Dampak Gadget pada Anak Generasi Milenial, Yay or Nay?

Dampak gadget pada anak ini sebenarnya kegelisahan yang sudah agak lama. Sekarang-sekarang jadi rame lagi.

Persoalan pertama mungkin gini. Kita harus paham tiap generasi memang punya masanya masing-masing. Soalnya ada yang ngotot kalau kok jaman dulu terasa lebih indah, lebih syahdu, lebih tidak banyak masalah bla bla bla.

Ya semua juga ngerasa gitu hahahahaa. Ini pernah saya tulis di tulisan yang ini nih ;).

Misalnya kakak sulung saya (lahir era 60 an) hobiiiii banget mencela selera musik saya yang tahun 90 an itu. Dia selalu meracau betapa kerennya musik-musik tahun 70 dan 80 an. read more

We Can’t Go On by Pretending

Sedikit curhat suka duka bekerja di luar negeri … boleh? :p

Baru-baru ini anak saya mengikuti kompetisi Spelling Bee di sekolahnya. Saya tunjukkan video-video acara final kompetisi yang sama di Amerika Serikat.

Dua belas tahun berturut-turut, juara English-Spelling-Bee competition adalah anak-anak warga negara keturunan India. Luar biasanya lagi, 10 finalis yang tahun berapa tuh ya, 7 orang warga negara US keturunan India, 3 -nya lagi warga negara US keturunan China.

Wooowww …

Mungkin begini, ras Kaukasian yang berkulit putih yang selama ini bisa dibilang menguasai peradaban dunia menganggap gimanaaaaa gitu kalau melihat ras-ras lain misalnya Asia.

Kalau yang ras Afrika itu special case, beda lagi pemicunya.

Di sekolahan pun kayaknya kemarin dari kelas 5 yang menang anak saya dan satu temannya dari India.

Sumpah demi Tuhan, gue ini bukan tipe yang tiger-tiger amat urusan belajar. Tapi masalahnya, orang bule tuh emang santai bangeeeeeeetttttttt. Kujuga tidak habis pikir dah. Padahal guru-guru di Ireland ini relatif disiplin dan nyinyir, loh.

Kurikulumnya gampang banget, suweeerrrr.

Tetap saja emak-emak bule itu santai bagai di pantai kalau anaknya kelas 1 SD belum bisa membaca. Gurunya pasti concern dan menegur. Cuma kan di sini tidak ada rengking-rengking an dan tidak ada istilah TINGGAL KELAS.

Jangan lupa walau anak-anak Asia yang lahir dan besar di Yurop, orangtuanya digembleng dengan cara Asia. Dan begitu seterusnya sampai ke generasi turun temurun.

Tahu sendiri, wilayah Eropa Barat ya kondisinya makmur-makmur. Jumlah penduduk tidak sesangar negara-negara Asia hahaha. Makanya dari kecil santaiiiiiiii, sekolah gratessssss, fasilitas kesehatan lumayan, enggak kuliah pun, bisa jaga-jaga toko dengan gaji fantastesssssss.

Ngapain dah capek-capek kuliah ye kaaaaaann? Mungkin begitu pemikiran sebagian mereka. Yang serius dan tekun dan sangar dalam urusan belajar ya juga ada.

Penduduk dikit, kadang lowongan buat 10 orang yang apply 8 orang. Beneran.

Bandingkan dengan Indonesia, India, lowongan 1000 orang yang apply 100 ribu orang! Hahahaha. Makanya jangan nyinyir dengan kompetisi di negara-negara berkembang.

Di salah satu tempat bekerja saya dulu, ada lowongan admin, syaratnya lulusan SMA sudah cukup. HR kaget, dari ratusan applicant (lowongan buat 2 orang doang karyawan gaji harian pulak), 90% lulusan S1, ada yang lulusan S2. Ngeri yes?

Ya monmaap lulusan SMA ada yang langsung ketendang. Itu curhat temen saya di HRD waktu saya mengkritik kok tega-teganya lulusan S1 IPK cum laude di-hire jadi admin gaji harian! 

Di Ireland nih, ranah IT dikuasai orang Asia. Bukan hanya sebagai pekerja ecek-ecek, SDM asal Asia justru mendominasi wilayah IT yang lagi booming-boomingnya.

Lah gimana, temen saya tadinya mau serius jadi vlogger, dia ambil kursus “Mengenal media sosial” di kampus lokal sini. Oalah, instrukturnya enggak familiar tentang VLOG .

Inilah sebenarnya masalahnya. kini sudah banyak ras Asia beranak pinak di Eropa, Kanada, USA, apalagi Australian.

Ras Asia yang dulunya dipandang “Halah cuma imigran pendidikan rendah, attitude kurang, bla bla bla” kini makin intens menunjukkan eksistensinya.

Sementara wong Kaukasian ini juga ya tetap rileks bagai di pantai. Dunia barat dulu ramai-ramai menghujat Amy Chua terkait buku “Battle Hymn of Tiger Mom.”

Tapi mungkin sekarang wilayah-wilayah Kaukasian mayoritas dilanda “ketakutan” atas para imigran ini. Dari rasa takut ini kan bisa muncul macam-macam kecurigaan, hasutan, kegelisahan yang berujung pada penderitaan.

Haloooo buat yang suka tebar narasi ketakutan terkait salah satu ras tertentu di Indonesia . Semoga kalian paham segini parahnya kerusakan yang bisa ditimbulkan akan ketakutan-ketakutan tidak jelas itu .

bekerja di luar negeri

Di Amerika Serikat yang dari dahulu menganut prinsip “LIBERAL” dalam hampir semua hal, bisa menghadapi dengan lebih baik.

Di US tuh, kaum liberal yang menjunjung tinggi HAM bener-bener garis keras dan berani bersuara. Mereka sudah lebih dari seratus tahun menghadapi gini-ginian. Sudah pengalaman.

Kejadian rasis ya pasti ada tapi sesungguhnya kalau mau jujur melihat dan merasakan lebih dalam, rasisme terhadap kulit berwarna itu lebih parah di Eropa dan Australia.

It’s silently happening . Sukar mau dilawan ya karena ngelesnya ya gitu. Itu sesuatu yang diamini oleh sebagian besar ras kulit putih di sana, sorry to say . Mereka sopan sih sopan. Tapi yah begitulah. HIngga mungkin akhirnya bermunculan orang-orang kayak Brenton (pelaku teroris di NZ) ini .

Ekspatriat high-skill bisa tembus ya lebih karena mereka kekurangan orang. Yang avalailable ya Cina-India-Cina-India. Indonesia segera nyusul, aamiin .

Gambar : misacor.org

Kasus di Selandia Baru, kemungkinan mengarah ke kecemburuan terhadap kaum imigran ini. Di mana kebetulan yang kasat mata mayoritas ya kaum muslim kalau di NZ-Australia.

Jangankan orang bule, dengan beberapa teman-teman Indonesia yang nikah dengan bule, banyak yang korslet jugak, “Mbak Jihan suaminya cuma Indo kan? Ya ampun cukup ya Mbak gajinya 3 anak? Kerja apa, sih, di sini?”

Duh, kusudah merasa tua untuk berurusan dengan makhluk-makhluk bigot seperti ini. Baru beberapa tahun di luar negeri cuma karena kebetulan nikah dengan bule sudah merasa superior. Alih-alih tersinggung, saya malah kasihan .

Saya juga tidak paham apa ya solusinya. Seperti apa kita harus mendidik anak-anak kita dalam gempuran globalisasi bersama segala macam dilemanya? 

Mungkin sebaiknya negara-negara maju di Eropa dan Australia, enggak usah sok-sok HAM-HOM-HAM, unless you can educate your own people as well .

We can’t go on pretending day-by-day. We can’t .

Gambar : pixabay.com

There comes a time
When we heed a certain call
When the world must come together as one
There are people dying
Oh, and it’s time to lend a hand to life
The greatest gift of all

We can’t go on
Pretending day-by-day
That someone, somewhere soon make a change
We’re all a part of God’s great big family
And the truth, you know, love is all we need
(Song “We are The World”, MJ & friends)

Pergi Kau ke Ujung Dunia …

Chile, disebut-sebut sebagai Singapura-nya Amerika Selatan/Latin. Saking majunya negara ini dibanding negara-negara lain di kawasan yang sama.

Tapi sekeren-kerennya Chile, ternyata tingkat kejahatan di kota-kota besar di sana masih lebih tinggi daripada Kota Jakarta.

Chile, foto : Dani Rosyadi

Bunga Tulip yang disebut-sebut sebagai bunganya Orang Belanda ternyata tumbuh subur di berbagai kota di Negara Turki.

Kadikoy, Istanbul (Foto : Dani Rosyadi)

Kalau kalian heran mengapa laki-laki se”dingin” Reino Barrack yang biasanya irit bicara tiba-tiba wawancara panjang lebar semacam pasang badan buat pujaan hati, maka seorang Pangeran Edward VIII rela meletakkan TAHTA demi menikahi Wallis Simpson.

Simpson seorang janda asal Amerika Serikat berhasil membuat Kerajaan Inggris gempar karena pewaris mahkota atas keinginan pribadi tanpa paksaan menyerahkan gelar RAJA kepada George VI.

Jalan-jalan ke London Eye foto Dani Rosyadi
London Eye (Foto : Dani Rosyadi)

Kerajaan Inggris juga menyimpan kisah cinta antara Pangeran Charles dan Camilla. Yang ini happy ending sih walau membuat dunia menangis untuk Lady Diana.

Camilla lebih dulu datang dalam hidup Pangeran Charles. Tapi Charles tidak seberani buyutnya yang rela meninggalkan singgasana untuk perempuan yang dicintai.

As Lao Tzu Quotes : “Deeply loved by someone gives you strength, while loving someone deeply gives you courage.”

fotografer Dani Rosyadi
Tower of London, fotografer : Dani Rosyadi

Republik Irlandia yang membingungkan orang-orang letaknya di mana dan sering disangka bagian dari Negara UK, punya pendapatan perkapita yang hampir sama dengan USA. Tapi tetap saja, Irlandia itu di mana sih??? ???

Fore Abbey, Ireland (2014), foto : Dani Rosyadi

Karena hebohnya beberapa kejadian terkait kejahatan domestik terhadap TKW di Arab Saudi, laki-laki Arab Saudi dianggap “bejat” secara umum. Totally wrong.

Seumur hidup saya merantau, laki-laki asli Arab Saudi malah termasuk sering menunjukkan penghormatan di atas rata-rata kepada kaum perempuan. Termasuk yang wajahnya Asia yang disangka pembokat kayak eike .

fotografer Dani Rosyadi Masjid Apung
Masjid Apung, Jeddah-Arab Saudi, fotografer : Dani Rosyadi

Hati-hati, di kota-kota besar Arab Saudi banyak pendatang Arab dari negara lain. Kalau yang Arab Saudi asli biasanya memang sangat sopan di depan umum kepada kaum perempuan.

Di Amerika Serikat yang konon paling LIBERAL dan sangat menjunjung tinggi HAM, supremasi kulit putih terhadap ras Afrika masih terasa dalam kehidupan sehari-hari . Unfortunately, saya pernah melihat langsung bukan hanya dari katanya-katanya .

State Capitol of Arkansas – Little Rock, Arkansas, USA, foto : Dani Rosyadi

Secantik-cantiknya Negeri 4 musim di banyak negara maju, Kota Teheran di Iran adalah kota yang paling bersih yang pernah saya kunjungi .

Taman Sai di Teheran, Iran (gambar : panoramio.com, by Behrooz Rezvani)

Negara yang kepemilikan senjata api pribadi pailng tinggi adalah SWISS, salah satu negara paling aman di dunia . Why? Karena Swiss punya aturan wajib militer bagi kaum pria dan setelah selesai dinas, senjata api disimpan rapi dalam rumah dengan aturan penggunaan yang sangat ketat.

Fotografer Dani Rosyadi Swiss
Bern (Swiss), fotografer : Dani Rosyadi

Kalok mau cari buruk-buruknya suatu tempat duh tinggal googling juga pasti adaaaaaaa aja hihihi. Tapi masa cape-cape abis duit pula buat jalan-jalan ke sana sini hanya untuk nyari bahan julid .

Berlaku juga buat interaksi dengan orang lain. Sama tempat saja kita kudu adil gimana dengan sesama manusia ye kaaaan .

“Though we travel the world over to find the beautiful, we must carry it with us, or we find it not.” ― Ralph Waldo Emerson

Mustahil ketemu yang indah-indah dari sebuah tempat atau seseorang kalau sudah ada prasangka sebaliknya dalam hati kita .

