Penjelajahan Alam di Killarney National Park Irlandia

(dimuat di Leisure-Republika, edisi Juli 2014)

Oleh : Jihan Davincka

***

Pohon-pohon yang dibiarkan tumbuh liar di kiri kanan jalan setapak, air danau yang biru jernih, padang rumput yang luas di sela-sela rimbunnya batang pohon serta sebuah bangunan kuno yang masih berdiri tegak adalah pemandangan utama saat kita mengunjungi Killarney National Park di bagian selatan Pulau Irlandia.

Tidak hanya itu, national park satu ini juga dikepung oleh perbukitan hijau yang juga bisa turut dinikmati kala kita berkeliling-keliling di dalamnya. Tiga buah danau, Lough Leane, Muckross Lake dan Upper Lake, bermata air biru segar memperkaya warna warni alam yang belum banyak terjamah di salah satu taman nasional terbesar di Republik Irlandia ini.

Killarney National Park terletak di Kota Killarney. Tempat ini boleh dinikmati oleh siapa saja tanpa dipungut biaya apa pun. Pintu gerbangnya ada beberapa. Kita bebas masuk dari pintu mana saja di sepanjang jalan yang mengitari lokasi taman alam ini.

Tuk Tik Tak Tik Suara Sepatu Kuda

Tadinya begitu tiba di pintu gerbang pertama yang kami temui untuk menuju ke dalam areal taman, saya sempat ragu ingin masuk. Begitu turun dari mobil, langsung melongok ke dalam pagar yang memang dibuat rendah agar suasana taman bisa terlihat secara leluasa dari luar. Yang terlihat hanya susunan pohon-pohon dan jalan setapak yang tidak kelihatan di mana ujungnya.

Bagaimana cara menjelajahi tempat seluas ini dengan membawa 2 anak kecil? Apalagi hanya membawa 1 stroller / kereta bayi saja. Mana kuat kalau diajak berjalan kaki?

Tiba-tiba kami sudah dihampiri oleh seorang laki-laki setengah baya, “Do you need a ride?”

Dia menerangkan sambil memberi isyarat agar kami mengikutinya dan memasuki pintu gerbang. Kami ikut saja sembari saya menebak-nebak dia mau menawarkan apa, ya, kira-kira? Barulah saya paham tumpangan yang dimaksud ternyata sebuah…kereta kuda!

Anak-anak langsung ribut mau naik. Ternyata, untuk memudahkan rombongan yang memiliki anak-anak menjelajahi kawasan taman nasional yang luas itu, ada fasilitas kendaraan tradisional berupa kereta kuda tadi. Jangan khawatir kehabisan, keretanya ada banyak.

Killarney horse

Pilihan lain adalah dengan bersepeda. Tempat ini juga menyediakan fasilitas penyewaan sepeda. Sepeda juga bisa disewa dari tempat lain di Kota Killarney dan dibawa masuk ke dalam lokasi taman.

Saat menikmati hentakan sepatu kuda di sepanjang jalan setapak, beberapa kali kami berpapasan rombongan lain yang sedang bersepeda. Tak jarang pula saling menyapa dengan pengunjung lain yang memilih untuk berjalan kaki.

Tarif kereta kuda yang bisa memuat penumpang sekitar 4-8 orang ini 25-35 euro per kereta. Bentuk dan ukuran kereta tidak hanya sejenis. Para penumpang akan dibawa berjalan-jalan selama sekitar 1-2 jam. Pak kusir yang mengendalikan kereta juga otomatis menjadi pemandu selama perjalanan.

Killarney tempat kereta kuda

Perpaduan Sempurna Danau Biru dan Rumput Hijau

Sais kami cukup ramah dan tak segan menjawab pertanyaan apa pun. Sayang sekali kami lupa menanyakan siapa namanya. Walau si sais biasanya sudah punya rute-rute khusus dan kita tinggal ikut saja, kita juga boleh meminta berhenti di tempat-tempat lain.

Saat melintasi salah satu wilayah dii tepi danau, kami langsung minta berhenti. Airnya jernih dan pinggiran danaunya penuh dengan rerumputan hijau. Beberapa orang tampak duduk-duduk dan bersantai menikmati pemandangan birunya air danau.

Di salah satu sudut danau terparkir sebuah perahu kecil. Ternyata, kita boleh memanfaatkan perahu-perahu di sana untuk berkelana ke tengah-tengah danau. Biayanya sekitar 15 euro untuk berpetualang kira-kira selama setengah jam menyusuri danau.

Kami urung mencoba karena anak sulung agak takut melihat ukuran perahu yang menurutnya sempit.  Padahal penasaran juga ingin merasakan langsung suasana di tengah danau.

Jangan takut bakal tersesat di danau yang ukurannya memang tidak kecil ini. Setiap perahu dilengkapi dengan satu orang pemandu khusus. Lumayan juga, sih, mengintip sedikit situasi danau dari tepiannya saja. Ujung danau di seberang tidak kelihatan. Berarti ukurannya cukup lebar juga jika dilihat dari dekat.

Killarney danau

Bangunan Antik dan Taman yang Cantik

            Sebuah bangunan besar berdiri di tengah-tengah areal taman nasional Killarney ini. Ramai sekali orang-orang beraktifitas di sebuah padang rumput yang kira-kira seukuran lapangan bola yang membentang di depan bangunan tersebut.

Setelah mendekat dan membaca keterangan yang tertera di dinding bangunannya, ternyata tempat ini dulunya rumah tinggal dari sebuah keluarga bangsawan Irlandia.

Namanya Muckross House. Rumah ini cukup spesial karena pernah dikunjungi langsung oleh Ratu Victoria Inggris di tahun 1860 an. Rumah bertembok batu dengan perpaduan warna abu-abu dan coklat  ini sudah berusia hampir 200 tahun sejak awal dibangun di awal abad ke 19 silam.

Sejak beberapa puluh tahun lalu, rumahnya dihibahkan oleh pemiliknya kepada pemerintah Irlandia. Rumahnya sendiri tidak selalu dibuka untuk umum. Hanya di waktu-waktu tertentu saja. Sayangnya, saat kami  ke sana, pintu masuk tertutup rapat untuk pengunjung.

            Kawasan di sekitar rumah ini sudah banyak mengalami pemugaran walau bisa dibilang lokasinya sama sekali tak beranjak. Salah satu hasil pemugaran adalah disediakannya kamar kecil untuk pengunjung di lantai 2 bangunan.

Kami hanya boleh berkeliling di luar tembok. Anak-anak malah tertarik untuk ikut bersama hiruk pikuknya para pengunjung di lapangan rumput depan rumah besar tersebut.

Beberapa pengunjung memanfaatkan lapangan untuk berolahraga. Ada sekumpulan remaja yang bermain bola sepak. Dua anak sedang dilatih bermain kasti oleh ayahnya. Ada juga yang menggelar tikar di pinggiran lapangan. Sisanya ada yang bersepeda atau anak-anak balita yang berlarian ke sana ke mari. Nah, ini mungkin yang membuat anak-anak saya ikut heboh dan berlarian bersama teman-teman sebayanya.

killarney muckross house

Agak sulit membujuk anak-anak pergi dari lapangan ini. Kami menghabiskan waktu paling lama di tempat ini.

Air Terjun di Tengah Hutan

            Dari Muckross House, perjalanan berlanjut kembali. Sekitar 10 menit mengendarai kereta kuda tadi, tibalah kami di sebuah tepian sungai  kecil.

Kami pun turun dan diberitahu oleh pemandu/sais kereta untuk masuk melalui terowongan untuk menuju lokasi sebuah air terjun. Terowongannya sih kecil saja. Hanya sepanjang beberapa meter. Setelah terowongan, jalanan agak sedikit mendaki. Mampir sebentar ke kamar kecil sebelum menuju lokasi air terjun yang bila dilihat di papan petunjuk berjarak sekitar 150 m dari tempat tersebut.

Walau agak mendaki, jalannya tidak terasa melelahkan. Selain jarak tempuh yang tidak terlalu jauh, kiri kanan jalan juga banyak batang-batang pohon. Pepohonan belum begitu rimbun karena saat kami ke sana musim semi belum berada pada puncaknya. Sisa-sisa musim dingin masih  agak terasa walau cuaca sangat cerah. Sebelah kanan jalan dipasangi pembatas kayu karena ada sungai kecil yang alirannya berasal dari air terjun yang akan kami datangi.

Arus sungai tidak deras dan tidak begitu lebar. Ada banyak batu-batu besar di sepanjang sungai. Gemericik air mengalir cukup membuat suasana jalan menanjak menjadi lebih ringan lagi.

Begitu tiba, air terjunnya ternyata tidak sebesar yang saya bayangkan. Maklum saja, di daerah asal saya di Sulawesi Selatan, kami mengenal wisata air terjun Bantingmurung yang jauh lebih tinggi dan lebar.

Orang-orang sudah memenuhi lokasi air terjun. Kalau sekilas dari percakapan yang bisa saya tangkap, sebagian besar yang bergerombol dalam kelompok-kelompok kecil berbincang dalam bahasa Spanyol. Mungkin turis dari negara lain. Ada yang sibuk berfoto-foto sambil tertawa-tawa. Sebagiannya lagi memilih duduk-duduk saja di sekitar sana sambil melihat-lihat.

Karena kerepotan menjaga anak-anak yang ribut ingin mendekat ke tempat jatuhnya air dari tebing, kami memutuskan untuk tidak berlama-lama di sini. Bagian sungai berbatu yang mengarah dan mendekati posisi air terjun cukup licin soalnya. Kami khawatir anak-anak yang keseimbangannya belum sempurna bisa terpeleset.

Killarney air terjun

Jejak Alam Sejak Ratusan Tahun Silam

            Di hampir  berbagai sudut taman atau hutan Killarney, hewan-hewan dibiarkan hidup di alam liar. Umumnya hewan-hewan yang hidup di padang rumput dan bukan binatang buas. Adanya hanya rusa dan domba-domba. Sesekali terlihat tupai dan musang berlarian di batang-batang pohon.

Pemandangan yang dominan tak hanya rimbunnya pohon-pohon khas hutan. Salah satu yang paling berkesan adalah saat berada di sebuah jalan setapak,  di sebelah kiri jalan menawarkan panorama padang rumput, sebelah kanan ada danau dan di hadapan kita tersaji perbukitan tinggi yang didominasi warna merah tua, coklat dan hijau. Pemandangan yang biasanya saya bisa lihat di foto-foto kalendar saja, kini terpampang langsung di hadapan mata.

Jejak alam yang ada di sebagian besar wilayah taman nasional masih asli. Usia hutan konon sudah ratusan tahun. Termasuk sebuah pohon besar yang sempat kami lintasi di salah satu tepian danau. Sais kereta bercerita pohon tersebut konon sudah berusia 500 tahun.

Pohonnya tinggi menjulang dengan batang bagian bawah yang berdiameter lebih dari 1 meter. Cabang-cabangnya menjulur  ke mana-mana di dahan-dahan paling atas.

Para pengunjung banyak yang mencoba untuk memanjati pohon. Termasuk orang-orang dewasa. Saya cukup menjadi penonton saja. Lagipula jika ingin ikut-ikutan, anak-anak juga pasti berebutan ingin naik ke atas pohon.

Dari  lokasi pohon ini, oleh sais kereta yang ditumpangi, kami diantar kembali ke pintu gerbang tempat kami memarkir mobil. Tak terasa sudah hampir 2 jam berkeliling. Padahal masih  beberapa tempat yang belum sempat disambangi.

killarney pohon

Taman Nasional Killarney luasnya lebih dari 10 ribu hektar. Tidak mungkin dijelajahi dalam beberapa jam saja. Tapi sudah cukup puas melihat-lihat.

Selain fasilitas umum seperti kamar kecil dan kantin yang menjual makanan kecil, ada banyak taman bermain yang menyediakan arena bermain seperti ayunan dan tempat seluncuran untuk anak-anak.  Kami hanya melintas saja. Kalau sampai mampir ke taman bermain, anak-anak mungkin  bisa betah sampai larut malam dan tak mau diajak pergi. Hahaha.

Tips Jalan-jalan di Irlandia

  1. Penerbangan ke kota Dublin dari Jakarta bisa ditempuh melalui maskapai-maskapai penerbangan Eropa (KLM atau Lufthansa). Juga melalui maskapai asal Timur Tengah (Etihad atau Emirates). Harga tiket berkisar dari 5 juta hingga 8 juta rupiah per orang.
  2. Harga visa pemegang paspor Indonesia ke Irlandia adalah gratis. Tapi ada biaya pengiriman pos ke Singapura karena kedutaan Irlandia terdekat adanya di Singapura.
  3. Ada beberapa jenis fasilitas penginapan yang bisa dipilih. Ada penginapan model B&B (Bed & Breakfast) yang biasanya mematok harga sekitar 25-100 euro per malam. Hotel-hotel bintang menengah ada di level 60-150 euro per malam. Sedangkan hotel bintang lima umumnya memasang harga di atas 100 euro per malam. Semua jenis penginapan bisa dibooking duluan di berbagai situs online via internet. Tentu saja, harga bisa berubah-ubah.
  4. Republik Irlandia mengenal 4 musim (panas, gugur, dingin dan musim semi). Tapi hujan bisa menyapa kapan saja. Di musim panas sekali pun, hujan bisa turun. Biasanya tidak deras tapi tetap persiapkan jas hujan ke mana-mana. Payung kurang dianjurkan karena kadang hujannya disertai angin.
  5. Suhu udara di wilayah Republik Irlandia tidak pernah terlalu dingin. Musim dinginnya rata-rata berkisar di 0 – 5 derajat. Suhu jarang minus dan salju juga hanya turun sekenanya. Tidak pernah sampai menumpuk di jalan.

***

Tertarik ikut mengirim ke rubrik Leisure Jalan-jalan Republika? “Syarat mengirim tulisan jalan-jalan ke Leisure Republika”

Naskah asli dari tulisan lain yang pernah di muat di Leisure – Republika –> “Rupa-rupa Wajah Kota Jeddah”

Naskah asli dari tulisan jalan-jalan yang pernah dimuat di tabloid lain –> “Saint Patrick’s Day, Karnaval Khas Bangsa Irlandia”

 

Killarney tepi danau

ISIS

Bangun pagi-pagi senang melihat cuaca terik. Horeeee … mau jalan-jalan ah. Deket rumah ketemu satu pohon Sakura yang lagi mekar-mekarnya. Kudu buruan narsis pakai sweater pink nih hahahhahahaha.

Lalu, upload fotonya. Terus, banyak deh nanti komentar-komentar macam, “Iiiihhh enaknya ya jadi Mbak Jihan. Hidupnya kok beruntung banget.”

Hanami (gambar : whysojapana.com)
Hanami (gambar : whysojapana.com)

Mereply komentar begini seperti pedang bermata 2. Kalau kita bilang “Ah, tidak juga” –> tidak mensyukuri hidup! Kalau dibilang “Iya nih, senang terus” ya selain songong tiada terkira (hahahaha) juga mengingkari kenyataan kalau sebenarnya tidak begitu.

“Enak, ya, tinggal di luar negeri” sebenarnya cukup djawab dengan tulisan ini saja. Saya merangkum berbagai situasi sulit yang pernah saya hadapi dengan suami dari awal merantau hingga sekarang :D.

Ditipu agen pas kerja di Tehran yang paling seru. Tak hanya menjadi pengalaman pertama tinggal di luar negeri sekeluarga, tapi ‘cobaan’nya kayaknya paling cetarrrr :p. Di situ juga saya menyadari, status “formal” pun tidak otomatis membuat hidup pasti tenang. Boro-boro dibantuin. Oleh pihak KBRI kami malah mendapat komentar “pedas”. Duh, sampai tak tertahankan rasanya betenya waktu itu.

Sudah terbayang kalau proses ilegal yang sudah terlanjur dijalani oleh suami itu bisa berujung proses hukum yang tidak ringan :(. Perusahaan cuek, oknum KBRI malah gusar kepada kami, sementara media internasional sibuk menebar hoax soal situasi politik Iran yang waktu itu memang baru saja menuntaskan perhelatan besar, Pilpres 2009.

Pusing kepala. Paspor suami ditahan agen. Bayangkan, berbulan-bulan, dia tidak punya identitas resmi bekerja di negeri orang. Saya juga baru tahu pas ke sana! Berantem deh kita ujung-ujungnya. Hahaha. Makin pening karena mertua, kerabat, dan teman-teman juga memborbardir dengan kekhawatiran akibat hoax situasi politik di Iran waktu itu. Saya sendiri nonton TV tuh ampe bengong. Ini chaosnya di mana sih?????

Saya yang tinggal di tengah-tengah kota nyaris tidak melihat apa-apa. Ya iyalah, bentrok kecil-kecilan disulap jadi bentrokan besar yang kesannya Tehran sudah lumpuh! Hahahhahahaha, the power of media ;). Media sosial sampai diblokir oleh pemerintah Iran. Iyalah, lama-lama orang lokal ikut gila karena hasutan media hihihihi.

gambar : iran-visa.ir
gambar : iran-visa.ir

Pindah ke Jeddah ya beda lagi masalahnya. Ke Irlandia juga tidak lepas dari masa adaptasi yang “berbeda” :). Jadi yah, kalau patokannya hanya foto-foto, saya kasih senyum manis saja, deh, hehehe. Rangkuman soal suka duka bekerja di luar negeri pernah saya tulis di sini –> “We Can Go the Distance”.

Menilai orang mbok ya keseluruhan. Harus total. If you’re willing to have the good parts of their/his/her life, sanggup tidak menjalani masa-masa yang tidak mudahnya? :). Selalu ada harga yang harus dibayar, yes? 😉.

Menjudge orang hidupnya senang karena harta berlimpah, tinggal di luar negeri. Ya berkacalah kepada diri sendiri. Suami saya bisa ada di level begini itu bukan semata karena keberuntungan materi. Sejak kecil, sudah ditempa dengan keras oleh bapak ibu mertua tentang pentingnya hidup sederhana. Percayalah, itu bukan perkara gampang.

Hidup apa adanya saat ekonomi sulit ya apa susahnya :p. Tapi cobalah tetap bertahan saat keberuntungan materi datang secara beruntun. Contoh saat kami di Jeddah. Saya kenal suami sudah sejak kuliah. Belasan tahun berlalu nyaris tidak ada yang berubah. Dari gaji rupiah, riyal, dolar, euro, salut sekali saya dengan gaya hidupnya yang tidak pernah jor-joran :). Begitu-begitu saja dari dulu.

Teman-teman, kesannya kami sering liburan ke luar negeri, ya? Hihihih. Itu pekerjaannya dia memang yang mengharuskannya jalan-jalan ke berbagai tempat. Di Swiss pun kami ini modal apartemen gratis dari kantor! Dapat allowance pula tiap hari. Disindir kok pelit banget sudah di Swiss kenapa tidak melipir ke negara-negara lain ya karena memang mahalnya biaya transportasi tidak sanggup kami jalani hahahahaha. Kami tetap berusaha bertahan di sini dengan allowance kantor saja. Kalau perlu, malah tetap ngotot menyisihkan sebagian untuk ditabung! :p.

"Dying Lion" @Luzern, Switzerland
“Dying Lion” @Luzern, Switzerland

Di Jeddah, tidak pernah saya jelalatan mau ke Dubai, ke Abu Dhabi, ke Istanbul. Mahal gilak hahahahaha. Sabar saja walau kehidupan “sosial” di Saudi memang cukup menantang. Apalagi buat perempuan. Tidak pernah saya menuntut tiap minggu harus makan di resto bagus-bagus, harus tinggal di hotel bagus kalau ke luar kota, sebagai sarana rileks dan refreshing karena sudah ‘menderita’ dikurung dalam rumah hampir sepanjang hari hahahahaha.

Mending saya bikin blog, cari-cari kesibukan yang tidak perlu menguras kantong suami :p. Sebelum ke luar negeri, saya ngeblognya malas-malasan :p. Blog “Mama Sejagat” dan blog “Cerita Jeddah” itu dua-duanya lahir pas saya tinggal di Saudi ;).

Walau penghasilan jor-joran, saya tetap harus menghargai suami yang memang kurang senang dengan gaya hidup “hedon-hedon” an hehehe. Kata suami, “Sabar saja, siapa tahu nanti ada kesempatan kita jalan-jalan tanpa harus keluar duit.” Eh, benaran dijawab doanya sama Allah ^_^.

Tidak tanggung-tanggung, kami dapat sekeluarga dapat kesempatan tinggal di Swiss, salah satu negara tujuan wisata utama di dunia, negara yang wisata alamnya super kece yang biaya hidupnya salah satu yang paling megah di Eropa!

Kesempatan kerja juga di Irlandia yang bertetangga dengan Kerajaan Inggris. Alhamdulillah bisa melipir ke London, kota yang juga jadi kegemaran masyarakat dunia dan lagi-lagi juga biaya hidupnya “ampun”, dengan ongkos yang terjangkau. Ya iyalah, Irlandia sebelah-sebelahan dengan UK hihihihi.

In front of London Eye @London
In front of London Eye @London

Itu kan yang kurang kalian sadari. Jadi seolah, semua didapatkan tanpa jerih payah dan kerja keras :).

Banyak kok yang bisa dikeluhkan. Lebiih banyak lagi “kesulitan-kesulitan” yang tidak perlu diumbar ke publik. But … some things are better left unsaid, yes? ;).

Again, don’t judge others for often you don’t know the whole story ^_^.

Saya percaya, tiap orang punya ujiannya masing-masing. Saat terlintas rasa iri, cepat-cepat di-rem. Bagaimana kalau ternyata orang yang membuat saya iri itu posisinya sama dengan saya. Bosannya menerima komentar orang iri ini itu, apa tahu persis masa kecil saya seperti apa? :). Tak semuanya juga bisa saya ceritakan secara detail.

Saat terlintas rasa kasihan, ya di-rem juga. Many times in my life, saya melihat banyak orang yang patut dikasihan eh mereka malah menertawakan saya :). Tuhan Mahaadil, ada caraNya yang mungkin tak selalu bisa kita baca tak selalu bisa kita ukur dengan kapasitas kemanusiaan kita :).

Seperti dengan percaya dirinya dulu almarhum Bapak menghalangi ibu saya menggunakan kontrasepsi buatan dengan alasan, “Rezeki di tangah Allah, bukan di tangan pemerintah! Termasuk rezeki anak-anak.”

Takdir Tuhan memenangkan keyakinan almarhum. Walau beliau tidak pernah bersaksi langsung menyaksikan kami tumbuh besar karena serangan jantung sudah membawanya pergi selama-lamanya sejak 23 tahun yang lalu :).

Allah menjamin rezeki tiap makhluk di muka bumi. Jangan lupa, kitab suci mengajarkan kita, Bunda Maryam yang tidak pernah bersentuhan dengan laki-laki mana pun bisa hamil hanya dengan “kun fayakun”.

Jadi, jangan meremehkan orang-orang seperti almarhum Bapak saya yang cuma pedagang kelambu di pasar yang tidak pernah resah berlebihan soal duit walau anaknya ada 9! (2 orang kakak saya kembar, meninggal sejak lahir).

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”(QS. 14:7)

 

Clonmacnoise, Irlandia
Clonmacnoise, Irlandia

Jargon ISIS lagi trending nih di news feed saya :p.

Di masa-masa yang katanya ISIS ini, “Ini sulit itu susah”, nasihat terbaik apa yang bisa dibagi selain nasehat menasehati dalam menetapi kesabaran ;).

1. Demi masa.
2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
3. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

(Al Asr)

Padang Badr (The Badr Sand Dune), Arab Saudi
Padang Badr (The Badr Sand Dune), Arab Saudi

***

Lausanne Swiss : “One Moment in Time”

OLeh-oleh  jalan-jalan dari Lausanne Swiss, nih. Inget Olimpiade, selalu ingat tembang “One Moment in Time”. Hayooo … itu lagu resmi Olimpiade tahun berapa dan di mana dan siapa yang nyanyi?

Penting gitu hafal gini-ginian? -_-.

Sebuah museum yang khusus mengabadikan momen-momen Olimpiade adalah tempat wisata utama di Kota Lausanne Swiss.

Lausanne Olympic Museum Logo - Lausanne Swiss

Kayaknya lagi ada tema khusus sehingga di sepanjang jalan di tepi danau menuju museum, dipajang foto-foto Olimpiade musim dingin tahun 1984 di Sarajevo.

Foto-fotonya epic banget. Sebagian menggambarkan betapa beratnya medan pertandingan karena buruknya musim dingin tahun itu.

Beberapa foto close up sang juara saat momen-momen terbaiknya. Suasana Kota Sarajevo yang agak-agak demam panggung karena posisi dari kota enggak penting menjadi tuan rumah acara internasional.

Berjarak sekitar 90 an km, butuh sekitar 1 jam naik kereta dari Bern menuju Lausanne Swiss. Dalam tempo satu jam itu, segala sesuatu di Bern yang berhubungan dengan bahasa Jerman mendadak berganti dengan bahasa Perancis.

Lausanne Swiss , City Center
Lausanne, City Center

Yoih, Swiss mengenal 2 bahasa, Jerman dan Perancis. Dan saya enggak mudeng dua-duanya huhuhu.

Mungkin karena negara turis, tak begitu sulit menemukan orang yang bisa berbahasa Inggris di Swiss ini. Wow, jangan-jangan umumnya orang sini trilingual ya, Inggris-Jerman-Perancis. Walau segala petunjuk jalan dan segala macam jarang ada yang berbahasa Inggris, hiks :'(.

Sampai sekarang, saya cap cip cup kembang kuncup aja tuh pake mesin cuci di basement gedung apartemen. Kagak paham satu pun petunjuknya! Hahaha.

Kita sampai nunggu setengah jam sia-sia di halte Sauvabelin karena enggak ngerti baca pengumuman bahwa halte tersebut sementara enggak akan dilewati bus! Parah abis! -_-.

Menjelang kereta hampir mencapai stasiun di Lausanne, tengok sebelah kiri. Lake Geneva terbentang jernih dan dikepung oleh gunung-gunung es. Aih, aih, cantiknyaaaaaa…

Lausanne Lake Geneve Lausanne Swiss

Tantangan terberat di Lausanne adalah medannya yang tidak rata. Dari stasiun menuju halte bus di City Center, jalannya menanjak banget. Bumil sampai beberapa kali harus teriak-teriak, “Guys, wait for me!!!”

Suami jalannya kecepatan cahaya gitu. Anak-anak juga masih seger baru turun dari kereta. Ngintilin bapaknya dari belakang dengan semangat. Kontur geografis Lausanne yang memang penuh tanjakan adalah cobaan tersendiri *pijetPahaDanBetis*.

Ke mana saja kita? Tentu, keluarga Gober selalu mengutamakan sarana wisata gratisan hahahaha. Banyaaaak banget tempat yang layak dikunjungi tanpa perlu mengeluarkan frank sepeser pun :p.

Sauvabelin salah satunya. Sebelum ke Sauvabelin mampir di Hermitage dulu. Rutenya sama. Di Hermitage banyak spot foto bagus. Bapaknya hunting foto, bumil ngemil, anak-anak lari-larian di playground. Semua hepi. Gratis? Pastinya! 😀

Hermitage - Lausanne Swiss
Hermitage – Lausanne

Baru lanjut lagi ke Sauvabelin.

Landmark Sauvabelin adalah menara pandang setinggi 35 m di salah satu sudutnya. Suami saja yang naik sampai ke atas. Buat potrat potret tentunya. Melihat keindahan Kota Lausanne Swiss dari ketinggian. Saya dan anak-anak nungguin di bawah.

Dari lokasi menara, jalan cantik sekitar 5 menit, tibalah kita danau kecil di tengah-tengah lokasi. Anak-anak ya ribut godain bebek dan angsa yang kebanyakan lagi merapat di pinggir danau.

Selain unggas air, di sebelah danau ada peternakan mini. Bisa lihat kandang kambing, kelinci, ayam dan babi. Anak-anak mah paling senang lihat hewan-hewanan. Alhamdulillah ya, enggak perlu ngeluarin duit jor-joran buat bikin mereka senang :).

Menara Pandang di Sauvabelin Lausanne Swiss
Menara Pandang di Sauvabelin

Gini-ginian memang harus dilatih sejak kecil ;). Latih mereka tidak manja, contohkan dengan berjalan kaki dan banyak-banyak naik kendaraan umum misalnya :p. Tunjukkan pada mereka, banyak hal yang bisa dinikmati tanpa perlu buang-buang duit berlebihan.

Ajarkan kesederhanaan dan kerja keras, agar kelak seperti apa pun kehidupan mereka, mereka tidak melumrahkan kemewahan. Setajir apa pun ortunya, latih anak-anak hidup “seperlunya” ;).

And remember, harus diawali dengan contoh nyata dari ortu! :D. Ish, udah kayak yang paling bener aje deh eike hehehe. Saling mengingatkan dan berbagi yaaaa ^_^. Ini saya juga share tips-tips dari mertua yang sudah jelas-jelas sukses hasilnya –> lirik Paman Gober! hihihihi.

Lanjoooodddd …

Dari Sauvabelin, turun ke bawah menuju pusat kota. Katedral Notre Dame salah satu tempat yang dirubung turis. Kagak paham juga istimewanya apaan :p. Kita ngikut arus aja. Di mana orang-orang merubung dan sibuk mainin tustel, di situlah kami ikut merapat. Entar deh cek wikipedia :p.

 

Cathedral of Notre-Dame of Lausanne Swiss
Cathedral of Notre-Dame of Lausanne

Depan katedral ada tembok pembatas. Dari situ bisa melihat wajah kota bagian bawah. Cakeeepppp :D. Termasuk ajang latihan selfie juga tempo hari hahahaha.

Dari katedral, kembali menyusuri jalan menuju Metro. Salah satu moda angkutan di sini yang tidak menggunakan tenaga manusia sama sekali. Canggih abis. Tapi ingat, yang canggih-canggih begini ya ongkosnya bukan 5000 perak! Hahahhaha.

Via metro, kita terus turun ke bawah menuju Ochi. Keluar dari stasiun Metronya Ochi, melipir dikit ketemu taman gede. Dari sini bisa ngeliat danau. Pas hujan pula. Jadi merengek minta coklat anget sama Pak Bos. Beli 2 gelas minum berempat! Hahahahha.

Nah, dari sini baru jalan kaki menuju Olympic Museum. Normally, sekitar 10 menit. Cuma karena kita jalannya santai, sekitar 25 menit kali baru nyampe.

Olympic Museum Park, Lausanne Swiss
Olympic Museum Park, Lausanne

Suami sambil motret. Anak-anak kejar-kejaran sambil ketawa-ketawa. Emaknya khusyuk ngeliat foto-foto kenangan dari Winter Olympic 1984 di Sarajevo tadi. Sambil sesekali teriakin para bocah, “Stay close, Guys! Not too far, please!”

Harusnya masuk museum. Tapi kurang dari sejam lagi tutup. Ah, nanggung amat beli tiket masuk. Jadi, kami memutuskan muter-muter di lobi dan di bagian-bagian terluar saja. Padahal sih karena malas bayar, tuh! Hahahahha.

Museum Olimpiade Lausanne Swiss
Berpose di salah satu sudut gratisan dalam Museum 😀

And … it’s a wrap! :D.

Sekilas ingat komentar salah satu teman soal kerennya Swiss. Dibandingin pula sama Indonesia. Zzzzzz -_-. Dibandingkan juga coba sama negara-negara kayak India-Bangladesh-Pakistan yang sesama Asia dengan penduduk jor-joran juga? ;).

Lagian, jangan gitu, ah ;). Banyak tantangan berat hidup di Eropa yang mungkin luput dari pengamatan kalian.

Tak bermaksud sotoy, tapi dari segi cuaca saja, apa dikira nyaman ya terkurung dalam cuaca dingin berbulan-bulan. Bisa dibilang, mayoritas wilayah Eropa umumnya harus menghadapi cuaca dingin lebih panjang daripada guyuran cahaya matahari.

Untuk nyeritain lain-lainnya, bisa jadi satu artikel sendiri kali hehehe.

Tahukah kalian, konon sebelum menjadi tuan rumah perhelatan akbar sekelas Olimpiade, Sarajevo itu hanyalah sebuah kota kecil yang tidak terlalu dikenal.

Mereka mampu memanfaatkan momentum tuan rumah tadi untuk akhirnya mampu meraih perhatian dunia.

Tapi, apakah mesti menunggu momen-momen luar biasa seperti itu untuk bisa tampil epic? :D.

Usahanya yang penting, ya. Momen itu hanya buahnya saja.

Each day I live I want to be
A day to give the best of me
I’m only one but not alone
My finest day is yet unknown

I broke my heart fought every gain
To taste the sweet I face the pain
I rise and fall yet through it all
This much remains

-Song : One Moment in Time-

Jangan kebanyakan berandai-andai, salahin ini itu, berharap anu-ono, jangan menunggu keajaiban datang. Hanya pecundang yang cuma pandai mengutuk keadaan. Hayuklah menjadi bagian dari keajaiban itu sendiri.

Dikit lagi dari lirik lagu yang sama,

“You’re a winner for a lifetime
If you seize that one moment in time”

De Lausanne, je vous envoie la force et meilleurs voeux.

Let’s seize the day! ^_^. Enjoy the pics ;).

-Salam musim semi dari Lausanne Swiss-

One of the best View of Lausanne Swiss, taken from Hermitage
One of the best View of Lausanne Swiss, taken from Hermitage

Rupa-rupa Wajah Kota Jeddah Arab Saudi

Kisah tentang Kota Jeddah Arab Saudi.

Oleh : Jihan Davincka

(dimuat di Leisure-Republika, Agustus 2012)

***

Corniche Road

Salah satu julukan yang disematkan untuk kota Jeddah Arab Saudi adalah “Pengantin Laut Merah.” Tidak salah. Karena kota ini memang bersinggungan langsung dengan pesisir Laut Merah. Jalan raya di tepian pantai tersebut dikenal dengan nama Corniche Road.

Corniche Road ini tidak hanya berupa satu jalan panjang yang sambung menyambung. Tapi terbagi atas dua bagian, terletak di distrik Al Hamra dan distrik Ar Rawdah.

Yang wajib dikunjungi kala melintasi Corniche Road di sepanjang Ar Rawdah adalah Masjid Apung. Nama aslinya adalah Masjid Ar Rahman. Diberi julukan “Masjid Apung” karena sebagian pondasinya terletak di dasar laut. Sembari menunggu waktu salat tiba, biasanya para jemaah asal Indonesia berfoto di tepian pantai di sisi kanan masjid.

Saya kurang tahu apa yang menyebabkan masjid ini bisa menjadi tempat wajib buat para jemaah asal Indonesia. Ada yang bilang kalau dulunya salah satu khatib di masjid ini adalah seorang imam asal Indonesia. Entah betul atau sekedar rumor saja.

Foto oleh Dani Rosyadi
Masjid Apung. Foto oleh Dani Rosyadi

Sedangkan “King Fahd’s Mountain” adalah salah satu tempat menarik untuk disinggahi di Corniche Road di sepanjang distrik Al Hamra. Air mancur ini merupakan air mancur tertinggi di dunia. Sanggup memancarkan air hingga ketinggian 312 m di atas permukaan laut Merah.

Air mancur ini hanya beroperasi saat senja menjelang hingga waktu subuh. Jadi pastikan melewatinya di malam hari.

King Fahd Fountain. Foto oleh : Raiz Fouqil
King Fahd Fountain. Foto oleh : Raiz Fouqil

Di sepanjang Corniche Road mudah ditemui hotel berbintang lima. Selain hotel kelas atas,  terdapat pula banyak apartemen-apartemen mewah. Berbagai macam theme park (tempat hiburan buat keluarga)  juga hadir.

Saat akhir pekan, hari kamis dan jumat, sepanjang tepian pantai akan ramai didatangi banyak orang. Pada umumnya mereka ke pantai untuk piknik. Orang-orang Arab akan datang beramai-ramai, menggelar tikar, membawa termos dan penganan, duduk bersantai hingga larut malam tiba.

Corniche Road juga menjadi tempat rutin untuk berburu obyek foto-foto yang menarik. Yang mempunyai hobi fotografi sering menjelajahi berbagai area di sepanjang jalan ini untuk merekam jejak alam yang indah di sekitar pantai.

Corniche Road. Foto : Dani Rosyadi
Corniche Road. Foto : Dani Rosyadi

Balad, Kenangan Jeddah di Masa Lampau

Mungkin distrik Balad ini yang paling terkenal untuk jemaah asal tanah air. Disinilah terdapat Corniche Commercial Center yang dikenal sebagai pasar Balad. Tempat ini hampir selalu menjadi tujuan para jemaah Indonesia saat berburu oleh-oleh.

Tapi sebenarnya Balad menyimpan banyak kisah tentang Jeddah di masa lalu. Distrik Balad ini dulunya merupakan pusat kota Jeddah. Konon, kota Jeddah ini tadinya hanya sebuah kota nelayan kecil. Lalu perlahan-lahan membangun diri menjadi salah satu kota metropolitan dunia.

Sisa-sisa bangunan tempo dulu yang usianya ada yang di atas 100 tahun masih banyak tersebar di Balad. Arsitektur bangunannya cukup khas. Bentuknya seperti kotak yang dilapisi jendela-jendela kayu berwarna coklat. Ada sebuah wilayah khusus yang dipugar dan dilindungi oleh pemerintah. Wilayah ini bernama “Historic District.”

 

Historic District. Foto : Dani Rosyadi
Historic District. Foto : Dani Rosyadi

“Historic District” merupakan sebuah kawasan yang terdiri dari beberapa bangunan lama yang sudah tidak ditinggali lagi. Namun bila kita menyusuri jalan-jalan kecil ke dalam kompleks ini, kita bisa menemukan beberapa tunawisma yang memanfaatkan bangunan kosong ini sebagai tempat tinggal mereka.

Beberapa bangunan seperti hotel dan kantor pemerintahan juga masih mengusung arsitektur khas Arab tempo dulu. Seperti misalnya hotel Radisson di Madinah Road. Diberi aksen jendela-jendela coklat kayu yang mengelilingi keseluruhan bangunan.

Pasar-pasar khas Arab juga banyak di daerah Balad. Jangan terpaku di Corniche Commercial Center saja. Ada Bab Shareef, dimana Anda bisa menemukan macam-macam kaftan dan pashmina yang bisa dibeli grosiran. Harganya tentu lebih murah. Jangan lupa ke Bab Mekkah melihat-lihat karpet dan berburu oleh-oleh khas negeri gurun ini.

Untuk membeli abaya tidak perlu jauh-jauh. Abaya di Madinah memang terkenal dengan harganya yang murah tapi bahannya kurang bagus. Mampir saja ke Queen’s Building yang terletak di belakang gedung Corniche Commercial Center. Rupa-rupa abaya dengan harga variatif bisa Anda dapatkan di sana.

Kota Super Mal

Karena seringnya berbelanja di seputaran Balad saja, tak banyak yang tahu betapa banyaknya mal besar di kota Jeddah Arab Saudi ini. Bukan main pembangunan mal di kota besar yang berjarak sekitar sejam dari kota suci Mekkah ini. Ada belasan bangunan yang tersebar di berbagai penjuru kota.

Salah satu yang terbesar adalah Red Sea Mall. Letaknya agak jauh, di sebelah utara pinggiran kota Jeddah. Bangunannya berlapis kaca dimana-mana. Wah, saya sendiri kepayahan saat mencoba menjajal habis seluruh sudut mal ini. Ada juga Mall of Arabia yang tak kalah megahnya. Mal ini terletak di Madinah Road, dan pasti akan terlewati dalam perjalanan pulang-pergi antara Jeddah Arab Saudi – Bandara Internasional King Abdul Aziz.

 

Deretan mal besar di Tahlia Street Jeddah Arab Saudi
Deretan mal besar di Tahlia Street

 

Para pencinta barang-barang bermerk kelas atas jangan sampai melewatkan Tahlia Street yang borju. Disinilah banyak bertebaran gerai-gerai internasional ternama, baik yang berdiri sendiri maupun yang terdapat di dalam mal.

Ada bangunan Versace berwarna emas yang khas yang berdiri megah di salah satu sudut jalan. Al Khaiyat mal yang memamerkan brand kelas atas seperti : Gucci, Saint Laurent, Louis Vuitton, Armani, juga Dolce & Gabbana.

Beberapa mal ‘mewah’ yang berjajar di sepanjang Tahlia Street antaralain : Nojoud Center, Le Mall, Jeddah Mall, Tahlia Roshana Center, Tahlia Shopping Center, dll.

Harga barang-barang merek ternama ini akan lebih murah daripada harga barang yang sama di tanah air. Mungkin karena negara Saudi tidak menerapkan aturan pajak apa pun. Bolehlah membeli beberapa untuk selanjutnya ditawarkan kepada kerabat di tanah air.

Kuliner internasional papan atas juga ikut meramaikan hiruk pikuk di salah satu jalanan utama kota ini. Istimewanya lagi, kuliner di Saudi ini dijamin kehalalannya oleh pemerintah. Jadi, silakan sepuasnya bersantai di restoran kelas dunia yang ada di Tahlia Street.

Mal-mal lainnya yang cukup terkenal dan terletak di jantung kota adalah : Andalus Mall, Aziz Mall, Serafi Mega Mall, Roshan Mall, Star Avenue, dsb. Bermunculan pula mal-mal baru dengan ukuran tak kalah besarnya seperti : Haifa Mall dan Central Park.

Jeddah yang Bertabur Monumen

Sekedar menyusuri jalanan kota Jeddah Arab Saudi saja mata kita akan dimanjakan oleh banyaknya monumen yang bertaburan. Sepeda raksasa di Sitten Street yang terkenal dengan istilah ‘Sepeda Nabi Adam’ itu cuma satu diantara seribu.

"Sepeda Nabi Adam". Gambar : Dani Rosyadi
“Sepeda Nabi Adam”. Gambar : Dani Rosyadi

Monumen-monumen ini tertata rapi, dibangun cantik, memenuhi segala sudut kota. Mulai dari ruas jalan, persimpangan, sambungan jalan, sampai ke tepian pantai. Ada yang berupa bangunan yang bentuknya kompleks, tapi banyak juga yang hanya berupa bangunan kecil nan unik. Misalnya : jangka raksasa, alat-alat pertukangan (linggis, palu, dll), benturan mobil warna warni pada sebuah dinding, bola dunia, sampai berupa tangan raksasa yang terkepal dengan gagahnya.

Corniche Road juga merupakan pusatnya monumen-monumen unik. Sembari menikmati suasana pesisir, jangan lupa mengedarkan pandangan melihat-lihat bangunan-bangunan seru yang berjejer di jalanan pantai ini.

Monumen @Corniche Jeddah Arab Saudi . Foto : Dani Rosyadi
Monumen @Corniche Jeddah. Foto : Dani Rosyadi

 

Favorit saya pribadi adalah “The Giant Lantern”, 4 lentera raksasa berdiri perkasa di salah satu jalan protokol, King Abdullah Road. Jika terlihat di siang hari, monumen ini hanya berupa lampu-lampu besar penuh debu tanpa warna. Tapi cobalah melewatinya di malam hari. Lentera raksasa ini akan berselimutkan cahaya warna warni laksana lentera dari negeri dongeng.

"The Giant Lantern". Foto : Raiz Fouqil
“The Giant Lantern”. Foto : Raiz Fouqil

Jalan-jalan di Kota Jeddah?

Sebenarnya tidak perlu waktu lama untuk menyusuri berbagai tempat tadi. Karena infrastruktur jalanannya yang cukup bagus. Jalanan di Jeddah Arab Saudi lebar dan mulus. Kemacetan juga jarang terjadi.

Kalau Anda adalah jemaah umrah dan haji, mungkin bisa menghubungi pengawas rombongan. Pengawas biasanya ada yang memang bermukim di negara Saudi. Para pengawas ini punya kenalan supir-supir yang juga berasal dari Indonesia. Mungkin Anda bisa memanfaatkan jasa mereka.

 

Foto : Dani Rosyadi
Foto : Dani Rosyadi

Nah, ini adalah salah satu contoh tulisan jalan-jalan yang pernah dimuat di Republika. Ini naskah aslinya :D.

Langit kan Beri Jawaban

“….Baiklah pemirsa, sekarang saatnya kita mengikuti prakiraan cuaca untuk esok hari dari kota-kota besar di dunia…”

Saya terbangun, kepala saya menyembul dari balik kelambu, menyimak dengan khusyuk tayangan di televisi. Mau jadi peramal cuaca, Mbak? Hahaha. Bukaaaaan :D. Saya senang melihat gambar-gambar landmark dari berbagai kota-kota terkenal level dunia, yang menjadi latar prakiraan cuaca sesuai kotanya masing-masing.

Dari dulu, saya selalu ingin melihat dunia :).

Hamil 5 bulan anak ke-3, mejeng di Danau Zurich

 

Tapi waktu kecil rasanya rancu banget, deh, punya mimpi model begini. Mengingat di lingkungan tinggal saya dulu … yang “gitu” deh :D.

Saya tinggal di pemukiman cukup padat yang jaraknya dekat sekali dari Pasar Sentral, Makassar. Bapak saya, yang lulus SD enggak, jualan kelambu di pasar yang sama. Rumah saya juga berdekatan dengan yang namanya Jalan Lamputang. Tempatnya horor banget kalau diingat-ingat sekarang hahaha.

Dulu rasanya biasa saja kalau pagi-pagi pemukiman digemparkan oleh berita, “Ada orang mabo’ ditobo’ di salongang.” (Ada orang mabuk ditikam di selokan). Orang ramai menengok. Ternyata benar, seorang laki-laki ditemukan tewas dengan sebilah badik di perutnya, tergeletak begitu saja di sudut selokan.

Peristiwa itu akan berlalu  begitu saja. Enggak bakal ada yang trauma. Bukan peristiwa langka.  Sama rutinnya dengan pemandangan anak-anak perempuan depan rumah yang buang air di selokan dekat rumahnya masing-masing. Usia sudah di atas 10 tahun santai saja melepas celananya dan buang hajat di tempat terbuka tanpa pembatas sama sekali. Jadi tontonan? Itu bukan pemandangan luar biasa :D.

Walau begitu, tetap pede merangkai mimpi-mimpi besar. Saya terkenang nasihat Mama. Mama, biarpun mentok kelas 3 SMP saja, suka punya petuah ajib-ajib, lho ;). Mama bilang, kalau rajin belajar dan punya nilai-nilai bagus bisa menjadi batu loncatan untuk keinginan mana pun. Saya berasumsi, ini Mama mau ngasih semangat terkait cita-cita “melihat dunia” tadi :D.

Begitu deh … waktu masa sekolah dulu, rengking satu di kelas itu menjadi semacam tujuan hidup! Hahaha. Namanya juga ikhtiar ya, Kakaaaaaaa :D. And I did it very well ;). “Melihat dunia” dimulai dengan hengkang ke ibukota. Lulus SMA, masuk universitas negeri di Jakarta! Dulu kuliah di UI, muraaaaahhhh :D.

Benarlah bila dikatakan bahwa, pendidikan adalah salah satu pemutus mata rantai ketidakberdayaan dalam bentuk apa pun :).

Sejak  mulai bekerja, sok-sok mengincar perusahaan multi nasional.  Tidak terpikir S2 ke luar negeri karena penghasilan waktu kerja dibagi untuk Mama dan adik-adik. Sejak saya kelas 6 SD, mama sudah menjanda.

Kerja di perusahaan multi  nasional dengan harapan bisa dikirim training ke luar negeri! Tidak pernah kejadian. Pernah sekali yang paling sial rasanya. Saya berada di divisi IT dengan karyawan sekitar 20 orang. Sekitar 17 orang dari tim dikirim training ke luar negeri. Saya termasuk 3 orang yang tidak beruntung :'(. Kecewanya jangan ditanya. Kurang usaha apa inihhh *garukGarukServer*!

Hingga akhirnya, saat “kondisi” mengizinkan dan sudah punya anak, saya memutuskan berhenti bekerja. Bertahun-tahun saya mengejar cita-cita “itu”, ternyata … rezeki mencicipi kehidupan di luar negeri dititipkan lewat suami. Belum sebulan saya berhenti bekerja, suami sudah berangkat merantau ke luar negeri pertama kali. Saya akhirnya menyusul.

Tehran (Iran) tempat kami pertama bermukim. Disusul Jeddah (Arab Saudi). Lalu kini di Athlone (Irlandia).

Jadi ingat petuah Ustaz Salim A. Fillah,

“Keajaiban kadang memancar dari sumber yang lain. Bukan dari jalan yang kita susuri atau jejak-jejak yang kita torehkan dalam setiap langkah menjalani usaha. Begitulah keajaiban datang. Terkadang tak terletak dalam ikhtiar-ikhtiar kita.”

Sejak pindah ke Irlandia, pekerjaan suami itu sering mengharuskannya traveling selama beberapa bulan ke negara lain. Termasuk saat sekarang ini mendapat assignment ke Bern, Swiss. Saya ikutan yang ke Swiss ini. Manalah terpikir akan menjejakkan kaki di negara yang biaya hidupnya bikin semaput ini kalau bukan karena fasilitas dari kantor. Hahaha *tepokTepokDompet*.

See?  Begitulah keajaiban datang. Terkadang tak terletak dalam ikhtiar-ikhtiar kita :).

Hamil 4 bulan anak ke-3. Lagi assignment ke Bern-Swiss 😀

 

 

Kita sih inginnya selalu happy-happy joy-joy. Siapalah yang pernah meminta kondisi-kondisi sulit. Tinggal di lingkungan “preman” lah, orang tua cuma pedagang kecil di pasar lah, bapak meninggal tiba-tiba lah, usaha yang ditinggalkan bangkrut lah, segala macam rumah-kios-barang-barang harus dijual lah, tapi … jangan sedih, yaaaa ^_^.

Walau dulu juga rasanya berat hendak membangkitkan angan-angan yang dirasa ketinggian. Jangan gentar dengan kondisi begitu.

Your story may not have such a happy beginning, but that doesn’t make you who you are. it is the rest of your story, who you choose to be… So, who are you, Panda? -Sootsayer, Kung Fu Panda 2-

Bukan tentang dengan apa kita memulainya, tapi bagaimana kita mengakhirinya. Masa lalu untuk belajar, masa depan untuk berharap.

Yang tidak kalah pentingnya adalah cara kita memelihara harapan di masa-masa yang tidak mudah.

Rumah saya kan kecil. Diakalin oleh almarhum bapak, dibikin bertingkat. Walau dibangunnya dikit-dikit hehehe. Akhirnya, di lantai paling atas dibuat teras kecil. Saya suka duduk-duduk sendiri di teras. Asalkan lagi enggak hujan, sih. Kalau hujan biasanya … banjir! Hahaha.

Curhat ke saudara-saudara nanti jadi bahan ledekan. Entah ya, saya rasa dulu kakak-kakak menganggap saya sok begini sok begitu sok ambisius segala macam.  Kepada adik ya manalah dia mengerti gini-ginian. Ke teman apalagiiiii.

Di situ, saya melamun sendiri saja. Paling enak menulis diari saat-saat kayak gini. Menitipkan semua mimpi, yang rada lebay sekali pun. Sesekali memandang ke arah langit lepas, saya ceritakan kepada Yang di Atas sana. Termasuk meminta agar Tuhan tetap menjaga kami saat cobaan besar datang, saat bapak meninggal tiba-tiba itu.

Jangan pernah merasa sendiri. Titipkan harapan padaNya Yang Maha Tinggi :).

Suatu hari nanti, langit akan menjawab doa-doa terbaik kita 🙂. Seperti saat akhirnya terjawab keinginan saya “melihat dunia” sejak puluhan tahun lalu, nggg…umurnya berapa, Mbak? Hahaha.

Salam magis dari nona manis  yang lagi di Swiss :D.

Kehamilan ke-3 sempat melewati beberapa minggu di Swiss