Sebenarnya banyak persoalan yang katanya “penistaan agama” bisa selesai cukup dengan UU mengganggu ketertiban secara umum, gak perlu dibikin khusus.
Mungkin tujuannya baik cuma dalam praktiknya sangat rapuh. Parameternya tidak jelas. Berpatokan pada perasaan. Perasaan terhina, perasaan ternista dst dst dst.
Definisi menista pun kadang dalam agama yang sama bisa beda-beda. Ujung-ujungnya ya kuat-kuatan massa. Hukum cuma hiasan. Pemerintah tidak berdaya kalau massa sudah mengamuk.
Provokator mudah mengambil celah. Padahal sebenarnya aktor-aktor utama fokusnya justru bukan ke penistaan agama itu sendiri. Entah cari panggung sendiri. Entah ada tujuan yang lebih tinggi, tujuan politis misalnya.
Di Pakistan juga parah. Mulai dari kasus Asia Bibi yang diawali dengan perdebatan soal minum di sungai yang menyebabkan eyel-eyelan yang berakhir dengan tuntutan hukuman mati kepada Asia Bibi, minoritas Nasrani di Pakistan.
Masih di Pakistan, ada yang malah terbunuh oleh amukan massa (kasus Taheer misalnya).
Kalau sudah masuk ranah “agama”, sulit sekali mau berpikir jernih. Mengeluh kalau suara azan terlalu kencang saja bisa masuk penjara.
Lucu amat. Padahal selama tinggal di Jeddah, patokan saya untuk waktu shalat ya situs-situs internet saking tidak kedengerannya azan deket rumah. Masjid tentu ada. Beberapa malah.
Azan hanya boleh berkumandang dengan volume keras di masjid-masjid besar yang letaknya biasanya bukan di pemukiman penduduk rata-rata.
Boleh tanya ke teman-teman lain yang tinggal di Saudi (y).
Menista agama katanya, zzzzzz -_-.
Persoalan yang sebenarnya bisa selesai di ranah lokal malah bikin heboh dari Sabang sampai Merauke. Kesel, beud. Kehilangan kesempatan punya pemimpin daerah cemerlang gara-gara kesurupan soal penistaan agama.
Waktu Pilkada Sulsel malah grup-grup alumni diam membisu. They don’t care soal prestasi kerja whatsoever, tapi bisikkan kepada mereka, “Ssssttt…agama lu dinista tuh!” langsung pada ambil sarung dan mukena siap shalat di jalan rame-rame!
Seolah kepedulian kepada transparansi kepemimpinan yang bisa punya pengaruh besar kepada kesejahteraan rakyat secara luas tidak ada tuntunannya dalam agama. Dianggap tidak lebih penting daripada ngurusin emak-emak yang ada kecenderungan ODGJ bawa anjing ke dalam masjid.
Banyak pula figur yang sebenarnya terjebak kasus pribadi tapi dengan mudah menggalang massa dengan modal, “Agama kita dinista. Yok jihad yok rame-rame!”
Masalah pribadi figur tertentu kok ya tiba-tiba jadi jadi masalah agama seluruh penduduk nusantara ???.
Lelah, yak -_-.
UU penistaan agama akan selalu menjadi bola karet yang tidak pernah jelas pantulannya akan ke mana. Mau dibiarkan sampai kapan? Harus menunggu berapa kerusuhan? Harus ada yang mati dulu?
Apa sebenarnya definisi membela agama ini? Kepuasan batin atau gimana? Jika kita adalah yang beragama, sejauh mana agama itu bisa mempersembahkan solusi bagi kebaikan masyarakat sekitar? Dengan ancaman dan intimidasi?
Tantangan untuk memperlakukan kasus perkosaan selayaknya tindakan kriminal yang lain memang sangat berat. Gimana gak berat, yang kontra seringnya justru bagian dari kaum perempuan itu sendiri :(.
Di videonya ini Nandini sarkas ya di awal-awal. Nonton sampai habis. Harusnya sih sarkasnya kelihatan banget. Tapi ada aja komen orang yang salah paham.
Ada kasus perkosaan kakek usia 83 tahun kepada cucu perempuannya yang berusia 12 tahun. Seorang ibu-ibu asal Malaysia berkomentar bahwa kita tidak bisa 100% menyalahkan si Kakek.
Kesalahan bisa jadi ada pada si Nenek yang tidak bisa memuaskan nafsu si Kakek. Sehingga Kakek harus nonton film porno terus Kakek ngaceng terus akhirnya memperkosa cucunya sendiri. Kasihan kan si Kakek? ????
Tapi iya kok. Seambruk apa pun logika ini, ini adalah logika yang sangat umum yang diyakini oleh sebagian kaum perempuan juga loh.
Misalnya teman saya pernah komentar soal cara perempuan pakai baju. Dia pakai ilustrasi begini, ada remaja laki-laki nonton acara tentang liputan di pantai. Terus ada cewe-cewe pakai bikini. Si remaja laki-laki terangsang. Eh terus ketemu anak perempuan tetangga. Diperkosanya. Yang salah : embak-embak di TV yang pakai bikini.
1. Apakah semua remaja laki-laki yang menonton perempuan berbikini di pantai akan otomatis pengin memperkosa? Kalau IYA maka logikanya sudah tepat.
Kalau ternyata tidak, justru yang menarik dan bisa dieksplore lebih jauh : mengapa ada remaja laki-laki yang nonton acara begituan dan terangsang juga tapi kok ternyata tidak diikuti oleh tindakan ingin memperkosa?
2. Sulit sekali memaksa seluruh dunia untuk ikut berpegang pada nilai yang kita yakini. Even if you are moslem. Karena PERBEDAAN itu adalah keniscayaan bagian dari takdir.
Kalau si remaja laki-laki susah menahan nafsu, ya jangan nonton gituan. Kecuali dia dipaksa ya? “Pokoknya kamu harus nonton, kalau enggak kamu saya bunuh!”
3. Si embak-embak pakai bikini nun jauh di mungkin di Miami – Florida kenal ama si mas-mas remajanya aja enggak kok ya tahu-tahu si embak yang harus menerima siksa api neraka toh ya *pijetKening*.
Justru jangan-jangan loh justru segregasi yang terlalu tajam antara laki-laki dan perempuan sejak lahir kalau perlu (hahaha) yang memicu sulitnya kedua gender ini merasa SETARA. Ingat ya, SETARA, bukan SAMA DENGAN.
Seperti biru vs merah misalnya. Keduanya sama-sama warna. Enggak bisa bilang biru adalah warna yang lebih mulia. Atau merah seharusnya punya tingkatan lebih tinggi daripada biru. NOPE. Keduanya SETARA.
Dalam beberapa hal, biru lebih pas untuk digunakan. Di hal-hal lainnya, merah dianggap lebih cocok. Tapi dalam banyak hal, keduanya banyak kesempatan untuk dianggap “setara” ;).
Wilayah India dan sekitar yang sangat tajam segregasi perempuan vs laki-laki sejak kecil :(. Makanya pelecehan seksual terhadap perempuan di wilayah ini cukup marak. Sulitnya, pelecehan seksual ini sering sekali bebannya diarahkan ke perempuan :(.
Perempuan yang harus tanggung jawab ini itu. Ngurus anak, ngurus rumah, ditambah lagi, ngurus nafsu seks suami, karena ingat, suami selingkuh atau memperkosa perempuan lain tak lain karena istrinya kurang memuaskan -_-.
Lemahnya penegakan hukum di urusan perkosaan (ya gimana dong ya, kadang lapor ke polisi pun, polisi rata-rata laki-laki, dan pernah ada kasus polisinya malah nanya balik, “Kamu kok ngakunya diperkosa udah 2x kok baru lapor sekarang. Doyan kamu ya?”
W O W . . .
Subhanallah. Emang dikiranya begitu habis diperkosa, detik itu juga, kita bisa langsung buru-buru naik angkot lapor polisi gitu ya. Belum lagi kalau pelakunya orang terdekat.
