CRUELLA : “Bold, Brilliant, Born Bad, And A Little Mad”

Setelah Maleficent, Disney sepertinya masih terus me”manusia”kan tokoh-tokoh jahat (the villain) dalam film-film hitsnya. Yang baru saja lewat : CRUELLA, dari film ‘101 Dalmatians’.

Sebenarnya, awal dibuat dulu, tokoh-tokoh antagonis semacam Maleficent dan Cruella ini perannya sekadar buat pemantik cerita saja. Gak ada latar belakangnya. Khas film Disney jadul, si baik vs si jahat. Kenapa jahat? Ya emang jahat aja hahahaha.

Tapi Disney pun berusaha mengikuti perkembangan zaman. Berusaha menawarkan sesuatu yang baru. Misalnya saja, menghadirkan latar belakang tokoh-tokoh berperangai buruk macam Maleficent dan Cruella tadi.

Mudah-mudahan disusul dengan Ursula (Little Mermaid) dan si Evil Queen (Snow White). Paling saya nanti juga, si Ibu Tiri -nya Kak Cinderella hahahaha. Jangan tanggung-tanggung si Drunella dan Barbetta (sodara-sodara tiri nan ngeselin sekalian dah dibikinin pilem atu-atu :p).

Biar kisah-kisah Disney bisa terus mendapat tempat di era sekarang-sekarang ini ;).

Baca Juga : “Cinderella, Feminisme, dan Royal Wedding”

Mungkin juga daripada bikin cerita-cerita baru, mending ngembangin cerita yang sudah ada saja. Bosan juga kali bolak balik remake Cinderella dkk, jadi mending bikin film baru sekalian tapi pemeran utamanya yang “digeser”.

Film Maleficent buat saya cukup lumayan. Tapi CRUELLA … baguuuussss huhuhu. Pemilihan Emma Stone sebagai bintang utamanya super pas (y). Gak kebayang deh siapa lagi yang lebih cocok meranin si Cruella ini.

Agak bias nih, secara saya fansnya Emma Stone banget hahahaha. Ini kayaknya sudah film ketiga yang dibintangi Emma Stone yang saya review di blog ini :p.

Baca Juga : “La La Land : A Man We Need vs A Man We Love?”

Seperti Maleficent, kisah Cruella ini settingnya di masa lalu. Sebelum dese menjadi tokoh jahat di ‘101 Dalmatians’.

Namanya Estella. Dibesarkan oleh seorang ibu bernama Katherine. Katherine meninggal saat Estella masih berusia 12. Estella merasa bersalah, mengira dirinya merupakan penyebab meninggalnya sang ibu.

Estella pindah sendirian ke London dan kenalan dengan Jasper dan Horace, anak-anak jalanan yang belakangan menjadi sahabat, roommate, dan mereka bertiga kompak menjadi pencuri kecil-kecilan.

Hingga akhirnya Estella keterima bekerja di sebuah rumah mode. Cita-citanya menjadi desainer kandas karena ternyata Estella hanya diberi pekerjaan sebagai cleaning service.

Di suatu malam, Estella yang mabuk, mengubah dekorasi di etalase kaca fashion store tempatnya bekerja. Dari situlah, Estella bertemu Baroness van Hellman, sosialita super high-class yang juga pemilik butik ternama nan mewah. Baroness menawari Estella pekerjaan di butiknya.

Salah satu ciri khas Baroness adalah 3 ekor anjing dalmatian kesayangannya yang ngikut ke mana-mana. Estella punya pengalaman buruk dengan anjing dalmatian di masa kecilnya.

Ditawarin pekerjaan oleh pengusaha dan desainer papan atas, Estella hepi banget. Tapi suatu hari di ruangan pribadi si Baroness, Estella melihat suatu benda yang sangat dikenalinya. Benda apakah itu? Jeng, jeeengggg, nonton sendiri aaaaahhhhh :p.

Dari sinilah cerita mengalir lebih dinamis. Perubahan karakter Estella yang rada caur menjadi lebih fierce dan rada ‘sinting’. Dalam karakter alter-ego nya inilah, Estella mengubah nama menjadi Cruella. Kalok untuk orang Indonesia, panggilannya mah tetep Ella yak, hahaha.

Pertanyaan penting kalau mereka ulang plot ‘101 Dalmatians’, bener gak sih Cruella ini benci banget dengan anjing jenis ini? Ya jawabannya ada di film. Yok, nonton, nontoooon.

Pilemnya asyik banget sih. Adegan, “Do you have a light?” itu aih, super! Bener-bener BOOOOMM gituh rasanya. Kereeeeennn ;).

Walo daku ini penggemar barang-barang preloved garis keras (hahaha) dan anaknya gak fashionable secara penampilan, tapi demen nonton film-film yang ada nuansa ala-ala Haute Couture begini :D.

Kakak saya memang ada yang perancang busana beneran lohhhh hehehe. Ini salah satu foto saya dengan baju tradisional rancangan kakak yang sudah dimodifikasi sana sini hehehe.

Baca Juga : “Baju Bodo Modern ala DadaGaya Collection”

baju bodo modern by dadagaya collection

Yah memang, manusia itu gak deh yang dilahirkan jahat dari sononya. Eh, ada deng! Kalo gak salah di pelajaran Biologi kelas 3 diterangkan soal kelainan genetik. Yang kelebihan gen Y itu loh. Memang cenderung kriminal karena bawaan genetik.

Maksudnya manusia biasa yang secara genetik tergolong “normal”. Pada umumnya jahatnya itu ya karena hasil didikan atau lingkungan. Ada pengaruh faktor eksternal.

Anak-anak jaman sekarang juga mungkin sudah lebih kreatif ya cara berpikirnya. Kita dulu rasanya kalok liat tokoh jahat ya udah udah, dia jahat gitu, kenapa gimananya ya emang kite pikirin ye kaaaannn hahahaha.

Gak papa sih, jadi menarik menurut saya. Dasar emang penggemar Disney hahahaha. Maleficent dan Cruella sama-sama punya gaung “girl-power” yang membahana ;).

Baca Juga : “…And We’ll Never be Royals”

8 out of 10 kalok menurut sayah ;). Emma Stone juara! <3, pas banget dengan karakter “Bold, Brilliant, Born Bad, and A Little Mad”.

Filmnya ada di Hotstar. Selamat menonton! ^_^

[Netflix] LUPIN

Masih inget final Piala Eropa tim Inggris vs Italia di final? Ramenya sahut-sahutan pendukung kedua tim. Hingga akhirnya Inggris kalah mengenaskan, via adu penalti!

Adu penalti tim Inggris gagal berturut-turut di 3 penendang terakhir. 3 eksekutor ini sama-sama memiliki darah Afrika. Kegagalan tersebut berbuah kekalahan Inggris yang sudah memimpi-mimpikan gelar ini sejak lama.

Baca Juga : “La Liga, Real Madrid, dan di Balik Gemerlapnya Dunia Selebriti Sepakbola”

Rame banget komen-komen rasis berhamburan di media sosial terhadap pemain di timnas Inggris yang berasal dari ras Afrika :(. Heran dah, padahal mereka juga yang ikut berjuang agar Inggris bisa tembus final pertama kalinya.

Diskriminasi warna kulit memang peer panjang di belahan dunia mana pun. Enggak di US, di Eropa, bahkan Timur Tengah, diskriminasi berdasar warna kulit masih terjadi, nyata di hadapan mata :(.

Serial LUPIN, dengan tokoh utama, Assene Diop (diperankan oleh Omar Sy , aktor Perancis, anak dari imigran asal Afrika Barat), juga mengangkat isu rasial di Eropa.

review lupin netflix

Ini bukan Professor Lupin dari serial Harry Potter loh ya hahahaha. I know, I know. Para Potter-head pasti sempet kecele dengan nama serial ini :p. Daku pun samaaaaaa *tutupMuka*.

Khas serial Netflix, kita dibawa menjelajahi cerita via alur maju mundur. Flashback dikit-dikit biar penasaran hehehe. Gebrakan scene awal mengenai pencurian berlian yang dimandori oleh Assene ternyata punya twist spektakuler.

Tidak hanya itu, latar belakang pencurian pun ternyata bukan nyari duit semata. Ada alasan sentimentil yang terkuak sedikit demi sedikit.

Tokoh Assene dalam film berbahasa Perancis (tenaaaangg, ada subtitle bahasa Inggrisnya kok hehehe, ada substitle bahasa Indonesia juga sih harusnya, monggo dicek), mengadopsi “gaya” Arsene Lupin, tokoh kharismatik dalam komik Perancis yang populer.

Serial Lupin Netflix review

Kelihaian Assene menghadapi masalah, mencari jalan untuk mendapatkan informasi yang diinginkan, bener-bener bikin jantungan! Hahaha. Makanya auto-binge banget dah nonton serial Lupin, nih :D.

Tapi lama-lama kita jadi lebih rileks karena gimana ya, adaaaa aja cara Assene yang tak terduga. Makanya, tetep penasaran dan menanti-nanti kejutan apalagi yang akan muncul.

Kecuali mungkin pas bagian wawancara LIVE di stasiun televisi itu huhuhu. Duh, I didn’t see that coming :(. Apalagi scene setelahnya, really broke my heart :'(.

Soal kerapuhan institusi kepolisian juga dibahas. Ternyata tidak cuma di Negeri Berflower Plus Enak Dua hehehe. Ini menjadi problem di banyak wilayah lain di dunia.

Tidak main-main gurita kekuasaan mereka yang punya kedudukan kuat. Sampai-sampai pihak yang seharusnya menjadi penyebar informasi juga bisa “terjerat”.

Bukan persoalan karakter individu. Karena memang seringnya berat melawan SISTEM. Misalnya, kita nih pas baru masuk sebuah institusi punya idealisme dan integritas yang kokoh. Namun bisa tergerus dengan mudah saat harus melawan arus yang terlalu kuat.

It happens everywhere. Termasuk pada tokoh Gabriel Dumont, si petinggi kepolisian setempat yang bersinggungan dengan kasus besar yang berhubungan dengan Assene.

Banyak twist, deg-degan juga, tapi kisahnya menyenangkan, kok. Jadi cemas-cemas gemas gitu lah hahahaha. Tidak melulu soal yang serius. Juga ada tentang Claire, mantan istri Assene, Raoul (anak Assene), dan Benjamin, sahabat Assene dari jaman sekolahan yang masih setia hingga kini.

Kehadiran Guedira juga ikut mewarnai serunya petualangan Lupin ehhh… Assene :D.

Gimana ceritanya si Assene Diop yang anak keturunan ras Afrika di Perancis bisa punya kecerdasan selevel Lupin dst dst? Nonton sendiri dooooonnngg :D.

Sebenernya nonton LUPIN ini sebelum nonton Clickbait, loh. Dan ter binge binge jugak hehehe. Untunglah LUPIN ini pas weekend nontonnya.

Baca Juga : “[Netflix] Serial Clickbait”

LUPIN ini original series dari Netflix. Makin ke sini memang makin “wah” ya serial-serial keluaran Netflix. Ada sih yang B aja. Tapi yang bagus-bagus makin banyak.

Duh peer masih banyak nih hahahaha. Serial Sex Education Season 3 sudah 2 minggu yang lalu udah tayang. Masih stuck di episode 3 huhuhu. Pengin binge apa daya waktu memang gak ada *tsaaaahhh, sibuk sekaleee*.

Baca Juga : “[Netflix] Sex Life : Alternatif Baru dalam Kehidupan Pernikahan?”

Serial LUPIN ini masih akan ada kelanjutannya. Mari kita tunggu sama-sama. Selamat menonton! 😉

[Netflix] CLICKBAIT

Manage your loneliness! –> salah satu pesan penting dalam serial CLICKBAIT ini.

Walah, bisa seserius ini membahas soal manajemen kesendirian, mengatasi kesepian? Indeed!

Dunia digital, kehadiran internet, dilengkapi dengan aneka rupa media sosial yang mudah dijangkau kalangan mana saja, sangat memudahkan kita untuk mengisi waktu luang. Apalagi kalok bosan, lagi sendiri.

Di era sebelum hidup didominasi yang onlen-onlen, bosen mah paling ngisi TTS, maen tetris (hahaha), nonton tipi, ato ke luar ke mal jalan-jalan, dst dst. No harm’s done.

Sekarang? Beuuuhh, sekrol-sekrol newsfeed IG, FB, Twitter aja malah bisa bikin lupa waktu. Jadi ikut ngegosip, punya tabungan bahan rumpi yang banyak (hahaha), dan sedihnya, tanpa sadar ikut menjudge, syukur-syukur gak ikut komen (hahahaha *lagi*).

Baca Juga : “[Netflix] The Social Dilemma : Dunia dalam Media Sosial”

Dunia kita terpampang lebar antar benua. Gak perlu lagi beli tabloid ini itu, majalah luar yang mahal-mahal, kehidupan artis nun jauh di sana tersaji lengkap via story keseharian di IG. Bayar kuota mah keciiiilllll dibanding beli-beli aneka rupa media cetak ye kaaaan :p.

Kalok kreatif dikit, isengnya bisa lebih serius nan fatal … demikian pula konsekuensinya!

Suka nonton Black Mirror? Nah, Clickbait ini bisa dibilang “versi panjang”nya Black Mirror. Jika Black Mirror banyak mengandung satir dan rasanya “agak jauh dari dunia nyata” maka Clickbait adalah versi “real life”nya.

Original Netflix versi thriller yang sangat memukau. Dengan ending yang bikin terhenyak. Twist yang luar biasa pokoknya dah huhuhu.

Baca Juga : “[Netflix] : Virgin River”

Cerita didominasi fokus pada anggota-anggota keluarga Brewer.

Hari itu, Oakland dikejutkan oleh viralnya sebuah video tentang seorang laki-laki bernama Nick Brewer. Sebuah video “palsu” yang judulnya memang “CLICKBAIT” banget.

Menghilangnya Nick dan munculnya video viral tadi menjadi fokus utama dari serial ini.

Serialnya kurang dari 10 episode. Yang menarik, di tiap episode penonton tidak hanya fokus kepada isu utama menghilangnya Nick tapi berbagai persoalan sehari-hari yang sangat related di dunia nyata.

Kita dibawa berkeliling melihat sudut pandang The Sister – The Detective – The Wife – The Reporter – The Brother – The Son hingga akhirnya nyangkut di episode terakhir jeng-jeeeennngg … “The Answer”.

The Answer ini menyadarkan kita banget betapa media sosial ini bisa menghubungkan siapa saja. I mean, SIAPA SAJA, dengan cara yang sangat tidak terduga.

Belum lagi perkara CLICKBAIT yang sangat sering dipraktikkan di media-media online -_-.

Salah satu persoalan nyata yang menarik :

Ketika menginterogasi Sophie Brewer (istri Nick), polisi menghardik, “Jika pernikahanmu bahagia, kok situ selingkuh?”

Ouch! Pak polisi dan beserta (mungkin) jutaan manusia di dunia banyak yang menganggap begini. Padahal sadarilah, perselingkuhan tidak selalu hadir dalam pernikahan yang tidak baik-baik saja. There’s so much into that.

Baca Juga : “Can’t Help Falling in Love (Perselingkuhan dalam Pernikahan, WHY?”

Kemudahan akses yang disediakan oleh internet untuk menjangkau siapa pun salah satu yang membuat potensi perselingkuhan makin besar? Bisa jadiiiiii hehehehe.

Tentang Pak Detektif ganteng (uhuy!) yang kebelet pengin promosi tapi kadang dihantui oleh status minoritasnya. Padahal sih, hal-hal seperti ini kadang stereotip yang terlanjur kita telan. Kenyataannya?Ternyata gak ada hubungannya.

CLICKBAIT (L to R) PHOENIX RAEI as ROSHAN AMIR in CLICKBAIT Cr. BEN KING/NETFLIX © 2021

Let’s work harder on this. Manage our fear. All of us.

Baca Juga : “[Netflix] : Serial Shtisel : Keseharian Keluarga Ultra Orthodoks Yahudi”

Intinya serial ini menyoroti pengaruh besar dunia digital/internet/media sosial dalam kehidupan kita sehari-hari.

Fakta bahwa manusia tidak ada yang luput dari kelemahan sih bukan hal baru. Tapi benarlah kalau era digital makin memungkinkan sisi-sisi yang dikira akan tertutup rapat itu bisa terbuka dengan jelas.

Lihat saja kalo ada isu, gilak dah, netijen secepat kilat bahu membahu mencari fakta, mengorek konten media sosial bersangkutan sampai satu dekade sebelumnya. Warbayasak ini hahahaha.

