iqbal aji daryono

Review Buku “OUT OF THE LUNCH BOX” : It’s All About The Third Option

“Iqbal itu cebong apa bukan, sih?” Hahahaha.

Seriiiiiing banget dapat pertanyaan seperti itu dari teman-teman sesama cebbie di jagad maya yang lagi ribut-ributnya jelang 2019 ini.

Anyway, DOES IT MATTER????

Yak, beginilah kondisi sebagian kita yang entah kapan mulainya sering terjebak dengan kubu-kubuan politik. Kalau bukan cebong ya dianggap “kubu sebelah” .

Iqbal Aji Daryono, salah seorang penulis aktif versi media sosial, terutama di Facebook. Memahami Iqbal ini memang agak sukar kalau hanya membaca satu dua tulisannya saja.

“Out of The Lunch Box” ini merupakan buku terbarunya. Berisi kumpulan tulisan-tulisan Iqbal di berbagai media online yang topiknya relatif NON-ALAY dengan topik-topik lumayan serius seputar sosial, politik, dan agama.

Iqbal Aji Daryono

Dulu pernah nerbitin buku “Out of The Truck Box” jugak.

Semuanya sudah pernah dia share di wallnya kok. Tapi ternyata buanyak bangeeeet. Saya saja yang rasanya jarang ketinggalan ikut bertempur di status-statusnya (hahaha) merasa belum pernah membaca sebagian tulisannya.

Jangan takut duluan. Topik serius nan bikin pening kepala apa juga kalau Iqbal yang nulis bisa jadi ringan dan mudah dipahami. Kalimat-kalimatnya sederhana dan tidak ribet. One thing about him yang bikin saya kesal itu karena Iqbal orangnya pinter tapi enggak sok pinter. Kesal karena IRI hahahaha.

Seringnya kan kita-kita yang kalangan medioker ini, pinter enggak tapi udah kek paling tahu sedunia *tutupMuka*.

Tetap saja, saya butuh lebih dari seminggu untuk membaca buku ini. BUKAN karena isinya kurang menarik.

Agak-agak gimana gitu ya membaca tulisan-tulisan Iqbal dalam cetakan buku. Selain karena mungkin kita sudah terbiasa membaca langsung di wall FB-nya Iqbal, ternyata jangan-jangan kita lebih menikmati komen-komennya hahaha.

Kalau di medsos, bisa lebih interaktif, komunikasi dari berbagai arah, karena siapa saja dan kapan saja bisa berantem … eh berkomentar . Bisa tuker-tukeran argumen. Bisa langsung mengamuk saat itu juga kalau tidak setuju hahahaha.

Iqbal aji daryono penulis
Foto : shiramedia.com

 

Nah, kalau baca buku jadinya gini. Baca satu esai, gemes sendiri tapi bingung mau ngomel ke siapa. Jadi kadang butuh waktu buat misuh-misuh sendiri sebelum lanjut ke esai berikutnya.

Selain itu juga, walau bahasanya santai, kesannya tetap dalam jadi ada waktu buat menghela napas juga padahal kayak diajak becanda aja sama yang nulis .

Nah, terkait dari kubu-kubuan yang saya sebut di awal tadi, mungkin itu yang pengin diluruskan oleh Iqbal. Semacam menawarkan “pilihan ketiga” –> inti dari opini-opininya dalam OOTLB.

Pilihan ketiga ini mungkin semacam perspektif yang beda dari 2 hal yang sudah terlanjur nancep dalam pikiran kita. TIDAK CUMA SOAL CEBONG-CEBONGAN lho ya. Spektrumnya lebih luas ini yang dibahas dalam buku.

Tulisan “Buya Syafii dalam Kepungan Masyarakat Hitam Putih” menjadi tulisan pembuka yang mayan tektok untuk menyindir kalian-kalian yang dikit-dikit “Pasti lo pendukung anu!” atau “Dasar lu hater” dst dst dst. Termasuk gue pastinya hahahaha.

Pilihan ketiga, bisa juga berarti perspektif yang lebih lengkap jadi tidak melulu harus “pro banget-banget” atau “anti abis-abisan”. Iqbal sering berusaha untuk “Gini lhoooo duduk persoalan sebenarnya, yuk kita lihat detailnya sama-sama yuuuuk …”

Tulisan “Membaca Langkah Marketing Anies Baswedan” menjelaskan secara runut dan logis tentang APA yang sebenarnya terjadi. Sesuatu yang ternyata biasa-biasa saja kok ya dalam langkah-langkah politik standar .

Ah ya, gaya bahasa dalam buku tidak dibikin baku, tetap dalam bahasa Fesbuk yang santai penuh haha-hihi. EYD-nya juga entah ke mana ha-ha-ha –> contoh penulisan “hahaha” yang benar .

Opini-opininya oke punya walau menurut saya, beberapa agak terburu-buru ya kesimpulannya. Ada beberapa hal yang masih bisa didiskusikan di tulisan “Lah, Kalian Mau Rekonsiliasi, Apa Mau Perang Lagi?”. Gemes, gemes, gemes, pengin protes! Tapi ini kan mau review yak bukan mau ngajak berantem hahahaha.

Apalagi tulisan-tulisan semacam “Program Darmawisata untuk Aktivis Antirokok” ituuuuu ck ck ck -_-.

Tenang sih, tidak semuanya setegang itu kok isinya. “Empat Percakapan Tentang Topi Sinterklas” itu bikin ngikik polllll . “Cerita Pelipur Lara Untuk Para Haters Malaysia” juga semacam esai ringan yang lumayan rileks .

Total ada 40 esai dalam buku ini.

Iqbal ini terbukti cukup open minded, kok . Tengok aja di wallnya itu tempat berkumpulnya pro rokok dan anti rokok. Ada cebbie level kronis, ada pendukung fanatik toko sebelah. Ada yang jilbab gede ada yang jilbab tapi skinny jeans (hihihi) semuanya bisa diajak becanda sama Iqbal .

iqbal aji daryono

Jangan takut bakal membaca opini aneh-aneh. Dirasa aneh-aneh pun ya terus kenapa? Tenang saja, membaca sesuatu yang berbeda dengan keyakinan kita tidak ujug-ujug bikin kita jadi kurang beriman atau semacamnya lah hehehe. It won’t make you less confident as well .

“There is nothing wrong with listening. You can listen to people; you can hear people’s concerns. You can keep an open mind and still be perfectly strong.” Bill de Blasio

Bukunya diterbitkan oleh penerbit Shiramedia. bisa didapatkan dari toko buku Togamas terdekat atau beli online, misalnya saya belinya kemarin dari toko buku online yang ini –> Erin Cipta, Buku, dan Madu.

Jadi, sebenarnya … Iqbal itu cebong apa bukan, nih? Hahahaha, go ask him yourself  … –> Iqbal Aji Daryono

Selamat membaca .

Ketika Lawang Sewu Tak Lagi Identik dengan Hantu

Semarang adalah kota dengan sejuta pesona. Bukan hanya demi kuliner Lumpia, banyak traveler yang datang ke sana untuk merasakan bulu kuduk berdiri saat menjelajahi gedung yang ternyata milik PT KAI Indonesia, yaitu Lawang Sewu. Siapa yang tidak kenal dengan Lawang Sewu?

Gambar : heritage.kai.id

 

Sebuah ‘landmark’ yang menjadikan Semarang dikenal pecinta jalan-jalan Indonesia, atau bahkan dunia. Gedung bersejarah milik PT KAI Indonesia ini sejak awal memang dibangun untuk dunia perkeretaapian. Dulunya, gedung ini adalah kantor pusat perusahaan kereta api Belanda, Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) dan mulai digunakan sejak tahun 1918. Nggak heran kalau sentuhan-sentuhan arsitektur khas Belanda begitu terasa di Lawang Sewu.

