Bila Kau Tidak Mendapatkan Apa yang Kau Inginkan?

by : Jihan Davincka

***

Mungkin saja itu keberuntunganmu!
Tidak percaya?

***

Waktu kelas 6 SD, saya sudah pernah bercerita bahwa bapak saya meninggal karena serangan jantung. Malam itu, Tuhan menepis permintaan saya untuk mengirimkan Bapak kembali pulang ke rumah. Instead, keesokan harinya, kami sekeluarga bersiap-siap untuk mengantarkan beliau ke peristirahatan terakhirnya.Rasanya sedih sekali. Wajarlah. Siapa yang tidak? It was too soon :(.

Benarkah? Tunggu dulu :).

Sepertinya kekecewaan akan berlanjut. Beberapa tahun setelah itu, things happened. Saya tidak pernah suka membicarakan detailnya seperti apa, tapi yang jelas…waktu itu saya bersorak karena Mama bilang saya akan pindah sekolah ke Jakarta.

Saya kelas 1 SMA dan akan mengakhiri cawu 1 di sekolah. Mama bilang saya sudah harus mengurus kepindahan saya, bilang ke wali kelas segala. Dan tentu saja berfoto-foto dengan teman-teman sekelas sebagai tanda perpisahan. Sejak itu, yang terucap dalam doa-doa saya hanya, “Semoga lancar…semoga lancar…” Saya dari dulu kepengin benar pindah domisili biar ngerasain yang namanya merantau dari kampung kelahiran.

Lagi-lagi … tidak kejadian! Tidak usah dibahas kenapa. Yang lebih tidak menyenangkan lagi adalah, adik saya malah yang pindah. Dua kali lipat kecewanya. Padahal adik saya malah enggan disuruh  pindah ke Jakarta tadinya.

Belum lagi menepis rasa malu karena masa sudah berfoto habis-habisan, peluk-pelukan sana sini, ternyata di hari pertama cawu 2, saya tetap muncul di kelas. Huhuhu.

Tapi belum genap tiga tahun kemudian, saya malah mengobrol dengan Mama di atas kapal laut yang akan membawa saya ke kota Jakarta. Hihihihi, tahun segitu, kapal laut masih jaya-jayanya dan harga tiket pesawat masih amit-amit jabang bayi :D.

Mama bilang, “Kalau Bapakmu masih ada, gak mungkin dapat izin kuliah ke luar kota. Kakakmu dulu saja mau kuliah di Surabaya, mati-matian diurus biar bisa pindah ke Makassar.”

“Tapi kan akhirnya kuliah juga di Surabaya.”

“Ya, tapi kau kan anak perempuan. Gak akan dibolehin.”

Saya baru tahu, waktu kakak saya diterima di ITS, bapak pernah ‘menyewa’ orang yang mengiming-imingi kalau dia bisa merubah hasil Sipenmaru. Hahaha. Dimaklumi ya, almarhum Bapak enggak makan bangku sekolah. Makannya nasi dong hahaha :p.

Mama benar juga. Bapak memang ekstra protektif terhadap saya dan adik perempuan saya. Dua anak perempuan diantara ketujuh anaknya yang lain. Mama jauh lebih ‘nyeleneh’ dan ‘santai’.

Di akhir juli tahun 1998, nama saya tercantum di koran sebagai salah satu siswi yang lulus UMPTN. Bukan di universitas negeri kota kelahiran saya. Tapi di universitas negeri di ibukota.

Belum tentu saya bisa dengan mulus berangkat ke sana jika saja kelas 1 SMA saya benar-benar pindah ke Jakarta. Semua orang dekat saya paham saya bukan tipe orang yang mudah menyesuaikan diri dengan ‘kehidupan baru’. Bisa saja di Jakarta kompetisi lebih ketat dan saya lebih senewen. Biarpun kelihatan luwes dalam beradaptasi but I AM definitely NOT! :D.

