Negara Maju dan Negara Berkembang (2) : SISTEM

Ramai lagi kontroversi beberes sendiri di restoran. Adaaaaaa saja tuduhan-tuduhan “Dasar manja, dasar pemalas!”

Mental Indonesia katanya. Mental minta dilayani.

Itu bukan mental Indonesia. Lebih tepat dikatakan sebagai “mental yang ada di negara berkembang pada umumnya” .

Ini sebenarnya sudah dibahas di bagian pertama. Soal kesenjangan penghasilan.

Di Yurop tenaga manusia mahaaaaaaallll . That’s why di banyak negara Eropa Barat, toko-toko umumnya tutup di hari Minggu. Irlandia sih tetap buka. Durasinya yang dipangkas.

Negara maju di asia
Gambar : lifehopeandtruth.com

Karena di hari libur, tenaga manusia itu lebih mahal, dihitung lembur.

Di Amerika Serikat juga hari minggu malah ruameeeee, tetap buka kayak biasa. Di Negeri Paman Sam, orang super tajir dan homeless mewarnai kehidupan di kota-kota besar. Negara maju rasa negara berkembang hihihi.

Di Ireland paling malas makan di restoran. Mahal. Sumpah, mending masak sendiri. Daging sekilo paling 8 euro saja itu kalau direndang bisa makan sekeluarga ye kan. Harga ayam mentah malah cuma 4 euro per satu ekor udah dipotong-potong.

Di resto, satu porsi yang tidak terlalu besar juga bisa dipatok minimal 10 euro. Ogaaaaahhhhhh . Syukur-syukur cocok di lidah. Kadang cuma daging bakar pakek sedikit garam sama merica zzzz .

Karena di restoran ya selain bayar tempat juga harus bayar pegawai. Restoran siap saji sih murah. Cuma susah yang versi halal dan itu anu….embaknya dimari rewel soal kesehatan hehehe. Ingat-ingat, semua penyakit berawal dari perut .

Kebalikan sama di Jeddah dan di Texas. Enakan jajan di luar hihihi. Makanan NON siap saji juga banyak yang cocok di kantong .

Bukan cuma soal beberes di restoran. Soal kebersihan juga mirip. Kdisiplinan di ruang publik juga sama.

Bukan karena kedisiplinan individu rendah. Lah buktinya orang-orang dari negara berkembang kalau dilempar ke Yurop pasti otomatis disiplin, kok. Cobak aja lu berani buang sampah di sungai sini kalau gak ditangkep + denda + penjara hahahaha.

Di Jakarta mah lempar kasur ke sungai juga bebaaaaaasssss . Dulu dapat gubernur galak dan mati-matian menegakkan disiplin malah masukin ke penjara .

Ada yang namanya efek “Jendela pecah”. Pernah dengar?

Jadi begini, kejahatan besar itu bisa dicegah justru dengan menghalangi terjadinya kejahatan-kejahatan kecil. Kaca jendela sebuah rumah yang dibiarkan retak akan “menggoda” orang lain (orang baik-baik sekali pun) untuk berbuat lebih jauh.

Sekitar tahun 90 an di New York, pemerintah terkait tiba-tiba rutin menangkapi orang-orang yang enggak bayar karcis pas naik kereta. Padahal kejahatan-kejahatan luar biasa seperti perampokan, perkosaan, dan pembunuhan juga tidak kalah ramainya, tapi mereka fokus utamanya di stasiun-stasiun kereta.

Ajaibnya, dari menangkapi orang-orang yang malas bayar karcis yang harganya tidak seberapa ini, kejahatan secara umum di New York di tahun 90 an bisa turun drastis. Baca buku Tipping Point for more detail .

Pasti lebih segan membuang sampah di tempat yang bersih ketimbang di tempat yang banyak sampah di mana-mana. Karena kita pikir ya udah sih udah terlanjur kotor. Buang satu juga gak akan kelihatan.

Kalau di Yurop udah grogi duluan. Jalanannnya bersih, sih, sih. Lempar tisu selembar saja pasti langsung mencuri perhatian.

Jangan diharap menegakkan kebersihan ngandelin warga doang. Semua juga pakai petugas/sistem khusus lah mau di negara mana juga .

Lu kira di Ireland ada kerja bakti warga sabtu-minggu bersihin jalan dan selokan? Pakek petugas khusus lah yaooowwww .

Plus penegakan hukum .

Di Bern, Swiss, orang mau naik bus enggak pernah diperiksa. Beli karcis manual pakai mesin. Mana mahal banget. Saya kira orang bisa curang seenaknya. Soalnya kok gak ada petugas pemeriksa?

Hamil 4 bulan anak ke-3. Lagi assignment ke Bern-Swiss 😀

Seolah mereka percaya nanti ada malaikat yang mencatat. Eh bentar, mereka kafir, deng! Hahahahaha .

Ternyataaaa, secara random, petugas mencegat bus di tengah jalan dan naik meriksain tiket satu-satu. Petugas sudah menenteng mesin pembayaran via kartu segala.

Dengan mata kepala sendiri saya melihat beneran ada yang enggak beli karcis. Orang lokal, bukan pendatang. Aksennya kelihatan .

Dese diturunin di stasiun berikutnya tanpa perlawanan dan membayar via kartu dengan wajah lemas. Dendanya 100 frank, Cuy! Pakai kurs 2015, sekitar 1.5 juta rupiah! Sedaaaaaapppp .

Pembangunan infrastruktur transportasi merata di negara maju. Tram di Bern, Swiss (gambar : bahnbilder.de)

Nah, dengan denda segitu besar dan penegakan hukum secara disiplin, SIAPA YANG BERANI MELANGGAR!

Kalau cuma UUnya doang gak ada pelaksanaan ya sama juga boong .

Di Dublin kalau ketahuan celahnya ya bandel juga. Dulu belum banyak penerapan mobil diderek jadi pada berani di hari minggu parkir sembarangan.

Saya pernah ke Dublin Zoo pas hari minggu. Orang parkir ngasal banget karena mereka sudah hafal, hari minggu petugas libur dan belum banyak pasukan derek waktu itu.

Gilak banget, segala rumput diterabas. Tapi coba di hari-hari lainnya, mereka mana beraniiiiiiii.

Jadi seringnya tidak terlalu bergantung pada kedisiplinan individu. Situ pikir orang bule kalau nyetir di Jakarta bakal menerapkan kedisiplinan yang sama. Gak nyampe-nyampe dong nanti hahaha.

Misalnya jaga jarak aman. Di sini sih suami rewel mengingatkan saya untuk menjaga jarak aman kalau lagi nyetir apalagi di jalan tol.

Tapi suami selalu bilang, “Ingat ini khusus Ireland yak. Kalok di Jakarta lu nyetir jaga jarak sejauh ini depan lo disosor motor sama angkot. Jangan! Kudu pepet pantat!” Hahaha. Siyap Bos!

Terus kan kalau di Ireland harus full SETOP di perempatan. Kalau di Jakarta kata suami harus berani motong. Kalau setop doang mah sampai tahun depan jangan harap dikasih jalan.

Orang Indonesia nyetir di Irlandia ya biasanya bisa menyesuaikan diri. Malah saya khawatir orang-orang Yurop ini yang keringat dingin disuruh nyetir di Jakarta hahaha.

Faktor lingkungan itu penting. SISTEM yang berjalan sangat menentukan pola hidup kita di suatu tempat.

Mental individu bisa menyesuaikan.

Suami saya nyetir di Arab Saudi ya ikut gaya sana, ngebut jangan kasih ampun hahahaha. Di Texas, kecepatan di atas 100 km / jam dengan jalanan padat harus siap disalip kiri kanan.

Kota Jeddah Arab Saudi
Jalan-jalan raya di Kota Jeddah Foto : Dani Rosyadi

Di Irlandia ya ngikut cara sini. Menyetir dengan santun apalagi kami di kota kecil. Ngambil SIM di Irlandia ini yang paling berat kata suami saya. Tesnya paling susah walau dia bisa tembus sekali nyoba.

Di Iran dan Swiss gak pernah nyetir . Nyetir di Jakarta ya ngikut cara Jakarta hihihi.

Makanya buang jauh-jauh prinsip, “Yang penting di rumah anak-anak kita didik dengan baik. Bodo amat sisanya!”

Dear(s), it took a village to raise our youngs, sering dengar kan pepatah terkenal ini.

Anak-anak kita tidak akan terbatas kehidupannya oleh dinding-dinding rumah kita saja. Tidak pula hanya sebatas pekarangan rumah. Bahkan pun tidak hanya dalam kompleks. Mereka kan makhluk sosial, sama seperti kita. Butuh berinteraksi dengan orang lain di berbagai tempat.

Bahkan di Tipping Point ditegaskan ada penelitian yang membuktikan, “Anak-anak broken home yang dibesarkan di lingkungan baik-baik AKAN JAUH LEBIH SELAMAT daripada anak-anak keluarga baik-baik yang dibesarkan di lingkungan yang rusak.”

Pilihan POLITIK -mu memberi warna yangn tidak sedikit kepada akan seperti apa lingkungan yang ingin kita persembahkan kepada generasi-generasi kita kelak .

Gak mau kampanye kok hahahaha.

Where ignorance is our master,
there is no possibility of real peace.
-Dalai Lama-

Hanya mau bilang, jangan tidak peduli ya .

-Simply a Mom-

Resolusi Tahun Baru 2019 dan Pencapaian 2018 *tsaaaahhh* :p

2018-Yay ^_^ :

1. Yayyy, akhirnya bisa nyetir sendiri! Sudah pede nan berani masuk tol dan nyetir sampai kecepatan 120 km/h .

Menyetir itu resolusi bertahun-tahun sejak 2004 hahaha. Hingga akhirnya sebelum hamil anak ke-3 tahun 2014 mulai belajar nyetir lagi, suami saya bilang begini, “Udahlah, kayaknya kamu ditakdirkan buat nyetir mobil matic aja, gak bakal bisa nyetir mobil manual. Tipe-tipe Spongebob gitu.”

((TIPE-TIPE SPONGEBOB)) ??????

Terus pasrah beneran.

Tapi tahun 2018 ini, kok ya ngotot lagi. One last try. Langsung apply sim L dan latihan bareng suami. Tadinya mau via kursus tapi mau nyoba instruktur gratisan dulu.

Akhirnya bisa juga tembus sampai ke jalan tanpa perlu kursus hihihi. Tapi untuk apply full-license tetap harus via instrukstur resmi kalau di Ireland.

Thank you, the best Coach ever! Walo galakan yang diajarin daripada yang ngajar ???.

Total waktu yang dibutuhkan sekitar 2 bulan. Kalau hari biasa non libur memang hanya bisa weekend. Tapi pas libur ditancap gas sama suami buat nyetir tiap hari ke luar kota. Ini dia gayanya si Eneng pas mau nyetir ke luar kota liburan akhir tahun kemaren ;).

Memang harus rajin dan berani, sih. Apalagi sempat stres salah ganti gigi di jalan tol, maunya gigi 5 nyasar ke gigi 3 hahaha. Tapi setelahnya, lancaaaarrrrr.

Sudah nyetir ke luar kota beberapa kali. Rekam jejaknya sudah lebih dari 200 km #sisirPoni.

Terbantu juga sih dengan sikon kota kecil di yurop yang pengemudinya manis-manis dan sopan-sopan dan jalanan yang tidak terlalu ramai. Walau mereka masih tergolong “nakal” di jalan tol. Saya sudah kecepatan maksimal 120 km/h masih disalip-salip mulu hehehehe.

Di pedesaan Ireland mah orangnya sopan-sopan. Gak bakal klakson. Pernah mati mesin berkali-kali pas mau motong jalan di tanjakan. Yang belakang sabar menanti hihihihi. Makasih atas kesabarannya ya saudaran-saudara “kafir” ku .

Kata suami kalok di Jakarta udah abis di-anj*ng-an**ngin hahahaha.

Kalok di Jakarta ya kayaknya belom lancar. Juga di kota-kota besar seperti Dublin dkk. Nyetirnya ramai dan jauh lebih ugal-ugalan.

Enggak papa yang penting sudah bisa dibantukan buat nganter-nganter anak ngaji sama les berenang hihihi. Congrats Papa, bininya dah bisa nyetir! ???.

Sudah putus asa abis udah makin tua kayaknya makin penakut. Alhamdulillah, never say never . Ayok teman-teman sesama emak-emak yang jelang 40 tapi masih penasaran pengin belajar nyetir, maju terooosss.

Lagian di Jakarta sudah era mobil matic. Gak perlu lagi stres ganti-ganti gigi kayak saya di sini hahahaha. Matic lebih mudah harusnya ya .

2. Yayyyyy, youtube channel mencapai target 1000 subsriber + 4000 jam / 240 ribu menit berdasar aturan baru Youtube yang ngeselin ituh huhuhu. Tadinya sudah males. Tapi sejak April mulai bikin kategori baru “skincare review” kok trafficnya jadi menanjak jadi semangat lagi.

Btw, ini dia vlog skincare review terbaru, dah nonton beloooonnnn :p

Di 2017, last 365 days –> total view hanya 109 ribu menit dan 213 subscriber.
Di 2018, last 365 days –> total view menjadi 311 ribu menit (di atas 5000 jam!  dan 1119 subscriber.

Yang belum subscribe, tentu boleh banget subscribe ya Kakaaa ke channel youtube saya di sini :D.

2018 – No ??? : Banyaaaaaakkkkk ???.

Gak papa mari kita ulang lagi di 2019 ini ? :

1. Menulis buku (lagi). Terakhir terbit tahun 2014 hahahaha. Dulu sih karena keasyikan menulis buat media cetak. Tulisan traveling mayan rajin. Tapi terus media-media cetak pada gulung tikar . Terus jadi males sendiri.

2. Postingan di blog di 2018 rekor terburuk, hanya 73 tulisan setahun. Sebelum-sebelumnya minimal 100 postingan .

Makanya, harus kembali giat di 2019. Kerja, kerja, kerja #dasarCebong. Ketemu pulak, giphy yang pas hahaha.

resolusi tahun baru

3. Yoga, yoga, yoga –> resolusi yang gagal 5 tahun berturut-turut. Tapi nyetir aja gagal sampai belasan tahun toh terkabul juga ye kaaaaannn hahahahha.

4. Belajar motret. New year, new skill . Sekarang emak-emak dah jagoan motret modal hape doang. Dulu males belajar motret karena suami suka fotografi jadi tinggal tereak, “Baaaanggg, fotoin masakanku dong” hahahahaha.

