Pengaruh media sosial

Pengaruh Media Sosial : Dulu vs Sekarang?

Another keluhan era terkini, pengaruh media sosial yang katanya sudah sedemikian merusak hidup kita. Kemarin gadget dianggap merusak masa depan anak. Sekarang medsos dirasa menghancurkan kedamaian para ibu-ibu ???.

Kerennya ibu-ibu zaman dulu, masak pakai tungku, enggak ada kulkas, enggak ada rice cooker, ngurus anak sampai 10, kok hepi-hepi aje.

Ho-oh.

DULU : Tidak sedikit ibu-ibu muda habis melahirkan tahu-tahu membunuh bayinya atau tahu-tahu terlihat seperti orang gila. Kata sekitar, “Ooooo dia kerasukan. Mungkin kurang ibadah.”

NOW : thanks to social media, daripada ibu-ibu Posyandu di-training butuh ongkos belum lagi butuh tenaga banyak dari Sabang sampai Merauke, cukup edukasi pakai artikel-artikel di situs-situs web yang bisa dishare sepuas hati via media sosial.

DULU : Ari Hanggara (eh bener gak ini namanya?) konon mati disiksa oleh ibu tiri. Sudah bolak balik digebukin hingga akhirnya meninggal dunia :(. Nobody knows sampai akhirnya dibikinin film.

NOW : Ya coba aja … netijen siap sedia memviralkan segala sesuatu yang aneh-aneh.

DULU : monggo dicek tingkat kematian ibu dan anak (dalam proses melahirkan) apakah dari tahun ke tahun tidak mengalami perbaikan? Ada apa-apa pas lagi hamil … CLUELESS. Lom tentu juga ada rumkit terdekat.

NOW : mual-muntah hamil muda .. panik? Googling. Eh, keluar darah pas trimester pertama … gimana dong? Googling. Aduh, ini kontraksi sebenernya asli apa palsu dah, kapan lahirannya ini? Googling.

pengaruh media sosial

DULU : Duh, makanan buat bayi apa ya. Ke tetangga entar disangka cupu. Nanya emak dinasihati. Nanya mertua bisa lebih sakit ati. Masa iya kudu bolak balik Posyandu mulu minta menu.

Jauh euy. Kudu melintas 2 sungai mendaki 3 gunung.
(Kelian kira se-Indonesia raya ini jalanannya tol semua).

NOW : Googling aje, Sis!

O ya, ibu saya anaknya 7, korban pernikahan paksa, and nope, she was never boasting around about it. Malah sejak usia dini, menyemangati saya untuk sekolah sampai tinggi-tinggi, setinggi yang saya bisa.

Diajarin KB hahaha. Dipaksa-paksa pakai spiral. Emak saya gemes saya nekat pakai KB alami sampai sekarang ???.

Dinasihati ngapain dah punya anak banyak-banyak. Dibatasi saja. Biar lebih fokus merawat. Sempat hubungan memanas gara-gara beliau tidak rela melihat saya melepaskan pekerjaan dari kantor untuk menjadi ibu rumah tangga.

Jangan DIKIRA senyum di wajah ibu-ibu kita di masa lalu ADALAH PERSETUJUAN MEREKA dan PENERIMAAN MEREKA atas segala sesuatu yang terjadi.

Ya dulu mereka belum punya akun Facebook ajeeee. Belom paham kalau perempuan bisa berdaya berdikari dengan berbagai macam cara walau tetap stay di rumah.

Hidup yang mereka tahu yang cebokin pantat-pantat anak-anaknya, memasak dari pagi sampai malam, sembari menyapu mengepel sampe encok, capek ditelan sendiri, soalnya pilihan apa yang mereka punya????

Zaman dulu ya bisa gitu tepok-tepok paha si kecil ampe bobok sambil ngecek PO lewat Whatsapp dan komen-komen IG. Gak perlu sering-sering keluar rumah, duit bisa ngalir masuk. Abang-abang JNE dah ada yang mau jemput langsung ke rumah.

Buibu, yang kalian gunakan untuk scrolling di medsos dan pencet info sana sini, kepoin foto orang sana sini terus resah sendiri terus cemburu sendiri terus stres sendiri kan JARI-JARI KALIAN SENDIRI.

