : Dani Rosyadi
Athlone, foto : Dani Rosyadi

Athlone, kota yang juga dijuluki sebagai jantung hati negara Irlandia. Karena letaknya tepat di tengah-tengah daratan sang Negeri Leprechaun ini. Kota Athlone kerap menjadi tempat transit karena keunggulan posisinya.

Tidak hanya keberuntungan letak strategisnya, Athlone juga punya banyak tempat jalan-jalan yang khas dan menyenangkan.

Peninggalan Masa Lalu Irlandia di Derryglad Folk Museum

Sebuah perkakas kayu bundar setinggi kira-kira satu meter yang ditopang oleh 4 batang kayu, dengan tulisan “Washing Machine” yang menempel di depannya, langsung menarik perhatian saya begitu memasuki museum Derryglad Folk. Wah, rupanya mesin cuci ini berasal dari abad ke-19. Berbeda sekali dengan mesin cuci elektronik yang kita kenal sekarang. Kira-kira bagaimana, ya, cara kerjanya?

Washing Machine Derryglad Folk Museum Ireland
Mesin Cuci Antik, foto : Jihan Davincka

Museum ini memang khusus untuk menyimpan benda-benda antik dari kehidupan  masa lalu masyarakat Irlandia dari abad ke-18 hingga abad ke-20. Benda-benda kunonya ada juga yang membuat saya, yang tidak lahir dan besar di Irlandia, ikut bernostalgia ke masa lalu. Misalnya sebuah mesin jahit manual yang saya ingat dulu sering digunakan nenek di rumah dulu.

Tak hanya mesin cuci antik, ada juga kamera-kamera tempo dulu, alat-alat pertukangan dan pertanian, keramik-keramik peralatan dapur hingga miniatur tempat-tempat umum Irlandia di masa lalu.

Derryglad Folk Museum Ireland
Perkakas dapur antik

Museum ini sebenarnya berada di Kota Curraghboy. Namun, bisa ditempuh  hanya dalam waktu 15 menit saja dari Kota Athlone. Derryglad Folk Museum disebut-sebut sebagai tempat wisata utama di wilayah midland, Republik Irlandia.

Memasuki pintu gerbang, kita akan disambut oleh sebuah traktor besar di tengah-tengah rerumputan hijau yang mendominasi halaman museum.

Bangunan utamanya terbagi 2.

Bangunan pertama sebelah kiri tidak terlalu luas. Nama aslinya, “MacCormacs Photography Room.” Berisi peralatan-peralatan sebuah studio foto dari tahun 1948. Sebelum era digital, kamera-kamera pengambil gambar terus berinovasi dari zaman ke zaman. Tak hanya dihiasi kamera-kamera zaman dulu yang memiliki lampu  besar dengan lensa yang juga berukuran tidak kecil. Di dinding ruangan ada foto-foto klasik yang didominasi oleh tokoh-tokoh dunia yang diabadikan sangat mengunjungi Irlandia. Sebuah lemari kaca di sudut ruangan juga berisi koran-koran terbitan tahun 1950-1990.

Bangunan kedua lebih besar. Meja-meja besar berjajar di tengah-tengah ruangan. Semuanya dijejali barang. Di sela-sela meja yang beberapa diantaranya dipasangi rak, diberi jarak agar kita bisa leluasa melangkah dan melihat-lihat barang pajangan dari jarak dekat.

Derryglad Folk Museum Ireland, pic by Dani Rosyadi
2 Bangunan Museum, foto : Dani Rosyadi

Dinding-dinding ruangan juga sarat dengan benda-benda kuno. Ada yang digantung, ada juga yang ditaruh di atas rak-rak yang menempel di tembok ruangan.

Tembok dekat pintu dipenuhi keramik-keramik peralatan makan dan minum. Mulai dari teko-teko antik, gelas-gelas kaca yang berukir atau bergambar, gelas-gelas besi sampai piring-piring serta mangkok makan model klasik. Beberapa peralatan dapur seperti panci, wajan, peralatan membuat kue dsb, juga ikut berbagi tempat di sana.

Dari bangunan ke-2, ada pintu masuk ke bagian belakang museum. Nah, di sini ada ruangan lagi. Ada miniatur ruangan dan bangunan masyarakat Irlandia di abad-abad lalu. Misalnya miniatur sebuah ruangan kelas, lengkap dengan papan tulis kayu dan kursi-kursi kayu yang umum digunakan dahulu. Tak ketinggalan sebuah patung anak laki-laki kecil bertopi dan seorang ibu guru yang duduk di depan kelas. Para turis boleh ikut duduk di sana dan berfoto seolah-olah menjadi murid di kelas. Seru, juga, ya.

Di sampingnya ada miniatur apotik tempo dulu. Sekumpulan sepeda antik dan kereta bayi disekat dalam areal yang berbeda, masih dalam ruangan yang sama.

Dengan membayar 5 euro per 1 orang dewasa (gratis untuk anak-anak), kita bisa menghabiskan sekitar satu jam mengitari seluruh bangunan dan ruangan museum. Termasuk jalan-jalan di halaman museum yang juga sarat dengan benda-benda antik yang tidak kalah menariknya.

Kastil  di Kota Tua

Sungai Shannon membelah Kota Athlone menjadi 2 bagian. Keduanya dihubungkan oleh sebuah jembatan beton. Wilayah sebelah barat dikenal sebagai “Kawasan Kota Tua”, The Old Town. Inilah wajah asli kota Athlone di awal masanya dulu. Karena perkembangannya yang cukup pesat, kota kecil ini terus diperluas dan pusat kota berpindah ke wilayah yang sudah didominasi oleh bangunan-bangunan baru.

Kawasan Kota Tua tidak memiliki bangunan pertokoan besar. Seperti misalnya Golden Island Mal dan Athlone Town Center yang keduanya berada di pusat kota. Tapi kawasan ini punya pesonanya tersendiri.

Shannon River Athlone Ireland pic dani Rosyadi
Di Pesisir Sungai Shannon

Persis di ujung jembatan yang menjadi pintu masuk menuju Kota Tua, ada 2 bangunan besar yang masih bediri tegak dengan arsitektur kuno yang melekat kuat. Sebelah kiri ada kastil. Sebelah kanan jembatan ada sebuah gereja tua.

 

Kastilnya tidak terlalu besar. Bangunannya direnovasi dari peninggalan kastil yang dibangun di abad ke-13. Dulunya kastil-kastil banyak dibangun sebagai tempat perlindungan dari banyaknya penyerangan antar wilayah saat itu.

Athlone Castle Ireland, pic :Dani Rosyadi
Kastil di Athlone, foto : Dani Rosyadi

Di dalam kastil ada museum. Akses ke museumnya harus membayar 8 euro per orang. Kami tidak sempat masuk ke sana. Untuk berkeliling-keliling di luar area museum tidak perlu mengeluarkan biaya apa pun.

Ada satu ruangan yang berkesan untuk saya. Letaknya di bagian belakang. Tempatnya gelap dan dipasangi jeruji besi. Di dalamnya ada miniatur-miniatur orang-orang yang nampak murung, tertunduk dan ada yang terkapar di tanah. Hal ini menggambarkan masa-masa pahit di Irlandia saat kegagalan panen besar-besaran di seluruh negeri di pertengahan abad ke-19 menyebabkan Irlandia dilanda musibah kelaparan di mana-mana. Tidak sedikit korban jiwa yang melayang.

Inside Athlone Castle, Ireland, pic : Dani Rosyadi
Kastil di Athlone, bagian dalam, foto : Dani Rosyadi

Kalau bangunan gerejanya hanya bisa dilihat dari luar saja. Gereja ditutup kecuali untuk misa rutin hari minggu dan hari-hari besar lainnya atau sudah dibooking untuk acara-acara khusus seperti acara perkawinan dll.

Sebagian besar bangunan gereja di Irlandia memiliki 2 menara selayaknya gereja Katolik pada umumnya. Mayoritas agama yang dipeluk oleh penduduk di sana adalah Katolik.

Jangan lupa juga mengitari sudut-sudut lain di kawasan Kota Tua. Perumahan dan toko-toko yang ada di sana umumnya memiliki bangunan yang berwarna-warni. Rumah bercat hijau muda beratap oranye bersebelahan dengan toko yang dindingnya berwarna merah muda misalnya.

Old Town Athlone Ireland, pic by Dani Rosyadi
Kawasan Kota Tua, foto : Dani Rosyadi

Biara Kuno di atas Padang Rumput Clonmacnoise

Situs ini adalah situs monastik khas umat Katolik. Letaknya juga di tepian Sungai Shannon. Tempatnya bisa ditempuh dengan menyetir mobil selama sekitar setengah jam dari pusat kota Athlone.

Tempat ini juga yang paling sering disambangi oleh para turis asing. Di awal kedatangan, silakan memasuki bangunan Visitor’s Center terlebih dahulu.  Di sini ada museum yang isinya menjelaskan mengenai kehidupan di Clonmacnoise saat biara-biara di sana baru dibangun dan sedang berkembang. Selain museum, di gedung yang ini juga ada fasilitas umum seperti kafetaria dan kamar kecil.

Museumnya menarik, lho. Tidak hanya berisi keterangan dalam bentuk tulisan. Juga ada miniatur-miniaturnya. Jadi, anak-anak lumayan menikmati suasana dalam museum.

Museum of Clonmacnoise, Ireland, pic Dani Rosyadi
Museum di Clonmacnoise, Irlandia. Foto : Dani Rosyadi

Pesona utama dari Clonmacnoise adalah reruntuhan kastil-kastil yang pernah berdiri megah di tempat ini. Dulunya, Clonmacnoise menjadi salah satu pusat penyebaran agama Katolik utama di kawasan Irlandia.

Di sekitar abad ke-10, ada kompleks biara Katolik yang dibangun di sini. Yang tersisa sekarang hanya tinggal puing-puingnya saja. Ada reruntuhan katedral yang berukuran paling besar diantara sisa-sisa bangunan kuil lainnya.

Diantara sisa-sisa bangunan biara, ada areal pemakaman dari masa lampau. Makam orang-orang penting dari masa itu seperti raja-raja yang pernah memerintah atau para kepala biara. Nisannya tidak berbentuk tiang tapi melekat di tanah. Cukup repot menjaga anak-anak agar tidak sampai berlari-lari melintasi jajaran nisan tersebut.

Clonmacnoise The Grave, Ireland, pic Dani Rosyadi
Kuburan di Clonmacnoise, Irlandia, foto : Dani Rosyadi

Menariknya, situs ini berada di atas sebuah padang rumput hijau yang luas. Jadi, kita bisa sekaligus menikmati pemandangan alam khas Irlandia yang memang terkenal dengan wisata alam bebasnya.  Di sekitar reruntuhan bangunan bekas kuil ini, terlihat banyak hewan ternak yang dibiarkan merumput bebas. Hijaunya rumput beradu dengan birunya air Sungai Shannon, warna alami alam yang cantik.

Bersenang-senang di Peternakan Glendeer Pet Farm

Peternakan tidak hanya bisa dinikmati oleh anak-anak saja. Saya dan suami juga ikut senang saat melihat dan bersentuhan langsung dengan kawanan hewan ternak saat mengunjungi Gleender Pet Farm yang berjarak hanya sekitar 10 km dari pusat kota Athlone.

Kita bisa memasuki peternakan setelah terlebih dahulu membayar uang masuk sebesar 8 euro per orang. Petugasnya juga memberikan 2 kantong kertas yang berisi makanan hewan yang bisa kita berikan langsung di dalam nanti.

Glendeer Pet Farm, Ireland, pic : Dani Rosyadi
Glendeer Pet Farm, Foto : Dani Rosyadi

Kawanan burung yang berada di kandang-kandang yang disusun di sisi kiri dan kanan jalan adalah hal pertama yang akan kita jumpai. Burung Unta yang langsung menarik perhatian karena suaranya yang khas dan keras serta ukurannya yang besar. Anak-anak tidak berani mendekat. Jadi, suami saya yang memberi makan si Burung Unta yang sudah terlanjur ribut menyambut kedatangan kami, seolah mengharap mendapat sedikit kudapan.