Tiga tahun terakhir ini makin seneng masak dan review buku, jadi pengin belajar motret yang lebih baik .

resolusi tahun baru

Anyway,

Ini video kenang-kenangan waktu masih belajar nyetir di kompleks perkantoran saban weekend bulan Oktober kemaren . Masih tegang abeessss ???, padahal cuma belajar mundur L pelan-pelan doang . Kesel banget liat tampangnya hahaha.

Rasanya pesimis banget waktu itu, mundur segitu doang butuh ampir semenit masih mencong-mencong pulak. But …

“We are not beginners forever. BUT we never stop learning” -Sandra Scofield-

Bring it on, 2019 ???

 

resolusi tahun baru

Teori Bandul, Empati, dan Simpati

 Dua hari yang lalu membaca status tentang teori Bandul di wallnya Kak Accank :

“Hijrah adalah ajaran Islam. Tapi bisa lahirkan fenomena -born again- yang mendorong ayunan bandul dari 1 ekstrem ke ekstrem yang lain, bukan ke tengah. Nah, yang telanjur terlempar ke ekstrem lain, harus beringsut ke tengah lagi.

-Demikianlah kami jadikan kalian umat pertengahan- (QS 2 : 143)” *Haidar Bagir*.

Terayun-ayun ala bandul ini sepertinya terjadi pada banyak orang. Saya pun seperti bandul yang terdorong jauh ke sisi seberang pas kelas 1 SMA dengan kecepatan yang tidak kalah ekstremnya.

Di suatu sesi diskusi penataran P4, saya mengecam murid-murid yang mengenakan simbol agama di sekolah-sekolah umum. Secara eksplisit saya sebut jilbab.

Sekitar sebulanan setelah kejadian, pas dipindah ke kelas lain saya kenalan dengan teman berjilbab. Anaknya manis, rapi, dan wangi . Dari dia, saya diberi buku bersampul kuning yang isinya bikin saya “hijrah” dalam tempo dua jam saja hehehe .

Besoknya langsung mendeklarasikan ke Mama kalau saya mau pakai jilbab. Langsung di-approve.

Harus disyukuri saat saya terayun sedemikian ekstrem itu, belum ada Facebook dkk hahahaha. Terbayang gak sih kalau prosesnya terjadi sekarang? *tutupMuka*.

Pengaruh media sosial

Saya tidak berani memastikan sekarang ini saya ada di posisi yang mana. Apa sudah di tengah, atau malah terlalu ke “kiri”. Entah juga.

Tapi hal yang lebih penting buat saya adalah kemudahan merasakan empati. Untuk mengimbangi rasa kesal kepada bandul-bandul yang mengalami fase yang sama di sekitar saya sekarang-sekarang ini.

Terbayang, betapa ngeselinnya mungkin saya dulu di mata beberapa teman/kerabat dekat di masa-masa itu hahahaha.

Terkait soal EMPATI, kayaknya tidak sedikit orang yang masih kebolak balik dengan makna SIMPATI.

Langsung copas dari KBBI online :

Simpati –>

1 rasa kasih; rasa setuju (kepada); rasa suka
2 keikutsertaan merasakan perasaan (senang, susah, dan sebagainya)

Empati –> Psi keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain;

Merasa berEMPATI belum tentu berSIMPATI. Kan bedaaaaaa .

Keduanya tidak bertentangan.

Masih inget kasus Robot Gedek? Aduh, pas beritanya ramai pengin rasanya eike cincang tu orang sampai tidak bersisa. Kasus sodomi-bunuh-mutilasi. Jahatnya minta ampun.

Tak berapa lama, tertangkap satu orang lagi dengan kasus yang sama. Pelakunya dikenal dengan nama Babe (bacanya bukan Beb / Baby, tapi Babe dalam bahasa Betawi yaoowww).

Tertangkapnya si Babe ini membuka sejarah kelam masa kecil si Robot Gedek.

Ternyata, Robot Gedek adalah korbannya Babe. Babe ini waktu tertangkap memang sudah tua. Jadi, pas Robot Gedek masih kecil, mungkin Babe umurnya masih 30-40 tahun. Walau tak dibunuh, Robot Gedek ini sering disodomi dan dianiaya oleh Babe sampai bertahun-tahun.

Hidup di jalanan mau tak mau membuat beberapa anak kecil dari kalangan kurang mampu harus menggantungkan hidup pada orang-orang dewasa seperti Babe. Yang sayangnya biasanya memanipulasi mereka habis-habisan.

Tentu saya tetap kesal pada Robot Gedek. Tapi, sejak itu udah enggak pengin cakar-cakar tembok sambil mencincang dia lagi. Sebenarnya, dia itu penjahat apa korban?

Ya malah sedih kan jadinya. Masalahnya bukan hanya terkait satu individu tapi kompleks sekali. Ini sudah mencakup ke peran negara dan pemerintah dalam isu besar menangani anak-anak jalanan dan masa depan mereka.

Juga teror kemiskinan yang masih jarang kita sadari efeknya .

Seharusnya kita tidak boleh mendukung kejahatan DALAM BENTUK APA PUN. Sukar bersimpati pada orang-orang seperti Robot Gedek dll.