Pengaruh media sosial

Apa organ tubuh kalian ada yang mengendalikan? NOPE.

You are the remote of your own fingers. Jarimu pilihanmu. Medsos dipakek buat rumpi-rumpi buat banding-bandingin yo cari penyakit ????.

Mau balik ke masa lalu? Monggoooooooo ???. Tinggal deaktivasi atau hapus akun sekalian, beres. Sisain WA buat hal-hal yang penting dan komunikasi kekinian. Tapi FYI, whatsapp tuh sarang hoaks yang paling susah dibendung loh ;).

Dampak Gadget pada Anak Generasi Milenial, Yay or Nay?

Dampak gadget pada anak ini sebenarnya kegelisahan yang sudah agak lama. Sekarang-sekarang jadi rame lagi.

Persoalan pertama mungkin gini. Kita harus paham tiap generasi memang punya masanya masing-masing. Soalnya ada yang ngotot kalau kok jaman dulu terasa lebih indah, lebih syahdu, lebih tidak banyak masalah bla bla bla.

Ya semua juga ngerasa gitu hahahahaa. Ini pernah saya tulis di tulisan yang ini nih ;).

Misalnya kakak sulung saya (lahir era 60 an) hobiiiii banget mencela selera musik saya yang tahun 90 an itu. Dia selalu meracau betapa kerennya musik-musik tahun 70 dan 80 an.

Ya sama kayak kita sekarang, hobinya mencela selera musik generasi milenial dan sibuk merapal betapa kerennya boyband 90 an yang lebih macho daripada geng Korea dkk itu hahahaha.

Masa banding-bandingin Westlife vs BTS. Heloooooo ???

Nenek juga begitu. Pas era blender, nyinyirin Mama melulu apa-apa tuh mesti blender. Nenek maunya tuh apa-apa DICOBEK, apa-apa DITUMBUK. Jajanan anak kudu masak sendiri, gak boleh sering-sering jajan.

Aduh almarhumah Nenek bisa lebih stres lagi karena sekarang era Food Processor dan even ada GoFood loh Nek hahahahaha.

PERUBAHAN itu memang tidak pernah mudah ^_^.

dampak gadget pada anak

Tapi akan lebih wakwaw lagi kalau kita malah menghalangi anak-anak untuk “melihat dunia” ;).

Soal game online, memang dulu kalian gak pernah ngerasain keranjingan TETRIS? Saya dulu b isa lupa makan lupa mandi gara-gara TETRIS hahahaha.

Saya mau cerita sedikit tentang pengalaman menyekolahkan anak di Texas (Amerika Serikat / US) selama setahun.

Sekolah publik tempat anak saya memang di atas rata-rata, ratenya 9 (out of 10). So that you know, sekolah publik di US itu pakai sistem zonasi yang ketat. Kasarnya, situ tinggal di pemukiman elit, otomatis sekolah juga lebih bagus.

dampak gadget pada anak

Kami beruntung soalnya dapat assignment dari kantor. Tau sendiri kan perusahaan Eropa kalau memperlakukan karyawan emang bak raja hehehehe. Dapat apartemen di kawasan mewah ya otomatis dapat akses ke sekolah publik yang ratenya hampir sempurna.

Hubungan antara guru dan orang tua murid BANYAK DIFASILITASI OLEH APLIKASI via ponsel yang kekinian (Seesaw, ClasDojo, Parents Gateway dst). Sumpah saya juga baru tahu ada aplikasi-aplikasi beginian di Play Store Google. Gratisan kok.

Anak-anak juga punya login di sana. Jadi sementara mungkin kebanyakan ortu dibuat kewalahan sama dominasi gadget pada anak-anak, SEKOLAH malah memperkenalkan gadget pada murid-murid. In a positive way lah ya.

Jadi semua memantau ngapain aja anak di sekolah. Komen-komenan di situ. Jadi lucu, anak posting prakaryanya, dipuji ama gurunya, terus ortunya bisa sok-sok an, “Eeeehhh ini anak saya looohhh” :p.

Tiap guru punya akun Instagram dan tentu memposting foto anak di sana perlu persetujuan langsung dan tertulis dari para ortu.

Tentu ada komunikasi visual dan langsung juga. Tapi ya ampun sumpah terbantu banget euy.

Ada ekstrakurikuler programming sejak KINDERGARTEN (TK, usia 5 tahun). Cakeeeeeeppppp. Gak dipaksa ya, tapi diperkenalkan. Kalau ada yang tertarik, bungkusssss, difasilitasi oleh sekolah.

Saya terbengong-bengony oleh cerita anak sulung yang jadi semangat belajar programming karena sahabat-sahabatnya di sekolah (kelas 3 SD waktu itu) banyak yang jago coding. W O W, wow!

Biasa aja, anak-anak SD nenteng gadget ke sekolahan ^_^. Sama sekolah BOLEH ^_^.

Anak-anak diperkenalkan pada aplikasi GAME ONLINE, tapi temanya BELAJAR MATEMATIKA atau KECAKAPAN BERBAHASA. Ternyata banyak sekali situs-situs begituan ya Allah saya bener-bener baru tahu ?????.

Mereka berkompetisi di game online begituan. Seru gilak. Semacam game adventure tapi penuh pertanyaan Matematika.

And did you know, di apartemen-apartemen di Texas itu, dilengkapi dengan ruang komputer yang punya PC sampai 5 bijik. Nah saya dan anak-anak kalau iseng dan kebetulan ruangannya kosong, kami duduk di situ bertarung lewat game Online Matematika ???.

Sungguh kutiada terbayang Amerika Serikat sudah sejauh itu. Karena di Irlandia pun yang sudah tergolong negara mau ini, yaelaaaaaa, masih cupu bangeeeeettttt hihihi. Palagi saya di kampung/dusun kecil.

Pernah ngobrol dengan temen-temen emak2 Indonesia di sini, kami terpana anak-anak kelas 6 SD di Athlone masih nonton Peppa Pig cobak ??????

SEmentara anak-anak kelas 3 SD di Texas obrolannya sudah selevel, “Eh kamu sudah pernah nyobain programming ini belum? Asyik loh. Mau gak bikin game bareng?”

((BIKIN GAME BARENG)) ???.

So, zaman memang sudah berubah :). BERUBAH itu tidak selalu berarti lebih baik, lebih buruk, lebih gimana-gimana. Well, simply, it’s CHANGED :). Di luar kuasa kita ^_^.

Tidak bisa lagi mungkin kita memaksa bocah-bocah SD kita, “Sonoooo main kelereng sama teman-teman di halaman belakang” ???.

Kita temani mereka, kita bimbing mereka, to make the best out of them di ERA DIGITAL ini. Jangan dilarang-larang main TIK-TOK. Ajarin bikin konten lucu-lucu emesh tapi jangan yang annoying. Ajarin aja bikin-bikin vlog sehari-hari. Gak usah diedit profesional, semampunya mereka aja.

Of course, tetap semangatin baca buku. Tapi beri sentuhan milenial. Ajak mereka bikin review yang mereka baca via vlog / blog. Jangan malasssssssss, blog sekarang gratisan dengan template lucu-lucu. Gak susah kok, sumpah.

Ajarin mereka tutorial aplikasi instead of menghabiskan waktu nonton yutub channel gak jelas macam instant-instant karma gak penting ituh ???.

Tahu tidak sekarang banyak anak-anak milienial belajar main musik / olah vokal via Youtube atau aplikasi Android/iOS lainnya ;).

Saya juga masih proses belajar. I know dalam apraktiknya berat banget. Kuterasa selama libur panjang dengan cuaca mendung manja khas Ireland di mana susah mau nyuruh mereka main di luar sering-sering.

Ya sudah, berdamai saja. Kalau lagi capek dibiarin aja main game ampe begok hahaha. Tapi tetap ada target ;). Tetap harus membaca, diingetin kalau emaknya lagi inget hahahaha. Tetap harus nge-blog, tetap harus coding.

