Sekularisme, Kasus Citizenship di Jerman, dan Tragedi Pemenggalan di Perancis

Ada 2 kasus yang sedang saya ikuti di daratan Eropa.

Peristiwa gagalnya seorang imigran muslim mendapatkan kewarganegaraan Jerman gara-gara menolak berjabat tangan dengan ibu-ibu petugas imigrasi.

Ybs sudah lulus ujian dan tinggal belasan tahun di Jerman serta berprofesi sebagai seorang dokter. Hanya gara-gara menolak bersentuhan dengan ibu tadi, sertifikatnya ditahan. Sampai ke level pengadilan pun, si imigran ini ‘kalah’.

Alasannya, si imigran dianggap gagal berintegrasi dalam kehidupan sosial di Jerman. Lah, memangnya berjabat tangan adalah salah satu syarat wajib untuk mendapatkan status warga negara?

kacang tanah untuk diet

Padahal si pemohon selama ini oke-oke saja performancenya sebagai dokter. Belasan tahun loh.

Kalau si ibu tadi sebagai individu merasa baper ya oke, kita bisa apa. Masa perasaan orang diatur-atur.

Tapi, kalau sampai selevel institusi PENGADILAN NEGARA pun ikutan baper? Piyeeee πŸ˜…πŸ™.

Kasus satunya lagi di Perancis mengorbankan nyawa seorang guru. Seorang guru dipancung oleh oknum murid karena dianggap mengolok-olok Nabi Muhammad. Yup, oknum murid seorang muslim.

For info, si Pak Guru menayangkan gambar olok-olok tersebut untuk mengajarkan soal kebebasan berpendapat. Hal ini cukup umum di Perancis ternyata.

Mayoritas mengecam keras insiden pembunuhan tersebut.

Jerman, Perancis, dan mayoritas Eropa rata-rata negara penganut sekularisme.

Kutip dari Wikipedia, “Dalam istilah politik, sekularisme adalah pergerakan menuju pemisahan antara agama dan pemerintahan. Hal ini dapat berupa hal seperti mengurangi keterikatan antara pemerintahan dan agama negara, menggantikan hukum keagamaan dengan hukum sipil, dan menghilangkan pembedaan yang tidak adil dengan dasar agama.”

Tujuannya sih tidak salah. Untuk menjamin hak semua orang tanpa memandang agama. Namun, dalam praktiknya … complicated.

Penerapan sekularisme Eropa vs US juga beda. Misalnya, di Perancis nih, atribut keagamaan apa pun cenderung TERLARANG di ruang publik. Sebaliknya, di US, bebaaaaaassssss.

Misalnya di Texas, anak laki-laki kalau izin shalat Jumat HARUS diperbolehkan di jam pelajaran. Kalau dilarang berarti melanggar hak asasi. Pakai jilbab, cadar, kalung salib, sorban khas Syikh (India) juga monggoooooo.

Republik Irlandia agak di tengah. Dalam keseharian sih, bebas-bebas aja hehehehe. Malah pemerintah mendanai beberapa sekolah berbasis Islam loh. Jumlahnya masih sedikit. Untuk mengimbangi public school yang hampir 100% menggunakan “kurikulum Katolik”.

Tapi mohon pahami, “kurikulum Katolik” (tanda kutip yak, kutidak paham apa istilah benerannya hahahaha) berbeda dengan doktrin agama Katoliknya. Memang ada pelajaran agama tapi kalau gak mau ikut ya gak papa hehehe.

Tapi di US, semua sekolah publik atau apa pun yang bersentuhan dengan SUBSIDI PEMERINTAH harus bebas dari pengaruh/simbol agama apa pun. Di hari Natal, kagak boleh itu pasang-pasang pohon Natal di sekolah publik atau instansi pemerintah.

Simbol agama apa pun di tempat umum (termasuk agama mayoritas Nasrani) boleh dihancurkan kalau publik tidak berkenan.

Pemerintah mendanai kegiatan, fasilitas umum, atas nama agama tertentu? Tet toooottt, tidak boleeeeeehhhh :D.

Tapiiiiiii, kalok pasang pohon Natal di mal ya boleh. Pasang gambar ketupat pas lebaran di mal ya monggo aja :D. Dan kalau kalian lihat di berbagai jalanan utama di kota-kota besar di US, rumah ibadah boleh didirikan oleh komunitas agama apa pun.

Selama semuanya adalah campur tangan swasta (non pemerintah), penyembah iblis pun boleh mendirikan rumah ibadah :p.

Makanya di Texas tuh ya, segala masjid dari semua mazhab adaaaaaa hehehe. Itungin tuh, ada masjid Syiah yang ternyata juga punya beberapa aliran beda-beda. Ada masjid Sunni yang juga terbagi-bagi. Ada Sinagog, ada aneka rupa gereja yang mana Nasrani ini “kelompok”nya juga amat sangat bervariasi hehehe.

Jadi jangan sampai salah masuk masjid hahaha :p.

US menjamin kebebasan beragama selama pemerintah tidak ikut terlibat. Sebaliknya di Eropa ada beberapa negara yang malah MENGEKANG atribut keyakinan apa pun di ruang publik!

Tapi inget loh, di Perancis tetap boleh pakai jilbab di luar sekolah atau instansi yang mengeluarkan aturan pelarangan.

Tidak semua Eropa begini. Kalau kalian lihat di UK, pemerintahnya lebih “ramah” terhadap kaum muslim. Republik Irlandia juga mirip.

Bebas pakai jilbab di Ireland πŸ˜‰

Malah nih di Ireland, cenderung ingin memfasilitasi semua agama. Di kota tempat tinggal saya dulu, kelompok muslim sempat dianjurkan untuk mengajukan proposal dana kepada pemerintahan setempat loh :).

Kayak di Indonesia ya hehehehe. Cuma kalau begini, secara otomatis, agama mayoritas diuntungkan. Pasti kucuran dana dan perhatian lebih besar untuk agama mayoritas, simply karena penganutnya lebih banyaaaaak :D.

Terus soal Islam sendiri memang agak unik dibanding agama lain. Kenapa? Karena di Eropa walaupun mayoritas sudah sekuler dalam kehidupan sehari-hari (agama KTP doang gitulah hihihihi), mereka kan basisnya Nasrani :D.

Jadi lihat kalung salib lebih santai daripada lihat perempuan bercadar misalnya. Proses membaur juga agak sulit. Karena misalnya pernikahan, muslim kan sulit menikah dengan agama lain. Belum lagi soal aturan makanan. Padahal Yahudi juga sama ketatnya bahkan lebih ketat.

Fyi, jumlah Yahudi tidak sebanyak muslim karena Yahudi terikat erat garis keturunan kalau gak salah.

Isu-isu global seperti pengungsi dari Timur Tengah dan Afrika (yang banyak muslimnya) juga menggerus perekonomian di Eropa Barat dan bikin masyarakat sana yang ekonomi negaranya ngandelin pajak perorangan jadi sewot.

Persoalan beginian ditarik ke ranah agama ujung-ujungnya. Pening yes?

Makin bias dengan kebebasan berpendapat yang diagung-agungkan oleh banyak negara maju. Makin kompleks dengan banyaknya pendatang muslim yang justru nyamannya kabur ke negara-negara Eropa.

Seperti respons dedek Ustaz Dinar Zul Akbar terhadap komentar saya di wallnya, imigran muslim ingin menikmati segala kenyamanan ala negara maju tapi sekaligus takut kehilangan identitas muslimnya di tengah arus liberalisasi?

Dilengkapi fakta bahwa kelompok-kelompok ekstrim lebih lihai dalam berdakwah secara digital. Video-video mereka lebih mudah viral.

