[Netflix] Serial Shtisel

Waktu scene soal “haram”nya televisi, saya sempat membatin, “Ini pilem tentang Yahudi apa Salafi neh?” Hahahahha.

Baru saja kemarin ada kerabat yang maen ke rumah dan menghabiskan waktu lebih banyak menonton televisi karena di rumahnya enggak ada TV karena ada kerabat beliau yang menganut paham salafi hehehe.

Shtisel, sebuah keluarga Ultra-Orthodoks Yahudi yang tinggal di sebuah wilayah “ekslusif” di Yerussalem.

Adalah Shulem Shtisel, yang baru saja menduda, seorang guru di sebuah Cheder (sekolah privat berbasis agama Yahudi, semacam madrasah gitu ya kalau dalam Islam), tinggal berdua bersama Akiva Shtisel (anak bungsunya).

Shulem Shtisel memiliki banyak anak. Saya aja gak ngeh sebenernya ada berapa hahahaha. Kayaknya ada 6 atau 7, cmiiw.

Sebenernya ada 2 serial tentang keluarga Yahudi yang direkomendasikan. Satu lagi, Unorthodox. Tapi serial Unorthodox ini terlalu condong ke satu sisi. Banyak yang komplen jadinya seperti hate-speech ke komunitas Ultra-Orthodoks Jewish.

Iya sih, saya juga cuma nonton 2 episode terus berhenti. Kurang adil menyoroti satu komunitas tertentu. Wajar saja karena Unorthodox ini diangkat dari kisah nyata seorang perempuan Orthodox yang pengin hengkang dari komunitasnya.

Sementara Shtisel bener-bener fokus kepada keseharian keluarga Shtisel.

Pada umumnya komunitas Ultra-Orthodoks tinggal bersama di area tertentu. Mereka termasuk sangat patuh kepada aturan-aturan dalam ajaran Yahudi versi Taurat yang mereka yakini.

Tapi saya juga baru tahu kalau Yahudi tidak mengharamkan alkohol. Boleh diminum dalam batas tertentu. Kalau kecanduan ya haram jugak hehehe.

Kebiasaan perempuannya yang pakai wig sempet bikin heran hehehe. Ternyata, perempuan Yahudi yang sudah menikah memang tidak boleh menampakkan kulit kepalanya. Jadi pakai wig (rambut palsu) atau topi saja sudah cukup.

Cara berbusana para perempuan yang sudah hidup di era modern juga cukup konservatif. Pada umumnya mengenakan lengan panjang dengan bawahan di bawah lutut. Sangat sopan untuk ukuran umum :).

Penampilan laki-lakinya lebih khas lagi. Dengan jas dan celana hitam, serta kippah (topi khas Yahudi), pinggiran rambut yang dikepang kecil kiri kanan masing-masing satu, jenggot wajib panjang.

Shulem Shtisel adalah karakter yang sangat kuat dalam cerita ini. Seorang saleh yang walau cukup tegas nan konservatif tapi sangat lentur menghadapi anggota keluarganya.

Misalnya saat ibunya yang tinggal di panti jompo memutuskan untuk membeli sebuah televisi.

Televisi termasuk salah satu yang “diharamkan” dalam kepercayaan komunitas ini. Juga hobi Akiva melukis. Hal-hal seperti ini juga terlarang.

Serial ini hampir tidak menyentuh ranah politik tapi ada juga sekilas digambarkan kalau sebenernya mereka rada-rada anti zionis hehehe. Scene dan dialognya haluuuuusss, tapi lumayan to the point soal ini hehehe.

Sebagian besar cerita menyoroti soal masalah sehari-hari. Baik tentang Shulem, Akiva, maupun Giti (anak perempuan Shulem).

Serial ini banyak dipuji karena skenario yang sangat membumi walau ceritanya fokus kepada sebuah komunitas khusus.

Saya rasa serial ini menggambarkan apa yang sebenernya terjadi dalam banyak agama :). Banyak konflik pribadi dalam sebuah komunitas. Dan tidak semua yang saleh dan alim itu karena doktrin semata, tapi memang ada yang meyakininya secara sadar dan utuh. Dan hal itu oke-oke saja ;).

Dalam dua episode awal saja sudah senang dengan pengenalan karakternya.

Ada kisah cinta, ada persoalan rumah tangga dari hal-hal simpel sampai yang berat-berat. Soal pergaulan, soal persaudaraan, dst dst.

Perempuan-perempuan orthodoks tidak melulu digambarkan lemes dan korban misoginisme yang konon ikut diwariskan via ajaran-ajaran agama samawi.

Giti Shtisel misalnya, cerdas dan tegas, walau tergolong “fanatik” dalam beragama. Perempuan juga boleh bekerja seperti biasa walau sudah menikah.

Giti Shtisel dan suami (Lippe Weiss)

Jalan ceritanya asyik banget. Fokus masalah berpindah-pindah dengan rapi antar para karakter. Tokoh-tokohnya merata enggak ada karakter hitam-putih. Konfliknya bukan yang menggebu-gebu tapi masalah sehari-hari yang seharusnya mudah dijumpai di belahan dunia mana pun.

Mereka juga digambarkan seperti umumnya “kalangan beragama yang patuh”. Itu loh, hobi “mengejek” orang lain di luar lingkungan mereka. Ada istilah khususnya segala hahahaha. Makanya, semua “agama standar” ya pasti gitu dah, mereka yang di “luar garis” = kafir kabeh :p.

Uniknya, dalam kepercayaan Yahudi ini, ada semacam garis batas yang terlalu kentara. Kalau misalnya sudah sekuler ya udah sekuler 100% dan tidak akan sedikit pun melakukan ritual apa apa.

Kalau dalam Islam, yang pakai rok mini dan rajin shalat kan banyak ya hehehehe. Enggak akan dianggap non-Islam.

Yahudi ini sepertinya ALL or NOTHING. Dan tidak semua orang di Israel itu relijius. Kalangan relijiusnya malah tetap tinggal berkelompok di wilayah tertentu. Terlihat tidak berbaur. Ada wilayahnya sendiri-sendiri.

Menyenangkan banget serialnya. Nonton dicicil-cicil. Mirip sama Virgin River, enggak perlu sampai ngantuk-ngantuk dan maraton. Bisa dinikmati secara perlahan tapi dijamin enggak bosen ;).

Ikatan batin antar anggota keluarga diantara sekian banyak konflik yang muncul tergambar dengan hangat, cukup bikin haru, tapi gak ada cengeng-cengengnya.

Rabbi Shulem Shtisel, alih-alih ditampilkan sebagai seorang alim yang dikit-dikit bawa ayat, banyak digambarkan sebagai laki-laki yang susah move on dari bayangan istrinya dan sebagai orang yang cukup “licin” dan kadang culas jugak dalam mencari solusi masalah hehehe.

Film tuh seharusnya bisa menjadi penengah, ya. Menggambarkan secara utuh, jangan menyorot satu sisi saja. Apa mungkin suatu hari dibuat film yang sama tentang komunitas Taliban?

O ya, bahasa sehari-hari mereka semacam gabungan bahasa Turki dan bahasa Arab. Sementara bahasa Farsi (Iran) juga ya semacam ini-ini jugak. Ya memang aslinya deket-deket aja tuh rumpunnya. Betapa seharusnya perbedaan itu memperkaya ya bukan mengkafir-kafirkan wwwoooiiii hehehehe.

As it’s said, walau tentu enggak bisa ditelen bulet-bulet, “If you understand everything, you’ll forgive everything.”

Enggak sabar menunggu Season 4 :D.

8 out of 10.

Selamat menonton ^_^.

FANATIK

Lagi heboh unfriend blokir terkait meninggalnya salah seorang tokoh di Indonesia. As silly as it sounds, nyata adanya –> sekadar mengucap belasungkawa bisa menimbulkan kehebohan.

Ada yang menganggap sebagai fanatisme kebablasan. Kalau senep sama seseorang ya wajarlah, tapi kalau sampai yang disebelin meninggal dan ada yang memposting ucapan duka cita dan ikutan “dibantai” apa ndak gimana gitu ya 😰😰😰.

Soal fanatismenya dari dulu juga adaaaaaaaaa. Tapi daya gaungnya terbatas waktu dan jarak. Simpel, dulu gak ada MEDSOS.

Lah eike waktu baru pertama pakai jilbab kelas 1 SMA jangan ditanya semangat jihadnya, Sis! 🀣🀣🀣 .

Sungguh Tuhan memberkati, angkatan jadul masa abegenya hanya dakwah dalam diari sendiri hahahahaha. Nulis sendiri, baca sendiri, jumawa sendiri, ngamuk sendiri, allahuakbar! 🀣

Makanya, paling menarik dari tulisan-tulisan mendiang Gus Dur dalam buku “Tuhan Tidak Perlu Dibela” adalah kontennya yang masih relevan puluhan tahun setelah buku ditulis.

Persoalan tentang AGAMA yang seharusnya sebatas AJARAN personal dibawa ke institusi. Ini institusi mana pun loh ya. Harusnya termasuk so called institusi yang kebetulan menaungi nama besar mendiang penulis, dengan tidak mengurangi rasa hormat pada almarhum *sungkem*.

Repotnya, kritikan dan apa pun hal-hal kurang menyenangkan yang dilayangkan kepada institusi yang berlabel agama otomatis direspons sebagai serangan terhadap AGAMA.

Dikritik kebijakan institusi misalnya, nanti dianggap penistaan terhadap agama. Para penentang dianggap anti agama. Hadeuuuhhh πŸ€ͺπŸ€ͺ.

Ini bukan PERSOALAN BARU. Di buku tersebut ada tulisan tahun 70 an. Sudah jadi persoalan klasik sejak dulu kala. Medianya saja kini berbeda.

Sekarang katanya ngajinya lewat Youtube lewat media online. Padahal apa salahnya? Memang banyak konten online yang oke kok ;).

Lah dulu saya “ngaji soal jilbab” dari buku kuning kecil cuma belasan halaman nama penulis juga gak ada. Baca pas pulang sekolah sat set sat set, malamnya sudah duduk depan Mama minta dibeliin jilbab saat itu jugak! Gak mau sekolah sampai jilbabnya ada. Titik.

Emak gue ampe keselek kali. Gimana pula anak gadis yang rasanya baru bulan kemaren minta roknya dipotong karena kepanjangan dan pengin pakek rok di atas lutut tiba-tiba minta pakek jilbab 😜😜😜.

Luar biasa tanggapannya, hanya dalam hitungan detik setelah terlihat jelas beliau melongo takjub, dengan tenang menjawab, “Tokonya sudah tutup, Nak. Tette’ siaga ni iye.” (Sudah jam berapa ini).

Saya yang sudah bertekad bulat akan melakukan perlawanan sekeras mungkin kalo beliau menolak juga ikutan bengong dan merespons, “Iye’ pale’, besok pi.” (Iya oke dah. Besok saja).

It happened since long long long ago, kok. Hanya kini, semua terlihat begitu nyata dan masif karena gaungnya yang luar biasa di media-media sosial. Fenomenanya sudah ada sejak dulu. Percaya dah, nih pelakunya bersaksi langsung hahaha.

Tapi harus diteliti lebih lanjut apakah ini berlanjut di dunia nyata? Karena AFAIC, lingkaran dekat saya juga banyak yang bahasa kekiniannya itu “hijrah”. Pastilah mereka juga follow saya di medsos dan tahu betapa “liberal”nya akutu :p.

Saya pun dulu galak nan idealis, menulis dengan menggebu-gebu di diari padahal topik jilbab itu satu doang tok cobak hahahaha, tapi entar di sekolahan liat sobat dekat gak pakek jilbab ya ngikik-ngikik bareng aja tuh :p.

Gue bayangin kek apa fatalnya jika dulu ada akun facebook “Humaira Khairunnisa”, nama islami yang saya idam-idamkan yang akhirnya kepakek pas akyu kuliah dan nyangkut di perkumpulan islami yang lebih wak-waw lagi hahahaha.

Ya kaleeeee mau gue tunjuk-tunjuk, “Gile Sis, aurat terpampang nyata bukan fatamorgana, nerakalah tempatmu!” Mana berani woooiiiii :p.

Sekarang situasinya masih mirip. Saya pernah merasa segan dengan teman-teman dekat yang haha hihi di masa mereka belum so-called “hijrah”.

Soalnya saya tau dulu pun awal-awal saya ceritanya hijrah itu ada keinginan kuat untuk mengganti pergaulan. Kan katanya biar saleh kudu deket-deket ama yang saleh. Di mana definisi saleh ya cencuuu dengan orang-orang yang sepaham denganku. Sisanya ya kalok gak kafir ya munafik! Hahahaha :p.

Ternyata enggak kooookkk. Yang dulu dekat saat rambut masih menganga, jins masih ketat dan kini gamis melambai dengan kerudung panjang, alhamdulillah masih menyapa dengan ramah, “Jihaaaaan, kangenta’ gang. Ketemu dulue.”

Memang ada satu dua yang bener-bener “memilih pergi” tapi biasanya bukan yang deket-deket banget.

Jadi janganlah kita menyalah-nyalahkan zaman, mengkambinghitamkan medsos, atau menganggap masa kini lebih buruk dalam urusan keber-AGAMA-an ini. Dari dulu ya beginilah adanya.

Daripada menyalah-nyalahkan ustaz yang tenar di medsos yang kebetulan pahamnya menurut kalian kurang cucok (dengan paham kalian tentunya hehehe), ya mending fair play saja. Mereka berjaya di medsos then go for it as well. Ngomel doang mah dapat apa :p.

Generasi sekarang malah lebih debatable menurut saya. Praktik parenting sudah jauh berbeda kini. Media penyebaran informasi terus berubah.

Generasi saya dulu juga macam-macam. Ada yang suka baca buku, ada yang enggak. Ada yang suka diskusi ya banyak juga yang kagak. Ada yang suka mikir demen filsafat gitu kali, yang gak demen juga ada. Sama kayak sekarang.

Jangan dikiralah semua anak muda sekarang doyan korea-korea an. Gak juga kooookkk. Masih banyak yang mengidolakan Kakak Lesty Kejora ;).

Kalok masalah nonton youtube, ya semua juga pada nonton youtube sekarang mah, heloooooo :p. Yang bikin channel juga banyak #uhuk, ngiklan gak nih? Hahahaha. Jangan deh, kualat nanti :p.

Makanya kita jangan menyerah menyeimbangkan kehidupan di dunia nyata vs di depan layar hape :). Pandai-pandai menguasai rasa takut.

Mengelola rasa takut itu memang kewajiban semua manusia bukan cuma JEDI loh :p –> Inget kan apa kata Yoda, “Fear is the dark side.”

Jangan terlalu anti atau takut sama temen-temen yang so called hijrah. Bisa jadi bukan karena ikut arus atau kecantol ceramah ustaz abal-abal. Mungkin memang ingin berubah ke arah yang lebih baik. Jangan baper jika ternyata arah lebih baik yang mereka tuju ternyata bukan jalan setapak yang sama tempat kita melangkah. It’s okay ^_^.

Konon katanya ada banyak jalan menuju cahaya <3.

Semua bermula dari rasa takut. Itu kenyataan bukan cuma bawaan pilem ^_^. Dan ingat yang namanya FANATIK, terjadi di 2 titik berlawanan. Sama-sama bisa fanatik.

Kontrolnya juga dalam diri masing-masing. Sedari dulu begitu, as it’s said, “It has always been YOU, and it will be always be YOU.”

Make that change, YOU!

Jilbab di Sekolah, Now and Then


Pertengahan tahun 1984, sebuah sekolah swasta baru dibuka di Kota Makassar. Seorang kerabat sukses membujuk orang tua saya memasukkan saya ke sekolah tersebut walau biayanya tentu lebih mahal daripada TK negeri.

Wait, kalian udah lahir belom tahun 1984? πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜­πŸ˜œ.

Kok almarhum bapak mau? Karena ada embel-embel sekolah Islaam 😝. Tapi kuncinya di nyokap.

Karena sebenernya almarhum Bapak pengin anak perempuan masuk sekolah agama. Tapi Mama enggak sreg dengan sekolah Islam yang umumnya berlabel Muhammadiyah di kala itu di kota kami.

Sekolah “berlabel Islam” di masa itu dianggap “kurang cihuy” dalam urusan akademis. Masuk pesantren di zaman itu juga kesannya gimanaaaaaa gitu. Enggak kayak sekarang. Malah berlomba-lomba masukin pesantren, dari TK kalok perlu! Hihihi.

Soal ini memang kedua orang tua saya agak bertolak belakang. But remember, “The man is the head of the family, but the woman is the neck!” Film apa hayoooo :p.

Yayasan Perguruan Islam Athirah muncul membawa gagasan baru soal pendidikan “ala Islam”. Bahwa sekolah “islami” pun bisa kok mencetak siswa siswi jagoan matematika dan Bahasa Inggris misalnya.

Mungkin, sekolah Athirah datang untuk memberikan perlawanan atas hegemoni sekolah-sekolah swasta Katolik yang saat itu terkenal dengan prestasi akademis yang gemilang.

Banyak loh anak-anak dari keluarga muslim cukup berada yang masuk swasta Katolik. Karena mupeng dengan pengin sistem pendidikan yang dianggap lebih modern nan keren gitu-gitulah.

Soal busana sekolah?

Athirah di masa itu tidak mewajibkan penggunaan jilbab sama sekali. Anjuran pun gak ada πŸ˜…πŸ™ˆ. Ada sih yang pakai jilbab. Tapi bisa dihitung jari. Anak SMPnya juga jarang pakai jilbab, tuh.

Seragam kami keren looohh di masanya 😎. Seragam kotak-kotak hijau tosca ada model skirt-jumpsuitnya segala.

Alhamdulillah memang kualitas Athirah cepat mencuat. Langsung meroket menjadi salah satu sekolah swasta dengan mutu terbaik di Sulsel. Anak bupati dari seantero provinsi banyak yang masuk Athirah jadinya. Enggak lagi kabur ke Jakarta masuk Al Azhar hahahaha.

Wajah Islam saat itu perlahan muncul sebagai jaminan mutu kualitas pendidikan modern di Makassar. Banyak teman saya yang berasal dari keluarga tajir yang kakak-kakaknya masuk sekolah Katolik, tapi sejak Athirah muncul, yang kalangan lebih mudanya masuk Athirah dong, dong, dong :p.

Tapi masa terus bergulir. Kini sudah berubah lagi trennya.

Kalau dulu sekolah Islam ‘berjuang’ untuk bisa menunjukkan kalau Islam itu modern kok, Islam itu ikut perkembangan zaman kok, sekarang nuansa IDENTITAS yang lebih terasa.

Dulu di Athirah, saya nangkepnya gini, “Sebaik-baik manusia adalah mereka yang berguna bagi banyak orang. Dan ILMU adalah salah satu harta terpenting dan termudah yang bisa dimiliki oleh siapa saja.”

