PSBB di Ibukota, Yay or Nay?


Belgia, dalam kondisi jumlah korban Covid yang menunjukkan tren kenaikan, tetap memutuskan bahwa supporter pertandingan liga sepakbola DIIZINKAN mengisi kursi penonton sebanyak 30% dari kapasitas yang ada.

Di Jerman, belum lama ini ada demo yang menolak rencana pemerintah untuk kembali menerapkan kebijakan ala-ala PSBB (pembatasan sosial berkala besar) gitu-gitu. Udah pada emoh dikurung? Hihihi.

Gambar oleh soumen82hazra dari Pixabay

Italia juga mirip. Tetap ngotot melanjutkan liga sepakbola no matter what. Berita terkini barusan lihat tadi pagi, presiden klub Napoli positif Covid 19. Beliau baru saja menghadiri pertemuan para petinggi klub-klub sepakbola papan atas. Terpaksa semua peserta pertemuan harus dites dan mungkin menjalani karantina.

Tapi liganya ya jalan teroooosssss :D.

Belahan Eropa kini menyambut datangnya GELOMBANG KEDUA, as predicted kok ya. Sudah sejak Mei sewaktu saya masih di Ireland, sudah digaungkan kewaspadaan gelombang kedua Covid ini.

Hanya saja momentum untuk “mengurung orang” mungkin sudah berlalu. Sepertinya mayoritas pemerintahan pusat di Uni Eropa lagi berjuang keras mempertahankan perputaran roda ekonomi.

Kerjaan eike ney, every single day, sambil yoga pagi-pagi update berita dari Kompas TV hehehe.

Then, why did Pak Anies Baswedan decide to do another PSBB? Kalau saya sih setuju dengan keputusan beliau ini (y). Tenaaang, warga Banten juga bakal kena PSBB kok dari pemda sini. Bareng kita Gaeeesss, PSBB lageeee :D.

Gambar oleh iqbal nuril anwar dari Pixabay

Banyak yang mengeluh kok sepertinya kebijakan pempus, pemda, dan dinas-dinas terkait kok suka enggak nyambung ya?

Sebenarnya bukan enggak nyambung tapi memang fokusnya beda-beda. Misalnya nih, kalau teman-teman nakes pasti mayoritas ngomel menuntut lockdown atau PSBB karena concernnya pasti soal kinerja rumah sakit dan para nakes yang makin sempoyongan kalau makin banyak korban.

Gambar oleh soumen82hazra dari Pixabay

Bisa dipahami.

Makanya kalau baca omelan teman-teman nakes, although at some point lama-lama annoying (sorry to say) ya empati saja :). Jangan nyolot. Masih banyak pilihan lain. Unfollow kek, apa kek.

Cuma kelian itu kalau unfollow atau blokir atau apa pun mbok ya gak usah diumuman gitu napa? Mau cari ribut apa gimana hehehe. Diem-diem ajalah. Nanti kalau mereka ternyata nyadar dan tersinggung ya udah mau gimana lagi, tetep diam udah.

era digital

Kalau pemerintah concernnya lebih LUAS. Tentunya kesejahteraan dan kenyamanan tenaga medis tetap menjadi salah satu fokus pemerintah. Tapi buanyaaaaakkk yang lain-lain yang harus dipikirin.

Selain layanan kesehatan harus tetap prima, kesejahteraan ekonomi secara umum harus jalan terus. Sektor usaha gimana caranya jangan sampai kolaps, pengusaha jangan sampai harus merumahkan karyawan, penerimaan pajak harus tetap mengalir, bidang pendidikan enggak boleh mandek, pembangunan infrastruktur tetap berjalan walau mungkin melambat (tapi gak mungkin berhenti total), pariwisata yang paling sekarat pun jangan sampai dibiarkan mati sama sekali.

Dst, dst, dst, the list should be on and on…

Jadi memang WIN-WIN SOLUTION itu ILUSI saja. Saya rasa pemerintahan mana pun di seluruh negara akan ‘terjebak’ dalam upaya menyeimbangkan resiko yang harus dijalani untuk APA PUN keputusan yang DIAMBIL.

Cuma kondisi di DKI Jakarta sekarang di mana pelayanan kesehatan sudah terlalu tertatih, makanya keputusan PSBB mungkin yang paling tepat. Bagaimana pun nyawa manusia itu harganya tidak terkira. PSBB di Jakarta? Yes! (y).

Gambar oleh Ri Butov dari Pixabay

Tadi tuh di Kompas ada diskusi soal PSBB, kok ya narasumbernya rata-rata dari semacam “perwakilan Dinas Kesehatan” semua hehehe. Berat sebelah jadinya.

Kalau pengusaha otomatis pasti senewen sama lockdown atau PSBB dan sebagainya. Tapi kan, kalok banyak yang sakit toh bisnis bakal kolaps juga?????

Ya coba lu jadi pengusaha. Bisnis ‘mati suri’, kalian dituntut ENGGAK BOLEH mecatin karyawan, harus terus membayar gaji dong pastinya walau pemasukan macet. Paling berat mungkin pengusaha level menengah ke bawah. Kalau yang level atas kan biasanya punya ‘buffer’ yang lebih kuat.

Pekerja-pekerja informal juga posisinya sangat sulit. Andai semua persoalan bisa selesai dengan jualan online :p. Kan ada tuh yang nyinyir, “Ya udah sih pada jualan aja di internet daripada dagang keliling.”

Situ yang mau modalin? Jangan lupa loh, demand juga merosot tajam sekarang karena mayoritas pasti berusaha menekan pengeluaran di tengah ketidakpastian ekonomi seperti sekarang ini.

Jadi jelas kan, concernnya beda-beda.

Sebenarnya kita tidak akan pernah benar-benar akan kembali normal seperti sediakala sampai vaksin berhasil menghalau virus. Memang harus menerapkan new normal dengan protokol kesehatan yang ketat. Cuma masalah kedisiplinan ini yang sulit sekali, ya.

Even di negara-negara maju juga rumit kok. Selevel Eropa dan US ada saja orang-orang yang menolak pakai masker dan menyerukan penolakan ini ke publik dan masih merasa ini upaya konspirasi bla bli blu.

Belum lagi kalangan ekstrimis dari berbagai penjuru. Ada yang memang nyata-nyata menjelma jadi paranoid garis keras, semacam fearmonger yang maunya tuh semua orang pokoknya udah di rumah aja jangan ngapa-ngapain. That’s the only way. Paling doyan menghina orang dengan ucapan ‘covidiot’.

Dari sisi seberangnya, ada yang sok-sok santai logis pakai data ini itu dan berusaha meyakinkan masyarakat kalau virus ini ‘biasa’ saja kok. Harusnya kita hidup normal saja seperti biasa. Menuntut sekolah dibuka saja. Dan tentunya, ngomel paling kenceng pasca keputusan PSBB diumumkan. Menuduh data enggak valid dan pemerintah penakut gak jelas.

Sebaiknya kita berdiri di sisi semampu yang kita bisa saja. Yang bisa WFH gaji lancar kayak biasa ya sekuatnya bertahan di rumah. Keluar seperlunya.

Yang masih harus berjuang di luar rumah ya jangan bosan menerapkan protokol kesehatan. Pakai masker, social distancing as much as you can, rajin cuci tangan dst. Tapi ini memang melelahkan sumpah.

Memang harus sekuat tenaga mengerahkan STOK EMPATI ketimbang ngamuk-ngamuk ngatain orang covidiot atau menuduh orang lain gak paham data dan takut berlebihan.

Kalau pun ada yang harus dikritisi, porsi terbesar memang harus diberikan kepada PEMERINTAH sebagai pemangku kebijakan tertinggi. Tapi ya itu tadi, jangan asal nyinyir, sadarilah kalau pemerintah tanggung jawabnya paling besar ya karena FOKUSNYA paling luas. Mencakup segala aspek kehidupan masyarakat.

Bangkenya lagi, di tengah situasi pandemi, mencuat pula kasus-kasus KORUPSI kelas kakap yang melibatkan uang sogokan 500 ribu USD yang konon cuma uang muka doang. Gilak.

Empati enggak harus bikin kita ‘loyo’ kok. Banyak cara untuk mengkritik tanpa harus menuduh orang lain idiot, yes?
Jaga kesehatan, stay ‘sharp’ ;).

Pengaruh media sosial

Ruang Privasi vs Ruang Publik di Era Medsos?


