Film Netflix Terbaru Edisi Natal 2019 : THE TWO POPES, “When Noone is to Blame, Everyone is to Blame”

Film Netflix terbaru untuk edisi Natal 2019 ini : The Two Popes.

Sempat disangka film dokumenter beneran saking miripnya aktor pemeran Pope Francis dengan Pope aslinya hehehe. Iyah, mirip banget 😅.

So that you know, film netflix terbaru yang ini kategori FIKSI. Kalau pun memang terinspirasi dari kisah Pope Benedictus dan Pope Francis, ternyata banyak juga penambalan yang tidak sesuai atau berat sebelah.

film netflix terbaru Natal 2019

Kritikan bertaburan tapi sebagai tontonan, film ini sangat menarik. Mengingat adegan-adegannya didominasi oleh percakapan one on one antara Pope dan Cardinal-nya (sebelum digantikan), TAPI TIDAK MEMBOSANKAN sama sekali.

Yah, namanya film, kadang harus didramatisasi biar seru. Kalo ako mah anaknya emang googling-an kalo abis nonton film. Nonton filmnya 2 jam an, googlingnya bisa seharian hahaha.

Kurang tepat memang kalau menggambarkan Pope Benedictus vs Pope Francis sebagai konservatif vs liberal. Sementara masa lalu Pope Francis di “Dirty War – Argentina” cukup suram. Googling sendiri ya, Gaeeessss <3.

Kritikan tajam dari kaum sosialis tetap mengalir deras terhadap Pope Francis, walau beliau kini sudah menjadi salah satu icon pengentasan kemiskinan di dunia.

Tapi dalam kehidupan sehari-hari seringnya kita terjebak dalam area hitam putih ini, ya. Dalam banyak hal, perlu waktu panjaaaaaang untuk menyadari “wilayah abu-abu”.

Ironisnya, film The Two Popes menyadarkan saya soal ini sekaligus melakukan pelanggaran yang sama dalam skenarionya hehehehe.

Saya terkesan dengan percakapan saat Pope Benedictus menganggap Pope Francis “too compromising”. Di mana Pope Francis menjawab tegas, “I changed. Not compromised. Two different things.”

Versi film menyorot kasus-kasus korupsi dan pelecehan seksual terhadap anak-anak yang terjadi dalam lingkup Gereja Katolik dan terkesan ditutup-tutupi.

film netflix terbaru review The Two Popes 2019

Pope Francis : “Kita lebih rela melihat 9 anak-anak menderita daripada harus kehilangan 9 juta jemaah.”

Di film terlihat kalau Pope Francis mengkritisi petinggi-petinggi gereja yang terkesan menyembunyikan pelanggaran-pelanggaran serius demi menjaga citra gereja dengan tujuan utama –> biar jemaah tidak “lari”???

Percakapan berkesan lainnya soal bagaimana agama tidak seharusnya menjadikan manusia bertujuan menjadi Tuhan. Tuhan hanya ada satu.

Tapi saya setuju dengan salah satu kritikus film yang mengatakan, sudah sangat usang jika kita mempertentangkan konservatif vs liberal dalam urusan kehidupan manusia. Gak ada gunanya jugak, gak nawarin solusi apa-apa juga.

Sebaiknya, yang diangkat adalah korupsi vs reformasi melawan korupsi, dunia yang makin kapitalis vs gimana cara kita menguranginya, kemiskinan vs penyebab dan bagaimana kita terus melawannya.

film netflix terbaru The New Popes

Samalah kayak debat-debat di dunia maya yang cenderung jatuh ke ranah ad hominem :(. Lebih baik bahas KONTEN daripada terjebak dalam eyel-eyelan tidak bermutu yang malah menjebak emosi, macam “dasar lu kadrun” atau “cebong goblok” atau “lu emang kampret sih”.

Sumpah, USELESS! 😰😰😰.

Gue bingung Jakarta banjir masih jaman nyalah-nyalahin gubernur. Gusti Allah, dari era gue masih gadis kinyis-kinyis cantik jelita (oh wait, sekarang juga masih cantik sih #sisirPoni), Jakarta sudah banjiiiiiiiiiiirrrrrrr, ke mane aje lu!

