Kasus LGBT, Tragedi Reynhard, dan Latar Belakang Pelegalan Pernikahan Sejenis di Negara Maju

Kasus LGBT mencuat lagi dengan kasus Reynhard. Dari awal mencuatnya, sudah bisa ditebak opini massa di tanah air pasti ruwet membedakan ORIENTASI SEKSUAL vs KELAINAN SEKSUAL.

So that you know, pelaku pemerkosaan yang heteroseksual ya juga banyak. Bahwa misalnya pedofilia pun, juga bukan kejahatan khas untuk kasus LGBT doang.

Jika kalian anti LGBT ya itu urusannya lain lagi ;). Your life, your value, your choice 👌.

Yang gini-gini seringkali membawa ruang diskusi meluas sampai pembahasan tentang isu yang sama di negara-negara maju.

Termasuk yang sempat ramai dulu jadi sorotan lagi : PELEGALAN PERNIKAHAN SEJENIS yang dianggap dukungan bagi meningkatnya jumlah kaum LGBT.

Belanda, Belgia, Perancis, Republik Irlandia, Amerika Serikat (tidak semua negara bagian), Argentina, Finlandia, merupakan contoh-contoh negara maju yang melegalkan pernikahan sejenis.

Sayangnya, pada sotoy tentang latar belakang atas pelegalan pernikahan sejenis tersebut. Hingga akhirnya, muncullah tudingan-tudingan semacam, “Mau menghancurkan ajaran agama!” lah dst dst dst.

kasus LGBT
Gambar : statista.com

Pelegalan pernikahan sejenis di negara-negara maju sebenarnya tidak berkaitan sedikit pun dengan agama. Mengingat sebagian besar negara tersebut pada dasarnya memang sekuler.

Pelegalan ini tujuannya bukan terkait hak asasi manusia doang. Tapi untuk mengakomodasi hak seluruh warga negara terkait hak ekonomi, hukum, dan sosial. Contohnya :

Pengurangan pajak bagi pasangan yang sudah menikah secara resmi. Jumlahnya cukup signifikan untuk pembayaran pajak di negara-negara maju yang relatif cukup besar secara umum.

Di Indonesia, lu disuruh bayar pajak aja ngamuk :p.

Kepemilikan properti. Pernikahan yang legal memungkinkan pencantuman nama pasangan sah dalam kepemilikan properti.

Tanggungan asuransi. Asuransi terhadap pasangan hanya bisa diberikan bagi mereka yang tercatat menikah secara legal.

Berkas resmi untuk proses adopsi anak. Salah satu berkas yang diperlukan adalah dokumen pernikahan yang sah. Soal anak juga berkaitan dengan pajak.

Di banyak negara maju, makin banyak anak, PTKP (Pendapatan Tidak Kena Pajak) akan makin besar. Di Indonesia, selisihnya tipis banget :(. Gak terlalu ngaruh status pernikahan dan jumlah anak.

Hak waris. Pasangan yang sah dari pernikahan yang legal berhak atas hak waris atas harta pasangannya.

Di Indonesia, istri sah saja bisa dicerai dan dibuang begitu saja tanpa ada perlindungan hukum walau dinikahi secara sah :(. Beda cuuuyyyyy ama negara yang proses hukumnya jauh lebih disiplin.

Hal-hal di atas mungkin agak sulit dipahami oleh banyak orang di Indonesia. Boro-boro soal kepemilikan properti, Indonesia masih banyak berurusan dengan pemukiman liar yang membuat pemerintah pening tujuh keliling.

Masalah pajak di negara kita juga belum sedisipliln di negara-negara maju. Masih banyak celah untuk mangkir dari kewajiban membayar pajak yang belum tersentuh hukum secara legal.

Belum lagi masalah-masalah korupsi yang merajalela di biroraksi dari atas sampai bawah.

Belum terbayang memikirkan soal adopsi. Anak-anak jalanan masih leluasa berkeliaran tanpa sanggup dipelihara dan dilindungi oleh negara.

Sementara di negara-negara maju tadi, mereka sudah selesai dengan permasalahan-permasalahan mendasar terkait kesejahteraan warganya secara umum.

Perlindungan terhadap seluruh warga negara sudah dilakukan sampai ke level-level yang mungkin masih belum terjamah di negara-negara berkembang.

Tingkat korupsi di negara model begini biasanya sudah sangat rendah. Negara-negara maju yang memiliki tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi ini tidak lepas dari kedisiplinan sistem yang menjamin pengelolaan pajak dari warga negaranya.

Maka dari itu, seluruh pembayar pajak berhak mendapat HAK YANG SAMA secara ekonomi, hukum, dan sosial. Termasuk kaum minoritas, misalnya kaum LGBT tadi.

Karena itulah, mengapa negara perlu melegalkan pernikahan sejenis untuk menjamin semua hak tersebut. Tidak ada hubungannya dengan agama apalagi mengurusi urusan ranjang warga negaranya.

Hal ini perlu diketahui oleh baik pihak yang pro LGBT maupun yang kontra di Indonesia. Memahami kondisi budaya dan sosial di negara lain agar diskusinya tidak hilang arah.

Bisa dimengerti jika pihak yang kontra LGBT sebagian besar mengacu kepada alasan agama atau kesehatan. Namun, jangan sekonyong-konyong menuduh pemerintahan negara maju ingin menghancurkan agama atau tidak peduli urusan kesehatan dsb.

Dapat dipahami bila pihak yang pro LGBT menginginkan perbaikan dan keadilan atas nama hak asasi manusia dan seterusnya.

Tapi jangan tiba-tiba menyodorkan ide-ide serupa yang sudah berjalan dengan baik di negara-negara maju dan mendiskreditkan pemerintahan dan masyarakat di Indonesia yang dianggap gagal melindungi kaum minoritas di tanah air.

Soalnya di Indonesia, hak-hak yang mayoritas pun banyak yang masih awut-awutan. Jadi bersabarlah sedikit wahai kakak-kakak SJW hehehehe.

Gambar : lovin.ie

Edukasi soal hak minoritas (apalagi isu LGBT) memang masih panjaaaaaaaaaang ceritanya. Ditambah lagi dengan kasus Reynhard di UK pijetKening. Kasak kusuknya jadi makin liar banget :(.

We really shouldn’t judge others for often we don’t know the whole story.

era digital

RUANG PUBLIK, PRIVASI, DAN ERA DIGITAL

“Pujilah masakan ibumu di meja makanmu sendiri.” Kira-kira gitu dulu kalimat dari tulisan Bang Saief Alemdar, years ago :D.

Masalahnya sekarang, even if you’re boasting around about something in front of your “inner circle” (ONLY), selalu ada TIM SKRINSYUT dengan kecepatan cahaya yang siap beraksi hahaha.

Tentu beda cerita dengan STATUS/POSTINGAN yang sifatnya PUBLIC ;). Apa pun yang sudah di-share secara PUBLIC, ya harus siap menerima konsekuensinya :D.

Bahkan saya sudah pernah memperingatkan soal aplikasi Google Photos, kan? Kalian mungkin tidak sadar pernah login di Google Photos yang menyebabkan Google Photos bisa mengakses foto-foto di gallery ponsel kalian.

Semua foto akan ter-backup di sana. Hati-hati jangan bikin foto aneh-aneh dah biarpun niatnya cuma koleksi pribadi aja hihihihi.

Ada untungnya juga, sih. Tempo hari kalau gak salah seorang teman panik, tidak sengaja menghapus ratusan foto liburannya di ponsel sebelum sempat di-dokumentasikan. Syukurlah begitu masuk Google Photos, ratusan foto tersebut baik-baik saja dalam folder Google hehehe.

Sekali kalian menyetorkan data secara ONLINE, even sudah setting ONLY ME kek, SUPER PRIVATE LU KAGAK MUNGKIN BISA NGINTIP kek, dst dst, secara otomatis data tersebut sudah bukan milik kalian pribadi.

Terjadi pergeseran cukup besar dalam penyebaran informasi di era digital.

Seperti yang saya singgung di awal, bahkan kalau kita pun niatnya cuma merepet di “grup pribadi” atau lingkaran teman tertentu, be extra careful.

Ingat kasus embak-embak (D) yang ngomel soal ibu hamil di gerbong Commuter Line? Dia posting di PATH kalau gak salah.

Berbeda dengan platform lain, PATH ini bisa dibilang paling “private”. Bener-bener harus temenan baru bisa ngintip. Gak punya settingan public kan ya kalau gak salah? Itu juga harus LOGIN dulu.

Sialnya, salah satu ‘inner circle’ si Mbak D mungkin kesel juga dengan postingan tersebut. Alih-alih konfrontasi langsung, dese melakukan hal yang lebih ‘kejam’. Postingannya di-screenshoot dan disebarluaskan dengan membabi buta secara PUBLIC di berbagai platform media sosial yang lain :(.

Sisanya ya kalian tau sendirilah apa yang terjadi setelah itu.

Membenci itu sesuatu yang sangat manusiawi. Tapi MENYEBAR KEBENCIAN itu beda lagi.

Even chat-chat pribadi harus hati-hati. Harus dipikir-pikir takut kena skrinsyut hahahahaha. APALAGI ceramah-ceramah agama frontal di depan orang banyak (walau ‘inner circle’).

Makanya kasus ceramah-ceramah agama yang pernah ramai itu, soal kontennya sih bukan barang baru lah. Pada umumnya kan ya emang gitu. Sindir-sindiran antar agama hal yang tidak terelakkan.

Ya mungkin karena itu juga banyak yang ‘lelah’ dan memilih tidak beragama (lagi). Karena penyebaran informasi sekarang lebih brutal dan liar :(.

Konten youtube misalnya, entah berapa channel yang suka iseng clickbait dengan mengunggah ceramah-ceramah sepotong-sepotong dari para pemuka agama. Dipilih yang sekonyol atau se-terekdungces mungkin :(.

Ini di semua agama rasanya ada, deh :(.

On the other hand, ya memang susah. Tidak mungkin kita mau ngatur-ngatur keyakinan orang lain. Ya memang pada dasarnya tidak sedikit kaum beragama yang yakin, “Udahlah, kalo lo gak ikut agama gue, ya lu otomatis masuk neraka lah.”

Karena kalau kalian berani-berani berpendapat, “Udahlah, biar Tuhan yang menilai, kita jalani masing-masing saja” ya siap-siap saja dituduh LIBERAL, PLURALIS yang kini makin tajam persinggungannya dengan kaum ‘puritan’/konservatif.

Mungkin ada baiknya para pemuka agama mempertimbangkan pergeseran penyebaran informasi di era terkini. Mbok ya, jangan terlalu vulgar lagi. Apa gak ada yang bisa dibahas lagi soal agama sendiri sampai harus nyinyirin agama orang lain?

Sudah tidak bisa lagi kita menyangkal model, “Loh ini kan buat kalangan internal.”

Helooooooo, kalangan internal piye kalau ternyata semua jemaah bebas merekam dan bebas menyebarluaskan. Apalagi semangat dakwah lagi pada tinggi-tingginya, hijrah dimaknai dengan sebanyak mungkin berkomentar, “Duh, lo cepetan kembali ke jalan yang lurus deh kayak gue. Semoga dapat hidayah. Maaf, cuma mengingatkan.”

Sialnya, yang begini-begini tidak menyebar di kalangan seagama saja, tapi terpental-pental sampai jauh ke mana-mana.

Belum lagi ribetnya UU Penistaan Agama yang entah apaan tauk parameternya. Karena lama-lama yang ‘diproses’ ya yang nyerang mayoritas doang :(. Kuat-kuatan adu massa, banyak-banyakan demo, dst dst dst.

Gagap beragama, gagap teknologi, juga mungkin kombinasi politikus yang paling pinter manfaatin sikon, makin-makin tidak terkendali :(.

Kita hidup dalam perbedaan sudah lama sekali. Yang diributkan juga bukan barang baru. Yaela, ulama muslim yang nyinyirin ajaran Nasrani dari dulu juga buanyaaaaaakkk. Pendeta yang mencibir prosesi ibadah haji dsb juga ada dari kapan tauk mah.

Tapi INTERNET membuat jangkauan informasi yang dulu
terbatas kini terbentang luas. It’s not something we can ignore atas nama dakwah semata :(.

Lagian, diantara sekian banyak persamaan, sudah-sudahilah mempertajam perbedaan. Cobalah lebih banyak membahas problem kemanusiaan yang biasanya mudah terjalin lintas agama itu.

