You Only Miss The Sun When It Starts to Snow


Tidak semua negara 4 musim mengenal salju. Dan gak semua negara seputaran Timur Tengah mengenal musim panas doang.

Waktu tinggal di Iran pertama kali saya tahu kalau salju pun ada di kawasan sana. Walau nyangkut di Teheran saat musim panas sudah menjelang, sisa salju masih kelihatan di puncak pegunungan yang mengepung ibukota Negeri Para Mullah.

Taman Sai di Teheran, Iran (gambar : panoramio.com, by Behrooz Rezvani)

Di beberapa wilayah Saudi juga turun salju di saat tertentu. Tapi kota tinggal saya di Jeddah dulu suhunya enggak ekstrim. Musim panas mencapai 40 an dercel, musim dingin paling 15 dercel. read more

“Ujian Nasional” ala Kurikulum Amerika Serikat?

Kurasa sih, kalau kiblat kita adalah negara-negara yang menganut sistem “welfare state” (kesejahteraan bersama) seperti sebagian besar Eropa Barat, Kanada, dan Australia, ya pasti urut dada, deh, hihihihi.

Sekadar penyeimbang, dengan sistem pendidikan yang nampak semanis madu begitu, tolong diingat ada PAJAK YANG CUKUP DAHSYAT yang harus dibayar oleh kalangan profesionalnya đŸ™ˆđŸ™ˆ.

Karena kami datang dari Arab Saudi yang gaji gross persis gaji nett, kaget banget terima slip gaji pertama di Irlandia. read more

People We Haven’t Met Yet (12)

“The Oscars are not so white this year” … Begitu kira-kira ungkapan yang menandai usainya “The Oscars 2018 : 90th Academy Awards”,  perhelatan akbar tahunan bagi para sineas dunia yang sudah berbulan-bulan lalu tapi baru dibahas sekarang hahaha.

Beberapa nama-nama latin mencuat sebagai pemenang, termasuk sutradara terbaik Guillermo del Toro sepaket dengan film terbaik garapannya, “The Shape of Water”. Not my kind of movie sih, zonk aja gitu pas nonton huhuhu.

Guillermo del Toro (gambar : youtube.com)

 

Lagu terbaik dimenangkan oleh film COCO, yaaaayyyyyy *tepukTangan*. Walau tidak sedikit penggemar The Greatest Showman, di mana film ini juga masuk nominasi yang sama melalui OST bertajuk “This is Me”, mengamuk via komentar-komentar di Youtube :p.

Di film COCO, pasti sudah terasa sekali ya pesan eksplisit dari film ini mengenai budaya orang Latin.

“Marginalized people deserve to feel like they belong. Representation matters,”  kata sutradara film Coco, Lee Unkrich, di akhir pidatonya saat menerima piala kemenangan untuk kategori “Best Animated Feature.”

Tekanan terberat pasca masa kampanye dan kemenangan Trump di Amerika Serikat, dikatakan oleh banyak pihak, dialami oleh The Latinos ini. Para imigran latin yang membanjiri Amerika Serikat yang datang dari berbagai wilayah di Amerika Tengah dan Selatan. Negara Meksiko penyumbang terbesar, mengingat negara ini berbatasan darat langsung dengan wilayah Paman Sam.

Apalagi di negara-negara bagian wilayah-wilayah selatan seperti Texas dan New Mexico. Pengalaman pribadi saya setahun di Texas tempo hari, sangat mudah berpapasan dengan orang Latin di mana-mana ^_^.

Sementara di Florida, sebagian orang-orang latin yang ada di sana berasal dari negara Kuba yang secara lokasi memang cukup dekat dengan Florida walau terpisah oleh perairan Selat Florida.

Titip vlog pas main ke Bayside Market Miami Beach yak, maaf gak nyambung hahaha.

Adapun isu-isu kebencian terhadap kaum muslim dalam kehidupan sehari-hari tidak terlalu terasa, kok. Mungkin karena komunitasnya masih jauh lebih kecil dibanding pendatang dari negara-negara latin. Overall lebih ramai di media daripada kenyataan sehari-harinya. Apalagi media Indonesia hahaha :p.  Terlebih lagi di level medsos zzzzz -_-.

TAPI TEKANAN TERHADAP MUSLIM MEMANG ADA lho ya. Hanya intensitasnya BELUM selebay seliweran info dll. Mudah-mudahan jangan sampai meningkat.

Nah, kalau The Latinos ini isunya memang sudah ke mana-mana. Termasuk kekhawatiran terhadap berbagai lapangan kerja yang dibanjiri oleh mereka. Bahkan tidak sedikit pernyataan-pernyataan nyinyir dari pemerintahan baru yang bikin kuping pedas terkait kalangan Latin ini.

Silakan deh ya di-googling sendiri urusan politik dan ekonomi terkait ketegangan dengan orang-orang Latin di USA pasca Pilpres 2016 kemarin. Di tulisan ini kita ngobrol santai saja :D.

Ada beberapa komentar senada di wall Facebook saya waktu saya share sebuah scene dalam film Coco. Katanya, kok mirip banget beberapa kebiasaan orang-orang di beberapa wilayah di Indonesia. Misalnya bawa-bawa bunga ke pemakaman.

Bukan hanya fisik dan bahasa yang membuat orang Latin terlihat sangat berbeda dengan ras Kaukasian yang disebut-sebut “pemilik US”, padahal mah sama-sama pendatang sih ya hihihihi –> cobak sungkem dulu sama orang Indian sana.

Secara umum kehidupan sosial para Latinos ini memang lebih “dekat” dengan orang-orang Asia ketimbang orang-orang berkulit putih/ras Kaukasian yang sebagian besar akarnya berasal dari Eropa Barat. Yang paling nyata hobi ngumpul-ngumpul mereka, persis kek kita, yes? Makin ramai makin seruuuuuuuu ^_^.

Gambar : forbes.com

 

Pernah sebelahan dengan keluarga Latin waktu jalan-jalan ke Fort Worth Zoo di area water park. Anak kecilnya cuma 2 tapi mereka datang bergerombol. Saya sudah tidak tahu yang mana orang tua dari kedua anak tadi karena ada 2-3 pasang suami istri yang mengiringi. Ada kakek neneknya juga. Tidak ketinggalan 2-3 orang abege tanggung. Ruameeeeeeee hehehe.

Belum lagi pas mengobrol. Rebut-rebutan pengin ngomong. Sayang nih, belajar bahasa Spanyol nya masih level unyu-unyu, kalau dengar mereka ngomong secepat itu, saya mengertinya paling cuma 20% :p.

Secara fisik, bodi cewek-cewek latin itu bikin ngiri deh. Lekukannya benar-benar mantap. Dengan kulit coklat eksotis dan rambut yang rata-rata ikal atau keriting, mantap sensualnya hehehe.

 

Salah satu tetangga di apartemen saya dulu adalah seorang emak-emak asal Ekuador. Woowww, bodinya cihuy abis dengan usia sudah mencapai 43 tahun dan nomor jinsnya sama dengan saya! Nah ini juga asyiknya sama The  Latinos, kalau ngobrol tuh bener-bener Indonesia bangeeettt. Bebas nanya-nanya umur sampai nomor celana! Hahahaha. Percakapan standar ala mereka juga ;).

Secara kasat mata, The Latinos banyak mengisi pekerjaan level informal. Tapi entah nih statistik benerannya gimana. Kalau ke toko-toko, lazim banget penjaganya ya mereka-mereka dkk. Bisa jadi karena ini di Texas, yak. Yang memang pintu gerbang orang-orang Meksiko untuk menembus Amerika Serikat.

Maraknya The Latinos juga sangat menolong lidah Asia kita karena mereka juga makan nasi hihihi. Kalau India dan sekitar rata-rata dominasi menunya kan Biryani dan berbagai nasi berbumbu lainnya. Sementara orang Mexico terbiasa makan nasi putih kayak kita.

Menu-menunya juga kaya bumbu mirip masakan oriental khas Asia pada umumnya. Enggak kayak Eropa yang kontinental, rata-rata ngirit bumbu menuju tawar >_<. Saya suka berbagai varian menu Ayam Alpukatnya ^_^. Taco-taco an juga doyan. Banyak yang jual taco murce di supermarket. Tinggal kita mainkan saja isiannya, yes? ;).

Wilayah latin juga cenderung tergolong wilayah tropis. Sama kayak Indonesia. Jadi hasil alam berupa buah-buahannya banyak yang mirip dengan kita. Kalau di Irlandia, nangis darah nyari mangga (huhuhu), di Texas mah banyaaaaaakkkk. Aneka rupa pisang membanjiri supermarket. Bukan cuma Cavendish tok. Ada sejenis pisang kepok dan pisang raja jugak, entahlah apa namanya di mereka.

Harga-harganya juga relatif murah, mungkin karena impor dari tetangga sebelah langsung :D. Aneka rupa beras juga banyak. Bagus-bagus dengan harga cukup murah. Impor dari Mexico juga mungkin, ya. Tapi di Texas juga tergolong lumayan tropis. Karena banyak pendatang Mexico, bisa jadi pertanian ala Mexico juga sudah banyak di Texas jadi tidak perlu impor. Hidup The Latinos! *elusPerut*.

Enaknyooooo tinggal di Texas hehehe. Pak Bos, assignment lagi duuunnkkk, tapi di Texas yaaaa, gak mao negara bagian yang lain hahahaha :p.

Mereka juga cenderung punya anggota keluarga yang banyak hihihi. Kalau lagi belanja, sering tuh ketemu keluarga Latin yang anaknya bisa 4 atau 5 hahaha. Kehidupan mereka lebih guyub jadi wajar kalau senang punya segabruk anggota keluarga.

Miguel and Family (COCO) Gambar : disney.wikia.com

Sebenarnya pendatang di Texas sudah terasa pembaurannya antar satu sama lain. Di negara-negara bagian lain pun mungkin sama. Mengapa ya, kalau ada kegelisahan ekonomi begini-begini, kita cenderung saling menyalahkan bukannya bekerja sama? The Latinos mungkin sudah sangat banyak yang beranak pinak di berbagai wilayah Amerika Serikat.

Toh Amerika Serikat punya jargon, “Land of freedom”. Negeri Jantung Dunia itu juga dibangun dengan jerih payah banyak pendatang. Yang dari Eropa kan juga itungannya pendatang, yes? Kenapa sekarang berasa Amerika Serikat hanya milik “kaum kulit putih”?

Sebal juga dengan politikus yang kok ya tega-teganya memainkan isu-isu seperti ini untuk meraih kekuasaan? >_<

Padahal sangat wajar jika orang-orang Latin membaur ke wilayah Amerika Serikat. Dan itu sudah berlangsung lamaaaaaaa, di Texas sendiri bahasa Spanyol sudah seperti bahasa ke-2. Kalau ke supermarket, petunjuk nama makanan dll disediakan dalam 2 bahasa : Inggris dan Spanyol.

Petunjuk bahasa Spanyol di Walmart Texas, gambar : alamy.com

 

Jangan bosan-bosan ya untuk berdoa semoga dilembutkan hati para pemimpin-pemimpin dunia untuk MENJAUH dari isu-isu perpecahan seperti ini hanya demi meraih kekuasaan. Ya, ya, ya, pasti pada skeptis, “Alah, namanya juga politik. Politik itu kotor.” Yadda-yadda-yadda.

Terus saya jadi ingat lirik lagu yang satu ini, “We Shall Overcome” :

We shall overcome
We shall overcome
We shall overcome, some day

Btw, inilah yang membuat film COCO terasa sangat istimewa. Bagaimana para sineas berusaha mengangkat kebudayaan Latin di tengah gencarnya isu-isu rasial terkait mereka dengan cara halus dan memikat. Alur cerita yang tidak cengeng dan tidak membahas isu panas. Hanya kisah keluarga sederhana yang cukup jelas menggambarkan budaya orang-orang Latin secara umum <3.

Representation does matter. Namun, kita bisa menunjukkan eksistensi dengan cara-cara yang lebih terpuji, bukan dengan menyerang balik dengan cemohan atau tindakan negatif lainnya. Bravo COCO dan segenap tim terkait (y).

Bunga indah bunga bluebonnet di Texas amerika Serikat

Legenda Bluebonnet, Bunga Indah dari “Negeri Koboi”

Bunga indah dari The Lone Star State ini bisa tumbuh di liar di banyak kawasan di negara bagian Texas. Berwarna biru keunguan, Bluebonnet merupakan salah satu ciri khas negara bagian Texas.
Baca juga :
Lebaran di Texas Amerika Serikat 2017
Komunitas Muslim di Texas Amerika Serikat
The Texas Weekender
 

Bunga Indah bluebonnet yang tumbuh liar di negara bagian Texas
The Blue Bonnet, State Flower of Texas, USA

 

Konon, dalam salah satu kisah penduduk asli Amerika, suku Indian, wilayah Texas di suatu masa pernah dilanda kekeringan panjang. Menyebabkan kelaparan dan kematian.

Penduduk setempat pun memohon petunjuk kepada sang dewa, The Great Spirit. The Great Spirit akhirnya memberi jawaban.

Selama ini penduduk dianggap abai terhadap alam dan lingkungan. Mereka terus menerus mengeksploitasi alam untuk kepentingan mereka sendiri. Tidak pernah memikirkan kepentingan selain untuk diri manusia sendiri.

Penduduk pun diminta untuk melepaskan harta terpenting mereka sebagai bentuk pengorbanan. Karena selama ini alam lah yang terus menerus berkorban. Manusia sangat serakah. Hanya mengambil tiada memberi.

Bunga indah bunga bluebonnet di Texas amerika Serikat
Foto bareng ibu-ibu piknik musim semi ke Ennis, Texas (April 2017)

 

Para penduduk sibuk memikirkan dan berdiskusi siapa yang harus mengorbankan apa. Tak ada titik temu. Masing-masing merasa enggan untuk memberikan kepunyaannya secara sukarela.

Seorang gadis kecil yatim piatu yang sebatang kara termenung sendiri memikirkan petuah tersebut. Orang tuanya sudah meninggal karena kelaparan. Dia tidak punya saudara lain, tidak ada siapa-siapa lagi. Sebuah boneka berbulu biru di kepalanya, satu-satunya harta terpenting buat si gadis kecil.

Di suatu malam, si gadis membakar boneka tersebut dan menebarkan abunya ke 4 penjuru mata angin, Timur-Barat-Selatan dan Utara. Sebagai tanda permohonan agar alam mau mengampuni kesalahan para penduduk dan berkenan mengakhiri penderitaan mereka.

Keesokannya, lembah-lembah dipenuhi bunga bunga indah berwarna biru sebagai tanda diterimanya persembahan boneka berbulu biru sang gadis kecil. Hujan pun turun menyudahi kemarau panjang.

Itulah legenda Bluebonnet, bunga-bunga liar berwarna biru keunguan, akan bermunculan di padang-padang rumput saat musim semi menghampiri wilayah Texas.

Sejak tahun 1901, Bluebonnet resmi dijadikan The State Flower of Texas .

Tentu saja, saat musim semi datang kembali di tahun ini, Bluebonnet bermekaran di mana-mana di seantero wilayah Texas. Pastinya, wajib banget dong ya foto-foto keluarga di tengah-tengah bunga-bunga biru ini sebagai tanda eksis pernah mampir di Texas hahahaha .

Ini kisah jalan-jalan tahun lalu saat kami setahun numpang lewat di negara bagian Texas, USA. Numpang lewatnya lama juga dan sangat-sangat berkesan <3. How are you Texas? 😀

bunga indah dari Texas amerika serikat bunga Bluebonnet
The boys, piknik Bluebonnet ke Ennis-Texas (April 2017)

 

Jadi deh, bulan April tahun lalu, kami pun rame-rame piknik ke Ennis, salah satu kota yang spot bunga indah Bluebonnetnya paling heboh di wilayah utara Texas .

And here’s the video to memorize the moment . Walau matahari bersinar cerah, anginnya masih lumayan kencang. Itu segala jilbab dan baju berkibar-kibar terus di video hihihi. Anak-anak sih enggak peduli ya. Tetap saja pecicilan sana sini. Adek-adek bayi juga pastinyaaaaa .

Kemarin 4 keluarga ini, sama-sama anak 3, dan bungsu kami semua usianya deketan gitu keempat-empatnya. Bisa kebetulan gitu ya hehehe.

Btw, jangan menunggu alam ngambek ya sebelum benar-benar memahami bahwa manusia sesungguhnya diutus ke bumi ini sebagai khalifah/pemimpin terhadap seluruh makhluk hidup yang ada di bumi.

Ingat, situ tidak tinggal sendiri di bumi ini. Sayangi hewan dan tumbuhan. Gak usah ribet-ribet, cukup jangan buang sampah sembarangan dulu, yes? .

Mari bernostalgia tentang Texas dan selamat datang kembali musim semi <3.
Baca juga :
Welcome to The Lone Star State
Road Trip to Vegas from Dallas-Texas
Jejak Para Rangers di Grapevine Texas
 

 

Albuquerque old town 2017

Road Trip To Vegas From Dallas (Part 1) : Albuquerque Old Town

Jadi ceritanya road trip bulan kemarin ituh (BULAN KEMARIN! kurang telat ceritainnya yak hahahaha), rutenya adalah :

Dallas (Texas) – Albuquerque (New Mexico) – Flagstaff (Arizona) – Grand Canyon (Arizona) – Las Vegas (Nevada).

Tadinya mau bablas ke Los Angeles, tapi yah, kayaknya tidak memungkinkan dan males kan kalau dapat capeknya doang.

Penginnya sih kalau ke California itu hura-huranya minimal 3-4 hari lah yaaaa. Kan harus mampir di Hollywood segala silaturahmi sama teman-teman arteissss *kibasPoni*.

Belum lagi kalau kebetulan ditawarin casting, harus agak lamaan toh yaaaaa –> lalu muncul telunjuk Bu Susi : Tenggelamkan!!! Hahaha .

Albuquerque old town plaza
Albuquerque Old Town Plaza

 

Suami kebetulan sukses membujuk Pak Bos di Ireland biar dapat cuti satu minggu, sungkem dulu sama Pak Bos . Hari sabtu ( 1 Juli) ada acara Halal bi Halal Idul Fitri untuk komunitas muslim Indonesia Malaysia di Dallas-Fort Worth. Tentu kudu eksis dulu, yes? .

Jadilah kami berangkat minggu pagi besoknya. Dari rencana awal berangkat jam 5 pagi, dianggap terlalu ambisius alias mustahil. Lalu sepakat jam 6.

Yang mana kenyataannya adalah … jam 8 pagi baru geret-geret anak-anak masuk mobil plus barang-barang bawaan segala macam hihihi.

Anak-anak rese bener ya kalau dibawa road trip. Pas ngisi bensin pertama, udah ditawarin, “Ayo pipis sana, pipis sana.” Pada ngotot enggak mau. Yo wis, lanjuuuuut.
Baca juga :
The American Dream dan Mimpi Kaum Pendatang
The American Roadtrip
The American Pride
 

Eeeeeh, baru jalan sejam, sudah menggeliat-geliat kayak ulat keket tetiba kebelet pengin pipis. Masalahnya ya, jalur road trip ke arah barat Texas (New Mexico dst) itu beda banget sama road trip ke arah timur (Florida).

Waktu road trip ke Florida sih jalurnya enak banget. Per 2-4 mile pasti ada aja Food-Gas Stop. Di US sini bensin istilahnya “gas”. Kalau di Ireland kan istilahnya “Petrol”. Di negara lain ada istilah lain lagi gak ya?

Kalau ke arah New Mexico itu lebih sepi dan gersang. Jadi nyari tempat pipis itu sumpah ribet. Belum tentu dalam jarak 10 mile ada tempat yang enak buat mampir. Kesel banget, kan. Bukannya pipis tadi, zzzzz . Lagian kalau sering mampir itu bisa bikin itinerary berantakan, euy.

