Jajaran nominasi dalam film Pemenang Oscar 2019 enggak terlalu cetar sih menurut saya. Apaan neh telat amat bahas Oscar 2019. Padahal nominasi Oscar 2020 baru aja dikeluarin beberapa hari yang lalu hehehe.
Gak papa deh, mau review The Favourite, kuda hitam di jajaran nominator The Best Picture Oscar 2019.
Eike ngajak suami ikutan nonton walau film ini pasti bukan genrenya karena kutau dese ngefans sama Emma Stone hehehe.
Emma Stone in The Favorite (2019 – movie)
Wah, gak rugi loh yang cowo-cowo nonton film ini #eh :p.
Kemenangan Olivia Colman sebagai Best Actress Oscar 2019 di film ini dengan acceptance speechnya yang super cute (I love her so much!) juga nambah rasa penasaran.
Oscar Olivia melengkapi Rachel Weisz & Emma Stone yang menjadikan 3 perempuan yang menjadi tokoh sentral di The Favourite = Oscarian semua :p.
O ya, baik Rachel Weisz dan Emma Stone, dua-duanya juga menjadi nominator di kategori Best Supporting Actress Oscar 2019 untuk film yang sama.
Menurut saya ceritanya anti mainstream, sih. Diangkat dari kisah nyata tapi yah namanya film, micinnya pasti banyak :p. Pas baca biografi benerannya, ada beberapa bagian yang beda.
Filmnya tergolong drama komedi. Tapi ini komedi satir khas Kerajaan Inggris. Jadi ya sebagai rakyat berdarah bukan biru kutidak terlalu nangkep lucunya gimana –> haeeee sobat jelatakuuuu.
Tapi memang bukan komedi-komedinya yang membuat film ini sangat berkesan.
Berkisah tentang persahabatan Ratu Anne (Colman) dengan Sarah Marlborough (Weisz) yang sangat kompak dan extremely closed di tengah-tengah perselisihan Kerajaan Inggris via perang-perang dengan kerajaan lain di masa itu.
Masa lalu Ratu Anne yang penuh tragedi membuatnya tidak terlalu fokus ke politik. Terbantu oleh Sarah yang cerdas tapi bermulut tajam plus rada galak. Tipe-tipe yang enggak doyan basa basi dan menjilat.
Lalu datanglah Abigail (Stone), sepupu Sarah, yang sempat terlempar nasibnya dari aristokrat menjadi pelayan rumah tangga ke dalam persahabatan mereka berdua.
Abigail seperti antitesisnya Sarah, tidak bloon-bloon amat, tapi lebih pandai bersilat lidah, dan pandai memuji.
Tidak terlalu mudah ditebak. Ceritanya mengalir cukup cepat. Saya bingung kok ada yang mengeluh bosan ya katanya? Saya mah melotot terus sampai filmnya abis hehehe.
Lika liku pengambilan keputusan ala kerajaan ini mengajarkan juga pada kita, bersyukurlah sudah hidup di era demokrasi ;).
Akting para Oscarian-Lady emang salam jempol banget (y), tetep #cebbieOnDuty.
Endingnya keren (y).
Tidak ada hubungan yang sempurna. Masing-masing punya kepentingan sendiri-sendiri, prinsip hidup beda-beda, tidak selalu berarti kebenarannya mutlak pada satu pihak doang.
Kejujuran dan kesetiaan kadang-kadang dalam praktiknya ya tidak semanis madu.
Persahabatan antar perempuan itu memang rumit, Bro :p. Situ gak akan kuat, biar kami aja hahahaha.
Tuuuuhhh cerita kerajaan tidak melulu didominasi sama kisah perang, perselingkuhan remeh temeh, foya-foya hura-hura dst dst dst. Tema yang diangkat dan cara menceritakan yang cukup unik.
Film Netflix terbaru untuk edisi Natal 2019 ini : The Two Popes.
Sempat disangka film dokumenter beneran saking miripnya aktor pemeran Pope Francis dengan Pope aslinya hehehe. Iyah, mirip bangetΒ π .
So that you know, film netflix terbaru yang ini kategori FIKSI. Kalau pun memang terinspirasi dari kisah Pope Benedictus dan Pope Francis, ternyata banyak juga penambalan yang tidak sesuai atau berat sebelah.
Kritikan bertaburan tapi sebagai tontonan, film ini sangat menarik. Mengingat adegan-adegannya didominasi oleh percakapan one on one antara Pope dan Cardinal-nya (sebelum digantikan), TAPI TIDAK MEMBOSANKAN sama sekali.
Yah, namanya film, kadang harus didramatisasi biar seru. Kalo ako mah anaknya emang googling-an kalo abis nonton film. Nonton filmnya 2 jam an, googlingnya bisa seharian hahaha.
Kurang tepat memang kalau menggambarkan Pope Benedictus vs Pope Francis sebagai konservatif vs liberal. Sementara masa lalu Pope Francis di “Dirty War – Argentina” cukup suram. Googling sendiri ya, Gaeeessss <3.
Kritikan tajam dari kaum sosialis tetap mengalir deras terhadap Pope Francis, walau beliau kini sudah menjadi salah satu icon pengentasan kemiskinan di dunia.
Tapi dalam kehidupan sehari-hari seringnya kita terjebak dalam area hitam putih ini, ya. Dalam banyak hal, perlu waktu panjaaaaaang untuk menyadari “wilayah abu-abu”.
Ironisnya, film The Two Popes menyadarkan saya soal ini sekaligus melakukan pelanggaran yang sama dalam skenarionya hehehehe.
Saya terkesan dengan percakapan saat Pope Benedictus menganggap Pope Francis “too compromising”. Di mana Pope Francis menjawab tegas, “I changed. Not compromised. Two different things.”
Versi film menyorot kasus-kasus korupsi dan pelecehan seksual terhadap anak-anak yang terjadi dalam lingkup Gereja Katolik dan terkesan ditutup-tutupi.
Pope Francis : “Kita lebih rela melihat 9 anak-anak menderita daripada harus kehilangan 9 juta jemaah.”
Di film terlihat kalau Pope Francis mengkritisi petinggi-petinggi gereja yang terkesan menyembunyikan pelanggaran-pelanggaran serius demi menjaga citra gereja dengan tujuan utama –> biar jemaah tidak “lari”???
Percakapan berkesan lainnya soal bagaimana agama tidak seharusnya menjadikan manusia bertujuan menjadi Tuhan. Tuhan hanya ada satu.
Tapi saya setuju dengan salah satu kritikus film yang mengatakan, sudah sangat usang jika kita mempertentangkan konservatif vs liberal dalam urusan kehidupan manusia. Gak ada gunanya jugak, gak nawarin solusi apa-apa juga.
Sebaiknya, yang diangkat adalah korupsi vs reformasi melawan korupsi, dunia yang makin kapitalis vs gimana cara kita menguranginya, kemiskinan vs penyebab dan bagaimana kita terus melawannya.
Samalah kayak debat-debat di dunia maya yang cenderung jatuh ke ranah ad hominem :(. Lebih baik bahas KONTEN daripada terjebak dalam eyel-eyelan tidak bermutu yang malah menjebak emosi, macam “dasar lu kadrun” atau “cebong goblok” atau “lu emang kampret sih”.
Sumpah, USELESS! π°π°π°.
Gue bingung Jakarta banjir masih jaman nyalah-nyalahin gubernur. Gusti Allah, dari era gue masih gadis kinyis-kinyis cantik jelita (oh wait, sekarang juga masih cantik sih #sisirPoni), Jakarta sudah banjiiiiiiiiiiirrrrrrr, ke mane aje lu!
Awal tahun 2007 noh, banjir besar ampe kantor libur segala. Tiap tahun setelah itu kalau hujan ya banjir, sampai sekarang. Mbok ya jangan gila malah bahas Pilkada yang sudah lewat hampir 3 tahun! #pijetKening
Udah ngomelnya, balik ke review filmnya lagi :p.
Agama seharusnya menjadi jalan untuk membawa kebaikan bagi banyak orang, termasuk kekhawatiran mengenai dunia yang makin materialistis. Jenjang antara si kaya dan si miskin yang makin menganga, iklim global yang makin memprihatinkan, adalah hal-hal yang seharusnya diperjuangkan oleh GEREJA.
Sungguh kuingin standing ovation pas percakapan ini, literally! π ππ₯°
Banyak persoalan dalam kehidupan sosial yang “jalan di tempat” karena banyak pihak fokus kepada PENCITRAAN, ego sendiri-sendiri, boro-boro bahas SOLUSI :(.
Kita terjebak untuk berpikir, “HARUS ADA YANG SALAH.” Walau hati kecil kita tahu terlalu rumit untuk menunjukkan satu jari kepada pihak tertentu. We knew, we had noone to blame.
Persis.
Makanya, kalau kalian melihat suatu ketidakadilan nun jauh di sana, tengoklah ke dalam kaca di depan kita, lihat bayangan kita sendiri. Kita mengutuk yang jauh, lupa bercermin kepada yang dekat-dekat.
Memaki pelaku, meratapi korban entah di mana, namun tanpa sadar mungkin menjadi pelaku atas korban-korban di sekitar kita sendiri. ((KITA)), tentu saja, yang menulis termasuk!
Makanya, “When no one is to blame, everyone is to blame” -Pope Francis-
Semoga kita semua berusaha melihat bayangan di cermin sendiri sebagai sosok yang membawa perbaikan atas berbagai persoalan sosial antar manusia di dunia, aamiin πππ.
And here comes one of the special days …. CHRISTMAS day <3.
βMy idea of Christmas, whether old-fashioned or modern, is very simple: LOVING OTHERS. Come to think of it, why do we have to wait for Christmas to do that?β -Bob Hope-
Cinta tidak pernah ke mana-mana. Selalu ada di sini <3.
Jarang-jarang ini review film korea yang bagus. Ada kok yang bagus. Salah satunya ya si PARASITE ini ^_^.
Info awal bahwa film ini pemenang Cannes, bahkan saya sudah nonton acara standing ovationnya di Paris, dan sedikit rumpian bahwa sutradaranya memang ‘complicated’ membuat saya bener-bener NONTON filmnya dengan SANGAT SERIUS hihihihi.
Walau sejam pertama filmnya nampak ringan menghibur, saya tetap konsen nontonnya. Saya gak ketawa sama sekali karena tahu ni film pasti ‘nganu’ di akhir hahahaha. Spesialnya kan memang begitu. Kejutan di pertengahan sampai akhir.
Terus terang saya sedikit bingung dengan orang-orang yang mempertanyakan mengapa Mr.Kim harus mengambil tindakan ekstrim begitu di klimaks film menjelang akhir.
Salah satu kerennya film ini memang begitu. Topik yang sebenarnya rumit ditampilkan lebih sederhana. Gak ada percakapan-percakapan menusuk . Mengalir ringan semuanya. Muluuuuusssss (y).
Makanya nontonnya gak boleh terlalu rileks kayaknya, ya. Walau awalnya sangat komedi :p.
Parasite, kisah mengenai Keluarga Kim (suami – Kim Tae, istri Kim-Choong, anak laki-laki Kim-Woo, anak perempuang Kim-Jong) yang miskin dan hidup di slum-area di bangunan semi basement di pemukiman kumuh.
Mereka berempat akhirnya mendapat pekerjaan sebagai supir, ART, guru les buat anak-anak, di rumah Keluarga Park (dengan formasi anggota keluarga yang sama). Keluarga Park sangat tajir, compared to keluarga kim.
Kita disuguhkan fakta betapa cerdas-cerdasnya Kim-Woon dan Kim-Jong sebenarnya, but another facts bahwa anak-anak orang kaya juga banyak yang jenius itu memang pedih, Jendral!
Seandainya DUNIA bisa lebih adil. Kaya pasti bego, ganteng/cantik pasti goblok, then life will be fair enough. But it’s not :'(.
One day, keluarga Park mau kemping sekeluarga untuk merayakan ulang tahun Park-Da Song, anak bungsu laki-laki mereka. Rumah ditinggalkan kosong hanya ada Kim-Choong buat jaga rumah.
Begitu keluarga Park pergi, seluruh keluarga Kim berkumpul di rumah Mr.Park buat hepi-hepi joy-joy di sana mumpung rumah ditinggal majikan. Mereka pun mabuk-mabukan di ruang tengah.
Semua yang konyol-konyol sirna seketika waktu petir menyambar di ruang tengah itu. Keren SCENE ini. Walau kita tidak tahu apa yang akan terjadi, somehow suasana otomatis sudah mencekam. Hujan turun makin deras.
As for me, langsung naro cemilan dan duduk mematung mempersiapkan mental hahahaha. Sumpah udah kerasa dada berdentum-dentum. Betul saja. BEL pintu halaman pun BERBUNYI.
Keluarga Kim pandang-padangan, “Siapa tuh malam-malam begini?” Makin dag dig dug.
Muncul wajah Moon Kwang (mantan ART di rumah Park sebelum keluarga Kim sabotase semua pekerjaan di sana buat mereka sekeluarga) di layar saat bel terjawab.
“Saya ketinggalan sesuatu di basement. Saya boleh ya mampir bentar.”
Wajah Moon Kwang yang bengkak akan terjawab nanti.
Moon Kwang pun masuk. Makin mencekam. Pintu menuju basement yang digambarkan sebagai kotak persegi berwarna hitam makin bikin stres hahahaha.
Di situlah semua kekacauan bermula. I know, kalau kurang sabar nontonnya, penonton pasti pengin maki-maki keluarga Kim.
Adegan makin mencekam karena keluarga Park tiba-tiba menelepon mengabarkan bahwa mereka akan balik malam itu juga karena HUJAN DERAS.
Makanya, banyak pesan dan ruwetnya hidup manusia di dunia ini yang berusaha digambarkan oleh film dengan scene-scene sambil lalu.
Percakapan di ruang tamu antar Keluarga Kim sebelum geledek menyambar misalnya, banyak hal mendalam yang dibahas, bukan hanya obrolan receh orang miskin yang lagi mabuk.
Kim-Tae yang merenungkan nasib supir sebelumnya dan berdoa semoga si supir mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Kim-Jong yang apatis, “Hadeeeehhh, malah mikiran orang lain. Emang kita ini kurang miskin apa?”
Waktu Kim-Tae sambil tersenyum bilang, “Mrs Park itu RICH and NICE.” We know, dia ingin menghardik istrinya yang galak dan ngamukan.
Tapi Kim-Choong nyolot balik, “Jangan begok. She is NICE because SHE IS RICH. Gue juga kalok tajir pasti bisa kek gitu.”
Bahkan sedikit peliknya masalah rumah tangga tergambar ketika Kim-Tae naik pitam ingin memukul Kim-Choong yang sudah menghinanya sebagai kecoak penakut yang tidak bisa berbuat banyak bagi keluarga mereka.
Dari sini dan adegan-adegan sebelumnya, seharusnya sudah TERBACA ‘beban’ seorang Kim-Tae. Lihat kan adegan orang lain pipis di jendela rumah keluarga Kim. Gimana Kim-Tae nampak udah mati rasa, ya mau gimana lagi, gak ada gunanya dikasih papan peringatan segala macam. Tapi istri dan anaknya tetap menyindir.
Kumpulkan semua serpihan ini untuk bisa memahami mengapa Kim-Tae, si kepala keluarga, akhirnya (terlihat) IMPULSIF dan melakukan hal itu kepada Mr. Park. Sebenarnya itu bukan hal yang impulsif.
Adegan percakapan Mrs Park di mobil kepada seorang teman di atas mobil, sehari setelah banjir besar di malam terkutuk itu saat hujan deras melanda kota.
Saat Kim-Tae galau rumahnya dan belasan rumah tetangganya banjir karena derasnya hujan dan membuat mereka mengungusi, Mrs Park malah cekikikan di telepon, “Ish, hujan gede semalam membawa berkah. Gak jadi kemping tapi kita mau pesta kebon. Yaaaayyyyy senangnya.”
((HUJAN MEMBAWA BERKAH)) aduuuuuhhh π°π°π°π°.
Mrs Park berbicara di ponsel sambil menutup hidung karena bau badan Kim-Tae.
Bersama scene-scene lain saat bolak balik anggota keluarga Park ngerumpiin badan keluarga Kim yang mereka anggap bau apek.
It’s a strong SCENE here. Untuk membantu penonton memahami tindakan Kim-Tae jelang akhir film yang kita sangka hanya dipicu oleh hal sepele. Itu bukan HAL SEPELE :'(.
Bahkan anggota keluarganya yang lain pun bingung melihat tindakan Kim-Tae di pesta ulang tahun Park-Song itu.
Saya sendiri, begitu Mr Park sibuk minta kunci mobil kepada Kim-Tae yang harus menyaksikan ketiga buah hatinya meregang nyawa, sudah pengin loncat sendiri ke tempat lokasi buat nusuk Mr Park ππππ.
Memang tidak adil buat Mr Park. Memangnya salah jadi orang kaya? Tapi apa ini adil buat Kim-Tae?
Kim-Tae bukan orang jahat loh. We can clearly see he was such a warm-heart. Lucu-lucu gemes, pemalas juga enggak, and strongly looooveeeeee his family, no matter betapa seringnya dia dinyinyirin istri dan anak-anaknya sendiri.
Kalau orang lain bahas film sampai ke mana-mana, kuingin bahas karakter manusia secara individu saja. Ada yang bahas sampai kapiltalisme vs sosialisme. Hati-hati, emang kalian pernah ketemuan langsung dengan orang yang tinggal di negara sosialis, to hear the full story? ;).
Pantes kalangan SJW paling meributkan film ini :p.
Semoga kita sadar betapa besarnya pengaruh situasi dan kondisi terhadap keputusan-keputusan yang diambil oleh individu di saat-saat tertentu. Terlepas dari seperti apa karakter aslinya. Baik untuk kasus Mr Park dan Mr Kim.
Bahwa orang baik-baik yang karakternya dominan tenang bercahaya kalau ditaruh dalam “penjara bawah tanah” yang dimodifikasi se-nganu mungkin, dalam tempo beberapa hari saja bisa mengubah KARAKTER asalnya :(. Catat, DALAM HITUNGAN HARI.
Baca di buku Tipping Point deh. Buku pop yang membahas hal-hal model begini dengan bahasa ringan. Terjemahannya pun baguuussss (y).
Beratnya tekanan hidup bisa memaksa manusia biasa untuk “cross the line”. Bahwa jadi orang kaya itu ya memang PRIVILEGE tersendiri. Berhentilah kampanye basi macam, “Punya banyak uang belum tentu bahagia.”
Dan tentu saja pesan yang cukup EKSPLISIT yang mewarnai dari awal sampai akhir film :
“Poverty os a worst form of violance.” (Mahatma Gandhi)
Siapa sebenarnya Moon Kwang? Ada apa di basement? Apa yang dilakukan Kim-Tae di klimaks jelang akhir film itu? Bagaimana nasib Kim-kim lainnya? Ke mana akhir cerita bermuara?
Akhirnyaaaaaa … nonton TOOTSIE jugak πππ. Salah satu film barat lama yang bagus bangeeeet. Gak papa, lebih baik telat (sangat telat malah hahaha) daripada enggak sama sekali ye kaaaaan.
Sudah sering denger sih betapa fenomenalnya film jadul ini. Film paling laris nomor 2 setelah E.T yang rilis di tahun yang sama, 1982.
Genre DRAMA KOMEDI -nya membuat saya ragu-ragu dari dulu. Kirain cuma drama-drama komedi standar yang menghibur but then … after the last scene, it’s all ‘gone’!
Film ini mendapat rating sangat positif dari para kritikus film. Jarang-jarang film drama laris (komedi pulak) yang berhasil mencuri perhatian dari para ‘SJW’ versi pilem ye kaaaaan πππ. Walau hanya sukses memenangkan satu piala dari 10 nominasi Oscar di tahun 1983.
TOOTSIE mengangkat tema seksis yang belum ada matinya sampai sekarang.
Tootsie, yang salah satu maknanya (from Google) –> “a young woman, especially one perceived as being sexually available”.
Film ini bercerita tentang Michael Dorsey (Dustin Hoffman), seorang aktor idealis yang sedang kedodoran dalam urusan pekerjaan. Hingga akhirnya Dorsey memutuskan untuk berpura-pura menjadi seorang perempuan demi sebuah peran and he made it (y).
Sindiran halus terhadap dunia perfilman, “Talented and famous are 2 different things.”
Bukan cuma di dunia akting saja sih hehehe. Too many times we can see cleary that life is not fair π§π. Especially for girls :(. Tootsie gave us another confirmation how being a man is a privilege ;).
Ironisnya, Dorsey malah membuktikan, bahwa yang mampu menjadi aktris yang keren dan populer pun adalah LAKI-LAKI π π.
Sampai sekarang pun banyak kok itu video-video joke tentang ribetnya kondisi artis-artis perempuan di dunia selebriti.
Sebuah video satir tentang adegan audisi sebuah film yang mencari artis pemeran utama. Semua perempuan yang mencoba audisi will be judged for too skinny, too curly, too pretty, too ugly, pokoknya adaaaa aja yang enggak pas.
Sampai akhirnya yang berhasil mendapatkan peran sebagai pemeran utama perempuan adalah … seorang aktor! π π π
Nanti kalok ketemu video jokenya saya posting di komen ya. Ini di luar film Tootsie.
Tootsie juga menyindir halus soal tayangan stripping opera-opera sabun yang lagi laris-larisnya tahun 80 an itu. Sekarang mah di Indonesia, opera sabun sudah direbut tahtanya oleh drakor πππ.
Semua kritikan dan nyinyiran film ini terbungkus rapi dalam kisah cinta Michael dan Julie (Jessice Lange). Julie, perempuan berambut pirang dari keluarga berada yang mencoba peruntungan menjadi aktris di New York.
Julie terjebak dalam stereotip lingkungan tentang pretty girl who were supposed to be ‘dumb’ dan merasa hidupnya harus tergantung kepada sebuah relasi. Tidak percaya diri untuk hidup sendiri.
Julie : Will you loan me that little yellow outfit?
Michael : Which one?
Julie : The Halston.
Michael : The Halston? Oh, no! You’ll ruin it. You’ll spill wine all over it.
Julie : I will not.
Satu hal yang bikin susah move on dari film-film HOLLYWOOD adalah kekuatan dialog-dialognya yang mengalir lancar dan gimana ya … enggak pernah ada basi-basinya gitu-gitu lah. Natural tapi keren.
Bahkan di film-film Hollywood kelas 2 atau kelas B -nya, dialog-dialognya selalu nancep.
Film-film animasinya juga kan. Aih gilak deh skenarionya. Bahkan animasi yang se-“receh” film “TROLLS” itu bisa bikin nyesssss nontonnya <3. Dialog-dialognya itu loh π₯°π₯°π₯°π₯°.
What a wonderful movie with a beautiful OST as well π₯°π₯°π₯°π₯°. Sudah dari dulu, “It Might be You” selalu masuk dalam daftar lagu favorit dari era MP3 sampai jaman apa-apa-pasti-ada-di-Youtube sekarang ini hihihihihihi.
Setelah nonton filmnya, lebih terbuai lagi kalok denger lagunya hehehehe.
Siapa tauk ada yang belom nonton, bolehlah buat masuk list ni pilem jadul. Nyinyirnya lucu-lucu halus gitu lah :p. Sangat menghibur dan sama sekali tidak “berat” π. Temanya masih kekinian kok. Still worth a try ;).
Padahal film Dua Garis Biru ini rasanya sudah cukup adil menyoroti posisi laki-laki dan perempuan dalam kasus “Kehamilan di Usia Sekolah & di Luar Nikah”.
Mengapa masih saja ada laki-laki yang merasa “tersudut” :p.
Gak papa, kan kujadi punya alasan nge-gas lagi hihihi.
Anggap saja kita sudah hidup dalam tatanan masyarakat yang sudah lepas dari isu-isu kesetaraan yadda-yadda-yadda … kemudian kita dihadapkan pada Bima dan Dara (film DUA GARIS BIRU).
1. Masalah keperawanan dan ke-PERJAKA-an (saya bahkan tidak yakin apakah istilah PERJAKA ini beneran eksis terkait masalah hubungan intim).
How did you measure it? It’s easier to judge the girls, rite? π
Dulu sempat di lingkungan kerabat ada obrolan iseng menanggapi pasangan pengantin baru terkait hubungan intim (anggap saja dua-duanya perjaka-perawan) …
“Kalau mau lihat malam pertamanya sudah kejadian, lihat saja yang perempuan. Kelihatan kok itu. Dari cara jalannya %$$%#$#@$#…. ” dst dst (gak enak mau nulis lengkap -_-)
Karena kalau yang laki-laki bisa dibilang nyaris tidak akan ada perubahan apa-apa.
Uniknya, kalau memang standar ke-PERJAKA-an itu parameternya apa sudah pernah crot apa belum, jelang abege laki-laki akan mengalami fase MIMPI BASAH (yang seharusnya dialaminya sendiri gak perlu bantuan perempuan mana pun).
MIMPI BASAH akan membuat laki-laki KEHILANGAN KEHORMATAN? Nope. Sebaliknya, semata pertanda bahwa mereka sudah memasuki tahap “dewasa” secara fisik.
Something positive, nothing’s bad about that.
See the point? We can’t see (even feel or measure?) any difference apakah seorang laki-laki masih perjaka atau tidak.
Kalau perempuan?Β
Some stupid boys, pernah melecehkan seorang teman perempuan saya yang kebetulan anak dokter yang punya pengetahuan ilmiah tentang hubungan intim dan organ pribadi laki-laki dan di-sharenya di group mailing list.
Anak-anak laki-laki tolol itu merespons dengan japrian kepadanya, “Widih, lu udah pengalaman ni kayaknya. Enak gak? Ajarin dong!”
See? TOLOL, yes? Banget!
2. Tokoh Dara di film Dua Garis Biru … hamil.
“Iya dia yang hamil, tapi bayangin beban mental laki-laki dan keluarganya juga dong!!!!”
Cuuuuuy, jangankan anak SMU yang masih lugu begitu, kami saja yang sudah bolak balik tekdung dan brojolan lu kira tidak mengalami perubahan mental saat hamil?
Dan dengan beban mental itu, PEREMPUAN masih harus menanggung BEBAN FISIK.
Oh c’mon, yang hamil siapa, Dear? Yang mual muntah yang bisa terjadi sampai 9 bulan itu siapa? Yang menahan kontraksi saat melahirkan itu yang lakik? Yang dibelek perutnya itu siapaaaaaa? Robot, HAAAA?Β #garukPakekPisau
Yang punya beban harus NGUMPET dalam rumah menahan MALU karena perubahan fisik yang sungguh sulit disembunyikan itu SIAPAAAAAA.
Situ kan tinggal crot. Mau kabur juga boleh, monggo. SIAPAAAA yang tahuuuuuuuu kalau bukan bacot-bacot orang terdekatmu yang bercerita?
Memangnya ada ya, tanda-tanda perubahan fisik pada laki-laki yang membuat orang yang belum pernah ketemu sama sekali bisa berbisik-bisik, “Ih, liat si FULAN, cara jalannya kek gitu. Pasti dia abis menghamili cewek, deh.”
But at look at the girl :(. No matter how hard she tried, semua bekas-bekas itu akan tampak nyata padanya. Siapa pun bisa bergunjing tentangnya hanya dengan MELIHATnya, “Ih liat deh, kayaknya masih muda, anak SMU tuh, kok buncit hamil gitu? Jangan-jangan ….”
Bahkan setelah melahirkan pun. Beberapa kalangan perempuan punya genetik yang membuat perubahan besar pada tubuhnya setelah melahirkan. Some are not. Genetik itu. Buat etnis tertentu ciri ini terlihat jelas.
Dan sekarang tetap disindir jugak, dibanding-bandingkan dengan Kate Middleton yang anak 3 tapi bodi tetap lurus bahkan kurang dari 24 jam setelah melahirkan pun tetap lurus –> ampuni hambaMu ya Allah yang kebanyakan baca berita gosip ini hahahaha.
3. Dan mari kita menapak kembali di dunia nyata. Karena di kehidupan serba liberal macam di Negeri Jantung Dunia, Amerika Serikat pun, patriarki dan semacamnya itu belum hilang sepenuhnya. Percayalah!Β
APALAGI DI INDONESIA
Istilah-istilah menyakitkan hati seperti DIGAGAHI (kata GAGAH kan sesuatu yang berkonotasi positif, kok bisa memperkosa dianggap MENGGAGAHI). Itu tindakan pengecut malah -_-.
Buat perempuan ada istilah “KEHILANGAN KEHORMATAN”.
Sebuah kisah nyata tentang anak perempuan usia SMA yang ketahuan hamil di luar nikah dan nyawanya berakhir di tangan kerabatnya sendiri :'(. Karena dia dianggap sudah merusak kehormatan dan nama baik keluarga, maka nyawanya “dihilangkan”.
Kisah nyata ya AllahΒ *nangis*.
Gambar : thegrindstone.com
Keluarga perempuan lebih “emosional” ya karena nomor 1 dan 2 tadi.
Jadi mengertilah, jika kasus seperti Bima dan Dara, ada yang berani bilang kepada Bima, “Kamu sudah merusak masa depan Dara!”
So dear my girls, pahami betul perkara-perkara beginian. Saya tidak kaget soal Bima dan Dara. Orang yang saya kenal langsung yang mengalami hal ini bukan 2-3 orang. Lebih :'(.
DAN …. berhentilah menganggap ini azab yang akan menimpa anak-anak muda yang nakal dan berandalan sajaΒ :'(. “ITU SALAH BESAR!”
Pelakunya, kedua belah pihak, bisa datang dari kelompok anak baik-baik (even yang lebih banyak berkeliaran di mushala).
Tell our girls, didik lebih detail karena IN THE END, mau diputer-puter kayak apa, you girls will “suffer” more. Macam pepatah, “Enaknya semenit, susahnya selangit.”
Ya syukur kalo enak, kalo kebagian sakitnya doang.
Anak-anakku sayang (perempuan), take care of yourself, sekuat-kuatnya yang kalian bisa. Kesannya dunia tidak adil, ya. What can I say? Ya mungkin ini “jalan Ninja” kita, sayang <3.
Laki-laki bisa MEMILIH “pergi”. Mereka bisa menghilangkan jejak tanpa kesulitan berarti. Mereka bisa move on dan menemukan pengganti semudah membalikkan telapak tangan tanpa ada yang nyinyirin bahkan.
But there’s no place to hide for you, girls. You are going to bring this for your whole life, sorry to say :'(.
And MOMS, teach our boys, “NO MEANS NO.” LITERALLY!
Saya ingat dulu membaca tulisan Ayu Utami, kira-kira begini, “Pahami kalau kalian (laki-laki) tidak lagi bisa bilang -Loh kan itu sama-sama, gak ada yang maksa dia kok! Suka sama suka-“
Soal tidak paksaan anggap saja bisa iya. Tapi fakta bahwa yang beneran “dirusak” adalah masa depan si perempuan, it’s not something you can deny, Boys.
Mengerti kan sekarang mengapa ada istilah “Being a MAN is a privilege.”