Giving Up Your Prejudices

 

“Kok rasanya banyak banget ya orang Cina di sini?”

Suami saya nanya, “Mana orang Cinanya?”

“Tuh, anak-anak kecil lagi.” Tunjuk saya kepada tiga orang anak kecil yang lagi menjajakan sapu tangan lusinan yang dibandrol seharga 5-10 riyal per gulungan.

“Itu bukan orang Cina. Itu orang Afghanistan!”

Etnis Hazara dari Afghanistan bagian tengah (gambar : commons.wikimedia.org)

Etnis Hazara dari Afghanistan bagian tengah (gambar : commons.wikimedia.org)

Lah? Kok bisa? Saya tahunya orang-orang Afghanistan secara fisik kebanyakan mirip dengan orang Arab. Agak beda dengan Pakistan yang condong ke fisik orang India. Iya nih, sampai sekarang masih enggak pandai membedakan antara orang Pakistan dan orang India :D.

Macam mana ada orang Afghanistan matanya sipit-sipit walau hidungnya mancung. Orang-orang dengan ciri begini mudah sekali ditemukan di seantero Kota Jeddah, bahkan mungkin di kota lain di Arab Saudi. Umumnya memang beprofesi sebagai pekerja informal atau (maaf) pekerja kasar. Anak-anaknya malah banyak yang jadi pengemis :(.

Salah satu penjaga gerai kerudung tempat favorit madam-madam Jeddah di Bab Shareef itu kami juluki sebagai “Tau Ming Se” . Mas-mas penjaga itu memang orang Afghanistan dengan ciri fisik mirip orang Cina tadi.

Kita sering cekikikan kalau nawar-nawar harga sama si Tau Ming Se ini :D. Dia enggak bisa bahasa Inggris, para madam bahasa Arabnya mentok di asara-asara doang hahaha.

Tidak salah asumsi saya soal ciri fisik mayoritas penduduk Afghanistan. Si “Tau Ming Se” dan teman-teman “arab sipit”nya yang memiliki ukuran tubuh rata-rata lebih mungil daripada perawakan orang Arab ini ternyata salah satu ras minoritas di Afghanistan. Tepatnya, minoritas yang dikucilkan. Mayoritas penduduk Afghanistan sendiri adalah etnis Pashtun.

Karena merasa “terpinggirkan” inilah, orang-orang Hazara banyak yang hengkang ke negara-negara lain.

Saya jadi tahu soal Pashtun-Hazara dan beberapa etnis lain di Afghanistan dan sepenggal problem sosial di sana dari salah satu bab di buku “Out of The Truck Box” karya Iqbal Aji Daryono :D.

buku iqbal

Tidak hanya tentang Afghanistan, menyerempet juga ke beberapa pengetahuan ringan soal orang-orang dari Chile, India, bahkan Macedonia.

Si Iqbal nih, gaul kaleeeeee :D. Kerja di kedutaan atau staf di badan sekelas PBB gitu? Enggak! Iqbal ini asli Jogya yang tergila-gila pada kampung halamannya tapi somehow harus hengkang ke Australia untuk sementara waktu. Menemani istrinya yang melanjutkan sekolah di sana.

Hingga akhirnya Iqbal terpikir untuk mencari kerja dan akhirnya berhasil menjadi seorang…supir truk! Anti mainstream bener, Kakaaaaa :D. Ngerti kan sekarang kenapa judul bukunya mesti bawa-bawa kata truk hahaha.

Indeed, dari pengalaman menghabiskan waktu di belakang kemudi itulah, Iqbal jadi ketemu banyak teman-teman sesama supir truk dari berbagai negara. Rata-rata pendatang dari negara-negara lain. Termasuk dari Irlandia, lho ;).

Yup, selain Amerika Serikat, Australia adalah “the dream land” bagi orang-orang dari dunia ketiga yang umumnya hendak mencari peruntungan yang lebih baik. Walau konon, dari hasil kepo-kepo Iqbal dengan salah satu rekan Indianya yang katanya seorang Punjabi, ada juga pendatang asal India yang merantau karena prestise semata.

“Out of The Truck Box” ini termasuk kategori buku traveling. Tapi bukan tentang tempat-tempat wisata keren atau traveling guide ke tempat-tempat menarik di Australia :D. Ini semacam memoar si penulis tentang hal-hal yang didapatinya saat jauh dari kampung halaman tercinta.

Gaya bahasa yang santai, di banyak halaman malah bikin ngikik-ngikik, sekilas akan membuat bukunya jadi kayak buku guyon. Tapi itulah yang selalu bikin saya sebal. Beberapa orang tertentu, punya 2 hal keren sekaligus : cerdas dan tukang bikin ngakak! :D. Tidak adilnya dunia. Susah kan ya itu. Jadi orang jenius sekaligus jadi orang yang lucu (walau belum tentu menggemaskan :p).

