Biografi Chairil Anwar , Review Buku : “Bagimu Negeri Menyediakan Api”

Biografi Chairil Anwar yang ditulis dalam sebuah buku terbitan Tempo.

Judul Buku :
Chairil Anwar, Bagimu Negeri Menyediakan Api

Chairil Anwar, bener-bener cerminan seorang ‘bad boy’ di masanya. Something that most people had already known? Hehehe.

Saya cengengesan begitu tahu latar belakang istilah “Bung, Ayo Bung” yang dilontarkan Chairil saat ada teman yang bertanya jargon yang pas untuk poster penyemangat perjuangan yang memasang foto tokoh-tokoh pergerakan.

Halamak 🙈🙈🙈😜😅.

Penggalan puisinya masih sering dikutip di mana-mana sampai sekarang, dua diantaranya : “Sekali berarti, sudah itu mati” dan “Nasib adalah kesunyian masing-masing”.

Buku ini salah satu seri Buku Tempo. Sebelumnya saya sudah pernah baca lengkap yang 4 serangkai Bapak Bangsa (Soekarno, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, dan Tan Malaka). Yang 4 ini bagus-bagus, euy.

Kalok wartawan memang punya cita rasa diksi yang agak beda hehehe. Gak terlalu banyak kata meliuk-liuk tapi enak banget dibacanya ^_^.

Tapi yang seri Chairil Anwar ini agak beda dengan yang empat tadi. Mungkin karena kisah hidup Chairil yang tidak seutuh keempat tokoh itu. Jadi isinya melompat-lompat membahas narasumber cerita yang berganti-ganti dengan cepat.

Kurang mengalir jadinya. Jadi kayak ngumpulin keterangan dari sana sini, comot dari berbagai sumber yang kisahnya terlalu sepotong-sepotong.

Tetap menarik sih buat tahu biografi penyair pelopor Angkatan 45 ini (y).

Ternyata, Chairil Anwar berasal dari keluarga terpandang. Beliau juga keponakan dari Si Bung Kecil, Sutan Sjahrir.

Syair-syairnya bukan hanya tentang pergolakan di masa pendudukan Jepang dan agresi militer Belanda (1947/48). Sebagian besar masyarakat mungkin tahunya Karawang Bekasi, Diponegoro, dan Aku.

biografi chairil anwar

Tapi ternyata Chairil juga punya puisi-puisi yang berkisah tentang cinta-cintaan. Asyik-asyik puisinya ya ampun, bukan yang model jadul-jadul begitu. Kurasa generasi sekarang pun bisa dibikin baper sama puisi-puisi beliau ;).

Inspirasi dari kemampuan Chairil Anwar merangkai kata yang lumayan ‘eksentrik’ di masanya ini yang menjadi salah satu penyebab utama lahirnya Angkatan 45, melepaskan diri dari era sebelumnya, Angkatan Pujangga Baru.

Di buku ini ada beberapa puisi-puisi beliau selain yang 3 judul yang sudah terkenal itu :D. Nanti baca sendiri aja, yes? 😉

Beberapa kali penyair ini juga mengalami masalah percintaan. Ish, yang kek begini pasti naksirnya banyak cewe dah hahahaha :p. Sebagian diabadikan dalam puisi.

biografi chairil anwar

Tipe-tipenya gitu kan, kesannya cuek, acak-acakan, pandai menulis puisi (pandai bermain kata), perokok berat pula. Ck ck ck bener-bener daku kagak pernah dah naksir sama yang model begini :p.

Dulu kusebel banget sama tokoh Arya Dwipangga (dan Nari Ratih!) di Tutur Tinurlar. Kalian udah lahir belom pas era sandiwara radio gini-gini, Gaeesss? 😝😝

Tidak habis pikir sama ciwi-ciwi yang bisa naksir lakik gara-gara jago bikin puisi doang zzzzz -_-. Sorry, no offense :p.

Salah satu kisah patah hati Chairil yang kandas gara-gara tiada restu dari orang tua sang kekasih muncul dalam salah satu puisinya, “Yang Terampas dan Yang Putus”. Judulnya aja udah sedih begitu ya :(.

Chairil ternyata pernah menikah (walau kemudian bercerai) dan punya anak perempuan.