Ngeri-ngeri sedap, ya. Berasa gak punya privasi huhuhu. Mungkin ada baiknya kita menyadari manfaatkanlah medsos (including whatsapp!) untuk hal-hal yang sebelum ada medsos memang ditujukan untuk public. Other than that, just keep it with ourself.

Duh, ngeri itu soal metadata. Itu beneran sih. Tapi berkat metadata pulak kejahatan ini terbongkar. Halah, halah, galau abis 😅🙏😟.

Era digital memang memberikan begitu banyak pilihan untuk melarikan diri dari dunia nyata. Hal-hal yang tadinya cuma iseng kok ya bisa menelan nyawa.

Serial ini to the point menegaskan betapa pentingnya menyadari bahwa jangan dikira keisengan di dunia maya hanya berakhir begitu saja.

Banyak twist sana sini. Instead of kesel salah nebak mulu, tiap episodenya sungguh tidak mungkin dilewatkan.

Asal tau saja, karena takut binge, setelah episode ke-2 saya langsung loncat ke episode terakhir biar tau endingnya. Laaahh, setelah tahu malah makin penasaran dan balik lagi ke episode 3, hahahaha.

9 out of 10. Simply because, hingga akhir cerita, saya gak nemu jawaban yang pas, WHY HIM? WHY HIM? WHY HIM? WHY HER? WHY HER? :(. Him-him dan her-her mana saja yang dimaksud, monggo langsung dicekidot sendiri di Netflix, yes? :p

Atau memang hidup bisa serandom itu, ya. Membuat kita makin desperate jadinya. Betapa kerandoman ini bisa menimpa siapa saja yang tidak hati-hati :(. Gak boleeeehhh curhat sembarangan, camkan ituh!

Ah ya, gak bisa dapat perfect 10 juga juga akting pemeran Pia yang terlalu lebay hahahaha.

Selamat menonton! 😉

[Netflix] Serial Shtisel

Waktu scene soal “haram”nya televisi, saya sempat membatin, “Ini pilem tentang Yahudi apa Salafi neh?” Hahahahha.

Baru saja kemarin ada kerabat yang maen ke rumah dan menghabiskan waktu lebih banyak menonton televisi karena di rumahnya enggak ada TV karena ada kerabat beliau yang menganut paham salafi hehehe.

Shtisel, sebuah keluarga Ultra-Orthodoks Yahudi yang tinggal di sebuah wilayah “ekslusif” di Yerussalem.

Adalah Shulem Shtisel, yang baru saja menduda, seorang guru di sebuah Cheder (sekolah privat berbasis agama Yahudi, semacam madrasah gitu ya kalau dalam Islam), tinggal berdua bersama Akiva Shtisel (anak bungsunya).

Shulem Shtisel memiliki banyak anak. Saya aja gak ngeh sebenernya ada berapa hahahaha. Kayaknya ada 6 atau 7, cmiiw.

Sebenernya ada 2 serial tentang keluarga Yahudi yang direkomendasikan. Satu lagi, Unorthodox. Tapi serial Unorthodox ini terlalu condong ke satu sisi. Banyak yang komplen jadinya seperti hate-speech ke komunitas Ultra-Orthodoks Jewish.

Iya sih, saya juga cuma nonton 2 episode terus berhenti. Kurang adil menyoroti satu komunitas tertentu. Wajar saja karena Unorthodox ini diangkat dari kisah nyata seorang perempuan Orthodox yang pengin hengkang dari komunitasnya.

Sementara Shtisel bener-bener fokus kepada keseharian keluarga Shtisel.

Pada umumnya komunitas Ultra-Orthodoks tinggal bersama di area tertentu. Mereka termasuk sangat patuh kepada aturan-aturan dalam ajaran Yahudi versi Taurat yang mereka yakini.

Tapi saya juga baru tahu kalau Yahudi tidak mengharamkan alkohol. Boleh diminum dalam batas tertentu. Kalau kecanduan ya haram jugak hehehe.

Kebiasaan perempuannya yang pakai wig sempet bikin heran hehehe. Ternyata, perempuan Yahudi yang sudah menikah memang tidak boleh menampakkan kulit kepalanya. Jadi pakai wig (rambut palsu) atau topi saja sudah cukup.