Buat yang mau ngajarin programming ada SCRATCH loh. Ish, aplikasinya lucu, balita aja harusnya bisa ngikutin ^_^.

dampak gadget pada anak

Berkaca dari sekolah di Texas, mungkin PERKUMPULAN ORANG TUA MURID bisa bekerja sama dengan sekolah terkait penggunaan GADGET yang sehat di era milenial ini ^_^.

Jangan malah gadget-nya yang dikafir-kafirin ????. Malah ngajarin anak untuk benci sama gadget. Et dah :p.

Jangan menyerah ya, Dear Fellas-Parents ???.

WE CAN DO THIS ??????.

Pengalaman Kuliah + Cerita Adaptasi Anak Seribu Pulau Hihihi

Saya : “Bawa mistar, gak, Du?”

Dudu : “Ha? Mistar? Kagak punya lah.”

Saya : “Boong. Kemaren kan bawa. Bawa pengkorok juga. Pinjem bentar. Pelit amat.”

Dudu : “Idih ngapain bawa-bawa mistar. Segede itu. Gue gak punya! Pengkorok apaan woooiiii…”

Saya jadi bingung. Mistar kok gede. Lagian kemarin saya beneran meminjam mistar ke Dudu. Kalau pengkorok saya langsung ketawa. Soalnya nyadar kalau pengkorok itu memang bahasa Makassar. Pengkorok = SERUTAN :p.

Saya ambil tempat pensilnya lalu saya buka sendiri. Kami sahabat dekat jadi udah biasa gini-gini hehehehe.

Saya keluarkan barang yang saya maksud, “INI MISTAR ADAAAAA. PELIT LO AH.”

“Ih eluuuu. Ini namanya PENGGARIS. MISTAR tuh yang ono noh biasanya dekat papan tulis yang ukurannya gede-gede itu. Buat menggaris di papan tulis.”

Terus kami ngakak bareng hahahahaha.

Soalnya itu bukan pertama kalinya kami berantem soal gegar bahasa ini hahahahaha.

Oalah, MISTAR itu beda toh sama penggaris. Saya tahu juga istilah penggaris. Cuma kami di Makassar sudah biasa menyebutnya MISTAR.

Dudu ini salah satu sahabat saya di kampus. Orang Jawa yang lahir dan besar di Betawi. Jangan tanya bahasa Jawa. Dia gak bakal ngerti hahaahha.

Another day di LAB Komputer :

Kami bertiga (Saya, Dudu, dan Kiki) lagi memeriksa hasil tugas coding kami masing-masing. Saling mengecek.

Kiki : Pijat Du, cepat pijat.

Saya dan Dudu kebingungan.

Dudu : Apaan yang dipijat?”

Kiki (mulai gak sabar) : PIJAATTT. Enternya DIPIJAAATTT

Astaga, PIJAT itu maksudnya PENCET. Saya dan Dudu langsung ngakak. Kiki ini aslinya Jawa tapi lahir dan besar di Medan. Makanya suka dipanggil Kiki Ucok di kampus. Anak perempuan di angkatan yang paling jago coding ;).

Kiki ini aslinya lembut loh. I can see that clearly. Cuma ya logat Medannya yang kadang membuat dia terlihat lagi mara-mara hahahaha.

Dengan aksen Makassar saya pun saya suka ditebak orang Batak. Saya sih udah biasa dengar aksen begituan. Makanya kalau ke Surabaya kumerasa lagi berada di Makassar. Tapi pas ke Jateng kemaren, suami sempat bisik-bisik, “Kalau mau nunjuk, pakai jempol, jangan pakai telunjuk, ya.”

Suami saya asli Minang tapi lahir dan besar di Yogya-Pamekasan-Nganjuk hihihi. Dia ngerti bahasa Madura segala.

Pernah juga Dudu cerita lagi sebelahan sama Kiki pas lagi opspek, ada senior tanya ke KIki, “Heh Kiki, kamu liat si Fulanah gak?”

Kiki jawab, “Gak nampak, Kak!”

Terus seniornya bingung gitu. Soalnya Kiki kan juga pakai kacamata. Jadi disangka Kiki matanya burem gitu kali hahahaha. Padahal, gak nampak = GAK LIHAT.

Sama teman Sunda yang saya kira orang Jawa, saya pernah sok tahu, “Mangan yuk.”

Dia jawab, “Dahar atuh.”

Saya tetap sok tahu, “Dahar itu kan kalau kromo. Kalau ke teman ya gak papa pakai MANGAN.”

“Je, gue orang Sunda.”

Ternyata MAKAN dalam bahasa Sunda juga DAHAR. Beberapa hari sebelumnya teman dari Klaten ngajarin saya soal ngoko vs kromo. Misalnya pada kata makan. Dahar itu bahasa halus untuk mangan (=MAKAN).

Sotoy gue hahahahahaha.

Belum lagi pas buru-buru keluar lab, saya sempat histeris, “Eeeeehhh, bunuh dulu, bunuh dulu.” Maksudnya MATIIN KOMPUTERnyaaaaaaa.

Teman-teman langsung syok. Di kosan juga pernah teman-teman kaget saya ngomong bunuh-bunuh hahahaha.

Di Makassar, mematikan alat-alat listrik menggunakan kata-kata BUNUH. Suami saya juga pernah kaget btw hahahaha.

Teman dari Minang cerita soal Mamak. Saya kira Mamak itu ya emak = ibu = mamah.

“Mau ketemu Mamak nanti pas liburan. Kangen juga. Lama gak ketemu.”

“Ya kan tiap hari telpon-telponan kan” Jawab saya sok tahu. Saya ingat dia sering cerita kalau hampir tiap hari dia menelepon ibunya.

“Ha? Enggak lah. Terakhir ketemu malah udah 2 tahun lalu.”

Saya bengong.

Oalaaaaaahhh, ternyata Mamak itu justru sebutan lazim buat PAMAN (dari pihak ibu).

“Ini bude aku. Udah seperti mamaku sendiri.” Cerita seorang teman sambil menunjukkan sebuah foto kepada saya.

“Oooo tante, ya. Cantik deh.”

“Bukan. Bude.”

“Ya iya, tante kan?”

“Bukan. Tante itu Bu Lik.”

Fasilkom UI 98, nengokin suami Dudu di RS (Juli 2018)

Ooooohhh, Bude ternyata dari kata Ibu Gede, saudara perempuan dari orang tua kita yang lebih tua. Sementara Tante itu panggilan umum ke Bu Lik (Ibu Cilik), saudara perempuan dari orang tua kita yang lebih muda.

Kalau di Sulawesi, pukul rata. Semua juga Tante dan Om ye kan hihihihi.

Minang lebih seru : Mak Dang, Pak Dang, Mak Ete’, Pak Ete’, Pak Tuo, Mak Tuo. Sumpah ampe sekarang gak paham bedanya hahahaha.

Kenang-kenangan jadi perantau minoritas pas kuliah adalah masa-masa adaptasinya yang LUCU-LUCU-GOBLOK itu hahahahaha.

Belum lagi berantem sama abang-abang gorengan gara-gara istilah UBI vs SINGKONG. Sulawesi tidak mengenal SINGKONG. Ubi adalah istilah kami untuk UBI KAYU. Sementara UBI MANIS kami sebut ubi jalar. Teman di Medan menyebutnya ubi rambat.

Masih dengan ciwi-ciwi Fasilkom 98, lunch in Atrium (2018)

Jadi pas saya minta ubi maksudnya minta SINGKONG. Tapi abangnya malah bungkusin ubi manis. Lagi laper ya ngamuk lah daku. Abang-abangnya cuma bisa bengong hahahaha.

Di penjual martabak juga sama. MARTABAK = default untuk martabak manis ternyata kalau di Depok dulu, tuh. SEmentara saya tahunya martabak itu ya martabak telur. Kami tidak kenal martabak manis, adanya TERANG BULAN.

Abang Martabak : “Jangan becanda, situ yang minta martabak tadi.”

Saya : “Ini terang bulan! Saya mintanya martabak.” Sambil nunjuk ke martabak telur pesanan orang lain.

Abang Martabak : “Jangan becanda! Mentang-mentang udah malam, Neng!”

Ya siapa kale Bang yang becanda, laper iniiiiiiiii hahahahaha.

Di kampus saya punya 2 lingkaran pertemanan yang sangat dekat.