Awal tahun 2007 noh, banjir besar ampe kantor libur segala. Tiap tahun setelah itu kalau hujan ya banjir, sampai sekarang. Mbok ya jangan gila malah bahas Pilkada yang sudah lewat hampir 3 tahun! #pijetKening

Udah ngomelnya, balik ke review filmnya lagi :p.

Agama seharusnya menjadi jalan untuk membawa kebaikan bagi banyak orang, termasuk kekhawatiran mengenai dunia yang makin materialistis. Jenjang antara si kaya dan si miskin yang makin menganga, iklim global yang makin memprihatinkan, adalah hal-hal yang seharusnya diperjuangkan oleh GEREJA.

Sungguh kuingin standing ovation pas percakapan ini, literally! 😅😁🥰

Banyak persoalan dalam kehidupan sosial yang “jalan di tempat” karena banyak pihak fokus kepada PENCITRAAN, ego sendiri-sendiri, boro-boro bahas SOLUSI :(.

Kita terjebak untuk berpikir, “HARUS ADA YANG SALAH.” Walau hati kecil kita tahu terlalu rumit untuk menunjukkan satu jari kepada pihak tertentu. We knew, we had noone to blame.

Persis.

Makanya, kalau kalian melihat suatu ketidakadilan nun jauh di sana, tengoklah ke dalam kaca di depan kita, lihat bayangan kita sendiri. Kita mengutuk yang jauh, lupa bercermin kepada yang dekat-dekat.

Memaki pelaku, meratapi korban entah di mana, namun tanpa sadar mungkin menjadi pelaku atas korban-korban di sekitar kita sendiri. ((KITA)), tentu saja, yang menulis termasuk!

Makanya, “When no one is to blame, everyone is to blame” -Pope Francis-

Semoga kita semua berusaha melihat bayangan di cermin sendiri sebagai sosok yang membawa perbaikan atas berbagai persoalan sosial antar manusia di dunia, aamiin 🙏🙏🙏.

And here comes one of the special days …. CHRISTMAS day <3.

“My idea of Christmas, whether old-fashioned or modern, is very simple: LOVING OTHERS. Come to think of it, why do we have to wait for Christmas to do that?” -Bob Hope-

Cinta tidak pernah ke mana-mana. Selalu ada di sini <3.

SELAMAT HARI NATAL bagi teman-teman yang merayakan 🥰😘🤩🙏.

Netijen vs Hasil Disertasi : The Death of Expertise?

Sejak awal hasil disertasi yang lagi ramai itu muncul di publik, sudah saya tunggu-tunggu respons berupa amukan netijen 😅😅😅🧐.

Tetap saja tidak menyangka akan berakhir dengan se-dramatis ini :(. Sampai universitas dan si penulis harus minta maaf segala dan berjanji merevisi ck ck ck.

Lebih wakwaw lagi teror kepada keluarga penulis :(. Tuduhan-tuduhan tolol yang sebenarnya hanya cerminan betapa ketakutan sekali lagi menunjukkan “dark side” nya pada diri manusia. Penggemar Yoda (Star Wars) mana suaranyaaaaaa :p.

Kok bisa-bisanya sampai ada komentar-komentar macam, “Yuk kita perkosa aja ramai-ramai istri dan anaknya. Kita gilir aja saudara-saudara perempuannya.” REALLY?

Memang tidak gampang membaca hasil penelitian ratusan halaman,, tapi masa iya the BIG PICTUREnya aja gak bisa dapat, sih? Di media juga sudah banyak kok secara garis besarnya yang memang sangat tidak nyambung dengan teror-teror dungu di atas tuh -_-.

Hasil disertasi pun seharusnya bukan hal yang menakutkan. Memang topiknya agak sedikit menyulut zona nyaman bagi yang keyakinannya terkait soal ini sudah FINAL. Tapi sebenarnya enggak se-ngeri di pikiran kalian.

I’m just trying to give a little explanation here. Jangan dianggap sebagai persetujuan saya ya terhadap hasil penelitian. Yang gitu-gitu biar dibahas oleh sesama ahli fikih saja.

Penelitiannya ini bukan tentang SEKS BEBAS. Tapi sebaliknya tentang SEX with CONSENT. Hubungan seksual yang dibahas adalah hubungan seksual yang disetujui secara sadar oleh kedua belah pihak. Tanpa persetujuan kedua belah pihak, otomatis menjadi kasus PERKOSAAN.

