[Netflix] CLICKBAIT

Manage your loneliness! –> salah satu pesan penting dalam serial CLICKBAIT ini.

Walah, bisa seserius ini membahas soal manajemen kesendirian, mengatasi kesepian? Indeed!

Dunia digital, kehadiran internet, dilengkapi dengan aneka rupa media sosial yang mudah dijangkau kalangan mana saja, sangat memudahkan kita untuk mengisi waktu luang. Apalagi kalok bosan, lagi sendiri.

Di era sebelum hidup didominasi yang onlen-onlen, bosen mah paling ngisi TTS, maen tetris (hahaha), nonton tipi, ato ke luar ke mal jalan-jalan, dst dst. No harm’s done.

Sekarang? Beuuuhh, sekrol-sekrol newsfeed IG, FB, Twitter aja malah bisa bikin lupa waktu. Jadi ikut ngegosip, punya tabungan bahan rumpi yang banyak (hahaha), dan sedihnya, tanpa sadar ikut menjudge, syukur-syukur gak ikut komen (hahahaha *lagi*).

Baca Juga : “[Netflix] The Social Dilemma : Dunia dalam Media Sosial”

Dunia kita terpampang lebar antar benua. Gak perlu lagi beli tabloid ini itu, majalah luar yang mahal-mahal, kehidupan artis nun jauh di sana tersaji lengkap via story keseharian di IG. Bayar kuota mah keciiiilllll dibanding beli-beli aneka rupa media cetak ye kaaaan :p.

Kalok kreatif dikit, isengnya bisa lebih serius nan fatal … demikian pula konsekuensinya!

Suka nonton Black Mirror? Nah, Clickbait ini bisa dibilang “versi panjang”nya Black Mirror. Jika Black Mirror banyak mengandung satir dan rasanya “agak jauh dari dunia nyata” maka Clickbait adalah versi “real life”nya.

Original Netflix versi thriller yang sangat memukau. Dengan ending yang bikin terhenyak. Twist yang luar biasa pokoknya dah huhuhu.

Baca Juga : “[Netflix] : Virgin River”

Cerita didominasi fokus pada anggota-anggota keluarga Brewer.

Hari itu, Oakland dikejutkan oleh viralnya sebuah video tentang seorang laki-laki bernama Nick Brewer. Sebuah video “palsu” yang judulnya memang “CLICKBAIT” banget.

Menghilangnya Nick dan munculnya video viral tadi menjadi fokus utama dari serial ini.

Serialnya kurang dari 10 episode. Yang menarik, di tiap episode penonton tidak hanya fokus kepada isu utama menghilangnya Nick tapi berbagai persoalan sehari-hari yang sangat related di dunia nyata.

Kita dibawa berkeliling melihat sudut pandang The Sister – The Detective – The Wife – The Reporter – The Brother – The Son hingga akhirnya nyangkut di episode terakhir jeng-jeeeennngg … “The Answer”.

The Answer ini menyadarkan kita banget betapa media sosial ini bisa menghubungkan siapa saja. I mean, SIAPA SAJA, dengan cara yang sangat tidak terduga.

Belum lagi perkara CLICKBAIT yang sangat sering dipraktikkan di media-media online -_-.

Salah satu persoalan nyata yang menarik :

Ketika menginterogasi Sophie Brewer (istri Nick), polisi menghardik, “Jika pernikahanmu bahagia, kok situ selingkuh?”

Ouch! Pak polisi dan beserta (mungkin) jutaan manusia di dunia banyak yang menganggap begini. Padahal sadarilah, perselingkuhan tidak selalu hadir dalam pernikahan yang tidak baik-baik saja. There’s so much into that.

Baca Juga : “Can’t Help Falling in Love (Perselingkuhan dalam Pernikahan, WHY?”

Kemudahan akses yang disediakan oleh internet untuk menjangkau siapa pun salah satu yang membuat potensi perselingkuhan makin besar? Bisa jadiiiiii hehehehe.

Tentang Pak Detektif ganteng (uhuy!) yang kebelet pengin promosi tapi kadang dihantui oleh status minoritasnya. Padahal sih, hal-hal seperti ini kadang stereotip yang terlanjur kita telan. Kenyataannya?Ternyata gak ada hubungannya.

CLICKBAIT (L to R) PHOENIX RAEI as ROSHAN AMIR in CLICKBAIT Cr. BEN KING/NETFLIX © 2021

Let’s work harder on this. Manage our fear. All of us.

Baca Juga : “[Netflix] : Serial Shtisel : Keseharian Keluarga Ultra Orthodoks Yahudi”

Intinya serial ini menyoroti pengaruh besar dunia digital/internet/media sosial dalam kehidupan kita sehari-hari.

Fakta bahwa manusia tidak ada yang luput dari kelemahan sih bukan hal baru. Tapi benarlah kalau era digital makin memungkinkan sisi-sisi yang dikira akan tertutup rapat itu bisa terbuka dengan jelas.

Lihat saja kalo ada isu, gilak dah, netijen secepat kilat bahu membahu mencari fakta, mengorek konten media sosial bersangkutan sampai satu dekade sebelumnya. Warbayasak ini hahahaha.

Ngeri-ngeri sedap, ya. Berasa gak punya privasi huhuhu. Mungkin ada baiknya kita menyadari manfaatkanlah medsos (including whatsapp!) untuk hal-hal yang sebelum ada medsos memang ditujukan untuk public. Other than that, just keep it with ourself.

Duh, ngeri itu soal metadata. Itu beneran sih. Tapi berkat metadata pulak kejahatan ini terbongkar. Halah, halah, galau abis 😅🙏😟.

Era digital memang memberikan begitu banyak pilihan untuk melarikan diri dari dunia nyata. Hal-hal yang tadinya cuma iseng kok ya bisa menelan nyawa.

Serial ini to the point menegaskan betapa pentingnya menyadari bahwa jangan dikira keisengan di dunia maya hanya berakhir begitu saja.

Banyak twist sana sini. Instead of kesel salah nebak mulu, tiap episodenya sungguh tidak mungkin dilewatkan.

Asal tau saja, karena takut binge, setelah episode ke-2 saya langsung loncat ke episode terakhir biar tau endingnya. Laaahh, setelah tahu malah makin penasaran dan balik lagi ke episode 3, hahahaha.

9 out of 10. Simply because, hingga akhir cerita, saya gak nemu jawaban yang pas, WHY HIM? WHY HIM? WHY HIM? WHY HER? WHY HER? :(. Him-him dan her-her mana saja yang dimaksud, monggo langsung dicekidot sendiri di Netflix, yes? :p

Atau memang hidup bisa serandom itu, ya. Membuat kita makin desperate jadinya. Betapa kerandoman ini bisa menimpa siapa saja yang tidak hati-hati :(. Gak boleeeehhh curhat sembarangan, camkan ituh!

Ah ya, gak bisa dapat perfect 10 juga juga akting pemeran Pia yang terlalu lebay hahahaha.

Selamat menonton! 😉

[Netflix] Serial Shtisel

Waktu scene soal “haram”nya televisi, saya sempat membatin, “Ini pilem tentang Yahudi apa Salafi neh?” Hahahahha.

Baru saja kemarin ada kerabat yang maen ke rumah dan menghabiskan waktu lebih banyak menonton televisi karena di rumahnya enggak ada TV karena ada kerabat beliau yang menganut paham salafi hehehe.

Shtisel, sebuah keluarga Ultra-Orthodoks Yahudi yang tinggal di sebuah wilayah “ekslusif” di Yerussalem.

Adalah Shulem Shtisel, yang baru saja menduda, seorang guru di sebuah Cheder (sekolah privat berbasis agama Yahudi, semacam madrasah gitu ya kalau dalam Islam), tinggal berdua bersama Akiva Shtisel (anak bungsunya).

Shulem Shtisel memiliki banyak anak. Saya aja gak ngeh sebenernya ada berapa hahahaha. Kayaknya ada 6 atau 7, cmiiw.

Sebenernya ada 2 serial tentang keluarga Yahudi yang direkomendasikan. Satu lagi, Unorthodox. Tapi serial Unorthodox ini terlalu condong ke satu sisi. Banyak yang komplen jadinya seperti hate-speech ke komunitas Ultra-Orthodoks Jewish.

