Pocari Sweat Run 2021 : Lari di Mana Aja (Virtual Run)

Life begins at 40 …. and run begins at 41 hahahaha.

Saya mulai belajar lari itu sekitar bulan Maret tahun ini. Gak kepikiran bakal rajin lari soalnya dari dulu kayaknya paling enggak bisa dah kalo disuruh lari :p.

Sebelum lanjuuuut, monggo disimak dulu versi vlognya πŸ˜€

Sempet sih rajin lelarian pas masih gadis. Kalau nge gym pasti nyobain treadmill, soalnya alat itu doang yang kayaknya paling familiar ya hahaha. Biasanya setengah jam lari-lari di atas treadmill. Bisa sampai pace 6, kadang sempet pace 5 beberapa menit.

Tapi ya udah gitu doang. Enggak ke mana-mana kemampuannya sampai akhirnya berhenti kerja dan berhenti nge-gym.

Belasan tahun kemudian mulai lari lagi. Dari awalnya lelarian 3 kilo an udah pengap, pace juga mentok 10. Padahal kalau jalan kaki pas di Ireland tuh, pace saya bisa 9,45 loh hahahaha.

Sempet berhenti lari setelah bulan Mei karena kehabisan motivasi. Terus diajakin temen ikutan race Pocari Sweat di bulan Oktober tanggal 24, barulah awal Oktober mulai lari-lari lagi.

Gaya beud, langsung ikutan yang 10K. Baru refresh lari lagi, paksain sampai 10 kilo. Setelah race tadi pagi kok ya kepikiran lucu juga kali ya nyobain marathon. Half marathon aja dulu kapan-kapan, someday next year? :D.

Hampir sama dengan semua hal di dunia ini, paling berat pas lari tuh MULAInya. Di awal-awal, kira-kira 1-2 kilometer pertama, kayaknya adaaaa aja yang berasa sakit hahaha. Tau-tau rasa pengin pipis lah, jempol kok rasanya nganu lah, lutut kok nyeri, napas juga masih dicari-cari iramanya yang pas.

Tapi begitu masuk kilometer ke-3 dan seterusnya sudah mulai nyaman.
Memang ada banyak sekali teknik-teknik berlari bertebaran di youtube. Mulai dari mengatur napas, postur tubuh, melatih pace, bla bla bla blu blu blu.

Tapi yang paling harus dikuasai itu melatih mental sendiri.
Berat banget melawan rasa pengin berhenti lari. Iya kaaan? Melawan pikiran sendiri. Because you can always find a million reasons why you should just stop :

“Ish, udah mau manula kok masih lari-lari aja. Masih banyak kerjaan lain lebih penting! Brenti aja!”

“Ngapain sih capek-capek lari. Pulang gih ngurus anak di rumah!”

“Duh, kayaknya mau pingsan deh ini. Udahan aja kali, ya.”

“Eh, kok kayaknya napas udah mau putus. Yuk, yuk, brenti aja, brenti!”

Perjuangan keras itu nanti terbayar lunas everytime mencapai finish dari jarak tempuh yang dicita-citakan. Setiap kali Garmin ngasih tahu, “Lap 10 sekian-sekian menit”, rasanya puaaasss banget. Bukan karena speed atau jauhnya tapi kebanggaan mengalahkan diri sendirinya itu loh, Gaaaeeesss <3.

Musuh terbesar itu ya diri sendiri :D.

β€œThe real competition is against the little voice inside you that wants to quit.”— George A. Sheehan

Keseruan lari bareng temen-temen BinLoop-Girls tadi pagi nih. Pocari Sweat Run 2021, LARI di MANA AJA. Offlinenya berlangsung di KOta Bandung. Sementara virtual run boleh dari mana saja.

Dengan kecanggihan aplikasi ana unu, sampe pusing harus sinkronisasi aplikasi ini itu (hahaha), virtual run menjadi tren baru di era pandemi ini. Tetep bisa lelarian dalam race kitaaaahhh :D.

Bangun sebelum azan subuh biar bisa ngejar berangkat pagi. Pengin finish sebelum terik. Jadi gelap-gelap udah ribet pemanasan di teras hihihi, pukul 05.15 mulai lari muter-muter di BinLoop.

Finish sekitar jam 06.40, gagal mencapai pace 7 an nih huhuhu. Mentok di pace 8,39. Gak papalah tetap jadi personal best so far.

Ngumpul ama the girls setelah finish, karena kita startnya beda-beda titik dan beda-beda waktu. Somehow nyangkut sebentar haha hihi foto-foto :D. Setelah itu baru pulang dengan paha pegel-pegel :D.

Next, akankah mungkin daku berlari sejauh half marathon. Aminkan saja dulu, yes? Aamiiiiiiiiiinnnn ;).

Wearing Bra, Yay or Nay?

Lagi selowww, bahas BH aaaahhhh πŸ˜œπŸ˜…πŸ™.

Sebenernya kontroversi menggunakan bra/BH ini bukan sekadar perkara kurang kerjaan ato enggak hehehe. Karena secara kesehatan, isu ini udah rameeeee diperdebatkan sejak kapan tauk πŸ˜….

Persoalan penggunaan bra ini mencuat gegara ada fatwa-fatwaan dari kelompok agama tertentu. Jadi ruameeee dan meledak hahaha. Konon, down-nya IG-FB-WA gegara Om Mark kesel pada bahas bra melulu hahahaha.

Baca Juga : “To Educate A Woman”

Jadi dibahas dari segi medis pun, memang ada kontroversinya sejak dulu β˜ΊοΈπŸ™. Secara medis, menggunakan bra yang enggak pas itu bisa punya pengaruh negatif terhadap otot dada dan pundak loh, Girls πŸ™ˆ.

Justru tidak menggunakan bra secara medis pengaruhnya hampir tidak ada. Mungkin soal kenyamanan dan kebiasaan ajah. Walau ada juga yang mengklaim karena menggunakan bra bisa mencegah ini itu.

Soal SAGGY, kalau ukuran payudara di atas rata-rata itu hukum gravitasi sederhana. But remember jangan asal pakai bra. Karena kalo ukuran enggak pas, seperti diutarakan di awal, efek negatifnya jelas ada πŸ™.

Saggy or not dipengaruhi oleh faktor lain. PERUBAHAN TUBUH SAAT HAMIL itu yang paling berefek ternyata.

KEHAMILAN loh ya, BUKAN KARENA MENYUSUI 😁. Jadi kalau sudah pernah hamil, whether you’re breasfeeding or not, tingkat ke-SAGGY-an pasti akan nambah ya buibuk πŸ˜†πŸ‘Œ.

Baca Juga : “3 Kehamilan di 3 Negara”

Makin sering hamil yah makin besar pengaruhnya. Makanya ada juga yang berusaha mengontrol frekuensi kehamilan untuk mempertahankan bentuk tubuh bagian yang satu ini. Gak salah juga sih karena ternyata memang ada pengaruhnya.

Soal apakah itu etis apa enggak, ya balik lagi, your life your value your choice ;).

AFAIK, menyusui malah hampir gak ada pengaruhnya. Jadi jangan takut menyusui yah Moms ❀️.

Faktor selanjutnya… USIA! Makin berumur ya makin SAGGY πŸ˜†πŸ˜…. Ini sih pengaruh standar untuk hampir semua bagian tubuh.

Baca Juga : “Getting Older? Remember That Change Can Be Beautiful”

Another thing, MEROKOK pun bisa meningkatkan keSAGGYan.

Sebenarnya menggunakan bra will be a little helpful. Tapiiiii, syaratnya memang harus pas. Dan berdasar pengalaman, bra standar yamg bener-bener nyaman biasanya dari brand-brand ternama yang muahaaaalll πŸ™ˆπŸ€‘.

Kesadaran soal menggunakan bra yang tepat ini kayaknya masih kurang banget. Karena kebiasaan dari kecil mungkin udah gitu, yang penting ketutup, yang penting pakek bra, titik.

Padahal banyak juga bra yang ngasal-ngasal. Cuttingnya enggak pas. Bahannya kualitas kurang baik dst dst.

Bra brand ternama pun kalau bahan utamanya masih seputar kawat-kawat serta bahan karet yang agak keras kalo digunakan kelamaan juga efeknya gak bagus. Makanya banyak saran untuk bra-less kalau lagi tidur malam. Biar bisa napas dikit yak kalau seandainya seharian pakainya bra yang asal ada aja.

Dan sebenernya sudah banyak pihak yang malah menyarankan tidak terlalu perlu pakai bra. Tapi mengubah kebiasaan dan alasan kenyamanan perlu dipertimbangkan.

Misalnya saya nih. Tidur aja susaaaaahhh banget gak pakek bra. Gimana gitu. Risih euy :p. Walau udah bolak balik baca artikel soal pentingnya melepaskan bra sesekali, misalnya saat tidur malam.

Salah satu solusinya mungkin bisa pakai sport bra. Sudah agak lama saya pakainya sport bra doang. Tadinya cuma pas olahraga doang. Tapi sekarang jadi bra sehari hari jugak.

Bra-bra “jadul” sudah saya hempaskan semua hihihi. Pagi ampe malam hanya pakek sport bra aja. Praktis juga sih. Pagi-pagi mau olahraga tinggal cuuussss, gak perlu ganti bra hihihi.

Postur tubuh juga sangat berpengaruh. Badan yang bungkuk, round shoulder, tentu membuat posisi dada lebih ‘turun’. Makanyah, olahraga itu penting bangeeeetttt ☺️.

Baca Juga : “Olahraga di Rumah? Youtube-in Ajah!”

Exercise efeknya ke mana mana, makanya harus jadi kebutuhan. Bukan cuma biar langsing semata.

Cara instan untuk “memperbaiki” bisa juga. Apa sih yang gak bisa dihandle oleh operasi plastik πŸ˜œπŸ˜†.

Jadi jangan buru buru emosi ya, Ladies. Membahas soal penggunaan bra bukan karena kurang kerjaan aja kok πŸ˜…πŸ˜‚πŸ™.

Memang cukup kontroversial sejak lama. Monggo digoogling kalau ingin lebih detail. Lumayan penting untuk dijadikan perhatian bersama. Belum terlambat kalau ingin berubah dan diperbaiki, yes? ;).

Tim bra-yay ato bra-nay, neh? :p

Now and Then (2) : Mau Punya Anak Berapa?

Saya setuju dengan pendapat teman soal generation gap dalam urusan beranak ini hihihi. Entah dengan kalian, seingat saya, dulu keputusan semisal menikah dan mau punya anak, bukan keputusan “ideologis”.

Kenapa mau menikah? Simply because everyone did! Hahaha. Kenapa mau punya anak? Because it’s a normal thing to do. Ya mengalir aja gitu. Dijalani karena ya semua orang juga gitu :p.

Buat saya, anak kedua pun begitu. Mikirnya, “Ah, masa cuma satu. Minimal 2 lah.” Payah emang hahahaha. Mana ada saya mikirin nanti masa depannya gimana, apakah sanggup membesarkan dengan penuh cinta kasih sayang, keuangan gimana, anu-anu dst dst dst.

Begitu anak ketiga barulah merupakan pertimbangan yang lebih matang. Banyak aspek diperhitungkan. Bukan lagi keputusan yang “yaelah, semua orang juga gitu kok” :p.

Sebenernya sudah ada loh dulu temen saya yang secara terbuka menginginkan status “childfree”. Bisa ditebak, sekarang saja keputusan untuk childfree masih bikin gonjang ganjing dunia netijen yang gampang meledak (hahaha), apalagi era beberapa dekade sebelumnya.

Tentu temen saya yang mau childfree di masanya itu dianggap “freak” bla bla bla.

Mungkin kalau zaman ibu atau nenek kita, orang-orang yang memutuskan untuk childfree bakal dirajam ya hahahaha. Kini, zaman lebih berkembang. Menghadapi perbedaan enggak segempar dulu. Gemparnya pun paling sahut-sahutan di medsos doang :p.

But again, sebenernya dulu-dulu pun mungkin tidak sedikit yang berpikiran sama (misalnya mau childfree, mau selibat seumur hidup dll) tapi sarana mengemukakan pendapat belum selugas dan sebanyak sekarang. Dulu paling ditulis dalam diari dewe-dewe, dikonci pulak, umpetin dalam lemari, dibaca sendiri terus udah :p.