Setelahnya, ada kandang domba dan kambing. Seekor anak kambing kecil sempat melepaskan diri dari kandang dan berlari mengikuti dari belakang saat kami sudah beranjak pergi. Tampaknya dia lapar dan kalah  bersaing dengan para domba dan kambing besar saat merebutkan makanan yang kami taburkan ke dalam kandang tadi.

Area selanjutnya  berupa padang rumput luas. Sekelompok Llama berkeliaran bebas di sana. Ada yang duduk santai, ada yang jalan-jalan.  Tapi anak-anak sudah terlanjur melihat playground di kejauhan. Cuma sebentar kami menyapa para Llama dan beberapa ekor sapi yang sedang merumput.

Glendeer Pet Farm, Ireland, inside the barn, pic Dani Rosyadi
Lihat anak anjing di kandang,

Sebelum mencapai playground, ada sebuah kandang besar beratap dalam ruangan tertutup yang luas. Di dalamnya ada sekat-sekat. Di tiap sekat ada beberapa anak anjing yang masih sangat kecil, anak-anak babi yang benar-benar baru lahir, anak-anak sapi yang baru belajar berjalan dan anak-anak ayam yang ditutupi dalam ruang kaca. Pantas saja mereka ditaruh dalam kandang tertutup. Mungkin masih dianggap terlalu kecil untuk dilepas bebas di peternakan.

Setelah puas bermain di playground yang juga diisi dengan kawanan Llama dan domba yang sibuk lalu lalang, kami beranjak ke area selanjutnya. Kali ini, ada kandang bebek dan kandang ayam yang dibatasi pagar-pagar setinggi pinggang orang dewasa. Begitu kami melempar makanan ke dalam, para bebek dan ayam langsung ribut berkotek dan merubung ke arah pagar seolah berkata, “Lagi, lagi, lagi”.

Glendeer Pet Farm Ireland, the ducks, pic : Dani Rosyadi

Di sana juga ada kawanan kuda yang sayangnya lagi ogah-ogahan dan duduk-duduk saja di atas rumput saat kami hampiri. Beberapa ekor kerbau berukuran besar bisa dilihat dari luar kandang. Ukurannya memang jauh lebih besar daripada ukuran kerbau pada umumnya di tanah air.

***

Acara jalan-jalan di Irlandia dikenal dengan didominasi oleh pemandangan alam bebasnya yang masih belum banyak terjamah manusia. Tak heran, Negeri Irlandia juga dijuluki Sang Negeri Zamrud. Tertarik ikut menjelajahi alam di Negeri Zamrud yang ini?

Naik Apa dan Habis Berapa ke Irlandia

  1. Selain penerbangan via maskapai Eropa, menuju Irlandia juga bisa melalui maskapai Timur Tengah. Harga tiketnya berkisar 6-7 juta rupiah per orang.
  2. Penginapan di Athlone bisa memilih hotel-hotel berbintang seperti misalnya Radisson Hotel yang terletak persis di tepian Sungai Shannon. Di samping jembatan penghubung kawasan kota baru dan kawasan kota tua. Selain hotel, ada banyak penginapan kecil atau motel. Istilahnya B&B (Bed & Breakfast). Rate per malam tergantung musim. Musim panas biasanya menawarkan harga yang lebih tinggi karena saat yang paling tepat mengunjungi wilayah-wilayah Eropa jatuhnya di musim ini.
  3. Booking hotel atau B&B bisa dilakukan via internet secara online.

 

 

 

 

Kehidupan ibu-ibu di Jeddah

Weekend di Corniche Jeddah : Pantai, Kuliner Nusantara, hingga Piknik di Gurun

Corniche Jeddah, punya banyak tempat menarik untuk dikunjungi. Seru deh, makanya bisa nulis banyak kisah traveling tentang Corniche Jeddah dan masuk media cetak :D. Buat nambah-nambah uang jajan tentunyaaaa *tepukTangan*.

(dimuat di rubrik Jalan-jalan Republika, tapi lupa edisi yang mana hehehe :D)

Oleh : Jihan Davincka

***

Kota Jeddah kerap dijuluki “Pengantin Laut Merah.” Berbatasan langsung dengan tepian laut Merah membuat kota Jeddah memiliki pesisir pantai yang disebut “Corniche Road.” Pesona dari Corniche Road – Jeddah bukan hanya milik Mesjid Apung, yang menjadi tempat wisata kegemaran para jemaah haji dan umrah asal tanah air.

Corniche Road Jeddah foto : Dani Rosyadi
North Corniche, Jeddah (foto : Dani Rosyadi)

Di akhir tahun 2012 lalu, proses pembangunan sebagian wilayah utara dari Corniche Jeddah baru saja dirampungkan. Hasil pemugaran sekitar beberapa kilometer dari wilayah ini menghasilkan sebuah tempat rekreasi baru yang sarat fasilitas modern dengan wajah barunya nan bersih.

“North Corniche Jeddah”, Rekreasi Seru bagi Seluruh Anggota Keluarga

Jadilah di pagi hari di sebuah akhir pekan, saya mengajak suami menyambangi lokasi “North Corniche” tadi. Setelah berbulan-bulan akses ke lokasi tersebut ditutup untuk umum, dinding-dinding penyekatnya pun akhirnya dibuka juga.

Tempat-tempat parkir disediakan cukup banyak. Tersebar di beberapa titik, tidak menyatu di satu pelataran khusus. Dari kejauhan, anak-anak sudah menempelkan kepalanya ke kaca mobil dan meributkan taman bermain yang langsung menarik perhatian mereka. Suami pun akhirnya memarkir mobil persis di pelataran parkir di samping lokasi taman bermain tersebut.

Playground at Corniche Jeddah, pic by Dani Rosyadi
Playground di Corniche  Jeddah (foto : Dani Rosyadi)

Anak-anak langsung berhamburan ke luar begitu mesin mobil dimatikan. Suasana pagi itu belum begitu ramai. Jadi, anak-anak bebas berkeliaran menyerbu berbagai macam arena permainan yang ada di sana.

Saya memutuskan jalan-jalan sendiri menyisir sisi pantai yang lain. Ternyata perubahannya cukup banyak. Sisi-sisi pantai yang berbatasan dengan jalan diberi pagar-pagar. Disiapkan jogging track segala. Beberapa orang sibuk memancing di bibir pantai. Terlihat pula beberapa orang bersepeda lalu lalang di samping jogging track tadi.

Corniche Jeddah Corniche Road in Jeddah, pic by Dani Rosyadi
Corniche, Jeddah (foto : Dani Rosyadi)

“North Corniche Jeddah” juga jauh lebih bersih daripada kondisi sebelum pemugaran. Tempat-tempat sampah disediakan di berbagai penjuru. Tempat ini menjelma menjadi tempat rekreasi multifungsi yang dapat dinikmati optimal oleh seluruh anggota keluarga.

Kuliner Nusantara di Distrik Sharafiyah

Salah satu keluhan warga asal tanah air kala harus merantau ke negeri lain adalah masalah perut. Untuk urusan makanan, pemukim asal Indonesia yang tinggal di Jeddah harus banyak-banyak bersyukur. Makanan cita rasa nusantara tak sulit ditemukan di kota terbesar kedua di Arab Saudi ini. Selain mudah ditemukan, harganya pun tidak terlampau mahal.

Salah satu daerah yang memiliki banyak rumah makan yang menyediakan aneka rupa masakan asal tanah air adalah distrik Sharafiyah. Selain distrik Bagdadiyah, Sharafiyah merupakan distrik favorit pemukim asal tanah air. Di kedua distrik inilah, banyak ditemukan keluarga-keluarga asal Indonesia yang sekadar tinggal atau sekaligus membuka usaha. Makanya jangan heran, distrik sharafiyah merupakan pusatnya toko-toko yang menjual barang-barang kebutuhan khas pemukim dari Indonesia.

Rumah Makan "Putri Sriwijaya", Jeddah (foto : Dani Rosyadi)
Rumah Makan “Putri Sriwijaya”, Jeddah (foto : Dani Rosyadi)

Jenis rumah makan Indonesia di Sharafiyah bermacam-macam. Ada yang selevel restoran menengah ke atas, adapula yang berupa warung-warung makan sederhana yang bisa diistilahkan dengan warteg. Untuk kenyamanan anak-anak sebaiknya memilih tempat makan yang cukup bersih dan luas. Misalnya saja tempat yang kami sambangi selepas lelah menghabiskan pagi yang sibuk di “North Corniche” tadi.

Setelah meninggalkan pelataran parkir di Corniche Jeddah, suami mengarahkan mobil menuju sebuah lokasi rumah makan Indonesia di jalan Khalid bin Walid. Jalanan ini merupakan salah satu jalan terbesar dan akses utama menuju distrik Sharafiyah. Restorannya bernama “Putri Sriwijaya.”

Rumah makan Putri Sriwijaya Jeddah
Interior dalam RM Putri Sriwijaya, Jeddah (foto : Dani Rosyadi)

Menilik namanya, kita akan mengira rumah makan ini khusus menyajikan sajian khas dari Sumatera saja. Jangan khawatir, selain menyediakan berbagai menu andalan asal pulau di bagian barat nusantara itu, “Putri Sriwijaya” mencantumkan masakan khas nusantara lain dalam daftar menunya. Sebut saja, ada soto ayam, sate Madura, nasi goreng, macam-macam sup, gado-gado, berbagai macam menu ikan bakar, ayam panggang dsb.

Sate padang merupakan salah satu pesanan wajib para pengunjung di rumah makan ini. Saya dan suami pun penggemar makanan khas Tanah Minang tersebut.

Selain sate padang, meja kami juga dijejali oleh sate ayam dan soto Madura. Rasanya tidak kalah lezatnya dengan masakan yang sama yang disajikan di tanah air. Maklum saja, bukan hanya kasir dan para pelayannya, tukang masak di restoran ini kebanyakan orang-orang Indonesia asli, lho.

Sate Padang rumah makan Sriwijaya Jeddah foto by Dani Rosyadi
Hidangan di RM Putri Sriwijaya, Jeddah (foto : Dani Rosyadi)

Selain makanan utama, minuman yang disajikan juga bermacam-macam. Mulai dari bermacam-macam jus hingga teh manis, kadang-kadang juga ada es kelapa muda katanya. Sayang sekali, saat ke sana, kata pelayannya stok minuman segar satu ini sedang habis.

Harga satu porsi makanan utama bervariasi dari kisaran 15 riyal hingga 30 riyal (1 riyal = 2500 rupiah). Porsinya cukup banyak dan berlebih jika dinikmati untuk seorang diri saja. Minumannya sendiri seharga 2-8 riyal per gelas.

Tempatnya bagus dan bersih. Sesuai kebiasaan umum di rumah-rumah makan di Saudi, tiap meja disekat khusus. Orang Arab sangat menjaga privasi. Apalagi hijab antara perempuan dan laki-laki di tempat umum sangat diperhatikan. Jadi, tiap keluarga bisa menikmati santapan masing-masing tanpa dalam ruang tertutup. Kaum wanita bisa melepas tutup muka / cadar atau bahkan membuka abayanya tanpa khawatir ada orang lain yang memperhatikan.

Selain “Putri Sriwijaya”, ada juga restoran lain sejenis dengan menu dan harga yang mirip yaitu rumah makan “Sumatera.” Lokasinya juga di sekitar jalan Khalid bin Walid, tak jauh dari tempat “Putri Sriwijaya” berada.

Untuk sajian khas soto betawi, pepes ikan dan mie bakso, silakan menyambangi “Restoran Betawi.” Lokasinya lagi-lagi berada di seputaran Khalid bin Walid. Setelah melewati perempatan besar pertama di  Khalid bin Walid, gedung restorannya bisa dicapai dengan membelokkan mobil ke arah kiri.

Menikmati Senja dan Makan Malam di Tengah Gurun

Setelah berpuas-puas di pantai dan menyambangi salah satu rumah makan Indonesia di distrik Sharafiyah, kami diajak oleh teman-teman menghabiskan sore dan malam hari ke Bahrah. Wilayah Bahrah memiliki areal padang pasir yang tak jarang dikunjungi oleh pemilik mobil-mobil besar untuk kegiatan off-road.

Kami berangkat menuju Bahrah dengan konvoi. Ada sekitar 9 keluarga yang ikut serta dengan membawa lengkap anggota keluarga masing-masing termasuk anak-anak.

