[Neflix] Serial Virgin River yang Tenang-tenang Menghanyutkan

Kalau nyari serial drama tapi gak terlalu mellow, gak terlalu banyak konflik nan dramatis bla bla bla, plotnya rileks tapi ceritanya tetep menarik untuk diikuti tapi gak terlalu bikin nagih jadi bisa maraton satu season sekaligus (hihihi), Virgin River ini salah satu rekomendasi saya ;).

review virgin river netflix

Tadinya saya pikir ini cerita-cerita sinetron ala US di channel Hallmark, tapi ternyata Virgin River enggak se’sinetron’ ituh :D. Not bad at all, keren malah.

Serial yang diangkat dari novel dengan judul yang sama bersetting di sebuah kota mungil yang kelihatannya santai dan tenang di belahan utara California. Virgin River itulah nama kotanya.

Baca Juga : “Netflix Original : Sex Life (a Review)”

Ada aneka rupa tokoh yang diceritakan dalam serial ini dengan konfliknya masing-masing. Tapi kisah berpusat pada tokoh Melinda Monroe (Mel), seorang perawat senior yang tiba-tiba pindah dari hingar bingarnya Los Angeles menuju kota kecil Virgin River.

Mel menerima tawaran kerja dari sebuah klinik di sana yang selama ini hanya di-handle oleh seorang dokter senior, Vernon Mullins (Doc). Awalnya Doc nampak ogah-ogahan dengan kehadiran Mel. Yang nawarin kerja ternyata adalah Bu Mayor, Hope McDrea (Hope), walikotanya Virgin River.

Belakangan diketahui si Hope dan Doc ternyata adalah … nonton sendiri dong aaaahhh :p. Berusaha gak ada spoiler nih ceritanya hehehe.

Baca Juga : “Netflix : The Social Dilemma, Dilema Media Sosial dan Era Digital vs Rahasia Data Pribadi”

Serial original Netflix umumnya punya ciri khas ‘banyak flashback’. Jadi latar belakang Mel misalnya, diceritakan sepotong-sepotong hingga akhirnya ketahuan alasan si eneng ujug-ujug kabur ke kota kecil ini.

Di Virgin River, Mel langsung menarik perhatian orang-orang. Maklum yah kota kecil begini, mirip di Indonesia lah, orang-orangnya lebih rumpi hihihi. Berita menyebar cepat soal kehadiran Mel.

Serial ini juga cukup mudah ditebak begitu Mel kenalan dengan Jack Sheridan, seorang marinir yang punya bar/kafe di Virgin River. Kafenya Jack ini jadi tempat ngumpul-ngumpul di sana. That’s why, Jack is very popular, termasuk sifatnya yang sangat ramah, gampang akrab, ringan tangan membantu siapa saja.

Bagai si Boy (Catatan si Boy) ala bule kota kecil gitu kali ya hahahaha.

Tapi pemerannya Jack ini pernah jadi tokoh Dokter Nathan di Grey’s Anatomy dan eike udah demen sama dese sejak itu. Orangnya lakik banget euy. Versi saya, yes? Sayang enggak lanjut di GA, cuma satu apa dua season gitu.

Untunglah ketemu lagi di Virgin River. ((KETEMU))!! Hahahahaha.

Walau tokoh-tokohnya banyak juga yang udah manula (literally! hahaha) ceritanya tetep menarik banget, deh. Kisah Mel dan Jack yang sangat mature, sesuai usia tokoh yang kayaknya 30 an ke atas gitu emang ya, enggak toxic – enggak bikin gemes berlebihan – enggak imut imut ga jelas dst dst.

Beginilah review dari emak-emak pra manula yang nampak udah lelah dengan aneka rupa kisah-kisah romantis menguras emosi? Wkwkwk.

Ada juga tokoh Preacher, rekan marinirnya Jack yang juga kerja bareng di kafe. Ada Lily yang sekilas numpang lewat tapi memberikan warna yang cukup signifikan pada film ini. Ada Brady, Charmaine, Ricky, dll juga.

Konfliknya enggak ecek-ecek tapi juga bukan yang bombastis gak mutu gitu. Entahlah, semuanya pas aja rasanya. Enggak bikin mabok sampai kudu begadang ngabisin episodenya. Enggak ngebosenin juga.

Enak diliat dalam suasana santai. Tapi seru juga loh. Tiap akhir episode para penonton diberi kejutan-kejutan kecil yang bikin gatel penasaran. Di akhir season, kejutannya lebih gempar.