Tapi saya yakin sekali kalau kalian punya gambaran yang lebih utuh soal si RG tadi dan latar belakangnya … pasti, minimal sedikiiiiiiiiittt saja, ada rasa lain selain rasa benci yang muncul dalam hati.

Itu gunanya empati, teman-teman .

Empati umumnya hadir dari perspektif yang lebih lengkap, semacam cover both side.

Dalam hubungan nyata sesama manusia pun, prinsip-prinsip universal semacam TOLERANSI dan EMPATI itu sangat kompleks. Apalagi yang terlibat sesama manusia yang pastinya sama-sama tidak sempurna dengan latar belakang serba unik.

Manusia bukan robot. Arah hatinya tidak bisa ditebak. Tidak ada rumus pasti.

Kira-kira begitu juga dengan kasus di Kotagede dan kasus di Irlandia di tulisan saya tempo hari .

Saya tahu banyak yang gegap gempita mempersoalkan masalah TOLERANSI dan itu sangat wajar dengan kondisi merebaknya “Politik Identitas” yang sangat memprihatinkan ini .

What I was trying to do is showing you a different point of view. Aslinya tidak seindah itu juga kaleeeee tinggal di Irlandia urusan agama mah hehehehe. Tapi apa perlu ditekankan yang kurang baik dan saya beberin panjang lebar dari a sampai z?

Nanti kesannya mau balas dendam, “Woooiii, muslim juga menghadapi banyak ketidakadilan, kok.”

Yooo ndak boleh gitu dong hehehe. Inget prinsip bandul . As hard as it might be, kita harus tetap menjaga keseimbangan agar bisa berada di tengah dengan menjadi PENENGAH. Aamiin .

Gambar : pixabay.com

Ah, situ juga suka blokir orang yang tidak sependapat hahahaha *meletMelet*. Ya kan itulah uniknya manusia. Tidak bakal sempurna. Kadang waras kadang juga hawa nyolotnya yang lebih mendominasi hahahaha.

Mari mengelola segala kekurangan tersebut tanpa menghentikan segala daya dan upaya untuk menyeimbangkan posisi bandul agar sebisa mungkin tetap berada di tengah .

Semoga segala perbedaan bisa diurai lebih lapang, lebih seksama, untuk mengasah rasa empati tanpa perlu terdistorsi dengan rasa simpati.

Seharusnya ini bukan hal yang sulit-sulit amat.

Seperti yang saya kutip dari sebuah video (link videonya di kolom komentar) –> “”Because in reality there’s a lot more that makes us similar than makes us different and that is something to celebrate every single day.”

Terimakan perbedaan, rayakan persamaan.

And today is definitely NOT less special than any other day to celebrate :

Semoga banyak makin banyak cinta di hari ini untuk merekatkan kembali ikatan yang lagi longgar-longgarnya ini? . As love is the best gift we could have asked for any moment.

Selamat hari Natal bagi teman-teman yang merayakan .

Intoleransi, Adaptasi, dan Inklusi

Saya punya teman yang sekarang bermukim di Finlandia, si Neng Aliva yang sebenarnya kalau menulis itu bagus-bagus banget dan sesuai keilmuannya di bidang sosiologi apa psikologi, ya.

Aliva baru-baru ini menulis soal INKLUSI. Jangan bayangin inklusi terkait khusus anak berkebutuhan khusus, ya. Sayang, tulisannya dibandrol “Friends Only”. Aliva bilang dia belum siap go public hahaha .  Ngeri ngadepin netizen kalau sudah beda pendapat menerjang-menerjang terjang hihihihi.

Comot dari Google :

Pengertian INKLUSI digunakan sebagai sebuah pendekatan untuk membangun dan mengembangkan sebuah lingkungan yang semakin terbuka; mengajak masuk dan mengikutsertakan semua orang dengan berbagai perbedaan latar belakang, karakteristik, kemampuan, status, kondisi, etnik, budaya dan lainnya.

Yup, ternyata lingkungan sekolah di Finlandia sifatnya INKLUSI alih-alih ADAPTASI yang dianut kebanyakan wilayah.

Jadi, baik orang lokal dan pendatang diusahakan untuk saling ikut serta. Pendatang tidak lagi dipaksa untuk lebih banyak melebur ke budaya lokal.

Makanya, di sekolah Finlandia sudah ada mata pelajaran AGAMA ISLAM. Sekolah publik, lho .

Kerennya Eropa, yak? Entar duluuuuuuuuuu .

Kenalan sini sama Republik Irlandia negara tinggal saya sekarang.

Sama dengan mayoritas Eropa Barat lainnya, Republik Irlandia ini tergolong Secular-State. Negara sekuler. Agama mayoritasnya Katolik. Tapi Gereja Katolik TIDAK menjadi bagian dari konstitusi yang berlaku di Republik Irlandia.

