Venezuela – Arab Saudi – Norwegia, Apa Kabar Para Raksasa Minyak Dunia?

Walau sebagian besar dari 10 daerah penghasil minyak bumi  dengan cadangan minyak terbesar di dunia ada di Timur Tengah, namun juaranya adalah VENEZUELA.

Beberapa tahun terakhir harga minyak dunia terjun bebas dalam tempo singkat dan sampai sekarang masih goyang-goyang.

Di bawah kepemimpinan Hugo Chavez dengan jargon “sosialisme abad 21”, Venezuela pernah sangat berjaya.

Di Venezuela kini, inflasi gila-gilaan, kejahatan makin mengerikan, dan angka kemiskinan membubung tinggi. Di kepemimpinan Chavez, Venezuela pernah membabat kemiskinan, turun hingga 30%.

daerah penghasil minyak bumi venezuela
Venezuela (gambar : pixabay.com)

 

Arab Saudi, negara minyak yang paling mencolok di Timur Tengah.

Arab Saudi sekarang juga mengalami guncangan. Masalah politik internal walau tidak separah Venezuela. Penetapan pajak sana sini padahal sebelumnya pajak benar-benar 0% di sana. Harga-harga barang pun tiada seindah dulu lagi.

Norwegia, walau peringkatnya tidak sebagus Venezuela dan Arab Saudi, dimasukkan sebagai perbandingan khusus.

Berbeda dengan Venezuela-Arab Saudi yang memanjakan rakyatnya dengan subsidi konsumsi sana sini berkat limpahan minyak, harga BBM di Norwegia justru tergolong mahal banget dari dulu.

Di Venezuela, Chavez menjanjikan kesempatan kerja yang merata kepada rakyat sebagai salah satu upaya mengatasi kemiskinan. Caranya? Dengan memasukkan sebanyak-banyaknya karyawan ke perusahaan-perusahaan negara (semacam PNS), termasuk perusahaan minyak negara.

Nasionalisasi besar-besaran di berbagai sektor. Hampir semua sektor swasta dinasionalisasi.

Dengan pegawai yang membludak tapi produksi minyak begitu-begitu saja tentu membebani biaya produksi. Belum lagi basis teknologinya memang belum secanggih negara-negara lain.

Saat itu mereka tetap berjaya karena tertolong oleh harga minyak dunia yang lagi tinggi-tingginya dan cenderung naik terus. Marjinnya masih kuat untuk menutupi ongkos produksi.

daerah penghasil minyak dunia
Gambar : japantimes.co.jp

 

Begitu harga minyak dunia terjun bebas, di mana negara ini andalannya ya bisa dibilang minyak tok, langsung ikut terjun bebas.

Pemerintah tak mungkin menempuh cara-cara standar misalnya naikin pajak, lah sektor usaha ibaratnya sudah BUMN semua, siapa yang mau diandelin bayar pajak???

Ini belum ngomongin ketidakstabilan politik internal dan maraknya korupsi di pemerintahan.

Jadi ingat sindiran Margareth Thatcher yang sering digunakan untuk menyindir sosialisme, “The trouble with Socialism is that eventually you run out of other people’s money.”

Niatnya sih mulia. Keseteraan dan pemerataan. Indah nian kedengarannya. Alih-alih memiliki seorang pemimpin berhati emas yang berjuang buat rakyat seumur hidup seringnya malah diktator yang rentan korupsi .

Sosialisme agak berat di praktik karena ya itu tadi, melawan human nature . Lemah di sustainability.

Disangka semua manusia pasti ulet dan mau bekerja sama kerasnya?

Gambar : grrrgraphics.com

 

Sorry to say ya, PNS vs karyawan swasta ya pasti naturenya beda. Yang satu dibiayai negara no matter what, satunya lagi mengandalkan kinerja sendiri + koneksi/keberuntungan untuk bertahan.

Itulah kenapa manusia memang perlu sedikit kompetisi untuk memacu produktivitas. Kita ini manusia biasa toh ya. Rentan manja dan mau enaknya sendiri apalagi kalau serba difasilitasi. Kalian boleh tidak setuju .

Arab Saudi walau terkena imbas yang besar juga tapi lumayan tertolong oleh efisiensi biaya produksi minyak. Saudi Aramco, salah satu perusahaan minyak dengan biaya paling efisien. Kira-kira biaya produksi di Saudi : Venezuela selisihnya hampir 100%.

Saudi tidak ujug-ujug mengusir vendor mereka di awal masa booming minyak (Amerika Serikat) demi nasionalisme yadda-yadda-yadda. Saudi mengambil alih Aramco SETELAH waktunya dirasa tepat.

daerah penghasil minyak bumi

Lesson learned, tidak selamanya anti aseng-asing itu tepat 100%. Kenapa harus anti-anti sih. Bekerja sama saja bagaimana? Tentu yang menguntungkan kedua belah pihak .

Soal nasionalisasi minyak di Saudi ini juga banyak teori konspirasinya. Termasuk terbunuhnya Raja Faisal di tahun 1975.

Monarki absolut menyelamatkan Saudi dari gonjang-ganjing politik yang parah. Kalau pun berantem ya sesama mereka-mereka juga. Rakyat bisa apa wong demo apa pun dilarang hehehe.

Saudi ya korupsi juga. Cuma Saudi ini sekorup-korupnya sungguh saya salut … bahkan kalau kita menjelajahi Saudi sampai ke pedalaman yang jaraknya ratusan kilo dari kota-kota besar seperti Riyadh dan Jeddah, bukan main infrastruktur transportasinya! Mantep abis.

Jalanan lebar dan mulus beratus-ratus kilo dibangun sampai ke atas perbukitan batu. Warbyasak. Nih raja-raja Saudi kek Firaun juga gak nih? #kikirKuku

Kalau mau bawa-bawa impor sih, kedua negara ini impornya sama-sama tinggi, kok . Keduanya juga royal subsidi.

Ada salju di Arab Saudi
Gambar : the-saudi.net

 

Norwegia yang memang spesial. Pasti ada dampaknya juga penurunan harga minyak di sana. Tapi yah, tidak setajam di Venezuela dan Arab Saudi.

Banyak yang mengira negara-negara Nordic ini sosialis? Sebenarnya bukan, sih. Mereka condong ke welfare-state. Welfare state ya kenal pasar bebas juga. Pasar bebas ini yang paling sering dikritik oleh aktivis sosialis sebagai neo-kolonialisme.

Norwegia dan negara-negara Nordic lainnya sebisa mungkin menghindari subsidi konsumsi. Mereka lebih fokus ke pemerataan kesempatan. Ini lebih masuk akal dan ternyata bisa diterapkan walau tentu tidak sempurna 100%.

Di negara welfare state tidak ada jaminan situ pasti dapat kerja, situ kagak perlu ngapa-ngapain pasti hidupnya terjamin 100%. Jebakan ini sebenarnya yang sering bikin buntu. Karena seperti yang saya bilang tadi, ya kaleeeee 100% rakyatnya rajin semua, saleh dan salehah semua dst dst dst.

Yang ditawarkan oleh welfare state adalah pemerataan kesempatan dan pemenuhan kebutuhan dasar. Akses sekolah gratis untuk semua kalangan di mana pun berada, sampai daerah terpencil sekali pun.

Masih nyolot kenapa infrastruktur transportasi itu penting? Masiiihhhh???? #pasangMataSuzanna.

Akses terhadap jaminan kesehatan yang ditanggung sama-sama secara proporsional.

Tunjangan-tunjangan buat kalangan tertentu, tidak semua orang dapat. Itu juga secukupnya banget. Enggak bakal bisa dipakai bermewah-mewah.

daerah penghasil minyak bumi
Norwegia

 

Sisanya? Ya silakan perjuangkan sendiri. Silakan bersaing. Toh “modal”nya sudah dibagikan seadil mungkin . Modal pendidikan dan jaminan kesehatan tadi misalnya.

Kasus di Venezuela dan Arab Saudi mudah-mudahan bisa mengajarkan konsep berdikari untuk suatu negara.

Saya suka dengan penjelasan Ibu Sri Mulyani, salah satu ekonom nasional yang sering dituduh antek NEOLIB , mengenai konsep berdikari.

Bahwa kita ini sering terjebak dengan romantisme bahwa berdikari itu adalah kita bisa sendiri tanpa BUTUH siapa-siapa.

Konsep BUTUH itu tidak selalu berarti lemah. BUTUH itu adalah interaksi. Saling ekspor dan saling impor, pertukaran ilmu dan teknologi, kehadiran swasta sebagai penyeimbang usaha negara dan kompetitor untuk mencegah monopoli dst dst … semua itu yang menyebabkan ekonomi dunia tumbuh .

“To argue against the global economy is like stating opposition to the weather – it continues whether you like it or not.” -John McCain-

Berat ya topiknya hahahaha. Sekali-sekali, yes? 😀

arab saudi jalanan

Kehidupan Lalu Lintas di Kota Jeddah Arab Saudi

Menyetir di Jeddah Arab Saudi ini sampai sekarang info khusus untuk laki-laki. Perempuan enggak boleh menyetir di jalan-jalan umum di seluruh kawasan Arab Saudi.

Kalau untuk Private places, apakah perempuan boleh menyetir atau tidak … tergantung kebijakan setempat.

Buat sebagian besar teman-teman perempuan saya, hal ini bikin gondok. Tapi tidak buat saya yang memang sudah mengubur impian dalam-dalam jika suatu hari nanti saya bisa menyetir sendiri hahaha :p. Cemen amat, Ceu? Dasar penakut :p.

Lah terus kenapa menulis topik ini? Ya kan sering menjadi penumpang ^_^. Hampir tiap malem saya sekeluarga muter-muter di berbagai sudut kota Jeddah. Hiburan ala keluarga kikir sederhana :p.

Loh emang suami enggak kerja? Enggak capek pulang kerja? Jarak kantor ke rumah cuma 5-10 menit. Begitu naruh tas pulang kantor, suami saya sudah ribut-ribut, “Ayo,ayo cepet-cepet pada makan, yuk abis ini ‘cruisin the nite’…” Hiihihi.

Bukan saya yang semangat malah suami yang enggak terlalu betah tinggal di rumah. Boros bensin? Ahem…bensin dulu tuh cuma seribu perak seliter, kalo beli 10 sr dapetnya bisa 22-23 liter.

Wajar bawaannya pengen keluar mulu, enggak mau rugi booo. Ditambah lagi harga mobil yang murce-murce, yuk mareeee pasang kacamata item duduk manis dalam mobil siap kemana-mana bareng pak supir!

Kota Jeddah Arab Saudi
Jalan Layang di Kota Jeddah, Foto : Dani Rosyadi

Tapi urusan ngambil SIM bukan perkara gampang. Suami saya dulu sukses ngelewatin tes komputer tapi gagal di tes praktik. Jadinya tetep harus sekolah nyetir dulu selama 5 hari berturut-turut. Biaya ngurus SIM sekitar 500 – 1000 sr (sekitar 1 – 2 jutaan).

Katanya bisa nembak tapi jarang ada yang mau. Harus hati-hati kalo ketangkep kan enggak lucu. Uniknya tidak ada batasan umur dalam menyetir. Siapa saja marilah kemari, asal lulus tes mengemudi yang 2 macam tadi.

Makanya saya agak syok melihat anak kecil kira-kira umur 12 ato 13 tahun nyetir mobil, nampaknya lagi nganterin ibunda tercinta. Tapi iya juga sih, aturan ini relevan dong ya. Karena perempuan kan enggak boleh nyetir, gimana kalo di rumah enggak ada laki-laki dewasa?

Seperti kota metropolitan pada umumnya, Infrastruktur jalanan-jalanan utama di kota Jeddah itu pada umumnya lebar-lebar dan dibikin megah. Jalanannya mulus-mulus. Jalanan underpass nya juga boros listrik tuh. Kalau malem-malem lewat terowongan gitu, silauuu.

Titik-titik kemacetan tidak terlalu banyak. Paling Madinah Road (dalam kota) yang sering banget macet atau daerah Tahlia di sore dan malam hari. Tapi percayalah, macetnya jalanan di Jeddah masih jauh lebih jinak dari Gatsu + Mampang nya Jakarta pas pulang kantor hehehe :p.

“Terserah orang Arab mau nyetir seenak udelnya, yang penting di Jeddah enggak ada motor!” begitu slogan supir pribadi suami saya kalau saya tanya seberapa parah si orang-orang Arab kalau bawa mobil?

No offense yak, suami saya waktu di Jakarta sering banget bete gara-gara ulah pengendara motor. Terutama kalo mereka rame-rame nutup jalan dari arah yang berlawanan. Kadang nyelipnya bisa ampe puluhan motor hehehe.

Kalau saya sih enggak ada masalah, kan tinggal tidur menghibur pak kusir yang sedang bekerja pak ‘supir’ hahaha :p.

Soal orang Arab kalau menyetir malas lihat kiri kanan, nyalip seenaknya, enggak usah terlalu khawatir. Jalan-jalannya lebar kok, bisa tersedia 4-5 jalur untuk arah yang sama. Yang penting jangan ikut-ikutan ngotot.

Sudah ada peraturan baru mengenai batas kecepatan maksimum. Dendanya sadis loh kalo sampai melampaui batas kecepatan hehehe. Kalau dalam kota sih memang bisa menyetir dengan imut dan manis, tapi kalau sudah di tol menuju luar kota kan sepi. Mana tahan enggak injek gas dalem-dalem :p.

Selain tol gratis semua, jalanannya lurus, mulus, dan lebar. Menyetir ke Madinah, jalanan luruuuuuus saja sepanjang 400 km, sepi pulak. Makanya 3x suami saya kena denda karena melanggar batas kecepatan di tol Madinah Road ini.

Sekali denda 300 riyal! Huhuhu.

Jarang ada mobil yang keserimpet ato kesenggol. Kecelakaannya lebih sadis karena efek kecepatan tinggi. Bisa penyok habis-habisan mobilnya. Enggak sabaran, doyan ngebut.

Tapi biarpun orang-orang timur tengah itu rata-rata dikenal bertemperamen tinggi jarang ada yang adu jotos di jalan. Paling mereka ribut-ribut sebatas mulut doang, kalau berantem bisa ditangkap Pak Polisi.

Kalau mau klaim asuransi mesti dapat surat keterangan dari polantas. Makanya kalau cuma lecet-lecet dikit sih jangan harap bisa klaim hehehe. Dicuekin saja sama polisinya.

Soal parkiran juga mantap. Gratis (hampir) dimana-mana. Tapi di Balad enggak gratis, makanya males ke Balad hahaha.

Di mal-mal parkiran luas dan gratis. Tapiiiiiiii…. itu orang-orang Arab kalau parkir kadang seenaknya. Bayangin ya, parkiran yang harusnya buat 3 mobil dipake buat 1 mobil! Parkir mencong-mencong dan malah horisontal saking malesnya banting setir kali *tepokJidat*. Maklum enggak ada tukang parkir.

Beberapa jalanan di Kota Jeddah ini sudah macam parade mobil mewah. Showroom mobil-mobil mewah juga tersebar di mana-mana.

Mungkin karena disini tidak mengenal kata ‘PAJAK’ jadinya harga mobil emang dahsyat murahnya. Kira-kira bisa lebih murah 30-50% dari harga mobil di Jakarta. Nah, kalau di-compare lagi sama gaji di Jeddah dulu, yuk mareeeee….  hahaha. Harga mobil jadi kayak remah-remah.

Makanya enggak usah heran kalau para ekspat asal Indonesia di Timur tengah banyak yang bermobil ‘besar’. Murah, Cyin!

Terus kenapa situ tetap pake sedan mungil nan murmer? Kan kami ini keluarga pelit sederhana hahaha :p. Sudah cukup puas lah papasan dengan mobil kece-kece hampir tiap malam di gemerlapnya jalanan kota Jeddah ^_^.

menyetir di Kota Jeddah Arab Saudi
Lamborghini Cruise Club – Jeddah (nyomot dari Youtube)

Dari Jeddah ke Ireland lumayan kaget dengan sopan dan tertibnya pengemudi-pengemudi Eropa. Sempat semangat mau belajar nyetir mobil. Tapi terus hamil dan berhenti terus males mulai lagi.

Eh sekarang di Texas kok jadi kayak nostalgia lagi dengan hingar bingarnya lalu lintas di Jeddah hihihi. Banyak mobil bagus seliweran di jalan jugak.

Jadi ngerti mungkin ya pada pakai mobil gede biar kalau kena hantam lebih “save”. Bayangin kalau pakai mobil mungil, lebih gampang tergilas :(.

Pertanyaan BESARnya, sudah merantau bertahun-tahun ke sana kemari, si Eneng etah naon belum bisa nyetir jugaaaaaaaa hahahahaha *bantingKunciMobil*.

Corniche Road Rabigh Arab Saudi yang Tenang

Corniche Road ini umumnya sebutan untuk nama jalan yang bersisian dengan pantai. Tidak hanya di Arab Saudi, Corniche Road juga umum ditemukan di berbagai kota lain di wilayah Timur Tengah lainnya. Di Kota Jeddah, Corniche Roadnya juga lumayan terkenal.

Nah, yang ini, Corniche Road Rabigh Arab Saudi.

corniche road rabigh arab saudi

Rabigh, sekitar 200 km dari kota Jeddah, sekitar 2 jam menyetir mobil dari Jeddah. Gila ya bisa 2 jam hahahaha. Mungkin enggak persis 200 km lah ya.  Dan memang kalau ngebut di tol Saudi tuh susah deh mau ngerem :p.

Rabigh ini sebenarnya kota biasa saja di Saudi. Kotanya tergolong lebih kecil dibanding Jeddah yang glamour. Yang cukup terkenal tentang kota ini yaitu hadirnya pengilangan minyak, dkk milik “Petro Rabigh” (PR).

PR sendiri adalah perusahaan patungan antara Saudi Aramco dan Sumitomo Chemical Co yang memproduksi dan memasarkan hidrokarbon halus dan petrokimia. Basisnya tentu di Arab Saudi. Demikian kata om Wikipedia tentang si PR ini :P.

Menjelang perbatasan kota, kita akan disambut dengan banner segede gaban yang bertuliskan “Petro Rabigh”. Pokoknya tinggal ikuti petunjuk jalan, seharusnya tidak akan tersesat menuju kota Rabigh ini.

 

Checkpoint nya sih tempo hari enggak ada yang jaga, jadi kita melenggang mulus masuk ke dalam kota.

 

Trus, Corniche Road nya sebelah mana? Tenang, ada petunjuknya juga. Mungkin sudah pakemnya kalau ada orang luar yang sampai memasuki wilayah Rabigh, pasti tujuannya tak lain dan tak bukan : mejeng di Corniche Road, Rabigh! Hahaha :p.

Agak misleading ini jalan menuju Corniche Road Rabigh. Malah saya, yang biarpun sangat menyadari kelemahan saya dalam hal menghafal jalan, dengan pedenya bilang ke suami : “Salah jalan ini, mah.”

Tentu suami saya sudah sangat terlatih mendengar celetukan sok tahu dari sang istri ini hihihi, jadi beliau memilih bungkam sampai akhirnya … tibalah kita di Corniche Road-nya Rabigh! Jalannya sudah benar ternyata :P. Diem aja lu makanya hahaha :p.

Bisa ditebak, kegiatan pertama selepas mobil terparkir : saya dan anak sulung berhamburan keluar dari mobil. Waktu itu anak nomor 2 masih di bawah setahun. Yang nomor 3 masih di awang-awang hihihi. Si mamah langsung berpose dan sulung saya heboh main pasir ^^.

Rabigh 2011

<

Corniche Road nya sih pendek saja, ya. Enggak nyampe 10 km. Ini yang dibuka buat umum saja. Di sisi kanan dan kiri, sisanya ditutup pake pagar kawat, dengan papan petunjuknya :”Private Beach” … yaaaa, penonton kecewa :(.

Public Beach, sebagiannya dilengkapi dengan playground, dkk. Sebagian lagi ‘polos’ aja. Tapi tempatnya bersih walau kusam gitu hihihi. Airnya itu looooh, jerniiiiih :).

Waktu kita disana, ada yang kemping gitu, orang sini emang seneng pasang tenda di tepi pantai. Asik sih ya, tapi kalo masih nenteng bayi mah, ogaaaah *lemparPampers*.

Tempatnya relatif sepi. Ada fasilitas MCK di tepian yang banyak pondok-pondok nya + playground. Paling buat duduk-duduk ama piknik bentaran di sini. Soalnya enggak ada hiburan apa-apa. Biasanya kan hiburan standar ada penyewaan motor-motor ATV gitu. Di sini, gak ada apa-apaan.

Palingan yang sempat terlihat, ada yang berenang (sebatas di pinggiran doang, secara laut lepas gini, mana berani ke tengah). Terus ada juga yang mancing juga.

Terus ada monumen lucu disini. Kirain siapa yang iseng markir mobil disini, ternyata 3 mobil berjejer itu memang khusus diparkir disitu buat monumen. Disela-sela nya dikasih batu-batu biar gak dibawa kabur soalnya itu mobil beneran, booo ;).

Kita parkir agak lamaan di bagian yang ber-playground tadi. Biar bocah puas main-main dan mama puas foto-foto tanpa gangguan berarti :p.

Si balita mah sih standar ya, sibuk maenan perosotan sama acak-acak pasir. Dan entah kenapa sesi foto-fotonya kok hasilnya kurang mentereng jadi males pajang di sini. Udah di-edit abis-abisan, masiiiihhh aja rasanya kurang kece huhuhu 😀 *bantingKamera*.

Lagian pas masih asik explore pose yang pas, yang kecil minta nenen, ya udah, masuk mobil deh kita berdua. Papa aja yang sibuk hunting foto dan eike gigit jari dalam mobil sampe pulang hahaha.

Gak sempet nungguin sunset. Pengen pulang saja karena rencananya pengen mampir di King Abdullah Economic City, tapi ternyata enggak dibuka buat umum. Hadeeeuuh :(.

Ya, segitu aja sih kira-kira oleh-oleh dari Rabigh :). Gosh, it was 6 years ago. Sekarang mah anak udah 3 aja ya hehehe. Lebih heboh lagi kalau diajak jalan-jalan :D. Alhamdulillah ya. Repot mungkin iya, tapi senengnya juga 3x lipat kan? ;). Love you, boyz <3.

Bisakah Perempuan Bekerja di Arab Saudi?

Bisakah perempuan bekerja di Arab Saudi ? Bisa dong ah ;). Pilihannya bukan cuman kerjaan ‘domestik’ macam asisten rumah tangga, IRT, ato nanny saja.

Tempat umum yang paling banyak terlihat pekerja wanita (formal) nya? Di rumah sakit!

Mulai dari suster, para admin, resepsionis, bahkan dokter :). Oh ya, pasti pada ngirain obgyn di Jeddah enggak ada yang laki-laki? Tet tooooot :D. Obgyn laki-laki boleh kok di Arab Saudi. Tapi saya dari dulu lebih nyaman jika ditangani dokter perempuan sih ;).

Women in Saudi (gambar : theguardian.com)

Biarpun di rumah sakit Jeddah ini susternya juga banyak yang berjenis kelamin laki-laki, tapi dominasi perempuan tetep terasa. Rempong enggak tuh jadi suster tapi ber abaya ria? Ya enggak pakai abayaaaaa hehehe.

Perawat perempuan pakaiannya ya selayaknya kostum perawat pada umumnya. Mengenakan seragam putih-putih. Tapi di Saudi pakai celana panjang semua. Penutup kepala juga tidak wajib. Mungkin hampir 100% suster di sana berkebangsaan Filipina, tapi ada juga sih orang Indonesia.

Contoh di RS langganan saya sekeluarga, thank God perawat si dokter anak favorit kita itu Ibu Nana, asli Jawa dan sudah bermukim 15 tahun di Jeddah! *glek*. Dokter pun standar yah, pake baju putih gitu, tapi bawahan nya bebas asal panjang, rok juga boleh.

Kalo admin dan resepsionis perempuan seragamnya warna gelap. Ada yang biru, hitam, atau coklat. Penutup kepala juga tidak diharuskan. Celana panjangnya yang wajib. Tapi yang pake cadar juga diperbolehkan.

Saya pernah kebingungan pas dilayani oleh resepsionis perempuan bercadar. Yah, aksen bahasa inggris orang arab kan rada beda yah, ngomongnya cepat, dari balik cadar pulak jadi saya kurang bisa menangkap dengan tepat. Ya sudahlah, pake body language sajahhh hehe.

Kalau di kantor-kantor non rumah sakit? Ya boleh juga.

Sebenarnya kendala utama adalah peraturan Saudi dimana laki-laki dan perempuan tidak boleh campur dalam ruangan yang sama gitu. Nah, kalo kantornya sanggup menyiapkan ruangan terpisah ya boleh-boleh saja.

Di beberapa bank di Saudi ada yang istilahnya “ladies branch” gitu, di mana pegawai di cabang bersangkutan kebanyakan adalah perempuan. Belum pernah masuk ke sana sih, tapi sepertinya melayani nasabah perempuan maupun yang family (suami istri, atau laki-laki yang dateng disertai perempuan).

Di kantor suami saya semasa bekerja di Jeddah juga ada kok karyawan perempuan. Tapi gedungnya enggak sampai terpisah. Ruangannya saja yang dibuat khusus, semacam “women section” gitu. Sepertinya levelnya belum sampe engineer sih, tapi bagian HRD atau administrasi lainnya kalau tidak salah.

Ada pun dalam praktik sehari-harinya para karyawan perempuan boleh-boleh saja sih wara wiri di luar ruangannya. Tapi harapan untuk bertemu jodoh via cinta lokasi sepertinya memang agak mustahil ya di Arab Saudi ini hihihi :p. Lah jadi ngomongin jodoh :p.

Terus, sejak tahun 2010 atau 2011, profesi kasir di supermarket besar juga sudah dibuka untuk perempuan. Pas awal saya tiba di Jeddah kan kasirnya laki-laki semua. Kasir perempuan sendiri harus pake cadar. Wajib,jib jib jib! Pakai seragam abaya hitam plus cadar hitam dan hanya boleh melayani customer perempuan atau family (suami istri, atau laki-laki yang datang disertai perempuan).

Kumpul-kumpul di salah satu rumah teman di Jeddah, 2011 😀

Adapun di toko-toko kecil (minimarket atau bakala/toko kelontong), di restoran atau rumah makan mana aja, dan di butik maupun gerai / toko pakaian baik yang stand alone maupun dalam mal, pegawainya hampir 100% laki-laki. Sudah ada perubahan sih jelang saya mau pergi dari sana, bagian “pakaian dalam perempuan” sudah mempekerjakan pegawai perempuan.

Di beberapa gerai kosmetik juga pegawainya sudah banyak yang perempuan. Karyawan toko sama seperti kasir. Pakai abaya dan cadar. Entah deh kalau sekarang sudah berubah aturannya atau belum.

Di sekolah sendiri, aturan pemisahan laki-laki dan perempuan sudah diterapkan sejak grade 2 (kelas 2 SD). Guru-guru untuk girls section ya perempuan semua dan sebaliknya. Aih, kasian, adik-adik jadi gag ngerasain deh serunya cinta monyet hahahahaha *racuuuunnnn :P*

Tempat-tempat kursus juga pasti dipisah. Di universitas apalagi :P. Tapi sekarang di kota Thuwal kan udah ada KAUST, universitas internasional pertama di Saudi yang menerapkan aturan internasional alias bebas merdeka dari aturan-aturan khas Saudi. Denger-denger sih KAUST ini memang mengandung pro dan kontra yang cukup sengit :P.

Kesimpulannya, memang buat yang masih galau-galau dalam urusan percintaan janganlah melabuhkan diri ke Saudi hehehehe, merantau gih ke negara laen :P. Tapi yah, era globalisasi sudah mulai merayap masuk ke Saudi. Sekarang era internet iniiiiii. Mungkin perlahan aturan ini bakal dilindas zaman pula pada akhirnya.

Tapi aturan abaya – nya saya merasa cocok aja sih, lumayan untuk menghemat waktu matching in baju-celana ama jilbab (abaya item tinggal sret-sret pake jadi, cocok ama warna kerudung apa ajah ^_^) dan tidak silau iri-irian penampilan (ama ngiri liat model-model rambut paripurna gitu? :p) hehe.

Abaya mah paling mahal juga warnanya sama-sama hitam :p. Jadi “kompetisi” nya bisa dikurangi hanya di seputar tas, sepatu, ama … kacamata hitam kali kalo di Saudi hahaha. We are girls, what do you expect? :p #elapKacamata.

Geng abaya di Obhur, Jeddah 2012 😀
balad jeddah arab saudi

Berbelanja di Balad Jeddah, Serasa Berbelanja di Indonesia

Jemaah umrah dan naik haji asal Indonesia, seharusnya sangat familiar dengan daerah Balad Jeddah ini. Belanja di Balad Jeddah Arab Saudi sepertinya sudah menjadi itinerary standar :D. Balad Jeddah ini sebenarnya bagian dari distrik Al Balad maksudnya, sedangkan tempat belanja yang terkenal itu adalah Corniche Commercial Center dan sekitarnya.

Ini agak mikir-mikir juga saat menulisnya, karena Mama Gober jarang benar belanja-belanja ke Balad Jeddah (dan tempat belanja lainnya hahaha). Tapi saya sempat ke Balad Jeddah juga saat menemani kerabat atau teman (yang kebetulan lagi umrah dan ketemuan di Jeddah) untuk belanja ke sana.

Kalau ke daerah Balad Jeddah ini akan sering banget berpapasan dengan orang Indonesia. Tapi sebenarnya lebih banyak lagi orang Filipina. Jangan heran kalo para penjual di sini tidak sedikit yang fasih berbahasa Indonesia walau asalnya bukan dari Indonesia. Ketahuan yaaa, yang sering berfoya-foya disini ya orang Indonesia hahaha *kibasDuit*.

Balad Jeddah
Corniche Commercial Center

Sebagain toko-toko di sana pun menggunakan nama-nama yang “provokatif” misalnya : “Toko Ali Murah”, “Toko Gani Murah”, “Toko Noor murah”, “Toko Kamal Murah”, dll.

Penjaga toko punya berbagai cara menarik perhatian calon pembeli. Saya pikir  mereka tahunya panggilan standar kepada pelanggan seperti, “Siti Rohmah, Siti Rohmah, ayo belanja.”