Terus pas di mobil biar suami enggak bosan atau ngantuk (karena kita tidak begitu doyan dengerin radio), saya jadi banyak ngoceh gitu. Soalnya jalanannya agak beda dan lebih sepi. Manalagi pemandangan lebih tandus ketimbang arah Louisiana yang banyak pohon-pohon gede ijo royo-royo.

Akyu kan jagoan banget lah kalau urusan ngobrol mengobrol. Kecepatan saya berbicara sama mengetik itu 11-12 lah. Bawel mulutnya, bawel jarinya *maininAlis*.

Eh, tahu-tahu suami saya ngomel, “Gilak ya, lo itu cerewet banget. Pusing gue dengernya.”

Laaaaah, udah 10 tahun nikah, anak udah 3, baru komplen sekarang??? Ke mana ajeeeeeeeee hahahaha .

Albuquerque Old Town Plaza 2017

Kota yang agak gede yang pertama kami lintasi itu Armarillo, masih wilayah Texas. Dalam Bahasa Spanyol, Armarillo ini artinya warna kuning . Pengaruh Spanyol memang sangat lekat terhadap negara-negara bagian di belahan selatan Amerika Serikat. Mana-mana saja? Yak, coba dimainkan Google Mapsnya masing-masing yaaaaaa .

Tapi kali ini Amarillo cuma numpang lewat saja. Langsung bablas menuju New Mexico. Sesuai kebiasaan, begitu memasuki perbatasan, ributlah kami mencari Visitor Center. Buat ngumpulin koleksi foto depan bendera/plang atau apalah-apalah yang menjadi ciri khas negara bagian tersebut.

Jadi, tiap negara bagian, dekat-dekat perbatasannya pasti ada saja Visitor Center yang juga nyediain minuman-minuman gratis, brosur-brosur kopi-kopi gratis, dan tentu saja … spot-spot foto-foto kece yang gratis pulak hahaha. Keluarga Gober mah yang haratis-haratis begini tak mungkin dilewatkan *ciyumDompet*.

Pelayanannya juga super duper ramah gak kira-kira. Maklum deh, turis kudu disambut biar gampang nanti tebar-tebar duit di wilayah mereka, yes? Hihihi .

Albuquerque old town 2017

Saya juga banci banget ngisi-ngisi buku tamu. Dengan bangga selalu menulis nama INDONESIA (iyes, pakai huruf gede semua) di kolom “where you come from”. Kalau ada crayon merah, kulukis pulalah itu bendera merah putih di situ! Tak perlu lebay kali pun kakaknyaaaaaa .

Tiap negara bagian juga punya bendera sendiri-sendiri dan julukan khas masing-masing. Untuk New Mexico julukannya … The Land of Enchantment. Untuk menggambarkan pemandangan alamnya yang eksotis itu. Eksotis-eksotis tropis gitu, ya. Soalnya didominasi perbukitan batu tapi masih ada hijau-hijaunya sikiiiiiiiit.

Buat teman-teman di Jeddah yang pernah ke Al Ula (Madain Saleh), naaaaah, mirip-mirip gitu pemandangannya. Tapi New Mexico nuansa hijaunya lebih terasa .

Bendera New Mexico merupakan simbol matahari merah di luar lingkaran kuning dengan background yang juga berwarna kuning. Pengaruh Spanyol kembali terasa. Konon, merah dan kuning itu semacam royal-color buat bangsa Spanyol.
Baca juga :
Kurikulum Sekolah Anak di Amerika Serikat
Kurikulum Sekolah Anak di Irlandia
The Texas Weekender
 

Setelah foto-foto depan plang tulisan New Mexico, ngobrol-ngobrol cantik dengan petugas di Visitor Center, dan tak lupa kepoin dikit soal Billy The Kid.

Billy The Kid, salah satu “anak bandel” pemegang pistol yang terkenal dengan kemampuan menembak cepatnya dan track recordnya masuk penjara berkali-kali, berpetualang sampai ke Arizona tapi balik lagi ke New Mexico dan sempat pula menjadi pahlawan perang. Sisanya cek di wikipedia aja yak, capek ngetiknya .