Etapi lupa ada politikus dan birokratis ‘busuk’ yang siap memanfaatkan apa saja untuk memuluskan jalan meraih kekuasaan termasuk memperkuat POLITIK IDENTITAS.

Politik Identitas ini yang juga mendorong kita untuk tidak peduli lagi kepada ‘KONTEN’ tapi super ribet di ‘JUDUL’ :(.

“We build too many walls and not enough bridge” -Isaac Newton-

Think about it.

Toilet-Training untuk Jemaah Haji/Umrah Asal Indonesia

Transit di Abu Dhabi menuju Jakarta waktu mudik berdua doang dengan si bungsu bulan Maret 2018 kemarin. Lagi ribet-ribetnya ngurusin si adek yang mau ganti celana di kamar mandi, saya disamperin oleh embak-embak petugas kebersihan.

“Mama, Mama …” sapanya kepada saya.

Saya enggak kaget. Alumni Timur Tengah pasti sudah terbiasa dengan genggesnya orang-orang asing yang suka manggil-manggil “Bunda/Mama/Sayang” ke ibu-ibu yang mereka sangka asal Indonesia hahaha.

Sepertinya dia orang Filipina.

“Yes?” Jawab saya.

Mudik berdua si bungsu (Maret 2018)

“Mama, help me here.” Dia menunjuk ke arah salah satu bilik toilet. “I need you to teach them. Show them please how to do that.”

“Oooo oke, oke.” Saya langsung paham maksudnya.

Dia memberi kode jempol lalu membuka pintu kamar mandi yang ternyata sudah penuh antrian. Oalah, pantes kamar mandi kosong. Ternyata ditutup sementara sama si embak petugas.

Embak petugas sibuk memberi instruksi, “Tolong Mama, bukan lantai. Duduk, duduk. Siram, siram. Duduk, duduk. Siram, siram.”

Wooowww, si embak petugas (yang nyata-nyata bukan orang Indonesia) berusaha keras berbahasa Indonesia seperlunya dengan mengulang-ulang gerakan seolah duduk dan telunjuk seperti memencet saat bilang “siram”.

Repotnya punya anak kecil. Saya hanya sempat membantu beberapa jemaah yang itu juga saya pilih-pilih yang sudah berumur.

“Permisi Ibu, ini nanti buang air kecilnya duduk, jangan jongkok. Kalau sudah selesai, dipencet yang di belakang itu.”

Si Ibu ngangguk-ngangguk ramah. Eh, begitu tutup pintu kok langsung kedengeran suara flush ?. Si embak petugas geleng-geleng putus asa, “See? They siram-siram first. And then they do that on the floor.”

Antara kasihan sama mau ngakak. Tapi yah gimana, cuma berduaan ama si bungsu. Anaknya udah lari-larian deket pintu mau keluar. Akhirnya saya “pamit” ke luar, setelah membantu menerangkan ke 4-5 jemaah perempuan yang kira-kira masih “perlu bantuan keterangan”.

Barusan baca cerita Mbak Meidia yang lagi naik haji dan cerita soal penggunaan toilet terkait salah satu teman (lansia)nya saat berhaji.

Bukannya ingin merendahkan, tapi kultur/budaya buang air kita di Indonesia kan memang agak beda dulu-dulu. Saya sendiri di rumah dulu (sebelum dijual hahaha) selalu buang air di kamar mandi toilet jongkok hihihi. Ada satu kamar mandi lagi, toilet duduk. Tapi di situ pun, kalau kepepet, ya saya tetap jongkok hahaha.

Kelas 1 SMA pindah numpang ke rumah Tante, kamar mandinya juga ada 2 model. Saya lebih nyaman pakai toilet jongkok. Tapi kalau ke toilet duduk ya saya duduk beneran. Di rumah orang lain, euy, hahaha.

Makanya karena itu jemaah lansia rata-rata belum terbiasa dengan toilet duduk yang sudah menjadi model standar di 99% bandara dan hotel. Untungnya di kamar mandi umum sekitaran Masjidil Haram masih banyak toilet jongkok. Eh, masih gak, tuh?