FB masih mentok bahas Bu Tedjo. Twitter dan IG lagi rame bahas IG story seseadek artis yang lagi naik daun.

Wow, dia post video public di IG story akunnya sendiri. Besar kemungkinan lagi mabok πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ.

Langsung direpost membabibuta di akun gosip 😰😰😰. Duh, serem euy. Konon titel brand ambassador di beberapa produk langsung dicabut 😰.
Tiati Dek. Namanya public figure. Kalo mabok jangan main hape? 😳.

Susah juga mau nahan netijen yang julid. Secara praktik, batas penerapan UU ITE juga sulit diterapkan. Apalagi dese tenarnya gara-gara film yang memberi pesan moral soal bahayanya seks bebas pada usia sekolah πŸ˜₯.

Iya, itu hak/urusan pribadi. Who are we to judge. Tapi ya kalo ke-post di IG secara public ya gimana dah πŸ‘€.

Kalau sudah masuk ruang publik, ada konsekuensi yang mau gak mau harus diterima.

Era medsos menata ulang definisi “ruang publik”. Inilah masalahnya. Jadi sering terbentur, “Ah itu kan urusan pribadi”, “Jangan julid entar karma loh”.

Problemnya, media sosial itu bukan diari. Bahkan bukan media lokal. Selevel selebritis hampir selalu menggunakan status PUBLIC. Yang artinya apa pun yang mereka posting akan menjadi konsumsi SELURUH DUNIA. Literally!

Pengaruh media sosial

Bahkan media cetak nasional semisal tabloid gosip di era 90an belum tentu aksesnya beneran ke seluruh nusantara. Tapi internet mematahkan keterbatasan ini. Dunia online membuat informasi melayang sepuasnya sampai jauh dengan kecepatan luar biasa.

Gambar : hongkiat.com

Sejak kembali membuka gembok akun IG, saya pikir 10x sebelum posting story. No more story tentang keseharian, biasanya posting rutinitas yoga pagi. Posting kegiatan anak2 sore2. Posting tentang kegalauan mau beli sofa bla bla bla hahaha.

Sekarang ya isinya kayak FB. Gak posting soal kegiatan sehari-hari lagi 😁😁😁 .

Sejak media sosial merajalela, sepertinya kesempatan untuk mendapat perhatian publik makin “merata”. Maksudnya bukan hanya artis atau selebritis di dunia nyata yang mudah mendapatkan penggemar/follower/susbcriber.

Batasan soal apa yang harus diposting segala macam jadi sangat debatable. Apalagi sekarang ada profesi endorser. Endorser menjadi profesi yang lumayan dikejar apalagi di era pandemi ini.

Walau makin mudah untuk mendapat tempat di “publik” tapi resikonya kan juga tidak sedikit. Salah posting sedikit saja, biar langsung duaaaarrrrr :(.

Definisi bijak bermedsos pun jadi abu-abu. Banyak kesempatan yang muncul, namun makin tinggi pula resiko yang harus ditanggung.

Jadi, balik ke era offline aja apa gimana hehehehe.

Kacang Tanah Untuk Diet … Bisakah?

Kacang tanah untuk diet, pernah dengar? 

“Kacang nih. Mau?”
“Enggaaaaa, lagi jerawatan, niii…”
“Huh?”
“Iyeeeee … kacang bikin jerawat makin-makin tauk!”

kacang tanah untuk diet

Nah lhooooo, berarti kacang malah bikin masalah kulit? Makan kacang malah membuat wajah makin enggak mulus. Boro-boro buat diet. Ngapain diet kalau muka bruntusan yak? Kita sih penginnya muka alus, bodi kurus, kulit mulus *maeninBuluMata*. 

Btw, secara spesifik di sini lagi bahas kacang tanah doang, ya. Kacang jenis ini yang paling populer di tanah air. Kalau almond dkk sih berat di ongkos huhuhu -_-.

Kenapa sih dengan kacang tanah?

Iya ya, ada apa dengan kacang tanah? Ya tidak ada apa-apa kok :p.

Maksudnya enggak ada efek buruk yang serius atau yang gimana-gimana. Kacang tanah (direbus atau disangrai) justru tergolong ke dalam kategori cemilan sehat ;). 

