tempat mancing di tangerang

Tempat Mancing di Tangerang : Wisata Pemancingan Lubana Sengkol di Serpong

Nyari-nyari tempat mancing di Tangerang sebagai alternatif liburan akhir tahun yang enggak memungkinkan ke luar kota. Takut, euy, hehehe. Terbayang ramenya kayak apa itu yah libur panjang begini.

Pandemi oh pandemi, cepatlah berlalu. Udah kangen road trip iniiiiii huhuhu.

Daripada enggak ngapa-ngapain, jadilah kami memutuskan nyari-nyari apa gitu di area Tangerang sini. Anak-anak lagi seneng mancing banget inih hehehe. Sekitar sebulanan lalu kami iseng jalan-jalan ke tempat pemancingan sekaligus restoran di Godong Ijo, daerah Depok apa ya kalo gak salah.

Baca juga : “Tempat makan enak di BSD”.

Nah, sekarang pas googling tempat mancing di Tangerang dan sekitar, keluar nih rekomendasi si Lubana Sengkol. Liat waktu tempuh yang sekitar setengah jam-an dari Bintaro Sektor 9 sini, langsung cuuussss :D.

Mari simak langsung vlognya sodarah-sodarah hehehe :

Berangkat dari rumah sebelum jam makan siang. Jadi pukul 11 an siang sudah tiba di lokasi. Lubana Sengkol ini terletak dalam kawasan Serpong Lagoon.

Tiket masuk berlima sekitar 25 ribu rupiah. Kami ke sananya hari selasa kalau gak salah, jadi bukan weekend.

Parkiran enggak terlalu penuh. Pertanda tempatnya enggak rame. Entah ini karena pandemi atau karena memang belum rame aja, ya. Kayaknya sih karena pandemi.

selfie duyuuuu 😀

Banyak wahana outbound di sana selain restoran dan tempat pemancingan. Jadi Lubana Sengkol bukan hanya alternatif tempat mancing di Tangerang yah, Gaeeesss :D.

Tapi juga ada macam-macam kegiatan seperti naik boat apalah itu di sekitaran danau, flying fox gitu-gitu, ada beberapa playground juga, dst dst dst.

Tempatnya memang menyenangkan. Pas lihat tempatnya sepi, antara sedih dan lega gitu. Soalnya kalok rame ya gimana dah :p. Tapi relatif aman lah ya karena tempatnya full outdoor.

Baca juga : “Sekolah anak di Bintaro dan Sekitar.“

Karena outdoor sempet syok juga pas hujan hihihi. Untung hujannya sebentar banget. Gak sempat panik :p.

Tiba di sana, ke kasir dulu nyewa alat pemancingan. Setelah itu pilih-pilih saung buat nongkrong. Saung-saungnya ada macam-macam dan tersebar di berbagai pojok.

Empangnya sendiri ada beberapa. Ada kolam ikan mas, kolam ikan nila, kolam ikan patin, apa lagi ya, lupak hehehe. Pokoknya ada beberapa kolam gitu, lengkap dengan saung di sekeliling masing-masing kolam.

tempat mancing di tangerang
Yang laen mancing, yang dua ini foto-foto terooossss hahahaha

Waktu baru datang, langsung latihan mancing dulu. Soalnya udah agak lama dan baru kedua kali ini jadi lupa-lupa ingat ya cara ngelempar pancingnya hahahaha.

Sambil nungguin yang lagi “gladi bersih” mancing :p, sibuklah mamak pesen-pesen camilan. Segala pisang goreng, tempe mendoan, sampai tahu isi, dipesen semua. Plus seteko gede teh manis anget. Biar puas minumnya :p.

Setelah ngemil-ngemil, baru deh mancing beneran. Pancingnya dipasangin umpan. Ternyata si #boy2 yang enjoy banget. Udah jagoan dese lempar-lempar kail hehehe. Abang sama adeknya bagian hore-horenya aja.

Tapi di Lubana Sengkol ini payah. Ikannya kayaknya dikit. Waktu di Godong Ijo, walaupun kami pemula banget bisa sampai dapat 4 ikan lah :p. Saung kiri kanan kami dapatnya banyaaaakkk. Bisa sampai belasan ekor tuh saung sebelah pas di Godong Ijo.

Nah, di Lubana Sengkol, saung-saung sekitar yang juga lagi pada mancing nampak sepi dan sorak sorai. Biasanya kan kalok dapat ikan pada heboh jejeritan hahahaha.

Karena bosan gak dapet-dapet ikan, jadi sempat pindah kolam. Dari kolam ikan mas ke kolam ikan nila. Saung kami di tengah-tengah sih. Jadi di depan saung kolam ikan mas, di belakang kolam ikan nila. Jadi praktis bolak balik :p.

Eeeehhhh, gak dapat ikan juga dwooonggg, ampun dah hahahahaha.

Akhirnya sampai pesan makan siang gak seekor pun ikan ketangkep huuuuuu :p.

Ah ya, restoran di Lubana Sengkol ini masakannya seputaran ikan, ayam, aneka seafood non ikan, sayur-sayuran, dst. Harganya lumi banget lah. Rasanya juga lumayan. Saya capture daftar menu beserta harga, ada di vlog di link atas tuh ya. Tolonglah ditengok vlognya tuh hahahaha :p.

Jangan lupa subscribe ke channel youtube saya di “Jihan Davincka”. Tinggal pencet tombol merah SUBSCRIBE. Kalau punya akun gmail, otomatis bisa subscribe via youtube juga :).

Setelah makan siang, kekumpul lagi tuh semangatnya buat mancing :p. Udah isi bensin, yes? Hehe. Jadi deh mancing lagi. Kali ini ngabisin waktu di kolam ikan nila.

Dan akhirnya …. dapet! Berapa? SATU EKOR sajah, sodara-sodara! Hahahhahaha. Dari nongkrong jam 11 sampai jam 3 an itu, dapat satu doang, astagah! *ngakakStres*.

Setelah ditimbang, dibayar, minta tolong bersihin dan dibumbuin sekalian, ikan sebiji itu dibawa pulang. Dan selesailah sudah liburan ala-ala di Lubana Sengkol tadi :D.

SEmoga infonya membantu ya buat temen-temen yang pengin liburan aman di masa pandemi. Tempatnya asyik, enggak terlalu ramai. Suasana full outdoor juga lebih menenangkan di masa-masa begini. Tapi tetep 3 M dong ya, tetep protokol kesehatan dijaga terus (y).

Pakai masker terus kecuali lagi makan. Cuci tangan bolak balik which is very convenient, karena tempat cuci tangan disediakan di mana-mana dalam area Lubana Sengkol ini.

Tuh, yang lagi nyari-nyari tempat mancing di Tangerang dan sekitar, monggo dicobak main ke Lubana Sengkol ini ^_^.

 

 

Makassar, Suku Bugis, Kebiasaan ‘Bunuh Membunuh’ dan Pengalaman Minoritas yang Menyenangkan

“Lo anak mana, sih?” Seorang teman beda fakultas bertanya pada saya setelah kami kenalan di acara orientasi universitas.

“Dari Makassar, Sulawesi,” jawab saya.

‘Wow, ini pertama kali dalam hidup gue ketemu sama orang Sulawesi!”

Entah harus bete atau terharu.

Itu kejadian 20 tahun lalu. Merantau pertama kali ke Pulau Jawa, setelah hasil UMPTN membawa saya mewujudkan mimpi untuk kuliah di ibukota. Mudah-mudahan orang Makassar sudah tenar di Jakarta sekarang.

Ada juga yang merespons dengan, “Ooo dari Makassar. Gue tau tuh lagu sana. Anging Mammiri, kan? Lo tau dong artinya?”

“Enggak tahu. Gue kan orang Bugis.”

“Loh, katanya dari Makassar.”

Jadi begini. Makassar adalah nama kota ibukota dari provinsi Sulawesi Selatan sekaligus menjadi salah satu nama suku terbesar di sana.

Lho memangnya ada berapa suku, sih? Banyaaaaaak.

4 suku terbesar adalah : Makassar, Bugis, Toraja, dan Mandar. Tapi beberapa tahun lalu beberapa wilayah yang dihuni mayoritas suku Mandar sudah memisahkan diri menjadi provinsi baru, Sulawesi Barat.

Rumah adat khas Suku Toraja (Gambar : sulselprov.go.id)

Bahasa Bugis itu jauh berbeda dengan bahasa Makassar. Makanya lahir dan besar di Makassar pun belum tentu bisa berbahasa Makassar. Saya fasih 80% bahasa Bugis, tapi bahasa Makassar saya mungkin cuma 10% saja.

Sehari-hari di Kota Makassar, kami menggunakan bahasa Indonesia dengan logat/aksen lokal. Urusan bahasa ini pun sempat membuat proses adaptasi saya menjadi berwarna.

Pantai Losari, Makassar (Gambar : tempo.co)

Suatu malam di tempat kos, kami menonton beramai-ramai di ruang tamu. Beberapa sudah mulai mengantuk dan mengajak yang lain kembali ke kamar.

Mereka meninggalkan ruangan tanpa mematikan televisi. Spontan saya bertanya, “Televisinya tidak dibunuh?”

Mereka terlihat syok dan melihat ke arah saya, “Ha? Siapa yang dibunuh?”

“Ya televisinya.” Saya kebingungan melihat tampang mereka yang jadi horor begitu.

Spontan pada ngakak. Saya akhirnya sadar kalau kata “membunuh” tentu mengagetkan buat orang di luar Sulsel hehehe. Sementara kami di Makassar istilah mematikan alat-alat listrik sehari-hari ya biasa saja menggunakan kata “bunuh”.

Bingung bahasa enggak cuma yang serem-serem macam bunuh membunuh ini saja. Yang simpel-simpel macam membedakan ubi vs singkong saja lumayan bikin tukang gorengan depan Danau UI bete hahahaha.

Ceritanya pas lagi Ospek Universitas di suatu siang lapar banget dan dekat situ adanya tukang gorengan. Ramai yang beli. Jadi sambil ngantri kami langsung menyeletuk satu persatu. Saya ikutan, “Ubi ya, Bang.”

Saya tidak terlalu memperhatikan saat si Abang masuk-masukin pesanan ke kantong kertas. Langsung bayar, main ambil saja.

Saat agak jauh dan merogoh isinya baru kelihatan, alamak, saya ngomel dalam hati, “Kok masukinnya salah?”

Saya balik ke abang-abang tadi, “Bang, saya pesannya ubi kok ngasihnya ubi jalar?”

Abangnya bengong, “Itu kan memang ubi, Neng!”

“Bukaaaaaan. Maksud saya tuh iniiiiiii…” Sambil menunjuk ke salah satu kelompok gorengan yang ada di wajan si Abang.

“Ya ampun, ini mah singkong! Ubi tuh yang iniiiiiii…”

Saya tetap ngotot, “Ini Ubi jalar, Bang!”

Untung abangnya enggak macam netizen masa kini yang doyan eyel-eyelan panjang lebar, “Ya udah, ganti aja sini.”

Ternyata ubi kayu yang umumnya kami sebut ‘Ubi’ di Makassar dikenali sebagai singkong di pergaulan ibukota. Ubi manis ya namanya Ubi Jalar kalau di Makassar.

Kembali mengalami masalah yang sama saat mau beli martabak. Saya pesan martabak eh dikasihnya terang bulan. Saya protes, dong!

Abangnya malah bingung, “Jangan becanda mentang-mentang udah malam ngomongin bulan. Ini martabak.”

Ternyata, istilah martabak itu default buat martabak manis. Martabak yang saya maksud adalah martabak telur. Karena di Makassar, tidak ada istilah martabak manis. Adanya Terang Bulan!

Seru ya jadi orang Indonesia. Sukunya ratusan, agamanya tidak hanya satu.

Menjadi minoritas pun tidak selalu teraniaya dan penuh drama. Banyak juga seru-serunya hehehe.

Yang penting jangan gampang baper dan sadari salah satu resiko minoritas ya kurang tenar.  Kurang tenar bisa mengundang banyak kesalahpahaman. Seperti teman-teman di ibukota di berbagai pertemanan yang sering banget berkomentar, “Wah, enak ya di Jakarta, Jee. Ketemu banyak makanan enak-enak.”

Banyak yang mengira orang-orang di luar Jawa itu penderitaannya seputar susah makan gitu-gitu. Padahal saya stres lho waktu pertama ngekos di Depok kenapa pada doyan makan Lele. Sumpah rasanya tawar enggak jelas di lidah saya yang dari kecil dibesarkan dekat pantai yang akrab dengan ikan-ikan laut yang gurihnya alami selevel Ikan Baronang, Ikan Bolu (Bandeng ala Sulawesi), dsb.

Ada dangke, keju tradisional khas dari susu kerbau yang berasal dari wilayah Enrekang, Sulawesi Selatan. Ada Nasu Likku / Likkua Manu’ yang mirip rendang ayam. Ada burasa’, lontong yang rasanya gurih karena dimasak dengan santan dibungkus daun pisang.

Selain Coto Makassar dan Sop Konro yang sudah banyak dikenal, masih ada Pallumara, Pallubasa atau Pallubutung. Semua diawali dengan kata Pallu tapi bahan dasar dari ketiga jenis masakan tersebut beda-beda : pallumara – ikan, pallubasa – daging sapi + jeroan, pallubutung – pisang raja.

Alih-alih baperan, mending manfaatkan kesempatan untuk memperkenalkan “diri”. Misalnya saat memasuki dunia kerja di mana rekan kerja saya seruangan kebanyakan orang Jawa. Ledek-ledekannya tuh semacam, “Eh Jee, di Makassar ada TV gak sih?” atau “Di Sulawesi orang ke mana-mana ngendarain babi hutan gitu kali ya, Jee.” Woooiiiii -_-.

Mereka juga biasanya otomatis berbahasa Jawa kepada sesama orang Jawa padahal lagi meeting sama saya juga. Daripada ceramah panjang lebar mengenai “Satu nusa satu bangsa satu bahasa kita bahasa persatuan Bahasa Indonesia”, mending bersikap lentur saja.

Saya meminta diajarkan bahasa Jawa. Dulu teringat susah payahnya saya membedakan cara mengucapkan LORO (dua) vs LORO (sakit) dalam bahasa Jawa hahaha.

Lama-lama saya pun mulai becanda dengan bahasa Bugis kepada mereka.

Saking uniknya bahasa Bugis di telinga teman-teman kantor, kalau mereka lagi suntuk, saya disuruh ngobrol pakai Bahasa Bugis di depan orang-orang sebagai hiburan. Ya nasib, ya nasib hihihi. Tapi akhirnya mereka pun mau juga belajar bahasa Bugis. Biasanya pada semangat di kata makian. Saya ajarkan kata Ceba, yang artinya monyet.

Rasanya gimanaaaaa gitu, di ruangan divisi saya sering terdengar ucapan, “Aaaahh, dasar ceba lu!” Hahaha.

Kan jadinya masing-masing menambah perbendaharaan bahasa baru daripada nyinyir balik. Tahukah kalian menguasai makin banyak bahasa makin memperkecil resiko terkena penyakit Alzheimer, lho.

Tidak berarti yang mayoritas kita pasrahkan menjajah yang minoritas dong, ya. Kalau cuma bully-bully an dari teman-teman dekat yang jelas-jelas becandaan santai ya diterimakan saja. Lemesin aja shayyyyyy :D.

Lebih baik fleksibel saja. Namanya minoritas ya inginnya metode inklusi, saling menerima. Cuma praktik di lapangan ya seringnya kan masih mentok di “situ yang dikit situ yang adaptasi”.

Jangan digenggam terlalu kuat, mari dikendorkan segala perbedaan yang ada. Mudah-mudahan akan lebih banyak terasa yang indah-indahnya ketimbang naik pitamnya hehehe.

Manusia toh terbangun dan dibentuk oleh karakter bukan oleh identitas suku, agama, dan ras. Yang akan relevan selamanya ya budi baik kita kepada sesama tanpa memandang embel-embel identitas tadi, bukan?

Seperti kata pepatah Bugis, “Ininnawa mitu denre sisappa, sipudoko, sirampe teppaja” (Hanya kebaikan yang akan saling mencari, saling menjaga, dalam kenangan yang tiada putus-putusnya).

Ayok, jalan-jalan ke Kota Makassar!

Prosedur Karantina-Covid19 dari Luar Negeri di Masa Pandemi 2020

Sesuai dengan aturan terbaru, semua orang yang datang dari luar negeri SEBAIKNYA membawa hasil tes PCR negatif yang masih berlaku (kalau gak salah maksimal 7 hari setelah tes, cmiiw).

Versi vlognya di sini ya:).

Kalau bawa surat keterangan tes PCR negatif, tinggal tunjukkan ke petugas dan bisa langsung melanjutkan perjalanan.

Bagaimana KALAU ENGGAK BAWA?

Karena sayangnya, di banyak negara, tes PCR itu available bagi yang sakit saja. Kalau pun ada harganya sangat mahal.

Yup, it happened to my family hehehe.

Kalau kasusnya begini, maka kita harus melewati proses karantina sambil menjalani tes PCR. Setelah hasil PCR keluar dan negatif baru bisa melanjutkan perjalanan.

Prosedurnya kira-kira begini :

1. Perhatikan saat boarding, ada form yang harus diisi. Bentuknya bisa hardcopy, ada juga yang via aplikasi katanya.

Pengalaman saya, dikasih kertas dan harus diisi sebelum naik pesawat.

2. Tiba di Soetta, turun dari pesawat, semua penumpang harus melakukan registrasi sebelum melewati pintu imigrasi. Isi form lagi. Data-data yang diminta mirip-mirip sama form sebelumnya.

Setelah isi form nanti satu persatu dicek suhu + denyut nadi (atau apalah itu namanya, alatnya ditempelin ke jari tengah gitu-gitu deh).

Lalu menuju loket untuk melakukan rapid test. Pengambilan darah di jari dengan ditusuk pakai jarum kecil. Hasilnya cepet, kok. 5-10 menit, tergantung antrian.

Jangan khawatir, walau pun antrian mungkin panjang, sudah disediakan KURSI-KURSI yang sudah dijejer dengan jarak tertentu yang mengikuti aturan social distancing.

Jadi kalok lama pun enggak pegel berdiri lama-lama. Lebih tenang juga kan kalok bawa anak hehehe. Tiga pulak #eh hahahahaha.

3. Jika rapid test hasilnya negatif segera menuju loket imigrasi terus ambil barang. Menunggu bus untuk menuju tempat karantina.

4. Pilihan karantina ada 2 :

a. Wisma Atlet Pademangan / Kemayoran.

