GENDER SEGREGATION, YAY OR NAY ??

Tantangan untuk memperlakukan kasus perkosaan selayaknya tindakan kriminal yang lain memang sangat berat. Gimana gak berat, yang kontra seringnya justru bagian dari kaum perempuan itu sendiri :(.

Di videonya ini Nandini sarkas ya di awal-awal. Nonton sampai habis. Harusnya sih sarkasnya kelihatan banget. Tapi ada aja komen orang yang salah paham.

Ada kasus perkosaan kakek usia 83 tahun kepada cucu perempuannya yang berusia 12 tahun. Seorang ibu-ibu asal Malaysia berkomentar bahwa kita tidak bisa 100% menyalahkan si Kakek.

Kesalahan bisa jadi ada pada si Nenek yang tidak bisa memuaskan nafsu si Kakek. Sehingga Kakek harus nonton film porno terus Kakek ngaceng terus akhirnya memperkosa cucunya sendiri. Kasihan kan si Kakek? ????

Tapi iya kok. Seambruk apa pun logika ini, ini adalah logika yang sangat umum yang diyakini oleh sebagian kaum perempuan juga loh.

Misalnya teman saya pernah komentar soal cara perempuan pakai baju. Dia pakai ilustrasi begini, ada remaja laki-laki nonton acara tentang liputan di pantai. Terus ada cewe-cewe pakai bikini. Si remaja laki-laki terangsang. Eh terus ketemu anak perempuan tetangga. Diperkosanya. Yang salah : embak-embak di TV yang pakai bikini.

1. Apakah semua remaja laki-laki yang menonton perempuan berbikini di pantai akan otomatis pengin memperkosa? Kalau IYA maka logikanya sudah tepat.

Kalau ternyata tidak, justru yang menarik dan bisa dieksplore lebih jauh : mengapa ada remaja laki-laki yang nonton acara begituan dan terangsang juga tapi kok ternyata tidak diikuti oleh tindakan ingin memperkosa?

2. Sulit sekali memaksa seluruh dunia untuk ikut berpegang pada nilai yang kita yakini. Even if you are moslem. Karena PERBEDAAN itu adalah keniscayaan bagian dari takdir.

Kalau si remaja laki-laki susah menahan nafsu, ya jangan nonton gituan. Kecuali dia dipaksa ya? “Pokoknya kamu harus nonton, kalau enggak kamu saya bunuh!”

3. Si embak-embak pakai bikini nun jauh di mungkin di Miami – Florida kenal ama si mas-mas remajanya aja enggak kok ya tahu-tahu si embak yang harus menerima siksa api neraka toh ya *pijetKening*.

Justru jangan-jangan loh justru segregasi yang terlalu tajam antara laki-laki dan perempuan sejak lahir kalau perlu (hahaha) yang memicu sulitnya kedua gender ini merasa SETARA. Ingat ya, SETARA, bukan SAMA DENGAN.

Seperti biru vs merah misalnya. Keduanya sama-sama warna. Enggak bisa bilang biru adalah warna yang lebih mulia. Atau merah seharusnya punya tingkatan lebih tinggi daripada biru. NOPE. Keduanya SETARA.

Dalam beberapa hal, biru lebih pas untuk digunakan. Di hal-hal lainnya, merah dianggap lebih cocok. Tapi dalam banyak hal, keduanya banyak kesempatan untuk dianggap “setara” ;).

Wilayah India dan sekitar yang sangat tajam segregasi perempuan vs laki-laki sejak kecil :(. Makanya pelecehan seksual terhadap perempuan di wilayah ini cukup marak. Sulitnya, pelecehan seksual ini sering sekali bebannya diarahkan ke perempuan :(.

Perempuan yang harus tanggung jawab ini itu. Ngurus anak, ngurus rumah, ditambah lagi, ngurus nafsu seks suami, karena ingat, suami selingkuh atau memperkosa perempuan lain tak lain karena istrinya kurang memuaskan -_-.

Lemahnya penegakan hukum di urusan perkosaan (ya gimana dong ya, kadang lapor ke polisi pun, polisi rata-rata laki-laki, dan pernah ada kasus polisinya malah nanya balik, “Kamu kok ngakunya diperkosa udah 2x kok baru lapor sekarang. Doyan kamu ya?”

W O W . . .

Subhanallah. Emang dikiranya begitu habis diperkosa, detik itu juga, kita bisa langsung buru-buru naik angkot lapor polisi gitu ya. Belum lagi kalau pelakunya orang terdekat.

Kasus laki-laki yang memperkosa adik iparnya yang janda yang tinggal menumpang pada mereka. Dilema banget. Nama baik keluarga bisa terancam. Boro-boro si lakik yang kena, jangan-jangan malah si janda ini yang bisa berantem sama kakaknya sendiri.

KOmentar netijen (PEREMPUAN!) juga dahsyat. “Yah, pasti yang salah yang janda lah. Tau sendiri kan janda. Emang bawaannya godain laki orang. Jauh-jauh dari janda lah pokoknya.”

Ya nanti jandanya dinikahin ama suamimu Mbak, kamu salahin juga jandanya.

Makanya menjadi LAKI-LAKI itu memang PRIVILEGE tersendiri ;).

Saya kebayang itu kasus kakek usia 83 tahun anggaplah istrinya 73 tahun. Terus si Kakek masih minta jatah gitu, ya, pada istrinya yang mungkin mereka udah sama-sama pikun. Tapi terus jadi pembenaran buat POLIGAMI ????.

“Makanya izinkan kami poligami daripada kami perkosa-perkosa anak cucu sendiri ye kaaaaannn…”

Kalian pernah nonton filmnya Charlize Theron “North Country” diangkat dari kisah nyata. Theron menjadi pekerja tambang perempuan. Sampai diperkosa segala. Bukan, bukan karena dia pakai baju seksi. Ya coba aja lu pakai bikini di tambang -_-.

Semata karena laki-laki merasa kehadiran Theron di tambang sebagai ancaman. Dan perkosaan itu adalah hukuman kepada Theron. “Heloooo lu itu cuma perempuan. Girls are weaker so that you know. Nih gue perkosa lu, mau apa lu, mau apa lu ….”

Pernah dengar soal relasi kuasa? Ada artikel ringannya di sini.

Jadi sebenarnya tindakan atau penampilan perempuan justru sering tidak ada hubungannya dengan kasus perkosaan. Dan perkosaan ini bisa melibatkan orang-orang yang sudah saling kenal, loh.

Dosen kepada mahasiswi, om kepada ponakan, kakek kepada cucu.

Perampokan di malam hari juga tidak sedikit yang diikuti dengan tindakan perkosaan kepada tuan rumah perempuan loh. Ya gimana atuhlah, lagi bobok juga kudu pakai gamis dan cadar apa gimana ini ??.

Mendalami masalah-masalah beginian sudah seharusnya disebarluaskan terus. Jangan semua-mua masalah diselesaikan dengan :

1. Memisahkan tangga anak perempuan dan anak laki-laki biar gak colek-colekan.

Ajarkan anak-anak dong untuk saling menghargai, tidak boleh menyentuh badan lawan jenis untuk iseng atau untuk menggoda. Tegakkan aturan, awasi, awasi, awasi! Jangan malaaaaasss.

Mau jalan pintas aje –> Pisahkan saja tangganya! Biar guru yang usah repot-repot mendidik dan mengawasi dan menegakkan peraturan?

2. Bikin edaran wajib pakai jilbab buat murid perempuan. Berlindung di balik aturan agama. Tapi coba aja diskusi panjang lebar pasti ujung-ujungnya ke situ, “Ya itu sebenernya buat kepentingan perempuan sendiri. Untuk keamanan mereka sendiri.”

Wrong!

menghilangkan trauma pelecehan seksual
Gambar : soundgirls.org

Anak laki-laki ya diajarin dong, “NO MEANS NO”. Perkosaan itu tindakan kriminal TIDAK PEDULI SI PEREMPUANNYA LAGI PAKAI BAJU APA.

Mencuri itu tidak boleh walau ada dompet terkapar di jalan tanpa pemilik dan duit ratusan ribu nyembul-nyembul dari dalam dompet.

Why does it so hard to understand?

Btw, segragasi perempuan dan laki-laki di usia sekolah jangan-jangan malah mempertajam stereotip laki-laki dan perempuan. Memperkuat relasi kuasa antara gender.

Waktu kecil, kalau bulan puasa main di masjid teringat dulu ada Pak Ustaz yang bilang ke kami, “Perempuan nanti lebih banyak yang neraka karena calleda’. Makanya ndak boleh itu dekat-dekat laki-laki sama perempuan.” (Calleda’ = centil).