Diceritakan soal sumbangsih para ilmuwan dari berbagai penjuru benua terhadap kehidupan kita sekarang. Berapa banyak penemuan yang mempermudah kehidupan umat manusia.

Nah, definisi ILMU dulu tuh ya SEMUA ILMU. Ada kok hafalan surah pendek sejak TK. Belajar tahsin sampai aneka rupa hukum Mad yang panjang berendeng itu sudah saya cicipi sejak SD hehehe.

Tapi enggak fokus utama ke situ. Pokoknya kami dicekokin agar bisa memberikan sumbangsih kepada kemaslahatan hidup orang banyak. Jadi dokter biar bisa menyelamatkan nyawa banyak orang. Jadi insyinyur biar bisa membangun jalan, gedung, atau apa aja buat kepentingan banyak orang dst dst.

Ditekankan soal AKAL adalah anugerah terbesar untuk manusia. Jangan malas, jangan sia-siakan akal. Diasah terus, dipakek buat mikir. Kalau lagi drilling soal-soal matematika segabruk, disemangatinnya gitu, “Gunakan anugerah terbesar dari ALLAH.”

Berpikir adalah kewajiban utama seorang muslim. Kudu banyak mikir, jangan malas.

Urusan Islam di pendidikan sekolahan, merembet terus sampai ke urusan berpakaian. Ajaib juga ya perubahan zaman bisa jungkir balik begini hihihi.

Zaman saya mulai pakai jilbab tahun 1995 silam, mau foto buat ijazah, aih gilak, minta izinnya harus berlapis buat bisa berfoto dengan jilbab. Terpaksa, berfoto tanpa kerudung untuk ijazah daripada ribet.

Dulu ngemis-ngemis biar diizinkan boleh pakai jilbab, sekarang malah bablas … kalok perlu, semua kudu pakek jilbab! Jadi semacam twisted ending inih :p.

Dulu pakai jilbab disinis-in, sekarang enggak pakai jilbab didoain biar cepet dapat hidayah.

Bahkan beberapa sekolah negeri pun kudu pakai jilbab. Bukan cuma di Padang tauk. Ini sudah menjadi kegelisahan beberapa pihak sejak beberapa waktu lalu.

Biasanya sih kebijakan internal. Kalau semuanya ikhlas menuruti ya tidak masalah. Saya kenal salah satu orang tua murid non muslim yang tidak keberatan anaknya pakai rok panjang misalnya. SEneng malah biar lebih feminin katanya hehehe.

KUNCINYA, JANGAN DIPAKSA!

Masalahnya, kadang banyak ortu yang males cari masalah. Daripada anaknya dikeluarin dari sekolah, pusing lagi cari sekolah di masa sekarang tuh. Jadi sekolah negeri pun banyak yang makin “berani” bikin aturan sendiri soal berpakaian.

Akhirnya memendam rasa. Yang begini-begini kalok dibiarin takutnya akan berkembang lebih besar ke arah yang tidak diinginkan :(.

Lebih miris pakai alasan mayoritas minoritas. Anak saya dulu di Ireland sekolah di sekolah publik yang rata-rata memang Katolik. Dipaksa belajar agama aja kagak. Kalo yang Katolik ke gereja, anak-anak non Katolik malah leha-leha di rumah masing-masing hahahaha. Diliburkan cuuuuyyyy :p.

DI Indonesia malah sekolah publik harusnya tidak menjadi dominasi agama tertentu. Iya gak sih? Apa gue yang kelamaan merantau kah? Udah berubah jangan-jangan hahahaha.

Tapi ekslusivitas sekolah-sekolah negeri yang makin ke sini makin gimanaaaa gitu kok ya justru bertentangan dengan semangat global yang ingin agar pendidikan di sekolah-sekolah bersifat inklusif.

Apa masih kurang banyak nestapa yang harus dihadapi oleh kita yang tua-tua ini terkait olengnya kita menyikapi perbedaan?

Then let’s do better for our youngs.

As it’s said, “Inclusion is not tolerance, it is unquestioned acceptance”.

Isn’t it? You tell me πŸ™.


Sekularisme, Kasus Citizenship di Jerman, dan Tragedi Pemenggalan di Perancis

Ada 2 kasus yang sedang saya ikuti di daratan Eropa.

Peristiwa gagalnya seorang imigran muslim mendapatkan kewarganegaraan Jerman gara-gara menolak berjabat tangan dengan ibu-ibu petugas imigrasi.

Ybs sudah lulus ujian dan tinggal belasan tahun di Jerman serta berprofesi sebagai seorang dokter. Hanya gara-gara menolak bersentuhan dengan ibu tadi, sertifikatnya ditahan. Sampai ke level pengadilan pun, si imigran ini ‘kalah’.