Bahrah Sand Dune Mekkah pic by Dani Rosyadi
Menuju Padang Bahrah (foto : Dani Rosyadi)

Setelah menyusuri jalanan tol, searah jalan menuju Mekkah, dalam tempo sekitar satu jam tibalah iring-iringan mobil kami di gurun pasir Bahrah. Beberapa mobil yang kondisinya tidak memungkinkan untuk menembus jalanan berpasir di gurun dibiarkan terparkir di sisi jalan yang masih beraspal. Penumpangnya berpindah ke mobil-mobil besar yang sedianya memang akan digunakan oleh bapak-bapak untuk membedah gurun melalui kegiatan off-road.

Susah payah menyetir membawa penumpang penuh dan barang-barang lainnya, sekitar 15 menit kemudian tiba juga rombongan di tengah-tengah gurun. Ibu-ibu bergegas turun, membentangkan tikar dan karpet dan menata bahan makanan. Anak-anak tidak ketinggalan. Tanpa dikomando, mereka kompak berlarian ke sana kemari, naik turun beramai-rami di gundukan-gundukan pasir yang mendominasi wilayah gurun tempat kami  berhenti.

Bahrah Mekkah pic Dani Rosyadi
Anak-anak di Padang Bahrah (foto : Dani ROsyadi)

Sementara para Ibu sibuk mempersiapkan makan malam, bapak-bapak beramai-ramai menjajal mobil yang ada untuk mengasah  keterampilan mengemudi di hamparan padang pasir. Anak-anak kami  biarkan saja berkeliaran semaunya. Beberapa ibu ditugaskan untuk menjaga anak-anak. Tidak ikut berlarian bersama mereka, tapi sekadar menjaga agar anak-anak tetap berada dalam jangkauan pandangan mata kami.

Tak terasa, senja pun hampir habis. Tak lama, sayup-sayup terdengar azan magrib dari kejauhan. Nun jauh di tengah-tengah gurun, ibadah shalat pun tetap menjadi kewajiban mutlak. Bapak-bapak menjalankan shalat berjamaah lebih dahulu.  Disusul oleh para ibu.

Bahrah Sand Mekkah pic Dani Rosyadi
Salat Magrih di Bahrah (foto : Dani Rosyadi)

Saat gelap mulai menjelang, bapak-bapak bersiap-siap membakar sate ayam, salah satu menu makan malam kami saat itu. Aroma bakso pun mulai tercium dari panci besar yang sejak sejam yang lalu disiapkan dan direbus di atas kompor  kecil oleh para ibu-ibu.

Ritual makan malam pun berlangsung dengan penerangan dari cahaya lampu mobil yang sengaja dinyalakan sejak cahaya mentari sudah menghilang sepenuhnya di langit malam. Sambil menyuapi anak-anak, ibu-ibu juga ikut makan sambil mengobrol. Bapak-bapak berkumpul menikmati hidangan malamnya sambil menjaga di samping perapian tempat membakar daging sate tadi.

Kehidupan ibu-ibu di Jeddah
The Mommies ^_^ (foto : Dani Rosyadi)

Setelah kenyang dan puas berbagi cerita, kami segera berbenah sebelum malam bertambah pekat. Kami pun kembali ke tempat dimana sebagian mobil diparkirkan tadi. Para penumpang kembali ke mobil masing-masing. Usai saling berpamitan, masing-masing mobil berangkat sendiri-sendiri menyisir jalan tol menembus malam dengan membawa kenangan indah dalam hati masing-masing.

***

Bersenang-senang di Irlandia

(dimuat di Majalah Parenting Indonesia, edisi Februari 2014). Tema tulisannya liburan anak di Irlandia.

Bersenang-senang di Irlandia

Oleh Jihan Davincka

Ternyata, negara yang lahan hijaunya banyak ini seru juga dijelajahi oleh keluarga. Ada apa saja, sih?

Ring of Kerry Ireland by Dani Rosyadi
Irlandia, pic by : Dani Rosyadi

Republik Irlandia menguasai bagian selatan dari Pulau Irlandia. Jangan salah, tidak semua daratan pulau ini berada di bawah kedaulatan Republik Irlandia, lho. Irlandia Utara justru merupakan bagian dari wilayah Kerajaan Inggris Raya.

Dan, tak hanya ibukota Dublin yang bisa dijadikan tujuan utama para turis asing. Wilayah di kota-kota kecil dan pedesaan Irlandia juga banyak menarik perhatian. Ya, lahan hijau negara ini banyak digunakan penduduk untuk pertanian dan peternakan. Selain itu, dataran Irlandia juga bertabur danau dan sungai-sungai.

Wilayah daratan tengah Irlandia, dikenal sebagai midland region, punya banyak kota-kota seru untuk disinggahi. Misalnya, Athlone, kota terbesar di midland, yang dilewati oleh sungai terpanjang di Irlandia, yakni Sungai Shannon.

Saat menjelajahi midland Irlandia ini, sebagian besar kiri dan kanan jalan disuguhi oleh pemandangan cantik khas pedalaman Eropa. Padang rumput warna warni lengkap dengan peternakan sapi dan dombanya. Asyik sekali, ya? Sesekali diselingi bangunan-bangunan, berupa rumah kecil bercerobong asap yang dicat warna-warna pastel yang cerah. Kebayang, kan, betapa indahnya. Yang pasti, banyak tempat-tempat seru yang bisa dikunjungi bersama anak-anak.

Glendeer Pet Farm 

Lokasi: Athlone, Co.Westmeath

No. Telp./Website: +353 (0)90 6437147 / www.glendeerpetfarm.ie

Jam Buka: Di hari Senin hingga Sabtu, peternakan dibuka untuk umum dari pukul 11 siang hingga pukul 6 sore.Di hari Minggu, dibuka dari pukul 12 siang hingga pukul 6 sore.

Harga Tiket: 8 euro per orang, termasuk dewasa dan anak-anak. Note: 1 euro = Rp16.500. Anak-anak di bawah usia 18 bulan tidak perlu membayar.

