belajar logat makassar

OKKOTS

Ada yang nanya-nanya logat Makassar terkait postingan yang ini. Terus terang memang agak sulit menerangkan fungsi dan cara penggunaan klitik dalam bahasa Indonesia khas Sulsel : ki – ka – mi – pi – to – na – di’ – ji – gang – tong dst dst dst.

Yang khas lainnya tentang logat Makassar adalah penambahan “ng” pada kata-kata yang berakhiran konsonan N atau M, misalnya ikan jadi ikang, malam jadi malang hihihihi.

Di kami itu istilahnya OKKOTS hahahaha.

Nah, kalau okkots itu rasanya tengsin dan malu gitu loh. Sering jadi olok-olokan sesama teman.

Makanya malah sering jadi bumerang. Saking takutnya okkots, kadang maksudnya mau ngucapin BANK malah jadi BAN hahahaha. Ya ini jadinya OKKOTS jugak *tutupMuka*.

Inget dulu ada teman yang nanya ke saya, “Jihan, apa artinya bentan alam?”

“Ha? Bentan?”
“Iyo, bentan alam.”
“BENTANG ALAM, ceeessss” 😂😂😂😂.

belajar logat makassar

“Ces” itu sapaan buat teman sebaya yang akrab kalau dalam bahasa sehari-hari di Kota Makassar. “Ces” juga bisa berarti high-five 🙌😁.

Kata “iyo” artinya IYA. Tapi itu penggunaannya relatif “kasar”. Hanya boleh pakai kata “iyo” ke teman sebaya, itu pun yang udah dekat, ya.

Nah ini jadi masalah saat menikah dengan suami yang orang Minang. Dalam bahasa Minang, IYO juga berarti IYA tapi penggunaannya dianggap biasa. Jadi suami suka bilang IYO ke orang tuanya. Ya gue kaget lah hahahahahaha.

Itu kalau di keluarga Bugis kami, bilang IYO ke orang tua bisa digampar, Cuy! 😂😂😂😂

Kata IYA yang sopan dalam adat Sulawesi Selatan adalah Iye’ (pakai cengkok ya belakangnya, kalau cuma IYE nanti jadi kayak IYA dalam bahasa Betawi) hihihihi.

Salah satu cerita lucu soal logat Makassar IYO vs IYE’ ini adalah terbongkarnya kisah cinta salah satu teman pas sekolah dulu hihihihi. Mereka berdua diam-diam jadian. Ketahuan sama saya gara-gara pas si cowok nanya apa gitu ke si cewek, si cewek jawabnya “Iye’, ada ji”. Udendeeee 😅😅😅😂.

Tentu kulangsung curiga ada apa neh bilang iye’-iye’ ke temen sebaya sendiri. Nah ituuuuu, biasanya kalo ada yang jadian/pacaran, ngomongnya pakek iye’-iye’ 😅😅😅.

Saya sendiri sampai sekarang kalau ngobrol sama kakak kelas yang dulu ditaksir habis-habisan juga pakek iye’-iye’ #ehGimana 😂😂😂. Padahal jadian juga kagak pernah hahahahahha.

Secara umum yang banyak “diserap” dalam bahasa Indonesia logat Makassar sehari-hari di Kota Makassar adalah bahasa Makassar. Makanya wajar, walaupun bukan suku Makassar, saya terbiasa dengan beberapa kata dalam bahasa Makassar.

Misalnya kata SALLO (artinya LAMA/LELET). “Edede, sallomu, cepa-cepa saiko.” (Aduh, lelet amat lu. Cepetan napa?)

SALLO itu bahasa Makassar hehehe.

Ah ya, itu ada yang komen. Saya tambahin soal kata KITA. Dalam bahasa Indonesia, KITA itu berarti aku dan kamu atau aku dan kalian.

Naaaah, dalam bahasa Indonesia aksen Makassar, KITA itu berarti KAMU (level penggunaan sangat sopan, mungkin selevel dengan kata ANDA). Jadi hanya untuk yang kita hormati saja atau kepada orang yang baru kenal.

Jadi kalau ada orang baru kenal negur, “Kita mau ke mana?” Itu maksudnya “ANDA mau ke mana?” Jangan geer atau tersinggung hahahahahaha.

Jadi inget ya, di Kota Makassar, sehari-hari kami tidak berbahasa daerah. Bahasa Makassar dan Bahasa Bugis itu beda lagi. Banyaaaaaakkk teman saya yang ortunya orang Makassar dan Bugis tapi mereka tidak terlalu paham bahasa daerah masing-masing hehehe.

Saya bisa bahasa Bugis karena Mama dan almarhum Bapak kalau ngobrol seringnya pakai bahasa Bugis. Tapi sebagian saudara kandung saya enggak terlalu bisa bahasa Bugis.

Kakak-kakak saya karena sering main di luar rumah di mana lingkungan perumahan kami itu mayoritas suku Makassar, jadi mereka semua lancar bahasa Makassar. Lebih lancar daripada bahasa Bugis :D.

Kebalikan sama saya. Anak rumahan, gak suka beredar hihihi. Jadi bahasa Makassar ngertinya dikiiiiiiit :D.

Di sekolah ya pakai bahasa Indonesia (tapi dengan logat Makassar) laaaaah ^_^.

Dulu pernah punya guru kimia kelas 2 SMA yang bener-bener gak bisa bilang N, selalu terucap Ng. Makanya jadi lucu kalau beliau menerangkan tentang rumus-rumus kimia yang melibatkan nama-nama unsur kimia. Na (Natrium) jadi Ng-a 🤣🤣🤣.

Susah menahan tawa kalau beliau mengajar. Untung beliau gak mutungan. Walau saya ketawanya paling keras, beliau tetep fair kalau ngasih nilai. Tetap semangat Pak (hihihi), walau rajanya Okkots, jasamu tiada tara ☺️🙏.

Salah satu joke yang bikin terpingkal-pingkal di rumah dulu yang sering diucapkan oleh salah satu kakak saya :

“PERGI BEREMPAT, PULANG BERENANG” 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣.

Satu lagi dari kolom komentar, “MAKAN NDAK MAKAN, YANG PENTING SENAM” 🤣🤣🤣🤣

Did you get it? 😂😅

Toilet-Training untuk Jemaah Haji/Umrah Asal Indonesia

Transit di Abu Dhabi menuju Jakarta waktu mudik berdua doang dengan si bungsu bulan Maret 2018 kemarin. Lagi ribet-ribetnya ngurusin si adek yang mau ganti celana di kamar mandi, saya disamperin oleh embak-embak petugas kebersihan.

“Mama, Mama …” sapanya kepada saya.

Saya enggak kaget. Alumni Timur Tengah pasti sudah terbiasa dengan genggesnya orang-orang asing yang suka manggil-manggil “Bunda/Mama/Sayang” ke ibu-ibu yang mereka sangka asal Indonesia hahaha.

Sepertinya dia orang Filipina.

“Yes?” Jawab saya.

Mudik berdua si bungsu (Maret 2018)

“Mama, help me here.” Dia menunjuk ke arah salah satu bilik toilet. “I need you to teach them. Show them please how to do that.”

“Oooo oke, oke.” Saya langsung paham maksudnya.

Dia memberi kode jempol lalu membuka pintu kamar mandi yang ternyata sudah penuh antrian. Oalah, pantes kamar mandi kosong. Ternyata ditutup sementara sama si embak petugas.

Embak petugas sibuk memberi instruksi, “Tolong Mama, bukan lantai. Duduk, duduk. Siram, siram. Duduk, duduk. Siram, siram.”

Wooowww, si embak petugas (yang nyata-nyata bukan orang Indonesia) berusaha keras berbahasa Indonesia seperlunya dengan mengulang-ulang gerakan seolah duduk dan telunjuk seperti memencet saat bilang “siram”.

Repotnya punya anak kecil. Saya hanya sempat membantu beberapa jemaah yang itu juga saya pilih-pilih yang sudah berumur.

“Permisi Ibu, ini nanti buang air kecilnya duduk, jangan jongkok. Kalau sudah selesai, dipencet yang di belakang itu.”

Si Ibu ngangguk-ngangguk ramah. Eh, begitu tutup pintu kok langsung kedengeran suara flush ?. Si embak petugas geleng-geleng putus asa, “See? They siram-siram first. And then they do that on the floor.”

Antara kasihan sama mau ngakak. Tapi yah gimana, cuma berduaan ama si bungsu. Anaknya udah lari-larian deket pintu mau keluar. Akhirnya saya “pamit” ke luar, setelah membantu menerangkan ke 4-5 jemaah perempuan yang kira-kira masih “perlu bantuan keterangan”.