Lingkar satu dengan embak-embak berkerudung di bawah ini, kangen semuanyaaaaa. Walah, maaf fotonya tidak lengkap. Harusnya ada Santi (Cilacap), Ninit (Semarang) Husnul (Garut), Iwie (Padang), Monis (Tionghoa – Jakarta).

Pengalaman kuliah
Fasilkom 98, UI, reuni dadakan (Juli 2018)

Lingkaran satunya lagi dengan Leni (Minang gede di Betawi hahahaha) dan anak-anak laki-laki di mana obrolan kami gak jauh-jauh dari G-spot dan tema-tema dalam majalah Cosmopolitan yang suka kami bawa diam-diam ke kelas yang dosennya booooooring :p.

Adaptasi dunia nyata aja kek gitu. Ya bayangin adaptasi dunia maya hehehehe ;).

Dari penerawangan saya yang mungkin sok tahu ini hihihi, orang luar Jawa tuh lebih OUTSPOKEN dan APA ADANYA hehehehe.

Makanya banyak kesalahpahaman dalam berteman.

Kami orang Sulawesi, mungkin pengaruh minoritas, lebih berusaha ingin mendekat dan gampang merasa dekat. Di sini masalah kadang timbul. Suka dianggap SKSD hahaha.

Haeeee girls, semoga tidak pernah lupa pada satu-satunya teman Bugis kalian di kampus ini hahahahaha.

pasal penistaan agama

Menggugat “Pasal Penistaan Agama”

Sebenarnya banyak persoalan yang katanya “penistaan agama” bisa selesai cukup dengan UU mengganggu ketertiban secara umum, gak perlu dibikin khusus.

Mungkin tujuannya baik cuma dalam praktiknya sangat rapuh. Parameternya tidak jelas. Berpatokan pada perasaan. Perasaan terhina, perasaan ternista dst dst dst.

Definisi menista pun kadang dalam agama yang sama bisa beda-beda. Ujung-ujungnya ya kuat-kuatan massa. Hukum cuma hiasan. Pemerintah tidak berdaya kalau massa sudah mengamuk.

pasal penistaan agama

Provokator mudah mengambil celah. Padahal sebenarnya aktor-aktor utama fokusnya justru bukan ke penistaan agama itu sendiri. Entah cari panggung sendiri. Entah ada tujuan yang lebih tinggi, tujuan politis misalnya.

Kasus penistaan agama yang berakhir kerusuhan misalnya di Situbondo (1996). Ini unik. Yang berseteru sesama agama Islam, tapi yang kena getahnya gereja sampai panti asuhan non muslim :(.

Googling juga boleh kalau mau.

Penganiayaan terhadap Farkhunda, seorang perempuan Afghanistan yang mati dipukuli, disiksa, dibantai sampai mayatnya dibakar di hadapan ratusan bahkan mungkin lebih dari seribu laki-laki di ruang publik juga dipicu oleh so-called “penistaan agama” ini.

Di Pakistan juga parah. Mulai dari kasus Asia Bibi yang diawali dengan perdebatan soal minum di sungai yang menyebabkan eyel-eyelan yang berakhir dengan tuntutan hukuman mati kepada Asia Bibi, minoritas Nasrani di Pakistan.

Masih di Pakistan, ada yang malah terbunuh oleh amukan massa (kasus Taheer misalnya).

Kalau sudah masuk ranah “agama”, sulit sekali mau berpikir jernih. Mengeluh kalau suara azan terlalu kencang saja bisa masuk penjara.

Lucu amat. Padahal selama tinggal di Jeddah, patokan saya untuk waktu shalat ya situs-situs internet saking tidak kedengerannya azan deket rumah. Masjid tentu ada. Beberapa malah.

Azan hanya boleh berkumandang dengan volume keras di masjid-masjid besar yang letaknya biasanya bukan di pemukiman penduduk rata-rata.

Boleh tanya ke teman-teman lain yang tinggal di Saudi (y).

Menista agama katanya, zzzzzz -_-.

Persoalan yang sebenarnya bisa selesai di ranah lokal malah bikin heboh dari Sabang sampai Merauke. Kesel, beud. Kehilangan kesempatan punya pemimpin daerah cemerlang gara-gara kesurupan soal penistaan agama.