Terakhir saya ke Balad Jeddah , mereka sudah lebih kreatif : “Ayo Bunda Cantik, Bunda Cantik, mampir Bunda Cantik” *ihiiiyyy*. Jadi setiap ada jemaah umrah perempuan dengan ciri fisik ala orang Indonesia yang lewat (kelihatan biasanya dari seragam atau cara berpakaian), yang tua maupun yang muda, langsung kena rayuan ‘maut’ tadi. Bisa saja hahaha.

Tapi percayalah harga-harga yang ditawarkan si ‘Toko X Murah’ ini sama sekali enggak murah :p.

Balad Jeddah

Info yang cukup hits adalah belanja di sana bisa pake rupiah lho! Jadi enggak perlu ribet menukar ke riyal. Memang tidak di semua toko/gerai mau, tapi pada umumnya bisa kok ;).

Jualan apa aja sih di sini? Walah, rupa-rupa banget jualannya.

Mulai dari oleh-oleh khas Arab Saudi seperti : kurma, sajadah, coklat-coklat an, kue-kue an, dsb. Barang-barang elektronik juga mudah ditemukan. Segala emas dan aneka rupa perhiasan juga ada. Teman-teman saya juga mondar mandir ke wilayah sini untuk membeli abaya.

Parfum pun banyak, mulai dari yang asli sampe yang KW kesekian. Tas-tas pun juga sama. Tapi barang KW di sini enggak semeriah dan sebanyak kalau di Indonesia sih ya hehehe. Haram yaaaa ibu-ibu hukumnya pake barang KW :p.

Sampai dipisahin sampai berapa paragraf nih saking banyaknya jenis jualan di sini :D. Ada juga gerai-gerai original seperti Crocs, Giordano, Casio, dll yang ‘berani’ buka lapak di sini. Dijamin asli kalau toko-toko sepert ini (y).

Supermarket pun tidak ketinggalan. Termasuk favorit saya si Khaled Bawasir ada di Balad, cuma enggak sanggup kalau belanja di cabang yang sini, ruameeeeeeeee gak kira-kira *ngelapKeringat*. Terus ada juga swalayan-swalayan yang lain.

Jual beli pulsa juga komplit, jadi kayak mangga dua saja, ya. Beberapa orang mengasosiasikan tempat belanja di Balad dengan Tanah Abang. Tapi buat saya Balad ini lebih nyaman dan enggak terlalu banyak senggol-senggolan :D.

Tempat jajan Indonesia juga rame di Balad Jeddah. Ada Rumah Makan Rasela dengan berbagai macam menu nasi goreng, sop buntut, ikan/ayam bakar/goreng, gado-gado, mie ayam, bakso, aneka jus, dan di rak deket pintu depannya juga jualan snack khas lokal Indonesia. Ada juga rumah makan Garuda yang konon jualannya itu juaranya mie ayam.

Dan tentu saja si bakso Mang Oedin. Terkenal banget tempatnya. Saya pribadi sih enggak terlalu suka nongkrong di Mang Oedin. Tempatnya terbuka jadi berangin banget. Sangat enggak nyaman kalau datangnya bareng anak-anak kecil. Mana menurut saya baksonya terlalu berminyak dan kurang cocok dengan selera saya. Mang Oedin juga menyediakan menu lain seperti nasi goreng. Tapi sumpe deeeh, rasanya juga kurang enak!

Minta ampun dulu sama yang punya ya hahahaha :p. Lagian makanan itu kan soal selera ya ;). Banyak juga kok yang ngefans dengan Mang Oedin ini (y).

Bakso mang oedin

Sebaiknya kalau mau mendapat harga yang oke saat belanja di Balad Jeddah sebaiknya seragam umrahnya tinggalin di hotel saja. Pinjam abaya hitam dari siapa gitu hehehe. Atau beli sendiri juga boleh lho :p.

Kemungkinan para penjual di sana menyangka kalau jemaah umrah kurang tahu harga dan biasanya memang enggak punya pilihan tempat lain buat belanja. Kadang karena keterbatasan waktu juga, kan?

Kelebihan Balad Jeddah ini karena penjualnya memang tidak sedikit yang fasih berbahasa Indonesia ;). Tempat lain banyak loh sebenarnya yang lebih murah  tapi ya gitu … lokasinya kurang terkenal dan dijamin enggak banyak bahkan tidak ada yang bisa berbahasa Indonesia :D.