Di sini segala akomodasi gratis. Dapat makan 3x sehari dan snack 2x sehari, total 5x pembagian makanan tiap hari. Tempatnya bersih dan nyaman kok.

Makanan sih enak-enak loh. Beneran. Enak. Hehehe. Tapi porsinya memang tidak banyak. Tiap kamar maksimal 3 orang. Dilengkapi AC walau tidak ada TV dan tidak ada koneksi internet gratisan.

b. Hotel (yang ditunjuk khusus oleh pemerintah)

Kalau memilih hotel, harus bayar sendiri. Tapi makanan 3x sehari disediakan gratis. Makanan dan air mineral selama di hotel juga ditanggung pemerintah.

Makanya, sama kok itu makanannya di hotel dan di wisma hehehehe.

Bedanya, kalau tinggal di hotel TIDAK disediakan snack. Hanya makan 3x sehari. Sisanya ya go food :p. Boleh go food, selama di hotel maupun di wisma.

Kami sekeluarga milih hotel biar lebih nyaman aja karena berlima ini dan pengin sekamar semua.

Dan sungguh kutidak terbayang, gimana caranya menjinakkan tiga anak selama berhari-hari kalo gak ada tipi gak ada internet hahahaha.

Mayoritas masuknya ke Holiday Inn Kemayoran kayaknya. Rincian biaya per orang 700 ribu rupiah/malam/kamar. Setiap penambahan orang di kamar yang sama dikenakan tambahan biaya 75 ribu rupiah/orang/malam/kamar.

Kami berlima dapat satu kamar, kok. Kayaknya udah maksimal ini. Kalau berenam mungkin gak boleh.

5. Walau memilih karantina di hotel, dari bandara, semua penumpang diangkut dengan bus khusus menuju Wisma Atlit. Angkutannya juga gratis. Nanti dari wisma baru dibawa ke hotel.

6. Tiba di wisma, nurunin barang dan angkat barang masing-masing ke ruang tunggu di dalam. Antri + isi form lagiiiiiiiiiii #pijetkening.

Again, no worry. Selalu disedikan kursi yang sudah diatur berjarak.

Di sini dijelasin soal prosedur karantina dan tes PCR / swab. Biasanya tes PCR itu dimulai jam 8 pagi setiap hari. Karena kami waktu itu tiba di wisma sudah jam 10 pagi, maka tesnya ikut batch besok harinya.

Setelah registrasi (lagi) dan dicek satu-satu oleh petugas, bagi yang memilih karantina di wisma segera dibagikan kamar. Yang mau ke hotel, menunggu bus jemputan dari hotel.

7. Tiba di hotel? Registrasi lagiiiiiii. Gusti Allah hahahaha. Data yang diminta itu-itu juga.

Jiwa IT ku langsung memberontak. Ini gimanaaaa gak dikomputerisasi aja biar cuma ngisi sekali.

Namun bisa dipahami. Prosedurnya memang mendadak dan dinamis jadi mungkin sulit di-automasi. Butuh proses yang cepat. Birokrasi kita agak repot. Nanti kalau penunjukan langsung untuk proyek ini, netijen pada ngamuk lagi nuduh macam-macam.

Kalo kudu tender lagi ya mana sempet. Jadi sabar aja ngisi segabruk form hehehehe.

8. Selama karantina, resmi jadi ODP (orang dalam pengawasan). Gak boleh keluar-keluar kamar. Jadi segala-gala dianterin ke kamar. Go food pun tinggal mencet, tau-tau udah nongol pesanan depan pintu kamar.

Boleh kabur? Boleeeeeh, kalau bisa melewati para tentara yang berjaga di pintu hotel hahahaha :p. Selain nakes, petugas juga ada yang dari TNI. Tapi ramah-ramah semua kok.

Paling galak dikit kalau ada yang enggak mau antri atau disuruh duduk malah berdiri rame-rame gitu-gitulah.

9. Besoknya tes PCR. Tes PCR gratis buat semua peserta (baik yang menginap di wisma maupun hotel).

For info, tes PCR di negara-negara Eropa umumnya berkisar 200-250 euro. Di UK, 200 pounds. Di Irlandia malah tidak boleh tes PCR sama sekali kalau enggak sakit walau bersedia membayar.

Kalau peserta tes di hari itu melebihi 50 orang di hotel yang sama, maka tes langsung dilakukan di hotel. Tapi kalau jumlah peserta lebih sedikit, diangkut lagi ke wisma pakai bus.

Sudah ada petugas yang mengatur semua. Kita tinggal tunggu instruksi.

10. Di wisma, tes PCR digabung dengan peserta yang karantina di wisma. Tapi antriannya dipisah. Jadi kalau peserta dari hotel diprioritaskan jadi cepet aja prosesnya.

Kira-kira waktu itu, peserta hotel sekitar 36 orang, dari wisma bisa ratusan (malah lebih dari 1000 apa ya).