Sekarang sudah selesai 3 season. Season 4 is on the way. Konfliknya cukup dalam tapi tidak rumit.

Kedewasaan tokoh Mel yang dimainkan oleh sangat apik oleh aktris Alexandra Breckenridge. Mel ini cukup tenang dan gak banyak drama tapi ya emosional juga kadang-kadang.

Tokoh Jack -nya di season 1 terlalu flawless :p. Tapi makin ke belakang lebih masuk akal lah. Ada juga beberapa keputusannya yang kurang sempurna. Lebih terasa real human :).

Apa ya, seperti yang saya bilang tadi, penggambaran tokoh-tokohnya cukup “pas”. Enggak lebay tapi gak datar-datar aja. Ada tante Muriel yang sekilas dirasa antagonis but she is lovely and reasonable.

Khas serial Hollywood, film ini juga ada “tembak-tembakannya” loh hehehe. Tapi porsinya lagi-lagi … pas! (y). Kisah cintanya mencakup 3 generasi, komplit pokoknya :p.

Lokasi syutingnya cakep banget. Instead of mengambil latar di California, proses shooting dilakukan di wilayah Vancouver dan British Colombia, Kanada. Pantes cakepnya gila-gilaan <3.

Kota mungil ini juga mengingatkan pada Kota Athlone. Walau agak beda ya keseharian ala yurop vs US, tetep ajah jadi nostalgia sama Athlone.

Tapi kalok ditelusuri lagi ya emang secara setting tempat pun, Athlone beda banget sama Virgin River (setting : Kanada). Ini loh video Athlone boleh diintip dikit, yes? :p

Kalok lagi stres nemenin para murid onlenku yang tiada kunjung fokus ini (hahahaha), ingin rasanya waktu berputar kembali dan ngotot pengin di Athlone saja :p.

8 out of 10 untuk serial “membumi” ini :).

Selamat menonton ^_^.

[Netflix] Review Serial Sex Life : Alternatif “Baru” dalam Kehidupan Pernikahan?

Ini sebenernya viralnya dah lama, yes? Hehehehe. Telat review gegara 2 mingguan sibuk menyesuaikan diri (lagi) dengan ritme sekolah online.

Yoih Gaeeesss, nampaknya belum kunjung dikabulkan doa biar segera sekolah offline huhuhu.

Sebelum nonton, baca-baca judul dan nebak-nebak cerita tanpa baca sinopsis/review, saya pikir ini film standar saja soal life-changes after marriage. Bukan tema baru.

Sudah banyak film yang bahas topik-topik “you can have it all” bla bla bla yadda yadda yadda. Setelah menikah, yang imbasnya lebih gede biasanya kan memang perempuan, yes? Faktor tekanan sosial utamanya.

Ternyata film ini fokusnya bukan soal itu.

Baca Juga : “Serial Netflix : Virgin River yang Tenang Tenang Menghanyutkan”

Saya awalnya malah gagal fokus. Terpesona dengan pemeran utamanya, Sarah Shahi. Waduh, body goals abis. Setelah setahun rasanya jumawa sukses mempertahankan komposisi badan di angka 49-52 kg, begitu lihat Sarah Shahi kepercayaan diri hancur berkeping-keping #bantingdumbbell.

Sempet pause pilemnya demi untuk googling siapa dese, niat ya, Sis! :p. Wow, perempuan berdarah Persia. Mana tanggal lahirnya selisih beberapa hari dengan saya. Anak juga 3, Gaeesss.

Baca Juga : “Serial Netflix : LUPIN”

Sungguh selama nonton bawaannya pengin pilates sambil angkat beban! Hahahaha.

Di masa-masa revolusi Iran, tidak sedikit warga Iran yang “kabur” ke US. Tapi marilah kita fokus ke serial yang sempat bikin gempar inih :p.

Serial ini adalah tentang Billie (Sarah Shahi) yang telah menikah dengan laki-laki yang bisa dibilang “almost perfect” dengan 2 orang anak. Mereka tinggal di rumah gedongan di wilayah ‘suburb’.

Di banyak kota-kota besar di negara maju, city center biasanya didominasi apartemen dan perkantoran. Biasanya lebih pas untuk para single atau pasangan yang belum punya anak. Kalau sudah punya anak, umumnya melipir pindah ke suburb, demi untuk punya rumah yang pakek halaman hehehe.

