The Old Mill Little Rock AR : Wandering Arkansas (Day 3), Musim Semi 2017

Jalan-jalan ke The Old Mill Little Rock AR ini adalah lanjutan dari tulisan tentang road trip di US …. tiga tahun lalu! Hahahaha.

Ya iyakan, makanya perlu dikasih keterangan tambahan “musim semi” tahun 2017 :p.

Tulisan tentang “Wandering Arkansas Day 1” nya ada di sini. Waktu itu fokus utama hiking seharian di Lake Catherine dan ini dia vlognya hehehehe :

Wandering Arkansas Day 2 boleh klik yang ini :D. Yang ini lom bikin vlognya. Kalau sudah ada tentunya langsung update link ke sini jugak ;). read more

“Ujian Nasional” ala Kurikulum Amerika Serikat?

Kurasa sih, kalau kiblat kita adalah negara-negara yang menganut sistem “welfare state” (kesejahteraan bersama) seperti sebagian besar Eropa Barat, Kanada, dan Australia, ya pasti urut dada, deh, hihihihi.

Sekadar penyeimbang, dengan sistem pendidikan yang nampak semanis madu begitu, tolong diingat ada PAJAK YANG CUKUP DAHSYAT yang harus dibayar oleh kalangan profesionalnya¬†ūüôąūüôą.

Karena kami datang dari Arab Saudi yang gaji gross persis gaji nett, kaget banget terima slip gaji pertama di Irlandia. read more

People We Haven’t Met Yet (12)

“The Oscars are not so white this year” … Begitu kira-kira ungkapan yang menandai usainya “The Oscars 2018 : 90th Academy Awards”,¬† perhelatan akbar tahunan bagi para sineas dunia yang sudah berbulan-bulan lalu tapi baru dibahas sekarang hahaha.

Beberapa nama-nama latin mencuat sebagai pemenang, termasuk sutradara terbaik Guillermo del Toro sepaket dengan film terbaik garapannya, “The Shape of Water”. Not my kind of movie sih, zonk aja gitu pas nonton huhuhu.

Guillermo del Toro (gambar : youtube.com)

 

Lagu terbaik dimenangkan oleh film COCO, yaaaayyyyyy *tepukTangan*. Walau tidak sedikit penggemar The Greatest Showman, di mana film ini juga masuk nominasi yang sama melalui OST bertajuk “This is Me”, mengamuk via komentar-komentar di Youtube :p.

Di film COCO, pasti sudah terasa sekali ya pesan eksplisit dari film ini mengenai budaya orang Latin.

‚ÄúMarginalized people deserve to feel like they belong. Representation matters,‚Ä̬† kata sutradara film Coco, Lee Unkrich, di akhir pidatonya saat menerima piala kemenangan untuk kategori “Best Animated Feature.”

Tekanan terberat pasca masa kampanye dan kemenangan Trump di Amerika Serikat, dikatakan oleh banyak pihak, dialami oleh The Latinos ini. Para imigran latin yang membanjiri Amerika Serikat yang datang dari berbagai wilayah di Amerika Tengah dan Selatan. Negara Meksiko penyumbang terbesar, mengingat negara ini berbatasan darat langsung dengan wilayah Paman Sam.

Apalagi di negara-negara bagian wilayah-wilayah selatan seperti Texas dan New Mexico. Pengalaman pribadi saya setahun di Texas tempo hari, sangat mudah berpapasan dengan orang Latin di mana-mana ^_^.

Sementara di Florida, sebagian orang-orang latin yang ada di sana berasal dari negara Kuba yang secara lokasi memang cukup dekat dengan Florida walau terpisah oleh perairan Selat Florida.

Titip vlog pas main ke Bayside Market Miami Beach yak, maaf gak nyambung hahaha.

Adapun isu-isu kebencian terhadap kaum muslim dalam kehidupan sehari-hari tidak terlalu terasa, kok. Mungkin karena komunitasnya masih jauh lebih kecil dibanding pendatang dari negara-negara latin. Overall lebih ramai di media daripada kenyataan sehari-harinya. Apalagi media Indonesia hahaha :p.  Terlebih lagi di level medsos zzzzz -_-.

TAPI TEKANAN TERHADAP MUSLIM MEMANG ADA lho ya. Hanya intensitasnya BELUM selebay seliweran info dll. Mudah-mudahan jangan sampai meningkat.

Nah, kalau The Latinos ini isunya memang sudah ke mana-mana. Termasuk kekhawatiran terhadap berbagai lapangan kerja yang dibanjiri oleh mereka. Bahkan tidak sedikit pernyataan-pernyataan nyinyir dari pemerintahan baru yang bikin kuping pedas terkait kalangan Latin ini.

Silakan deh ya di-googling sendiri urusan politik dan ekonomi terkait ketegangan dengan orang-orang Latin di USA pasca Pilpres 2016 kemarin. Di tulisan ini kita ngobrol santai saja :D.

Ada beberapa komentar senada di wall Facebook saya waktu saya share sebuah scene dalam film Coco. Katanya, kok mirip banget beberapa kebiasaan orang-orang di beberapa wilayah di Indonesia. Misalnya bawa-bawa bunga ke pemakaman.

Bukan hanya fisik dan bahasa yang membuat orang Latin terlihat sangat berbeda dengan ras Kaukasian yang disebut-sebut “pemilik US”, padahal mah sama-sama pendatang sih ya hihihihi –> cobak sungkem dulu sama orang Indian sana.

Secara umum kehidupan sosial para Latinos ini memang lebih “dekat” dengan orang-orang Asia ketimbang orang-orang berkulit putih/ras Kaukasian yang sebagian besar akarnya berasal dari Eropa Barat. Yang paling nyata hobi ngumpul-ngumpul mereka, persis kek kita, yes? Makin ramai makin seruuuuuuuu ^_^.

Gambar : forbes.com

 

Pernah sebelahan dengan keluarga Latin waktu jalan-jalan ke Fort Worth Zoo di area water park. Anak kecilnya cuma 2 tapi mereka datang bergerombol. Saya sudah tidak tahu yang mana orang tua dari kedua anak tadi karena ada 2-3 pasang suami istri yang mengiringi. Ada kakek neneknya juga. Tidak ketinggalan 2-3 orang abege tanggung. Ruameeeeeeee hehehe.

Belum lagi pas mengobrol. Rebut-rebutan pengin ngomong. Sayang nih, belajar bahasa Spanyol nya masih level unyu-unyu, kalau dengar mereka ngomong secepat itu, saya mengertinya paling cuma 20% :p.

Secara fisik, bodi cewek-cewek latin itu bikin ngiri deh. Lekukannya benar-benar mantap. Dengan kulit coklat eksotis dan rambut yang rata-rata ikal atau keriting, mantap sensualnya hehehe.

 

Salah satu tetangga di apartemen saya dulu adalah seorang emak-emak asal Ekuador. Woowww, bodinya cihuy abis dengan usia sudah mencapai 43 tahun dan nomor jinsnya sama dengan saya! Nah ini juga asyiknya sama The  Latinos, kalau ngobrol tuh bener-bener Indonesia bangeeettt. Bebas nanya-nanya umur sampai nomor celana! Hahahaha. Percakapan standar ala mereka juga ;).

Secara kasat mata, The Latinos banyak mengisi pekerjaan level informal. Tapi entah nih statistik benerannya gimana. Kalau ke toko-toko, lazim banget penjaganya ya mereka-mereka dkk. Bisa jadi karena ini di Texas, yak. Yang memang pintu gerbang orang-orang Meksiko untuk menembus Amerika Serikat.

Maraknya The Latinos juga sangat menolong lidah Asia kita karena mereka juga makan nasi hihihi. Kalau India dan sekitar rata-rata dominasi menunya kan Biryani dan berbagai nasi berbumbu lainnya. Sementara orang Mexico terbiasa makan nasi putih kayak kita.

Menu-menunya juga kaya bumbu mirip masakan oriental khas Asia pada umumnya. Enggak kayak Eropa yang kontinental, rata-rata ngirit bumbu menuju tawar >_<. Saya suka berbagai varian menu Ayam Alpukatnya ^_^. Taco-taco an juga doyan. Banyak yang jual taco murce di supermarket. Tinggal kita mainkan saja isiannya, yes? ;).

Wilayah latin juga cenderung tergolong wilayah tropis. Sama kayak Indonesia. Jadi hasil alam berupa buah-buahannya banyak yang mirip dengan kita. Kalau di Irlandia, nangis darah nyari mangga (huhuhu), di Texas mah banyaaaaaakkkk. Aneka rupa pisang membanjiri supermarket. Bukan cuma Cavendish tok. Ada sejenis pisang kepok dan pisang raja jugak, entahlah apa namanya di mereka.

Harga-harganya juga relatif murah, mungkin karena impor dari tetangga sebelah langsung :D. Aneka rupa beras juga banyak. Bagus-bagus dengan harga cukup murah. Impor dari Mexico juga mungkin, ya. Tapi di Texas juga tergolong lumayan tropis. Karena banyak pendatang Mexico, bisa jadi pertanian ala Mexico juga sudah banyak di Texas jadi tidak perlu impor. Hidup The Latinos! *elusPerut*.

Enaknyooooo tinggal di Texas hehehe. Pak Bos, assignment lagi duuunnkkk, tapi di Texas yaaaa, gak mao negara bagian yang lain hahahaha :p.

Mereka juga cenderung punya anggota keluarga yang banyak hihihi. Kalau lagi belanja, sering tuh ketemu keluarga Latin yang anaknya bisa 4 atau 5 hahaha. Kehidupan mereka lebih guyub jadi wajar kalau senang punya segabruk anggota keluarga.

Miguel and Family (COCO) Gambar : disney.wikia.com

Sebenarnya pendatang di Texas sudah terasa pembaurannya antar satu sama lain. Di negara-negara bagian lain pun mungkin sama. Mengapa ya, kalau ada kegelisahan ekonomi begini-begini, kita cenderung saling menyalahkan bukannya bekerja sama? The Latinos mungkin sudah sangat banyak yang beranak pinak di berbagai wilayah Amerika Serikat.

Toh Amerika Serikat punya jargon, “Land of freedom”. Negeri Jantung Dunia itu juga dibangun dengan jerih payah banyak pendatang. Yang dari Eropa kan juga itungannya pendatang, yes? Kenapa sekarang berasa Amerika Serikat hanya milik “kaum kulit putih”?

Sebal juga dengan politikus yang kok ya tega-teganya memainkan isu-isu seperti ini untuk meraih kekuasaan? >_<

Padahal sangat wajar jika orang-orang Latin membaur ke wilayah Amerika Serikat. Dan itu sudah berlangsung lamaaaaaaa, di Texas sendiri bahasa Spanyol sudah seperti bahasa ke-2. Kalau ke supermarket, petunjuk nama makanan dll disediakan dalam 2 bahasa : Inggris dan Spanyol.

Petunjuk bahasa Spanyol di Walmart Texas, gambar : alamy.com

 

Jangan bosan-bosan ya untuk berdoa semoga dilembutkan hati para pemimpin-pemimpin dunia untuk MENJAUH dari isu-isu perpecahan seperti ini hanya demi meraih kekuasaan. Ya, ya, ya, pasti pada skeptis, “Alah, namanya juga politik. Politik itu kotor.” Yadda-yadda-yadda.

Terus saya jadi ingat lirik lagu yang satu ini, “We Shall Overcome” :

We shall overcome
We shall overcome
We shall overcome, some day

Btw, inilah yang membuat film COCO terasa sangat istimewa. Bagaimana para sineas berusaha mengangkat kebudayaan Latin di tengah gencarnya isu-isu rasial terkait mereka dengan cara halus dan memikat. Alur cerita yang tidak cengeng dan tidak membahas isu panas. Hanya kisah keluarga sederhana yang cukup jelas menggambarkan budaya orang-orang Latin secara umum <3.

Representation does matter. Namun, kita bisa menunjukkan eksistensi dengan cara-cara yang lebih terpuji, bukan dengan menyerang balik dengan cemohan atau tindakan negatif lainnya. Bravo COCO dan segenap tim terkait (y).

Colorado Amerika Serikat : Jalan-jalan ke The Rocky Mountain National Park

Selamat datang di negara bagian Colorado, The Centennial State . Selama setahun di Texas tahun lalu, tempat ini salah satu cita-cita suami saya buat dikunjungi setelah Grand Canyon. Bolak balik merengek minta ke Rocky Mountain.

Sementara saya kan bawaannya pucat mulu ya kalau diajak ke tempat-tempat kayak gini hahaha.

The Rocky Mountain National Park dari Denver (ibukota Colorado) bisa ditempuh dengan 1.5 jam menyetir mobil.

Mau langsung lihat vlognya ajah? Boleeeeeeeh, sila diklik linknya :

If you don’t mind, please do subscribe ya ke channel youtube saya <3.

RMNP ini bukan satu-satunya national park yang sebaiknya dikunjungi saat berada di Colorado. Bentang alamnya yang spesial karena dikepung oleh barisan pegunungan di sisi barat wilayahnya, Colorado punya banyak tempat wisata yang pemandangan alamnya memang membuat kita kepengin takbir melulu.

Yang cukup terkenal sebenarnya Mesa Verde National Park. Tapi kita emang ngincernya yang femes secara mulut ke mulut saja hihihihi. Males mikir, males browsing hahaha.

Dari California, Colorado berjarak kira-kira 17 jam menyetir mobil non stop. Dari New York, jauuuhhh, bisa 28 jam menyetir tanpa transit. Sedangkan dari Florida lebih phewww lagi, 29 jam! Hehehe.

California, NY, Florida kan favorite statesnya turis-turis dari Indonesia, ya. Ketiga negara bagian ini letaknya di deket-deket laut semua. Satu di East Coast, satunya lagi di West Coast, sementara Florida di ujung tenggara .

Colorado ini letaknya di tengah-tengah. Kalau dari Texas-Dallas mah deket itugannya. Walau kemarin juga suami saya kudu nyetir 11 jam untuk tiba di Colorado. Eike mah bagian ngoroknya aja hahaha.

Btw, back to RMNP tadi, bukannya saya tidak suka tempat wisata outdoor, toh waktu di Swiss akyu termehek-mehek dan masih baper kalau lihat foto-foto waktu lagi tinggal di sana, especially area Interlaken .

Walau sama-sama perbukitan dan pemandangan alam seputar dataran tinggi, Swiss vs Colorado ya jelas beda bangeeeeetttt .

Swiss cucok buat halan-halan cantik, sementara Colorado lebih pas buat yang adventurous, yes? Which is definitely NOT me  #pupurBedak.

Waktu di Grand Canyon juga suka lemes lututnya apalagi kalau ada turis nekat yang foto di atas batu-batu curam yang sebenarnya tidak boleh dimasuki sembarang orang. Suami saya juga pengin, tapi saya takut motoinnyaaaaa *mintaAmpun* .
Baca juga :
Jalan-jalan ke Grand Canyon
The American Road Trip
Wandering Arkansas
 

Tapi RMNP ini enggak tergolong seram secara umum. Kalau saya kan kategorinya penakut jadi ya sudahlah yaaaa hahahaha.

Mengitari RMNP bisa dengan hiking atau naik mobil. Satu kendaraan pribadi cukup membayar 20 dolar saja, berapa pun isi penumpangnya. Kalau bus kurang nyimak deh kemarin.

Tempatnya seluas kira-kira 1000 km persegi. Ada beberapa jalur yang ditawarkan buat pengunjung yang berkendara. Hampir semua jalur punya scenic view yang super mantap. Bagus bangeeeetttt ?.

Susah deskripsinya, lihat saja ya di vlognya kalau mau ;).

Di 2 menit pertama video khusus saya pilihkan potongan-potongan pemandangan yang kece-kece menurut saya¬†. Itu juga sebenarnya banyak yang di”buang” karena belum jago memanfaatkan durasi hehehe.

Enggak serem kooook . Di tempat wisata dunia selevel Rocky Mountain, urusan safety sudah tergolong mantap .

Buat anak-anak juga asyik dan seru. Apalagi di bagian atas-atas sudah berlumur salju. Makin semangat deh anak-anak .

Walau masih bulan September, karena letaknya di dataran tinggi, sekitar 80% area puncak di pegunungan Rocky Mountain sudah memutih. Tapi cuacanya tidak terlalu dingin. Itu saya cuma pakai jaket tipis saja. Eh, tapi ini untuk ukuran orang Indoensia yang sudah tahunan menetap di Eropa ya .

Kami pikir masih lumayan stabil cuaca, jadi saya enggak pakai sepatu hahaha. Panik pas ndlosor di salju. Norak kauuuuu .

Sambil nyetir boleh mampir-mampir di beberapa tempat yang memang sudah rutin menjadi incaran para turis. Sudah dilengkapi dengan tempat parkir yang nyaman dan aman .

Kami hanya mencoba satu jalur saja. Memang tidak terlalu ambisius mau lihat ini itu. Muter santai saja. Kami tiba di RMNP sekitar pukul 10.30 siang. Pas turun dari atas sekitar jam 5 sore. Lumayan lah.

Muter-muter, mampir sana sini, makan siang di mobil, foto-foto, dst dst.

Pas pulang, muaceeeetttt gilak. Jadi itinerary agak berantakan. Delay dari rencana awal sekitar 3 jam. Tapi ya sudahlah bobok di mobil ajah .

Duh, kangen sama US yak . Road trip bisa sampai belasan jam di jalan. Kadang juga nanggung, suami ngotot nyetir sampai tengah malam. Karena pas mau berhenti kok ya di kota-kota yang penginapannya mahal hahaha.
Baca juga :
The Texas Weekender
NASA Space Center Houston-Texas
Old Town Plaza Albuquerque New Mexico
 

Kapan-kapan mau review budget-hotel di USA ah. Kite fleksibel aja yak. Nginep di Hilton oke (pas dibayarin kantor maksudnya hahaha), bermalam di hotel-hotel murce juga seneng . Jangan salah, budget-hotel di USA itu bagus-bagus. Sama Eropa memang agak beda.

Di Yurop tah etah, bintang 3 di Indonesia masih lebih bagus daripada bintang 4 di Eropa. Kalau di US, Hilton bintang 2 nya saja cakep gilak . Tapi banyak yang lebih murah lagi, bersih dan nyaman pulak . Enggak perlu gengsian, mobil-mobil mahal juga banyak yang parkir di hostel-hostel murmer kok .

Ih, kangeeeeen . Until we meet again, USA ???

Bunga indah bunga bluebonnet di Texas amerika Serikat

Legenda Bluebonnet, Bunga Indah dari “Negeri Koboi”

Bunga indah dari The Lone Star State ini bisa tumbuh di liar di banyak kawasan di negara bagian Texas. Berwarna biru keunguan, Bluebonnet merupakan salah satu ciri khas negara bagian Texas.
Baca juga :
Lebaran di Texas Amerika Serikat 2017
Komunitas Muslim di Texas Amerika Serikat
The Texas Weekender
 

Bunga Indah bluebonnet yang tumbuh liar di negara bagian Texas
The Blue Bonnet, State Flower of Texas, USA

 

Konon, dalam salah satu kisah penduduk asli Amerika, suku Indian, wilayah Texas di suatu masa pernah dilanda kekeringan panjang. Menyebabkan kelaparan dan kematian.

Penduduk setempat pun memohon petunjuk kepada sang dewa, The Great Spirit. The Great Spirit akhirnya memberi jawaban.

Selama ini penduduk dianggap abai terhadap alam dan lingkungan. Mereka terus menerus mengeksploitasi alam untuk kepentingan mereka sendiri. Tidak pernah memikirkan kepentingan selain untuk diri manusia sendiri.

Penduduk pun diminta untuk melepaskan harta terpenting mereka sebagai bentuk pengorbanan. Karena selama ini alam lah yang terus menerus berkorban. Manusia sangat serakah. Hanya mengambil tiada memberi.

Bunga indah bunga bluebonnet di Texas amerika Serikat
Foto bareng ibu-ibu piknik musim semi ke Ennis, Texas (April 2017)

 

Para penduduk sibuk memikirkan dan berdiskusi siapa yang harus mengorbankan apa. Tak ada titik temu. Masing-masing merasa enggan untuk memberikan kepunyaannya secara sukarela.

Seorang gadis kecil yatim piatu yang sebatang kara termenung sendiri memikirkan petuah tersebut. Orang tuanya sudah meninggal karena kelaparan. Dia tidak punya saudara lain, tidak ada siapa-siapa lagi. Sebuah boneka berbulu biru di kepalanya, satu-satunya harta terpenting buat si gadis kecil.

Di suatu malam, si gadis membakar boneka tersebut dan menebarkan abunya ke 4 penjuru mata angin, Timur-Barat-Selatan dan Utara. Sebagai tanda permohonan agar alam mau mengampuni kesalahan para penduduk dan berkenan mengakhiri penderitaan mereka.

Keesokannya, lembah-lembah dipenuhi bunga bunga indah berwarna biru sebagai tanda diterimanya persembahan boneka berbulu biru sang gadis kecil. Hujan pun turun menyudahi kemarau panjang.

Itulah legenda Bluebonnet, bunga-bunga liar berwarna biru keunguan, akan bermunculan di padang-padang rumput saat musim semi menghampiri wilayah Texas.

Sejak tahun 1901, Bluebonnet resmi dijadikan The State Flower of Texas .

Tentu saja, saat musim semi datang kembali di tahun ini, Bluebonnet bermekaran di mana-mana di seantero wilayah Texas. Pastinya, wajib banget dong ya foto-foto keluarga di tengah-tengah bunga-bunga biru ini sebagai tanda eksis pernah mampir di Texas hahahaha .

Ini kisah jalan-jalan tahun lalu saat kami setahun numpang lewat di negara bagian Texas, USA. Numpang lewatnya lama juga dan sangat-sangat berkesan <3. How are you Texas? ūüėÄ

bunga indah dari Texas amerika serikat bunga Bluebonnet
The boys, piknik Bluebonnet ke Ennis-Texas (April 2017)

 

Jadi deh, bulan April tahun lalu, kami pun rame-rame piknik ke Ennis, salah satu kota yang spot bunga indah Bluebonnetnya paling heboh di wilayah utara Texas .

And here’s the video to memorize the moment¬†. Walau matahari bersinar cerah, anginnya masih lumayan kencang. Itu segala jilbab dan baju berkibar-kibar terus di video hihihi. Anak-anak sih enggak peduli ya. Tetap saja pecicilan sana sini. Adek-adek bayi juga pastinyaaaaa¬†.

Kemarin 4 keluarga ini, sama-sama anak 3, dan bungsu kami semua usianya deketan gitu keempat-empatnya. Bisa kebetulan gitu ya hehehe.

Btw, jangan menunggu alam ngambek ya sebelum benar-benar memahami bahwa manusia sesungguhnya diutus ke bumi ini sebagai khalifah/pemimpin terhadap seluruh makhluk hidup yang ada di bumi.

Ingat, situ tidak tinggal sendiri di bumi ini. Sayangi hewan dan tumbuhan. Gak usah ribet-ribet, cukup jangan buang sampah sembarangan dulu, yes? .

Mari bernostalgia tentang Texas dan selamat datang kembali musim semi <3.
Baca juga :
Welcome to The Lone Star State
Road Trip to Vegas from Dallas-Texas
Jejak Para Rangers di Grapevine Texas