Cluster Bintaro Sektor 9

Karena sekolah anak-anak jadinya di Bintaro, mulai deh nyari-nyari cluster Bintaro Sektor 9. Pengin yang sedekat mungkin dengan sekolah anak-anak karena emaknya belom lancar nyetir di Indonesia hehehe.

Baca Juga : “Sewa Rumah di Cluster Bintaro Sektor 9”

Tapi kan masih pandemi, anak-anak pasti home based learning. Tetep sih, pengin nyari rumah yang deket sekolahan dulu. Sementara karantina mandiri di apartemen, sibuk searching sekitaran cluster Bintaro Sektor 9.

Ternyata ada buanyaaaakk sekolahan internasional di area Sektor 9 ini. Selain Mentari Bintaro, ada Global Jaya yang letaknya dalam area cluster perumahan Emerald.

Baca Juga : “Daftar dan Review Sekolah Internasional di BIntaro dan Sekitar”

Setelah browsing sana sini, nyatet-nyatet nomor WA sambil wasap an ama agen :D, daftar pencarian cluster Bintaro Sektor 9 yang lumayan deket dari sekolah Mentari mengerucut menjadi :

1- Cluster Permata

Ini salah satu perumahan dari pengelola Bintaro Jaya. Diantara trio Permata-Emerald-Discovery, cluster Permata ini yang paling awal kayaknya.

Gede banget. Masih banyak sub-cluster di dalamnya. Ada cluster Vania, Oriana, dst.

Dibanding Emerald dan Discovery, harganya relatif lebih murah. Tapi terganggu banget dengan fakta di daerah Permata ini sempet kena banjir pas awal tahun 2020 ini. Jadi enggak lama-lama nyari di area sini. Udah jiper duluan gara-gara banjir itu :(.

2- Cluster Emerald

Emerald ini yang paling strategis kayaknya ya. Ada Fresh Market deket banget dari situ. Juga deket dari supermarket Hero. Gramedia juga deket banget.

Di dalamnya ada 5 sub cluster yang punya gerbang masing-masing dan dipagarin sekelilingnya. Jadi enggak nyambung antar sub cluster. Terpisah-pisah.

Emerald ini ada 5 sub-cluster :

a. Emerald Townhouse : rumahnya paling mungil-mungil. Desain ruangannya agak kurang cucok. Saya kurang suka. Last priority dibanding yang lainnya.

b. Emerald Terrace : di sini rumahnya variatif dan kompleksnya agak gedean.

c. Emerald Residence : sub cluster yang ini agak lumayan. Lebih gede-gede juga rumahnya dibanding Emerald Townhouse.

d. Emerald Garden : lokasinya lumayan dekat dari Jalan Boulevard. Kurang muter-muter di sini. Tapi kompleksnya nyaman.

e. Emerald View : ini nih sub cluster paling baru dari Emerald. Makanya rumah-rumahnya masih lumayan kinclong dan kayaknya areanya yang paling luas. Sub cluster ini yang PALING DEKAT dari Jalan Boulevard Bintaro. Persis di belakang Hero.

3- Cluster Discovery

Paling naksir sama yang iniiiiiii :D. Kompleksnya paling hijau diantara yang lain-lain. Sub clusternya banyak bener di Discovery ini dan bagus-bagus semua hihihi.

Dalam area Discovery Residence ada RS Pondok Indah Bintaro. Berhadapan dengan sub cluster Discovery Cielo yang paling depan. Di tengah-tengah ada tamannya. Enak buat jalan-jalan sekeluarga, lari pagi atau jogging sore. Laaaffff <3.