Tinggal di negara maju tidak membuat Iqbal serta merta langsung menganggap negeri asalnya hanya remah-remah dibanding negara besar selevel Australia. Saya senang, deh, cara Iqbal menggambarkan Australia vs Indonesia sebagai dua hal yang…berbeda! :).

Hal-hal yang dipujinya dari Australia tak harus membuat Iqbal mendadak sebal sama Indonesia ;). Banyak juga hal kurang menyenangkan yang merupakan imbas ‘kehebatan’ Negeri Kangguru yang menurutnya adalah sisi positif dari komunitas sosial di tanah air.

Good job! ^_^. Tak boleh lupa kacang pada kulitnya ;).

Walau banyakan nyengir, sering juga lepas satu bab, saya berhenti dulu. Menertawakan hal yang diceritakan sekaligus jadi tercenung.

buku iqbal 2

Sepert misalnya bahwa negara-negara maju nan sekuler menjadi pilihan-pilihan utama bahkan bagi pengungsi dari negara-negara mayoritas muslim bukan fakta yang menyenangkan, ya :(.

Saya sendiri heran, berbondong-bondong orang Pakistan berusaha keras menembus Eropa barat-Kanada-US-Australia demi apa yang mereka sebut sebagai “better life” atau “good future for our kids”.

Bahkan sekadar untuk merebut posisi-posisi sebagai pekerja informal. Iya sih, di negara-negara maju, sudah rahasia umum jika “pekerja kerah biru” pun bisa hidup layak dan “dimanusiakan” sebagaimana mestinya. Seperti kata Buya Syafi’i Maarif, keadilan sosial yang begitu keras diperintahkan oleh Alquran justru begitu sulit terwujud dalam komunitas muslim hampir di mana pun :'(.

Jangan buru-buru tunjuk sana sini, yaaa :D. Solusinya tentu bukan sesuatu yang tidak rumit. Saya juga bingung mau berpikir gimana-gimana. Sanggupnya sebatas cukup dijadikan bahan renungan :).

Dari catatan-catatan ringan Iqbal yang dibundel dalam satu buku tadi, jadi terpikir bahwa merantau seharusnya menjadi ajang kenal-kenalan. Kenal untuk mendalami. Mendalami untuk memahami. Seharusnya, nyaris tak ada ruang untuk prasangka. Karena konon, prasangka itu justru lahir karena ketidaktahuan. Macam pepatah lama, tak kenal maka tak sayang :D.

Namun, tak semua kita bisa mendapatkan kesempatan emas untuk menyorot dunia secara langsung di belahan bumi yang lain. Enggak otomatis membuat kita berhak untuk merasa picik dong, ya. Itulah gunanya membaca macam-macam ;). Saya sendiri belum pernah ke Australia hehehe :p.

Pepatah lama, buku adalah jendela dunia. Bolehlah sesekali kita keliling dunia dengan membaca buku ^_^. Termasuk mengintip kondisi sosial di banyak tempat lain via hasil kepo-kepo si supir truk satu ini.

“Out of the Truck Box” terbit awal bulan ini dan akan segera beredar di toko-toko buku di tanah air minggu depan. Kalian punya waktu semingguan untuk mikir mau beli atau … pinjam! Hahaha.

“It is never too late to give up your prejudices”
― Henry David Thoreau

Selamat membaca ;).

buku iqbal 3

4 thoughts on “Giving Up Your Prejudices

  1. Bener banget. Aku pernah jalan sekeluarga ke Sumatra Utara dan kami takjub karena orang Batak di tanah kelahirannya itu ternyata lembut dan sopan tutur katanya. Bahkan lebih halus dari kami yang orang Jogja. Kita kebanyakan menempelkan stereotype mereka berdasarkan hal2 yg populer spt pengacara2 artis & politikus dr etnis tsb, sopir2 angkot di Jkt, dsb.

    • Kakak iparku Batak lho Mak hihihi. Mandailing tapiiii, bukan yang batak Karo. Aih, lembut memang pembawaannya. Tapi kata abangku keras kepala juga kalau ada maunya hahahahaha. Soal tingkah laku sehari-hari masih lebih galak saya katanya :D.

  2. Haha, menikung tajam. Saya kira mau bahas orang2 Hazara, taunya bahas Bukunya Si Mantan Sopir Truk.

    Seolah2 seperti Karya M. Night Shyamalan, atau From Dusk Till Down-nya Tarantino.

Comments are closed.