Iya sih, saya juga cuma nonton 2 episode terus berhenti. Kurang adil menyoroti satu komunitas tertentu. Wajar saja karena Unorthodox ini diangkat dari kisah nyata seorang perempuan Orthodox yang pengin hengkang dari komunitasnya.

Sementara Shtisel bener-bener fokus kepada keseharian keluarga Shtisel.

Pada umumnya komunitas Ultra-Orthodoks tinggal bersama di area tertentu. Mereka termasuk sangat patuh kepada aturan-aturan dalam ajaran Yahudi versi Taurat yang mereka yakini.

Tapi saya juga baru tahu kalau Yahudi tidak mengharamkan alkohol. Boleh diminum dalam batas tertentu. Kalau kecanduan ya haram jugak hehehe.

Kebiasaan perempuannya yang pakai wig sempet bikin heran hehehe. Ternyata, perempuan Yahudi yang sudah menikah memang tidak boleh menampakkan kulit kepalanya. Jadi pakai wig (rambut palsu) atau topi saja sudah cukup.

Cara berbusana para perempuan yang sudah hidup di era modern juga cukup konservatif. Pada umumnya mengenakan lengan panjang dengan bawahan di bawah lutut. Sangat sopan untuk ukuran umum :).

Penampilan laki-lakinya lebih khas lagi. Dengan jas dan celana hitam, serta kippah (topi khas Yahudi), pinggiran rambut yang dikepang kecil kiri kanan masing-masing satu, jenggot wajib panjang.

Shulem Shtisel adalah karakter yang sangat kuat dalam cerita ini. Seorang saleh yang walau cukup tegas nan konservatif tapi sangat lentur menghadapi anggota keluarganya.

Misalnya saat ibunya yang tinggal di panti jompo memutuskan untuk membeli sebuah televisi.

Televisi termasuk salah satu yang “diharamkan” dalam kepercayaan komunitas ini. Juga hobi Akiva melukis. Hal-hal seperti ini juga terlarang.

Serial ini hampir tidak menyentuh ranah politik tapi ada juga sekilas digambarkan kalau sebenernya mereka rada-rada anti zionis hehehe. Scene dan dialognya haluuuuusss, tapi lumayan to the point soal ini hehehe.

Sebagian besar cerita menyoroti soal masalah sehari-hari. Baik tentang Shulem, Akiva, maupun Giti (anak perempuan Shulem).

Serial ini banyak dipuji karena skenario yang sangat membumi walau ceritanya fokus kepada sebuah komunitas khusus.

Saya rasa serial ini menggambarkan apa yang sebenernya terjadi dalam banyak agama :). Banyak konflik pribadi dalam sebuah komunitas. Dan tidak semua yang saleh dan alim itu karena doktrin semata, tapi memang ada yang meyakininya secara sadar dan utuh. Dan hal itu oke-oke saja ;).

Dalam dua episode awal saja sudah senang dengan pengenalan karakternya.

Ada kisah cinta, ada persoalan rumah tangga dari hal-hal simpel sampai yang berat-berat. Soal pergaulan, soal persaudaraan, dst dst.

Perempuan-perempuan orthodoks tidak melulu digambarkan lemes dan korban misoginisme yang konon ikut diwariskan via ajaran-ajaran agama samawi.

Giti Shtisel misalnya, cerdas dan tegas, walau tergolong “fanatik” dalam beragama. Perempuan juga boleh bekerja seperti biasa walau sudah menikah.

Giti Shtisel dan suami (Lippe Weiss)

Jalan ceritanya asyik banget. Fokus masalah berpindah-pindah dengan rapi antar para karakter. Tokoh-tokohnya merata enggak ada karakter hitam-putih. Konfliknya bukan yang menggebu-gebu tapi masalah sehari-hari yang seharusnya mudah dijumpai di belahan dunia mana pun.

Mereka juga digambarkan seperti umumnya “kalangan beragama yang patuh”. Itu loh, hobi “mengejek” orang lain di luar lingkungan mereka. Ada istilah khususnya segala hahahaha. Makanya, semua “agama standar” ya pasti gitu dah, mereka yang di “luar garis” = kafir kabeh :p.

Uniknya, dalam kepercayaan Yahudi ini, ada semacam garis batas yang terlalu kentara. Kalau misalnya sudah sekuler ya udah sekuler 100% dan tidak akan sedikit pun melakukan ritual apa apa.

Kalau dalam Islam, yang pakai rok mini dan rajin shalat kan banyak ya hehehehe. Enggak akan dianggap non-Islam.

Yahudi ini sepertinya ALL or NOTHING. Dan tidak semua orang di Israel itu relijius. Kalangan relijiusnya malah tetap tinggal berkelompok di wilayah tertentu. Terlihat tidak berbaur. Ada wilayahnya sendiri-sendiri.

Menyenangkan banget serialnya. Nonton dicicil-cicil. Mirip sama Virgin River, enggak perlu sampai ngantuk-ngantuk dan maraton. Bisa dinikmati secara perlahan tapi dijamin enggak bosen ;).

Ikatan batin antar anggota keluarga diantara sekian banyak konflik yang muncul tergambar dengan hangat, cukup bikin haru, tapi gak ada cengeng-cengengnya.

Rabbi Shulem Shtisel, alih-alih ditampilkan sebagai seorang alim yang dikit-dikit bawa ayat, banyak digambarkan sebagai laki-laki yang susah move on dari bayangan istrinya dan sebagai orang yang cukup “licin” dan kadang culas jugak dalam mencari solusi masalah hehehe.

Film tuh seharusnya bisa menjadi penengah, ya. Menggambarkan secara utuh, jangan menyorot satu sisi saja. Apa mungkin suatu hari dibuat film yang sama tentang komunitas Taliban?

O ya, bahasa sehari-hari mereka semacam gabungan bahasa Turki dan bahasa Arab. Sementara bahasa Farsi (Iran) juga ya semacam ini-ini jugak. Ya memang aslinya deket-deket aja tuh rumpunnya. Betapa seharusnya perbedaan itu memperkaya ya bukan mengkafir-kafirkan wwwoooiiii hehehehe.

As it’s said, walau tentu enggak bisa ditelen bulet-bulet, “If you understand everything, you’ll forgive everything.”

Enggak sabar menunggu Season 4 :D.

8 out of 10.

Selamat menonton ^_^.

Review Sekolah Mutiara Harapan Islamic School

Pertama kali lihat lokasinya agak-agak galau gitu. Soalnya terletak di jalan kecil gitu. Gak kebayang deh tuh macetnya kek apa ya kalau hari normal. Kalau masih pandemi begini kan gak kliatan ya hehehe.

Tapi ada lahan di depan gedung sekolah buat parkir. Enggak gede juga sih lahan parkirnya. Entahlah kek mana itu suasana anter jemput anak sekolah di situasi normal, hhmmm….

Baca Juga : “Sekolah Kurikulum Internasional di Bintaro dan Sekitar”

Dari luar juga cuma kelihatan pagar dan halamannya nampak kecil. Begitu masuk, kami dibawa ke ruang tunggu. Ruang tunggunya sih kece.

Lalu muncul Ibu Wulan, perwakilan dari Mutiara Harapan Islamic School yang menemui kami. Setelah perkenalan sedikit, kami pun dibawa jalan-jalan ke dalam.

Begitu melewati pagar kecil yang menghubungkan kita dengan bangunan sekolah utama…woooww, guedeeeeeee. Banyak banget ruang terbuka, luas abis pokoknya :D. Langsung seneng sih pas liat gedung dan halaman di dalam.

Nyaman bangeeeetttt.

Ruangan kelasnya bersih dan rapi, ada beberapa lapangan yang disediakan di halaman.

Waktu itu mau coba daftarin si bontot masuk sini tapi udah penuh. Walau begitu kami tetep boleh muter-muter sampai ke dalam ^_^. Ini ya videonya ;).

Jadi istilah Sekolah Internasional sekarang diganti dengan SPK (Satuan Pendidikan Kerjasama). Intinya, SPK ini adalah sekolah-sekolah yang menggunakan kurikulum semacam Cambridge/IB atau apa pun yang non kurikulum nasional.

Tapi berbagai SPK seperti misalnya Mutiara Harapan (atau Mentari Bintaro) juga masih memadukan Kurikulum Cambridge dengan kurikulum Nasional. Beberapa pelajaran masih berbasis kurnas.

Mutiara Harapan sendiri kurikulumnya pakai Cambridge dan SUDAH TERSERTIFIKASI. Kalo sudah ada embel-embel sertifikasi, biaya sekolah biasanya auto mahal, yes? Hehehe.

Wah, udah langsung loncat ke kurikulum aje. ALamatnya dulu, Jeeeuuunnngggg :p.

Alamat sekolah :  Jl. Pd. Kacang No.2, Pd. Kacang Tim., Kec. Pd. Aren, Kota Tangerang Selatan, Banten

Mutiara Harapan Islamic School menyediakan jenjang pendidikan dari TK sampai SMA. Komplit, Sis! Hehehe.

Memadukan kurikulum Cambridge (Science, Math, English, Social Studies) dan Kurikulum Nasional (Agama, PKN, dan Bahasa Indonesia).

Bahasa pengantar adalah bahasa Inggris. Untuk tiga pelajaran kurnas, bahasa pengantar adalah bahasa Indonesia. Berbeda dengan Mentari Bintaro yang guru-gurunya banyak dari Filipina, guru di MHIS rata-rata guru dari Indonesia.

Satu angkatan ada 3 kelas. Rata-rata murid 20 – 25 anak. Udah maksimal itu 25 anak per kelas.

Kayaknya sudah saya bahas di tulisan yang ini kalau Mutiara Harapan ini bukan SEKOLAH ISLAM TERPADU. Jadi hafalan alquran enggak terlalu wajib. Tentu di-encourage dan diharapkan lulus SD sudah hafal Juz Amma minimal tapi ENGGAK WAJIB.

Shalat Dhuha di sekolah pun sifatnya sukarela. Enggak wajib dilakukan berjamaah.

Pelajaran agama juga beragam enggak yang cuma sekali seminggu aja. Tapi bukan yang model SIT juga. Agak di tengah-tengah gitu kayaknya ya :D.

Menarik sih :).

Soal ijazah pas lulus SD nanti bisa dapat 2 ijazah (ijazah diknas dan hasil ujian checkpoint Cambridge). Jadi bisa lanjut ke sekolah mana pun tanpa kesulitan.

Kemarin sempet ketemu temen yang anaknya sekolah di Mutiara Harapan. Katanya di Mutiara Harapan ini agak santai jadi enggak terlalu ngejar akademis. Beda sama Mentari Bintaro yang lumayan ngejar akademis.

Perbedaan utama Kurikulum Cambridge dan IB itu terletak pada fokusnya. IB kan katanya fokus ke active learning, pertumbuhan individu, dan tidak terlalu diarahkan kompetitif. Kalau Cambridge nih fokusnya lebih ke nilai akademis.

Walau begitu, Mutiara Harapan nampaknya lebih santai daripada Mentari Bintaro hehehe.

Uang masuknya sekitar 45 juta rupiah. Dengan SPP bulanan 3 juta rupiah. Dan juga tambahan 5 juta rupiah per tahun. Belum termasuk buku dan seragam kayaknya, ya.

Masih lebih murah daripada Mentari Bintaro.

Lumayan buat alternatif bagi yang nyari-nyari sekolah kurikulum Cambridge yang sudah tersertifikasi yang harganya lebih murah daripada Mentari dan Binus Serpong :D.

Semoga informasinya membantu, ya. SEmangat nyari sekolah buat anaaaakkkkk :D. Jangan bosen-bosen survey, yes? 😀

Film Bagus di Netflix untuk Pencinta Superheroes : Serial The Flash dan Supergirl

Kedua serial ini bukan original series dari Netflix, yak :D. Tapi bisa dilihat via Netflix juga. Lumayan ini tontonan buat keluarga. Hati-hati usianya 13+ hehehe. Buat ortu + abege lah ya.

Kalau suami dan anak-anak lumayan suka nonton serial ala-ala Superhero begini. Segala Marvels dan DC Comics kayaknya udah hampir khatam. Yang baru-baru ini ada LOKI dan WandaVision. Bagus-bagus, sih (y).

Saya sendiri ya ngikutin secukupnya. Dibilang doyan ya enggak juga. Dibilang gak suka ya suka juga kadang-kadang hehe. Kalau makan malam bareng pasti pada suka nyalain TV nonton serial beginian, ya udah ikut nonton saja.