Beliau meninggal di usia yang sangat belia, 27 tahun :(. Komplikasi dari banyak penyakit akibat hidup yang tidak teratur, keuangan juga selalu bermasalah karena beliau tidak suka kerja kantoran yang mengikat, dan tentunya … perokok kelas berat.

Andai hidup di masa sekarang, beliau mungkin sukses jadi penulis lepas di berbagai situs online :D. Atau punya blog sendiri ato bikin fanpage atau posting puisi di IG terus jadi endorser? Hihihi.

Hayoooo, yang suka menuduh era digital ini banyakan sisi negatifnya? :p.

Yang menarik, Chairil berpendapat menulis puisi itu tidak boleh berdasarkan mood semata. Harus ada kerjasama pikiran yang logis dst dst. Jadi puisi pun juga berproses, beliau suka mengedit puisi-puisinya jadi bukan yang sekali jadi gitu.

Saya bingung kok masih ada saja yang memperdebatkan peranan beliau dalam masa kemerdekaan? Ayolah, perjuangan tidak harus di jalur pedang dan diplomasi. Kontribusi beliau pun tidak boleh dipinggirkan hanya karena dianggap “nulis doang” :(.

Overall, 3 bintang (out of 5) dari saya untuk buku ini. Still worth a try, kok (y). Bukunya tidak tebal, tergolong bacaan ringan.

Selamat membaca 😊.



Novel Arus Balik (Pramoedya Ananta Toer) : A Review

Sempat kuberprasangka di awal membaca novel Arus Balik ini, apakah penulis hendak mendiskreditkan Islam?

Berbagai scene yang ditulis, misalnya pembuangan patung-patung gajah yang dianggap “keramat” buat Hindu ke pesisir laut saat tentara muslim Demak menyerbu pesisir Jepara, yang merupakan wilayah Tuban.

Sebagian besar tentara Demak muslim tadinya beragama Hindu. Tergambar mereka enggan melempar patung-patung tersebut.

Pembaca dibuat paham bahwa pemimpin pasukan semata ingin mengobarkan semangat tempur walau terlontar kata-kata semacam, “Sudah percaya Allah, masih takut kepada patung orang kafir?”

Tapi cerita terus bergulir dengan banyaknya kisah perubahan tatanan hidup masyarakat ke arah lebih baik sejak Islam merambah ke Pulau Jawa (y).

Kerajaan Islam-Demak (gambar : guruips.com)

Penulis mengkritisi dengan cukup imbang:). Kritikan kepada praktik-praktik agama Hindu, ketidaksetujuan dengan beberapa praktik ala umat muslim, pujian kepada legowonya sebagian masyarakat Hindu menyambut kedatangan Islam, serta sanjungan kepada tokoh muslim yang benar-benar menggelorakan semangat Islam untuk melawan penindasan <3.

Sangat-sangat-sangat laaaaaffffff <3.

Novel Arus Balik, versi cetaknya sekitar 760 halaman. Diterbitkan oleh Hasta Mitra di tahun 1995. Membaca bukunya cukup 5 hari saja. Sungguh kutakjub dengan diriku sendiri hahahahaha.

Jangan gentar membaca sastra klasik karya Pram. Jauh sekali dari yang kebanyakan orang sangkakan.

Soalnya dulu baca “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk” agak-agak ‘mengantuk’ :p. Sementara di 2 novel Pram yang pernah saya baca (halamannya nyaris 1000 semua ck ck ck), lancar aja gitu sampai habis. Mengalir banget. Dua-duanya kelar dalam 4-5 hari (per buku).

Walau memang diksinya ‘jadul’, tapi sama sekali bukan tipe-tipe, “duhai Adinda yang alisnya bagai semut beriring” yang terasa gengges kalau dibaca sekarang-sekarang mah ???.

Pram tidak begitu.

Btw, tadinya saya tidak paham kenapa novel-novel Pram bertajuk ROMAN.

Satu-satunya definisi ROMAN yang saya tahu, ROMAN = kisah percintaan.

Ternyata ditengok di Wikipedia, ROMAN bisa pula = sejenis karya sastra dalam bentuk prosa atau gancaran yang isinya melukiskan perbuatan pelakunya menurut watak dan isi jiwa masing-masing.

Definisi ROMAN yang terakhir ini yang SANGAT PAS untuk novel Pram.

Mirip dengan “AROK DEDES”, “ARUS BALIK” adalah novel tentang sejarah nusantara. Kali ini mengenai awal kedatangan Portugis dan geliat kerajaan-kerajaan muslim di Pulau Jawa.

Novel Arus Balik
Ilustrasi Kapal Portugis yang sedang berlayar

Kebayang sukar sekali mengarang ala Pram yang mengambil sudut pandang buanyaaaakkk sekali orang-orang yang terlibat dalam pembentukan sejarah. Daku tidak terbayang flow chartnya ?.

Alur ceritanya tidak standar. Entah yang mana klimaks yang mana anti klimaks. Klimaks buat tokoh A, tapi awal cerita bagi tokoh B misalnya. Karena penulis cukup detail mengangkat persoalan dari banyak sekali pelaku sejarah.

Adipati Wira (Tuban) mungkin dicap pengecut dan berkhianat kepada Dipati Unus yang mati-matian ingin menghalau Portugis yang sukses merebut Malaka. Tapi di novel disajikan sudut pandang Adipati yang cukup masuk akal (y).

Perang memang sangat menyakitkan dan seringnya berakhir dengan kesengsaraan. Makanya banyak pemimpin yang terlihat lemah dan egois karena mati-matian menghindari perang.

Novel berpusat pada bagaimana chaosnya suasana di Jawa saat Portugis sudah bertahta di Malaka. Sikap pembesar kerajaan-kerajaan di Jawa terbagi.

Ada yang malah rusuh sendiri secara internal. Ada yang justru berambisi menguasai seluruh Jawa terlebih dahulu dan enggan mengusik Portugis di Malaka. Ada yang habis-habisan menggalang persatuan kerajaan besar di Jawa untuk bersatu menghalau Portugis.

Ada pula kerajaan/wilayah yang terpikir untuk bekerja sama dengan Portugis, yang juga terbagi 2 kubu : murni ingin menjalin kerjasama dagang DAN ingin bekerja sama sekaligus minta perlindungan Portugis dari ancaman dari kerajaan lainnya di Pulau Jawa.

Portugis bisa berkuasa begitu lama tanpa bisa digeser bukan karena Portugis terlampau kuat. Bukan karena teori konspirasi njelimet dan adanya sebuah kekuatan rahasia dari kelompok tertentu dst dst :p.

Selipan kisah Idayu – Wiranggaleng – Pada (Firman) juga melengkapi serunya novel Arus Balik ini. Another pewarna cerita utama –> dua syahbandar Tuban, Kyai Benggala dan Thalib Sungkar.

Bener-bener enggak mati gaya kisahnya berpacu sampai ratusan halaman. Macam-macam konfliknya. Termasuk betapa manusiawinya rasa sakit hati kalangan ningrat kepada kaum pedesaan/rakyat biasa yang bisa masuk ke barisan punggawa kerajaan.

Novel Arus Balik menyajikan lengkap sudut pandang dari mana-mana.

Baik buruk, hina mulia, perkasa lemah, adalah PERTARUNGAN yang ADA dalam setiap pribadi. Pilihan-pilihan yang harus dihadapi oleh siapa pun setiap hari.

Justru dari jalinan pribadi-pribadi orang per orang yang mungkin terjebak dari pilihan-pilihan yang ternyata kurang tepat inilah dimulai peristiwa-peristiwa besar macam perang dunia, kesengsaraan dll :(.

Jadi bukan konspirasi ini itu dan kaum anu yang ingin menghancurkan dunia yaaaaaa hehehe.

Dengan ketidaksempurnaan kita sebagai manusia, pertarungan-pertarungan ini seringnya tidak mudah. Something no hero will ever defeat :).

Selamat membaca :).

The Seven Good Years

“Kakak Perempuanku yang Hilang”, salah satu tulisan berkesan dari buku memoar ini.

Penasaran, yes?

Setelah membaca 2-3 kalimat di awal tulisan jadi paham “hilang”nya bagaimana. Kakak perempuan penulis bergabung dengan sekte ultra-ortodoks Yahudi dan tiba-tiba berganti penampilan dan kebiasaan hidup terutama setelah menikah.

Kaum perempuan biasanya menggunakan baju panjang yang menutup kepala hingga mata kaki, yang laki-laki tiba-tiba berjenggot dan “menghilang” dari pergaulan menghabiskan banyak waktu untuk berdoa dan berkumpul dengan “sesama mereka” dst dst.

Langsung merasa relate dengan kisah ini. Teringat fenomena “hijrah” di tanah air yang juga membuat saya juga merasa “kehilangan beberapa teman terdekat” .

the seven good years review buku Indonesia
Perempuan dari kelompok ultra-orthodoks Yahudi sedang membaca ( Gambar : dailymail.co.uk)

 

Mirip banget yah deskripsi “kembali ke agama” ala Yahudi-Ortodoks dengan tradisi “hijrah” edisi muslim terkini, setidaknya di tanah air kita.

The Seven Good Years, kumpulan tulisan seorang penulis Yahudi yang tinggal dan bermukim di Israel.

Bukan kisah-kisah parenting. Melainkan pengalaman-pengalaman ringan yang dihadapinya dalam rentang waktu 7 tahtun pertama kehidupannya setelah memiliki anak laki-laki, Lev.

Dari tulisan Keret, terbayang betapa sebenarnya semua pihak sama menderita dan tersiksanya akibat warisan kebencian yang turun temurun selama ratusan tahun ini .

Sebagai seorang Yahudi, seringkali Keret merasa tertekan dan penuh curiga saat berada di Eropa.

Di sebuah pub, Keret pernah terlibat perkelahian dengan seorang Jerman yang sedang mabuk hanya karena salah dengar. Prasangka buruk Keret mengira laki-laki tersebut sedang menghina orang Yahudi tapi ternyata TIDAK sama sekali.

Sekali lagi, cuma salah dengar.

Keret juga sering bertukar cerita dengan teman sesama Yahudi-nya tentang ketakutan-ketakutan mereka jika kelak dunia akan kembali dipenuhi semangat anti-Semit. Bagaimana mereka akan menabung sebanyak mungkin agar bisa lari ke tempat yang aman dan nyaman.

Bagaimana ritual mereka untuk tetap membuat sang anak nyaman saat bunyi sirine tanda bahaya berbunyi saat mereka lagi mengendara di jalan. Di Israel hal seperti ini sangat umum.

Sirine tanda bahaya bisa tiba-tiba berbunyi dan semua orang harus tiarap dan bom pun jatuh berdentum, entah di mana. Bisa dekat, bisa jauh.

Keret juga merasa sangat tidak nyaman saat berada di taman bermain dan mendapati ibu-ibu saling bertanya, “Apakah anakmu kelak akan jadi tentara?”

Ternyata, pembicaraan semacam ini sangat biasa di Israel.

Israel, satu diantara sedikit sekali negara di dunia yang memiliki aturan WAJIB MILITER bagi seluruh warga negara baik laki-laki dan perempuan.

Beberapa tulisan juga membahas mengenai asal usul orang tua Keret yang berasal dari Polandia. Bagaimana kedua orang tuanya terusir dari sana pasca melewati hari-hari yang berat di masa Jerman-Nazi menyerbu ke negara-negara tetangganya termasuk Polandia.

Dari tulisan-tulisan ringan ini juga kita mendapatkan informasi mengenai hari-hari suci umat Yahudi seperti Yom Kippur dan Sabat.

Ada juga catatan ringan mengenai perdebatan Keret, istrinya, anak mereka dan ibu Keret tentang game Angry Birds hehehe.

Keret menyesalkan sikap ayahnya yang dianggapnya terpenjara dengan cerita turun temurun mengenai kebencian. Keret ingin kita semua lebih proaktif menciptakan masa depan yang lebih cerah, alih-alih mengenang masa lalu yang sudah usang.

Keret salah satu penulis Israel yang giat mengkritisi pendudukan Israel di tanah Palestina. Karena keberpihakannya pada perdamaian di tanah konflik Timur Tengah, Keret lumayan bisa diterima di negeri-negeri mayoritas muslim. Pernah diundang ke Bali segala, lho .

We need to read something like this. Melihat dari sisi lain. Banyak miripnya ajaran Yahudi dengan Islam secara agama.

Etgar Keret (gambar : huffingtonpost.com)

 

Misalnya ada kosher, daging/makanan halal versi Yahudi. Kosher ini oleh sebagian ulama Eropa dianggap HALAL pula buat kaum muslim .

Kembali ke tulisan “Kakak Perempuanku yang Hilang”, Keret menunjukkan satu pesan penting. Meski didera ketakutan mengenai perubahan ekstrim yang terjadi bagi orang-orang yang dianggap “hilang”, Keret punya sudut pandang sendiri.

Menurut Keret, “Aku tidak punya Tuhan, tetapi kakakku punya, dan aku mencintainya, jadi aku mencoba untuk menunjukkan hormat.”

Di masa-masa frustrasi saat ditinggal pergi oleh gadis pujaan hatinya, Keret mendatangi kakaknya di pemukiman Ortodoks. Keret memohon kakaknya untuk mendoakan agar gadis tersebut kembali kepada Keret.

Kakaknya bilang tidak bisa, itu bukan doa yang benar. Tapi kakaknya berjanji akan berdoa setiap hari agar kelak Keret bertemu perempuan lain yang akan membuatnya bahagia.

Sepuluh tahun kemudian, itu benar terjadi. Keret percaya, doa kakaknya telah dikabulkan Tuhan.

We can still love and respect each other terutama dengan orang-orang terdekat kita pasca “perubahan”.

Terlepas dari prasangka dan ketakutan (yang mungkin sebagian besar tidak perlu atau karena tidak paham saja), kita masih bisa berkasih sayang dalam perbedaan .

Semoga lebih banyak orang-orang seperti Keret atau siapa pun yang berupaya untuk berbicara lebih kencang mengenai perdamaian dalam permusuhan panjang di konflik Israel-Palestina.

Saling berbagi apa yang dirasakan, apa yang dilewati, dari sudut pandang masing-masing. Surprisingly, banyak persamaan yang bisa didapatkan.

Siapa pun bisa bersuara yang sejalan, seperti saintis Albert Einstein sekali pun yang pernah berujar, “Peace cannot be kept by force; it can only be achieved by understanding.”

Saling memahami adalah koentji ???.

Dear, River …

I didn’t see this coming. Baru membaca di bagian “Sungai Kisah yang Mengalir ke Arahmu” lah kok udah mewek aja. Di tempat umum begitu ya masa mau nangis-nangis. Gengsi amat hahahaha. Padahal itu baru TULISAN PENGANTAR! *panik*.

Sungguh keputusan yang gegabah membawa buku ini buat dibaca santai waktu nemenin anak-anak ke playground di suatu minggu sore yang cerah. Sambil duduk ngeliatin anak-anak main, maksudnya mau duduk-duduk manja sambil baca buku ini aja biar enggak bosen-bosen amat. Karena bapaknya juga nemenin anak-anak maen bola –> this is why, perhaps we need to have another girl in this family! #ehGimana.

Sejujurnya dulu sekalian beli #dearRiver untuk optimasi ongkir aja sih pas beli buku “Berjalan Jauh”. Kedua buku ini penulisnya SAMA.

Karena terkesan banget dengan “Berjalan Jauh”, makanya cepat-cepat pengin baca #dearRiver ini.

buku parenting

#DearRiver kumpulan tulisan Fauzan Mukrim buat putranya, River. Mirip dengan “Berjalan Jauh” tapi tulisan-tulisannya beda semua. Jadi ini 2 BUKU YANG BERBEDA. #DearRiver ditulis sebelum River lahir.

Selama ini kita sering terjebak dengan mengunci parenthood sebatas motherhood saja. Father-nya gimanaaaaaa?

Beban pendidikan anak, secara sosial, lebih sering dibebankan kepada Ibu. Padahal, peran Bapak/Ayah ya sama pentingnya.

Para suami dan calon ayah pun sebenarnya punya kegelisahan, deg-degan plus takut jugak mau punya anak dst dst dst dengan intensitas yang kurang lebih sama dengan para istri dan calon ibu. Mungkin selama ini para suami dan calon Ayah lebih suka memendamnya dalam hati. Untunglah ada Ayah Fauzan Mukrim yang mau membagikan isi hatinya kepada kita :).

Sudah macam masokis baca buku ini. Baca, nangis, baca, nangis, baca, nangis. Tapi gak kapok-kapok.

Esai “Ketika Kau Sakit” pedihnya dobel. Karena selain bernostalgia dengan paniknya kita di masa-masa anak sakit, Fauzan juga bercerita tentang posisinya sebagai anak. Membahas orang tua juga. Jadi yah, sebel karena gosok-gosok mata terus padahal lagi perawatan pakai eye cream biar kerutannya tidak memburuk. Bagusnya memang buku ini dibaca dengan wajah polos. No skincare at all. Percuma jugak. Pasti luntur semua, Cyiiiiin -_-.

Tidak sedikit pembahasan tentang orang tua karena Fauzan Mukrim banyak berkaca dari orang tuanya sebagai memori untuk bekal membesarkan anak-anaknya kelak. Karena itulah kita tidak boleh ngasal-ngasal, ya, membesarkan anak karena pengaruhnya bisa sampai jauh ke depan sana.

“Ibu Juga Ingin Naik Haji” misalnya. Indah sekali. Luar biasa ibunya, Kak. Kirim salam, ya <3.

Tentang Bapak juga banyak.

Almarhum Bapak saya meninggal waktu saya masih SD. It’s been while. I started to forget things about him or at least never really think about it anymore. Udah lama banget ya rasanya. Sampai kadang ada beberapa yang akhirnya lupa sendiri. Tapi beberapa tulisan ndi #dearRiver makes them all coming back to me … once again.

Saya rindu sekali jadinya sama almarhum Bapak. Walau cuma punya satu foto, saya tidak pernah lupa pada wajahnya yang ganteng hehehe <3.

Tidak sedikit istri yang mengeluh, kalau laki-laki akan atau sudah punya anak, istrinya entah tarok di mana. Tapi Fauzan Mukrim menyelipkan tidak sedikit kisah-kisah tentang sang istri. Romantis plus terharu di tulisan “Enam Tahun dan Dua Tahun.” Kebayang dulu bininya digempur terus pakai esai-esai di masa pedekate *uhuuuyyyy*.

“Pulang Memancing” melayangkan ingatan ke masa-masa bekerja dulu. Bisa-bisanya ni Ayah Fauzan menuliskan pengalaman bermacet-macet ria yang bisa bikin kita …. ya nangis lagi! Hahahahaha. Geblek, ah. Nangis mulu :p.

Banyak kisah-kisah tentang orang-orang lain di luar kerabat dan teman dekat dari penulis. Tentang seorang tamu yang datang ke kantor di suatu hari di tulisan “Tangan dan Jari-jarinya”. Atau tentang Pak Mansyur yang luar biasa di esai “Guru”.

O ya, diksi atau pemilihan katanya bagus banget, euy. Mungkin karena efek profesi wartawan. Sedih tapi enggak dangdut gitu lah hehehe. Gimana ya neranginnya. Baca sendiri aja dah hehehehe.

Gaya menulisnya juga sangat jenaka. Kesel kan, dibikin gila kita jadinya. Nangis-nangis tapi ketawa jugak. Sudah sedih-sedih membayangkan perasaan orang tua kalau anaknya lagi sakit, ada pula kalimat model begini … “Lemas seluruh badanku, Nak. Satu dua lagu yang aku nyanyikan untuk menghiburmu tidak kau gubris. Kau hanya memandangku lemah seolah-olah aku ini peserta Indonesian Idol yang sebentar lagi dieliminasi.”

“Tertawa  Seperti Pocoyo” juga tulisan model begini. Mewek iya, ngakak iya. Ya makanya bacanya pas lagi sendirian aja hihihi.

Satu lagi, potongan-potongan lirik yang ngawur di “Misheard Lyrics” … bisa dibantai kau sama anak Jaksel, Bang Fauzan, hahahahaha.

Di sebuah seminar parenting yang pernah saya hadiri (pesertanya sebagian besar ibu-ibu), fasilitator bertanya kepada kami, “Ibu-ibuuuu, anak itu banyak meminta atau banyak memberi.”

Tanpa dikomando, jawaban kompak kami bergema di seluruh ruangan, “Memintaaaa…”

Ah, kita, para orang tua, suka terkecoh. Kan ada juga tuh kisah-kisah yang mengatakan kalau orang tua adalah malaikat buat anak-anak mereka. Padahal, merekalah malaikat-malaikat kecil yang dihadirkan di dunia untuk membawa kebahagiaan untuk orang-orang di sekitarnya. Jangankan membayangkan bila Tuhan mengambil kembali titipan terindahnya ini, melihat mereka sakit saja, nyawa rasanya sudah hilang separuh.

“Hadirmu semacam power supply baru dalam kehidupanku. Karena setiap aku melakukan atau memikirkan sesuatu untukmu, Nak, dengan sendirinya aku pun merasa semakin menyayangimu. Apa namanya itu? Accelerated Happiness? Mungkin semacam rasa bahagia jika bisa memberikan benda kepada orang lain, alih-alih bersedih karena benda itu lepas dari tangan kita. Rasa bahagia itu yang tak akan pernah bisa dikalkukasi dengan hukum ekonomi yang mendewakan aset dan kepemilikan.” -Fauzan Mukrim, #dearRiver-

Enggak peduli lagi deh Pakde Agus Amrullah bakal berkoar-koar tentang chauvinisme bla bla bla (hahahaha), I  give 5 out of 5 stars for this book!  <3

Terima kasih Ayah Fauzan yang sudah menulis buku indah ini <3. Ditunggu banget buku #dearRain nya, harus adil dong Ayaaaaahhhhh ;).

Note : bukunya bisa dibeli via River’s Corner, ya.

iqbal aji daryono

Review Buku “OUT OF THE LUNCH BOX” : It’s All About The Third Option

“Iqbal itu cebong apa bukan, sih?” Hahahaha.

Seriiiiiing banget dapat pertanyaan seperti itu dari teman-teman sesama cebbie di jagad maya yang lagi ribut-ributnya jelang 2019 ini.

Anyway, DOES IT MATTER????

Yak, beginilah kondisi sebagian kita yang entah kapan mulainya sering terjebak dengan kubu-kubuan politik. Kalau bukan cebong ya dianggap “kubu sebelah” .

Iqbal Aji Daryono, salah seorang penulis aktif versi media sosial, terutama di Facebook. Memahami Iqbal ini memang agak sukar kalau hanya membaca satu dua tulisannya saja.

“Out of The Lunch Box” ini merupakan buku terbarunya. Berisi kumpulan tulisan-tulisan Iqbal di berbagai media online yang topiknya relatif NON-ALAY dengan topik-topik lumayan serius seputar sosial, politik, dan agama.

Iqbal Aji Daryono

Dulu pernah nerbitin buku “Out of The Truck Box” jugak.

Semuanya sudah pernah dia share di wallnya kok. Tapi ternyata buanyak bangeeeet. Saya saja yang rasanya jarang ketinggalan ikut bertempur di status-statusnya (hahaha) merasa belum pernah membaca sebagian tulisannya.

Jangan takut duluan. Topik serius nan bikin pening kepala apa juga kalau Iqbal yang nulis bisa jadi ringan dan mudah dipahami. Kalimat-kalimatnya sederhana dan tidak ribet. One thing about him yang bikin saya kesal itu karena Iqbal orangnya pinter tapi enggak sok pinter. Kesal karena IRI hahahaha.

Seringnya kan kita-kita yang kalangan medioker ini, pinter enggak tapi udah kek paling tahu sedunia *tutupMuka*.

Tetap saja, saya butuh lebih dari seminggu untuk membaca buku ini. BUKAN karena isinya kurang menarik.

Agak-agak gimana gitu ya membaca tulisan-tulisan Iqbal dalam cetakan buku. Selain karena mungkin kita sudah terbiasa membaca langsung di wall FB-nya Iqbal, ternyata jangan-jangan kita lebih menikmati komen-komennya hahaha.

Kalau di medsos, bisa lebih interaktif, komunikasi dari berbagai arah, karena siapa saja dan kapan saja bisa berantem … eh berkomentar . Bisa tuker-tukeran argumen. Bisa langsung mengamuk saat itu juga kalau tidak setuju hahahaha.

Iqbal aji daryono penulis
Foto : shiramedia.com

 

Nah, kalau baca buku jadinya gini. Baca satu esai, gemes sendiri tapi bingung mau ngomel ke siapa. Jadi kadang butuh waktu buat misuh-misuh sendiri sebelum lanjut ke esai berikutnya.

Selain itu juga, walau bahasanya santai, kesannya tetap dalam jadi ada waktu buat menghela napas juga padahal kayak diajak becanda aja sama yang nulis .

Nah, terkait dari kubu-kubuan yang saya sebut di awal tadi, mungkin itu yang pengin diluruskan oleh Iqbal. Semacam menawarkan “pilihan ketiga” –> inti dari opini-opininya dalam OOTLB.

Pilihan ketiga ini mungkin semacam perspektif yang beda dari 2 hal yang sudah terlanjur nancep dalam pikiran kita. TIDAK CUMA SOAL CEBONG-CEBONGAN lho ya. Spektrumnya lebih luas ini yang dibahas dalam buku.

Tulisan “Buya Syafii dalam Kepungan Masyarakat Hitam Putih” menjadi tulisan pembuka yang mayan tektok untuk menyindir kalian-kalian yang dikit-dikit “Pasti lo pendukung anu!” atau “Dasar lu hater” dst dst dst. Termasuk gue pastinya hahahaha.

Pilihan ketiga, bisa juga berarti perspektif yang lebih lengkap jadi tidak melulu harus “pro banget-banget” atau “anti abis-abisan”. Iqbal sering berusaha untuk “Gini lhoooo duduk persoalan sebenarnya, yuk kita lihat detailnya sama-sama yuuuuk …”

Tulisan “Membaca Langkah Marketing Anies Baswedan” menjelaskan secara runut dan logis tentang APA yang sebenarnya terjadi. Sesuatu yang ternyata biasa-biasa saja kok ya dalam langkah-langkah politik standar .

Ah ya, gaya bahasa dalam buku tidak dibikin baku, tetap dalam bahasa Fesbuk yang santai penuh haha-hihi. EYD-nya juga entah ke mana ha-ha-ha –> contoh penulisan “hahaha” yang benar .

Opini-opininya oke punya walau menurut saya, beberapa agak terburu-buru ya kesimpulannya. Ada beberapa hal yang masih bisa didiskusikan di tulisan “Lah, Kalian Mau Rekonsiliasi, Apa Mau Perang Lagi?”. Gemes, gemes, gemes, pengin protes! Tapi ini kan mau review yak bukan mau ngajak berantem hahahaha.

Apalagi tulisan-tulisan semacam “Program Darmawisata untuk Aktivis Antirokok” ituuuuu ck ck ck -_-.

Tenang sih, tidak semuanya setegang itu kok isinya. “Empat Percakapan Tentang Topi Sinterklas” itu bikin ngikik polllll . “Cerita Pelipur Lara Untuk Para Haters Malaysia” juga semacam esai ringan yang lumayan rileks .

Total ada 40 esai dalam buku ini.

Iqbal ini terbukti cukup open minded, kok . Tengok aja di wallnya itu tempat berkumpulnya pro rokok dan anti rokok. Ada cebbie level kronis, ada pendukung fanatik toko sebelah. Ada yang jilbab gede ada yang jilbab tapi skinny jeans (hihihi) semuanya bisa diajak becanda sama Iqbal .

iqbal aji daryono

Jangan takut bakal membaca opini aneh-aneh. Dirasa aneh-aneh pun ya terus kenapa? Tenang saja, membaca sesuatu yang berbeda dengan keyakinan kita tidak ujug-ujug bikin kita jadi kurang beriman atau semacamnya lah hehehe. It won’t make you less confident as well .

“There is nothing wrong with listening. You can listen to people; you can hear people’s concerns. You can keep an open mind and still be perfectly strong.” Bill de Blasio

Bukunya diterbitkan oleh penerbit Shiramedia. bisa didapatkan dari toko buku Togamas terdekat atau beli online, misalnya saya belinya kemarin dari toko buku online yang ini –> Erin Cipta, Buku, dan Madu.

Jadi, sebenarnya … Iqbal itu cebong apa bukan, nih? Hahahaha, go ask him yourself  … –> Iqbal Aji Daryono

Selamat membaca .