Alasannya, si imigran dianggap gagal berintegrasi dalam kehidupan sosial di Jerman. Lah, memangnya berjabat tangan adalah salah satu syarat wajib untuk mendapatkan status warga negara?

kacang tanah untuk diet

Padahal si pemohon selama ini oke-oke saja performancenya sebagai dokter. Belasan tahun loh.

Kalau si ibu tadi sebagai individu merasa baper ya oke, kita bisa apa. Masa perasaan orang diatur-atur.

Tapi, kalau sampai selevel institusi PENGADILAN NEGARA pun ikutan baper? Piyeeee πŸ˜…πŸ™.

Kasus satunya lagi di Perancis mengorbankan nyawa seorang guru. Seorang guru dipancung oleh oknum murid karena dianggap mengolok-olok Nabi Muhammad. Yup, oknum murid seorang muslim.

For info, si Pak Guru menayangkan gambar olok-olok tersebut untuk mengajarkan soal kebebasan berpendapat. Hal ini cukup umum di Perancis ternyata.

Mayoritas mengecam keras insiden pembunuhan tersebut.

Jerman, Perancis, dan mayoritas Eropa rata-rata negara penganut sekularisme.

Kutip dari Wikipedia, “Dalam istilah politik, sekularisme adalah pergerakan menuju pemisahan antara agama dan pemerintahan. Hal ini dapat berupa hal seperti mengurangi keterikatan antara pemerintahan dan agama negara, menggantikan hukum keagamaan dengan hukum sipil, dan menghilangkan pembedaan yang tidak adil dengan dasar agama.”

Tujuannya sih tidak salah. Untuk menjamin hak semua orang tanpa memandang agama. Namun, dalam praktiknya … complicated.

Penerapan sekularisme Eropa vs US juga beda. Misalnya, di Perancis nih, atribut keagamaan apa pun cenderung TERLARANG di ruang publik. Sebaliknya, di US, bebaaaaaassssss.

Misalnya di Texas, anak laki-laki kalau izin shalat Jumat HARUS diperbolehkan di jam pelajaran. Kalau dilarang berarti melanggar hak asasi. Pakai jilbab, cadar, kalung salib, sorban khas Syikh (India) juga monggoooooo.

Republik Irlandia agak di tengah. Dalam keseharian sih, bebas-bebas aja hehehehe. Malah pemerintah mendanai beberapa sekolah berbasis Islam loh. Jumlahnya masih sedikit. Untuk mengimbangi public school yang hampir 100% menggunakan “kurikulum Katolik”.

Tapi mohon pahami, “kurikulum Katolik” (tanda kutip yak, kutidak paham apa istilah benerannya hahahaha) berbeda dengan doktrin agama Katoliknya. Memang ada pelajaran agama tapi kalau gak mau ikut ya gak papa hehehe.

Tapi di US, semua sekolah publik atau apa pun yang bersentuhan dengan SUBSIDI PEMERINTAH harus bebas dari pengaruh/simbol agama apa pun. Di hari Natal, kagak boleh itu pasang-pasang pohon Natal di sekolah publik atau instansi pemerintah.

Simbol agama apa pun di tempat umum (termasuk agama mayoritas Nasrani) boleh dihancurkan kalau publik tidak berkenan.

Pemerintah mendanai kegiatan, fasilitas umum, atas nama agama tertentu? Tet toooottt, tidak boleeeeeehhhh :D.

Tapiiiiiii, kalok pasang pohon Natal di mal ya boleh. Pasang gambar ketupat pas lebaran di mal ya monggo aja :D. Dan kalau kalian lihat di berbagai jalanan utama di kota-kota besar di US, rumah ibadah boleh didirikan oleh komunitas agama apa pun.

Selama semuanya adalah campur tangan swasta (non pemerintah), penyembah iblis pun boleh mendirikan rumah ibadah :p.

Makanya di Texas tuh ya, segala masjid dari semua mazhab adaaaaaa hehehe. Itungin tuh, ada masjid Syiah yang ternyata juga punya beberapa aliran beda-beda. Ada masjid Sunni yang juga terbagi-bagi. Ada Sinagog, ada aneka rupa gereja yang mana Nasrani ini “kelompok”nya juga amat sangat bervariasi hehehe.

Jadi jangan sampai salah masuk masjid hahaha :p.

US menjamin kebebasan beragama selama pemerintah tidak ikut terlibat. Sebaliknya di Eropa ada beberapa negara yang malah MENGEKANG atribut keyakinan apa pun di ruang publik!

Tapi inget loh, di Perancis tetap boleh pakai jilbab di luar sekolah atau instansi yang mengeluarkan aturan pelarangan.

Tidak semua Eropa begini. Kalau kalian lihat di UK, pemerintahnya lebih “ramah” terhadap kaum muslim. Republik Irlandia juga mirip.

Bebas pakai jilbab di Ireland πŸ˜‰

Malah nih di Ireland, cenderung ingin memfasilitasi semua agama. Di kota tempat tinggal saya dulu, kelompok muslim sempat dianjurkan untuk mengajukan proposal dana kepada pemerintahan setempat loh :).

