[Semi fiksi] Skandal Century, Kisruh Sepakbola Makro di Tahun 2008

Penonton ramai bergemuruh seolah tidak terjadi apa-apa di tengah lapangan. Saat itu, dua tim berlaga di sebuah pertandingan yang dikira sebagian besar orang hanyalah satu diantara banyak pertandingan yang memang harus dihadapi oleh kedua tim.

Dua tim yang berlaga, Badai Ekonomi Finansial Cakrawala Dunia / Benfica vs Nasional Politik Ekonomi Liberal Indonesia/ Napoli. Hihihihihi, maksa abis! .

Sebenarnya ini bukan pertandingan yang mudah. Pelatih Napoli, Boediono, tahu pasti soal ini. Rumor bahwa Benfica sudah mengacak-ngacak pertahanan tim lain sudah kencang berhembus.

Tim negeri tetangga sudah mengambil ancang-ancang di situasi darurat. Termasuk mengganti semua pemain belakang mereka dengan mentransfer pemain level dunia yang honornya dahsyat. Malang bagi Napoli, pemilik klub entah pura-pura tidak tahu atau memang enggak punya dana cadangan, langkah antisipasi sangat minim.

Rumor ini memang sangat kuat. Dan dipahami betul oleh sang kapten di lapangan, kiper Sri Mulyani. Sri Mulyani sadar sekali satu gol saja yang dilepaskan oleh striker Benfica, efeknya bisa dahsyat. Gol itu bisa menghancurkan mental seluruh tim dan terus merembet ke moral penonton di pinggir lapangan.

Mau tak mau, Napoli pada akhirnya harus berhadapan dengan Benfica.

 

Gambar : sambafoot.co.uk

Gambar : sambafoot.co.uk

Terjadilah sebuah posisi genting. Salah satu striker Benfica, Century sedang menguasai bola. Sebenarnya, Century ini bukan striker yang hebat-hebat amat. So-so lah kemampuannya. Tapi, situasi sedang berbeda. Semacam pertandingan hidup dan mati gitu lah *tsaaaah*. Pemain belakang Napoli juga sedang kelelahan dan mentalnya sudah mulai jatuh.

Di sinilah sang pelatih Boediono harus bekerja keras menghalangi Century menusuk jantung pertahanan Napoli. Walau disadari Century ini cuma striker ecek-ecek, tapi kemungkinan dia untuk nge-gol-in di situasi terkini itu sangat besar.

Boediono berdiri di pinggir lapangan sibuk berkoordinasi dengan Sri Mulyani. Century makin mendekat. Pemain belakang berusaha mengawal ketat. Akhirnya, Boediono dan Sri Mulyani yang memang pemahamannya paling tinggi terhadap kondisi pertandingan dan efek jangka panjangnya kepada klub dan para fans harus mengambil langkah pahit.

Boediono dan Sri Mulyani, melalui kode-kode mata sepakat untuk tidak membiarkan Century memasuki daerah penalti. Resikonya terlalu besar. Padahal mereka berdua sebenarnya juga enggan, ya, abisnya Century kan bukan striker utama gitu, lho. Tapi sikon saat itu benar-benar memaksa mereka untuk mengambil antisipasi tingkat tinggi. Darurat, darurat.

Boediono meminta tim pemain belakang untuk menjegal Century. Harapannya, kan Century ini enggak jago-jago amat, ditekel dikit ya bisalah dia dihalangi menyentuh garis kotak penalti. Century dijegal. Gawang pun selamat. Peluit tanda pertandingan berakhir dibunyikan. Pertandingan yang ‘menakutkan’ itu berakhir sudah.

Masalahnya, Century terjatuh dan dibawa ke rumah sakit. Boediono memperkirakan biaya perawatannya ringan saja. Apa lacur, entah bagaimana dan siapa yang bermain, ongkos rumah sakit Century mendadak selangit. Dana klub terus dikucurkan hingga jumlah mencapai 10x lipat dari perkiraan awal.

Skandal pun menguak. Skandal Century.

Boediono dan Sri Mulyani yang memang memegang taktik dalam pertandingan melawan Benfica tergugat.

Penonton mulai ikut berbicara. Para fans mulai melemparkan banyak spekulasi. Mengapa Boediono dan Sri Mulyani tidak membiarkan Benfica melepaskan tembakan ke arah gawang? Segenting apa sih posisi saat itu? Kan Century cuma striker ecek-ecek? Masa sama striker ecek-ecek saja takut, sih?

Boediono dan Sri Mulyani mulai dipertentangkan dengan wakil pemilik klub, Jusuf Kalla. Jusuf Kalla berfokus pada biaya pengobatan Century yang ternyata memang 10x lipat dari hitung-hitungan awal. Jusuf Kalla juga mulai meributkan bahwa Boediono dan Sri Mulyani sudah lebay dengan mencoba menjegal Century, si striker level anak bawang itu.

