Sebosan-bosannya saya dengan tulisan “Every Mom Has Her Own Battle ini” ini hahahhaha, tetap saja beberapa hari lalu rasanya harus di-share untuk ‘menghibur’ seorang kawan yang merasa terintimidasi oleh salah satu video emak-emak yang sempat go viral beberapa waktu lalu :D. Eh, videonya kemudian bangkit lagi 2 hari lalu hihihi.
Ditanggapi sebagai : Working Mom vs Stay at Home Mom :D. Again and again, yaaaaaa :p.
Saya nonton videonya padahal pesannya tuh tentang pentingnya memberi hari libur yang layak kepada para asisten rumah tangga dan tidak serta merta mempercayakan semua-muanya kepada mereka. Tapi saya perhatikan sebagian teman saya memang share videonya sebagai justifikasi “hebatnya menjadi stay at home Mom.” Enggak nyambung sebenarnya sama isi videonya hehehe. Tapi ya sudahlah, penerimaan orang kan beda-beda.
Maaf ya, ilustrasi tulisan ini pakai foto-foto pribadi yang sebenarnya enggak ada hubungan dengan video hahahaha. Malas ah share videonya :p. Tidak ingin memperkeruh acara #gagalPaham ini :D.
Ceritanya lagi nemenin anak browsing hihihi
Untuk saya pribadi, sudah cukup saya melihat bukti nyata ibu-ibu yang tetap hebat walau harus berkarier di luar rumah. Dua diantaranya adalah kerabat yang cukup dekat, lho. ANak-anak mereka sudah tumbuh dewasa dengan kapasitas di atas rata-rata menurut saya ;). Sayang, tak enak mau sebut nama. Belum minta izin :D. Sebaliknya, ada juga contoh ibu-ibu yang ‘stay at home’ yang (maaf) tidak menunjukkan hasil yang cukup :). Saya juga kenal langsung dan melihat dengan mata kelapa sendiri.
Adapun jika saya memilih menjadi yang ‘stay at home’ ya terus kenapa? Jadi keren gitu? hehehehe. Ya situasi-kondisi-pemikiran-pilihan pribadi saja lah ^_^.
Alhamdulillah, some of us did not have to stay away from our children/home for some extra cash ;). Alhamdulillah, dengan tetap berada di rumah masih ketemu cara untuk membahagiakan diri sendiri. Alhamdulillah, semua kebutuhan materi tercukupi cukup dengan suami saja yang harus wara wiri di luar rumah hehehehe.
Tapi pernahkah terpikir mengenai kehidupan seorang ibu tunggal misalnya? Pernahkah terpikir bahwa bukan ibu tunggal pun kadang memaksa seorang Ibu ‘turun gunung’ untuk menopang ekonomi keluarga. Bukan semata-mata karena lari dari tanggung jawab mengasuh anak, kan? :).
Alhamdulillah, jika sebagian dari kita diberikan berkah lain berupa potensi untuk memberikan ‘lebih’ kepada lingkungan sekitar di luar lingkungan keluarga. Apalagi ada kondisi internal yang memadai. Suami mendukung penuh misalnya. Anak bisa dititipkan pada kerabat atau mendapat embak yang oke punya ^_^. Why not?
Ceritanya ini mama mau berangkat bekerja :D. Working Mom nih maksudnya
Tapi adakah terlintas mungkin ada juga orang yang punya potensi sama tapi lebih memilih di rumah saja sama anak-anak? Boleh dong yaaaa ^_^. Atau mungkin potensinya justru dalam rumah. Hobinya masak atau bikin kue misalnya. Dia tidak berniat membuka bisnis katering sih tapi boleh kan kalau dia hobinya di dapur.
Orang-orang kayak gini jadi berkah tersendiri buat tetangganya yang ogah nge-dapur hahahahaha. Di Jeddah dulu, tidak tanggung-tanggung, 3 tetangga Indonesia saya jagoan dapur semua. Depan rumah spesialis masakan Makassar asal daerah saya. Yang lantai 5 masterchef hampir semua masakan khas Indonesia. Ajegile, bikin mie goreng biasa saja bisa bikin suami saya klepek-klepek hihihi. Yang lantai 1 senang berbaking ria.
Adalah saya yang tidak tahu diri dan kerjanya hanya menerima kiriman saja hahahhahaha. Aku padamulah ya emak-emak Mushirifah. Kapan-kapan harus reuni khusus berempat, kalian masak, gue yang makan! Hahahhahaha.
Alhamdulillah, jika sebagian dari kita tinggal di rumah pun bisa tetap mengisi kantong sendiri tanpa harus meninggalkan anak-anak. Apalagi memang sudah hobi dan malah bikin kita makin hepi.
Tapi memangnya kenapa kalau ada yang memilih di rumah dan tidak berniat mencari dana tambahan? Ya kali dia sudah merasa cukup toh ya? Tidak berarti tidak punya keahlian apa-apa yang bisa dijual kan? Ya kali aja orangnya memang santaiiiiiii ^_^.
Ceritanya mama lagi nemenin anak di rumah nih 😀
Ingat-ingatlah, tidak semua orang punya pemikiran dan kondisi yang sama. Jangan digunakan ‘berkah’ yang dianugerahkan Tuhan kepada kehidupan kita untuk menjustifikasi hidup orang lain, yes? ;).
Again, saya merasa videonya netral dan tidak melarang sama sekali ibu-ibu menggunakan jasa asisten rumah tangga dan sama sekali tidak ada indikasi melarang ibu-ibu berkarier di luar rumah. Pesannya adalah tentang berbagi tugas yang adil dan tetap bertanggung jawab kepada anak sekali pun harus sering berada di luar rumah. Itu masalah persepsi orang-orang yang menonton aja apa, ya. Kalau ada yang sensi dan tersinggung, yuk ah, ini tulisan hiburan buat kalian semua hehehehe.
Tidak berlebihan sih kalau dibilang antara working Mom vs stay at home Mom, entah sampai kapan ini kelarnya? Hahaha. A never ending story…indeed :).
Foto-fotonya menghibur kaaaannn? –> minta dilempar granat! Hahaha. Mau eksis saja mesti dong dibikini tulisannya *ngelapKeringat* :p.
Bekerja di luar rumah atau stand by di rumah, Mama harus tetap dekat dengan anak-anaknya dong ya ^_^
Berdiri berjajar dengan wisudawan lain, back then in August 2002, saya siap-siap disalami oleh segenap jajaran dosen dan pengajar yang sudah mengantar kami mengenakan toga dan menjadi pusat perhatian di Balairung hari itu ^_^.
Pembimbing Akademik (PA) saya, sehabis salaman, bilang ke saya, “Lho? Jihan masih di Jakarta?” PA kan tahu, saya sebenarnya sudah lulus 5 bulan sebelumnya, wisudanya saja yang nyusul :D.
“Masih, Pak. Saya sudah kerja di sini.”
“Enggak pulang ke Makassar saja?”
Entah basa basi atau gimana, rasanya saya tersinggung banget huhuhu. Soalnya beberapa teman juga becanda gitu, “Dih, si Jihan enggak pulang kampung lo! Menuh-menuhin Jakarta saja!”
Sampai sekarang masih ingat. Pendendam banget sih Mbak? Hahahaha. Bukan begitu ;).
Wisuda di Balairung UI 2013 (gambar : antaranews.com)
4 tahun sebelumnya, di penghujung bulan Juni 1998, jangan ditanya membuncahnya perasaan melihat nama saya tercatat lulus di Fakultas Ilmu Komputer UI. Semangat yang membubung tinggi langsung layu melihat respons mayoritas teman dan guru di sekolah.
Sakit hati banget waktu di ruang guru, pas lagi mengurus legalitas ijazah dan hendak berpamitan, mereka malah memberi komentar murung begitu, “Wah Jihan, sayang sekali ya cuma lulus di Ilmu Komputer. Kenapa enggak pilih Kedokteran atau Teknik? Sabar ya, nanti tahun depan ikut UMPTN lagi.”
Saya tahu banyak dari teman-teman bertanya-tanya, Ilmu Komputer itu jurusan apaan sih? Sementara ribet juga, karena saya juga tidak tahu nanti di sana bakal belajar apaan hahahaha.
Saya lihat sendiri kakak-kakak saya lulusan Teknik Elektro, masing-masing dari ITS-Surabaya dan UNHAS-Makassar. Ribetnya Tuhan nyari kerja di Makassar :(. Kesempatan sedikit, peminat banyak banget. Lowongan di Makassar juga menjadi incaran sarjana-sarjana muda dari berbagai kota di Indonesia Timur.
Tidak bermaksud menghina universitas negeri di kampung sendiri, saya sudah membulatkan tekad untuk kuliah dan bekerja di Jakarta. Mari menaklukkan ibukota!! *benerinIkatKepala*
Sementara di Sulawesi, orang-orang masih berkerut keningnya mendengar soal Ilmu Komputer … tiba di Jakarta, ucapan selamat bertubi-tubi dari kerabat dan sepupu di Jakarta. Semangat yang sempat menguncup jadi mekar lagi deh ^_^.
Adapun di UNHAS sendiri, kalau tidak salah (CMIIW ya) jurusan Informatika baru mulai dibuka tahun … 2008! Enam tahun setelah saya lulus! -_-. Adik bungsu saya cerita, jurusan lumayan favorit di UNHAS. Oh gitu, ya. 10 tahun sebelumnya saya masuk Informatika, orang-orang cuma bisa bengong! Huhuhu. Telat amat :p.
Monas, Landmark Jakarta (gambar : www.jakarta.go.id)
Bukti nyata betapa timpangnya kondisi wilayah barat vs wilayah timur Nusantara :).
Antara Makassar dan Jakarta saja sudah memprihatinkan, pernah membayangkan wilayah lain di Indonesia Timur? Di Sulawesi saja, Manado-Palu-Kendari-Gorontalo-Mamuju itu hiruk pikuknya jauuuuhh di bawah Makassar. Masing-masing adalah ibukota dari propinsi lain di Pulau Sulawesi.
Belum kalau ngomongin level kabupaten. Liburan sekolah tahun 1994, saya main ke tempat Nenek di Rappang, Sidrap. Hari pertama dan kedua sih senang. Hari ketiga dan seterusnya…bosan! Hahaha.
Selepas magrib, jalanan sudah gelap. Yang punya televisi yang pakai antena parabola kayaknya cuma satu. Di sanalah saban malam orang-orang berkumpul nonton apalagi kalau bukan…sinetron! HIhihihi.
Listrik belum sampai di 3 dusun (www.sinarharapan.co)
Soal hiburan memang memprihatinkan. Tapi kalau soal makanan, wuiiihhh, sedaaaappp :D. Pulang kampung malah rasanya makan melulu. Semuanya serba anget-anget kalau mau makan. Nenek ya mana punya kulkas, sih :p. Masak nasi saja masih lebih suka yang pakai dandang, bukan rice cooker.
Jadi, orang-orang di wilayah desa/kota/Indonesia Timur itu jangan dibilang kurang makan. Kalian yang di kota besar yang akan gigit jari kalau tahu di sana tuh bahan makanan malah murah-murah ;).
Soal sekolah, duh ngenessss :(. Rasanya dulu gedung SMA adanya di desa lain. Gedung-gedung sekolah terbatas. Fasilitas apalagi. Kadang bersyukur tinggal dii Makassar. Walau kerabat kenalan di kampung banyak yang lebih berada tetap empati juga dengan anak-anak perempuan yang tak banyak pilihan. Banyak juga yang kawin muda.
Thank God, di kota besar, punya akses relatif mudah ke sekolah-sekolah negeri lumayan bagus walau ekonomi keluarga memprihatinkan hihihi. Sekolah negeri waktu itu kan jatuhnya masih murah ^_^. Ikut UMPTN masih serentak. Belum ada jalur aneh-aneh yang harus bayar puluhan juta itu huhuhu.
Satu kenyataan yang bikin sesak. Anak-anak orang kaya itu juga banyak yang pintar-pintar. Di Fasilkom saya banyak melihat yang model begini. Makanya dulu keukeuh euy nyari suami kudu anak Fasilkom hahahhahaha *ngakakMatre*.
Sebaliknya juga, siapa bilang semua anak orang tak berpunya itu pintar-pintar? :'(.
Seharusnya sih kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang layak adalah hak semua orang tanpa memandang dia pintar-bodoh-kaya-miskin :).
“Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi SEGENAP BANGSA INDONESIA dan SELURUH TUMPAH DARAH INDONESIA dan untuk memajukan kesejahteraan umum, MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA … ”
Segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Pemerataan pembangunan kuncinya :). Inilah yang menjadi cita-cita besar Bung Hatta.
Pertumbuhan ekonomi lebih dinikmati oleh penduduk kaya (slideshare.net)
Dari dulu, Bung Hatta selalu rewel dengan distribusi. Beliau sadar letak geografis Indonesia yang unik sekaligus menantang perlu penanganan khusus. Kalau tak salah, beliau pernah mengkritik, “Buat apa capek-capek mempertahankan wilayah Irian kalau tak sanggup mengurusnya?” CMIIW ya, lupa-lupa ingat saya :D.
Nusantara, nusa antara, nusa = pulau, kepulauan diantara perairan luas. Membangun infrastruktur tentu bukan main repotnya. Dulu, waktu masih bekerja di Unilever dan mengurusi masalah distribusi, pernah saya diminta membuat sistem “Customer Transport Cost”.
Dari situ saya menjadi paham mengapa sering biaya barang konsumsi tuh makin ke timur makin mahal :(. Dari hasil meeting mengumpulkan user requirement mendapatkan banyak masukan soal suka dukanya mengirim barang ke luar Pulau Jawa. Sumatera, Madura, Bali masih lumayan. Tapi Sulawesi, Kalimantan apalagi Papua, duh, seringkali biaya distribusi jauh lebih mahal dari ongkos produksinya.
Infrastruktur adalah keluhan utama. Susahnya menembus wilayah-wilayah di belahan Timur Indonesia. Sementara tak mudah membuka pabrik di sana. Ya balik lagi ke masalah infrastruktur. Kepadatan penduduk juga timpang.
Gimana orang-orang dari Timur tidak lari ke Barat kalau begini? Kantor-kantor pusat ada di Jakarta semua. Dulu iseng saya tanya ke Bos, buka pos IT di Makassar dan kirim saya pulang ke saya. Bos saya tertawa, “Repot Jihan di Sulawesi. Siapa yang mau handle server di sana? Kalau ada apa-apa ongkosnya mahal.”
21 tahun warga Konawe “nikmati” jalan rusak (regional.kompas.com)
Seperti lingkaran setan. Kami, orang daerah, sering dicemooh kalau memutuskan hengkang ke kota-kota besar di wilayah barat. Kalau saya bilang, ya sudah tukeran yuk. Situ saja yang lahir dan besar di ibukota yang pindah ke daerah gimana? Yuk ah, pindah ke Maluku sekalian. Lihat kondisi di sana sebelum nyinyirin kami-kami ^_^.
Padahal wilayah di Timur itu punya banyaaaakkk sekali kekayaan alam. Tidak hanya Jawa Timur, Sulawesi Selatan pun termasuk 8 propinsi yang menjadi lumbung padi :). Sulawesi-Maluku itu sangat kaya dengan hasil laut. Udang-udang segar nan gede-gede banyak di sana. Duh, jadi laper hihihihi.
Tapi apa yang terjadi jika melimpahnya hasil bumi tidak bisa didistribusikan? Tahu kan, nilai tertinggi hasil laut itu ada pada saat kondisi segar. Dibawa naik kapal laut saja bisa makan 2 hari, keburu busuk di jalan huhuhu. Pakai pesawat ya siapa yang sudi ngongkosin para nelayan kecil di sana? :(. Aku padamulah Ibu Susi <3.
Itulah yang terjadi. Orang-orang banyak yang memaksa ke kota besar. Menerjang ibukota terutama. Terjadi penumpukan. Tidak semua meraup sukses. Untuk pulang lagi ke kampung ya untuk apa, di kampung pun mau jadi apa?
Banyak juga yang tak sanggup hidup tanpa internet hihihi (ini mah saya! Hahahaha).
Ada teman bilang, sebenarnya menyenangkan berkutat di industri pertanian. Ingin juga tinggal di kampung. Tapi … sesekali ingin dong melihat kota. Jalan-jalan penghubung antara desa dan kota masih hancur-hancuran. Fasilitas umum seperti rumah sakit dan sekolah juga terbatas. Anak-anak piye? Kalau sakit gimana? Mau sekolah gimana? Wajar kan kalau pada mikir-mikir hengkang ke kota kecil/desa/kampung?
Bertahanlah mereka di kota-kota besar walau hidupnya megap-megap. Sementara kalian hanya senang melihat masalah di permukaan. Menganggap kesusahan semata-mata terjadi karena harga barang mahal!
Arus Urbanisasi ke kota-kota besar (metro.news.viva.co.id)
Itu di negara mana sih yang makmur sejahtera karena barang-barang murah doang?
Seperti saya bilang kemarin, pemerataan dan keadilan sosial justru tumbuh subur di negara-negara barat Eropa, Australia dan Kanada :). Kalian kira di negara-negara ini harga-harga barang murah ya? :p. Mentang-mentang liburan ke negara-negara maju, pulang-pulang langsung cerita betapa kerennya luar negeri :p.
Iyalah keren, situ tinggal di hotel, ke negara maju untuk hepi-hepi, mendatangi tempat-tempat wisata, sudah nyiapin budget untuk senang-senang. Pernah membayangkan tinggal dan bekerja di Eropa? Pajak aduhai, harga barang mak nyoss, bensin tidak murah, transportasi umum keren banget tapi ditunjang dengan ongkos fantastis.
Di Irlandia, saya tinggal di desa. Dusun sebenar-benarnya. Jumlah penduduk hanya 20 ribu orang. Belum lagi kalau ke wilayah lain di mana ada yang penduduknya cuma 3 ribu orang, satu kota!
Uniknya, ada teman yang bekerja di Dublin tapi tetap memilih tinggal di Athlone. Biaya hidup terutama sewa apartemen memang jauh lebih murah. Bisa mencapai setengahnya daripada di Dublin dengan fasilitas lebih oke ;).
Kok bisa? Ya karena Athlone-Dublin ditunjang dengan fasilitas transportasi yang mumpuni. Itulah mengapa di negara-negara maju. orang tidak numpuk-numpuk di satu wilayah tertentu. City Center dibuat mahal banget biar orang kaya tidak sok-sok-an tinggal di tengah kota. Justru yang tajir-tajir melipir ke pinggiran kota.
Dublin Bus (gambar : independent.ie)
Jangan remehkan “dusun” di Eropa. Mau ngadu kecepatan internet antara Jakarta vs Athlone? :p.
Yang kerja di Dublin tidak semuanya tinggal di Dublin. Menyebar di kota-kota kecil lain di sekitar Dublin. Karena bus-bus angkutan manajemennya sudah bagus dan jalanan penghubung mulus-mulus.
Saya sendiri kalau mau kontrol kehamilan harus ke kota lain. Di Athlone tidak ada rumah sakit. Ini dibuat agar kota-kota kecil tidak ‘mati’. Jadi dibagi-bagi fasilitasnya. Athlone kebagian gedung-gedung kantoran misalnya. Balllinasloe kebagian rumah sakit negeri yang gede. Kota lain ya beda lagi. Pokoknya dibuat agar antar satu kota ke kota lain tuh saling bergantung. Tentunya sudah didukung dengan fasilitas infrastruktur transportasi yang oke.
Di Indonesia, semua numpuk di kota-kota besar. Terutama di wilayah barat. Apalagi di Jakarta.
Lihat negara berkembang pada umumnya! Orang-orang kaya malah menyemut di tengah kota. Yang pas-pasan geser ke pinggiran :p. Yang kaya makin kaya, yang pas-pasan makin semaput. Sekarang bertabur kredit konsumsi yang makin bikin pening. Orang biasa bisa upgrage gaya hidup dengan modal … nyicil!
Kesenjangan hidup yang tinggi memaksa kita terpaksa hidup modal gengsi! :D. Emang enak disangka orang miskin? :p.
Pembangunan MRT di Jakarta (gambar : www.tempo.co)
Sebagian kita, bertepuk tangan atas subsidi listrik dan BBM selama ini. Cobalah dipikirkan lagi, subsidi-subsidi ini hanya dinikmati oleh kalian di kota-kota besar. Di kampung-kampung? Boro-boro punya mobil, lah ya jalanannya aja bolong-bolong! Hehehe. Boro-boro punya AC, listrik saja belum bisa menembus ke semua wilayah :).
Walau biaya hidup di Eropa memaksa kita berpandai-pandai berhemat kiri kanan atas bawah (hihihihi), pemerintah menyediakan fasilitas kesehatan dan pendidikan…GRATIS! Hampir merata di semua wilayah. Primary school bertaburan dengan fasilitas yang tidak kalah bagusnya bahkan di desa yang kalau kita lewati isinya sapi doang kayaknya hahahahaha.
Itu yang dilakukan negara-negara maju di belahan barat Eropa sini :). Yang sepertinya juga diikuti oleh Australia dan Kanada. US itu beda lagi ‘pola’nya. Mereka serba liberal di sana. Sementara Eropa dkk sifatnya lebih sosialis :).
Kalau mau cari orang kaya jangan ke Eropa-Australia-Kanada :p. Di US mungkin banyak. Pusatnya orang-orang tajir melintir ya di Timur Tengah lah :p. Ironisnya, banyak yang tajir melintir tapi yang miskin enggak ketulungan juga banyak.
Ingat kan, negara-negara maju itu umumnya pendapatan perkapitanya tinggi-tinggi. Penghasilan rata-rata penduduk itu hampir merata.
Tidak seperti di Saudi atau di Indonesia misalnya. Beberapa profesi engineer bisa mendapatkan di atas 30 ribu riyal per bulan sementara simbok TKW harus puas dengan 800 riyal per bulan.
Di Indonesia, beberapa profesi engineer bisa meraup 30-40 juta rupiah sebulan, sementara simbok di rumah dikasih 1 juta rupiah saja sudah banyak majikan yang meradang :p.
Pembangunan infrastruktur transportasi merata di negara maju. Tram di Bern, Swiss (gambar : bahnbilder.de)
Dan mungkin besok saat buruh meradang di demo-demo tahunan mereka, kalian juga akan ikut marah-marah, “Enak saja buruh minta digaji sama dengan kita-kita!” :p.
Maaf nih sebut-sebut Saudi dan Indonesia, juga Irlandia. Suami saya kan pernah kerjanya lama di sana hehehe.
Pencabutan subsidi memang perlu penyesuaian. Saya tahu sebagian itu khawatirnya karena goncangan harga-harga barang yang mengikuti pergerakan harga BBM yang sudah puluhan tahun disubsidi.
Saya harap pemerintah memikirkan juga soal stabilisasi harga. Walau saya tahu perlu waktu, ya cobalah berikan pengertian dan komitmen :). Dulu ada yang namanya Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID). APa kabarnya itu TPID, Pakde? :).
Indonesia itu punya segalanya. Kekayaan alam melimpah dan berjenis-jenis. Hasil tambang banyak. Walau sekarang kita harus menerima jatuhnya harga barang-barang tambang, kelapa sawit, karet, dsb.
“Komoditi booming” yang pernah dialami Indonesia beberapa tahun lalu kini hanya tinggal kenangan. China, salah satu negara tujuan ekspor kita, kini mengerem pertumbuhan ekonominya untuk mencegah inflasi.
Seiring permintaan yang anjlok, harga ya sudah pasti jatuh. Hal ini adalah pukulan besar bagi ekspor Indonesia yang selama ini memang mengandalkan ekspor barang mentah tadi :(.
Sekarang juga US mulai bangkit. Makin pusing dengan nilai tukar dolar yang makin tinggi. Bisa bayangkan apa yang terjadi pada APBN kita kalau saja pemerintah masih nekat mensubsidi BBM dengan nilai tukar rupiah kembang kempis begini? :D.
Untuk membangun infrastruktur pendidikan, kesehatan, transportasi, dan sebagainya kan perlu duit ya Kakaaaa. Kalau bisa pakai bulu ketek sama upil doang sih, dengan penduduk 250 juta-an orang insya Allah kita bisa provide yaaaaa hihihihihi.
Sayangnya, yang diperlukan itu…UANG :).
Pembangunan tol Solo Kertosono (gambar : www.tempo.co)
Kita juga maunya dana besar ini diturunkan dari langit begitu saja jadi pemerintah tinggal mungut-mungutin dari tanah :p. Tapi yuk ah, mari kita bangkit dari ilusi-ilusi kosong :).
Belum lagi semuanya butuh cepat. Waktu tak mungkin terus menunggu :). Semua masalah butuh diselesaikan …SEKARANG JUGA!
Tapi … apakah mungkin? 🙂
Ada banyaaaakkk banget yang harus diperbaiki. Waktu terbatas, uang pas-pasan, utang juga masih numpuk. Pengin marah, pengin maki-maki. Perubahannya terasa cukup mendadak. Tapi ya begitulah. Diantara semua keterbatasan yang Indonesia miliki, mungkin beginilah cara terbaik yang hendak ditempuh oleh pemerintahan baru kita :).
Bisa apalah mamak-mamak yang lagi hamil pula macam saya ini selain MENDOAKAN dan MENGHARAPKAN yang terbaik untuk NEGERI KELAHIRAN saya TERCINTA :). Termasuk terus bermohon yang baik-baik dan meminta keajaiban Tuhan agar dikuatkan dan diluruskan terus jalan Pak Presiden yang kayaknya sejak menjabat enggak pernah bisa napas saking banyaknya yang harus dikerjakan :D.
Kita sambut dengan optimis dan iringkan dengan doa terbaik, sedikit diantara banyak sekali PR pemerintah yang akhirnya mulai diluncurkan :).
Pembangunan jalan tol trans Sumatera –> https://news.liputan6.com/read/2223212/jokowi-groundbreaking-pembangunan-tol-trans-sumatera
Pembangunan Sejuta Rumah Sederhana –> https://www.beritasatu.com/properti/269773-groundbreaking-sejuta-rumah-dilakukan-hari-ini.html#
Gambar : dnaberita.com
Saya kutip status Mbak Nurul Wachdiyyah tempo hari :
– Satu kalimat bagus dari Anies Baswedan, “Negara ini kondisinya sudah sedemikian parah, beri kami kepercayaan untuk memperbaikinya, yang terpenting dari semua : Beri kami waktu.” –
Tough times never last, but tough people do.
-Robert H. Schuller-
Stay strong, Pakde. Stay strong :).
“Di Timur Matahari mulai bercahya … Bangun dan berdiri, kawan semua …” :).
Updated :
Kitorang basudara untuk saudara-saudara di Maluku Utara : https://setkab.go.id/kunjungi-ternate-presiden-jokowi-janjika-dana-rp-3-triliun-untuk-pembangunan-maluku-utara/
Jokowi boyong 10 menteri kunjungan ke Papua https://nasional.kompas.com/read/2015/05/09/07313251/Warga.Heran.Jokowi.Kumpulkan.10.Menteri.di.Papua
CIMAL jalan teroooosssss :v :v :v. Masih konsisten beliau dengan kostum putih celana hitam kebangsaan ^_^. Yuk ah yang suka koleksi baju lebay malu sama sederhananya Pak Presiden kita. Jadikan cambuk yuk untuk lebih bersahaja dalam penampilan tapi maksimal dalam berkarya 😉 https://www.tempo.co/read/news/2015/05/08/078664740/Bersandal-Jepit-Warga-Tidore-Kagum-Kesederhanaan-Jokowi
Kota Sofifi dicanangkan sebagai pembangunan kota baru di Maluku Utara https://kieraha.com/headline/sofifi-resmi-dicanangkan-sebagai-pembangunan-kota-baru/#.VU2-p_l_Oko
Gelar adat dari Tidore https://setkab.go.id/presiden-jokowi-terima-gelar-adat-biji-nagara-madafolo-dari-kesultanan-tidore/
Groundbreaking pelabuhan baru di Makassar https://news.detik.com/read/2015/05/22/165023/2922471/10/groundbreaking-pelabuhan-baru-makassar-jokowi-kita-harus-kembali-ke-laut
Ibukota Swiss bukan Zurich, bukan Jenewa. Tapi sebuah kota yang relatif lebih “sunyi” dibanding 2 kota besar tadi, Bern. Kurang tenar, ya, dibanding 2 kota yang saya sebut di awal. Ibukota Bern Swiss.
Bern Landmark, Zytglogge
Bern juga kerap dilafalkan sebagai Berne. Pengucapan Bern dalam bahasa sini itu “Beren” (be-ren, kayak dalam bahasa Indonesia). Pronounciation dalam bahasa Jerman cenderung mirip bahasa Indonesia. Misalnya Junge dibaca “Yu-nge”.
Swiss juga punya macam-macam penulisan. Internationally, it’s known as Switzerland. Orang lokal menyebutnya Suisse.
Mata uangnya : frank, inisial resminya CHF. Kalau merujuk kepada situs-situs ‘kenegaraan’, negara ini menggunakan singkatan dot ch. Misalnya kalau Indonesia kan pakai dot id.
CH itu apaan sih?
CH, Confoederation Helvetica (latin), Confederation of Helvetia.
Helvetia/Helvetica adalah figur personifikasi untuk melambangkan negara Swiss. A female figure. Fungsinya mirip dengan Britannia. Britannia mewakili Kerajaan Inggris Raya. UK sebenarnya singkatan untuk United Kingdom of Great Britain (and North Ireland).
Jangan bingung-bingung dong antara North Ireland / Irlandia Utara vs Republic of Ireland (Republik Irlandia) :D. Irlandia Utara itu bagian dari Kerajaan Inggris, ke sana ya harus pakai visa UK, ibukota di Belfast. Yang ini nih yang suka rusuh :D.
Sedangkan Republik Irlandia berdiri sendiri sebagai satu negara terpisah. Ibukotanya Dublin. Yang sering disebut Irlandia itu ya Republik Irlandia ini :D. Kalau yang satunya pasti selalu pakai embel-embel North atau Utara. Jangan ketelisut lagi yaaaaaa :D.
Swiss terdiri dari sekitar 20-an Canton/negara bagian. Bern salah satunya. Masing-masing Canton punya bendera sendiri-sendiri.
Bern Swiss, dillintasi Sungai Aare
Bendera Bern Swiss ada gambar beruangnya, sesuai dengan salah satu landmark kota di Baren Park, taman Beruang :D.
Mau melihat parade bendera seluruh Canton, datang saja ke Zytglogge. Zytglogge bagian dari kawasan Old Town di Bern Swiss yang resmi menjadi UNESCO World Heritage Site sejak tahun 1983.
Di Zytglogge, Bern Swiss, ada sebuah jam besar yang jadi tempat wajib foto-foto para turis. Salah satu bukti kejayaan Negeri Tiongkok yang makin berkibar adalah seringnya melihat bus-bus rombongan wisata yang isinya orang-orang Tiongkok.
Swiss, salah satu negeri tujuan utama wisata dunia yang terkenal MAHAL :D. Tapi wisatawan Asia yang paling sering terlihat wara wiri di seantero Swiss adalah warga Tiongkok.
Menara Jam di Zytglogge
Kawasan Munster di mana berdiri sebuah katedral besar juga merupakan bagian dari The History Old Town, Bern. Deket-deket sini juga ada taman tempat duduk-duduk yang dilengkapi playground.
Lokasi The Munster agak tinggi, jadi kalau duduk-duduk di taman tadi bisa melihat pemandangan kota yang letaknya lebih ke bawah.
Cuaca yang bersahabat membuat orang ramai berkumpul buat makan siang. Saya dan anak-anak tidak ketinggalan hihihi. Suami kan ngantor. Jadi bertiga saja kami naik tram ke sini.
Senangnya ya tinggal di kota model begini. Anak-anak tidak terpaku dalam rumah. Banyak aktivitas outdoor dan orang tua juga bisa kekepin dompet kuat-kuat hahahahaha. Biaya hidup sudah sangat menguras kantong. Pantas saja pemerintah sangat doyan bikin-bikin taman/playground gratisan :p.
The Munster, Bern
Yang jadi persoalan, kalau musim dingin hiburannya apa yaaaaaa… hihihihi. Cuaca musim dingin di Swiss lumayan ganas apalagi anginnya memang super semriwing. Dingiiiinnnnnnn huhuhu.
Dalam penelitian something tahun 2010, Bern termasuk dalam 10 kota dengan kualitas hidup terbaik. Indeed, indeed, indeed :D.
Mari kita lupakan sejenak biaya hidupnya yang ajegile di negeri cantik ini hihihihihi. Speaking about pendapatan per kapita vs biaya hidup, itu bisa makan satu artikel sendiri :D.
Kapan-kapan perlu dibahas memang biar enggak banyak yang gagal paham. Menyangka betapa tajir-tajirnya orang-orang Eropa itu hahahhaha. Disangka semua orang Eropa macam Michael Schumacher kali hahahaha :p.
Masih ingat propaganda wisata Swiss, “Where The Nature is Insanely Beautiful.” Sangat benar adanya <3.
Sungai Aare, Bern
Konturnya yang berbukit-bukit, banyak dikelilingi danau-danau besar, pemandangan puncak gunung es, padang rumput dan hutan-hutan, semuanya ada di Swiss. Cobalah menyusuri Swiss via kereta yang ada tagline “Golden Pass Panoramic”. Luar biasanya alam Swiss akan menjadi suguhan di sepanjang perjalanan :).
Di Bern juga bisa melihat gini-ginian. Naik saja ke Gutern. Dari Gutern cocok benar menyanyikan lagu,
“Memandang alam dari atas bukit
Sejauh pandang kulepaskan
Sungai tampak berliku
Bagai permadani di kaki langit
Gunung menjulang,
berpayung awan,
Oh.. indah pemandangan”
Hanya perlu menghapus satu kalimat saja :p.
Sayang inih, Pak Fotografer lagi sibuk ngurusin cut-over dan testing hihihihi. Tertunda proyek edit-edit foto. Jadi, foto-foto Gutern nyusul yak :D.
Apartemen kami letaknya mepet-mepet Sungai Aare, sungai terpanjang di Swiss yang juga melintasi kota ini. Ya harus jalan kaki sih ke sananya :D.
Di tepian Sungai Aare ada macam-macam tempat wisata.
Tierpark salah satunya. Kebun binatang satu ini lumayan luas. Umumnya hewan-hewan peternakan sih. Ada playground cukup gede juga di sini.
Playground di Tierpark Bern
Anak-anak paling senang dibawa ke sini. Emaknya juga seneng. Gratis soalnya hahahahaaha *tepukTangan*.
Hati-hati dengan kata Gratis, ya. Pertama kali ke sini, saking hepinya, pas masuk pintu gerbang, saya heboh ,”Gratis..gratis…”
Terus langsung diliatin sama orang-orang. Suami langsung negur, “Jangan teriak-teriak napa? Gratis itu kan bahasa sini. Norak lo ah…”
Hahahahahahaha. Yoih, beberapa kata dalam Bahasa Indonesia itu memang serapan dari Bahasa Belanda yang mirip banget sama Bahasa Jerman. Termasuk kata Gratis, penulisan-pelafalan-makna, semuanya sama :D.
Lumayan butuh tenaga ekstra mengitari arealnya. Apalagi sekarang cuaca sudah mulai anget ^_^. Bisa tiap hari deh ke TierPark secara lumayan deket dari apartemen hihihihi.
Ngomong-ngomong soal transportasi, Swiss memang termasuk yang terbaik. Dalam Bern sendiri, jenis transportasi umumnya ada beberapa. Tram-bus-kereta, semuanya ada :D.
KOtanya enggak terlalu macet. Jadwal tram-bus-kereta sangat ketat. Enggak kayak di Irlandia yang sering telat hihihihi.
Angkutan dalam kota biasanya per 6-8 menit untuk jurusan-jurusan padat. Untuk yang agak jarang peminat, per 10-15 menit. Jadi, jangan takut bakal desak-desakan ^_^. Saya dan anak-anak hampir selalu dapat tempat duduk.
Sekarang, karena badan sudah agak enakan, kalau suami di kantor, saya sering ngajak anak-anak keliling-keliling Bern :D.
Mobil-mobil di sini mewah-mewah dan bagus-bagus tapi jarang dipakai! Hahahhahaha. Tipikal orang Eropa gitu. Biar hemat enakan naik tranportasi umum atau … naik sepeda!
Wah, dengan kontur ‘sangar’ begini, banyak banget lho orang sepedaan di Bern. Termasuk emak-emak yang naik sepeda khusus yang ada semacam kereta kecil buat naroh anak atau hewan peliharaan. Kan berat itu gowesnya.
No wonder, kalau main ke Playground Monbijou (favorit anak-anak karena tempatnya luas bener), suka terintimidasi dengan mamak-mamak sini. Tinggi-tinggi, langsing-langsing, cantik-cantik! Yes, perempuan Swiss tuh kece-kece. Pantas suami doyan nyusul ke playground kalau pulang kantor hahahahha.
Gak apa-apalah, soalnya papah-papahnya juga lucu-lucu #eaaaaaaa. Mari ngeceng bersama hihihihi *ngikikGenit*.
Aare, salah satu sungai terpanjang di Swiss
Mereka langsing ya karena ke mana-mana geret anak pakai tram atau bus atau naik sepeda apa ya? Duh, harus belajar naik sepeda iniiiiiiiii hahahahhahaha. Sering juga ketemu emak-emak yang anaknya lebih dari 2 lho. Naik tram, bawa belanjaan banyak, dorong stroller isi bayi, plus 2 balita ngintilin di samping kiri kanan. Super!
Salah satu yang istimewa adalah dukungan transportasi umum kepada pemakai kursi roda. Tadinya saya bingung gimana cara penyandang disabilitas ini naik tram ya. Secara mereka banyak wara wiri di sini tanpa pendamping alias sendirian.
Ternyata, sabann ada yang mau naik, Pak Supir akan turun dan menyiapkan papan khusus di pintu masuk paling depan. Ya ampun kerennya ya <3. Ini sih bukan di Swiss saja, di negara-negara maju, hal-hal seperti ini sudah lazim.
Salah satu ciri utama negara maju memang penyediaan infrastruktur yang sangat-sangat-sangat mumpuni. Eropa diuntungkan karena dahulu kala, di masa penjajahan, mereka banyak memanfaatkan tenaga gratisan dan hasil ‘jarahan’ untuk membangun infrastruktur transportasi macam rel-rel kereta tadi hehehehe.
Pajak sangat tinggi di negara-negara maju. Subsidi umumnya hanya untuk sarana pendidikan dan kesehatan. Tak heran biaya hidup di luar sekolah anak dan kesehatan melambung sangat tinggi dibanding negara-negara berkembang.
Penampakan Bern dari Rosengarten (rose garden)
Setiap wilayah dibangun dengan kualitas yang hampir sama bagusnya :). Pemerataan pembangunan di semua wilayah tentu untuk mencegah penumpukan populasi di satu wilayah tertentu.
Pemerataan dan keadilan sosial, bagian penting dari muamalah dalam Islam ^_^.
Demikianlah kecenya Kota Bern, yang akan segera saya tinggalkan dalam hitungan hari :D.
Jangan terlalu gimana-gimana yaaaa, ingatlah prinsip penting dalam merantau, “Tak boleh lupa kacang pada kulitnya” ^_^. Sekeren-kerennya luar negeri, sekagum-kagumnya pada negara lain, jangan sekali-sekali jelek-jelekin negeri sendiri ;).
Kalau kalian mengamati perkembangan ekonomi internasional, percayalah … masa depan dunia ada di tangan.. Asia! ^_^.
Swiss sendiri struggling dalam beberapa hal. Mata uang Swiss akhir-akhir ini menguat. Menguatnya mata uang tidak selalu menjadi hal positif bagi suatu negara, lho.
Bertetangga dengan Jerman yang terkenal dengan biaya hidup murah walau pajaknya konon lebih ‘kejam’, Swiss harus bekerja keras menghalau agar jangan sampai warganya terus-terusan ngibrit ke Jerman kalau mau belanja hihihihi. Berbatasan darat doang soalnya. Sama-sama Schengen pula.
Secara umum, Uni Eropa, beberapa tahun terakhir ini, berusaha keras keluar dari pusaran resesi yang belum juga usai :).
40% dari total GDP dunia kini dipersembahkan oleh negara-negara di Asia. China, walau kini terus mengerem pertumbuhan ekonominya sudah bertengger tepat di bawah US sebagai kekuatan ekonomi nomor 2 di dunia! ^_^.
India terus ngekor di belakang. Kalau tidak salah, terakhir, pertumbuhan ekonomi India sudah melebihi China.
Penghujung musim dingin di salah satu sudut Bern, Swiss
Indonesia will be there soon ^_^.
Jangan suka terpaku sama yang remeh-remeh. Semua harus seiring sejalan. Kalau kalian mengira China dan India sudah berhasil menghalau korupsi di negerinya masing-masing, berarti situ kurang update! :p.
Cek saja sendiri, indeks korupsi China dan India masih termasuk memprihatinkan. Tapi revolusi ekonomi mereka terus merangsek maju ^_^. Semuanya harus bareng-bareng, enggak bisa yang satu menghalangi yang lain ;).
Tapi kalau kalian dikit-dikit meributkan hal-hal yang kecil nan gak jelas dan luput dari mendoakan hal-hal besar yang kini coba diterapkan oleh pemerintahan baru :).
Berhentilah menganggap hidup kalian dikendalikan oleh pemerintah kayak enggak punya Tuhan aja deh :p. Didoakaaaaannn bukan diramal-ramal yang buruk-buruk ;). Dibanding-bandingkan untuk dicari solusi dan titik temu bukan untuk dimaki-maki.
Buat yang kebagian rezeki tinggal di negara maju, ya itulah … jangan kebablasan dong ya ;). Sudah kayak mau tinggal selamanya di luar negeri, kalau ngomongin kampung halaman udah kayak negeri asalnya yang paling jelek sedunia :p.
Bersyukur, bersyukur, bersyukur. Tak semua orang diberi kesempatan melihat dunia seperti kalian ^_^. Digunakan untuk memperluas wawasan bukan malah mempersempit cakrawala dan mengkotak-kotakkan definisi kebahagiaan dan segala macam :).
Kalau kalian menganggap kebahagiaan itu tergantung di mana kalian tinggal, maka selamanya akan sulit menuai kedamaian.
The grass isn’t always greener on the other side. It’s greener where you water it ;). Happiness is not given, it is made ^_^.
Be happy wherever you are. Siapa bilang rasa syukur itu harus pilih-pilih keadaan? Dan siapa bilang kadang-kadang kesabaran harus ditiadakan. Sampai mati, dua-duanya adalah kewajiban umat muslim di mana pun beradda.
E ya ampun, tulisan ini lupa ‘diabadikan’ dalam arsip blog. Padahal ditulisnya sudah dari 3 minggu yang lalu. Diposting di wall FB. Pindahin ke blog juga ah hehehehe. Better late than never, yes? :p.
***
Katanya, orang tua luar biasa akan menghasilkan benih-benih yang luar biasa :). Mungkin, termasuk Gibran Rakabuming. Lagi booming berita yang bersangkutan akan segera melepas masa lajang. Minggu lalu, suami saya memang pernah bilang, “Gile ni Jokowi, kalau emang bener profil calon menantunya, gila deh pokoknya …”
Love is in the air (gambar : bintang.com)
Langsung ikut kepoin profil Mbak Selvi Ananda. Wah, ternyata benar adanya. Masya Allah, Cinderella kita yang satu ini :p. Anak penjual sambel yang memang dikenal cerdas dan pekerja keras berhasil mencuri hati anak Pak Presiden.
Pacarannya sudah lama banget. Waktu tempat tinggal Sang Cinderella disorot, sampai sempat terpikir, “Bohong kali, nih. Pencitraan macam apalagi iniiiiii … ” Hahahahaha.
Btw, sosok Gibran memang bukan “orang biasa-biasa”. Profilnya bisa dilihat di sini salah satunya –>
Sudah ada rumor bahwa resepsi akan digelar di gedung milik Jokowi di Solo. Semua susunan acara dan katering akan menggunakan jasa Chilli Pari yang selama ini memang dimiliki dan dijalankan oleh Gibran sendiri. Tapi agak ragu juga, ya. Sebagai seorang Presiden, orang nomor satu di tanah air, tentu ada protokoler yang harus “dipatuhi”. Konon, hal ini yang bikin Gibran pusing hehehe. Karena dia benar-benar ingin mengatur sendiri acara pernikahannya nanti :D. https://www.youtube.com/watch?v=3-nZzv6nSpY
Berikut adalah profil Mbak Selvi Ananda, si penakluk putra mahkota Pak Presiden 🙂 https://www.youtube.com/watch?v=c6FmTt_3kCI
Ini konferensi pers dari Ibu Iriana barusan hari ini (3 minggu lalu maksudnya pas ditulis hihihihi). Rekamannya masih jelek nih 😀 –>
Melihat profil dan perjalanan karier Pakde, kesederhanaan mereka sekeluarga, melihat anaknya, melihat calon mantunya, membuat kita yang sering sudah merasa betapa palsunya hidup ini, terasa dicerahkan kembali :). Semoga dijaga Allah selalu ya orang-orang baik di dunia ini.
Jadi semangat kembali quote dari film yang satu ini,
“Ernest Hemingway once wrote, -The world is a fine place and worth fighting for- I agree with the second part.” – William Somerset
Congratulation ya Mas Gibran dan Mbak Selvi :). Semoga lancar acaranya, semoga langgeng pernikahannya. Terima kasih atas inspirasinya ^_^.
When my hair’s all but gone and my memory fades
And the crowds don’t remember my name
When my hands don’t play the strings the same way
I know you will still love me the same
‘Cause honey your soul could never grow old, it’s evergreen
And baby your smile’s forever in my mind and memory
I’m thinking ’bout how people fall in love in mysterious ways
Maybe it’s all part of a plan
Tahun 2011 sempat menyesal saya, duh, kenapa draft yang ini tidak dipublish. Ketinggalan momen deh hehehehe. Totally wrong. Bertahun-tahun setelah itu, saban hari Kartini ternyata titik kerusuhannya belum move on juga hahahhahaha. 4 tahun berlalu, mari kita tuntaskan draft ini :p. Tentang Cut Nyak Dhien dan Kartini.
Cut Nyak Dhien (gambar : sinarharapan.co)
Mengapa harus Kartini? Bukan Cut Nyak Dhien, bukan Rohana Kudus, bukan Dewi Sartika, bukan Christina Martha Tiahahu, bukan Emmy Saelan, pokoknya bukan mereka yang benar-benar punya jejak perjuangan yang nyata. Kartini tidak nyata, nih? hehehe :p.
Diantara sekian banyak kontroversi, muncul juga isu agama. Teori konspirasi ini itu. Bahwa katanya surat-suratnya palsu itu karangan orang Belanda. Bahwa Kartini sengaja diusung untuk membenamkan perjuangan perempuan-perempuan Islam di masa lalu. Intinya, ‘mereka’ ingin menghancurkan Islam! #eaaaaa.
Saya jadi penasaran … se-inferior apa sih umat Islam terkini, di mana semua kontroversi nampaknya begitu mudah ‘diselesaikan’ dengan tuduhan “ini pasti konspirasi!” :p.
Saya juga tidak bisa membaca pikiran Bung Karno saat itu. Mengapa beliau menetapkan hari lahir Kartini sebagai sesuatu yang ‘spesial’.
Diantara desas desus yang tidak kalah pentingnya yang beredar –> Dipilih karena Kartini kan orang Jawa!
Kartini (gambar : id.wikipedia.org)
Kalau mau bahas Jawa-nya, orang Bugis juga bisa berkilah. Kenapa bukan We Tenri Olle? Perempuan ini adalah pemimpin pertama dari Kerajaan Tanete di Sulawesi Selatan. Kontroversi pengangkatannya tidak membuatnya terjungkal dengan mudah. Selama 55 tahun menjadi Datu (Pemimpin Kerajaan/Raja/Ratu), We Tenri Olle bisa melejitkan wilayah Tanete.
We Tenri Olle juga dikenal sebagai “Siti Aisyah We Tenri Olle”. Pengaruh Islam sudah cukup besar di wilayah Sulawesi saat itu. Jadi, yang hendak menyerang citra Islam sebagai kepercayaan yang membatasi ruang gerak perempuan, mungkin situ referensinya kurang luas aja :p.
Islam justru mematahkan mitos perempuan sebagai “warga kelas dua” di masa turunnya di abad pertama di jazirah Arab. Kalau di Inggris orang baru ‘serius’ ribut-ribut emansipasi perempuan pasca Perang Dunia 2, Islam sudah belasan abad lebih dulu.
We Tenri Olle (gambar : kabarkami.com)
Islam “takut” melihat perempuan mandiri? Bunda Khadijah memangnya profesinya apa? Beliau seorang pedagang besar. Ingat, dulu belum bisa kongkow-kongkow di rumah buka toko online dengan modal “Inbox ya Sis” :p.
Bisa jadi, Bung Karno referensinya saat itu masih terbatas :). Nama We Tenri Olle sendiri belum hits. Referensi tentang dirinya sangat terbatas. Beliau pun tidak pernah menuliskan apa-apa tentang dirinya sendiri. Penting lhoooo menulis itu :D.
Balik lagi ke soal agama, Ibu Kartini pun sebenarnya seorang muslimah. Walau tanpa kain kerudung di kepalanya, konon, Bung Karno sangat tertarik dengan hasrat belajarnya yang tinggi. Kartini sempat mempertanyakan mengapa alquran tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa agar lebih mudah dipelajari.
Dari beberapa referensi, misteri “Habis Gelap Terbitlah Terang” ditengarai datang dari ayat-ayat dalam surah Al Baqarah :). Curhatan Kartini kepada Mrs Abendanon memang menyebut-nyebut soal ini. Arti aslinya, “Dari Gelap Menuju Cahaya” dikaitkan dengan “Minazh-Zhulumaati ilan-Nuur” –> “Orang-orang beriman dibimbing Allah dari gelap menuju cahaya” :).
Mengetahui betapa indahnya ajaran Islam di mata Kartini dan betapa berkesannya pemahamannya akan alquran, masa sih masih ingin menggugat keislamannya? Kenapa? Karena di kepalanya identik dengan konde instead of berkerudung? :p.
Kegelisahan lain adalah tentang prestasinya. Hadeeehhh, cuma emak-emak ningrat kurang kerjaan yang kebetulan bisa berbahasa Belanda yang nulis surat ke orang Belanda. Isinya curcol pula. Apa hebatnya?
Dewi Sartika yang juga ditampilkan sebagai figur berkonde malah sudah terjun menggagas pendidikan untuk kaum perempuan. Langsung mendirikan Sekolah Perempuan. Pemalas amat Kartini cuma bobo-bobo cantik di rumah sambil surat-suratan :p.
Rohana Kudus, salah seorang pelopor jurnalis perempuan di Indonesia. Nah, tulisannya pun lebih cetar. Tidak sekadar lembaran curhat dan kegelisahan seorang ibu rumah tangga. Dia juga mendirikan sekolah, lho. Pakai kerudung pula. Kurang salehah apalagiiiiiii? Konon, Ibu Rohana punya ‘kekurangan’ di mata Bung Karno. Karena beliau mengkritisi poligami? Secara Bung Karno kan pelaku poligami?
Rohana Kudus (gambar : id.wikipedia.org)
Cut Nyak Dhien, Christina Martha Tiahahu adalah pejuang wanita di garis terdepan. Emmy Saelan datang belakangan. Beliau adalah pejuang wanita yang juga bertempur langsung menghadapi musuh di era pasca kemerdekaan.
Di akhir hidupnya, Emmy Saelan memimpin puluhan pasukan menghadapi Belanda. Saat hanya dirinyalah satu-satunya yang tersisa, Emmy Saelan tetap tidak menyerah. Dilemparkannya sebutir granat, satu-satunya senjata yang tersisa di genggaman tangannya. Banyak pasukan lawan menjadi korban granatnya termasuk Emmy Saelan sendiri, gugur di pertempuran tersebut.
Mencoba menggugat perjuangan Kartini dibandingkan pahlawan-pahlawan perempuan yang saya sebutkan tadi seolah mengingatkan saya terhadap gugatan akan kemandirian perempuan. Ada pemikiran, perempuan tuh harusnya berkarya nyata dong di masyarakat. Lebih keren memberikan kontribusi langsung. Kalau cuma ngendon di rumah sambil momong anak + ngurus dapur, apa hebatnya?
Emmy Saelan (gambar : historia.id)
Menghina perempuan yang katanya cuma nulis surat doang compare to mereka yang benar-benar mendirikan sekolah untuk masyarakat dan mengangkat senjata? Bukankah jadinya ironis? 🙂
Kalau boleh menebak-nebak isi pikiran Bung Karno, kira-kira gimana tuh, ya.
Tahun penetapan hari lahir Kartini sebagai salah satu perayaan nasional adalah bertahun-tahun setelah masa kemerdekaan. Saat itu, perjuangan bangsa tidak lagi tentang mengangkat senjata di medan perang. Melainkan berusaha bersama-sama memajukan tanah air pasca kemerdekaan telah direbut dan pembagian wilayah sudah “tuntas” dengan Belanda.
Mungkin, kan ceritanya nebak-nebak nih hehehehe, Bung Karno ingin memperkenalkan bentuk perjuangan anti mainstream termasuk kepada para perempuan. Dilahirkan sebagai priyayi, Kartini dan saudara-saudaranya sudah termasuk keren di zamannya.
Dari sudut rumah yang lepas dari hiruk pikuk kontroversi penjajahan, Kartini muda konsisten menuntut ilmu. Dalam kebingungan dan banyak pertanyaannya, Kartini menuliskan kegalauannya.
Mengutip komentar Mas Bowo Kusumo tempo hari, “Kenapa Kartini menjadi popular? Karena dia menulis. Kalo zaman sekarang, mungkin dia bikin blog. Lantas blognya dibaca oleh jutaan orang dan banyak mengubah kehidupan orang banyak. Kartini menunjukkan bagaimana pena bisa lebih tajam dari pedang dan lebih ampuh dari peluru.”
Lah, Rohana Kudus juga menulis, kok.
Mungkin waktu itu Bung Karno belum tahu soal Ibu Rohana hehehehe. Kemungkinan kedua, Bung Karno memang ingin menawarkan perspektif yang lain. Memangnya kenapa kalau perempuan di rumah saja? Apakah jika Kartini pada akhirnya rela dimadu, kesannya kan lembek amat tahu-tahu mau dikawinin dan mengkompromikan cita-citanya, berarti Kartini tidak layak menjadi ikon emansipasi?
Buat saya, emansipasi perempuan ini masalah kebebasan. Kebebasan untuk MEMILIH. Apakah kehebatan perempuan itu selalu diukur dengan keberaniannya lebih banyak berkarya di luar rumah dan untuk orang banyak selain untuk keluarganya? Bagaimana dengan perempuan-perempuan seperti saya? Yang ternyata belakangan menyadari, setelah anak saya lahir dan diasuh baby sitter, saya kok tidak ikhlas rasanya.
Tapi, apakah perempuan yang akhirnya lebih banyak menyerahkan pengasuhan anak kepada tangan ketiga berarti menyalahi kodrat? Bagaimana pula dengan ibu saya?
Belakangan ibu saya mengaku kalau sebenarnya beliau sangat tidak suka menjahit. Punggungnya sakit. Tapi dengan beban ekonomi yang ketat, ibu memilh untuk membantu bapak. Ijazah SMP pun tidak punya, tak banyak keahlian yang bisa dipilih bukan? Ya sudah, biar sinkron dengan jualan bapak, ibu belajar menjahit gorden.
Ibu saya tak hendak menikah muda. Keadaan yang memaksa. Saudara kembarnya saja, tante saya, itu lulusan S1 IAIN lho :).
Mesin jahit zaman dulu (gambar : forum.kompas.com)
Ibu mertua saya lain lagi. Sejak pertama bertemu, saya sudah merasa terintimidasi dengan kecerdasan dan kecantikan Mami, panggilan buat ibu mertua saya, nih :D. Soal cerdasnya, tak heran lah, sejak dulu pendidikan tinggi bukan hal tabu bagi umumnya perempuan asal Minang.
Onde mande banget kalau lihat foto-foto Mami waktu masih muda. Yang super narsisi pun langsung angkat tangan! Hahahahha. Mami berdarah Bukittinggi 100%. Hidungnya mancung sekali, kulitnya putih bersih. Bukan lagi level kuning langsat. Putihnya seperti kulit orang bule. No wonder, suami saya sering disangka bukan orang Indonesia asli hehehehe. Dari situ asalnya ;).
Kalau tidak salah, hanya setahun Mami menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Di tahun kedua Mami memutuskan memilih pinangan dari bapak mertua. Sejak awal menikah, sudah dibawa merantau nun jauh ke Sulawesi Utara. Di tahun segitu, orang Minang memang sudah jauh lebih maju dalam dunia pendidikan. Di Sulawesi ya mau sekolah apaan? Hehehe.
Suami saya lahir di Yogyakarta. Di Yogya, Mami punya kesempatan untuk memilih. Usia baru 30 tahun. Dulu, wajar saja jika orang kuliah di umur segitu. Universitas bagus-bagus juga di Yogyakarta. Mami bilang tidak tega meninggalkan suami saya yang waktu itu umurnya baru setahunan.
Gambar : thestri.cafemom.com
Begitu banyak keinginan yang tidak kejadian, keadaan yang kadang ingin dihindari. Begitu banyak kombinasi jalan hidup yang harus dihadapi dan pilihan yang harus dibuat.
Seharusnya … perempuan PUN boleh memilih. Seharusnya kita, perempuan, bisa menjalani macam-macam pilihan tanpa penghakiman apa pun. Pening, kan? Memilih di rumah, dibilang sayang ijazahnya. Memilih berkarya di luar rumah, dibilang tak ada surga untuknya.
Memilih sekolah tinggi suka ditanya-tanya untuk apa? Ya masa tidak boleh menimba ilmu setinggi mungkin? Sekolah tidak tinggi pun, disindir perempuan harus tetap punya pendidikan mumpuni untuk mengasuh anak-anak. Kalau oon, entar anak-anaknya jadi apa? Memangnya ilmu hanya didapat dari bangku sekolah formal?
Punya karier cemerlang dianggap mengintimidasi laki-laki. Kasihan pasangan hidupnya. Tak punya karier apa-apa, ditakut-takuti karena dianggap tidak mandiri. Gimana kalau ditinggal suami?
Macam-macam ‘label’ tadi, yang justru tumbuh atas desakan lingkungan membuat kita, perempuan, menjadi serba insecure. Ujung-ujungnya, insekuritas tadi memicu peer pressure di kalangan perempuan sendiri.
Saling nyinyir-nyinyiran tak tentu arah. Segala alasan digunakan. Mulai dari alibi budaya sampai alibi agama. Saling menuduh saling menjatuhkan. Enggak capek, buibu? :p
Padahal kan, “To believe in your choice you don’t need to prove that other people’s choices are wrong.”– Paulo Coelho
Kisruh Cut Nyak Dhien vs Kartini sebenarnya adalah cerita lama untuk memperkuat insekuritas di kalangan perempuan itu sendiri. Apakah merayakan hari Kartini otomatis membuat kita mengingkari perjuangan Cut Nyak Dhien? Ya enggak lah :).
Kalau memang ingin mendesak pemerintah untuk lebih banyak menggali sejarah perjuangan perempuan Indonesia, tidak harus dengan menjelek-jelekkan yang lain kan? 🙂
Emansipasi harusnya dimanfaatkan untuk saling menguatkan. Saling berbagi pilihan masing-masing tanpa harus saling menghakimi :). Saling memahamkan bahwa bersama pilihan apa pun, akan selalu ada konsekuensi yang menyertai. Saling memberanikan diri menghadapi apa pun konsekuensi tadi.
Sebuah tulisan dari penulis perempuan di luar sana, sori lupa namanya hihihi, untuk pengingat kita, para perempuan. “Once were girls … we compete to each other. As women … let’s empower one another” :).
Gambar : lovethispic.com
Mari memilih dan apa pun alasannya … let’s simply be happy :).
Apa pun pilihan itu, tak akan lupa kacang pada kulitnya, tak boleh lupa perempuan Indonesia pada ‘daster’nya ;). Selamat hari Kartini ^_^.