(Not So) FUN (Not Really) FACT about #CRAZYRICHASIAN THE MOVIE :
1. Saya terbayang orang-orang di Eropa Barat nonton film ini kira-kira tanggapannya apa ya hihihihi. Secara di Uni Eropa ya hampir semuanya berat sama dijinjing ringan sama dipikul. Apa kira-kira definisi RICH vs POOR di Yurop? Hehehe.
Kite nih ya hemat-hemat beli baju buat anak-anak nunggu diskon terus kecewa pas di toko enggak ada diskon terus mau pulang aja.
Eeeeeeh lewat emak-emak tetangga yang bekerja sebagai tukang bersih-bersih di mal nenteng beberapa baju + rok/celana plus sepatu dan tas menuju kasir #bantingHanger.
Gambar : vox.com
2. Di Amerika Serikat wajar kalau heboh. Karena di sana memang mengenal level super tajir mampus pus pus vs sobat-sobat misqueenku para homeless yang bisa berhari-hari gak makan saking enggak adanya duit.
Homeless pemandangan ‘standar’ di kota-kota besar di Amerika Serikat .
3. Di video-video youtube terkait film ini, pas blusukan ada beberapa komentar orang Afrika yang cukup berkesan. Mereka senang ada film ini biar dunia tahu bahwa ada BANGSA LAIN di dunia ini selain bangsa kulit putih (kaukasian) vs bangsa kulit hitam (negroid). Oh well .
As an baper-asian yang as well as anak Jaksel tentunya rasanya pengin ngasih tahu, “Sis-bro, so that you know kalok pusat peradaban dunia itu ada much more di Asia lhoooooo…” #tiupKuku
4. Orang-orang Malaysia yang ngamuk-ngamuk karena, “Cuyyy, jelas-jelas syuting dan settingnya di Malaysia, napeeeee pakai nama SINGAPURAAAAA…” Tuuuuhhh, ini baru bener. Singapura cucmey lah lawannya Malaysia. Orang Indonesia belom kelasnya mau baper-baper sama Malaysia, yes? #iyahAkuInferiorRealistis
Tapi itu tolong dicatat kalau Pak Mahathir sukak muji-muji Pak Jokowi lhoooo, sobat cebbie mana suaranyaaaaaaa ✌️✌️.
5. Orang-orang Singapura yang sinis kalau katanya gak mungkin ada orang setajir itu di Singapura. Berat kali hidup kelian di Singapo ya, sampai gak ada waktu kepo-kepo in tetangga hahahahaha .
6. Orang-orang non Asian yang komentar, “Waaah, ada juga ya film-film Asia yang temanya bukan kung fu Panda dan teman-teman.” ????
Gambar : psychologytoday.com
7. Another non Asians yang melongo, “Lho orang Asia kirain kismin-kismin? Lah itu banyak yang tinggal di kolong jembatan dan hidup di jalanan kalok kata National Geographic dll.” Oh qu sungguh sedih, karena begitulah memang fakta kita di Asia. Yang tajir melintir ada, yang mesti merangkak setengah mati hanya untuk sekadar makan juga banyaaaaaaaakkkkk .
8. Orang-orang Asia non Tionghoa yang ikutan sensi, “Tolong dah, orang Asia itu macem-macem tauk! Banyak rasnya!” Kecuali orang-orang India yang gak baperan karena film mereka sudah lumayan dikenal di Hollywood hehehe.
Tapi memang nih orang-orang “bule” itu taunya kita orang Asia sama semua. Ada seorang Ibu dari teman anak saya. Bukan orang ASEAN, yang tidak bisa bahasa Inggris. Itu yang anter jemput anak pakai bus nyuruh saya nerjemahin kata-kata dia ke ibu-ibu itu. Lah dikate semua orang Asia ngomongnya cuma satu bahasa.
Sama kayak cerita Mbak Katerina barusan, ada guru yang minta anaknya bantuin terjemahin bahasa Inggris ke teman sekelasnya yang berasal dari Thailand. Ya gimana dah ?????.
9. Penolakan judul “Crazy Rich Asian”. Katanya harus lebih spesific, “Crazy Rich Chinese”, terus nanti ada “Crazy Rich Indian” belum lagi “Crazy Rich Arabian” terus ada Japanese, dan Indonesia.
Tapi terus Indonesia rame lagi. Karena mestinya dibagi lagi “Crazy Rich Javanese” … “Crazy Rich Buginese” dst dst.
Dimana Crazy Rich Javanese harus dibagi lagi Crazy Rich Surabayan, Crazy Rich Semarangan dst dst. Capek, yes? Hahahahaha.
10. Munculnya pepatah bahwa, “Banyak uang belum tentu bahagia. Apalagi kalau tidak ada uang!” ????
11. Anu… saya belum nonton filmnya hahahahaha. Sibuk baca komen-komen di trailer dan nontonin linimasa aja . I’m too old buat kisah-kisah cinta si miskin dan si kaya model begini. Tapi disuruh nonton The Nun juga gak bakal mau sih. Oh Tuhan mohon perbanyak film-film semacam La La Land yang lebih masuk akal walo bikin baper itu. Aamiin.
12. Oiya, kalian mending nonton SEARCHING. Pemain-pemain utamanya juga Asia dengan setting dan gaya penceritaan yang sungguh keren .
Seriiiiiing banget dapat pertanyaan seperti itu dari teman-teman sesama cebbie di jagad maya yang lagi ribut-ributnya jelang 2019 ini.
Anyway, DOES IT MATTER????
Yak, beginilah kondisi sebagian kita yang entah kapan mulainya sering terjebak dengan kubu-kubuan politik. Kalau bukan cebong ya dianggap “kubu sebelah” .
Iqbal Aji Daryono, salah seorang penulis aktif versi media sosial, terutama di Facebook. Memahami Iqbal ini memang agak sukar kalau hanya membaca satu dua tulisannya saja.
“Out of The Lunch Box” ini merupakan buku terbarunya. Berisi kumpulan tulisan-tulisan Iqbal di berbagai media online yang topiknya relatif NON-ALAY dengan topik-topik lumayan serius seputar sosial, politik, dan agama.
Semuanya sudah pernah dia share di wallnya kok. Tapi ternyata buanyak bangeeeet. Saya saja yang rasanya jarang ketinggalan ikut bertempur di status-statusnya (hahaha) merasa belum pernah membaca sebagian tulisannya.
Jangan takut duluan. Topik serius nan bikin pening kepala apa juga kalau Iqbal yang nulis bisa jadi ringan dan mudah dipahami. Kalimat-kalimatnya sederhana dan tidak ribet. One thing about him yang bikin saya kesal itu karena Iqbal orangnya pinter tapi enggak sok pinter. Kesal karena IRI hahahaha.
Seringnya kan kita-kita yang kalangan medioker ini, pinter enggak tapi udah kek paling tahu sedunia *tutupMuka*.
Tetap saja, saya butuh lebih dari seminggu untuk membaca buku ini. BUKAN karena isinya kurang menarik.
Agak-agak gimana gitu ya membaca tulisan-tulisan Iqbal dalam cetakan buku. Selain karena mungkin kita sudah terbiasa membaca langsung di wall FB-nya Iqbal, ternyata jangan-jangan kita lebih menikmati komen-komennya hahaha.
Kalau di medsos, bisa lebih interaktif, komunikasi dari berbagai arah, karena siapa saja dan kapan saja bisa berantem … eh berkomentar . Bisa tuker-tukeran argumen. Bisa langsung mengamuk saat itu juga kalau tidak setuju hahahaha.
Foto : shiramedia.com
Nah, kalau baca buku jadinya gini. Baca satu esai, gemes sendiri tapi bingung mau ngomel ke siapa. Jadi kadang butuh waktu buat misuh-misuh sendiri sebelum lanjut ke esai berikutnya.
Selain itu juga, walau bahasanya santai, kesannya tetap dalam jadi ada waktu buat menghela napas juga padahal kayak diajak becanda aja sama yang nulis .
Nah, terkait dari kubu-kubuan yang saya sebut di awal tadi, mungkin itu yang pengin diluruskan oleh Iqbal. Semacam menawarkan “pilihan ketiga” –> inti dari opini-opininya dalam OOTLB.
Pilihan ketiga ini mungkin semacam perspektif yang beda dari 2 hal yang sudah terlanjur nancep dalam pikiran kita. TIDAK CUMA SOAL CEBONG-CEBONGAN lho ya. Spektrumnya lebih luas ini yang dibahas dalam buku.
Tulisan “Buya Syafii dalam Kepungan Masyarakat Hitam Putih” menjadi tulisan pembuka yang mayan tektok untuk menyindir kalian-kalian yang dikit-dikit “Pasti lo pendukung anu!” atau “Dasar lu hater” dst dst dst. Termasuk gue pastinya hahahaha.
Pilihan ketiga, bisa juga berarti perspektif yang lebih lengkap jadi tidak melulu harus “pro banget-banget” atau “anti abis-abisan”. Iqbal sering berusaha untuk “Gini lhoooo duduk persoalan sebenarnya, yuk kita lihat detailnya sama-sama yuuuuk …”
Tulisan “Membaca Langkah Marketing Anies Baswedan” menjelaskan secara runut dan logis tentang APA yang sebenarnya terjadi. Sesuatu yang ternyata biasa-biasa saja kok ya dalam langkah-langkah politik standar .
Ah ya, gaya bahasa dalam buku tidak dibikin baku, tetap dalam bahasa Fesbuk yang santai penuh haha-hihi. EYD-nya juga entah ke mana ha-ha-ha –> contoh penulisan “hahaha” yang benar .
Opini-opininya oke punya walau menurut saya, beberapa agak terburu-buru ya kesimpulannya. Ada beberapa hal yang masih bisa didiskusikan di tulisan “Lah, Kalian Mau Rekonsiliasi, Apa Mau Perang Lagi?”. Gemes, gemes, gemes, pengin protes! Tapi ini kan mau review yak bukan mau ngajak berantem hahahaha.
Apalagi tulisan-tulisan semacam “Program Darmawisata untuk Aktivis Antirokok” ituuuuu ck ck ck -_-.
Tenang sih, tidak semuanya setegang itu kok isinya. “Empat Percakapan Tentang Topi Sinterklas” itu bikin ngikik polllll . “Cerita Pelipur Lara Untuk Para Haters Malaysia” juga semacam esai ringan yang lumayan rileks .
Total ada 40 esai dalam buku ini.
Iqbal ini terbukti cukup open minded, kok . Tengok aja di wallnya itu tempat berkumpulnya pro rokok dan anti rokok. Ada cebbie level kronis, ada pendukung fanatik toko sebelah. Ada yang jilbab gede ada yang jilbab tapi skinny jeans (hihihi) semuanya bisa diajak becanda sama Iqbal .
Jangan takut bakal membaca opini aneh-aneh. Dirasa aneh-aneh pun ya terus kenapa? Tenang saja, membaca sesuatu yang berbeda dengan keyakinan kita tidak ujug-ujug bikin kita jadi kurang beriman atau semacamnya lah hehehe. It won’t make you less confident as well .
“There is nothing wrong with listening. You can listen to people; you can hear people’s concerns. You can keep an open mind and still be perfectly strong.” Bill de Blasio
Bukunya diterbitkan oleh penerbit Shiramedia. bisa didapatkan dari toko buku Togamas terdekat atau beli online, misalnya saya belinya kemarin dari toko buku online yang ini –> Erin Cipta, Buku, dan Madu.
Jadi, sebenarnya … Iqbal itu cebong apa bukan, nih? Hahahaha, go ask him yourself … –> Iqbal Aji Daryono
“The Oscars are not so white this year” … Begitu kira-kira ungkapan yang menandai usainya “The Oscars 2018 : 90th Academy Awards”, perhelatan akbar tahunan bagi para sineas dunia yang sudah berbulan-bulan lalu tapi baru dibahas sekarang hahaha.
Beberapa nama-nama latin mencuat sebagai pemenang, termasuk sutradara terbaik Guillermo del Toro sepaket dengan film terbaik garapannya, “The Shape of Water”. Not my kind of movie sih, zonk aja gitu pas nonton huhuhu.
Guillermo del Toro (gambar : youtube.com)
Lagu terbaik dimenangkan oleh film COCO, yaaaayyyyyy *tepukTangan*. Walau tidak sedikit penggemar The Greatest Showman, di mana film ini juga masuk nominasi yang sama melalui OST bertajuk “This is Me”, mengamuk via komentar-komentar di Youtube :p.
Di film COCO, pasti sudah terasa sekali ya pesan eksplisit dari film ini mengenai budaya orang Latin.
“Marginalized people deserve to feel like they belong. Representation matters,” kata sutradara film Coco, Lee Unkrich, di akhir pidatonya saat menerima piala kemenangan untuk kategori “Best Animated Feature.”
Tekanan terberat pasca masa kampanye dan kemenangan Trump di Amerika Serikat, dikatakan oleh banyak pihak, dialami oleh The Latinos ini. Para imigran latin yang membanjiri Amerika Serikat yang datang dari berbagai wilayah di Amerika Tengah dan Selatan. Negara Meksiko penyumbang terbesar, mengingat negara ini berbatasan darat langsung dengan wilayah Paman Sam.
Apalagi di negara-negara bagian wilayah-wilayah selatan seperti Texas dan New Mexico. Pengalaman pribadi saya setahun di Texas tempo hari, sangat mudah berpapasan dengan orang Latin di mana-mana ^_^.
Sementara di Florida, sebagian orang-orang latin yang ada di sana berasal dari negara Kuba yang secara lokasi memang cukup dekat dengan Florida walau terpisah oleh perairan Selat Florida.
Titip vlog pas main ke Bayside Market Miami Beach yak, maaf gak nyambung hahaha.
Adapun isu-isu kebencian terhadap kaum muslim dalam kehidupan sehari-hari tidak terlalu terasa, kok. Mungkin karena komunitasnya masih jauh lebih kecil dibanding pendatang dari negara-negara latin. Overall lebih ramai di media daripada kenyataan sehari-harinya. Apalagi media Indonesia hahaha :p. Terlebih lagi di level medsos zzzzz -_-.
TAPI TEKANAN TERHADAP MUSLIM MEMANG ADA lho ya. Hanya intensitasnya BELUM selebay seliweran info dll. Mudah-mudahan jangan sampai meningkat.
Nah, kalau The Latinos ini isunya memang sudah ke mana-mana. Termasuk kekhawatiran terhadap berbagai lapangan kerja yang dibanjiri oleh mereka. Bahkan tidak sedikit pernyataan-pernyataan nyinyir dari pemerintahan baru yang bikin kuping pedas terkait kalangan Latin ini.
Silakan deh ya di-googling sendiri urusan politik dan ekonomi terkait ketegangan dengan orang-orang Latin di USA pasca Pilpres 2016 kemarin. Di tulisan ini kita ngobrol santai saja :D.
Ada beberapa komentar senada di wall Facebook saya waktu saya share sebuah scene dalam film Coco. Katanya, kok mirip banget beberapa kebiasaan orang-orang di beberapa wilayah di Indonesia. Misalnya bawa-bawa bunga ke pemakaman.
Bukan hanya fisik dan bahasa yang membuat orang Latin terlihat sangat berbeda dengan ras Kaukasian yang disebut-sebut “pemilik US”, padahal mah sama-sama pendatang sih ya hihihihi –> cobak sungkem dulu sama orang Indian sana.
Secara umum kehidupan sosial para Latinos ini memang lebih “dekat” dengan orang-orang Asia ketimbang orang-orang berkulit putih/ras Kaukasian yang sebagian besar akarnya berasal dari Eropa Barat. Yang paling nyata hobi ngumpul-ngumpul mereka, persis kek kita, yes? Makin ramai makin seruuuuuuuu ^_^.
Gambar : forbes.com
Pernah sebelahan dengan keluarga Latin waktu jalan-jalan ke Fort Worth Zoo di area water park. Anak kecilnya cuma 2 tapi mereka datang bergerombol. Saya sudah tidak tahu yang mana orang tua dari kedua anak tadi karena ada 2-3 pasang suami istri yang mengiringi. Ada kakek neneknya juga. Tidak ketinggalan 2-3 orang abege tanggung. Ruameeeeeeee hehehe.
Belum lagi pas mengobrol. Rebut-rebutan pengin ngomong. Sayang nih, belajar bahasa Spanyol nya masih level unyu-unyu, kalau dengar mereka ngomong secepat itu, saya mengertinya paling cuma 20% :p.
Secara fisik, bodi cewek-cewek latin itu bikin ngiri deh. Lekukannya benar-benar mantap. Dengan kulit coklat eksotis dan rambut yang rata-rata ikal atau keriting, mantap sensualnya hehehe.
Salah satu tetangga di apartemen saya dulu adalah seorang emak-emak asal Ekuador. Woowww, bodinya cihuy abis dengan usia sudah mencapai 43 tahun dan nomor jinsnya sama dengan saya! Nah ini juga asyiknya sama The Latinos, kalau ngobrol tuh bener-bener Indonesia bangeeettt. Bebas nanya-nanya umur sampai nomor celana! Hahahaha. Percakapan standar ala mereka juga ;).
Secara kasat mata, The Latinos banyak mengisi pekerjaan level informal. Tapi entah nih statistik benerannya gimana. Kalau ke toko-toko, lazim banget penjaganya ya mereka-mereka dkk. Bisa jadi karena ini di Texas, yak. Yang memang pintu gerbang orang-orang Meksiko untuk menembus Amerika Serikat.
Maraknya The Latinos juga sangat menolong lidah Asia kita karena mereka juga makan nasi hihihi. Kalau India dan sekitar rata-rata dominasi menunya kan Biryani dan berbagai nasi berbumbu lainnya. Sementara orang Mexico terbiasa makan nasi putih kayak kita.
Menu-menunya juga kaya bumbu mirip masakan oriental khas Asia pada umumnya. Enggak kayak Eropa yang kontinental, rata-rata ngirit bumbu menuju tawar >_<. Saya suka berbagai varian menu Ayam Alpukatnya ^_^. Taco-taco an juga doyan. Banyak yang jual taco murce di supermarket. Tinggal kita mainkan saja isiannya, yes? ;).
Wilayah latin juga cenderung tergolong wilayah tropis. Sama kayak Indonesia. Jadi hasil alam berupa buah-buahannya banyak yang mirip dengan kita. Kalau di Irlandia, nangis darah nyari mangga (huhuhu), di Texas mah banyaaaaaakkkk. Aneka rupa pisang membanjiri supermarket. Bukan cuma Cavendish tok. Ada sejenis pisang kepok dan pisang raja jugak, entahlah apa namanya di mereka.
Harga-harganya juga relatif murah, mungkin karena impor dari tetangga sebelah langsung :D. Aneka rupa beras juga banyak. Bagus-bagus dengan harga cukup murah. Impor dari Mexico juga mungkin, ya. Tapi di Texas juga tergolong lumayan tropis. Karena banyak pendatang Mexico, bisa jadi pertanian ala Mexico juga sudah banyak di Texas jadi tidak perlu impor. Hidup The Latinos! *elusPerut*.
Enaknyooooo tinggal di Texas hehehe. Pak Bos, assignment lagi duuunnkkk, tapi di Texas yaaaa, gak mao negara bagian yang lain hahahaha :p.
Mereka juga cenderung punya anggota keluarga yang banyak hihihi. Kalau lagi belanja, sering tuh ketemu keluarga Latin yang anaknya bisa 4 atau 5 hahaha. Kehidupan mereka lebih guyub jadi wajar kalau senang punya segabruk anggota keluarga.
Miguel and Family (COCO) Gambar : disney.wikia.com
Sebenarnya pendatang di Texas sudah terasa pembaurannya antar satu sama lain. Di negara-negara bagian lain pun mungkin sama. Mengapa ya, kalau ada kegelisahan ekonomi begini-begini, kita cenderung saling menyalahkan bukannya bekerja sama? The Latinos mungkin sudah sangat banyak yang beranak pinak di berbagai wilayah Amerika Serikat.
Toh Amerika Serikat punya jargon, “Land of freedom”. Negeri Jantung Dunia itu juga dibangun dengan jerih payah banyak pendatang. Yang dari Eropa kan juga itungannya pendatang, yes? Kenapa sekarang berasa Amerika Serikat hanya milik “kaum kulit putih”?
Sebal juga dengan politikus yang kok ya tega-teganya memainkan isu-isu seperti ini untuk meraih kekuasaan? >_<
Padahal sangat wajar jika orang-orang Latin membaur ke wilayah Amerika Serikat. Dan itu sudah berlangsung lamaaaaaaa, di Texas sendiri bahasa Spanyol sudah seperti bahasa ke-2. Kalau ke supermarket, petunjuk nama makanan dll disediakan dalam 2 bahasa : Inggris dan Spanyol.
Petunjuk bahasa Spanyol di Walmart Texas, gambar : alamy.com
Jangan bosan-bosan ya untuk berdoa semoga dilembutkan hati para pemimpin-pemimpin dunia untuk MENJAUH dari isu-isu perpecahan seperti ini hanya demi meraih kekuasaan. Ya, ya, ya, pasti pada skeptis, “Alah, namanya juga politik. Politik itu kotor.” Yadda-yadda-yadda.
Terus saya jadi ingat lirik lagu yang satu ini, “We Shall Overcome” :
We shall overcome
We shall overcome
We shall overcome, some day
Btw, inilah yang membuat film COCO terasa sangat istimewa. Bagaimana para sineas berusaha mengangkat kebudayaan Latin di tengah gencarnya isu-isu rasial terkait mereka dengan cara halus dan memikat. Alur cerita yang tidak cengeng dan tidak membahas isu panas. Hanya kisah keluarga sederhana yang cukup jelas menggambarkan budaya orang-orang Latin secara umum <3.
Representation does matter. Namun, kita bisa menunjukkan eksistensi dengan cara-cara yang lebih terpuji, bukan dengan menyerang balik dengan cemohan atau tindakan negatif lainnya. Bravo COCO dan segenap tim terkait (y).
Baju bodo, baju adat Bugis Makassar yang mulai dikembangkan versi Baju Bodo modern -nya.
Namun, negeri asal Baju Bodo -Sulawesi Selatan-, akhir-akhir ini di-identik-kan dengan segala macam kisah-kisah asmara yang tidak kesampaian.
Entah cerita mantan yang datang bernyanyi yang membuat salah satu mempelai pingsan seketika. Atau mempelai yang berpelukan sambil sesenggukan dengan mantan di pelaminan yang menjadi tontonan orang-orang.
Uang Panaik, sering dikaitkan dengan kandasnya percintaan dua sejoli. Konon, gadis-gadis Bugis-Makassar kalau mau dinikahin “mahar”nya mahal. “Mahar” inilah yang dikenal dengan Uang Panaik tadi. Ada-ada saja.
Mungkin memang iya, tidak sedikit kisah kasih yang terpaksa disudahi karena sejumlah uang yang tak sanggup dibayarkan. Tapi ya tidak segitunya juga kali ah.
Toh di Sumatera Utara juga ada istilah Sinamot. Kira-kira istilah Sinamot ini mirip sekali dengan Uang Panaik. Budaya Minangkabau juga mengenal “Uang Japuik”, semacam uang jemputan. Ya maknanya serupa jugalah dengan Uang Panaik dan Sinamot.
Kesannya urusan materialistis begini sangat lekat dengan budaya Bugis Makassar, Sulawesi Selatan.
Sebenarnya banyak hal lain yang bisa dibahas tentang 2 suku terbesar di provinsi Sulawesi Selatan ini. Misalnya soal kulinernya.
Kalau Coto Makassar, Ikan(g) Bakar ,Sop Saudara, Sop Konro mungkin sudah familiar, yes?
Tapi tahu Nasu Likku/Likkua Manuk/Ayam Lengkuas tidak? Rasanya mungkin seperti rendang ayam versi kering ya kalau Likkua Manuk. Jadi bumbunya juga kering dan menghitam.
Baju adat Bugis-Makassar adalah Baju Bodo, tidak pakai H di belakangnya yaaaaaaaa .
Baju Bodo ini pada dasarnya dibuat dari bahan kain yang tipis walau sedikit kaku, pilinan kapas ditenun dengan katun (kain muslin). Hanya berbentuk segi empat tanpa jahitan, kancing dsb. Bagian bawah terbuka, dan bagian atas ada lubang sebagai kerah.
Ujung kiri dan kanan juga berlubang, sebagai lengan. Bahannya transparan dan zaman dulu dikenakan oleh perempuan Bugis-Makassar tanpa dalaman sama sekali.
Sesuai perkembangan masa juga dengan masuknya pengaruh Islam, muncullah istilah Baju Labbu (labbu : panjang). Baju Labbu ini modelnya panjang selutut, tidak transparan, dan bahannya lebih kaku tidak setipis kain muslin. Kain muslin ini mirip kain kasa.
Kini, Baju Bodo sudah mulai dibuat rupa-rupa macamnya. Bahannya juga tidak saklek dan bisa dibuat dari berbagai jenis kain.
Ini sudah ada versi vlognya lho, keseruan pas pemotretan waktu itu. Foto keluarga sekaligus jadi model ala-ala hihihihi :
Sebagai perancang busana berdarah asli Rappang, Sidrap, Sulawesi Selatan yang 100% bugis sebugis-bugisnya (hahaha), kakak saya juga sering merancang busana adat asal kami. Sudah dimodifikasi sana sini tentunya.
Nah, di foto-foto yang sudah muncul berkali-kali dari atas ke bawah ini (hahaha), kami berdelapan mengenakan baju adat Bugis-Makassar yang semuanya hasil rancangan :
Alamat lengkap Workshop DADAGAYA :
Jalan Pancoran Barat IV no.3
RT 011/RW 001,pancoran
Jakarta selatan
12780
HP:08118874999 
Tuh yaaaaa, ngomongin putus cinta ala Uang Panaik mulu. Padahal orang bugis itu hidupnya banyak yang hepi-hepi dan sukses meminang pasangan hidupnya masing-masing #eaaaaaa.
Lagian jodoh tidak selalu harus satu suku lah yaaaa. Ini mantu-mantunya Mama membentang dari Madura, Batak, Minang, Solo. Walau masih ada 1 yang nyangkut di sesama Bugis hihihi. Untung sukses ya resepsi tanpa drama uang panaik ??✌️✌️.
Kami bertujuh ini salah satu yang sukses dalam urusan pasangan tanpa harus nangis-nangis mengenang mantan gegara duit enggak cukup hahahaha. Eh, si desainer belum ketemu jodohnya, Deng. Dan si bungsu lagi sibuk bekerja demi Uang Panaik, cemungud eaaaaaaa Dek :p.
Detail per baju bisa dilihat di foto-foto di bawah ini ya 🙂
“Jee, lo dulu pernah di Arab kan?”
“Iya di Saudi. Kota Jeddah.”
“Eh ini, bahasa Arabnya semoga cepat sembuh apa ya?”
“Kenapa emang?”
Gambar : pixabay.com
“Udah sih buruan apaan. Ini soalnya di grup sekarang gitu-gituannya pakai bahasa Arab terus.”
Saya pasang icon ngakak banyak-banyak, “Ya udah, lo pakai bahasa Indonesia ajalah. Atau bahasa Inggris kan lo juga bisa. Ribet amat kudu ikut-ikutan ngarab. Mending ngerti.”
Lagipula, kata ganti orang dalam bahasa Arab itu memang dahsyat. Ada 14, Cyin!
Dese ngambek hahaha.
Dalam komunikasi juga harus mempertimbangkan tren dan pola kehidupan masyarakat sih, ya. Kita harus paham mengapa membahas persoalan bahasa Arab itu JELAS lebih sensitif ketimbang benerin grammar dalam bahasa Inggris misalnya.
Kalau pengalaman saya yang dulu-dulu, misalnya membahas soal Arab Saudi memang akan lebih mengundang kerumunan ketimbang bahas negara Irlandia misalnya hehehe.
Kalau kebetulan tulisannya berisi kritikan … byuh-byuh-byuh bisa diterkam kita dari segala penjuru! *lariTunggangLanggang* Hahahaha.
Nah kasus yang sama juga untuk bahasa Arab 🙂. Di postingan seorang teman tentang penggunaan bahasa Arab sempat viral. Apalagi kondisi sekarang, if you know what I mean 😉.
Di postingan itu, saya paham sih maksudnya si TS mau mengajarkan soal penggunaan bahasa Arab yang benar. Tapi mungkin terasa ada beberapa diksi yang seperti menyindir.
Sekali lagi ingat ya, ini BAHASA ARAB! Belum tentu respons yang sama akan datang kalau misalnya yang dibahas bahasa Inggris, mungkin responsnya biasa-biasa saja :p.
Dari komentar-komentar di postingan viral itulah jadi kita bisa sedikit meraba-raba mengapa hal ini jadi sensitif banget?
1. Ada istilah bahasa Surga. Malah ada yang ngotot nanti kalau di Hari Akhir kita ditanya-tanya malaikat pakai bahasa Arab. Wah, ini saya belum pernah dengar sebelumnya.
Saya tahunya nanti konon mulut kita terkunci rapat, yang berbicara adalah amalan dan perbuatan yang diwakili oleh anggota-anggota badan selain mulut. CMIIW, ya.
Lagipula apa benar Tuhan dan para malaikat tidak tahu bahasa lain selain Arab? Waduh, jangan meremehkan gitu lah hehehe. Sudah lihat video viral gadis mungil usia 4 tahun yang lancar berbicara dalam 7 bahasa? 😉.
2. Menggunakan bahasa Arab pahalanya lebih besar. Apalagi dalam doa. Ada benarnya. Tapi apa berarti kalau pakai bahasa lain jadi terasa “kurang”? Harusnya enggak lah. Prinsip niat dan keikhlasan tetap berlaku. Dan yang bisa membaca gitu-gituan ya Tuhan saja. Jangan mendadak lebih Tuhan daripada Tuhan :p.
3. Ada yang membahas keutamaan menuntut ilmu bahasa surga ketimbang bahasa kafir. Emang ada bahasa yang kafir? Hahahaha :p. Jadi saya haluskan istilahnya di judul menjadi “Bahasa Dunia” 😀.
Ya semua bahasa itu juga ilmu doooong ;). Semua bahasa-bahasa ini jika dipergunakan untuk kebaikan dan membawa manfaat positif buat banyak orang (juga diri sendiri) ya insya Allah bisa menjadi bekal kita menuju surga. Aamiin <3.
Untuk urusan muamalah di dunia ya bahasa Inggris juga keutamaannya tinggi lho itu ^_^. Disepakati sebagai bahasa internasional. Apa manfaatnya? Ya masa harus saya terangkan sih 😉.
4. Bahasa Arab ada pahala lebih. Pahalanya tiap huruf. Ini apa benar begini? Setahu saya ini untuk bacaan alquran BUKAN bahasa Arab secara umum. Duh kemarin lupa nanya ke Pak Ustaz hehe.
***
Soal bahasa Arab ini teringat pengalaman tinggal di Jeddah dulu. Ada teman saya fasih sekali berbahasa Arab tapi tidak terlalu piawai berbahasa Inggris. Saat ada urusan di tempat publik, dia bungkam seribu bahasa.
Dia memilih memanggil teman yang jago berbahasa Inggris untuk menemaninya. Pasti kalian yang belum tinggal di Saudi bingung. Ribet amat, ya tinggal bahasa Arab saja pasti beres urusan.
Jadi begini … saya sempat getol mau belajar bahasa Arab waktu masih di Jeddah. Saya ajak teman. Jawaban dia, “Ngapain lu belajar bahasa Arab. Entar disangka TKW lho!”
Ooooo karena itu hahahahaha.
Ternyata memang benar. Stereotip TKW Indonesia, yang sayangnya sebagian besar mengisi ranah “informal-domestik”, fasih berbahasa Arab tapi tidak bisa berbahasa Inggris.
Malasnya gitu sih kalau dianggap TKW. Ngeri aja kalau sampai kena razia zzzz -_-. Syukur-syukur kagak diculik disuruh kerja di rumah majikan hahahaha. Ditanya-tanya “Kerja di mana” saja kita ya pasti ada rasa gimana gitu kan?
Jenguk teman di rumah sakit mentereng, gue kagak dibukain pintu disangka TKW kali hahahaha. Sikat saja jelasin pakai bahasa Inggris panjang lebar dengan aksen se-Hollywood mungkin (hahaha), langsung terbirit-birit dese buka pintu! It was so hilarious! ????.
Saya tetap semangat pengin belajar bahasa Arab ^_^. Tapi belajar bahasa lain juga mau bangeeeeeetttttt <3. Sekarang jalannya masih lagi belajar bahasa Spanyol dulu 😀.
Sekarang ini, kalau di grup-grup WA, walau dari atas sampai bawah komentar berisi, “Barakallahu fii umrik” dst, saya tetap berkomentar dengan riang gembira, “Happy birthday, Sayaaaanggg. Many happy returns.” Hihihihi.
Saya nyaman pakai bahasa Inggris. Kalau bahasa Indonesia juga nyaman cuma malas ngetik panjang-panjang hahahaha. Bahasa Inggris enak, biasanya lebih singkat (y).
Kalau bahasa Arab walau ada pernah nyangkut dikit, memang belum terlalu nyaman menggunakannya 🙂. Takut juga ada rasa ekslusif, ya. Apalagi kalau memang bukan bahasa sehari-hari kita.
Yah namanya di media sosial memang harus banyak-banyak pertimbangan. Saya sih setuju-setuju saya dari postingan teman-teman soal kehati-hatian berbahasa (secara umum) jadi sedikit ingat lagi dengan bahasa Arab dan kaidah-kaidahnya.
Tapi ya juga harus menerima konsekuensi yang menyertainya 😉. Singgung yang “arab-arab” ya harus siap diberondong peluru “benci banget sih sama Islam Mbak?” dst :p.
Ngomong-ngomong, saya sih percaya segala perbedaan bahasa -etnis-budaya di dunia ini ya memang DICIPTAKAN oleh Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dari kecil juga, guru mengaji saya pun tidak pernah ya rasanya ngajarin bahasa-bahasa surga apalah-apalah.
Bahasa surga yang saya pahami ya bahasa kasih sayang, bahasa keadilan, bahasa pemahaman, bahasa pengertian, bahasa keikhlasan … apa pun kata-kata yang diucapkan untuk mengungkapkannya <3.
“Love has no language barriers. Whatever words you speak, the heart will surely understand.” -anonymous-
Selamat berakhir pekan, have a nice weekend, ten un buen fin de semana <3.