Tempat Wisata di Swiss : City Center Kota Luzern

Sepertinya sih semua wilayah di Swiss bisa dimasukin sebagai daftar tempat wisata di Swiss kan, kan, kan. Saking cakepnya negeri satu ini *love*. Tapi sekarang mau bahas salah satu kota yang paling sering menjadi tujuan wisata di Swiss.

Selamat datang di Kota Luzern, disebut juga Lucerne. Luzern, salah satu kota turis utama sebagai tempat wisata di Swiss.

Danau Luzern

Umumnya turis datang ke kota ini untuk ketemu salju di Mount Titlis. Tapi saya mah orangnya takut sama salju . Dulu padahal nafsu bener pengin lihat salju . Udahlah, salju emang serunya kalau dilihat di tipi doang hahaha.

City centernya yang sebagian didominasi wilayah kota tua juga seru kok buat jalan-jalan. Gratis pulak #eh hahaha . Mau skip langsung ke vlog nya juga boleh kok *uhuk*.

Swiss ini negara impian banget ya untuk bermukim . The best country I’ve ever been in. Sayang dulu cuma 2 bulan doang nemplok di sana . Suami saya memang pekerjaannya banyak traveling. Sekali traveling bisa sampai 3 bulan.

Saya jarang ikut sih. Nah pas ke Swiss ini karena lagi hamil muda jadi dibawa serta bareng anak-anak. Ya sekalian jalan-jalan juga sih hihihi. Swiss gitu lho, dekat juga kan dari Irlandia :D. Tapi  kalau assignment misalnya ke Chile atau China tempo hari saya enggak ikut. Anak-anak gimana keseringan bolos.

jajaran bus turis

Nah sekarang ini domisili sedang di Texas karena ada assignment jugak. Sekalian nerangin yaaa biar kesannya enggak pindah kerja mulu :p. Di Texas sekolah gratis dan kayaknya anak-anak gampang beradaptasi karena sama-sama berbahasa Inggris. Assignmentnya pun kemungkinan minimal 6 bulan.

Lumayan juga kan buat anak-anak mengenal banyak kesempatan bermukim di tempat lain :). Sekalian…jalan-jalan tentunya! Teuteeeeuuuppp hahahaha.

Eh, ini lagi ngomongin Swiss kok malah nyasar ke Texas. Back to the topic.

dari atas katedral pemandangan

Kelemahan Swiss adalah…mahalnya ampooooonnnn hihihi .

Tapi banyak juga spot-spot bagus yang bisa dinikmati sebagai tempat wisata di swiss versi gratisan . Termasuk di Luzern ini nih.

Kemarin pas ke Luzern juga sempat ketemu teman yang dulu bareng-bareng di Jeddah. Mereka sekeluarga masih di Jeddah. Gaya banget dah reuninya di Swiss .

foto rame2

Kegiatan jalan-jalan kami di Luzern kemarin diawali dengan Tur Kapal di Danau Lucerne. Nah, yang ini bagian muter-muter di City Centernya.

Beberapa tempat yang perlu didatangi di City Center Luzern itu :

1.- Chapel Bridge

Teman kami dari Jeddah, Mbak Ani dan keluarganya. Kami janjian di sekitaran CHapel Bridge ini. Mereka menginapnya memang di tepian sungai dekat area sana.

Chapel Bridge, jembatan beratap kayu yang keunikannya menjadi ciri khas Kota Luzern ini, terbentang secara diagonal di atas permukaan Danau Luzern. Ada lebih dari 100 lukisan dari abad ke-17 dipamerkan di sepanjang badan jembatan yang menunjukkan aktivitas kota Luzern di masa tersebut.

Dari ujung ke ujung, butuh waktu sekitar setengah jam menyusurinya. Itu sambil lihat-lihat + ngobrol ketawa-ketawa dan mampir di toko suvenir yang juga buka lapak di beberapa sudut di sepanjang jalan menyusuri jembatan.

Penting banget foto-foto di Chapel Bridge ini kalau ke Luzern . Salah satu landmark kota Luzern. Biasa lah ya, sekalian bukti kalau udah ke Luzern hihihi.

Tempat wisata di swiss chapel bridge luzern lucerne
The Chapel Bridge – Luzern

2. – Hofkirche

Geser dikit, kita memasuki wilayah kota tua. Bisa mampir ke Hofkirche ini.

Menara kembar, khas bangunan gereja dari masa Renaissance. Kami masuk ke dalam, melihat-lihat peninggalan bangunan masa lalu yang masih berdiri kokoh sampai sekarang.

Bukan arsitek sih, jadi cuma lihat-lihat saja tapi enggak paham nama dan jenis bangunan segala macamnya . Tapi takjub ya bagaimana bangunan yang usianya sudah ratusan abad tapi masih tegak berdiri hingga kini :).

Jalan-jalan ke City Center Luzern Katedral Hofkirche
Hofkirche Luzern

2. Lion Monument

Ukiran seekor singa dalam keadaan sekarat, yang terpahat di dinding batu ini merupakan monumen dari masa Revolusi Perancis. Untuk mengenang meninggalnya ratusan serdadu yang membela Raja Louis ke-16 dalam sebuah serangan.

Singa mungkin melambangkan keberanian ya makanya dijadikan simbol perlawanan.

Pas jalan-jalan ke sini ketemu dengan rombongan turis Tionghoa gitu. Ada beberapa bus. Walah, makin keren aja nih Sang Negeri Naga. Mainnya udah sampai Swiss hihhi. Di banyak tempat wisata di Swiss, dominasi mereka sangat terasa lho :).

Bentar lagi, turis Indonesia nyusul. Aamiin :D.

Tempat wisata di Swiss Lucerne

3. Town Walls

Dinding kota ini dibangun di sebelah utara wilayah Kota Tua, Luzern. Ada 9 menara dengan bentuk berbeda-beda melengkapi bangunan dinding peninggalan abad ke-14 ini.

Di atasnya juga ada semacam jam unik begitu. Lengkap dengan keterangan segala macam. Sayangnya, saya enggak ikut naik ke atas. Maklum status masih bumil waktu itu. Masa-masa manjaaaaahhhh :p.

Hanya suami dan anak sulung plus anak kedua yang naik ke atas dan muter-muter di sana. Dalam vlog bisa lihat jelas ya tempatnya dari berbagai sudut.

Tempat wisata di Swiss Kota Luzern Lucerne
Pemandangan dari atas menara 🙂

5. Melihat-lihat bangunan klasik di Kota Tua Luzern

Ini sih ada di beberapa tempat. Langsung saja ya penampakannya lewat foto hehehe :

old swiss house

Swiss memang luar biasa deh urusan pemandangan alam. Kontur permukaan tanah yang berbukit-bukit memang bikin capek kalau dijalani tapi sekaligus menjadi kelebihan dari negara ini. Karena pemandangan bukit-bukitnya jadi kelihatan lebih jelas terutama kalau kita lagi di atas kereta antar kota.

Keren banget. Bisa lihat pepohonan di kejauhan, susunan rumah, gunung es maupun perbukitan hijau dan padang rumputnya. Cakeeeeepppp. Luzern ini hanya satu dari sekian banyak tempat wisata di Swiss yang kudu banget didatengin :D.

Ya Allah, pengin ke sana lagi. Semoga bisa ngulang lagi ke sana hehehe. Aamiin <3.

Objek Wisata di Swiss : Museum Olimpiade Lausanne Swiss

Salah satu Objek Wisata di Swiss selain pemandangan alam, nih : Museum Olimpiade Lausanne Swiss. Kami kunjungi di pertengahan musim semi tahun 2015. Masih agak dingin waktu itu, sih :D. Sekitar bulan April.

Vlognya pun sudah ada lhoooo *uhuk* :p.

https://www.youtube.com/watch?v=W2iS4F7QT2Y

Olimpiade modern pertama kali dilangsungkan pada tahun 1896. Sesuai salah satu makna kata Olympiad, perhelatan ini diadakan setiap 4 tahun. Sejak tahun 1924, pelaksanaannya terbagi 2 : Olimpiade Musim Panas dan Olimpiade Musim Dingin.

Awalnya, kedua olimpiade ini selalu berlangsung di tahun yang sama. Dimulai tahun 1994, pelaksanaannya dipisah per 2 tahun. Jadi tahun 1994 adalah pelaksanaan Olimpiade Musim Dingin di Norwegia, tahun 1996 Olimpiade Musim Panas di Amerika Serikat … dan begitu seterusnya hingga kini.

Sebanyak 3x even olimpiade dibatalkan karena Perang Dunia pertama dan Perang Dunia Kedua.

Menjadi tuan rumah Olimpiade bisa mendatangkan banyak keuntungan bagi negara penyelenggara. Misalnya dari segi bisnis-ekonomi serta pariwisata.

Sayangnya, dari wilayah Asia hanya Jepang-China-Korea Selatan yang pernah menjadi tuan rumah Olimpiade. Benua Afrika belum pernah sama sekali.

London dan Athena menjadi negara yang paling sering menjadi tuan rumah.

Per tahun 2022 nanti, Beijing akan menjadi kota pertama yang menjadi tuan rumah olimpiade musim panas dan olimpiade musim dingin.

Museum Olimpiade ini sendiri berdiri sejak tahun 1993.

Memiliki 2 bagian utama : Taman Olimpiade yang didominasi rerumputan hijau dan pahatan patung-patung tema olimpiade dari para pemahat profesional di berbagai negara.

Olympic Museum Park, Lausanne Swiss , objek wisata di swiss
Olympic Museum Park, Lausanne

Satunya lagi, bangunan museum yang menyimpan video, memorabilia, daftar biografi dari atlet-atlet yang berlaga di olimpiade dan kisah-kisah dari berbagai peristiwa dalam olimpiade yang pernah berlangsung.

Untuk masuk ke area di lantai 2 yang bagian museum memorabilia kita harus membayar. Ada beberapa paket yang tersedia. Karena tur keliling museum kayaknya membutuhkan waktu agak lama ada paket yang beserta makan siang + snack segala.

Untuk paket dasar bayarnya sekitar 26 frank/chf per orang. Kalau ada plus-plus makan dan guide segala macam paketnya bisa sampai 50 frank/chf per orang :D.

Wah, horor amat yaaaaaa hahahaha *gembokDompet*.

Tenaaaaang, sodara-sodarah. Kalau cuma jalan-jalan santai menikmati Taman Olimpiade dan beberapa bagian dalam museum itu gratis kok ;). Lumayan banyak juga dapatnya. Nah itu yang dalam video, itu semuanya gratisan aja :D.

Kami datang sudah kesorean. Jam 5 kalau gak salah. Sementara museumnya tutup jam 6 sore. Sayang lah kalau bayar karena untuk keliling seluruh ruangan dalam museum butuh lebih dari satu jam.

objek wisata di swiss museum olimpiade lausanne swiss
Berpose di salah satu sudut gratisan dalam Museum 😀

Semoga negara kita terus berbenah ya. Ibukota DKI Jakarta siapa tahu  menjadi kota pertama di Asia Tenggara yang menjadi tuan rumah Olimpiade. Aamiin :D.

Nama negara bisa terdongkrak habis-habisan tuh. Seperti Sarajevo, kota kecil di Eropa Timur yang menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Dingin tahun 1984. Membantu banget bagi negara kecil ini untuk bangkit dan menjadi dikenal namanya oleh dunia.

Apalagi Indonesia, nih. Penduduknya segabruk-gabruk tapi diaspora asal Indonesia masih suka salah dikenali sebagai orang Malaysia/Filipina atau Thailand hehehe. Enggak usah baper :p.

Kota Lausanne sendiri punya beberapa tempat wisata lain yang tidak kalah serunya. Sebenarnya secara umum sudah nulis tentang Kota Lausanne ini.

objek wisata di swiss kota lausanne swiss
One of the best View of Lausanne (Switzerland), taken from Hermitage (objek wisata di Swiss)

 

Ternyata rekamannya lumayan lengkap tentang Kota Lausanne jadi deh pengin bikin vlognya jadi beberapa :D. Ditulis lagi ya biar ada alasan share vlognya kan, kan, kan hihihihi :p.

Btw, kemarin mengobrol dengan teman yang tinggal di Jeddah. Kita ketemuan tuh di Luzern Swiss tahun 2015 kemarin. Dan kita sama-sama tergila-gila sama Swiss. The best country of the world ya kayaknya hehehe. Objek wisata di Swiss emang terhitung banyak, apalagi dari segi pemandangan alam.

Sementara mungkin, orang-orang non Asia kalau jalan-jalan ke Bali atau Pattaya heboh juga dengan eksotisnya Asia dan merasa Asia itulah yang surga dunia :p. Ya begitulah, rumput tetangga selalu lebih keren :p.

 

 

 

When We Just Can’t Have It All :)

Bagian dari Wisata Swiss yang agak sayang dilewatkan :Rosengarten, salah satu tempat yang menempati daratan tertinggi di Kota Bern, Swiss.

rosengarten rimbun

Yang membuat pemandangan alam Swiss yang mempesona itu karena sebagian kotanya memiliki daratan yang tidak rata. Jalanannya bisa turun naik gitu hehehe.

Yang paling kontras adalah kontur daratan di Kota Lausanne.

Tapi di Bern pun juga tidak rata-rata amat. Makanya, ada banyak titik di mana kita bisa leyeh-leyeh dan memandangi kota Bern dari ketinggian. Di Rosengarten ini misalnya :D.

Rosengarten = Rose Garden = Taman Bunga (Mawar) :D.

Taman bunga ini menjadi tempat bagi lebih dari 200 spesies bunga mawar. Saat ke sana, sebagian besar bunga-bunga belum mekar. Maklumlah masih akhir Maret waktu itu. Musim seminya  masih malu-malu.

Di sana juga ada restoran yang cukup besar yang menyediakan tempat makan outdoor dan indoor. Menunya ada yang makanan ringan seperti sandwich, kue-kue manis, roti-rotian lainnya, teh serta kopi. Ada juga makanan yang lebih berat seperti pasta-pastaan dll.

Rosengarten bisa ditempuh dengan tram no.10 dari Bahnhof-Bern. Turun di halte dengan nama yang sama, “Rosengarten”. Dari Bahnhof, waktu tempuhnya sekitar 20-25 menit. Terhitung agak jauh nih untuk kota seukuran Bern. Tapi tramnya nyaman banget kok ;). Swiss gitu lho ^_^ *jempolGedeGede*.

Di salah satu sisi area Rosengarten, ada tembok menjalar yang menjaga agar kita tidak terperosok di lembah bukit yang bawahnya tuh jalan raya gede. Tidak terlalu curam sih lembahnya.

Di situlah, saat matahari musim semi mulai rutin menampakkan diri, banyak orang duduk-duduk sambil lihat-lihat kota dari atas. Eike dong salah satunya hihihihi.

rosen sama abil

Nah, foto di atas itu (yang ada saya dan si bocah nomor 1 :p),  pemandangan Bern yang kita lihat dari tembok di Rosengarten tadi saat pepohonan belum ada yang berdaun ^_^.

Waktu itu, awal musim semi baru tiba. Sebagian besar pohon belum keluar daunnya. Jadi kita bisa memandang jelas bangunan-bangunan tinggi di bawah dan aliran sungai Aare yang warnanya hijau bening itu ^_^.

Surga bener deh rasanya <3. Pengin aja gitu rasanya duduk-duduk terus sampai lamaaaaaaaa di situ.

TerCandy-candy banget saat tiba-tiba kepikiran kalimatnya Terry ke Candy di seri 7 yang fenomenal itu, “Lebih baik waktu berhenti di saat seperti ini.”

Lebay kaleeeeee hahaha. Niatnya mau wisata Swiss kok ya malah dramaaaa -_-.

wisata swiss kota bern rosengarten
Dari atas Rosengarten, Bern, Swiss

 

Enggak lama abis ke Rosengarten ini, kami sekeluarga balik ke Irlandia lagi. Anak-anak udah kelamaan bolosnya hahaha. Hampir 2 bulan boooo ngintilin suami di Swiss :p. Tapi suami cuma 3-4 hari terus balik lagi ke Bern untuk menyelesaikan assignment yang totalnya memang 3 bulan.

Terus dikirimin foto ini, dari spot yang sama di Rosengarten. Wah, pohon-pohonnya sudah gondrong semua hihihi. Pemandangan di bawah sudah banyak yang ketutup dengan dedaunan dari segabruk-gabruk pohon di sudut-sudut jalan dan pinggiran lembah.

rosen rimbun 3

Tapi jadinya seger lihatnya. Kalau pas awal musim semi, cantik tapi kesannya gersang karena yang terlihat hanya batang dan dahan pohon coklat-coklat tanpa daun sama sekali.

Tapi kalau pepohonan rimbun, pemandangannnya jadi enggak maksimal. Penginnya dapat semuanya yak, ya yang seger-seger plus pemandangan cantik :p. Ya gimana … sudah dari sananya begitu.

Dalam hidup ini pun *mulai dah ceramahnya hihihi*, kita juga tidak selalu bisa berkesempatan memilih yang baik-baik saja. Misalnya nih, uang pas-pasan, lapar plus masih harus menyimpan uang untuk pulang naik angkot. Maunya sih tetap makan enak dan tidak jalan kaki pas pulang hahaha.

Apa daya, uang hanya cukup untuk beli nasi + kuah sayur nangka + kerupuk + perkedel di warteg, sisanya cukup untuk naik kendaraan umum. Padahal makan soto ayam enak juga, tuh, huhuhu.

Atau mari kita pikirkan drama yang lebih esktrim lagi hihihi.

Perhaps, about this girl. Tentang salah satu persimpangan di jalan hidupnya.

Ceritanya, dese ingin melanjutkan sekolah ke luar negeri dan sudah dapat beasiswa. Terus dapat tawaran pekerjaan juga di sana. Heaven! Sudah dari kecil dia bercita-cita “melihat dunia”.

Eh, si pacar ngajak nikah. Tapi pacarnya enggak mau kalau dia ke luar negeri. Maunya nikah saja terus sekolah atau kerja tetap di Indonesia.

Orang tua si perempuan ya kepenginnya sekolah dulu saja enggak usah kerja. Paling kan setahun dua tahun baru pulang dan menikah. Tapi itu pun yang laki-laki enggan menunggu.

Jadi semacam ultimatum, pilih aku atau luar negeri! Yuk yaaaaa, kurang drama apa iniiiiiii hahaha.

Then, she has to choose.

Pastilah pilihan yang berat, ya. He was such a perfect person for her. Tapi ya si Eneng juga udah kadung punya cita-cita mau “melihat dunia” bahkan sejak sebelum bertemu si pria idaman tadi.

Si Eneng tentu penginnya ya dia tetap sekolah terus mungkin bekerja sebentar lalu pulang lagi dan melanjutkan mimpinya yang lain :). Atau, si Akang yang ikut ke luar negeri. Sekolah juga kek atau cari pekerjaan juga.

Pokoknya gimana biar tercapai semuanya.

Jadilah dia tetap berangkat ke luar negeri dan merelakan hubungannya kandas. Ya putusnya pun drama. Lalu, si perempuan berharap at least yang laki-laki memaafkan dan hubungan tetap berlanjut walau bukan lagi sebagai kekasih atau calon istri.

Si perempuan akhirnya bersekolah di luar negeri dan mendapatkan pekerjaan di sana. She finally gets what she wants. Well, some of them.

Iya sih, akhirnya yang laki-laki mengirim permintaan maaf. Anggaplah via email, ya. Happy ending? Entar dulu. Di dalam email itu ada lampiran dalam bentuk attachment.  Berupa undangan pernikahan. Nyesssss, sakitnya di mana, sakitnya di mana … huhuhu.

Ranting-ranting kering di sekitar Rosengarten membuat  mata kita leluasa menikmati pemandangan kota dari sebuah tembok tinggi. Walau cuaca masih terbilang dingin dan berangin. Namun, begitu musim semi mencapai puncaknya dan pepohonan lagi rimbun-rimbunnya, suhu pun sedang cerah-cerahnya, justru pemandangan dari atas tertutup oleh banyaknya dedaunan yang muncul.

Sometimes along this thing called life, we can’t have it all.  We just … can’t :). Tapi kalo rajin menabung mudah-mudahan kesampaian ya cita-cita kita ngerasain yang namanya wisata swiss ke berbagai tempat cantik di negara Eropa ini ;).

Have a nice weekend, Readers! <3

rosen rimbun 2

Kota Zurich Swiss, Bukan Ibukota Lho!

Jalan-jalan ke Kota Zurich Swiss yuuuuuk ^_^.

Hayoooo ngaku siapa yang sering mengira ibukota Swiss adalah kota Zurich :D. Tersangka lainnya adalah Kota Jenewa hehe.

Wajar sih, ya. Soalnya Zurich memang kota terbesar di negara Swiss ;). Jenewa juga terkenal karena menjadi salah satu kediaman PBB. Ada kantor pusat PBB di Jenewa, terbesar nomor 2 setelah yang di New York, US.

Tapi ingat yaaaaa, ibukota Swiss itu … Bern! :D.

Jalan-jalan ke Kota Zurich Swiss, pic by Dani Rosyadi
Welcome in Zurich ^_^, foto : Dani Rosyadi

 

Kami muter-muter di Swiss di hari terakhir di Swiss pas tempo hari menemani suami yang lagi assignment di sana, Masih hamil waktu itu. Gak selesai-selesai nih  bahas Swiss hihi.

Kami tinggalnya di Bern tapi bolak balik naik pesawat dari/ke Dublin ya via Bandara Internasional di Zurich ^_^. Sekalian deh. Mumpung pesawatnya berangkat malam, sejak pagi kami sudah berangkat dari Bern ke Zurich.

Barang-barang bawaan dititip di loker stasiun. Kami cuma bawa ransel dan stroller saja. Pergi ke mana saja di Kota Zurich?

1-  Berlayar  Menyusuri Danau Zurich

Keluar dari Bahnhof (stasiun kereta), naik tram menuju Zurich Burkliplatz. Di sini nanti ada dermaga buat naik kapalkeliling-keliling Danau Zurich. Habis beli tiket, sambil nunggu kapal datang dan merapat, tentu saja kita … foto-foto duyuuuuuu hihihi *ngikikCentil*.

Dermaga Burkliplatz Zurich Swiss pic Dani Rosyadi
Numpang eksis di Dermaga Burkliplatz Zurich 😀
Kota Zurich Swiss pic by Dani Rosyadi
Pas lagi hamil #week21 di Zurich tempo hari :D.

Kapalnya datang, mari kita cussss :D.

The Zurich Lake pic by Dani Rosyadi, jalan-jalan ke Kota Zurich
Danau Zurich, foto : Dani Rosyadi

Kapal ini bukan hanya untuk turis. Juga merupakan salah satu transportasi sehari-hari untuk orang lokal dalam kota di Zurich. Kapalnya berhenti di banyak tempat. Mampir-mampir nurunin dan naikin penumpang kayak angkot :D.

Cuma bedanya, kapalnya mampir ke dermaga bukan mangkal di halte hehe.

Lake Zurich, the dock, pic by Dani Rosyadi jalan di kota Zurich Swiss
Salah satu dermaga di Danau Zurich, foto : Dani Rosyadi

Duduknya di atas geladak kapal yang sudah disiapin banyak kursi dan meja. Yang membuat saya tidak nyaman saat berada di atas kapal … anginnya kenceng, Ceu! Duh, dingin banget :(. Yang bikin takjub ada saja lho bapak-bapak yang ketiduran sambil mangap di tengah terjangan angin dingin begitu hihihi.

Untung tidak terlalu ramai, jadi bisa duduk agak melipir ke pinggir biar agak aman sedikit dari jangkauan angin. Pemandangannya sih memang cakeeeeep <3. Langsung saja ya lihat foto-fotonya ;).

A view at the Zurich Lake, Zurich Swiss pic : Dani Rosyadi jalan-jalan ke Swiss
Pemandangan dari atas kapal di Danau Zurich, Swiss. Foto : Dani Rosyadi

Tiba di Kota Zurich sudah agak siang. Jadi, kami makan siang di atas kapal. Sudah nyiapin roti isi dari Bern sebelum berangkat tadi hihihi. Habis makan, anak-anak langsung gatal pengin lari-lari. Ya sudahlah. Bumil duduk pasrah saja ngawasin sambil duduk.

Danau Zurich Swiss by Dani Rosyadi
Danau Zurich, foto : Dani Rosyadi

Karena kelamaan dan akhirnya bosan sendiri, kita enggak jadi ngikut satu putaran penuh. Harusnya kan bisa ikut berlayar sampai tiba kembali di Burkliplatz tadi. Enggak ingat turun di dermaga mana, pokoknya begitu dari jauh lihat ada taman bermain, kami siap-siap turun.

2 – Main di Playground dan Lihat-lihat Taman Kota

Bumil lapar pengin ngemil. Jadi jajan di kafetaria dekat dermaga. Aish, mahalnyaaaaa… roti sebiji 3 frank. Ukurannya juga mini gitu.

Anak-anak dibiarin main di taman bermain biar energinya tersalurkan -_-. Daripada lari-larian kayak orang gila.

Cuacanya cukup bagus sebenarnya di Kota Zurich waktu itu. Walau saat berlayar dingin, begitu di daratan kembali, matahari bersinar makin terik. Ramai juga playgroundnya. Sudah jam pulang sekolah kali, ya, di sana makanya pada beredar di taman bermain :D. Orang lokal semua sih nampaknya.

Jalan ke kota Zurich di Swiss foto : Dani Rosyadi
Main di taman di Zurich, Pic : Dani Rosyadi

Sebelum mencapai playground-nya, juga melewati taman cantik yang lagi hijau royo-royo ^_^. Gak konsen sih mau explore taman karena anak-anak sudah melihat aneka rupa mainan di playground yang tempatnya disekat pagar kawat di sekelilingnya.

Untung sempat motret :D. Ini sekitar bulan Mei ke sananya. Jadi awal-awal musim panas makanya cuaca bisa lumayan terik begini.

City Park in Zurich Swiss, taman kota Zurich foto : Dani Rosyadi
Taman Kota di Zurich, foto : Dani Rosyadi

3 – Jalan-jalan Ke Kota Tua

Setelah sukses menyeret anak-anak keluar dari playground, kami naik tram menuju ke kawasan Kota Tua. Ini, nih, salah satu obyek wisata tujuan di hampir semua  kota-kota di Eropa.

Salah satu landmark Kota Zurich, Menara Kembar GrossMunster ada di sini. Dari jauh sudah kelihatan puncaknya. Grossmunsternya sendiri merupakan bangunan katedral untuk kaum Protestan. Konon, gaya bangunannya menganut arsitektur romawi kuno. Manut aja kita ya enggak paham juga jenis-jenis arsitektur hihihihi.

GrossMunster Zurich pic by Dani Rosyadi
Menara Kembar GrossMunster di kawasan Kota Tua di Zurich, foto : Dani Rosyadi

Nah itu jalanan di depan tuh sebenarnya jembatan, di bawahnya ada sungai, Limmat River. Coba scroll up ke foto paling pertama di postingan ini. Itu juga penampakan Menara Kembar Grossmunster dari sudut yang berbeda. Di foto itu, kelihatan jembatan yang dimaksud beserta sungainya ^_^.

Bangunan di kota tua ramping-ramping tapi cukup tinggi. Gaya bangunannya masih dipertahankan. Lihat deh itu model jendelanya. Lucu, ya? :D. Mirip sih dengan jendela-jendela di bangunan-bangunan peninggalan zaman Belanda di Indonesia. Tinggi-tinggi dan punya 2 buah tirai kayu yang bisa dibuka lebar-lebar ke sisi kiri dan kanan.

Jalanannya juga kecil-kecil. Di sini hanya bisa dijelajahi dengan jalan kaki atau naik sepeda. Banyak rumah makan/kafe/restoran di ruas-ruas jalannya. Tempat jual suvenir juga mendominasi. Saya selama di Swiss jarang beli-beli, Euy. Mahal aja gituh hahaha *umpetinDompet*.

Old Town Kota Zurich Swiss Kota Tua Swiss foto : Dani Rosyadi
Kota Tua di Kota Zurich, Swiss (foto : Dani Rosyadi)

Walau bangunan lama tapi sangat terawat dan catnya juga masih baru dan bersih. Muter-muter di sini enggak lama, sih. Toko-toko kebanyakan kita lewati begitu saja. Habis suka deg-degan nan grogi kalau lihat harga-harga barangnya hahaha.

Sehabis menyusuri lorong-lorong dalam daerah ini, barulah kami mengunjungi katedralnya. Suami selalu senang lihat-lihat bangunan  model begini. Setiap masuk ke gereja, anak-anak harus dikawal penuh :p. Setiap masuk ke ruangan dalam katedral kan ada saja orang yang lagi khusyuk berdoa. Takutnya mengganggu kalau mereka tanya ini itu apalagi lari-larian.

The Munster in Kota Zurich Swiss, pic : Dani Rosyadi
Foto depan gereja, pic : Dani Rosyadi

4 – Zurich, a View from The Top

Dari Kota Tua, kami naik tram lagi ke daerah City Center. Mau ke main building ETH Zurich University. Mau daftar S2, Neng? Hihihi. Enggaaaaaaa :D.

Tadinya kan mau ke Uetliberg Hill, tempat yang paling direkomendasikan buat melihat Zurich Swiss dari ketinggian. Tapi waktunya sudah enggak pas. Sudah kesorean. Pan kita harus ngejar pesawat mau balik ke Dublin.

Pas masih di Bahnhof, kami sempat nanya-nanya ke Tourist Center di sana. Dari sanalah kita dapat info bahwa dari teras bangunan ETH Zurich Uni tadi juga bisa buat lihat-lihat Kota Zurich Swiss dari “atas”.

Untuk ke sananya saja harus  nyambung naik funicular. Nama angkutan funicularnya, The PolyBahn. Naiknya sih bentar banget. Cuma sekitar 2-3 menit. Naiknya bareng mas-mas dan mbak-mbak yang mau ke kampus :D.

Aiiihhh, lihat bangunan kampus langsung menggelora lagi semangat pengin lanjut kuliah *tsaaaaah*. Mupeng sesaat sih. Langsung lemas lagi pas ketemu banyak mahasiswa/wi yang nenteng-nenteng buku tebal hihihi.

Begini ini nih salah satu pemandangan dari teras bangunan utama kampus ETH Zurich Uni :

A view of Zurich from ETH Zurich University pic Dani Rosyadi Kota Zurich
Zurich, from ETH Zurich University Main Building, pic : Dani Rosyadi

Di teras bangunan kampus banyak kursi-kursi plastik gede-gede warna merah. Tapi di pojok-pojok banyak juga sepasang muda mudi lagi duduk tempel-tempelan sambil anu-anu-an hihihihi.

5 – Dinner ‘Lesehan’ di Pinggir Jalanan

Sehabis foto-foto dan duduk bentaran di kampus, kami balik ke Bahnhof pakai tram. Tahu-tahu sudah jam setengah 7. Sudah jelang musim panas dimana waktu terang akan jauh lebih lama daripada waktu malam. Wajar, hampir jam 7 tapi hari masih terang benderang :D.

Pergilah kita ke Migros (semacam Carrefour kalau di  Indonesia). Semacam supermarket segala ada gitulah. Tapi enggak gede-gede amat tempatnya. Ceritanya mau beli makan malam murah  meriah :p.

Di Migros, beli chips aneka bentuk biar kenyang dan kesannya banyak (hahaha), satu kotak salad ukuran gede, dan fish fingers plus air mineral. Terus jalan ke arah bangunan Bahnhof.

Depan bahnhof ada jalanan besar yang kiri kanannya toko-toko semua. Di pinggirnya disediakan tempat-tempat duduk sementara di tengah jalan, tram dari berbagai jurusan lewat lalu lalang. Duduk deh di situ sambil makan malam. Saya dan suami mengobrol betapa senangnya kalau kita punya kesempatan tinggal permanen di Kota Zurich. Aamiin <3.

Bahnhof road Zurich, Swiss, pic Dani Rosyadi
Tempat kita dinner hihihi , pic : Dani Rosyadi

 

Kelamaan tinggal di desa, nih, jadi norak lihat kota besar (si Zurich Swiss ini) hahaha.

Selesai makan, suami ngambil foto-foto lagi sekitaran situ. Habis itu baru masuk lagi ke dalam Bahnhof. Ambil barang dari loker … siap-siap naik kereta ke bandara :D.

Until we meet again, Zurich Swiss <3.

Bahnhof Zurich swiss foto : dani rosyadi Kota Zurich Swiss
Bangunan utama Bahnhof Zurich Swiss, foto : Dani Rosyadi

 

Sungai Rhine Basel Swiss, foto oleh Dani Rosyadi

Basel Swiss : Numpang Lewat di Kota Industri :D

Tidak terlalu ada niat mengunjungi Kota Basel Swiss sebenarnya. Pas dicek di jajaran kota-kota turis yang highly-recommended buat didatangi, kota Basel Swiss juga tidak ada. Basel memang lebih dikenal sebagai kota industri.

Tapi pas pengin ke Jenewa, kok rasanya sayang ya. Jaraknya agak jauh dari Bern, kota tinggal saya pas nyangkut di Swiss selama 2 bulan tempo hari :D. Saya penginnya dalam sehari itu bisa jalan-jalan ke beberapa  kota sekaligus. Minimal 2 kota lah. Kalau ke Jenewa, secara jarak kurang cucok. Sayang kan, tiket keretanya mahal hihihihi. Kita belinya tiket  harian. Jadi bisa dipakai sepuasnya selama 24 jam.

Jadilah di suatu akhir pekan itu, kami  memutuskan untuk pagi-pagi ke Basel Swiss, lalu lanjut ke Interlaken-LauterBrunnen-Murren. Di tulisan ini mau bahas Basel-nya dulu :D.

Kota Basel Swiss foto oleh Dani Rosyadi
Kota Basel Swiss, foto oleh Dani Rosyadi

Dari Bahnhof (stasiun kereta), harus naik tram sekali menuju ke pusat kota (City Center). Tentu harus absen ke salah satu landmark kota Basel, The Basel Minster.

The Basel Minster, sebuah katedral kuno dengan dua menara yang hampir sekujur bangunannya berwarna merah bata. Unik, ya ^_^. Tadinya awal dibangun diperuntukkan sebagai gereja Katolik namun kini digunakan sebagai gereja Protestan. Sekitar tempat ini yang paling dirubung sama turis-turis.

Kita bisa masuk ke dalam buat lihat-lihat.

Katedral di kota basel Swiss, foto oleh Dani Rosyadi
Suasana dalam katedral, Basel

Anak-anak saya sudah rusuh lari-larian. Enggak enak juga, sih. Soalnya kan tempat buat sembahyang gitu, ya. Mana lagi lumayan ramai. Jadi saya bujukin buat melipir ke pinggir-pinggir biar enggak mengganggu dan bikin bising.

Jendela-jendela berukuran tinggi nan lebar menghiasi pinggir-pinggir bangunan. Anak-anak sempat mau difoto di sini.

Katedral in Basel Swiss, pic by Dani Rosyadi
Foto dekat jendela Katedral

Keluar dari bangunan katedral, tembus ke halaman belakangnya. Ternyata, di belakang ada semacam taman gitu. Dari taman ada tembok-tembok yang berbatasan dengan Sungai Rhine yang mengalir melalui Kota Basel.

Dari atas tembok di taman belakang Katedral itu kelihatan aliran sungai yang kebetulan saat itu airnya berwarna keruh kecoklatan. Sepertinya karena habis turun hujan beberapa hari berturut-turut. Sungai di Bern juga begitu. Aslinya berwarna hijau kebiruan. Sehabis hujan berhari-hari, warnanya berubah jadi kecoklatan.

Liburan ke Swiss foto di Sungai Rhine Basel foto oleh Dani Rosyadi

Karena waktunya lumayan mepet, sebentar saja foto-foto di katedral ini hihihi, anak-anak sudah rewel minta ke museum. Biasaaaaa, mau lihat dinosaurus hahaha. Enggak bosen-bosennya, ya, zzzzz -_-.

Natural History Museum letaknya memang dekat-dekat lokasi Katedral juga. Jalan sedikit dari katedral. Sempat mampir pengin pipis, eh, toilet depan katedral enggak bisa dibuka pintunya. Padahal sudah masukin koin.

Akhirnya numpang pipis di sebuah toko penjual cinderamata gitu yang ketemu di jalan menuju museum. Untung dibolehin sama yang punya toko :D.

Tiba di museum, sempat berdebat dulu sama suami. Soalnya museumnya kelihatannya cupu begitu tapi uang masuknya 8 frank per orang. Anak-anak gratis, sih. Kalau pakai Swiss Travel Pass juga gratis.

Suami ogah masuk ke sana. Tapi saya enggak tega lihat muka anak-anak. Sudah mupeng gitu pengin ketemu dinosaurus hahaha.

Akhirnya kita tetap masuk berempat :D. Iya sih, museumnya memang garing. Suka sakit hati ya mengingat dulu masuk Natural History Museum di London yang megah, besar, dan komplit itu … GRATIS! *gigitTiket* :p.

Museumnya terdiri dari beberapa lantai. Lumayan lah itu naik turun tangganya. Pengunjung juga tidak terlalu ramai saat weekend. Ini salah satu penampakan dalam museum.

Inside Natural History Museum in Basel, Swiss

Jauh banget lah interiornya dibanding Natural History Museum yang di London :D. Sudah diintip-intip juga belum link yang saya kasih di atas? :p.

Anak-anak sih tetap senang dan heboh kayak biasa. Tetap ribut sendiri. Sumpah deh, saya bosan banget, hoaheeemmm… tapi demi anak-anak, cengiran tetap maksimal saat difoto #eaaaaaa hahaha.

Liburan ke Swiss Natural History Museum in Basel (pic by dani Rosyadi)

Setelah menjelajahi semua lantai, buru-burulah kita keluar. Garing banget gilak huhuhu. Bagian dari liburan ke Swiss yang paling wakwaw nih, tapi gimana, anak-anak seneng jadi ya sudahlah.

Anak-anak tuh ya kalau sudah keinginannya dipenuhi pasti rewel minta pulang ke rumah! Idih, perjalanan masih panjang kali, Guys :p *kekepinKarcisKereta*.

Dari museum, kita jalan ke arah jembatan yang menghubungkan sisi kota yang terpisah oleh aliran Sungai Rhine. Ini juga tempat turis banget. Ramai nian orang lalu lalang dan jepret-jepret di sepanjang jalan di atas jembatan. Termasuk kita lah pastinya hahaha.

Liburan ke Swiss Kota Basel , foto oleh Dani Rosyadi

Ya karena memang itinerary pas di Basel Swiss semata-mata berdasarkan asal icip-icip Basel saja ogah rugi sama harga tiket (hihihi), selesai mejeng di area jembatan di atas sungai, kita mulai hilang arah. Mau ngapain lagi, ya?

Lagian juga harus ngejar waktu kereta karena dari Basel Swiss kudu ke Interlaken lagi. Tapi seperti biasa, suami tetap ngotot kita harus all out.

Harusnya tinggal jalan dikit buat naik tram ke arah Bahnhof, tapi kita jalan agak jauh ke arah pasar. Aduh lupa itu pasar apaan ya namanya hehehe :p. Ngelewatin juga ruas-ruas jalan kecil yang dipenuhi toko ini itu. Enggak terlalu konsen lihat-lihatnya karena sambil ngangon anak :p.

Anak-anak  mah ngakunya bosan tapi tetap enerjik lari-larian -_-.

Lihat-lihat bentar suasana di pasar. Sambil nunggu tram ke arah stasiun kereta. Ramai juga karena weekend. Yang dijual  umumnya makanan-makanan ringan, suvenir ini itu, bahkan ada sayur mayur juga.

market

Sekitar 15 menit kemudian, tram-nya datang juga. Balik deh kita ke stasiun kereta, nunggu jadwal ke Interlaken ;).

Numpang lewat Basel-nya sekitar 4 jam-an gitu lah. Nyesal enggak sih mampir ke Basel Swiss? Ya enggak lah, kalau dikenang-kenang lagi sekarang ya tetap memorable juga.

Kota Basel Swiss, foto oleh Dani Rosyadi

Apalagi bangunan katedralnya tadi. Jarang-jarang melihat bangunan kuno berwujud kastil/katedral yang warnanya agak ‘beda’ … merah bata :). Biasanya warna-warna standar seperti abu-abu kehitaman atau kecoklatan. Dan minimal…bisa jadi satu postingan khusus di blog terkait tema liburan ke Swiss, kaaaaan? Hhihihi :p.

Last pic from Basel, nih :D.

sungai di basel

Yuk, yuk, yuk, liburan ke Swiss … rame-rame liburan ke Swiss! ^_^.