Pas kasus Ahok, lebih ngamukan teman-teman di Makassar cobak ketimbang kami para pemegang KTP DKI beneran.

Waktu Pilkada Sulsel malah grup-grup alumni diam membisu. They don’t care soal prestasi kerja whatsoever, tapi bisikkan kepada mereka, “Ssssttt…agama lu dinista tuh!” langsung pada ambil sarung dan mukena siap shalat di jalan rame-rame!

Seolah kepedulian kepada transparansi kepemimpinan yang bisa punya pengaruh besar kepada kesejahteraan rakyat secara luas tidak ada tuntunannya dalam agama. Dianggap tidak lebih penting daripada ngurusin emak-emak yang ada kecenderungan ODGJ bawa anjing ke dalam masjid.

Banyak pula figur yang sebenarnya terjebak kasus pribadi tapi dengan mudah menggalang massa dengan modal, “Agama kita dinista. Yok jihad yok rame-rame!”

Masalah pribadi figur tertentu kok ya tiba-tiba jadi jadi masalah agama seluruh penduduk nusantara ???.

Lelah, yak -_-.

UU penistaan agama akan selalu menjadi bola karet yang tidak pernah jelas pantulannya akan ke mana. Mau dibiarkan sampai kapan? Harus menunggu berapa kerusuhan? Harus ada yang mati dulu?

Apa sebenarnya definisi membela agama ini? Kepuasan batin atau gimana? Jika kita adalah yang beragama, sejauh mana agama itu bisa mempersembahkan solusi bagi kebaikan masyarakat sekitar? Dengan ancaman dan intimidasi?

Think about it ?.

UNDIAN NASIB via UMPTN/SBMPTN

Hari ini pengumuman SBMPTN 2019. Kebayang itu mulesnya yang nungguin. Baik para peserta maupun orang tua masing-masing.

Buat banyak orang, apalagi di tahun-tahun dulu, pengumuman masuk PTN itu memang PENENTU TAKDIR banget.

Di tahun kelulusan SMA saya, tahun 1998, namanya masih UJIAN MASUK PERGURUAN TINGGI NEGERI (UMPTN).

Kakak sulung saya masih kebagian SIPENMARU (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru).

Saya mengikuti UMPTN di Kota Makassar, Sulsel. Waktu itu masuk Rayon C. Tapi milih PTN nya yang rayon A hehehe.

Tahun 1998 sendiri ada hiburan menunggu pengumuman UMPTN, karena ada Piala Dunia hihihi. Padahal jelang-jelang pengumuman, enggak bisa tidur, bener-bener penentu nasib luar biasa hahahaha.

Jangan share broadcast message
Gambar : pixabay.com

Deg-degan sama hasil, deg-degan sama respons orang-orang terdekat. Enggak bilang-bilang ke Mama kalau nembak PTN di luar Makassar hihihi. Pokoknya bilangnya pilih UNHAS :p.

Makanya, selain stres nunggu hasil juga gemetar menunggu respons beliau kalau tahu saya sama sekali tidak memilih kedokteran. Takut beliau sangat patah hati karena cita-cita banget kayaknya pengin punya anak dokter.

I was scared I was gonna break her heart :'(.

Terus, pengumumannya diundur pula. Dan saya tidak tahu. Sudah tegang menunggu 26 Juni, ealah, pengumuman diundur sampai sebulan ya kalau gak salah waktu itu? Kesel banget udah kecele -_-.

Uniknya, ternyata pengumuman keluar H-1 dari hari yang ditetapkan (setelah diundur).

Jadi, H-1 malam-malam lagi santai-santai pasrah menunggu fajar datang dan menanti TAKDIR apa yang ditetapkan Tuhan, teman kakak saya tahu-tahu ngasih koran, “Jihan, ini pengumuman UMPTN keluar mi. Cari mi namata’, Dek.”

WHHAAATTTTTT!!!!!

Sumpah kaget banget. Bener-bener gak siap. Lagi asik-asik nonton tipi bareng sepupu-sepupu, tahu-tahu koran pengumuman sudah tergeletak depan mata.