Kasus laki-laki yang memperkosa adik iparnya yang janda yang tinggal menumpang pada mereka. Dilema banget. Nama baik keluarga bisa terancam. Boro-boro si lakik yang kena, jangan-jangan malah si janda ini yang bisa berantem sama kakaknya sendiri.
KOmentar netijen (PEREMPUAN!) juga dahsyat. “Yah, pasti yang salah yang janda lah. Tau sendiri kan janda. Emang bawaannya godain laki orang. Jauh-jauh dari janda lah pokoknya.”
Ya nanti jandanya dinikahin ama suamimu Mbak, kamu salahin juga jandanya.
Makanya menjadi LAKI-LAKI itu memang PRIVILEGE tersendiri ;).
Saya kebayang itu kasus kakek usia 83 tahun anggaplah istrinya 73 tahun. Terus si Kakek masih minta jatah gitu, ya, pada istrinya yang mungkin mereka udah sama-sama pikun. Tapi terus jadi pembenaran buat POLIGAMI ????.
“Makanya izinkan kami poligami daripada kami perkosa-perkosa anak cucu sendiri ye kaaaaannn…”
Kalian pernah nonton filmnya Charlize Theron “North Country” diangkat dari kisah nyata. Theron menjadi pekerja tambang perempuan. Sampai diperkosa segala. Bukan, bukan karena dia pakai baju seksi. Ya coba aja lu pakai bikini di tambang -_-.
Semata karena laki-laki merasa kehadiran Theron di tambang sebagai ancaman. Dan perkosaan itu adalah hukuman kepada Theron. “Heloooo lu itu cuma perempuan. Girls are weaker so that you know. Nih gue perkosa lu, mau apa lu, mau apa lu ….”
Jadi sebenarnya tindakan atau penampilan perempuan justru sering tidak ada hubungannya dengan kasus perkosaan. Dan perkosaan ini bisa melibatkan orang-orang yang sudah saling kenal, loh.
Dosen kepada mahasiswi, om kepada ponakan, kakek kepada cucu.
Perampokan di malam hari juga tidak sedikit yang diikuti dengan tindakan perkosaan kepada tuan rumah perempuan loh. Ya gimana atuhlah, lagi bobok juga kudu pakai gamis dan cadar apa gimana ini ??.
Mendalami masalah-masalah beginian sudah seharusnya disebarluaskan terus. Jangan semua-mua masalah diselesaikan dengan :
1. Memisahkan tangga anak perempuan dan anak laki-laki biar gak colek-colekan.
Ajarkan anak-anak dong untuk saling menghargai, tidak boleh menyentuh badan lawan jenis untuk iseng atau untuk menggoda. Tegakkan aturan, awasi, awasi, awasi! Jangan malaaaaasss.
Mau jalan pintas aje –> Pisahkan saja tangganya! Biar guru yang usah repot-repot mendidik dan mengawasi dan menegakkan peraturan?
2. Bikin edaran wajib pakai jilbab buat murid perempuan. Berlindung di balik aturan agama. Tapi coba aja diskusi panjang lebar pasti ujung-ujungnya ke situ, “Ya itu sebenernya buat kepentingan perempuan sendiri. Untuk keamanan mereka sendiri.”
Wrong!
Gambar : soundgirls.org
Anak laki-laki ya diajarin dong, “NO MEANS NO”. Perkosaan itu tindakan kriminal TIDAK PEDULI SI PEREMPUANNYA LAGI PAKAI BAJU APA.
Mencuri itu tidak boleh walau ada dompet terkapar di jalan tanpa pemilik dan duit ratusan ribu nyembul-nyembul dari dalam dompet.
Why does it so hard to understand?
Btw, segragasi perempuan dan laki-laki di usia sekolah jangan-jangan malah mempertajam stereotip laki-laki dan perempuan. Memperkuat relasi kuasa antara gender.
Waktu kecil, kalau bulan puasa main di masjid teringat dulu ada Pak Ustaz yang bilang ke kami, “Perempuan nanti lebih banyak yang neraka karena calleda’. Makanya ndak boleh itu dekat-dekat laki-laki sama perempuan.” (Calleda’ = centil).
Apa dia akan mengatakan hal yang sama pada kasus perkosaan anak perempuan umur 6 tahun oleh ayah kandungnya sendiri? Secalleda’ apa itu anak umur 6 tahun sampai bisa memperdaya ayahnya untuk memperkosanya?
It was so sad to admit that some of religious belief are part of this mess ???.
Walau dalam praktiknya, agama sering dijadikan alibi bagi penguasa untuk segala ketidakberdayaan mereka dalam menjalankan kewajiban bagi warganya.
Waktu rajin road trip di US dulu, saya dan suami suka membahas iseng-iseng soal korelasi antara banyaknya plang, “Jesus, We Love U” dan semacamnya vs kondisi ekonomi kota/wilayah tertentu.
Entah mengapa hasilnya ya begitu itu hehehe. Makin “gak jelas” kota atau state-nya, makin banyak plang-plang beginian ???
Wilayah Texas area Kota Plano dan sekitar hampir bersih dari baliho-baliho agama :p. Di Texas bagian utara, kota-kota industri memang ada di wilayah Plano-Frisco ini. Kelihatan dari harga propertinya yang di atas rata-rata.
Sementara di area Texas yang perbatasan yang agak-agak (maaf) mulai kumuh, baru dah mulai banyak “anjuran” untuk lebih banyak mengingat Tuhan ???.
Mungkin semacam “penawar rasa gregetan” dari warga biar gak usah terlalu mikirin biroraksi dan kewajiban-kewajiban kepada daerah kepada rakyat ???.
Setiap gondok inget pemda yang gak jelas hasil kerjanya apa, ya kan tinggal lihat baliho-baliho Asmaul Husna, auto hilang keselnya??? ??
Baruuu aja beberapa waktu lalu membaca selebaran sese-wagub yang mengimbau rakyat untuk jangan melakukan kegiatan-kegiatan maksiat untuk mencegah terjadinya bencana alam ???. Surat edaran resmi loh ???.
Mbok ya penanganan bencana yang ditingkatkan. Anggarannya diawasi dengan benar jangan dipakai buat yang lain-lain. Disiplin menerapkan aturan, perbanyak kajian ilmiah dari para ahli untuk proses pencegahan jangka panjang.
Ini memang bukan langkah yang mudah dan perlu waktu. Tapi tugas pemerintah yang utama ya begitu itu.
Juga sese-bupati yang punya program memperbanyak ustaz di tiap kelurahan biar makin banyak hafiz/hafizah. Mungkin biar rakyat khusyu’ mengaji, pemerintahnya bisa lebih khusyu’ mainin duit anggaran #eh ???.
Ya gimana, sistem yang masih ngacak begini dengan pangsa pasar yang lagi semangat “hijrah” sangat klop dengan kalangan birokrasi yang tidak sanggup bersaing di area kinerja-hasil nyata-rekam jejak.
Jadi, jalan pintasnya ya gitu : bikin aturan wajib pakai jilbab di instansi pemerintahan, bikin aturan wajib jilbab buat anak-anak sekolah negeri, bikin aturan jangan maksiat biar gunung gak meletus? ???.
Oh, come on …. -_-
Simpel nan praktis, dalam waktu singkat otomatis membuat rakyat terpesona penuh haru betapa amanahnya pemimpin-pemimpin daerah mereka, “Masya Allah Tabarakallah.”
Saban bulan puasa, suka cengar cengir melihat teman-teman di provinsi yang terkenal dengan korupsinya yang maha dahsyat itu yang memuji pemimpin daerah mereka yang begitu saleh hanya karena melarang warung makan untuk buka di siang hari ???.
Jauh lebih gampang tooooohhh daripada memperbaiki sistem yang korup, melakukan transparansi anggaran, mendisiplinkan aparat birokrasi, dst dst dst.