Setelah bolak balik ngambil teh + kopi (hahahaha), kami melanjutkan perjalanan menuju Albuquerque, kota terbesar di New Mexico ini. Tapi bukan ibukota. Ibukota New Mexico adalah Santa Fe.

Albuquerque Old Town Tourism New Mexico

Walau luas negara bagian ini menempat peringkat ke-5 di seantero Amerika Serikat, tapi peringkat jumlah penduduknya sedikit banget. Hanya menempati urutan ke-36 dari total 50 negara bagian di US. Sepiiiiiii .

Bahkan di kota terbesar Albuquerque pun terasa banget sepinya ketimbang kota Dallas di Texas.

Tiba di Albuquerque langsung nyari makan malam. Upeti dari Texas sudah ludes hehehe. Dari petunjuk Google, ketemu rumah makan halal ala-ala Yordania gitu.

Harganya lumayan mahal. Begitu ke negara bagian lain langsung terasa nikmatnya tinggal di Texas, yes? . Texas kan memang terkenal negara bagian paling murmer .

Makannya dibungkus saja terus kita ke hotel dan check in. Mandi dulu sebelum makan rame-rame sambil nonton tipi . Rasanya enak deh, cocok di lidah kami yang emang penggemar kuliner khas Timur Tengah hehehe.

Kelebihan lain dari resto Tim Teng ini, porsinya gede, Cuuuyyyy. Jadi mesen 2 porsi saja bisa buat berlima. Halah, bilang aja mau ngirit hahaha.

Albuquerque Old Town

Besok paginya baru jalan-jalan ke kawasan wisata Albuquerque, The Old Town and The Museum.

Seperti biasa, anak-anak kalau lihat patung dinosaurus suka meronta-ronta minta masuk museum. Seperti biasa pula bapaknya langsung cemberut karena museumnya gak gratis hahahaha. Sayang anak, sayang anak .

Karena ternyata kita kepagian, toko-toko di Old Town baru buka jam 10, kami sudahh di sana sejak jam 9. Jadi deh masuk museum dulu yang memang sudah buka dari jam 9 pagi. Ramai lho museumnya.

Anak-anak hepi banget lihat macam-macam patung hewan enggak cuma dinosaurus, ada bagian antariksa dan tata surya di lantai bawah, nyoba-nyobain alat musik (ada museum seninya juga).

Butuh waktu sekitar 2 jam an untuk menuntaskan 3 lantai ruangan di museum. Sudah bayar iniiiii, harus dijajal semuanyaaaa *ogahRugi* .

Sayangnya, pas di museum ada kesalahan teknis dimana semalam lupa nge-charge GoPro hihihi *jitakKepalaSendiri*. Jadi suami balik ke mobil dan GoPro di-charge dulu.

Akhirnya hampir jam 12 siang, kita sudah siap muter-muter di kawasan Kota Tua Albuquerque. GoPro pun sudah siap menjalankan tugasnya .

Kota Tua Albuquerque, dulunya merupakan wilayah pusat kota yang didirikan oleh Gubernur Francisco Valdes di awal abad ke-18. Kini, tempat ini dijadikan salah satu pusat wisata di Kota Albuquerque. Mencakup 10 blok bangunan bersejarah yang sekarang sudah berubah fungsi menjadi pertokoan, rumah makan, galeri seni, dll.

Walau telah berubah fungsi, arsitektur bangunan tetap dipertahankan. Mau ikut lihat-lihat? Boleh diintip vlognya :

Nuansa Indian-nya sangat terasa. Karena New Mexico memang salah satu negara bagian yang hingga kini masih didiami oleh komunitas Indian, suku asli benua Amerika, dalam jumlah yang cukup signifikan.

Secara persentase, jumlah penduduk Indian di wilayah New Mexico adalah yang terbesar. Tapi negara bagian Arizona yang paling “frontal” mempromosikan wisata ala-ala Indian hehehe. Weits, sudah bahas Arizona saja. Nanti yaaa, di part 2 nya .