DANGAL : Parenting Challenge?

Nah, kalau yang ini film india yang bagus sekaligus mainstream, nih. Pasti banyak yang udah nonton. Film keluaran akhir tahun 2016. Nontonnya dah lama. Udah review di FB juga. Baru dipindahin ke blog hehehe.

Baca juga : “Film Andhadhun, Open Ending yang Seru.”

Tokoh pegulat perempuan 2 bersaudara ini beneran ada loh. Terinspirasi dari kisah nyata.

Tapi cerita dalam filmnya sudah banyak sekali dibumbui sana sini hehehe. Misalnya, sepupu-sepupu mereka ternyata juga pegulat semuaย :D. Bukan cuma pemanis cerita saja.

film india yang bagus
Amir Khan (aktor utama film Dangal) berpose dengan tokoh-tokoh asli di dunia nyata

Setidaknya Dangal itu mengajari kita sebagai orang tua kalau untuk mencetak anak selevel Geeta dan Babita memang butuh pengorbanan.

Gak bisaaaaa cuma modal “Yang penting anaknya bahagia. Kita cuma bisa mengarahkan” ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ˜.

Namanya anak-anak, kalau dikasih pilihan, “Latihan soal atau main Roblox.” Ya otomatis biasanya bakal jawab, “ROBLOX” Hahahahaha.

Spoiler alert!
.
.
.

Lihat kan, gimana Geeta dan Babita awalnya stres banget digembleng sekeras baja oleh ayahnya (Mahavir Singh). Mereka merasa dipermalukan, perempuan kok ikutan gulat dengan segala penampilan yang ala-ala lakik (budaya India memang patriarki abis) dan sempat bete banget kepada sang Ayah.

Tapi begitu di pertandingan pertama, Geeta kalah, dia malah enggak bisa tidur dan ambisinya terbakar. Walau kekalahan itu tetap saja diperoleh dengan terhormat. Mereka bergulat melawan laki-laki karena kompetisi buat pegulat perempuan belum ada di wilayah mereka.

film india yang bagus dangal

Akhirnya terlihat, Geeta ternyata memang punya bakat dan passion untuk melanjutkan cita-cita ayahnya menjadi seorang pegulat. Setelah itu menang terus hingga akhirnya maju ke kompetisi internasional.

Baca Juga : “96 dan Geliat film-film Kollywood.”

Padahal awalnya, kedua anak perempuan ini nangis dan merajuk dilatih ketat oleh ayah mereka.

Memang inilah seninya. Gimana caranya kita berusaha agar mereka mengeluarkan kemampuan terbaiknya tanpa dipaksa berlebihan.

Dalam praktiknya kan enggak bisa lah mereka mempan terus-terusan dibujuk semanis madu untuk disiplin latihan piano misalnya buat yang kepengin anaknya menjadi pianis profesional.

Kadangkala sebagai ortu ya memang harus keras. Harus tegaย ;).

Saya pernah membaca biografi Nasution bersaudara, keluarga perenang, yang pagi-pagi buta sudah harus bangun dan latihan dibimbing oleh ayah mereka sendiri. Every. Single. Day.

Berat sekali menurut mereka di masa-masa awal. Pernah sampai menangis saking capeknya.

Juga Williams bersaudara (Serena dan Venus), mereka awalnya tidak 100% ikhlas untuk menjadi petenis profesional karena beratnya latihan yang harus dilalui.

Petenis-petenis Rusia itu juga ajegila lah masa kecil yang harus dilewati untuk bisa sampai di level dunia (y). Ada yang pernah pengin kabur dari orang tuanya sendiri. Rata-rata mereka dilatih langsung atau minimal di bawah supervisi orang tua masing-masing.

Tapi saat sudah menjalani kehidupan sebagai petenis pro, barulah airmata menitik terharu saat diwawancara “Siapa sih yang paling berjasa membuat kalian ada di titik ini.”

No regret :).

film india yang bagus

Jangan dikira anak-anak yang besarnya bisa punya prestasi gemilang begini masa kecilnya cuma rileks dan jalani takdir apa adanya :p. Nope. It took a super duper hard work for them (and the parents) to be the they that we know now:).

Ini yang sebenarnya juga sering menjadi momok. Buat saya pribadi sih. Saya takut menyesal tidak mengawal anak-anak dengan baik sehingga mereka gagal menjadi “versi terbaik” atas dirinya sendiri. Gagal membuat mereka mengeluarkan kemampuan terbaiknya.

Tapi terbentur dengan tekanan lingkungan kalau kita tuh gak boleh maksa, gak boleh ini, gak boleh itu, takut anak stres bla bla bla.

Padahal ya kalau terlalu rileks juga jadinya gitu, maunya main Roblox aje dari pagi ampe pagi lagi kalau perlu hahahahaha.

Menemukan titik keseimbangan ini yang kadang berat banget. Plus mempertahankan konsistensinya.

Ya kali ada anak-anak yang sedari kecil sudah mantap merintis cita-citanya. Justru kita sebagai orang tua yang harus membantu mereka menemukan dan mengasah bakatnya. Jangan malah dibalik ye kaaaaaannn :D.

Kalau kalian menganggap masuk sekolah favorit misalnya dengan perjuangan dan antrian warbyasak dengan segala prosesnya yang dianggap wakwaw adalah harga yang harus dibayar untuk masa depan lebih baik, then GO FOR IT! ๐Ÿ’ช๐Ÿ’ช๐Ÿ’ช

Saya lupa di film apa pas seorang Ibu ditanya, “Kamu gak takut anak-anakmu bakal benci sama kamu?”

“Tugas utama saya adalah memastikan mereka bisa menjalani hidup sebaik yang mereka sanggup bukan membuat mereka tergila-gila kepada saya.”

Suka kesel kalau ada yang sok-sok an, “Eh gue punya temen loh yang waktu sekolah gak jelas tapi sekarang hidupnya sukses.”

Apa iya SEMUAnya kayak gitu?

Woooiiii, jangan-jangan gue punya lebih BANYAAAAAKKKK temen yang pas sekolahnya gak jelas ternyata masa depannya juga gak jelas :p.

Jangan ngajarin yang gak bener, ah! ๐Ÿ˜…๐Ÿ™ˆ.

…And We’ll Never be ROYALS

It don’t run in our blood
That kind of lux just ain’t for us

Begitu sebuah potongan lirik di reffrain lagunya Lorde, “Royal”.

And we need to stick to these rules whenever we’re bout to talk about THE ROYALS hehehe. Jangan dianggap keluarga kerajaan punya kehidupan biasa-biasa kek kita-kita. Ya ndak mashoooookkkk :p.

Of course, kuingin ngerumpi soal kerajaan sebelah :p. Hai, hai Pangeran Harry dan Meghan Markle.

So that you know I’m still livin’ in Ireland, kurang dari sejam naik pesawat ke London, tinggal naik tube ke Buckingham ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜.

Earlier this month, Pangeran Harry dan Meghan Markle (The Duke and Duchess of Sussex) bikin pengumuman yang menggemparkan. Mereka ingin mengundurkan diri dari anggota senior kerajaan.

Mungkin banyak dari kita yang merasa tidak ada masalah. Tapi ikutan ribet kenapa orang-orang di UK kok nyinyir. Yaiya dong Gaeeessss, anggota kerajaan itu hidupnya diongkosi salah satunya ya dari pajak warga UK atuhlah. Situ gak bayar pajak ya emang harusnya gak ikutan pusing ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ™ˆ.

pangeran harry dan meghan

The thing is … ada indikasi The Sussex ini ingin “bermain di 2 kaki”. Mereka semacam ingin melepaskan diri dari tugas-tugas sebagai anggota senior kerajaan (will talk about this deeper later) TAPI tidak ingin melepaskan TITEL dan beberapa privilege yang diterima sebagai anggota kerajaan.

Sebelum ngomongin PRIVILEGE bla bla bla, we need to be in their shoes.

It’s not easy to be HARRY. Kejepit diantara posisi pewaris tahta. Sejak lama hidup dalam bayang-bayang kakaknya dan sedikit banyak persoalan emosional terkait apa yang terjadi kepada ibunya.

We did know, tekanan media kepada Putri Diana, turut memperparah beban masalah yang tanpa media pun sudah ada secara internal dalam keluarga kerajaan.

Dalam silsilah kerajaan kini, apalagi setelah Pangeran William sudah punya anak lakik (2 pula! ๐Ÿ˜…), posisi Harry turun drastis.

Jadi, Kerajaan Inggris silsilahnya pakai turunan langsung. Beda sama Arab Saudi yang dulunya pakai generasi, habisin satu generasi dulu baru turun ke pewaris tahta di generasi setelahnya.

Sebuah foto yang menampilkan Ibunda Ratu, Pangeran Charles, Pangeran William, dan Pangeran George diduga memicu bapernya Harry. Nampaknya juga secara internal, Harry sudah ada gelagat menjauh.

Diperparah saat Ratu tampil dalam seremoni ucapan tertentu di mana di meja Ratu hanya ada foto keluarga Pangeran Charles dan Pangeran William.

Bisa dipahami lah, sejak Mama Diana meninggal, tiga lakik ini selalu SATU PAKET. Sungguh bisa dipahami kalau Harry merasa “ditinggalkan”.

Jadi ini tidak selalu ada hubungannya dengan Meghan. Lagian Harry itu umurnya berapa dah. He’s not a young boy anymore. Semua keputusannya ya harus dipertanggungjawabkan sendiri. Gak bisa semua-mua dituduh kalau pengaruh Meghan bla bli blu.

Sebelum ketemu Meghan, Harry sudah terkenal ‘rebel’.

pangeran harry dan meghan

Soal Meghan sendiri, tekanan media ke Meghan memang ada. Harus diakui, dong! Meghan ini memang ‘spesial’. Apalagi compared to Kate Middleton (Duchess of Cambridge, istrinya Pangeran William).

Coba lihat : Meghan janda, Meghan warga US (yup! dalam banyak hal US vs UK emang suka saling snob-snob an hahahaha), dan … Meghan mewarisi ras negroid. Siapa bilang sih wong yurop kagak rasis. Apalagi ke ras Afrika.

Sangat-sangat-sangat rawan memancing kontroversi.

Jangankan orang bule, orang-orang Asia aja banyak loh yang gimanaaa gitu ke orang-orang ras Afrika :(.

Lagian Eropa itu jauuuuhhh lebih homogen daripada US. Wajar jika lebih butuh waktu untuk menerima perbedaan :).

Sementara di US, sejak awal mereka sudah biasa hidup dengan berbagai benturan budaya, ya liat aja sejarah kemerdekaannya. Beda banget cuuuyyy sama Eropa yang dulu hobinya menjajah dan menjajah ๐Ÿ˜๐Ÿ™ˆ๐Ÿ˜….

Di US rasisnya tajam ke ras Afrika saja, tapi ke ras Asia pada umumnya santai saja tuh. Nah, di yurop yang “agak berat”. Tapi sekali lagi, proses asimilasi itu memang tidak bisa dipaksakan. Pelan-pelan sajaaaaaย <3.

But in details, Mbak Meghan ini sejak awal memang beberapa kali sudah bikin heboh. Soal tiara pas pernikahan yang ngotot pengin pakai tiara legendaris gak mau pakai tiara yang dipilihin sama Ratu, soal gimana Meghan dianggap terlalu ikut campur dalam urusan protokoler pernikahan.

Ya gimana dah, namanya dibesarin dalam budaya US yang cenderung “bebas” ya hihihihi.

Terus bikin heboh dengan renovasi istana buat The Sussex yang memakan biaya milyaran.

Tapi secara gebrakan misalnya dalam kegiatan-kegiatan sosial, Duchess of Sussex memang lebih “nendang” daripada Duchess of Cambridge. Secara dese kan emang tokoh FEMINIST dan datang dari dunia selebriti pula. Sudah “terlatih” :D.

Ya gimana lagi, karena kerajaan memang sebagiannya DIBIAYAI DARI PAJAK NEGARA (literally), ANGGOTA KELUARGA KERAJAAN ya punya KEWAJIBAN-KEWAJIBAN kepada publik.

Ini sudah zaman modern. Gak bisa lagi bilang anggota kerajaan pokoknya kerjanya makan tidur doang hidup hura-hura hahahahaha. No way! Harus kerja, kerja, kerja hihihi.

Termasuk HARUS BERSEDIA kalau beberapa ranah pribadinya DIEKSPOS ke PUBLIK. Sebagian dari tanggung jawab moral karena udah makan uang rakyat gitu kali ya hehehe.

Nah, soal ranah pribadi vs ranah publik ini yang sangat debatable, sih. Karena Meghan pernah ngamuk saat difoto-foto oleh “rakyat jelata” waktu lagi nonton apa gitu di ruang publik.

Ya dulu harusnya sebelum menikah dengan anggota kerajaan harus dipahami semua konsekuensi yang harus dijalani. Tapi kita pun jangan-jangan kayak Meghan. Sebelum nikah kok kayaknya asoy bakal jadi putri, eh begitu masuk dalam kerajaan, kok ya stres ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ˜….

Segala kenyamanan dan privilege yang didapatkan sebagai anggota kerajaan ya diimbangi dengan HARGA YANG HARUS DIBAYAR ye kaaaaaan :D.

Masa mau tunjangannya, mau tetap pakai nama royal, tapi ndak mau ngerjain kewajibannya.

Ndak boleh gitu yaaaaaaaaa :p.

You just can’t have it all :).

Makanya, mungkin yang kontra kepenginnya agar mereka ya udah jangan setengah-setengah. Ingin mandiri? LETAKKAN TAHTA, LEPASKAN GELAR, dan semua privilege yang menyertainya :).

Jadi kira-kira begitu.

Gimana? Enak jadi orang biasa ye kaaaaaan hihihi.

Kuingat dulu Kate abis lahiran udah rapi resik, langsing, terus dadah-dadah ke publik dinyinyirin, “Halah dia kan simboknya banyak makanya bisa tetap cetar walau baru lahiran. Manjah!”

Giliran Meghan abis partus perutnya masih buncit dan perawakannya berubah drastis dinyinyirin jugak, “Ish, katanya rajin yoga, bla bla bla, kok gendut abis lahiran? Omdo!”

Gusti Allah, netijen emang selalu mahabenar ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚.

Akoh mah bukan tim siapa-siapa. Saya suka Kate, juga kagum pada Meghan <3. Kate itu chic tapi tomboy. Sporty abis. Gak jaim tapi tetap acceptable sebagai “PUTRI” :).

Meghan juga luar biasa. Kepedulian sosialnya sudah terasah dari dulu. Saat dia berani tampil dengan make up alami yang memperlihatkan frecklesnya dengan jelas, I knew she’s going to be ‘something big’.

Semoga semuanya bahagia. Aamiin.

Demikianlah sekilas gosip dari kerajaan sebelah. CMIIW. Sampai jumpa di update berikutnya ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ™

Soal royal-royal an, I got a perfect quote for this :

“In the past, people were born royal. Nowadays, royalty comes from what you do.” -Gianni Versace

Jadi ndak usah iri-iri lagi sama putri-putri atau kerajaan-kerajaan. Toh sekarang kalau mau bikin kerajaan tinggal bikin seragamnya aja #eh, tiara-tiara gitu-gitu mah bikin sendiri juga bisa #benerinMahkota ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ.

Biaya naik haji

OBITUARI : “Always be Tangled”

Namanya Indhira Larasaty.

Waktu SD, sekelas di kelas 1 dan 2. Tidak begitu ingat how it started, pokoknya waktu itu cukup dekat lah. Cuma ingat saya terpesona dengan namanya yang bagus banget <3.

Yang bener-bener memorable pas kami berdua sama-sama ikut ekstrakurikuler drum band, Athirah Drum Band nama klub di sekolah.

Kelas 5 SD itu. Di jam istirahat di sela-sela latihan, pernah mojok berdua atau bertiga (dengan Mega hehehe), curhat sampai lamaaaa. Di tangga depan musholla sekolah, di semak-semak dekat gedung TK, atau curi-curi waktu buat ngobrol saat antre mau ambil alat di gudang belakang.

Unik, sih. Karena pas sekolah dulu Ira gengnya beda. Tapi personally, one on one, kami lumayan dekat.

Kalau ngobrol dengan Ira bisa mendalam gitu hehehe. Serius, euy. Can’t believe di usia segitu kita kok sudah bisa segitu nganunya ngomongin hubungan percintaan ya, Ra, hihihihi. Sangat bucin di masanya :p.

Ira, gak cuma cantik. Tapi modis banget. Kuingat dulu mupeng banget lihat jam tangannya Ira pas hari pertama masuk sekolah pasca libur panjang. Entah kelas 4 entah kelas 5.

O ya, Ira ini atlet ski air. Inget banget dia sering nyebut-nyebut POPSA-POPSA gitu ;). Duh gusti, dese udah bolak balik ikut pertandingan ski air, akyu liat kolam renang aja jarang-jarang :p.

Fashionable banget dari dulu <3. Makanya sering gabung geng anak gaul. Geng saya beda dulu waktu SD hihihi. Tapi sebenernya ya saling kenal juga lah kami semua. Enam tahun gitu bareng-bareng ya <3.

Saat hendak bertanding ke Jakarta di tahun 1991, liburan panjang kenaikan kelas, anak-anak drum band ikut Training Center (TC) di Malino.

Iringan marching band di Buckingham Palace (UK)

Sempat satu kamar dengan Ira di hari pertama. Baru datang, sambil leyeh-leyeh bongkar barang, saya ngobrol soal lagu baru dengan Ira. Ira punya selera musik yang kekinian banget. Lagu-lagu berbahasa Inggris pun banyak yang dese hafal.

Kami ngomongin lagunya Richard Marx, “Right Here Waiting”. Ira menuliskan liriknya di kertas lalu kami nyanyi bareng hehehe. Anak SD ya kelakuannya ck ck ck :p.

Saat latihan pasti kami pisah. Karena Ira di Tim Perkusi, saya di Tim Alat Tiup. Tapi sampai latihan di Stadion Mattoangin pun, selalu sempet curhat-curhat bareng dong kitaaaaaa :p.

Budaya basa basi orang Asia
Gambar : pixabay

Saya masuk SMP negeri, Ira tetap di Athirah.

Di persimpangan jalan Kajaolalido dan Achmad Yani, kalau jalan kaki pulang sekolah, I saw her several times with her new friends. Enggak pede mau negur duluan. Geng Ira kan gitu, anak-anak cantik gaul modis.

Saya jalan cepat-cepat saja pura-pura tidak lihat.

Apalah gue anak SMP Negeri yang sepatunya kudu item kaos kaki kudu putih, penampilan pas-pasan pulak hahaha.

Suatu hari saat akan menunggu jalanan kosong hendak menyeberang ke arah Karebosi, tahu-tahu saya ditubruk dari belakang, “Jihaaaaaaaaannnn….”

Of course I knew her voice, “Heiiiiiiiii…”

“Rinduta’ gang. Main-main ko pi Athirah.”

Saya cuma cengengesan. Padahal SMP Athirah dan SMPN 6 deket ya, cuma ya gitulah, gak pedeeeee. Lagian di angkatan saya, cuma beberapa anak Athirah yang masuk ke SMPN 6.

Seneng banget rasanya dia masih ingat. Bukan sekadar menyapa tapi sampai meluk-meluk gitu dan kita pun jingkrak-jingkrak heboh di pinggir jalan, anak perempuan kalo lama gak ketemu pasti gitu hahahaha.

Nothing really happened after that. Saya masuk Smansa, Ira di SMA 5 kalau gak salah. She was pretty popular di kalangan anak-anak gaul angkatan kami dulu di Makassar ;).

Pas lulus SMA, abis UMPTN, libur agak panjang, ada reunian di Athirah Drum Band. Kami diminta kakak pelatih membantu adik-adik di ADB yang mayoritas masih SMP, disuruh ikut masuk tim gitu.

Lalu, ada Training Center lagi di Malino. Bertiga dengan Ira dan Pipit, saya ikut ke Malino. Mengenang masa-masa TC waktu SD dulu :D.

Yang jelas kami bertigaan aja di sana dan ngomel betapa berisiknya anak-anak SMP ini. Lupa dulu pas SD kami bikin kakak pelatih kewalahan di Malino selama 10 hari hahahaha.

Sesi curhat berdua Ira pun lanjooooootttttt :p.

Saya pernah dibawa ke rumahnya. Masuk ke kamarnya. Poster berbagai merek fashion ternama yang menempel hampir memenuhi dinding kamarnya mengingatkan betapa berbedanya ya passion kami berdua hehehe.

Grogi lagi jadinya. Tapi dia ini emang anaknya gak pernah begitu-begitu. Teman ya teman. Setidak modis apa pun kalo udah deket ya deket aja. I love you, Ira <3.

Tapi tidak lama bisa bernostalgia, hasil pengumuman UMPTN membuat saya harus berangkat ke Jakarta. Gak jadi manggung bareng ADB, tapi Ira tetap ikut sampai acara di gubernuran itu.

Kuliah di Jakarta membuat hubungan dengan teman-teman di Makassar memudar. Apalagi saya tidak pernah mudik.

Media sosial mempertemukan kami kembali. Ah, Ira makin modis dan kece hehehe. Terus ada BBG alumni SD Athirah waktu itu. Dari situ punya kontak pribadi Ira dan akhirnya terjadi pertemuan seperti di foto ini :).

Ira naik haji tahun 2011. Kami jemput di Masjid Apung, Jeddah. Berdua suaminya, kami ajak makan malam di Pattaya dan keliling-keliling Jeddah malam ituย ^_^.

Ira paham sekali betapa enggak mudengnya gue sama brand-brand fashion jadi waktu suaminya nanya-nanya soal toko-toko ginian, Ira langsung nyengir, “Eh tauwa, tidak pahamki Jihan itu begitu-begituan.”

Biaya naik haji
Bareng Ibu Hajjah Indira

Setiap saya pindah negara, Ira rajin menyapa.

“Eeee di Eropa mako. Doakan ces, mo ka datangi ko lagi itu.”
“Aamiin …”
“Traktir lagi gang.”
“Pasti.”

Di Instagram, jumpa kembali setelah Ira lama tidak beredar di FB. Beberapa kali Ira sekadar kirim-kirim emot love, hug, kiss, di insta story yang saya posting.

Dari IG inilah, tahun 2018, Ira menceritakan kisahnya melawan kanker dan banyak tips serta nasihat dalam beberapa postingan tulisan.

Langsung saya DM saat itu. Tapi dia bilang, masa kritis sudah berlalu, dia kini sebagai seorang survivor. Alhamdulillah.

Dia sempat nanya-nanya soal menulis, “Bagemana gang tulisanku? Kritik dulue.”

Tulisannya bagus. A great story teller (y). Masih bisa dilihat di akun IGnya sampai sekarang. Ada beberapa post.

Makanya, terbangun pukul 4 dini hari tadi dan cek message tentang kabar kematiannya, kaget banget. Ya Allah sedihnya :'(.

Innalillahi wa innailaihi rajiun. Semoga diampunkan segala kesalahan almarhumah, diberi tempat terbaik di sisiNya, diberi kesabaran dan keikhlasan bagi keluarga yang ditinggalkan.

Sama Ira, jarang ketemu tapi ya begitu, sekalinya ketemu, suami saya bingung pas di Jeddah, banyak kali bahan pembicaraan hihihi. Gak ada momen awkward :).

โ€œGrowing apart doesnโ€™t change the fact that for a long time we grew side by side; our roots will always be tangled. Iโ€™m glad for that.โ€
โ€“ Ally Condie

Mohon doanya bagi almarhumah. Alumni SD Athirah 1992, SMP Athirah 1995, SMA 5 1998, Arsitektur UMI 1998.

Selamat jalan, Sayang 

This image has an empty alt attribute; its file name is 2764.png

. You’ll be missed, for sure

This image has an empty alt attribute; its file name is 2764.png

 .

Pretty yet Dumb?

Melenceng sedikit dari tema demo. Sedikit tertangkap saat melintas di newsfeed beberapa nyinyiran soal mahasiswi-mahasiswi yang meributkan make up/skin care di acara demo kemaren.

Malah ada yang membahas soal skincare yang demo-able ???. Membahas tips-tips apa saja mengenai produk skincare yang oke dipakai pas demo-demo kek kemaren. Satir atau enggak, kutyda paham :p.

Mulai deh tante-tante generasi-generasi dulu-dulu merasa insecure dan meributkan, “Ih jijay ya, kita mah dulu mana sempet mikirin gituan.”

On and on, zaman terus berputar dan berganti ya, buibuuuuu.

mendidik anak milenial

Kalau kalian cek youtube atau endorser di era medsos terkini, topik make up dan skincare itu tidak se’tabu’ dulu lagi, kok :). Sudah jadi percakapan biasa dan enggak dianggap “sakral” lagi :p.

But perhaps, for too long we, girls, are judged by society with this … “Biasanya kalok cantik mah pasti bego” ???. She’s too pretty, she must be dumb :p.

Saya ingat waktu masih SMP dulu dipaksa Mama menggunakan sunscreen karena ke sekolah pulang perginya jalan kaki. She was so worried about my skin ?.

“Awwweee, mappella-pella ana’ dara. Anennengi alemu.” (Aduh, anak gadis kok berpanas-panasan). “Anennengi alemu” ini terjemahannya apa, ya, yang pas hahahaha.

Laaaahhh, yang nyuruh jalan kaki pulang pergi sapa dah ??. Solusinya disuruh pakai sunscreen Nivea itu yang dulu hits banget. Kulit muka lengket saya protes, disuruh pakai bedak abis pakai sunscreen. Ya akoh makin ngamuk ?.

Dalam benak saya waktu itu sunscreen ya make up hahahaha. No, it’s not. Sunscreen itu skincare ya, Gaeeesss. Bedakan antara make up vs skincare.

Bolak balik eyel-eyelan soal ginian doang. Akhirnya saya milih nurut Mama ajah. Lu nyinyiran anak kuliahan ngeributin sunscreen, gue dong … pakai sunscreen dari SMP! (SD juga udah mulai loh pas rajin latihan marching band).

I was so scared that people won’t notice who I really am if I was too busy taking care of my face/body. Ada perasaan bersalah kalau terlalu ribet mikirin rambut endebre endebre atau skincare-skincare an.

Takut disangka perempuan tolol yang ngertinya cuma mikirin dandan aje ??.

But … girls, don’t we all?ย ?

Kesel banget waktu SD ada yang ngejek, “Edede, bagus nilaimu itu karena lale gurunya. Kalo canti’ dikasi nilai bagus.”

Lale : genit/ganjen (bahasa Makassar).

Kalian nonton kartun Scooby Doo? Daphne vs Velma? Daphne is anything but smart. Velma -lah yang jenius dengan pakaiannya yang sangat es-te-de dan kacamata tebalnya.

I always felt insecure karena mata saya tidak minus jadi tidak bisa pakai kacamata dan tidak akan terlihat meyakinkan sebagai “anak pintar” di sekolah dulu ????. 6 semester di SMP dan 9 cawu di SMA, rengking 1 terus akoh gaeeessss :p. How I always wanted to wear glasses ???.

Nobody really believes that I like reading (a lot!) hehehe. Soalnya pasti pakemnya gitu ya, suka membaca ya pasti pakai kacamata. Sampai sekarang mata saya enggak minus :D. Yang dibaca gosip artis melulu sih hahaha :p.

Dulu sempat terpikir Mama saya kan cuma mentok kelas 2 SMP, ngerti apa sih soal emansipasi segala macam. Kok ya yang lebih sering diurusin sunscreen lah, merawat diri lah, pokoknya segala sesuatu yang menurut saya “tidak cerdas” *ciyumTanganDulu*.

Tapi kemudian hidup terus berjalan, bertemu dengan banyak jenis orang hingga akhirnya sadar sendiri … “Girls can be pretty as well as smart” and it’s absolutely NORMAL.

Dan tidak ada kok ya hubungannya kacamata tebal dengan tingkat kecerdasan hahaha.

Yang paling penting, kecerdasan itu punya banyak wajah, so far ada 8 jenis kecerdasan manusia yang bisa kalian googling sendiri karena akoh sudah ngantuk mau nulisin itu semua hahaha.

Caring about make up (apalagi skincare! Ini mah wajib, jib, jib), wearing fashionable outfits, etc etc, should not give us the right to judge or to create certain assumptions about a girl :).

“We get so worried about being pretty. Let’s be pretty kind. Pretty funny. Pretty smart. Pretty strong.” – Anonymous

Selamat pagi, cantik-cantikku semuaaaaa ???. Selamat bobok buat yang cantik-cantik cabang Eropah ??.

cara menurunkan berat badan

Cara Menurunkan Berat Badan : Cardio? Weight Training? Pola Makan?

Cara menurunkan berat badan ini topik favorit kaum wanita banget, yes? Hmmm, laki-laki juga suka ngeributin soal ini, sih. Tapi entah kenapa lebih heboh kalau yang bahas emak-emak hahaha.

Di media sosial lagi ramai bahas demo tuntutan mahasiswa soal RUU segala macam dan penuh kontroversi. Jadi cobak ah mau nulis topik netral-netral aja. Ben adem :p.

Gambar : pixabay.com

Etapi ini potensi berantemnya juga ada sih hahahahaha, misalnya : efektif mana CARDIO vs WEIGHT TRAINING?

Atau berantemin pola makan, KETO atau FOOD COMBINING atau DIET MAYO?

Tapi insya Allah topik-topik ini gak perlu sampai demo-demo lah yaaaaa hihihihi.

Oiya, untuk topik ini sudah saya bikinin vlognya juga :

https://www.youtube.com/watch?v=b_X0xW8MRpg

MENURUNKAN BERAT BADAN sebenarnya masalah NIAT dan KONSISTENSI. Kalok sanggupnya masih sebatas mengolok-olok diri sendiri kayaknya enggak akan berhasilย ;).

Kalau fokusnya adalah CARA MENURUNKAN BERAT BADAN, fokus utama tentu POLA MAKAN yang pengaruhnya sekitar 70-80%. Exercise konon hanya menyumbang kesuksesan sekitar 20-30%.

Jadi kurang efektif kalau Cardio atau Weight Training habis-habisan tapi pola makan tidak dijaga. Walau begitu, tetap ada pengaruhnya dong dibandingkan dengan yang olahraga kagak rakus iyaย ??.

Jadi mungkin urutan untuk tingkat keberhasilan :

1. Pola makan dan olahraga
2. Pola makan
3. Olahraga
4. Enggak ngerjain dua-duanya (hahahaahha).

Cara Menurunkan berat badan
Gambar : pixabay.com

Kalau pola makan googling sendiri lah ya yang mana yang pas. Santai aja ;). Tapi kalau memang fokus utama adalah menggeser timbangan ke kiri, diet-diet LOW CARBS itu biasanya jauuuhhh lebih efektif (y). Lebih efektif tidak selalu berarti lebih sehat yak ^_^.

Nah kalau olahraga, antara CARDIO vs WEIGHT TRAINING?

Kardio itu biasanya untuk meningkatkan denyut jantung dan membakar kalori. Tapi Weight Training juga ampuh kok untuk membakar kalori. Kelebihan lain WT –> pembentukan bagian-bagian tubuh.

WT itu bayanginnya jangan yang angkat-angkat barbel atau harus pakai alat yang susah-susah dan ngerjainnya harus di pusat kebugaran / gym.

cara menurunkan berat badan
Salah satu gerakan Weight Training yang mudah dilakukan sendiri di rumah , gambar : pixabay.com

Jaman sekarang, sudah banyak sekali trainer-trainer WT yang online. Hampir enggak pakai alat sama sekali (ya paling matras doang) dan bisa banget dikerjakan dari rumah ^_^.

Favorit saya channel BLOGILATES. Ada WT per bagian-bagian tubuh dan videonya banyak sekali jadi variatif. Durasinya pendek-pendek, ada yang cuma 5 menit tapi dijamin asoooyyyy hahahaha. Gak bakal bosen kok.

Kalok lagi gak ada anak-anak, ya udah deh, puter tembang-tembang kenangan 90 an sambil WT di atas matras. Setengah jam per hari juga sudah oke.

Cara mengecilkan lengan di rumah
Gambar : blogilates.com

Soal Kardio, jangan menganggap kardio itu identik dengan LARI. Jalan kaki juga oke asal jangan terlalu loyo. Kalau saya jalan kaki sih maunya sejam sehari tapi waktunya kurang pas. Karena harus keluar rumah ini enaknya.

Maksimal 45 menit muter-muter gedung apartemen aja biar kalo ada apa-apa suami bisa teriak dari jendela, “Oiiiii, pulaaanggg, masaaaaakkkk” hahahahahaha.

Minimal setengah jam lah. Tapi jalannya yang kek dikejar maling gitu loh hahahaha. Rata-rata 35 menit saya bisa jalan kaki sejauh 3.5 km. Pernah juga sampai 45 menit belum ada kode dari jendela kalok harus segera pulang (hahaha), bisa jalan sejauh 4.8 km.

Beberapa catatan waktu pas jalan kaki dalam rangka olahraga kardio ada saya sertakan dalam vlog yang di atas tuh linknya ;).

Tuuuuhhh, beti-beti lah ama yang lari :p. Jalan kaki lebih nyaman. Tidak terlalu rentan cedera dan bisa dilakukan kapan saja tanpa perlu persiapan yang terlalu gimana-gimana.

Selama di Ireland saya belajar jalan kaki cepat. Nenek-nenek di sini kalau jalan juga dahsyat loh cepetnya hihihihi. Jadi lama-lama terbawa kebiasaan orang sini.

Yuuukkk, tetap semangat dan konsisten menjaga berat badan ๐Ÿ˜‰