Film Dokumenter Netflix : MINIMALISM, Living a Meaningful Life

Tadinya nonton film dokumenter Netflix yang ‘Tiny House Nation’ terus dilanjutin sama MINIMALISM ini. Mungkin di masa pandemi ini dimana ruang gerak cukup terbatas, lebih mudah menghayati tayangan dokumenter model begini?

Give them a try ;).

Joshua dan Ryan, yang tinggal di US, menulis buku “Minimalism : Live a Meaningful Life”. Menceritakan pengalaman mereka melepaskan diri dari godaan dunia dan mengejar kebahagiaan sejati.

Mereka merasa sukses melepaskan diri dan jebakan ‘The American Dream’.

film dokumenter Netflix

Again and again, US ini memang buedaaaaaaaaa banget sama yurop secara umum. Tentu saja KESENJANGAN EKONOMI salah satu faktor utama kenapa orang-orang di US kok keliatannya lebih gragas soal barang-barang ketimbang orang-orang di yurop hehehe. Timur Tengah juga mirip, sih :p.

Percayalah, LINGKUNGAN itu pengaruhnya besaaarrrr. Cukup terasa kesulitannya hidup di Jeddah dulu kalau kita penampilannya dekil. Here’s the story about that hihihihi.

Di US tidak segini-gininya sih. Tapi secara sosial sehari-hari ya pasti terasa. Makanya tuh di US sampai ada yang namanya credit-score. Aneh banget. Makin sering kita nyicil, makin bagus skor kita. Kalau gak salah, kalau gak pernah kredit malah susah dapat pinjaman dari bank. Nah loh :p.

Kalok di yurop, like I always said, kesenjangan tidak terlalu timpang. Kasarnya, kehidupan ekonomi hampir semua kalangan tuh mirip-mirip. Walau yah, karena kredit, banyak yang tergoda juga pengin ini pengin itu banyak sekaliiiiii :p.

Kita mungkin sebenarnya sadar kita tidak terlalu butuh tinggal di rumah gede misalnya. Tapi ya itu, tekanan lingkungan sukar dilawan. Namanya makhluk sosial ye kan.

Teman-teman nyicil rumah segede gaban, kok ya gelisah sendiri. Awkward juga kan kalo bikin acara terus ketempatan giliran terus rumah kita ‘beda sendiri’? Sekali dua kali bisa kuat. Kalau berkali-kali ya baper juga, Sis!

Makanya kadang standar kebahagiaan itu sesimpel –> diterima dalam pergaulan / mendapat pengakuan.

Ini sudah banyak pengalaman dari usia sekolah kok, ya.

Dulu sempat becanda-becanda sama teman di sekolah, how we wish to have a rich boyfriend biar bisa upgrade penampilan dan masuk geng anak gaul hahahaha. Apa ini, apa iniiiii, kecil-kecil udah “mental sugar daddy” 🀣🀣🀣.

Pukulan cukup berat dulu itu, one of my biggest crush (kakak kelas) yang ujug-ujug jadian sama anak perempuan kece-gaul-tajir. Sumpah, sakit hati maksimal! Hahaha.

Nah, sama seperti Joshua dan Ryan yang latar belakangnya ‘keluarga susah’, kadang terjebak hidup materialistis itu salah satu cara balas dendam terhadap masa lalu?

Kita mengejar kebahagiaan dengan mengoleksi hal-hal yang dulu tak bisa kita jangkau. Harta benda misalnya. Makin klop dengan desakan lingkungan tadi.

Misalnya dendam dulu dicuekin karena dekil. Berbekal rasa sakit hati itulah jadinya bertekad kalok punya duit mau tampil sekeren mungkin. Dengan begitu kita jadi merasa lebih bahagia?

It is so wrong :(.

Ternyata, rumusnya enggak gitu. Jangan sampai kita menyandarkan tujuan hidup pada dinding yang salah.

Karena kalau keinginan bersifat materi yang terus-terusan kita ikuti, tidak akan ada habisnya. On and on and on … kayak minum yang manis-manis, boro-boro menghilangkan haus, yang ada malah makin craving, kan? Lah kenapa jadi ceramah pola makan sehat ini lama-lama hahahahaha.