Tapiiiiiii, hampir 100% sekolah publik di Irlandia adalah SEKOLAH KATOLIK-ROMA. Sekolah publik yang dapat subsidi 100% dari pemerintahannya yang katanya sekuler. Ck ck ck … intoleran sekali?

Tahan duluuuuuuu.

Nah, sama seperti kasus Purbayan – Kotagede di Yogyakarta, sejarah dan budaya Republik Irlandia terhadap tradisi Katolik itu MEMANG BEDA dengan negara-negara Eropa lainnya.

Walau kini sudah menjadi negara sekuler secara konstitusi, sejarah panjang Irlandia di masa lalu sangat pedih dalam penjajahan selama ratusan tahun.

Di puncak perlawanan Irlandia terhadap Kerajaan Inggris (yang waktu itu mayoritas Protestan), identitas Katolik mereka memegang peranan penting dalam upaya membebaskan Irlandia saat itu.

Bukan hanya dijajah secara wilayah, orang Irlandia yang saat itu mayoritas Katolik juga dipaksa untuk menyembunyikan ke-Katolik-an mereka . Bahasanya juga kudu Bahasa Inggris. Makanya Irish accent itu sangat khas karena pada dasarnya mereka bahasanya adalah Gaelic.

Ratusan tahun itu mereka hidup seperti itu. RATUSAN TAHUN.

Alhamdulillah happy ending. Sudah merdeka kini. Sudah menjadi salah satu negara maju di dunia dengan pendapatan perkapita yang lumayan gede di jajaran negara-negara Eropa maju lainnya . Sudah sekuler pulak hahahaha.

Tapi terbayang kan posisi identitas Katolik ini buat orang-orang di Republik Irlandia. Makanya, saya enggan menyematkan kata INTOLERANSI pada keputusan negara untuk meng-KATOLIK-kan sekolah publik di sini .

HIngga kini pun, di hampir semua kota, jejak-jejak peninggalan kastil atau reruntuhan biara-biara Katolik masih menjadi obyek-obyek wisata utama di Republik Irlandia.

Masalah apakah ini BENAR atau SALAH itu beda topik lagi ye kaaaaaannn .

Ya udin, masuk sekolah swasta aja, Mbak anak-anaknya. Ya kalau sekolahnya ada hahahaha. Apalagi kami di dusun kecil. Kalau ada pun, harganya muahaaaallll, karena non subsidi sama sekali.

Sekolah publik yo gratis-tis-tis dan ada di mana-mana .

Anaknya dibaptis dong Mbak? Ya kagaaaaaaaa hahahaha.

Ada kompromi lah. SEMUA ANAK YANG NON KATOLIK (Termasuk yang PROTESTAN lho ya) TIDAK WAJIB IKUT MISA misalnya. TIDAK PERLU IKUT PELAJARAN AGAMA juga.

Tapi mereka berdoa kencang-kencang pakai cara Katolik sebelum mulai belajar. Tapi anak-anak non Katolik tidak perlu mengikuti. Silakan berdoa sesuai kepercayaan masing-masing. Tetap saja intoleran, huh! .

Apa tidak ada yang mengkritik? Yo jelas adaaaaaa . Uniknya yang banyak ngomel justru Kaum Atheis hihihihi.

Di kota besar, seperti Dublin, sudah ada sekolah publik semacam sekolah Islam gitu loh. Mendapatkan subsidi dari pemerintah juga *jempolBuatIrlandia*.

Tapi yah, cuma ada satu atau 2 sekolah. Kota-kota lain belum ada. Mungkin disesuaikan dengan jumlah yang membutuhkan juga.

Saya mah biasa-biasa saja. Saya tahu soalnya pelajaran agama Katolik ini beda sama agama Islam . Mereka tidak kenal term “kafir” misalnya hehehe. Dan kisah nabi-nabinya juga mirip banget. Cuma pasti menukik tajam di bagian Nabi Isa/Yesus hehehe.

Nabi Muhammad tidak dibahas di agama Katolik. Datangnya kan belakangan hehehe.

Bisa dibilang proses belajar mengajar di sekolah publik di Irlandia masih menganut proses ADAPTASI. Pendatang yang “mengalah” walau makin ke sini saya salut, pihak sekolah makin matang dalam berkomunikasi kepada kami-kami yang minoritas ini.

Sempat ribut soal makanan halal juga di tahun pertama saya datang ke sini. Karena kelebihan dana, sekolah anak kami memutuskan untuk menyediakan makan siang gratis buat seluruh siswa di sekolah.

Tapi ya makanannya enggak jaminan halal. Bingunglah kami para ortu muslim. Kalau yang India kan vegetarian jadi gampang solusinya. Anak-anak juga susah kontrolnya kalau sudah lihat sosis ginuk-ginuk begitu ya bawaannya pengin lep aja kan hahahaha.

Kelebihan dana harusnya dikorupsi aja sih ya biar gak banyak masalah #ehGimana hahahahaa .

Tapi selesai dengan baik-baik alhamdulillah.