Saya sudah hengkang dari Saudi sejak tahun 2013. Waktu di sana sih masih banyak toilet jongkok di toilet umum Arab Saudi (kecuali mal-mal besar dan hotel-hotel berbintang).

Gue tuh ya, udahlah rentan disangka TKW domestik pas era abaya-an, giliran modis dikit, dimintai tolong jadi asisten toilet-training di kamar mandi bandara. BHAIQUE ?????.

Setuju banget sama Mbak Meidia, perlu banget deh ada toilet-training buat jemaah-jemaah asal Indonesia. Terutama yang lansia. Biro penyelenggara umrah/haji di Indonesia sangat perlu memasukkan hal-hal simpel ini ke dalam ‘program manasik’.

Apa udah, ya?

PENTING loh itu.

Kadang, risih saja kan jemaah asal negara kita terkenal “jorok”. Padahal bukan begituuuuuu.

Malah secara umum, jemaah Indonesia (dan Malaysia juga deng) itu terkenal tertib dan sabar loh dalam Masjidil Haram. Tidak suka dorong-dorong dan mudah tersenyum kepada siapa saja masya Allah ^_^.

Testimoni ini bukan pengamatan narsis pribadi ala-ala nasionalisme NKRI harga mati semata :p. Tapi pujian langsung dari banyak teman-teman jemaah haji asal Mesir dan berbagai negara Arab lainnya waktu se-tenda bareng mereka di Mina dan Arafah.

Saya naik haji tahun 2012 via hamla (biro haji) lokal di Jeddah. Hamla lokal umumnya 90% peserta = orang Arab dari berbagai negara.

Mina dan tempat melontar jumrah arab saudi
Tempat melontar jumrah dilihat dari sebuah area tenda jemaah di Mina, foto : Dani Rosyadi

Jadi, jangan sampai lah hal-hal sepele macam penggunaan toilet duduk ini jadi “citra buruk” yang berlarut-larut. Apalagi sekarang model jet washer ada yang langsung dari belakang itu. Bukan pakai pegangan lagi.

Jet washer otomatis yang udah nempel di bagian belakang toilet itu kadang pakai hand-signal loh bukan diputar lagi. Begitu juga dengan flushing, sudah banyak yang pakai teknologi hand-signal.

Takutnya bingung dan panik kok gak ada pencetannya hehehe. Ada juga yang begitu kita berdiri atau gerak dikit atau buka doorlock langsung flush otomatis.

Sungguh perkembangan teknologi dalam dunia pipis-eek ini kadang gemes-gemes kesel hihihihi. Sebenarnya sangat memudahkan tapi ya buat yang sudah berumur butuh penyesuaian yang lebih “intens” :). Manusiawi kok itu ;).

Semoga penyelenggaraan haji dan umrah khususnya buat jemaah Indonesia terus membaik dari tahun ke tahun. Aamiin ya rabbal aalamin <3.

Tak terasa beberapa hari lagi, dari seluruh penjuru Mina akan bergerak bersama menuju Padang Arafah. Berdiam di sana sampai senja mulai menghilang di hari itu juga.

Masih terkenang rasa haru saat ramai-ramai keluar dari tenda, menikmati detik-detik mentari terbenam, saling memandang dengan mata berkaca-kaca, dan kita semua harus bergerak pergi meninggalkan Arafah.

“Zawwadakallahut taqwa wa ghofaro dzanbaka wa yassaro lakal khoiro haytsuma kunta (Semoga Allah membekalimu dengan takwa, mengampuni dosa-dosamu, dan memudahkanmu di mana saja engkau berada).”

Semoga menjadi haji mabrur, ya, teman-teman semua ????.

Cara Mendapatkan Uang di Youtube vs Berbagai Upaya Viral

Betul, saya memang sering menulis, enak banget sekarang cara mendapatkan uang di youtube. Intinya, mau cari uang tuh lebih gampang dan banyak kesempatan.

TAPI JANGAN LUPA, yang gampang-gampang itu BIASANYA BANYAK YANG BISA. Otomatis jadi buanyaaaaaakkkkkk banget saingan.

Apa susahnya jadi youtuber?

Kalau kalian punya akun Google, voila, bikin akun youtube cuma tinggal menjentikkan jari. Pasang adsense juga gampang banget. Sebelum Februari 2018, tidak ada batasan jumlah subscribe dan waktu penayangan minimal. Bebaaaasssss.