Sesuai dengan namanya, gedung ini diberi julukan Lawang Sewu karena memiliki banyak pintu. Sempat tak terawat, Lawang Sewu dianggap angker. Bahkan beberapa tahun silam, gedung ini sering muncul di televisi sebagai tempat adu nyali sehingga makin menancapkan image bahwa Lawang Sewu itu nggak ramah terhadap wisatawan. Tapi kenyataannya, justru makin banyak traveler yang mampir ke sini. Baik yang sekadar ingin menikmati keindahannya, atau benar-benar ingin ikutan adu nyali juga.

Sepertinya PT KAI Indonesia semakin sadar dengan potensi pariwisata yang dimiliki oleh Lawang Sewu. Perawatan pun dilakukan untuk melunturkan kesan angker yang selama ini melekat pada gedung tersebut, diubah menjadi tempat wisata yang asyik untuk dikunjungi.

Beberapa daya tarik wisata yang dimiliki oleh Lawang Sewu adalah sebagai berikut:

Museum Kereta Api

Gambar : heritage.kai.id

 

Jangan cuma cari hantu di Lawang Sewu. Tambah juga pengetahuan kamu dengan mengunjungi museum yang memamerkan berbagai koleksi tentang dunia kereta api Indonesia. Mulai dari mesin Edmonson, mesin ketik, mesin penghitung, replika lokomotif uap, berbagai surat berharga, buku-buku tentang kereta api, dan masih banyak lagi lainnya. Pelajari juga sejarahnya biar kamu makin mengenal PT KAI Indonesia.

Sudut-Sudut Fotogenik

foto:indjurnal.com

Buat pecinta selfie, jelajahi ruang-ruang di Lawang Sewu untuk menemukan sudut-sudut yang fotogenik. Jangan sampai teman-teman ketinggalan informasi terbarumu. Beritahu juga pada mereka tentang indahnya Lawang Sewu dengan foto-foto terbaikmu di media sosial. Nggak usah keburu pulang. Jalan santai saja sambil lemparkan pandangan di berbagai sudut Lawang Sewu. Bahkan Lawang Sewu juga sering disewa untuk pemotretan, lho.

Wisata Kuliner dan Musik Keroncong

foto:seputarsemarang.com

PT KAI Indonesia, sebagai pengelola, benar-benar total untuk menghapus image angker yang selama ini menggelayut pada Lawang Sewu. Salah satu caranya adalah dengan menyediakan lokasi wisata kuliner di halaman tengah Lawang Sewu. Sambil menikmati menu-menu makanan khas Semarang, kamu juga bakal dihibur dengan musik-musik keroncong yang akan membuat hati jadi adem.

Andien Pernah Mampir ke Sini

foto:sindonews.com

Salah satu usaha PT KAI Indonesia ‘membersihkan’ Lawang Sewu dari kesan angker adalah dengan dobrakan konser musik. Tanggal 14 Juli 2018 lalu, penyanyi Andien sempat mampir ke sini untuk memeriahkan Argo Muria Festival. Selain menyanyikan karya-karyanya di album Metamorfosa, Andien juga melantunkan dua lagu daerah, yaitu “Jangkrik Genggong” dan “Gambang Semarang.” Uniknya, acara digelar di malam hari.

Tidak usah takut-takut lagi menjelajahi Lawang Sewu karena gedung yang angker itu kini telah berubah menjadi primadona Kota Semarang. Bakal lebih komplit lagi kalau liburanmu pakai kereta api. Biar temanya nyambung dengan Lawang Sewu. Jangan lupa pakai aplikasi KAI Access biar mudah temukan info tiket dan jadwal PT KAI Indonesia menuju Semarang.

Lawang Sewu Semarang : Seribu Pintu Dari Masa Lalu

Helo from Lawang Sewu Semarang ^_^. Judulnya sok-sok pakai rima tapi napah berasa mau ngomongin mantan iniiiiiiiii ???.

Anyway, tahu kata Mandor? Ternyata kata Mandor berasal dari kata “Man Door”, bahasa Belanda. Itu artinya mirip dengan bahasa Inggris, “Laki-laki pintu” gitu ya? Hihihi.

Literally, Man Door adalah orang yang berjaga mengawasi karyawan yang tugasnya semacam sidak dari pintu ke pintu. Makanya, namanya Man Door.

Lawang Sewu Semarang

Kalau kalian ke Lawang Sewu, di lantai 2 gedung B, ada selasar panjang yang menghubungkan semua ruangan di atas. Disekat oleh pintu-pintu yang berjajar. Dari pintu-pintu itulah, para Man Door akan sibuk memantau setiap karyawan di setiap ruangan.

Menurut si Mas Andre, kata mandor sering disalahartikan sebagai “pengawas/majikan”. Makanya, kata MANDOR juga digunakan di perkebunan-perkebunan padahal di kebon mah mana ada pintuuuuu :D.

Siapa Mas Andre? Mas Andre itu adalah TOUR-GUIDE kami waktu mengunjungi Lawang Sewu di Semarang pas liburan ke Indonesia bulan kemarin .

Lawang SEwu Semarang

Kalau ke tempat-tempat seperti ini baiknya memang pakai TOUR GUIDE. Karena ternyata LAWANG SEWU ini punya banyak cerita lalu yang menarik dan bikin terharu. Serius.

Jadiiiiiiiii….Lawang Sewu itu BUKAN TEMPAT ANGKER atau tempat keramat bla bla bla.

Imej tempat angker sebenarnya salah satu taktik marketing jadul untuk menarik wisatawan lokal untuk mau berkunjung. Biasalah, orang Indonesia katanya agak-agak nganu kalau diajak ngomongin sejarah, tapi kalau disodorin cerita hantu bisa heboh sendiri .

Daripada kurang laku dan tidak bisa membiayai pemeliharaan gedung, terpaksalah di-setan-setan kan biar orang-orang pada mau dateng liat-liat. Liat hantu tapi hahaha. Haiyaaa, sedih amat :(.

Sesungguhnya, LAWANG SEWU yang aslinya terdiri dari 929 pintu (tapi biar gampang dibulatkan jadi seribu biar gak susah pas terjemahin ke bahasa Jawa?), dulunya merupakan KANTOR PUSAT dari perusahaan swasta KERETA API BELANDA di Hindia Belanda.

Bukan STASIUN KERETA. Tapi KANTOR PUSAT. Tempat di mana semua pengelolaan per-keretaapi-an SE-HINDIA BELANDA dilakukan.

Lawang Sewu Semarang

Kita mungkin akan terkecoh dengan istilah PINTU. Karena nampaknya PINTU dan JENDELA jadi mirip-mirip gini di LAWUNG SEWU. Dibuatnya banyak pintu dan jendela segede-gede gaban untuk lalu lintas udara ke dalam gedung karena dulu blom ada AC, yes?

Karena mayoritas karyawan formal di kantor tersebut adalah aseng asing (manaaaaa Pak Jokowi, manaaaaaa ????).

Jangankan orang bule yang gede di sono, kite aja yang abis dari Yurop kalok balik ke tanah air suka merasa sumuk-sumuk gimana gitu mendadak gegar cuaca padahal kadang cuma sebulan aja di yurop dah berasa lahir di sono hahahaha #ehGimana.

Bangunan Lawang Sewu sebenarnya dimiliki oleh PT Kereta Api Indonesia, BUKAN punya hantu-hantu gentayangan dkk hehehe.

Mas Andre terlebih dahulu membawa kami ke gedung A yang hampir semua bahan baku bangunannya adalah bahan-bahan premium kelas satu impor langsung dari Eropa. Tidak heran, bangunannya masih mulus dan tegak sampai sekarang. Catnya saja yang agak rontok.

Lawang Sewu Semarang

Lantai bawah gedung A dijadikan museum kereta api. Di sini kita bisa berkelana ke masa lalu industri kereta api di tanah air yang ternyata SUDAH KEREN PUNYA.

Saya sempat ngobrol emang dulu-dulu sama suami pas kami sudah tinggal di Eropa, betapa beruntungnya para penjajah ini yang membangun infrastruktur transportasi mereka dari uang hasil “merampok” dan keringat dari “yang dirampok” huhuhu.

Kenapa sih they don’t do the same gitu lho sama negara-negara yang mereka jajah biar fair aja gituh enggak yang berat sebelah which is not fair gimana-gimana –> anak Jaksel mana suaranya? Hahahahahhaha.

TERNYATAAAAA … even di Pulau Sulawesi, rel-rel kereta api JUGA SUDAH DIBANGUN di masa itu. Malahan ada 2 rel yang dikembangkan lho. Rel yang lebarnya 1.4 m vs rel yang cuma semeter-an. Yang lebih lebar itu sudah pakai STANDAR INTERNASIONAL yang digunakan sekarang.

Bayangkan, dulu betapa majunya VISI perusahaan BELANDA terhadap infrastruktur transportasi kereta di tanah air.

Selain Indonesia, di masa itu negara-negara Asia yang mampu menyamai infrastruktur kereta api di wilayah Indonesia hanya INDIA. Itu juga masih belum sebagus di Indonesia.

Saat diambil alih oleh Jepang mulai kocar-kacir. Kata Mas Andre sih, rel-rel kita akhirnya juga banyak dijarah oleh pemerintah Jepang dibawa ke sana.

Lawang Sewu Semarang

Kalau infonya salah, marahnya ke Mas Andre yak hahahaha #malesGoogling.

Mungkin di masa awal pemerintahan RI, visi-misi para pemimpin masih terhalang oleh kebutuhan dasar yang masih timpang. Jadilah terbengkalai rel-rel yang pondasinya sudah cucmey banget dari dulu. Malah pemerintah fokus ke perluasan rel dengan ukuran semeter-an yang jadul itu. Rel yang lebih lebar malah “dimatikan”.

Sekarang, standar internasional sudah menggunakan ukuran rel yang lebih lebar. Dulu di Indonesia mayoritas sudah menggunakan rel ukuran lebar lho. Tapi ya begitulah … sekarang harus restrukturisasi lagi.

Bahwa keterbatasan kadang membuat kita jadi lebih kreatif sangat terbukti dari cara-cara arsitektur zaman dahulu memikirikan kenyamanan dan keamanan bangunan. Ku bukan anak arsitek, tapi mudah-mudahan ini gak asbun ya hahahaha.

Jadi begini, ruang bawah tanah di gedung B itu BUKAN TEMPAT KUNTILANAK segala macam ??. Untuk mengantisipasi gempa dan apa pun tekanan yang bisa menggeser bangunan, dibuatlah ruang bawah tanah untuk menjaga agar gedung tetap tegar saat badai menyapa *tsaaaahhhh*.

Lawang Sewu Semarang

Ruang bawah tanah itu gosipnya dipakai untuk menyiksa tawanan segala macam. ITU RUMOR! TIdak pernah ada buktinya. Kini, ruangan itu sudah ditutup buat publik karena masalah keamanan semata.

Ada jendela-jendela terbuka yang memungkinkan ular dan binatang-binatang lain masuk ke dalam sehingga kurang aman buat pengunjung kalau selilweran ke bawah tanah.

Untuk mengatasi udara tropis dan membuat sirkulasi udara lebih nyaman, ada ruangan super lebar di atap gedung untuk mengatur pergantian udara. Nah, pas ke atas, akyu disuruh jaga si bontot di stroller jadi gak tahu itu mekanismenya gimana .

Lawang Sewu Semarang
Foto suami dan anak-anak di loteng tersebut

 

Pokoknya arsitektur gedung LAWANG SEWU ini sangat menarik untuk ukuran modern yang serba tergantung dengan energi buatan. Keren ya orang zaman dulu . Selain hemat energi dan biaya, juga lebih ramah lingkungan tips-tips memelihara kenyamanan tanpa harus menyakiti lingkungan sekitar ???.

Biayanya gede di awal sih karena nampak ribet kali pembangunannya butuh space yang super luas jugak. Jadi yah, begitulah hidup, you just can’t have it all ??.

Banyak tempat yang instagram-able dan super selfie-able di kawasan Lawang Sewu ini . Foto-foto gih ampe pegel .

Lawang Sewu Semarang

Lawang Sewu bukan satu-satunya tempat di Semarang yang wajib dikunjungi. Ada Museum Sam Po Kong, berbagai macam kuliner, dan jangan lupa hura-hura syantiek di Simpang Lima .

Pasti masih banyak yang lain cuma kemaren ngejar road trip sampai ke Yogya jadi sempatnya ke sini-sini aja .

Ingin bernostalgia dengan kejayaan kereta api Indonesia yang mudah-mudahan makin ke sini bisa “mari Bung rebut kembali” :D.

 

review buku berjalan jauh fauzan mukrim

Review Buku “Berjalan Jauh” (Penulis : Fauzan Mukrim)

Ini bukan buku traveling, yaaaaa .

“Berjalan Jauh” semacam kumpulan tulisan-tulisan pendek dari seorang Ayah buat anaknya. Sesekali beberapa gombalan buat sang istri (Kak Desan, apa kabaaar ).

Dibilang buku parenting juga kurang tepat, sih.

Some said, “It’s NOT about WHAT you write BUT HOW you write it.”

Indeed. Cucmey dengan tema-tema tulisan dalam buku “Berjalan Jauh”. Tema-temanya itu benar-benar sehari-hari banget-banget. Dibaca sambil lalu terus cengengesan tapi … jleb! Menancap di hati . Tulisannya lho ya, bukan yang lain-lain (Kak Desan, halo lagi ).

review buku berjalan jauh

Misalnya di tulisan, “Malaikat yang Patah Sayapnya”. Waduh, kirain mau bahas apaaaa gitu, eh ternyata …. hahahaha. Tapi qu nangis bacanya, but let’s not ignore the fact that akyu emang anaknya cengeng. Biar cengeng yang penting kece *apaLoApaLo*.

Jangan membayangkan pesan-pesan semacam “Oh Anakku semoga kau tumbuh menjadi anak yang saleh dst … juga tampan, kaya raya, kelak bisa menyulap kardus senilai …. ” Wooooiiiii, lagi ripiu buku, Kaaaaaaak, emblem cebbienya tarok dulu ??.

Yah pokoknya, bukan pesan-pesan yang es-te-de gitu-gituuuuuu . Pesan-pesan unik tapi sederhana mengalir pelan-pelan lewat tulisan-tulisan ringan.

Beberapa juga lumayan “serius” kontennya.

Kadang udah benerin posisi duduk karena siap-siap dirasa tema yang dibaca pas agak berat, eeeeehhh…langsung wakwaw lagi baca kalimat-kalimat semacam, “Aku pernah takut pada banyak hal. Takut pada musuhnya Megaloman. Takut pada Suzanna, Eva Arnaz, Lia Warokka, Ricci Ricardo.”

Saya kebayang emak-emak generasi milenial sibuk googling siapa-siapa saja mereka ????.

Beberapa kisah juga memberi sudut pandang lain tentang bapak kepada anak. Jangan terkecoh dengan judul “Dua Ayah yang Tidak Mengobrol Tentang Bola.”

Sudah siaga pengin ngikik karena judulnya terasa jenaka, isinya yang cuma 4 halaman boro-boro bikin ketawa malah jadi mewek. This one is super, Bang Ochank .

Many times, the writer can amazingly turn simple things around (most of) us INTO something worth reading? Benar-benar berkah luar biasa ya, Bang .

Padahal kalau ketemu langsung, orangnya seneng ngikik-ngikik jugak bukan tipe yang mikir mulu bawaannya walo pakek kacamata. Waktu kecil saya pengin pakai kacamata biar dikira pintar hahahaha.

Lihat saja kan di status-statusnya, lagi jalan pagi saja ngobrolin mau sarapan apa, tetap terselip yang jleb-jleb tadi.

Fortunately, kita bacanya bisa sambil ketawa-ketawa minimal senyum-senyum.

(Ini gambar dari situsnya Mbak Shanty, yang kemarin menang giveaway untuk buku ini) :

review buku berjalan jauh

“Menonton Artis Ibu Kota”, bacanya ngakak terus di awal, tengah-tengah terasa sejuk airmata sudah di pelupuk … ealah…ujungnya kek gitu hahaha. You’re so blessed, Ayah Ochank .

Jadi, gimana rasanya pipis sebelahan dengan Afghan? ???.

“Lebah Sudah Pergi” salah satu tulisan paling pendek tapi endingnya cukup menghujam.

Ada 50 judul dalam buku yang super random. Jangan kecele dengan judul lucu-lucu, itu sudah lihat contohnya yang saya tulis di atas, kan? Kejutan-kejutannya itu lho ck ck ck.

Boleh kenalan langsung sama penulisnya Fauzan Mukrim. Atau enggak usah buang-buang waktu soalnya bininya kece dan anaknya lucu-lucu #ehGimana (hahaha), langsung aja beli bukunya via River’s Corner atau hubungi manajer beliau Desanti Sarah.

Instagram River’s Corner ada di sini, ya. Monggo dicolek via IG kalau mau.

Sukses terus ya Bang Ochank dengan karya-karyanya. Terutama di masa-masa di mana newsfeed penuh dengan gejolak perang kek sekarang-sekarang ini hahaha.

Kuingin berikan 5 of 5 (stars) buat buku ini. Tapi takut Pakde Agus Amrullah ribut-ribut teriak “Chauvinisme Mengancam Kebhinnekaan” karena kedengkiannya melihat betapa kerennya orang-orang Bugis tidak kalah dengan orang Jawa, kukasih 4.83 saja ???

Bukunya sudah saya bawa “Berjalan Jauh” sampai ke tepian Sungai Shannon di kota tinggal saya di Irlandia . Sori fotonya gitu-gitu doang. Pak Fotografer sudah gantung kamera, malas diajak motret-motret serius lagi .

review buku berjalan jauh fauzan mukrim

Irlandia, terkenal dengan sungai-sungai yang mengalir jauh di sepanjang pulau dan curah hujan yang cukup tinggi di hampir sepanjang tahun … River dan Rain, Tante Jihan tunggu di sini yaaaaa ???.

Jangan capek menulis yang baik-baik Bang Ochank, yang nyolot-nyolot biar bagian orang Sidrap ajah hahaha …

“Ininnawa mitu denre sisappa, sipudoko, sirampe teppaja” ?.

“Hanya kebaikan yang akan saling mencari, saling menjaga, dalam kenangan yang tiada putus-putusnya.”

Ya sekali-sekali sih kalian juga kenalan sama pepatah-pepatah bugis, yes?

Btw, bukunya BAHASA INDONESIA kok hahaha.

tempat makan enak di jogja TOEAN WATIMAN

Road Trip Jakarta – Yogyakarta (Day 5) : Tempat Makan Enak di Jogja + Lanjut ke Purwokerto

Tempat makan enak di Jogya pastinya ada banyak. Tapi pas day 5 ini kami sempat makan di kafe yang enak banget. Tempatnya bersih dan nyaman, rasa makanannya cukup enak, harganya juga sedep hehehe.