Baca :Β Resep Ampyang Kacang Gula Merah

Tapiiiiii, kalau kacang tanahnya digoreng, manfaat sehatnya bisa dibilang jadi berkurang drastis. Dirusak sama suhu membara si minyak goreng. Jadi, kalau mau bikin kering tempe, kacang tanah cukup disangrai gitu-gitu enggak perlu digoreng. Rasanya tetap enak, kok ^_^.

Ayo kenalan dengan si kacang tanah dulu :

1. Salah satu kandungan utama kacang tanah adalah Magnesium. Mineral yang ini sangat perlu untuk “menaklukkan” radikal bebas yang kesasar ke pembuluh darah, sel tubuh dan jantung. Plus memiliki Omega 3 alami yang fungsinya mengencerkan kekentalan darah. 

Makanya, banyak hasil penelitian yang menunjukkan 

manfaat kacang tanah sebagai penurun kolesterol ;). 

Nyata, dong. Kacang tanah oke untuk kesehatan jantung.

2. Tapiiiiiiii … kacang tanah termasuk makanan yang kadar lemaknya tidak rendah. Kabar baiknya, lemak yang dikandung oleh kacang tanah (alami) adalah lemak baik atau lemak sehat.

Kabar buruknya, ya tetap aja kandungan lemaknya tinggi hehehe. 

Jika dikonsumsi berlebihan ya pasti efeknya membuat badan makin montok (berat badan nambah). Hukum alam kalau tubuh kemasukan asupan kalori lebih.

Makanya, ngemil apa pun terkait kacang tanah memang harus dibatasi. Jangan makan satu toples atau dua toples sehari *tepokJidat*.

Segenggam tangan kacang tanah sehari bisa dianggap pas. Kalau konsumsinya dalam takaran ideal efeknya bisa membantu penurunan berat badan karena si kacang tanah ini ternyata kaya serat juga.

Intinya, segala sesuatu yang berlebihan pastinya kurang baik ;).

3. Klaim jika kacang tanah bikin jerawatan? Nah ini sih, fitnah! *pukPukKacangTanah*. 

Jerawat timbul umumnya dipicu oleh pH darah yang terlalu asam. Kalau terlalu asam, mengakibatkan darah lebih pekat dan akan mengganggu penyaluran nutrisi dan oksigen.

Kalau sudah begini, terus mengkonsumsi kacang tanah yang jelas-jelas berlemak abis plus sifatnya sebagai pembentuk asam tentu memicu kulit meradang yang salah satu efeknya adalah si jerawat tadi itu.

Itulah makanyaaaaaa … makan sayur, makan sayur, makan sayur :D.

Plus makan buah, makan buah, makan buah jugaaaaa. Sayuran dan buah-buahan yang kondisinya segar (jangan lupa dicuci bersih dan tak perlu dimasak) merupakan pembentuk basa utama. Akan membantu menetralkan kondisi pH yang terlalu asam.

Intinya … keseimbangan ^_^.

Pahamilah bahwa pembentuk basa dalam tubuh, jenis makanannya cukup terbatas sementara sisanya adalah pembentuk asam. Ayok kita konsumsi sayur/buah segar  MINIMAL SAMA  BANYAK -nya dengan asupan jenis lain seperti : nasi dan karbo lainnya, protein hewani, susu dsb.

Hidup sayur dan buah! (y).

4. Masih banyak kandungan gizi lain dalam kacang tanah. Seperti misalnya vitamin A, vitamin B kompleks, zat besi, kolin dan kalsium. 

Kacang tanah pun mengandung protein nabati yang tidak kalah tinggi. Jadi, asupan protein enggak melulu harus dari protein hewani. Sudah sering saya tulis berulang kali di berbagai resep tahu-tempe-jamur sebelum-sebelumnya :D.


So, jangan jiper mengkonsumsi kacang tanah lagi ya. Sebaiknya dimakan dengan cara TIDAK DIGORENG menggenang dalam minyak panas. 
Dan ingat prinsip “jangan lebay” dalam hal apa pun. Kalau kata Mbak Vetty Vera, “Terlalu banyak …jangan. Terlalu sedikit … jangan. Yang sedang-sedang saja” :p.

Sumber : Buku Rahasia Masak Wied Harry (Oleh : Wied Harry) 

Jadi jawaban untuk judul tulisannya sudah clear, yes? Tentu saja kacang tanah bagus untuk diet :). 

Kembali ke Indonesia

Setelah 11 tahun merantau terus dan pulang pas mudik doang hihihi, akhirnyaaaaa…kami sekeluarga kembali ke Indonesia.

Ini rencana lama. Sudah sejak akhir tahun 2019 kemarin sudah ketok palu, tok! Sepakat untuk kembali ke Indonesia setelah suami mendapat offer dari perusahaan di Jakarta.

Siapa yang menyangka proses kepulangan harus terjadi di tengah pandemi. Tapi rencana udah gak mungkin mundur lagi. Suami juga udah pulang ke Jakarta sebenarnya dari Februari. Pas April suami balik lagi ke Ireland buat jemput saya dan anak-anak.

Ini vlog proses kepulangan ke tanah air di masa pandemi 2020 yang prosesnya lumayan riweuh hehehehe.

Tulisan lengkap soal prosedur kepulangan dari luar negeri di Bandara Soetta terkait surat PCR Covid 19 segala macam bisa dilihat di postingan ini yaaaa πŸ˜ŠπŸ™ .

Yang tadi ini vlog pribadi aja. Sekadar kenang-kenangan betapa serunya proses repatriasi kami yang kemaren itu πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜….

Pagi-pagi udah bangun dan rapiin apartemen untuk terakhir kalinya. Sedih sih tapi no more drama karena masih panjang ini perjalanaaaan πŸ™„πŸ€­πŸ˜….

Jam 7 cusss ke Dublin. Antara pengin nangis sama masih ngantuk bangun dari jam 4. Mungkin terakhir kalinya melintasi jalan-jalan di Pulau Zamrud ini 😘.

Duh, belum apa-apa udah nostalgia aja bayangin jalan-jalan yang dulu-dulu pas masih di Ireland.

Yak, balik ke topik.

Penerbangan ke Amsterdam dari Dublin ternyata penuh! Gimana social distancingnya dah πŸ˜œπŸ˜…. Mendarat di Schiphol baru terasa sepiiiiii. Sedih lagi euy. Mana harus transit 23 jam 😭😭😭. Kami gak punya visa Schengen jadi stuck di International area selama itu huhuhu.

Hotel cuma ada 2. Hotel Mercure tutup, hotel satu lagi (Yotel Air) fully booked! 😰😰😰 Jadilah ngemper di kursi. Mana sepi. Takut juga mau tidur. Saya cuma tidur 3 jam. Terus gak bisa tidur lagi. Jadi jagain anak-anak aja yang lagi bobok.

Sempet jalan jalan ngerekam sudut-sudut bandara yang bener-bener senyap. Banyakan petugas yang lalu lalang daripada penumpang pesawat πŸ˜…. Lihat di vlog di link paling pertama di atas yak.

Kalau yang ini foto-foto narsis aja sekeluarga hihihihi :

Tulisan merah menyala “CANCELED” mendominasi papan pengumuman jadwal penerbangan 😒😒😒. Penerbangan ke Jakarta juga hanya terisi 30-40% dari total kapasitas pesawat.

Di beberapa gerai penjual oleh-oleh di Schiphol, kue wafel banting harga jadi 1 euro gitu. Daripada expired gitu kali ya, mending dijual murah. Itu juga entah bakal habis atau enggak. Secara penumpang sepiiiiiii :(,

Enak sih jadinya. Bisa social distancing dan toilet gak pernah ngantri hehehe. Bisa tidur di 3 kursi sekaligus per orang 😜🀭.

Lumayan lama nungguin buat boarding. Agak delay terbangnya. Penerbangan dari Amsterdam ini salah satu yang jadi tumpuan harapan bagi diaspora yang harus balik di masa pandemi. Penerbangan Timur Tengah masih banyak yang ‘libur’.

Sibuk dah pastinya foto-foto pas nunggu boarding :p.

Selanjutnya tiba di Jakarta dan proses ba bi Bu nya bisa kalian cek di link pertama tadi tuh yang saya kasih di paragraf awal tulisan ini.

And here we are, sudah hampir 2 minggu berada di tanah air. Agak ngumpet karena lagi karantina mandiri hehehe. Tapi kemaren sempet keluar karena ada kepentingan mendesak.