Kayak di Indonesia ya hehehehe. Cuma kalau begini, secara otomatis, agama mayoritas diuntungkan. Pasti kucuran dana dan perhatian lebih besar untuk agama mayoritas, simply karena penganutnya lebih banyaaaaak :D.

Terus soal Islam sendiri memang agak unik dibanding agama lain. Kenapa? Karena di Eropa walaupun mayoritas sudah sekuler dalam kehidupan sehari-hari (agama KTP doang gitulah hihihihi), mereka kan basisnya Nasrani :D.

Jadi lihat kalung salib lebih santai daripada lihat perempuan bercadar misalnya. Proses membaur juga agak sulit. Karena misalnya pernikahan, muslim kan sulit menikah dengan agama lain. Belum lagi soal aturan makanan. Padahal Yahudi juga sama ketatnya bahkan lebih ketat.

Fyi, jumlah Yahudi tidak sebanyak muslim karena Yahudi terikat erat garis keturunan kalau gak salah.

Isu-isu global seperti pengungsi dari Timur Tengah dan Afrika (yang banyak muslimnya) juga menggerus perekonomian di Eropa Barat dan bikin masyarakat sana yang ekonomi negaranya ngandelin pajak perorangan jadi sewot.

Persoalan beginian ditarik ke ranah agama ujung-ujungnya. Pening yes?

Makin bias dengan kebebasan berpendapat yang diagung-agungkan oleh banyak negara maju. Makin kompleks dengan banyaknya pendatang muslim yang justru nyamannya kabur ke negara-negara Eropa.

Seperti respons dedek Ustaz Dinar Zul Akbar terhadap komentar saya di wallnya, imigran muslim ingin menikmati segala kenyamanan ala negara maju tapi sekaligus takut kehilangan identitas muslimnya di tengah arus liberalisasi?

Dilengkapi fakta bahwa kelompok-kelompok ekstrim lebih lihai dalam berdakwah secara digital. Video-video mereka lebih mudah viral.

Mungkin karena bandul-bandul spiritual yang diyakini akan bergeser ke kiri selama tinggal di negara maju mayoritas non muslim maka kaum imigran muslim melakukan “perlawanan keras” dengan ikut komunitas Islam “garis keras”?

Cobaklah bandulnya digeser ke tengah. Tapi kemudian kita akan berhadapan dengan jargon andalan, “Yang Haq adalah yang haq, yang batil adalah yang batil.” Tidak ada yang namanya keyakinan tengah-tengah. Padahal konon umat Islam diharapkan menjadi umat pertengahan. Ini gimana sih bertolak belakang gini :D.

Ketambahan lagi dengan pandemi berkepanjangan ini. Kejatuhan ekonomi secara global tentu saja punya pengaruh besar terhadap tingkat kebaperan tiap orang terhadap hal apa pun.

Apalagi soal agama, yang konon perintah Tuhan langsung, “Ini bukan kata gue, ini perintah Tuhan tauk!” Lah, gimana cara minta konfirmasinya? Siapakah yang seharusnya menjawab jika kita bertanya, “Tuhan, benarkah ini adalah sabdamu?” πŸ™.

β€œThe mind is its own place, and in itself can make a heaven of hell, a hell of heaven..”― John Milton, Paradise Lost

Think about it ya :).

Kasus LGBT, Tragedi Reynhard, dan Latar Belakang Pelegalan Pernikahan Sejenis di Negara Maju

Kasus LGBT mencuat lagi dengan kasus Reynhard. Dari awal mencuatnya, sudah bisa ditebak opini massa di tanah air pasti ruwet membedakan ORIENTASI SEKSUAL vs KELAINAN SEKSUAL.

So that you know, pelaku pemerkosaan yang heteroseksual ya juga banyak. Bahwa misalnya pedofilia pun, juga bukan kejahatan khas untuk kasus LGBT doang.

Jika kalian anti LGBT ya itu urusannya lain lagi ;). Your life, your value, your choice πŸ‘Œ.

Yang gini-gini seringkali membawa ruang diskusi meluas sampai pembahasan tentang isu yang sama di negara-negara maju.

Termasuk yang sempat ramai dulu jadi sorotan lagi : PELEGALAN PERNIKAHAN SEJENIS yang dianggap dukungan bagi meningkatnya jumlah kaum LGBT.

Belanda, Belgia, Perancis, Republik Irlandia, Amerika Serikat (tidak semua negara bagian), Argentina, Finlandia, merupakan contoh-contoh negara maju yang melegalkan pernikahan sejenis.

Sayangnya, pada sotoy tentang latar belakang atas pelegalan pernikahan sejenis tersebut. Hingga akhirnya, muncullah tudingan-tudingan semacam, “Mau menghancurkan ajaran agama!” lah dst dst dst.

kasus LGBT
Gambar : statista.com

Pelegalan pernikahan sejenis di negara-negara maju sebenarnya tidak berkaitan sedikit pun dengan agama. Mengingat sebagian besar negara tersebut pada dasarnya memang sekuler.

