Ireland – Lockdown Relaxation – Phase 1 : Akhirnya Ngumpul Lagi ^_^

Sejak 18 Mei 2020, proses relaksasi (dari masa lockdown) tahap 1 sudah dimulai di Republik Irlandia.

Apa saja perubahannya?

Gambarannya kira-kira bisa dilihat via gambar di sini :

1. Sudah boleh berkumpul (outdoor) maksimal 4 orang di lokasi berjarak max. 5 km dari kediaman masing-masing.

2. Sekolah dan universitas sudah dibuka untuk staf, pengajar (guru/dosen) , dan petugas kebersihan saja. Mereka boleh masuk untuk mengkoordinasikan kegiatan belajar mengajar tetapi murid dan mahasiswa tetap libur.

3. Pekerja yang aktivitasnya outdoor sudah boleh bekerja kembali. Misalnya pekerja konstruksi dll. Toko-toko yang berhubungan dengan farming/gardening sudah boleh beroperasi kembali.

4. Bengkel dan segala toko yang menyediakan jasa reparasi apa pun sudah boleh dibuka seperti biasa. Dengan catatan harus menerapkan social distancing.

5. Tempat wisata outdoor (pantai, hiking spaces, playground, etc) boleh dibuka ASALKAN mampu menerapkan dan mengawasi pemberlakuan social distancing.

6. Pemakaian masker hanya REKOMENDASI bukan MANDATORY. Makanya hampir gak ada yang pakai masker di siniΒ πŸ˜…πŸ™ˆ. Tapi saya tetep pake, kok. Pas foto aja dilepas. Abis foto ya dipakai lagiΒ πŸ‘Œ.

Masalahnya nih, cuaca memasuki musim panas begini lagi asoy-asoynya. Makanya taman-taman dan tempat hiking ruameeeeeee πŸ˜πŸ˜.

Phase 1 pun udah berasa hampir normal.

Kemarin kami coba jalan ke area Coosan Point, salah satu spot piknik utama di kota ini. Ada yang BBQ an rame-rame cobak πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…πŸ™ˆ. Harusnya gak boleh.

Terpaksa muter ke daerah dermaga yang lebih sepi.

Polisi juga gak berdaya. Ya mau gimana, summer tuh memang paling di nanti-nanti buat piknik. Karena cuaca cerah tuh kondisi langka di Ireland.

Tadi aja pas nyetir mau ketemuan teman-teman di semacam outdoor cafe, jalanan rame boooo. Cuaca cerah jadi pada gatel mau ke luar hehehe.

Untungnya ini cuma kota kecil jadi serame-ramenya ya tetep aja ‘sepi’Β πŸ˜….

Social distancing juga lebih mudah karena antrian juga gak pernah panjang-panjang amat (penduduknya cuma secuil hahahaha) dan pembawaan orang sini yang memang beda budaya sama “sifat Asia” kita yang lebih ‘cuwawa’ πŸ˜œπŸ˜…πŸ™.

“Menjaga jarak” dengan orang lain kan udah sifat dasar orang sini. Kecuali sama teman yang bener-bener dekat ya mereka merubung jugak πŸ˜.

Kemarin video call sama teman di Spanyol dan ngobrolin tabiat orang Spanyol yang mirip Italia. Kalo ketemu pelukan heboh dan suka tinggal rame-rame, suka kumpul-kumpul dan pesta.

Memang penanganan dan strategi menjalani masa pandemi ini enggak bisa dibikin seragam di semua negeri. Harus memperhatikan tabiat dan kebiasaan/budaya setempat.

Senengnya bisa ngumpul dan ngerumpi lagi 😍😍😍. Walau lumayan galau lihat kondisi yang udah mirip sama kondisi normal sebelum Covid 19 menyapaΒ πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ.

Ngumpul-ngumpul di SPAR, semacam swalayan yang sebenarnya enggak terlalu gede. Tapi SPAR yang di lokasi ini berseberangan sama tempat hiking yang selalu rame itu.

Jadi deh parkirannya lumayan banyak dan ada meja-meja dan tempat duduk outdoor buat nongkrong sambil ngopi. Bumil beli eskrim gitu. Terus yang lain pada ikutan.

Saya udah kenyang, euy. Jadilah akhirnya kita hiking tipis-tipis di sekitaran old railway di sana. Cuma 15 menit kayaknya. Itu juga heboh ngobrolnya hahahahaha.

Enggak bisa lama-lama takut si Eneng Scandy keburu brojol :p.

Mbak Katerina sekalian pulang pas kita hiking itu. Jalur pulangnya jadi beda gitu. Sementara Nina ikut balik ke depan SPAR. Sempat ngobrol dikit nungguin Nina dijemput sama suaminya.

Lumayan seneng deh, biasanya kami kumpul-kumpul hampir tiap minggu boooooo. Covid 19 bikin jadwal ngerumpi jadi molor ampe 3 bulan hehehehe.

“BABAK BARU” Episode Covid 19 di EROPA BARAT


Sejak April kemarin, beberapa negara Eropa mulai merevisi “kebijakan lockdown” di negara masing-masing. At least, sudah mulai sounding kalau lockdown akan dilepas secara bertahap.

Langkah yang sama juga diambil oleh Italia dan Perancis yang dikenal cukup “parah” imbasnya (dari segi jumlah korban positif) akibat penyebaran virus Covid 19 ini.

Jujur sih, saya tidak 100% yakin virus ini sudah “tertangani”. Betul kalau kurva mulai melandai. Tapi detail penanganan virus sebenarnya tidak pernah dibuka benar-benar oleh pemerintah.

Contoh di Republik Irlandia ini, nih.

Rasanya baru 2 minggu belakangan, pemerintah gencar menggembar-gemborkan kalau sudah banyak pasien yang sembuh. Tadinya data yang sembuh nampak ‘stuck’. Jarang di-update. Terus ujug-ujug banyak berita soal pasien yang sembuh bla bla bla dst dst dst.

Feeling saya, mungkin ini salah satu upaya untuk membangkitkan semangat orang-orang agar siap kalau “lockdown” akhirnya dibuka. Tapi enggak usah digituin juga, orang-orang udah pada gatel kakinya pengin ke luar hahahahaha.

Alasan utama lainnya apalagi kalau bukan mikirin RODA PEREKONOMIAN ye kaaaaannn ;).

Ingat loh, lockdown in Europe came with super high budget. Karena pengangguran diongkosi oleh pemerintah. Dibayarin gajinya selama tidak bekerja. Sementara pemerintah sendiri uangnya dari mana? Jatuh dari langit? 😝😝😝.

Pemasukan utama dari PAJAK. Gimana mau narikin pajak, ada juga tekor bayarin gaji orang-orang.

Jadi memang tujuan lockdown itu BUKAN UNTUK MENGUSIR VIRUS. Tapi pandemi ini hal yang baru untuk SEMUA NEGARA. Makanya kalau ditanya, apakah lockdown jalan terbaik? Ya lom tentu jugak ;).

Negara Eropa punya sistem kesehatan ala “welfare state” di mana pemerintah memberikan jaminan kesehatan yang hampir setara untuk semua masyarakat. Kesenjangan penghasilan di Eropa Barat ini jauh lebih rendah daripada negara-negara Asia pada umumya.

Upaya lockdown ini untuk mengerem jangan sampai terlalu banyak orang yang kritis dalam waktu bersamaan sehingga tenaga medis kewalahan dsb.
Sekaligus “buying time” buat para tenaga medis dll untuk mempelajari soal virus dan “menemukan ritme” penanganan yang tepat.

Asal tahu saja, di Irlandia sendiri yang jumlah tesnya bisa dibilang lumayan banget, TIDAK SEMUA yang kena Covid 19 dirawat. Boro-boro, dites juga enggak.