Akhirnya kami dibagikan surat pernyataan untuk menentukan makanan apa saja yang boleh diberikan kepada anak kami. Kepala sekolahnya keren bangeeeetttt .

Mereka mau lho repot-repot memberi tugas tambahan kepada bapak ibu guru terkait pembagian makanan ini. Masya Allah .

Jadi memang kita tidak diciptakan seragam. Saya tahu kalau kita selalu harus mengedepankan nilai-nilai universal semacam TOLERANSI itu salah satunya.

Tapi ya begitulah keragaman sosial-historis masing-masing wilayah. Kita tidak bisa ujug-ujug melepaskan diri. Saya percaya kok ini tidak akan berlangsung selamanya. Akan berubah sedikit demi sedikit.

Tapi ya tidak bisa maen hantam saja. Ada proses yang menyertai. Perlu waktu perlu banyak-banyak kesabaran dan tentunya…saling memahami yang lumayan intens. Macam judul lagu lawas itu lho, “Pelan-pelan saja ….”

Nyatanya kondisi bermasyarakat di Irlandia bagi Katolik dan non-Katolik adem ayem saja. Buat yang di luar mungkin sudah ada yang siap jihad di Ireland kali hahahaha. Ya jangan begitulah . Pahami kultur mereka dan kepedihan panjang mereka di masa lalu.

And once again, I have to put this quote as an ending :

“Peace cannot be kept by force; it can only be achieved by understanding.” -Albert Einstein-

Tentu ke depannya kita berharap metode INKLUSI inilah yang menjadi wajah yang mendominasi di berbagai belahan dunia. Aamiin. Tapi ya itu tadi. Jangan pakek ngamuk-ngamuk, selow saja. Diskusi baik-baik, tukar pikiran secara santai-santai.

Mungkin teman-teman antropolog atau yang bidang keilmuannya menyasar masalah ini bisa bercerita lebih banyak.

Saya mah apalah. Cuma ibu-ibu rumah tangga yang tetap cantik walau usia gak muda lagi yang suka menulis karena wawasannya keren gilak luasnya hahahahaha #apaLoApaLoApaLo :p.

negara maju dan negara berkembang

Negara Maju dan Negara Berkembang (1) : Perbedaan Kesenjangan

Kemarin lihat video ini seliweran di timeline Facebook.

Yang lebih menarik membaca komentar-komentarnya. Video ini tentang seorang Ayah yang sudah terpisah selama 3 TAHUN dengan anak-anaknya dan ingin memberi surprais … pertemuan tiba-tiba.

Tidak sedikit komentar yang justru mempertanyakan, “Lho kok bisa pergi ampe 3 tahun? Mana tanggung jawabnya sebagai Ayah?”

Bahkan sindiran yang lebih kasar, “Wah, si Ayah pasti sibuk foya-foya tuh di luar negeri lupa anak lupa istri. Benar-benar tidak menghargai pentingnya keluarga.”

Juga, “Pergi selama itu kok anaknya gak dibawa? Ck ck ck. Orang tua macam apaaaaahhh…”

Laki-laki tersebut adalah tenaga kerja asal Filipina yang bekerja di luar negeri. Diaspora Filipina ini amat sangat terkenal di Timur Tengah. Istilahnya, Overseas Filipino Workers (OFW).

Setelah melahirkan anak ke-2 di Jeddah (Arab Saudi) dan sudah harus pulang ke rumah, saya didorong pakai kursi roda oleh seorang perawat Filipina. Fyi, mungkin 90% tenaga medis non-dokter di rumah sakit di Jeddah dikuasai orang Filipina.

Bisa curcol yang lumayan lama kan itu dari lantai 3 ke lobi rumkit .

Mending si Bapak tadi perginya (cuma) 3 tahun. Si embak suster cerita dia pernah 5 tahun tidak ketemu anak-anaknya sama sekali. Dese janda.

Tapi kini, anak-anaknya sudah besar-besar. Salah satunya bekerja sebagai IT-engineer di Dubai, katanya dengan bangga. Embak suster memilih bertahan di Jeddah karena sudah punya banyak teman dekat di Arab Saudi. Anak-anaknya sudah tidak di Filipina semua, untuk apa kembali?

negara maju dan negara berkembang
Overseas Filipino Workers – The Women (gambar : untvweb.com)

 

Kalau screening sekilas dari para komentator sejenis di atas itu, kemungkinan mereka lahir dan besar di negara-negara maju. Bukan asal negara kek kita-kita ini yang diberi gelar “The Third World Countries” –> semacam negara-negara berkembang.

Tapi banyak juga komentar yang berusaha menerangkan dengan baik tanpa perlu tarik urat hehehe. Bahwa kondisi bekerja di luar negeri buat tenaga kerja level menengah ke bawah macam si bapak ya memang tidak memungkinkan buat bawa keluarga.

Dan para pekerja ini secara sadar mengirimkan uang kepada keluarga di Filipina.

Tapi terus disindir lagi, “Halah, apalah artinya uang bagi kebahagiaan anak.”