Pelegalan ini tujuannya bukan terkait hak asasi manusia doang. Tapi untuk mengakomodasi hak seluruh warga negara terkait hak ekonomi, hukum, dan sosial. Contohnya :

Pengurangan pajak bagi pasangan yang sudah menikah secara resmi. Jumlahnya cukup signifikan untuk pembayaran pajak di negara-negara maju yang relatif cukup besar secara umum.

Di Indonesia, lu disuruh bayar pajak aja ngamuk :p.

Kepemilikan properti. Pernikahan yang legal memungkinkan pencantuman nama pasangan sah dalam kepemilikan properti.

Tanggungan asuransi. Asuransi terhadap pasangan hanya bisa diberikan bagi mereka yang tercatat menikah secara legal.

Berkas resmi untuk proses adopsi anak. Salah satu berkas yang diperlukan adalah dokumen pernikahan yang sah. Soal anak juga berkaitan dengan pajak.

Di banyak negara maju, makin banyak anak, PTKP (Pendapatan Tidak Kena Pajak) akan makin besar. Di Indonesia, selisihnya tipis banget :(. Gak terlalu ngaruh status pernikahan dan jumlah anak.

Hak waris. Pasangan yang sah dari pernikahan yang legal berhak atas hak waris atas harta pasangannya.

Di Indonesia, istri sah saja bisa dicerai dan dibuang begitu saja tanpa ada perlindungan hukum walau dinikahi secara sah :(. Beda cuuuyyyyy ama negara yang proses hukumnya jauh lebih disiplin.

Hal-hal di atas mungkin agak sulit dipahami oleh banyak orang di Indonesia. Boro-boro soal kepemilikan properti, Indonesia masih banyak berurusan dengan pemukiman liar yang membuat pemerintah pening tujuh keliling.

Masalah pajak di negara kita juga belum sedisipliln di negara-negara maju. Masih banyak celah untuk mangkir dari kewajiban membayar pajak yang belum tersentuh hukum secara legal.

Belum lagi masalah-masalah korupsi yang merajalela di biroraksi dari atas sampai bawah.

Belum terbayang memikirkan soal adopsi. Anak-anak jalanan masih leluasa berkeliaran tanpa sanggup dipelihara dan dilindungi oleh negara.

Sementara di negara-negara maju tadi, mereka sudah selesai dengan permasalahan-permasalahan mendasar terkait kesejahteraan warganya secara umum.

Perlindungan terhadap seluruh warga negara sudah dilakukan sampai ke level-level yang mungkin masih belum terjamah di negara-negara berkembang.

Tingkat korupsi di negara model begini biasanya sudah sangat rendah. Negara-negara maju yang memiliki tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi ini tidak lepas dari kedisiplinan sistem yang menjamin pengelolaan pajak dari warga negaranya.

Maka dari itu, seluruh pembayar pajak berhak mendapat HAK YANG SAMA secara ekonomi, hukum, dan sosial. Termasuk kaum minoritas, misalnya kaum LGBT tadi.

Karena itulah, mengapa negara perlu melegalkan pernikahan sejenis untuk menjamin semua hak tersebut. Tidak ada hubungannya dengan agama apalagi mengurusi urusan ranjang warga negaranya.

Hal ini perlu diketahui oleh baik pihak yang pro LGBT maupun yang kontra di Indonesia. Memahami kondisi budaya dan sosial di negara lain agar diskusinya tidak hilang arah.

Bisa dimengerti jika pihak yang kontra LGBT sebagian besar mengacu kepada alasan agama atau kesehatan. Namun, jangan sekonyong-konyong menuduh pemerintahan negara maju ingin menghancurkan agama atau tidak peduli urusan kesehatan dsb.

Dapat dipahami bila pihak yang pro LGBT menginginkan perbaikan dan keadilan atas nama hak asasi manusia dan seterusnya.

Tapi jangan tiba-tiba menyodorkan ide-ide serupa yang sudah berjalan dengan baik di negara-negara maju dan mendiskreditkan pemerintahan dan masyarakat di Indonesia yang dianggap gagal melindungi kaum minoritas di tanah air.

Soalnya di Indonesia, hak-hak yang mayoritas pun banyak yang masih awut-awutan. Jadi bersabarlah sedikit wahai kakak-kakak SJW hehehehe.

Gambar : lovin.ie

Edukasi soal hak minoritas (apalagi isu LGBT) memang masih panjaaaaaaaaaang ceritanya. Ditambah lagi dengan kasus Reynhard di UK pijetKening. Kasak kusuknya jadi makin liar banget :(.

We really shouldn’t judge others for often we don’t know the whole story.