In the end –> “The things you own , end up owning you” – Tyler Durdan

Kedua penulis the minimalist ini mau ngasih tahu kalau kita bisa punya standar kebahagiaan kita sendiri. Dan itu jangan sampai dipengaruhi oleh sesuatu di luar sana yang sukar kita kendalikan (pendapat orang, pertemanan, dsb dsb).

But again, melawan tekanan lingkungan itu perlu kerja keras dan kegigihan luar biasa. Ada baiknya juga, birokrasi harus melibatkan diri. Itulah kenapa di Eropa secara umum lebih “merata” ketimbang di US.

Ada peran pemerintah yang cukup signifikan.

Di film ini disebut betapa iklan dan berbagai tayangan informasi punya peranan besar dalam menentukan gaya hidup banyak orang. Tapi di situlah lingkaran setannya.

Perputaran ekonomi secara umum sangat ditunjang oleh perputaran uang dan barang. Kalok semua jadi minimalist ya mentok kreativitas / perekonomian dunia πŸ˜….

Begitulah mengapa manusia tidak diciptakan seragam. Ironis, ya 😊.

Makanya kehidupan manusia itu kompleks, enggak bisa tiba-tiba dibikin simpel gitu aja.

Tapi saya selalu percaya,

The best feeling in the world is realizing that you’re perfectly happy without the thing you thought you needed” – marxie

Letakkan dunia di tanganmu, bukan di hatimu. Selamat menonton! πŸ₯°

MEMORIES


Sudah mulai final packing.

Ini nih salah satu perbedaan utama saya vs suami urusan beginian. Dese tipe yang sebisa mungkin menyimpan semua benda-benda yang mengandung unsur-unsur “kenangan” hehehe.

Ya kalok gitu sih, semua juga ada kenangannya.

Sementara saya tipe “udah gak kepake ya dibuang”. Termasuk segala coretan-coretan, gambar-gambar, prakarya anak-anak di sekolah atau di rumah.

Dulu, sebelum era Roblox (hahahaha), sering juga bikin prakarya sama anak-anak di rumah, nyontek dari Youtube. Kalau sudah selesai, saya potret, then I let them played with it for a while. Kalo sudah pada lupa ya saya buang :p.

Paling males numpuk-numpuk barang. Termasuk buku. Kalau tipe-tipe buku yang sekali baca udah cukup, setelahnya saya berikan ke orang lain. Yang penting udah direview :D.

Kecuali yang “timeless” dan harganya agak lumayan macam buku-bukunya Karen Armstrong tetep saya angkut ke mana pun pergi.

Teman-teman ada yang nanya berapa tuh ongkos kirim barang dari Irlandia ke Indonesia. Secara udah 7 tahun tinggal di sini. Wah, barang saya nanti paling sekitar 5 koper, itu sudah semuanya hahaha.

Bulan Januari kemarin pas suami pulang ke Jakarta juga sudah bawa 2 koper besar. Total 7 koper berarti (dan sebagian cuma koper kecil hehehe).

Di Irlandia, kami tinggal di apartemen fully furnished. Daku tipe emak-emak praktis. Pakai yang ada saja.

Tapi peralatan dapur pasti kurang banget lah secara orang bule segala-gala tinggal masuk oven, beres, hihihihi. Selama merantau, saya paling doyan beli-beli perkakas di charity shop, toko barang bekas hehehe.

Wah, orang bule barang bekasnya pun bagus-bagus. Terutama pas tinggal di Texas, widiiiihhh, sering banget beli barang yang MASIH ADA label harganya di charity shop mana pun.

Waktu di Jeddah, apartemen kosong, lebih cuek lagi hahaha. Apartemen kami lumayan luas di Jeddah tapi ruang tamu segede itu isinya cuma satu sofa mungil. Biar anak-anak bebas guling-gulingan ye kaaaannn :D.

Kalo misalnya temen satu gedung ngadain acara. Nanti kalau pada mau shalat berjamaah tinggal ke apartemen saya saja. Istilahnya AULA –> karena tempatnya luas tapi isinya gak ada hahahaha.

Bayangin dulu temen ada yang kirim barang sampai ratusan kilo pas pindahan dari Jeddah. Sementara saya bingung mau bawa apaan. Peralatan makan beli plastikan semua di Khaled Bawazir yang super murah itu hahahahaha. Jarang masak. Di Jeddah jajanan murah beud. Ngapain capek-capek.