Cara berbusana para perempuan yang sudah hidup di era modern juga cukup konservatif. Pada umumnya mengenakan lengan panjang dengan bawahan di bawah lutut. Sangat sopan untuk ukuran umum :).

Penampilan laki-lakinya lebih khas lagi. Dengan jas dan celana hitam, serta kippah (topi khas Yahudi), pinggiran rambut yang dikepang kecil kiri kanan masing-masing satu, jenggot wajib panjang.

Shulem Shtisel adalah karakter yang sangat kuat dalam cerita ini. Seorang saleh yang walau cukup tegas nan konservatif tapi sangat lentur menghadapi anggota keluarganya.

Misalnya saat ibunya yang tinggal di panti jompo memutuskan untuk membeli sebuah televisi.

Televisi termasuk salah satu yang “diharamkan” dalam kepercayaan komunitas ini. Juga hobi Akiva melukis. Hal-hal seperti ini juga terlarang.

Serial ini hampir tidak menyentuh ranah politik tapi ada juga sekilas digambarkan kalau sebenernya mereka rada-rada anti zionis hehehe. Scene dan dialognya haluuuuusss, tapi lumayan to the point soal ini hehehe.

Sebagian besar cerita menyoroti soal masalah sehari-hari. Baik tentang Shulem, Akiva, maupun Giti (anak perempuan Shulem).

Serial ini banyak dipuji karena skenario yang sangat membumi walau ceritanya fokus kepada sebuah komunitas khusus.

Saya rasa serial ini menggambarkan apa yang sebenernya terjadi dalam banyak agama :). Banyak konflik pribadi dalam sebuah komunitas. Dan tidak semua yang saleh dan alim itu karena doktrin semata, tapi memang ada yang meyakininya secara sadar dan utuh. Dan hal itu oke-oke saja ;).

Dalam dua episode awal saja sudah senang dengan pengenalan karakternya.

Ada kisah cinta, ada persoalan rumah tangga dari hal-hal simpel sampai yang berat-berat. Soal pergaulan, soal persaudaraan, dst dst.

Perempuan-perempuan orthodoks tidak melulu digambarkan lemes dan korban misoginisme yang konon ikut diwariskan via ajaran-ajaran agama samawi.

Giti Shtisel misalnya, cerdas dan tegas, walau tergolong “fanatik” dalam beragama. Perempuan juga boleh bekerja seperti biasa walau sudah menikah.

Giti Shtisel dan suami (Lippe Weiss)

Jalan ceritanya asyik banget. Fokus masalah berpindah-pindah dengan rapi antar para karakter. Tokoh-tokohnya merata enggak ada karakter hitam-putih. Konfliknya bukan yang menggebu-gebu tapi masalah sehari-hari yang seharusnya mudah dijumpai di belahan dunia mana pun.

Mereka juga digambarkan seperti umumnya “kalangan beragama yang patuh”. Itu loh, hobi “mengejek” orang lain di luar lingkungan mereka. Ada istilah khususnya segala hahahaha. Makanya, semua “agama standar” ya pasti gitu dah, mereka yang di “luar garis” = kafir kabeh :p.

Uniknya, dalam kepercayaan Yahudi ini, ada semacam garis batas yang terlalu kentara. Kalau misalnya sudah sekuler ya udah sekuler 100% dan tidak akan sedikit pun melakukan ritual apa apa.

Kalau dalam Islam, yang pakai rok mini dan rajin shalat kan banyak ya hehehehe. Enggak akan dianggap non-Islam.

Yahudi ini sepertinya ALL or NOTHING. Dan tidak semua orang di Israel itu relijius. Kalangan relijiusnya malah tetap tinggal berkelompok di wilayah tertentu. Terlihat tidak berbaur. Ada wilayahnya sendiri-sendiri.

Menyenangkan banget serialnya. Nonton dicicil-cicil. Mirip sama Virgin River, enggak perlu sampai ngantuk-ngantuk dan maraton. Bisa dinikmati secara perlahan tapi dijamin enggak bosen ;).

Ikatan batin antar anggota keluarga diantara sekian banyak konflik yang muncul tergambar dengan hangat, cukup bikin haru, tapi gak ada cengeng-cengengnya.

Rabbi Shulem Shtisel, alih-alih ditampilkan sebagai seorang alim yang dikit-dikit bawa ayat, banyak digambarkan sebagai laki-laki yang susah move on dari bayangan istrinya dan sebagai orang yang cukup “licin” dan kadang culas jugak dalam mencari solusi masalah hehehe.

Film tuh seharusnya bisa menjadi penengah, ya. Menggambarkan secara utuh, jangan menyorot satu sisi saja. Apa mungkin suatu hari dibuat film yang sama tentang komunitas Taliban?

O ya, bahasa sehari-hari mereka semacam gabungan bahasa Turki dan bahasa Arab. Sementara bahasa Farsi (Iran) juga ya semacam ini-ini jugak. Ya memang aslinya deket-deket aja tuh rumpunnya. Betapa seharusnya perbedaan itu memperkaya ya bukan mengkafir-kafirkan wwwoooiiii hehehehe.

As it’s said, walau tentu enggak bisa ditelen bulet-bulet, “If you understand everything, you’ll forgive everything.”

Enggak sabar menunggu Season 4 :D.

8 out of 10.

Selamat menonton ^_^.

Film Bagus di Netflix untuk Pencinta Superheroes : Serial The Flash dan Supergirl

Kedua serial ini bukan original series dari Netflix, yak :D. Tapi bisa dilihat via Netflix juga. Lumayan ini tontonan buat keluarga. Hati-hati usianya 13+ hehehe. Buat ortu + abege lah ya.

Kalau suami dan anak-anak lumayan suka nonton serial ala-ala Superhero begini. Segala Marvels dan DC Comics kayaknya udah hampir khatam. Yang baru-baru ini ada LOKI dan WandaVision. Bagus-bagus, sih (y).

Saya sendiri ya ngikutin secukupnya. Dibilang doyan ya enggak juga. Dibilang gak suka ya suka juga kadang-kadang hehe. Kalau makan malam bareng pasti pada suka nyalain TV nonton serial beginian, ya udah ikut nonton saja.

Serial THE FLASH

Serial The Flash aslinya mengudara di channel The DW. The Flash diangkat dari buku cerita keluaran DC Comics. Beda “marga” dengan Marvels, yes? :p

So far, untuk serial ini, ada 6 season yang available di Netflix. Serial ini ceritanya cukup seru, banyak loncat-loncatnya, banyak flashback, super dinamis lah pokoknya.

Di channel asalnya, sudah ada 7 season.

Kayaknya biar hemat gaji pemain (hahahaha), jadi dibikin satu aktor/aktris memerankan beberapa peran sekaligus. Ceritanya sih jadi doppelganger dari “dimensi lain”. Biar ceritanya tetep aktif, dimensi lainnya ini dibikin banyak hihihi :p.

Misalnya tokoh Harrison Wells yang paling banyak doppelganger dengan berbagai nama karakter dan sifat. Bahkan pemeran utama si Barry Allen juga punya doppelganger, lengkap dengan istri dan temen-temen lainnya yang juga ada doppelgangernya dari berbagai dimensi. Hadeeehhh :D.

Hemat skenario dan gampang ngembangin cerita? :p

Tiap akhir episode selalu ada kejutan. Apalagi akhir season. Panteslah suami ama anak-anak ini dalam sehari nungguin banget sesi makan malam demi bisa maraton serial ini. Mayanlah bisa dapat 3 episode kali tiap malam.

Serial ini juga memanjakan mata dengan hampir 100% pemerannya tuh yang cantik-cantik, ganteng-ganteng, bodi oke-oke, dari berbagai ras :p. Representasi etnisnya sih lumayan diversified. Cuma ya kenapa dah mesti body goals semua :p, sirik tanda tak mampu hahahaha.

Serial ini berpusat pada tokoh The Flash / Barry Allen (Grant Gustin). Dalam kesehariannya, Barry Allen dibantu oleh Team Flash, yang terdiri dari Cisco, Caitlin, dan beberapa karakter lain yang berganti-ganti. Cisco dan Caitlin ini yang bener-bener eksis dari Season 1 sampai 6 serta Harrison Wells dan aneka rupa doppelgangernya.

Dalam perjalanannya memberantas kejahatan bla bla bla *tsaaahhh*, The Flash ngadepin aneka rupa musuh dan ketemu temen-temen baru. Khas cerita ala Superhero lah. Nothing’s new.

Cuma makin ke sini, tokoh-tokoh superhero digambarkan tidak sempurna-sempurna amat, gak seflawless jaman dulu yang kayaknya perfect 10 banget dari berbagai sisi. Tokoh jahatnya juga lebih reasonable. Enggak yang ujug-ujug jahat banget gitu-gitu.

Makanya cukup menarik untuk disimak. Monggo yang doyan genre beginian, ceki-ceki serial ini di Netflix ;).

Serial SUPERGIRL

Supergirl ceritanya sejenis juga. Sama-sama dari DC Comics. Makanya tokoh Supergirl (dengan pemeran yang sama) muncul di salah satu episode The Flash. Demikian pula sebaliknya, The Flash (pemerannya yang tadi juga) nongol di serial Supergirl.

Yang available di Netflix sampai tulisan ini dipublish, season 1 – 5.

Supergirl alurnya mirip banget dengan Superman. Dalam serial ini memang digambarkan si Supergirl / Kara Danvers / Kara Zor-El (diperankan Melissa Benoist) adalah sepupu dari Superman / Clark Kent.

Nanti karakter Superman juga nongol di beberapa episode serial ini.

Kara juga bekerja di perusahaan media terkemuka. Bedanya hanya di kotanya. Kara di National City, kalau Superman kan di Kota Metropolis.

Tokoh menarik lain di Season 1 adalah Cat Grant, yang diperankan secara ciamik oleh Calista Flockhart. Ring a bell? Iyaaaaaa, pemerannya Ally McBeal di serial dengan nama yang sama. Serial favoritku di masa laluuuuuu :D.

Kalau Ally rada-rada caur dan clumsy walau digambarkan cerdas dan ceplas ceplos, tokoh Cat Grant ini adalah pemilik media yang girl-power abis hehehe. Nyinyir, galak, sombong, perfeksionis, tapi yah berintegritas sangat oke sebagai jurnalis.

Kara, mirip Clark, karakternya juga polos-polos penurut gitu. Sama-sama pakai kacamata. Dan kalok mau ganti kostum ya robek kemeja jugak hahahaha.

Kara bekerja sebagai asistennya Cat yang sering dimaki-maki segala macam gitu-gitulah hingga akhirnya diencourage oleh Cat sendiri naik pangkat jadi reporter :D.

Sehari-harinya selain bekerja di media besar, CatCo, Kara ya menyelamatkan kota dari aneka rupa kejahatan #pijetPundakKara hihihihi. Mirip The Flash lah.

Cuma Kara tim-nya bekerja sama dengan DEO, semacam agen rahasia buat nangkep-nangkepin Alien yang jahat yang nyangkut di bumi. Di DEO juga ada Alex Danvers, kakak perempuan Kara dari foster family-nya di bumi.

Kara ini juga ceritanya diselamatkan oleh ibunya dari planet Krypton saat Krypton hancur. Buat nemenin Kal-El / Superman yang juga dikirim ke bumi.

Tapi Kara stuck dalam kapalnya bertahun-tahun sebelum ditemukan oleh keluarga Danvers. Aslinya sih Kara lebih tua daripada Superman. Tapi pas dese ‘nyangkut’ di kapal, umurnya juga stuck.

Begitu dewasa, Kara juga akhirnya memenuhi panggilan jiwa sebagai superhero gitu-gitu lah.

Sama seperti The Flash, serial Supergirl ini juga memanjakan mata dengan pemeran yang kece-kece dan body goals kabeh :p.

Buat penggemar Grey’s Anatomy, pemeran karakter Lexie Grey muncul juga di serial ini sebagai Alex Danvers, kakak “angkat”nya si Supergirl, eh udah diterangin ya tadi.

Pokoknya kedua serial ini lumayanlah buat tontonan santai. Ceritanya gak rumit-rumit amat. Tapi gak terlalu gampang ditebak juga. So-so lah :D.

Saya tidak terlalu ngefans sih sama serial beginian. Nonton karena nemenin suami ama anak aja biar tetep bisa ngikutin kalo mereka ngobrol :p.