11. Swab test sakit gak? Jujur ya, sakiiiiitttt huhuhu. Tapi prosesnya sebentar banget kok. Anak saya yang kedua menangis parah hahaha. Anak bungsu masih di bawah 5 tahun jadi tidak perlu swab, hanya mengulang rapid test saja.

12. Setelah swab test balik ke hotel lagi. Kembali menjalani karantina sampai hasil tes keluar.

Umumnya hasil tes diterima 2-5 hari. Teman saya ada yang cuma 2 hari. Ada juga yang 3-4 hari.

13. Hasil tes negatif akan diberikan semacam clearance letter untuk ditunjukkan saat check out dan ke petugas di pintu hotel. Kalau hasil tes positif katanya akan dijemput dan dibawa ke wisma untuk karantina khusus, cmiiw.

Apresiasi luar biasa buat pemerintah (baik pemerintah pusat dan pemerintah provinsi dan semuanya pokoknya) yang menyediakan fasilitas gratis dan nyaman untuk para ODP dari luar negeri.

Sudah banyak yang share kok pengalaman karantina di wisma Atlit. Makin ke sini prosesnya makin membaik (y). Secara umum prosesnya juga udah teratur banget. Seneng, deh. Antri nyaman karena duduk terus.

Pokoknya kalau karantina di wisma, enggak keluar biaya sepeser pun, kecuali buat go food atau beli pulsa internet hehehe. Di Singapura bayar dewe-dewe loh :p.

Penghargaan sebesar-besarnya buat para petugas yang memberi arahan, tentara yang berjaga, nakes yang sepanjang tugas pakai APD lengkap berjam-jam.

Yang jutek ya mungkin karena capek. Lumayan kan ngurusin ribuan orang tiap hari apalagi penerbangan udah hampir buka semua. Lebih kurangnya bisa ditolerir.

Demikian kira-kira prosesnya ya teman-teman. Semoga membantu. Buat teman-teman sesama repatriasi, selamat datang kembali di tanah air 🥰🙏💪.

Mengapa NADIEM MAKARIM? (Kontroversi Kabinet Kerja II)

Diantara hosip-hosip kabinet, nama Nadiem yang cukup tajam sorotannya. Usia paling belia dan latar belakangnya yang cukup ‘eksentrik’ untuk dunia pendidikan di tanah air.

Kalau buat mereka (eh, termasuk saya sih hehehe) yang bukan bagian dari ‘kalangan pendidik formal’, kayaknya excited dengan terpilihnya Nadiem Makarim di pos Pendidikan.

Tapi justru kritik banyak datang dari ya itu tadi … ‘kalangan pendidik formal’. Jangan dikit-dikit dianggap nyinyir dan baper lah. Justru kita harus cermati dentuman-dentuman yang datang langsung dari mereka yang berjibaku sebagai salah satu ‘jantung pendidikan’ di tanah air.

Kemarin ngobrol sedikit dengan teman yang sudah lamaaaa menjadi dosen di sebuah kampus ternama di tanah air. Yang bersangkutan juga level pendidikannya sampai S3. Buat saya pribadi, pendapatnya lumayan obyektif lah (y).

Level S3 ini agak beda dengan S1 dan S2, karena mereka benar-benar bergantung pada riset dan penelitian dst dst.

Sebenarnya kegelisahan kita sebagai orang tua di Indonesia (eh kalian deng, gue pan di Ireland hahahaha :p) adalah kurikulum milenial sekolah dasar yang kita anggap terlalu berat dan gak pernah konsisten :(.

Tapi mungkin kita lupa PENDIDIKAN TINGGI (S1, S2, dan S3) juga di bawah Kemendikbud. Tadinya sempat dipindahkan ke Ristek ya kalau gak salah, tapi tahun ini dibalikin lagi.

Nah, di sini mungkin bentroknya.

Sudah sekian lama saya terganggu sekali dengan lontaran macam, “Halah, ngapaian sekolah tinggi-tinggi. Noh, lihat si Chanel. Cuma lulus SMA, uangnya banyaaaaak. Lah si Fossil katanya professor, gajinya kecil.”

Makin ke sini kayaknya KESUKSESAN terlalu erat definisinya dengan PUNYA UANG BANYAK. Kalau bisa di usia semuda mungkin sudah tajir (kayak Kak Nadiem? #eh).

Saya rasa sudah sekian lama pun mereka yang berkarier di dunia akademis berusaha mengembalikan harkat dan martabat si ILMU ini. Berusaha mendidik masyarakat kalau ILMU pun adalah harta tak ternilai. Jangan sikit-sikit duit lah.

Hal itu yang membuat kita stres sendiri. Akhirnya lomba-lomba mengejar anak biar masuk jurusan yang kelak bisa menjadi sarang duit. IT misalnya yang terkini.