Nah, pas di Irlandia baru kepepet harus masak. Tapi saya ni, misalnya harus beli food processor dll, patokan saya selalu HARGA. Sebisa mungkin beli paling murah hihihi. Blender dll juga gitu.Tapi awet loh. Yaaayyyy!

Murah meriah, blender dan rice cooker, masing-masing harganya cuma 17 euro dan 19 euro, setia menemani saya bikin bakso, somay, segala rupa selama bertahun-tahun <3.

Memasak itu perkara niat. Saya males beli mixer tapi bolak balik bikin cake dan kue kering. Enak-enak aja kok hihihi. Lagian kan memang bukan buat dijual, buat konsumsi sendiri aja. Yang penting anak-anak dan suami doyan. Selesai ;).

Begitu saatnya pindah, dibuang juga enggak apa-apa. Itu juga saya sudah merasa untung barang harga segitu awet sampai tahunan.

Saya segan menawarkan barang-barang bekas ke teman-teman di sini. Takut tersinggung. Rata-rata mereka barang dapurnya berkelas semua. Enggak kayak gue, yang segala ceret, wajan, vas bunga, belinya di toko barang bekas 🀣🀣🀣🀣.

Tapi di US dan yurop ini charity shop juga ada kelas-kelasnya. Ada charity shop yang hanya menjual barang bermerek dengan kondisi minimal 80%. Nah, saya kalo beli sepatu sama jaket anak-anak di toko iniiiiiiiii πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚.

Di charity shop, barang anak-anak itu buanyaaaakkk yang bagus-bagus. Masih kayak baru. Termasuk mainan ^_^.

Apa karena efek tinggal di luar negeri, tidak pernah punya visi misi menetap, dan sering pindah-pindah?

Tapi kayaknya pas tinggal di Jakarta pun, baik semasa ngekos maupun setelah menikah dan punya rumah sendiri, saya anaknya males hahahaha.

Mungkin sudah jadi gaya hidup, enggak mau diribetin sama barang-barang.

Makanya kalok ditanyain repot ndak sih Mbak sering pindah-pindah? Enggak sama sekali :D.

Ya salah satunya karena balik lagi. Selain memang beli-beli barang itu sangat seperlunya, saya enggak pernah segan buang-buangin barang kalau sudah tidak dipakai.

Tapi kan banyak memorinya?

Waktu rumah ortu dijual dulu dan kami terpaksa tinggalnya mencar-mencar pindah ke rumah kerabat, banyak barang saya buang karena takut baper hehehe. Foto-foto pun enggak mau bawa. Takut sedih. Diari-diari saja yang saya bawa.

Tempat terbaik dan paling kekal buat semua dari masa-masa yang sudah lewat memang bukan di kertas atau selembar foto. Tapi DALAM INGATAN atau dalam hati. For those, you’re never be able to forget.

Makanya ndak perlu dikerumunin barang-barang kalau tujuannya hanya untuk mengabadikan memori ;).

As some said, “Memories are timeless treasures of the heart” πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°.

Video hanya pemanis πŸ™„πŸ˜πŸ˜….

“BABAK BARU” Episode Covid 19 di EROPA BARAT


Sejak April kemarin, beberapa negara Eropa mulai merevisi “kebijakan lockdown” di negara masing-masing. At least, sudah mulai sounding kalau lockdown akan dilepas secara bertahap.

Langkah yang sama juga diambil oleh Italia dan Perancis yang dikenal cukup “parah” imbasnya (dari segi jumlah korban positif) akibat penyebaran virus Covid 19 ini.

Jujur sih, saya tidak 100% yakin virus ini sudah “tertangani”. Betul kalau kurva mulai melandai. Tapi detail penanganan virus sebenarnya tidak pernah dibuka benar-benar oleh pemerintah.

Contoh di Republik Irlandia ini, nih.

Rasanya baru 2 minggu belakangan, pemerintah gencar menggembar-gemborkan kalau sudah banyak pasien yang sembuh. Tadinya data yang sembuh nampak ‘stuck’. Jarang di-update. Terus ujug-ujug banyak berita soal pasien yang sembuh bla bla bla dst dst dst.

Feeling saya, mungkin ini salah satu upaya untuk membangkitkan semangat orang-orang agar siap kalau “lockdown” akhirnya dibuka. Tapi enggak usah digituin juga, orang-orang udah pada gatel kakinya pengin ke luar hahahahaha.

Alasan utama lainnya apalagi kalau bukan mikirin RODA PEREKONOMIAN ye kaaaaannn ;).

Ingat loh, lockdown in Europe came with super high budget. Karena pengangguran diongkosi oleh pemerintah. Dibayarin gajinya selama tidak bekerja. Sementara pemerintah sendiri uangnya dari mana? Jatuh dari langit? 😝😝😝.

Pemasukan utama dari PAJAK. Gimana mau narikin pajak, ada juga tekor bayarin gaji orang-orang.

Jadi memang tujuan lockdown itu BUKAN UNTUK MENGUSIR VIRUS. Tapi pandemi ini hal yang baru untuk SEMUA NEGARA. Makanya kalau ditanya, apakah lockdown jalan terbaik? Ya lom tentu jugak ;).

Negara Eropa punya sistem kesehatan ala “welfare state” di mana pemerintah memberikan jaminan kesehatan yang hampir setara untuk semua masyarakat. Kesenjangan penghasilan di Eropa Barat ini jauh lebih rendah daripada negara-negara Asia pada umumya.

Upaya lockdown ini untuk mengerem jangan sampai terlalu banyak orang yang kritis dalam waktu bersamaan sehingga tenaga medis kewalahan dsb.
Sekaligus “buying time” buat para tenaga medis dll untuk mempelajari soal virus dan “menemukan ritme” penanganan yang tepat.

Asal tahu saja, di Irlandia sendiri yang jumlah tesnya bisa dibilang lumayan banget, TIDAK SEMUA yang kena Covid 19 dirawat. Boro-boro, dites juga enggak.

Dari beberapa kasus yang saya tahu, misalnya teman kantor suami, lagi sesak napas pun nelpon ke rumah sakit dengan gejala yang udah Covid 19 banget tapi pas ketahuan kalau sudah sakit di atas 5 hari, dilarang ke rumah sakit. Disuruh perawatan di rumah saja. Dites juga katanya gak perlu. Yang penting istirahat dan jangan keluar-keluar.

Ini juga terjadi di Kota Moate, kota sebelah. Teman saya yang cerita. Tetangganya suami istri sesak napas parah, panik nelpon kerabat dan teman-teman. Tapi oleh pihak rumah sakit disuruh istirahat saja di rumah. Dites pun tidak.

Jadi memang yang masuk IGD hanya yang KRITIS saja. Dan tidak ada penjemputan penuh drama ala-ala seperti yang banyak beredar di medsos temen-temen di Indo hehehehe. Mayoritas dirawat di rumah masing-masing.

Alhamdulillah, mereka sembuh semua dengan perawatan sendiri dalam tempo 7-10 hari. Mereka = teman kantor suami dan tetangga teman di Moate.

Pengawasan? Gak jelas juga diawasin beneran apa enggak hehehe. Polisi yang berjaga di jalan tugasnya mengecek orang-orang yang bepergian tanpa jelas juntrungannya. Bukan buat jagain orang-orang positif Covid 19 :D.

Semasa lockdown pun bandara beroperasi seperti biasa. Memang sepi dan banyak penerbangan dibatalkan. Tapi, bandaranya buka 24 jam kayak sehari-hari saja.

Suami saya mendarat dari Jakarta ke Dublin tanggal 16 April kemarin. Di bandara biasa banget di imigrasi. Semua permanen resident dan siapa pun yang punya izin tinggal BOLEH masuk. Cuma ditanya-tanya seperlunya.

Terus udah. Naik bus menuju Kota Athlone. Dimintai nomor hape dan alamat juga enggak. Disuruh karantina juga enggak.

Jadwal bus berjalan seperti biasa walau minim penumpang.

Tapi di rumah ya saya karantina beneran hahahaha. Untung dianya gak ribet dan pasrah.

Soalnya saya “kurung” beliau dalam kamar utama (yang ada kamar mandinya). Jadi, suami sama sekali enggak ke luar kecuali mau jogging ke luar rumah langsung.

Makan pun udah kayak ngasih makan piaraan (hahahaha), dia naro piring depan pintu saya isiin baru dia ambil lagi. Semua piring dia cuci sendiri di kamar. Udah saya siapin segala macam sabun handuk dll.

Alhamdulillah 14 hari berlalu, amaaaaaaan. Bisa peluk-pelukan lagi sama anak-anak dan bininya yang kece ini :p.

Dari hasil lockdown selama 2 bulanan ini sepertinya negara-negara Eropa sudah mulai “berdamai” dengan Covid 19. Toh, pemerintah masing-masing juga sadar, mustahil mau ngunci orang terus-terusan dalam rumah. Virus juga gak mungkin mau dienyahkan begitu saja.

Mungkin pun mereka sudah merasa punya pengalaman terkait penanganan. Sudah mulai terbiasa gitu kayaknya, ya.

Yang tadinya ribut-ribut mau lockdown sampai September lah, sampai akhir tahun lah, per akhir Mei malah udah mau buka-buka toko lagi hihihihi. Lah, uang subsidinya dari maneeeeee :p.

Situasi lockdown juga bagus kok. Tapi buat negara-negara Eropa yang memang punya persiapan yang cukup matang dari segi ekonomi dll. Wong yurop ini dari lahir kan sudah biasa dimanjain sama segudang tunjangan ini itu hehehe.

Jangan heran kalau di US agak ribet mau lockdown. Sistem di sono tuh bedaaaa banget sama di Eropa Barat sini hehehehe. Apalagi Indonesia. Sutra laaahhh, jangan dibandingkan πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜….

Terkait lockdown, selain pemerintah bisa “buying time” tadi, sekaligus persiapan mental buat rakyat. Udah lihat kan video “The Hammer and The Dance”? πŸ˜‰

Dimulai dari Norwegia dan Denmark yang sudah mulai melonggarkan aturan di bulan kemarin, Jerman juga menyusul. Belanda kemungkinan membuka sekolah senin besok. Italia sudah mulai membuka toko-toko kategori tertentu sejak 2 minggu kemarin.

Irlandia pun, setelah 18 Mei ini, pemerintah sudah siap-siap membuka beberapa lini bisnis. Dilakukan bertahap. Tapi di Irlandia, sekolah kayaknya baru akan buka September nanti di tahun ajaran yang baru. We’ll see.

Pengumpulan massa tetap dilarang. Menjaga kebersihan ekstra ketat tetap harus dilakukan. Jaga jarak pun tetap sama. Hand sanitizer akan menjadi barang utama yang bakal kita lihat di mana-mana. Kantor-kantor, sekolah, segala macam, diharapkan mempersiapkan kondisi ruangan segala macam agar social distancing tetap berjalan.

Life will never be the same.

Kita menuju babak baru kini : living a NEW NORMAL. Berdamai dengan kehadiran Covid 19 hingga vaksin ditemukan nanti πŸ™.

Tetap jaga kesehatan, jaga pola makan, rajin olahraga. Remember this? “Semua penyakit berawal dari perut”, yes?

Monggo di-googling sendiri infonya dengan keyword : “ABC opens lockdown” (ABC bisa diganti dengan nama negara yang diinginkan).

Selamat melanjutkan puasa bagi teman-teman muslim di mana pun berada πŸ™.

8 MEI

Sudah berapa dekade berlalu sejak beliau meninggalkan rumah dengan motor Vespa hijaunya. Hendak bermain bulutangkis bersama rekan-rekan di hari Jumat malam seperti biasa.

Dua jam kemudian telepon berdering, Bapak mendadak tumbang di lapangan. Dilarikan ke UGD. Setengah jam kemudian telepon berbunyi lagi. Hanya 5 menit di UGD, serangan jantung membawa beliau pergi untuk selamanya.

Gambar : paradise4women.com

8 Mei 1992.

Hari itu hari jumat. 2 hari setelah saya selesai EBTANAS SD. Tidak berapa lama setelah itu ada acara perpisahan sekolah yang mana tadinya Mama bilang enggak usah dateng.

Tapi guru mengharapkan saya datang karena katanya NEM nya paling tinggi di sekolah. Saya dikasih tahu duluan biar mau dateng. Gak jadi surprais dah :p.

I was very happy that night. Dandan manis pakai bando, bedak minta ditebelin dikit karena mau naik panggung ye kan hihihihi *ngikikCentil*.

Tapi akhirnya suasana jadi drama karena sama Pak Guru diumumin kalau bapak saya baru saja meninggal. Yang tadinya saya senyum lebar seneng banget sama hasil Ebtanas dan sudah mati-matian enggak mau inget soal Bapak. Hadeeeehhh -_-.

Tapi terus semua orang pada diem terus abis itu pada nangis, ya eike pun akhirnya mewek parah di atas panggung.

πŸ˜…

Duh, males kalok inget, macam sinetron aje hahahaha.

Sejujurnya almarhum bapak saya sangat konservatif soal anak perempuan. Apalagi saya, anak perempuan pertama dari ortu setelah Mama 5 kali hamil dan melahirkan, keluarnya lakik semua hehehe.

Beliau pernah mendebat Mama karena nampaknya kurang setuju kalau Mama terlalu gimanaaaa gitu menyemangati saya urusan sekolah. Bapak ingin saya lebih banyak mengerjakan tugas rumah tangga sementara Mama mendorong saya fokus belajar.

Menurut almarhum Bapak, anak perempuan di sekolah biasa-biasa ajalah. Tidak perlu membuang waktu. Toh nantinya bakal mengurus keluarga dan masuk dapur.Well, considering “where I am now”, he was quite right hihihi.

Foto Bapak dan Mama hehehehe. Enggak tahu ini tahun berapa. Dikasih sama Mama via WA kemarin :D. Dulu, gak mau nyimpen foto Bapak. Takut baper hahahaha.

Waktu saya lulus UMPTN dan harus hengkang ke Jakarta dianterin Mama naik kapal laut, she told me, β€œKalau Bapakmu masih ada, gak mungkin dapat izin kuliah ke luar kota. Kakakmu dulu saja mau kuliah di Surabaya, mati-matian diurus biar bisa pindah ke Makassar.”

Mama tidak bermaksud mensyukuri kepergian Bapak yang begitu cepat loh. Bukan begitu. Soalnya sebelum itu saya bilang ke Mama kalau saya kangen sama Bapak dan saya tanya ke Mama kira-kira kalau Bapak masih ada, apa saya boleh kuliah sampai ke Jakarta?

For info ya Pak, after you’re gone, things were totally different.

Saya bahkan sejak SMP jalan kaki pulang pergi sekolah sampai rumah. After 3 years, Mama ‘menyerah’. We had to let go the house, the business, everything! Bangkrut, euy! Semua-mua terpaksa dijual hehehehe.

Sejak SMA terpisah dari Mama, saya tinggal menumpang di rumah Tante, saya rajin membantu Tante merapikan rumah dan mencuci baju sendiri. But it did not stop me from being number 1 at school #kibasPoni.

Belajar masak yang agak telat, Pak. Setelah menikah dan dibawa merantau sampai jauuuuuuh baru bisa piawai beraksi di dapur hehehe. The power of kepepet.

Waktu kecil semasa Bapak masih hidup, Bapak melarang saya dan adik perempuan saya ke luar rumah buat main. Ke luar rumah buat sekolah aja. Gedenya malah mainnya sampai jauh begini.

πŸ˜…
Hiking at Gurten Bern Swiss pic by Dani Rosyadi
Follow me! πŸ˜€

Never imagine how it will be andaikan beliau diberi umur lebih panjang. Tentu saja, kalau MASIH BOLEH MEMILIH, saya PASTI penginnya beliau diberi umur lebih panjang. Menemani kami semua sampai dewasa, menjadi wali nikah saya dan adik saya, hingga ketemu cucu-cucu.

But well … β€œThere’s nowhere you can be that isn’t where you’re meant to be…”― John Lennon

No matter how “patriarchy” you were (hehehe), I will always love you that much. Wish you were here to witness how a girl can be smart as well as being able to cook.

