Review Shawshank Redemption : Something Inside They Can’t Get To


Habis baca buku GRIT beberapa bulan lalu saya masih meraba-raba sebenernya definisi GRIT itu kek apa tepatnya kalau dimasukkan ke karakter orang.

Kenapa terjemahan GRIT adalah KETABAHAN bukan KETEKUNAN. Karena ternyata memang GRIT itu bukan keuletan semata. Jauh lebih kompleks daripada itu.

Setelah menonton The Shawshank Redemption, Andy Dufresne adalah salah satu contoh terbaik terkait definisi GRIT tadi.

Sampai sekarang, film ini masih menempati rating tertinggi di situs IMDB. Sering banget masuk list semacam “10 Movies You Must Watch” bla bla bla gitu.

Dunno what took me so long to finally watch this masterpiece yesterday. Mungkin karena saya pikir filmnya bakal “dark banget” bakal bikin depresif dst dst.

Ternyata … memang sebagus itu ya Allah sampai gak tahan harus banget bikin review walo mungkin diketawain, “Ke mane aje lu film lawas baru nonton” hahahahaha.

The Shawshank Redemption rilis tahun 1994. Iya, iyaaaaaa, ampun gue telat nonton si film super kece berat ini huhuhu.

Tahun 1994 ini memang “tahun neraka”. That’s why Shawshank Redemption gak kebagian OScar. Harus bersaing dengan masterpiece lain seperti Forrest Gump dan Pulp Fiction misalnya.

Jangan nonton trailernya yak, banyak spoiler hahahaha. Saya sendiri kemarin begitu nemu di Netflix langsung go show, gak baca review, gak nonton trailer. Biar ngalir aja. Sumpah penasaran kenapa film ini dipuja puja setinggi langit.

Film dibuka dengan persidangan tuduhan pembunuhan terhadap seorang perempuan dan pacarnya oleh seorang bankir muda, Andy Dufresne. Dufresne diputuskan bersalah dan menjalani hukuman seumur hidup.

Saya kira Dufresne ini semacam psikopat. Sekilas ditampakkan begitu.
Dufresne pun menjalani hukuman di Penjara Shawshank dan bertemu temen baru yang bakal jadi sahabat dekat Red. One of the best performance dari Morgan Freeman.

Ni orang suaranya memang kudu banget dapat Oscar khusus saking magicalnya ya hahahahaha. Freeman yang berperan sebagai Red juga menjadi narator dalam film ini.

Film mengalir lincah sampai akhirnya kita tidak peduli lagi apa yang sebenarnya terjadi pada Dufresne hingga harus masuk penjara. Tau-tau muncul tokoh Tommy.

Sebelum itu juga ada Brooks, yang akhirnya mendapatkan parole di usia yang sudah sangat renta dan malah galau mau ke luar dari penjara.

Skenarionya sangat “tenang” gak ada lebay-lebaynya jadi rasanya gak ada airmata yang bisa keluar sepanjang cerita tentang Brooks, Tommy, dll.

Gak nangis tapi sesak di dada aja gitu. The story was that deep.

Karakter Dufresne adalah tentang INTEGRITAS, KECERDASAN, dan si GRIT itu tadi. Namun, bukan berarti kehidupan dalam penjara mulus aja.

As Red said, “I wish I could tell you that Andy fought the good fight, and the Sisters let him be. I wish I could tell you that, but prison is no fairy-tale world.”

Menariknya, tragedi dan kebrutalan di dalam penjara tidak membuat kita jadi kicep males nonton. Tetep napsu nyimak sampai selesai.

Endingnya cakeeeep. Sempat pengin julid kok bisa (hahahahaha), tapi karakter Dufresne memang digambarkan sevalid itu. Jadi gak ada celah buat nyinyir sih so far hahahahaha.

Andy Dufresne pada akhirnya menjadi bukti hidup ucapannya sendiri : “Good things never die.” Bener-bener booster keren di masa-masa pandemi nan suram ini <3.

Moral story paling penting dari film ini, setidaknya buat saya … was when Dufresne told his friends :

“There are places in this world that aren’t made out of stone. That there’s something inside…that they can’t get to, that they can’t touch. That’s yours.”

Film ini salah satu karya yang dihujani pujian sana sini, mungkin akan menjadi salah satu film terbaik sepanjang masa. Dari segi kualitas dan ketenaran. Very well deserved.

Kali ada yang kayak gue, telat nonton (hahahaha) dan berminat mau nonton, filmnya ada di Netflix kok.

10 out of 10. Selamat menonton :D.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *