Sekolah Tunas Indonesia Bintaro : Kurikulum Cambridge dengan Harga Bersahabat Hehehe

Ternyata tidak sedikit sekolah yang menerapkan kurikulum Cambridge. Tapi ada yang sudah tersertifikasi, ada yang enggak/belum. Nah, Sekolah Tunas Indonesia di Bintaro ini termasuk yang BELUM tersertifikasi. Karena itu harganya lebih murah kayaknya ya hihihi.

Yang bikin sekolah dengan kurikulum Cambridge itu mahal ya karena sertifikasinya. Kurikulum International Baccalaureate juga idem, begitu tersertifikasi harga langsung melambung.

Harap diingat, umumnya sekolah yang pakai kurikulum internasional (baik IB maupun Cambridge) enggak bener-bener 100% menerapkan. Dalam artian tetap ada pelajaran muatan lokal. Misalnya Bahasa Indonesia, PKN, dan Agama. Mata pelajaran muatan lokal pun tetap menggunakan Bahasa Indonesia.

Baca Juga : “Review Sekolah Mutiara Harapan Islamic School : Sekolah Kurikulum Cambridge Tersertifikasi”

Mentari Intercultural Bintaro juga kayak gini kok. Jadi ada beberapa mata pelajaran lokalnya yang menggunakan bahasa pengantar Bahasa Indonesia.

Sekolah Tunas Indonesia menggabungkan kurikulum nasional dan kurikulm Cambridge. Untuk primary / level SD misalnya ada mata pelajaran seperti Math, Science, Social Studies, Music, English, pakai kurikulum Cambridge. Sisanya ikut pelajaran lokal seperti Olahraga, Agama, PKN, dan Bahasa Indonesia.

Sekolah Tunas Indonesia alamat lengkapnya : Jalan Jombang Raya no.18 Parigi Pondok Aren, Tangerang Selatan, Banten.

Salah satu ciri khas utama sekolah ini adalah menyediakan kelas untuk anak-anak berkebutuhan khusus. TAPI sekolah juga menyediakan kelas reguler, kok.

Kelas regular dan kelas inklusi TERPISAH. Bahkan gedung kelasnya pun berbeda. Untuk kelas inklusi, gedungnya di belakang kalau gak salah.

Bangunan sekolah kalau dari luar kelihatan kecil tapi kalau udah masuk ke dalam, mayan gedeeeee :D. Bangunan juga lumayan rapi dan bersih.

Sekolah Tunas Indonesia terdiri dari jenjang TK sampai SMA. Saya lupa kalau TKnya. Tapi SD sampai SMA pakai kurikulum Cambridge semua. Tapi ya itu tadi, belum tersertifikasi.

Kalau belum tersertifikasi, salah satu konsekuensinya sekolah tidak berhak mengadakan ujian Cambridge-Checkpoint. Solusinya mudah saja sih, ikut saja Cambridge Checkpoint di tempat lain hehehe. CUma harus bayar lagi. Kalau di Mentari dll itu kan ujian ya tinggal ujian, gak perlu bayar tambahan lagi.

Uang pangkal unutk level SD sekitar 25 juta rupiah. Kalau early bird, bisa dapat potongan sampai 7.5 juta rupiah.

Terus ada SPP bulanan 2,2 juta rupiah. Uang buku sekitar 1,4 juta rupiah. Uang seragam sekitar 1 jutaan. Enggak murah-murah amat, sih. Cuma dibandingkan Mentari Bintaro ya lumayan banget selisihnya hihihi.

Guru-gurunya hampir 100% guru lokal, guru dari Indonesia. Kalau di Mentari dll kan kebanyakan pakai guru dari Filipina. Kalau guru lokal nih walau bahasa pengantar bahasa Inggris, pasti ngajarnya campur bahasa INdonesia juga hehehe.

Kalau guru Filipina pasti 99% bahasa Inggris soalnya mereka kan gak bisa Bahasa Indonesia.

Bolehlah menjadi alternatif buat yang pengin tetap berbahasa Inggris buat anak-anak tapi harganya bersahabat. Saya memilih Sekolah Tunas Indonesia buat anak bungsu saya lebih karena pandemi ini memaksa untuk sekolah online ye kan. Rugi banget rasanya bayar mahal-mahal di Mentari kalau tetep eike yang repot handle anak2 di rumah huhuhu.

Anak bungsu saya juga takutnya gak kuat kalau di Mentari kayak kakak-kakaknya. Dan paling penting pengin bayarnya lebih murah dan tetap mayoritas pelajarannya dalam bahasa Inggris biar gak ribet ngejarnya hehehe.

So far secara online, Sekolah TUnas Indonesia belum terlalu siap nih :(. Beda banget dengan Mentari. Tapi ya harapannya jangan lama-lama dah sekolah online ini. Segeralah sekolah tatap muka ya Allah, aamiin *khusyuk*.

Sekolahnya sih lumayan banget secara fasilitas, walau tentu tidak sementereng Mentari. Yaiya, bayarnya pun jauh lebih murah hehehe.

Semoga informasinya membantu ya buat para pejuang nyari sekolahan di area Bintaro dan sekitar :D.

[Netflix] Review Serial Sex Life : Alternatif “Baru” dalam Kehidupan Pernikahan?

Ini sebenernya viralnya dah lama, yes? Hehehehe. Telat review gegara 2 mingguan sibuk menyesuaikan diri (lagi) dengan ritme sekolah online.

Yoih Gaeeesss, nampaknya belum kunjung dikabulkan doa biar segera sekolah offline huhuhu.

Sebelum nonton, baca-baca judul dan nebak-nebak cerita tanpa baca sinopsis/review, saya pikir ini film standar saja soal life-changes after marriage. Bukan tema baru.

Sudah banyak film yang bahas topik-topik “you can have it all” bla bla bla yadda yadda yadda. Setelah menikah, yang imbasnya lebih gede biasanya kan memang perempuan, yes? Faktor tekanan sosial utamanya.

Ternyata film ini fokusnya bukan soal itu.

Baca Juga : “Serial Netflix : Virgin River yang Tenang Tenang Menghanyutkan”

Saya awalnya malah gagal fokus. Terpesona dengan pemeran utamanya, Sarah Shahi. Waduh, body goals abis. Setelah setahun rasanya jumawa sukses mempertahankan komposisi badan di angka 49-52 kg, begitu lihat Sarah Shahi kepercayaan diri hancur berkeping-keping #bantingdumbbell.

Sempet pause pilemnya demi untuk googling siapa dese, niat ya, Sis! :p. Wow, perempuan berdarah Persia. Mana tanggal lahirnya selisih beberapa hari dengan saya. Anak juga 3, Gaeesss.

Baca Juga : “Serial Netflix : LUPIN”

Sungguh selama nonton bawaannya pengin pilates sambil angkat beban! Hahahaha.

Di masa-masa revolusi Iran, tidak sedikit warga Iran yang “kabur” ke US. Tapi marilah kita fokus ke serial yang sempat bikin gempar inih :p.

Serial ini adalah tentang Billie (Sarah Shahi) yang telah menikah dengan laki-laki yang bisa dibilang “almost perfect” dengan 2 orang anak. Mereka tinggal di rumah gedongan di wilayah ‘suburb’.

Di banyak kota-kota besar di negara maju, city center biasanya didominasi apartemen dan perkantoran. Biasanya lebih pas untuk para single atau pasangan yang belum punya anak. Kalau sudah punya anak, umumnya melipir pindah ke suburb, demi untuk punya rumah yang pakek halaman hehehe.

Billie digambarkan mulai gelisah dan “kangen” dengan masa-masa singlenya di kota besar. Sekarang, kalau mau hang out dengan sahabatnya, Billie kudu naek kereta dulu menuju kota. Macam udah tinggal di Depok atau Bogor terus mau pecicilan ke mal Jaksel gitu kira-kira yak :D.

HIngga akhirnya angan terbang jauh ke belakang, nyangkut di kisah-kisah dengan so-called mantan terindah.

Jadilah serialnya ini banyak flashback ke masa-masa lalu Billie termasuk mantan-mantannya dese yang lain. Apanya yang dibahas? Ya silakan dibaca lagi judul serialnya #uhuk.

Apa Billie gagal move on? Apa terus Billie harus memilih antara kehidupan pernikahan yang indah bagai negeri dongeng walo garing vs balik ke masa-masa “freedoooooommm”?

Baca Juga : “Serial Netflix CLICKBAIT, wajib nonton!”

Nope. Ceritanya agak berbelok. Ternyata serial ini menawarkan isu baru yang tentunya akan membuat kalangan konservatif kejang-kejang :p. Monggo ditonton sendiri, yes? 😀

Memang Netflix tergolong “berani” dengan segambreng original seriesnya. Siapa yang ngikutin “Sex Education”? :D. Well, I did :p. Season 3 udah keluar blom, ya?

Banyak yang membandingkan “Sex Life” dengan “50 Shades of Grey”. Sayang saya enggak pernah nonton film ini jadi enggak bisa komentarin hehehe.

Saya kok ingetnya dengan “Sex and The City” (saya penggemar serial ini, saya ulang-ulang dan film-filmnya juga saya nonton beberapa kali hehehe). Karena fokusnya tentang perempuan.

But somehow, SaTC lebih “membumi” dengan warna warni karakter “khas perempuan” ala Carrie-Miranda-Charlotte. Kalau Samantha kan memang menolak monogami dengan tegas hehehe :p.

Sementara tokoh Billie di “Sex Life” apa deh, enggak terlalu jelas fokus hidupnya, konflik dalam dirinya mau fokus soal apa dst dst. Entah kalau memang filmnya mau pamer hal-hal “lain” sih hahahaha :p.

A little chat with my friends … “Are we going to be the next Billie kalok sekolah onlen gak kelar-kelar?” My oh my 😆🤣🤣🤣. Kalok sekadar mengkhayal aja boleh laaahhh #eaaaaa :p.

7 out of 10.

Tetep layak tonton, kok :). Walo enggak terlalu semangat nungguin Season 2 nya hehehe.

Review Shawshank Redemption : Something Inside They Can’t Get To


Habis baca buku GRIT beberapa bulan lalu saya masih meraba-raba sebenernya definisi GRIT itu kek apa tepatnya kalau dimasukkan ke karakter orang.

Kenapa terjemahan GRIT adalah KETABAHAN bukan KETEKUNAN. Karena ternyata memang GRIT itu bukan keuletan semata. Jauh lebih kompleks daripada itu.

Setelah menonton The Shawshank Redemption, Andy Dufresne adalah salah satu contoh terbaik terkait definisi GRIT tadi.

Sampai sekarang, film ini masih menempati rating tertinggi di situs IMDB. Sering banget masuk list semacam “10 Movies You Must Watch” bla bla bla gitu.

Dunno what took me so long to finally watch this masterpiece yesterday. Mungkin karena saya pikir filmnya bakal “dark banget” bakal bikin depresif dst dst.

Ternyata … memang sebagus itu ya Allah sampai gak tahan harus banget bikin review walo mungkin diketawain, “Ke mane aje lu film lawas baru nonton” hahahahaha.

The Shawshank Redemption rilis tahun 1994. Iya, iyaaaaaa, ampun gue telat nonton si film super kece berat ini huhuhu.

Tahun 1994 ini memang “tahun neraka”. That’s why Shawshank Redemption gak kebagian OScar. Harus bersaing dengan masterpiece lain seperti Forrest Gump dan Pulp Fiction misalnya.

Jangan nonton trailernya yak, banyak spoiler hahahaha. Saya sendiri kemarin begitu nemu di Netflix langsung go show, gak baca review, gak nonton trailer. Biar ngalir aja. Sumpah penasaran kenapa film ini dipuja puja setinggi langit.

Film dibuka dengan persidangan tuduhan pembunuhan terhadap seorang perempuan dan pacarnya oleh seorang bankir muda, Andy Dufresne. Dufresne diputuskan bersalah dan menjalani hukuman seumur hidup.

Saya kira Dufresne ini semacam psikopat. Sekilas ditampakkan begitu.
Dufresne pun menjalani hukuman di Penjara Shawshank dan bertemu temen baru yang bakal jadi sahabat dekat Red. One of the best performance dari Morgan Freeman.

Ni orang suaranya memang kudu banget dapat Oscar khusus saking magicalnya ya hahahahaha. Freeman yang berperan sebagai Red juga menjadi narator dalam film ini.

Film mengalir lincah sampai akhirnya kita tidak peduli lagi apa yang sebenarnya terjadi pada Dufresne hingga harus masuk penjara. Tau-tau muncul tokoh Tommy.

Sebelum itu juga ada Brooks, yang akhirnya mendapatkan parole di usia yang sudah sangat renta dan malah galau mau ke luar dari penjara.

Skenarionya sangat “tenang” gak ada lebay-lebaynya jadi rasanya gak ada airmata yang bisa keluar sepanjang cerita tentang Brooks, Tommy, dll.

Gak nangis tapi sesak di dada aja gitu. The story was that deep.

Karakter Dufresne adalah tentang INTEGRITAS, KECERDASAN, dan si GRIT itu tadi. Namun, bukan berarti kehidupan dalam penjara mulus aja.

As Red said, “I wish I could tell you that Andy fought the good fight, and the Sisters let him be. I wish I could tell you that, but prison is no fairy-tale world.”

Menariknya, tragedi dan kebrutalan di dalam penjara tidak membuat kita jadi kicep males nonton. Tetep napsu nyimak sampai selesai.

Endingnya cakeeeep. Sempat pengin julid kok bisa (hahahahaha), tapi karakter Dufresne memang digambarkan sevalid itu. Jadi gak ada celah buat nyinyir sih so far hahahahaha.

Andy Dufresne pada akhirnya menjadi bukti hidup ucapannya sendiri : “Good things never die.” Bener-bener booster keren di masa-masa pandemi nan suram ini <3.

Moral story paling penting dari film ini, setidaknya buat saya … was when Dufresne told his friends :

“There are places in this world that aren’t made out of stone. That there’s something inside…that they can’t get to, that they can’t touch. That’s yours.”

Film ini salah satu karya yang dihujani pujian sana sini, mungkin akan menjadi salah satu film terbaik sepanjang masa. Dari segi kualitas dan ketenaran. Very well deserved.

Kali ada yang kayak gue, telat nonton (hahahaha) dan berminat mau nonton, filmnya ada di Netflix kok.

10 out of 10. Selamat menonton :D.

PRIMARK, Waralaba Murah Meriah, Ramayana-nya Eropa? Hehehe

Primark ini berdiri dengan nama “Penneys” sebenernya. Asalnya dari KOta Dublin, Republik Irlandia. Jadi bukan dari UK yaaaaa, tersinggung nih mantan mukimin Ireland hahaha :p.

Penneys berdiri pertama kali tahun 1969. Saat akan melebarkan sayap ke UK di tahun 1973, Penneys kepentok dengan hak cipta nama “Penney” yang sudah dipegang oleh waralaba asal Amerika Serikat, “J.C Penney”.

Karena itulah di luar Ireland, namanya menjadi PRIMARK. Kalau di Irlandia tetap pakai nama dagang Penneys.

Jadi dulu tuh sempet wakwaw waktu temen nitip barang barang Primark, saya bilang gak ada toko Primark di Ireland. Temen saya ngotot masa gak ada, di hampir semua Eropa pasti ada, kok.

Ternyata PENNEYS itu ya PRIMARK 😅😅😝.

Primark melegenda karena harga produknya yang murah-murah. Tapi sebenernya sesuai kualitas juga lah ya. Cuma saja misalnya baju anak, motifnya itu sumpah lucu-lucu banget dan sangat kekinian.

Kalo dari segi kualitas bukan yang ‘wah’ banget. Tapi sebenernya ada juga barang kualitas bagus di Primark/Penneys, harganya ya mahal jugak hihihii.

Cuusss versi vlognya dah ada Gaeeesss :

Paling bener tuh ke Primark pas lagi diskon. Ya Allah itu baju-baju kaos anak dari 1-2 euro bisa terjun bebas jadi 50 sen! Iyah, 50 sen! Gila gak tuh hahahahaha.

Baju-baju anak bayi pernah dipangkas sampai 25 sen, cuuuss lihat di video. Bahannya lumayan banget untuk ukuran 25 sen. Karena harga aslinya sekitar 2-3 euro.

DI masanya, saya pernah terima jastipan Penneys juga kalo pas mau mudik ke Jakarta. SOalnya di Asia kan masih jarang ni Primark. ALasan temen saya biar baju-baju anaknya gak ada yang nyamain hahahahaha. Moms ruled mah pokoknya :p.

Misteri murahnya harga barang di Primark/Penneys pernah bikin heboh gegara konon ditemukan selembar kertas di salah satu busana yang dijual di gerai tersebut. Tulisannya, “Help”.

Jadilah merebak rumor kalau waralaba ini memeras pekerja-pekerjanya di Cina dengan gaji sangat murah makanya bisa jualan yang murmer-murmer. Padahal mah waralaba lain yang buka pabrik di Cina ya sama aja kan #eh hehehehe.

Secara hitungan bisnis ada penjelasannya sih. Warabala besar ini “bermain” dengan VOLUME. Mereka berani pasang marjin kecil karena belinya bulky. Saya tau soal ini gara-gara dulu kerja di consumer goods dan di area Distribusi.

Kira-kira prinsipnya mirip gak, ya. Karena saya tahu perusahaan menjual barang jauh lebih murah kepada distributor yang berani mengambil dalam jumlah raksasa. Ya kan sama aja. Harga murah tapi lakunya banyak. Bisa memangkas durasi barang ketahan di gudang sebagai stok.

Adapun soal pekerja di Cina yang dibayar murah ya memang konon katanya Cina ngejar jadi negara industri dengan cara begini. Menawarkan harga murah agar para investor berbondong-bondong buka pabrik di Cina.

Cina punya surplus penduduk. Jadi klop lah. Sisanya monggo disimak penjelasan dari rekan-rekan SJW. Apalah aku yang pernah nyari uang jajan dari bisnis-bisnis jastip dari waralaba murah meriah ini hahahahaha.

Kerjaan gue tuh, ngumpulin barang pas lagi diskon. Bisa ampe 2 koper sendiri hahahaha. Nanti jelang mudik, langsung foto-fotoin kirim ke calon-calon customer :p.

Belinya ya pas lagi iseng pulang sekolah nganter anak, mampir, beli satu kantong. Besoknya beli lagi satu kantong. Emang gilak sih kalo lagi diskon. Liat di video, headset Mickey Mouse dijual 1 euro. Jangan tanya gue jual berapa pas di Indonesia hahahaha, cuan, cuan, cuan :p.

Ada satu pembahasan terkait industri di Cina yang saya baca di sebuah novel. Tahu novel Love Story dong, ternyata ada lanjutannya. Di lanjutannya itu ada sedikit dibahas soal orang Eropa yang mengalihkan proses produksi ke Cina.

Katanya sih gini, versi novel ya, bisa jadi fiksi saja.

Cina penduduk sangat banyak, pemerintah kewalahan. Jadilah penduduk inisiatip sendiri cari kerja. Jadi misalnya ada satu orang yang bekerja jadi tukang jahit dengan gaji X per jam. Nah, si tukang jahit ini punya paman yang juga harus menghidupi keluarganya tapi jobless.

Si tukang tadi bilang ke bosnya, “Ayo dong rekrut pamanku juga.”

Kata bos, “Piye dong, gak ada lagi duitnya. Costnya mentok.”

Tukang jahit, “Ya udah gajinya ambil dari gajiku aja. Jadi bagi dua.”

Bos, “Loh gimana. Nanti kalian rugi dong.”

Tukang Jahit, “Gak papa yang penting pamanku kerja juga.”

Jadi gaji X dibagi 2. Masalahnya, karena ada 2 orang proses produksi cuan dong, ya. Nah, dari sini awalnya makanya bisa gampang dapat tenaga murah.

Curangnya perusahaan, harusnya setelah itu mereka kan sanggup meningkatkan produksi ya naikin dong gajinya. Idealnya gitu ya kalau memang kisah ini benar.

Tapi begitulah dunia yang fana ini. Pokoknya gimana biar cuan, cuan, cuan. Sementara ada orang-orang yang enggak punya pilihan lain. Hanya sanggup berlari di lintasan yang itu-itu saja no matter what they did.

Solusinya ya subsidi pemerintah. Dan katanya di Cina pemerintah memang memberikan subsidi seperti ini. Entah besarannya berapa. Biar investor tetep cuan dan karyawan tetep bisa hidup layak.

Tapi tentu beda cerita kalo investor mikirin cuan (ya namanya pengusaha sih ya hahahaha, masa mau rugi hadeeehhh), karyawan kerja rodi tapi pemerintahnya … sibuk korupsi!

Masi ga paham juga kenapa kita harus mati-matian melawan korupsi?

Karena sebenernya pemerintah itu punya kuasa yang besar sekali menjembatani hal-hal seperti ini. KALAU dan hanya KALAU mereka memang mengabdi untuk masyarakat. Bukan malah ikutan ngejar cuan, hadeeeehhhh 🧐🧐😓.

Nulis gak fokus hahahaha, maap :p.

“TURUN MESIN”???

Wah, gue jadi merasa berdosa karena sering menggunakan istilah Turun Mesin ini juga 🙈🙈🙈. Buat ke diri sendiri tapi yaaaaa 😬🙏.

Setelah melahirkan anak pertama, abis cuti 3 bulan, saya ngantor lagi. Terus gabung dengan geng mamak ASI di kantor.

Image by Free-Photos from Pixabay

Sekali itu ngobrol soal perubahan bentuk tubuh saat menyusui. Dan ternyata saya baru tahu soal kondisi payudara itu dipengaruhi oleh PROSES KEHAMILAN. Bukan karena menyusui.

Penasaran, yes? Terus nanya-nanya ke obgyn. Eh, ternyata bener 😅.
Kirain tuh kendor dan perubahan fisik lainnya lebih karena menyusui. Ternyata karena hamil. Perubahan fisik juga terjadi si beberapa bagian.
Obgynnya becanda, “Ya kalo mau bodynya gak berubah jangan hamil aja, Buk.”

Hehehe.

Dan memang makin sering hamil ya makin besar pengaruhnya. Bisakah dikoreksi? Pakai operasi katanya sih bisa.

Gaya hidup dan pola makan tentu ada efeknya tapi yah enggak seefektif operasi dll. Saya sendiri termasuk cardio-freak dan sekarang rajin angkat beban, pola makan ya dijaga sebisanya walo lebih sering loss hahahaha.

Pokoknya memang ekstra kerja keras. Yah gimana, udah jadi hobi dan kebiasaan hehe 🙏.

Yang udah 3x “turun mesin”, Gaeeesss hahhahaha. Not bad lah :p.

Berat badan bisa banget balik ke jaman gadis. Tapi memang ada kondisi-kondisi yang gak bisa balik lagi. And it’s okay 😘💕🙏.

Baca Juga : “In Her Shoes”

Jadi udah paham aja kalo ada yang tetep bisa ‘bertahan’ ya ada faktor bantuan medis ternyata hehehe. Bisa dikoreksi pakai operasi atau “perawatan” lainnya. Completely OK, your life your value your choice 👍.

Saya nanya itu ke dokter karena penasaran banyak juga yang tidak mau menyusui karena takut kendor hehehe. Padahal mau menyusui atau tidak, proses hamilnya sendiri memang sudah menyumbang banyak perubahan fisik.

Mual dan muntah saat hamil muda
Gambar : pixabay.com

Buat saya sih itu privilege, kok. Lakik mana bisa hamil 😎😎😎.
Cuma memang enggak pas lah kalau orang lain yang ngomong. Apalagi suami celetuk soal istilah turun mesin kepada istri sendiri, di depan umum pulak 🙄🤔.

Analoginya kalok sesama African-American menyapa dengan kata “Nigger” ya oke-oke aja. Tapi cobak yang ngomong “Nigger” adalah ras lain, bisa panjang ceritanya 😅😁.

Gara-gara kasus ini saya juga jadi gak enak sering pakai istilah turun mesin walo ke diri sendiri 😩🤭. Apa deh ya istilah penggantinya yang lebih “enak” 😜😅.

Misalnya kalo ditanya umur segala macam, saya suka becanda jawab, “Pokoknya dah pre lansia. Tiga kali turun mesin.” 😂😂😂.

Baca Juga : “3 Kehamilan di 3 Negara”

Gak lagi-lagi dah. Saya kira ‘turun mesin’ itu artinya kalau mesin kendaraan bermotor udah mengalami perubahan jadi gak “baru” lagi. Ternyata konotasinya negatif yak 😅. Duh, dodol gue mah 😂😂😂.

Yang penting tetep semangat jaga kesehatan. Olahraga bikin hepi stamina tetep kuat buat nanjak segala macam, yes? If you know what I mean 😜😂🙏.

Baca Juga : “Artikel jihandavincka.com dengan kategori : Olahraga di Rumah”

Jaga makan biar sehat-sehat terus, aamiin.

Keep it coming, Girls.

Soal si oknum ituh ya udahlah, hempaskan! Jangan bahas dese lagi, dah deket-deket 2024 neh. Everyone is trying to get the moment. As we’ve been too familiar, “Bad news is a good news”.

Baca Juga : “The Social Dilemma : How Social Media Really Works”