Bila bapak masih ada, saya meyakini, beliau pasti akan menentang keras. Biarpun untuk kasus Bapak ini, kalaupun masa lalu bisa menarik saya kembali ke malam itu, saya akan tetap berharap hal yang sama … saya inginnya beliau diberi umur lebih panjang.

***

Saya juga memasang tulisan ini di dekat monitor PC saya di tempat bekerja saya dahulu. Perusahaan pertama yang menerima saya saat saya bahkan belum diwisuda. Terima kasih, ya, Manulife. Hehehe. Hampir empat tahun bekerja di sana, those almost-4-years are one of the best times in my life.

Tapi namanya manusia. Saya pun kadang ingin terbang lebih tinggi. Mencoba interview di tempat lain yang menjanjikan karir lebih baik (ehm…gaji yang lebih tinggi? :P). Tapi seringnya…gagal! Dan kalau gagal, untuk membangkitkan semangat, saya baca saja berulang-ulang ‘mantera’ saya itu.

Sahabat saya pernah bilang, “Model pelor kayak elo ya mana kuat, Jee, kerja di konsultan. Emang paling cocok di end-user. Lo kan suka marah-marah kalau begadang. Kalo belajar bareng pun, banyakan tidurnya.” Hahaha.

Tapi dia tidak salah. Saya bukan tipe ‘manusia malam’. Sekalinya sahabat saya itu membujuk saya ke bioskop malam-malam untuk pertunjukan pukul jam 8 malam. Jam setengah sepuluh, saya sudah setengah terlelap di bangku bioskop. Hihihihi. Pantang mengajak saya melakukan aktifitas di malam hari :P. Saya manusia ‘subuh’ kalau kata sahabat saya, hehehe. Enaknya diajak lari pagi mungkin? ;).

Memang, harus menunggu hampir empat tahun untuk akhirnya melangkah pergi. Dan kepakan sayap pertama itu malah mengantarkan saya bekerja di tempat yang memang pernah saya impi-impikan.

Pekerjaan yang memang tidak membutuhkan saya untuk banyak begadang dengan gaji yang tidak terlalu jelek. Cukup besar malah menurut saya :P. Perusahaan yang beberapa kali menjadi ‘Indonesia’s the most admired company‘ ;). Bukan konsultan IT.

Biarpun akhirnya setelah beberapa tahun berlabuh di tempat itu, saya akhirnya menyudahi karir saya di sana. Waktu itu rencananya ingin melanjutkan sekolah ke jenjang S2. Mencoba ikhtiar kembali untuk menggali kembali impian lama yang hampir terkubur rapat. Menjadi dosen :).

***

Saat sudah hendak mendaftar ulang sebagai mahasiswi S2, takdir lain kembali menghampiri. Suami saya bilang, kalau dia ingin saya dan anak saya ikut bersamanya ke luar negeri. Duh, gagal lagi, deh, cita-cita satu ini.

Bulan april 2010, Montreal lah tujuan kami. Sebenarnya suami lebih menginginkan untuk tetap di Jeddah, tapi iqama (resident permit) tak kunjung datang. Jadi saya dan anak saya tak kunjung bisa ikut serta ke Jeddah. Kami tidak suka berlama-lama hidup terpisah.

Akhirnya suami mencoba peruntungan di negara lain. Dan dengan tangan terbuka, Montreal mengirimkan final offer dan kami bersiap-siap untuk pengurusan visa. Jangan ditanya senangnya saya. Montreal adalah salah satu kota impian saya. Selain ingin melihat salju, saya tahu kota ini salah satu kota tercantik di negara Kanada. Sibuklah saya menelepon kakak saya untuk menemani saya berburu mantel dan sepatu boot. Hihihihi. Cetek bener, dah :P.

Tak disangka, selang dua hari, final offer dari Montreal diterima, tawaran Iqama juga datang dari Jeddah. Dan secara mengejutkan, suami saya memilih Jeddah!

Suami saya sama keras kepalanya dengan saya. Dan saya tidak menampik, alasan dia lebih masuk akal. Jadilah dengan setengah hati, saya mengemasi koper, membuang jauh-jauh rencana berburu mantel + boot, dan mengomel panjang lebar disertai ultimatum ke suami, “pokoknya jangan lama-lama, ya. Satu tahun itu udah lama banget!”

***

Dan lihatlah sekarang. genap sudah dua tahun saya dan keluarga kecil saya berpijak di salah satu kota terbesar kedua di negara Saudi ini. Yang berjarak hanya 70 km dari kota suci Mekkah. Dan hanya perlu menyetir 3 jam melewati jalanan mulus sepanjang 400 km (gak pake macet!) untuk berziarah ke kota Nabi di Madinah.

Seminggu pertama saya menjejakkan kaki disini tidak terpikir untuk melewati banyak hal menarik disini. Tinggal di Jeddah yang awalnya saya yakini akan menjadi ‘momen kemunduran’ malah menghadirkan banyak hal penting.

Anak kedua saya lahir disini. Proses produksinya juga di Jeddah, hihihihi. Gagal mengejar mimpi menjadi dosen membuat saya menemukan passion sejati saya.

Bertahun-tahun yang lalu ketika saya masih duduk di bangku SD, saya sangat suka mengolah kata di atas kertas. Menulis banyak sekali cerita fiksi. Banyak naskah drama, yang setelah saya tulis, saya bawa ke kelas, dan saya minta teman-teman saya berlakon sesuai skenario yang saya buat tadi. Hahahaha. Saya sering membagi-bagikan tulisan saya secara gratis.

Entah kenapa, begitu SMP dan seterusnya, hobi menulis ini nyaris hilang. Hanya sekedar menulis iseng di buku harian saja. Makanya, teman-teman SD saya tak ada yang terkejut ketika sekarang ini saya suka ‘menulis dengan lebih serius’. Sedangkan teman SMP, SMA, kuliah, kantor, bahkan suami saya sendiri mengernyitkan dahi, “sejak kapan bisa menulis? kenapa tiba-tiba?” hehehe.

Hobi menulis membawa saya mengajak teman-teman saya menerbitkan sebuah buku. Yang lagi-lagi prosesnya di Jeddah.

Juga membuat dua blog komunitas. Mamasejagat untuk teman-teman sesama ibu-ibu yang sedang bermukim di luar negeri. Dan blog ceritaJeddah untuk teman-teman di Jeddah yang ingin berbagi cerita.

Ah, blog yang isinya ramai-ramai pasti lebih gampang. Eit, siapa bilang? Butuh kesabaran dan konsistensi untuk membujuk orang-orang lain menorehkan kisahnya disana. Perlu pakai acara wawancara pula kadang-kadang hehehe.

***

Tak ada orang yang seumur hidupnya selalu menengadahkan tangan ke atas dan dalam sekejap waktu segala permohonannya terhidang di hadapan mata. Tidak ada.

Tapi tak pernah ada alasan untuk putus asa dan kecewa berkepanjangan. Bukannya Tuhan menepis keinginan kita, He’s just preparing something better.

Jadi, betul bukan kata saya di awal tulisan ini, bahwa : “Bila kau tidak mendapatkan apa yang kau inginkan? Maka, mungkin itu saja keberuntunganmu!” ;).

3 comments
  1. halo Jihan… thanks for sharing, bagus banget tulisan nya!
    bagus banget buat saya yang sampai saat ini masih mengejar impian dan belum menemukan passion yg sesungguhnya 😀
    tetap berkarya dan semoga bahagia selalu di sana yaa 😉

  2. Sama-sama, ya :). Good luck juga buat Suci 😉

  3. Setuju sekali Mbak. Ada rencana yang lebih besar diluar kemampuan kita yang kadang susah dimengerti tapi akhirnya kita mendapatkan yang lebih baik lagi.

Comments are closed.