We Can’t Go On by Pretending

Sedikit curhat suka duka bekerja di luar negeri … boleh? :p

Baru-baru ini anak saya mengikuti kompetisi Spelling Bee di sekolahnya. Saya tunjukkan video-video acara final kompetisi yang sama di Amerika Serikat.

Dua belas tahun berturut-turut, juara English-Spelling-Bee competition adalah anak-anak warga negara keturunan India. Luar biasanya lagi, 10 finalis yang tahun berapa tuh ya, 7 orang warga negara US keturunan India, 3 -nya lagi warga negara US keturunan China.

Wooowww …

Mungkin begini, ras Kaukasian yang berkulit putih yang selama ini bisa dibilang menguasai peradaban dunia menganggap gimanaaaaa gitu kalau melihat ras-ras lain misalnya Asia.

Kalau yang ras Afrika itu special case, beda lagi pemicunya.

Di sekolahan pun kayaknya kemarin dari kelas 5 yang menang anak saya dan satu temannya dari India.

Sumpah demi Tuhan, gue ini bukan tipe yang tiger-tiger amat urusan belajar. Tapi masalahnya, orang bule tuh emang santai bangeeeeeeetttttttt. Kujuga tidak habis pikir dah. Padahal guru-guru di Ireland ini relatif disiplin dan nyinyir, loh.

Kurikulumnya gampang banget, suweeerrrr.

Tetap saja emak-emak bule itu santai bagai di pantai kalau anaknya kelas 1 SD belum bisa membaca. Gurunya pasti concern dan menegur. Cuma kan di sini tidak ada rengking-rengking an dan tidak ada istilah TINGGAL KELAS.

Jangan lupa walau anak-anak Asia yang lahir dan besar di Yurop, orangtuanya digembleng dengan cara Asia. Dan begitu seterusnya sampai ke generasi turun temurun.

Tahu sendiri, wilayah Eropa Barat ya kondisinya makmur-makmur. Jumlah penduduk tidak sesangar negara-negara Asia hahaha. Makanya dari kecil santaiiiiiiii, sekolah gratessssss, fasilitas kesehatan lumayan, enggak kuliah pun, bisa jaga-jaga toko dengan gaji fantastesssssss.

Ngapain dah capek-capek kuliah ye kaaaaaann? Mungkin begitu pemikiran sebagian mereka. Yang serius dan tekun dan sangar dalam urusan belajar ya juga ada.

Penduduk dikit, kadang lowongan buat 10 orang yang apply 8 orang. Beneran.

Bandingkan dengan Indonesia, India, lowongan 1000 orang yang apply 100 ribu orang! Hahahaha. Makanya jangan nyinyir dengan kompetisi di negara-negara berkembang.

Di salah satu tempat bekerja saya dulu, ada lowongan admin, syaratnya lulusan SMA sudah cukup. HR kaget, dari ratusan applicant (lowongan buat 2 orang doang karyawan gaji harian pulak), 90% lulusan S1, ada yang lulusan S2. Ngeri yes?

Ya monmaap lulusan SMA ada yang langsung ketendang. Itu curhat temen saya di HRD waktu saya mengkritik kok tega-teganya lulusan S1 IPK cum laude di-hire jadi admin gaji harian! 

Di Ireland nih, ranah IT dikuasai orang Asia. Bukan hanya sebagai pekerja ecek-ecek, SDM asal Asia justru mendominasi wilayah IT yang lagi booming-boomingnya.

Lah gimana, temen saya tadinya mau serius jadi vlogger, dia ambil kursus “Mengenal media sosial” di kampus lokal sini. Oalah, instrukturnya enggak familiar tentang VLOG .

Inilah sebenarnya masalahnya. kini sudah banyak ras Asia beranak pinak di Eropa, Kanada, USA, apalagi Australian.

Ras Asia yang dulunya dipandang “Halah cuma imigran pendidikan rendah, attitude kurang, bla bla bla” kini makin intens menunjukkan eksistensinya.

Sementara wong Kaukasian ini juga ya tetap rileks bagai di pantai. Dunia barat dulu ramai-ramai menghujat Amy Chua terkait buku “Battle Hymn of Tiger Mom.”

Tapi mungkin sekarang wilayah-wilayah Kaukasian mayoritas dilanda “ketakutan” atas para imigran ini. Dari rasa takut ini kan bisa muncul macam-macam kecurigaan, hasutan, kegelisahan yang berujung pada penderitaan.

Haloooo buat yang suka tebar narasi ketakutan terkait salah satu ras tertentu di Indonesia . Semoga kalian paham segini parahnya kerusakan yang bisa ditimbulkan akan ketakutan-ketakutan tidak jelas itu .

bekerja di luar negeri

Di Amerika Serikat yang dari dahulu menganut prinsip “LIBERAL” dalam hampir semua hal, bisa menghadapi dengan lebih baik.

Di US tuh, kaum liberal yang menjunjung tinggi HAM bener-bener garis keras dan berani bersuara. Mereka sudah lebih dari seratus tahun menghadapi gini-ginian. Sudah pengalaman.

Kejadian rasis ya pasti ada tapi sesungguhnya kalau mau jujur melihat dan merasakan lebih dalam, rasisme terhadap kulit berwarna itu lebih parah di Eropa dan Australia.

It’s silently happening . Sukar mau dilawan ya karena ngelesnya ya gitu. Itu sesuatu yang diamini oleh sebagian besar ras kulit putih di sana, sorry to say . Mereka sopan sih sopan. Tapi yah begitulah. HIngga mungkin akhirnya bermunculan orang-orang kayak Brenton (pelaku teroris di NZ) ini .

Ekspatriat high-skill bisa tembus ya lebih karena mereka kekurangan orang. Yang avalailable ya Cina-India-Cina-India. Indonesia segera nyusul, aamiin .

Gambar : misacor.org

Kasus di Selandia Baru, kemungkinan mengarah ke kecemburuan terhadap kaum imigran ini. Di mana kebetulan yang kasat mata mayoritas ya kaum muslim kalau di NZ-Australia.

Jangankan orang bule, dengan beberapa teman-teman Indonesia yang nikah dengan bule, banyak yang korslet jugak, “Mbak Jihan suaminya cuma Indo kan? Ya ampun cukup ya Mbak gajinya 3 anak? Kerja apa, sih, di sini?”

Duh, kusudah merasa tua untuk berurusan dengan makhluk-makhluk bigot seperti ini. Baru beberapa tahun di luar negeri cuma karena kebetulan nikah dengan bule sudah merasa superior. Alih-alih tersinggung, saya malah kasihan .

Saya juga tidak paham apa ya solusinya. Seperti apa kita harus mendidik anak-anak kita dalam gempuran globalisasi bersama segala macam dilemanya? 

Mungkin sebaiknya negara-negara maju di Eropa dan Australia, enggak usah sok-sok HAM-HOM-HAM, unless you can educate your own people as well .

We can’t go on pretending day-by-day. We can’t .

Gambar : pixabay.com

There comes a time
When we heed a certain call
When the world must come together as one
There are people dying
Oh, and it’s time to lend a hand to life
The greatest gift of all

We can’t go on
Pretending day-by-day
That someone, somewhere soon make a change
We’re all a part of God’s great big family
And the truth, you know, love is all we need
(Song “We are The World”, MJ & friends)

Teori Bandul, Empati, dan Simpati

 Dua hari yang lalu membaca status tentang teori Bandul di wallnya Kak Accank :

“Hijrah adalah ajaran Islam. Tapi bisa lahirkan fenomena -born again- yang mendorong ayunan bandul dari 1 ekstrem ke ekstrem yang lain, bukan ke tengah. Nah, yang telanjur terlempar ke ekstrem lain, harus beringsut ke tengah lagi.

-Demikianlah kami jadikan kalian umat pertengahan- (QS 2 : 143)” *Haidar Bagir*.

Terayun-ayun ala bandul ini sepertinya terjadi pada banyak orang. Saya pun seperti bandul yang terdorong jauh ke sisi seberang pas kelas 1 SMA dengan kecepatan yang tidak kalah ekstremnya.

Di suatu sesi diskusi penataran P4, saya mengecam murid-murid yang mengenakan simbol agama di sekolah-sekolah umum. Secara eksplisit saya sebut jilbab.

Sekitar sebulanan setelah kejadian, pas dipindah ke kelas lain saya kenalan dengan teman berjilbab. Anaknya manis, rapi, dan wangi . Dari dia, saya diberi buku bersampul kuning yang isinya bikin saya “hijrah” dalam tempo dua jam saja hehehe .

Besoknya langsung mendeklarasikan ke Mama kalau saya mau pakai jilbab. Langsung di-approve.

Harus disyukuri saat saya terayun sedemikian ekstrem itu, belum ada Facebook dkk hahahaha. Terbayang gak sih kalau prosesnya terjadi sekarang? *tutupMuka*.

Pengaruh media sosial

Saya tidak berani memastikan sekarang ini saya ada di posisi yang mana. Apa sudah di tengah, atau malah terlalu ke “kiri”. Entah juga.

Tapi hal yang lebih penting buat saya adalah kemudahan merasakan empati. Untuk mengimbangi rasa kesal kepada bandul-bandul yang mengalami fase yang sama di sekitar saya sekarang-sekarang ini.

Terbayang, betapa ngeselinnya mungkin saya dulu di mata beberapa teman/kerabat dekat di masa-masa itu hahahaha.

Terkait soal EMPATI, kayaknya tidak sedikit orang yang masih kebolak balik dengan makna SIMPATI.

Langsung copas dari KBBI online :

Simpati –>

1 rasa kasih; rasa setuju (kepada); rasa suka
2 keikutsertaan merasakan perasaan (senang, susah, dan sebagainya)

Empati –> Psi keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain;

Merasa berEMPATI belum tentu berSIMPATI. Kan bedaaaaaa .

Keduanya tidak bertentangan.

Masih inget kasus Robot Gedek? Aduh, pas beritanya ramai pengin rasanya eike cincang tu orang sampai tidak bersisa. Kasus sodomi-bunuh-mutilasi. Jahatnya minta ampun.

Tak berapa lama, tertangkap satu orang lagi dengan kasus yang sama. Pelakunya dikenal dengan nama Babe (bacanya bukan Beb / Baby, tapi Babe dalam bahasa Betawi yaoowww).

Tertangkapnya si Babe ini membuka sejarah kelam masa kecil si Robot Gedek.

Ternyata, Robot Gedek adalah korbannya Babe. Babe ini waktu tertangkap memang sudah tua. Jadi, pas Robot Gedek masih kecil, mungkin Babe umurnya masih 30-40 tahun. Walau tak dibunuh, Robot Gedek ini sering disodomi dan dianiaya oleh Babe sampai bertahun-tahun.

Hidup di jalanan mau tak mau membuat beberapa anak kecil dari kalangan kurang mampu harus menggantungkan hidup pada orang-orang dewasa seperti Babe. Yang sayangnya biasanya memanipulasi mereka habis-habisan.

Tentu saya tetap kesal pada Robot Gedek. Tapi, sejak itu udah enggak pengin cakar-cakar tembok sambil mencincang dia lagi. Sebenarnya, dia itu penjahat apa korban?

Ya malah sedih kan jadinya. Masalahnya bukan hanya terkait satu individu tapi kompleks sekali. Ini sudah mencakup ke peran negara dan pemerintah dalam isu besar menangani anak-anak jalanan dan masa depan mereka.

Juga teror kemiskinan yang masih jarang kita sadari efeknya .

Seharusnya kita tidak boleh mendukung kejahatan DALAM BENTUK APA PUN. Sukar bersimpati pada orang-orang seperti Robot Gedek dll.

Tapi saya yakin sekali kalau kalian punya gambaran yang lebih utuh soal si RG tadi dan latar belakangnya … pasti, minimal sedikiiiiiiiiittt saja, ada rasa lain selain rasa benci yang muncul dalam hati.

Itu gunanya empati, teman-teman .

Empati umumnya hadir dari perspektif yang lebih lengkap, semacam cover both side.

Dalam hubungan nyata sesama manusia pun, prinsip-prinsip universal semacam TOLERANSI dan EMPATI itu sangat kompleks. Apalagi yang terlibat sesama manusia yang pastinya sama-sama tidak sempurna dengan latar belakang serba unik.

Manusia bukan robot. Arah hatinya tidak bisa ditebak. Tidak ada rumus pasti.

Kira-kira begitu juga dengan kasus di Kotagede dan kasus di Irlandia di tulisan saya tempo hari .

Saya tahu banyak yang gegap gempita mempersoalkan masalah TOLERANSI dan itu sangat wajar dengan kondisi merebaknya “Politik Identitas” yang sangat memprihatinkan ini .

What I was trying to do is showing you a different point of view. Aslinya tidak seindah itu juga kaleeeee tinggal di Irlandia urusan agama mah hehehehe. Tapi apa perlu ditekankan yang kurang baik dan saya beberin panjang lebar dari a sampai z?

Nanti kesannya mau balas dendam, “Woooiii, muslim juga menghadapi banyak ketidakadilan, kok.”

Yooo ndak boleh gitu dong hehehe. Inget prinsip bandul . As hard as it might be, kita harus tetap menjaga keseimbangan agar bisa berada di tengah dengan menjadi PENENGAH. Aamiin .

Gambar : pixabay.com

Ah, situ juga suka blokir orang yang tidak sependapat hahahaha *meletMelet*. Ya kan itulah uniknya manusia. Tidak bakal sempurna. Kadang waras kadang juga hawa nyolotnya yang lebih mendominasi hahahaha.

Mari mengelola segala kekurangan tersebut tanpa menghentikan segala daya dan upaya untuk menyeimbangkan posisi bandul agar sebisa mungkin tetap berada di tengah .

Semoga segala perbedaan bisa diurai lebih lapang, lebih seksama, untuk mengasah rasa empati tanpa perlu terdistorsi dengan rasa simpati.

Seharusnya ini bukan hal yang sulit-sulit amat.

Seperti yang saya kutip dari sebuah video (link videonya di kolom komentar) –> “”Because in reality there’s a lot more that makes us similar than makes us different and that is something to celebrate every single day.”

Terimakan perbedaan, rayakan persamaan.

And today is definitely NOT less special than any other day to celebrate :

Semoga banyak makin banyak cinta di hari ini untuk merekatkan kembali ikatan yang lagi longgar-longgarnya ini? . As love is the best gift we could have asked for any moment.

Selamat hari Natal bagi teman-teman yang merayakan .

Intoleransi, Adaptasi, dan Inklusi

Saya punya teman yang sekarang bermukim di Finlandia, si Neng Aliva yang sebenarnya kalau menulis itu bagus-bagus banget dan sesuai keilmuannya di bidang sosiologi apa psikologi, ya.

Aliva baru-baru ini menulis soal INKLUSI. Jangan bayangin inklusi terkait khusus anak berkebutuhan khusus, ya. Sayang, tulisannya dibandrol “Friends Only”. Aliva bilang dia belum siap go public hahaha .  Ngeri ngadepin netizen kalau sudah beda pendapat menerjang-menerjang terjang hihihihi.

Comot dari Google :

Pengertian INKLUSI digunakan sebagai sebuah pendekatan untuk membangun dan mengembangkan sebuah lingkungan yang semakin terbuka; mengajak masuk dan mengikutsertakan semua orang dengan berbagai perbedaan latar belakang, karakteristik, kemampuan, status, kondisi, etnik, budaya dan lainnya.

Yup, ternyata lingkungan sekolah di Finlandia sifatnya INKLUSI alih-alih ADAPTASI yang dianut kebanyakan wilayah.

Jadi, baik orang lokal dan pendatang diusahakan untuk saling ikut serta. Pendatang tidak lagi dipaksa untuk lebih banyak melebur ke budaya lokal.

Makanya, di sekolah Finlandia sudah ada mata pelajaran AGAMA ISLAM. Sekolah publik, lho .

Kerennya Eropa, yak? Entar duluuuuuuuuuu .

Kenalan sini sama Republik Irlandia negara tinggal saya sekarang.

Sama dengan mayoritas Eropa Barat lainnya, Republik Irlandia ini tergolong Secular-State. Negara sekuler. Agama mayoritasnya Katolik. Tapi Gereja Katolik TIDAK menjadi bagian dari konstitusi yang berlaku di Republik Irlandia.

Tapiiiiiii, hampir 100% sekolah publik di Irlandia adalah SEKOLAH KATOLIK-ROMA. Sekolah publik yang dapat subsidi 100% dari pemerintahannya yang katanya sekuler. Ck ck ck … intoleran sekali?

Tahan duluuuuuuu.

Nah, sama seperti kasus Purbayan – Kotagede di Yogyakarta, sejarah dan budaya Republik Irlandia terhadap tradisi Katolik itu MEMANG BEDA dengan negara-negara Eropa lainnya.

Walau kini sudah menjadi negara sekuler secara konstitusi, sejarah panjang Irlandia di masa lalu sangat pedih dalam penjajahan selama ratusan tahun.

Di puncak perlawanan Irlandia terhadap Kerajaan Inggris (yang waktu itu mayoritas Protestan), identitas Katolik mereka memegang peranan penting dalam upaya membebaskan Irlandia saat itu.

Bukan hanya dijajah secara wilayah, orang Irlandia yang saat itu mayoritas Katolik juga dipaksa untuk menyembunyikan ke-Katolik-an mereka . Bahasanya juga kudu Bahasa Inggris. Makanya Irish accent itu sangat khas karena pada dasarnya mereka bahasanya adalah Gaelic.

Ratusan tahun itu mereka hidup seperti itu. RATUSAN TAHUN.

Alhamdulillah happy ending. Sudah merdeka kini. Sudah menjadi salah satu negara maju di dunia dengan pendapatan perkapita yang lumayan gede di jajaran negara-negara Eropa maju lainnya . Sudah sekuler pulak hahahaha.

Tapi terbayang kan posisi identitas Katolik ini buat orang-orang di Republik Irlandia. Makanya, saya enggan menyematkan kata INTOLERANSI pada keputusan negara untuk meng-KATOLIK-kan sekolah publik di sini .

HIngga kini pun, di hampir semua kota, jejak-jejak peninggalan kastil atau reruntuhan biara-biara Katolik masih menjadi obyek-obyek wisata utama di Republik Irlandia.

Masalah apakah ini BENAR atau SALAH itu beda topik lagi ye kaaaaaannn .

Ya udin, masuk sekolah swasta aja, Mbak anak-anaknya. Ya kalau sekolahnya ada hahahaha. Apalagi kami di dusun kecil. Kalau ada pun, harganya muahaaaallll, karena non subsidi sama sekali.

Sekolah publik yo gratis-tis-tis dan ada di mana-mana .

Anaknya dibaptis dong Mbak? Ya kagaaaaaaaa hahahaha.

Ada kompromi lah. SEMUA ANAK YANG NON KATOLIK (Termasuk yang PROTESTAN lho ya) TIDAK WAJIB IKUT MISA misalnya. TIDAK PERLU IKUT PELAJARAN AGAMA juga.

Tapi mereka berdoa kencang-kencang pakai cara Katolik sebelum mulai belajar. Tapi anak-anak non Katolik tidak perlu mengikuti. Silakan berdoa sesuai kepercayaan masing-masing. Tetap saja intoleran, huh! .

Apa tidak ada yang mengkritik? Yo jelas adaaaaaa . Uniknya yang banyak ngomel justru Kaum Atheis hihihihi.

Di kota besar, seperti Dublin, sudah ada sekolah publik semacam sekolah Islam gitu loh. Mendapatkan subsidi dari pemerintah juga *jempolBuatIrlandia*.

Tapi yah, cuma ada satu atau 2 sekolah. Kota-kota lain belum ada. Mungkin disesuaikan dengan jumlah yang membutuhkan juga.

Saya mah biasa-biasa saja. Saya tahu soalnya pelajaran agama Katolik ini beda sama agama Islam . Mereka tidak kenal term “kafir” misalnya hehehe. Dan kisah nabi-nabinya juga mirip banget. Cuma pasti menukik tajam di bagian Nabi Isa/Yesus hehehe.

Nabi Muhammad tidak dibahas di agama Katolik. Datangnya kan belakangan hehehe.

Bisa dibilang proses belajar mengajar di sekolah publik di Irlandia masih menganut proses ADAPTASI. Pendatang yang “mengalah” walau makin ke sini saya salut, pihak sekolah makin matang dalam berkomunikasi kepada kami-kami yang minoritas ini.

Sempat ribut soal makanan halal juga di tahun pertama saya datang ke sini. Karena kelebihan dana, sekolah anak kami memutuskan untuk menyediakan makan siang gratis buat seluruh siswa di sekolah.

Tapi ya makanannya enggak jaminan halal. Bingunglah kami para ortu muslim. Kalau yang India kan vegetarian jadi gampang solusinya. Anak-anak juga susah kontrolnya kalau sudah lihat sosis ginuk-ginuk begitu ya bawaannya pengin lep aja kan hahahaha.

Kelebihan dana harusnya dikorupsi aja sih ya biar gak banyak masalah #ehGimana hahahahaa .

Tapi selesai dengan baik-baik alhamdulillah.

Akhirnya kami dibagikan surat pernyataan untuk menentukan makanan apa saja yang boleh diberikan kepada anak kami. Kepala sekolahnya keren bangeeeetttt .

Mereka mau lho repot-repot memberi tugas tambahan kepada bapak ibu guru terkait pembagian makanan ini. Masya Allah .

Jadi memang kita tidak diciptakan seragam. Saya tahu kalau kita selalu harus mengedepankan nilai-nilai universal semacam TOLERANSI itu salah satunya.

Tapi ya begitulah keragaman sosial-historis masing-masing wilayah. Kita tidak bisa ujug-ujug melepaskan diri. Saya percaya kok ini tidak akan berlangsung selamanya. Akan berubah sedikit demi sedikit.

Tapi ya tidak bisa maen hantam saja. Ada proses yang menyertai. Perlu waktu perlu banyak-banyak kesabaran dan tentunya…saling memahami yang lumayan intens. Macam judul lagu lawas itu lho, “Pelan-pelan saja ….”

Nyatanya kondisi bermasyarakat di Irlandia bagi Katolik dan non-Katolik adem ayem saja. Buat yang di luar mungkin sudah ada yang siap jihad di Ireland kali hahahaha. Ya jangan begitulah . Pahami kultur mereka dan kepedihan panjang mereka di masa lalu.

And once again, I have to put this quote as an ending :

“Peace cannot be kept by force; it can only be achieved by understanding.” -Albert Einstein-

Tentu ke depannya kita berharap metode INKLUSI inilah yang menjadi wajah yang mendominasi di berbagai belahan dunia. Aamiin. Tapi ya itu tadi. Jangan pakek ngamuk-ngamuk, selow saja. Diskusi baik-baik, tukar pikiran secara santai-santai.

Mungkin teman-teman antropolog atau yang bidang keilmuannya menyasar masalah ini bisa bercerita lebih banyak.

Saya mah apalah. Cuma ibu-ibu rumah tangga yang tetap cantik walau usia gak muda lagi yang suka menulis karena wawasannya keren gilak luasnya hahahahaha #apaLoApaLoApaLo :p.

iqbal aji daryono

Review Buku “OUT OF THE LUNCH BOX” : It’s All About The Third Option

“Iqbal itu cebong apa bukan, sih?” Hahahaha.

Seriiiiiing banget dapat pertanyaan seperti itu dari teman-teman sesama cebbie di jagad maya yang lagi ribut-ributnya jelang 2019 ini.

Anyway, DOES IT MATTER????

Yak, beginilah kondisi sebagian kita yang entah kapan mulainya sering terjebak dengan kubu-kubuan politik. Kalau bukan cebong ya dianggap “kubu sebelah” .

Iqbal Aji Daryono, salah seorang penulis aktif versi media sosial, terutama di Facebook. Memahami Iqbal ini memang agak sukar kalau hanya membaca satu dua tulisannya saja.

“Out of The Lunch Box” ini merupakan buku terbarunya. Berisi kumpulan tulisan-tulisan Iqbal di berbagai media online yang topiknya relatif NON-ALAY dengan topik-topik lumayan serius seputar sosial, politik, dan agama.

Iqbal Aji Daryono

Dulu pernah nerbitin buku “Out of The Truck Box” jugak.

Semuanya sudah pernah dia share di wallnya kok. Tapi ternyata buanyak bangeeeet. Saya saja yang rasanya jarang ketinggalan ikut bertempur di status-statusnya (hahaha) merasa belum pernah membaca sebagian tulisannya.

Jangan takut duluan. Topik serius nan bikin pening kepala apa juga kalau Iqbal yang nulis bisa jadi ringan dan mudah dipahami. Kalimat-kalimatnya sederhana dan tidak ribet. One thing about him yang bikin saya kesal itu karena Iqbal orangnya pinter tapi enggak sok pinter. Kesal karena IRI hahahaha.

Seringnya kan kita-kita yang kalangan medioker ini, pinter enggak tapi udah kek paling tahu sedunia *tutupMuka*.

Tetap saja, saya butuh lebih dari seminggu untuk membaca buku ini. BUKAN karena isinya kurang menarik.

Agak-agak gimana gitu ya membaca tulisan-tulisan Iqbal dalam cetakan buku. Selain karena mungkin kita sudah terbiasa membaca langsung di wall FB-nya Iqbal, ternyata jangan-jangan kita lebih menikmati komen-komennya hahaha.

Kalau di medsos, bisa lebih interaktif, komunikasi dari berbagai arah, karena siapa saja dan kapan saja bisa berantem … eh berkomentar . Bisa tuker-tukeran argumen. Bisa langsung mengamuk saat itu juga kalau tidak setuju hahahaha.

Iqbal aji daryono penulis
Foto : shiramedia.com

 

Nah, kalau baca buku jadinya gini. Baca satu esai, gemes sendiri tapi bingung mau ngomel ke siapa. Jadi kadang butuh waktu buat misuh-misuh sendiri sebelum lanjut ke esai berikutnya.

Selain itu juga, walau bahasanya santai, kesannya tetap dalam jadi ada waktu buat menghela napas juga padahal kayak diajak becanda aja sama yang nulis .

Nah, terkait dari kubu-kubuan yang saya sebut di awal tadi, mungkin itu yang pengin diluruskan oleh Iqbal. Semacam menawarkan “pilihan ketiga” –> inti dari opini-opininya dalam OOTLB.

Pilihan ketiga ini mungkin semacam perspektif yang beda dari 2 hal yang sudah terlanjur nancep dalam pikiran kita. TIDAK CUMA SOAL CEBONG-CEBONGAN lho ya. Spektrumnya lebih luas ini yang dibahas dalam buku.

Tulisan “Buya Syafii dalam Kepungan Masyarakat Hitam Putih” menjadi tulisan pembuka yang mayan tektok untuk menyindir kalian-kalian yang dikit-dikit “Pasti lo pendukung anu!” atau “Dasar lu hater” dst dst dst. Termasuk gue pastinya hahahaha.

Pilihan ketiga, bisa juga berarti perspektif yang lebih lengkap jadi tidak melulu harus “pro banget-banget” atau “anti abis-abisan”. Iqbal sering berusaha untuk “Gini lhoooo duduk persoalan sebenarnya, yuk kita lihat detailnya sama-sama yuuuuk …”

Tulisan “Membaca Langkah Marketing Anies Baswedan” menjelaskan secara runut dan logis tentang APA yang sebenarnya terjadi. Sesuatu yang ternyata biasa-biasa saja kok ya dalam langkah-langkah politik standar .

Ah ya, gaya bahasa dalam buku tidak dibikin baku, tetap dalam bahasa Fesbuk yang santai penuh haha-hihi. EYD-nya juga entah ke mana ha-ha-ha –> contoh penulisan “hahaha” yang benar .

Opini-opininya oke punya walau menurut saya, beberapa agak terburu-buru ya kesimpulannya. Ada beberapa hal yang masih bisa didiskusikan di tulisan “Lah, Kalian Mau Rekonsiliasi, Apa Mau Perang Lagi?”. Gemes, gemes, gemes, pengin protes! Tapi ini kan mau review yak bukan mau ngajak berantem hahahaha.

Apalagi tulisan-tulisan semacam “Program Darmawisata untuk Aktivis Antirokok” ituuuuu ck ck ck -_-.

Tenang sih, tidak semuanya setegang itu kok isinya. “Empat Percakapan Tentang Topi Sinterklas” itu bikin ngikik polllll . “Cerita Pelipur Lara Untuk Para Haters Malaysia” juga semacam esai ringan yang lumayan rileks .

Total ada 40 esai dalam buku ini.

Iqbal ini terbukti cukup open minded, kok . Tengok aja di wallnya itu tempat berkumpulnya pro rokok dan anti rokok. Ada cebbie level kronis, ada pendukung fanatik toko sebelah. Ada yang jilbab gede ada yang jilbab tapi skinny jeans (hihihi) semuanya bisa diajak becanda sama Iqbal .

iqbal aji daryono

Jangan takut bakal membaca opini aneh-aneh. Dirasa aneh-aneh pun ya terus kenapa? Tenang saja, membaca sesuatu yang berbeda dengan keyakinan kita tidak ujug-ujug bikin kita jadi kurang beriman atau semacamnya lah hehehe. It won’t make you less confident as well .

“There is nothing wrong with listening. You can listen to people; you can hear people’s concerns. You can keep an open mind and still be perfectly strong.” Bill de Blasio

Bukunya diterbitkan oleh penerbit Shiramedia. bisa didapatkan dari toko buku Togamas terdekat atau beli online, misalnya saya belinya kemarin dari toko buku online yang ini –> Erin Cipta, Buku, dan Madu.

Jadi, sebenarnya … Iqbal itu cebong apa bukan, nih? Hahahaha, go ask him yourself  … –> Iqbal Aji Daryono

Selamat membaca .

Reflect Your HOPE, NOT Your FEAR (3)

Yak, kondisi terkini di dunia maya mengulang keseruan 5 tahun lalu jelang Pilpres 2014. Keseruan? Ketegangan jangan-jangan kata yang lebih tepat huhuhu.