Apa sih susahnya ngeluarin edaran kudu pakai jilbab buat embak-embak & emak-emak PNS di Pemda KETIMBANG mengawasi / memastikan segala jajaran PNS terkait bisa bekerja dengan disiplin melayani masyarakat dan enggak “bandel”?
Kalau ada jalan pintas, mengapa harus memilih jalan yang memutar ???.
Seorang teman dari Bangalore India yang datang ke Athlone setahun yang lalu berkisah kepada saya, “Before the final interview last year, my husband kept telling me that it’s going to be hard to be a moslem in this little city. Asking my opinion about leaving India for Ireland.”
Suami teman saya sudah pernah assignment ke Kota Ahtlone sekitar tahun 2011. Saat itu katanya sangat berat. Sulit sekali mendapatkan makanan halal. Tidak banyak teman muslim di Athlone. Pokoknya dianggap tidak mudah hidup sebagai muslim.
Saat interview kembali tahun 2016, si suami teman ini terkaget-kaget dengan perubahan di Athlone. Segera setelah mendarat kembali di Bangalore, dia penuh semangat berkata kepada si istri, “Forget everything I told about Athlone. It’s completely different now. Pack your things!”
6 tahun silam saya harus berjalan kaki sejauh 2 km dari gedung apartemen menuju gerai daging halal di Kota Athlone. Tempat itu satu-satunya penyedia daging berlabel halal di kota ini.
Kini, ada 3 toko daging halal di kota kecil berpenduduk 25 ribu orang (saja) di negeri mayoritas bukan muslim. 2 diantaranya malah buka gerai di area City Center. Berjalan kaki 5 menit saja dari gedung apartemen, saya leluasa berbelanja daging halal di kedua gerai tersebut.
Walau berlabel sekuler, aroma Katolik sangat mewarnai kehidupan sosial budaya di Republik Irlandia.
Makin ke sini, Republik Irlandia yang naturally sangat homogen ini, makin membuka diri kepada pendatang.
Sempat didera krisis ekonomi bertahun-tahun, sejak tahun 2013, Republik Irlandia mulai bangkit dan terus bertengger sebagai salah satu negara maju di belahan barat benua Eropa. Pendapatan perkapita yang tinggi dengan tingkat kesejahteraan yang mumpuni selayaknya negara-negara maju khas Eropa Barat.
Perbaikan situasi perekonomian inilah yang mungkin membuat kesempatan kerja mulai menjamur dan menarik minat pendatang. Termasuk pendatang muslim dari berbagai wilayah.
Kota Athlone, yang secara geografis terletak di tengah pulau Irlandia sehingga dijuluki The Heart of Ireland (Jantung Hati Irlandia), salah satu sentra bisnis di County Westmeath.
Athlone, foto : Dani Rosyadi
Sebuah perusahaan telekomunikasi multinasional asal Swedia membuka kantor pusat (fokus pada Research & Development) di kota ini. Di sinilah, suami saya dan banyak teman-teman muslimnya dari berbagai negara mencari nafkah.
Kehadiran muslim yang didominasi kalangan ekspatriat semoga juga membuka mata penduduk lokal yang mungkin memandang “rendah” pada pendatang asal negara-negara berkembang di Asia.
Tentunya, komunitas muslim yang membesar juga memicu geliat bisnis terkait, misalnya : munculnya rumah-rumah makan berlabel halal & toko-toko penjual bahan baku halal. Sehingga komunitas muslim pun makin meluas di wilayah ini.
Sungai Shannon di Musim Semi – Athlone
Beberapa keluarga sudah hidup belasan tahun di Irlandia. Tidak sedikit anak-anak muslim ini yang lahir, besar, dan menghabiskan mayoritas waktu mereka di Irlandia.
Perayaan Idul Fitri yang mengundang kehadiran seluruh komunitas muslim di Kota Athlone, salah satu tujuannya adalah untuk memperkenalkan perayaan khas Islam kepada anak-anak.
Diharapkan, walau lahir dan besar jauh dari tanah air masing-masing, mereka tidak melupakan budaya asal. Tetap hidup berbaur dengan masyarakat setempat tapi tetap mempertahankan nilai-nilai agama selama tidak bertentangan dan berbenturan dengan aturan lokal :).
Sekali lagi, EID MUBARAK.
Semoga kedamaian dan kerukunan bagi seluruh umat manusia, apa pun perbedaannya, bisa menyebar ke segala penjuru bumi ini. Aamiin.
Senator Australia, Fraser Anning, membuat heboh dengan pernyataan kontroversial tentang radikalis Islam di Australia terkait kejadian di Selandia Baru.
Masyarakat mungkin baru ngeh mengenai siapa dia. Tapi sebenarnya Fraser Anning ini memang sudah memperjuangkan tentang “Moslem-Immigrants Banned” sejak dulu-dulu.
Ini interviewnya tahun lalu : Fraser Anning on muslim migration ban in Australia.
Menarik banget membaca komentar-komentarnya yang mayoritas mendukung Fraser Anning. Beberapa malah mengancam, “Kalau kita terus-terusan membuka diri pada imigran, kita akan bernasib seperti UK.”
Komentator mengkritik pemerintahan Australia yang terlalu longgar terhadap imigran Islam di Australia.
Pada lupa kali kalau mereka pun sebenarnya pendatang di Australia. Eropa-Aussie-Kanada ini, menyematkan term “Immigrants” pada semua pendatang asal non Kaukasian termasuk para ekspatriatnya.
Tidak heran, cenderung memandang rendah pada kulit berwarna, apa pun skill yang dimilikinya.
Untuk urusan beginian, Amerika Serikat memang jauuuuhhh lebih matang. Ditempa ratusan tahun dengan semangat “land of freedom”. Amerika Serikat tidak pernah mengkhususkan diri buat ras Kaukasian sejak awal.
Walau tentu lumayan panjang perjalanan mematahkan arogansi ras tertentu di Tanah Liberty ini. Kini, si entuh kembali mencoba mengusik harmoni dengan kampanye dan kebijakan yang rada-rada nganu .
Semoga pemerintahan di benua Australia tetap waras, ya .
Moslem in Australia
Guncangan ekonomi global memang tengah terjadi di mana-mana. Eropa pun sama. Tidak kunjung melepaskan diri dari krisis berkepanjangan. Serba ribet di mana-mana. Perut lapar itu memang bahaya.
Ekonomi lesu, memancing ketakutan, tinggal ulangi saja pesan Yoda di Star Wars, tentang Fear is a human’s dark side dst dst.
Benua Eropa dan Australia tidak boleh lupa, perputaran ekonomi mereka ditopang oleh pendatang juga.
Di kota tinggal saya, pendatang tuh banyak banget karena kantor global Ericsson membuka Development Center di sini. Sudah banyak pendatang begini, masih banyak toko-toko tumbang dan demand tempat tinggal tidak diikuti oleh supply yang bertambah karena ekonomi masih “gelisah”.
Sebuah perusahaan social media company (Facebook group yang menguasai IG, Whatsapp, FB misalnya) juga membuka kantor pusat administrasi di Irlandia. Pemerintah Irlandia berusaha menarik investor asing dengan berbagai macam kemudahan, makanya pada hengkang dari US pindah ke Ireland.
Socmed companies ini butuh banyak admin dengan Native Asian Language. Ketahuan yang doyan maen medsos siapa ye kaaaaaan hahahaha.
Saking putus asanya nyari karyawan yang Native Indonesian Speaker, beberapa kontraktor mulai merekrut langsung dari Indonesia loh.
Ini saya beberapa kali dihubungi para adik-adik yang lagi interview sama Facebook soal biaya hidup. Segera kubikinin vlognya deh biar gak bolak balik ngetik panjang2 hehehe.
Investasi negara tergantung pada perusahaan-perusahaan besar ini. Sementara perusahaan butuh SDM asal Asia.
Kalau situ nyolot sama pendatang Asia, entar Facebook pusing cari admin, terus akhirnya balik lagi ke US? Hayo looooooo .
Bayangin aja kalau pendatang pada cabut. Siapeeeee yang mau belanja di toko-toko lokal-mu, belanja di Aldi-mu, ngopi-ngopi di kafe-mu. Jangan sombooooonggg, nohhh yang rajin ngopi-ngopi mah segerombolan emak-emak Arab kerudungan yang sekali minum bisa 2-3 gelas hihihihi.
Dunia ini mbok ya dijadikan tempat untuk hidup damai berdampingan. Apalagi RAS itu kan ciptaan Tuhan. Siapa yang bisa memilih akan memiliki kulit warna apa kita pas lahir ye kan?
Hidup saling membutuhkan, tolong menolong makanya mari saling kenal mengenal. Jangan kaget lihat emak Asia yang cuma ibu rumah tangga tapi lulusan S1 .
Sebagian gak kerja karena kendala working permit. Sebagian lagi emang pemalas maunya ngurusin gosip artis sama fesbukan aja dia dari pagi ampe malem hahahaha.
INi juga berlaku buat orang-orang Islam yang tergila-gila pada khilafah bla bla bla. Para insecured-moslem yang selalu merasa dunia ingin menghancurkan Islam yadda-yadda-yadda. Persis seperti para komentator di video Fraser Anning yang di atas tadi tuh linknya .
Juga buat temen-temen diaspora non muslim yang sudah tinggal di negara-negara bule, jangan lupa kacang pada kulit lah. Sungguh sedih mendapati bahwa bigot-bigot model begini juga datang dari bangsa sendiri.
Yang sono islamophobia, asiaphobia dst dst. Yang laen juga tidak kalah inferiornya, nonMoslem-phobia dsb dsb.
Sukak merasa tidak nyaman di Indonesia bla bla bla katanya. Dimusuhi mayoritas suka dipersekusi dll.
Haeeeeeeee, jangan lupakan kami-kami yang muslim yang meluangkan waktu siang dan malam berantemin kerabat teman sendiri waktu mendukung Ahok yang non muslim di Pilkada DKI kemareeeeeennnn. Termasuk teman-teman muslim dari luar DKI loh.
Situ kira enak dikata-katain munafik, diserang lewat inbox suruh lepas jilbab!!! Tapi kan tetap saja prinsip Bhinneka Tunggal Ika buat NKRI tidak bikin kami menyerah, kan?
Tuh suami saya tengah malam di Texas ujug-ujug datang ke acara Menyalakan Lilin buat Ahok. Tengah malam, yes? Berkumpul bersama mayoritas non muslim untuk MENUNJUKKAN SECARA NYATA dukungan terhadap persaman hak dan keadilan bagi seluruh warga negara Indonesia apa pun agama dan rasnya.
Gambar : misacor.org
Saya enggak ikut karena harus jaga anak-anak di rumah . Tapi saya yang ngeditin videonya terus dikirim dan ditayangkan di Metro TV. Diedit tengah malam itu juga! Gue paling benci begadang kecuali ada special case.
And now you dare to mock my moslem friends in front of my face! ???
Note : people with bad behavior only exist to remind us to NOT to do the same.
Lagi-lagi kutipan dari video embak-embak mantan CIA kudu dipajang dimari,
“Because as long as your enemy is a subhuman psychopath, that’s going to attack you no matter what you do, THIS NEVER ENDS.
But if your enemy is a policy, however complicated, THAT WE CAN WORK WITH.”
Selama kita memilih untuk percaya bahwa ada kaum/ras/agama/kelompok lain yang akan menghabisi kaum/ras/agama/kelompok kita no matter what we do, THIS NEVER ENDS.
Tapi jika yang mengganggu kita lebih karena kebijakan-kebijakan tertentu, walau serumit apa pun, THAT WE CAN WORK WITH <3.
Humanity beyond everything.
Hempas manjaaaahhh semua rasa takut.
What barrier is there that love cannot break? -Gandhi- ?