Budaya basa basi orang Asia

Chitty-chitty Chat

Salah satu kehidupan sosial yang cukup bikin galau buat saya semasa tinggal di Eropa sini adalah sifat mereka yang kurang asyik diajak basa basi . Maklumlah, si mulut lokomitif ini yaaaaa, kalau kenalan tuh adaaaaa aja yang pengin dikepoin hahaha.

Konon katanya masyarakat sindang memang sifatnya lebih individualis. Tapi tidak melulu negatif sih. Ini dalam kaitannya dengan hobi-hobi emak-emak yang doyan chit-chat iniiiiih :D. Sementara orang Asia kan katanya lebih “kolektif”. Semacam senang ngumpul dimana bergosip adalah imbas lanjutannya hahaha.

Budaya basa basi orang Asia
Gambar : pixabay

Parahnya lagi, topik standar untuk bercakap-cakap ala chitty-chitty chat sama orang sini tuh adalah…cuaca!

Kalau beli sayur atau buah di toko depan misalnya. Toko ini persis di depan gedung apartemen, toko yang dikelola oleh bisnis rumahan yang dikelola turun temurun oleh keluarga tertentu. Saya perhatikan yang belanja itu biasanya memang kenal dengan yang jaga toko.

Ya dusun mungil begini yaaaa. Ngesot sana sini ya ketemunya dia lagi-dia lagi hahaha.

Nah, sudah akrab, kenal lama pun, ngobrolnya tuh yang, “Duh, ribet banget ya. Masa tahu-tahu hujan padahal tadi cerah banget.”

Atau, “Wah, enak banget lho katanya cuaca weekend ini. Enak nih buat ngajak anak-anak jalan-jalan.”

Enggak jauh-jauh dari, “Musim dingin tahun ini kok ya dingin ya. Tahun lalu kan enggak dingin-dingin amat.” Kadang gatal pengin nimbrung, “Ya namanya juga musim dingin, Om. Kalau panas ya bukan musim dingin kali yak.” –> lalu ditimpuk sekarung kentang!!! Hahaha.

Pernah di sekolahan saya sudah beberapa kali mengobrol dengan seorang ibu-ibu yang asli Irlandia. Ya, pengin dong melanjutkan ke-kepo-an ke taraf lebih dari sekadar ngomongin mendung kah minggu ini atau tidak-beli jas hujan di mana yang murah dan kece-apakah saya betah di Irlandia karena saya asalnya dari negara tropis bla bla bla.

Saya pun berimprovisasi, “Wah, lihat deh, anak pertama kamu rambutnya agak keriwil ya. Agak beda dengan yang nomor 2.”

Ibunya merespons dengan semangat, “Iyah memang agak beda. Tahu enggak, mereka bukan itu saja lho bedanya?”

“Oh ya? Apaan tuh?”

“Nah, yang gede tuh paling malas kalau disuruh pakai celana panjang. Kalau yang kecil malah susah disuruh pakai celana pendek. Makanya yang besar itu paling senang kalau musim panas. Tahu enggak pas summer dua tahun lalu, itu tuh pas cuacanya lagi…”

Ya Rabbi, cuaca maning, cuaca maniiiiiiing. Hahahaha.

Kalau di Jakarta tuh ya, lagi nunggu antrian dokter misalnya lagi hamil saja saja, baru setengah jam, minimal saya sudah tahu ibu-ibu sebelah saya umurnya berapa, hamil anak ke berapa, rumahnya di mana, dan kenapa dia memilih dokter anu sebagai dokter kandungan #benerinCocot.

Weits, menanyakan umur itu juga ada seninya, enggak ujug-ujug, “Situ umurnya berapa, sih?” Ada tips dan triknyaaaaaa #eaaaa.

Ya kalau sesama emak-emak Asia kayaknya seru-seru saja, ya. Makanya, lebih enak mengobrol dengan teman-teman dari India hihihi. Apalagi mereka ini rada-rada narsis, puji-puji dikit negaranya, bisa lancar deh semua pertanyaan kita terjawab dengan komplit #tukangJilatAmat hahaha.

Budaya basa basi orang Asia
Gambar : pixabay.com

Mirip-mirip juga dengan orang Bangladesh atau Pakistan. Mungkin “the same feeling” karena sama-sama pendatang selain kesamaan wilayah.

Sebenarnya soal basa basi ini bisa jadi bumerang juga. Apalagi yang lincah dalam urusan chitty-chitty chat begini ya so pasti perempuan dong ya. Tapi ya gitu, yang lebih  baper juga kaum perempuan. Ya gimana dong hahaha.

Sadar tidak sih sebenarnya seringnya kita bertanya itu bukan karena kepo-kepo amat. Kadang hanya sekadar ingin berbasa basi. Tidak lebih :). Terus pertanyaannya ya kadang terlontar begitu saja, refleks ;).

Seperti misalnya ketemu teman yang habis menikah kira-kira beberapa bulan yang lalu, ketemu lagi ya refleks nanyain, “Eh, sudah hamil belum?”

Sumpah demi Tuhan, serius, itu tuh refleks *tutupMuka*. Apalagi kalau orangnya kebetulan bodinya agak berubah atau agak gemukan ya sok tahunya suka lebih refleks lagi hihihi. Sungkem ya teman-teman.

Saya pernah mendapat pelajaran penting soalnya terkait soal ini.

Waktu masih bekerja papasan di lift dengan teman dari divisi lain yang kebetulan baru saja menikah. Enggak dekat-dekat amat sih. Tapi ya gitu, gatal kali mulut ini mau ngobrol hahaha. Jadilah terlontar pertanyaan terkutuk itu, “Eh gimana, sudah hamil belum?”

Dia sih rasanya biasa saja jawabnya, “Belum nih.”

Gambar : best-pregnancy-advice.com
Gambar : best-pregnancy-advice.com

Tapiiiiiiii, beberapa hari kemudian saya mendapat feedback kurang menyenangkan. Dese curcol ke teman-teman satu divisinya yang kebetulan saya kurang kenal. Tapi dari sini curcol-an nya akhirnya nyampe ke saya juga. Horor juga kesimpulannya, “Idih, pakai jilbab tapi enggak bisa nahan mulut.”

Jadi kaget sih. Dari situ belajar buat enggak asal bacot hahaha.

Nah, ketemu lagi dengan teman lama. Dari kantor lama tepatnya. Kira-kira kami sudah tidak bertemu sekitar 2-3 tahun. Dia ini menikah sudah agak lama tapi belum hamil-hamil. Kami dulu lumayan dekat dan akrab lho semasa masih ngantor bareng :D. Anggap saja namanya Jennifer –> mumpung lagi naik daun kasusnya :p.

Ketemu lagi, eh dia lagi agak gemuk badannya. Walau gatelnya naudzubillah (hahaha), saya pantang bertanya apakah dia sudah hamil apa belum. Ya pasti sedih, ya, buat dianya kalau ternyata belum hamil. Soalnya dia dan suaminya memang pengin banget punya anak dari dulu tapi belum berhasil berdasarkan info terakhir yang saya terima.

Jadilah kita mengobrol soal yang lain-lain.

Tet toooottt, minggu depannya, saya disemprot teman lain yang juga dari kantor lama yang kenal dengan kami berdua, “Lo tuh yeeeeee, kata Jennifer tempo hari kalian ketemu dan makan siang bareng di mal anu. Ngobrol sampai sejam lebih tega-teganya elo gak ngasih dia selamat.”

“Selamat apaan?” Ya tentu dong saya bingung.

“Ish, ish, ish, Jen tuh lagi hamil tauuuuukkk. Lo kan tau dia itu udah lama pengin hamil! Gimana sih? Sensitif dikit napa jadi teman. Dia ampe kesel tuh!”

Hastagaaaaaaa, ini piye toooohhhh hahaha.

Budaya Basa Basi orang Asia
Gambar : pixabay.com

Mbok ya kenapa enggak cerita dari awal aja sih? Malah jadi saya yang disuruh ngasih selamat duluan -_-. Ya begitulah, keribetan di dunia mamah-mamah hihihi.

Tapi saya suka sebal dengan orang-orang Indonesia yang sudah merantau dan mengkritik hobi kepo ini deh -_-. Nyinyiran mereka daripada orang-orang sana-nya :p.

Maksud saya ini kan bagian dari kebudayaan Timur vs Barat yang memang akar perbedaannya cukup tajam. Dalam porsi berlebihan ya memang kurang patut. Tapi hobi nanya ini itu kan tidak melulu berarti negatif ya ^_^.

Perbedaan kan memperkaya. Anggap saja jadi semacam pengetahuan tambahan. Bukan selalu disorot “iniiiii yang benar” atau “ituuuu yang norak, salah, pokoknya ancur dah!”

Merantau kan biar kenal-kenalan bukannya malah membuat seluruh dunia harus ngikut cara hidup standar begini-begitu.

Pada intinya ya orang-orang Asia kehidupan sosialnya lebih bersifat kolektif. Macam slogan, “Asyiknya tuh rame-rame.” Hehehe. And I’m very proud as an Asian regarding this <3.

Ya tentu saja saya sadar diri dan menyeimbangkan mulut lokomotif ini biar bisa balance dengan situasi dan kondisi yang ada hihihi. Toh saya, walau bosan luar biasa, tetap berusaha berbasa basi sesuai standar sini. Saya tabah kok ngomongin cuaca mau sampai sejam jugak huhuhu :p.

Rupa-rupa wajah Asia
Rupa-rupa wajah Asia

Menyesuaikan diri tidak berarti menjadi kacang yang lupa pada kulitnya dong ya :). Hadeeehh, masa hanya gara-gara sudah bertahun-tahun tinggal di negara yang menurut kalian super-duper-keren-pokoknya-mau-sampai-mati-tinggal-di sana kalian mendadak hanya bisa melihat yang negatif-negatif saja dari negeri asal :).

Ngefans sama negara tinggal sekarang tidak berarti harus sok-sok galau dengan negara asal sendiri kan ya ^_^.

Mari menyerap berbagai budaya murni sebagai pengalaman dan pengetahuan. Tentu ada pembelajaran di mana-mana tapi tidak semata-mata jadi perbandingan 2 sisi plek-plek : bagus vs jelek.

Iya enggak, sih? Apa enggak, ya? Yawdah. Kangen nulis ringan-ringan (tapi panjang) aja sih hahaha. Efek karena susah kepo sama orang sini mungkin? Sepertinya -_-.

 

Blessing in Disguise

Plus minus gak bisa nyetir mobil, ya.

Minusnya, tergantung ke suami buat belanja yang jauh-jauh. Plusnya, jadi olahraga tiap hari hihihi.

Sekolah para buyuang kete’ ini bisa ditempuh dengan 2 rute. Shortest path nya ada, cuma berjarak 600 m dari apartemen. Tapi rutenya melewati rumah-rumah jalanan sepi yang anjingnya suka berkeliaran di jalanan. Eike kan takut bener ketemu anjing. Ya ngeliat lalat banyak aja saya takut kok hahahaha.

Rute kedua, ngelewatin jalanan besar dan masuk mal ‪#‎eaaaaaa‬. Tapi ini harus muter. Pernah iseng pakai endomondo, jaraknya sekitar 1 km.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Nah lumayan kan, tiap hari sekolah jalan kaki minimal 2 km bolak balik. Itu kalau satu doang yang dijemput. Kalau dua-duanya harus dijemput karena suami ada meeting segala macam bisa 4 km bolak balik jalan kaki.

Berangkatnya bareng bapaknya. Tapi kalau bapaknya dinas luar atau ada urusan ya emaknya juga yang nganterin plus jemput. Nah bisa berapa kilo tuh sehari hahahahaha.

Belum lagi kalau pulang nganterin ke sekolah melipir sampai ke area Golden Island. Bisa berkilo-kilo paha dan betis beraksi dalam sehari doang :D. Capek sih. But, it’s easier to maintain healthy weight (y). Blessing in disguise :p.

Tapi tetap dipaksa bisa nyetir sih. Soalnya kalau di Jakarta, kata suami, repot kalau enggak bisa nyetir mobil. Ribet juga ya, anak angkot disuruh belajar nyetir.

Dulu belum punya anak jadi santai-santai saja ngangkot ke banyak tempat. Naik KRL Ekonomi juga tahan banting.

Tapi setelah punya anak memang jadi lebih gimanaaa gitu ya. Naik angkot saja repotnya kalau supir angkot rese’ nurunin di tengah jalan kita lagi gendong anak -_-.

Pernah dulu kejadian. Soalnya rumah saya dekat dari Pejaten Mal. Jadi nanggung mau naik taksi. Taksinya juga suka enggak mau, karena dekat banget.

Jalan kaki ya tidak ada trotoarnya.

Jadi memang kudu ngangkot pilihan lainnya. Letak mal yang hampir di perempatan lampu merah suka untung-untungan berhentinya. Kalau lagi hijau, kita dipaksa turun buru-buru karena diklakson dari belakang.

Paling enak kalau ya pas lampu merah :D. Soalnya pasti pada berhenti juga. Jadi bisa dipinggirin dan turun dengan tenang.

Mungkin dulu di Jeddah juga susah maintain berat badan karena kurang gerak hihihi. Yaiyalah, mau ke warung jarak 100 m dari apartemen juga pakai mobil kok.

Di Jeddah, bensin murah, parkir gratis, jalanan mulus. Cuaca di sana juga cukup menyulitkan untuk jalan kaki ke mana-mana, sih. Jadi ya ke mana-mana ngadem dalam mobil melulu pakai AC.

Seiring berat badan yang susah turun, banyak terkungkung dalam rumah, tapi karena biaya hidup serba murah, angka di tabungan juga susah turunnya ;). Another blessing in disguise ^_^.

honor uang rupiah

 

Ada juga pengalaman yang lebih berat dan sedih yang sadarnya itu belakangan banget. Misalnya pas almarhum bapak saya meninggal waktu umur saya 12 tahun.

Ternyata kata Mama saya, bapak tuh orangnya strict banget dengan anak-anak perempuannya. Agak-agak konservatif dan menganggap perempuan tidak perlu lah sekolah tinggi-tinggi. Kalau pun sekolah sampai lanjut, jangan sampai sekolah di luar kota atau tinggal pisah dengan orang tua kecuali setelah menikah.

Menurut Mama kalau bapak masih ada ya jangan harap saya boleh kuliah di Jakarta. Waduh!

Tapi ya tetap saja sedih. Walau bingung juga harus membayangkan kalau waktu berjalan mundur apakah lebih menginginkan takdirnya sama atau lebih ingin Bapak ada lebih lama. Ribet ya mikirinnya hehehe.

Pada intinya, kita memang harus  banyak-banyak bekerja keras melihat sisi baik dari banyak hal. Mungkin sih pesannya tidak langsung bisa kita terjemahkan. Butuh berhari-hari bahkan tahunan baru bisa ketahuan… “Ooooo, ini toh hikmahnya.”

Teringat pesan bagus yang saya tempelkan dekat meja kerja di tempat bekerja pertama dulu. Saya baca-baca kalau lagi kecewa karena interview di tempat lain tidak berjalan mulus.

“Bila kau tidak mendapatkan apa yang kau inginkan, mungkin saja itu keberuntunganmu” <3.

Biar lebih sahih ditutup dengan quote hasil googling yang ini :

“Sometimes life takes you in a direction you never saw yourself going … but it turns out to be the best road you have ever taken.” -a saying-

Besok sudah senin lagi. Jangan bete dooooong hihihi. Diberi kesempatan untuk hidup lebih lama sampai besok pun itu selalu menjadi berkah tersendiri tiap harinya ;).

Don’t we love monday? <3

 

When We Just Can’t Have It All :)

Bagian dari Wisata Swiss yang agak sayang dilewatkan :Rosengarten, salah satu tempat yang menempati daratan tertinggi di Kota Bern, Swiss.

rosengarten rimbun

Yang membuat pemandangan alam Swiss yang mempesona itu karena sebagian kotanya memiliki daratan yang tidak rata. Jalanannya bisa turun naik gitu hehehe.

Yang paling kontras adalah kontur daratan di Kota Lausanne.

Tapi di Bern pun juga tidak rata-rata amat. Makanya, ada banyak titik di mana kita bisa leyeh-leyeh dan memandangi kota Bern dari ketinggian. Di Rosengarten ini misalnya :D.

Rosengarten = Rose Garden = Taman Bunga (Mawar) :D.

Taman bunga ini menjadi tempat bagi lebih dari 200 spesies bunga mawar. Saat ke sana, sebagian besar bunga-bunga belum mekar. Maklumlah masih akhir Maret waktu itu. Musim seminya  masih malu-malu.

Di sana juga ada restoran yang cukup besar yang menyediakan tempat makan outdoor dan indoor. Menunya ada yang makanan ringan seperti sandwich, kue-kue manis, roti-rotian lainnya, teh serta kopi. Ada juga makanan yang lebih berat seperti pasta-pastaan dll.

Rosengarten bisa ditempuh dengan tram no.10 dari Bahnhof-Bern. Turun di halte dengan nama yang sama, “Rosengarten”. Dari Bahnhof, waktu tempuhnya sekitar 20-25 menit. Terhitung agak jauh nih untuk kota seukuran Bern. Tapi tramnya nyaman banget kok ;). Swiss gitu lho ^_^ *jempolGedeGede*.

Di salah satu sisi area Rosengarten, ada tembok menjalar yang menjaga agar kita tidak terperosok di lembah bukit yang bawahnya tuh jalan raya gede. Tidak terlalu curam sih lembahnya.

Di situlah, saat matahari musim semi mulai rutin menampakkan diri, banyak orang duduk-duduk sambil lihat-lihat kota dari atas. Eike dong salah satunya hihihihi.

rosen sama abil

Nah, foto di atas itu (yang ada saya dan si bocah nomor 1 :p),  pemandangan Bern yang kita lihat dari tembok di Rosengarten tadi saat pepohonan belum ada yang berdaun ^_^.

Waktu itu, awal musim semi baru tiba. Sebagian besar pohon belum keluar daunnya. Jadi kita bisa memandang jelas bangunan-bangunan tinggi di bawah dan aliran sungai Aare yang warnanya hijau bening itu ^_^.

Surga bener deh rasanya <3. Pengin aja gitu rasanya duduk-duduk terus sampai lamaaaaaaaa di situ.

TerCandy-candy banget saat tiba-tiba kepikiran kalimatnya Terry ke Candy di seri 7 yang fenomenal itu, “Lebih baik waktu berhenti di saat seperti ini.”