Dari beberapa kasus yang saya tahu, misalnya teman kantor suami, lagi sesak napas pun nelpon ke rumah sakit dengan gejala yang udah Covid 19 banget tapi pas ketahuan kalau sudah sakit di atas 5 hari, dilarang ke rumah sakit. Disuruh perawatan di rumah saja. Dites juga katanya gak perlu. Yang penting istirahat dan jangan keluar-keluar.

Ini juga terjadi di Kota Moate, kota sebelah. Teman saya yang cerita. Tetangganya suami istri sesak napas parah, panik nelpon kerabat dan teman-teman. Tapi oleh pihak rumah sakit disuruh istirahat saja di rumah. Dites pun tidak.

Jadi memang yang masuk IGD hanya yang KRITIS saja. Dan tidak ada penjemputan penuh drama ala-ala seperti yang banyak beredar di medsos temen-temen di Indo hehehehe. Mayoritas dirawat di rumah masing-masing.

Alhamdulillah, mereka sembuh semua dengan perawatan sendiri dalam tempo 7-10 hari. Mereka = teman kantor suami dan tetangga teman di Moate.

Pengawasan? Gak jelas juga diawasin beneran apa enggak hehehe. Polisi yang berjaga di jalan tugasnya mengecek orang-orang yang bepergian tanpa jelas juntrungannya. Bukan buat jagain orang-orang positif Covid 19 :D.

Semasa lockdown pun bandara beroperasi seperti biasa. Memang sepi dan banyak penerbangan dibatalkan. Tapi, bandaranya buka 24 jam kayak sehari-hari saja.

Suami saya mendarat dari Jakarta ke Dublin tanggal 16 April kemarin. Di bandara biasa banget di imigrasi. Semua permanen resident dan siapa pun yang punya izin tinggal BOLEH masuk. Cuma ditanya-tanya seperlunya.

Terus udah. Naik bus menuju Kota Athlone. Dimintai nomor hape dan alamat juga enggak. Disuruh karantina juga enggak.

Jadwal bus berjalan seperti biasa walau minim penumpang.

Tapi di rumah ya saya karantina beneran hahahaha. Untung dianya gak ribet dan pasrah.

Soalnya saya “kurung” beliau dalam kamar utama (yang ada kamar mandinya). Jadi, suami sama sekali enggak ke luar kecuali mau jogging ke luar rumah langsung.

Makan pun udah kayak ngasih makan piaraan (hahahaha), dia naro piring depan pintu saya isiin baru dia ambil lagi. Semua piring dia cuci sendiri di kamar. Udah saya siapin segala macam sabun handuk dll.

Alhamdulillah 14 hari berlalu, amaaaaaaan. Bisa peluk-pelukan lagi sama anak-anak dan bininya yang kece ini :p.

Dari hasil lockdown selama 2 bulanan ini sepertinya negara-negara Eropa sudah mulai “berdamai” dengan Covid 19. Toh, pemerintah masing-masing juga sadar, mustahil mau ngunci orang terus-terusan dalam rumah. Virus juga gak mungkin mau dienyahkan begitu saja.

Mungkin pun mereka sudah merasa punya pengalaman terkait penanganan. Sudah mulai terbiasa gitu kayaknya, ya.

Yang tadinya ribut-ribut mau lockdown sampai September lah, sampai akhir tahun lah, per akhir Mei malah udah mau buka-buka toko lagi hihihihi. Lah, uang subsidinya dari maneeeeee :p.

Situasi lockdown juga bagus kok. Tapi buat negara-negara Eropa yang memang punya persiapan yang cukup matang dari segi ekonomi dll. Wong yurop ini dari lahir kan sudah biasa dimanjain sama segudang tunjangan ini itu hehehe.

Jangan heran kalau di US agak ribet mau lockdown. Sistem di sono tuh bedaaaa banget sama di Eropa Barat sini hehehehe. Apalagi Indonesia. Sutra laaahhh, jangan dibandingkan πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜….