Baca Juga : “Catering Harian Masakan Rumahan Enak dan Murah di Bintaro”

Jalanannya juga khusus. Kalau di Emerald kan jalanan umum. Sub clusternya banyak dan memiliki gerbang sendiri-sendiri juga jadi tidak saling sambung :

a. Discovery Cielo, ini seneng banget deh, tengah-tengahnya ada taman memanjang ampe ke belakang lengkap dengan playground sampai lapangan basket. Rindang banget pula, banyak pohon tinggi-tinggi ^_^.

b. Discovery Terra : bagus juga. Tapi taman tengahnya kecil banget.

c. Discovery Lumina : ini rumahnya gede-gede kayaknya.

d. Discovery Fiore : belum sempat masuk tapi kalau dari luar kayaknya gede-gede juga, beud hehehe.

e. Discovery Conserva : baru lihat dari luar aja. Rumahnya juga kayaknya berukuran lebih besar daripada rata-rata rumah di Discovery Cielo dan Terra.

f. Discovery Serenity : Yang ini gak sempat masuk juga. Nampaknya sih, baguuuuusss.

g. Discovery Aluvia : sub cluster ini masih agak sepi. Termasuk baru juga dibanding yang lain kayaknya.

h. Discovery Amore : Pas ke sini, cuma ada rumah contoh 3 buah. Baru mulai dipasarkan.

4- Cluster Orchid

Suka sama Orchid karena katanya ada fasilitas kolam renang segala buat penghuni kompleks. Tapi belom sempat ke sana. Ini dekat sama Emerald.

5- Puri Bintaro

Ini juga salah satu yang paling luas dan buanyaaaakkk sub clusternya. Macam-macam banget sub clusternya. Tapi gimana yah, kurang sreg. Terlalu heterogen? Hehehehe. Kalau Discovery-Emerald-Permata kayaknya banyak keluarga yang sepantaran kami.

Antar rumah juga udah banyak yang pakai pagar. Kurang sreg sih. Kompleksnya terlalu gede juga. Tapi Puri Bintaro ini termasuk salah satu yang tersohor loh sebagai cluster Bintaro Sektor 9.

6. Kebayoran REsidence

Yang ini muahaaaalll, out of budget hehehehe. Rumah mungil-mungil aja harganya gimana dah :p.

7. Cluster Mateo

Ini deketan sama Puri Bintaro. Mateo ini juga dari pengembang Bintaro Jaya. Rumahnya gak terlalu seragam lagi. Udah banyak yang renovasi sana sini. Udah agak lama juga clusternya. Kayaknya lebih duluan daripada trio Permata-Emerald-Discovery. Cmiiw, ya.

Kurang sreg karena enggak se”nyaman” Discovery Residence hehehe. Takut sih ngelepas anak-anak main sendiri kalau di sini, hmmm….

8. Cluster Matilang

Yang ini juga dari pengembang Bintaro Jaya. Kayaknya mirip dengan Mateo. Belum sempat ke sini sih. Karena lokasinya tidak terlalu strategis (jika ditinjau secara jarak dari sekolah Mentari Bintaro ya).

Sebenarnya masih buanyaaaak lagi daftar cluster Bintaro Sektor 9. Cuma kami sudah harus keluar dari apartemen nih bulan depan. Jadi memang enggak mau memperpanjang daftar. Makin banyak kan makin pusing nanti milihnya hehehe.

Prosedur Karantina-Covid19 dari Luar Negeri di Masa Pandemi 2020

Sesuai dengan aturan terbaru, semua orang yang datang dari luar negeri SEBAIKNYA membawa hasil tes PCR negatif yang masih berlaku (kalau gak salah maksimal 7 hari setelah tes, cmiiw).

Versi vlognya di sini ya:).

Kalau bawa surat keterangan tes PCR negatif, tinggal tunjukkan ke petugas dan bisa langsung melanjutkan perjalanan.

Bagaimana KALAU ENGGAK BAWA?

Karena sayangnya, di banyak negara, tes PCR itu available bagi yang sakit saja. Kalau pun ada harganya sangat mahal.

Yup, it happened to my family hehehe.

Kalau kasusnya begini, maka kita harus melewati proses karantina sambil menjalani tes PCR. Setelah hasil PCR keluar dan negatif baru bisa melanjutkan perjalanan.

Prosedurnya kira-kira begini :

1. Perhatikan saat boarding, ada form yang harus diisi. Bentuknya bisa hardcopy, ada juga yang via aplikasi katanya.

Pengalaman saya, dikasih kertas dan harus diisi sebelum naik pesawat.

2. Tiba di Soetta, turun dari pesawat, semua penumpang harus melakukan registrasi sebelum melewati pintu imigrasi. Isi form lagi. Data-data yang diminta mirip-mirip sama form sebelumnya.

Setelah isi form nanti satu persatu dicek suhu + denyut nadi (atau apalah itu namanya, alatnya ditempelin ke jari tengah gitu-gitu deh).

Lalu menuju loket untuk melakukan rapid test. Pengambilan darah di jari dengan ditusuk pakai jarum kecil. Hasilnya cepet, kok. 5-10 menit, tergantung antrian.

Jangan khawatir, walau pun antrian mungkin panjang, sudah disediakan KURSI-KURSI yang sudah dijejer dengan jarak tertentu yang mengikuti aturan social distancing.

Jadi kalok lama pun enggak pegel berdiri lama-lama. Lebih tenang juga kan kalok bawa anak hehehe. Tiga pulak #eh hahahahaha.

3. Jika rapid test hasilnya negatif segera menuju loket imigrasi terus ambil barang. Menunggu bus untuk menuju tempat karantina.

4. Pilihan karantina ada 2 :

a. Wisma Atlet Pademangan / Kemayoran.

Di sini segala akomodasi gratis. Dapat makan 3x sehari dan snack 2x sehari, total 5x pembagian makanan tiap hari. Tempatnya bersih dan nyaman kok.

Makanan sih enak-enak loh. Beneran. Enak. Hehehe. Tapi porsinya memang tidak banyak. Tiap kamar maksimal 3 orang. Dilengkapi AC walau tidak ada TV dan tidak ada koneksi internet gratisan.

b. Hotel (yang ditunjuk khusus oleh pemerintah)

Kalau memilih hotel, harus bayar sendiri. Tapi makanan 3x sehari disediakan gratis. Makanan dan air mineral selama di hotel juga ditanggung pemerintah.

Makanya, sama kok itu makanannya di hotel dan di wisma hehehehe.

Bedanya, kalau tinggal di hotel TIDAK disediakan snack. Hanya makan 3x sehari. Sisanya ya go food :p. Boleh go food, selama di hotel maupun di wisma.

Kami sekeluarga milih hotel biar lebih nyaman aja karena berlima ini dan pengin sekamar semua.

Dan sungguh kutidak terbayang, gimana caranya menjinakkan tiga anak selama berhari-hari kalo gak ada tipi gak ada internet hahahaha.

Mayoritas masuknya ke Holiday Inn Kemayoran kayaknya. Rincian biaya per orang 700 ribu rupiah/malam/kamar. Setiap penambahan orang di kamar yang sama dikenakan tambahan biaya 75 ribu rupiah/orang/malam/kamar.

Kami berlima dapat satu kamar, kok. Kayaknya udah maksimal ini. Kalau berenam mungkin gak boleh.

5. Walau memilih karantina di hotel, dari bandara, semua penumpang diangkut dengan bus khusus menuju Wisma Atlit. Angkutannya juga gratis. Nanti dari wisma baru dibawa ke hotel.

6. Tiba di wisma, nurunin barang dan angkat barang masing-masing ke ruang tunggu di dalam. Antri + isi form lagiiiiiiiiiii #pijetkening.

Again, no worry. Selalu disedikan kursi yang sudah diatur berjarak.

Di sini dijelasin soal prosedur karantina dan tes PCR / swab. Biasanya tes PCR itu dimulai jam 8 pagi setiap hari. Karena kami waktu itu tiba di wisma sudah jam 10 pagi, maka tesnya ikut batch besok harinya.

Setelah registrasi (lagi) dan dicek satu-satu oleh petugas, bagi yang memilih karantina di wisma segera dibagikan kamar. Yang mau ke hotel, menunggu bus jemputan dari hotel.

7. Tiba di hotel? Registrasi lagiiiiiii. Gusti Allah hahahaha. Data yang diminta itu-itu juga.

Jiwa IT ku langsung memberontak. Ini gimanaaaa gak dikomputerisasi aja biar cuma ngisi sekali.

Namun bisa dipahami. Prosedurnya memang mendadak dan dinamis jadi mungkin sulit di-automasi. Butuh proses yang cepat. Birokrasi kita agak repot. Nanti kalau penunjukan langsung untuk proyek ini, netijen pada ngamuk lagi nuduh macam-macam.