Urusan beginian, saya tergolong konservatif. Soal menikah misalnya. Entahlah dulu tidak pernah membayangkan tidak menikah. Sampai-sampai ketika ada pertanyaan, “Tidak menikah sama sekali ATAU menikah dengan orang yang salah?”

Saya mantap memilih, “Menikah dengan orang yang salah!”

Ya pokoknya kudu nikah, titik. Tolong dah hahahaha.

Dunia digital bener-bener menghadirkan banyak fakta dan informasi dengan mudah dan cepat. Tentulah beda dengan masa dulu-dulu di mana jangkauan informasi kita sangat terbatas.

Banyak info, banyak pilihan, banyak pertimbangan, lebih banyak keinginan yang makin kejar-kejaran dengan kemampuan, dan tentunya…. lebih mudah membaca resiko.

Seharusnya tidak sulit dipahamil mengapa generasi sekarang lebih berani “mikir” terlebih berani mengambil keputusan. Masa depan lebih terbaca seiring dengan lebih banyaknya pilihan.

Role model bukan lagi orang tua kita sendiri atau siapa pun yang secara jarak dekat dengan kita.

Via medsos, kehidupan siapa di benua mana bisa kita lihat LIVE sehari-hari ye kaaaannn :D. Potret kehidupan membentang luas sampai ke sudut dunia nun jauh di sana.

Contoh kecil, dulu ambisi untuk S2 di luar negeri mentok sekadar cita-cita. Informasi seret, waktu terbatas apalagi untuk yang bekerja full time seperti saya. Dulu kalau mau nyari informasi banyakan via offline :(. Sudah capek duluan pulang kerja dll.

Mau cuti takut kena pecat, kalok dipecat bayar kosan dll gimanaaaaa *suaraHatiAnakYatim* hahaha. Enggak tau juga mau mulai dari mana. Contoh sekitar ya gitu, rata-rata pada merit. Kalo pun ada yang sejalan , kondisi ekonomi beda jauh hehehe.

Sekarang alhamdulillah, tinggal googling aneka rupa informasi nongol bener-bener tinggal baca dan diterapkan step per step secara detil <3. Alhamdulillah ikut seneng. Ayok adik-adik lebih semangat meraih mimpi, sekarang sudah banyak jalan dan insya Allah jauh lebih mudah.

Jadi wajar banget kalau ada yang percaya diri untuk menunda pernikahan. Atau ada yang mau childfree sekalian. Dulu punya anak ya punya anak aja, banyak yang tanpa perencanaan detil, hayo ngaku! Hihihihi.

Satu anak, dua anak, bungkuuuussss :p. Mungkin anak ketiga dan seterusnya baru lebih “mikir” :p. Tujuan punya anak juga bukan sekadar buat investasi. Generasi dulu mikirnya anak buat penjaga di masa tua misalnya, buat dimintain duit #eh :p dst dst.

Sekarang jamannya sudah berbeda, yes?

Sudah muncul kesadaran untuk meyakini masa depan kita tidak perlu mendompleng masa depan anak :p.

Makanya suka heran kalo ada yang bilang ke saya, “Bikin lagi Je, biar dapet cewe. Entar lu tuanya ama siapa?”

Jiaaaahhh, ngapain amat ngabisin masa tua berantemin menantu ye kan hahahaha. Semoga anak-anak bisa menjalani masa depan yang baik dan mandiri ya, demikian pun kami berdua, ingin mandiri di masa tua. Saya bahkan enggak keberatan tinggal di panti jompo. Asyik, bisa ngerumpi ama yang seumuran hihihihi.

Nanti temen-temen jompoku kuwawancara satu-satu. Kuyakin tiap orang punya kisah hidup unik dan menarik. Gue bikinin buku satu-satu hahahaha. Aamiin <3.

Tren juga sekarang banyak yang pengin punya anak satu aja biar lebih fokus. Atau yang sekalian pengin CHILDFREE. Again and again, your life-your value-your choice.

Setuju dengan pilihan hidup orang lain bukan berarti kita sepakat dan ikut menjalani kaaaaannnn? Bedakan simpati vs empati :D.

Yang sudah dikaruniai buah hati ya hayuk diemban tanggung jawabnya. As hard as it is, as impossible as it could be, there’s no way to run :). Dihadapi saja.

Setidaknya jadi lebih mudah berempati pada mereka yang memilih keputusan berbeda.

Jadi orang tua berat? Wo jelaaaaaassssssss. Memilih childfree? Tentu lain lagi resikonya. Mau pilihan apa pun, selalu ada konsekuensinya. Kita bebas memilih, tapi konsekuensi akan selalu mengikuti. Sesimpel ituh :D.

Ukuran kebahagiaan juga beda-beda. Lu seneng punya anak then go on. As a happy mom (well, at least 55% happy lah hahaha) of three, I do believe, 100%!, kalok ternyata ada orang lain yang tidak punya anak (baik karena kondisi maupun keinginan sendiri) juga bisa bahagia.

β€œMere color, unspoiled by meaning, and unallied with definite form, can speak to the soul in a thousand different ways”. ~Oscar Wilde

Kebahagiaan punya banyak dimensi, I do believe :).

“TURUN MESIN”???

Wah, gue jadi merasa berdosa karena sering menggunakan istilah Turun Mesin ini juga πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ. Buat ke diri sendiri tapi yaaaaa πŸ˜¬πŸ™.

Setelah melahirkan anak pertama, abis cuti 3 bulan, saya ngantor lagi. Terus gabung dengan geng mamak ASI di kantor.

Image by Free-Photos from Pixabay

Sekali itu ngobrol soal perubahan bentuk tubuh saat menyusui. Dan ternyata saya baru tahu soal kondisi payudara itu dipengaruhi oleh PROSES KEHAMILAN. Bukan karena menyusui.

Penasaran, yes? Terus nanya-nanya ke obgyn. Eh, ternyata bener πŸ˜….
Kirain tuh kendor dan perubahan fisik lainnya lebih karena menyusui. Ternyata karena hamil. Perubahan fisik juga terjadi si beberapa bagian.
Obgynnya becanda, “Ya kalo mau bodynya gak berubah jangan hamil aja, Buk.”

Hehehe.

Dan memang makin sering hamil ya makin besar pengaruhnya. Bisakah dikoreksi? Pakai operasi katanya sih bisa.

Gaya hidup dan pola makan tentu ada efeknya tapi yah enggak seefektif operasi dll. Saya sendiri termasuk cardio-freak dan sekarang rajin angkat beban, pola makan ya dijaga sebisanya walo lebih sering loss hahahaha.

Pokoknya memang ekstra kerja keras. Yah gimana, udah jadi hobi dan kebiasaan hehe πŸ™.

Yang udah 3x “turun mesin”, Gaeeesss hahhahaha. Not bad lah :p.

Berat badan bisa banget balik ke jaman gadis. Tapi memang ada kondisi-kondisi yang gak bisa balik lagi. And it’s okay πŸ˜˜πŸ’•πŸ™.

Baca Juga : “In Her Shoes”

Jadi udah paham aja kalo ada yang tetep bisa ‘bertahan’ ya ada faktor bantuan medis ternyata hehehe. Bisa dikoreksi pakai operasi atau “perawatan” lainnya. Completely OK, your life your value your choice πŸ‘.

Saya nanya itu ke dokter karena penasaran banyak juga yang tidak mau menyusui karena takut kendor hehehe. Padahal mau menyusui atau tidak, proses hamilnya sendiri memang sudah menyumbang banyak perubahan fisik.

Mual dan muntah saat hamil muda
Gambar : pixabay.com

Buat saya sih itu privilege, kok. Lakik mana bisa hamil 😎😎😎.
Cuma memang enggak pas lah kalau orang lain yang ngomong. Apalagi suami celetuk soal istilah turun mesin kepada istri sendiri, di depan umum pulak πŸ™„πŸ€”.

Analoginya kalok sesama African-American menyapa dengan kata “Nigger” ya oke-oke aja. Tapi cobak yang ngomong “Nigger” adalah ras lain, bisa panjang ceritanya πŸ˜…πŸ˜.

Gara-gara kasus ini saya juga jadi gak enak sering pakai istilah turun mesin walo ke diri sendiri 😩🀭. Apa deh ya istilah penggantinya yang lebih “enak” πŸ˜œπŸ˜….

Misalnya kalo ditanya umur segala macam, saya suka becanda jawab, “Pokoknya dah pre lansia. Tiga kali turun mesin.” πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚.

Baca Juga : “3 Kehamilan di 3 Negara”

Gak lagi-lagi dah. Saya kira ‘turun mesin’ itu artinya kalau mesin kendaraan bermotor udah mengalami perubahan jadi gak “baru” lagi. Ternyata konotasinya negatif yak πŸ˜…. Duh, dodol gue mah πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚.

Yang penting tetep semangat jaga kesehatan. Olahraga bikin hepi stamina tetep kuat buat nanjak segala macam, yes? If you know what I mean πŸ˜œπŸ˜‚πŸ™.

Baca Juga : “Artikel jihandavincka.com dengan kategori : Olahraga di Rumah”

Jaga makan biar sehat-sehat terus, aamiin.

Keep it coming, Girls.

Soal si oknum ituh ya udahlah, hempaskan! Jangan bahas dese lagi, dah deket-deket 2024 neh. Everyone is trying to get the moment. As we’ve been too familiar, “Bad news is a good news”.

Baca Juga : “The Social Dilemma : How Social Media Really Works”

Can’t Help Falling in Love

Mungkin ada satu masa dimana pernikahan kita baik-baik saja. Paling masalah receh-receh saja. Pokoknya happily married hepi-hepi joy tralala trilili.

Enggak tahu gimana ceritanya tahu-tahu saja we are falling in love again, NOT with our spouse.

Kok bisa ya?

Ya bisa banget dong Dear, simply because we are HUMAN. Bukan robot 😜.

Memang kondisi perasaan naik turun dan gak stabil terus-terusan. Termasuk dalam urusan naksir-naksiran begini. Mau umur berapa juga, rasanya kalau kena panah asmara apalagi yang tidak pada tempatnya, memang maknyooosssss πŸ˜›.

Semacam isi lagu inilah :p.

Makanya kenapa harus repot-repot menangkal sesuatu yang di luar kendali kita? As it’s said, “life happens” πŸ™. Yang lebih penting adalah respons atau tindakan yang diambil.

Kabar baiknya – – > How we are going to face it – – >100% di bawah kendali kita ✌️.

Tapi level kondisinya memang macam-macam banget.

Dalam kasus lebih sederhana when you really-really like him/her but he/she doesn’t like you back. Bisa jadi dese emang gak tertarik atau simply out of your league. Misalnya orang biasa naksir artis gitu hahaha. Atau siapalah yang jelas-jelas gak akan naksir balik.

Yang gini biasanya aman πŸ˜œπŸ˜…. End of story. Unless you’re some kind of psycho, you can’t make him/her love you if he/she won’t, yes? πŸ˜‰

Kalau saling jatuh cinta? Waini! Refooootttt πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ.

Apinya membara ada kesempatan pula. Lebih fatal kalau salah satunya single. Kalau sama-sama menikah, dimana kedua pernikahan relatively fine biasanya mudah-mudahan masih sama-sama waras.

Don’t worry pada umumnya jatuh cinta itu gitu-gitu aja kok. Awalnya kek mo mati tapi tidak ada yang abadi 😊. Hang in there, eventually it will be gone just like that. Tanpa kita harus ngapa-ngapain.

Tapi dalam fase “hang in there”nya ini yang jangan sampai melakukan hal-hal bodoh. Inget loh, kendali kita itu sebenernya ada pada pikiran. Pikiran yang mengontrol perasaan. Jangan dibalik.

Mungkin sama dengan fase Baby Blues pasca melahirkan, jangan langsung merasa insecure dan tidak normal dan merasa ada yang salah dengan diri sendiri. Memang tidak semua orang mengalami, demikian juga dengan problema jatuh cinta lagi ini.

Tapi kalau sampai kejadian, it’s totally normal. Bukan karena kurang iman, kecentilan bla bla bla blu blu blu.

Kalau sama-sama menikah tapi salah satu bermasalah juga kasus yang cukup berat. Apalagi kalau dua-duanya sedang sama-sama ribet di rumah tangga masing-masing. Ini sih kayak lem ketemu perangko.