😘

Al Fatihah buat Bapak

πŸ₯°

Nadiem Makarim & Visi Misi Pendidikan di Indonesia

Baca berita topik “Nadiem kaget masih ada wilayah Indonesia yang mengeluh soal sinyal dan listrik”, udah batin dalam hati, “Duh, kenapa Nadiem ngomentarin soal itu dah” #pijetKening.

Salah satu problem utama urusan politik di era digital dimana penyebaran informasi ngandelin medsos adalah KOMUNIKASI ke PUBLIK.

Sebenarnya Nadiem sudah “di jalur yang benar” soal dengan upayanya menggalakkan PENDIDIKAN BERBASIS ONLINE. Bukan hanya karena pandemi. Seharusnya topik ini sudah menjadi perhatian serius sejak dulu. This is the world future, bukan cuma Indonesia saja.

Topik Student Project di kampus saya tahun 2001 itu sudah didominasi oleh modul-modul belajar online. Dosen pembimbing menggebu-gebu mengatakan bahwa metode belajar ini adalah metode belajar masa depan! Itu hampir 20 tahun lalu, loh.

Salah satu kritikan kurang nyambung jadinya nyerang Nadiem yang berasal dari keluarga berada. Dianggap tidak mengerti kondisi rakyat kecil di Indonesia. Sorry to say, MEMANG BUKAN TUGAS NADIEM SIH NGECEK-NGECEK SINYAL dan ALIRAN LISTRIK DI SELURUH NUSANTARA.

Tapi disayangkan, kenapa dah dese kudu bikin pernyataan kek gitu di media-media.

Sudah sejak awal banyak yang mengkritisi latar belakang si menteri muda ini yang condong ke bisnis, membuat beberapa praktisi pendidikan di tanah air ikut ‘gelisah’.

Belum lagi perdebatan soal privilege bla bla bla itu kan dipicu dari penunjukan beliau jadi menteri juga. Tulisan saya soal itu ada di sini.

Btw, Indonesia punya yang namanya Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. Ada yang namanya Menteri Perhubungan. Ada yang namanya Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo). Soal listrik, bisa senggol PLN, yang berada di bawah Kementerian BUMN.

Visi misi masing-masing kementerian memang harus BERSINERGI tapi fokusnya BEDA-BEDA.

Soal latar belakang personal vs kepemimpinan, ada perspektif menarik dari NOVEL ARUS BALIK, karya Pramoedya Ananta Toer. Secara garis besar dalam novel ada pendapat bahwa runtuhnya kerajaan besar salah satunya karena kegagalan raja dalam memilih petinggi-petinggi kerajaan.

Alih-alih mengangkat “pembantu” dari kalangan istana atau dari orang-orang berilmu, Raja memutuskan membagi-bagi jabatan kepada orang-orang dari desa-desa yang dianggap sudah ikut membantu dalam perang misalnya.

Akibatnya “VISI MISI” kerajaan mandek. Orang-orang dari desa ini ternyata kurang sanggup berpikir secara menyeluruh. Mereka malah sibuk mikirin desanya masing-masing. Pola pikirn ‘terbatas’. Tidak terlalu bisa membaca situasi secara UTUH karena wawasan kurang.

Orang dari desa dibesarkan “seadanya”. Jadi mereka hanya sanggup melihat sekitaran mereka. Ketika ditunjuk mengelola kerajaan dalam ruang lingkup lebih besar, mereka pun “gagap”.

Makanya, ada pendapat bahwa “pembantu raja” ya memang seharusnya MEREKA yang TERDIDIK dan dibesarkan dengan wawasan “besar” dalam lingkungan kasta yang bukan dari rakyat kebanyakan. Agar bisa melihat “dunia lebih luas” dan akhirnya punya VISI MISI ke depan untuk SELURUH KERAJAAN, gak mentok mikirin kebutuhan desa mereka doang.

Tentu perspektif dari area “seberang” ditampilkan. Bahwa perlu juga memilih “pembantu raja” dari desa-desa biar sekat-sekat antara istana dan pedalaman tidak terlalu jauh.

Penulis novel (Pram) tidak menunjukkan keberpihakan apa-apa. Beliau hanya memaparkan masing-masing perspektif. Monggo dipilih sendiri mana yang lebih cocok dengan pembaca hehehe.

Tapi kita tidak lagi hidup di masa kerajaan. Para menteri juga harusnya berkomunikasi dengan kepala-kepala daerah dengan lebih seimbang. Sudah kenal demokrasi, yes?

Nah, kepada daerah ini sebenarnya ujung tombak yang harus diperhitungkan. Karena MEREKA sebenarnya yang kenal baik dengan area masing-masing. Raja kecil di masing-masing wilayah.

Kalau cek-cek dana dan anggaran, rasanya tidak kurang-kurang uang mengalir ke berbagai wilayah untuk urusan infrastruktur. Termasuk listrik dan urusan sinyal-sinyal ini

πŸ™

. Tapi yah seperti yang sudah jadi pengetahuan umum. MUSUH kita sebenarnya ya itu-itu juga. KORUPSI, KORUPSI, dan KORUPSI

Korupsi inilah yang menjadi beban tidak berkesudahan buat orang-orang seperti Nadiem dll. Belum ngomongin geografi Indonesia yang memang naudzubillah ribetnya. Penduduk segambreng dengan area kepulauan yang luas. Plus tingkat korupsi yang masih asoy.

Tantangan infrastruktur negara kepulauan penduduk banyak memang sedap. Saya ngerasain tuh dulu di barang-barang suka ada tulisan, Harga P. Jawa, dan Harga di luar P. Jawa. Masih ada gak ya? Hehehehe.

Justru PENDIDIKAN BERBASIS ONLINE sangat-sangat memungkinkan untuk pemerataan kesempatan di semua wilayah. Metode ini memangkas waktu dan jarak. Cocok buat negara sebesar Indonesia yang “terpencar-pencar” wilayahnya.

Di masa pandemi, seharusnya kita sadar bahwa ERA DIGITAL sangat membantu kita menjalani hidup dalam keterbatasan gerak.

Coba kalok enggak ada internet, lagi PSBB begini, gimana caranya mau beli-beli tanpa ke luar rumah? Gimana mau berkomunikasi? Belajarnya piye? Yang mau kerja dari rumah? Menghibur diri di rumah? Gimana mau tetap menjalankan bisnis? Dst dst dst.

Ada pun soal kesiapan infrastruktur tidak seharusnya menghalangi visi misi “besar” soal pendidikan di tanah air. It’s another thing. Hai Pak Menteri Desa, semangat Pak

πŸ˜‰

Penduduk banyak dengan wilayah luas apalagi terpecah-pecah dalam kepulauan memang sedap kok tantangannya. Saya pernah ngerasain tinggal di Irlandia vs di Texas. Padahal US ini kan gimana ya, kayaknya sudah salah satu negara dengan teknologi paling canggih.

Kalok urusan sinyal dan koneksi data mah Irlandia menang banyaaaaakkkk hehehehe. Negara mungil yang basisnya masih banyak peternakan dan sawah begini, lebih keren koneksi internetnya. Yaiya, wilayah cuma seucrit dengan jumlah penduduk mungil

πŸ˜›

. Tapi jangan salah, INDIA itu di area selatan kata temen-temen dari sana yang saya kenal di sini, koneksi internetnya gilak, lebih cepat lagi daripada yang di Irlandia

🀩

Kritikan soal Nadiem yang dianggap gak paham kebutuhan rakyat kecil memang agak salah sasaran terkait isu pendidikan berbasis online ini. Tapi balik lagi, KOMUNIKASI ke publik itu memang peer besar banget bagi kabinet sekarang tuh

πŸ™ˆ

Dikurang-kuranginlah ngomong-ngomong gak perlu

Situasi normal saja, netijen gampang naik darah, wahai bapak-bapak pejabat. Apalagi di masa pandemi begini. Gak bisa juga disalahkan. Situasi lagi sensitif. Mbok ya lebih bijak gitu bikin pernyataan-pernyataan di publik.

Sayang kan kalau gara-gara ini, visi untuk membawa pendidikan Indonesia ke arah yang lebih baik malah gak dibahas

. Jadinya ngeributin listrik dan sinyal dan ketidakpekaan beliau karena dianggap gak ngerti kebutuhan rakyat kecil. Harusnya komplen beginian jangan ke Mendikbud

πŸ™

Tetep semangat Kakak Nadiem dan para menteri lainnya ;).

.