Serial THE FLASH

Serial The Flash aslinya mengudara di channel The DW. The Flash diangkat dari buku cerita keluaran DC Comics. Beda “marga” dengan Marvels, yes? :p

So far, untuk serial ini, ada 6 season yang available di Netflix. Serial ini ceritanya cukup seru, banyak loncat-loncatnya, banyak flashback, super dinamis lah pokoknya.

Di channel asalnya, sudah ada 7 season.

Kayaknya biar hemat gaji pemain (hahahaha), jadi dibikin satu aktor/aktris memerankan beberapa peran sekaligus. Ceritanya sih jadi doppelganger dari “dimensi lain”. Biar ceritanya tetep aktif, dimensi lainnya ini dibikin banyak hihihi :p.

Misalnya tokoh Harrison Wells yang paling banyak doppelganger dengan berbagai nama karakter dan sifat. Bahkan pemeran utama si Barry Allen juga punya doppelganger, lengkap dengan istri dan temen-temen lainnya yang juga ada doppelgangernya dari berbagai dimensi. Hadeeehhh :D.

Hemat skenario dan gampang ngembangin cerita? :p

Tiap akhir episode selalu ada kejutan. Apalagi akhir season. Panteslah suami ama anak-anak ini dalam sehari nungguin banget sesi makan malam demi bisa maraton serial ini. Mayanlah bisa dapat 3 episode kali tiap malam.

Serial ini juga memanjakan mata dengan hampir 100% pemerannya tuh yang cantik-cantik, ganteng-ganteng, bodi oke-oke, dari berbagai ras :p. Representasi etnisnya sih lumayan diversified. Cuma ya kenapa dah mesti body goals semua :p, sirik tanda tak mampu hahahaha.

Serial ini berpusat pada tokoh The Flash / Barry Allen (Grant Gustin). Dalam kesehariannya, Barry Allen dibantu oleh Team Flash, yang terdiri dari Cisco, Caitlin, dan beberapa karakter lain yang berganti-ganti. Cisco dan Caitlin ini yang bener-bener eksis dari Season 1 sampai 6 serta Harrison Wells dan aneka rupa doppelgangernya.

Dalam perjalanannya memberantas kejahatan bla bla bla *tsaaahhh*, The Flash ngadepin aneka rupa musuh dan ketemu temen-temen baru. Khas cerita ala Superhero lah. Nothing’s new.

Cuma makin ke sini, tokoh-tokoh superhero digambarkan tidak sempurna-sempurna amat, gak seflawless jaman dulu yang kayaknya perfect 10 banget dari berbagai sisi. Tokoh jahatnya juga lebih reasonable. Enggak yang ujug-ujug jahat banget gitu-gitu.

Makanya cukup menarik untuk disimak. Monggo yang doyan genre beginian, ceki-ceki serial ini di Netflix ;).

Serial SUPERGIRL

Supergirl ceritanya sejenis juga. Sama-sama dari DC Comics. Makanya tokoh Supergirl (dengan pemeran yang sama) muncul di salah satu episode The Flash. Demikian pula sebaliknya, The Flash (pemerannya yang tadi juga) nongol di serial Supergirl.

Yang available di Netflix sampai tulisan ini dipublish, season 1 – 5.

Supergirl alurnya mirip banget dengan Superman. Dalam serial ini memang digambarkan si Supergirl / Kara Danvers / Kara Zor-El (diperankan Melissa Benoist) adalah sepupu dari Superman / Clark Kent.

Nanti karakter Superman juga nongol di beberapa episode serial ini.

Kara juga bekerja di perusahaan media terkemuka. Bedanya hanya di kotanya. Kara di National City, kalau Superman kan di Kota Metropolis.

Tokoh menarik lain di Season 1 adalah Cat Grant, yang diperankan secara ciamik oleh Calista Flockhart. Ring a bell? Iyaaaaaa, pemerannya Ally McBeal di serial dengan nama yang sama. Serial favoritku di masa laluuuuuu :D.

Kalau Ally rada-rada caur dan clumsy walau digambarkan cerdas dan ceplas ceplos, tokoh Cat Grant ini adalah pemilik media yang girl-power abis hehehe. Nyinyir, galak, sombong, perfeksionis, tapi yah berintegritas sangat oke sebagai jurnalis.