Many times, based on pengalaman dengerin curhatan teman yang di ambang perceraian, perselingkuhan justru anti klimaksnya.

Sebenernya ada masalah lain yang lebih berat yang menjadi pemicu.
Seorang teman mengamuk karena suaminya berselingkuh. Ya eiike ikutan emosi dong!

Setelah tiga kali pembicaraan intens lewat telepon, 90% isi curhatnya adalah tentang masalah yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kehadiran si orang ketiga. Mendadak terselip rasa bersalah udah ngata-ngatain lakiknya.

Makanya urusan rumah tangga orang lain itu memang aneka rupa cerita. Lama tak bertemu hanya lihat di medsos masing-masing didominasi foto-foto liburan mereka bersama buah hati tercinta.

Setelah mendengar full storynya, saya kok yakin tanpa kehadiran orang ketiga, their marriage has come to the end of the road.

Another thing, memang repot kalau terjebak cinta terlarang dengan teman dinas atau rekan kerja yang mengharuskan kita berdekatan terus, apalagi secara fisik. Karena salah satu obat manjur untuk menghadapi hal seperti ini adalah MENGHINDARI komunikasi dalam bentuk apa pun.

raffi ahmad vaksin

Tidak semua orang punya pilihan ganti karier begitu saja kan? Iya kali bisa ujug-ujug resign.

Kalok resign begitu saja terus gak dapat kerja ya bisa jadi malah berantem soal lain dengan pasangan di rumah. Enggak ada penghasilan juga pemicu pertengkaran yang intens, yes? Hehehe.

Jadi memang kisah di belakang layar itu seringnya jauuuuhhh di luar jangkauan kita. Rumitlah mencoba mencerna isi kepala orang lain. Isi kepala sendiri aja ribeeet shaaayyyy πŸ˜›.

Kasus yang lebih “membumi”, ketemu ehem-ehem dari masa lalu. Apalagi nih misalnya dulu kita naksir super berat tapi malu jadinya berlalu begitu saja eh ternyata ketauan si doi juga dulu naksir, yassalam, sirine harus segera dinyalakan itu, alert, alert, alert! Hahaha.

Adanya aneka rupa medsos memang sekaligus jadi cobaan berat. Makanya memang harus hati-hati sama reuni dll itu hahahaha.

Terkait kasus si adek artis yang lagi viral, aduuuhh, di IG tuh sampai-sampai video-video pribadi yang sebenernya tidak ada hubungannya dengan kasusnya yang lagi ramai, dikuliti bareng-bareng. Segala rupa borok dikorek.

Ini kan sebenernya masalah pribadi. Kenapa harus ngamuk? Selain kita tidak benar-benar paham cerita selengkapnya, memangnya kita dirugikan apa siiiiihhhh.

Ada yang bilang nanti jadi contoh buat yang lain. Alamak, disangka kasus beginian cerita baru apa gimana.

Dari dulu juga sudah ada dengan latar belakang masing-masing yang seringnya menjadi misteri buat pemirsa. Tapi komennya paling luar biasa ngalah-ngalahin psikolog hahahaha.

Mungkin ada baiknya teman-teman psikolog berbagi tips dan info apa yang sebaiknya dilakukan jikalau kita terjebak dalam cinta terlarang begini-begini?

Karena kalau lagi dalam posisi terbakar asmara, biasanya dikendalikan oleh emosi yang sangat kuat dan agak susah mau berpikir jernih. Apalagi kalau intensitas pertemuan tinggi. Makin repot mau dilawan.

Padahal yang membuatnya seperti itu ya simply karena kita tahu itu terlarang. Manusiawi banget itu, makin dilarang kok ya makin nganu hahahaha. We must believe that as strong as the feeling is, it’s not necessarily the end of our marriage.

Kalau mau explore lebih lanjut, situs marriagehelper.com itu lumayan banget πŸ˜ƒ. Buat bacaan ringan itung-itung sebagai langkah preventif #eaaaa :p.

Singing :

“Memang serba salah rasanya tertusuk panah cinta — Walau kutahu kau ada pemiliknya — Tapi kutak mampu membohongi hati nurani — Kutak mampu menghindari gejolak cinta ini ….” (Kala Cinta Menggoda, Chrisye).