Lebay kaleeeeee hahaha. Niatnya mau wisata Swiss kok ya malah dramaaaa -_-.

wisata swiss kota bern rosengarten
Dari atas Rosengarten, Bern, Swiss

 

Enggak lama abis ke Rosengarten ini, kami sekeluarga balik ke Irlandia lagi. Anak-anak udah kelamaan bolosnya hahaha. Hampir 2 bulan boooo ngintilin suami di Swiss :p. Tapi suami cuma 3-4 hari terus balik lagi ke Bern untuk menyelesaikan assignment yang totalnya memang 3 bulan.

Terus dikirimin foto ini, dari spot yang sama di Rosengarten. Wah, pohon-pohonnya sudah gondrong semua hihihi. Pemandangan di bawah sudah banyak yang ketutup dengan dedaunan dari segabruk-gabruk pohon di sudut-sudut jalan dan pinggiran lembah.

rosen rimbun 3

Tapi jadinya seger lihatnya. Kalau pas awal musim semi, cantik tapi kesannya gersang karena yang terlihat hanya batang dan dahan pohon coklat-coklat tanpa daun sama sekali.

Tapi kalau pepohonan rimbun, pemandangannnya jadi enggak maksimal. Penginnya dapat semuanya yak, ya yang seger-seger plus pemandangan cantik :p. Ya gimana … sudah dari sananya begitu.

Dalam hidup ini pun *mulai dah ceramahnya hihihi*, kita juga tidak selalu bisa berkesempatan memilih yang baik-baik saja. Misalnya nih, uang pas-pasan, lapar plus masih harus menyimpan uang untuk pulang naik angkot. Maunya sih tetap makan enak dan tidak jalan kaki pas pulang hahaha.

Apa daya, uang hanya cukup untuk beli nasi + kuah sayur nangka + kerupuk + perkedel di warteg, sisanya cukup untuk naik kendaraan umum. Padahal makan soto ayam enak juga, tuh, huhuhu.

Atau mari kita pikirkan drama yang lebih esktrim lagi hihihi.

Perhaps, about this girl. Tentang salah satu persimpangan di jalan hidupnya.

Ceritanya, dese ingin melanjutkan sekolah ke luar negeri dan sudah dapat beasiswa. Terus dapat tawaran pekerjaan juga di sana. Heaven! Sudah dari kecil dia bercita-cita “melihat dunia”.

Eh, si pacar ngajak nikah. Tapi pacarnya enggak mau kalau dia ke luar negeri. Maunya nikah saja terus sekolah atau kerja tetap di Indonesia.

Orang tua si perempuan ya kepenginnya sekolah dulu saja enggak usah kerja. Paling kan setahun dua tahun baru pulang dan menikah. Tapi itu pun yang laki-laki enggan menunggu.

Jadi semacam ultimatum, pilih aku atau luar negeri! Yuk yaaaaa, kurang drama apa iniiiiiii hahaha.

Then, she has to choose.

Pastilah pilihan yang berat, ya. He was such a perfect person for her. Tapi ya si Eneng juga udah kadung punya cita-cita mau “melihat dunia” bahkan sejak sebelum bertemu si pria idaman tadi.

Si Eneng tentu penginnya ya dia tetap sekolah terus mungkin bekerja sebentar lalu pulang lagi dan melanjutkan mimpinya yang lain :). Atau, si Akang yang ikut ke luar negeri. Sekolah juga kek atau cari pekerjaan juga.

Pokoknya gimana biar tercapai semuanya.

Jadilah dia tetap berangkat ke luar negeri dan merelakan hubungannya kandas. Ya putusnya pun drama. Lalu, si perempuan berharap at least yang laki-laki memaafkan dan hubungan tetap berlanjut walau bukan lagi sebagai kekasih atau calon istri.

Si perempuan akhirnya bersekolah di luar negeri dan mendapatkan pekerjaan di sana. She finally gets what she wants. Well, some of them.

Iya sih, akhirnya yang laki-laki mengirim permintaan maaf. Anggaplah via email, ya. Happy ending? Entar dulu. Di dalam email itu ada lampiran dalam bentuk attachment.  Berupa undangan pernikahan. Nyesssss, sakitnya di mana, sakitnya di mana … huhuhu.

Ranting-ranting kering di sekitar Rosengarten membuat  mata kita leluasa menikmati pemandangan kota dari sebuah tembok tinggi. Walau cuaca masih terbilang dingin dan berangin. Namun, begitu musim semi mencapai puncaknya dan pepohonan lagi rimbun-rimbunnya, suhu pun sedang cerah-cerahnya, justru pemandangan dari atas tertutup oleh banyaknya dedaunan yang muncul.

Sometimes along this thing called life, we can’t have it all.  We just … can’t :). Tapi kalo rajin menabung mudah-mudahan kesampaian ya cita-cita kita ngerasain yang namanya wisata swiss ke berbagai tempat cantik di negara Eropa ini ;).