Boro-boro pengin anak bisa riset dan punya basis meneliti yang bagus. Pasti pada doain anaknya bisa cepat kerja di Google atau di Facebook hahahaha :p.

Mungkin hal ini yang diperjuangkan oleh sebagian tenaga pendidik di tanah air. Dan mereka merasa ‘dikhianati’ dengan munculnya sosok Nadiem Makarim yang justru MEWAKILI generasi milenial yang cita-citanya kok kayaknya melulu mengukur kesuksesan dengan harta (berupa uang dan semacamnya).

Kok malah bertolak belakang dengan semangat mencetak sarjana-sarjana perguruan tinggi yang mampu fokus dengan bidang ilmu dan mempergunakan pengetahuan untuk mengabdi ke masyarakat tidak hanya berdasarkan hasrat haus gaji gede aja gitu.

Nadiem Makarim memang cocok untuk industri ekonomi kreatif. Tapi kita harus jujur lah, dunia penelitian ini memang agak-agak jauh hawa-hawanya dari yang ‘hedon-hedon’ begini-beginian. Kukasih tanda kutip biar gak salah paham.

Peneliti itu basisnya idealisme yang seringkali memang harus rela dibayar seadanya. The ugly truth we must accept. Begitulah dunia ini adanya hehehe. Di negara-negara maju pun problemnya sama kok ;).

Nah kira-kira begitu kegelisahan teman-teman dari tenaga pendidik (utamanya di perguruan tinggi) terhadap penunjukan sosok Nadiem ini.

Khawatirnya sosok Nadiem malah makin menyuburkan salah kaprah soal definisi ‘KESUKSESAN’ ini, terutama di bidang PENDIDIKAN.

Tidakkah kita lelah dengan dunia yang makin ke sini menuntut generasi terkini untuk cepat-cepat cari uang yang banyak hahaha.

Sudah saatnya kita sama-sama sadar tentang pentingnya ILMU yang pernah saya tulis dulu merupakan harta yang paling tidak menyusahkan, paling mudah di bawa ke mana-mana. ILMU itu spesial, makin banyak kita beri eh makin banyak yang kita terima ^_^.

Jangan semua-mua diukur pakek receh ama uang kertas gitu hehehe ;).

I got the point (y). Paham banget insya Allah. Tapi bukan berarti setuju hehehe.

Saya mah tetap percaya, who can tell where the road goes, only time … seperti lirik lagunya Enya :).

Coba berilah kesempatan dulu buat Nadiem Makarim. Kita tunggu gebrakan-gebrakan beliau. Diawasi terus (y).

Semoga kritikan-kritikan yang masuk bisa menjadi pertimbangan beliau dan tim di Kemendikbud.

Kalau nanti gak perform kan tinggal diganti, dulu udah pernah kan? Hehehhehe :p.

Tapi buat teman-teman lain ya jangan diolok-olok lah kritikan dari kalangan pengajar dan pendidik ini hehehe. Dianggap old school lah, dinosaurus yang gak peka perubahan zaman lah, dst dst dst.

Santai ajaaaaaaaaaaaa :D.

Coba yuk, kita lihat dari sudut pandang mereka. Sebagian sudah saya tulis di atas :).

“Real education should consist of drawing the goodness and the best out of our own students. What better books can there be than the book of humanity.“
Cesar Chavez

Think about it 🙏.

belajar logat makassar

OKKOTS

Ada yang nanya-nanya logat Makassar terkait postingan yang ini. Terus terang memang agak sulit menerangkan fungsi dan cara penggunaan klitik dalam bahasa Indonesia khas Sulsel : ki – ka – mi – pi – to – na – di’ – ji – gang – tong dst dst dst.

Yang khas lainnya tentang logat Makassar adalah penambahan “ng” pada kata-kata yang berakhiran konsonan N atau M, misalnya ikan jadi ikang, malam jadi malang hihihihi.

Di kami itu istilahnya OKKOTS hahahaha.

Nah, kalau okkots itu rasanya tengsin dan malu gitu loh. Sering jadi olok-olokan sesama teman.

Makanya malah sering jadi bumerang. Saking takutnya okkots, kadang maksudnya mau ngucapin BANK malah jadi BAN hahahaha. Ya ini jadinya OKKOTS jugak *tutupMuka*.

Inget dulu ada teman yang nanya ke saya, “Jihan, apa artinya bentan alam?”

“Ha? Bentan?”
“Iyo, bentan alam.”
“BENTANG ALAM, ceeessss” 😂😂😂😂.

belajar logat makassar

“Ces” itu sapaan buat teman sebaya yang akrab kalau dalam bahasa sehari-hari di Kota Makassar. “Ces” juga bisa berarti high-five 🙌😁.

Kata “iyo” artinya IYA. Tapi itu penggunaannya relatif “kasar”. Hanya boleh pakai kata “iyo” ke teman sebaya, itu pun yang udah dekat, ya.

Nah ini jadi masalah saat menikah dengan suami yang orang Minang. Dalam bahasa Minang, IYO juga berarti IYA tapi penggunaannya dianggap biasa. Jadi suami suka bilang IYO ke orang tuanya. Ya gue kaget lah hahahahahaha.

Itu kalau di keluarga Bugis kami, bilang IYO ke orang tua bisa digampar, Cuy! 😂😂😂😂

Kata IYA yang sopan dalam adat Sulawesi Selatan adalah Iye’ (pakai cengkok ya belakangnya, kalau cuma IYE nanti jadi kayak IYA dalam bahasa Betawi) hihihihi.

Salah satu cerita lucu soal logat Makassar IYO vs IYE’ ini adalah terbongkarnya kisah cinta salah satu teman pas sekolah dulu hihihihi. Mereka berdua diam-diam jadian. Ketahuan sama saya gara-gara pas si cowok nanya apa gitu ke si cewek, si cewek jawabnya “Iye’, ada ji”. Udendeeee 😅😅😅😂.

Tentu kulangsung curiga ada apa neh bilang iye’-iye’ ke temen sebaya sendiri. Nah ituuuuu, biasanya kalo ada yang jadian/pacaran, ngomongnya pakek iye’-iye’ 😅😅😅.

Saya sendiri sampai sekarang kalau ngobrol sama kakak kelas yang dulu ditaksir habis-habisan juga pakek iye’-iye’ #ehGimana 😂😂😂. Padahal jadian juga kagak pernah hahahahahha.

Secara umum yang banyak “diserap” dalam bahasa Indonesia logat Makassar sehari-hari di Kota Makassar adalah bahasa Makassar. Makanya wajar, walaupun bukan suku Makassar, saya terbiasa dengan beberapa kata dalam bahasa Makassar.

Misalnya kata SALLO (artinya LAMA/LELET). “Edede, sallomu, cepa-cepa saiko.” (Aduh, lelet amat lu. Cepetan napa?)

SALLO itu bahasa Makassar hehehe.

Ah ya, itu ada yang komen. Saya tambahin soal kata KITA. Dalam bahasa Indonesia, KITA itu berarti aku dan kamu atau aku dan kalian.

Naaaah, dalam bahasa Indonesia aksen Makassar, KITA itu berarti KAMU (level penggunaan sangat sopan, mungkin selevel dengan kata ANDA). Jadi hanya untuk yang kita hormati saja atau kepada orang yang baru kenal.

Jadi kalau ada orang baru kenal negur, “Kita mau ke mana?” Itu maksudnya “ANDA mau ke mana?” Jangan geer atau tersinggung hahahahahaha.

Jadi inget ya, di Kota Makassar, sehari-hari kami tidak berbahasa daerah. Bahasa Makassar dan Bahasa Bugis itu beda lagi. Banyaaaaaakkk teman saya yang ortunya orang Makassar dan Bugis tapi mereka tidak terlalu paham bahasa daerah masing-masing hehehe.

Saya bisa bahasa Bugis karena Mama dan almarhum Bapak kalau ngobrol seringnya pakai bahasa Bugis. Tapi sebagian saudara kandung saya enggak terlalu bisa bahasa Bugis.

Kakak-kakak saya karena sering main di luar rumah di mana lingkungan perumahan kami itu mayoritas suku Makassar, jadi mereka semua lancar bahasa Makassar. Lebih lancar daripada bahasa Bugis :D.

Kebalikan sama saya. Anak rumahan, gak suka beredar hihihi. Jadi bahasa Makassar ngertinya dikiiiiiiit :D.

Di sekolah ya pakai bahasa Indonesia (tapi dengan logat Makassar) laaaaah ^_^.

Dulu pernah punya guru kimia kelas 2 SMA yang bener-bener gak bisa bilang N, selalu terucap Ng. Makanya jadi lucu kalau beliau menerangkan tentang rumus-rumus kimia yang melibatkan nama-nama unsur kimia. Na (Natrium) jadi Ng-a 🤣🤣🤣.

Susah menahan tawa kalau beliau mengajar. Untung beliau gak mutungan. Walau saya ketawanya paling keras, beliau tetep fair kalau ngasih nilai. Tetap semangat Pak (hihihi), walau rajanya Okkots, jasamu tiada tara ☺️🙏.

Salah satu joke yang bikin terpingkal-pingkal di rumah dulu yang sering diucapkan oleh salah satu kakak saya :

“PERGI BEREMPAT, PULANG BERENANG” 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣.

Satu lagi dari kolom komentar, “MAKAN NDAK MAKAN, YANG PENTING SENAM” 🤣🤣🤣🤣

Did you get it? 😂😅