Here are the pics from some places I’ve talked about . Semua foto koleksi pribadi, dipotret dan diedit oleh Dani Rosyadi, temen seperjalananku tersayang #eaaaaa.

Oiya, foto-foto Teheran gak ketemuuuuu ???. Itu saya ambil dari googling aja tuh yang foto Teheran yang di atas :(.

review film green book

GREEN BOOK, It Takes Courage to Change People’s Heart

Kami sekeluarga mendarat di JFK International Airport – New York awal tahun 2017 silam.

Transit beberapa jam lalu lanjut menuju Dallas-Texas.

“So, 3 boys huh?” Seorang pramugari menegur ramah waktu kami baru akan duduk setelah menemukan nomor kursi di atas pesawat.

“Actually, it’s 4!” Saya cengengesan sambil mengarahkan mata ke suami saya.

Ibu pramugari, perempuan kulit putih ras Kaukasian, langsung ngakak kenceng banget. Saya sampai kaget, cuma joke receh gitu doang dia-nya sampai tergelak-gelak.

Setelah itu kami asyik mengobrol. Padahal waktu itu saya agak was-was karena Trump lagi “lucu-lucunya” terhadap pendatang (termasuk kepada yang muslim katanya).

Seorang penumpang ras Afrika masuk dan ingin melintas. Ibu Pramugari berdiri di tengah nutupin jalan karena sibuk mengobrol dengan kami.

“Wait, ” Kata si Ibu pramugari.

Penumpang tersebut “Excuse me” lagi.

Ibu pramugari membentak penumpang tersebut dengan nada tinggi, “I SAID WAIT!”

Wah, aneh juga. Biasanya kan kalau begitu pramugari ya ngasih jalan lah orang mau lewat kok karena kursinya di belakang. Padahal ke kami, dia amat sangat ramah dan bahkan memuji-muji anak-anak saya, “Oh God, I love their eyes, I love their hair. So cute you know..”

Jadi begitulah ternyata. Di perjalanan dari bandara Dallas-Fortworth menuju apartemen, suami mulai cerita kalau memang diskriminasi yang masih terasa dan paling terasa itu ya ke ras Afrika. Ke muslim mah cenderung biasa saja. Walau tentu ada juga gesekan.

Tapi setahun saya di Texas, mungkin karena hoki juga, rasanya enggak ada yang aneh-aneh. Malah terasa orang-orang Texas tuh hangat bersahabat secara umum. Padahal diskriminasi paling tajam terhadap kulit hitam ya di belahan selatan, Texas dan sekitar ini.

Diskriminasi sampai level pemisahan ruang publik yang ditempeli tulisan-tulisan “Coloured Only” masih marak di wilayah selatan sampai tahun 80 an. Sisa-sisanya masih terasa hingga kini .

Apalagi di tahun 60 an. Kisah itulah yang diangkat di film Green Book tapi dengan genre comedy-drama. Komedinya bukan komedi receh yang bikin terpingkal-pingkal.

Percakapannya memang bikin senyum-senyum. Film drama yang cenderung nyaris tanpa klimaks ini sukses membuat saya dan suami nonton dengan serius dari awal ampe akhir.

Pas film habis, baru lari tunggang langgang ke kamar mandi pengin pipis hahahaha. Filmnya benar-benar memikat dari scene pertama hingga scene terakhir di mana mereka makan malam bersama merayakan hari Natal.

Penasaran pengin nonton karena film ini memenangkan Best Picture Oscar 2019. Lihat posternya kok biasa saja.

Saya pikir akan membosankan karena baca sekilas sinopsis hanya berpusat pada 2 orang Don Shirley (Mahershasa Ali) dan Tony Lip (Viggo Mortensen). Don ras Afrika yang lahir di Florida dan besar di belahan utara Amerika Serikat.

Sementara Tony asli Italia yang lahir dan besar di New York.

review film green book

Ceritanya sih memang tidak yang gimana-gimana, ya. Tapi kesannya MENANCAP kuat dalam hati. Skenarionya baguuuusssss.

Can’t help crying out loud (literally) for this scene :

Di adegan hujan lebat saat Tony dan Don berantem karena Tony menuduh Don itu gengsi terhadap kaumnya sendiri, Don keluar dari mobil dan berteriak dengan emosional,

” …. rich white people pay me to play piano for them, because it makes them feel cultured. But as soon as I step off that stage, I go right back to being just another n****r to them. Because that is their true culture. And I suffer that slight alone, because I’m not accepted by my own people, because I’m not like them either! So if I’m not black enough, and if I’m not white enough, and if I’m not man enough, then tell me Tony, what am I?!”

