“Bahasa Dunia” vs “Bahasa Surga”?

Belajar bahasa Arab emang lagi heiiiitttzzzz :D.

Pernah sampai dulu teman ada yang nyolek saya,

“Jee, lo dulu pernah di Arab kan?”
“Iya di Saudi. Kota Jeddah.”
“Eh ini, bahasa Arabnya semoga cepat sembuh apa ya?”
“Kenapa emang?”

belajar bahasa Arab
Gambar : pixabay.com

“Udah sih buruan apaan. Ini soalnya di grup sekarang gitu-gituannya pakai bahasa Arab terus.”

Saya pasang icon ngakak banyak-banyak, “Ya udah, lo pakai bahasa Indonesia ajalah. Atau bahasa Inggris kan lo juga bisa. Ribet amat kudu ikut-ikutan ngarab. Mending ngerti.”

Lagipula, kata ganti orang dalam bahasa Arab itu memang dahsyat. Ada 14, Cyin!

Dese ngambek hahaha.

Dalam komunikasi juga harus mempertimbangkan tren dan pola kehidupan masyarakat sih, ya. Kita harus paham mengapa membahas persoalan bahasa Arab itu JELAS lebih sensitif ketimbang benerin grammar dalam bahasa Inggris misalnya.

Kalau pengalaman saya yang dulu-dulu, misalnya membahas soal Arab Saudi memang akan lebih mengundang kerumunan ketimbang bahas negara Irlandia misalnya hehehe.

Kalau kebetulan tulisannya berisi kritikan … byuh-byuh-byuh bisa diterkam kita dari segala penjuru! *lariTunggangLanggang* Hahahaha.

Heran dah, eike lebih sering menulis yang “manis-manis” tentang Saudi, begitu ada kritikan langsung dituduh Anti Islam, Liberal, bla bla bla.

Nah kasus yang sama juga untuk bahasa Arab . Di postingan seorang teman tentang penggunaan bahasa Arab sempat viral. Apalagi kondisi sekarang, if you know what I mean .

Di postingan itu, saya paham sih maksudnya si TS mau mengajarkan soal penggunaan bahasa Arab yang benar. Tapi mungkin terasa ada beberapa diksi yang seperti menyindir.

Sekali lagi ingat ya, ini BAHASA ARAB! Belum tentu respons yang sama akan datang kalau misalnya yang dibahas bahasa Inggris, mungkin responsnya biasa-biasa saja .

Dari komentar-komentar di postingan viral itulah jadi kita bisa sedikit meraba-raba mengapa hal ini jadi sensitif banget?

1. Ada istilah bahasa Surga. Malah ada yang ngotot nanti kalau di Hari Akhir kita ditanya-tanya malaikat pakai bahasa Arab. Wah, ini saya belum pernah dengar sebelumnya.

Saya tahunya nanti konon mulut kita terkunci rapat, yang berbicara adalah amalan dan perbuatan yang diwakili oleh anggota-anggota badan selain mulut. CMIIW, ya.

Lagipula apa benar Tuhan dan para malaikat tidak tahu bahasa lain selain Arab? Waduh, jangan meremehkan gitu lah hehehe. Sudah lihat video viral gadis mungil usia 4 tahun yang lancar berbicara dalam 7 bahasa? .

2. Menggunakan bahasa Arab pahalanya lebih besar. Apalagi dalam doa. Ada benarnya. Tapi apa berarti kalau pakai bahasa lain jadi terasa “kurang”? Harusnya enggak lah. Prinsip niat dan keikhlasan tetap berlaku. Dan yang bisa membaca gitu-gituan ya Tuhan saja. Jangan mendadak lebih Tuhan daripada Tuhan :p.

3. Ada yang membahas keutamaan menuntut ilmu bahasa surga ketimbang bahasa kafir. Emang ada bahasa yang kafir? Hahahaha . Jadi saya haluskan istilahnya di judul menjadi “Bahasa Dunia” .

Ya semua bahasa itu juga ilmu doooong ;). Semua bahasa-bahasa ini jika dipergunakan untuk kebaikan dan membawa manfaat positif buat banyak orang (juga diri sendiri) ya insya Allah bisa menjadi bekal kita menuju surga. Aamiin .

Untuk urusan muamalah di dunia ya bahasa Inggris juga keutamaannya tinggi lho itu . Disepakati sebagai bahasa internasional. Apa manfaatnya? Ya masa harus saya terangkan sih .

4. Bahasa Arab ada pahala lebih. Pahalanya tiap huruf. Ini apa benar begini? Setahu saya ini untuk bacaan alquran BUKAN bahasa Arab secara umum. Duh kemarin lupa nanya ke Pak Ustaz hehe.

***

Soal bahasa Arab ini teringat pengalaman tinggal di Jeddah dulu. Ada teman saya fasih sekali berbahasa Arab tapi tidak terlalu piawai berbahasa Inggris. Saat ada urusan di tempat publik, dia bungkam seribu bahasa.

Dia memilih memanggil teman yang jago berbahasa Inggris untuk menemaninya. Pasti kalian yang belum tinggal di Saudi bingung. Ribet amat, ya tinggal bahasa Arab saja pasti beres urusan.

Jadi begini … saya sempat getol mau belajar bahasa Arab waktu masih di Jeddah. Saya ajak teman. Jawaban dia, “Ngapain lu belajar bahasa Arab. Entar disangka TKW lho!”