Barusan baca cerita Mbak Meidia yang lagi naik haji dan cerita soal penggunaan toilet terkait salah satu teman (lansia)nya saat berhaji.

Bukannya ingin merendahkan, tapi kultur/budaya buang air kita di Indonesia kan memang agak beda dulu-dulu. Saya sendiri di rumah dulu (sebelum dijual hahaha) selalu buang air di kamar mandi toilet jongkok hihihi. Ada satu kamar mandi lagi, toilet duduk. Tapi di situ pun, kalau kepepet, ya saya tetap jongkok hahaha.

Kelas 1 SMA pindah numpang ke rumah Tante, kamar mandinya juga ada 2 model. Saya lebih nyaman pakai toilet jongkok. Tapi kalau ke toilet duduk ya saya duduk beneran. Di rumah orang lain, euy, hahaha.

Makanya karena itu jemaah lansia rata-rata belum terbiasa dengan toilet duduk yang sudah menjadi model standar di 99% bandara dan hotel. Untungnya di kamar mandi umum sekitaran Masjidil Haram masih banyak toilet jongkok. Eh, masih gak, tuh?

Saya sudah hengkang dari Saudi sejak tahun 2013. Waktu di sana sih masih banyak toilet jongkok di toilet umum Arab Saudi (kecuali mal-mal besar dan hotel-hotel berbintang).

Gue tuh ya, udahlah rentan disangka TKW domestik pas era abaya-an, giliran modis dikit, dimintai tolong jadi asisten toilet-training di kamar mandi bandara. BHAIQUE ?????.

Setuju banget sama Mbak Meidia, perlu banget deh ada toilet-training buat jemaah-jemaah asal Indonesia. Terutama yang lansia. Biro penyelenggara umrah/haji di Indonesia sangat perlu memasukkan hal-hal simpel ini ke dalam ‘program manasik’.

Apa udah, ya?

PENTING loh itu.

Kadang, risih saja kan jemaah asal negara kita terkenal “jorok”. Padahal bukan begituuuuuu.

Malah secara umum, jemaah Indonesia (dan Malaysia juga deng) itu terkenal tertib dan sabar loh dalam Masjidil Haram. Tidak suka dorong-dorong dan mudah tersenyum kepada siapa saja masya Allah ^_^.

Testimoni ini bukan pengamatan narsis pribadi ala-ala nasionalisme NKRI harga mati semata :p. Tapi pujian langsung dari banyak teman-teman jemaah haji asal Mesir dan berbagai negara Arab lainnya waktu se-tenda bareng mereka di Mina dan Arafah.

Saya naik haji tahun 2012 via hamla (biro haji) lokal di Jeddah. Hamla lokal umumnya 90% peserta = orang Arab dari berbagai negara.

Mina dan tempat melontar jumrah arab saudi
Tempat melontar jumrah dilihat dari sebuah area tenda jemaah di Mina, foto : Dani Rosyadi

Jadi, jangan sampai lah hal-hal sepele macam penggunaan toilet duduk ini jadi “citra buruk” yang berlarut-larut. Apalagi sekarang model jet washer ada yang langsung dari belakang itu. Bukan pakai pegangan lagi.

Jet washer otomatis yang udah nempel di bagian belakang toilet itu kadang pakai hand-signal loh bukan diputar lagi. Begitu juga dengan flushing, sudah banyak yang pakai teknologi hand-signal.

Takutnya bingung dan panik kok gak ada pencetannya hehehe. Ada juga yang begitu kita berdiri atau gerak dikit atau buka doorlock langsung flush otomatis.

Sungguh perkembangan teknologi dalam dunia pipis-eek ini kadang gemes-gemes kesel hihihihi. Sebenarnya sangat memudahkan tapi ya buat yang sudah berumur butuh penyesuaian yang lebih “intens” :). Manusiawi kok itu ;).

Semoga penyelenggaraan haji dan umrah khususnya buat jemaah Indonesia terus membaik dari tahun ke tahun. Aamiin ya rabbal aalamin <3.

Tak terasa beberapa hari lagi, dari seluruh penjuru Mina akan bergerak bersama menuju Padang Arafah. Berdiam di sana sampai senja mulai menghilang di hari itu juga.

Masih terkenang rasa haru saat ramai-ramai keluar dari tenda, menikmati detik-detik mentari terbenam, saling memandang dengan mata berkaca-kaca, dan kita semua harus bergerak pergi meninggalkan Arafah.

“Zawwadakallahut taqwa wa ghofaro dzanbaka wa yassaro lakal khoiro haytsuma kunta (Semoga Allah membekalimu dengan takwa, mengampuni dosa-dosamu, dan memudahkanmu di mana saja engkau berada).”

Semoga menjadi haji mabrur, ya, teman-teman semua ????.

We Can’t Go On by Pretending

Sedikit curhat suka duka bekerja di luar negeri … boleh? :p

Baru-baru ini anak saya mengikuti kompetisi Spelling Bee di sekolahnya. Saya tunjukkan video-video acara final kompetisi yang sama di Amerika Serikat.

Dua belas tahun berturut-turut, juara English-Spelling-Bee competition adalah anak-anak warga negara keturunan India. Luar biasanya lagi, 10 finalis yang tahun berapa tuh ya, 7 orang warga negara US keturunan India, 3 -nya lagi warga negara US keturunan China.

Wooowww …

Mungkin begini, ras Kaukasian yang berkulit putih yang selama ini bisa dibilang menguasai peradaban dunia menganggap gimanaaaaa gitu kalau melihat ras-ras lain misalnya Asia.

Kalau yang ras Afrika itu special case, beda lagi pemicunya.

Di sekolahan pun kayaknya kemarin dari kelas 5 yang menang anak saya dan satu temannya dari India.

Sumpah demi Tuhan, gue ini bukan tipe yang tiger-tiger amat urusan belajar. Tapi masalahnya, orang bule tuh emang santai bangeeeeeeetttttttt. Kujuga tidak habis pikir dah. Padahal guru-guru di Ireland ini relatif disiplin dan nyinyir, loh.

Kurikulumnya gampang banget, suweeerrrr.

Tetap saja emak-emak bule itu santai bagai di pantai kalau anaknya kelas 1 SD belum bisa membaca. Gurunya pasti concern dan menegur. Cuma kan di sini tidak ada rengking-rengking an dan tidak ada istilah TINGGAL KELAS.

Jangan lupa walau anak-anak Asia yang lahir dan besar di Yurop, orangtuanya digembleng dengan cara Asia. Dan begitu seterusnya sampai ke generasi turun temurun.

Tahu sendiri, wilayah Eropa Barat ya kondisinya makmur-makmur. Jumlah penduduk tidak sesangar negara-negara Asia hahaha. Makanya dari kecil santaiiiiiiii, sekolah gratessssss, fasilitas kesehatan lumayan, enggak kuliah pun, bisa jaga-jaga toko dengan gaji fantastesssssss.

Ngapain dah capek-capek kuliah ye kaaaaaann? Mungkin begitu pemikiran sebagian mereka. Yang serius dan tekun dan sangar dalam urusan belajar ya juga ada.

Penduduk dikit, kadang lowongan buat 10 orang yang apply 8 orang. Beneran.

Bandingkan dengan Indonesia, India, lowongan 1000 orang yang apply 100 ribu orang! Hahahaha. Makanya jangan nyinyir dengan kompetisi di negara-negara berkembang.

Di salah satu tempat bekerja saya dulu, ada lowongan admin, syaratnya lulusan SMA sudah cukup. HR kaget, dari ratusan applicant (lowongan buat 2 orang doang karyawan gaji harian pulak), 90% lulusan S1, ada yang lulusan S2. Ngeri yes?

Ya monmaap lulusan SMA ada yang langsung ketendang. Itu curhat temen saya di HRD waktu saya mengkritik kok tega-teganya lulusan S1 IPK cum laude di-hire jadi admin gaji harian! 

Di Ireland nih, ranah IT dikuasai orang Asia. Bukan hanya sebagai pekerja ecek-ecek, SDM asal Asia justru mendominasi wilayah IT yang lagi booming-boomingnya.

Lah gimana, temen saya tadinya mau serius jadi vlogger, dia ambil kursus “Mengenal media sosial” di kampus lokal sini. Oalah, instrukturnya enggak familiar tentang VLOG .

Inilah sebenarnya masalahnya. kini sudah banyak ras Asia beranak pinak di Eropa, Kanada, USA, apalagi Australian.

Ras Asia yang dulunya dipandang “Halah cuma imigran pendidikan rendah, attitude kurang, bla bla bla” kini makin intens menunjukkan eksistensinya.

Sementara wong Kaukasian ini juga ya tetap rileks bagai di pantai. Dunia barat dulu ramai-ramai menghujat Amy Chua terkait buku “Battle Hymn of Tiger Mom.”

Tapi mungkin sekarang wilayah-wilayah Kaukasian mayoritas dilanda “ketakutan” atas para imigran ini. Dari rasa takut ini kan bisa muncul macam-macam kecurigaan, hasutan, kegelisahan yang berujung pada penderitaan.

Haloooo buat yang suka tebar narasi ketakutan terkait salah satu ras tertentu di Indonesia . Semoga kalian paham segini parahnya kerusakan yang bisa ditimbulkan akan ketakutan-ketakutan tidak jelas itu .

bekerja di luar negeri

Di Amerika Serikat yang dari dahulu menganut prinsip “LIBERAL” dalam hampir semua hal, bisa menghadapi dengan lebih baik.

Di US tuh, kaum liberal yang menjunjung tinggi HAM bener-bener garis keras dan berani bersuara. Mereka sudah lebih dari seratus tahun menghadapi gini-ginian. Sudah pengalaman.

Kejadian rasis ya pasti ada tapi sesungguhnya kalau mau jujur melihat dan merasakan lebih dalam, rasisme terhadap kulit berwarna itu lebih parah di Eropa dan Australia.

It’s silently happening . Sukar mau dilawan ya karena ngelesnya ya gitu. Itu sesuatu yang diamini oleh sebagian besar ras kulit putih di sana, sorry to say . Mereka sopan sih sopan. Tapi yah begitulah. HIngga mungkin akhirnya bermunculan orang-orang kayak Brenton (pelaku teroris di NZ) ini .

Ekspatriat high-skill bisa tembus ya lebih karena mereka kekurangan orang. Yang avalailable ya Cina-India-Cina-India. Indonesia segera nyusul, aamiin .

Gambar : misacor.org

Kasus di Selandia Baru, kemungkinan mengarah ke kecemburuan terhadap kaum imigran ini. Di mana kebetulan yang kasat mata mayoritas ya kaum muslim kalau di NZ-Australia.

Jangankan orang bule, dengan beberapa teman-teman Indonesia yang nikah dengan bule, banyak yang korslet jugak, “Mbak Jihan suaminya cuma Indo kan? Ya ampun cukup ya Mbak gajinya 3 anak? Kerja apa, sih, di sini?”

Duh, kusudah merasa tua untuk berurusan dengan makhluk-makhluk bigot seperti ini. Baru beberapa tahun di luar negeri cuma karena kebetulan nikah dengan bule sudah merasa superior. Alih-alih tersinggung, saya malah kasihan .

Saya juga tidak paham apa ya solusinya. Seperti apa kita harus mendidik anak-anak kita dalam gempuran globalisasi bersama segala macam dilemanya? 

Mungkin sebaiknya negara-negara maju di Eropa dan Australia, enggak usah sok-sok HAM-HOM-HAM, unless you can educate your own people as well .

We can’t go on pretending day-by-day. We can’t .

Gambar : pixabay.com

There comes a time
When we heed a certain call
When the world must come together as one
There are people dying
Oh, and it’s time to lend a hand to life
The greatest gift of all

We can’t go on
Pretending day-by-day
That someone, somewhere soon make a change
We’re all a part of God’s great big family
And the truth, you know, love is all we need
(Song “We are The World”, MJ & friends)

Pernikahan beda negara

Love Sees No Color

Paling suka lihat anak-anak hasil percampuran ras . Misalnya dari hasil pernikahan beda negara.

Ada cerita unik waktu teman saya, Scandy (yang juga campuran Manado – Ambon hehehe) hamil anak pertama hasil pernikahannya dengan laki-laki Irlandia tulen 100%.

Waktu Scandy mengabari ke keluarga di Indonesia bahwa jenis kelaminnya ternyata perempuan, saudara-saudara Ambon-nya bilang, “Huaaaaa, entar anak lo cantik banget. Matanya biru, rambutnya kuning, kulitnya putih.”

Terus Scandy juga ngomong ke keluarga suaminya. Mertua dan ipar-iparnya juga heboh, “Ya ampun, anakmu entar matanya coklat, rambutnya item, kulitnya keren kayak mamanya, she’s going to be very beautiful.”

Yang di sono pengin bayi cantik ala anak bule, yang di sini pengin bayi kece dengan deskripsi ala Asia ???.

Betapa kecantikan itu memang bukan standar tunggal. Sekali ini, standar ganda bahkan lebih malah sesuatu yang menyenangkan, yes? 

Di Texas tuh apalagi. Bisa dibilang ketemu bule di Dallas dan sekitar tuh paling 50% doang. Sisanya Latinos, Afrika, berbagai perawakan Asia mulai dari India-Asia Timur Jauh-Indonesia dan sekitar-Arab dan yang paling seru … ketemu anak-anak lucu-lucu pernikahan campur antar berbagai ras ini.

Anak perempuan montok yang matanya biru tapi rambutnya coklat tua dan matanya sipit. Ada yang rambutnya keriting abis matanya hitam kulitnya coklat muda. Atau yang hidungnya mancung matanya kecoklatan tapi kulitnya legam.

Pernikahan beda negara

Atau ponakan-ponakanku di Montreal, rambut kuning, kulit kuning langsat, hidungnya gak mancung tapi cantiknya minta ampun. Heeeyyyy sepupuku tersayang, gila ini Na, kita udah 10 tahun lebih enggak ketemu! ???

Sepupu paling dekat, seumuran pula. Mama saya dan mamanya Nana saudara kembar hehehe.

Lucu ini, Nana punya 3 anak perempuan semua hasil persilangan Bugis vs Kanada hihihi vs saya yang lanang kabeh ketiganya juga perpaduan Bugis vs Minang hahahaha.

Dan hari ini salah seorang perempuan unyu-unyu hasil persilangan Jepang dan Haiti bernama NAOMI OSAKA mencatat prestasi gemilang dengan menjuarai Final Tunggal Putri Australia Terbuka 2019.

Setelah 4 bulan sebelumnya menjuarai Final Tunggal Putri Amerika Terbuka 2018. Dua gelar grandslam berurutan.

Di Amerika Terbuka 2018, kemenangannya agak “dicibir” terkait kontroversi di final karena lawannya, Serena Williams, mengamuk ke penjaga garis kalau gak salah, ya.

Naomi membuktikannya di grandslam berikutnya.

Naomi melesat cepat setelah mencuri perhatian atas kemenangan pertamanya di WTA-series Indian Wells.

Kiyut banget anaknya. Ini acceptance speech -nya yang pertama kali di Indian Wells yang bikin orang senyum-senyum saking unyu-unyu nya. Dese cekikikan dan bingung sendiri mau bilang apa hahahaha.

At the end of the speech she did say, “This is probably gonna be like a worst acceptance speech at all time” terus masih sambil ngikik-ngikik juga ????.

Kelihatannya pribadi yang sangat menyenangkan, ya .

Semesta ini indah sekali kalau berkenan saling kenal mengenal untuk kemudian saling jatuh hati dan menaklukkan dunia bersama, yak #eaaaaaMulaiDrama. Sulit kalau sudah ada yang merasa superior paling benar sendiri .

“Love is blind despite the world’s attempt to give it eyes.” ―Matshona Dhliwayo

Because LOVE sees NO COLOR ???.

Ini salah satu buah cinta antara JEPANG vs HAITI yang mencatatkan sejarah nan keren di dunia tenis. HAITI, walau perawakan ras Afrika tapi letaknya di benua AMERIKA ya teman-teman. Maaf, hanya sekadar mengingatkan  … eh ??.

O ya, kepiluannya saat dinyinyirin di momen Amerika Terbuka 2018 dibayar lunas dengan gelar Australia Terbuka ini sekaligus menjadikannya salah satu pemain tenis perempuan termuda dan tercepat meraih posisi PERINGKAT SATU DUNIA (WTA RANKING SINGLE WOMAN)!

Waktu pidato kemenangan di Amerika Terbuka 2018, Naomi malah minta maaf karena sudah menang. Penontonnya ngeselin banget terus-terusan “booooo” ing untuk meledek Naomi.

Congratulation, Naomi Osaka! SUCCESS is the best revenge. You go, Girl!

Maap gak ngerti tenis but insist to spread this happy news jadi ngelindur ke mana-mana ????.

Intoleransi, Adaptasi, dan Inklusi

Saya punya teman yang sekarang bermukim di Finlandia, si Neng Aliva yang sebenarnya kalau menulis itu bagus-bagus banget dan sesuai keilmuannya di bidang sosiologi apa psikologi, ya.

Aliva baru-baru ini menulis soal INKLUSI. Jangan bayangin inklusi terkait khusus anak berkebutuhan khusus, ya. Sayang, tulisannya dibandrol “Friends Only”. Aliva bilang dia belum siap go public hahaha .  Ngeri ngadepin netizen kalau sudah beda pendapat menerjang-menerjang terjang hihihihi.

Comot dari Google :

Pengertian INKLUSI digunakan sebagai sebuah pendekatan untuk membangun dan mengembangkan sebuah lingkungan yang semakin terbuka; mengajak masuk dan mengikutsertakan semua orang dengan berbagai perbedaan latar belakang, karakteristik, kemampuan, status, kondisi, etnik, budaya dan lainnya.

Yup, ternyata lingkungan sekolah di Finlandia sifatnya INKLUSI alih-alih ADAPTASI yang dianut kebanyakan wilayah.

Jadi, baik orang lokal dan pendatang diusahakan untuk saling ikut serta. Pendatang tidak lagi dipaksa untuk lebih banyak melebur ke budaya lokal.

Makanya, di sekolah Finlandia sudah ada mata pelajaran AGAMA ISLAM. Sekolah publik, lho .

Kerennya Eropa, yak? Entar duluuuuuuuuuu .

Kenalan sini sama Republik Irlandia negara tinggal saya sekarang.

Sama dengan mayoritas Eropa Barat lainnya, Republik Irlandia ini tergolong Secular-State. Negara sekuler. Agama mayoritasnya Katolik. Tapi Gereja Katolik TIDAK menjadi bagian dari konstitusi yang berlaku di Republik Irlandia.

Tapiiiiiii, hampir 100% sekolah publik di Irlandia adalah SEKOLAH KATOLIK-ROMA. Sekolah publik yang dapat subsidi 100% dari pemerintahannya yang katanya sekuler. Ck ck ck … intoleran sekali?

Tahan duluuuuuuu.

Nah, sama seperti kasus Purbayan – Kotagede di Yogyakarta, sejarah dan budaya Republik Irlandia terhadap tradisi Katolik itu MEMANG BEDA dengan negara-negara Eropa lainnya.

Walau kini sudah menjadi negara sekuler secara konstitusi, sejarah panjang Irlandia di masa lalu sangat pedih dalam penjajahan selama ratusan tahun.

Di puncak perlawanan Irlandia terhadap Kerajaan Inggris (yang waktu itu mayoritas Protestan), identitas Katolik mereka memegang peranan penting dalam upaya membebaskan Irlandia saat itu.

Bukan hanya dijajah secara wilayah, orang Irlandia yang saat itu mayoritas Katolik juga dipaksa untuk menyembunyikan ke-Katolik-an mereka . Bahasanya juga kudu Bahasa Inggris. Makanya Irish accent itu sangat khas karena pada dasarnya mereka bahasanya adalah Gaelic.

Ratusan tahun itu mereka hidup seperti itu. RATUSAN TAHUN.

Alhamdulillah happy ending. Sudah merdeka kini. Sudah menjadi salah satu negara maju di dunia dengan pendapatan perkapita yang lumayan gede di jajaran negara-negara Eropa maju lainnya . Sudah sekuler pulak hahahaha.

Tapi terbayang kan posisi identitas Katolik ini buat orang-orang di Republik Irlandia. Makanya, saya enggan menyematkan kata INTOLERANSI pada keputusan negara untuk meng-KATOLIK-kan sekolah publik di sini .

HIngga kini pun, di hampir semua kota, jejak-jejak peninggalan kastil atau reruntuhan biara-biara Katolik masih menjadi obyek-obyek wisata utama di Republik Irlandia.

Masalah apakah ini BENAR atau SALAH itu beda topik lagi ye kaaaaaannn .

Ya udin, masuk sekolah swasta aja, Mbak anak-anaknya. Ya kalau sekolahnya ada hahahaha. Apalagi kami di dusun kecil. Kalau ada pun, harganya muahaaaallll, karena non subsidi sama sekali.

Sekolah publik yo gratis-tis-tis dan ada di mana-mana .

Anaknya dibaptis dong Mbak? Ya kagaaaaaaaa hahahaha.

Ada kompromi lah. SEMUA ANAK YANG NON KATOLIK (Termasuk yang PROTESTAN lho ya) TIDAK WAJIB IKUT MISA misalnya. TIDAK PERLU IKUT PELAJARAN AGAMA juga.

Tapi mereka berdoa kencang-kencang pakai cara Katolik sebelum mulai belajar. Tapi anak-anak non Katolik tidak perlu mengikuti. Silakan berdoa sesuai kepercayaan masing-masing. Tetap saja intoleran, huh! .

Apa tidak ada yang mengkritik? Yo jelas adaaaaaa . Uniknya yang banyak ngomel justru Kaum Atheis hihihihi.

Di kota besar, seperti Dublin, sudah ada sekolah publik semacam sekolah Islam gitu loh. Mendapatkan subsidi dari pemerintah juga *jempolBuatIrlandia*.

Tapi yah, cuma ada satu atau 2 sekolah. Kota-kota lain belum ada. Mungkin disesuaikan dengan jumlah yang membutuhkan juga.

Saya mah biasa-biasa saja. Saya tahu soalnya pelajaran agama Katolik ini beda sama agama Islam . Mereka tidak kenal term “kafir” misalnya hehehe. Dan kisah nabi-nabinya juga mirip banget. Cuma pasti menukik tajam di bagian Nabi Isa/Yesus hehehe.

Nabi Muhammad tidak dibahas di agama Katolik. Datangnya kan belakangan hehehe.

Bisa dibilang proses belajar mengajar di sekolah publik di Irlandia masih menganut proses ADAPTASI. Pendatang yang “mengalah” walau makin ke sini saya salut, pihak sekolah makin matang dalam berkomunikasi kepada kami-kami yang minoritas ini.

Sempat ribut soal makanan halal juga di tahun pertama saya datang ke sini. Karena kelebihan dana, sekolah anak kami memutuskan untuk menyediakan makan siang gratis buat seluruh siswa di sekolah.

Tapi ya makanannya enggak jaminan halal. Bingunglah kami para ortu muslim. Kalau yang India kan vegetarian jadi gampang solusinya. Anak-anak juga susah kontrolnya kalau sudah lihat sosis ginuk-ginuk begitu ya bawaannya pengin lep aja kan hahahaha.

Kelebihan dana harusnya dikorupsi aja sih ya biar gak banyak masalah #ehGimana hahahahaa .

Tapi selesai dengan baik-baik alhamdulillah.

Akhirnya kami dibagikan surat pernyataan untuk menentukan makanan apa saja yang boleh diberikan kepada anak kami. Kepala sekolahnya keren bangeeeetttt .

Mereka mau lho repot-repot memberi tugas tambahan kepada bapak ibu guru terkait pembagian makanan ini. Masya Allah .

Jadi memang kita tidak diciptakan seragam. Saya tahu kalau kita selalu harus mengedepankan nilai-nilai universal semacam TOLERANSI itu salah satunya.

Tapi ya begitulah keragaman sosial-historis masing-masing wilayah. Kita tidak bisa ujug-ujug melepaskan diri. Saya percaya kok ini tidak akan berlangsung selamanya. Akan berubah sedikit demi sedikit.

Tapi ya tidak bisa maen hantam saja. Ada proses yang menyertai. Perlu waktu perlu banyak-banyak kesabaran dan tentunya…saling memahami yang lumayan intens. Macam judul lagu lawas itu lho, “Pelan-pelan saja ….”

Nyatanya kondisi bermasyarakat di Irlandia bagi Katolik dan non-Katolik adem ayem saja. Buat yang di luar mungkin sudah ada yang siap jihad di Ireland kali hahahaha. Ya jangan begitulah . Pahami kultur mereka dan kepedihan panjang mereka di masa lalu.

And once again, I have to put this quote as an ending :

“Peace cannot be kept by force; it can only be achieved by understanding.” -Albert Einstein-

Tentu ke depannya kita berharap metode INKLUSI inilah yang menjadi wajah yang mendominasi di berbagai belahan dunia. Aamiin. Tapi ya itu tadi. Jangan pakek ngamuk-ngamuk, selow saja. Diskusi baik-baik, tukar pikiran secara santai-santai.

Mungkin teman-teman antropolog atau yang bidang keilmuannya menyasar masalah ini bisa bercerita lebih banyak.

Saya mah apalah. Cuma ibu-ibu rumah tangga yang tetap cantik walau usia gak muda lagi yang suka menulis karena wawasannya keren gilak luasnya hahahahaha #apaLoApaLoApaLo :p.