Terkait lockdown, selain pemerintah bisa “buying time” tadi, sekaligus persiapan mental buat rakyat. Udah lihat kan video “The Hammer and The Dance”? πŸ˜‰

Dimulai dari Norwegia dan Denmark yang sudah mulai melonggarkan aturan di bulan kemarin, Jerman juga menyusul. Belanda kemungkinan membuka sekolah senin besok. Italia sudah mulai membuka toko-toko kategori tertentu sejak 2 minggu kemarin.

Irlandia pun, setelah 18 Mei ini, pemerintah sudah siap-siap membuka beberapa lini bisnis. Dilakukan bertahap. Tapi di Irlandia, sekolah kayaknya baru akan buka September nanti di tahun ajaran yang baru. We’ll see.

Pengumpulan massa tetap dilarang. Menjaga kebersihan ekstra ketat tetap harus dilakukan. Jaga jarak pun tetap sama. Hand sanitizer akan menjadi barang utama yang bakal kita lihat di mana-mana. Kantor-kantor, sekolah, segala macam, diharapkan mempersiapkan kondisi ruangan segala macam agar social distancing tetap berjalan.

Life will never be the same.

Kita menuju babak baru kini : living a NEW NORMAL. Berdamai dengan kehadiran Covid 19 hingga vaksin ditemukan nanti πŸ™.

Tetap jaga kesehatan, jaga pola makan, rajin olahraga. Remember this? “Semua penyakit berawal dari perut”, yes?

Monggo di-googling sendiri infonya dengan keyword : “ABC opens lockdown” (ABC bisa diganti dengan nama negara yang diinginkan).

Selamat melanjutkan puasa bagi teman-teman muslim di mana pun berada πŸ™.

8 MEI

Sudah berapa dekade berlalu sejak beliau meninggalkan rumah dengan motor Vespa hijaunya. Hendak bermain bulutangkis bersama rekan-rekan di hari Jumat malam seperti biasa.

Dua jam kemudian telepon berdering, Bapak mendadak tumbang di lapangan. Dilarikan ke UGD. Setengah jam kemudian telepon berbunyi lagi. Hanya 5 menit di UGD, serangan jantung membawa beliau pergi untuk selamanya.

Gambar : paradise4women.com

8 Mei 1992.

Hari itu hari jumat. 2 hari setelah saya selesai EBTANAS SD. Tidak berapa lama setelah itu ada acara perpisahan sekolah yang mana tadinya Mama bilang enggak usah dateng.

Tapi guru mengharapkan saya datang karena katanya NEM nya paling tinggi di sekolah. Saya dikasih tahu duluan biar mau dateng. Gak jadi surprais dah :p.

I was very happy that night. Dandan manis pakai bando, bedak minta ditebelin dikit karena mau naik panggung ye kan hihihihi *ngikikCentil*.

Tapi akhirnya suasana jadi drama karena sama Pak Guru diumumin kalau bapak saya baru saja meninggal. Yang tadinya saya senyum lebar seneng banget sama hasil Ebtanas dan sudah mati-matian enggak mau inget soal Bapak. Hadeeeehhh -_-.

Tapi terus semua orang pada diem terus abis itu pada nangis, ya eike pun akhirnya mewek parah di atas panggung.

πŸ˜…

Duh, males kalok inget, macam sinetron aje hahahaha.

Sejujurnya almarhum bapak saya sangat konservatif soal anak perempuan. Apalagi saya, anak perempuan pertama dari ortu setelah Mama 5 kali hamil dan melahirkan, keluarnya lakik semua hehehe.

Beliau pernah mendebat Mama karena nampaknya kurang setuju kalau Mama terlalu gimanaaaa gitu menyemangati saya urusan sekolah. Bapak ingin saya lebih banyak mengerjakan tugas rumah tangga sementara Mama mendorong saya fokus belajar.

Menurut almarhum Bapak, anak perempuan di sekolah biasa-biasa ajalah. Tidak perlu membuang waktu. Toh nantinya bakal mengurus keluarga dan masuk dapur.Well, considering “where I am now”, he was quite right hihihi.