Kalo kudu tender lagi ya mana sempet. Jadi sabar aja ngisi segabruk form hehehehe.

8. Selama karantina, resmi jadi ODP (orang dalam pengawasan). Gak boleh keluar-keluar kamar. Jadi segala-gala dianterin ke kamar. Go food pun tinggal mencet, tau-tau udah nongol pesanan depan pintu kamar.

Boleh kabur? Boleeeeeh, kalau bisa melewati para tentara yang berjaga di pintu hotel hahahaha :p. Selain nakes, petugas juga ada yang dari TNI. Tapi ramah-ramah semua kok.

Paling galak dikit kalau ada yang enggak mau antri atau disuruh duduk malah berdiri rame-rame gitu-gitulah.

9. Besoknya tes PCR. Tes PCR gratis buat semua peserta (baik yang menginap di wisma maupun hotel).

For info, tes PCR di negara-negara Eropa umumnya berkisar 200-250 euro. Di UK, 200 pounds. Di Irlandia malah tidak boleh tes PCR sama sekali kalau enggak sakit walau bersedia membayar.

Kalau peserta tes di hari itu melebihi 50 orang di hotel yang sama, maka tes langsung dilakukan di hotel. Tapi kalau jumlah peserta lebih sedikit, diangkut lagi ke wisma pakai bus.

Sudah ada petugas yang mengatur semua. Kita tinggal tunggu instruksi.

10. Di wisma, tes PCR digabung dengan peserta yang karantina di wisma. Tapi antriannya dipisah. Jadi kalau peserta dari hotel diprioritaskan jadi cepet aja prosesnya.

Kira-kira waktu itu, peserta hotel sekitar 36 orang, dari wisma bisa ratusan (malah lebih dari 1000 apa ya).

11. Swab test sakit gak? Jujur ya, sakiiiiitttt huhuhu. Tapi prosesnya sebentar banget kok. Anak saya yang kedua menangis parah hahaha. Anak bungsu masih di bawah 5 tahun jadi tidak perlu swab, hanya mengulang rapid test saja.

12. Setelah swab test balik ke hotel lagi. Kembali menjalani karantina sampai hasil tes keluar.

Umumnya hasil tes diterima 2-5 hari. Teman saya ada yang cuma 2 hari. Ada juga yang 3-4 hari.

13. Hasil tes negatif akan diberikan semacam clearance letter untuk ditunjukkan saat check out dan ke petugas di pintu hotel. Kalau hasil tes positif katanya akan dijemput dan dibawa ke wisma untuk karantina khusus, cmiiw.

Apresiasi luar biasa buat pemerintah (baik pemerintah pusat dan pemerintah provinsi dan semuanya pokoknya) yang menyediakan fasilitas gratis dan nyaman untuk para ODP dari luar negeri.

Sudah banyak yang share kok pengalaman karantina di wisma Atlit. Makin ke sini prosesnya makin membaik (y). Secara umum prosesnya juga udah teratur banget. Seneng, deh. Antri nyaman karena duduk terus.

Pokoknya kalau karantina di wisma, enggak keluar biaya sepeser pun, kecuali buat go food atau beli pulsa internet hehehe. Di Singapura bayar dewe-dewe loh :p.

Penghargaan sebesar-besarnya buat para petugas yang memberi arahan, tentara yang berjaga, nakes yang sepanjang tugas pakai APD lengkap berjam-jam.

Yang jutek ya mungkin karena capek. Lumayan kan ngurusin ribuan orang tiap hari apalagi penerbangan udah hampir buka semua. Lebih kurangnya bisa ditolerir.

Demikian kira-kira prosesnya ya teman-teman. Semoga membantu. Buat teman-teman sesama repatriasi, selamat datang kembali di tanah air πŸ₯°πŸ™πŸ’ͺ.

Eid Mubarak 1441 H, Juni 2020

Last Lebaran di Tanah Rantau?

Hehehe Lebarannya dah lewat kapan, vlognya baru nongol hahahaha. Sibuk packing Gaeeeessss :D.

Lebarin kemarin ya samalah dengan yang lain-lain di masa pandemi ini. Shalat Eid di rumah rame-rame. Malamnya sempat takbiran tapi sambil ngantuk-ngantuk soalnya udah kemaleman.

Masak-masaknya juga standar saja. Rendang, Coto Makassar, sama Gulai Udang Tahu. Anak-anak saya doyan masakan Indonesia semua sih jadi gak harus dadar-dadar telur atau bikin nugget hehehe.

Jangan nanya burasnya manaaaaa, gue gak bisa bikin burasa hahahahaha. Bikin lontong yang biasanya bikin pakai rice cooker juga males. Nasi putih aja udah :p.

Habis makan, ke luar berdua suami, hiking berdua.

Bandel ya ninggalin anak-anak di rumah hihihihi. Soalnya mereka pasti rewel. Sebel. Ini emak beneran mau hiking biar lemak-lemak cotonya luntur.

Sorean dikit baru ngangkut anak-anak pakai mobil ke Coosan Point, tepian sungai Shannon tempat nongkrong paling hits di dusun ini :p.

Fase 1 lockdown relaxation memang sudah dimulai sejak 18 Mei 2020. Tapi kan masih puasa. Jadi baru bisa beredar setelah Ramadannya lewat.

Ish, ish, udah ada yang BBQ an aja. Ruameeeee. Padahal tadinya mau hiking di tamannya. AKhirnya kami ke dermaga aja.

smartcapture

Sepiiiii di dermaga. Biasanya banyak kapal-kapal kecil berlabuh, kemarin enggak ada sama sekali. Setelah pecicilan di dermaga langsung pulang. Tapi #boy2 dan #boy3 ternyata tidoooorrr.

Oya,versi vlognya di sini yak ;).

Jadilah keliling-keliling bentar, obat kangen udah lama gak muter-muter, sekalian “say goodbye” sama beberapa tempat yang sengaja kita lewatin.

Mulai dari stadion tempat #Boy1 dulu ikut pertandingan sepakbola pas masih kelas 1 SD hihihihi. Ke gelanggang olahraga tempat anak-anak les renang.

Ngelewatin lokasi apartemen kami yang lama sebelum pindah ke Texas. Ke Primary Care, tempat anak-anak kontrol kesehatan dan tempat saya meriksain kandungan dulu. Duh, baper hehehehe.

Pas ngelewati Grace Road jadi terbayang-bayang dulu bolak balik dorong-dorong stroller dari era #boy2 sampai #boy3. Ngomel pas salju turun dan tetep misuh-misuh kalok kebetulan summernya panas hahahaha.

Sedih ini harus pergi di masa pandemi. Harusnya mau jalan-jalan ke Cork, mau nginep di pantai-pantai kece di Donnegal, dan pengin sekali lagi muterin Ring of Kerry.

Belum lagi muter-muter di Cavan, masih banyak tempat yang lom didatengin. Ngapain aja dah 7 tahun di pulau mungil ini, kok bisa ada yang belum didatengin :p.

Mungkin di lain kesempatan nanti. Aamiin. Until we meet again, Athlone πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ™.

Racism, Riot, Covid 19 in USA

Sejak menyaksikan dengan mata kepala sendiri tindakan-tindakan rasis terhadap ras Afrika di US, suami saya rajin banget nonton-nonton video youtube soal rasisme di US ini.

Padahal pas kami tinggal di sana, tahun 2017, yang heboh itu soal pernyataan Trump terkait negara-negara muslim.

Foto : theguardian.com (fotografer, Yuri Gripas/Reuters)

Tapi tidak ada setetes pun, ini udah level tetes loh ya hehehehe, tindakan rasis yang pernah saya dapatkan terkait kerudung yang nempel di kepala waktu tinggal di Texas.

Biasa banget mereka sama minoritas muslim. Kalo pun ada yang heboh-heboh, biasanya bukan ke personal. Tapi dalam bentuk demo terbuka (enggak nyerang individu) gitu-gitu lah.

Biasanya juga bangunan/komunitas muslim dijaga oleh polisi jadi aman lah walau dikepung demo segala macam.