Kedua belah pihak juga harus sama-sama berusia dewasa. Kalau di bawah umur, tentu menjadi kasus PEDOFILIA.

Penelitiannya juga mempertimbangkan MASA IDDAH buat perempuan. Secara medis, biologis, dan ilmiah, MASA IDDAH ini memang penting dalam membahas hubungan seksual (y).

MASA IDDAH ini juga penjelasan sederhana mengapa POLIGAMI boleh tapi POLIANDRI itu mustahil ;). Kakak-kakak feminis tolong jangan marah padaku hihihihi :p. Masuk akal kok soal larangan poliandri tanpa harus bawa-bawa ayat sekali pun.

MASA IDDAH yang dibahas sesuai dengan aturan dalam alquran, jadi PELACURAN bukan bagian dari “SEX with CONSENT” yang diperbolehkan dalam penelitian ini. PELACURAN tidak mengindahkan kaidah MASA IDDAH, jadi ya HARAM :p. Jelas banget kok itu.

Dari sini juga bisa ditarik kesimpulan, lelaki lajang maupun yang sudah menikah tidak masalah melakukan “SEX with CONSENT” ini dengan perempuan lain selain istrinya. Tapi perempuan yang masih/sedang berstatus ISTRI ya jelas tidak boleh. Terkait ke masa iddah tadi.

Hubungan seksualnya pun TIDAK BOLEH di tempat terbuka atau disaksikan oleh orang lain. Ekshibisionis jelas perbuatan haram.

CMIIW, ya. Ini saya dapatkan dari kompilasi beberapa media yang memuat secara garis besar soal hasil penelitian ini. Tentu sangat mungkin saya ketelisut 🙏.

Menyusun disertasi sampai mendapatkan persetujuan dan lulus pula bukan kerjaan sehari dua hari atau sebulan dua bulan. Pasti panjang banget itu prosesnya secara akademis.

Sayang banget, dari berita terakhir kok ya malah universitasnya yang takluk kepada amukan netijen. Di mana saya rasa netijen ini ngerti juga kagak disertasinya tentang apa hahaha. Penulis sampai harus berjanji mengganti judul bahkan akan merevisi.

Tapi nampaknya membuka dialog pun terasa mustahil, ya.

Kemarin sempat nonton salah satu acara diskusinya. Pihak televisi juga nyolot, sih. Ya masa penulis yang kompetensi akademisnya segitu dihadapkan dengan perwakilan ormas yang tidak jelas bidang ilmunya apa selain bolak balik ad hominem ke penulis?

Mengapa berdiskusi saja tidak mau? Toh hasil disertasinya bukan sesuatu yang dipaksakan untuk diikuti, kan? What scares you?

“Manusia membenci apa yang tidak diketahuinya.” -Imam Ali-

Yah begitulah era internet ini sudah terlalu jauh mengubah cara hidup kita. Di satu sisi dengan mudah mengalirkan informasi apa saja kapan saja kepada siapa saja. On the other hand, membuat banyak sekali bias-bias pemahaman sana sini :(.

Makanya kusuka membujuk-bujuk teman-teman yang punya expertise di bidang tertentu, mbok ya, medsos-an lah lebih serius hehehehe. Try to share your knowledge dengan menuangkannya dalam gaya-gaya tulisan yang lebih populer. Era sudah berubah, euy.

Kemampuan menulis seharusnya bukan lagi BAKAT khusus tapi SKILL dasar yang sebaiknya dimiliki semua orang SEJAK DULU.

Saya baru paham mengapa di sekolah-sekolah Irlandia dan US, MENULIS itu jadi SATU MATA PELAJARAN SENDIRI, loh 😍🤩.

Kira-kira dalam mata pelajaran MENULIS diharapkan agar siswa bisa menguntai isi pikiran ke dalam tulisan yang runut sesuai logika dengan argumen yang baik dan bahasa yang rapi dan tentunya … mudah dipahami oleh pembaca.

Terlepas dari hasil penelitiannya (experts can be wrong too, rite?), seharusnya menjadi momen untuk berdiskusi, berdialog, or simply to challenge your way of thinking?

But again …

“Thinking is difficult, that’s why most people judge.” -Carl Jung-

era digital

RUANG PUBLIK, PRIVASI, DAN ERA DIGITAL

“Pujilah masakan ibumu di meja makanmu sendiri.” Kira-kira gitu dulu kalimat dari tulisan Bang Saief Alemdar, years ago :D.

Masalahnya sekarang, even if you’re boasting around about something in front of your “inner circle” (ONLY), selalu ada TIM SKRINSYUT dengan kecepatan cahaya yang siap beraksi hahaha.

Tentu beda cerita dengan STATUS/POSTINGAN yang sifatnya PUBLIC ;). Apa pun yang sudah di-share secara PUBLIC, ya harus siap menerima konsekuensinya :D.

Bahkan saya sudah pernah memperingatkan soal aplikasi Google Photos, kan? Kalian mungkin tidak sadar pernah login di Google Photos yang menyebabkan Google Photos bisa mengakses foto-foto di gallery ponsel kalian.

Semua foto akan ter-backup di sana. Hati-hati jangan bikin foto aneh-aneh dah biarpun niatnya cuma koleksi pribadi aja hihihihi.

Ada untungnya juga, sih. Tempo hari kalau gak salah seorang teman panik, tidak sengaja menghapus ratusan foto liburannya di ponsel sebelum sempat di-dokumentasikan. Syukurlah begitu masuk Google Photos, ratusan foto tersebut baik-baik saja dalam folder Google hehehe.

Sekali kalian menyetorkan data secara ONLINE, even sudah setting ONLY ME kek, SUPER PRIVATE LU KAGAK MUNGKIN BISA NGINTIP kek, dst dst, secara otomatis data tersebut sudah bukan milik kalian pribadi.

Terjadi pergeseran cukup besar dalam penyebaran informasi di era digital.

Seperti yang saya singgung di awal, bahkan kalau kita pun niatnya cuma merepet di “grup pribadi” atau lingkaran teman tertentu, be extra careful.

Ingat kasus embak-embak (D) yang ngomel soal ibu hamil di gerbong Commuter Line? Dia posting di PATH kalau gak salah.

Berbeda dengan platform lain, PATH ini bisa dibilang paling “private”. Bener-bener harus temenan baru bisa ngintip. Gak punya settingan public kan ya kalau gak salah? Itu juga harus LOGIN dulu.

Sialnya, salah satu ‘inner circle’ si Mbak D mungkin kesel juga dengan postingan tersebut. Alih-alih konfrontasi langsung, dese melakukan hal yang lebih ‘kejam’. Postingannya di-screenshoot dan disebarluaskan dengan membabi buta secara PUBLIC di berbagai platform media sosial yang lain :(.

Sisanya ya kalian tau sendirilah apa yang terjadi setelah itu.

Membenci itu sesuatu yang sangat manusiawi. Tapi MENYEBAR KEBENCIAN itu beda lagi.

Even chat-chat pribadi harus hati-hati. Harus dipikir-pikir takut kena skrinsyut hahahahaha. APALAGI ceramah-ceramah agama frontal di depan orang banyak (walau ‘inner circle’).

Makanya kasus ceramah-ceramah agama yang pernah ramai itu, soal kontennya sih bukan barang baru lah. Pada umumnya kan ya emang gitu. Sindir-sindiran antar agama hal yang tidak terelakkan.

Ya mungkin karena itu juga banyak yang ‘lelah’ dan memilih tidak beragama (lagi). Karena penyebaran informasi sekarang lebih brutal dan liar :(.

Konten youtube misalnya, entah berapa channel yang suka iseng clickbait dengan mengunggah ceramah-ceramah sepotong-sepotong dari para pemuka agama. Dipilih yang sekonyol atau se-terekdungces mungkin :(.

Ini di semua agama rasanya ada, deh :(.

On the other hand, ya memang susah. Tidak mungkin kita mau ngatur-ngatur keyakinan orang lain. Ya memang pada dasarnya tidak sedikit kaum beragama yang yakin, “Udahlah, kalo lo gak ikut agama gue, ya lu otomatis masuk neraka lah.”

Karena kalau kalian berani-berani berpendapat, “Udahlah, biar Tuhan yang menilai, kita jalani masing-masing saja” ya siap-siap saja dituduh LIBERAL, PLURALIS yang kini makin tajam persinggungannya dengan kaum ‘puritan’/konservatif.

Mungkin ada baiknya para pemuka agama mempertimbangkan pergeseran penyebaran informasi di era terkini. Mbok ya, jangan terlalu vulgar lagi. Apa gak ada yang bisa dibahas lagi soal agama sendiri sampai harus nyinyirin agama orang lain?

Sudah tidak bisa lagi kita menyangkal model, “Loh ini kan buat kalangan internal.”

Helooooooo, kalangan internal piye kalau ternyata semua jemaah bebas merekam dan bebas menyebarluaskan. Apalagi semangat dakwah lagi pada tinggi-tingginya, hijrah dimaknai dengan sebanyak mungkin berkomentar, “Duh, lo cepetan kembali ke jalan yang lurus deh kayak gue. Semoga dapat hidayah. Maaf, cuma mengingatkan.”

Sialnya, yang begini-begini tidak menyebar di kalangan seagama saja, tapi terpental-pental sampai jauh ke mana-mana.

Belum lagi ribetnya UU Penistaan Agama yang entah apaan tauk parameternya. Karena lama-lama yang ‘diproses’ ya yang nyerang mayoritas doang :(. Kuat-kuatan adu massa, banyak-banyakan demo, dst dst dst.

Gagap beragama, gagap teknologi, juga mungkin kombinasi politikus yang paling pinter manfaatin sikon, makin-makin tidak terkendali :(.

Kita hidup dalam perbedaan sudah lama sekali. Yang diributkan juga bukan barang baru. Yaela, ulama muslim yang nyinyirin ajaran Nasrani dari dulu juga buanyaaaaaakkk. Pendeta yang mencibir prosesi ibadah haji dsb juga ada dari kapan tauk mah.

Tapi INTERNET membuat jangkauan informasi yang dulu
terbatas kini terbentang luas. It’s not something we can ignore atas nama dakwah semata :(.

Lagian, diantara sekian banyak persamaan, sudah-sudahilah mempertajam perbedaan. Cobalah lebih banyak membahas problem kemanusiaan yang biasanya mudah terjalin lintas agama itu.

Etapi lupa ada politikus dan birokratis ‘busuk’ yang siap memanfaatkan apa saja untuk memuluskan jalan meraih kekuasaan termasuk memperkuat POLITIK IDENTITAS.

Politik Identitas ini yang juga mendorong kita untuk tidak peduli lagi kepada ‘KONTEN’ tapi super ribet di ‘JUDUL’ :(.

“We build too many walls and not enough bridge” -Isaac Newton-

Think about it.

Toilet-Training untuk Jemaah Haji/Umrah Asal Indonesia

Transit di Abu Dhabi menuju Jakarta waktu mudik berdua doang dengan si bungsu bulan Maret 2018 kemarin. Lagi ribet-ribetnya ngurusin si adek yang mau ganti celana di kamar mandi, saya disamperin oleh embak-embak petugas kebersihan.

“Mama, Mama …” sapanya kepada saya.

Saya enggak kaget. Alumni Timur Tengah pasti sudah terbiasa dengan genggesnya orang-orang asing yang suka manggil-manggil “Bunda/Mama/Sayang” ke ibu-ibu yang mereka sangka asal Indonesia hahaha.

Sepertinya dia orang Filipina.

“Yes?” Jawab saya.

Mudik berdua si bungsu (Maret 2018)

“Mama, help me here.” Dia menunjuk ke arah salah satu bilik toilet. “I need you to teach them. Show them please how to do that.”

“Oooo oke, oke.” Saya langsung paham maksudnya.

Dia memberi kode jempol lalu membuka pintu kamar mandi yang ternyata sudah penuh antrian. Oalah, pantes kamar mandi kosong. Ternyata ditutup sementara sama si embak petugas.

Embak petugas sibuk memberi instruksi, “Tolong Mama, bukan lantai. Duduk, duduk. Siram, siram. Duduk, duduk. Siram, siram.”

Wooowww, si embak petugas (yang nyata-nyata bukan orang Indonesia) berusaha keras berbahasa Indonesia seperlunya dengan mengulang-ulang gerakan seolah duduk dan telunjuk seperti memencet saat bilang “siram”.

Repotnya punya anak kecil. Saya hanya sempat membantu beberapa jemaah yang itu juga saya pilih-pilih yang sudah berumur.

“Permisi Ibu, ini nanti buang air kecilnya duduk, jangan jongkok. Kalau sudah selesai, dipencet yang di belakang itu.”