Racism, Riot, Covid 19 in USA

Sejak menyaksikan dengan mata kepala sendiri tindakan-tindakan rasis terhadap ras Afrika di US, suami saya rajin banget nonton-nonton video youtube soal rasisme di US ini.

Padahal pas kami tinggal di sana, tahun 2017, yang heboh itu soal pernyataan Trump terkait negara-negara muslim.

Foto : theguardian.com (fotografer, Yuri Gripas/Reuters)

Tapi tidak ada setetes pun, ini udah level tetes loh ya hehehehe, tindakan rasis yang pernah saya dapatkan terkait kerudung yang nempel di kepala waktu tinggal di Texas.

Biasa banget mereka sama minoritas muslim. Kalo pun ada yang heboh-heboh, biasanya bukan ke personal. Tapi dalam bentuk demo terbuka (enggak nyerang individu) gitu-gitu lah.

Biasanya juga bangunan/komunitas muslim dijaga oleh polisi jadi aman lah walau dikepung demo segala macam.

Tapi beda banget dengan perlakuan terhadap ras Afrika :(. Walau pun yang bersangkutan sebenarnya sudah turun temurun tinggal di wilayah US bahkan sudah menjadi warga negara Amerika Serikat.

Entah sudah berapa video yang ditunjukin suami ke saya. Misalnya penggunaan kolam renang di kompleks perumahan. Sering sekali warga ras Afrika dimintain ID macam-macam padahal mereka jelas-jelas punya akses masuk yang resmi.

Di gedung apartemen juga sama. Apalagi kalau apartemen mewah, begitu ada penghuni ras Afrika pasti dicurigai macam-macam. Seringnya sampai panggil polisi segala loh. Lucu banget kan :(.

George Floyd, warga negara US yang berdomisili di Kota Minneapolis (Minnesota), ditahan oleh seorang polisi, Derek Chauvin setelah ada laporan bahwa Floyd berusaha menggunakan cek palsu (senilai 20 dolar) untuk melakukan transaksi. Bukan kejadian luar biasa.

Yang luar biasa adalah cara Chauvin menahan Floyd. Floyd sudah terjatuh, ibaratnya sudah tidak bisa melawan, tapi tengkuknya ditekan oleh Chauvin sampai Floyd meminta ampun tapi tidak juga dilepaskan hingga akhirnya Floyd meninggal di tempat.

Videonya banyak di Youtube.

Chauvin berdalih Floyd melawan tapi CCTV dan video-video rekaman dari orang-orang yang kebetulan melintas di tempat kejadian mematahkan pembelaan dari Chauvin.

For the record, kejadian model begini bukan pertama kali di US :(. Biasanya pun polisinya memang dipecat doang tanpa ada tuntutan apa-apa.

Hanya saja mungkin pengaruh instabilitas sosial ekonomi terkait pandemi berkepanjangan yang memukul sendi perekonomian banyak kalangan di berbagai penjuru negeri membuat demo-demo menjalar ke mana-mana dan berakhir RUSUH :(.

Kerusuhan di US terkait kasus George Floyd (gambar : BBC.com)

Karena kerusuhan inilah akhirnya si polisi yang udah dipecat itu dikenai tuntutan hukum. Kalok gak ada demo-demo ya udah, lolos aja pasti dia.
Rasisme di US terhadap ras Afrika bukan kejadian yang dilebih-lebihkan. Cari saja video-video rekaman bebas di Youtube, buanyak bangeeeeetttt πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯.

Jangan salah. Eropa juga rasis. Cuma lebih ‘merata’ rasisnya hihihihi. Hanya saja, sistem hukum dan perundang-undangan jauh lebih adil.

Bayangin di US tuh, pelaku rasisme adalah aparat/institusi yang seharusnya menjadi bagian dari penegakan hukum yang menjamin persamaan hak bagi semua warga negara.

Gambar : Sputnik News

Kalau rasisme di level kehidupan sehari-hari di mana-mana memang ada. Tapi kalau sampai melibatkan penegak hukum, gimana lagi kita bisa memperjuangkan keadilan?

Eropa ini pada dasarnya lebih homogen. Belum terbiasa lihat banyak ‘warna’. Apalagi Irlandia. Berbeda dengan Amerika Serikat yang proses pendiriannya melibatkan banyak ras dengan jargon andalan, “Land of Freedom.”