Glendeer lihat llama

Berkendara dengan mobil selama 15 menit dari jantung kota Athlone, tibalah kami di Glendeer Pet Farm. Peternakan ini khusus dibuka untuk umum. Biasanya, menjadi langganan wajib untuk kegiatan study tour bagi siswa-siswi sekolah dasar di sekitar wilayah Midland.

Begitu turun dari mobil, anak-anak, Nabil (5) dan Narda (2), sudah menghambur turun, tidak sabar ingin masuk ke dalam. Padahal, kami sengaja tidak memberitahu mereka kalau akan membawa mereka ke peternakan. Tapi, dari luar sudah banyak gambar-gambar hewan khas peternakan yang dipasang memenuhi dinding bangunan untuk mengucapkan “Selamat Datang”. Bahkan, sebuah replika sapi seukuran seekor sapi besar di pojok pekarangan sempat membuat si sulung grogi. Setelah ditunggu beberapa lama, patung tersebut tidak bergerak. Barulah dia sadar kalau itu cuma patung. Hahaha… Replika sapi ini benar-benar mirip, lho, dengan aslinya.

Pintu utama akan langsung membawa kami masuk ke dalam kafetaria. Ternyata, loket ada di kasir kafe tersebut. Setelah membayar, anak-anak dibekali 2 kantong kertas yang berisi makanan burung. “You can feed them inside using your own hands,” kata kasir sambil mengedipkan matanya pada anak-anak.

Deretan burung dalam kandang di sisi kiri dan kawanan anak-anak sapi, domba, dan kambing di sebelah kanan adalah pemandangan pertama yang ditemui saat memasuki areal peternakan. Burung unta langsung menarik perhatian si kecil. Burung besar yang tidak bisa terbang ini sepertinya sudah hafal, bila melihat pengunjung datang. Ya, artinya … saatnya makan! Ukurannya yang besar dengan paruh yang tidak kecil membuat anak-anak saya malah enggan mendekat.

“It’s too big…” Kata Nabil.

Narda ikut berceloteh, “Big, big biiiid…” Maksudnya, big bird.

Suami saya (Dani) akhirnya maju dan memberi makan si burung unta yang sedari tadi berusaha menarik perhatian kami dengan suaranya yang berisik.

glen dikejar anak domba

Tak lama kemudian, anak-anak sudah berlarian menuju pagar pembatas kandang sapi, domba, dan kambing. Seekor domba kecil berhasil menyusupkan badannya ke luar kandang dan mengejar-ngejar si bungsu. Si kecil tadinya senang dan berusaha melemparkan makanan ke arahnya.Tapi, begitu ia mulai bosan, si domba kecil terus saja mengikutinya. Lama-lama Narda jadi takut dan menjerit-jerit.

“Go, go, waway…” Maksudnya, go away.

Untunglah, di hadapan kami sudah terbentang padang rumput. Beberapa ekor Llama nampak berkeliaran di sana. Beberapa di antaranya malah duduk bermalas-malasan. Anak-anak langsung lupa, deh, dengan hebohnya dikejar-kejar anak domba yang minta makan. Sayangnya, Llama seperti ogah-ogahan berinteraksi dengan anak-anak, sehingga kami lebih tertarik pada bangunan kayu besar di samping padang tersebut. Ternyata, sebuah kandang tertutup.

Di sisi kiri pintu masuk, ruang pertama yang kami temui disekat-sekat menjadi kandang kecil-kecil tanpa atap. Hanya ada pagar kayu pembatas agar pengunjung tidak mendekat terlalu jauh. Ada bayi-bayi sapi di kandang pertama. Lalu, berturut-turut ada babi-babi  kecil yang sedang menyusu pada induknya yang sepertinya sedang tertidur. Anak-anak anjing nampak dikerubutin pengunjung lain. Malah seorang anak perempuan masuk ke sana dan bermain bersama seekor anjing kecil.

Nabil ikut menonton dari pinggir kandang sambil melambai-lambaikan tangannya, “Hai, Puppy.”

Ternyata, bangunan tersebut memiliki 2 ruangan. Sebuah pintu memperlihatkan isi ruangan satunya. Wah, sebuah playground dalam ruangan. Perosotannya tinggi dan melingkar. Di sana juga ada kotak pasir yang ukurannya cukup untuk memuat belasan anak yang ingin bermain pasir. Beberapa peralatan disediakan, seperti sekop, gerobak kecil, ember-ember dsb. Sampai butuh waktu cukup lama untuk membujuk anak-anak meninggalkan arena bermain tersebut. Bukan apa-apa. Masih banyak areal peternakan yang belum kami datangi.

glendeer kandang tutup

Akhirnya, kami berjalan ke tempat para bebek dan angsa. Mereka dikumpulkan dalam sebuah kandang khusus yang diberi pagar yang tidak terlalu tinggi. Melalui pagar itulah, anak-anak sibuk melemparkan makanan ke dalam. Ribut betul para bebek ‘berteriak’ yang membuat anak-anak malah senang dan makin bersemangat memberi makan. Di depan kandang bebek yang bentuknya memanjang tadi, kembali sebuah padang rumput terbentang luas. Bedanya, yang ini jauh lebih luas daripada yang tadi. Kawanan sapi dewasa dan kuda-kuda nampak merumput di sana. Di ujung areal peternakan, ada kandang ayam. Dua bungkus biji-bijian yang tadi diberikan petugas di kasir sudah habis. Jadi, kami tak berlama-lama bermain di kandang ayam. Melangkah lebih jauh, ada kandang kerbau dan sapi yang juga dipagari.

Walau disekat dalam pagar, Nabil agak enggan dekat-dekat. “They’re very big. They’ll chease us.”

Saya tertawa, “No, they won’t. Sapi sama kerbaunya lagi asyik makan rumput, tuh. Look, they’re not even look at you.”

Ternyata, ada fasilitas taman bermain di areal terbuka. Langsung, deh, anak-anak berlarian ke sana. Beberapa ekor Llama juga berkeliaran di taman bermain. Mulai dari perosotan, ayunan, sampai permainan semacam flying fox juga ada. Flying fox-nya tidak begitu tinggi, sehingga Narda berani meluncur sendiri tanpa dipegangi. Lagi-lagi butuh usaha ekstra untuk membawa mereka pergi dari taman bermain ini. Akhirnya, mungkin karena lapar juga, mereka mau diajak pergi. Kami pun kembali ke areal kafetaria dan menikmati makan siang yang sudah disiapkan dari rumah. Tempo hari, kami berbekal nasi, ayam goreng dan sayur capcay. Khas Indonesia sekali, ya.

Sebenarnya, kafetaria menyediakan aneka roti, muffin, dan kue-kue kecil lainnya. Ada pula kopi dan teh hangat. Roti dan muffin biasanya seharga 1-3 euro per buah. Sedangkan segelas kopi bisa dinikmati dengan harga 1.5 euro. Teh hangat lebih murah, 1 euro saja. Penganan khas di Irlandia mirip dengan negara-negara barat lainnya, aneka muffin yang ditemani dengan secangkir kopi atau teh. Kami membawa sendiri nasi dan lauk pauknya. Maklumlah, perut tanah air sudah terbiasa diisi nasi 3 kali sehari. Catatan: Untuk menjelajahi seluruh wilayah peternakan biasanya  butuh sekitar 3 – 4 jam.

Cantiknya Padang Rumput Clonmacnoise 

Lokasi: ShannonBridge, Co. Offaly

No. Telp./Website: https://www.heritageireland.ie/en/midlandseastcoast/clonmacnoise/

Jam Buka: 10.00-18.00

Harga Tiket: Gratis

clon reruntuhan

Clonmacnoise adalah salah satu situs monastik umat Katolik yang paling terkenal di Irlandia. Letaknya cukup dekat, sekitar 30 menit dari pusat kota Athlone dan di salah satu pesisir Sungai Shannon.

Setelah memasuki pintu utama di situs wisata ini, ada sebuah bangunan yang saya pikir hanya tempat resepsionis saja. Namanya ‘Visitor’s Center’. Ternyata, dalam bangunan tersebut, selain ada kafetaria, kamar kecil, dan juga ruang museum.

clon kuburan

Di sana, kami bisa mendapat banyak sekali keterangan mengenai Clonmacnoise. Tidak hanya tulisan, tapi dilengkapi berbagai miniatur tentang kegiatan dan bangunan masa lalu di kompleks biara tersebut. Benar-benar, jauh dari rasa bosan dalam menikmati sejarah tempat ini. Anak-anak juga patuh dan ikut memandangi properti dalam museum dengan seksama tanpa terlihat bosan.

“Take me higher, I wanna see, I wanna see…” Nabil sempat merengek minta digendong saat melihat salib batu berukuran besar di tengah-tengah ruangan.

museum dalam clonmacnoise

Narda juga sempat mengira patung-patung orang yang menggambarkan situasi biara di masa lalu itu benar-benar hidup. “Heyo, heyo…” (Helo, helo) Katanya sambil senyum-senyum di depan salah satu perangkat miniatur tadi.

Keluar dari museum, barulah terlihat bangunan-bangunan biara zaman dulu yang  hanya berupa puing-puing saja. Termasuk sebuah katedral yang sudah tidak menyisakan atap sama sekali. Di samping katedral yang dibangun di awal abad ke-10 tersebut, terdapat beberapa reruntuhan kuil-kuil yang ukurannya tidak terlalu besar. Konon, dulunya di sinilah dimakamkan Santa Ciaran, orang yang pertama kali menemukan dan  membangun kuil di wilayah Clonmacnoise ini.

Clon anak-anak

Selain reruntuhan kuil dan makam, pemandangan serba hijau yang berpadu dengan birunya air sungai Shannon adalah obyek utama dari tempat ini. Anak-anak sampai berguling-guling di atas padang rumputnya.

Saking lapangnya padang rumput di sana dan serunya bermain bersama adiknya, belum apa-apa Nabil sudah setengah mengancam, “I don’t wanna go home. We wanna play until looooong..”

Oh ya, situs ini bisa dinikmati dengan gratis.

Jangan Lupa Museum Barang Antik 

Lokasi: Curraghboy, Roscommon

No. Telp./Website: https://www.derrygladfolkmuseum.com/

Jam Buka: Senin-Sabtu, 10.00 – 18.00

Harga Tiket: 5 euro per orang. Anak-anak di bawah usia 5 tahun tidak perlu membayar.

Kalau mengunjungi midland, belum lengkap tanpa menyambangi museum antik yang satu ini. Namanya Derryglad Folk Museum. Museum ini sebenarnya berada di kota kecil yang bernama Curraghboy. Tapi jaraknya dekat sekali dari Athlone. Hanya sekitar 14 km, yang bila ditempuh dengan naik mobil sekitar 15 menit saja.

Museum ini menyimpan banyak sekali benda-benda kuno khas penduduk Irlandia yang berasal dari abad ke-18 hingga abad ke-20. Macam-macam barang yang ada di sana. Mulai dari kamera-kamera antik, alat-alat pertukangan dan pertanian, mesin cuci tempo dulu, keramik-keramik peralatan dapur hingga miniatur tempat-tempat umum Irlandia di masa lalu.

museum plang

Ada 2 bangunan utama di museum ini. Yang sebelah kiri dan berukuran lebih kecil namanya MacCormacs Photography Room. Isinya adalah peralatan-peralatan sebuah studio foto dari tahun 1948, sebelum era digital. Selain itu, terdapat juga peralatan mencuci cetak foto. Apa lagi? Ada foto-foto klasik dari orang-orang terkenal yang pernah datang ke Irlandia dan diabadikan di studio foto MacCormacs yang memang pernah berdiri di kota Athlone dari tahun 1948 hingga tahun 2002.

Ruangan kedua, arealnya lebih luas. Meja-meja besar ditata di tengah-tengah ruangan. Semuanya dijejali barang-barang. Keseluruhan dinding juga sarat dengan benda-benda kuno. Ada yang digantung, ada juga yang ditaruh di atas rak-rak yang menempel di tembok ruangan. Tembok dekat pintu penuh dengan keramik-keramik peralatan makan dan minum. Mulai dari teko-teko antik, gelas-gelas kaca yang berukir atau bergambar, gelas-gelas besi sampai piring-piring serta mangkok makan model klasik.

museum depan inside

Harus ekstra repot kalau membawa para balita ke sini. Mereka, sih, senang. Tapi rasa penasaran membuat mereka ingin menyentuh macam-macam barang.

“I like that red glass, Mommie. Can we have it?” Tangan Nabil berusaha menggapai-gapai di depan rak lemari yang dijejali aneka peralatan dapur yang sebagian besar tergolong pecah belah.

Saya paling tertarik dengan mesin cuci yang berasal dari abad ke-19. Di atasnya tertulis ’from 1870’. Katanya, mesin bekerja dengan cara memutar sebuah bulatan hitam di atas wadah kayu besar atau dengan memompa tuas yang juga terpasang di atasnya. Seru, kan? Ada rupa-rupa setrika uap, alat-alat pertukangan, berkebun dan pertanian di masa lalu yang juga melengkapi isi museum.

Melihat alat pertanian juga anak-anak heboh. Ada semacam alat untuk membajak yang mungkin bagi mereka terlihat seperti mobil-mobilan. Alat cangkul yang ukurannya besar disangka pedang, “Wow, a big sword,” gumam Nabil.

Di pojok belakang ruangan ada semacam tempat yang ditata seperti sebuah warung kecil. Di rak-raknya tersusun macam-macam benda dari masa lalu. Sebagian merek yang ada masih dijual hingga kini tapi dalam kemasan modern. Misalnya merek teh, biskuit, kopi, rokok, tepung dan botol-botol saos. (Mbak, ini maksudnya yang di museum enggak dijual. Kemasan moderennya dijual di toko-toko biasa hehe. Yang ada di museum yang kemasan jadulnya walaupun merek masih beredar hingga sekarang :D).

museum miniatur kelas

Tak ketinggalan hadirnya miniatur ruangan dan bangunan masyarakat Irlandia di abad-abad lalu. Ada miniatur sebuah ruangan kelas yang tak hanya menampilkan papan tulis kayu dan kursi-kursi kayu yang umum digunakan dulu, tapi juga dihuni patung anak laki-laki kecil bertopi dan seorang ibu guru yang duduk di depan kelas.

Di sini, Narda yang tadinya sudah mulai bosan, kembali bersemangat. Dia berlarian dalam miniature ruang kelas itu. Sembari mengajak patung anak laki-laki kecil yang dibuat seukuran badan Narda. Seperti biasa, dia tertawa dan menyapa, “Heyo, heyo, let’s peyyy…” (Helo, helo, let’s play)

Abangnya tidak mengerti kalau Narda belum bisa membedakan patung dan orang, setengah menghardik, “It’s just a statue. He can not talk!”

Splash!

Setiap ruas jalan di wilayah Republik Irlandia dilengkapi petunjuk-petunjuk jalan yang komplit, termasuk petunjuk tentang rute dan nama-nama tujuan wisata yang tersebar di seluruh penjuru negeri.

museum toko antik

Bagaimana di Sana?

  • Di Athlone, banyak terdapat hotel-hotel berbintang seperti Sheraton dan Radisson. Radisson ini direkomendasikan karena letaknya yang tepat di salah satu pesisir Sungai Shannon. Pemandangan dari teras kamar yang menghadap ke sungai bagus sekali. Selain hotel, ada juga penginapan yang modelnya Bed & Breakfast (B&B). Baik hotel maupun B&B bisa dibooking melalui situs-situs online.

Sheraton Athlone à www.sheratonathlonehotel.com

Radisson Blu Athloneà www.radissonblu.ie/athlone

Rate per malam untuk kamar di Sheraton dan Radisson yang berukuran double berkisar antara 100-200 euro per malam. Kalau dibooking jauh-jauh hari, tarifnya bisa jauh lebih murah, lho.

Sedangkan B&B di Athlone bisa disambangi informasinya di www.booking.com, tarifnya lebih bersahabat di kantong. Berkisar 30-100 euro per malam.

  • Penerbangan dari tanah air ke Irlandia juga ada beberapa alternatif. Bisa melalui maskapai-maskapai Eropa atau melalui maskapai Timur Tengah, seperti Emirates dan Etihad. Harga tiket tergantung musim. Biasanya, di musim semi hingga musim panas (kira-kira Maret – September), harga tiket melambung tinggi.
  • Untuk memasuki wilayah Irlandia, diperlukan visa khusus. Walau termasuk anggota Uni Eropa, Irlandia tidak termasuk wilayah Schengen. Untuk pemegang paspor Indonesia, biaya pembuatan visa gratis. Cuma, bila diproses melalui tanah air, ada biaya tambahan, karena kedutaan Irlandia adanya di Singapura.
  • Di kota-kota yang tidak terlalu besar seperti Dublin, sebaiknya menyewa mobil sendiri. Bus angkutan umum cukup terbatas. Rental mobil mudah ditemukan di Kota Athlone. Harganya berkisar 10-30 euro per hari. Tergantung musim. Musim panas tentu akan lebih mahal daripada musim dingin misalnya. Salah satu situs penyewaan mobil bisa dilihat di sini ebookers.ie/Car‎
  • Rute jalan tidak sulit, kok. Papan penunjuk banyak dan memudahkan. Salah satu situs yang bisa membantu adalah athlone.ie/getting-here
  • Membeli makanan dan minuman di Kota Athlone juga tidak sulit. Gerai-gerai yang sudah umum dikenal di tanah air seperti Burger King dan McDonald serta KFC ada di kota ini. Harganya berkisar antara 1-10 euro per porsi, tergantung jenis makanannya. Makanan khas di sini tidak ada yang tergolong unik. Biasanya makanan utama mereka adalah aneka daging steak yang dinikmati dengan mash potatoes. Restoran halal juga ada, lho, di Kota Athlone. Misalnya rumah makan bernuansa Timur Tengah, Charcoal Grill, charcoalgrill.ie. Sajiannya sangat bervariasi. Menu-menu nasinya juga lengkap, lho. Andalannya apalagi kalau bukan aneka kebab. Harga menu berkisar 4-15 euro per porsi.
  • Situs resmi utk Irlandiaà https://www.discoverireland.ie/

Klik di sini infonya jika tertarik ingin menulis kisah jalan-jalan bersama keluarga ke Majalah Parenting Indonesia.

***