Mungkin karena bandul-bandul spiritual yang diyakini akan bergeser ke kiri selama tinggal di negara maju mayoritas non muslim maka kaum imigran muslim melakukan “perlawanan keras” dengan ikut komunitas Islam “garis keras”?

Cobaklah bandulnya digeser ke tengah. Tapi kemudian kita akan berhadapan dengan jargon andalan, “Yang Haq adalah yang haq, yang batil adalah yang batil.” Tidak ada yang namanya keyakinan tengah-tengah. Padahal konon umat Islam diharapkan menjadi umat pertengahan. Ini gimana sih bertolak belakang gini :D.

Ketambahan lagi dengan pandemi berkepanjangan ini. Kejatuhan ekonomi secara global tentu saja punya pengaruh besar terhadap tingkat kebaperan tiap orang terhadap hal apa pun.

Apalagi soal agama, yang konon perintah Tuhan langsung, “Ini bukan kata gue, ini perintah Tuhan tauk!” Lah, gimana cara minta konfirmasinya? Siapakah yang seharusnya menjawab jika kita bertanya, “Tuhan, benarkah ini adalah sabdamu?” πŸ™.

β€œThe mind is its own place, and in itself can make a heaven of hell, a hell of heaven..”― John Milton, Paradise Lost

Think about it ya :).

Film Dokumenter Netflix : MINIMALISM, Living a Meaningful Life

Tadinya nonton film dokumenter Netflix yang ‘Tiny House Nation’ terus dilanjutin sama MINIMALISM ini. Mungkin di masa pandemi ini dimana ruang gerak cukup terbatas, lebih mudah menghayati tayangan dokumenter model begini?

Give them a try ;).

Joshua dan Ryan, yang tinggal di US, menulis buku “Minimalism : Live a Meaningful Life”. Menceritakan pengalaman mereka melepaskan diri dari godaan dunia dan mengejar kebahagiaan sejati.

Mereka merasa sukses melepaskan diri dan jebakan ‘The American Dream’.

film dokumenter Netflix

Again and again, US ini memang buedaaaaaaaaa banget sama yurop secara umum. Tentu saja KESENJANGAN EKONOMI salah satu faktor utama kenapa orang-orang di US kok keliatannya lebih gragas soal barang-barang ketimbang orang-orang di yurop hehehe. Timur Tengah juga mirip, sih :p.

Percayalah, LINGKUNGAN itu pengaruhnya besaaarrrr. Cukup terasa kesulitannya hidup di Jeddah dulu kalau kita penampilannya dekil. Here’s the story about that hihihihi.

Di US tidak segini-gininya sih. Tapi secara sosial sehari-hari ya pasti terasa. Makanya tuh di US sampai ada yang namanya credit-score. Aneh banget. Makin sering kita nyicil, makin bagus skor kita. Kalau gak salah, kalau gak pernah kredit malah susah dapat pinjaman dari bank. Nah loh :p.

Kalok di yurop, like I always said, kesenjangan tidak terlalu timpang. Kasarnya, kehidupan ekonomi hampir semua kalangan tuh mirip-mirip. Walau yah, karena kredit, banyak yang tergoda juga pengin ini pengin itu banyak sekaliiiiii :p.

Kita mungkin sebenarnya sadar kita tidak terlalu butuh tinggal di rumah gede misalnya. Tapi ya itu, tekanan lingkungan sukar dilawan. Namanya makhluk sosial ye kan.

Teman-teman nyicil rumah segede gaban, kok ya gelisah sendiri. Awkward juga kan kalo bikin acara terus ketempatan giliran terus rumah kita ‘beda sendiri’? Sekali dua kali bisa kuat. Kalau berkali-kali ya baper juga, Sis!

Makanya kadang standar kebahagiaan itu sesimpel –> diterima dalam pergaulan / mendapat pengakuan.

Ini sudah banyak pengalaman dari usia sekolah kok, ya.

Dulu sempat becanda-becanda sama teman di sekolah, how we wish to have a rich boyfriend biar bisa upgrade penampilan dan masuk geng anak gaul hahahaha. Apa ini, apa iniiiii, kecil-kecil udah “mental sugar daddy” 🀣🀣🀣.

Pukulan cukup berat dulu itu, one of my biggest crush (kakak kelas) yang ujug-ujug jadian sama anak perempuan kece-gaul-tajir. Sumpah, sakit hati maksimal! Hahaha.

Nah, sama seperti Joshua dan Ryan yang latar belakangnya ‘keluarga susah’, kadang terjebak hidup materialistis itu salah satu cara balas dendam terhadap masa lalu?

Kita mengejar kebahagiaan dengan mengoleksi hal-hal yang dulu tak bisa kita jangkau. Harta benda misalnya. Makin klop dengan desakan lingkungan tadi.

Misalnya dendam dulu dicuekin karena dekil. Berbekal rasa sakit hati itulah jadinya bertekad kalok punya duit mau tampil sekeren mungkin. Dengan begitu kita jadi merasa lebih bahagia?

It is so wrong :(.

Ternyata, rumusnya enggak gitu. Jangan sampai kita menyandarkan tujuan hidup pada dinding yang salah.

Karena kalau keinginan bersifat materi yang terus-terusan kita ikuti, tidak akan ada habisnya. On and on and on … kayak minum yang manis-manis, boro-boro menghilangkan haus, yang ada malah makin craving, kan? Lah kenapa jadi ceramah pola makan sehat ini lama-lama hahahahaha.

In the end –> “The things you own , end up owning you” – Tyler Durdan

Kedua penulis the minimalist ini mau ngasih tahu kalau kita bisa punya standar kebahagiaan kita sendiri. Dan itu jangan sampai dipengaruhi oleh sesuatu di luar sana yang sukar kita kendalikan (pendapat orang, pertemanan, dsb dsb).

But again, melawan tekanan lingkungan itu perlu kerja keras dan kegigihan luar biasa. Ada baiknya juga, birokrasi harus melibatkan diri. Itulah kenapa di Eropa secara umum lebih “merata” ketimbang di US.

Ada peran pemerintah yang cukup signifikan.

Di film ini disebut betapa iklan dan berbagai tayangan informasi punya peranan besar dalam menentukan gaya hidup banyak orang. Tapi di situlah lingkaran setannya.

Perputaran ekonomi secara umum sangat ditunjang oleh perputaran uang dan barang. Kalok semua jadi minimalist ya mentok kreativitas / perekonomian dunia πŸ˜….

Begitulah mengapa manusia tidak diciptakan seragam. Ironis, ya 😊.

Makanya kehidupan manusia itu kompleks, enggak bisa tiba-tiba dibikin simpel gitu aja.

Tapi saya selalu percaya,

“The best feeling in the world is realizing that you’re perfectly happy without the thing you thought you needed” – marxie

Letakkan dunia di tanganmu, bukan di hatimu. Selamat menonton! πŸ₯°

MEMORIES


Sudah mulai final packing.

Ini nih salah satu perbedaan utama saya vs suami urusan beginian. Dese tipe yang sebisa mungkin menyimpan semua benda-benda yang mengandung unsur-unsur “kenangan” hehehe.

Ya kalok gitu sih, semua juga ada kenangannya.

Sementara saya tipe “udah gak kepake ya dibuang”. Termasuk segala coretan-coretan, gambar-gambar, prakarya anak-anak di sekolah atau di rumah.

Dulu, sebelum era Roblox (hahahaha), sering juga bikin prakarya sama anak-anak di rumah, nyontek dari Youtube. Kalau sudah selesai, saya potret, then I let them played with it for a while. Kalo sudah pada lupa ya saya buang :p.