Kara, mirip Clark, karakternya juga polos-polos penurut gitu. Sama-sama pakai kacamata. Dan kalok mau ganti kostum ya robek kemeja jugak hahahaha.

Kara bekerja sebagai asistennya Cat yang sering dimaki-maki segala macam gitu-gitulah hingga akhirnya diencourage oleh Cat sendiri naik pangkat jadi reporter :D.

Sehari-harinya selain bekerja di media besar, CatCo, Kara ya menyelamatkan kota dari aneka rupa kejahatan #pijetPundakKara hihihihi. Mirip The Flash lah.

Cuma Kara tim-nya bekerja sama dengan DEO, semacam agen rahasia buat nangkep-nangkepin Alien yang jahat yang nyangkut di bumi. Di DEO juga ada Alex Danvers, kakak perempuan Kara dari foster family-nya di bumi.

Kara ini juga ceritanya diselamatkan oleh ibunya dari planet Krypton saat Krypton hancur. Buat nemenin Kal-El / Superman yang juga dikirim ke bumi.

Tapi Kara stuck dalam kapalnya bertahun-tahun sebelum ditemukan oleh keluarga Danvers. Aslinya sih Kara lebih tua daripada Superman. Tapi pas dese ‘nyangkut’ di kapal, umurnya juga stuck.

Begitu dewasa, Kara juga akhirnya memenuhi panggilan jiwa sebagai superhero gitu-gitu lah.

Sama seperti The Flash, serial Supergirl ini juga memanjakan mata dengan pemeran yang kece-kece dan body goals kabeh :p.

Buat penggemar Grey’s Anatomy, pemeran karakter Lexie Grey muncul juga di serial ini sebagai Alex Danvers, kakak “angkat”nya si Supergirl, eh udah diterangin ya tadi.

Pokoknya kedua serial ini lumayanlah buat tontonan santai. Ceritanya gak rumit-rumit amat. Tapi gak terlalu gampang ditebak juga. So-so lah :D.

Saya tidak terlalu ngefans sih sama serial beginian. Nonton karena nemenin suami ama anak aja biar tetep bisa ngikutin kalo mereka ngobrol :p.

Museum Titanic Belfast : Kenangan atas Tragedi Titanic

Aish, ini sebenernya cerita jalan-jalan hampir 5 tahun yang lalu hahaha. Better late than never. Gini nih, kalok lagi kangen Ireland sibuk bongkar-bongkar foto dan video-video lama.

Barulah tergugah untuk bikin postingannya :p. Dulu sudah pernah saya tulis, sih, soal Titanic ini di tulisan yang ini.

Cuma gak papa diulang lagi untuk versi traveling yang fokus ke jalan-jalan dan seluk beluk tempatnya :D.

Yang mau lihat vlognya, monggo cuuussss :

Titanic Belfast Museum terletak di kota Belfast, ibukota Irlandia Utara. Sekali lagi mohon diingat kalau Irlandia Utara ini adalah bagian dari negara UK. Jadi kalau mau ke sana harus apply visa UK, BUKAN visa Irlandia yaaaaa :D.

Baca Juga : “Pengurusan Visa Irlandia”

Alamat Titanic Belfast :

1 Olympic Way, Queen’s Road, Belfast BT3 9EP, United Kingdom

Titanic Belfast Museum kira-kira berjarak 2.5 km dari Belfast City Center. Kalau jalan kaki, sekitar setengah jam. No worry, di Ireland cuacanya enak banget buat jalan kaki, kok. Gak bakal keringetan parah :D.

Bentuk gedungnya berupa bongkahan es batu gitu. Warnanya juga putih silver. Abu-abu muda dengan efek semacam kaca gitu. Unik ya hehe.

Baca Juga : “Biaya Hidup Tinggal di Irlandia”

Bangunan museum mulai dibangun tahun 2009 dan dibuka untuk umum sejak tahun 2012. Selain membahas soal tragedi Titanic, fokus utama dari Titanic Belfast Museum ini adalah tentang perusahaan (White Star Line), tempat di mana RM Titanic diproduksi.

Kalau sekadar lihat-lihat di lantai bawah, jajan-jajan di kafetaria, atau lihat-lihat ke dalam toko suvenir, gratis saja. Selain itu pekarangan gedung juga lumayan banyak sudut yang lumayan buat foto-foto :D.