Ya memang enggak akan pernah nyambung ngobrolin hal begini-begini dengan mereka-mereka yang terbiasa tinggal di negeri aman-nyaman-sejahtera di mana dari lahir sudah dapat CHILD BENEFIT segala macam dan sepaket dengan sekolah gratis dan tunjangan kesehatan mumpuni sampai dewasa nanti.

Bandingkan dengan negara-negara berkembang yang umumnya penduduknya membludak. Boro-boro CHILD BENEFIT, mau sekolah saja kadang SEKOLAHNYA yang belum ada *hiks*.

Untuk mencapai pendidikan berkualitas harus merogoh kocek dalam-dalam. Justru untuk masa depan yang lebih baik lah untuk keluarga yang ditinggalkan maka para tenaga kerja ini mengejar peruntungan sampai nun jauh di sana dan bersedia berlelah-lelah dalam kesepian. Berat lho itu .

Di Saudi sih banyak banget tenaga kerja asing yang membujang. Termasuk yang dari Indonesia dan Filipina.

Overseas Filipino Workers – The Men (gambar : philstar.com)

 

Curhat salah seorang supir asal Indonesia, “Anak istri belum tentu betah di sini, Buk. Biarlah. Saya aja yang di sini. Kirim uang saban bulan. Alhamdulillah Buk, bangun rumah, bisa bikin warung kecil-kecilan, anak-anak sekolah semua. Jangan sampe bodoh kayak bapaknya ini.” Ngomongnya sambil cengengesan, tapi saya yang denger sibuk biar gak nangis hahahaha #cengengKauuuuu .

Standar kebahagiaan dan kelayakan hidup memang JAUUUHHH berbeda. Ya mau gimana lagi.

Mereka yang menjalani toh fine-fine saja hehehe. Walau untuk kasus tenaga kerja Indonesia non-formal banyaaaaaakkk harus dibenahi, tuh. Pakde, abis menang 2019, siap dinyinyirin yak hahahaha. Sekarang mah jangan duluuuuuu  #cebbieOnDutyUntilApril hahahaha.

Filipina sih kereeeeeen. Perlindungan terhadap tenaga kerja mereka sudah jauh lebih layak daripada Indonesia .

Segitu saja masih dinyinyirin habis-habisan sama “wong-wong bule” hahahaha. Gimana kalau lihat TKW kita di Arab Saudi *pijetKeningPakMenaker*.

Kerja Luar negeri TKW arab
TKW Indonesia di Arab Saudi (gambar : berita.plasa.msn.com)

 

Akhir-akhir ini juga saya sering nonton vlog para youtuber Indonesia di mancanegara. Mau serius jadi youtuber nih  #eaaaaaa.

Video-video yang laris justru tema-tema yang pengin bikin saya mengamuk, duh gue mah kapan sih enggak ngamuk hahahaha.

Seriiiiiiiinnggg sekali berupa perbandingan antara orang Indonesia (baik itu kebiasaan-sifat-pola pikir dsb dsb dsb) vs orang-orang di negara tinggal mereka sekarang.

Yang mana intinya jadi menjelek-jelekkan kebiasaan-sifat-pola pikir dsb di orang-orang Indonesia.

Yo mosok kek gitu tho ah. Justru kalau sudah tinggal di luar negeri mbok ya pengalamannya digunakan untuk melihat lebih jernih.

Macam teman saya yang memuja-muja orang bule yang uang-uang lebihnya katanya dipakai buat liburan enggak perlu nabung buat uang sekolah atau cicilan rumah segala macam. Katanya mindset orang bule itu keren gak ribet kek orang Indonesia.

Lho ya kita semua juga maunya liburan. Jangankan punya uang lebih, enggak ada uang saja selalu gatel pengin liburan kok hahahaha.

negara maju dan negara berkembang

Mereka mah enak, anak sakit tinggal ke rumkit, mau sekolah tinggal daftar. Tinggal di country-side yang rumahnya cuma 1-2 pun tetap disediakan sekolah.

Akses jalanan dan transportasi mantap jaya sampai ke pedalaman jadi mereka tidak perlu takut kalau susah ke mana-mana. Enggak perlu sampai menyeberangi jembatan yang udah mau runtuh di atas sungai lah intinya demi buat jalan-jalan ke kota sebelah misalnya .

Lah kiteeeeeeee ??????.

Dengan kesenjangan hidup yang lebih rapat, wong bule secara umum tidak terlalu terpaku pada penampilan dan barang bermerek. Lah semua juga bisa beliiiiiiii hahahaha.

Lah kiteeeeee, gustiiii, nemenin anak maen di mal pakai jeans sama kaos biasa dan tas jahit sendiri hadiah dari teman ditegur dengan manja, “Ibunya anak-anak ke mana, Mbak?” Emot mewek apa ketawa neh enaknye ???.

Tapi ya sudahlah. Itulah nikmatnya hidup dalam perbedaan, ya. To see things from different “eyes”.

The world is a book, and those who do not travel read only a page.
– Saint Augustine

Let’s read more pages, shall we? ?