Apa dia akan mengatakan hal yang sama pada kasus perkosaan anak perempuan umur 6 tahun oleh ayah kandungnya sendiri? Secalleda’ apa itu anak umur 6 tahun sampai bisa memperdaya ayahnya untuk memperkosanya?

It was so sad to admit that some of religious belief are part of this mess ???.

mendidik anak milenial

Tantangan Ortu Mendidik Anak Milenial

Mendidik anak milenial buat ortu yang lahir dan besar di era yang berbeda pasti enggak mudah. Mau tinggal di mana juga.

Tapi tinggal di negara-negara maju buat diaspora asal Indonesia, secara garis besar memang menyenangkan kok. Senengnya di atas 50%. Tapi ya harus diakui kalau nyangkutnya di dusun kecil yang orang Indonesianya cuma seupil ini lebih berat tantangannya.

Sudah otomatis kesulitan soal bumbu dapur, beli tempe aja harus online atau harus mencari ke kota-kota besar.

Berusaha mingle dengan ras lain juga kegiatan yang menyenangkan walau harus tabah menghadapi rasa BAPER yang terus melanda hahaahha.

Lama-lama ya males juga. Karena ras minoritas cuma gue doang, mereka punya teman banyak jadi tidak harus berbahasa Inggris. Siapa juga yang tahan berlama-lama dengerin emak-emak India ngerumpi pakai bahasa mereka depan idung kite ye kaaaaannn hihihihi.

Untung saya dianugerahi sifat INTROVERT jadi tidak terlalu masalah soal pertemanan gini-ginian. Tapi suami saya kan tipe-tipe yang butuh bergerombol. Makanya sejak lama beliau komplen soal kota kecil tempat kami tinggal.

Kalau soal lain-lainnya sih, IRELAND is super wonderful. Pemandangan alamnya, udaranya yang segar nyaris tanpa polusi <3.

Apartemen saya ini terletak di depan sebuah padang rumput yangn luas yang dialiri Sungai Shannon di tengah-tengahnya. Banyak sapi lalu lalang di situ.

Kalau bosan, ya saya tinggal ke sana, lihat-lihat sapi yang lagi merumput. Segeeeeerrrr.

Pemandangan dari teras belakang di apartemen yang lama. Hiks :'(. Kangen.

Saya lebih banyak menulis di Ireland daripada di Jeddah, tapi lebih banyak menerbitkan buku di Jeddah hehehe.

Saking nyamannya kadang di Ireland ya, saya pikir sudah tidak perlu apa-apa lagi hahahaha. Tapi suami yang mengingatkan hidup harus berjalan terus gak boleh nyaman di satu tempat.

Lingkungan kota kecil di Irlandia juga kami anggap kurang cocok buat pendidikan anak-anak yang kami inginkan :(. Buat TK sama SD sih asyik banget (y). Makanya pendatang yang begitu anaknya sudah SMP, mereka hengkang ke kota besar, keluar dari Irlandia kalau perlu.

Maap intermezzo dikit, kali penasaran ya sama suasana Ireland yang serba natural ini ;). Boleh ditengok link di atas tuh ;). Jangan lupa juga untuk subscribe ke channel youtube saya di sini ^_^.

Ngomong-ngomong, anak sulung saya saya encourage untuk nge-blog loh hehe. Tapi orang-orang sini tuh jadul-jadul banget, euy. Jadi anak-anak tidak punya “something to look up to”.

Selalu memandang remeh banyak hal. Untung sempat tinggal di Texas jadi lumayan terbukan mata mereka sama dunia luar.

Anak saya suka ceriwis nyolot, “You have your own blog. Tell me about it.” Makanya satu-satunya contoh blogger dan vlogger di sekitar mereka ya EMAKNYA sendiri hahahaha.

Kalau vlog enggak saya paksa, pokoknya kenal-kenalin aplikasi aja. Biar belajar otodidak cara mempelajari aplikasi baru. Saya ajarin cara googling. Saya ajarin baca HELP kalau butuh sesuatu.

Anak-anak zaman sekarang gak segan-segan membully emaknya sendiri hahaha. Jadi gak bisa lagi kita cucuk idungnya tanpa memberi contoh langsung ???. Agak beda sama generasi kita dulu.

Kalau suami memang mengawal anak-anak di urusan musik dan olahraga (boxing + renang).