 

Emang sih kalau dibandingkan dengan harga Jakarta, Semarang dan Yogyakarta benar-benar tempat impian.

Setelah day 4 yang mixed antara seru + bete karena drama debt collector, day 5 sudah mulai rada capek. Sudah saatnya balik ke Jakarta juga. Hari terakhir di Yogyakarta.

Sarapan jam 7 pagi. Sarapannya lengkap dan enaaaaaakkk. Saingan sama sarapan di Hotel Patra Semarang ^_^. Sukak deh kalau banyak menu tradisional. Apalagi kue-kue yang manis-manis. Anak-anak lagi doyan soto ayam. Maunya itu doang. Tapi nambah beberapa kali.

Setelah sarapan, mandi + rapiin koper + check out. Masih ragu mau ke mana. Antara Taman Pintar dan Kaliurang.

Demi anak-anak, mending ke Taman Pintar dulu. Rencananya enggak mau lama-lama jadi bisa ke Kaliurang dulu sebelum balik ke Jakarta.

Ternyataaaaa, hampir 2 jam kali di Taman Pintar.  Kirain menggambar kaos + belajar batik bentaran doang. Ternyata lumayan lama.

Setelah selesai pun, anak-anak mau naik perahu-perahuan. Ngantrinya yang lama. Akhirnya enggak keburu ke Kaliurang :(.

Dari Taman Pintar langsung menuru arah pulang ke Jakarta. Pengin lewat Pansela. Cari tempat makan ya sesuai arah pulang saja.

Ketemu deh sama Kafe Toean Watiman. Tempat + menu + harga okeh. Memang milih tempat ini karena reviewnya ada lebih dari 1000 dan dengan rating yang bagus.

Kalau ditanya tempat makan enak di Jogja salah satunya saya rekomendasikan Toean Watiman ini.

Menu-menunya ada yang di bawah 20 ribu rupiah, lho. Steak aja cuma sekitar 28 ribu rupiah kalau gak salah. Rasanya enak juga. Sayang makanan enggak ada yang kefoto. Memang bukan kebiasaan kami motret-motret makanan yang kayak di IG gitu-gitu hehehe.

Yang kepotret malah muka-muka hepi kekenyangan hihihihi.

tempat makan enak di jogja TOEAN WATIMAN

Setelah beres, langsung lanjut menuju Pansela. Ternyata jalurnya masih ada yang lagi ditutup huhuhu. Gagal, deh. Akhirnya balik ke Pantura dan sudah niat mau menginap di Purwokerto.

Tiba di Purwokerto pas banget jam makan malam. Makan dulu sebelum check in di hotel. Biar entar tinggal merem hehehe.

Pilih tempat makan yah pokoknya jangan yang aneh-aneh tapi gak mau terlalu mahal juga. Biasanya kami pilih berdasarkan banyak-banyakan review di Google :D. Ketemulah si Oemah Daun. Yang ternyata memang nyaman tapi enggak semurah yang kami bayangkan. Tapi untuk ukuran Jakarta, bolehlah dibilang murce –> lagunye yang anak Jakarte :p.

Pas ke sana enggak ramai. Memang kayaknya jam-nya masih nanggung. Paling cuma 2 meja yang terisi selain kami. Tempatnya memang gede karena dipakai buat booking resepsi dll juga sepertinya.

Ada live music segala. Ada tamu yang ikutan nyanyi terus suami nyuruh saya ikutan nyanyi. Gile apa, mau bikin rumah makannya bangkrut? Hahahaha :p.

Itu tulisan Oemah Daun nya cukup foto-able apalagi buat ala-ala foto keluarga :D.

Dari Oemah Daun menuju Hotel Santika Purwokerto. Tentu dapat harga spesial kalau check-innya sudah lewat jam 5 an biasanya hihihihi. Cuma bintang 3 tapi keren euy hotelnya (y).

Yawdaaaa, bobok duyuuuuu :D.

Selamat malam, Purwokerto <3.