Kalau mau masuk sampai ke dalam museum (di lantai 2), family ticket sekitar 43 pounds. Cek lagi ya, saya ke sana kan akhir 2016 hehehe. Tapi biasanya inflasi di yurop enggak gede-gede amat, sih.

Biaya 43 pound sudah termasuk biaya masuk ke SS Nomadic. Kapal ini adalah kapal peninggalan terakhir yang pernah dibuat oleh perusahaan White Star Line.

Di video yang saya share belum ada video tentang SS Nomadic ini. Nanti deh video terpisah :D.

Kami janjian dengan Emil & Maya sekeluarga. Seru, sih. Sebelum masuk ke museum, kami foto-foto dulu di luar, ngobrol sambil cekikikan membahas kegalauan apakah akan bayar tiket masuknya secara lumayan mihil, yes? :p.

Tapi akhirnya ya masuk laaaaah. Udah jauh-jauh dari selatan, masa iya, cuma numpang lewat ye kaaan :D.

Apa saja yang dilihat di dalam museum, here we go (monmaap Gaeess, ini folder fotonya belum nemu, nanti begitu ada langsung tempelin di sini deh ya 😀 #sungkemDulu) :

1- Boomtown Belfast. Sebuah ruangan yang menampilkan suasana di Kota Belfast kala menjadi salah satu pusat industri di Eropa. Di masa-masa inilah Kapal Titanic mulai dibangun oleh perusahaan White Star Line.

2- The Shipyard. Di ruangan ini, para pengunjung diangkut oleh semacam kereta kecil. Kita seolah dibawa berkeliling di tempat konstruksi pembangunan kapal Titanic saat itu.

Tempatnya gelap gitu, cek di video ya. Tapi sebenernya kelihatan beberapa potongan video gimana para pekerja memotong kayu, me-las besi (apa sih ini bahasanya, bener gak? hahaha), ada semacam perapian tiruan lengkap dengan percikan api ala-ala.

3- The Launch. Ditunjukkan gimana saat-saat Titanic diluncurkan pertama kali. Memulai pelayarannya di musim semi tahun 1912. Pas di sini malah terkenang sama pilem Titanic 1998 yang fenomenal itu, malah jadi agak sedih huhuhu.

4- Replika ruangan dalam kapal Titanic. Pas lihat bagian ini lebih sedih lagi. Ada replika kamar-kamar yang dibagi dalam 3 kelas dalam kapal. Bener-bener terkenang scene dalam film saat kapal mulai tenggelam.

Sayup-sayup terdengar suara Celine Dion bersenandung, “Every night in my dream … ”

Karena sibuk jagain anak-anak makanya enggak sampe drama beneran, sih, hahaha. Baru mau sedih, eeehhh udah harus pelototin anak-anak satu-satu yang maunya lari-larian sana sini zzzz -_-.



5- Suasana di pelabuhan saat kapal mulai berlayar ke laut lepas. Seru loh yang ini. Karena kita seolah ada dalam kapal. Tapi ya itu, sediiiiihhhh :'(.

6- Momen tenggelamnya kapal Titanic. Duh, gong banget deh pas di sini. Ada layar besar yang menampilkan lampiran percakapan antara Titanic dan penjaga menara di saat-saat terakhir. Aduuuhhh, kaaaannn, sedih beneran :(.



Dijelasin gimana proses rusaknya kapal dimulai, karena apa, dan proses penyelamatan penumpang.

Siapa saja nama-nama penumpang, Nama arsitek.dan kapten kapal lengkap dengan biografi masing-masing. Juga ada beberapa potongan berita di saat itu terkait tenggelamnya si kapal mewah ini. Info tentang siapa saja yang jadi korban dan siapa saja yang selamat juga ada.

7- Sisa-sisa peninggalan kapal yang ditemukan dan hasil penelitian yang dilakukan oleh tim pencari dan seterusnya. Ada puing-puing kapal yang ditampilkan di layar.



NAH, kira-kira ada 7 bagian dalam museum itu yang bisa kita nikmati. Worth it lah bayar segitu. Menarik banget kok.

Kalau ada kesempatan ke Irlandia Utara, kunjungilah museum kece ini ;).