Billie digambarkan mulai gelisah dan “kangen” dengan masa-masa singlenya di kota besar. Sekarang, kalau mau hang out dengan sahabatnya, Billie kudu naek kereta dulu menuju kota. Macam udah tinggal di Depok atau Bogor terus mau pecicilan ke mal Jaksel gitu kira-kira yak :D.

HIngga akhirnya angan terbang jauh ke belakang, nyangkut di kisah-kisah dengan so-called mantan terindah.

Jadilah serialnya ini banyak flashback ke masa-masa lalu Billie termasuk mantan-mantannya dese yang lain. Apanya yang dibahas? Ya silakan dibaca lagi judul serialnya #uhuk.

Apa Billie gagal move on? Apa terus Billie harus memilih antara kehidupan pernikahan yang indah bagai negeri dongeng walo garing vs balik ke masa-masa “freedoooooommm”?

Baca Juga : “Serial Netflix CLICKBAIT, wajib nonton!”

Nope. Ceritanya agak berbelok. Ternyata serial ini menawarkan isu baru yang tentunya akan membuat kalangan konservatif kejang-kejang :p. Monggo ditonton sendiri, yes? πŸ˜€

Memang Netflix tergolong “berani” dengan segambreng original seriesnya. Siapa yang ngikutin “Sex Education”? :D. Well, I did :p. Season 3 udah keluar blom, ya?

Banyak yang membandingkan “Sex Life” dengan “50 Shades of Grey”. Sayang saya enggak pernah nonton film ini jadi enggak bisa komentarin hehehe.

Saya kok ingetnya dengan “Sex and The City” (saya penggemar serial ini, saya ulang-ulang dan film-filmnya juga saya nonton beberapa kali hehehe). Karena fokusnya tentang perempuan.

But somehow, SaTC lebih “membumi” dengan warna warni karakter “khas perempuan” ala Carrie-Miranda-Charlotte. Kalau Samantha kan memang menolak monogami dengan tegas hehehe :p.

Sementara tokoh Billie di “Sex Life” apa deh, enggak terlalu jelas fokus hidupnya, konflik dalam dirinya mau fokus soal apa dst dst. Entah kalau memang filmnya mau pamer hal-hal “lain” sih hahahaha :p.

A little chat with my friends … “Are we going to be the next Billie kalok sekolah onlen gak kelar-kelar?” My oh my πŸ˜†πŸ€£πŸ€£πŸ€£. Kalok sekadar mengkhayal aja boleh laaahhh #eaaaaa :p.

7 out of 10.

Tetep layak tonton, kok :). Walo enggak terlalu semangat nungguin Season 2 nya hehehe.

Review Shawshank Redemption : Something Inside They Can’t Get To


Habis baca buku GRIT beberapa bulan lalu saya masih meraba-raba sebenernya definisi GRIT itu kek apa tepatnya kalau dimasukkan ke karakter orang.

Kenapa terjemahan GRIT adalah KETABAHAN bukan KETEKUNAN. Karena ternyata memang GRIT itu bukan keuletan semata. Jauh lebih kompleks daripada itu.

Setelah menonton The Shawshank Redemption, Andy Dufresne adalah salah satu contoh terbaik terkait definisi GRIT tadi.

Sampai sekarang, film ini masih menempati rating tertinggi di situs IMDB. Sering banget masuk list semacam “10 Movies You Must Watch” bla bla bla gitu.

Dunno what took me so long to finally watch this masterpiece yesterday. Mungkin karena saya pikir filmnya bakal “dark banget” bakal bikin depresif dst dst.

Ternyata … memang sebagus itu ya Allah sampai gak tahan harus banget bikin review walo mungkin diketawain, “Ke mane aje lu film lawas baru nonton” hahahahaha.

The Shawshank Redemption rilis tahun 1994. Iya, iyaaaaaa, ampun gue telat nonton si film super kece berat ini huhuhu.

Tahun 1994 ini memang “tahun neraka”. That’s why Shawshank Redemption gak kebagian OScar. Harus bersaing dengan masterpiece lain seperti Forrest Gump dan Pulp Fiction misalnya.

Jangan nonton trailernya yak, banyak spoiler hahahaha. Saya sendiri kemarin begitu nemu di Netflix langsung go show, gak baca review, gak nonton trailer. Biar ngalir aja. Sumpah penasaran kenapa film ini dipuja puja setinggi langit.

Film dibuka dengan persidangan tuduhan pembunuhan terhadap seorang perempuan dan pacarnya oleh seorang bankir muda, Andy Dufresne. Dufresne diputuskan bersalah dan menjalani hukuman seumur hidup.

Saya kira Dufresne ini semacam psikopat. Sekilas ditampakkan begitu.
Dufresne pun menjalani hukuman di Penjara Shawshank dan bertemu temen baru yang bakal jadi sahabat dekat Red. One of the best performance dari Morgan Freeman.

Ni orang suaranya memang kudu banget dapat Oscar khusus saking magicalnya ya hahahahaha. Freeman yang berperan sebagai Red juga menjadi narator dalam film ini.

Film mengalir lincah sampai akhirnya kita tidak peduli lagi apa yang sebenarnya terjadi pada Dufresne hingga harus masuk penjara. Tau-tau muncul tokoh Tommy.

Sebelum itu juga ada Brooks, yang akhirnya mendapatkan parole di usia yang sudah sangat renta dan malah galau mau ke luar dari penjara.

Skenarionya sangat “tenang” gak ada lebay-lebaynya jadi rasanya gak ada airmata yang bisa keluar sepanjang cerita tentang Brooks, Tommy, dll.

Gak nangis tapi sesak di dada aja gitu. The story was that deep.

Karakter Dufresne adalah tentang INTEGRITAS, KECERDASAN, dan si GRIT itu tadi. Namun, bukan berarti kehidupan dalam penjara mulus aja.

As Red said, “I wish I could tell you that Andy fought the good fight, and the Sisters let him be. I wish I could tell you that, but prison is no fairy-tale world.”

Menariknya, tragedi dan kebrutalan di dalam penjara tidak membuat kita jadi kicep males nonton. Tetep napsu nyimak sampai selesai.

Endingnya cakeeeep. Sempat pengin julid kok bisa (hahahahaha), tapi karakter Dufresne memang digambarkan sevalid itu. Jadi gak ada celah buat nyinyir sih so far hahahahaha.

Andy Dufresne pada akhirnya menjadi bukti hidup ucapannya sendiri : “Good things never die.” Bener-bener booster keren di masa-masa pandemi nan suram ini <3.

Moral story paling penting dari film ini, setidaknya buat saya … was when Dufresne told his friends :

“There are places in this world that aren’t made out of stone. That there’s something inside…that they can’t get to, that they can’t touch. That’s yours.”

Film ini salah satu karya yang dihujani pujian sana sini, mungkin akan menjadi salah satu film terbaik sepanjang masa. Dari segi kualitas dan ketenaran. Very well deserved.

Kali ada yang kayak gue, telat nonton (hahahaha) dan berminat mau nonton, filmnya ada di Netflix kok.

10 out of 10. Selamat menonton :D.

Netflix : Emily in Paris (Bukan Review!)

Lom bisa review. Belom mood untuk nonton full hihihi.

Emily in Paris semacam Sex and The City versi yurop. Kalau SATC settingnya di New York, Emily bercerita seputar Kota Paris.

Emily in Paris Netflix

Dan percayalah, kedua film ini secara brutal mengambil sisi kota yang bagus-bagus doang hahahaha. Yang begini ini yang bikin kita wakwaw setelah mengunjungi langsung kota yang digambarkan ‘berat sebelah’ ini.

Pernah ke Paris? Dari kecil terbayang-bayang mau foto-foto seheboh mungkin di bawah menara yang selalu muncul dalam mimpi-mimpi obsesi eike tentang tinggal di liar negeri.

Nyatanya, nyampe sana sibuk nahan biar gak muntah saking pesingnya πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚. Saya sensitif banget sama bau-bau an. Joroookkk 😭😭😭.

Saya ngefans banget sama serial SATC. Versi filmnya pun kutergila-gila. Seneng sama persahabatan Carrie-Samantha-Miranda-Charlotte 😍😍😍.
Tapi tentu akal sehat dan logika tidak tertipu dengan gaya hidup Carrie yang begitu terekdungcesss padahal diceritakan hidup sebagai penulis lepas (doang) 😝😝😝.

Eh, daku tidak bermaksud meremehkan pekerjaan menulis. Tapi coba nonton SATC dulu deh β˜ΊοΈπŸ™.

Banyak loh yang tergila-gila pengin tinggal di New York karena nonton SATC doang πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…πŸ™. Duh, dikate nyewa apartemen di Manhattan berape, belum mikirin asuransi kesehatan di US. Tingkat kejahatan yang tinggi dst dst.