Boediono dan Sri Mulyani mencoba menjelaskan dampak luar biasa jika Century dibiarkan melesakkan bola ke arah gawang. Kubu penonton mulai ribut, “Biarin aja! Kan belum tentu gol!”

Boediono dan Sri Mulyani berkeras, “Lah, kalau gol gimana?”

Perdebatan yang tak akan ada habisnya. Karena ya sudah lewat hehehe. Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi jika Century dibiarkan mencetak gol ke arah gawang. Tapi bukankah sudah tugas pelatih dan kiper untuk bekerja sama menjaga gawang agar tidak kemasukan gol? Mereka kesulitan menjelaskan banyak hal karena penonton ya biasanya mana mau tahu. Maunya timnya menang bodo amat strategi yang dipakai .

Maunya gawang tidak banyak kebobolan, maunya pelatih yang menerapkan strategi secanggih mungkin terserah apa pun caranya. Begitu menang, striker yang dipuji-puji . Begitu kalah, kiper dan pelatih yang jadi sasaran tembak. Puk-puk pelatih . Apa kabar Moyes? hahahhahaha.

Apalagi jika mereka tahu pertaruhannya saat itu sangat berat. Tim lain, Malaysia dan Singapura sudah mengambil langkah darurat dengan membeli pemain bayaran termahal yang biasanya memang hanya diperjualbelikan saat tim-tim sedang keteteran. Pemain bayaran ini bercokol di sebuah tim khusus bernama Blanket Guarantee .

Pemilik klub Napoli saat itu sedang tidak berada di tempat. Semuanya serba samar-samar.

Dan kini, pertandingan di penghujung tahun 2008 itu kembali menjadi headline di banyak media cetak klub. Napoli tengah bergolak. Boediono dan Sri Mulyani berganti-ganti duduk di kursi persakitan. Mempertanggungjawabkan keputusan yang mereka ambil kepada Century saat itu. Tidak banyak yang mau tahu seperti apa sebenarnya kondisi di lapangan saat itu? Penonton sih ngotot enggak ada apa-apa ya hehehe. Asyik-asyik aja tuh .

Sementara wakil pemilik klub, Jusuf Kalla juga tak bisa disalahkan. Beliau sangat peduli kepada keran dana klub yang mengucur deras untuk biaya pengobatan Century tadi. Piye iki dananya? Mending itu dana dipakai untuk beli transfer pemain baru atau bikin suvenir-suvenir klub untuk dijual-jualin ke orang lain. Atau untuk modal ngiklan klub di tipi-tipi.

Century, seorang striker yang sebenarnya belum punya nama, mendadak hits di seantero klub .

Boediono dan Sri Mulyani jelas punya alasan kuat yang walau buat sebagian besar penonton masih serba abu-abu. Tapi fakta di beberapa pertandingan di tempat lain di tahun 2008 itu saya rasa cukup ya untuk menjadi modal mereka berdua untuk bersiaga penuh di lapangan dan mengambil langkah-langkah darurat di sempitnya waktu yang tersisa.

Jusuf Kalla juga punya concern untuk melindungi dana klub.

Mengapa tak berfokus pada siapa yang bermain di melonjaknya angka yang tertera di kuitansi pengobatan Century? Siapa sebenarnya pihak yang mengambil kesempatan untuk merampok dana Napoli via striker Century? Jeng…jeeeenggg…

 

Gambar : footballinjuries.co.uk

Gambar : footballinjuries.co.uk

Tulisan ini dibuat untuk iseng-iseng saja menyambut Piala Dunia tahun 2014 di Brasil nanti . Ada pun kesaamaan nama, singkatan, posisi, tempat itu adalah sangat disengaja hahahahha.

Begini deh kalau orang kepo mencoba untuk ikut membahas skandal nasional dari perspektif emak-emak dasteran . Lebih kurangnya, CMIIW ya.

Mari kita kawal terus kasus si strikel abal-abal yang sudah merampok uang klub segitu besarnya. Tapi, jangan salah fokus dan hendaknya jadi ajang belajar untuk tahu bedanya Sepakbola Mikro dan Sepakbola Makro hehehe. Lumayan kan jadi nambah ilmu .

Dukung siapa di Piala Dunia tahun ini? Apa?? Dukung Napoli? Hahahahahahhahahhaha   😛 😛 😛. APa kabar Napoli sekarang ya, dah kelelep di seri B jangan-jangan 😀.

***

7 thoughts on “[Semi fiksi] Skandal Century, Kisruh Sepakbola Makro di Tahun 2008

  1. Cara menganalisis yg unik tp asik dibaca, ga bikin mumet kayak kasus aslinya. Ringan, tp sarat ilmu. I like your writing, mb jihan. (y)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *