black friday adalah

The American Holiday(s)

Black Friday itu apa sih? Kalau dari kata Friday nya ya jelas perayaan something di hari Jumat ya hehehe. Tapi sebelum itu, kita bahas dulu apa yang terjadi di hari kamis sehari sebelumnya. Jadi begini …

Hari kamis ke-4 di bulan November akan diperingati sebagai Hari Thanksgiving di Amerika Serikat. Kalau ditelusuri asal mula perayaannya, sama seperti Halloween, Thanksgiving pun bisa saja dikait-kaitkan dengan kepercayaan/agama tertentu.

black friday adalah
Musim panen telah tiba (gambar : pixabay.com)

 

Kedua perayaan sebenarnya lebih lekat ke adat istiadat sekelompok orang di daerah tertentu di suatu masa terlepas dari agama yang dianut. Misalnya Halloween adalah perayaan dari suku Gaelic di tanah Irlandia.

Sekarang sih orang-orang Irlandia hanya menganggap Halloween sebagai perayaan sekuler biasa. Sama seperti Thanksgiving di US ;). Sebagai informasi, Amerika Serikat TIDAK MENGENAL hari libur yang berbau-bau agama lho. Jadi libur Paskah itu tidak ada di US. Natal pun diliburkan cuma sehari (kantor ya), itu juga mungkin karena ngikutin hari libur internasional.

Selain Timur Tengah, negara-negara lain pasti libur kan pas Natal. CMIIW, ya. Sekolah-sekolah di US libur akhir tahun bukan untuk merayakan Natal secara khusus tapi bertepatan dengan “term-break”, semacam liburan semesteran.

Sekolah-sekolah tidak mengadakan ritual penyambutan Natal segala. Tidak boleeeeeehhh :D. Thanksgiving dijadikan hari libur karena dianggap sebagai perayaan sekuler, tidak mewakili agama mana pun.

Gambar : pixabay.com

 

Tapiiiiiii, agama-agama bebas berkembang dalam masyarakat. Kepercayaan apa pun! Asalkan negara tidak ikut campur dalam pembiayaan segala macam. Semua harus diurus oleh “swasta”. Next time ya kita bahas khusus deh ini soal agama di Amerika Serikat.

Jangan terbakar dulu yaaaaaa, negara tanpa agama ini sungguh beda dengan yang kalian prasangkakan kok ;).

Anyway, tidak semua negara merayakan Thanksgiving dan Halloween. Di Eropa, Halloween hanya dikenal di tanah asalnya UK dan Irlandia. Eropa daratan jarang sih ya membesar-besarkan perayaan Halloween.

Di Amerika Serikat sendiri, pengaruh Halloween dibawa oleh ramainya pendatang asal Irlandia yang membanjiri sang benua baru,  Amerika. Khususnya ke wilayah Amerika Serikat di belahan utara.

Sudah pernah saya ceritakan ya hijrah massal orang Irlandia saat tragedi gagal panen melanda Irlandia yang menyebabkan kelaparan dan keputusasaan di mana-mana.

Sedangkan Thanksgiving lebih lekat dengan budaya orang-orang di Kerajaan Inggris. Nah, konon waktu pergolakan besar-besaran antara Katolik vs Protestan di Eropa, tidak sedikit penganut Protestan yang juga memilih hengkang ke benua baru.

Asimilasi budaya oleh pendatang dari Kerajaan Inggris ini dengan penduduk setempat yang mereka datangi bisa jadi merupakan salah satu asal muasal dikenalnya Hari Thanksgiving di wilayah Kanada dan Amerika Serikat. Tapi di Kerajaan Inggris sendiri, akar perayaannya berasal dari kaum Pagan juga. Sama seperti Halloween ^_^.

Thanksgiving, ritual untuk merayakan musim panen sekaligus persiapan untuk menyambut musim tanam berikutnya. Tujuan perayaan sejenis di negara lain juga mirip dengan Thanksgiving ini. Tapi namanya beda-beda. Untuk Thanksgiving Day, selain Kanada dan US, beberapa wilayah Karibia dan Afrika (Liberia) juga merayakan hari yang namanya sama.

Di Kanada, Thanksgiving jatuh pada hari senin kedua di bulan Oktober.

Di UK masih dirayakan kegiatan sejenis Thanksgiving ini, walau namanya beda dan tidak ada tanggal tertentu. Tujuannya tapi sama. Jerman juga punya namanya Erntedankfest. India, Jepang dan beberapa negara lain juga ada.

Tahun ini, Thanksgiving di Amerika jatuh pada hari Kamis 23 November, which is hari iniiiiiiiiii *tepukTangan*. Thanksgiving jadi mirip momen lebaranan sama Natal sih ya, dimana para keluarga dan kerabat serta teman-teman dekat berkumpul dan makan malam bersama.

Black friday adalah
Gambar : pixabay.com

 

Kalau kita di Indonesia mengenal ketupat dan lauk utama yang menyesuaikan budaya suku/wilayah lokal masing-masing, maka Thanksgiving di US identik dengan menu Ayam Kalkun :D.

Yang ditunggu-tunggu sebenarnya bukan Thanksgivingnya tapi Black-Friday nya, yes? Hahahaha #tepokDompet. Sesuai namanya, Black Friday adalah hari Jumat yang jatuh persis sehari setelah Thanksgiving.  Ini definisi di Amerika Serikat, ya. Sering juga dikenal sebagai Black Friday – Shopping. Makanya sebut-sebut dompet tuh tadi hahaha.

Jadi hari libur Thanksgiving di US ya kamis-jumat. Buat mereka mungkin kamisnya makan-makan, jumatnya shopping-shopping, aseeeeekkkk :D. Hampir semua pusat perbelanjaan dan toko-toko memberikan diskon besar-besaran saat Black Friday tiba.

Gilak deh itu bisa rebutan dan berantem. Tapi makin ke sini emang enakan belanja online sih ya hehehe.

Black Friday adalah
Black Friday (Gambar : chicagonow.com)

 

Tidak sedikit juga toko/brand yang sudah tebar-tebar pesona diskon beberapa hari sebelumnya. Nah ini kemarin sudah berburu di toko idola yang sudah mulai diskon-diskon sejak seminggu sebelumnya.

Tujuan belanja massal kali ini adalah … nyetok kostum-kostum musim dingin untuk menyambut kembalinya kami sekeluarga ke daratan benua yang mayoritas wilayahnya hampir tidak mengenal musim panas hahahaha. Iya nih bentar lagi harus say goodbye dari Texas :).

Santai sih belanjanya. Gak terlalu ramai, gak desak-desakan juga. Antri agak lama aja pas di kasir. Mungkin ya itu tadi, pada sibuk belanja online hehehe.

Black Friday adalah
Black Friday in Fort Worth-Texas (Gambar : detroit.cbslocal.com)

 

Hampir setahun di Texas jarang banget pakai jaket. Gila emang deh, masa bulan November saja suhu pernah mencapai 27 derajat lho. Cuaca memang labil di Texas, hari ini suhu bisa 10 derajat, besoknya balik lagi 20 derajat.

Untuk urusan cuaca, orang tropis kayak saya seneng banget deh tinggal di Texas hihihi. Other than urusan cuaca nanti kita bicarakan lebih lanjut kalau saya sudah di Ireland lagi yaaaaaa hahahaha :p.

Brand favorit saya itu … Old Navy :D. Sebenarnya saya suka GAP sih. Tapi mahal ah, sayang duitnya hahaha *ngakakKikir*. Nah, Old Navy ini rada mirip dengan GAP di mayoritas outfit-style nya. Versi lebih murahnya gitu lah :p.

Kebanyakan beli outerwear dan jeans saja. Kalau tas-tas branded saya pernah rajin beli buat jualan aja hahaha. Tapi udah takut dijewer sama Bu Sri Mulyani. Sungkem ya, Bu, gak lagi-lagi :p. Kalau buat dipakai sendiri mah sayang yak. Memang lah kadar kekikiran saya jauh di atas rata-rata hahaha.

black friday adalah
Gambar : pixabay.com

 

Mungkin jumat besok mau hunting di brand-brand menengah ke bawah aja macam Guess dkk. Kalau yang LV, Chanel, MK, Coach dll itu kalau ada yang jual di bawah 50 dolar, saya beli dah! Hahaha –> minta digampar sama penjaga toko! Dompet aja kayaknya susah ya dapat harga segitu kalau brand-brand kelas kakap begini :D.

Beklah, demikian reportase Ameriki ala-ala ini mengenai Amerika Serikat. More to come ^_^. Doakan saja biar enggak kebanyakan fesbukan dll hahaha. Ini saja, segabruk video-video sudah membanjiri folder minta diedit jadi vlog :p. Cemungud eaaaaaaaa. Jangan berantem muluk di medsos, Neng :p.

Walau sebagian kita tentu tidak familiar dan tidak merayakan Thanksgiving tapi quote bagus ini cocok sebagai pengingat buat kita semua :

“Not what we say about our blessings, but how we use them, is the true measure of Thanksgiving.” -WT Purkiser

Happy thanksgiving for those who celebrate <3. It’s Turkey time! ^_^

 

The American Pride

Oleh-oleh sekelumit pengalaman kerja ke Amerika :D. Summer holiday telah tiba! . Ceu Jihan ke mana ajaaaaa enggak posting-posting? Jalan-jalan dooooooong . Jarang bersentuhan dengan medsos kalau lagi di jalan. This is another road trip. Dimana road trip itu salah satu hal penting dari pengalaman tinggal di Amerika Serikat ;).

Pengalaman tinggal di Amerika Serikat
Gambar : pixabay.com

Liburan kali ini saya sempat memborbardir insta-story di akun Instagram saya. Siyal dah, itu ternyata cuma 24 jam benar-benar hilang ya . Kirain masih ke-save dan bisa kita download lagi buat dikumpulin. Ternyata benar-benar hilang ya *nangis*.

Tadinya bela-belain rajin bikin Insta-Story buat ngumpulin video pendek-pendek. Baru tahu kalau ternyata videonya cuma numpang lewat . Harus download manual untuk di-save di ponsel. Justru itu yang dihindari karena ponsel sudah penuh dengan vlog resep hahahahha .

Kali ini nyobain road trip yang lebih panjang. Dari Texas (area Dallas), menuju 2 tempat utama : Grand Canyon dan Las Vegas. Tadinya ambisius mau sekalian lanjut ke Los Angeles. Tapi berhubung Pak Supir cuma ada satu ya sudahlah ya, mustahil itu hahahaha .

Total jarak tempuh sekitar 1200 miles, hampir 2 ribu kilometer. Padahal dulu pas masih tinggal di Jeddah, kayaknya udah heboh banget road trip dari Madinah ke Madain Saleh sekitar 400 kilo hihihi. Ternyata di US lebih sangar .

No worry, pakai mobil matic kok. Bisa pakai cruise control segala. Sudah punya pengalaman ke Miami-Florida 3 bulan yang lalu. Ke Florida lebih jauh lagi sekitar 1300 miles. Sempat juga road trip ke Arkansas. Tapi Arkansas sih dekat banget, hanya 3 jam an dari Dallas.

Tapi road trip kali ini mampir-mampirnya lumayan sering. Memang tujuannya mau halan-halan, yang ke Miami pan kerja yak . Suami kerja, kiteee yang halan-halan, yes? Hahahahaha.

Foto waktu road trip ke Arkansas tempo hari

Kalau ke Florida kita menuju ke arah timur, arah road trip kali ini ke arah sebaliknya, menuju negara-negara bagian sebelah barat. Makanya, waktu setempat mundur 1-2 jam, jadi terasa menghemat waktu karena matahari tenggelamnya terasa lebih lama . Mana musim panas pulak. Jadi jam 9 malam masih cukup terang.

Perbedaannya cukup kontras. Negara bagian di sebelah barat Texas jelas lebih hot-hot-hot . Ke arah Louisiana, Missisippi sampai Florida kan banyak pohon gede-gede. Negara bagian New Mexico, yang pertama kami hampiri lebih gersang dan dinominasi bukit batu .

Awal-awal melihat bentang alam New Mexico benar-benar membuat saya dan suami bernostalgia tentang Arab Saudi. Mirip bangeeeettt dengan pemandangan di Kota Al Ula, tempat Al Hijr/Madain Saleh berada . Jadi gosip-gosip tentang Jeddah lagi deh kita berdua sepanjang jalan saat melihat barisan bukit batu saat memasuki wilayah New Mexico.

Btw, New Mexico ini masih bagian dari Amerika Serikat. Negara bagian ke-47 kalau dihitung dari awal bergabungnya. Bersama Colorado-Utah dan Arizona, New Mexico juga bagian dari The Four Corners yang berada di wilayah barat laut Amerika Serikat.

Foto-foto road Trip Canyon-Vegas ini masih nyangkut di kamera. Jadi sementara saya comotin foto dari situs gratisan dulu ya hehehe.

kerja ke amerika
The Grand Canyon (Gambar : pixabay.com)

The Four Corners (Colorado-Utah-Arizona-New Mexico) merupakan tempat yang hingga kini masih merupakan kampung halaman bagi orang-orang Indian, penduduk asli benua Amerika.

Walau New Mexico, secara persentase, masih paling tinggi diantara negara bagian lain, tapi Arizona yang lebih jor-joran promosi soal budaya Indian.

New Mexico, julukan resmi : The Land of Enchantment secara wilayah termasuk 5 negara bagian paling luas, tapi jumlah penduduknya hanya menempati urutan ke-36. Masih jauh lebih kecil ketimbang Texas, tapi penduduknya tiris bener hehehe.

Ya iyalah, kondisi alamnya masih didominasi oleh padang rumput yang gersang dan bukit batu. Tidak memiliki perbatasan dengan laut sama sekali kalau tidak salah, jadi secara ekonomi memang tidak begitu cemerlang, ya.

Beda dengan Texas yang dekat laut jadi lebih dinamis. Banyak industri juga lho di Texas. Florida terkenal dengan pantai-pantai cantik untuk liburan dan buah-buahan tropisnya. California lebih ‘sempurna’ lagi. New York sangat dinamis dengan pergerakan bisnisnya. Las Vegas melengkapi dosa besar Amerika Serikat sebagai negara adidaya hahahaha .

kerja ke amerika
Gambar : pixabay.com

Gilak deh emang Amerika Serikat ini. Sagala aya! Self sufficientnya termasuk tinggi, makanya sombong yak hahahaha . Jangan heran lho, banyak orang US yang sudah tidak merasa perlu ke mana-mana saking bangganya sama negaranya . Berasa tinggal di 50 negara berbeda yang diiket jadi satu .

Serba rumit dan sangat dinamis . Bersama segala kekurangan dan “kejahatan”nya, sekarang saya sudah mulai mengerti mengapa orang-orang Indonesia yang sudah mapan di sini sepertinya sudah tidak ada kemungkinan mau balik ke tanah air hahahaha. Lebih parah dari diaspora yang menyebar di Eropa . Di Eropa masih banyak keluhan soal pajak yang gila-gilaan hihihi.

Happy (belated) Independence Day, United States of America!

Walau saya tidak tahu apakah harus ikut bangga dan terharu atau harus menangis saat membaca sejarah panjang suku Indian yang ada di tanah ini. Ini kan lagi berada di tempat-tempat kebangsaan suku Indian . Masa lalu pahit menjelang orang-orang Eropa menghambur ke sini dan menegaskan kiprah mereka sebagai pemilik tanah di belahan utara benua superpower ini.

Ah ya, kita memang harus mengakui, kita hidup di dunia yang tidak sempurna . Like I always said, kita masing-masing pun adalah bagian dari ketidaksempurnaan tersebut.

(Baca : Negeri di Awan)

So once again, selamat hari “kemerdekaan” buat Amerika Serikat. Tetep pake tanda kutip hahahaha .

Nanti aja ya per negara bagiannya lengkap sama vlog dan foto-foto. Ya kira-kira beberapa bulan lagi lah hihihihi *ngikikPemalas*.

-Las Vegas, 5 Juli 2017-

The American Dream dan Mimpi Kaum Pendatang

Saat Irlandia dilanda bencana kelaparan yang mengerikan di pertengahan abad ke-19, tidak sedikit orang tergopoh-gopoh menuju tepian laut. Berhimpitan dalam kapal membawa barang seadanya dan segenap keluarga yang masih hidup.

Hendak melabuhkan harapan baru saat situasi tidak lagi mungkin bisa dihadapi di negeri asal. Beramai-ramai menuju Amerika Serikat.

Makanya tuh, di belahan Utara Amerika Serikat banyak pendatang asal Irlandia . Film Far and Away yang jadi tempat cinloknya Tom Cruise dan Nicole Kidman, salah satu yang menggambarkan perjuangan para pendatang asal Irlandia di US.

Dublin, Irlandia
Dublin, Irlandia

Di Boston, perayaan St Patrick’s Day yang merupakan perayaan utama Bangsa Irlandia juga dirayakan besar-besaran .

Mundur ke belakang pun, saat isu anti Yahudi terus menggeliat, banyak kaum Yahudi yang terusir ke sana. Mereka dibujuk agar mau meninggalkan Eropa dan memulai hidup di benua baru.

Saat perpecahan Protestan dan Katolik pun, sebagian terusir dan meninggalkan daratan Eropa menuju Amerika.

Terus berlanjut hingga abad ke-20. Dari biografi Pamela Mountbatten, sepupu dari Ratu Elizabeth II, saat perang Dunia ke-2 memanas dan kembali sentimen anti Yahudi dihembuskan, dia bersama kakak perempuannya diungsikan ke Amerika Serikat.

Pamela ditengarai masih punya darah Yahudi dan ditakutkan akan menjadi sasaran isu SARA imbas Perang Dunia II.

Jadi Amerika Serikat memang sering menjadi “tempat buangan” hahaha . Orang-orang terbuang inilah yang bekerja keras menaklukkan tanah baru dan terbilang sukses. Suksesnya menular ke mana-mana dan menginspirasi “The American Dream”.

usa-1197608_960_720

Eropa, terutama wilayah barat, memang berbeda dengan Amerika Serikat. Eropa dalam beberapa hal lebih ‘kaku’. Sementara di Amerika Serikat, apa pun bisa saja terjadi. Konon, siapa pun yang bekerja keras, akan punya kesempatan yang sama menaklukkan kerasnya hidup.

Sementara di Eropa, keinginan begini mustahil terwujud. Eropa sangat ketat urusan beginian. Amerika Serikat lebih “cair.”

Tidak heran, pendatang asal Asia Selatan banyak yang menjadikan Irlandia sebagai batu loncatan saja. Begitu mereka sukses memilliki paspor Irlandia, mereka akan segera berlayar kembali, menuju sasaran utama mereka, Amerika Serikat.

Kata salah satu teman saya, “Hidup di India sangat berat. Tapi itu tanah asal kita. Saya bahagia di India meskipun repot. Tapi terus ingat anak dan masa depannya. Jadi, kami pindah ke sini. Selesai dapat paspor kami ingin pindah ke US. Di sana nanti, kami akan membawa orang tua kami untuk tinggal bersama kami.”

Mendapatkan paspor Irlandia memang tergolong mudah untuk ukuran Eropa. Enggak pakai tes segala macam. Mungkin karena bahasanya bahasa Inggris ya jadi cincay lah semua pasti bisa hehehe.

Merantau itu seperti 2 sisi mata uang. Kita bahagia bertemu orang baru punya teman-teman yang berbeda bertukar pikiran dan sekadar ocip-ocip ringan hehehe. Tapi hati pun galau meninggalkan keluarga di tanah kelahiran. Makanya banyak yang terpikir memboyong orang tua dan segenap handai taulan. Di US, hal itu sangat mungkin .

Rata-rata ya, pendatang ini hadir dengan semangat full tank. Tentu meninggalkan tanah kelahiran bukan hal yang mudah, lho. Walau sudah dicita-citakan tetap saja berat pas menjalani.

Apalagi memang merantaunya karena sebab yang lebih krusial. Misalnya mereka yang berasal dari negara-negara yang kurang beruntung secara ekonomi, politik dan sosial. Mereka mati-matian akan bertahan. APalagi yang lagi perang. Terbayang kan traumanya.

Di situlah konflik mulai muncul. Para pendatang yang mungkin sebagian sudah bertekad, “Sukses atau mati di negeri orang!” akan melakukan apa saja untuk berjuang di negeri impian.

Perang dan bencana penderitaan besar (gambar : pixabay.com)
Perang dan bencana penderitaan besar (gambar : pixabay.com)

Bekerja jauh lebih keras dengan gaji minimal misalnya. Kok mau, ya? Mereka mengejar harapan dan kesetaraan hal yang mungkin tergolong mustahil di negeri asal. Di negara-negara “maju”, fasilitas umum dan publik sangat bagus dan cukup merata. Apalagi di Eropa Barat, Kanada, Australia yang memang menganut sistem “welfare state/kesejahteraan bersama”.

Mereka yang “terhina” di negara asal ya pasti betah di negara maju. Eropa Barat misalnya, kalian pasti susah menilai mana yang miskin mana yang kaya hehehe. Pemerataan di banyak hal hampir sempurna . Tukang ngepel di mal saja bisa punya mobil sendiri, booooooo .

Warga lokal yang sudah terbiasa santai dan dari kecil mungkin kurang diperkenalkan dengan “situasi yang kompetitif” lambat laun akan kaget dan merasa terdesak.

Sementara perusahaan dan pemilik modal ya sesuai prinsip ekonomi sederhana, “Pengorbanan sekecil mungkin untuk hasil semaksimal mungkin.”

Ngapain bayar pegawai lokal mahal-mahal kalau bisa mendapatkan pegawai pendatang yang etos kerja lebih mumpuni malah kadang … kemampuannya juga lebih bagus.

Kata siapa orang Asia lebih bodoh? . Kurang disiplin mungkin iya hihihi.

Dari kecil, kita orang Asia sudah ditempa dengan pendidikan keras nan kompetitif. Kita terbiasa memberikan effort maksmal dalam berbagai hal. Kita merasa wajar bekerja lebih keras untuk hasil yang lebih baik.

Hidup di Asia ... penuh dengan kerja keras :) (gambar : pixabay.com)
Hidup di Asia … penuh dengan kerja keras 🙂 (gambar : pixabay.com)

Di sinilah masalah makin membesar. Orang lokal (Eropa dan mungkin US) dari kecil sekolahnya santai, kelak mereka bekerja apa pun juga ya tidak merasa terpengaruh.

SEmentara pendatang, dari kecil hidup mungkin sudah keras. Rata-rata mereka punya mimpi di atas rata-rata. Kalau pun orang tuanya hanya sanggup bekerja “informal” misalnya, nah nanti anak-anaknya digembleng biar lebih sukses.

Kombinasi dari sistem pendidikan mumpuni ala “western countries” dan didikan khas “Tiger Moms” dari emak-emak di rumah masing-masing hahaha.

Mereka mengadopsi perilaku santun orang lokal tapi tetap memiliki kemampuan akademis yang tinggi . Ini yang sebenarnya menakutkan buat orang lokal. Pendatang yang mungkin awalnya dicibir tidak punya manner ternyata bisa beradaptasi dengan budaya disiplin masyarakat lokal.

Ini beneran, lho. Di sekolah sini biasanya terbagi 3 kelompok di tiap jenjang kelas : Advanced, intermediate, basic. Hampir semua anak Asia berada di kelas Advanced hahahaha. Sementara orang lokal tidak terbiasa dan tidak terlalu peduli .

Pendatang generasi “home grown” tidak hanya berjaya di bidang informal. Mereka akan terus merangsek ke wilayah profesional.

Dari sini pembatasan terhadap kaum pendatang mulai dilakukan. Dianggap sebagai ketidakadilan. Karena memang sih, misalnya status refugee, itu hanya dianggap solusi sementara. Diharapkan kalau negara asal membaik mereka akan pulang.

Tapi manaaaaaaaa… Pakistan sudah puluhan tahun didera pertikaian internal. Not mention kasus korupsi yang merajalela di banyak negara berkembang . Alih-alih melawan, korupsi termasuk kejahatan yang makin ke sini tidak lagi dianggap tabu.

Sudah mati rasa, Cuy. Kita saja di Indonesia saban ada kasus korupsi, ya udah. Udah ditangkap. Sudahlah. Sabar saja, bla bla bla. Besok juga sudah pada lupa . Nanti terpilih lagi malah. Kalau enggak, anaknya, suaminya, istrinya, iparnya, atau keponakannya atau adiknya atau siapanya yang menggantikan.

Lobbying - Corruption, gambar : pixabay.com
Lobbying – Corruption, gambar : pixabay.com

Masyarakat di negara berkembang, dengan tingkat pendidikan kurang merata bahkan sangat minim, sangat labil secara emosional. Jangankan negara berkembang, negara maju pun yang kini menjadi bagian dari masalah ekonomi global juga sudah mulai panik, kan? .

Apalagi kalau kebutuhan dasarnya belum terpenuhi. Kemiskinan dan kesengsaraan sebagai akibat panjang dari ulah koruptor menjadi penguat ketidakstabilan di banyak negara berkembang. Lingkaran setan tak berujung.

Dodolnya, banyak negara maju malah mengail di air keruh. Untuk mencari uang banyak dalam waktu singkat, mereka itu ya, alih-alih mendamaikan malah jualan senjata cobak! .

Pemerintah resmi berdalih perdagangan senjata terjadi “di bawah tangan” alias ilegal. Omong kosong! .

Akibatnya ya lingkaran setan tadi. Perbuatan jahat ya akan berbalik ke diri sendiri. Lihatlah kini, limpahan imigran yang rata-rata datang dengan maksud permanen mulai mendatangkan sentimen sosial dalam masyarakat setempat .

Pemboman di Brussel tempo hari membahas masalah ini. Brexit adalah salah satu puncaknya. Dan makin disempurnakan dengan fenomena … Trump!

trump-1350370_960_720

Saya percaya, pada dasarnya mayoritas manusia di muka bumi ini, mau suku, agama, warna kulit, asal, dan ras mana pun, menginginkan kedamaian dan kesejahteraan sosial.

Masalahnya, kita ini manusia yang secara default memang pakemnya sudah begitu. Tidak sempurna. Tiap saat kita harus bertempur dengan diri sendiri melawan hal-hal yang sering diistilahkan dengan 7 sins :

1. Kebanggaan
2. Ketamakan
3. Iri hati
4. Kemarahan
5. Hawa nafsu
6. Kerakusan
7. Kemalasan

Makanya, musuh paling berat untuk SEMUA manusia itu justru diri kita sendiri.

Tapi sekali kita percaya bahwa ada sesuatu di luar sana yang tidak terkalahkan yang akan menghancurkan kita semua tanpa mampu kita cegah, entahlah semacam monster atau apalah hehehe, kita tidak akan pernah ke mana-mana .

Penggemar teori konspirasi mana suaranyaaaaaaa hahaha. Propaganda model begini yang akhirnya menghalangi kita berpikir ke arah kemajuan karena udah lemes duluan, “Udahlah. Gak mungkin. Kita pasti kalah. Pasti! Pasti! Ada kekuatan besar tak terlihat nganu-nganu…”

Pada kenyataannya, banyak negara maju sudah hopeless karena seberapa besar pun uang yang digelontorkan untuk bantuan kepada negara bermasalah, ternyata terbukti 80% nya masuk ke kantong para koruptor. Ini kasus di Afghanistan .

Di Pakistan, para pejabat korup ini kabur membawa lari uang negara dan hidup nyaman di negara lain . Di Afrika lebih ngeri lagi. Karena isu perbedaan suku pun masih bisa diramu untuk kepentingan para penguasa nan tamak. Sudah nonton Hotel Rwanda? Itu kisah nyata ya btw.

Selama negara-negara maju menutup mata dan malah ambil kesempatan dalam kesempitan dan gejolak dalam negeri di wilayah negara lain, ya selama itu pula lingkaran setannya enggak akan kelar-kelar.

Coba saja. Kalian halangi negara lain untuk maju karena ketamakan dan kebanggaan ingin menjadi “penguasa dunia”, kelak akan berbalik ke diri sendiri. Betul begitu, wahai US dan Eropa? .

Penduduk di negara yang kalian “kerjain” suatu hari akan berbondong-bondong pergi meninggalkan negara mereka dan malah nyasar ke negara kalian hehehe.

Sebaliknya buat negara-negara berkembang dengan segabruk konflik internal, selama tidak pernah mampu mengurai persoalan utama dan terus menerus meributkan hal-hal kecil yang terus dipercikkan untuk membelokkan perhatian kita dari fokus masalah, ya kita akan begini-begini saja.

Terus terjebak dalam ketidakmampuan, kegagalan membangun, perasaan dizalimi sebagai korban, dan seterusnya.

Entahlah yang mana memengaruhi yang mana. Mumet, Cuy hehehe.

Ini belum masuk isu agama yang lebih sulit lagi. Karena dalam urusan agama, kadang rasionalitas sulit sekali dikedepankan. Asas “pokoknya” jauh lebih mudah akibat doktrin turun temurun dan propaganda “perasaan kalah” tadi.

Untuk agama Islam, Mas Khairun Fajri Arief punya tulisan bagus tentang bahayanya perasaan kalah ini. 

Makanya, dalam kasus Trump, wait and see dulu sajalah. Kok belum apa-apa sudah ngeri duluan hehehe. Amerika Serikat bukan negara abal-abal. Mereka sudah berkali-kali membuktikan diri sanggup keluar dari kemelut besar di sama lalu .

Bukan cuma US kok ya. Jangan sedih. Semua negara punya kesempatan sama untuk maju dan berkembang. Asalkan…fokus .

Tetap tenang ya, teman-teman hehehe. Jangan biarkan ketakutan menguasai kita. Karena rasa takut itulah yang menjadi sumber dari berbagai malapetaka di dunia.

Does fear always work? Nope. It depends on you .

Back to the basic rule, musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri. Termasuk KEMALASAN mencerna berita dan situasi apa pun. Sifat tergesa-gesa karena dikuasai HAWA NAFSU dan KEMARAHAN. Chill out, Bro and Sis . Tetap waspada dengan segala bentuk provokasi .

“An Idea is nothing but Information, It won’t do us any harm until we accept it as perception of truth in our mind, which in time will potentially evolve and construct major events in history.”
― Djayawarman Alamprabu, Feared Intellectualism

Wait and see .

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

People We Haven’t Met Yet (9)

Happy (belated) Deepavali Day for our Indian friends ^_^.

Perayaan Deepavali adalah perayaan khas umat Hindu-India yang umumnya berlangsung pada akhir Oktober atau awal November. Deepavali juga dirayakan oleh orang-orang Syikh di India.

Deepavali, Festival Cahaya, dipercaya sebagai momentum di mana kebaikan mengalahkan kejahatan. Saat di mana cahaya membenamkan kegelapan :).

Di hari raya ini, perempuan-perempuan India, selain membuat aneka penganan khas tradisional untuk jamuan di rumah, juga akan mengenakan pakaian-pakaian khas. Di belahan Utara, Barat, dan Timur, pakaian tradisional yang terkenal adalah Lehengga.

Lehengga, gambar : www.quora.com
Lehengga as a wedding dress, gambar : www.quora.com

Saya pikir baju khas sana itu Saree/Sari. Ternyata banyak booo hehehe. Baru dengar malah yang Lehengga ini. Lebih surprais lagi waktu diberitahu asal muasal budaya berpakaian Lehengga yang ternyata pengaruh dari Kekaisaran Mughal, dinasti Islam yang pernah lama menguasai hampir semua wilayah India, kecuali bagian selatan.

Lehengga memang sekilas terlihat lebih “syar’i” #eaaaa :p.

Lehengga adalah bawahan berupa rok yang biasanya dipasang sampai ke bagian atas perut. Ditambah atasan dan satu scarf panjang. Jadi umumnya terdiri dari 3 potong : rok + atasan + scarf.

Menarik juga lho terminologi pembagian wilayah di India. Menurut hasil kepo-kepol bareng mamak-mamak India di sindang, wilayah Selatan memang “spesial” karena 2 hal.

Soalnya, tidak sedikit orang India kalau memperkenalkan diri tuh mesti banget menekankan, “I’m from South India.”

  1. Karena wilayah selatan di era sekarang cenderung lebih “maju” daripada wilayah lain (Utara-Timur-Barat). Bangalore yang tersohor sebagai Kota IT Internasional itu letaknya di belahan selatan. Konon, wilayah selatan lebih rapi dan masyarakatnya lebih modern gitu-gitulah. Dibandingkan dengan mayoritas wilayah India yang lain. CMIIW ya.
  2. Wilayah Selatan di masa lalu tidak pernah dikuasai oleh Kekaisaran Mughal tapi oleh dinasti Hindu. Nah, pakaian tradisional Saree itulah yang sebenarnya mewakili budaya Hindu ala dinasti yang dulu-dulu.

Tapi kini, sudah tidak penting lagi :). Saree maupun Lehengga sudah dianggap budaya India tanpa perlu meributkan yang mana pribum yang mana non pribumi #eh :p.

Orang India termasuk diaspora terbesar di banyak negara setelah Cina. Ya sesuai dengan jumlah penduduk masing-masing yang sudah melampaui 1 milyar orang. Dua negara ini kalau digabung berdua jumlah penduduknya hampir 3 milyar diantara 7.5 milyar total penduduk di dunia.

Dan orang-orang masih heran saja mengapa orang Cina dan India ada di mana-mana? Hahahaha :p.

India yang Glamour ^_^ (gambar : hindustantimes.com)
India yang Glamour ^_^ (gambar : hindustantimes.com)

Di dunia IT misalnya, tidak sedikit lho teman-teman IT di Indonesia yang meremehkan tenaga IT asal India. Suka lupa kalau orang India itu jumlahnya banyaaaaaaaaaaaak banget. Sayangnya, yang ada di Indonesia tidak bisa dianggap punya kemampuan yang mewakili kemampuan IT orang India pada umumnya.

In fact, jangan sakit hati, mayoritas orang India bahkan tidak begitu ngeh soal Indonesia :p. Jadi situ sibuk nyinyirin mereka, mereka bahkan tidak tahu letak Indonesia di mana hahaha.

Dulu saya pikir mereka kurang gaul. Saya diketawain suami hehehe. Ya memang begitulah adanya. Sebagai negara berpenduduk paling banyak ke-4 di dunia, popularitas kita  benar-benar nyungsep euy dibanding Cina dan India :p.

Seperti Indonesia, India juga mengenal banyak sekali  bahasa daerah. Mirip  banget. Tergantung wilayah, kalau di kita kan tergantung provinsi dan suku. Bedanya, India tidak punya bahasa persatuan. Beda dengan kita yang punya Bahasa Indonesia.

Makanya, tidak heran ada beberapa teman India kalau mengobrol ya pakai bahasa Inggris. Karena misalnya di belahan Utara mungkin mayoritas berbahasa Hindi. Di selatan ada bahasa Kannada, Telgu, Tamil dan sebagainya. Ini bukan hanya dari segi pelafalan lho, sampai huruf-hurufnya pun bedaaaaaa. Bukan huruf latin.

Sistem pendidikan di India mengenal istilah “English Medium” biasanya untuk sekolah-sekolah privat. Jadi sekolahnya pakai  bahasa Inggris biar seragam. Nanti ada bahasa kedua yang disesuaikan dengan bahasa lokal setempat.

Kalau sekolah umum ya katanya kualitas sangat kurang dan belum tentu menggunakan bahasa Inggris. Jadi repot kalau mau pindah-pindah. Bahasa sehari-hari kan tergantung domisili.

hindi-letters

Form-form registrasi pemerintahan dan semacamnya pasti selalu menggunakan 2 bahasa : Inggris dan Hindi.

Film-film India kalau produksi Bollywood-Mumbai, itu otomatis pakai bahasa Hindi. Film-film lain yang non Bollywood ya bahasanya tergantung bahasa setempat :D. Ribet ya Cuuuu hehehe.

Jenjang sekolah di India simpel. Begitu masuk SD ya udah di situ aja terus sampai kelas 12 atau kelas 10 hehehe. Kalau hanya sampai kelas 10, mereka harus mengambil pendidikan tambahan selama 2 tahun di college sebelum  masuk universitas. Bila lulus sampai kelas 12, bisa langsung masuk universitas.

Jadi, enggak kenal istilah SD-SMP-SMA. Enak juga ya. Sekali masuk bablas terus sampai lulus. Hemat uang pendaftaran dan bla bla hihihi :p.

Mungkin terkait hal inilah, orang India prefer merantau ke negara-negara berbahasa Inggris seperti : UK, Irlandia, Kanada, US, dan Australia.

Hal unik lainnya adalah “kesetiaan” mereka kepada masakan tradisional. Mayoritas mereka tuh ya baik yang sudah benar-benar lahir dan  besar di rantau, makannya ya tetap Nasi Biryani dkk ^_^.

Diuntungkan dengan komunitas yang besar ya tentu lebih mudah bagi mereka nyari bumbu-bumbu di mana-mana sehingga bisa tetap melestarikan kuliner asli. Karena itu juga, kuliner India sanggup menembus level internasional :).

Mereka ini benar-benar menjunjung tinggi budaya asli mereka, jadi terkesan agak “songong”. Sebel deh, kalau saya nanya-nanya resep mereka semangat banget jelasinnya tapi enggak pernah nanya balik soal makanan Indonesia hahaha. Baper kan kiteeee :p.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Ya  balik lagi, mereka enggak familiar dengan Indonesia. Tapi tahu Thailand, Malaysia, Filipina, dan Australia. Ya  nasib, ya nasib. Malah ada yang nanya, “Indonesia mungkin negara kecil jadi kurang populer. Penduduknya nyampe gak sih 5 juta?”

Yaela Jeng, Indonesia itu kurang gede apa dengan penduduk nyaris 260 juta hahahaha :p.

Ibu-ibu India, seperti umumnya mamak-mamak Asia seperti Cina, Jepang dll, so pasti disiplin dalam masalah pendidikan :). Merantau tidak membuat mereka lupa kondisi asal. Anak-anak tetap dijaga agar bisa menggapai tingkat pendidikan semumpuni mungkin.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Samalah kayak mamak Indonesia yang ini *tunjukDiriSendiri* hahaha. Beda ya antara memaksa vs mengoptimalkan potensi mereka ;). Namanya anak-anak, ya pasti penginnya main-main terus. Sesekali perlu kita “kenalkan mereka” ke dunia nyata :).

Persoalan “perempuan sebagai warga kelas dua” yang kayaknya memang umum di belahan Asia Selatan, juga masih menjadi peer besar di India. Pemaksaan menikah di usia muda bagi kalangan perempuan masih banyak kejadian di sana :(.

Kebetulan saja, perempuan India yang saya kenal di sini mayoritas berpendidikan tinggi. Tak jarang dari pasangan India di sini yang keduanya bekerja sebagai tenaga IT di vendor telekomunikasi internasional yang punya kantor besar di kota tinggal saya sekarang.

Umumnya mereka hanya punya satu anak. Walau sebenarnya di India tidak ada pembatasan jumlah anak. Malah banyak pasangan yang menunda untuk punya anak dan lebih senang mengejar karier baik suami maupun istri.

Enggak pernah  berani bertanya spesifik soal ini hehehe. Paling secara umum saja mereka mungkin ingin memberikan yang terbaik buat buah hati mengingat kehidupan asal di India yang memang “tidak mudah”.

Tapi kalau keluarga India yang muslim, anaknya bisa sampai 3 atau 4 hehehe.

Muslim India yang perempuan hampir bisa dipastikan pasti mengenakan jilbab dan gamis. Justru perempuan Pakistan yang 50 : 50. Antara yang pakai jilbab dengan yang tidak hampir seimbang.

Sempat kaget waktu lagi belanja di Tesco tahu-tahu disapa dengan “Assalamu alaikum” oleh perempuan Pakistan yang tidak berkerudung hehehe. Saya enggak enak kalau disangka sombong soalnya enggak nyapa duluan.

Di Pakistan gaya berpakaian perempuan muslim lebih variatif mirip dengan Indonesia, bedanya Pakistan bisa dibilang 99% muslim.

Tapi secara umum, orang-orang India ogah banget disama-samakan dengan Pakistan. Secara politik, sosial, budaya, India vs Pakistan kan memang “bermasalah”, ya. Mulai dari perebutan wilayah Kashmir yang belum benar-benar ketok palu sampai sekarang, hingga isu terorisme yang marak di Pakistan.

Orang-orang India tidak bebas berkeliaran ke wilayah-wilayah Pakistan dan demikian pula sebaliknya.

India sih terbilang aman secara sosial dari isu-isu terorisme :). Perbedaan agama Hindu vs Islam vs Syikh memang pernah diwarnai pertikaian berdarah dari sejak awal kemerdekaan sampai beberapa waktu lalu. Tapi jauuuuuh lebih  kondusif dibanding kondisi dalam negeri Pakistan.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Ternyata, keyakinan tunggal tidak menjadi alasan hidup bisa otomatis harmonis :). Semoga menjadi pelajaran buat Indonesia yang jauh lebih majemuk ketimbang India dan Pakistan, ya <3.

Dalam 2 tahun masa pemerintahan Narendra Modi yang menang secara tak terduga di Pilpres 2014 India (iya lho, pilpresnya barengan dan sama ramenya ternyata hahaha), India mengalami peningkatan ekonomi yang lumayan. Bahkan hasil kerja Modi dianggap sebagai salah satu yang terbaik dalam 20 tahun perkembangan ekonomi India.

Salah satu kontroversi Modi adalah “masa lalu”nya saat menjadi Chief Minister di wilayah Gujarat di tahun 2002. Saat itu terjadi  kerusuhan antar agama (Hindu mayoritas vs Muslim minoritas) yang mengakibatkan korban meninggal lebih dari 1000 orang. Korban terbesar berasal dari umat muslim. Peristiwa ini terkenal dengan nama “Gujarat Riot.”

Modi dianggap bertanggung jawab dalam kerusuhan ini karena “terlihat” mensupport pembantaian terhadap muslim.

Tapi di masa pemerintahannya sebagai perdana menteri kini, nyaris tidak ada tindakan Modi yang membahayakan kehidupan minoritas muslim di India :). So far, belum ada :D. Mudah-mudahan tidak akan pernah ada lagi.

Well, bersama China, India pun kini makin melesat mengejar ketertinggalan. Secara internasional, orang-orang India sudah wara wiri ke sana kemari dan mencatatkan nama baik mereka atas banyak sekali pencapaian dalam bidang akademis, profesional, dan sebagainya. Dalam olahraga saja kayaknya India kurang  kedengeran ya hehehe.

Indonesia, tentunya akan segera bergabung dengan kedua negara besar tadi ;). Aamiin. Pak Jokowi, apa kabar? Sehat, Pak? :p.

Dahulu, Bung Karno pernah meramalkan tentang poros India-Cina-Indonesia. Semoga ketiga negara besar ini terus mengejar ketertinggalan dan benar-benar menjadi penyeimbang dunia yang kayaknya bosan aja gitu dengan dominasi US dan Eropa dkk hehehe :D.

Tapi selama kita masih muter-muter di isu SARA dan sebagainya, ya pasti akan sulit berkonsentrasi membangun negeri :(.

“This country, the Republic of Indonesia, does not belong to any group, nor to any religion, nor to any ethnic group, nor to any group with customs and traditions, but the property of all of us from Sabang to Merauke!”
― Bung Karno

Jangan mau kalah sama India. NKRI harga mati <3.

 

Budaya basa basi orang Asia

Chitty-chitty Chat

Salah satu kehidupan sosial yang cukup bikin galau buat saya semasa tinggal di Eropa sini adalah sifat mereka yang kurang asyik diajak basa basi . Maklumlah, si mulut lokomitif ini yaaaaa, kalau kenalan tuh adaaaaa aja yang pengin dikepoin hahaha.

Konon katanya masyarakat sindang memang sifatnya lebih individualis. Tapi tidak melulu negatif sih. Ini dalam kaitannya dengan hobi-hobi emak-emak yang doyan chit-chat iniiiiih :D. Sementara orang Asia kan katanya lebih “kolektif”. Semacam senang ngumpul dimana bergosip adalah imbas lanjutannya hahaha.

Budaya basa basi orang Asia
Gambar : pixabay

Parahnya lagi, topik standar untuk bercakap-cakap ala chitty-chitty chat sama orang sini tuh adalah…cuaca!

Kalau beli sayur atau buah di toko depan misalnya. Toko ini persis di depan gedung apartemen, toko yang dikelola oleh bisnis rumahan yang dikelola turun temurun oleh keluarga tertentu. Saya perhatikan yang belanja itu biasanya memang kenal dengan yang jaga toko.

Ya dusun mungil begini yaaaa. Ngesot sana sini ya ketemunya dia lagi-dia lagi hahaha.

Nah, sudah akrab, kenal lama pun, ngobrolnya tuh yang, “Duh, ribet banget ya. Masa tahu-tahu hujan padahal tadi cerah banget.”

Atau, “Wah, enak banget lho katanya cuaca weekend ini. Enak nih buat ngajak anak-anak jalan-jalan.”

Enggak jauh-jauh dari, “Musim dingin tahun ini kok ya dingin ya. Tahun lalu kan enggak dingin-dingin amat.” Kadang gatal pengin nimbrung, “Ya namanya juga musim dingin, Om. Kalau panas ya bukan musim dingin kali yak.” –> lalu ditimpuk sekarung kentang!!! Hahaha.

Pernah di sekolahan saya sudah beberapa kali mengobrol dengan seorang ibu-ibu yang asli Irlandia. Ya, pengin dong melanjutkan ke-kepo-an ke taraf lebih dari sekadar ngomongin mendung kah minggu ini atau tidak-beli jas hujan di mana yang murah dan kece-apakah saya betah di Irlandia karena saya asalnya dari negara tropis bla bla bla.

Saya pun berimprovisasi, “Wah, lihat deh, anak pertama kamu rambutnya agak keriwil ya. Agak beda dengan yang nomor 2.”

Ibunya merespons dengan semangat, “Iyah memang agak beda. Tahu enggak, mereka bukan itu saja lho bedanya?”

“Oh ya? Apaan tuh?”

“Nah, yang gede tuh paling malas kalau disuruh pakai celana panjang. Kalau yang kecil malah susah disuruh pakai celana pendek. Makanya yang besar itu paling senang kalau musim panas. Tahu enggak pas summer dua tahun lalu, itu tuh pas cuacanya lagi…”

Ya Rabbi, cuaca maning, cuaca maniiiiiiing. Hahahaha.

Kalau di Jakarta tuh ya, lagi nunggu antrian dokter misalnya lagi hamil saja saja, baru setengah jam, minimal saya sudah tahu ibu-ibu sebelah saya umurnya berapa, hamil anak ke berapa, rumahnya di mana, dan kenapa dia memilih dokter anu sebagai dokter kandungan #benerinCocot.

Weits, menanyakan umur itu juga ada seninya, enggak ujug-ujug, “Situ umurnya berapa, sih?” Ada tips dan triknyaaaaaa #eaaaa.

Ya kalau sesama emak-emak Asia kayaknya seru-seru saja, ya. Makanya, lebih enak mengobrol dengan teman-teman dari India hihihi. Apalagi mereka ini rada-rada narsis, puji-puji dikit negaranya, bisa lancar deh semua pertanyaan kita terjawab dengan komplit #tukangJilatAmat hahaha.

Budaya basa basi orang Asia
Gambar : pixabay.com

Mirip-mirip juga dengan orang Bangladesh atau Pakistan. Mungkin “the same feeling” karena sama-sama pendatang selain kesamaan wilayah.

Sebenarnya soal basa basi ini bisa jadi bumerang juga. Apalagi yang lincah dalam urusan chitty-chitty chat begini ya so pasti perempuan dong ya. Tapi ya gitu, yang lebih  baper juga kaum perempuan. Ya gimana dong hahaha.

Sadar tidak sih sebenarnya seringnya kita bertanya itu bukan karena kepo-kepo amat. Kadang hanya sekadar ingin berbasa basi. Tidak lebih :). Terus pertanyaannya ya kadang terlontar begitu saja, refleks ;).

Seperti misalnya ketemu teman yang habis menikah kira-kira beberapa bulan yang lalu, ketemu lagi ya refleks nanyain, “Eh, sudah hamil belum?”

Sumpah demi Tuhan, serius, itu tuh refleks *tutupMuka*. Apalagi kalau orangnya kebetulan bodinya agak berubah atau agak gemukan ya sok tahunya suka lebih refleks lagi hihihi. Sungkem ya teman-teman.

Saya pernah mendapat pelajaran penting soalnya terkait soal ini.

Waktu masih bekerja papasan di lift dengan teman dari divisi lain yang kebetulan baru saja menikah. Enggak dekat-dekat amat sih. Tapi ya gitu, gatal kali mulut ini mau ngobrol hahaha. Jadilah terlontar pertanyaan terkutuk itu, “Eh gimana, sudah hamil belum?”

Dia sih rasanya biasa saja jawabnya, “Belum nih.”

Gambar : best-pregnancy-advice.com
Gambar : best-pregnancy-advice.com

Tapiiiiiiii, beberapa hari kemudian saya mendapat feedback kurang menyenangkan. Dese curcol ke teman-teman satu divisinya yang kebetulan saya kurang kenal. Tapi dari sini curcol-an nya akhirnya nyampe ke saya juga. Horor juga kesimpulannya, “Idih, pakai jilbab tapi enggak bisa nahan mulut.”

Jadi kaget sih. Dari situ belajar buat enggak asal bacot hahaha.

Nah, ketemu lagi dengan teman lama. Dari kantor lama tepatnya. Kira-kira kami sudah tidak bertemu sekitar 2-3 tahun. Dia ini menikah sudah agak lama tapi belum hamil-hamil. Kami dulu lumayan dekat dan akrab lho semasa masih ngantor bareng :D. Anggap saja namanya Jennifer –> mumpung lagi naik daun kasusnya :p.

Ketemu lagi, eh dia lagi agak gemuk badannya. Walau gatelnya naudzubillah (hahaha), saya pantang bertanya apakah dia sudah hamil apa belum. Ya pasti sedih, ya, buat dianya kalau ternyata belum hamil. Soalnya dia dan suaminya memang pengin banget punya anak dari dulu tapi belum berhasil berdasarkan info terakhir yang saya terima.

Jadilah kita mengobrol soal yang lain-lain.

Tet toooottt, minggu depannya, saya disemprot teman lain yang juga dari kantor lama yang kenal dengan kami berdua, “Lo tuh yeeeeee, kata Jennifer tempo hari kalian ketemu dan makan siang bareng di mal anu. Ngobrol sampai sejam lebih tega-teganya elo gak ngasih dia selamat.”

“Selamat apaan?” Ya tentu dong saya bingung.

“Ish, ish, ish, Jen tuh lagi hamil tauuuuukkk. Lo kan tau dia itu udah lama pengin hamil! Gimana sih? Sensitif dikit napa jadi teman. Dia ampe kesel tuh!”

Hastagaaaaaaa, ini piye toooohhhh hahaha.

Budaya Basa Basi orang Asia
Gambar : pixabay.com

Mbok ya kenapa enggak cerita dari awal aja sih? Malah jadi saya yang disuruh ngasih selamat duluan -_-. Ya begitulah, keribetan di dunia mamah-mamah hihihi.

Tapi saya suka sebal dengan orang-orang Indonesia yang sudah merantau dan mengkritik hobi kepo ini deh -_-. Nyinyiran mereka daripada orang-orang sana-nya :p.

Maksud saya ini kan bagian dari kebudayaan Timur vs Barat yang memang akar perbedaannya cukup tajam. Dalam porsi berlebihan ya memang kurang patut. Tapi hobi nanya ini itu kan tidak melulu berarti negatif ya ^_^.

Perbedaan kan memperkaya. Anggap saja jadi semacam pengetahuan tambahan. Bukan selalu disorot “iniiiii yang benar” atau “ituuuu yang norak, salah, pokoknya ancur dah!”

Merantau kan biar kenal-kenalan bukannya malah membuat seluruh dunia harus ngikut cara hidup standar begini-begitu.

Pada intinya ya orang-orang Asia kehidupan sosialnya lebih bersifat kolektif. Macam slogan, “Asyiknya tuh rame-rame.” Hehehe. And I’m very proud as an Asian regarding this <3.

Ya tentu saja saya sadar diri dan menyeimbangkan mulut lokomotif ini biar bisa balance dengan situasi dan kondisi yang ada hihihi. Toh saya, walau bosan luar biasa, tetap berusaha berbasa basi sesuai standar sini. Saya tabah kok ngomongin cuaca mau sampai sejam jugak huhuhu :p.

Rupa-rupa wajah Asia
Rupa-rupa wajah Asia

Menyesuaikan diri tidak berarti menjadi kacang yang lupa pada kulitnya dong ya :). Hadeeehh, masa hanya gara-gara sudah bertahun-tahun tinggal di negara yang menurut kalian super-duper-keren-pokoknya-mau-sampai-mati-tinggal-di sana kalian mendadak hanya bisa melihat yang negatif-negatif saja dari negeri asal :).

Ngefans sama negara tinggal sekarang tidak berarti harus sok-sok galau dengan negara asal sendiri kan ya ^_^.

Mari menyerap berbagai budaya murni sebagai pengalaman dan pengetahuan. Tentu ada pembelajaran di mana-mana tapi tidak semata-mata jadi perbandingan 2 sisi plek-plek : bagus vs jelek.

Iya enggak, sih? Apa enggak, ya? Yawdah. Kangen nulis ringan-ringan (tapi panjang) aja sih hahaha. Efek karena susah kepo sama orang sini mungkin? Sepertinya -_-.