Paling males numpuk-numpuk barang. Termasuk buku. Kalau tipe-tipe buku yang sekali baca udah cukup, setelahnya saya berikan ke orang lain. Yang penting udah direview :D.

Kecuali yang “timeless” dan harganya agak lumayan macam buku-bukunya Karen Armstrong tetep saya angkut ke mana pun pergi.

Teman-teman ada yang nanya berapa tuh ongkos kirim barang dari Irlandia ke Indonesia. Secara udah 7 tahun tinggal di sini. Wah, barang saya nanti paling sekitar 5 koper, itu sudah semuanya hahaha.

Bulan Januari kemarin pas suami pulang ke Jakarta juga sudah bawa 2 koper besar. Total 7 koper berarti (dan sebagian cuma koper kecil hehehe).

Di Irlandia, kami tinggal di apartemen fully furnished. Daku tipe emak-emak praktis. Pakai yang ada saja.

Tapi peralatan dapur pasti kurang banget lah secara orang bule segala-gala tinggal masuk oven, beres, hihihihi. Selama merantau, saya paling doyan beli-beli perkakas di charity shop, toko barang bekas hehehe.

Wah, orang bule barang bekasnya pun bagus-bagus. Terutama pas tinggal di Texas, widiiiihhh, sering banget beli barang yang MASIH ADA label harganya di charity shop mana pun.

Waktu di Jeddah, apartemen kosong, lebih cuek lagi hahaha. Apartemen kami lumayan luas di Jeddah tapi ruang tamu segede itu isinya cuma satu sofa mungil. Biar anak-anak bebas guling-gulingan ye kaaaannn :D.

Kalo misalnya temen satu gedung ngadain acara. Nanti kalau pada mau shalat berjamaah tinggal ke apartemen saya saja. Istilahnya AULA –> karena tempatnya luas tapi isinya gak ada hahahaha.

Bayangin dulu temen ada yang kirim barang sampai ratusan kilo pas pindahan dari Jeddah. Sementara saya bingung mau bawa apaan. Peralatan makan beli plastikan semua di Khaled Bawazir yang super murah itu hahahahaha. Jarang masak. Di Jeddah jajanan murah beud. Ngapain capek-capek.

Nah, pas di Irlandia baru kepepet harus masak. Tapi saya ni, misalnya harus beli food processor dll, patokan saya selalu HARGA. Sebisa mungkin beli paling murah hihihi. Blender dll juga gitu.Tapi awet loh. Yaaayyyy!

Murah meriah, blender dan rice cooker, masing-masing harganya cuma 17 euro dan 19 euro, setia menemani saya bikin bakso, somay, segala rupa selama bertahun-tahun <3.

Memasak itu perkara niat. Saya males beli mixer tapi bolak balik bikin cake dan kue kering. Enak-enak aja kok hihihi. Lagian kan memang bukan buat dijual, buat konsumsi sendiri aja. Yang penting anak-anak dan suami doyan. Selesai ;).

Begitu saatnya pindah, dibuang juga enggak apa-apa. Itu juga saya sudah merasa untung barang harga segitu awet sampai tahunan.

Saya segan menawarkan barang-barang bekas ke teman-teman di sini. Takut tersinggung. Rata-rata mereka barang dapurnya berkelas semua. Enggak kayak gue, yang segala ceret, wajan, vas bunga, belinya di toko barang bekas 🀣🀣🀣🀣.

Tapi di US dan yurop ini charity shop juga ada kelas-kelasnya. Ada charity shop yang hanya menjual barang bermerek dengan kondisi minimal 80%. Nah, saya kalo beli sepatu sama jaket anak-anak di toko iniiiiiiiii πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚.

Di charity shop, barang anak-anak itu buanyaaaakkk yang bagus-bagus. Masih kayak baru. Termasuk mainan ^_^.

Apa karena efek tinggal di luar negeri, tidak pernah punya visi misi menetap, dan sering pindah-pindah?