Have a nice weekend, Readers! <3

rosen rimbun 2

Beda Link Nofollow dan Dofollow

Heboh rame-rame membahas beda link nofollow dan dofollow. Baru online langsung rame gempuran status dari para mamak blogger terkait link dofollow dan nofollow. Banyak yang salah kaprah nih soal bedanya hehehe ;).

Banyak yang menganggap kalau link nofollow berarti link mati dan linknya tidak bisa diklik. Sementara dofollow sebaliknya.

Wrong! 😀

Dua-duanya termasuk “link hidup” kalau dikaitkan dengan linknya bisa diklik atau tidak hehehe.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Langsung saja ya. Ini contohnya, sori rada teknis tapi nanti penjelasannya harusnya mudah dimengerti :

Contoh kode link dofollow –> <a href=’http//jihandavincka.com/mamakece-nan-imut’> Jihan Imut</a>

Contoh kode link nofollow –> <a href=’http//jihandavincka.com/mamakece-nan-imut’ rel = ‘nofollow’> Jihan Imut</a>

Nyata kan bedanya? Itu kalau kita lihat langsung di source codenya ;). Tapi di tampilannya sih tidak akan ada beda. Gunanya memang bukan buat pembaca atau yang punya blog. Tapi buat penilaian oleh Google ^_^.

Backlink yang sifatnya nofollow itu bisa dibilang nilainya NOL dalam beberapa hal :p. Kasarnya, bukan link berkualitas. Google tidak akan memberi nilai apa-apa. Sementara yang dofollow itu spesial, ada “nilai khusus”. Pengaruh banget untuk SEO ;).

Tapi link-link nofollow ya tetap berpengaruh untuk traffic dong pastinya ;). Kan linknya tetap bisa diklik.

Mengapa kini Google sensi dengan job review oleh para blogger? Ya logika sederhana saja. Sekarang, banyak produk yang membayar para blogger untuk review produk mereka dengan meminta segabruk-gabruk backlink hehehe.

Metodenya random. Dalam artian bukan pemakai produk pun “disuruh” bikin testimoni bagus-bagus tentang produk mereka. Itu kan jadi promosi “kurang sehat” lama kelamaan. Malah ada yang enggak pakai produknya tapi disuruh posting artikel testimoni. Yang nulis juga orang lain. Ini model yang placement article itu lho ;).

Jadi seolah pemakai produknya jadi banyak dan semua merekomendasikan yang bagus-bagus. Padahal kan… ya belum tentu  juga hehehe.

Kok blogger mau? Ya kan dibayar Kakaaaaaaa ‪#‎kepretinDuit‬

By default, link-link di blog pada umumnya DOFOLLOW ;). Otomatis. Makanya, sekarang ada imbauan, tambahkan opsi “nofollow” pada backlink yang sifatnya job review. Kalau  opsi tidak ditulis, otomatis dianggap dofollow.

Nah, ujung-ujungnya bisa terjadi “kapitalisasi SEO” dong, ya. Karena backlink-backlink tersebut sifatnya tidak natural lagi. Tapi ada karena ada duit :p. Lama-lama page rank segala macam jadi  bisa didongkrak dengan bantuan duit. Ya di dunia nyata juga praktik seperti ini sudah baku, sih. Tumben Google sensi :p.

Saya juga tidak paham bagaimana algoritma Google akan menghandle backlink yang sifatnya “berbayar” atau “keikhlasan semata” hihihi. Saya pribadi belum pernah deal dengan job review mana pun. Yang datang kebanyakan produk susu dan obat-obatan huhuhu -_-. Apa tampang eike ini nampak bagai tukang obat? *olesBedak*.

Atau minta placement article. Ogah banget dah. Soalnya artikelnya jayus-jayus begitu. Merusak personal branding jihandavincka dot com aja *benerinPoni*.

Gambar : pixabay
Gambar : pixabay

Yang lucu ada yang nawarin buzzer politik hahahaha. Berani bayar lebih besar daripada Jokowi-Ahok katanya. Di Twitter nih ada yang mention. Entah becanda tapi kayaknya tidak setelah saya kepoin akunnya. Ini sudah lama sih.

Ya begitulah. Di zaman segalanya apa-apa serba uang, disangka semuanya bisa dibeli dengan uang wink emoticon. Perbaiki saja kinerja kalian dalam mengabdi kepada rakyat, tidak usah dibayar, saya rela kok menulis gratis beribu-ribu kata untuk menunjukkan dukungan saya. Catat, GRATIS ^_^

Biarlah Allah yang membayar *benerinMukena* plus Google Adsense pastinya hahaha :p.

Jadi paham ya sekarang beda link nofollow dan dofollow ^_^. For info buat para blogger, itulah mengapa kalian harus bikin fanpage di Facebook. Mengapa? Karena link di akun biasa itu sifatnya NOFOLLOW. Sementara di fanpage itu DOFOLLOW ;).

Maka dari itu, like The Davincka Code dong Kakaaaaaa hahaha :p.

foto traveling

People We Haven’t Met Yet (2)

Tak suka dengan non muslim. Tak suka wajah etnis ‘Toraja’. Tak suka dengan perempuan berkerudung. Tak nyaman dengan si mata sipit. Jadi, maunya apaaaa? hahahaha. Itulah gambaran saya ketika memasuki gerbang SMA :D.

Gambar : www.indonesia.travel
Gambar : www.indonesia.travel

***

“Menurut saya, memakai jilbab kurang bagus dalam kehidupan sehari-hari apalagi di depan umum. Apa gunanya? Biar kelihatan beda? Salah itu. Kita kan negara Pancasila.”

Siapa yang mengucapkan kalimat itu dengan lantang di depan kelas saat sesi diskusi di penataran P4 di sebuah SMU Negeri? Yang membuat seisi kelas terbungkam adalah seorang sis
wi SMU yang rambutnya dikuncir dua, dan sebelum berangkat ke sekolah marah-marah ke ibunya karena merasa roknya kepanjangan :D. Sok seksi sekali sih Mbak? :p.

Siswi SMA yang ikut-ikutan temannya melipat pinggang rok biar roknya pas selutut itu adalah… saya! *tutupMuka*. Kalimatnya kurang lebih seperti itu. Tidak ingat tepatnya seperti apa.

Biarpun bertahun-tahun bersekolah di sekolah Islam, saya tak biasa bergaul dengan perempuan berkerudung. Dulu, ada teman SD yang berkerudung, sih. Adiknya juga. Tapi saat bermain, kalau kegerahan kerudungnya dicopot, tuh. Hehehehe. Hanya dia seorang.

Waktu SMP apalagi. Mungkin ada. Tapi luput dari perhatian. Karena jumlahnya sangat minim.

Saya kurang suka dengan anak perempuan berkerudung yang jalannya lambat dan suka tunduk-tunduk. Belum lagi, maaf, karena cuaca panas, kalau bersebelahan dengan perempuan berjilbab, baunya itu, lho :(. Biarpun tidak selalu. Tidak bermaksud menggeneralisir, ya. Mayoritas yang saya temui dulu begitu.

Ucapan saya mungkin menyinggung teman-teman yang berkerudung. Menjelang SMU, biarpun belum seramai sekarang, siswi berkerudung ada saja di tiap kelas.

Selepas penataran, ternyata ada rotasi ulang. Saya pindah ke kelas 1-5 dan berkenalan dengan teman berkerudung yang tidak lamban, malah mudah akrab dengan siapa pun. Anaknya ramah dan suka berbicara dengan siapa saja. Penampilannya rapi, bersih, dan…tidak apek! Hehehehe.

Gambar : www.tempo.co
Gambar : www.tempo.co

Biarpun malas bertanya pada orang, yang menurut saya kala itu = fanatik gak jelas, saya iseng saja bertanya padanya di suatu hari, “kenapa pakai jilbab?”

Tanggapannya biasa-biasa saja, “oh, nanti besok dibawain bukunya, ya. Panjang disitu penjelasannya. Gak hapal.” Dia menjawab dengan santai.

Dan memang, besoknya buku bersampul kuning yang saya lupa judulnya apa berpindah tangan ke saya. Hanya butuh beberapa jam untuk menuntaskan isinya dan sumpah saya baru tahu… kalau pakai jilbab itu (katanya) wajib. Ayat-ayat yang ditunjukkan tidak aneh-aneh. Meskipun memang deskripsinya ekstrim sekali kalau diingat-ingat sekarang.

Yang jelas, saat itu tanpa pikir panjang, malamnya saya bilang ke Mama, “Mama, saya mau pakai jilbab?”

Mama melongo. Tapi cuma berujar pendek, “kapan?”

“Ya, kalau bisa besok.”

Hahaha. Segitunya :p. Terus saya menyerahkan buku sampul kuning itu ke Mama. Entah dibaca atau tidak.

Lalu, Mama mulai bercerita ke kerabat. Kala itu, memang belum umum perempuan seusia kami berkerudung. Sebagian besar keluarga menentang. “Masuk aliran sesat anakmu, tuh. Makanya belajar saja yang benar. Macam-macam saja yang dibaca.”

Waktu itu pasrah saja. Biarlah kalau memang belum waktunya.

Tapi, hanya beberapa malam setelah saya utarakan niat itu, Mama menyerahkan sebuah bungkusan pada saya, “itu rok panjang ada 2. Lengan panjang juga 2. Jilbab putih ada 2. Coba pakai, pas tidak?”

Masya Allah.Malam itu, bantal saya basah karena saya menangis hampir sepanjang malam. Hehehe.

Tahun 1995, dimana banyak teman menghadapi banyak ‘drama’ untuk memakai penutup kepala, jalan saya begitu mudah :). TUhan menganugerahi seorang Ibu istimewa. Bahkan, beliau pun belum mengenakan kerudung saat itu :).

Gambar : www.vemale.com
Gambar : www.vemale.com

***

Hanya beberapa bulan setelah duduk di bangku SMA, saya mulai berkerudung. Punya sahabat orang Toraja. Pelan-pelan saya menyadari, kalau sudah berteman, kita akan lebih fokus ke persamaan. Sama-sama membaca majalah remaja. Cekikikan lihat cowok cakep. Bahkan jajan bakso di kantin yang sama, duduk berjejalan di kursi kayu terbatas yang ramai dirubung anak sekolah.

Saya tak tahu dalam hati mereka terucap apa tentang saya. Tapi yang penting, mereka santun dalam keseharian, jadi itulah yang prinsip yang terpatok dalam kepala. Memangnya saya peramal, bisa baca isi hati tiap orang :D.

Kelas 2 SMA, kelas saya ada beberapa orang dari etnis Tionghoa. Awalnya pasti canggung. Entah ya, mungkin karena pikiran sudah ‘kotor’ duluan, saya was-was dekat mereka.

Dua orang anak perempuan bermata sipit duduk sebangku. Yang satunya pendiam. Yang satunya lagi jago basket, tinggi semampai, dan amat seru diajak ngobrol ^_^. Terheran-heran juga saya, hanya beberapa hari sekelas, saat jam istirahat, saya suka berdiri berdua dengannya di teras kelas, ngobrol ngalor ngidul hingga lonceng berbunyi.

Chinese girls, Zhuang Singing Festival Contest (gambar : guilinliriver.com)
Chinese girls, Zhuang Singing Festival Contest (gambar : guilinliriver.com)

Yang paling berkesan adalah anak laki-laki berinisial S. Anak baru di kelas. Dia sering bercerita tentang komputer. Maklum ya, kota kelahiran saya, biarpun termasuk salah satu kota metropolitan di belahan Indonesia Timur, belum terlalu familiar dengan barang canggih satu ini hehehe.

Nekad lah saya main ke rumahnya di suatu hari libur. Penasaran saya dengan seluk beluk komputer yang dia ceritakan. Di rumahnya, agak takut-takut juga pas mau masuk. Mereka tinggal di ruko. Lantai bawah dijadikan toko. Tapi keluarganya biasa-biasa saja, tuh.

Di lantai atas, saya dengan khusyuk mendengar penjelasannya tentang barang hebat satu itu, sembari dia mencontohkan hal-hal yang ‘luar biasa’ di mata saya kala itu, yang bisa dilakukan dengan benda ini 😀 Katroooo… ahahahahaha.

Disitulah pertama kali, tekad kuat yang sudah belasan tahun mengikat cita-cita saya menjadi seorang dokter, terkikis perlahan. Si S ini yang berceramah panjang lebar tentang di era tahun 2000, komputer akan menjadi barang utama dan akan berkembang makin pesat. Dia pula yang bercerita penuh semangat, “ini ada jurusannya lho kalau mau kuliah.”

Wah, ada, ya? hihihihihi.

Siapa sangka, dia yang bermata sipit itu, orang-orang yang dulu selalu menghadirkan rasa was-was dalam hati, malah menjadi orang yang membawa saya membuat salah satu keputusan terbaik dalam hidup saya : menuliskan Fakultas Ilmu Komputer sebagai pilihan pertama saat UMPTN di tahun 1998.

Biarpun saat lulus UMPTN, guru-guru banyak yang mencibir, dan teman-teman banyak yang bertanya-tanya, “kok masuk komputer? kenapa gak kursus saja?” Hahaha. Mohon dimaafkan, tahun segitu, jurusan informatika di daerah kami masih dipandang sebelah mata ;).

Alasan lain saya tak memilih cita-cita kecil menjadi dokter itu karena tak ingin terlalu lama menjadi beban keluarga. Situasi saya kurang tepat untuk ‘memburu’ impian yang itu. Dan pas sekali memilih jurusan informatika :D.

Computer Science girls (gambar : theguardian.com)
Computer Science girls (gambar : theguardian.com)

Sebelum 4 tahun, di bulan April 2002, saya sudah diterima bekerja dengan gaji lumayan. Dan tentu saja… meneruskan tongkat estafet sebagai salah satu tulang punggung keluarga ^_^.

Tahun-tahun kelulusan itu adalah masa-masa emas bagi para pekerja IT seperti kami.

Baca : People We Haven’t Met Yet (3)

***