Foto Bapak dan Mama hehehehe. Enggak tahu ini tahun berapa. Dikasih sama Mama via WA kemarin :D. Dulu, gak mau nyimpen foto Bapak. Takut baper hahahaha.

Waktu saya lulus UMPTN dan harus hengkang ke Jakarta dianterin Mama naik kapal laut, she told me, β€œKalau Bapakmu masih ada, gak mungkin dapat izin kuliah ke luar kota. Kakakmu dulu saja mau kuliah di Surabaya, mati-matian diurus biar bisa pindah ke Makassar.”

Mama tidak bermaksud mensyukuri kepergian Bapak yang begitu cepat loh. Bukan begitu. Soalnya sebelum itu saya bilang ke Mama kalau saya kangen sama Bapak dan saya tanya ke Mama kira-kira kalau Bapak masih ada, apa saya boleh kuliah sampai ke Jakarta?

For info ya Pak, after you’re gone, things were totally different.

Saya bahkan sejak SMP jalan kaki pulang pergi sekolah sampai rumah. After 3 years, Mama ‘menyerah’. We had to let go the house, the business, everything! Bangkrut, euy! Semua-mua terpaksa dijual hehehehe.

Sejak SMA terpisah dari Mama, saya tinggal menumpang di rumah Tante, saya rajin membantu Tante merapikan rumah dan mencuci baju sendiri. But it did not stop me from being number 1 at school #kibasPoni.

Belajar masak yang agak telat, Pak. Setelah menikah dan dibawa merantau sampai jauuuuuuh baru bisa piawai beraksi di dapur hehehe. The power of kepepet.

Waktu kecil semasa Bapak masih hidup, Bapak melarang saya dan adik perempuan saya ke luar rumah buat main. Ke luar rumah buat sekolah aja. Gedenya malah mainnya sampai jauh begini.

πŸ˜…
Hiking at Gurten Bern Swiss pic by Dani Rosyadi
Follow me! πŸ˜€

Never imagine how it will be andaikan beliau diberi umur lebih panjang. Tentu saja, kalau MASIH BOLEH MEMILIH, saya PASTI penginnya beliau diberi umur lebih panjang. Menemani kami semua sampai dewasa, menjadi wali nikah saya dan adik saya, hingga ketemu cucu-cucu.

But well … β€œThere’s nowhere you can be that isn’t where you’re meant to be…”― John Lennon

No matter how “patriarchy” you were (hehehe), I will always love you that much. Wish you were here to witness how a girl can be smart as well as being able to cook.

😘

Al Fatihah buat Bapak

πŸ₯°

Nadiem Makarim & Visi Misi Pendidikan di Indonesia

Baca berita topik “Nadiem kaget masih ada wilayah Indonesia yang mengeluh soal sinyal dan listrik”, udah batin dalam hati, “Duh, kenapa Nadiem ngomentarin soal itu dah” #pijetKening.

Salah satu problem utama urusan politik di era digital dimana penyebaran informasi ngandelin medsos adalah KOMUNIKASI ke PUBLIK.

Sebenarnya Nadiem sudah “di jalur yang benar” soal dengan upayanya menggalakkan PENDIDIKAN BERBASIS ONLINE. Bukan hanya karena pandemi. Seharusnya topik ini sudah menjadi perhatian serius sejak dulu. This is the world future, bukan cuma Indonesia saja.

Topik Student Project di kampus saya tahun 2001 itu sudah didominasi oleh modul-modul belajar online. Dosen pembimbing menggebu-gebu mengatakan bahwa metode belajar ini adalah metode belajar masa depan! Itu hampir 20 tahun lalu, loh.

Salah satu kritikan kurang nyambung jadinya nyerang Nadiem yang berasal dari keluarga berada. Dianggap tidak mengerti kondisi rakyat kecil di Indonesia. Sorry to say, MEMANG BUKAN TUGAS NADIEM SIH NGECEK-NGECEK SINYAL dan ALIRAN LISTRIK DI SELURUH NUSANTARA.