Si Ibu ngangguk-ngangguk ramah. Eh, begitu tutup pintu kok langsung kedengeran suara flush ?. Si embak petugas geleng-geleng putus asa, “See? They siram-siram first. And then they do that on the floor.”

Antara kasihan sama mau ngakak. Tapi yah gimana, cuma berduaan ama si bungsu. Anaknya udah lari-larian deket pintu mau keluar. Akhirnya saya “pamit” ke luar, setelah membantu menerangkan ke 4-5 jemaah perempuan yang kira-kira masih “perlu bantuan keterangan”.

Barusan baca cerita Mbak Meidia yang lagi naik haji dan cerita soal penggunaan toilet terkait salah satu teman (lansia)nya saat berhaji.

Bukannya ingin merendahkan, tapi kultur/budaya buang air kita di Indonesia kan memang agak beda dulu-dulu. Saya sendiri di rumah dulu (sebelum dijual hahaha) selalu buang air di kamar mandi toilet jongkok hihihi. Ada satu kamar mandi lagi, toilet duduk. Tapi di situ pun, kalau kepepet, ya saya tetap jongkok hahaha.

Kelas 1 SMA pindah numpang ke rumah Tante, kamar mandinya juga ada 2 model. Saya lebih nyaman pakai toilet jongkok. Tapi kalau ke toilet duduk ya saya duduk beneran. Di rumah orang lain, euy, hahaha.

Makanya karena itu jemaah lansia rata-rata belum terbiasa dengan toilet duduk yang sudah menjadi model standar di 99% bandara dan hotel. Untungnya di kamar mandi umum sekitaran Masjidil Haram masih banyak toilet jongkok. Eh, masih gak, tuh?

Saya sudah hengkang dari Saudi sejak tahun 2013. Waktu di sana sih masih banyak toilet jongkok di toilet umum Arab Saudi (kecuali mal-mal besar dan hotel-hotel berbintang).

Gue tuh ya, udahlah rentan disangka TKW domestik pas era abaya-an, giliran modis dikit, dimintai tolong jadi asisten toilet-training di kamar mandi bandara. BHAIQUE ?????.

Setuju banget sama Mbak Meidia, perlu banget deh ada toilet-training buat jemaah-jemaah asal Indonesia. Terutama yang lansia. Biro penyelenggara umrah/haji di Indonesia sangat perlu memasukkan hal-hal simpel ini ke dalam ‘program manasik’.

Apa udah, ya?

PENTING loh itu.

Kadang, risih saja kan jemaah asal negara kita terkenal “jorok”. Padahal bukan begituuuuuu.

Malah secara umum, jemaah Indonesia (dan Malaysia juga deng) itu terkenal tertib dan sabar loh dalam Masjidil Haram. Tidak suka dorong-dorong dan mudah tersenyum kepada siapa saja masya Allah ^_^.

Testimoni ini bukan pengamatan narsis pribadi ala-ala nasionalisme NKRI harga mati semata :p. Tapi pujian langsung dari banyak teman-teman jemaah haji asal Mesir dan berbagai negara Arab lainnya waktu se-tenda bareng mereka di Mina dan Arafah.

Saya naik haji tahun 2012 via hamla (biro haji) lokal di Jeddah. Hamla lokal umumnya 90% peserta = orang Arab dari berbagai negara.

Mina dan tempat melontar jumrah arab saudi
Tempat melontar jumrah dilihat dari sebuah area tenda jemaah di Mina, foto : Dani Rosyadi

Jadi, jangan sampai lah hal-hal sepele macam penggunaan toilet duduk ini jadi “citra buruk” yang berlarut-larut. Apalagi sekarang model jet washer ada yang langsung dari belakang itu. Bukan pakai pegangan lagi.

Jet washer otomatis yang udah nempel di bagian belakang toilet itu kadang pakai hand-signal loh bukan diputar lagi. Begitu juga dengan flushing, sudah banyak yang pakai teknologi hand-signal.

Takutnya bingung dan panik kok gak ada pencetannya hehehe. Ada juga yang begitu kita berdiri atau gerak dikit atau buka doorlock langsung flush otomatis.

Sungguh perkembangan teknologi dalam dunia pipis-eek ini kadang gemes-gemes kesel hihihihi. Sebenarnya sangat memudahkan tapi ya buat yang sudah berumur butuh penyesuaian yang lebih “intens” :). Manusiawi kok itu ;).