Tapi beda banget dengan perlakuan terhadap ras Afrika :(. Walau pun yang bersangkutan sebenarnya sudah turun temurun tinggal di wilayah US bahkan sudah menjadi warga negara Amerika Serikat.

Entah sudah berapa video yang ditunjukin suami ke saya. Misalnya penggunaan kolam renang di kompleks perumahan. Sering sekali warga ras Afrika dimintain ID macam-macam padahal mereka jelas-jelas punya akses masuk yang resmi.

Di gedung apartemen juga sama. Apalagi kalau apartemen mewah, begitu ada penghuni ras Afrika pasti dicurigai macam-macam. Seringnya sampai panggil polisi segala loh. Lucu banget kan :(.

George Floyd, warga negara US yang berdomisili di Kota Minneapolis (Minnesota), ditahan oleh seorang polisi, Derek Chauvin setelah ada laporan bahwa Floyd berusaha menggunakan cek palsu (senilai 20 dolar) untuk melakukan transaksi. Bukan kejadian luar biasa.

Yang luar biasa adalah cara Chauvin menahan Floyd. Floyd sudah terjatuh, ibaratnya sudah tidak bisa melawan, tapi tengkuknya ditekan oleh Chauvin sampai Floyd meminta ampun tapi tidak juga dilepaskan hingga akhirnya Floyd meninggal di tempat.

Videonya banyak di Youtube.

Chauvin berdalih Floyd melawan tapi CCTV dan video-video rekaman dari orang-orang yang kebetulan melintas di tempat kejadian mematahkan pembelaan dari Chauvin.

For the record, kejadian model begini bukan pertama kali di US :(. Biasanya pun polisinya memang dipecat doang tanpa ada tuntutan apa-apa.

Hanya saja mungkin pengaruh instabilitas sosial ekonomi terkait pandemi berkepanjangan yang memukul sendi perekonomian banyak kalangan di berbagai penjuru negeri membuat demo-demo menjalar ke mana-mana dan berakhir RUSUH :(.

Kerusuhan di US terkait kasus George Floyd (gambar : BBC.com)

Karena kerusuhan inilah akhirnya si polisi yang udah dipecat itu dikenai tuntutan hukum. Kalok gak ada demo-demo ya udah, lolos aja pasti dia.
Rasisme di US terhadap ras Afrika bukan kejadian yang dilebih-lebihkan. Cari saja video-video rekaman bebas di Youtube, buanyak bangeeeeetttt πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯.

Jangan salah. Eropa juga rasis. Cuma lebih ‘merata’ rasisnya hihihihi. Hanya saja, sistem hukum dan perundang-undangan jauh lebih adil.

Bayangin di US tuh, pelaku rasisme adalah aparat/institusi yang seharusnya menjadi bagian dari penegakan hukum yang menjamin persamaan hak bagi semua warga negara.

Gambar : Sputnik News

Kalau rasisme di level kehidupan sehari-hari di mana-mana memang ada. Tapi kalau sampai melibatkan penegak hukum, gimana lagi kita bisa memperjuangkan keadilan?

Eropa ini pada dasarnya lebih homogen. Belum terbiasa lihat banyak ‘warna’. Apalagi Irlandia. Berbeda dengan Amerika Serikat yang proses pendiriannya melibatkan banyak ras dengan jargon andalan, “Land of Freedom.”

Di US ini orang-orangnya jauh lebih heterogen. Kaget juga saya pas tinggal di Texas, lagi ngantri kasir aja udah berasa kayak di Indonesia.

Orang ngobrol ngalor ngidul sama siapa saja. Kasirnya bawel, yang antri juga sibuk ngerumpi satu sama lain padahal baru kenal di situ. Saya sering banget diajak ngobrol dengan ramah ditanyain macam-macam ama bule di US.

Diajak becanda pula loh hihihihi. Nanya umur, nanya negara asal pun pernah hahaha. Sesuatu yang sangat-sangat tabu di Eropa :p.

Tapi ke ras Afrika bisa ribet begitu hubungannya :(. Setelah Obama jadi presiden pun, entah bisa berkurang atau enggak kadarnya. Apalagi setelah era Trump. Makin gak ada harapan jangan-jangan ya :(.

Ketegangan dengan pendatang latin juga pernah dipicu oleh pidato Trump. Tapi yang ini jelas karena masalah lapangan pekerjaan yang banyak diserbu imigran dari Mexico misalnya. Ada motif ekonominya.

Kalau ke ras Afrika sesuatu yang lebih personal gitu ya kayaknya. Sesuatu yang belum pernah tuntas sejak era perbudakan yang dihapuskan lebih dari satu abad yang lalu :(.

Dalam kondisi biasa mungkin bisa-bisa saja diredam. Cuma sekarang US menghadapi situasi yang cukup sulit. Pemerintahan negara bagian vs pusat saja sempat eyel-eyelan soal keputusan lockdown.

Fasilitas kesehatan US yang dikenal sangat-sangat mahal dan kebanyakan mengandalkan swasta :(. US juga mengenal kesenjangan ekonomi yang sangat curam antara yang kaya dan yang miskin.

Terbayang kan bebannya masyarakat kelas bawah di sana yang penghasilannya terenggut habis-habisan kalau sampai ada lockdown? Boro-boro ada subsidi.

Rumit memang dunia ini.

Di Indonesia ada pula fasilitas kesehatan selevel BPJS yang mahasakti semua-mua-mua ditanggung gratis tapi pada ogah bayar iuran yang dianggap terlalu mahal.

Di Eropa mungkin sistem kesehatan jaminannya lebih bagus tapi terbayang tidak setengah matinya pemimpin-pemimpin Uni Eropa mengatur napas nalangin subsidi orang sekian banyak ini di masa lockdown pandemi?

Pikirin jangka panjangnya. Jangan mikir enaknya doang dapat subsidi. Jangan kagum-kagum gak jelas sama Eropa yang sukses lockdown. Kurvanya sih melandai tapi wallahualam sama kas negara yang ikutan terjun bebas πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ.

Mereka hidup dari pajak, pajak, dan pajak. Yang diandalkan bayar pajak pun sekarang malah dapat sangu dapat pemerintah.

Terus masih juga mau banding-bandingin penanganan pandemi di berbagai negara? Masih merasa ini konspirasi ngana ngunu?

Kebanyakan nonton video-video prank di Youtube sih. Mbok sekali-sekali yang ditonton kehidupan nyata gitu loh :D.

Sungguh cobaan besar menjadi pemimpin negeri-negeri raksasa di dunia. Tapi kok ya saban Pilpres pada rebutan cakar-cakaran pengin menang πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ.

Semoga para pengambil keputusan di seluruh penjuru dunia diberi ketegaran berlipat ganda menghadapi masa-masa sulit di era pandemi ini.

Termasuk dilimpahkan kesabaran untuk menghadapi rakyat yang lagi seneng ngomel-ngomel di mana-mana. Memang situasinya lagi berat banget buat semuanya.

Sabar ya Bapak dan Ibu Presiden/Perdana Menteri, Raja dan Ratu sekalian. Memang sudah tugas kalian membawa kita semua keluar dari kemelut ini dengan aman dan nyaman.

Sesuatu yang harusnya sudah kalian sadari betul sebelum memutuskan meretas jalan menjadi orang nomor satu.

Nelson Mandela :
β€œIt is better to lead from behind and to put others in front, especially when you celebrate victory when nice things occur. You take the front line when there is danger. Then people will appreciate your leadership.”


Ireland – Lockdown Relaxation – Phase 1 : Akhirnya Ngumpul Lagi ^_^

Sejak 18 Mei 2020, proses relaksasi (dari masa lockdown) tahap 1 sudah dimulai di Republik Irlandia.

Apa saja perubahannya?

Gambarannya kira-kira bisa dilihat via gambar di sini :

1. Sudah boleh berkumpul (outdoor) maksimal 4 orang di lokasi berjarak max. 5 km dari kediaman masing-masing.

2. Sekolah dan universitas sudah dibuka untuk staf, pengajar (guru/dosen) , dan petugas kebersihan saja. Mereka boleh masuk untuk mengkoordinasikan kegiatan belajar mengajar tetapi murid dan mahasiswa tetap libur.

3. Pekerja yang aktivitasnya outdoor sudah boleh bekerja kembali. Misalnya pekerja konstruksi dll. Toko-toko yang berhubungan dengan farming/gardening sudah boleh beroperasi kembali.

4. Bengkel dan segala toko yang menyediakan jasa reparasi apa pun sudah boleh dibuka seperti biasa. Dengan catatan harus menerapkan social distancing.

5. Tempat wisata outdoor (pantai, hiking spaces, playground, etc) boleh dibuka ASALKAN mampu menerapkan dan mengawasi pemberlakuan social distancing.

6. Pemakaian masker hanya REKOMENDASI bukan MANDATORY. Makanya hampir gak ada yang pakai masker di siniΒ πŸ˜…πŸ™ˆ. Tapi saya tetep pake, kok. Pas foto aja dilepas. Abis foto ya dipakai lagiΒ πŸ‘Œ.

Masalahnya nih, cuaca memasuki musim panas begini lagi asoy-asoynya. Makanya taman-taman dan tempat hiking ruameeeeeee πŸ˜πŸ˜.

Phase 1 pun udah berasa hampir normal.

Kemarin kami coba jalan ke area Coosan Point, salah satu spot piknik utama di kota ini. Ada yang BBQ an rame-rame cobak πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…πŸ™ˆ. Harusnya gak boleh.

Terpaksa muter ke daerah dermaga yang lebih sepi.

Polisi juga gak berdaya. Ya mau gimana, summer tuh memang paling di nanti-nanti buat piknik. Karena cuaca cerah tuh kondisi langka di Ireland.

Tadi aja pas nyetir mau ketemuan teman-teman di semacam outdoor cafe, jalanan rame boooo. Cuaca cerah jadi pada gatel mau ke luar hehehe.

Untungnya ini cuma kota kecil jadi serame-ramenya ya tetep aja ‘sepi’Β πŸ˜….

Social distancing juga lebih mudah karena antrian juga gak pernah panjang-panjang amat (penduduknya cuma secuil hahahaha) dan pembawaan orang sini yang memang beda budaya sama “sifat Asia” kita yang lebih ‘cuwawa’ πŸ˜œπŸ˜…πŸ™.

“Menjaga jarak” dengan orang lain kan udah sifat dasar orang sini. Kecuali sama teman yang bener-bener dekat ya mereka merubung jugak πŸ˜.

Kemarin video call sama teman di Spanyol dan ngobrolin tabiat orang Spanyol yang mirip Italia. Kalo ketemu pelukan heboh dan suka tinggal rame-rame, suka kumpul-kumpul dan pesta.

Memang penanganan dan strategi menjalani masa pandemi ini enggak bisa dibikin seragam di semua negeri. Harus memperhatikan tabiat dan kebiasaan/budaya setempat.

Senengnya bisa ngumpul dan ngerumpi lagi 😍😍😍. Walau lumayan galau lihat kondisi yang udah mirip sama kondisi normal sebelum Covid 19 menyapaΒ πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ.

Ngumpul-ngumpul di SPAR, semacam swalayan yang sebenarnya enggak terlalu gede. Tapi SPAR yang di lokasi ini berseberangan sama tempat hiking yang selalu rame itu.

Jadi deh parkirannya lumayan banyak dan ada meja-meja dan tempat duduk outdoor buat nongkrong sambil ngopi. Bumil beli eskrim gitu. Terus yang lain pada ikutan.

Saya udah kenyang, euy. Jadilah akhirnya kita hiking tipis-tipis di sekitaran old railway di sana. Cuma 15 menit kayaknya. Itu juga heboh ngobrolnya hahahahaha.

Enggak bisa lama-lama takut si Eneng Scandy keburu brojol :p.

Mbak Katerina sekalian pulang pas kita hiking itu. Jalur pulangnya jadi beda gitu. Sementara Nina ikut balik ke depan SPAR. Sempat ngobrol dikit nungguin Nina dijemput sama suaminya.

Lumayan seneng deh, biasanya kami kumpul-kumpul hampir tiap minggu boooooo. Covid 19 bikin jadwal ngerumpi jadi molor ampe 3 bulan hehehehe.