Don Shirley, seorang doktor dari berbagai bidang ilmu termasuk psikologi yang juga sangat fasih bermain piano. Salah satu legenda musik jazz di Amerika Serikat. Yup, ini kisah nyata.

review film green book
Tony Lip & Don Shirley in real-persons

Don ingin tur khusus keliling Amerika Serikat bagian Selatan (Kentucky, Indiana, Arkansas, Louisiana dll). Untuk itu Don menyewa supir/asisten pribadi berkulit putih.

Di utara Amerika Serikat (New York dll), segregasi antara kulit hitam dan kulit putih di tahun 60 an tidak SEPARAH di belahan selatan yang memang setajir apa pun seorang ras Afrika, mau nyoba setelan jas di toko pun TIDAK BOLEH .

Terpilihlah Tony menjadi teman seperjalanan Don. Dalam perjalanan inilah, Tony yang tadinya membuang ke tempat sampah gelas kaca bekas minum 2 orang pekerja ras Afrika di rumahnya, mulai berubah.

Adegan-adegannya lucu-lucu, sedihnya enggak receh, Gaeeeeessssss ?.

Keren banget penggambaran soal kultur Italia dari Tony yang bawel dan hobi mereka kumpul-kumpul dengan keluarga besar yang sama ributnya hahahaha.

Tony yang agak-agak tidak pintar (hihihi) dibantu menulis surat untuk istrinya oleh Don, “It’s D-E-A-R, deer is an animal” ????.

Don yang sangat berpendidikan, rapi, disiplin tinggi, bersih, mau dibujukin nyokot ayam KFC di mobil langsung makan pakai tangan. Biasanya Don paling tidak suka ada remahan apa pun di jok mobil tempatnya duduk.

Waktu masuk penjara karena Tony memukul polisi yang dianggapnya sudah kurang ajar terhadap Don, Don menasihati Tony …

“‘You never win with violence. You only win when you maintain your dignity.”

Sebaliknya, untuk Don yang kesepian dan gengsian tapi ogah menulis surat untuk saudara laki-lakinya duluan, Tony membujuknya :

“The world’s full of lonely people afraid to make the first move.”

Tapi momen paling juara saat Tony bertanya ke Oleg, salah satu musikus rekan Don yang berkrulit putih dan ikut tur juga, “Ngapain sih si Don tuh mau cape-cape konser di sana sini ketemu orang kulit putih tajir-tajir, tapi dia dilecehkan juga.”

Oleg menjawab, “Don itu dibayar 3x lipat lebih banyak untuk konser di New York. But he asked for this.”

Oleg: “You asked me once why Dr. Shirley does this. I tell you, because genius is not enough. It takes courage to change people’s hearts.”

IT TAKES COURAGE TO CHANGE PEOPLE’S HEARTS ???.

Tidak heran, Mahershala Ali (Don Shirley) memenangkan Oscar untuk kedua kalinya sebagai aktor pembantu pria terbaik di film ini.

Viggo Mortensen juga keren banget. Sampai lupa kalau dia pernah menjadi Aragorn di Lord of The Ring hihihihihi. Masuk nominasi tapi Rami Malek disebut-sebut sangat pantas memenangkan Oscar tahun ini.

5 out of 5 stars from me.

Selamat menonton .

review film green book

Pernikahan beda negara

Love Sees No Color

Paling suka lihat anak-anak hasil percampuran ras . Misalnya dari hasil pernikahan beda negara.

Ada cerita unik waktu teman saya, Scandy (yang juga campuran Manado – Ambon hehehe) hamil anak pertama hasil pernikahannya dengan laki-laki Irlandia tulen 100%.

Waktu Scandy mengabari ke keluarga di Indonesia bahwa jenis kelaminnya ternyata perempuan, saudara-saudara Ambon-nya bilang, “Huaaaaa, entar anak lo cantik banget. Matanya biru, rambutnya kuning, kulitnya putih.”

Terus Scandy juga ngomong ke keluarga suaminya. Mertua dan ipar-iparnya juga heboh, “Ya ampun, anakmu entar matanya coklat, rambutnya item, kulitnya keren kayak mamanya, she’s going to be very beautiful.”

Yang di sono pengin bayi cantik ala anak bule, yang di sini pengin bayi kece dengan deskripsi ala Asia ???.

Betapa kecantikan itu memang bukan standar tunggal. Sekali ini, standar ganda bahkan lebih malah sesuatu yang menyenangkan, yes? 

Di Texas tuh apalagi. Bisa dibilang ketemu bule di Dallas dan sekitar tuh paling 50% doang. Sisanya Latinos, Afrika, berbagai perawakan Asia mulai dari India-Asia Timur Jauh-Indonesia dan sekitar-Arab dan yang paling seru … ketemu anak-anak lucu-lucu pernikahan campur antar berbagai ras ini.

Anak perempuan montok yang matanya biru tapi rambutnya coklat tua dan matanya sipit. Ada yang rambutnya keriting abis matanya hitam kulitnya coklat muda. Atau yang hidungnya mancung matanya kecoklatan tapi kulitnya legam.

Pernikahan beda negara

Atau ponakan-ponakanku di Montreal, rambut kuning, kulit kuning langsat, hidungnya gak mancung tapi cantiknya minta ampun. Heeeyyyy sepupuku tersayang, gila ini Na, kita udah 10 tahun lebih enggak ketemu! ???

Sepupu paling dekat, seumuran pula. Mama saya dan mamanya Nana saudara kembar hehehe.

Lucu ini, Nana punya 3 anak perempuan semua hasil persilangan Bugis vs Kanada hihihi vs saya yang lanang kabeh ketiganya juga perpaduan Bugis vs Minang hahahaha.

Dan hari ini salah seorang perempuan unyu-unyu hasil persilangan Jepang dan Haiti bernama NAOMI OSAKA mencatat prestasi gemilang dengan menjuarai Final Tunggal Putri Australia Terbuka 2019.

Setelah 4 bulan sebelumnya menjuarai Final Tunggal Putri Amerika Terbuka 2018. Dua gelar grandslam berurutan.

Di Amerika Terbuka 2018, kemenangannya agak “dicibir” terkait kontroversi di final karena lawannya, Serena Williams, mengamuk ke penjaga garis kalau gak salah, ya.

Naomi membuktikannya di grandslam berikutnya.

Naomi melesat cepat setelah mencuri perhatian atas kemenangan pertamanya di WTA-series Indian Wells.

Kiyut banget anaknya. Ini acceptance speech -nya yang pertama kali di Indian Wells yang bikin orang senyum-senyum saking unyu-unyu nya. Dese cekikikan dan bingung sendiri mau bilang apa hahahaha.

At the end of the speech she did say, “This is probably gonna be like a worst acceptance speech at all time” terus masih sambil ngikik-ngikik juga ????.

Kelihatannya pribadi yang sangat menyenangkan, ya .

Semesta ini indah sekali kalau berkenan saling kenal mengenal untuk kemudian saling jatuh hati dan menaklukkan dunia bersama, yak #eaaaaaMulaiDrama. Sulit kalau sudah ada yang merasa superior paling benar sendiri .

“Love is blind despite the world’s attempt to give it eyes.” ―Matshona Dhliwayo

Because LOVE sees NO COLOR ???.

Ini salah satu buah cinta antara JEPANG vs HAITI yang mencatatkan sejarah nan keren di dunia tenis. HAITI, walau perawakan ras Afrika tapi letaknya di benua AMERIKA ya teman-teman. Maaf, hanya sekadar mengingatkan  … eh ??.

O ya, kepiluannya saat dinyinyirin di momen Amerika Terbuka 2018 dibayar lunas dengan gelar Australia Terbuka ini sekaligus menjadikannya salah satu pemain tenis perempuan termuda dan tercepat meraih posisi PERINGKAT SATU DUNIA (WTA RANKING SINGLE WOMAN)!

Waktu pidato kemenangan di Amerika Terbuka 2018, Naomi malah minta maaf karena sudah menang. Penontonnya ngeselin banget terus-terusan “booooo” ing untuk meledek Naomi.

Congratulation, Naomi Osaka! SUCCESS is the best revenge. You go, Girl!

Maap gak ngerti tenis but insist to spread this happy news jadi ngelindur ke mana-mana ????.