Di masa depan mereka kelak, kemampuan menulis ESAI itu punya peranan penting loh. Menulis juga menuntut mereka untuk banyak membaca. Kalau si sulung mentok, saya suruh baca buku aja terus review ?. Buku yang irngan-ringan yang dia suka aja.

Blog si sulung di https://nabilista.blogspot.com –> gak pake adsense kok, soalnya memang bukan buat komersil hahahaha. Sekarang lagi dilatih menulis pakai bahasa Indonesia.

SEMUA ahli tumbuh kembang di sini yang pernah kami datangi sangat KERAS menasihati kami soal bahasa. Bahwa banyak sekali manfaat positif bagi anak-anak yang dibesarkan dengan banyak bahasa. Kami beruntung karena semuanya alami. Mereka pengin anak-anak bilingual terus no matter what.

Ternyata keterlambatan bicara tidak terlalu besar hubungannya dengan penggunaan bahasa lebih dari satu.

Caranya gampang banget kalau diaspora kayak kita. Di rumah bahasa lokal, di sekolaha bahasa kedua. Simpel. Saya lihat anak-anak India juga sangat ketat berbahasa India dengan kedua orang tuanya.

Anak-anak gak perlu diajari bahasa Indonesia secara khusus. Tapi di rumah saya dan suami SELALU BERBAHASA INDONESIA. Terserah mereka mau reply pakai bahasa apa. Makanya yang bungsu pas pre school bilangnya, “I wanna pipis. I need to open my celana” ???

Zaman sekarang enak banget. Banyak pilihan. Belajar coding aja bisa dari umur balita, sudah banyak aplikasi belajar programming di internet.

Programming dan MENULIS (yang mengharuskan mereka otomatis membaca) adalah 2 skill yang menurut saya penting buat generasi milenial sekarang :D. Pengaruh karena saya dan suami juga anak IT sih hihihihi.

mendidik anak milenial

Makanya agak-agak melenakan nih tinggal di Ireland. Agak sulit mengarahkan anak-anak karena mereka berpatokan pada sekitar. Sekolahnya aja masih jadul banget cobak. Apa-apa tuh diumumin pakai SMS. Mbok ya bikin WAG napa? Hihihihi.

Ada temen saya ikut semacam kursus IT gitu di sini. Dia dulu ingin belajar mengedit video buat vlog. Eh masa instruktur di tempat kursus tidak paham VLOG itu apa. Gustil Allah ??? …

Don’t get me wrong. I looooooooove Ireland. Jika kelak harus pergi, saya pastikan akan menangis meraung-meraung di tepian Sungai Shannon when a time to say goodye is coming. Hanya saja memang bukan tempat yang pas untuk jangka panjang ?.

Buat jalan-jalan mah jelasssssss, oke bangeeeeettttt hehehehe.

Politisasi agama

Candu Agama, Politisasi Agama, Kedok Ketidakmampuan Para Birokrat?

Jadi ternyata waktu Karl Marx memberi predikat “candu” kepada agama, tujuannya tidak senyinyir yang kita bayangkan selama ini :).

Di masa itu, candu/opium itu dianggap sebagai obat atau “penawar rasa sakit”.

Maknanya bergeser karena penjelasan tentang pendapat Karl Marx yang terpotong. Kutipannya tidak lengkap.

Gambar : pixabay.com

Walau Karl Marx memang bukan penganut agama tertentu, maksud sebenarnya dari istilah “Religion is the opium of the people” bisa dibaca di sini.

Walau dalam praktiknya, agama sering dijadikan alibi bagi penguasa untuk segala ketidakberdayaan mereka dalam menjalankan kewajiban bagi warganya.

Waktu rajin road trip di US dulu, saya dan suami suka membahas iseng-iseng soal korelasi antara banyaknya plang, “Jesus, We Love U” dan semacamnya vs kondisi ekonomi kota/wilayah tertentu.

Entah mengapa hasilnya ya begitu itu hehehe. Makin “gak jelas” kota atau state-nya, makin banyak plang-plang beginian ???

Wilayah Texas area Kota Plano dan sekitar hampir bersih dari baliho-baliho agama :p. Di Texas bagian utara, kota-kota industri memang ada di wilayah Plano-Frisco ini. Kelihatan dari harga propertinya yang di atas rata-rata.

Sementara di area Texas yang perbatasan yang agak-agak (maaf) mulai kumuh, baru dah mulai banyak “anjuran” untuk lebih banyak mengingat Tuhan ???.

Tapi di area yang kami lewati pas road trip menuju Yogyakarta dari Jakarta tahun lalu mah, plang-plang Asmaul Husna juga banyak menghiasi jalan-jalan raya #uhuk.

Mungkin semacam “penawar rasa gregetan” dari warga biar gak usah terlalu mikirin biroraksi dan kewajiban-kewajiban kepada daerah kepada rakyat ???.

Setiap gondok inget pemda yang gak jelas hasil kerjanya apa, ya kan tinggal lihat baliho-baliho Asmaul Husna, auto hilang keselnya??? ??

Baruuu aja beberapa waktu lalu membaca selebaran sese-wagub yang mengimbau rakyat untuk jangan melakukan kegiatan-kegiatan maksiat untuk mencegah terjadinya bencana alam ???. Surat edaran resmi loh ???.

Mbok ya penanganan bencana yang ditingkatkan. Anggarannya diawasi dengan benar jangan dipakai buat yang lain-lain. Disiplin menerapkan aturan, perbanyak kajian ilmiah dari para ahli untuk proses pencegahan jangka panjang.

Ini memang bukan langkah yang mudah dan perlu waktu. Tapi tugas pemerintah yang utama ya begitu itu.

Juga sese-bupati yang punya program memperbanyak ustaz di tiap kelurahan biar makin banyak hafiz/hafizah. Mungkin biar rakyat khusyu’ mengaji, pemerintahnya bisa lebih khusyu’ mainin duit anggaran #eh ???.

Ya gimana, sistem yang masih ngacak begini dengan pangsa pasar yang lagi semangat “hijrah” sangat klop dengan kalangan birokrasi yang tidak sanggup bersaing di area kinerja-hasil nyata-rekam jejak.

Jadi, jalan pintasnya ya gitu : bikin aturan wajib pakai jilbab di instansi pemerintahan, bikin aturan wajib jilbab buat anak-anak sekolah negeri, bikin aturan jangan maksiat biar gunung gak meletus? ???.

Oh, come on …. -_-

Simpel nan praktis, dalam waktu singkat otomatis membuat rakyat terpesona penuh haru betapa amanahnya pemimpin-pemimpin daerah mereka, “Masya Allah Tabarakallah.”

Saban bulan puasa, suka cengar cengir melihat teman-teman di provinsi yang terkenal dengan korupsinya yang maha dahsyat itu yang memuji pemimpin daerah mereka yang begitu saleh hanya karena melarang warung makan untuk buka di siang hari ???.

Jauh lebih gampang tooooohhh daripada memperbaiki sistem yang korup, melakukan transparansi anggaran, mendisiplinkan aparat birokrasi, dst dst dst.

Apa sih susahnya ngeluarin edaran kudu pakai jilbab buat embak-embak & emak-emak PNS di Pemda KETIMBANG mengawasi / memastikan segala jajaran PNS terkait bisa bekerja dengan disiplin melayani masyarakat dan enggak “bandel”?

Kalau ada jalan pintas, mengapa harus memilih jalan yang memutar ???.

La La Land : A Man We Love VS A Man We Need?

Tadinya gak tertarik mau nonton “La La Land”, salah satu nominator The Best Picture Oscar 2017 ini.

First of all, gak doyan film MUSIKAL. Yup, dari dulu kutidak pernah tahu mengapa orang-orang tergila-gila pada film “Sound of Music” :p.

Baca Juga : “Review Film : Love, Rosie”

Alasan kedua, kok ya temanya nampak receh. Sepasang kekasih bertemu dan saling beradu mimpi di kota semacam Hollywood bla bla bla yadda yadda yadda. What’s new?

Waktu itu akhirnya nonton karena pengin banget nonton film tapi dari semua judul yang ada dalam list gak ketemu streaming yang oke. Jadi yah, daripada nonton ngasal-ngasal iseng lihat-lihat nominator Best Picture Oscar. Dan pilihan jatuh pada … La La Land ;).

Btw, berusaha untuk tidak spoiler dalam mereview film. Tapi ini kan film jadul masa belum nonton, sih? 😀

Ini film ringan. Ringan banget. Tapi tidak sereceh yang saya bayangkan. Mungkin sama seperti buku, many times it’s not about WHAT YOU WRITE but HOW YOU WRITE IT. 