Gemetar luar biasa. Dengan modal hafalan nomor urut langsung cari nama saya, dan … TIDAK ADA! Itu Mama juga ikutan nyarii sebelah saya. Saya sudah setengah nangis bilang ke Mama, “Gak lulus.”

“Manengka je’. Sappa-sappa ni jolo’ Nak.” (Ah masa, cari-cari aja dulu).

Dengan mata berkaca-kaca, saya susuri lagi, tidak ada. Nomor saya tidak ada. Tapi nomor urut sebelah saya ADA. Nah ini kuncinya. Karena di situ tertera nama laki-laki. Sebelah saya waktu itu kan perempuan pas ujian. Saya bingung.

Cepat-cepat saya ambil kertas nomor ujian sambil saya tanya ke teman kakak. Kok aneh, nama nomor urut setelah saya ada di koran tapi laki-laki. Pas ujian jelas-jelas dia perempuan.

Kata teman kakak, “Lihat nomor depannya, Dek. Ada IPA, ada IPC. Cek nomor lengkapnya.”

Oiyaaaaaaaa, dasar dodol hahahahaha. Ternyata itu 001, untuk peserta khusus jurusan IPA. Saya kan ambil IPC, jadi depannya 003. Baru deh ngecek sekali lagi sambil hapus air mata ???.

Dan akhirnya, belum juga air mata kering, sudah kembali mengalir deras melihat nomor urut dan nama saya MUNCUL. Menangis makin keras waktu lihat nomor fakultas tempat lulus, hamdalah, tembus di pilihan pertama.

Dipeluk Mama sambil Mama nanya, “Kedokteran UNHAS ji Nak?”

“Bukan, Ma. Lulus di UI. Di Jakarta.”

I thought she was going to be sad or upset. Tapi malah dipeluk tambah kuat, “Macca memeng je iye anakku. ” (Pintar memang ini anak saya).

baju bodo mod
Best mom in da world *laaaaf* (kanan-kiri : ME-Mom-lil Sista, 2018)

Udah deh nangis-nangis kita berdua sebelum akhirnya capek sendiri hahahaha.

Terus saya ngambil jilbab ke kamar, nyari-nyari koin di laci dan lari ke telepon umum, menelepon sahabat saya satu per satu. Alhamdulillah, semua sahabat saya lulus UMPTN.

Banyak dari mereka lolos ke Kedokteran Umum UNHAS dan Teknik Elektro UNHAS. Antara gembira dan menangis because I was gonna leave them soon.

Saya ingat ada yang bilang, “Carikan ka’ juga suami nanti di UI gang na” ???.

Karena pas lagi belajar bareng jelang UMPTN, sempat becanda-becanda dengan teman-teman bahwa hasil UMPTN nanti juga punya peran besar dalam urusan jodoh, which is definitely TRUE for my case ???.

Hasil berburu suami di kampus nih hahahahha :

2004!

Sesungguhnya kami juga iseng-iseng berujar mau masuk UNPAD biar dapat jodoh anak ITB. Kalau masuk ITB takut kecapean belajar gak sempet nyari suami ???. Makanya, diantara mereka ada yang beneran pilihan pertamanya KEDOKTERAN UMUM – UNPAD hahahaha.

Jelang tidur di atas kasur, rasa takut mulai menyerang. Sebentar lagi akan jadi anak rantau. Nun jauh menyeberang ke ibukota. Apa nanti bisa beradaptasi, apa nanti bisa punya teman-teman seasyik temen-temen di SMA? Apa sanggup bersaing? Dst dst dst ….

But life goes on. Proses adaptasi lintas pulau, lintas suku yang ternyata lucu-lucu dan mengesankan. Punya banyak teman-teman baru yang tidak kalah serunya, baik di kosan maupun di kampus.

Punya sahabat-sahabat baru dari Sabang sampai Merauke. Sahabat saya di kampus, ada yang Batak, Minang, Jawa, sampai Tionghoa. Alhamdulillah, berkah merantau <3.

Semoga yang terbaik buat para ananda dan adik-adik atau semua yang tengah menanti pengumuman besok <3. SEmangat yaaaaa, masih ada jalur Mandiri juga kan ???.