Waktu ke Las Vegas juga sama. Gue kira satu kota suasananya blink-blink ajep-ajep laknatullah gimana gitu, eeee ternyata yang gemerlap cuma satu ruas jalan D-Street doang πŸ˜πŸ˜….

Sisanya ya kota biasa ajah. Kotanya kering dan gersang. Begitu ke luar dari kawasan hura-hura, areanya ya cupu begitu πŸ˜…. Banyak gerai makanan halal loohhh di Vegas πŸ˜‰.

Apalagi Arab Saudi. Gemerlapnya Mekkah dan Madinah hanya sekian ratus meter dari Masjidil Haram dan Nabawi kok πŸ™ˆ.

Sisanya ya begitulah. Kotanya puanaaassss, tidak bersih, bangunannya kusam-kusam. Banyak TKI laki-laki dengan gegap gempita membawa anak istri ke sana. Berharap tinggal sampai mati di 2 kota suci.

Gak nyampe setahun, istri nangis-nangis minta pulang πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ – – > hasil kepo-kepo ke supir asal Indonesia pas masih tinggal di Jeddah.

Intinya, film itu anggap hiburan saja. Fokus ke hubungan antar karakter. Walau memang ada film-film semodel SATC dan EIP ini. Lebih banyak menjual mimpi dan gaya hidup. Secara sengaja menampilkan glamornya sisi-sisi kota tertentu.

SATC tapi lumayan dari segi isu-isu perempuan dengan skenario kasual tapi nendang.

Emily in Paris, anggap hiburan ringan soal setting dan gaya hidupnya. Simak bagian perbedaan budaya sosial di US vs Eropa aja πŸ˜πŸ‘.

Walau sama-sama mayoritas ras kaukasian, sumpah bedaaaaa banget pembawaan bule Eropa vs Bule Amrik. Nah, film ini patut dijadikan sumber informasi terkait hal-hal tersebut.

Emily in Paris Netflix

Percaya deh, soal paling enak tinggal di mana… Rumput tetangga tidak selalu lebih hijau, the grass is greener where you water it 😘😘😘😘.

Siapa bilang mengejar akhirat harus bernaung selama mungkin di bawah lindungan Ka’bah? Sebaik-baik manusia bukan yang shalatnya setiap hari di Masjidil Haram tapi mereka yang membawa banyak manfaat bagi sesama manusia di mana pun kita ngontrak eh tinggal πŸ˜…πŸ™.

Serial ringan ini tetap sangat recommended buat tontonan ringan πŸ˜‹πŸ˜‹πŸ˜‹. Gak usah sampai kebawa mimpi πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜….

Selamat menonton ^_^

DANGAL : Parenting Challenge?

Nah, kalau yang ini film india yang bagus sekaligus mainstream, nih. Pasti banyak yang udah nonton. Film keluaran akhir tahun 2016. Nontonnya dah lama. Udah review di FB juga. Baru dipindahin ke blog hehehe.

Baca juga : “Film Andhadhun, Open Ending yang Seru.”

Tokoh pegulat perempuan 2 bersaudara ini beneran ada loh. Terinspirasi dari kisah nyata.

Tapi cerita dalam filmnya sudah banyak sekali dibumbui sana sini hehehe. Misalnya, sepupu-sepupu mereka ternyata juga pegulat semuaΒ :D. Bukan cuma pemanis cerita saja.

film india yang bagus
Amir Khan (aktor utama film Dangal) berpose dengan tokoh-tokoh asli di dunia nyata

Setidaknya Dangal itu mengajari kita sebagai orang tua kalau untuk mencetak anak selevel Geeta dan Babita memang butuh pengorbanan.

Gak bisaaaaa cuma modal “Yang penting anaknya bahagia. Kita cuma bisa mengarahkan” πŸ™ˆπŸ˜.

Namanya anak-anak, kalau dikasih pilihan, “Latihan soal atau main Roblox.” Ya otomatis biasanya bakal jawab, “ROBLOX” Hahahahaha.

Spoiler alert!
.
.
.

Lihat kan, gimana Geeta dan Babita awalnya stres banget digembleng sekeras baja oleh ayahnya (Mahavir Singh). Mereka merasa dipermalukan, perempuan kok ikutan gulat dengan segala penampilan yang ala-ala lakik (budaya India memang patriarki abis) dan sempat bete banget kepada sang Ayah.