Baca Juga : “Review Film : 500 Days of Summer”

Sama kayak memasak juga ya. Dari bahan-bahan yang sama tapi kalau yang masak beda tangan, outputnya juga bisa beda. 

Nontonnya tanpa beban walo baper sangat pas ending. Tidak terlupakan momen mereka saling memandang di scene penghabisan. 

Natural ending sih sebenarnya.  Cuma ya gimana dong yaaaaaa huhuhu.

Baca Juga : “Review Film Korea Pemenang Oscar : PARASITE”

Casual love story antara Sebastian (Ryan Gosling yang emang hobinya maen di pilem-pilem emessshhh, not a fan of his movies tapi inget The Notebook, yes?) dan Mia (Emma Stone).

Mereka berdua enggak sengaja kenalan di masa-masa sedang mencari peruntungan di dunia hiburan di La La Land. 

Seb, tergila-gila dengan musik jazz yang ternyata secara materi kurang menjanjikan. Sementara Neng Mia bolak balik ikut casting sana sini untuk memenuhi impian menjadi aktris nan hits.

Walau sama-sama kebelet jadi seleb, toh tetap saja mereka dari dunia yang berbeda. Awalnya Mia sempat meledek Seb yang dikiranya hanya pemain band iseng-iseng pengisi acara pesta-pesta tanggung ala seleb-wannabe yang lagi pansos-pansos an hihihi. 

Baca Juga : “Review Film : 96, Geliat film-film Kollywood”

Seb juga sempat meledek Mia yang ternyata saat itu memang hanya berprofesi sebagai seorang barista.

SEB : So you’re an actress? I thought you looked familiar. Have I seen you in anything?

MIA : Uhh, the coffee shop on the Warner Brothers lot, that’s a classic.

SEB : Oh I see.

MIA : Yeah.

SEB : So you’re a barista? And I can see how you could then look down on me from all the way up there.

Standar ya. Tapi terhibur banget dengan akting mereka berdua. Mungkin  tantangan juga untuk berakting spesial di adegan-adegan yang sebenarnya sangat standar ini :D. Pas banget jika dua-duanya dapat nominasi Oscar. Emma Stone won anyway ;). 

 

Emma Stone – Pemeran Utama Perempuan Terbaik Oscar 2017, film : La La Land (Gambar : vanityfair.com)

Seb pernah mencoba meninggalkan genre musik kecintaannya dengan ikut kelompok musik yang lagi hits dan akhirnya bisa ikut tur ke mana-mana. Tapi idealisme seringnya gak bisa bohong. 

Baca Juga : “Review Film : The Favorite”

Begitulah kisahnya berjalan. Seb dan Mia bahu membahu menghadapi banyak kekesalan, kekecewaan  

Cerita mengalir sangat asyik. Makanya endingnya terasa menyakitkan. Rasional tapi ya itu … periiiiihhh :p.

Gambar : pixabay.com

Proses menuju ending terasa mendadak. Tapi mungkin di sini ya terserah penafsiran penonton. Lagian apa yang terjadi ya sudah sering lah kita temukan dalam kisah-kisah percintaan dalam dunia selebriti bahkan dalam dunia kita sehari-hari.

Maksudnya jadi gimana  dengan judul tulisannya? Ya makanya nonton sendiri sanaaaaaaaa hahahaha :p. 

 

harga tiket disneyland paris

Tips dan Trik Jalan jalan ke Disneyland Paris (April 2019)

Harga tiket Disneyland Paris pas kami ke sana, April 2019 kemarin, 420 euro buat berlima. Dua orang dewasa, 2 anak berusia di atas 7 tahun, dan si bungsu yang berusia 3 tahun.

Pada umumnya Disneyland Resort memiliki 2 park :

1. Walt Disney Studio Park
2. Disneyland Park

Cukup enggak dalam sehari?

Cukup-cukup aja, sih. Sebenarnya tidak terlalu banyak wahana dalam kedua park ini. Asalkan waktu tunggu/antriannya tidak panjang.

Beberapa hal yang bisa kami sharing dari pengalaman kami mengunjungi Disneyland Paris di awal April 2019 kemarin :

1. Tiket masuk Walt Disney Studio dan Disneyland Park bisa dibeli terpisah dan bisa dibeli dalam satu paket. Beli online saja. Lumayan hemat waktu daripada ngantri di Disneyland Resort -nya.

2. Pelajari soal peak season!

Peak season tidak hanya terjadi di musim panas. Tapi sering juga di waktu-waktu khusus seperti Minggu-Halloween (akhir Oktober), apalagi akhir tahun dan awal tahun.

Perhatikan juga liburan Paskah atau midterm break. Bukan hanya area Eropa, tapi area sekitar seperti Middle East. Pengunjung bisa melonjak dari luar Eropa juga.

Juga soal hari. Sabtu-Minggu dibanding hari-hari lain, apa pun musimnya, pasti lebih penuh. Senin dan jumat lumayan penuh, karena masih nempel weekend.

Selasa, rabu, kamis lebih lowong.

Nah, kami juga menyesuaikan dengan harga tiket pesawat sih hahahaha :p. Kami memilih April, sebelum summer pastinya, sebelum masuk liburan Paskah di sebagian Eropa dan sebelum mid term break di banyak negara Eropa dan sekitar. Plus … HARI RABU! :D.

Jadi pas ke sama lumayan legaaaaaaa ^_^. Dapat semua wahana idola macam roller coaster di semua park dan sub-park :p.

Another thing, winter mungkin secara umum lebih sepi. Tapiiiiiiii, kalau winter jam bukanya beda loooohh. Lebih pendek daripada summer karena daylight juga lebih pendek.

3. Jangan gentar dengan harga hotel area Disneyland Resort dan sekitar. Hare geneeee masih hotel-mindset, ini era Air BnB, dooooonnnggg :p.

Kesulitan kami karena anak 3 di mana usianya gak ada yang bayi lagi (hihihi), jadi rata-rata perlu 2 kamar standar. Kamar hotelnya mungil-mungil huhuhu. Kecuali pilih suite yang mahal :p.

Di sekitaran Disneyland Resort buanyaaaakkkk Air BnB *tepukTangan*. Dan dari pemukiman ini biasanya ada saja bus-bus angkutan umum yang menuju Disneyland Resort. Ini resortnya bener-bener sebelahan dengan stasiun kereta pula.

Kemarin kami hanya jalan sekitar 2-3 menit dari gedung apartemen Air BnB, nunggu di halte sekitar 5 menit, bus datang. Tidak sampai 10 menit, tiba di Disneyland Resort. Cuma 2 euro per orang ^_^. Di bawah 3 tahun rasanya gratis deh. CMIIW.

Naik taksi juga bisa kalau mau liburan yang lebih manjaaaahhh nan ulala ^_^. Sekitar 25-30 euro sekali naik dari lokasi Air BnB kami ke Disneyland Resort.

harga tiket disneyland paris

Kami kebagian Air BnB model studio tapi luas dengan gaya minimalis modern yang keren, deh. Bersih dan super wangi. Fasiltas lengkap. Segala mesin cuci pakaian dan dish washer komplit. Peralatan dapur termasuk microwave endebre-endebre juga ada.

Tempat tidur bener-bener buat berlima. Harganya 70 euro per malam.

Apartemennya standar bagus bangetlah. Kalau di Indonesia sudah terhitung mewah ;).

Hati-hati dengan landlord Perancis. Mereka agak rewel dengan kebersihan. Jadi harus mau capek dikit, ya. Kami menghabiskan waktu sejam lebih buat bersihin rumah sebelum check out hihihihi.

Gakpapa, olahraga sikit biar lemak liburannya luntur ye kaaaaannn :p.

Enaknya di Air BnB juga gitu. Bisa nyuci baju jadi gak perlu bawa koper segabruk :p. Ada supermarket jadi bisa beli telur dan roti, masak sendiri di rumah. Ongkos makan beli jadi di yurop ini mayan bikin jantungan juga kan hahaha.

4. Biar cukup sehari di ke-2 park, stamina harus cetarrrr. Kuat-kuatin bertahan sampai malam karena ada Disneyland Fireworks yang sumpah terlalu keren untuk dilewatkan.

Umumnya pertunjukan kembang api ini dimulai pukul 9.30 pm (summer time), durasi waktu sekitar 30 menit. Buaguusss bangeeeetttt ??. Jangan sampai enggak nonton!

Walau sudah remuk badan nemenin anak-anak, pas pertunjukan kembang apinya dimulai, langsung seneng lagi ???.

Soal macam mana isi penampakan Walt Disney Studio dan Disneyland Park, diceki-ceki langsung di vlognya ya, Kaaaakkk ???.

https://www.youtube.com/watch?v=fCPGPHz9zhc