Tapi disayangkan, kenapa dah dese kudu bikin pernyataan kek gitu di media-media.

Sudah sejak awal banyak yang mengkritisi latar belakang si menteri muda ini yang condong ke bisnis, membuat beberapa praktisi pendidikan di tanah air ikut ‘gelisah’.

Belum lagi perdebatan soal privilege bla bla bla itu kan dipicu dari penunjukan beliau jadi menteri juga. Tulisan saya soal itu ada di sini.

Btw, Indonesia punya yang namanya Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. Ada yang namanya Menteri Perhubungan. Ada yang namanya Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo). Soal listrik, bisa senggol PLN, yang berada di bawah Kementerian BUMN.

Visi misi masing-masing kementerian memang harus BERSINERGI tapi fokusnya BEDA-BEDA.

Soal latar belakang personal vs kepemimpinan, ada perspektif menarik dari NOVEL ARUS BALIK, karya Pramoedya Ananta Toer. Secara garis besar dalam novel ada pendapat bahwa runtuhnya kerajaan besar salah satunya karena kegagalan raja dalam memilih petinggi-petinggi kerajaan.

Alih-alih mengangkat “pembantu” dari kalangan istana atau dari orang-orang berilmu, Raja memutuskan membagi-bagi jabatan kepada orang-orang dari desa-desa yang dianggap sudah ikut membantu dalam perang misalnya.

Akibatnya “VISI MISI” kerajaan mandek. Orang-orang dari desa ini ternyata kurang sanggup berpikir secara menyeluruh. Mereka malah sibuk mikirin desanya masing-masing. Pola pikirn ‘terbatas’. Tidak terlalu bisa membaca situasi secara UTUH karena wawasan kurang.

Orang dari desa dibesarkan “seadanya”. Jadi mereka hanya sanggup melihat sekitaran mereka. Ketika ditunjuk mengelola kerajaan dalam ruang lingkup lebih besar, mereka pun “gagap”.

Makanya, ada pendapat bahwa “pembantu raja” ya memang seharusnya MEREKA yang TERDIDIK dan dibesarkan dengan wawasan “besar” dalam lingkungan kasta yang bukan dari rakyat kebanyakan. Agar bisa melihat “dunia lebih luas” dan akhirnya punya VISI MISI ke depan untuk SELURUH KERAJAAN, gak mentok mikirin kebutuhan desa mereka doang.

Tentu perspektif dari area “seberang” ditampilkan. Bahwa perlu juga memilih “pembantu raja” dari desa-desa biar sekat-sekat antara istana dan pedalaman tidak terlalu jauh.

Penulis novel (Pram) tidak menunjukkan keberpihakan apa-apa. Beliau hanya memaparkan masing-masing perspektif. Monggo dipilih sendiri mana yang lebih cocok dengan pembaca hehehe.

Tapi kita tidak lagi hidup di masa kerajaan. Para menteri juga harusnya berkomunikasi dengan kepala-kepala daerah dengan lebih seimbang. Sudah kenal demokrasi, yes?

Nah, kepada daerah ini sebenarnya ujung tombak yang harus diperhitungkan. Karena MEREKA sebenarnya yang kenal baik dengan area masing-masing. Raja kecil di masing-masing wilayah.

Kalau cek-cek dana dan anggaran, rasanya tidak kurang-kurang uang mengalir ke berbagai wilayah untuk urusan infrastruktur. Termasuk listrik dan urusan sinyal-sinyal ini

πŸ™

. Tapi yah seperti yang sudah jadi pengetahuan umum. MUSUH kita sebenarnya ya itu-itu juga. KORUPSI, KORUPSI, dan KORUPSI

Korupsi inilah yang menjadi beban tidak berkesudahan buat orang-orang seperti Nadiem dll. Belum ngomongin geografi Indonesia yang memang naudzubillah ribetnya. Penduduk segambreng dengan area kepulauan yang luas. Plus tingkat korupsi yang masih asoy.