Semoga penyelenggaraan haji dan umrah khususnya buat jemaah Indonesia terus membaik dari tahun ke tahun. Aamiin ya rabbal aalamin <3.

Tak terasa beberapa hari lagi, dari seluruh penjuru Mina akan bergerak bersama menuju Padang Arafah. Berdiam di sana sampai senja mulai menghilang di hari itu juga.

Masih terkenang rasa haru saat ramai-ramai keluar dari tenda, menikmati detik-detik mentari terbenam, saling memandang dengan mata berkaca-kaca, dan kita semua harus bergerak pergi meninggalkan Arafah.

“Zawwadakallahut taqwa wa ghofaro dzanbaka wa yassaro lakal khoiro haytsuma kunta (Semoga Allah membekalimu dengan takwa, mengampuni dosa-dosamu, dan memudahkanmu di mana saja engkau berada).”

Semoga menjadi haji mabrur, ya, teman-teman semua ????.

Silence is Deafening (2)

I remembered more than 6 years ago, came here (in Ireland) for the first time. Bengong. Sekolah publiknya kok sekolah Katolik semua.

But soon, belum juga keluar sepatah kata untuk meminta kelonggaran terkait pelajaran agama, melihat kerudung di kepala saya, Ibu Kepsek langsung menegaskan di pertemuan pertama, “He doesn’t need to do Religion.”

Tapi terus ada ‘kehebohan’ soal makanan halal.

Sekolah di sini tidak punya kantin. Makanan bawa sendiri. Tapi karena subsidi dari pemerintah berlebih, sekolah memutuskan untuk menyediakan makan siang gratis. Duh Buk, mbok ya kalau ada kelebihan dana dikorupsi aja gitu biar kami yang muslim gak pusing #eh ???.

Alhamdulillah Bu Kepsek sangat-sangat akomodatif. Semua orang tua murid dibagikan surat untuk memilih sendiri makanan apa saja yang boleh diberikan kepada anak. Guru di kelas bersedia membantu mengawasi.

Merepotkan sekali minoritas ini ???. Sungkem dulu sama Bu Kepsek di sekolah *ciyumTangan*.

Btw, sudah lihat vlog saya tentang “Sekolah Anak di Irlandia”, sorry gak nyambung dikit hihihihi

Anak-anak kan susah, yaow. Lihat sosis ginuk-ginuk dikit langsung ngelap iler hahahaha.

Beberapa tahun terakhir ini, kantin di kantor suami juga sudah menyediakan makanan daging halal. Di acara-acara kantor apalagi. Memang tidak sedikit engineer muslim di kantor suami, tapi yaela, 10% pun belom nyampe lah ???.

Padahal kata suami enggak ada yang protes atau kritik gimana-gimana. Minoritas ya tahu diri saja. Ambil makanan vegetarian. Kalau bule-bule Eropa selalu otomatis prepare vegetarian food. Untuk menghormati orang-orang bule yang memilih jadi vegetarian karena alasan gaya hidup/kesehatan, bukan agama.

Salah seorang sahabat anak saya di sekolah berasal dari Lithuania, Eropa Timur. Setiap akhir pekan dia bersekolah khusus untuk mempertahankan bahasa asli mereka + belajar budaya Lithuania.

Ternyata, pemerintah Irlandia juga membantu subsidi untuk hal-hal seperti ini. Nah, kelompok belajar mengaji anak-anak muslim di sini juga sedang di-encourage untuk mengajukan proposal untuk dana subsidi penyewaan gedung dari pemerintah. Doakan biar lancar dan mendapat approval, ya, hehehe.

Acara buka puasa dan lebaran Di Ireland tidak ada masalah, kami bebas menyewa gedung-gedung/aula-aula yang ada.

Monggo nih ditengok vlog lebaran Idul Fitri tahun ini di kota saya tinggal 😉

Di Texas pun, saya teringat pas hari lebaran, di Islamic Center Kota Plano, beberapa petugas polisi berjaga. Ada yang stand by ada yang membantu mengatur lalu lintas karena lumayan banyak kan mobil lalu lalang masuk keluar area masjid karena jam Shalat Ied dibuat 3 kloter.

Nih, bukti langsung, vlog lebaran Idul Fitri di Texas tahun 2017 silam 😉

Isn’t it beautiful? 