Sekarang juga syaratnya tetap mudah ditembus.

Bayangin, SEMUA ORANG bisa jadi YOUTUBER.

Makanyaaaaaaa, jangan sok gampang-gampangin hidup gak perlu sekolah bla bla bla kalok kepepet tinggal jadi youtuber, endorser, jualan onlen, ngana ngunu ngano. Lu kira gampang cari uang online model begitu hahahaha.

cara mendapatkan uang di youtube

Jualan onlen asyik, bisa tanpa modal, tapi saingannya MELIMPAH RUAH!

Bikin vlog modal hape juga udah bisa. Banyak aplikasi edit video gratisan yang keren-keren dst dst dst. Bayangin seberapa banyak orang yang punya kesempatan jadi youtuber kalau mau. Kompetitor MEMBLUDAK!

Kira-kira minggu lalu saya dan suami iseng nyari guitar-cover nya “More Than Words”, lagu jadul favorit kami dulu.

Banyak bener sekarang cover gini-ginian. Dan mereka itu NIAT banget loh. Walau cuma syuting di ruang tertutup tapi sound systemnya kece. Bagus-baguuuuussss ???. Wow!

Ketemu sebuah cover embak-embak yang saya pikir video bokep yang nyaru jadi cover lagu hahahaha. Padahal itu embak-embaknya nenteng gitar di thumbnailnya.

Saya klik. Eh, beneran si embak nyanyi sambil main gitar walau buah dadanya seperti mau tumpah gitu ??????. Suami gue cengengesan liatnya.

Pas di-klik channelnya, thumbnailnya ya begitu semua hahahaahha. Model bajunya sama semua cuma warna aja yang beda-beda ???.

Ngikik-ngikik baca komen-komennya, “Wow, this is the ‘breast’ cover I’ve ever seen” ???.

Saya tidak paham soal skill main gitar. Di telinga saya sih oke-oke saja si embak ini. Tapi kata suami saya, mainnya agak goyang pas nyanyi, dan katanya sih selevel itu belum yang bener-bener pro. But overall, tetap enak didenger (y).

Eh, ternyata yang bikin cover piano juga ada yang begini, “The Breast Pianist!” ???.

And now we had KIMI HIME di Indonesia :p. Kemarin lagi, ramai, tuh.

Kita mundur dikit ke belakang. Abege 90 an pasti tahu Mariah Carey kan, ya? Diva luar biasa ini tadinya selalu berpenampilan relatif sporty. Kemudian tahu-tahu membranding dirinya dengan penampilan super seksi.

Di Indonesia, ada Krisdayanti ;).

WHYYYYYYY ???

Dua-duanya punya suara cetar membahana terpampang nyata di hadapan mata bukan fatamorgana ye kan. Kenapa harus memakai baju dengan belahan dada super rendah bla bla bla gitu?

Selevel DIVA 24 karat macam Carey dan KD saja harus “nganu-nganu” untuk mempertahankan tahta di dunia hiburan di mana sebenarnya bakat mereka sudah jauh di atas rata-rata.

Masih inget video klip KD yang ini? Lagunya keren, suaranya bagus, tapi ya outfitnya lumayan terbuka. Ini belum apa-apa. Makin ke sini, KD makin berani. Jadi kalau lihat video klip “Terserah” ini terlihat sopan-sopan saja ya untuk ukuran seorang KD :p.

Ya bayangin aja PERSAINGAN di era digital yang semua orang dari (hampir) seluruh penjuru dunia rebutan nyari TRAFFIC di YOutube ???.

Apalagi yang skillnya sebenarnya biasa-biasa saja. Harus setengah mati mencari cara untuk viral. Hingga akhirnya banyak yang kebablasan, seperti pepatah lawas, “Kalau mau terkenal kencingi sumur zam-zam.”

Makanya tidak sedikit yang berlomba-lomba “melakukan segala cara” untuk menarik perhatian VIEWER / penonton :).

Segala baju hampir telanjang sambil main instrumen musik lah, dandan ala Barbie dengan baju menerawang sambil masak di dapur lah, ada yang pakai bikini sambil nerangin hewan-hewan laut dengan suara mendesah-desah (sarjana beneran loh dese) dst dst.