Tapi begitu di pertandingan pertama, Geeta kalah, dia malah enggak bisa tidur dan ambisinya terbakar. Walau kekalahan itu tetap saja diperoleh dengan terhormat. Mereka bergulat melawan laki-laki karena kompetisi buat pegulat perempuan belum ada di wilayah mereka.

film india yang bagus dangal

Akhirnya terlihat, Geeta ternyata memang punya bakat dan passion untuk melanjutkan cita-cita ayahnya menjadi seorang pegulat. Setelah itu menang terus hingga akhirnya maju ke kompetisi internasional.

Baca Juga : “96 dan Geliat film-film Kollywood.”

Padahal awalnya, kedua anak perempuan ini nangis dan merajuk dilatih ketat oleh ayah mereka.

Memang inilah seninya. Gimana caranya kita berusaha agar mereka mengeluarkan kemampuan terbaiknya tanpa dipaksa berlebihan.

Dalam praktiknya kan enggak bisa lah mereka mempan terus-terusan dibujuk semanis madu untuk disiplin latihan piano misalnya buat yang kepengin anaknya menjadi pianis profesional.

Kadangkala sebagai ortu ya memang harus keras. Harus tegaΒ ;).

Saya pernah membaca biografi Nasution bersaudara, keluarga perenang, yang pagi-pagi buta sudah harus bangun dan latihan dibimbing oleh ayah mereka sendiri. Every. Single. Day.

Berat sekali menurut mereka di masa-masa awal. Pernah sampai menangis saking capeknya.

Juga Williams bersaudara (Serena dan Venus), mereka awalnya tidak 100% ikhlas untuk menjadi petenis profesional karena beratnya latihan yang harus dilalui.

Petenis-petenis Rusia itu juga ajegila lah masa kecil yang harus dilewati untuk bisa sampai di level dunia (y). Ada yang pernah pengin kabur dari orang tuanya sendiri. Rata-rata mereka dilatih langsung atau minimal di bawah supervisi orang tua masing-masing.

Tapi saat sudah menjalani kehidupan sebagai petenis pro, barulah airmata menitik terharu saat diwawancara “Siapa sih yang paling berjasa membuat kalian ada di titik ini.”

No regret :).

film india yang bagus

Jangan dikira anak-anak yang besarnya bisa punya prestasi gemilang begini masa kecilnya cuma rileks dan jalani takdir apa adanya :p. Nope. It took a super duper hard work for them (and the parents) to be the they that we know now:).

Ini yang sebenarnya juga sering menjadi momok. Buat saya pribadi sih. Saya takut menyesal tidak mengawal anak-anak dengan baik sehingga mereka gagal menjadi “versi terbaik” atas dirinya sendiri. Gagal membuat mereka mengeluarkan kemampuan terbaiknya.

Tapi terbentur dengan tekanan lingkungan kalau kita tuh gak boleh maksa, gak boleh ini, gak boleh itu, takut anak stres bla bla bla.

Padahal ya kalau terlalu rileks juga jadinya gitu, maunya main Roblox aje dari pagi ampe pagi lagi kalau perlu hahahahaha.

Menemukan titik keseimbangan ini yang kadang berat banget. Plus mempertahankan konsistensinya.

Ya kali ada anak-anak yang sedari kecil sudah mantap merintis cita-citanya. Justru kita sebagai orang tua yang harus membantu mereka menemukan dan mengasah bakatnya. Jangan malah dibalik ye kaaaaaannn :D.

Kalau kalian menganggap masuk sekolah favorit misalnya dengan perjuangan dan antrian warbyasak dengan segala prosesnya yang dianggap wakwaw adalah harga yang harus dibayar untuk masa depan lebih baik, then GO FOR IT! πŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺ

Saya lupa di film apa pas seorang Ibu ditanya, “Kamu gak takut anak-anakmu bakal benci sama kamu?”

“Tugas utama saya adalah memastikan mereka bisa menjalani hidup sebaik yang mereka sanggup bukan membuat mereka tergila-gila kepada saya.”

Suka kesel kalau ada yang sok-sok an, “Eh gue punya temen loh yang waktu sekolah gak jelas tapi sekarang hidupnya sukses.”

Apa iya SEMUAnya kayak gitu?

Woooiiii, jangan-jangan gue punya lebih BANYAAAAAKKKK temen yang pas sekolahnya gak jelas ternyata masa depannya juga gak jelas :p.

Jangan ngajarin yang gak bener, ah! πŸ˜…πŸ™ˆ.