I know, kita tidak boleh menutup mata terhadap kasus di Xianjiang, di Myanmar, dan segala macam.

Tapi ada banyak tempat di dunia ini yang terus menerus mencoba dan berusaha keras untuk menciptakan tempat yang ‘nyaman’ BUAT SEMUA PIHAK (etnis, agama, warga negara dsb).

Hampir tidak ada lagi semacam, “Hadeeeehhhh, tau diri dong lu yang minoritas, udah tau bakal jadi minoritas mau minta dispensasi macam-macam. Hargai mayoritas! Adaptasi, dong! Jangan banyak cing cong!”

Istilah ADAPTASI mulai memudar, berganti dengan INKLUSI ?. INKLUSI? Go googling it yourself ;). Sudah pernah saya bahas juga di sini.

Makanya lumayan tertusuk dengan kasus penutupan restoran yang menyediakan daging babi di Mal Pipo (Phinisi Point Mall), Agustus 2019 ini. Alasannya, menjual makanan berbahan daging babi melanggar ‘kelaziman’.

Jadi datanglah ‘Aliansi Jaga Moral’ apalah-apalah meminta agar restoran ditutup. And it did happen :(.

Saya bingung juga. Aturan buat muslim kan DILARANG MEMAKAN DAGING BABI. Apa memang ada aturan DILARANG MELIHAT MASAKAN DAGING BABI? Atau DILARANG MELIHAT ORANG YANG MAKAN DAGING BABI?

Aturan dari mana ???.

Katanya lagi, “‘’Semestinya pengelola Mal Pipo menghormati ummat Islam sebagai kaum mayoritas di Kota Makassar. Apalagi, mayoritas pegunjung ke mall umumnya ummat Islam,” ujar Ketua BMI (Brigade Muslim Indonesia) Sulsel, Muhammad Zulkifli.

KOK YA SEGITUNYA ????.

Salah satu komentar, “”Saya setuju makanan haram bagi daerah yang isinya mayoritas tidak berjualan di muka publik secara terang-terangan. Bukan masalah bakal beli, keciprat ata kecium asapnya. Tapi ini lebih ke masalah mencederai perasaan kaum mayoritas,” tulis @nenkpurba.

((MENCEDERAI PERASAAN KAUM MAYORITAS)) …. hoooo, yang punya perasaan yang mayoritas doang? BHAIQUE.

Yang bikin sedih, kok tidak ada pernyataan ulama mana gitu ya. Pemerintah terkait juga tidak ada suaranya? Atau sudah ada kah? Apa karena berakhir ‘damai’? Ya siapa juga yang mau cari ribut kalau didatengin rame-rame gitu -_-.

Serba salah memang sekarang ini. ‘Birokrasi’ kita sedang terperangkap dalam POLITIK IDENTITAS yang makin menjadi :(. Shame on them.

Kita seharusnya bekerja lebih keras untuk menyiarkan kedamaian. Memperlihatkan bahwa kita itu bisa lho hidup damai dalam perbedaan.

Menunjukkan kalau ada tempat-tempat di dunia ini di mana kalian bisa berjalan bebas tanpa mesti menyembunyikan identitas agama kalian dan kalian tetap mendapat kedamaian dan penghormatan dari orang lain.

Setidaknya itu yang saya rasakan sebagai muslimah berjilbab di negara mayoritas Katolik di sini.

Lah ‘situ’, sama asap daging babi aja takut. Lihat daging babi, perasaan tercabik.

Itu saudara-saudara muslim-mu berjibaku dengan bom dan peluru di Suriah tempo hari.

Kalian tahu, terkait melubernya pengungsi, Angela Markel sempat dikritik keras dan diolok-olok bersikap sok-sok seperti Bunda Theresa dengan julukan “Mutter Angela”.

Angela berseru lantang saat banyak pemimpin Eropa memilih diam atas kasus pengungsi Suriah,

“Apakah kita ingin hidup di benua di mana martabat seluruh manusia bahkan mereka yang minoritas tetap ditegakkan? Ataukah kita ingin berada dalam dunia di mana nasionalisme digunakan untuk intoleransi dan membiarkan kegelapan sekali lagi mengalahkan kita?”

Bahkan media-media arus utama tidak mau (atau belum? telat amatt -_-) memberitakan soal ini.

Your silence is deafening ???.