Unfortunately, pasca isu Cambridge Analytica, kita tak bisa lagi meremehkan hal-hal yang terjadi di dunia maya. Dunia nyata pun bisa terseret secara signifikan.

Acara CFD di DKI Jakarta yang terkini misalnya. Acara yang setahu saya memang ajang kumpul-kumpul sekeluarga, jalan-jalan santai, sambil jajan-jajan, sudah lazim bawa anak-anak. Mengapa menjadi ajang bully-bully an?

Sebenarnya ada juga foto-foto atau BUKTI yang menunjukkan bahwa perselisihan 2 kelompok tersebut TIDAK mewarnai sepanjang acara. Tidak bisa dikatakan sebagai penggambaran KESELURUHAN ACARA CFD di hari itu.

Ada juga tuh foto yang menampilkan kedua pihak jalan bersama sambil cengar-cengir enggak saling ngapa-ngapain.

CFD 29 April juga berlangsung damai (sumber : akun Facebook Zulfan Syahnsyah)

 

Beberapa teman yang sepandangan politik dengan saya mempertanyakan, “Itu kok yang kubu sono bisa sampai segitunya ya? Udah kayak mau perang beneran?”

Nah iniiiiiiii. Pahami juga psikologi / alasan tiap kelompok. Dari kedua belah pihak.

Yang hampir selalu saya temui, pendukung kelompok “Ganti Presiden” ini sedang merasa “membela agama”. Ini “perang” mereka terhadap “kezaliman” atau apalah itu yang bertentangan dengan ajaran agama.

Makanya sering membawa-bawa istilah Firaun segala. Tahu kan ya meme-memenya pan udah banyak ituh. Kenapa Firaun? Bukan yang lain? Karena Firaun ini digambarkan langsung dalam kitab suci sebagai “musuh agama”.

Bayangkanlah kondisi psikologis mereka yang turun ke jalan buat kampanye dengan semangat seperti itu.

Tentu lebih gegap gempita karena hal ini SEOLAH titah langsung dari TUHAN. Mereka (merasa) sedang menjalankan amanah dari TUHAN yang maha penting melawan SI LAKNATULLAH FIRAUN …. bersama segenap pengikutnya atau pendukungnya! 

Gambar : pixabay.com

 

Sementara yang kubu “Tetap Pakde”, ya paling banter alasannya karena hasil kerjanya bagus misalnya. Atau tidak menemukan calon lain yang lebih baik dibandingkan beliau. Hanya memandang persoalan ini sekadar Pilpres. Tidak merujuk ke urusan surga sama neraka misalnya.

Makanya itu para Jokower atau Cebonger BERHENTILAH berusaha melakukan perlawanan dengan cara-cara model beginian. Sana bikin kaos, situ ribut juga bikin kaos. Okelah bikin kaos mah FUN, yak.

Tapi jelas kelian akan kalah dalam urusan “mengobarkan semangat juang” di area publik.

Yang di “sana” SEOLAH “MAJU PERANG” demi pengabdian terhadap TUHAN. Yah situ mungkin sekadar pengin negeri kita menjadi lebih baik pembangunannya di tangan Pak Jokowi. Ya jelas KALAH! Hahaha.

On the other hand, pihak Jokower pun ada yang sering menyebarkan ketakutan-ketakutan instead of HARAPAN. Kalau yang “sana” ya sudahlah ya. Kita juga bingung mereka mau menebarkan harapan apa karena dari awal slogannya adalah “ASAL BUKAN ANU”.

Pemicunya adalah KETIDAKSUKAAN pada ANU, bukan karena MENDUKUNG LAWANNYA ANU. Ke Ahok juga “mereka” begitu, ke Pak Jokowi pun sama.

Then why do we have to do the same thing? Pathetic itu mah kalau kalian juga sok-sok menebarkan ketakutan. Don’t!

Kalau yang sana suka mengancam-ancam dan menakuti-nakuti tentang PKI lah, serbuan tenaga kerja asing lah, China mau menguasai Indonesia lah, Islam mau dihancurkan, dan berbagai imajinasi-imajinasi liar yang sangat minim bukti .

Di kubu Jokower juga ada yang model begini. Sok-sok ngancem, Jakarta akan hancur kalau bukan Ahok yang menang! Set dah! Hahahaha. Heloooooo, santai aja maleeeeehhhh.

Buktinya sekarang fine-fine saja kan di Jakarta. Ya mungkin ada beberapa hal yang BERUBAH tapi lebay kali pun sampai bilang HANCUR yadda-yadda-yadda .

Percaya sama saya, orang Jekardah mah setrong! Saya ngalamin banjir besar tahun 2007 tuh. Meeting di customer di Tangerang, kena macet 5 jam ke Pancoran. Bareng teman saya yang lagi hamil muda. Kita ketawa-ketawa saja di mobil. And we STILL ALIVE years after that! Hahaha.

Kalau urusan Pilpres pada ngancem, katanya kalau bukan Pak Jokowi yang menang, nanti korupsi merajalela, pembangunan mangkrak dan seterusnya dan seterusnya!

Benar-benar pendukung stres semua dah hahaha.

Jangan begituuuuuuuu .