Ooooo karena itu hahahahaha.

Ternyata memang benar. Stereotip TKW Indonesia, yang sayangnya sebagian besar mengisi ranah “informal-domestik”, fasih berbahasa Arab tapi tidak bisa berbahasa Inggris.

Malasnya gitu sih kalau dianggap TKW. Ngeri aja kalau sampai kena razia zzzz . Syukur-syukur kagak diculik disuruh kerja di rumah majikan hahahaha. Ditanya-tanya “Kerja di mana” saja kita ya pasti ada rasa gimana gitu kan?

Jenguk teman di rumah sakit mentereng, gue kagak dibukain pintu disangka TKW kali hahahaha. Sikat saja jelasin pakai bahasa Inggris panjang lebar dengan aksen se-Hollywood mungkin (hahaha), langsung terbirit-birit dese buka pintu! It was so hilarious! ????.

Saya tetap semangat pengin belajar bahasa Arab . Tapi belajar bahasa lain juga mau bangeeeeeetttttt . Sekarang jalannya masih lagi belajar bahasa Spanyol dulu .

Sekarang ini, kalau di grup-grup WA, walau dari atas sampai bawah komentar berisi, “Barakallahu fii umrik” dst, saya tetap berkomentar dengan riang gembira, “Happy birthday, Sayaaaanggg. Many happy returns.” Hihihihi.

Saya nyaman pakai bahasa Inggris. Kalau bahasa Indonesia juga nyaman cuma malas ngetik panjang-panjang hahahaha. Bahasa Inggris enak, biasanya lebih singkat .

Kalau bahasa Arab walau ada pernah nyangkut dikit, memang belum terlalu nyaman menggunakannya . Takut juga ada rasa ekslusif, ya. Apalagi kalau memang bukan bahasa sehari-hari kita.

Yah namanya di media sosial memang harus banyak-banyak pertimbangan. Saya sih setuju-setuju saya dari postingan teman-teman soal kehati-hatian berbahasa (secara umum) jadi sedikit ingat lagi dengan bahasa Arab dan kaidah-kaidahnya.

Tapi ya juga harus menerima konsekuensi yang menyertainya . Singgung yang “arab-arab” ya harus siap diberondong peluru “benci banget sih sama Islam Mbak?” dst .

Ngomong-ngomong, saya sih percaya segala perbedaan bahasa -etnis-budaya di dunia ini ya memang DICIPTAKAN oleh Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dari kecil juga, guru mengaji saya pun tidak pernah ya rasanya ngajarin bahasa-bahasa surga apalah-apalah.

Bahasa surga yang saya pahami ya bahasa kasih sayang, bahasa keadilan, bahasa pemahaman, bahasa pengertian, bahasa keikhlasan … apa pun kata-kata yang diucapkan untuk mengungkapkannya .

“Love has no language barriers. Whatever words you speak, the heart will surely understand.” -anonymous-

Selamat berakhir pekan, have a nice weekend, ten un buen fin de semana .

8 comments
  1. mbaaak izin share yaaaa…ini sebenernya udah sering banget ada dalam pikiranku, terutama kalo udah komunikasi di grup keluarga dan WAG kelas anakku. Suka ngebatin sendiri kalo nemu ada member grup yang berbahasa Arab persis seperti cerita mbak di postingan ini. Kalo aku mikirnya lebih: kita kan orang Indonesia, pake bahasa Indonesia aja napa sih? hahahaha

    1. Sebenarnya ada keyakinan juga kalau yang begini-begini ini sunnah. Ya tidak apa-apa sih. Asal lihat-lihat situasi dan audiens ya dan digunakan dengan benar :).

  2. Muahahah… Aku gak percaya masa mbak Jihan sekeren inih dikiran TKW sampe gak boleh masuk RS, wkwkwk.. kakakku yg guru bahasa arab aja ngomong sama kita2 biasa pake Indonesia, gak pake arab sepotongan.. yha, makanya aku juga biasa aja, ga mau ikut-ikutan doang

    1. Di sana mah, asal “tampang Indonesia” kayaknya otomatis dianggap TKW kecuali ketemunya di Mekkah Madinah kali ya karena ada kemungkinan jemaah umrah atau haji hahahahaha

  3. Kalau sekarang saya memang jarang menggunakan istilah Arab dalam percakapan sehari-hari. Selain takut salah, karena belum terbiasa saja. Beda pas jaman kerja dulu. Karena tiap jumat itu Arabic day, ya mau gak mau barang satu atau dua kata saya ucapin. Lha saya gak tahan mingkem seharian. wkwkwkw

    1. Sungguh tidak ada niat untuk men-discourage penggunaan bahasa Arab, ya.

  4. Mbak nany dong… sebenerny jilbab syari it di arab wajib gak..?? Soalny pernah umroh kok rata2 gak syarii yah…
    Didubai juga

    1. Arab mana? Arab Saudi? Di Saudi sih aturannya abaya hitam + jilbab hitam. Yang syar’i itu maksudnya yang gimana, yang gamis panjang dan kerudungnya sampai lutut itu, ya. Kurang paham saya Mbak dari segi syariat gimana. Lagian saya pribadi menganggap model pakaian itu ya lebih lekat ke budaya setempat. Coba ditanyakan ke ustaz/ustazah yang lebih kompeten.

Comments are closed.