Tantangan infrastruktur negara kepulauan penduduk banyak memang sedap. Saya ngerasain tuh dulu di barang-barang suka ada tulisan, Harga P. Jawa, dan Harga di luar P. Jawa. Masih ada gak ya? Hehehehe.

Justru PENDIDIKAN BERBASIS ONLINE sangat-sangat memungkinkan untuk pemerataan kesempatan di semua wilayah. Metode ini memangkas waktu dan jarak. Cocok buat negara sebesar Indonesia yang “terpencar-pencar” wilayahnya.

Di masa pandemi, seharusnya kita sadar bahwa ERA DIGITAL sangat membantu kita menjalani hidup dalam keterbatasan gerak.

Coba kalok enggak ada internet, lagi PSBB begini, gimana caranya mau beli-beli tanpa ke luar rumah? Gimana mau berkomunikasi? Belajarnya piye? Yang mau kerja dari rumah? Menghibur diri di rumah? Gimana mau tetap menjalankan bisnis? Dst dst dst.

Ada pun soal kesiapan infrastruktur tidak seharusnya menghalangi visi misi “besar” soal pendidikan di tanah air. It’s another thing. Hai Pak Menteri Desa, semangat Pak

πŸ˜‰

Penduduk banyak dengan wilayah luas apalagi terpecah-pecah dalam kepulauan memang sedap kok tantangannya. Saya pernah ngerasain tinggal di Irlandia vs di Texas. Padahal US ini kan gimana ya, kayaknya sudah salah satu negara dengan teknologi paling canggih.

Kalok urusan sinyal dan koneksi data mah Irlandia menang banyaaaaakkkk hehehehe. Negara mungil yang basisnya masih banyak peternakan dan sawah begini, lebih keren koneksi internetnya. Yaiya, wilayah cuma seucrit dengan jumlah penduduk mungil

πŸ˜›

. Tapi jangan salah, INDIA itu di area selatan kata temen-temen dari sana yang saya kenal di sini, koneksi internetnya gilak, lebih cepat lagi daripada yang di Irlandia

🀩

Kritikan soal Nadiem yang dianggap gak paham kebutuhan rakyat kecil memang agak salah sasaran terkait isu pendidikan berbasis online ini. Tapi balik lagi, KOMUNIKASI ke publik itu memang peer besar banget bagi kabinet sekarang tuh

πŸ™ˆ

Dikurang-kuranginlah ngomong-ngomong gak perlu

Situasi normal saja, netijen gampang naik darah, wahai bapak-bapak pejabat. Apalagi di masa pandemi begini. Gak bisa juga disalahkan. Situasi lagi sensitif. Mbok ya lebih bijak gitu bikin pernyataan-pernyataan di publik.

Sayang kan kalau gara-gara ini, visi untuk membawa pendidikan Indonesia ke arah yang lebih baik malah gak dibahas

. Jadinya ngeributin listrik dan sinyal dan ketidakpekaan beliau karena dianggap gak ngerti kebutuhan rakyat kecil. Harusnya komplen beginian jangan ke Mendikbud

πŸ™

Tetep semangat Kakak Nadiem dan para menteri lainnya ;).

.

Melewati Masa Pandemi Virus Corona di Eropa

Foto di bawah ini, dari musim semi, tahun lalu. Things won’t be the same this year.

Hampir dua bulan “stay at home” padahal cuaca musim semi yang paling dinanti-nanti setelah dikurung musim dingin yang lumayan lama.

Jokesnya kan gitu, di Eropa, musim dinginnnya 6 bulan, sisanya dibagi-bagi : musim panas, musim semi, dan musim gugur hihihihi. Soal lockdown di Ireland, sebenarnya enggak seram-seram amat.

Toh tetep boleh ke luar buat groceries dan ke apotik, dan kepentingan ini TIDAK DIBATASI 2 km. Ke mana saja boleh asal kalau ditanya polisi bisa membuktikan.Karena Ireland ini banyak wilayah pedalaman yang radius 5 km cuma ada 1-2 rumah misalnya. Termasuk county saya nih di Westmeath yang banyak “countryside” nya.