Tapi kayaknya pas tinggal di Jakarta pun, baik semasa ngekos maupun setelah menikah dan punya rumah sendiri, saya anaknya males hahahaha.

Mungkin sudah jadi gaya hidup, enggak mau diribetin sama barang-barang.

Makanya kalok ditanyain repot ndak sih Mbak sering pindah-pindah? Enggak sama sekali :D.

Ya salah satunya karena balik lagi. Selain memang beli-beli barang itu sangat seperlunya, saya enggak pernah segan buang-buangin barang kalau sudah tidak dipakai.

Tapi kan banyak memorinya?

Waktu rumah ortu dijual dulu dan kami terpaksa tinggalnya mencar-mencar pindah ke rumah kerabat, banyak barang saya buang karena takut baper hehehe. Foto-foto pun enggak mau bawa. Takut sedih. Diari-diari saja yang saya bawa.

Tempat terbaik dan paling kekal buat semua dari masa-masa yang sudah lewat memang bukan di kertas atau selembar foto. Tapi DALAM INGATAN atau dalam hati. For those, you’re never be able to forget.

Makanya ndak perlu dikerumunin barang-barang kalau tujuannya hanya untuk mengabadikan memori ;).

As some said, “Memories are timeless treasures of the heart” πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°.

Video hanya pemanis πŸ™„πŸ˜πŸ˜….

negara maju dan negara berkembang

Heal The World

Andai ada cara lain untuk “menyembuhkan” bumi, tentu tidak mau kita terjebak dalam karantina-universal seperti sekarang?

Dengan tidak bermaksud menyepelekan lebih dari 22 ribu nyawa dari berbagai penjuru dunia yang sudah melayang karena wabah ini, tapi memang ada efek lain dari Coronavirus yang tampak nyata depan mata.

Negeri Tirai Bambu secara impresif melaju menjadi ekonomi terbesar nomor 2 di dunia dalam tempo yang seperti berlari. Namun, sekaligus menjadi penyumbang emisi karbon terbesar di dunia.

Negara-negara maju lainnya seperti USA dan Uni Eropa serta Rusia ikut serta mempersembahkan peningkatan polusi udara di dunia :(. Belum lagi fenomena global warming secara umum.

Menumpuknya sampah plastik merupakan salah satu akibat mobilitas manusia yang makin cepat dan tambah cepat. Pengin serba instan nan praktis.

Bertahun-tahun, berbagai cara diperjuangkan oleh aktivis lingkungan untuk meredam laju emisi karbon dan perusakan lingkungan secara umum oleh umat manusia.

Siapa sangka, Coronavirus dengan cara tidak terduga berhasil mengikis emisi karbon secara gemilang dalam kurun waktu singkat. Pengurangannya sangat signifikan.

Pernah nonton Brother Bear, gak?

Lovely movie yang menunjukkan kepada kita bagaimana egoisnya manusia memperlakukan alam. Kita selalu mengira binatang-binatang di sekitar kita selalu punya niat jahat kepada manusia. Bahwa binatang ini mencari-cari cara untuk mengganggu manusia.

Gambar : disney. wikia.com

They’re monsters, keluh Kenai, si pemeran utama di film ini. Sebaliknya, si beruang kecil, Koda, juga menggunakan istilah monster buat manusia bertombak yang datang tiba-tiba menghadang ibunya.

Manusia pun kerap merasa makhluk hidup lain di dunia ini hadir demi memenuhi kebutuhan manusia semata. Wajar gitu kalau kita eksploitasi segalanya untuk kelancaran hidup kita. Kan mereka diciptakan buat kita, kok.

Sadar tidak sih, di alam bebas, naturally makhluk hidup lain mungkin tidak butuh bantuan manusia dalam hal apa pun. Manusia yang sebaliknya.

Biar manusia mampu konsumsi daging ayam seenaknya yang mereka mau, orang pun berlomba-lomba mencari β€œcepat” beternak ayam potong. Agar cepat besar dan dagingnya banyak, ayam-ayam ini dikumpulkan di sebuah ruangan sempit, gelap, tanpa cahaya dan diberi makan sebanyak-banyaknya.

Pernah lihat peternakan ayam potong dan bagaimana mereka mengelolanya? Biar bisa memenuhi kerakusan perut manusia yang kayaknya sehari enggak makan protein hewani bisa sakaw.

Sapi juga begitu. Dagingnya diincar plus… susunya!

Sapi di Swiss fotografer Dani Rosyadi
Sapi di Swiss :D, pics by : Dani Rosyadi

Makin ke sini, bayi baru lahir hingga eyang-eyang pun dihasut minum susu hewan setiap hari. Padahal dulu mah orang tidak seriweuh ini minum susu sapi. Paling sesekali. Lah sekarang? Mau tulang kuat, minum susu hewan.

Mau kalsium, banyak-banyak minum susu, mau sehat, minum susu. Hamil pun harus banget minum susu hewan. Malah saya pernah syok lihat ada susu pencegah penyakit kanker hahaha :p.

Brokoli sebenarnya juga sumber kalsium yang bagus. Susu pun dari varian tumbuh-tumbuhan juga ada dan sangat bisa dikembangkan. Susu kedelai, susu almond, dan susu dari kelapa misalnya.

Pernah terbayang, bagaimana mendapatkan susu sebanyak itu buat bermilyar-milyar manusia di dunia ini yang konon katanya kudu minum susu hewan minimal 2 gelas sehari?

Pepohonan habis untuk bermacam kebutuhan. Alih-alih menanam lebih banyak untuk penyeimbang pasokan oksigen bagi manusia yang sudah bertambah banyak, kita malah menjauh dari “mereka” :(.

Hayo ngaku, siapa yang sanggup melewatkan hari tanpa makan sayur dan buah sama sekali? Banyaaaaaaaak :p.

Enggak makan sayur mah biasa ya. Tapi crankynya minta ampun kalau sehari enggak makan hewan :p. Minimal telurnya lah ;). Plus susunya -_-.

Seenaknya buang sampah sembarangan. Kalau banjir tinggal salahin gubernur atau presidennya ya? β€ͺ#β€Žeh‬ :p.

Makna diciptakan sebagai khalifah di muka bumi ini ya karena kita yang didesain untuk mampu menjaga keseimbangan alam. Ukuran otak manusia itu paling besar lho secara persentase dibandingkan dengan ukuran tubuh. Jauh lebih kompleks pula daripada hewan mana pun.

But look at us :'(.

Koda, β€œThis year, I watched my Mom in a life and death struggle against all odds, battling possibly the most fiercest creature on the face of the earth.”

The most fiercest creature on the face of the earth πŸ˜°πŸ˜°πŸ˜°.

Semoga coronavirus ini segera berlalu dan menjadi pelajaran berharga banget terhadap cara pandang manusia terhadap bumi dan makhluk lain yang ada di dalamnya.

β€œOne of the first conditions of happiness is that the link between Man and Nature shall not be broken.” ― Leo Tolstoy

negara maju dan negara berkembang

Jangan ngemil ajaaaa, banyak makan sayur dan buah, jelas penting untuk menjaga daya tahan tubuh sekaligus mengoptimalkan tumbuh-tumbuhan sebagai penyedia oksigen di muka bumi <3.

Tetap semangat #diRumahAja bagi yang tidak berkepentingan di luar rumah πŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺ. Kita bantu tenaga kesehatan agar lebih ringan kerjanya dan kita biarkan bumi “bernapas” dengan lebih baik <3.

Heal the world
Make it a better place

πŸ™πŸ™πŸ™

Stay at Home, You Must! #diRumahAja

Melihat update terbaru di situs Coronavirus Update (LIVE), negara-negara Eropa terus menguasai “papan atas” πŸ˜°.

Kemarin ngobrol sama suami, kemungkinan karena borderless dan sistem transportasi yang bagus makanya pergerakan sangat mudah di Eropa daratan.

Sempat kagum dengan Jerman yang kasus sebanyak itu tapi tingkat kematian sangat rendah. Tapi kemudian dapat berita di sana pun sudah kepayahan tenaga medisnya. Yang pensiun pun dipanggil kembali πŸ˜°.

Ireland juga sama, sih. Ada seruan untuk menunda pensiun dan memanggil kembali tenaga medis yang sudah “gantung jas”.

Saya nyesel tidak membiasakan diri belanja bulanan. Karena sebelahan ama supermarket, selama ini belanja tuh kayak ke tukang sayur. Harian! Ke supermarket bisa 2 hari sekali.

Salah perhitungan terus πŸ˜­. Shopping day yang biasanya fun sekarang udah kayak mau ke medan perang saking enggak maunya ke luar rumah πŸ™ˆπŸ˜….

Apalagi semalam sebelum shopping day, kasus baru Covid19 di Ireland ada 191 kasus. ((191)) in one day! *mauPingsan* πŸ˜­.

Sebelum belanja kemarin, hampir sejam melakukan kalkulasi belanja buat stok 10 hari. Kulkas kecil, segitu kayaknya mentok.

Toko daging halal udah dicoret. Pokoknya belanja di satu tempat aja. Borong ikan beku.

Ah, remember that day, waktu shopping selalu jadi kegiatan yang menyenangkan. Malah dipakek buat bikin vlog, remember this?

Kemarin banyak manula belanja sendiri. Karena lihat mereka yang nampak strong, saya jadi berkurang paniknya. Masa kalah sama nenek-nenek yang belanja dengan tenang dan lincah dorongin trolinya sendiri.

Pas video call ama suami sok ketawa-ketawa centil biar suami tenang di sono padahal aslinya kemarin pas nyetir mau ke toko sempat nangis drama hahahahahaha πŸ˜‚.

Emang perlu mengeluarkan emosi. Yang penting abis itu pegang kontrol kembali.

Gambar : paradise4women.com

Jalanan sepi gilak. Persis kota mati. Tapi pas di parkiran supermarket banyak mobil parkir.

Tetap semangat semua. Stay at home, stay at home! #diRumahAja

Ingat, ada orang-orang seperti para tenaga medis yang tetap harus bertugas mati-matian di garda paling depan.

Gak papah kok panik dan cemas. We really should! Tapi tetap ingat, hampir semua orang di berbagai penjuru negeri berada di kondisi serupa. Bukan kita doang! Jangan egois … please!

Dalam kecemasan atau kebosanan, tetap kontrol diri jangan sampai merugikan orang lain.

Pikirin tenaga medis yang juga punya keluarga tapi tetap harus berdiri tegak, no time for drama, dan mengabdi di luar rumah πŸ™.

Please, jangan ke luar rumah kalok gak penting!

Ini sudah era digital. Manfaatkan video call dengan teman atau kerabat untuk membunuh rasa bosan/suntuk. Membantu banget kok insya Allah πŸ‘πŸ™.

Cek youtube! Ada jutaan video resep-resep, keterampilan baru yang bisa dipelajari di rumah, olahraga yang bisa dilakukan fully at home, dengerin lagu-lagu, nonton film dst dst dst.

Netflix juga banyak tontonan menarik non fiksi loh. Cobain salah satunya Horrible History. Seruuuu dan super fun buat belajar sejarah πŸ‘ŒπŸ˜‰.

Kursus online gratisan bertebaran di Internet. Yuk, jangan mati gaya πŸ‘ŒπŸ‘ŒπŸ‘Œ.

We can be a part to control the madness. Mari #diRumahAja dan tetap semangat! πŸ’ͺ❀️.