Yang alay-alay, pakai video-video prank-prank an. Ya abis gimana, relatif mudah dan ternyata dianggap lucu dan mudah viral ??? .

Ada juga yang bikin thumbnail dengan judul agak-agak “mengundang” –> “ADEGAN PANAS DI DAPUR, SUPER HOT!” Padahal lagi masak hahahahahaha. Lucu, sih, ya #eh :p.

Segitu gilanya kah dunia sekarang? Jangan pesimis begitu.

In the end, kita masih punya CELINE DION dan ADELE ???. Tahu jawaban Adele waktu diwawancara dan ditanyain, “Kok gak diet sih, Kak?” –> “Saya menciptakan nada dan lagu biar enak didenger, yes? They’re for your EARS.”

Tapi yang bisa SELEVEL Celine Dion dan ADELE emang ada berapaaaaaaaaaaaaaaa ???. ONE in a MILLION.

Kebanyakan ya memang harus gila-gila dulu baru bisa tenar ???. Apalagi yang ingin cara ‘instan’.

Yang gamer di Youtube, Top 10 nya masih dipegang oleh Dan TDM dkk kok ;). Yang memang gamer super canggih yang jam terbang tinggi dan mainnya emang enak, ya. Ngobrolnya asyik. Si Kimi itu kalok maen game diem aja, anak-anak mana demen yang kek gitu ;).

Model-model Kimi HIme itu kalau main game-nya ngebosenin gitu ya lama-lama mentok juga.

Hidup ini memang tidak akan pernah adil 100%, kok. Mitos bahwa kerja keras, ketulusan, keikhlasan, akan selalu berbuah kesuksesan itu TIDAK SELALU BENAR.

Kita iri pada legenda semacam Michael Jackson, tapi tengok jalan hidupnya yang “tragis” di masa lalu dan kasus pedofilnya :(.

Celine Dion keren dan hidupnya gak aneh-aneh, tapi kita semua tahu karya-karyanya Mariah Carey yang bertengger di puncak tangga lagu jauuuuuuuhhhhhh lebih banyak daripada Celion Dion ;).

cara mendapatkan uang di youtube

Mariah Carey itu pernah benar-benar di “PUNCAK” tak tertandingi. Sebaris dengan Michael Jackson lah. Celine Dion kan tidak pernah bener-bener ada di level itu tapi lebih stabil sampai sekarang :).

Selalu ada harga yang harus dibayar lah intinya.

Dan di era digital ini, HARGA yang harus dibayar itu LEBIH MAHAL lagi karena PERSAINGANnya jauh lebih ketat.

Saya tidak mau membahas apakah pamer-pamer tetek dan sebangsanya di video-video youtube itu BENAR atau SALAH?

Simpel aja, your life your value your choice ???.

Makanya sebenernya lebih mudah menggantungkan penghasilan lewat jalur “tradisional” yang lebih “fair” :).

Kalau ambisi tinggi MENTAL gampang remuk, jangan coba-coba menggantungkan nasib dari dunia begini-beginian.

Lilly Singh. David Marcu. “Happiness is one of the hardest things to fight for; but it’s the only thing worth fighting for.”

Inget, jangan sampe menyandarkan tangga kebahagiaan pada dinding yang salah. Dinding yang gampang remuk hanya akan mengubur kita bareng puing-puingnya, kan?

Subscriber mungkin isinya mayoritas hater, menginspirasi hidup orang lain buat bekal amal juga kagak, walau banyak view banyak duit apa nyenyak tidur kalau diomongin semata karena perkara tetek? ??.

Ya nyenyak aja sih ya apa lo apa lo apa lo, dasar tetek kecil sirik aje ????.

Pengaruh media sosial

Pengaruh Media Sosial : Dulu vs Sekarang?

Another keluhan era terkini, pengaruh media sosial yang katanya sudah sedemikian merusak hidup kita. Kemarin gadget dianggap merusak masa depan anak. Sekarang medsos dirasa menghancurkan kedamaian para ibu-ibu ???.

Kerennya ibu-ibu zaman dulu, masak pakai tungku, enggak ada kulkas, enggak ada rice cooker, ngurus anak sampai 10, kok hepi-hepi aje.

Ho-oh.