Di US ini orang-orangnya jauh lebih heterogen. Kaget juga saya pas tinggal di Texas, lagi ngantri kasir aja udah berasa kayak di Indonesia.

Orang ngobrol ngalor ngidul sama siapa saja. Kasirnya bawel, yang antri juga sibuk ngerumpi satu sama lain padahal baru kenal di situ. Saya sering banget diajak ngobrol dengan ramah ditanyain macam-macam ama bule di US.

Diajak becanda pula loh hihihihi. Nanya umur, nanya negara asal pun pernah hahaha. Sesuatu yang sangat-sangat tabu di Eropa :p.

Tapi ke ras Afrika bisa ribet begitu hubungannya :(. Setelah Obama jadi presiden pun, entah bisa berkurang atau enggak kadarnya. Apalagi setelah era Trump. Makin gak ada harapan jangan-jangan ya :(.

Ketegangan dengan pendatang latin juga pernah dipicu oleh pidato Trump. Tapi yang ini jelas karena masalah lapangan pekerjaan yang banyak diserbu imigran dari Mexico misalnya. Ada motif ekonominya.

Kalau ke ras Afrika sesuatu yang lebih personal gitu ya kayaknya. Sesuatu yang belum pernah tuntas sejak era perbudakan yang dihapuskan lebih dari satu abad yang lalu :(.

Dalam kondisi biasa mungkin bisa-bisa saja diredam. Cuma sekarang US menghadapi situasi yang cukup sulit. Pemerintahan negara bagian vs pusat saja sempat eyel-eyelan soal keputusan lockdown.

Fasilitas kesehatan US yang dikenal sangat-sangat mahal dan kebanyakan mengandalkan swasta :(. US juga mengenal kesenjangan ekonomi yang sangat curam antara yang kaya dan yang miskin.

Terbayang kan bebannya masyarakat kelas bawah di sana yang penghasilannya terenggut habis-habisan kalau sampai ada lockdown? Boro-boro ada subsidi.

Rumit memang dunia ini.

Di Indonesia ada pula fasilitas kesehatan selevel BPJS yang mahasakti semua-mua-mua ditanggung gratis tapi pada ogah bayar iuran yang dianggap terlalu mahal.

Di Eropa mungkin sistem kesehatan jaminannya lebih bagus tapi terbayang tidak setengah matinya pemimpin-pemimpin Uni Eropa mengatur napas nalangin subsidi orang sekian banyak ini di masa lockdown pandemi?

Pikirin jangka panjangnya. Jangan mikir enaknya doang dapat subsidi. Jangan kagum-kagum gak jelas sama Eropa yang sukses lockdown. Kurvanya sih melandai tapi wallahualam sama kas negara yang ikutan terjun bebas πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ.

Mereka hidup dari pajak, pajak, dan pajak. Yang diandalkan bayar pajak pun sekarang malah dapat sangu dapat pemerintah.

Terus masih juga mau banding-bandingin penanganan pandemi di berbagai negara? Masih merasa ini konspirasi ngana ngunu?

Kebanyakan nonton video-video prank di Youtube sih. Mbok sekali-sekali yang ditonton kehidupan nyata gitu loh :D.

Sungguh cobaan besar menjadi pemimpin negeri-negeri raksasa di dunia. Tapi kok ya saban Pilpres pada rebutan cakar-cakaran pengin menang πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ.

Semoga para pengambil keputusan di seluruh penjuru dunia diberi ketegaran berlipat ganda menghadapi masa-masa sulit di era pandemi ini.

Termasuk dilimpahkan kesabaran untuk menghadapi rakyat yang lagi seneng ngomel-ngomel di mana-mana. Memang situasinya lagi berat banget buat semuanya.

Sabar ya Bapak dan Ibu Presiden/Perdana Menteri, Raja dan Ratu sekalian. Memang sudah tugas kalian membawa kita semua keluar dari kemelut ini dengan aman dan nyaman.

Sesuatu yang harusnya sudah kalian sadari betul sebelum memutuskan meretas jalan menjadi orang nomor satu.

Nelson Mandela :
β€œIt is better to lead from behind and to put others in front, especially when you celebrate victory when nice things occur. You take the front line when there is danger. Then people will appreciate your leadership.”