Saya sendiri posisi di area City Center. Nih, supermarket ALDI persis di belakang gedung apartemen. Biasanya jalan kaki. Tapi karena selalu beli borongan, enggak kuat kalau ditenteng jalan kaki jadi saya tetap menyetir muter lewat gerbang depan.

Seriously, kalau mau belanja tuh udah kek mau pergi ke manaaaaa gitu. It’s used to be fun, tapi sekarang anak-anak aja kayaknya tegang banget ngeliat emaknya mau belanja hahahaha.

Yes, sekarang di mana-mana dijaga garda/polisi yang razia siapa saja yang berkeliaran gak jelas juntrungannya. Dendanya 2500 euro! Tapi olahraga tetap boleh.

(y)

Asal dalam radius 2 km dan TIDAK BERKUMPUL. KOndisi di sini beda sama kota metropolitan. Banyak padang rumput dan jarak rumah gak terlalu berdekatan. Jogging juga sudah menjadi gaya hidup orang sini apalagi yang tinggal di kampung-kampung kek kami-kami ini hehehe. Jalan kaki ke mana-manaaaaaa

πŸ˜ƒ

Saya tahu, pasti kita sudah merasa overwhelmed banget ya dengan segala berita-info-data-grafik-info soal virus Corona, si Covid 19 ini :(. Tapi menurut saya cukup penting untuk tetap membekali diri dengan berbagai informasi akurat soal virus Corona ini ;).

I know, ignorance is a bliss, but …. knowledge is a power, yes? ^_^

Saya sendiri sangat menghindari ke luar rumah karena situasi dan kondisi memang memungkinkan. Dulu-dulu rutin naik turun tangga di gedung apartemen. Ada 4 lantai. Bisa setengah jam lari-lari naik turun tangga buat olahraga HIIT murah meriah

πŸ˜›

Sekarang, no more! Pokoknya buka pintu kalau untuk groceries doang. Sekarang matahari juga udah terik tembus ke teras belakang. Jadi tidak perlu lagi jemur-jemur anak-anak ke luar. Suruh umpel-umpelan di teras mungil aja hihihi.

Sejak “masa karantina” hampir dua bulan yang lalu tidak lagi ke luar rumah buat olahraga. Exercise di dalam rumah justru tetap seru, kok. Banyak aplikasi, banyak video gratis di mana-mana (Youtube, Facebook, bahkan IG!)I’ve lost 4 kgs in a month!

😎

Niatnya sih ‘clean eating’ buat booster daya tahan tubuh plus weight training buat stamina karena entah kapan suami bisa balik ke sini lagi so I really-really need to stay fit, karena punya 3 bujang kecil di sini. Bonusnya, berat badan turun 6 kilo and I still continue doing the ‘stuff’.

πŸ˜‰

Gak terlalu dipatok harus turun berapa yang penting stay healthy aja

πŸ₯°

.Berat menahan nafsu makan tapi semua tinggal masalah niat ye kaaaaaan. Anak-anak makan tetap “normal” kok. I still cook a lot of things walau enggak ikut makan.

🀭

Mungkin juga sering berdiri di dapur, gak terlalu punya banyak waktu cengengesan depan laptop, bikin kalori berkurang banyak. Asalkan hasil masakannya jangan ikut dimakan aja sih hahahaha.

Tetap jalankan hidup sehat ya teman-teman walau rasanya kok mati gaya abisss.

Take care of yourself, jaga daya tahan tubuh, satu-satunya senjata untuk melawan virus apa pun. Daya tahan tubuh yang sangat-sangat-sangat dipengaruhi oleh gaya hidup kita termasuk salah satu yang paling utama –> konsumsi makanan kita sehari-hari. Tetap semangat !

πŸ’ͺ

. And if it’s possible, stay at home … please!

πŸ™