Walaupun mungkin sudah bosan dan ternyata kemarin pas di Ahok kita kalah sih (hahaha), KITA TETAP HARUS menebarkan HARAPAN instead of FEAR. Mengapa? Simply because it’s THE RIGHT THING TO DO! 

Jangan bosan share hasil kerja beliau. Jangan patah semangat menunjukkan bukti nyata di sekitar kalian yang membuat kalian tetap mendukung beliau. Jangan gentar terus menghujani timeline dengan hal-hal yang KITA anggap sebagai prestasi-prestasi positif beliau. Walau mungkin yang “sono” so pasti ngamuk dan tidak setuju hahaha.

Kalau sudah begitu mereka tetap baper, itu sudah bukan tanggung jawab kita lagi yes? Masa kita share kebaikan orang lain, mereka marah! Itu sih jatuhnya sudah DENGKI .

Tahu film Monster Inc. gak? Nah ini salah satu film animasi kesayangan saya.

Monster Inc (gambar : disney.wikia.com)

 

Saat akhirnya Sullivan mengambil alih Monster Incorporated dari tangan Waternoose, Waternoose sempat bilang, ““I hope you’re happy, Sullivan. You destroyed this company. Monsters Incorporated is dead! Where will everyone get their scream now? The energy crisis will only get worse, because of you!”

Monster Inc. mengambil energi yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Negeri Monster dengan cara menakut-nakuti anak-anak manusia dalam mimpi-mimpi mereka di malam hari.

Somehow para monster punya akses untuk memasuki kamar anak-anak ini di malam hari untuk menakut-nakuti mereka. Makin menakutkan para monster, makin takut si anak-anak ini, dan makin kencang pula teriakannya, makin banyak energi yang terserap.

Anak-anak makin stres, energi makin cespleng.

Tapi Sullivan sudah menghancurkan metode ini. Namun, apa benar Monster Inc. remuk di tangan Sullivan?

Despite using the kid’s fear, Sullivan punya ide LAIN untuk meraup energi bagi Negeri Monster.

Mike – Sullivan – Boo (gambar : cinelinx.com)

 

Jika dulu para monster berusaha keras menakuti dan mengancam anak-anak, kini mereka bekerja giat memainkan berbagai macam lelucon, mengisahkan cerita-cerita kocak untuk membuat ANAK-ANAK TERTAWA.

Yup, instead of, memanfaatkan jeritan mereka sebagai sumber energi, Sullivan menemukan cara berbeda untuk mendapatkan energi yang 10 x lipat lebih besar. Para monster tetap memasuki pintu anak-anak secara rutin, tapi yang diincar kini bukan teriakan ketakutan mereka lagi. Tapi tawa mereka.

Hubungan monster dengan anak-anak malah harmonis. “Scare Floor” yang tadinya selalu bernuansa tegang dan ‘dingin’ kini hiruk pikuk penuh balon-balon dan tawa ceria para monster .

Pesan moralnya sangat INDAH, bukan? Did you get it?

Jeritan anak-anak itu identik dengan ketakutan, kebencian dan banyak hal negatif lainnya. Sementara tawa anak-anak selalu diasosiakan dengan kegembiraan, keceriaan dan banyak hal positif lainnya.

Sullivan mengajarkan kepada kita, “Kegembiraan itu efeknya 10 kali lipat lebih dahsyat daripada ketakutan.”

Sullivan and Boo (gambar : weheartit.com)

 

Menebar HARAPAN dan hal positif itu kekuatannya lebih besar daripada menghasut untuk membenci.

Dari kisah FIKSI pun kita bisa belajar banyak hal-hal untuk kebaikan kita di dunia yang NON FIKSI ini, yes? 

Seems like too good to be true, yak hehehehe. But I’m a believer! Aren’t you? 

Yuk yaaaaa, putuskan lingkaran setannya. Sampai kapan ini saban ada kampanye berantem meluluuuuuuu .

Kita memilih atau mendukung dengan harapan agar negeri kita tercinta, Negara Kesatuan Repuplik Indonesia bisa dibawa ke arah yang lebih baik di bawah kepemimpinan BAPAK JOKO WIDODO. Sudah kita cek hasil nyata-kinerja-rekam jejak beliau dibanding alternatif yang lainnya yang sudah ada. Entah kalau nanti ada kejutan ada calon lain ye kaaaannn .

Bukan karena takut sama ini itu .

So … “May your choices reflect your hopes, not your fears.” ― Nelson Mandela

Untuk prestasi-prestasi kerja Pak Jokowi jangan lupa LIKE dan SHARE (kalau mau) dari fanpage resmi beliau di Presiden Joko Widodo. Klik aja itu jangan sampai salah page, banyak yang abal-abal nan provokatif juga soalnya.

Insya Allah, dengan atau tanpa PAK JOKOWI, NKRI tidak akan hancur apalagi bubar . Karena doa-doa terbaik kita akan terus mengawal negeri ini, kan, kan, kaaaaaannn SIAPA PUN PRESIDENNYA .

Tapi jadi presiden memang berat sih, kamu belum tentu bisa. Pakde ajalah #dasarCebong ??????

Salam 2 periode! ✌️✌️

Gambar : foto resmi dari istana kepresidenan