People We Haven’t Met Yet (7)

Sebelum baca yang ini, tengok yang bagian 6-nya dulu ya di sini biar enggak kejang-kejang duluan hahahaha.

***

Saya mendarat di Bandara Internasional Imam Khomeini di puncak musim panas tahun 2009. Namun, sisa-sisa musim dingin masih menyajikan pemandangan salju di puncak-puncak perbukitan yang mengelilingi Kota Teheran.

Waktu itu, Mbak kita yang satu ini masih bercita-cita melihat salju. Jadi, dari balik kaca besar yang memenuhi seluruh dinding ruang tengah apartemen, saya kerjaannya liatin salju melulu hahaha.

Pertama kali saya tahu kalau ternyata di Timur Tengah pun ada salju.

Gambar : theiranproject.com
Snow in Tehran, gambar : theiranproject.com

Walau kotanya tua dan minim bangunan mewah nan tinggi, bersihnya jangan ditanya. Dibanding Kota Athlone ini pun, Teheran masih juara rasanya.

Konon, “Kalau ada 10 perempuan Iran lagi jalan bareng, 9 diantaranya pasti cantik.” Itu ilustrasi yang pas untuk menggambarkan betapa kece-kecenya cewek-cewek Persia hehehehe. Emang cantik ya boooo, untung cepet-cepet nyusul suami nih hahahaha :p.

Perempuan di Iran juga wajib berpakaian tertutup tapi modelnya lebih ‘bebas’. Tidak harus ber-abaya, seperti misalnya di Arab Saudi. Yang penting bajunya longgar dan menutupi area paha, di atas lutut sedikit boleh. Celana panjang enggak masalah. Tapi namanya perempuan, banyak juga yang bandel hehehe.

Di Saudi juga sama. Ada lho model abaya ketat melekat gitu ;).

Soal tutup rambut, di Iran masih boleh kerudung-an yang jambulnya kelihatan sedikit hihihi. Di beberapa tempat umum, ada semacam “polisi Syariah” yang berjaga-jaga, menegur perempuan yang bajunya agak “melenceng”. Tapi tenang saja, biasanya mereka enggak rewel ke orang asing.

Soal warna baju juga mirip dengan Saudi. Sebisa mungkin di Iran berpakaian hitam-hitam, tapi dalam praktiknya yang warna-warni juga banyak. Bukan hitam pun, mayoritas warna gelap sih.

Tidak sedikit perempuan di Teheran suka dandan menor-menor. Ampun dah, lipstiknya merah membara dengan blush on tebel-tebel :p. Belum lagi poni disasak tinggi-tinggi pakai anting-anting gede karena kerudungnya enggak nutup kuping. Tapi yang pakai chador (baju perempuan khas Iran), baju hitam panjang mirip abaya tapi jauh lebih longgar, juga banyak.

Gambar : touchIran.com, news.bbc.co.uk, reuters.com
Gambar : touchIran.com, news.bbc.co.uk, reuters.com

Kalau di Saudi perempuan enggak boleh nyetir, di Teheran, embak-embaknya kalau nyetir gila-gila, Ceu! Hahahahhaha. Ngeri aja kalau mau menyeberang jalan di perempatan Vanak Street.

Saya suka jajan kue-kue manis di seberang jalan di area Vanak Street. Awalnya saya bingung gimana cara menyeberangnya. Lampu merah saja suka diterabas di Teheran -_-. Saya dinasihati oleh salah seorang lokal sana.

Katanya, kalau mau menyeberang, enggak usah lihat kiri kanan, jalan saja maju, nanti mobilnya berhenti sendiri. Ajegile! Horor amat! Hahaha. Kalau telat menginjak rem gimana? *ngelapJidat*. Makanya, saya kalau mau menyeberang tunggu ramai dulu. Lalu, saya ngintilin di samping orang-orang yang sama-sama mau menyeberang jalan hihihi :p.

Hal lain soal budaya ke-perempuan-an di Iran adalah soal dukungan terhadap ibu bekerja. Separasi ruang publik untuk laki-laki dan perempuan juga terasa banget di Iran. Bedanya, Iran punya transportasi publik yang lumayan bagus ;). Gak mesti ke mana-mana naik mobil sendiri walau pun Iran juga raja minyak, lho. Di Iran, harga BBM juga terbilang murah.

Separasi laki-laki dan perempuan di Iran itu sifatnya woman only vs Family. Jadi perempuan boleh bepergian tanpa kerabat laki-laki tanpa perlu umpel-umpelan di bus atau di subway/metro. Bujang-bujang yang pergi bareng tanpa perempuan silakan masuk gerbong/area untuk Family.

Tehran Subway Station (Gambar : wikimedia.org)
Tehran Subway Station (Gambar : wikimedia.org)

Kalau di Saudi, separasinya … single vs Family. Single ditujukan buat bujang laki-laki. Perempuan yang bepergian tanpa laki-laki (which is legally enggak boleh di Saudi) silakan gabung di area Family.

Waktu di Iran, anak saya baru satu, si sulung yang usianya sekitar satu tahun .Karena dia anaknya grasak grusuk tingkat tinggi dan menikmati berada di keramaian jadilah saya masukkan ke daycare. Buat nyari teman saja. Karena bingung di apartemen mau main sama tetangga yang mana hehehe.

Di daycarenya ya saya temenin saja. Yang penting dia ketemu teman-teman baru. Benar saja, hari pertama dia sudah melesat bak anak panah dari gendongan saya hihhi. Sama sekali tidak canggung, menghampiri anak-anak Persia dan ikut main bola bareng :D. Saya juga senang dapat teman ngerumpi hahahaha :p.

Saya mengobrol dengan ibu pemilik daycare. Saya terus terang kurang suka karena beliau terkesan meremehkan saya, “Kamu anak baru satu kok enggak kerja saja? Ngapain saja tuh di rumah? Padahal bisa bahasa Inggris. Masa enggak mau kerja?”

Inginnya sih nyolot balik, “Gimana ya Bu, enakan ngupil di rumah, hambur-hamburin gaji suami. Gaji suami saya gede, lho!” Hahahahaha. Becanda :p.

Nyatanya, pemikiran model begini bukan hanya di Iran saja.

Dari pengalaman saya, baik perempuan Iran maupun perempuan Mesir dan perempuan Saudi, yang pernah berkomunikasi langsung dengan saya, yang lebih sering mencecar, “Kok lulus kuliah malah enggak kerja? Tuh, bisa bahasa Inggris, kok di rumah saja?”

Apa mungkin karena stigma mereka tentang kondisi negara Asia Tenggara ya? Dikiranya kita datang ke Timur Tengah buat ngemis ke mereka hehehe. Disangka Indonesia semiskin apa :p.

Kalau perempuan Saudi mungkin lebih bisa saya maklumi karena mereka memang terbatas akses pendidikannya. Ya malas aja, wong lahan pekerjaan masih mendiskriminasikan mereka. Tekanan sosial terhadap perempuan bekerja masih tinggi.

Nah, Iran sama Mesir lebih norak! :p. Dikiranya mungkin perempuan berpendidikan tinggi masih jarang di Indonesia. Makanya, bagus juga kalau Indonesia itu jangan kebanyakan mengirim TKW informal. Kasihan nih, kita-kita yang dituduh perempuan pemalas hanya gara-gara enggak ikutan nyari duit secara “formal” hahahaha.

Buat kita orang Indonesia, walau memang perselisihan antara ibu di rumah vs ibu bekerja masih ramai, tapi ya tidak terlalu aneh rasanya ada ibu di rumah yang sekaligus lulusan perguruan tinggi ternama dan punya skill formal mumpuni yang milih ngupil-ngupil di rumah aja pas suami di kantor dan anak-anak di sekolah kan? Hahaha :p.

Gambar : en.wikipedia.org
Gambar : en.wikipedia.org

Hal unik lainnya di Teheran adalah hobi pasangan muda mudi mojok di banyak sudut taman kota yang memang dibangun secara serius di banyak wilayah Teheran. Di area taman yang sepi, sering lho mendapati semak bergerak-gerak yang pas dilewatin, ternyata ada sepasang pria dan wanita muda lagi duduk lengket-lengketan hahahahaha.

Iran juga ketat soal hubungan laki-laki dan perempuan di tempat publik. Kegiatan selevel pacaran ya mana boleh. Pengawasan juga lumayan ketat dengan wara wirinya “polisi Syariah” di banyak tempat umum.

Tapi ya mau sebanyak apa sih menyebar polisi Syariah kalau kesadaran itu dibentuk atas dasar paksaan dan kekangan ;). Anak muda yang pada dasarnya hobi main api ya nemu aja celah-celah semak buat sekadar ngobrol berdua, duduk empet-empetan *ihiiiiyyyy*. Mana taman-taman di sana memang segede-gede gaban.

Lupakan dulu yang lagi indehoy, karena taman cantik model begini adalah anugerah bagi keluarga Gober yang kikir ini hahahaha. Enggak pusing mau cari cara nyenengin anak. Ajak saja ke taman, Sudah lengkap dengan kebun binatang mini, bunga-bunga dan tetumbuhan yang dirawat serius tumbuh subur di berbagai sudut, plus taman bermain gratis yang dilengkapi aneka rupa mainan buat anak-anak ^_^.

Taman Sai di Teheran, Iran (gambar : panoramio.com, by Behrooz Rezvani)
Taman Sai di Teheran, Iran (gambar : panoramio.com, by Behrooz Rezvani)

Konon, taman-taman cantik itu termasuk hasil kerja keras mantan Pak Walikota yang sukses melaju menjadi Presiden hingga 2 periode. Waduh, jangan-jangan … ah enggak ah, nanti kaum cebong kesenengan hahahaha :p.

Secara yaaaa, Teheran modelnya mirip kota-kota di Eropa pada umumnya. Jarang ada mal gede-gede. Jadi, hiburannya banyakan outdoor.

Sekarang bahas laki-lakinya. Saya suka geli kalau melihat laki-laki jalan bareng sambil pegang-pegangan tangan dan rangkul-rangkulan hihihi. Itu bukan kebiasaan umum di budaya Indonesia kita kan ya?

Hubungan antar laki-laki di Teheran memang terbilang “mesra”. Ketemu saja bisa cipika cipiki dengan heboh. Ternyata, kebiasaan itu bukan hanya milik kaum Persia, orang-orang Arab juga begitu ternyata. Malah menurut suami saya, India dan Pakistan juga tidak masalah laki-laki saling bersentuhan atau pegangan tangan kalau jalan bareng. Penasaran saja, apa lagi-lagi ini karena budaya patriarki tadi kah? HIhihihi. Sotoy! :p.

Atau karena di wilayah-wilayah ini, percampuran antara perempuan dan laki-laki masih dianggap “tabu” jadi aja mereka jadi lebih dekat dengan sesama laki-laki? Hihihi.

Taman Mellat di Teheran Iran
Taman Mellat di Teheran (gambar : en. wikipedia.org)

Yang jelas, bukan karena faktor agama! Karena India kan mayoritasnya Hindu. Dan di sana tuh, kondisi “keamanan” untuk kaum perempuan di tempat umum masih memprihatinkan :(.

Kesulitan bahasa menjadi salah satu kendala terberat tinggal di Teheran. Walau sama-sama menggunakan huruf hijaiyah, bahasa resmi Iran adalah Bahasa Farsi, bukan Bahasa Arab. Bedanya lagi, bahasa Farsi mengenal huruf P, bentuknya seperti huruf Ba, tapi titiknya ada tiga di bawah.

Iran tidak terlalu terbuka pada para pendatang. Makanya, pendatang di Teheran tuh mudah mencuri perhatian. Sebelnya, cukup sulit menemukan orang lokal yang bisa berbahasa Inggris. Saya pernah membeli pizza di sebuah warung lokal hanya modal bahasa isyarat dan tunjuk-tunjuk menu hahahahaha. Nama warungnya justru lucu, sok-sok bule dengan memajang plang bertuliskan “UFO Pizza”, zzzzz -_-.

Jangan harap ketemu gerai-gerai standar macam KFC, McD dan Pizza Hut di Teheran. Gak ada! Mereka punya sih ayam goreng sejenis KFC atau McD tapi merek lokal. Enak juga sih. Coca Cola juga tidak ada. Tapi minuman sejenis banyak bikinan lokal.

Kendaraan yang lalu lalang di jalan juga banyak merek lokal. Iran lumayan juga. Kena embargo malah jadi lebih mandiri hehehe. Nah, kalau di Jeddah, senang cuci mata lihat mobil mewah lalu lalang di jalanan. Warna-warnanya gonjreng dan atraktif :D. Di Teheran, mobilnya dekil-dekil dan seperti mobil tua. Sama kayak di Irlandia hahaha :p.

Soal duit juga ribet di Iran. Di sana, ATM-nya tidak bisa menggunakan kartu jenis Visa atau Mastercard. Pendatang juga tidak leluasa buka rekening lokal. Suami saya gajiannya seru banget. Jadi berbaris gitu terus dibagiin amplop satu persatu, hahahahaha. Semua pekerja asing kayak gitu, level formal sekali pun :p.

Kontrak kerja pakai USD tapi terimanya dalam bentuk Euro. Jadi, nominal gaji berubah-ubah tergantung kurs Euro terhadap USD. Transfernya juga ribet. Tapi sebenarnya dalam peredaran sehari-hari, USD juga tetap boleh digunakan.

Urusan public service, orang Persia juga mirip dengan orang Arab, enggak ada ramah-ramahnya huhuhu. Malah Teheran parah karena ada kendala bahasa. Sempat butuh ke rumah sakit karena anak saya kena sakit mata. Sampai minta tolong ke KBRI buat ditemenin daftar di klinik hihihi.

Dokternya sih ramah ^_^. Surprisingly, harga obat juga murah banget di Iran. Tapi di Iran ini tapi mayoritas harga mahal-mahal. Yang terbilang murah hanya beberapa kebutuhan pokok. Misalnya roti, gandum, susu, tepung, dan itu tadi…obat :D. Sisanya sih, bikin pijet-pijet kening, deh hehe.

Soal kehidupan sosial, Saudi jelas lebih homogen. Karena di Teheran ya bebas-bebas saja berdiri rumah ibadah non Islam. Kalau di Saudi kan tidak boleh, ya. Hanya boleh ada masjid hehehe.

Sinagog juga ada di Teheran. Rabi-rabi yang pakai topi kecil khas Yahudi juga rasanya pernah papasan. Pemerintah Iran, wewotnya sepertinya hanya kepada pemerintahan Israel dkk :D. Ya enggak jauh-jauh dari urusan minyak dan duit lah :p.

Soal Sunni-Syiah waktu itu belum terlalu terasa sih. Jadi saya juga enggak terlalu merhatiin. Yang jelas, kalau shalat Jumat, suami saya shalatnya di gedung KBRI bukan di masjid umum. Mereka shalat jumat di lapangan tertentu saja kata suami. Suami juga takut-takut sih memperlihatkan identitas Sunninya hehehe. Walau selama di sana ya memang tidak diapa-apain.

Soal alquran beda ya jelas hoax. Di apartemen umumnya sudah disediakan alquran sama batu kecil something oleh landlord. Batu itu katanya buat sujud. Penganut Syiah sujudnya harus pakai batu/tanah dan semacamnya. Kira-kira begitulah. CMIIW ya.

Alquran-nya normal. Enggak setebal tuduhan orang-orang. Ukuran sama dan pas dibaca-baca ya nama surahnya sama. Saya bukan hafizah sih ya jadi enggak bisa bandingin ayat per ayat :D.

Saya di sana di masa-masa Pilpres sedang berlangsung. Konon, kemenangan Ahmadinejad di periode ke-2 bikin “lawan politik” luar negerinya bete. Jadilah itu ramai-ramai bikin berita hoax soal berita hasil Pemilu di Teheran.

Kota Teheran Iran
Lovely Teheran (gambar : commons.wikimedia.org)

Saya kan jadi bingung. Rasanya di Teheran biasa-biasa saja tapi berita di CNN, BBC, Al Jazeera dkk sudah kayak kerusuhan berdarah-darah. The power of media ya. Kasihan sih dengan kerabat di Indonesia. Ibu mertua ribut nyuruh suami pulang hahahaha.

Padahal masalah yang menjerat kami bukan soal itu. Tapi kena tipu oleh agen yang merekrut suami. Sampai suami overstay dan status tinggalnya terhitung ilegal. Lumayan menguras emosi menghadapi situasi saat itu. Ketambahan lagi kisruh politik jadi bikin tambah stres dah.

Ahmadinejad bisa dibilang Koppig versi Iran hahahaha :p. Beliau kaku dan tidak kenal kompromi. Sebenarnya, di kota-kota besar di Iran seperti Teheran, Ahmadinejad kurang disukai. Apalagi oleh kaum muda di Teheran. Dianggap terlalu konservatif.

Tapi katanya, di kota-kota kecil dan di pedalaman, Ahmadinejad masih didukung penuh oleh mayoritas rakyat saat itu. Wallahu alam lah, gak paham situasi politik. Namanya juga mamak-mamak ya, yang diterawang ya urusan seputar per-daster-an aja hahahaha.

Sayang ya, waktu itu suami belum hobi fotografi dan banyak masalah dengan agen jadi kami gak puas jalan-jalannya. Padahal Persia merupakan salah satu peradaban tertua di dunia. Tidak banyak rekaman gambar untuk bersaksi betapa indahnya Kota Teheran <3. Ya fotonya masih banyakan muka emak dan anak -_-.

Soal pekerjaan, untunglah gaji tetap lancar dibagiin dalam amplop tiap bulan hihihi. Somehow, we managed to get out from there, safe and sound 😀. Dari sanalah, suami akhirnya keterima bekerja di Jeddah. Berakhirlah episode Teheran di awal musim gugur di tahun yang sama :).

Saya rasa sih, Iran sama Arab Saudi banyak samanya daripada bedanya. Bedanya cuma di masalah Sunni-Syiah. Tapi hobi maksanya sama saja hehehe :p. Sama-sama tajir minyak juga jadi mungkin masing-masing merasa berhak menjadi “raja” di Jazirah sana :p.

Enakan jadi orang Jepang kali ya, kekuatan negeri ada di sumber daya manusia ;). Manusia yang seharusnya menjadi kekuatan terbesar sebuah negeri, bukan intan berlian, bukan minyak dan tidak juga hasil non tambang lainnya.

Apa karena itu ya, hikmah mengapa manusia dipilih menjadi khilafah di muka bumi ini? Kita ini khilafahnya, kita ini koordinator yang harusnya mengatur, kok malah diperbudak oleh materi? ;).

***

Taman Mellat di Teheran Iran

Seribu Taman di Kota Tehran Iran yang Indah

Note : Waktu masih tinggal di Tehran Iran, suami belum demen motret-motret. Jadi foto-fotonya masih cupu gitu hihhihi. Saya ambilkan via googling saja biar benar-benar terlihat cantiknya taman-taman di ibukota Persia, si Tehran Iran ini :).

Kemampuan lensa dan editing fotografer pas-pasan itu seringnya malah membuat foto alam natural menjadi tidak sebagus aslinya :(.

***

Negara Iran mungkin tak terlalu populer sebagai tempat tujuan wisata dunia. Jadi, saya sedikit enggan ketika suami mengajak ke sana. Tepatnya ke ibukota negeri Persia, kota Tehran Iran.

Tehran Iran Kota
Lovely Teheran (gambar : commons.wikimedia.org)

Tapi perjalanan dari bandara menuju apartemen selama setengah jam mampu melunturkan keengganan saya seketika. Terletak di belahan timur tengah yang terkenal dengan tanah tandusnya, hampir di sepanjang jalan kota Tehran malah menyuguhkan sentuhan hijau dimana-mana.

Di sudut-sudut jalan tertata rapi pohon-pohon berbunga yang berjajar dengan rupa-rupa warna. Saya meyakini tanaman-tanaman tersebut dirawat secara khusus oleh pemerintah kota.

Kota Tehran sendiri tergolong kota tua. Tak banyak bangunan baru yang berdiri di seantero kota. Tapi kebersihannya benar-benar patut diacungi jempol. Saya seperti berada di daratan Eropa.

Proses sanitasi mereka tidak menggunakan sanitasi bawah tanah seperti kebanyakan negara-negara maju. Tapi menerapkan sistem selokan atau parit di pinggir-pinggir jalan seperti sanitasi di berbagai kota di Indonesia. Bedanya, selokan mereka lebar-lebar dan dasarnya terlihat dengan jernih. Tak bercampur kotoran dan bau menyengat sama sekali. Cukup mengagumkan.

Jika menelusuri hamparan ibukota Negeri Para Mullah ini jangan harap akan menemukan mal besar seperti di tanah air. Embargo ekonomi Amerika atas negara ini membuat gerai-gerai makanan internasional seperti McDonald’s tak akan ditemukan di belahan Iran mana pun.

Tapi jangan patah semangat, gerai makanan lokal juga punya cita rasa yang tak kalah menarik dan cukup cocok dengan lidah asia kita.

Untuk urusan jalan-jalan, kota ini menawarkan pesona tersendiri. Bahkan kita bisa menikmati Tehran Iran tanpa keluar uang. Cukup bersantai bersama keluarga di taman-taman kota yang tersebar di berbagai sudut kota.

Tehran Iran
Sanitasi di Teheran (gambar : region6.tehran.ir)

Jumlah taman kotanya cukup banyak. Ada yang berukuran kecil ada pula yang berukuran jauh lebih luas daripada lapangan golf.

Pada umumnya taman-taman di Tehran sangat bersih dan dilengkapi dengan playground, lengkap dengan berbagai alat permainan, sebagai tempat hiburan buat anak-anak. Untuk berekreasi di tiap taman, tidak dipungut biaya sepeser pun. Berbagai tanaman dan bunga-bunga dengan rapi menghiasi hampir semua sisi taman. Bila musim semi tiba, warna warni bunga akan tampil begitu memukau.

Tiap taman dilengkapi dengan banyaknya tempat-tempat duduk yang tersebar di berbagai tempat. Disediakan pula peralatan-peralatan olah raga untuk usia dewasa yang bebas digunakan oleh siapa saja. Keran-keran air juga mudah ditemukan. Di Tehran, air keran terjamin kebersihannya dan bisa diminum langsung tanpa perlu dimasak lebih dahulu.

Taman Mellat di Teheran Iran
Taman Mellat di Tehran Iran (gambar : en. wikipedia.org)

Bosan melewatkan waktu sekedar duduk-duduk di bangku taman, silakan memanfaatkan rerumputan hijau yang terhampar di berbagai tempat dalam areal taman. Banyak penduduk lokal yang berkumpul bersama keluarga dengan menggelar tikar dan duduk beramai-ramai. Tak lupa mereka membawa peralatan untuk membuat barbeque dan termos berisi air panas untuk menjerang teh atau kopi hangat.

Tidak seperti di banyak tempat hiburan di tanah air, tak banyak ditemukan kantin atau rumah makan di dalam areal taman. Penjaja makanan kaki lima pun tak akan bisa ditemukan.

Bukan cuma berbagai jenis dan warna bunga yang bisa dijumpai di tiap taman. Mata kita pun akan dimanjakan oleh berbagai monumen yang bentuknya bermacam-macam. Bisa berupa patuh tokoh ternama asal Iran atau sekedar bangunan kecil berbentuk unik.

Taman yang paling sering saya kunjungi adalah Taman Mellat dan Taman Sa’i. Keduanya berukuran besar dan terletak di jantung ibukota, tepatnya di Vanak Street. Jangan bayangkan letaknya berdekatan karena Vanak Street ini cukup panjang.

Taman Sai berukuran lebih kecil daripada Mellat. Semuanya lengkap disini, ada danaunya segala. Biarpun beberapa kali ke sini, rasanya tidak pernah bosan. Yang cukup unik  adalah kontur taman yang bertingkat-tingkat. Kota Tehran memang dibangun di wilayah perbukitan. Sebagian wilayah kota memang tidak memiliki daratan yang rata. Tapi turun naik layaknya perbukitan.

Taman Sai di Tehran Iran (gambar : panoramio.com, by Behrooz Rezvani)
Taman Sai di Teheran, Iran (gambar : panoramio.com, by Behrooz Rezvani)

Taman Mellat berukuran sangat luas. Butuh beberapa kali untuk bisa menjelajahi keseluruhan isi taman. Fasilitasnya jauh lebih lengkap dari pada Taman Sa’i. Ada gedung sinema segala. Taman bermain buat anak-anak ada lebih dari satu. Tersedia beberapa buah meja pingpong di beberapa sudut taman. Tinggal membawa bola, raket pingpong, dan lawan tanding tentu saja.

Di Mellat juga ada kebun binatang. Tapi tidak seramai Taman Safari, Bogor. Jenis yang paling banyak adalah ayam. Di daerah Timur Tengah, ayam termasuk hewan langka rupanya. Ada pula burung unta, kambing, dll. Terdapat danau cukup besar di tengah taman, yang dihuni oleh beberapa angsa putih dan beraneka bunga teratai aneka warna. Pemandangannya sangat indah.

Taman-taman inilah yang paling berkesan buat kami sekeluarga. Hiburan yang sehat dan murah meriah untuk seluruh anggota keluarga. Pemerintah kota pun secara serius turun tangan langsung untuk merawat dan memelihara kebersihan, kerapihan, dan keindahan setiap taman kota. Salut untuk pemerintah kota Tehran.

Taman Mellat di Teheran Iran
Taman Mellat di Teheran (gambar : en. wikipedia.org)

 

My First Love, Tehran :)

by : Jihan Davincka

***

Sebelum benar-benar ke sana, bayangan saya tentang Timur Tengah memang kurang menyenangkan. Ada, sih, beberapa negara yang ingin saya datangi. Seperti misalnya Emirat yang terkenal dengan kota-kota berkonsep modern-internasionalnya (eg : Dubai dan Abu Dhabi).

Gambar : www.islamicinvitationturkey.com
Gambar : www.islamicinvitationturkey.com

Tapi saat kesempatan untuk tinggal di luar negeri benar-benar datang, sungguh tak menduga kota pertama yang harus saya datangi adalah…Tehran! Maaakkk, kota apaan, tuh?

Selain Tehran adalah ibukota negara Iran, satu-satunya hal yang saya tahu tentang Negeri Persia ini adalah nama presidennya yang sempat menebar wangi semerbak di tanah air di periode awal kepemimpinannya, Ahmadinejad.

Lucu ya, sekarang banyak hujatan kepada Persia si Negara Syiah. Sementara dulu, Ahmadinejad dipuja puji bak pahlawan. Hehehehe. It’s funny that how easy we are manipulated by news :D.

***

Kota Tehran bukan tujuan wisata yang umum bagi orang-orang Indonesia. Tak banyak pula warga Indonesia yang bermukim di sana. Uniknya, dengan bantuan Google, saya malah banyak menemukan curahan hati perempuan-perempuan asli Iran yang sudah hengkang ke negara Amerika.

Mereka menuduh pemerintahan Iran yang dianggap terlalu mengekang kaum perempuannya. Cara berpakaiannya pun diatur-atur. Duile, malah membuat semakin takut. Di tahun 2009 itu pula, Iran sedang seru-serunya berseteru dengan duet maut (Israel-USA) di media massa. Beberapa blog tentang kota Tehran kena blokir. Jadi makin takut.

Pernah ada kejadian, lupa deh, entah serangan bom atau apa di wilayah Israel oleh Palestina. Sewaktu suami sudah ke sana dan saatnya saya dan Abil harus ikut, sempat terjadi percakapan konyol,

“Bang, kena bom entar gimana?”

Suami saya heran, “Bom apa, sih?”

“Itu, Bang. Ada bom di Palestina apa Israel gitu.”

Suami langsung ngakak. “Bisa lihat peta, kan? Iran itu di mana? Dekat apa?”

Saya tetap bersikeras, “Ya kan sama-sama Middle East.”

“Makassar dari Jakarta jauh, enggak? Aceh dari Jakarta jauh, enggak? Pluit dari Pejaten aja jauh.” Suami saya menjawab sambil meledek.

Hehehehe. Saking takutnya, hilang sudah pikiran-pikiran rasional. Mengingat ini kesempatan untuk melancong ke luar negeri untuk pertama kalinya, saya berusaha menumbuhkan rasa semangat  dalam hati. Biarpun sesekali mengeluh, “Ya Tuhan, kenapa Tehran, sih?”

***

Hanya butuh waktu beberapa detik untuk jatuh cinta seketika pada kota cantik yang ternyata memiliki 4 musim dan bersalju ini! Maklum cing, waktu itu masih norak-noraknya sama salju. Sekarang sih, ampun dijeeeeeeeee :P.

Begitu keluar dari bandara, saat taksi sudah melesat memasuki jalan, saya sudah takjub. Tidak pernah membayangkan kalau Timur Tengah bisa sehijau itu. Tahunya kan Timur Tengah = Gurun Pasir :P.

Mendekati pusat kota makin hijau. Pohon-pohonnya tertata rapi dan berwarna warni. Betul-betul dibentuk aneka rupa. Satu lagi yang langsung menarik perhatian, kota Tehran ini KEBERSIHANnya juara banget!

Bahkan bila dibandingkan dengan kota kecil Athlone di salah satu  negara maju Eropa ini, Tehran masih lebih bersih :).

Tehran memiliki sistem pengairan yang sama dengan Indonesia. Saluran-saluran airnya tidak terletak di bawah tanah. Tapi di pinggir-pinggir jalan (got maksudnya hehehehe). Tapi selokan-selokannya lebih lebar. Saking bersihnya, pandangan kita  bisa menembus airnya yang  jernih hingga ke dasar saluran.

Sewaktu di Tehran kami mendapat apartemen yang mewah banget :D. Saya datang di bulan Juni, ketika puncak-puncak pegunungan yang mengelilingi kota Tehran masih berselimutkan salju nan tipis. Musim semi tengah berada di puncaknya. Tehran yang memiliki banyak sekali taman-taman bunga yang mahaluas dan mahaindah berada di puncak keindahan alamnya.

Ada dua taman favorit saya, Mellat Park dan Sai Park. Keduanya terletak di Vanak Street, jantung kota yang tak jauh dari posisi gedung apartemen.

Mellat Park
Mellat Park

Transportasi publik di Tehran dibangun dengan rapi dan teratur. Mulai dari bis, taksi hingga subway. Subwaynya mereka sebut Metro. Keren dan tentu saja…bersih ;). Sebagai Negeri berbasis agama (Islam-Syiah), tempat-tempat publik selalu memisahkan antara perempuan dan laki-laki. Termasuk dalam bis atau metro.

Tak terlalu perlu memiliki mobil karena cukup nyaman kemana-mana berjalan kaki atau naik taksi. Ada taksi murah, lho. Namanya “mustaqim”. Taksinya melewati jalur-jalur tertentu saja dan bisa dinaiki oleh siapa saja asalkan belum penuh. Murah sekali. Cuma 1000-3000 rupiah per rute.

tehrn clothersAturan berpakaian juga ada di Tehran. Tapi tidak seketat Saudi. Di Iran, perempuan boleh bercelana jeans atau celana apa pun. Asalkan bajunya lengan panjang dan memanjang hingga menutup minimal setengah bagian paha.

Rambut mesti ditutup kerudung, tak mengapa bila rambut terlihat. Ini aturan umum yang berlaku buat SEMUA PEREMPUAN, baik muslim maupun non muslim.

Perempuan bebas bekerja di Iran. Bebas menyetir sendiri. Preman-preman lho para pengemudi perempuan di sana hehehehe. Obat-obatan yang dijual di apotik sangat murah. Waktu itu Abil sempat sakit mata. Masa harga obatnya cuma 14 ribu rupiah, sudah termasuk obat tetes + salep + obat minum (terserang bakteri jadi ada semacam antibiotik minum juga).

Satu hal yang cukup menyiksa adalah urusan perut. Waktu itu belum semahir sekarang dalam urusan dapur :D. Tapi di Tehran tidak ada gerai-gerai internasional asing yang umum terdapat di tanah air dan kota-kota besar dunia lainnya. Tidak McD, tidak ada KFC, tidak ada Pizza Hut. Intinya, embargo ekonomi US tidak mengizinkan gerai-gerai Amerika berdiri di seluruh penjuru Iran.

Makanan khas mereka nyaris tidak ada rasa. Ada sih gerai internasional dari Eropa, tapi kan tidak populer di tanah air.

Di salah satu sudut kota kami sempat melewati sebuah lahan luas yang masih dihuni sebuah bangunan yang sudah rusak separuh.

“Ini tempat apa, Bang?” Tanya saya ke suami.

“Nah, ini dulu kedutaan Amerika Serikat. Habis revolusi Iran, mereka cabut. Gedungnya dibiarin  begitu saja.”

Tapi harga-harga pokok di Tehran relatif mahal-mahal. Susu dan coklat saja yang harganya murah. Satu lagi hal yang  mengagumkan dari Negeri Para Mullah ini, TAK ADA PENGEMIS SAMA SEKALI! Tapi soal keramahan orang-orangnya, sebelas dua belas deh sama orang-orang Arab hehehe. Sama songongnya :P.

Kotanya berhasil mencuri hati seketika kaki melangkah keluar dari bandara, tapi sayangnya, rezeki pekerjaan tidak mulus. Suami memutuskan untuk mencari peruntungan di tempat lain. Saat itu harapan kembali merekah. Sewaktu kami sekeluarga masih di Tehran, kabar baik malah  datang dari Jeddah. Lagi-lagi Timur Tengah. Ya sudahlah.

***

Meskipun banyak episode-episode terbaik dalam hidup saya malah bertempat di Jeddah, tapi Tehran ini ‘cinta pertama’ hehehehe. Hanya ingin berbagi soal salah satu kota tercantik di dunia ini. Pesonanya yang nyaris tenggelam dengan maraknya pertentangan yang menyoroti paham Syiahnya.

Padahal kalau mau jujur, dalam hati kurang suka dengan suasana Jeddah yang sangat kental kapitalisnya. Kelebihannya yang hanya bisa dinikmati secara maksimal oleh mereka yang memiliki materi lebih.

Makanya, selalu ada dua sisi tentang Negeri Saudi yang mampir ke telinga kita.

Jangan bingung, begitulah gemerlapnya Saudi, yang sering dianggap perwakilan mayoritas Sunni. Di satu sisi membuat banyak hal terlihat indah. Di saat yang sama, menggoreskan sakit hati yang tidak sedikit bagi beberapa pendatang yang kurang beruntung :(.

It doesn’t feel right. Terutama bagi saya, yang pernah dimanjakan oleh indahnya kehidupan di ibukota Persia, penganut paham Syiah paling populer di dunia. Pernah menjadi bagian dari ‘beberapa hal tidak menyenangkan’ yang menjadi fakta-fakta dari kota Jeddah. Jeddah, kota terbesar ke-2 di Saudi, yang sering dijadikan kiblat kaum Sunni.

Kalau saya pribadi, lebih suka menyoroti ketidaksukaan saya pada kaum ‘kapitalis’. Tidak sreg dengan ‘kapitalisme’. Sebuah paham yang mengajarkan bahwa uang adalah segala-galanya. Bahwa harga diri kita adalah apa yang kita pakai. Yang menjurus pada tampil mentereng adalah kewajiban untuk mendapatkan penghormatan dari orang lain. Dalam  memilih alat penunjang hidup, kita mulai menafikan fungsi dan kenyamanan. Merek dan gengsi lebih dipertimbangkan.

Kedengarannya sepele. Padahal semua penghargaan yang terlampau tinggi pada MATERI ini adalah dasar dari begitu banyak bencana yang telah (dan mungkin akan) menimpa kita semua.

Jangan lupa sambangi tulisan-tulisan saya tentang Kota Jeddah  juga ya hehehe ;).

***

Transportasi subway di Tehran Iran

Tehran urban and suburban railway (metro)

Kemaren pas mau beli oleh-oleh , ternyata Mas Syahrul (mahasiswa asal  Indonesia yang kuliah di Tehran, yang baek banget ama kita :D) enggak bisa nganterin karena saudaranya masuk RS.

Waktu baru datang banget dari bandara, Mas Syahrul ini yang nemenin suami jemput gw dan Abil. Ngangkutin barang-barang segala buat dibawa ke apartemen di lantai atas. Makasih banyak loh Mas Syahrul ^_^.

Ini pun udah janjian mau ditemenin beli oleh oleh. Mau dikasi tau tempatnya di mana aja sambil nemenin buat nawar-nawar. Mas Syahrul bisa bahasa Farsi yang lumayan.

Karena berhalangan, ya sudah, beli sendiri saja. Meraba-raba tempatnya kira-kira di mana.

Tadinya mau naik darbas (taksi) ke tempat / toko-toko penjual souvenir bersangkutan. Karena enggak tahu jalan dan alamat lengkapnya jadilah kita naik Metro!

Metro? Metromini? hehehe. Saya juga tadinya menyangka kayak bis gitu. Sempet ogah-ogahan. Tapi suami nerangin kalau metro itu kaya MRT di singapura, subway gitu lah. Waaahhh… malah keluar norak nya dan jadi semangat Hahaha.

Tadinya tidak berharap banyak. Kirain subway-nya enggak sebagus dan sekeren yang di singapura. Ternyata… enggak kalah lho! Bersih, keren dan enggak rame-rame banget. Jadi nyaman. Dan jangan coba-coba bandingin ama kereta di jakarta yak :P. Hehe.

Sayang disitu enggak boleh foto-foto dan saya gengsi berat dunk buat difoto sembunyi-sembunyi sama suami. Enggak maksimal nanti senyumnya hehehehehe…. Jadilah cerita Metro ini lewat postingan ini sajah :).

Cara beli karcis mirip di singapura, cara masuk nya juga. Tapi di sini, beli karcisnya ada yang one way saja. Kalau di singapura, belinya bisa paketan dan nanti ngurangin sendiri tergantung tujuan kita, bener enggak, sih? Agak lupa juga :P. Ke Singapura tahun 2007 hihihi.

Tempatnya bersih, nyaman dan tiap pemberhentian juga dikasih tahu nama stasiunnya. Enggak terlalu berdesak-desakan.

Oiya, disini ada gerbong khusus perempuan. Dan bener-bener tertib orang-orangnya. Jadi, jangan harap ketemu laki-laki di gerbong2 khusus ini.

Gimana kalau yang pergi dengan suami dan anak-anak? Masa pisah-pisah? Nah, selain gerbong khusus perempuan, semua orang bebas naik. Jadi saya Dan suami plus si Abil naiknya ya gerbong umum itu.

Jadi gerbong terbagi 2 : gerbong khusus perempuan dan gerbang umum.

Tapi, kalau di Singapura jalurnya kayanya dah lumayan lengkap. Jadi hampir semua tempat sudah bisa dijangkau via MRT. Di Iran, masih terbatas banget.

Jangan lupa juga, Iran kan wilayahnya lebih luas ketimbang Singapura. Jadi dengan jalur segini saja mungkin jangkauannya sudah lebih luas daripada di Singapura.

Pas menunggu sempat lihat-lihatan dengan beberapa perempuan Iran yang juga menunggu metro. Kayaknya mereka heran melihat gw berdirinya kok jauh dari suami. Soalnya gw awalnya mengira perempuan HARUS masuk gerbong perempuan.

Suami juga gak gitu paham. Jadi awalnya kami rencananya mau misah. Suami dan Abil naik gerbong umum itu. Ya terus diterangin kalau misalnya pergi sekeluarga, perempuan boleh gabung suami/mahramnya di gerbong umum.

Oalah, ternyata kek gitu. Akhirnya kami bertiga naik di gerbang umum.

Saya menikmati banget bepergian dengan Metro di Tehran ini, sambil berkhayal kapan kah kiranya di Jakarta bisa menikmati fasilitas angkutan umum seperti ini? :). Nanti pasti bisa! Amin ^_^.

Tiba di tujuan kira-kira hampir setengah jam. Di dalam metro kebetulan juga tidak terlalu ramai. Jadi enak-enak ajah gak dempet-dempetan banget.

Pengalaman Pilpres di KBRI Iran Alias di Negeri Orang …

…masa nyontreng di negeri kura kura? Hehehe.

Jadi sejak awal Juni hengkang ke Teheran menyusul suami yang mulai kerja di sini sejak Maret tahun ini. Setelah berkali-kali interview kerja di berbagai lowongan luar negeri, akhirnya tembus juga hehehe.

Memang cita-cita suami nih mau kerja di negeri orang. Mau mencoba merantau. Cari pengalaman dan tentunya, cari duit! Hahahaha.

Enggak nyangka juga nyangkutnya di Teheran, Iran. Negeri Para Mullah yang belum banyak diketahui seluk beluknya di Indonesia. Mari dinikmati saja.

Kami tinggal di apartemen di Vanak Street. Sudah disediain oleh agen. Apartemennya gede dan bagus. Kamar ada 3 tapi yang kepakai cuma satu. Daerahnya lumayan tengah kota. Gampang mau ke mana-mana.

Banyak taman gede sekitaran rumah bisa jalan kaki saja. Bisa jajan-jajan sana sini jugak.

Pengantarnya panjang bener hihihi, sekarang mau bahas soal Pilpresnya lagi.

Kayanya dulu waktu masih di Jakarta, ritual nyontreng engga segitu gitunya. Di sini gw tunggu tunggu dan semangat 45 pengen nyontreng! loh?

Selain karena merasa wajib ikut menentukan nasib bangsa *tsaaah*, tentunya ingin makan makanan Indonesia hehehe. Sudah tradisi kalau ada acara kenegaraan begini, KBRI pasti ruameeee dan heboh :D. Bisa ketemu banyak orang Indoensia juga.

Karena di Iran ini termasuk negara yang jarang dijadikan tempat merantau bagi orang Indonesia. Dikit banget orang Indonesianya. Pelajar gak banyak. Tenaga kerja formal juga dikiiiiiit. Tenaga kerja informal apalagi.

Yang seru, katanya di sini ada komunitas orang Indonesia yang datang untuk melatih bulu tangkis di Iran. Ada pelatih dan atlet buat teman tanding gitu. Seru juga ya hehehe.

Komunitas lain adalah komunitas perempuan Indonesia yang berjodoh dengan pria asli Iran. Tapi kalau ditotal jumlahnya enggak terlalu  banyak.

Konon kata suami, kalau di KBRI, ada acara, bakal disediain makan makan gitu. Gw pikir makan siang, tapi ternyata dikasih snack ajah.

Tapi snack pun tak mengapa ^_^. Segitu aja sudah hepiiiii. Dapet lumpia, bakpao, dan roti keju… slrrupppp… tambahan brownies coklat buatan pak Syahrul :). Senangnyaaaaa.

Selama di sini mana pernah makan masakan Indonesia. Skill memasak masih pas-pasan jadi memasak seada-adanya.

Selain itu jadi ketemu sesama orang Indonesia yang terdampar di Tehran, dan tentunya Abil bisa ikutan maen maen ama para krucil yang lain :D…

Wakil dubes di Iran ini usianya hampir seumuran gw. Anak-anaknya juga hampir seumur jadinya. Ada Teteh Fitri (istrinya Pak Fahmi Sarosa) dan Ayuk Rini (wong Palembang nih, istrinya Pak Daddy). Anak sulung mereka tua-an berapa bulan doang dari si Abil.

Selain Teh Fitri dan Ayuk Rini juga ada Mbak Luki. Orangnya ramah banget semuanya. Jadi betah tinggal di sini ya karena kenal sama mereka juga hehehe.

Duh sayang banget enggak ada foto-foto pas di KBRI itu.

Adanya foto berdua Abil pas lagi main di apartemen :P.

Acaranya Pilpresnya sendiri bisa dibilang lancar lah ya. Dapat giliran nyoblos satu persatu. Dibikinin semacam bilik kecil buat nyoblos. Ada 2 atau 3 kalau gak salah. Terus ganti-gantian masuk bilik.

Hasil pemilihan dikumpulin ke panitia terus dicek oleh panitia. Berlangsung aman damai walo pilihan beda-beda. Kayaknya malah gak dibahas sama sekali. Setelah nyoblos sibuk makan-makan dan ngobrol rame-rame hehehe.