DULU : Tidak sedikit ibu-ibu muda habis melahirkan tahu-tahu membunuh bayinya atau tahu-tahu terlihat seperti orang gila. Kata sekitar, “Ooooo dia kerasukan. Mungkin kurang ibadah.”

NOW : thanks to social media, daripada ibu-ibu Posyandu di-training butuh ongkos belum lagi butuh tenaga banyak dari Sabang sampai Merauke, cukup edukasi pakai artikel-artikel di situs-situs web yang bisa dishare sepuas hati via media sosial.

DULU : Ari Hanggara (eh bener gak ini namanya?) konon mati disiksa oleh ibu tiri. Sudah bolak balik digebukin hingga akhirnya meninggal dunia :(. Nobody knows sampai akhirnya dibikinin film.

NOW : Ya coba aja … netijen siap sedia memviralkan segala sesuatu yang aneh-aneh.

DULU : monggo dicek tingkat kematian ibu dan anak (dalam proses melahirkan) apakah dari tahun ke tahun tidak mengalami perbaikan? Ada apa-apa pas lagi hamil … CLUELESS. Lom tentu juga ada rumkit terdekat.

NOW : mual-muntah hamil muda .. panik? Googling. Eh, keluar darah pas trimester pertama … gimana dong? Googling. Aduh, ini kontraksi sebenernya asli apa palsu dah, kapan lahirannya ini? Googling.

pengaruh media sosial

DULU : Duh, makanan buat bayi apa ya. Ke tetangga entar disangka cupu. Nanya emak dinasihati. Nanya mertua bisa lebih sakit ati. Masa iya kudu bolak balik Posyandu mulu minta menu.

Jauh euy. Kudu melintas 2 sungai mendaki 3 gunung.
(Kelian kira se-Indonesia raya ini jalanannya tol semua).

NOW : Googling aje, Sis!

O ya, ibu saya anaknya 7, korban pernikahan paksa, and nope, she was never boasting around about it. Malah sejak usia dini, menyemangati saya untuk sekolah sampai tinggi-tinggi, setinggi yang saya bisa.

Diajarin KB hahaha. Dipaksa-paksa pakai spiral. Emak saya gemes saya nekat pakai KB alami sampai sekarang ???.

Dinasihati ngapain dah punya anak banyak-banyak. Dibatasi saja. Biar lebih fokus merawat. Sempat hubungan memanas gara-gara beliau tidak rela melihat saya melepaskan pekerjaan dari kantor untuk menjadi ibu rumah tangga.

Jangan DIKIRA senyum di wajah ibu-ibu kita di masa lalu ADALAH PERSETUJUAN MEREKA dan PENERIMAAN MEREKA atas segala sesuatu yang terjadi.

Ya dulu mereka belum punya akun Facebook ajeeee. Belom paham kalau perempuan bisa berdaya berdikari dengan berbagai macam cara walau tetap stay di rumah.

Hidup yang mereka tahu yang cebokin pantat-pantat anak-anaknya, memasak dari pagi sampai malam, sembari menyapu mengepel sampe encok, capek ditelan sendiri, soalnya pilihan apa yang mereka punya????

Zaman dulu ya bisa gitu tepok-tepok paha si kecil ampe bobok sambil ngecek PO lewat Whatsapp dan komen-komen IG. Gak perlu sering-sering keluar rumah, duit bisa ngalir masuk. Abang-abang JNE dah ada yang mau jemput langsung ke rumah.

Buibu, yang kalian gunakan untuk scrolling di medsos dan pencet info sana sini, kepoin foto orang sana sini terus resah sendiri terus cemburu sendiri terus stres sendiri kan JARI-JARI KALIAN SENDIRI.

Pengaruh media sosial

Apa organ tubuh kalian ada yang mengendalikan? NOPE.

You are the remote of your own fingers. Jarimu pilihanmu. Medsos dipakek buat rumpi-rumpi buat banding-bandingin yo cari penyakit ????.

Mau balik ke masa lalu? Monggoooooooo ???. Tinggal deaktivasi atau hapus akun sekalian, beres. Sisain WA buat hal-hal yang penting dan komunikasi kekinian. Tapi FYI, whatsapp tuh sarang hoaks yang paling susah dibendung loh ;).