How Islamic are Islamic Countries ?

Belum lama berlalu ketika saya membaca status seorang teman yang terdampar di Kuwait. Sebelumnya, teman bersama suami dan anak-anaknya tinggal di salah satu negara Eropa Timur. Teman saya ini bukan orang biasa-biasa saja.

Namanya pernah menjadi hits di beberapa media cetak karena kesuksesannya berdakwah di Negeri Non Muslim dan membawa belasan perempuan mengucapkan kalimat syahadat untuk pertama kalinya :). Semoga Allah berkenan mengampuni dosa-dosa beliau sekeluarga :).

Ada apa dengannya di Kuwait?

Teman saya mengalami benturan budaya yang luar biasa. Dia terkaget-kaget. Sementara saya tersenyum-senyum membaca statusnya. Sebagai alumni Jeddah, kota terbesar nomor 2 di Arab Saudi, saya tidak heran sedikit pun membaca ‘kegalauan’nya. Been there, done that.

How islamic are islamic countries

Gambar : britannica.com

***

“How Islamic  are Islamic Countries” adalah sebuah penelitian lama yang hasilnya dipublikasikan tahun 2010 silam.

Berikut kutipan dari kompas.com (http://nasional.kompas.com/read/2011/11/05/09034780/Keislaman.Indonesia) :

Sebuah penelitian sosial bertema ”How Islamic are Islamic Countries” menilai Selandia Baru berada di urutan pertama negara yang paling islami di antara 208 negara, diikuti Luksemburg di urutan kedua. Sementara Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim menempati urutan ke-140.

Adalah Scheherazade S Rehman dan Hossein Askari dari The George Washington University yang melakukan penelitian ini. Hasilnya dipublikasikan dalam Global Economy Journal (Berkeley Electronic Press, 2010). Pertanyaan dasarnya adalah seberapa jauh ajaran Islam dipahami dan memengaruhi perilaku masyarakat Muslim dalam kehidupan bernegara dan sosial?

Ajaran dasar Islam yang dijadikan indikator dimaksud diambil dari Al Quran dan hadis, dikelompokkan menjadi lima aspek. Pertama, ajaran Islam mengenai hubungan seseorang dengan Tuhan dan hubungan sesama manusia. Kedua, sistem ekonomi dan prinsip keadilan dalam politik serta kehidupan sosial. Ketiga, sistem perundang-undangan dan pemerintahan. Keempat, hak asasi manusia dan hak politik. Kelima, ajaran Islam berkaitan dengan hubungan internasional dan masyarakat non-Muslim.

Setelah ditentukan indikatornya, lalu diproyeksikan untuk menimbang kualitas keberislaman 56 negara Muslim yang menjadi anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), yang rata-rata berada di urutan ke-139 dari sebanyak 208 negara yang disurvei.

***

Penasaran dengan hasilnya? Saya kasih sontekan sedikit. Selain Selandia Baru, urutan ke-2 hingga 5 ditempati oleh berturut-turut : Luxemburg, IRLANDIA *uhukUhuk*, Eslandia dan Finlandia. Negara dengan penduduk mayoritas muslim yang menempati urutan tertinggi adalah … Malaysia! Menempati peringkat ke-39.

Indonesia sendiri, sudah disebutkan dalam kutipan artikelnya, urutan ke-140. Arab Saudi? Di urutan ke 131.

Beberapa negara ‘penting’ dunia lainnya, misalnya Amerika Serikat, menempati urutan ke-25. Jepang di urutan ke-29 dan Jerman, salah satu negara terbesar di Eropa, di urutan ke-17.

Saya lahir dan besar di Indonesia yang konon merupakan “Negara dengan mayoritas penduduk muslim terbesar di dunia.” Pernah berkesempatan tinggal di Arab Saudi, “Negeri Penjaga Dua Kota Suci Umat Muslim Sedunia.”

Baru-baru ini berkesempatan liburan ke Kuala Lumpur, ibukota Malaysia, “Negara Mayoritas Muslim yang Berada di Peringkat Tertinggi.” Dan kini…saya berada di  Irlandia, peraih medali perunggu “Negara Paling Islami” :D. Fabiayyi alaa irabbikumaa tukadzziban :).

Kuwait sendiri urutannya tak terlalu buruk.  Bayangkan, teman saya saja yang terdampar di “Negeri Paling Islami no.48” bisa sebegitu stres-nya hehehe. Bagaimana dengan kita-kita yang pernah tinggal di Saudi, si peringkat ke-131? Madam-madam Jeddah, mana suaranya? Ahahhahahahaha.

***

Jujur saja, selama tinggal di Indonesia dulu, saya merasa biasa-biasa saja. Tidak pernah merasa terzalimi. Ya, kadang-kadang mungkin terselip sakit hati. Saya anggap wajar-wajar saja masalah muamalah di Indonesia. Mungkin kasarnya…pasrah.

Hingga akhirnya saya ke Jeddah. For me, Jeddah is better than Jakarta. ‘Gemerlap’nya sih mirip-mirip. Yang  namanya ‘gap’ antara si kaya dan si miskin menganga sedemikian lebar baik di Jakarta maupun di Jeddah.

Alasan pertama saya lebih senang di Jeddah karena beberapa hal. Bensin murah, mobil murah, penghasilan suami jauh lebih besar (daripada di Jakarta), enggak terlalu macet, kemana-mana terasa dekat, bahkan beberapa bahan pokok di Jeddah lebih murah daripada di Jakarta. Unbelievable.

How Islamic are islamic Countries

North Corniche – Jeddah

Belum lagi kesempatan untuk umrah sepuasnya. Tahun lalu dimampukanNya kami untuk naik haji. Di tahun terakhir kami di sana sebelum akhirnya dibukakan pintu rezeki di negara lain. Sekali lagi, Fabiayyi alaa irabbikumaa tukadzziban :).

Saya akui, secara umum perilaku orang-orang Arab di Jeddah cukup mengecewakan. Meskipun pengalaman pribadi saya tidak separah beberapa teman saya yang sudah sebegitu sewotnya sama orang-orang Arab hehehe.

Saya pun tak bosan-bosannya menuliskan bahwa beberapa episode-episode terbaik dalam hidup saya bertempat di Jeddah. Selama di sana, saya tergolong ‘yang paling bahagia’ hehehehe. Meskipun tak sedikit hal yang membuat saya selalu mengelus dada, “How come they call themself a moslem?”

Berusaha untuk selalu berfokus pada hal-hal yang menyenangkan, membuat 30 bulan pengalaman tinggal di Jeddah menjadi ‘rangkuman kenangan indah’. Ingat saja hal-hal luar  biasa yang selalu membuat saya bersyukur. Tak pernah luput mengenang Mekkah dan Madinah sebagai tempat-tempat terindah yang pernah saya datangi.

Begitu mudahnya dulu kami menghampiri kedua kota suci tersebut. Sementara tak sedikit umat Islam di Indonesia baru hanya sebatas memimpikannya saja. Bentar…hapus air mata dulu *drama-part :P*. Fabiayyi alaa irabbikumaa tukadzziban :).

Dulu, saya suka bertanya-tanya, mengapa teman-teman yang berada di Eropa bisa sebegitu ngebetnya tinggal di sana. Tak sedikit yang mencari-cari cara setelah lulus sekolah agar bisa tetap bermukim di sana.

Bahkan, ada yang sudah terpikir untuk menggadaikan status kewarganegaraannya. Ingin berganti warna paspor. Apa enaknya hidup berlama-lama dalam ‘kulkas”? :P.

***

Konon, bangsa Irlandia ini memang salah satu bangsa paling ramah di dunia. Selama lebih dari 3 bulan tinggal di sini, saya sudah membuktikan sendiri. Terpukau oleh keramahan mereka. Ada  juga yang rasial kok, saya pernah diteriakin di perempatan jalan, “Go home!” oleh seorang pria separuh baya.

Tapi santai saja. Orang-orang lain tidak ada yang peduli, tuh. Enggak penting memikirkan sebagian kecil yang kurang ramah.

Di Athlone, hampir tak ada pengemis. Kalau pun ada tunawisma, penampilannya enggak germbel-gembel amat. Di Jakarta, yang bilang Pajero bukan barang mewah ada, yang gembel jadi tukang semir sepatu tak kalah banyaknya . Di Jeddah, Ferrari bukan barang langka, tapi pengemis terpencar di berbagai sudut kota.

How Islamic are Islamic Countries

Athlone, perayaan St Patrick’s day

Fakta-fakta yang menguatkan pernyataan Ahmad Syafii Maarif dalam tulisannya yang saya share di status FB saya :

” …Bagi saya penggunaan perkataan ringkih terasa lebih puitis dan tajam, dibandingkan padanannya dalam istilah bahasa Indonesia.

Itulah sebabnya dalam tulisan ini perkataan ringkih digunakan. Benarkah Dunia Islam itu ringkih? Tanpa memerlukan data hasil riset yang mendalam, berdasarkan pengamatan umum saja, pasti jawabannya: benar! Kesenjangan sosial-ekonomi hampir merata di seluruh dunia Islam. Keadilan yang demikian keras diperintahkan Alquran tidak digubris oleh penguasa yang mungkin sudah menunaikan ibabah haji berkali-kali…”

Dulu sih, semasa di Jakarta dan Jeddah, bila mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari orang lain, tak pernah menjadi pikiran. Dimaklumi saja. Di Jakarta, sering dicuekin sama satpam di mal. Padahal kepada seorang Ibu yang turun dari mobil mentereng dengan berbagai aksesoris wah di badannya, tersenyum mengangguk setengah membungkukkan badan.

Hidupnya sudah cukup ‘berwarna’ dalam menjalani tugas sebagai satpam, tak usahlah menyimpan dendam yang tidak perlu.

Di Jeddah, pernah mendapat pengalaman pahit saat antre di kasir dalam toko di mal. Sebelumnya, saat 2 perempuan arab berdebat soal antrean, penjaga kasir dengan tegas melerai dan menunjuk ibu yang memang sudah datang lebih dahulu.

Giliran saya diselak orang Arab, saya protes, kasirnya malah diam seribu  bahasa. Ya, sudahlah. Saking sudah seringnya, sudah mati rasa ane hehehe.

Terdampar di tempat lebih jauh, berbaur di tengah-tengah masyarakat non muslim, dari ras yang secara fisik sangat berbeda pula, malah mendapat perlakuan yang sangat menyenangkan. Sepele, ya? Biarpun suami suka meledek saya yang dianggapnya, “Dasar kamu ini. Belum apa-apa sudah lebay soal eropa”, menurut saya ini bukan hal sepele :).

Setiap pagi mengantar anak ke sekolah, kami selalu berjalan kaki. Hampir 100% orang-orang yang berpapasan akan tersenyum menyapa, “Good morning.”  Di Jeddah, seringnya mendapat pandangan penuh tanda tanya, mungkin berpikir, “Prikitiwww, mbak-mbak TKW ini cakep juga, yak.” Ahahahahaha.

Di Athlone, saat mengantre di kasir setelah berbelanja barang-barang dapur dll di supermarket, semua orang mengantre dengan tertib. Bahkan, kasir benar-benar menunggu kita selesai mengemasi barang baru melayani customer setelah kita.

Awalnya saya sering gugup. Saking takutnya kalau mengganggu antrean, mau buru-buru masukin barang ke stroller + plastik + ransel, barang-barang malah berserakan jatuh ke lantai. Malunya minta ampun.

Tapi kasir cuma tersenyum, “That’s ok. Take your time.” Bahkan, ibu-ibu berambut kuning yang mengantre di belakang saya ikut memunguti barang-barang yang jatuh. Masya Allah. Sudah terbiasa diperlakukan bak TKW di tengah-tengah umat yang seiman, rasanya terharu diperlakukan seperti itu. Lebay? Whatever.

Kata-kata “thank you”, “sorry”, berhamburan begitu mudah dari bibir mereka. Jadinya saya pun, biarpun awalnya agak kagok, jadi terbiasa selalu ber “thank you” dan ber “sorry” ria :).

Di Irlandia, pajak memang termasuk tinggi. Biarpun gak setinggi di negara eropa lain pada umumnya. Tapi fasilitasnya juga enggak main-main. Jalanan dibuat senyaman mungkin. Angkutan umum sangat diperhatikan. Harga mobil sangat mahal. Bensinnya apalagi.

Tapi lihatlah, sebagian besar penduduk jadinya berbaur di trotoar jalan kaki atau dalam angkutan umum. Bagus juga ide pajak tinggi dan dikenakan secara proporsional. Agar si ‘tajir’ mikir-mikir kalau mau beli barang mahal dan yang kurang mampu tak terlampau tersakiti.

Sekolah gratis dengan fasilitas yang sangat memadai *nyengirLebar*. Malah, di selebaran pengumuman buat orang tua murid, ditulis jelas-jelas larangan untuk ‘tampil mewah’. Baju harus seragam. Seragam resmi terasa mahal? Kepala sekolah mempersilakan membeli di tempat lain yang lebih murah asal warnanya mirip.

Disebutkan dengan jelas jenis-jenis sepatu tertentu yang TIDAK BOLEH digunakan ke sekolah. Bahkan, kotak untuk bekal makan pun dianjurkan untuk sesederhana mungkin. Ini semua dituliskan secara resmi dalam selembar kertas yang dibagi-bagikan pada orang tua murid sebelum hari pertama sekolah si anak.

‘Attitude’ adalah landasan utama pendidikan anak-anak di usia dini. Saya perhatikan betul, guru-guru dan kepala sekolahnya sangat disiplin dalam masalah tingkah laku. Mereka tak terlalu peduli dengan kemampuan kognitif.

Tapi coba saja ada anak yang berani memukul temannya, kepala sekolah tidak segan-segan menarik tangan si anak dan menceramahinya panjang lebar dengan nada yang tinggi. Saya pernah melihat langsung.

Soal penampilan pun tidak ada yang heboh-heboh. Ada lah beberapa yang agak ‘gaya’ tapi bisa dihitung jari. Pede-pede saja kemana-mana pakai training pants + kaos + jaket + sepatu kets + ransel :D. Mbak-nya mau mendaki gunung, ya? Ahahahahaha.

Di Irlandia, dalam memperlakukan orang lain, people don’t really care whether you’re Catholic, Moslem or even you don’t believe in any religion at all :). Berperilaku sopan dan non diskriminatif adalah hal universal buat siapa saja.

Ajaran yang saya tahu pasti adalah landasan muamalah dalam Islam. Sadly, you can hardly see this in (most of) moslem countries. Ironically, pretty easy to see the practice in non-moslem countries. Tanya kenapa?

Memang, awal di Athlone, saya benar-benar teruji oleh udara dingin. Tapi tak lama. Baru 3 bulan tinggal di sini, rasa betah menerjang sedemikian kuat. Meskipun keinginan untuk mengganti status paspor sama sekali belum ada. Tapi saya ingin agar anak-anak saya suatu hari nanti melangkahkan kaki mereka sejauh yang mereka  bisa.

Saya doakan, semoga saya dianugerahkan kesehatan yang mumpuni (menjalani pola hidup sehat ala FC adalah salah satu ikhtiar saya dari sekarang untuk doa yang ini), tak perlu meresahkan anak-anak kelak, sehingga saya bisa menghabiskan sisa usia di negeri  kelahiran tercinta. Sampai akhir menutup mata. Amin :).

***

Kembali mengutip pendapat Profesor Komaruddin Hidayat (UIN Syarif Hidayatullah)

Hasil penelitian ini juga menyisakan pertanyaan besar dan mendasar: mengapa semarak dakwah dan ritual keagamaan di Indonesia tak mampu mengubah perilaku sosial dan birokrasi sebagaimana yang diajarkan Islam, yang justru dipraktikkan di negara-negara sekuler?

Tampaknya keber-agama-an kita lebih senang di level semarak ritual untuk mengejar kesalehan individual, tetapi menyepelekan kesalehan sosial. Kalau seorang Muslim sudah melaksanakan lima rukun Islam—syahadat, shalat, puasa, zakat, haji—dia sudah merasa sempurna.  Semakin sering berhaji, semakin sempurna dan hebatlah keislamannya. 

Pada hal misi Rasulullah itu datang untuk membangun peradaban yang memiliki tiga pilar utama: keilmuan, ketakwaan, dan akhlak mulia atau integritas. Hal yang terakhir inilah, menurut penelitian Rehman dan Askari, dunia Islam mengalami krisis.
***

Saya setuju sekali, kita terlalu sering menyepelekan ‘kesalehan sosial’. Pengalaman saya naik haji kemarin, selain menyisakan rasa haru yang masih terus berbekas hingga kini, terselip rasa kecewa yang mendalam.

Seusai wukuf,  jemaah biro haji kami keluar dari tenda ke arah jalan untuk  menuju stasiun kereta. Saya tercekat melihat suasana jalan raya yang sudah kosong dari para jemaah ‘haji koboi’ yang sudah kembali ke Mina/Musdalifah. Kotornya luar biasa. Bau pesing tak terkira. Ceceran makanan, botol minuman dan entah cairan apa itu *yucky* berbaur menjadi satu. Subhanallah, sampahnya tidak main-main.

Besoknya, saat akan tawaf ke Mekkah, jam 7 pagi kami sudah berjalan ke arah jembatan untuk menunggu taksi. Lautan sampah di mana-mana. Baunya pun sangat menyengat. Saya ingat saat itu sempat bergumam kepada suami, “Kebersihan sebagian dari iman.” Kebersihan tidak hanya menyangkut diri sendiri, tapi orang lain dan lingkungan sekitar, kan?

Saat sepi pun, kalau tawaf, saya sering memperhatikan ‘rusuh’nya keadaan di sekitar hajar aswad. Tidak pernah damai suasananya. Sikut-sikutan, teriak-teriak, dorong-dorongan. Itu cuma amalan sunnah, saudara-saudaraku.

Teringat pesan ustaz Syafiq yang mengisi ceramah pengajian di acara syukuran salah satu teman di Jeddah sebelum kami berangkat haji, “Jangan melakukan amalan sunnah dengan cara-cara haram.”

Malah, bagi sebagian muslim, yang penting : salat, zakat, puasa. Perlakuan kepada orang lain, gaya hidup sehari-hari, tidak akan mempengaruhi keislaman kita selama kita salat-zakat-puasa. Sadar tidak sadar, penyempitan makna “rahmatan lil ‘aalamin” dilakukan oleh kaum muslim sendiri.

Dalam salah satu ceramah, Cak Nun bertutur, “Apakah di sini anda bisa punya cara untuk mengetahui seberapa iman anda? Bisa nggak kita mengukur akidah? Bisa nggak kita mengukur, kita ini Islam atau belum Islam? Kalau engkau menjawab “bisa”, lho, itu rak cangkemmu? Lha atimu? (itu kan mulutmu, lha hatimu?). Kita tidak bisa menilai Islamnya orang, kita tidak bisa menilai sesat atau bukan kecuali MUI.” Ucapannya disambut tawa jamaah.

Ketika beberapa waktu lalu, saat ramai-ramainya pilkada DKI, saya berdebat dalam sebuah grup masalah akhlak vs aqidah. Seorang teman tak ragu-ragu menyematkan label ‘sekuler/liberal’ kepada saya? Untuknya, sebuah kalimat syahadat akan selalu berada di tempat teratas, jauh melampaui masalah-masalah yang berkaitan dengan kesalehan sosial.

Dia mengejek, “Lo lebih pilih manusia daripada Tuhan?”

Saya menjawab, “Pilihan yang mana? Memuliakan sesama manusia adalah perintah Tuhan.”

Untuk saya pribadi, sangat jelas. Islam itu seimbang dunia akhirat. Terlalu condong kepada salah satu hanya akan membuat keseimbangannya goyah. Pengalaman hidup di Jakarta, Jeddah dan kini Athlone membuat saya mensyukuri betapa ‘liberal’nya saya.

Sedangkan dalam hati saya selalu bersyukur saya dilahirkan sebagai seorang muslim. Dan selalu memohon agar Tuhan tidak akan memalingkan saya hingga akhir hayat nanti :).

Akhlak itu tidak kalah pentingnya dengan akidah. Kalau Anda berdakwah dengan mengatakan babi haram, ini itu adalah konspirasi, menolak nasi kotak hasil acara paskah terang-terangan di media sosial, memasang status publik tentang haramnya mengucapkan ucapan Natal dan mengutuk muslim lain yang tetap melumrahkan ucapan tersebut, apa iya mereka akan berbondong-bondong mengakui kebesaran keyakinan Anda?

Satu lagi dari Cak Nun yang mungkin bisa jadi bahan renungan, “Tuhan yang tahu akidahmu. Masyarakat butuh akhlakmu.”

Tugas kita sesungguhnya bukanlah untuk membawa seluruh umat manusia untuk  bersyahadat bersama dalam satu bendera penafsiran yang sama (Sunni? Syiah? Wahabi? Salafi?). Tapi untuk menunjukkan (bukan menghakimi apalagi mengancam) bahwa : Islam = rahmatan lil aalamin.

Bahkan rasulullah pun menekankan dirinya HANYA sebagai PEMBAWA PERINGATAN dan PENJELASAN. Bukan pemegang daftar siapa yang masuk surga siapa yang masuk neraka, kan?

Katakanlah, “Wahai manusia! Sesungguhnya aku bagi kalian hanyalah pembawa peringatan dan penjelasan.” (QS. al-Hajj [22]: 49).

Alquran, adalah petunjuk dan rahmat. Bukan untuk  mengancam-ancam orang yang tidak sepaham.

Maksudnya apa? Renungkan sendiri :).

Semoga bertahun-tahun setelah tahun 2010, saat penelitian How Islamic are Islamic Countries ?  digelar kembali, jajaran negara-negara muslim bisa bertengger di peringkat 10 besar. Amin :).

***

Bagian 2 dari tulisan dengan judul yang sama sudah ada di sini :D. 

_MG_6095

376 thoughts on “How Islamic are Islamic Countries ?

  1. Menarik sekali sharingnya, mbak Jihan, banyak refleksi bertebaran dalam tulisannya. Terutama kajian yang disampaikan Cak Nun, “Tuhan yang Tahu Akidahmu, Masyarakat Butuh Akhlakmu”

    Kalo saya perhatikan urutan negara (berdasarkan penelitian Rehman dan Askari) di atas itu ada korelasinya dengan Indek Persepsi Korupsi. Untuk tahun 2012, urutan negara-negara tersebut bisa dilihat di sini.

    • Terima kasih linknya, Pak. Sepertinya memang berkorelasi. Biarpun tidak persis-persis amat. Karena Irlandia yang no.3 di negara paling Islami sama sekali tidak ada dalam daftar di link itu hehehehe :P.

  2. Huaaahhhh… seriusss bgt, mbak! Ngernyit nih, keningku dr tadi, maklum lah, otak msh pentium 3. Haha…
    Iya, miris rasanya, liat bule2 yg justru dlm ketidak Islaman mereka, mereka justru lebih Islami dibanding org yg (ngaku2) beragama Islam… Ah, soal akhlak dan aqidah ini jadi PR buatku jg nih, mbaaakkk! 😀

    • Ihihihihihi, iya yah. Eike sok keren aja ini menulis-nulis ginian hehehehe :P. Mari kita pentingkan akhlak, sepenting akidah yang sudah terlanjur ditasbihkan sebagai yang paling penting :D.

  3. saluutt…semoga tulisan ini bisa membuka wawasan kita sebagai org Islam…apalagi saudar2 kita yg “sok Islami”…mohon ijin share ya…thanks a lot.

  4. Assalaamu ‘alaik. http://nasional.kompas.com/read/2011/11/05/09034780/Keislaman.Indonesia
    Ajaran dasar Islam yang dijadikan indikator dimaksud diambil dari Al Quran dan hadis, dikelompokkan menjadi lima aspek.
    Pertama, ajaran Islam mengenai hubungan seseorang dengan Tuhan dan hubungan sesama manusia.
    Negara yg disebut lebih islami(contoh: jepang) tentu tidak menyembah tuhan yg di serukan nabi muhammad, trus islaminya yg mana nich?
    Kedua, sistem ekonomi dan prinsip keadilan dalam politik serta kehidupan sosial.
    Memungut pajak yg tinggi dan tidak mensubsidi masyarakat, apakah sistem yg islami?
    Hak suara yg sama antara seorang prof dan yg ndak mengenyam pendidikan, atau seorang sarjana teknik yg bekerja dengan pengemis dan copet, sepertinya tidak adil dan ndak islami kan ya?
    Ketiga, sistem perundang-undangan dan pemerintahan.
    Kalau keterwakilan wanita yg jadi standar, maka indonesia paling islami, karena banyak wanita diparlemen(UU nya hrs 30%, bahkan ada yg ikutan korupsi, he..he..), trus pernah presidennya wanita, amerika lebih 200 thn ndak ada lho presiden wanita, padahal die katanya tuch paling demokratis.
    Keempat, hak asasi manusia dan hak politik.
    Belanda(menjajah indonesia), inggris(menjajah india, mesir, negara2 afrika), jepang, portugal, francis(menjajah aljazair, marocco), amerika menghancurkan banyak negara dan pemerintahnya sekaligus seperti: afghanistan( katanya nyari osama, dan katanya uda meninggal, tapi belum angkat kaki juga tuch), irak(hancur lebur,senjata kimia kagak dapet tuch).
    Kolonialisme baru: shell, BP, Mobil Oil, Cevron, Vico, freefort, mana nich hak masyarakat setempat(cuma dapat polusi doang,..sedih…)
    Kelima, ajaran Islam berkaitan dengan hubungan internasional dan masyarakat non-Muslim.
    Berdasarkan info teman2 yg tinggal di eropa(belanda), australia, nggak jauh beda dengan yg mbak tulis(menjaga lingkungan dgn meminimalisasi pemakaian plastik), di australia tuch kalo membunuh seekor burung harus diganti dengan harganya, sebagai denda, tapi kenapa ya mereka begitu mudah mengotori negeri orang lain, membunuh anak2 dan wanita yg tdk berdosa(afghanistan, irak, libia), mungkin nyawa manusia lebih murah dari seekor burung..

    Kita asumsikan saja kesimpulan mbak jihan tu benar, bahwa: Kehidupan sosial negara eropa dan yg lainnya lebih baik dari Indonesia dan timur tengah, maka masih ada satu pertanyaan besar yang mesti terjawab, ” mengapa angka kematian akibat bunuh diri begitu tinggi di jepang dan negara-negara eropa?”.
    http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_negara_menurut_tingkat_bunuh_diri
    (Irlandia nomor berapa ya?)
    Padahal sistem pendidikan hebat, transportasi lancar, masyarakat ramah, fasilitas terjamin, jalan- jalan bersih ndak bau pesing. (Dikorsel ada artis yg bunuh diri karena ndak tahan dengan komentar masyarakat kpd dia).
    Mungkinkah mereka bunuh diri karena pajak yg tinggi?
    Atau sebenarnya masyarakatnya masih kurang ramah?
    Maaf ya mbak, panjang banget komennya….

    • Itu kesimpulan dari hasil penelitian yang sama ‘amin’ kan :). Soal bunuh diri? Jangan-jangan sebenarnya di Indonesia juga tinggi, lho ;). Cuma enggak ketahuan saja? Mengingat data kependudukannya masih kacau balau. Kalau tidak muncul di koran ya tidak ketahuan? :D. Anda adakan saja penelitian untuk menyelidiki angka bunuh diri ini dan relevansinya dengan kesejahteraan sosial mereka bagaimana? ^_^.

      • Di saudi, kuwait, malaysia, bahrain, pendataan penduduknya akurat namun tingkat bunuh diri ndak seperti negara eropa.
        Kita asumsi kan saja bahwa di indonesia tingkat bunuh diri lebih tinggi, maka fenomena bunuh diri mengindikasikan:
        Lembaga pendidikan yg gagal, seperti di jepang, krn ndak lulus bunuh diri
        Disakiti oleh Pasangan dan dikhianati, lingkungan kerja yg keras, trus bunuh diri ini kasus banyak dieropa.
        Fenomena bunuh diri pekerja pabrik foxconn(divisi apple product), padahal fasilitas lengkap, dan mereka harus demo karena gaji kurang, kalo memang apple yg berbasisis di california punya kesadaran sosial, harus memperhatikan masalah ini, ndak seperti petugas KJRI jeddah ya mbak..
        Hutang kepada lembaga pendidikan sampai 6 digit, seperti yg di ungkapkan seorang prof dari harvard, bahkan dia ndak menyarankan masuk harvard, dan bilang: sampai kapan anda harus bekerja untuk bayar semua hutang itu.
        Fenomena bunuh diri prajurit militer Amerika, inggris, dll. Di kamp mereka sendiri, kalo bunuh diri ketika tugas di Afghanistan mungkin bisa di pahami…
        Fasilitas kesehatan yg mahal dan tidak terjangkau, ndak mampu bayar asuransi kesehatan, jadi ndak di tangani oleh secara medis, trus mati dech.
        Sedangkan indonesia kata pengamat memang negara yg gagal, jadi wajar kalo banyak yg bunuh diri(dengan asumsi banyak bunuh diri).
        Tapi sepanjang usia saya(lebih 30 tahun), ndak pernah tuch dengar dikampung, kecamatan, bahkan level kabupaten, ada orang bunuh diri, kalo mbak gimana?
        Seorang prof yg pernah tinggal 6 tahun mengajar di Amerika mengungkapkan ke saya, bahwa dia harus meninggalkan USA karena lingkungan sosial masyarakatnya yg melunturkan keislaman anak-anaknya, dia Bilang:” saya dan istri mungkin bisa bertahan tetap islam, namun anak2 kami benar2 terancam identitas dan pola hidup islaminya “.
        Seorang teman WN singapore mengungkapkan: hidupnya seperti sekrup mesin yg terus bekerja, org tuanya nyicil beli flat 25 tahun, tapi dia dan anak belum tentu bisa menikmati( harus kerja lagi dan nyicil juga), karena kepemilikan properti di batasi oleh negara dalam waktu tertentu…

        • Daripada bermain asumsi, sekalian aja diteliti, Mbak hehehehe. Kan seru, jadi ada data pembanding nantinya :). Mungkiin di Indo, tingkat kepasrahan juga tinggi. Sudah biasa dibully sama pemerintah soalnya ahahahahaha.

    • maaf saya bukan muslim, tapi saya memang selalu terbuka untuk mendengarkan semua ajaran agama lain. Karena saya yakin semua agama mengajarkan yang baik yang jadi problem itu adalah manusianya.
      Ibu atau bapak adek, saya rasa kalau mengenai negara belanda menjajah indonesia, atau amerika merusak negara lain tidak dapat dimasukkan dalam hal ini, itu adalah masalah politik. Sedangkan yang dibicarakan disini adalah mengenai individu dari masing2 negara tersebut.
      Mengenai bunuh diri dan lain-lain saya rasa itu adalah masalah individunya, yang jadi problem adalah akhlak manusia kepada manusia lainnya. Paling tidak bunuh diri merugikan lebih sedikit penderitaan bagi orang lain dibandingkan dengan perkosaan yang sering terjadi di tempat lainnya? setuju? (silahkan anda jawab sendiri, ini hanya opini saya pribadi).
      Nah masalah akhlak inilah yang sebenarnya menjadi PR buat kita. Saya share sedikit deh yang pengalaman saya, saya kebetulan beruntung bisa kuliah di jerman, disanalah saya mendapatkan tamparan yang luar biasa menyakitkan, tapi itu pulalah yang menyadarkan saya, betapa sombong dan arogannya saya selama ini. Suatu hari saya menjemput seorang teman yang kebetulan baru keluar dari rumah sakit, karena bekas operasi usus buntunya belum sembuh benar, akhirnya kami memutuskan untuk naik taksi (biasanya naik kereta dan bis 😀 😀 😀 taksi mahal boo). Ketika itu saya hanya langsung memberikan alamat kepada supir taksi, tahu apa yang supir taksi katakan kepada saya??? (tengsin banget dah gua 😀 😀 :D) “Pertama-tama selamat siang pak” katanya dengan ramah, saya hanya bisa terdiam dan akhirnya meminta maaf……
      Coba apakah anda kalau naik taksi bilang selamat pagi/siang/malam terlebih dahulu, ketika anda mungkin naik tol, apakah anda menyapa petugas tol? Ketika anda makan di restoran atau warteg apakah anda menyapa pelayannya? Saya rasa mungkin kebanyakan dari kita tidak peduli akan hal kecil seperti ini, tapi inilah bukti betapa bobroknya moral dan akhlak kita. Kita terlalu sombong untuk menyapa mereka karena kita membayar, jadi kita adalah konsumen, dan konsumen adalah raja. Padahal mereka adalah manusia sama seperti kita yang ingin dihargai, jika kita ingin dihargai hargailah orang lain, mereka yang hanya punya uang dan jabatan tidak punya akhlak dan moralitas hanya akan jadi pundi2 uang bagi orang lain dan orang yang ditakuti, tapi tidak akan pernah dihargai dan dihormati, pada saat mereka tidak punya uang dan jabatan, orang pun akan mencemooh mereka.
      Saya pernah dengar kalimat ini dari seorang muslim, dan saya sangat senang sekali dengannya “Membuat orang senang adalah ibadah”, saya tidak tahu apakah ini ada dalam al-quran (maaf kalau salah tulis) atau tidak, tapi kayanya sih ada dalam al-quran. Teguran selamat siang ataupun sapaan dan sedikit senyuman hanya beberapa patah kata dan tingkah laku yang sepele, dan untuk melakukannya kita tidak memerlukan waktu lebih dari 5 detik, tapi ini mungkin akan membawa kebahagiaan kepada mereka yang jarang sekali disapa oleh kita. Apa sulitnya sih untuk melakukannya?
      terakhir terima-kasih kepada ibu jihan yang telah menshare sedikit ajaran islam disini.

  5. Sebenarnya saya ikut cara mbak, ” Jangan-jangan sebenarnya di Indonesia juga tinggi, lho”.
    Artinya mbak cuma pakai jangan2, sedangkan saya trus memaparkan data,.
    Kalo tingkat bunuh diri diindonesia ndak tinggi, maka kemungkinannya cuma :” tidak tinggi, atau sama dengan negara eropa”.
    Sebenarnya saya juga kurang respek dengan kondisi indonesia, tapi yg disesali kenapa setiap kegagalan selalu dikaitkan dengan islam, kita ndak pernah lho bilang kegagalan karena kristennya atau yahudinya.
    Maka mungkin kita harus memperindah ungkapan kita, ndak menjadikan ibadah haji atau yg lainnya kambing hitam ketika ada sikap buruk dari yg mengerjakan ibadah.
    Sebagian ahli menyebut kondisi risau yg mbak alami sebagai Krisis Kepercayaan dan Krisis Kepribadian. Artinya kecewa dengan kondisi internal dan terpesona dgn kondisi eksternal.
    Dan ini wajar untuk tahap awal, mudah2 ada hal baru yg di dapat untuk tahap2 selanjutnya.

    Maaf mbak atas komen2 ini , kalo ndak berkenan boleh dihapus dari wall ini…
    Tetap semangat ya…

    • Waduh, kok malah jadi menjudge saya hehehehe. Anda yang salah paham, Mbak :). Alhamdulillah tidak ada sama sekali krisis internal. Semuanya pemaparan pengalaman pribadi. Kalau Anda salah tangkap, ya sah-sah saja. Enggak ada masalah, kok ;). Santai mah ane, silakan komen sepuasnya, asal tetep sopan mah tidak akan saya hapus hehehe.

      • Saya justru sangat sepakat dengan apa yg dikemukakan saudara/I Alaik, dari tulisan mba jihan begitu terlihat anda lebih mementingkan kehidupan sosialnya dibanding agama, Isam memang mengajarkan akan hablu Minallah, wa hablu minannas, tapi bkn berarti jauh lebih mementingkan kehidupan sosial, anda diminta untuk erargumentasi berdasarkan data, tapi tidak mau, sdangkan anda mendasarkan tulisan dari penelitian yg menurut anda kesahihannya melebihi Al Quran yg sudah anda pahami intinya. Sikap anda sebenarnya sdh terdaat dalam hadist yg mengatakan akan ada masa ketika ummatku akan lebih memilih mengikuti budaya musuh Allah yaitu yahudi dan nasrani, dan menampakkan di mata anda budaya mereka yg lebih indah dibanding ajaran Islam

        • Saya tidak pernah bilang kehidupan sosial itu lebih penting, lho :). Budaya apa, Mas? Budaya menghormati orang lain walaupun beda agama? Budaya tata tertib berlalu lintas yang disiplin? Budaya membuang sampah pada tempatnya? Anda apa pernah tinggal di Timur Tengah? hehehehe. Saya percaya, semua kebaikan yang saya lihat di negara-negara minoritas muslim tersebut juga ADA dalam ajaran Islam :). Jangan lupa semboyan Islam, “Rahmatan lil aalamiin” bukan “Rahmatan lil muslimiin.” Semoga bisa dipahami 🙂

      • Saya suka tulisan ini… bagus,,,: 🙂 saya Islam dan setahu saya Islam itu baik, saling menghargai, menghormati, terbuka, tidak diskriminasi, tidak kasar apalagi ngotot dan tentunya TIDAK EGOIS, mau Yahudi mau Kristiani ya tetap harus dihormati..(mau dihargai dan dihormati ya tidak boleh egois, harus punya niat menghargai dan menghormati).

  6. secara fitrah islam itu ekstrim. hanya ada 2 pilihan: surga atau neraka. tidak ada netral di antara keduanya. hanya orang2 ekstrim yang mantap pada jalan lurus sebaik-baiknya 🙂 betul dan sangat betul akhlak haruslah mulia sebaik-baiknya se-ekstrim mungkin. masalah perilaku itu adalah habit yg bisa dilatih, pasti bisa. bagi saya orang jawa, bagong itu lucu, sopan dan baik, tapi bagi orang sunda itu kasar dan buruk, selamanya begitu 🙂

    • Islam tidak hanya mengajarkan surga dan neraka saja, kan? Masalah perilaku pun banyak banget pembahasannya dalam alquran. Seharusnya, kalau meyakini isi alquran, masalah perilaku tidak perlu menjadi momok :D. Setuju banget kalau habit bisa dilatih dan HARUS dilatih hehe. Soal Bagong saya tidak menangkap maksudnya apa, saya bukan jawa bukan pula bugis hehehe. Tapi saya percaya perilaku yang baik itu berlaku universal, jangankan antar suku, antar negara pun harusnya sepakat 🙂

  7. Salam Kenal Mbak Jihan.
    Saya sangat senang sekaligus terharu membaca artikel ini. Pemaparan yang cerdas disertai ulasan berdasarkan pengalaman pribadi.
    Saya sendiri merasakan betapa jauhnya penerapan nilai nilai Islam sesungguhnya di negara ‘tercinta’ kita Indonesia. Kenapa sengaja saya beri tanda kutip? Karena jauh di dalam diri saya menangis dan bingung melihat akan Kemana arah kaki bangsa ini melangkah? Benarkah saya masih mencintai sesuatu yang kadung kusut semrawut? Mampukah saya tetap mencintainya dengan semua kekurangannya yang cenderung makin menjadi? Yakinkah saya akan tenang melihat dan menyaksikan putra putri kami kelak mengarungi hidup ditengah kesemrawutan itu?
    Saya terlingkupi dengan kekhawatirannya yang hebat melihat begitu ‘tertata’ nya semua hal disini. Betapa sistemnya yang disadari atau tidak justru menggerus orang orang yang memiliki kepribadian (akhlak) muslim sesungguhnya menjadi terzalimi atau bahkan dianggap kuper dan semua label kurang menyenangkan lainnya.
    Korupsi merajalela, narkotika menjadi ‘biasa’ dengan hukuman yang bisa dinegosiasikan! Tatanan hukum yang memihak kepada yang mampu, bahkan yang bersalah pun bisa tetap bergaya dan tertawa dalam ‘jeruji’ besi.
    Lalu praktek2 hedonisme memamerkan kemewahan bahkan dari mereka mereka yang notabenenya dianggap sebagai guru spiritual atau pencerah jiwa. Bahkan kesombongan berbalut jubah keislaman.
    Kecintaan kepada negeri ini mungkin dapat pudar, tapi dalam tiap tarikan nafas dan doa saya selalu ingin tetap terlingkupi dengan iman Islam yang sesungguhnya. Menjadi pribadi muslim yang mewakili arti keislaman sesungguhnya, dan bukan hanya sekedar ritual semata. In shaa Allah.

  8. Mba Jihan, saya juga prihatin dengan perilaku masyarakat kita yang semakin lama kok sepertinya semakin memprihatinkan. Sehari-hari saya miris melihat perilaku buang sampah masyarakat kita yg begitu buruknya. Belum lagi urusan lalu lintasan, juga sinetron2 yang isinya kebanyakan sampah. Saya juga bingung dari mana kita bisa memulai memperbaiki attitude masyarakat kita. Terima kasih sudah menuangkannya dalam tulisan mba.

  9. mba jihan, anda ini lucu. justru islam itu diturunkan ya untuk orang orang seperti anda itu, dan saya tentunya. lebih luasnya indonesia dan negara negara islam yang menurut anda dari sebuah penelitian kurang islami. orang orang eropa mereka sudah cukup dengan mengandalkan ilmu sosial mereka. kalaupun ada yang muslim bisa dierkirakan mereka itu pendatang. akan tetapi ” hal tsuwibal kufaru ma kanu yaf`alun ” apakah mereka akan mendapatkan pahala atau balasan walaupun mereka mengerjakan hal hal yang demikian.?
    kalaupun anda melihat hal yang demikian, itu adalah aib anda aib kaum muslimin, anda tidak perlu mengulas kejelekan2 nya. sudahkah anda memulikan orang tua, keluarga, tetangga anda sendiri di indonesia. kalau anda sudah memulainya untuk anda sendiri, maka mulailah untuk keluarga anda, sekitar anda sampai bangsa dan seluruh umat muslim lainya. anda adalah rahmatal lil alamin… dan anda adalah duta bagi orang orang muslimin.

    • Inti tulisannya untuk mengajak kaum muslimin agar tidak hanya terpaku pada ibadah-ibadah yang sifatnya ritual semata :). Justru Islam kan agama yang mencakup sendi-sendi kehidupan yang lainnya, termasuk kehidupan sosial :). Begitu maksud saya. Semoga bisa dipahami :).

      • Kenapa yah masih saja ada beberapa orang yang menyalahartikan tulisan ini? Menurut saya maksudnya sudah jelas.sebagai muslim sudah sepantasnya kita bersikap sebagai muslim. Sopan santun, menjaga kebersihan, menghormati tetangga dan hal2 kecil lainnya yang dianggap sepele selama ini. Ironisnya sikap ini kurang diterapkan dalam kehidupan sehari2.
        Tidak mau antri, ke toilet umum tidak menjaga kebersihan, dan yang paling sering bikin bt adalah muslim yang tidak ramah. Senyum balik saja tidak mau. Sulit kah?
        Tentang segala amal manusia yang berbuat baik apapun itu agamanya dibalas Tuhan atau tidak, we never know. Urusan Tuhan itu mah. Tugas kita ya beribadah. Hablum minna nass hablum minallah.

      • Anda menyebut, shalat, puasa, zakat sebagai “ibadah ritual semata”, Subhanallah, Maha Suci Allah dari apa yg ada tulis dan maksudkan. Sungguh telah banyak saudara sesama muslim jd mulai meragukan akan agamanya dan banyak di FB yg mencatutkan link tulisan anda untuk mengolok muslim. Semoga Allah mengampuni dosa anda terkait dampak dari tulisan anda dan semoga Allah membuka pintu hati saudari. AAMIINN

        • Maksudnya bukan seperti yang Anda pikirkan :). Yang merasa umat muslim terolok-olok itu malah saya belum pernah tahu :). Yang berpendapat begitu berarti salah paham. Semoga Allah mengampuni kesalahpahaman Anda dan mengampuni tuduhan buruk anda kepada saya dan membuka pintu hati anda. Aamiin :).

  10. saya suka sama tulisannya mb 😀 jadi mngingatkan diri sendiri betapa beruntungkan kita menjadi orng muslim sudah diberi tuntunan dan diberi contoh tauladan oleh rasulullah saw tapi sekaligus begitu menyedihkan karena kita suka lupa mencontoh yang terbaik yg telah dianugrahkan Allah swt … ijin share ya mb 😀

  11. Subhanallah… mantep mba jihan…
    kenyataan memang miris…huhu… krisis tauladan dah stadium 4 di ‘Indonesia’… sedikit sekali muslim yang berbesar hati berpikiran terbuka dalam menerima ilmu (kata”)… saya setuju “ALLAH yang tau aqidah kita, dan lingkungan butuh akhlak yang baik” (saya makin masih ada yang belum akur dengan diri sendiri… termasuk saya… hehe)

    • Asal mau berusaha, pasti bisa menuju ke arah lebih baik. Justru ini cambuk bagi kita sebagai kaum muslim untuk terus mengasah ketinggian akhlak. Amin, amin ya rabbal aalamiin.

  12. ada jg kemaren artikel yg mirip membahas begini jg di republika….
    seharusnya buah dari ritual ibadah islam (sholat, zakat, dsb) adalah akhlak mulia…

    jadi mungkin kalo akhlaknya belum mulia, karena ibadahnya sendiri masih belum benar

    • Setuju Sekali dengan Pak Kudha..

      Terimakasih Mba Jihan.. tulisan ini cambuk bagi saya, untuk mengukur, apakah ibadah yang sudah kita lakukan sudah benar.. karena ibadah yang benar itu yang amal ma’ruf nahi mungkar.. yang mendekatkan kita pada kebaikan dan menjauhkan kita pada kemungkaran…

  13. Kebanyakan seorang muslim tidak memahami Islam secara menyeluruh, sebagaimana para shahabat Nabi dulu memahami semua tindak tanduk Nabi, termasuk dalam hal ini adalah pemahaman dalam timbangan untuk mengukur atau menakar mana sih yang benar dan mana sih yang salah, mana yg Isalmi dan mana yg tidak Islami, mana yang paling…..dan paling penting dari agama ini dan mana yang bisa ditangguhkan dari agama ini…. dan..dan… masih banyak lagi, dari ini saja mayoritas muslimin tidak memahaminya.
    Yang kedua, setelah mendengar hasil penelitian sosial bertema ”How Islamic are Islamic Countries”, memang mau ga mau harus kita akui, dan wajib bagi kita untuk instrospeksi kembali menuju yang lebih baik, akan tetapi…. ini yang harus diingat…. jangan sekali-sekali kita menganggap bahwa orang-orang yang beragama selain Islam adalah orang-orang terbaik di alam ini… tetap bagaimanapun juga mereka tetap yang terburuk di muka bumi ini selama masih bukan beragama Islam….
    trim’s itu aja dari saya, maaf baru baca dan baru koment..

  14. mantap jee. ngerasain banget pengalaman itu. tinggal di negri paman sam justru terasa lebih islami drnegeri sendiri, dlm hal kecil2 aja seperti kebersihan trus disiplin trus dlm menghargai orang lain, beda banget deh..padahal kebersihan sebagian dr iman.. tp buang sampah sembarangan. orang amrik punya kebiasaan lebih mudah mengeluarkan kata sorry and thank u, mungkin krn nenek moyangnya orang irlandia kali yaaa

  15. Tulisannya sangat membuka wawasan. Kadang heran ya, kenapa akhlak islam itu dipakai oleh orang non islam, tapi hey ternyata terbuktilah bahwa islam rahmat bagi seluruh alam, ajarannya applicable untuk seluruh umat. Kita harus terus belajar dan melihat dunia, apa yang salah dengan negara kita, kita lakukan evaluasi dan perbaikan mulai dari diri sendiri. Tak heran ya mengapa para Nabi diturunkan di daerah arab, mungkin ada kultur yang berbeda,yang saat itu jaman jahiliyah,mereka berilmu tapi tidak berakhlak, maka Nabi diturunkan untuk menyempurnakan akhlak.
    “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. ”(Ali Imran / 3 : 110)
    Itu adalah ciri umat yang terbaik, yg menerapkan ajaran islam secara menyeluruh.

    Mungkin harus dievaluasi juga, sudah benarkah ibadah kita, sudahkah kita mencontoh akhlak nabi sebagai panutan kita, apakah kita sering sedekah?memberikan senyum dan menyingkirkan duri saja adalah sedekah. Apakah kita sudah tunaikan hak2 sesama muslim sperti mengucapkan salam apabila bertemu, mendoakan yg bersin,menengok org sakit.. Bahkan ajaran islam sangat detil mengatur berperilaku

    Hasil penelitian diatas hanyalah gambaran saja,bukan patokan. Umat islam tdk usah dilihat dari jumlahnya, tapi dari yg benar2 menjalankan ajarannya. Sebenarnya tidak ada istilah negara Islam, Islam itu agama, yang ada di seluruh bagian negara. Di setiap negara pasti ada umat Islamnya, saya yakin itu.

  16. Hai.. ditinggal beberapa waktu udah banyak aja yang harus dibaca..

    Aku kasih dua jempol tangan, kalau perlu nambah dua jempol kaki.

    Mudah-mudahan yang belum merasakan ruh Islaminya negara non-muslim dapat disegerakan rizkinya sehingga bisa merasakan dahsyatnya sapaan dan senyuman yang ditebarkan tetangga non-muslin kita.

    Sampai ketemu lagi ya mbak Jihan 🙂

  17. Ntah mengapa, saya kok percaya ya dg hasil penelitiannya 🙂
    Dan saya jg percaya urutan arab saudi disana.
    Indonesia? Lagi males bahasnya mbak, walaupun insyaAllah saya tetap optimis. Yup, suatu hari nanti..

  18. Salam kenal mba jihan.ma kasih untuk share pengalamannya.jadi pengingat diri untuk bisa jadi muslim yang lebih baik lagi.aamin:)
    Suka quote nya
    Tuhan yang Tahu Akidahmu, Masyarakat Butuh Akhlakmu”
    Insyaallah akan saya ingat
    Klo mau baca artikel yang lain dari mba saya bisa cari dimana?
    Izin buat share ya…syukron

  19. waaah bagus tulisannya hahaha, bikin seneng bacanya…hehehe
    merasa terkoreksi ahahay…

    btw cuma mau share juga, saya pernah dengar kutipan,( entah cuma perkataan atau hadist..lupa heheh :P)

    “bahwa (kebaikan) islam itu tertutup oleh muslim (umatnya sendiri)..”

  20. *Tulisan dan Opini ini hanya mengambil 1/2nya atau mungkin malah baru 1/3nya dlm Islam….terlihat Logis TAPI Justru malah jadi Apologis….Islam tdk hanya masalah Kehidupan Sosial, Tapi jg ttg Ketauhid-an, Kesehatan, Ilmu Pengetahuan, Sejarah Peradaban Manusia dll……….NAH….pada saat org Mengaku Islam Tapi melakukan Tindakan2 Sosial yg Buruk / bahkan Melanggar Hukum (misal: Mencuri, Korupsi, membunuh, berzina, menganiaya org lain, dan Pelanggaran2 Hukum Sosial lainnya )….,Jawabannya adalah : Saat Itulah kemudian dibuat Hukum2 Positif yg berlaku di Tiap2 Negara…yg akan effektif bila diberikan Sangsi yg tegas….Jadi bukan Ajaran Agamanya yg disalahkan utk meGeneralisir satu masalah…….,,Kita juga bisa saja Kemudian merasa lebih MIRIS & IRONIS dgn Berita ini : http://www.beritasatu.com/dunia/164742-pbb-kecam-vatikan-terkait-pelecehan-seksual-terhadap-anakanak.html

    • sebetulnya tulisan mbak jihan ini bukan menjelekkan islam atau ajaran islam kok…. mohon di baca & dipahami lagi mas/mbak… tapi prihatin karena banyak umat islam sendiri yg tidak menjalankan ajaran islam itu sendiri diluar masalah ritual ibadahnya.
      maaf jika kurang berkenan.

      • Betul, betul. Masa menjelek-jelekkan sih. Justru ingin menunjukkan KESEMPURNAAN ISLAM sebagai “agama aqidah” as well as “agama akhlak” :).

  21. wah, bener hehehehehehehe.
    tapi mungkin tujuannya buat ngingetin aja kalo ibadah itu bukan hanya ke atas, tapi juga ke samping.
    namun kalo dikatakan bahwa negara2 macam Irlandia itu negara yg lebih muslim kok terlalu berlebihan ya. hehehe :p
    menurut saya mereka itu yang lebih baik dalam hal bersosial masyarakat daripada negara Islam, padahal negara Islam sudah diajarkan untuk bersosial masyarakat juga. 😀

    *CMIIW*

    tapi so far, saya setuju banget. Ini juga mengingatkan saya kalo saya hidup di dunia ini tidak sendiri tapi juga ada orang-orang di sekitar saya 🙂

    • saya pribadi sangat menyukai dan setuju dengan tulisan ini (walau saya belum pernah tinggal di luar negeri)

      untuk kalimat “namun kalo dikatakan bahwa negara2 macam Irlandia itu negara yg lebih muslim kok terlalu berlebihan ya.”

      maka tunjukkan, kalo “negara2 macam Indonesia” yang notabene mayoritas muslim, itu lebih baik.

      Kalo memang tidak setuju, mari kita tunjukkan. tanpa perlu beradu pendapat terlalu lama.
      Mari kita ajak, keluarga kita sebagai awalan. InsyaAllah, semakin sedikit kita beradu pendapat, semakin banyak kita berlomba-lomba menunjukkan bahwa Islam itu rahmat untuk semesta. Akan sangat sedikit silang pendapat.

      Jika yang dituju adalah kebaikan bersama, bukan pengakuan dari lawan akan kebenaran pendapat kita. Maka kita sudah melangkah maju, bukan jalan ditempat (terus beradu pendapat).

      Jika ada yang menurut kita tidak benar, buktikan melalui tindakan itu salah. bukan melalui adu pendapat.

      Terimakasih.
      Untuk semua niat baik… Al-Fatihah…

  22. Izin share ya Mba Jihan.. artikel yg sangat bagus sekali utk cerminan refleksi diri.. mnimal dlm tingkah laku sehari2 aja bs dterapkan.. krn pada dasarny manusia adl makhluk sosial, pastinya saling membutuhkan antara satu dgn lainnya.. di Al Qur’an pun sudah jelas tertuang hal ini.. tp tidak semua org bisa mengerti..

  23. Reblogged this on Wirdatul Aini and commented:
    “Tampaknya keber-agama-an kita lebih senang di level semarak ritual untuk mengejar kesalehan individual, tetapi menyepelekan kesalehan sosial, ” kata Profesor Komaruddin Hidayat (UIN Syarif Hidayatullah).

  24. Saya jadi senyum sendiri baca. tersindir untuk jadi yang lebih baik 😀

    ijin share mbak, mau nyinyirin temen-temen di media sosial. siapa tau ada yang tergugah setelah baca “kita lebih senang di level semarak ritual untuk mengejar kesalehan individual, tetapi menyepelekan kesalehan sosial”
    kaya kata-kata umum di ceramah jumatan, “sampaikanlah walau hanya satu artikel blog”.

  25. Assalamualaikum

    Sudah saya baca, sebelumnya saya ingin mengapresiasi tulisan mbak. Memang miris melihat negara yg seharusnya paling muslim..menjadi negara yg tidak paling muslim.

    Saya ingin menggarisbawahi pernyataan mbak di paragragf terakhir mengenai dakwah, bahwa tujuan dakwah bukan untuk mengajak orang2 menganut islam di bawah paham2 seperti sunni syiah, dll. Namun lebih kepada menunjukkan islam sebagai rahmatan lil alamin.

    “… sedang Allah mengajak ke Surga dan ampunan dengan seizin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran” (QS. al-Baqarah (2): 221)

    “Dan Allah menyeru (manusia) ke darus salam (surga) . . .”(QS. Yunus (10): 25)

    Dakwah menurut pengertian terminologi dikemukakan oleh para ahli antara mengatakan bahwa dakwah adalah mendorong manusia agar berbuat kebajikan dan petunjuk, menyeru mereka berbuat yang ma`ruf dan mencegah mereka terhadap perbuatan munkar, agar mereka mendapat kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

    Bykankah tujuan akhir dr kita di yaumul akhir adalah memasuki surga allah dengan bahagia? Jd memang diperlukan keseimbangan antara akhlaq dengan akidah, insya allah jika bs koheren satu sma lain, dunia dan akhirat bs kita dapatkan. Barokallah.

  26. Sangat sangat setuju dengan tulisan ini. Saya merasakan sendiri ketika pergi ke Jerman beberapa tahun yang lalu dan merasakan bahwa masyarakat di sana dalam banyak hal lebih islami dibandingkan masyarakat Indonesia. Pasti ada yang bilang saya pro-barat lah apa lah tapi kita bicara fakta, bukan prasangka. Menurut saya sekarang keislaman seseorang banyak hanya dinilai dari penampilan dan hal-hal superfisial lainnya, tapi esensi dari rahmatan lil alamin itu sendiri justru dilupakan. Saya sangat setuju dengan statement “Islam itu seimbang dunia dan akhirat” karena di salah satu hadits pun disebutkan sebaik-baiknya urusan adalah yang di tengah, tidak ekstrim ke salah satu.

    Saya melihat di negara-negara Muslim banyak yang lebih mementingkan menambah kekayaan di satu sisi dan hanya menghapal Al-Quran di sisi lain, tapi perilaku mereka banyak yang merusak lingkungan, tidak menghargai manusia lain, dll. What’s so Islamic about those things? Ironis.

    Biarlah jika ada yang memberi cap ini itu ke diri kita karena kita berani menyuarakan pendapat, yang penting kita harus menyampaikan karena dengan tinggal diam tidak akan mengubah keadaan.

  27. ASSALAM,,
    🙂
    MAAF KEBIASAAN CAPS LOCK,,

    BAGI SAYA,,ORANG INDONESIA YANG BENAR2 PAHAM DENGAN KEINDONESIAANNYA BEGITU BESAR KEDEKATANNYA PADA ISLAM,,KARENA ISLAM HIDUP DALAM SENDI TERDALAM PADA SAAT PENYEBARANNYA WALAU MASIH BANYAK YANG BELUM SEMPURNA PENYAMPAIANNYA KARENA BERBAGAI HAL,,
    BAGI SAYA,,SAYA BAHAGIA HIDUP DI INDONESIA DAN BERUSAHA MEMBERIKAN CONTOH TERBAIK BUAT MUSLIM-AH DAN NON- MUSLIM,,TEMAN SAYA YANG NON MUSLIM SERING BERTANYA KEPADA SAYA BAGAIMANA SEBENARNYA ISLAM ITU KARENA MEREKA HANYA TAU ISLAM ITU KERAS DAN TANPA TOLERANSI,,SAYA HANYA BISA BILANG, G’ ADA YANG SALAH DENGAN ISLAM,,MUNGKIN HANYA PENGANUTNYA YANG BELUM MEMAHAMI ISLAM ITU SEPERTI APA..
    HAL SEDERHANA YANG BISA MEMBERIKAN CONTOH TERBAIK BUAT SELURUH INSAN SEBAGAI MUSLIM-AH ADALAH TERSENYUM DAN SAPALAH TERUTAMA TETANGGA,,KARENA SAYA LIHAT HAMPIR DIBANYAK TEMPAT DI INDONESIA KINI BUDAYA MENYAPA DAN SALING PERDULI DALAM KEBAIKAN DENGAN TETANGGA ADALAH BARANG LANGKA LAGI MAHAL..

    SEMOGA KITA BISA TERUS BERIKAN CONTOH TERBAIK BUAT SIAPAPUN,,SAYA ORANG ISLAM, BERAKHLAK ISLAM DAN CINTA INDONESIA..

    SALAM DAMAI BUAT SEMUA..
    WASSALAM,,

  28. Assalammualaikum wr wb mbak
    Artikelnya sgt menarik n bikin sy pgn mengenyam pendidikan n mencoba hidup di Eropa sana.
    Memang membaca tulisan ini harus open minded, karena klo,tidak ya jadinya pikirannya sempit, sudah jelas maksudnya bukan menjelek2an Islam, tapi sebagai Muslim kita harusnya bisa lebih baik,lebih menjaga kebersihan,lebih ramah dari orang2 yang mbak ceritakan di Eropa.

  29. Reblogged this on AZIMILISME and commented:
    sepakat.. islam kini telah tersempitkan oleh kepentingan pelbagai golongan. Islam kini tercitra bagai agama ritual, bukan lagi tentang tetapan tatanan kehidupan universal.. dampaknya, umat islam tidak selalu islami.

  30. tulisan yg bagus dan berani mba, keep writing. klo boleh saya request diimbangi juga sisi islami org indonesia yg intrinsik yg sering hilang dari radar penelitian, seperti bagaimana seorang tukang gorengan yg berjualan di bawah sinar mentari yg terik masih dapat tersenyum dan melayani langganannya dgn baik (tdk semua, tp banyak yg bgitu) sementara misalnya di perancis tmpat saya tinggal skarang, boro2 senyum pramuniaga tdk akan menjawab klau tdk ditanya (tdk semua tp rata2 begitu) self citicism is part of progress, tp jika tidak diimbangi positif outlook terhadap diri kita, ditakutkan kita hanya bisa meratap tanpa keyakinan bahwa kita bisa berbuat lebih baik. overall, saya setuju messagenya u introspeksi dan mengedepankan akhlak sebagai buah kesalehan pribadi. saya tunggu tulisan berikutnya tentang tukang gorengan atau mbok2 penjual bakul yg pastinya sulit dicari di irlandia hehehe… ohiya terakhir mgkn agak kurang fair juga yg membandingkan kondisi sosial secara langsung antara indonesia/bangladesh misalnya dgn irlandia/inggris yg secara ekonomi jauh lebih baik dan lalu hasil perbandingannya dikaitkan ke agama. asumsi saya orang klo hidup enak/perut kenyang gampang senyum dan beramahtamah, tp klo miskin dan laper ya bawaannya survival. dulu waktu eropa miskin dan krisis mereka perang dan bunuh2an sampe menyeret seluruh dunia tenggelam dalam perang dunia I dan Ii. salut sama org miskin di indonesia, masih ketawaketiwi klo disorot sama tivi. kadang saya berpikir kekuatan jiwa yg begitu dalam dari mana datangnya kalau bukan dari Tuhan dan bimbingan dienul islam yg menerangi di tengah jalan gelap dan suram kehidupan. wallahua’lam. wassalam.

  31. Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.. Salam kenal Mbak Jihan, semoga mbak beserta keluarga diberi kesehatan, selalu dalam lindungan Allah, dan dimudahkan dalam segala hal, amiiiinn.

    Membaca tulisan mbak ini Alhamdulillah wawasan saya tentang dunia luar bertambah. Saya punya banyak kawan yang menetap ataupun memang berasal dari Amerika maupun Eropa, dan rata-rata mereka berprofesi kurang lebih sama dengan saya, pekerja seni ataupun jurnalis, nggak ada yang mempermasalahkan keyakinan saya dalam hal pertemanan, bahkan boleh dibilang sebagian dari mereka sangat tertarik dan antusias mempelajari Islam terlebih Islam di Indonesia, dan saya banyak sharing dengan mereka. Tulisan mbak Jihan menyadarkan saya bahwa di negara Indonesia ini banyak sekali orang yang semangat dalam mengurus kehidupan pribadi orang lain, dan seolah-olah yang “se-benar-nya benar” itu adalah apa yang diyakini sebagai kebenaran, tapi kebenaran yang datangnya dari mana?. Yang saya ingin sampaikan kepada semua saudara-saudara saya disini dalam kaitannya dengan tulisan mbak Jihan, memang kita tidak dituntut untuk paham 100% budaya luar apalagi sampai mengagumi secara berlebihan, tapi di sisi yang lain tidak salah jika kita mengambil yang BAIK buang yang buruk, terlepas dari budaya apa serta keyakinannya apa.

    Saya melihat kembali proses masuknya Islam ke tanah air, dan itu adalah hal yang indah untuk diceritakan kepada anak cucu saya nanti, karena proses masuknya Islam sampai mendarah daging seperti saat ini bukan dengan cara grabak-grubuk “ini nggak boleh itu nggak boleh, ini haram itu halal, anda salah dan saya yang benar”. Di Indonesia kita juga bisa lihat bagaimana sebuah keyakinan mayoritas bisa memiliki dampak sedemikian luas dan membuat gap yang begitu besar dalam aspek sosial dan juga kenegaraan secara global, bahkan bisa sampai mempengaruhi tatanan hukum negara ini.

    Tapi, yang paling bikin saya heran, masih ada saja orang yang menyalah artikan tulisan semacam ini hehehe.. Menurut saya isi dari artikel ini tidak terdapat intensi terselubung untuk membuat sebuah negara ataupun agama tertentu terlihat buruk ataupun sebaliknya, saya membaca tulisan ini seperti hal nya saya biasa menonton acara di saluran National Geographic atau BBC Knowledge, dimana narrator menceritakan tentang kehidupannya sebagai seorang Muslim yang mau berbagi pengalaman akan apa yang dia rasakan selama di luar negeri, sah-sah saja jika penulis menyampaikan pandangan dan pendapat pribadinya selama mengikuti kaidah-kaidah penulisan yang benar, dan artikel ini menarik untuk dibaca (tentunya untuk orang-orang yang berfikiran terbuka). Masalah data survey valid atau tidak, coba yang tidak suka ataupun tidak setuju silahkan bikin research resmi, lalu hasilnya di publish supaya orang di seluruh dunia bisa lihat, tapi yang pasti harus objective.

    Maaf ya mbak kalau agak panjang nulisnya, semoga tulisan mbak ini bisa bermanfaat dan menambah pengetahuan bagi saudara-saudara kita dimanapun mereka berada.

    Wabillahi Taufiq Wal Hidayah Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

  32. masalahnya adalah…. kalian muslim indonesia yg pinter pinter kayak mbak empunya blog ini ini, ndak banyak bertindak kepada muslim muslim radikal yg sama sekali ngggak islami di indonesia ituh yg pawai dan hancur hancurin macem macem itu
    jadi, kesannya mereka (yg radikal itu) seolah benar dan majority

  33. bagus banget tulisannya, biarkan sj pihak2 yg difensif, inikan sbnrnya penjabaran fakta bhw kita sbg org muslim di neg muslim msh blm menjalani kehidupan islami yg diamanahkan kpd kita. biar bgmpun hrs mulai dari individu dan trs bergerak ke khalayak. mslhnya kita spt berhenti di level individu. msh bnyk yg hrs dicapai. insya Alloh menuju kesana di generasi mendatang. maka sempurnalah. sistem sosial, politik dan ekonomi neg2 eropa yg disebut diatas bisa dijadikan contoh yg berhasil mengaplikasikan sistem yg memuat nilai2 islami tsb. sangat bagus sekali, Alloh memudahkan kita sbnrnya. tinggal mencontoh sj knp justru difensif hanya krn kbtln mrk bukan islam namun kebetulan menemukan sistem yg islami. selanjutmya ya sudah gak perlu dicontoh hal2 yg tdk perlu misalnya keimanan manusianya krn kita sdh lbh maju dlm hal itu dibanding mrk. ambil yg baik, tinggalkan yg buruk. simple. gak perlu meributkan judul penelitiannya apa.

  34. Thanks untuk sahringnya ya mbak, semoga menjadi permenungan bagi kita semua apapun background atau embel2 di belakangnya, apakah kita sudah menjadi manusia yg lebih arif.
    Thanks sekali lagi yah.

  35. Terima kasih sharingnya… saya pikir tulisan mb Jihan obyektif kok. Terima kasih karena memberikan tulisan yang dewasa dan mengajak untuk berintropkesi diri 🙂 . Sukses selalu.

  36. Wow tulisan yang benar2 mencurahkan hati oleh orang2 yang mengalami, termasuk saya sih. saya suka dengan isi tulisan Anda, saya juga sangat menyayangkan pada orang2 yang bersikap diluar “menjaga hubungan antarsesama manusia.” padahal menurut saya – yang ilmu agama nya masih sangat dangkal ini, hubungan antarmanusia ya harus dijaga dengan baik-baik salah satunya ya setahu ku sih adalah menyapa dan bersikap ramah terhadap sesama lain, mengakui perbedaan, dan tidak individualis. sayangnya, rekan2 kita seagama beranggapan bahwa hal2 tersebut merupakan budaya barat yang HARAM untuk ditiru. Kalo saya boleh mengatakan, justru apa yang terjadi di Arab adalah yang haram ditiru, contohnya sudah disebutkan di atas. Ironi sekali. hanya saja, memang tidak banyak orang muslim yang benar2 mengerti. orang2 seperit kita, semoga selalu diberi kesabaran, karena Allah memang tidak tidur dan Maha Tahu atas segalanya. 😀

  37. assalamualaikum memang tidak mudah ya kak untuk berbuat baik itu. saya pernah membaca sebuah kisah terkait akidah dan akhlak di “Rubuhnya Surau Kami” milik AA Navis. terus menukis ya kak, bukan untuk membandingkan, tetapi membenahi. terima kasih sudah mengingatkan kami dalam tulisan ini. Nuhun kak. wassalamualaikum

  38. Sharing yang keren. Aku dulu pernah tinggal sebulan di Jerman, sempat ke Paris & Amsterdam. Yup, Eropa cuma kurang satu aja, dakwah Islam (karena dai2nya masih terbatas). Sikap hidup mereka dalam banyak hal keren banget. Jauh lebih Islami dari pada kebanyakan masyarakat muslim.

  39. Asllmlkm…
    Mbak Jihan, bagus banget tulisannya, sudah lama saya gak baca tulisan yang begitu jujur mengkritik kita sendiri yang seharusnya menjadi ‘rahmatan lil alamin’. Rasulullah sendiri bersabda bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak, yang berarti segala ritual yang kita lakukan atas nama Allah itu mestinya diimplementasikan dalam bentuk akhlakul karimah. saya juga sepakat bahwa esensi sangat penting, karena bila tidak maka kita hanya terjebak dalam ritual tanpa makna. Pada akhirnya saya berharap mbak Jihan terus berkarya dan memotivasi kita semua sesama anak negeri. Biarpun jauh diseberang lautan, tetap tidak ada halangan untuk ikut membangun negeri, iya to mbak?

  40. Alhamdulillah Mbak ini penganut Islam Liberal yang menebang pilih ajaran Islam sehingga hanya menjalankan yang baik-baik saja.

    Semoga dengan artikel yang ciamik ini, Mbak bisa mencerahkan muslim-muslim lain agar ikut menebang pilih ajaran Islam, hanya mengambil yang baik, dan lebih liberal serta sekuler demi kesejahteraan rakyat Indonesia 🙂

    • Maaf… Kalau boleh ikut komentar, dalam Islam, tidak ada istilah “tebang pilih”, karena semua ajarannya baik. Yang ada, umat muslimnya belum mengaplikasikan ajarannya dengan benar dan sempurna. CMIIW 🙂

      “Islam is perfect, Muslims are not. Or should I say… Humans are not? :)”

  41. Saya gak akan ngomong masalah iman atau apa lah . gak nyandak ilmunya. Mungkin teman2 saudara2 muslim di sini harus melihat esensinya :
    kalo di negeri yang kalian bilang kafir itu bisa bersih, kenapa di negeri muslim terbesar ini tidak bisa?
    kalo di negeri yang kalian bilang kafir itu bisa tertib, tahu budaya antri, kenapa di negeri muslim terbesar ini tidak bisa? (menurut saya, potong antrian itu adalah awalmula dari pelrilaku korupsi)
    kalo di negeri yang kalian bilang kafir itu bisa sopan, kenapa di negeri muslim terbesar ini tidak bisa? bukankah kita diajari untuk saling menebar salam?
    apa cuma bangga dengan tanda sholat yg hitam di dahi, sementara tanda sholat yang tertib, urut, bersih tak terlihat di perilaku kita?
    apa cuma bangga dengan sholat jumat di masjid yang megah, semntara toilet masjid bau pesing, dan selepas sholat kita seperti bangsa bar-bar yang berebut duluan jalan?

    ah… harusnya tidak

  42. Kebiasaan mendengar fatwa dan doktrin bahwa agama saya (islam) adalah yg terbaik (paling di ridhoi). Thus, semua yg berbau islam, termasuk negara islam, akhirnya di”persepsikan” juga selalu yg terbaik. Satu-satunya yang diridhoi Allah. Yang lain cuma kelas kw.

    Membaca tulisan ini saya jadi shocked bin terguncang, akhirnya mencari-cari kesalahan penulis hanya untuk membuat doktrin yang selama ini sudah saya makan tetap enak dikunyah.

    Ah, betapa piciknya saya.

  43. Ditunggu partisipastinya mengubah Indonesia. Air tak akan berbelok arah jika tidak ada yang membuat kanal baru. Semakin membandingkan akan semakin kecewa. Jangan lama lama di luar negeri, segera lah pelajari semua hal yang baik dan kembali pulang untuk membenahi negeri.

    • yap.. terkesan karena masyarakat yang sudah biasa tertib, ramah.. perlu disadari juga bahwa di Indonesia aktivitas ta’lim, da’wah (bukan ceramah ya), saling menebarkan salam, memuliakan sesama muslim, amar ma’ruf nahi munkar nyaris ditenggelamkan ke hal2 superfisial… sehingga sibuk di aktivitas ritual tetapi dimensi lain seperti pengamalan nilai2 ritual dalam keseharian seperti yang terlupakan.. penulis terkesan karena kondisi masyarakat yang sudah berkesadaran tinggi.. walaupun kalau saya saran untuk hal2 yang sifatnya tauhid memang harus dipertahankan.. saya tetap percaya kalau umat sudah ‘bangun’ dari tidurnya selama ini kita bisa… tidak cuma jadi bahan perbandingan akibat culture shock

  44. Assalamualaikum…

    Islam itu sangat berlogika. semua ritual, perintah, dan larangan Insya Allah ada penjelasannya.

    Mari kita hubungkan logika satu ritual Islam dengan tulisan mbak Jihan ini.

    Yaitu Shalat…
    Shalat itu adalah untuk kebaikan muslim yang menjalankannya. jika ada yang bertanya, “untuk apa sih capek2 “senam” kyk gitu lima kali sehari?” maka jawabannya bisa ini:
    Shalat itu bisa diibaratkan sebagai meditasi tertinggi dalam Islam. penuh dengan kebaikan untuk manusia itu sendiri. shalat adalah sebuah perjalanan rohani menuju Allah. sudah begitu banyak kajian-kajian ilmiah yang mengungkapkan keutamaan shalat untuk kesehatan jasmani dan rohani, yang akan membawa kita meraih kecerdasan emosional dan spiritual.

    Nah, lalu hubungannya dengan tulisan mbak Jihan di atas adalah sebagai berikut: AQIMI SHALATA INNA SHALAATA TANHA ANIL FAHSYAI WAL MUNKAR “Dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat mencegah perbuatan fahsya dan mungkar”

    saya bukan ahli tafsir, namun firman Allah di atas cukup jelas untuk dipahami bahwa Shalat dan akhlak mulia itu saling berkaitan, bagaikan pohon yang menghasilkan buah yang manis dan bermanfaat. namun kenyataannya, banyak dari kita yang tidak memahaminya. Melaksanakan shalat namun akhlaknya kepada alam, dan orang lain (muslim maupun non muslim) jauh dari muslim yang sebenarnya. Ibarat pohon yang justru menghasilkan buah yang busuk dan merusak sekitarnya.
    Hal inilah yang telah dijelaskan nabi 1400 tahun yang lalu:

    “Akan datang suatu masa atas manusia, mereka melakukan shalat namun pada hakikatnya mereka tidak shalat” (HR. Ahmad)

    Lalu ada lagi dari Hadist Nabi yang saya lupa riwayatnya:

    “Kececeran yang pertama akan kamu alami dari agamamu ialah amanat, dan kececeran yang terakhir ialah shalat. Dan sesungguhnya (akan terjadi) orang-orang melakukan shalat, sedang mereka tidak berakhlak.”

    Melihat fakta-fakta yang ada disekitar kita, dan juga yang telah dijelaskan oleh mbak Jihan. Kita bisa menyimpulkan bahwa SAYA, ANDA, dan MUSLIM KEBANYAKAN telah melenceng dari nilai-nilai keIslaman sejati. Kita shalat, tapi maksiatnya jalan terus. Kita shalat, tapi korupsinya malah tekun. Kita shalat, tapi buang sampah sembarangan. Kita shalat, tapi caci maki orang lain ga masalah. Kita shalat,tapi ngegosipnya kebangetan.

    Islam itu “rahmatan lil alami” rahmat bagi sekalian alam. Bukan hanya rahmat utk manusia saja, baik muslim maupun non-muslim tapi juga untuk alam raya. Idealnya, jika di sesuatu tempat ada seorang muslim yang baik, maka di situ ada kebersihan, keamanan, ketenangan, dan keadilan. Jika Indonesia adalah negara dengan populasi muslim terbesar, idealnya tentu negeri ini akan aman sentosa, bersih, adil, dan makmur. Namun kenyataannya malah jauh dari kata ideal.

    Maka yang jadi pertanyaannya adalah: Ada apa dengan muslim di negara ini??

    Silahkan kita menjawabnya masing-masing. Apakah keberadaan kita sebagai seorang muslim telah menularkan kebajikan untuk alam dan orang lain? Atau kita hanya menganggap shalat hanya sebuah ritual penggugur kewajiban saja?

    Sekian komentarnya, maaf kalau kepanjangan. Sudah kewajiban kita sebagai muslim untuk menasehati dan memberikan peringatan.

    Assalamualaikum…

  45. Assalamualikum mbak jihan saya sungguh bangga dengan keberanian mbak menyuguhkan kondisi riil masyarakat kita saat ini saya bersukur dengan tulisan mbak ini, kalo kita membaca dengan hati sungguh kebenaran yang mbak maksud tapi saya yakin masih banyak orang yang akan berpikir bahwa mbak menjelekan umat islam semoga mereka diberi cahaya untuk memahami maksud dan tujuan tulisan mbak yang sekedar mengingatkan bahwa kita sebagai muslim berperilakulah sesuai dengan ajaran islam yang sebenarnya bukan hanya menjalalankan syariatnya tapi memahami hakikatnya terimakasih atas tulisannya jujur saya merasa tertampar dengan tulisan ini semoga saya bisa lebih memahami islam seutuhnya aamiin….

  46. Kesimpulan saya setelah membaca tulisan ini adalah:
    1. Tidak perlu menjadi muslim dulu untuk menjadi orang baik dan berhasil membentuk masyarakat dan peradaban yang baik.
    2. Masyarakat mayoritas muslim belum tentu akhlaknya baik dan belum tentu bisa membentuk masyarakata dan peradaban yang baik.

    Suka tidak suka harus diakui bahwa ada dasar yang kuat yang membentuk kepribadian bangsa-bangsa Eropa sehingga kini memiliki kemampuan untuk menjadi individu-individu demikian, dan ajaran Kristiani serta disiplinnya merupakan dasar kebudayaan masyarakat Eropa berabad-abad lamanya. Mereka sudah mengalami masa-masa kelam, dan belajar dari pengalaman-pengalaman tersebut untuk menjadi jauh lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya. Semoga kita memiliki kemampuan untuk menjadi bangsa yang lebih baik juga, apalagi karena mayoritas masyarakat Indonesia sudah muslim. Kalau kita tetap gagal menjadi muslim-muslim yang memiliki akhlak yang baik dan membentuk masyarakat dan peradaban yang baik, bagaimana mungkin kita pantas memasuki surgaNya yang baik dan sempurna itu?

  47. di cina banyak sekali yang bunuh diri, dan diamerika senjata di legalkan. biar lah di indonesia peringkat bawah, semoga Allah masih memperhatikan kita. amin

  48. Sy menyukai gaya penulisan mbak, yg jenaka tapi mengena. Sy jd ingin bertanya, apakah pernah terbersit di benak, mengapa negara2 non muslim tersebut justru masyarakatnya terlihat lbh mengamalkan ajaran Islam? Apakah bukan krn latar blkg ajaran agama mrk yg mendasarinya? Dgn demikian, apakah bukan berarti bahwa ajaran dan perilaku yg bersih, tertib, sopan, menghargai alam dan manusia adalah bukan monopoli nilai2 Islami, tp juga merupakan nilai2 non Islami ? Mohon maaf kalau pemikiran saya terasa menyinggung. Salam kenal dari kota kecil di tengah pulau Jawa.

    • yup, mereka memang melakukannya karena/sesuai dgn ajarannya.. kalau ternyata ada nilai2nya yang sama, bukan berarti mereka demikian karena menganut nilai2 yang lain tsb..

      • saya lebih condong mengatakan perbuatan mereka tidak dilakukan berdasarkan ajaran agama, tapi lebih kepada akal sehat saja, dan humanisme. Sedang di Indonesia hampir semua perbuatan dinisbatkan ke agama. makanya orang tidak tahu antri, karena di agama tidak diajarkan (secara eksplisit).

  49. saya punya cerita teman yg lama juga di amrik, bilang kalo saya menemukan islam disini ya padahal mayoritas bukan islam dan cerita adek saya yg kerja di arab ” untung Alloh turunkan islam di sini, coba kalo ngga”. terkadang berfikir apa ini ya skenario Alloh ketika menjelang akhir jaman banyak orang islam di muka bumi.mereka yg notabene-nya non islam melalui jalan ” perubahan gelombang budaya yg cepat”hanya tinggal urusan akidahnya bener, mereka yg non islam dulunyalah yg akan memajukan islAm di akhir jaman

  50. Salam mbak… Bagus sekali tulisannya 😀

    Saya memang belum pernah tinggal di negara lain yang mayoritas Muslim. Jadi hanya bisa membandingkan dengan negara sendiri yang notabene mayoritas Muslim. Aduhai kesenjangannya luar biasa dengan negara tempat tinggal saya sekarang (Jepang).

    Mungkin sudah sering dengar, masyarakat Jepang keyakinannya nggak jelas. Ke kuil iya, Natal ikut party-party juga. Tapi tengoklah negeri mereka. Bersih, rapi, lalu lintas tertib, orang-orangnya jujur, ramah, sebentar2 bilang permisi atau maaf karena takut menyinggung orang lain… Pokoknya sedemikian banyak sifat dan sikap yang sebenarnya diajarkan dalam Islam tapi kok ya.. Ya lihat saja deh Jakarta seperti apa :)))

    Pada dasarnya ketika saya berada di kereta yang ramai, yang saya pikirkan tentang orang di sekitar saya bukanlah “Dia ini nyembah dewa apa ya?” Tapi “Aduh sopannya, aduh bersihnya” atau (yang ini sering kejadian di Jakarta) “Sudah ngedesak-desak, nginjek kaki nggak minta maaf lagi!” 😛

  51. bagus sih tulisannya.. tapi saya kurang setuju dengan pernyataan di bawah..
    “Akhlak itu tidak kalah pentingnya dengan akidah. Kalau Anda berdakwah dengan mengatakan babi haram, ini itu adalah konspirasi, menolak nasi kotak hasil acara paskah terang-terangan di media sosial, memasang status publik tentang haramnya mengucapkan ucapan Natal dan mengutuk muslim lain yang tetap melumrahkan ucapan tersebut, apa iya mereka akan berbondong-bondong mengakui kebesaran keyakinan Anda?”

    pendapat saya :
    toleransi itu bukan berarti mengikuti kebiasaan dan keyakinan orang lain.. sudah jelas dalam islam tentang masalah toleransi dijelaskan dalam alquran, maaf kalau lafalnya salah.. ” lakum dinukum waliyadin” yang berarti “untukmu agamamu dan untukku agamaku” pesan yang jelas untuk tidak mencampuri keyakinan orang lain, silahkan untuk melaksanakan ibadah dan adat peribadatannya, tapi toleransi bukan berarti kita ikut dalam ceremonialnya..
    mengucapkan “selamat natal” bagi kaum muslim itu seperti kaum nasrani melakukan shalat di masjid…
    pertanyaannya apakah jika umat nasrani dan umat lainnya melakukan “shalat” di masjid merupakan wujud toleransi bagi mereka…?

    bisa dicermati sendiri

    • ngucapin sama shalat ya beda jauh lah, analoginya ngaco bener. kalo emang toleransi, kenapa pas bulan puasa hak umat non muslim jadi dikorbankan? harusnya toleransi dua arah dong, jangan cuma nguntungin kaum mayoritas aja

  52. Seperti yg pernah dikatakan, “Semakin berada di negara yg mayoritas penduduknya non-muslim semakin dekatlah kita dengan Tuhan”. Negara2 tersebut yg ad di peringkat pertama atau kedua sedangkan Indo/Malay ada diperingkat ratusan karena mereka merasa berada di negara yang mayoritas muslim jadi kenapa harus sibuk bertengangrasa.

    Karena negara non-muslim memiliki konsep toleransi yang tinggi terhadap kemanusiaan maka penduduk muslim di negara tersebut pun memiliki culture yang sama sehingga kita pun merasa nyaman dan tentram. Dan penelitian yang dilakukan pun masuk akal karena kondisi tersebut.

    Ironis memang negara yang mayoritas muslim tapi justru tidak begitu islami :/

  53. Bagus tulisannya, Mbak Jihan! Jadi inget wkt dulu di Leeds (UK) saya kesulitan nyegat bus krn posisi halte agak di tikungan dan semua bus ngebuut ajah. Tiba2 ada Bpk Pendeta dari Gereja sebelah halte, lari menghadang bus di tengah jalan dan mempersilahkanku yang mungil dan berjilbab ini untuk naik bus, sambil berpesan: “You have to scream out loud and stop the bus like I did! Hehehe..” Wah aku surprised dan berterimakasih banget wkt itu.. 🙂

  54. “Tampaknya keber-agama-an kita lebih senang di level semarak ritual untuk mengejar kesalehan individual, tetapi menyepelekan kesalehan sosial. Kalau seorang Muslim sudah melaksanakan lima rukun Islam—syahadat, shalat, puasa, zakat, haji—dia sudah merasa sempurna. Semakin sering berhaji, semakin sempurna dan hebatlah keislamannya. ”

    KESHOLIHAN SOSIAL, akhirnya saya temukan kata yang pas utk mendefinisikan perilaku yang demikian. Fascinating blog!

  55. JIhan ini keren banget deh postinganlo. Jadi sekarang udah gak jadi Mbak TKW lagi ya di Jeddah? Hehehehe.. 😀

    Gue jadi inget omongan siapa gitu, kira2 begini nih “Indonesia kan negara muslim terbesar di dunia. Kalo aja 10% penduduknya konsisten berzakat 2,5% dari penghasilan, kayaknya kemiskinan bisa diberantas deh. Tapi buktinya gimana?” Terus ada lagi komen lain yg kira2 begini “Pejabat-pejabat kita tuh aneh ya. Naik haji dan umroh berkali-kali. Sampe Indonesia, korupsi mah jalan terus. Malah ada yang nekat nyogok supaya namanya bisa cepat masuk daftar haji tahun depan, bahkan korupsi dana pengadaan Al Quran segala.”

    Gue sebagai Muslim suka malu kalo liat kenyataan ttg umat Muslim lain di negara kita maupun negara Muslim lainnya. Apalagi di kantor gue banyakan non muslimnya. Tapi itu sekaligus juga jadi cambuk utk gue sih, untuk buktiin kalo gak semua Muslim itu kayak gitu. Setidaknya, kita bisa kasih liat ke Non Muslim bahwa stereotipe Muslim itu A, B, C, D, gak sepenuhnya benar 🙂

  56. Very interesting, mbak Jihan. Mungkin kunci dari kemajuan negeri2 Islam agar spy bisa islami ada pada pendidikan umatnya. Haji jorok itu kan ya krn bawaan dari negaranya masing2, klo orang2nya memang jorok, dimanapun klo tidak ada pengawasan ya tetap jorok. Yg pergi haji kan gak semua org ngerti ttg sanitasi. Kendala2 pendidikan inilah yg harusnya menjadi PR kita semua, agar umat selain siap kuasai pengetahuan dan teknologi, tapi juga siap mental utk menerima perubahan2 sosial dan budaya yg diakibatkannya.

    Keep writing, mbak! Tulisanmu semoga bisa membawa perspektif baru bagi umat Islam khususnya di Indonesia, bahwa di atas langit masih ada langit. Agar mrk tidak lagi cenderung milih utk menjahanamkan dunia gara2 ingin melempangkan jalan menuju akhirat. Amin.

  57. saya juga betah kalau tinggal di negara seperti itu, tapi sayang tidak ada masjid, sesama muslim yang sedikit, dan akhirnya yang saya rindukan adalah masjid dan salat berjamaah …

  58. Sungguh pembahasan yang menarik. Saya belum pernah ke luar negeri sekalipun, namun saya sering berkomunikasi dengan orang-orang dari eropa via email. Memang benar apa yang anda katakan bahwa kata “thank you” dan “sorry” dengan mudah mereka ucapkan. Berbeda ketika berkomunikasi dengan orang-orang lokal. Menurut saya itu merupakan suatu nilai lebih dari barat yang wajib dicontoh, yaitu masalah attitude.

  59. Subhanallah, inspiratif sekali artikelnya 🙂

    Di antara pelajaran yang saya dapat setelah membaca artikel ini (dan sebuah artikel “Gusti Allah Tidak Ndeso” Cak Nun), adalah: jangan egois, kalau mau masuk surga ajak-ajak, kalau mau berbuat baik ajak-ajak, kalau mau kaya ajak-ajak, kalau mau enak ajak-ajak.

    Mencerminkan juga sila ke-5 Pancasila “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”… hehehe

  60. Mudah2an banyak ustaz yang baca tulisan ini,sehingga insyaallah isi tausyiahnya dirubah untuk lebih seimbang antara hablumminnaas dan hablumminallah nya…malu sama non muslim country yang malah lebih islami menjalankan kaidah2 sosial nya…padahal muslim punya ‘contekan’ Alquran yang maha komplit..mari sama2 kita robah citra negri kita..

  61. Tulisan yang menarik Mbak Jihan. Tapi saya lebih tertarik untuk mendiskusikan mengenai maksud dan tujuan penelitian itu sendiri. Apakah murni untuk membahas kebaikan Islam yang ajarannya banyak dipraktekkan di negara-negara non-muslim, atau justru ada tendensi untuk menyudutkan negara-negara Islam karena memang secara de facto menurut saya, segala ketertiban dan keramah-tamahan yang dimiliki oleh negara-negara non-muslim yang dicontohkan mbak Jihan, memang merupakan buah dari lebih advance-nya perkembangan peradaban dan etika di negara-negara tersebut, Just for information, saya juga pernah ke beberapa negara, dan semua itu memang perilaku umum di negara-negara maju, bukan negara “kaya” seperti Arab misalnya.

    Yang mengusik saya kemudian, dan menurut saya patut dipertanyakan dari penelitian tersebut adalah, apakah masyarakat di negara-negara tersebut berperilaku sedemikian baik memang atas dasar kesadaran mereka bahwa itu ajaran Islam, atau sesungguhnya mereka menjalankan ajaran agama mereka sendiri, misalnya Kristen dan Katolik, yang mungkin memang memiliki ajaran yang hampir sama dengan Islam, karena memang pada dasarnya semua agama mengajarkan kebaikan.

    Kalau memang ternyata mereka menjalankan ajaran agamanya sendiri, kenapa pula harus dikait-kaitkan seolah-olah itu hanya ajaran Islam? Apakah dalam penelitian tersebut terdapat hasil interview/wawancara atau kuisioner sekalipun yang menyatakan dgn jelas bahwa masyarakat negara-negara tersebut, berdasarkan pengakuan mereka, memang menjalankan ajaran Islam? Kalau tidak ada, maka saya berpendapat ini hanya asumsi peneliti sendiri yang mengait-ngaitkan itu dengan Islam. Akibatnya, ketika kondisi yang berbeda itu dibandingkan secara seolah-olah “apple-to-apple” maka menurut saya penelitian ini jadi bias. Membandingkan negara muslim dengan negara non-muslim untuk mengukur sebuah asumsi pribadi seorang peneliti, menurut saya justru jadi sangat tidak “apple-to-apple”. Mungkin menurut saya yang lebih tepat adalah membandingkan seberapa Islami negara-negara muslim menjalankan ajaran Islam, dengan yang diperbandingkan hanya negara-negara muslim saja, untuk kemudian dibuat peringkat dari negara-negara muslim tersebut. Membandingkannya dengan negara non-muslim seperti kurang pas, karena sekali lagi menurut saya, mereka tidak dengan sadar menyadari bahwa mereka menjalankan ajaran Islam.

  62. Terima kasih sharingnya Mbak…

    Barangkali banyak negara muslim belum bisa mencerminkan Islam rahmatan lil alamiin karena kebanyakan masih “muslim” levelnya. Belum dijiwai menjadi tingkatan “mu’min”, apalagi “muhsin”… Tingkatan muslim baru sebatas ritual 5 rukun Islam saja, ibadah2 yg secara fisik bisa keliatan wujudnya. Kalau tingkatannya sudah menjiwai rukun iman, barulah itu sudah nerap di hati. Ihsan lebih tinggi lagi, ketika sudah berhasil beribadah seolah kita melihat-Nya, jika tidakpun, menjiwai bahwa Allah melihat kita. Kalau sudah begitu akan malu utk berbuat yg tdk rahmatan lil alamiin ya…

    Ini jadi balan pelajaran telak buat kita. Salam 🙂

  63. Indonesia memang negara muslim terbesar, tapi itu kan kuantitas. Baiknya sih emang ngaca sendiri-sendiri aja. Saya sudah menjadi umat yang baik apa belum?
    Saya pikir itu lebih mendingan daripada membanding2kan negara. Sama seperti saya yang nggak suka dibandingin sama sepupu yang jauh lebih pintar, lebih kaya etc etc

  64. Thn 2009 Indonesia dinyatakan sebagai negara yg paling ramah terhadap turis sesuai penelitian kepada turis sedunia. Tahun 2004 Malaysia dianggap sbg negara yg paling tidak ramah kpd turis, tetapi tahun 2013 Malaysia telah berubah menjadi The best country for Islamic turist destination. Itu berkat kampanye Pemerintah Malaysia, karena dinilai terutama kemudahan menemukan tempat sholat, kebersihannya, kemudahan mencari kuliner halal Dan informasinya.. Jadi kita dapat berubah kl ada keinginan untuk itu.

  65. Semoga lebih banyak orang beragama di Indonesia ini tercerahkan seperti mbak Jihan. Saya sendiri beragama kristen Katolik, dan, berdasarkan pengamatan saya, umat kristen di tanah air tercinta ini pun tidak luput dari fenomena ini.

    Saya doakan semoga harapan mbak Jihan untuk tidak dipalingkan dari Islam sampai akhir hayat didengar oleh Allah SWT. Sehat, bahagia, dan sukses selalu untuk mbak Jihan sekeluarga.

  66. Betul sekali..
    Semuanya menjadi nampak kontradiktif, muslim namun tidak mengimplementasikan keislaman dalam kehidupan sehari2..
    Terkadang kita malah merasa lebih ‘di-wong-ke’ saat kita berada di negara yg bukan negara (mayoritas) muslim..

  67. Menurut saya, agama yang dianut seseorang (negara) sama sekali tidak menjamin apa-apa. Sikap perilaku seseorang itulah yang sebenarnya lebih penting. Percuma saja mengaku agama A, B, C ataupun Z tapi perilakunya membuat sakit orang lain.

    Saya setuju, tidak peduli apa agamanya, tidak beragamapun tidak masalah, selama orang itu bisa berbuat baik dan hidup rukun dengan manusia serta makhluk hidup lainnya.

  68. @Mba Jihan: menarik banget nih tulisannya.. saya juga setuju dengan hasil penelitian itu.. entah kenapa negara Muslim kok malah ga ramah kalau dibandingkan negara sekuler ya.. Ini saya dari kacamata nonmuslim merasa sedih juga bacanya, apalagi teman-teman yang muslim ya, pasti lebih mengurut dada lagi…

    btw, tulisannya menarik banget.. walaupun panjang, saya betah bacanya.. terutama bagian mba-mba Jeddah, wahahahaha.. saya ketawa ngakak karena saya ngerti maksudnya Mba.. saya juga tinggal di Jeddah karena kerjaan soalnya, hehehe..

    Keep on writing, mba 🙂

  69. Mengingatkan kita umat islam masih perlu meningkatkan kualitas habluminannas. Terlepas dari kekurangan yg perlu diperbaiiki, upaya perbaikan yg seharusnya dilakukan akan mendpt perlawanan dr syaithon dan kaum munafiq, perlawanan yg tdk ada pd orang non muslim, bahkan bs merupakan pendukung. Artinya apa, goal kita bukan hasil (spt kriteria survey) tetapi proses. Smg kita bs meningkatkan amalan kita. Aamiin yRA

  70. “Tuhan yang paling tahu aqidahmu, masyawakat butuh akhlakmu” –> best quote of the day.
    thanks for sharing, mom 😀

  71. “Alquran, adalah petunjuk dan
    rahmat. Bukan untuk mengancam-
    ancam orang yang tidak sepaham.”

    Baca dulu Al-Quran sampai khatam dulu mbak. Dalam Al-Quran itu ga cuma ada petunjuk dan rahmat tapi juga ada peringatan dan ancaman bagi yang menyimpang

      • berarti kita sebagai muslim juga punya kewajiban menyampaikan peringatan dan ancaman Allah – selain juga kabar gembira dan kemufahan – ini juga khan mba?
        Betul apa betul?

      • Walaupun Allah yg memberi peringatan lewat kitab-Nya sudah seharusnya sebagai muslim juga punya kewajiban menyampaikan peringatan dan ancaman Allah dalam kitab-Nya tsb (selain juga kabar gembira dan kemudahan) ini juga khan mba? Allah memiliki sifat Maha Pengasih dan Penyayang, tapi Allah juga keras azab-Nya
        Betul apa betul?

        • Menyampaikan lho ya, bukan mengancam, kan? ;). Makanya saya lebh suka bilang, petunjuk dan rahmat. Bukan untuk mengancam-ancam orang lain, “Woi, lo kafir. Masuk neraka lo. Masuk Islam sini biar dapet surga” :P. Betul apa betul banget? :D. Azabnya dari Allah bukan dari sesama manusia. Betul apa betul banget (lagi)? ^_^

      • Bagaimana kalau saya bilang:
        “Sesungguhnya orang kafir sama saja bagi mereka, engkau beri peringatan atau tidak engkau tidak beri peringatan mereka tidak akan beriman. Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, penglihatan mereka telah tertutup,dan mereka akan mendapatkan azab yang berat” (Q.S. Al-Baqarah: 6-7)

        “Allah pelindung orang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang kafir pelindung-pelindungnya adalah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka adalah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.” (Q.S. Al-Baqarah: 257)

        “Tidak pantas orang-orang musyrik memakmurkan masjid Allah, padahal mereka sendiri mengakui bahwa mereka sendiri kafir. mereka itu sia-sia amalnya dan mereka itu kekal di dalam neraka” (Q.S. At-Taubah: 17)

        “LALU ORANG-ORANG YANG ZALIM (ITU) MENGGANTIKAN PERINTAH (PERATURAN) DENGAN YANG TIDAK DIPERINTAHKAN KEPADA MEREKA (OLEH ALLAH). SEBAB ITU KAMI TIMPAKAN ATAS ORANG-ORANG YANG ZALIM ITU SIKSA DARI LANGIT, KARENA MEREKA BERBUAT FASIK” …. (Q.S. Al-Baqarah: 59)

        “DAN SIAPAKAH YANG LEBIH ZALIM DARIPADA ORANG YANG TELAH MEMBUAT DUSTA TERHADAP ALLAH? MEREKA ITU AKAN DIHADAPKAN KEPADA TUHAN MEREKA, DAN PARA SAKSI (MALAIKAT) AKAN BERKATA: ‘ORANG-ORANG INILAH YANG TELAH BERDUSTA TERHADAP TUHAN MEREKA’. INGATLAH KUTUKAN ALLAH (DITIMPAKAN) ATAS ORANG-ORANG YANG ZALIM” (Q.S. Hud: 18)

        “DAN SIAPAKAH YANG LEBIH ZALIM DARIPADA ORANG-ORANG YANG MENGADAKAN DUSTA TERHADAP ALLAH? DAN ALLAH TIDAK (AKAN) MEMBERI PETUNJUK KEPADA ORANG-ORANG YANG ZALIM” (Q.S. As-Shaaf: 7)

        “SESUNGGUHNYA DOSA ITU ATAS ORANG-ORANG YANG BERBUAT ZALIM KEPADA MANUSIA DAN MELAMPAUI BATAS DI MUKA BUMI TANPA HAK. MEREKA ITULAH MENDAPAT AZAB YANG PEDIH!” (Q.S. As-Syuraa: 42)

        dan masih banyak ayat-ayat seperti itu …

        Ini Allah yang bilang lho mbak bukan saya. Saya cuma menyampaikan :DDDD

      • Mohon maaf dengan Manualist. Kalau dilihat pada ayat yang anda buat dengan huruf kapital, tambah memperlihatkan bahwa kita tidak boleh melebih-lebihkan atau menambah-nambahkan perintah Allah. Dan perintah Allah dalam Al Qur’an selain mengatur hubungan dengan Allah, juga mengatur hubungan dengan manusia. Jika kita mengabaikan perintah Allah untuk berhubungan baik dengan manusia, misalnya tidak mengucap salam, membantu tetangga, dll yang diperintahkan dalam Al Quran, bukannya kita tambah masuk ke dalam golongan orang2 yang berbuat zalim? Begitu banyak ayat Al Qur’an yang mengajarkan kita untuk berakhlak baik bagi sesama manusia, tetapi semuanya seperti hilang begitu saja. Padahal Nabi Muhammad SAW ditugaskan bukan hanya untuk menyempurnakan keimanan, tetapi juga ahlak yang juga artinya hubungan sosial. Bagaimana kita menghadiri sebuah majelis atau Tabliq yang didalamnya mengumandangkan dan membahas ayat-ayat suci Al Qur’an lalu pulangnya bergerombol-gerombol naik motor tanpa helm dan jalan zig-zag membahayakan diri dan pengguna jalan lainnya? Sama aja ayat Al Qur’an yang baru dibaca dan dibahas dibuang begitu saja. Oleh karena itu saya setuju dengan Mbak Jihan, seringkali sepertinya ibadah hanya untuk ritual aja, tidak memberikan mafaat bagi yang melakukannya, hanya untuk kewajiban aja. Sorry to say, tetapi memang kalau Islam belum tentu muslim tetapi kalau muslim pasti Islam, dan muslim artinya berserah diri ke Allah dan menjalankan perintahnya seutuhnya, termasuk habluminanaas.

      • Maaf bung Sigit itu ayatnya kapital memang dari sumbernya memang sudah huruf kapital. Niat saya menulis satu persatu waktunya tidak memungkinkan. Jadi cuma bisa copast. Tidak ada maksud saya buat memberikan penegasan. Kalo pendapat bung Sigit saya juga setuju 🙂

      • Kesalahan kecilnya berupa :
        1. Mengarahkan kita untuk Membaiat Cara Habluminannas kita ke Eropa sana bukan kepada Sunnah Nabi dan Al Qur’an. Jadi belajar tentang Habluminannas ke orang Eropa Sana jangan ke Arab atau Indonesia, atau kalau mau belajar gak usah ke ulama Indonesia, Mba Jihan jauh lebih ahli ilmunya.

        2. Menampakkan kejelekan saudara-saudaranya sesama muslim agar Non Muslim bisa semakin membenci para muslim. Dia mengeneralisir seluruh muslim di Arab dan Indonesia seperti apa yang dia tuliskan.

        3. Mengajarkan bahwa bukan Islam kalau Habluminannasnya gak kayak orang di Eropa sana yang bukan Muslim

        Bukan begitu Mbak Jihan???

        Benarkan kalau saya salah

        • 1. Habluminannas yang saya ceritakan (yang kebetulan adalah ciri khas sehari-hari kebanyakan masyarakat Eropa) bedanya dengan Sunnah Nabi dan Alquran yang mana? 🙂
          2. Ketika tidak setuju artinya membenci dan mencintai artinya harus selalu setuju, maka posisi anda masih belum tepat. Segera rapikan posisi anda… Ketika keburukan kawan tetap anda bela dan kebaikan lawan tetap tak anda terima, posisi anda masih belum tepat… segera rapikan sikap… Kalau kritis artinya harus menyempal dan loyal artinya membuang sifat kritis, posisi anda masih belum tepat….segera perbaiki posisi… 🙂
          3. Anda terlalu fokus ke Eropanya. Padahal saya fokus ke sikap dan tingkah laku mereka :). Kebetulan saya pernah tinggalnya di Indonesia-Arab Saudi-Irlandia. Monggo bila pernah tinggal di tempat lain dan punya cerita khusus :).. Sila anda tulis dan anda share :).

          • 1.ya beda jauh mbak jihan,.. hablumminannaas di Eropa mah bisa melegalkan banyak hal,yang terlarang dalam Islam…
            misal, menyentuh wanita yang bukan mahromnya,menutup aurat,dan lain sebagainyaaa,
            2.apapun niat mbak jihan, sekedar membagi kabar gembira, barangsiapa yang menutup aib saudaranya,kelak di Yaumil Akhir, akan ditutup aibnya oleh Allah.. ini sabda Rasulullaah yaa..
            3.kalo mbak begitu “mengagungkan” orang2 Eropa itu sebagai negara yang paling Islami, apalagi maksudnya, kalau bukan kita disuruh mencontoh mereka? padahal,jangan sampai,orang2 kafir itu menjadi kawan,apalagi pemimpin kita.. walaupun,islam sendiri mengajarkan toleransi kepada orang nonMuslim, TANPA harus mengikuti ajaran mereka,atau minimal ikut “memeriahkan” hari raya mereka,dengan memakai topi santa atau bando bertanduk rusa,,

            intinya mbak Jihan, pelajarilah Islam yang kaffah,yang sesuai sunnah Nabi.. barulah kau akan jatuh cinta.. dan berusaha memperbaiki saudara2 sesama muslim, tanpa menyanjung2 musuh Allah seperti ini…

          • Kalau orang berbeda dengan kita bukan berarti yang bersangkutan lebih rendah lalu anda seenaknya menyuruh orang lain untuk mempelajari Islam lebih kaffah :). Mari sama-sama bersikap rendah hati dan menghargai perbedaaan :). Terima kasih atas masukannya walau terlihat enggak menyebutkan nama asli dan identitas :).

  72. Menurut saya ini artikel yang sangat menarik, mengingatkan kita untuk menjadi lebih “islami” dalam hal hubungan dengan manusia, namun rasanya klaim “lebih islami” itu menjadi terlalu berlebihan/ambigu karena sudah pasti negara2 barat dengan budaya eropanya tidak lebih islami dari kita hal akidah/syariah….keramahtamahan, kesopanan, kesediaan untuk menolong, mematuhi antrian, disini menurut saya dipengaruhi oleh banyak faktor seperti latar belakang sosial, budaya, tingkat kesejahtaraan dan latar belakang pendidikan mereka yang membentuk mereka menjadi orang lebih baik dari pada mayoritas penduduk di negara2 muslim..jadi kita bisa membentuk kesimpulan bagaimana kualitas pendidikan di negara2 maju dibandingkan negara2 mayoritas muslim dengan melihat output yang dihasilkan oleh pendidikan tersebut

  73. Muara dari semua ibadah adalah berbuat baik kpd manusia. di akhir shalat kita mengucapkan salam utk sesame. di ahir puasa kita berzakat utk sesama. di Akhir haji kita berkurban utk sesama. tiada arti ibadah kita tanpa berakhlak baik dg sesama. Rasulullahpun diutus ke dunia untuk memperbaiki akhlak manusia. Habluminannas… Wallahu A,lam

  74. setuju banget tulisannya njenengan. saya baru tahu ada penelitian how islamic are islamic countries? . tahun lalu saya merasakan tinggal setahun di jepang (meski bukan kali pertama), saya selalu mengeluarkan statement ke semua orang, org jepang itu lebih islami daripada org muslim, diluar konsumsi babi dan alkohol. tp jepang ternyata cuma urutan 39 ya… wong pengen merasakan tinggal di no 1 &2.
    saat umroh juga, saya dan suami stress bgt melihat kotor dan pesingnya mekah, sampai setiap kembali ke hotel , baju wajib ganti dan cuci, karena saya merasa najis jalan di jalanan sana. pas di dpn ka’bah doa saya cuma satu , mohon supaya semua muslim dunia sadar akan kebersihan…. sehingga saat jika saya punya kesempatan kesana lagi, mekkah adalah pusat negara islam yg bersih dan tertib

  75. Salam kenal mb, saya nanin

    Tulisan anda membuat saya merasa sesak untuk bernafas karena saya dipaksa untuk mengingat apa yang telah saya lakukan untuk orang disekitar saya terkait kesalehan sosial.

    Sangat menyentuh.
    Terima kasih.

  76. Interesting, & yet touching, cause that happen to my own very family, tapi saya yakin ALLAH berkehendak sesuatu, hingga saatnya tiba & warga muslim berakhlaq Islam (Salaama) insyaAllah bangsa kita tengah menjalani skenario ALLAH, terima kasih artikelnya

  77. sangat menyentuh, dan pas timing nya krn kebetulan saya dan suami baru berdiskusi mengenai knp negara2 yg ngaku sangat religius sering nya berkelakuan berbalik, dan krn mami jg sempet tinggal di Riyadh, ngerti bgt gmn rasa nya perlakuan mereka bahkan perlakuan sesama WNI

  78. Menarik jika ada data (pdf) hasil penelitian Scheherazade S Rehman dan Hossein Askari ini, bisa dilihat tinjauan mereka, fenomena dan literatur yang digunakan, sehingga negara atau pun paling kecil kampung yang belum Islami di Indonesia dengan mayoritas muslim bisa menjadi lebih Islami.

  79. Ini menohok sekali bagi negara2 islam ya mbak.
    Semoga kita bisa mendidik generasi mendatang menjadi muslim/muslimah yg benar2 paham al’qur’an serta mengamalinya hingga agama kita bisa benar2 dilihat sebagai agama yg rahmatan lil alamin ya mbak. Aamiin 😀

    *seru euy bacanya, jadi pengen ngerasain tinggal di sana juga, hehe

  80. Saya seorang katolik dan terdampar di dubai. Saya suka sudut pandang Anda dan cara menjelaskannya. Kurang lebih paham maksud dari tulisan diatas. Semoga tetap terus bisa memberi inspirasi bagi segenap insan.

  81. Yg pasti negara2 eropa walaupun skrg masyarakat nya ga religious, saya Percaya landasan apa yg ada di injil mereka ikutin. Di ajarkan Dr generasi kw generasi tanpa mereka skrg sadar krn bnyk skrg yg keluar Dr Kristen. Saya ga bs menilai ttg agama Islam krn bkn muslim. Tp ketika mba tanya knapa mereka terlihat teratur,ada bgt factor agama Kristen yg di terapkan disana selama ratusan tahun. Diantara nya hidup damai dgn org lain. Di ajarkan bgt di bible

  82. Kalo menurut saya, ada hubungannya dengan kondisi lingkungan, Lingkungan yang stabil dan tertib akan mendukung pembentukan akhlak. Di Indonesia wajar, karena lingkungannya yang mayoritas labil dan absurd. Seandainya orang orang Indonesia dipaksa tinggal di Irlandia, saya yakin, gaya hidupnya sedikit demi sedikit akan berubah menjadi lebih tertib.

    Jadi hal ini bukan masalah liberal atau agamis, akan tetapi lebih kepada sanksi sosial dari karakter pribadi masyarakat yang menjadi mayoritas saat itu.

    • Nah, kan tinggal ditarik kesimpulan, karakter pribadi masyarakat tergantung apa, ya kira-kira? Agama harusnya ngaruh dong ;).

      • Setuju mbak agama sangat berpengaruh. itulah sebabnya mengapa eropa maju sedangkan negara muslim tidak maju, karena para penduduk eropa meninggalkan ajaran agamanya sedangkan negara-negara muslim pun juga meninggalkan agamanya, saat masyarakat eropa meninggalkan ajaran agamanya (kristen, dll) dan tanpa mereka sadari mereka menjalankan sistem syariah islam (sistem yang diciptakan Allah untuk manusia), sedang negara muslim yang ajarannya agamanya yang panduan hidupnya berdasarkan Al-qur’an dan hadist ditinggalkan dan berkeras menolak syariah islam dalam kehidupan bernegaranya dan beralih kepada aturan sistem hidup ciptaan manusia (demokrasi, monarki dll) dari sini kita sudah bisa melihat sebab utama kemunduran negara-negara muslim disebabkan karena umat muslim sendiri ….

  83. Assalamu’alaikum wr wb, kepada ukhti yg menulis artikel ini. Perlu dan pentinglah memahami ajaran Islam dgn kaffah serta juga mempelajari sejarah secara teliti. Demikianlah yang bisa saya sampaikan sebagai nasihat . Agar bisa melihat permasalahan dgn lebih mendalam. Wassalam

  84. Assalamu’alaikum wr wb, kepada ukhti yg menulis artikel ini. Adalah sebaiknya ukhti mempelajari islam secara kaffah dan mencoba mempelajari sejarah secara detil. InsyaAllah akan lebih memahami Ad diin secara baik dan paham. Wassalam

  85. Post yg sangat ‘wow’ dan berhasil menyalurkan apa yg ada di pikiran saya selama ini. Bahwa Islam itu indah, hanya orang2nya saja yg (mungkin) kurang memahami ajarannya 🙂

  86. saya ijin share di FB ya mbak Jihan :). tulisan yang sangat bagus dan, tetaplah menulis dengan gahar ya mbak. saya penikmat, pecandu dan penggemar tulisan mbak 😀

  87. Tulisan yang sangat menyentuh… menjadi liberal bukan berarti kita tidak menjadi islam…. semoga mendapatkan kesempatan untuk dapat langsung merasakan negara2 dengan budaya agama yang beraneka ragam

  88. masyaallah. baru baca tulisan ini. bagus mbak, terima kasih atas share pengalamannya.
    barakallahu fiik.

    di sisi lain kita (saya sih sebenernya) jadi sadar tanggung jawab kita sebagai muslim. di Indonesia kita punya tanggung jawab untuk menyadarkan ummat muslim ke jalan yang benar (ngingetin ke yang lupa). di irlandia muslim di sana sebenernya juga punya tanggung jawab untuk memberitahu jalan yang benar (laa illaha illallah) kepada non muslim. kita gak boleh dong nyimpen hal baik sendiri. harus ngajak ngajak kepada kebenaran. kasian orang perilakunya baik tapi gak ada yang invite atau ngasih tau ke islam nantinya meninggal tidak beriman. tapi wallahu a’lam. allah ar-rahman dan ar-rahiim. benar-benar ar-rahman dan ar-rahiim yang diluar perkiraan manusia. hehe

    maap bila ada kata-kata yang salah atau pemahaman yang salah. itu keterbatasan saya dan kesalahan saya. semoga allah mengampuni. yang benar datang dari Allah.

    assalammualaikum

  89. Alhamdulillah, walau lama d LN tp ga hilang Indonesianya.. Ceritanya muter2 heheheh.. Maaf yah guyon.
    Islam itu rahmat keseluruh alam semesta, bukan hanya rahmat ke muslim saja. Tinggal maukah kita menerapkan hal2 yg benar(islami)?

  90. Subhanallah.. kok saya nangis baca tulisan Mbak Jihan ya.. Memang benar bahwa ketika kita berada di negara lain yang mayoritas non-muslim, kita lebih dihargai. Seperti halnya di Thailand. Entah kenapa ketika bertemu dengan muslim lain mereka senyum dan mengucapkan salam. Maka saya tahu bahwa mereka bukan orang Indonesia :D. dan saya bertanya pada diri saya sendiri, bisakah saya menerapkannya di Indonesia? Saya mungkin akan dianggap orang gila. Hal sepele, tapi saya sangat menghargainya. Belum lagi mushola yang bersih dan nyaman, tidak berada di tempat parkir atau basement yang kumuh.
    Toilet juga menjadi perhatian saya. Toilet di Mekah dan Madinah SANGAT menjijikkan, tapi mau tidak mau harus menggunakannya ketika sudah “di ujung”. Tapi toilet di Seoul, luar biasa… Hampir di semua toilet yang pernah saya masuki, bahkan di tempat umum, sangat bersih. Sangat kontras… Budaya antri juga. Dan semakin miris melihat fakta bahwa semakin banyak orang yang berlomba-lomba menyempurnakan rukun islam tapi perilakunya yaaahhh…gitu deh.:D. Maaf tidak bermaksud menghakimi siapapun, buat introspeksi saya juga supaya mencapai keseimbangan hidup. Hablumminallah dan hablumminannas

    • ada pertanyaan buat anda?
      berapa banyak jumlah kunjungan umat islam ke Mekkah dibanding dengan seoul…?
      Apakah anda menganggap sama kota mekkah yang merupakan kiblat umat islam seluruh dunia dengan kota seoul…?

      tentu tidak sebanding dong, jadi sudah sewajarnya untuk masalah toilet tentu lebih sulit diatasi di mekkah dibanding seoul…ini pengalaman saya pergi haji gelombang 2 : saat jamaah sudah banyak yang pulang dan ke madinah kota mekkah agak lengang dan kondisi toilet pun sungguh bersih…jadi janganlah langsung menghakimi bila menghadapi suasana tidak enak, bukannya sebagai muslim anda harus selalu berfikir positif dalam kehidupan…

      dan yang perlu anda ingat salah satu hadist : bila kita beribadah di tanah mekkah mukkarimah maka pahalanya 1000 kali lipat dari beribadah belahan didunia lainnya…oleh karena itu seharusnya menghadapi hal seperti itu anda haruslah ikhlas karena apapun yang anda alami di mekkah merupakan ujian dari Allah yang mendapat balasan berupa pahala 1000 x lipat….

  91. Emm… Bismillah..Sekedar berbagi, semoga bisa menjernihkan atau menyeimbangkan pikiran.. Saya akan menuliskan sebuah pendapat dr bapak wendi :
    Wendi Zarman
    How Islamic are Islamic Countries? Katanya Arab
    Saudi no 134 dan Indonesia no 140. Sedangkan
    no 1-nya adalah New Zaeland, dan 20 peringkat
    pertama hampir semuanya diisi oleh negara Barat/
    Eropa seperti Kanada, Australia, Belanda, dll.
    Sebelum tiba-tiba merasa rendah diri, mestilah
    kita (umat Islam) memeriksa apa yang dimaksud
    dengan “being Islamic”. Di dalam penelitian itu
    “being Islamic” itu diukur dengan apa yang disebut
    dengan Islamicity Index. Ternyata Islamicity Index
    ini hampir semua indikatornya adalah segala hal
    yang baik menurut Barat yang jauh sekali
    hubungannya dengan Islam. Contohnya seperti
    Gender Equality Index, Non Discriminatory
    Indicators, Labor Market Indicator, dan seterusnya
    (indikatornya cukup banyak). Bahkan lucunya
    sampai ada indikator perbandingan anak laki-laki
    dan perempuan di sekolah dasar dan menengah.
    Dulu ada disebutkan bahwa bangsa Eropa dan
    Jepang lebih Islami daripada bangsa Muslim
    sendiri seperti Indonesia. Alasannya di sana lebih
    bersih, tertib, lebih sejahtera (ekonomi), lebih
    sedikit korupsi.
    Betul, lebih bersih tentu lebih Islami daripada yang
    kotor, lebih sedikit korupsi memang lebih Islami
    dari yang banyak korupsi, dan seterusnya. Tapi
    mengambil hal itu sebagai ukuran untuk menyebut
    bangsa Eropa dan Jepang lebih lebih Islami
    adalah berlebihan karena kenyataannya :
    di sana lebih banyak minuman keras
    di sana lebih banyak pelacuran
    di sana lebih banyak makanan tidak halal,
    di sana lebih sedikit pengajaran al-Qur’an,
    di sana tidak ada pendidikan agama Islam di
    sekolah umum,
    di sana lebih banyak orang tua tunggal karena
    tingginya perceraian
    di sana lebih banyak hubungan tidak harmonis
    orang tua dan anak
    di sana dilegalkan perkawinan homoseksual,
    di sana lebih banyak perzinahan,
    di sana lebih banyak orang yang tidak percaya
    Tuhan bahkan membenci-Nya,
    di sana lebih sedikit yang mengaku Muslim,
    di sana lebih sedikit sunnah Nabi yang diamalkan,
    di sana lebih sedikit orang yang berjilbab dan lebih
    banyak yang nyaris telanjang,
    di sana lebih sedikit masjid
    di sana lebih sedikit yang menegakkan shalat
    berjamaah
    dst
    Bukankah semua ini lebih pantas untuk mengukur
    “How Islamic” itu? Jika indikator ini digunakan
    tentu hasilnya akan jauh berbeda.
    Penelitian ini tak lain adalah pembajakan terhadap
    Islam. Mereka boleh saja membuat peringkat
    negara-negara paling sejahtera atau paling maju
    dengan menggunakan indikator-indikator
    semacam itu, tapi bukan paling Islami. Umat
    Islam semestinya tidak perlu terkecoh dengan
    penelitian semacam ini, kalau mereka
    memahami Islam dengan baik

    Note:Pak wendy zarman ini ketua PIMPIN Bandung. Cabang dr INSISTS pusat di jkt. Organisasi penelitian di bidang pemikiran dan peradaban islam

    • Jadi, maksudnya kesejahteraan secara sosial tak penting ya dalam Islam? :). Saya kok jadi penasaran bagaimana cara mengukur indeks umat secara akidah. Bagaimana cara kita mengukur kadar keimanan seseorang dalam Islam dari segi salat, puasa, sunnah-sunnah yang sifatnya ritual dll. Itu kan masalah hati, ya? Sudah dibilang oleh Cak Nun, “Lah iki rak cangkemmu? Lha atimu?” (Itu kan mulutmu. Lalu hatimu?). Jadi gimana? Gimana cara mengukur kadar khusyuk salat dan puasa seseorang? Kita sesama manusia bisa ya bilang gini, “Aduh, kamu salatnya enggak bener. Enggak diterima Allah tuh.” Atau “Wah, puasamu bagus, sempurna. Amalmu bagus.” Situ malaikat/Allah? hehehehe. Justru kalau salat dan puasanya benar maka sesungguhnya salat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Nah, situ renungkan sendiri, di Indonesia dan Arab Saudi yang salat jauuuuhhh lebih banyak daripada yang di Eropa, mengapa kehidupan sosialnya tidak lebih baik dari Eropa? (ini kehidupan sosial mengambil standar umum sajalah, seperti kebersihan misalnya). Anda bisa jawab?????

      • Menyenangkan sekali mendengar jawabannya mbak, saya setuju dengan jawabannya. Indonesia yang mayoritas muslim hanya bisa berteori alias ‘omong tok’ dalam hal kebersihan. Jargon-jargon top markotop yang sering di dengungkan sejak kecil hanya menjadi angin lalu bagi orang-orang Indonesia kebanyakan, dengan tidak bermaksud menggeneralisir. Saya ambil contoh seperti ini “Kebersihan sebagian dari Iman”, dari kalimat tersebut jika memang orang Indonesia menerapkan ilmu keislamannya bukan tidak mungkin Indonesia menjadi bangsa yang mencintai kebersihan, menjadi bangsa yang bisa menjadi panutan negara lain dalam hal kebersihan karena jika tidak berarti keimanan orang-orang Indonesia perlu dipertanyakan.

      • Itu bukan standar umum mbak. Menurut saya Itu cuma standar parsial yang mencakup penilaian hanya sebagian dari masalah sosial. Itu bagus, tapi sepertinya ada masalah sosial yang lain yang dilupakan seperti minuman keras, pelacuran, perceraian, ketidakharmonisan keluarga, perzinahan, homoseksualitas itu luput dari penilaian.
        Padahal Islam juga mengajarkan untuk mengajarkan tidak hanya masalah sosial kemanusiaan tapi juga yang “lain-lain” seperti akidah, akhlak, fikih, politik, ekonomi, konsep keluarga, konsep masyarakat, sejarah, iptek dll. Jadi keIslaman tidak hanya bisa diukur dari standar yang hanya mencakup dari beberapa aspek sosial yang mbak gembar-gemborkan di artikel ini. Itu HANYA mencakup dari beberapa aspek sosial yang ada dalam ajaran Islam.
        Sepertinya artikel ini kurang terlalu cocok dengan judul “How Islamic are Islamic Countries” tapi lebih cocok dengan judul seperti “How Amiable/ How kind/ How warm/ How welcome/How friendly are Islamic Countries” atau dengan judul yang setipe dengannya.
        Sudah bisa dipahami mbak? :-)))))

        • Lah, itu justru lebiih seru lagi. Karena apakah homoseksual, perzinahan, ketidakharmonisan keluarga, pelacuran, minuman keras, perceraian di negara-negara mayoritas muslim di Arab Saudi dan Indonesia tidak marak? ^_^. Sudah bisa dipahami lebih lanjut? *sodorinKaca* hehhehe 😛

      • Paling negara yang tingkat “keIslaman”nya rendah ngga kayak melegalkan pelacuran, homoseksualitas, dan kehidupan bebas, et cetera. Dan hal-hal korup itu “dicontohkan” oleh petinggi negara mereka sendiri. New Zealand yang PM-nya ngaku lesbian, Atau negara Perancis yang punya “First lady” dari pasangan yang tidak legal dll.
        Dan yang jadi pertanyaan saya belum dijawab bagaimana sama aspek-aspek keIslaman selain sosial kemanusiaan yang luput dari penilaian?? Itu belum dijawab mbak … Dan apakah artikel ini bisa menjawab pertanyaan saya ini? Kok saya rasa tidak ya? Tapi judul yang mbak tulis mengklaim bahwa negara yang “peringkat” tinggi tsb Islami? Apakah kadar Islami bisa diukur cuma dari sudut sebagian aspek sosial kemanusiaan??
        Seharusnya kalau mengukur keIslaman suatu bangsa seharusnya pakai juga rujukan utama yang dipakai Islam: Al-Quran dan hadits.Coba kita pakai patokan berdasarkan Al-Quran saja lah. Apakah negara dengan “peringkat tinggi” di atas sudah diterapkan seluruh atau sebagian besar dari isi Al-Quran dengan benar dan konsekuen?? (saya yakin sebagian besar pembuat kebijakan dan masyarakat negara tsb hampir tidak pernah buka Al-Quran). Lalu kemana akidah, ibadah, akhlak, hukum, politik, ekonomi, dll yang juga ditekankan dalam Al-Quran yang tidak diterapkan dalam kehidupan mereka??
        Kalau cuma mengukur tingkat keIslaman pake kata-kata Emha Ainun Najib – yang membahasakan Islam dengan cara ngawur – tidak akan ketemu dengan konsep dalam Al-Quran. Kalau mau mengukur tingkat “keIslaman” ya pakailah setidaknya keseluruhan isi Al-Quran. Tidak perlu pakai kata-kata orang ngawur atau berdasarkan peringkat yang diukur dengan secuil dari nilai-nilai Islam itu sendiri.
        Sepertinya kebanyakan kita lebih banyak patuh dan percaya ya dengan kata-kata manusia – tempat salah dan khilaf – daripada membaca, mengkhatamkan, memahami, dan menerapkan Al-Quran – yang notabene diberikan pencipta kita sebagai petunjuk buat manusia.
        Imam Malik berkata:
        “Setiap orang boleh diambil atau ditolak perkataannya, kecuali Nabi saw.”

        Imam Syafi’i berkata:
        “Pendapatku benar tapi boleh jadi salah; pendapat orang lain salah tetapi boleh jadi benar.”
        Dua Manusia yang sekaliber Imam mahzab saja masih menganggap kata-katanya masih ada kemungkinan salah kok. Padahal mereka berpedoman pada Firman Allah (Al-Quran) dan Sabda Nabi saw. (Al-Hadits). Apalagi yang namanya mengikuti perkataannya Emha Ainun Najib yang omongannya ngawur dan bertentangan dengan konsep Al-Quran 😀
        Jadi seperti yang saya bilang sebelumnya khatamkan Al-Qurannya dulu ya mbak. Setelah mbak khatamkan Al-Quran, memahami isinya, dan mengimaninya (kalau mau beriman :-D) saya yakin konsep keIslaman dalam hati mbak pasti berubah, tidak cuma menganggap konsep sosial kemanusiaan sebagai keseluruhan nilai-nilai-Islam.

        • Tidak berubah suatu kaum kecuali atas keinginan mereka sendiri ;). Jadi ada atau enggaknya ya tergantung orang-orangnya saja, mau apa enggak 🙂

      • @manualist..
        saya kira konteks yg dibcarain mbak jihan adalah produk akhirnya secara sosial yaitu masyarakat yg lebih sopan, ramah, sejahtera, less criminal, sabar, disiplin dll, bukan proses.. yang diperdebatkan oleh saudara manualist adalah perintilan2 sikap sosial. misal, minum minuman keras, perzinahan, dll..

        saya setuju hal2 seperti ini mustinya harus berada jauh dari kita semua, tapi yg dibahas disini adlaah produk akhirnya, apakah negara2 mayoritas islam (yg lebih sedikit atau tidak ada kegiatan minum2an keras dan perzinahaannya dll) lebih baik secara sosial? lebih tidak korup? lebih ramah? lebih bersih? lebih disiplin? saya kira tidak.. ironis memang tapi kenyataan lapangan memang seperti itu adanya.

        Hal2 yang sifatnya individualistic spt zinah, gay, lesbian, minum arak, ga beragama dll.. bahkan kadar ritual kita adalah ketentuan Allah dalam menilainya. bukan kita manusia.. kita hanya bisa mengingatkan saja.

        bagi saya konsep Islam yang paling luar biasa itu adalah “Rahmatan lil Alamin”
        menjadi rahmat bagi alam dan manusia lain.. dan manusia2 spt ini justru banyak kita temukan di negara2 dengan mayoritas non muslim?

        apakah mereka mempelajari Islam? saya kira tidak.. tapi secara tidak sengaja mereka telah menjalankan beberapa perintah2 Allah dengan lebih baik dari negara mayoritas islam, meskipun mereka kita memberi label “Kafir”

      • :).. saya hanya menggarisbawahi tentang penelitian itu mbak.mngkin kita perlu mengkroscek metode penelitiannya, misal indikator-indikator keislaman. Dan saya kira melihat keislaman tidak bisa digeneralisir “hanya” dari perilaku sosialnya. itu memang buah dari iman.sholat memang mencegah perbuatan keji dan mungkar.kalo sholat tapi tetap kurang baik akhlaknya, apa dia belum berislam? begitukah?. lalu, kalo dia akhlaknya baik walau dia itu tidak sholat, apakah berarti itu juga cermin islam?begitukah? itu hanya contoh kecil.

        islam itu memang indah, luas, komprehensif, mencakup seluruh kehidupan kita dari yang terkecil seperti mandi sampai yang terbesar seperti tata negara. jika memang ada salah satu yang kurang bisa dilakukan, apakah itu dikatakan belum berislam?

        tentang eropa dan indonesia. mengapa kehidupan sosialnya jauh lebih baik dari di eropa?. :). ini hanya opini saya, dan bukan kebenaran mutlak. saya kira, bukan hanya soal dia itu sholatnya udah bener apa gak, dia itu sholat apa tidak, dia itu islam apa tidak. bisa saja tentang pendidikan, pemenuhan kebutuhan, dll, yang memang sudah sangat terlihat mencolok perbedaannya antara indonesia dan eropa.

        yah..jika kita melihat seorang yang mengaku islam namun akhlaknya buruk, bisa saja kita mengatakan dia belum sebenar-benarnya islam.
        lalu, jika ada orang yang berakhlak baik tapi tak percaya Allah, atau tak setuju dengan beberapa aturan2 yang Allah tetapkan, apakah dia masih tetap bisa dikatakan berislam?Apakah di eropa semuanya itu mengakui Allah dan setuju dengan aturan2 Allah? sehingga dikatakan baik dalam berislam?

        sekali lagi, saya hanya menggarisbawahi tentang penelitian itu mbak 🙂

        urusan penelitian akidah, bukan wilayah saya untuk menjawab

        Allahu a’lam

      • @Doz:
        Berarti tingkat alkoholisme, tingkat pelacuran, tingkat perceraian, tingkat broken home, tingkat kejahatan seksual, tingkat homoseksualitas, tingkat kehidupan bebas, tingkat kenakalan anak dan remaja itu bukan sebuah output/produk sebuah masyarakat?? Bahkan indikator-indikator tadi bisa diukur secara kuantitatif dan lebih mudah. Kalaupun cuma memakai indikator Islami dalam sosial kemasyarakatan seharusnya item-item tadi juga dimasukkan. Sayangnya peneliti kita tsb tidak memasukkan item-item tadi ke dalam metode penelitiannya. Karena menganggap untuk menjadi Islami hanya butuh jadi warga yang baik, disiplin, bersih, sejahtera dan harmonis di lihat dari kaca mata humanisme bukan Islam. Aneh orang mengklaim menggunakan “islamity Index” tapi masih menggunakan kacamata Barat (baca: humanisme) bukan Islam itu sendiri. Kalau kecanduan alkohol, pelacuran, homoseksual, free sex dll itu oleh nilai-nilai humanisme masih bisa ditolerir. Tapi oleh Islam itu semua adalah hal yang buruk.
        Jadi saya rasa tidak pantas kedua peneliti itu mengklaim penelitiannya dengan judul “How islamic are islamic Countries” – karena “Islamity Index”-nya walaupun hanya dari aspek sosial kemasyarakatannya masih kurang pantas disebut Islami- tetapi lebih cocok dengan judul seperti: “Seberapa maju aspek sosial kemasyarakatan dalam kacamata humanisme di negara Islam” atau judul yang senada dengan itu.

      • Kesejahteraan sosial penting dalam Islam!!….tapi soalnya bukan itu, yang diangkat Ketua PIMPIN Bandung adalah soal metodologi penelitian yang mengecohkan karena indikator-indikator Islami yang digunakan hanya sepoton -sepotong. Kita akui bersih, tertib, sejahtera dan sejenisnya bisa masuk jd indikator Islami….tapi itu saja tidak cukup mesti juga kita lihat hal-hal lain yang dilarang agama seperti fenomena homosexual, minuman keras dan daftar lainnya yang disebut sdr. Wendy diatas seharusnya dijadikan juga indikator penelitian tetapi ini tidak.

        Kita setuju bahwa disana banyak yang baik tetapi juga ingat disana banyak yang buruk, Secara kasat mata tampaknya kehidupan sosial mereka lebih baik tetapi nanti dulu saya juga banyak mengetahui bule yang tidak suka dengan kehidupan Barat mereka, malah tidak sedikit yang senang dengan iklim kehidupan masyarakat di Indonesia….. Maksud saya jika ada orang yang kurang sependapat dengan mbak bukan berarti mereka tidak suka atau tidak mengakui bahwa kesejahteraan sosial di negeri ini atau negeri berpenduduk mayoritas Muslim masih banyak PR lalu menafikan keberhasilan Barat dalam menegakkan ketertiban, kebersihan dan lain-lain….sama sekali tidak! Hnaya manakala membawa-bawa hasil penelitian yang secara metodologi masih dipertanyakan maka kita pun dituntut kritis untuk itu…..lainnya saya relatif setuju kok mbak….saya juga pernah menetap cukup lama di dua kubu sama seperti mbak….

    • Sejujurnya sih saya agak nggak peduli negara mana yang paling Islami hehehe.. Pokoknya yang penting kalo berhaji ya ke Arab, jangan ke Irlandia hehehe.

      Yang saya tangkap dan pahami dari tulisan Mbak Jihan, untuk manfaat pribadi saya sendiri, adalah gimana caranya kita bisa lebih mewujudkan akhlak positif kepada sesama, secara sosial. Karena percuma hablumminallah-nya kenceng tapi hablumminannas-nya keblinger, vice versa. Gimana caranya nunjukin kalo Islam ini PAS untuk seluruh manusia di penjuru bumi. Itu aja sih.

      Kalau kata “Islami” terlalu ekstrem buat Anda dan Anda sakit hati karena Indonesia cuma di peringkat 140, cobalah santai dan ambil positifnya aja. Introspeksi apa yang Anda bisa dapetin setelah baca artikel di atas? Kebobrokan negeri ini nggak akan berkurang dengan protas-protes labelisasi macem ini lah..

      Santai aja..

      • :). saya tak sakit hati kalo Indonesia diperingkat 140..
        ya.. sama mas.. kalo hablumminannasnya kenceng tapi hablumminallahnya kendor.. apa dia itu sudah dikatakan berislam?
        Apa di Eropa habluminallahnya sudah kenceng sehingga bisa dikatakan baik dalam berislam?

        ya..jangan dikira kalo saya tak suka dengan tulisan mb jihan. saya suka.. dan saya reblog. siapa sih yang tak rindu dengan lingkungan yang dipenuhi oleh orang-orang berakhlak baik..

        lalu saya diingatkan oleh seorang teman, kalo islam itu luas..tmn saya khawatir mungkin, jika saya nantinya hanya melihat pada sisi tertentu dan lupa melihat sisi yang lainnya..sama2 belajar menjadi lebih baik saja..

        saya berbagi pendapatnya bapak wendi.. semoga ada yang bisa mengambil ibrah. mungkin sampen melihat bahasanya “kurang santai” y.hehe..

        Allahu A’lam

      • ngggg….. itu makanya saya bilang di atas “vice versa” kan? vice versa artinya “begitupun sebaliknya”, jadi tolong jgn anggep kalo saya mentingin hablumminannas doang ya hehe.

        gini lho, saya paling malas beradu argumen macam ini soalnya saya pun enggak cerdas. judulnya salah? yaudahsih lah namanya juga literatur manusia. kalo wahyu Ilahi pake acara salah baru deh yuk kita protes rame-rame. isinya ngawur? perilaku kita udah mencerminkan perilaku yang bener belum? yakin udah SELALU buang sampah dengan benar? yakin udah berkontribusi ngurangin macet? yakin udah sabar tiap dapet antrian panjang? yakin udah berani beraksi tiap liat kebathilan terjadi di muka umum? kalo belum, ya tulisan di atas yuk mari rame-rame kita jadiin introspeksi.

        intinya buat pribadi saya adalah ambillah apa yang menurutmu baik dari dunia. negara2 eropa di tulisannya mbak Jihan khan mengedepankan perilaku sosial yang bagus, maka tirulah. tapi yambok jangan ditiru yang menyimpang dari ajaran Islam, itu mah ya nggak usah diomongin lagi. sesimpel itu, semudah itu. selebihnya ngapain amat diperdebatin. yang penting gimana kita bisa memperbaiki diri terus menerus di hadapan Allah SWT dan untuk masyarakat, sbg bekal untuk akhirat.

        itu kalo saya sih.. orang khan beda-beda hehe..

        suwun.

    • @Doz:
      Berarti tingkat alkoholisme, tingkat pelacuran, tingkat perceraian, tingkat broken home, tingkat kejahatan seksual, tingkat homoseksualitas, tingkat kehidupan bebas, tingkat kenakalan anak dan remaja itu bukan sebuah output/produk sebuah masyarakat?? Bahkan indikator-indikator tadi bisa diukur secara kuantitatif dan lebih mudah. Kalaupun cuma memakai indikator Islami dalam sosial kemasyarakatan seharusnya item-item tadi juga dimasukkan. Sayangnya peneliti kita tsb tidak memasukkan item-item tadi ke dalam metode penelitiannya. Karena menganggap untuk menjadi Islami hanya butuh jadi warga yang baik, disiplin, bersih, sejahtera dan harmonis di lihat dari kaca mata humanisme bukan Islam. Aneh orang mengklaim menggunakan “islamity Index” tapi masih menggunakan kacamata Barat (baca: humanisme) bukan Islam itu sendiri. Kalau kecanduan alkohol, pelacuran, homoseksual, free sex dll itu oleh nilai-nilai humanisme masih bisa ditolerir. Tapi oleh Islam itu semua adalah hal yang buruk.
      Jadi saya rasa tidak pantas kedua peneliti itu mengklaim penelitiannya dengan judul “How islamic are islamic Countries” – karena “Islamity Index”-nya walaupun hanya dari aspek sosial kemasyarakatannya masih kurang pantas disebut Islami- tetapi lebih cocok dengan judul seperti: “Seberapa maju aspek sosial kemasyarakatan dalam kacamata humanisme di negara Islam” atau judul yang senada dengan itu.

      • Bagus sekali pemikirannya saudara/i embundankaca. Saya setuju bahwa Islam harus dilihat secara keseluruhan aspek, tidak hanya aspek habluminannas tapi juga habluminallah.Al-Quran dan Nabi saw. tidak hanya menerangkan mengenai aspek sosial kemasyarakatan saja tapi juga banyak hal yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, baik untuk kehidupan dunia maupun akhirat. Dengan berpengang teguh pada seluruh aspek tersebut baru pantas disebut dengan “Islami” yang sebenarnya bukan sekedar klaim “Islami” tetapi hanya parsial dan berpedoman pada nilai-nilai selain Islam

      • Saya suka tanggapan manualist dan embundankaca…..saya kira pemikiran Anda berdua perlu dikemukakan agar (mudah2an) tidak banyak Muslim yang kagetan dan gumunan dengan kehidupan Barat…..saya sendiri pernah 3 tahun di Barat dan bahkan kawan bule saya merasa “gersang” dengan kehidupannya dan lalu belajar Islam dan alhamdulillah menjadi Muslim……Nah tugas kita ini untuk berdakwah sekuat dan semampu kita menyampiakan kebenaran ajaran islam…..jika keyakinan Islam telah dimiliki buahnya akhlak, budi pekerti (noble behavior) yang agung…..jadi pendalaman agama penting……akarnya kita kuasai dulu nanti buah diperoleh dengan sednirinya….insya Allah…..Wallahu a’lam.

  92. How Islamic are Islamic Countries?

    Setelah membaca, yang juga tulisanya berisi penelitian ilmiah yang di publish, saya jadi berpikir, ini bukan hanya untuk agama Islam saja, tapi untuk agama, kepercayaan, keyakinan lainnya juga;

    misal “How Christianity are Christian City?”;

    atau ekstrimnya: “mungkin lebih ramah, lebih teratur di kota, negara dengan sifat plural, bahkan mengijinkan keberadaan para atheis dibandingkan yang negara/kota yang beragama, mewajibkan memeluk agama?”

    Suatu renungan, apakah agama, keyakinan, kepercayaan yang di pegang oleh umat manusia itu berdampak positif dan memberi contoh bagi keluarga, lingkungan, bahkan negara?

    Jika yang sesama aja banyak yang tidak menjadi contoh bagi sesamanya, bukankah akan menimbulkan suatu keraguan, sampa timbul sifat apathy? Hingga kehidupan rohani menjadi datar karena di suguhi tontonan dari tindakan yang tidak menjadi contoh? Maaf, selamat pagi, selamat siang, selamat sore, senyum, saling membantu, tidak me-bully/mengolok, tidak mencemooh, tidak saling menjatuhkan, tidak ber-gossip/membicarakan kejelekan orang, menghormati dan menghargai orang lain siapapun dia dan lain sebagainya,…

    “How Religious are Religious Countries?”

    =========================================================================

    saya post di FB saya…sungguh menggugah,,,

  93. Berbahagialah anda yg sudah mengenyam banyak kehidupan dan memiliki pengalaman hidup di luar Indonesia tercinta ini.

    Kita jadi bisa mengukur sampai sejauh mana kadar hidup kita [secara rohani] dibandingkan dengan orang luar yg sering kita cap sebagai “orang kafir” ternyata mereka memiliki hidup yg jauh jauh jauh jauuuh lebih manusiawi daripada kita ckckckck……..

    Sepertinya Indonesia nih sia2 memiliki 5 agama besar dunia [ibarat memiliki mobil mewah tapi gak bisa nyupir]

    btw…. ini sebuah tulisan yg enak dibaca, tulisan tentang pengalaman hidup, yg bisa mengingatkan kepada saya secara pribadi untuk terus berusaha membenahi diri.
    benahi diri
    benahi diri
    benahi diri
    huffft………

    Trim’s ya mbak atas bagi2 pengalamannya.

  94. Sungguh tergugah hati sy dng tulisan mbak jihan…. semoga pemikiran ini bisa membuka wawasan bagi lebih banyak masyarakat indonesia baik muslim maupun non muslim….tx mbak…. salam damai bagi mbak jihan sekeluarga

  95. Ulasan yg sangat menarik mba.. Ga brasa tnyata panjang juga.. Setuju sekali sm pembahasannya. Sekarang semua sudah bergeser.. Inti dari setiap ajaran saya rasa sama, yaitu mengasihi alam, sesama, dan lingkungan. Tp sekarang banyak yg sudag mengkotak2an diri. Semoga masih ada harapan utk hidup damai terus ya mba.. Terima kasih utk artikel yg sangat sangat menarik ini 🙂

  96. Menjalankan akidah itu harus. Pelaksanaan Akidah yang benar pasti menghasilkan manusia ber-akhlak yang baik. Attitude yang baik. Terimakasih pencerahannya.

  97. Saya memiliki pengalaman yg sama dengan kehidupan di Sydney. Orang-orand disini sangat baik dan lingkungannya pun teramat bersih. Berbeda sekali dengan keadaan di Arab Saudi dan Indonesia. Meskipun, banyak penduduk lokal di Sydney yang saya tahu mengaku tidak menekuni agama tertentu, tetapi pola kehidupan masyarakat disini merupakan cerminan kehidupan yg berlandaskan prinsip-prinsip Islam. Tanya Kenapa?

  98. Sedikit sharing pengalaman juga.
    Saya bekerja di jakarta, tp tinggal di bogor. Setiap hari bolak balik kantor-rumah menggunakan transportasi KRL. Setiap pulang kerja, sy pasti sampai di stasiun bogor saat magrib. Sy sllu menyempatkan slt trlbh dl di stasiun. Namun, hal yg sngat mengganggu sy adl ketertiban para jamaah dlm antri wudhu. Krn padat, orang2 sering memotong antrian dan brsikap seakan2 hanya ia yg butuh menunaikan slt. Sy heran. Orang2 tsb ingin menunaikan slt, tetapi utk mencapai solat, memotong antrian, sngat tidak beretika dan menzalimi orang lain. Seakan2 bersikap “sy lo yg lbh penting utk solat trlbh dhulu dibanding kalian.”
    Setiap ada orang yg brsh memotong antrian sy, psti sy tegur. Yg sy herankan, kebanyakan saat orang lain dipotong antriannya, mereka bersikap membiarkan.
    Melihat 1 cth kasus ini, sy merasa indonesia bobrok, juga slh satunya diakibatkan sikap pembiaran kita. Kita cenderung diam saat kesalahan trjadi, sehingga mengakibatkan kesalahan tsb menjadi membiasa dan membudaya dlm kehidupan masyarakat.

  99. Thanx Mba Sekar yg sdh share di fb tulisan ini..hingga mengantar saya membaca blog ini.. insya Allah kaum muslimin bisa menjadi lebih baik keislamannya melalui tulisan” seperti ini.. aamiin..

  100. hahaha, asli menusuk deh soal yang Mbaknya dibilang liberal/sekuler. Saya juga beberapa saat lalu digituin. Saya ga paham kenapa, tapi hipotesis saya sih orang yang sangat religius kok banyak yg susah ya diajak mikir logis

    Padahal dulu Islam pernah punya cendekiawan hebat macam Averoes, Avicenna, dll

  101. Salam ke Dinasti Kennedy yang berasal dari Irlandia.
    Irlandia negara yang dahulu tertindas Kristen Anglikan.
    Dahulu di Irandia banyak yang beragama Roman Christian, Kristen Katolik.

    http://wiki.answers.com/Q/Which_US_president_was_the_first_Roman_Catholic_to_hold_office?#slide=1

    Hemat saya ajaran Nabi Isa A.S. ajaran yang menyebarkan tauhid dan kasih universal, Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.

    Dalam Islam tidak boleh mengambil Aulia, penolong diluar kaum beriman.
    Beriman sudah tentu muslim. Muslim belum tentu beriman.
    Menghadapi musuh dalam islam harus berhati-hati, dan membalas setimpal bila dianiaya, berlaku qishas. Hukum Qishash dilaksanakan dalam pengadilan yang dilindungi negara.

    Semoga bermanfaat.
    Wass.Wr.Wb.

  102. Begitulah ummat Islam kini, tidak diajari iman dan al Quran sedari dini. Sehingga ada kesenjangan antara ajaran Islam dengan akhlaq ummat Islam.

  103. Sangat menginspirasi sekali tulisan dr mb Jihan, semoga saya juga tidak dipalingkan dr Islam sampai akhir hayat saya. Dan menjadi muslim yg bermanfaat dan berguna bagi orang lain.

  104. tulisan yang bagus… di jepang juga sama, mereka tidak terlalu mementingkan agama tetapi perbuatan dan sikap mereka kepada sesama sungguh berbeda seperti di indonesia yang penduduknya beragama…

  105. Bagus sekali tulisannya…. Tidak cukup direnungkan…. Lakukan yang terbaik untuk sesamamu, alam lingkungan, negrimu dan Tuhan. Terima kasih mbak untuk pencerahannya.

  106. Menarik sekali, menjadi seorang muslim yang lebih beriman di negara yang mayoritasnya justru non muslim. Menjawab kenapa justru di negara yang jelas2 negara Islam, malah tidak bisa menjadi muslim sejati.

  107. pada intinya semua agama itu sama, manusia dilahirkan sama dimata Tuhan, waloupun di kehidupan ini mereka ada terlahir kaya dan miskin tapi itu hanyalah titipan semata, pada saat menghadap kepadanya nanti hanyan perbuatan baik dan buruk kita sajalah harta kekayaan yg kita bawa

  108. Terima kasih atas tulisan yg mendalam ini.
    Saya setuju.
    Perbanyak temanmu seperti engkau hidup selamanya dan persiapkan dirimu juga untuk mati besok

  109. Copas comment yg sama di FB
    kesan dari Mualaf ex sipir Guantanamo, “If the Prophet Muhammad were to come back to Earth today, he would find the best examples of Islam in the United States. American Muslims have a responsibility to live their faith so others can see a true example, not the perversions of the terrorists or the tyranny of corrupt governments in some majority-Muslim nations” terjemah bebasnya “misal Nabi masih ada, contoh muslim yg terbaik (mungkin) ada di US, karena bertanggung jawab (kaffah) dgn agamanya. Bukan teroris atau koruptor di negara mayoritas islam..
    linknya di http://www.al.com/living/index.ssf/2013/05/gitmo_guard.html atau google saja Terry Holdbrooks Jr atau bukunya “traitor?”

  110. “I went to the West and saw Islam, but no Muslims; I got back to the East and saw Muslims, but not Islam.” — Muhammad Abduh, Egyptian thinker (1849-1905)
    .
    Pemikiran seperti post ini tidaklah baru, awal abad ke-20, 100 tahun yang lalu, Muh. Abduh mencetuskan pemikiran yang sama.
    .
    Mengapa negara-negara yang tidak pernah membaca Al-Quran, justru secara umum mengamalkan akhlak terhadap manusia dan alam serta keadilan sosial?
    .
    Menurut saya, sudah terkode di dalam diri manusia secara individu dan kolektif; bahwa yang Benar akan melawan yang Salah.
    .
    Negara-negara sekuler ini sudah mengalami proses jatuh bangun yang pastinya PERIH, entah berapa ratus tahun untuk berjuang dan belajar, entah berapa nyawa sudah melayang; untuk menentukan apa yang benar dan apa yang salah di dalam masyarakat. Mereka mungkin tidak lagi membaca ‘divine scriptures’, namun memang sudah hukum alamnya manusia yang berjuang dan belajar akan menemukan cara yang benar.
    .
    (Irlandia mengalami konflik horizontal umat beragama…, dan pasti negara-negara Eropa lain pernah mengalami yg namanya dark ages, Amerika, bangsa yg berdiri di tanah Indian ini juga mengalami masa-masa slavery kaum Afro-American, dsb)
    .
    Namun karena komunitas-komunitas ini sekuler, jadi tidak ada batasan untuk hal-hal seperti ritual doa, cara makan yang bersih dan halal, sampai mungkin hal-hal seperti fitrah manusia dan akidah yang benar lainnya (yang ada di dalam kitab-kitab).

  111. Kalam seseorang yang saya hormati pemikirannya:
    .
    “Saya tidak bisa melakukan hal lain kecuali mengobservasi, dikotomi yang sangat lebar, ketika saya merenungkan negara-negara Barat: sistem kesejahteraan masyarakat mereka, perjuangan kesetaraan, fasilitas untuk orang lemah, orang buta, permukiman untuk rakyat miskin dan yang membutuhkan, jalan raya, jaringan transportasi, edukasi, sistem tanggap bencana, health-care, sistem keadilan, hak asasi manusia, hukum ketenagakerjaan…..
    .
    dan bertanya-tanya, apakah mereka, tanpa sengaja, telah mengadopsi banyak core principles/prinsip-prinsip utama yang diajarkan oleh Quran.
    .
    Prinsip-prinsip yang tertanam setelah mereka banyak sekali menghadapi perselisihan, trial and error; dan pengalaman menyakitkan.
    .
    Padahal, on the contrary, banyak bangsa Muslim yang mengklaim menegakkan ajaran Islam dan mempunyai Kitab paling sempurna, fussilat, di tangan mereka; namun tidak bisa menyediakan kebutuhan dasar bagi masyarakatnya.
    .
    Saya bertanya apakah fasad dari ‘religisiusitas’ yang secara ironis merespond julukan ‘Muslim’, telah menjadi sebuah empty vessel, hanya sebatas ritual, meninggalkan sebuah agama yang dahulu pernah menjadi agama yang hidup: perlambang usaha, kebaikan, dan pertumbuhan intelektual.”
    .
    (Jika mengingat jaman keemasan Islam, kota Baghdad sebelum dihancurkan pasukan Mongol adalah kota yang hidup pertumbuhan intelektualnya, penuh dengan ilmu dan perpustakaan, terbuka terhadap pemikiran dan filosofi dari peradaban Hindu juga ilmuwan non-Muslim, menghasilkan ilmu medis dan matematika… Yang didagangkan di black marketnya adalah, buku-buku…… Kini, disodorkan sebuah riset yang bernas mengenai peradaban di Baratpun, ternyata masih ada juga yang resistant dan teriak liberal. Ah.)

  112. Hai mba,
    Keren banget tulisannya, terharu karena sangat setuju.. Huhu..
    Suami saya pernah tinggal di Lebanon 1 tahun (Dikirim tugas karena suami dokter di TNI AU), suami 1 kamar dengan 2 seniornya:

    sebut saja
    Senior A :
    Sangat islami (sholat 5 waktu, dzikir, tasbihan, etc)

    Senior B :
    Tidak terlalu islami (jarang shalat dan minum alkohol).

    Tapi suamiku berpendapat berbanding terbalik bahwa “senior B lebih islami” daripada senior A, Lho?? Kenapa?? Karena:

    Senior A:
    -Menganggap dirinya senior
    -Pelit
    -Semena-mena
    -Memanfaatkan keberadaan junior sekaligus sebagai pembantu
    -Berceramah kecil ttg Islam ini itu, apa yang haram dan apa yg tidak

    SEDANGKAN

    Senior B:
    -Memang minum alkohol, tetapi tidak mergikan orang lain
    -Jika ada makanan, beliau selalu berbagi disaat kesusahan dalam perang
    -Selesai makan di mes, senior B cenderung membantu cuci piring, dan tidak membiarkan suamiku mencuci piringnya (karena rasa nda’ enak)
    -Mengajarkan untuk saling menghargai antar sesama..

    Disaat suami ceritakan hal mengejutkan lainnya tentang pengalamannya di Lebanon, saat suamiku shalat di salah satu masjid, ia bergumam sama dirinya sendiri “What time is it??” karena mau tau sudah waktunya Ashar atau masih Dzuhur. TIba-tiba ada seseorang yang betul-betul sedang shalat di depannya, berbalik badan dan bilang “It’s Ashar time now” dan lucunya setelah mengucapkan hal tersebut ia kembali menghadap kiblat dan melanjutkan shalatnya. What??? Lucu ya kedengarannya, tapi setelah ditelaah dengan seksama, ternyata rakyat Lebanon lebih mendahulukan akhlak terhadap sesama dibanding mencari pahala untuk dirinya semata.. Wow, hebat yaa ga cuma mikirin diri sendiri.. And you know what?? Most of Muslim in Lebanon are Syiah.. Ternyata ya Syiah ga segitu jeleknya seperti yang diumbar2kan di negara kita ini yang terkesan provokasi pemecahan..

    Kebetulan saya sendiri pernah tinggal di Seoul, Korea Selatan. Disana orang2 memang bekerja seperti robot akibat dari education system yg mereka dapat dari kecil (saya sebagai dokter gigi Indonesia yang magang di salah satu dental hospital disana bekerja 12 jam sehari, Senin sampai Sabtu dan tdk ada libur walaupun tanggal merah natal or new year, ya gitu lah robot banget, but like it or not I had to deal with it right??), tapiiiii mereka ga gengsi dan ga segan2 untuk membantu satu sama lain dengan tulus.. Tingkat kriminal rendah..

    Pernah suatu waktu saya dan roommate saya (dr Indonesia juga), otw jalan kaki ke hospital dengan salju yang tebal belum sarapan kami duduk di kursi pinggir jalan sebentar krn terlalu dingin, kemudian out of nowhere ada nenek2 yang lagi membuka bungkusan roti yang masih hangat, tiba-tiba menghampiri kami dan menyodorkan rotinya utk diberikan ke kami (krn generasi lansia disana ga bisa bahasa inggris terkandang mereka cuek ngmg korea or diem seribu bahasa dg bahasa tubuh aja akhirnya), we were wondering “Mungkin kita keliatan bgt kali yak kelaperannya.. Hahahaha”. Intinya adalah mereka tdk hanya memikirkan diri mereka sendiri, mereka lihat kami mungkin orang asing, tdk terbiasa dgn salju dan udara dingin (down to minus 17 oC) dan ada niat dan usaha untuk menyelamatkan kami dari kedinginan, walaupun terlihatnya sepele, tapi bermakna besar buat kami..

    Ada juga Stephanie Mycale yang merinci ttg negaranya di
    http://www.youtube.com/watch?v=ydANJ5qLHG4
    Even she’s being brutally honest, but check out what she’s saying, sampai2 masuk koran di Singapore.. So proud of her..

    Intinya adalah, kalau memang merasa Islam, mulailah dari diri sendiri, sudah berbuat apa utk sesamanya.. Kalau belum lakuin itu, pikir2 dulu deh untuk menjustify jadi Islam..

    Keren banget, blog ini.. I’ll definitely share this!!!

  113. Bagus, dan nampaklah apa itu sebetulnya seharusnya beriman dan mengimani, bukan fanatik sempit belaka. Iman tanpa perbuatan ya bukan iman.

  114. sekarang ini yang bisa saya lakukan adalah mulai dari diri saya sendiri dan keluarga, terutama mendidik anak-anak, supaya akhlaknya bisa bernafaskan islam sebenarnya, mudah2an generasi mendatang bisa lebih baik dari sekarang… aamiin…

  115. Tapi patut disesali juga, banyak imigran yang masih membawa kelakuan lama mereka di daerah migrasi, bukannya berubah menjadi lebih baik. Misal di Paris, banyak sekali imigran yang jadi gelandangan, dan malah banyak melakukan tindakan kriminal.

  116. Alhamdulillah, beruntung ya mba menjadi muslim dan bisa tinggal di berbagai negara 🙂
    Beberapa tmn yg tinggal di Norway jg menceritakan hal yg sama, pun yg di Aussie, I was wondering why. And as u said, some of them really want to exchange citizenship!
    Bukan Islam-nya yg salah, namun pemeluknya, orgnya. Yuk mulai dr diri sendiri dan lingkungan terdekat kita 🙂
    Nice share mba, smg Allah mengizinkan kami tinggal di negara2 lain yg keren2 dan Islami jg, Aamiin *ngarep ceritanya, hihi
    Dan smg negara2 Islam dan penduduknya semakin Islami, Aamiin 🙂

  117. Really same experience mbak tulisannya dengan keadaan kami di sini (tinggal di france), justru para islamic people maksudx (arabian) yang paling di sindir disini yang justru melakukan tindakan2 kriminal dibanding penduduk asli… Merasa paling islam but gak ada realisasi islamicx antar sesama manusia justru penduduk asli yang lebih islamic pola hidupx minus kegiatan2 religius seperti (sholat, zakat, haji, puasa) tapi lebih bisa dipahami…. sering kali malu ketika di pertanyakan sama keluarga suami yg mau tau tentang islam & hubunganx dengan manusia secara mereka lebih menggunakan rasio dibanding penjelasan not real (mimpi) kata saya sih seperti yg sering kita dengar dari ceramah2 agama… Dan paling miris sekarang ini karena saya dihadapkan oleh pemikiran keluarga yang mengatakan saya terlalu meninggalkan ke islaman saya karena banyak hal2 yang mereka katakan mengenai hakiki islam saya tantang & tidak setujui…
    But whatever i’m, moeslem and will keep my Islam because i believe Allah will never leave me me alone without trust of my religion and no word to replace it…

  118. Saya pun merasakan hal yang sama di Spanyo ini. Mereka sangat respect dan menghargai saya. Ijin share ya mbak. Trimakasih.

  119. Dari Abi Hamzah Anas bin Malik ra. pelayan Rasulullah saw dari Nabi saw telah berkata: “Tidak sempurna iman seseorang diantaramu hingga mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.”
    (Bukhari – Muslim)

    Tulisan yg sgt bagus mbk..
    Aqidah & akhlaq adl 2 hal yg sgt berkaitan & tdk bs dipisahkan..

    kita brusaha memberi tauladan dg akhlaq yg baik & dg aqidah yg kuat.
    Jgn sampai masuk pemahaman liberal krn “kebaikan” org non muslim, tp jg jgn menyalahkan islam atas buruknya akhlaq org muslim..

    Barakallahu fiikum..

  120. Alhamduliah, secara akal sehat saya masih percaya bahwa. Al Qur’an adalah benar, the best, paling lengkap, hanya dalam implementassinya terasa kurang berimbang antara Habluminnallah dengan habluminannas padahal ini harus saling mengisi untuk mendapatkan dampak bagi keimanan kita. Ittulah sebabnya dalam memahami Islam saya memerlukan refrensi riwayat dan perilaku junjungan kitta Nabi Muhammad SAW, banyak hal yg kita dapatkan u/memahami Islam secara sejuk
    Dalam rangka memperluas wawasan saya suka juga mendengarkan ceramah2 agama Nasrani, Budha pada siaran broadcast TV, yg tidak bisa saya pungkiri sebagian terasa menyejukan hati, mungkin hal ini yg perlu menjadi perhatikan para Ulama, pendakwah Islam
    Kemudian mungkin faktor kesejahteraan harus menjadi priorritas bagi para para Pemimpin Bangsa di Negara ini, mungkin ini salah satu fakttor mempercepat menyerap sifat2 ke Islamian kita
    Demikianlah smoga ada manfaatnya bagi kita semua, Amin

  121. Menurut saya, jika ingin memakai judul seperti diatas, seharusnya sample yang diambil hanya negara-negara Islam, dan membandingkannya dengan Al-Qur’an dan Hadist sebagai sumber aturan sesuai metode penelitian yang disampaikan.

    Ketika menggunakan perbandingan negara lain, seperti Indonesia contohnya yang berdasarkan Pancasila atau negara lain, maka asumsinya menjadi berubah.. Asumsi “semua agama sama karena sama-sama mengajarkan kebenaran” pasti dipakai. Ketika aturan Islam mustahil diterapkan 100%, bagaimana mungkin itu dijadikan rujukan sebagai Islam? Saya jadi tertawa ketika kesimpulan penelitian bilang Selandia Baru sebagai rank-1, yang bahkan untuk indikator pertama, terutama “ajaran Islam mengenai hubungan seseorang dengan Tuhan” sudah gugur…

    Mengutip quote ini : “I went to the West and saw Islam, but no Muslims; I got back to the East and saw Muslims, but not Islam.” — Muhammad Abduh, Egyptian thinker (1849-1905), saya justru mempertanyakan definisi Islam menurut beliau ini apa. Jika hanya melihat dari kehidupan sosial, ya ga lengkap didefinisikan sebagai Islam, Habluminallah-nya sekali lagi dilupakan.

    Ditambah sumber-sumber yang dikutip yang.. ah, sudahlah..

    Terima kasih untuk sentilannya, membuat saya merasa harus mempelajari Al-Qur’an dan Hadist lagi, karena saya percaya hanya Islam yang benar 🙂

    • Saya setuju dengan komentar ini….saya kira tulisan mbak Jihan ini seolah terkesan gumunan dengan kehidupan Barat meski memang kita akui dalam beberapa hal ada yang positif dari mereka tetapi Al Quran yang menjadi petunjuk hidup kita telah banyak mengkisahkan orang2 yang hanya dapat dunia saja tetapi tidak dapat akherat disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat Allah (menolak kebenaran)…..sehingga amal baik kebajikan yang mereka lakukan di dunia sia-sia belaka tidak dieprhituingkan di akherat……kita mesti baca kisah-kisah seperti ini secara serius agar tidak gumunan seperti mbak Jihan ini….mohon maaf sekedar mengingatkan saja…..mari membaca kembali al Quran kita…..agar tidak terlalu kagetan dengan kondisi nyata di dunia ini….

      • Hehehehe, justru bukan gumunan atuh. Kita dong yang harus berkaca :). Bukannya nyuruh semua pindah ke negara bule dan menghina Islam. Ingat lho, kritik ini untuk penganutnya bukan agamanya :). Kita harus berbesar hati dan mengakui secara ‘terbuka’ dan positif betapa kehidupan muamalah di banyak negara maju sungguh jauh lebih ‘islami’ (pake tanda kutip) daripada yang ada di misalnya negara-negara mayoritas muslim seperti Indonesia dan Arab Saudi :). Kebetulan pula, saya pernah tinggal di keduanya. Semoga bisa dipahami :).
        Saya kutipkan lagi dari artikel saya di atas, pernyataan Ahmad Syafii Maarif, “pernyataan Ahmad Syafii Maarif dalam tulisannya yang saya share di status FB saya :

        ” …Bagi saya penggunaan perkataan ringkih terasa lebih puitis dan tajam, dibandingkan padanannya dalam istilah bahasa Indonesia.
        Itulah sebabnya dalam tulisan ini perkataan ringkih digunakan. Benarkah Dunia Islam itu ringkih? Tanpa memerlukan data hasil riset yang mendalam, berdasarkan pengamatan umum saja, pasti jawabannya: benar! Kesenjangan sosial-ekonomi hampir merata di seluruh dunia Islam. Keadilan yang demikian keras diperintahkan Alquran tidak digubris oleh penguasa yang mungkin sudah menunaikan ibabah haji berkali-kali…”

        Semoga bisa dipahami dan dicerna dengan hati yang tulus :).

  122. You’ve earned my respect. Not because im a non muslim or because you seem to be neutral and not fanatic like your fellow moslems. But because you truly apply Islam into your life and choose not to be blinded by fanatism of your religion. Thank you for sharing!

  123. jadi ingat waktu belajar beladiri jepang
    ada teman yang komentar beladiri jepang banyak ritual-ritual yang bertentangan dengan Islam semisal “rei” menghormat kepada “sensei”,,, lhah pas latihan kok filosofi yang diajarkan islami banget, bahkan “sensei” nya (kebetulan beliau muslim) menyampaikan dalil dari al-qur’an dan hadits, tanpa menyebut itu sumbernya al qur’an-hadits, karena peserta latihan ada yang muslim dan non muslim, tapi kami yang muslim tahu kalau itu dari qur’an dan hadits.

    • nilai-nilai yang di klaim Islami itu sebetulnya nilai-nilai moral yang universal, yang diajarkan di semua agama. Orang yang sdh bisa menguasainya bisa dikatakan mempunyai kecerdasan spiritual yang bagus. Jadi orang tua yang baik, dari agama apapun pasti mengajarkannya pada anak-anaknya sejak bayi. Kalau nilai-nilai ini diajarkan dan dibiasakan sejak kecil, maka niscaya akan tercipta kedamaian.

  124. Islam zaman skrg ini telah bergeser hy sbg label dan adanya kecenderungan org2 yg mengaku muslim ‘merasa’ paling benar. Krn sekali lagi ‘merasa’ telah menunaikan apa yg ada dlm Quran dan Hadits tergantung tafsiran mn yg dibacanya, atau aliran yg dianutnya. Islam sesungguhnya adalah berserah diri kpd Tuhan. Islam bukan Arab apalagi hy sekedar pakaian yg dipakai di raga. Setiap manusia dibekali ‘blueprint’ yg menjadi code of conduct, dlm hal ini muamalah dengan sesama. Ini yg menyebabkan bukan negara mayoritas muslim pun bisa lebih ‘islami’ drpd negara muslim. Syariat atau tata cara bisa berubah di setiap peradaban, tetapi hakikatnya ibadah kpd Tuhan dan niatan ibadah itu sendiri hy lah nurani dan Tuhan yg tau sejauh mana kebenarannya dan utk siapa dia beribadah.
    Tulisan yg sgt menarik mba Jihan. Well done. Salam

  125. Pingback: in 30s
  126. Sangat menginspirasi mbak…
    Mirip ajaran keyakinan saya…
    Taat kepadaNya…
    Namun menjadi saluran berkat buat sesama…

  127. Jadi inget 2 thn lalu ke busan, korea. Keilangan tas yg isinya pasport dan uang yg kalo ditotal dlm rupiah jumlahnya 5 jutaan. Pasrah, yg penting surat2 bs diurus. Ternyata, org korea sgt helpful, bahkan sy mau lsg dibelikan tiket kereta busan-seoul utk ke kbri. Ajaibnya, tas sy dititipkan oleh yg menemukan di lost and found. Semua restleting ditutup dan isinya gak kurang sama sekali. Ya, itu terjadi di korea yg 95% warganya gak kenal Tuhan

  128. 2 thn lalu pnah ke busan motor show di korea. Keilangan tas di area pameran yg isinya passport dan uang sktr rp 5 juta. Lemes dan lsg lapor pihak pengundang “hyundai”. Mrk sgt helpful bahkan lsg kontak org kbri dan menyiapkan tiket dan pendamping utk perjalanan ke seoul. Ajaibnya, tas berhasil ditemukan di lost n found. Tertutup rapat tanpa kurang apapun. Yg balikin gak ketauan krn gak mau ksh no kontak. Itu semua terjadi di negara dgn 95% rakyatnya gak percaya Tuhan.

  129. Wah tulisannya sangat menginspirasi…….Meskipun saya bukan seorang Muslim namun saya sangat menghargai setiap kebebasan beragama orang. Agama tidak menjamin apakah saya atau anda bisa mempunyai tempat di Sorga tetapi setiap orang yang hidup dan menjalankan keyakinan dengan baik & benar tanpa memandang salah orang lain. Yang terpenting bukan aktivitas agami kita tetapi penerapanya.

  130. Salam kenal.Thanks atas sharingnya yg mencerahkan.Ditunggu artikel lainnya dalam upaya upaya memperluas wawasan praktek dan hakekat beragama.

  131. Kalau menurut saya, ini bukan semata2 tentang agama, tapi aspek watak dan budaya (kebiasaan) penduduknya juga ikut andil. Watak orang Arab (mungkin sebagian, mungkin jg mayoritas) memang keras, terkadang merasa lebih superior sehingga sering tidak memperhatikan hak orang lain. Pengalaman disela antrian (entah itu lift, toilet, dll) selama beribadah di tanah suci sudah tak terhitung lagi. Bahkan saat saya mengantri sambil mendorong kursi roda (karna uwak saya yang sudah sepuh sudah tidak sanggup berdiri apalagi berjalan), berkali2 antrian kami disela orang2 yang masih muda dan sehat, baik orang Arab maupun orang Indonesia sendiri. Miris sekali. Saya sampai begitu emosional dan berteriak ke mereka “tidak adakah penghormatan kalian terhadap orang tua?”. Pengalaman berbeda saya dapatkan ketika saya berkunjung ke Brunei Darussalam. Negara mayoritas muslim, tapi Alhamdulillah saya tidak mendapat perlakuan buruk saat disana. Saya bahkan terkesan dengan attitude para pengendara bermotor disana. Selama berkeliling 2 hari disana, saya tidak pernah mendengar bunyi klakson kendaraan. Saat saya celingak-celinguk di trotoar, mobil di radius 500 m sudah berhenti, dan orang2 dalam mobil dengan tersenyum mempersilahkan saya untuk menyeberang (walaupun tidak di zebra cross). Bahkan saat kakak saya berjalan agak di tengah untuk melewati mobil yang parkir di pinggir jalan, alih2 mengklakson, mobil yang melaju di belakangnya malah tiba2 berhenti, menunggu hingga kakak saya kembali ke jalur yang benar, hehe. Baru itu saya merasa dihargai sebagai pejalan kaki, tidak seperti di Indonesia. Berbeda dengan di Indonesia dimana saya sering terintimidasi saat menyeberang jalan. Menyeberang di zebra cross saja sering kali diklakson berkali-oleh oleh mobil/motor yang masih jauh jaraknya. Arogan sekali.. *sigh.

    • Bukankah agama (Islam) juga mengatur hubungan antar manusia ? hablum minallah dan hablum minannas harus seimbang ? Jadi budaya yang dibangun juga harus islami (adil, jujur dll ) ? Menurut saya kalau sebuah bangsa/kaum masih belum berakhlak baik ya belum islami

      • Setuju. Dalam Islam harus seimbang habluminallah dan hablumnannas, apalagi dalam Islam ada perintah untuk tidak memilih-milih perintah atau ayat yang disenangi saja. Nah kalau gitu, pertanyaannya saya balik, jika seseorang atau sebuah kaum mempunyai habluminallah baik tetapi habluminannas jelek apakah juga bisa disebut Islami? Apalagi hablumminallah itu siapa yang bisa nilai? Kan itu rahasia dia dan Allah SWT. Jangan-jangan seseorang itu beribadah karena tekanan sosial, bukan karena ketakwaannya dengan Allah SWT

  132. Pingback: baba notes
    • jangan suka menerjemahkan ayat sepotong-sepotong :). Sejak kapan saling menghormati dan menghargai sesama manusia dalam urusan muamalah ditentang Allah? 🙂

      • Saya kira sepotong-sepotong itu ayat yang mengajak kita hati-hati dalam menilai bahwa bisa jadi apa yang kita nilai baik tetapi keliru karena kalau kita baca al Quran akan kita temuakan banyak ayat yang mengisahkan bagaimana banyak (kaum) yang berbuat baik (kebajikan) tetapi tidak ada artiunya di mata Allah karena mereka tidak beriman, menolak kebenaran Rasul yang ditus Allah dan tidak mengikuti kaidah agama (Islam)…..saya juga pernah tinggal kurang lebih 3 tahun di Inggris tetapi kawan bule saya sendiri meski baik tetapi sangat “gersang” hatinya dan setelah diajak diskusi tkar pikiran cukup mendalamn di masjid central Mosque di London, Alhamdulillah, kawan saya dan pencari kebenaran lain menyadari akan kesilapannya tentang Islam….. Wallahu’alam.

      • menurut saya itu bukan menerjemahkan ayat sepotong sepotong…tetapi ayat itu mengandung makna mendalam…..bacalah Al Quran terkait kisah-kisah kaum yang mendustakan kebenaran ayat-ayat Allah kemudian di azab oleh Allah dengan siksa pedih di dunia padahal mereka (kaum yang mendustakan itu) akan diazab Allah juga di akherat. Lalu digambarkan Allah dalam al Quran kehidupan kaum tersebut di dunia bukan main merasa….nikmat, banyak berbuat baik dan kebajikan, tetapi amalnya itu sia-sia karena tidak beriman….semua dikisahkan dalam al Quran ….bacalah dengan seksama…..semoga mendapat perhatian……Wallahu a’lam

    • Apakah ini juga tidak berlaku buat anda? Aturan hubungan manusia dengan manusia sangat banyak disebutkan dalam Al Quran dan Hadist. Bukankah kita dilarang hanya mengamalkan atau menyenangi sebagian isi Al Quran dan mengabaikan sebagian lainnya? Padahal di dalam Al Qur’an terdapat keduanya, hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan manusia secara bersamaan. Dengan merasakan melihat yang baik cuma habluminallah saja, maka akan terkena ayat Al Baqoroh 216

    • Hehehehehe maksudnya bukan begitu. Ini sih murni untuk pembelajaran bagi umat muslim, bahwa dalam Islam seharusnya habluminallah itu selalu diikuti dengan habluminnaas. Ketaatan pada Allah terpancar dari perilaku terpuji kepada sesama manusia lainnya :). Bukan cuma sebatas salat-zakat-puasa hehehe. Saya rasa tulisan ini tidak ada maksud mendiskreditkan kepercayaan di luar Islam ;). Semoga bisa dipahami :).

      • nah, ini yang kadang disalah artikan dengan judulnya mbak yang “Seberapa Islami negara Islam”.
        padahal maksudnya adalah, negara yang bukan negara Islam justru bisa memraktekkan habluminannas dengan baik 😀
        gitu kan maksudnya.
        karena Islami juga nggak bisa dilihat dari habluminannasnya saja. hehehe.
        kebanyakan sudah termakan judul nih. padahal judul dibuat semenarik mungkin biar dibaca. :p

      • @Kid : Soal penelitian, gimana kita mau ngukur habluminnallah? Kan itu yang tau hanya orang tersebut dan Allah SWT semata. Mangkanya yang dilihat habluminnanaas-nya. Semestinya jika seseorang beriman atau hubungan dengan Allah-nya baik, maka akan tercermin dalam kelakuannya sehari-hari. Kan iman itu latent variable, sedangkan kelakuannya adalah observe variable. Mangkanya yang dilihat adalah habluminnannas-nya

    • Yups. Betul. Indikator yg di klaim Islami itu kan sebetulnya hal yg universal, yg mmg diajarkan oleh semua agama sebelum Islam ada. Dan ajaran itu ditanamkan sejak bayi shg tercermin dari perilaku. Orang Jawa bilang, sudah ‘mbalung sungsum’

  133. Saya sangat terkesan dan mendukung seratus prosent apa yang ditulis oleh honeyberry ttgl 21 Februari 2014 pukul 08.47 pm.Two thumbs for him/her.

  134. Nggak heran kalo Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim menempati urutan ke-140. Lihat azza kalo habis acara Maulud, Isra-Miraj, dll, sampah bertebaran di mana-mana. Mana itu aplikasi meneladani Nabi SAW. Habis Sholat Id, kertas koran bekas alas sholat di mana-mana. Sholawat dibanyakin, ratiban getol, tapi bekasnya nggak ada !

  135. Jujur saja, secara pribadi saya bilang kalau Indonesia memang pemilik mayoritas Muslim terbesar didunia, tapi dalam perilaku sehari-hari bagaikan jauh panggang dari api, tidak ada kesinkronan antara yang disyariatkan dengan tingkah laku. Bahkan beda mazhabpun sampai dipersoalkan (hingga berdarah-darah kadang), padahal buat saya biarlah itu jadi urusan mereka dengan Allah.
    Masjidpun masih jauh dari apa yg diharapkan, “Kebersihan Sebagian dari Iman”…ah, totally amblas. Masih buang sampah seenak udelnya, dan ini sudah seperti pembenaran komunal termasuk aneka pelanggaran hukum yang sederhana sekalipun. Menerobos jalur busway, jalan layang mereka lakukan dengan tanpa berdosa, padahal disiplin juga sangat ditekankan dalam Islam.

    Yah, itulah penyakit kita. Islam sangat indah, tapi para penganutnya yang kerap menjadikan Islam nampak buruk dimata orang luar.

  136. Betul sekali, lama sebelum artikel ini saya sudah merasakan sendiri….. Indonesia negara tercinta kita ini sesungguhya secara umum masyarakatnya adalah sekuler. Jumlah muslim mayoritas hanya sebagai status saja….pada prakteknya orang sangat sedikit yang mengamalkan ajaran Islam dalam sendi-sendi kehidupannya….apalagi secara kaffah. Kecenderungan yg terjadi kita lebih suka melangar ketimbang melaksanakan ajaran Islam. Bahkan yg lebih buruk lagi sebagian kita mulai merasa bahwa aturan-aturan Allah SWT sudah kadaluwarsa dan ‘tidak adil’ serta melanggar ‘hak asasi manusia’. Pada akhirnya kita menganggap bahwa “Tuhan telah salah”, kita lebih hebat, lebih benar dan lebih adil daripada Tuhan yang meciptakan kita.

  137. Bagus sekali mbk jihan tulisannya. semoga kita semua semakin tercerahkan dan negara2 muslim bisa seperti yang kita harapkan. amiin ya rabb
    terus update tulisan kyk gini ya mbk utk nambah wawasan 🙂

  138. mungkin mbak Jihan Davincka belom pernah mempelajari dan membandingkan inti dari keyakinan dari negara tersebut, shingga menganggap perilaku mereka seperti di jdul artikel anda. mungkin anda akan memaklumi perilaku umum mereka jika anda memahami ajaran keyakinan mereka,,(pikiran anda: oooo,,gitu yakkk,,panteslah,,hehe) matursuwun 😀

  139. untuk saya pribadi, dengan melihat, membaca dan mendengar apa yang ada didunia, bagi saya banyak hal2 yang sulit untuk mendapatkan sebuah jawaban yang benar2 pas, yang benar2 jelas dan bisa saya mengerti sampai saat ini. Sebagai umat selalu dituntut tidak boleh protes atau menanyakan suatu hal yang diluar kemampuan manusia selalu dianggap rahasia Tuhan.

  140. Subhanallah menemukan orang yang merasa lebih baik dari orang Arab, muslim paling sejati yang tulisannya dipuji-puji oleh Non Muslim, selamat ya Mbak saya bisa melihat semburat merah di Pipimu. BTW “Puji-pujian” tentang tulisan ini saya dapat dari Teman Non Muslim. Sekali lagi selamat, dan selamat berbahagia tinggal di luar negeri sana mbak, Indonesia dan Timur Tengah yang mayoritas muslim yang masih memegang teguh Al Quran dan Sunnah memang tidak cocok buat mbak.

    • Mohon maaf,Apakah orang Arab itu selalu benar dan harus selalu dipuji-puji? Bukannya kita yang diminta dalam Islam hanya mencontoh dan mengikuti Nabi Muhammad SAW sebagai nabi bukan sebagai orang Arab? Hal ini disebabkan karena Islam adalah agama universal, maka tidak ada satu ‘nation’ atau budaya yang favorit.Trus bagaimana dengan gejala yang diungkapkan Mbak Jihan di negara mayoritas Islam tersebut sesuai dengan ajaran Al Qur’an dan Al Sunnah? Bukankan dalam menuntut ilmu dan kebenaran Nabi menyuruh kita sampai ke negara Cina sekalipun yang notabene bukan negara Islam?

  141. Bismillah..Semoga memberi pencerahan..
    Membaca artikel ini memberikan banyak penafsiran menurut saya. Dan sayang sekali banyak mengarah pada seakan2 (dalam tanda kutip) menjelek – jelekan orang Islamnya yg notabene saudara sendiri (yg mengaku Islam) meskipun secara akhlak masih kurang daripada orang diluar islamnya. Komentat saya ini juga tanggapan untuk komentar yg lain..

    Oke klo bicara secara akhlak memang utk zaman sekarang kebanyakan orang muslim terutama di negara mayoritas msh kurang. Saya juga merasakan itu. Dan itu perlu pembinaan lebih lanjut dan memang membutuhkan waktu lama karena permasalahannya cukup banyak dan beragam..Dan asalkan kita tau juga yg membuat rusak itu justru budaya – budaya Barat masuk menghancurkan generasi – generasi penerus seperti kita. Beda halnya dengan negara – nagara Barat lain yg sudah faham pasti tidak akan mudah terpengaruh. Dan menurut saya itu sudah masuk Sunatullah dimana di akhir jaman umat Islam memiliki penyakit yg sangat kronis yaitu penyakit hati. Sebagai umat Islam pasti sudah tau dan seharusnya kita harus hati – hati dengan peringatan tersebut (itu berlaku juga untuk diri saya pribadi).

    Hal lain yg bikin akhlak berkurangperpecahan dan sekali ini juga Sunatullah, intinya gampang diomongin yg sabar, sama – sama koreksi g usah egosi katane si A gtu lo katane si B gtu, kembalikan kepada Al Qur’an dan Sunnah, klo salah ngaku salah, coba direnungkan dan dikoreksi, intropeksi berdoa kepada Allah sang Maha Pemberi Petunjuk semoga diberi petunjuk jalan yg benar. Insya’allah Beres. Sebenernya bukan mengancam atau semacamnya saya pribadi lebih cenderung ke saling mengingatkan. Klo diingatkan malah bersyukur lo berarti orang itu masih peduli ama kita.

    Klo artikel ini untuk intropeksi diri masing – masing agar bisa melihat bahwa kenyataan umat Islam sekarang seperti ini dan itu sah – sah saja. Tp sebelumnya saya minta maaf, klo mengislamkan (meskipun dlm tanda kutip) orng yg non Muslim dari segi kehidupannya menurut saya kurang pas apalagi dibanding – bandingkan dengan kehidupan orang Muslim. Sebelum kita menyimpulkan hal tersebut patut diteliti dahulu faktor2 yg lain. Dan 1 hal lagi dari sudut pandang mana dikatakan seperti itu? Apakah dengan itu bisa dikatakan Islami? Owh belum tentu..jng mensekuler atau meliberalkan diri yg melepaskan diri dari kehidupan beragama. Karena di Islam sudah diterangkan dalam surah Al-Kafirun ayat 6 yang artinya “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku”. Sudah jelaskan..

    Menyangkut aqidah kita pasti, sudah tentu hanya Allah yg tau karena memang Allah-lah yang Maha Tau tp ingat bahwa Aqidah yg Benar sudah sangat jelas tertulis pada Al Qur’an dan Hadist bukan menurut pemahaman masing – masing (sak enake udelmu). Nah yg kita lakukan adalah tinggal menirunya tanpa ditambah – tambahi dengan yg pemahan yg lainnya. Dan dari mana kita mendapatkan hal tersebut? yg jelas dari Allah (karena hanya Allah-lah yg memelihara kehidupan kita di bumi ini) melalui Rasullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yg kita umat muslim mencintainya, melalui para Sahabat – Sahabat Beliau Khulafaur Rasidhin dan Sahabat yg lainnya, melalui para murid – murid Sahabat (Tabi’in), hingga Ulama yg bener – bener ikhlas Lillahita’ala mendakwahkannya kepada kita. Insya’allah jika kita bener – bener mengikuti hal tersebut dengan sabar dan selalu diiringi do’a kepada Allah Azza wa Jalla akhlak terjaga dan kita termasuk orang yg selamat di dunia dan akherat.

    Intinya adalah meskipun kita sudah syahadat, sholat, zakat, puasa, dan haji ataupun selalu berakhlak baik kepada orng dan merasa sudah Islam jangan pernah puas dengan hal itu kita tidak tau apakah yg kita lakukan sudah benar ato belum?atau bahkan kita mati dalam keadaan tidak beriman lagi (non Muslim) naudzubillah. Wallahu ‘Alam hanya Allah yang Maha Tau hati kita. Marilah banyak – banyak berdo’a agar kita hati kita selalu berada dijalur yg benar Islam karena sekali lagi inilah ke Besaran Allah yg dapat membolak – balikkan hati kita. Dan seyogyanya sebagai saudara seiman kita wajib mengingatkan saudara kita dan jangan lupa do’akanlah saudara2mu agar menjadi muslim yg beraklak mulia. Agar Islam semakin jaya..Aaaamiin..

    Sebelumnya mohon maaf jika ada kata yg salah atau ngelantur ngalur ngidul.Jika memang ada salah kata itu jelas dari diri saya pribadi Allah Azza wa Jalla dan RasulNya terlepas dari perkara tersebut..

    • Masya Allah, sungguh sangat mencerahkan, sungguh sudah terdapat dalam diri Rasulullah suri tauladan yang baik, dan sungguh para sahabat juga banyak mencontohkan perihal Aqidah dan Ahlak. cukuplah Al Quran dan Hadist sebagai sebaik-baik petunjuk dan contoh. Semoga komentar saudara Abdullah bisa mencerahkan para saudara/i ku sesama muslim, dan semoga penulis bisa benar-benar merenung sejenak akan komentar saudara Abdullah yang sungguh sangat bijak. Semoga Allah merahmatimu wahai saudaraku abdullah. Aamiin

    • Amin ya rabb al alamiin pak Abdullah, semoga Islam semakin jaya dikemudian hari.

      Sungguh pernyataan yang sangat mencerahkan, dan saya amat setuju dengan sebagian besar dari pernyataan pak Abdullah. Namun izinkanlah saya memberikan beberapa koreksi atau pendapat mengenai pernyataan Bapak.

      Pertama saya kira tidak hanya masalah budaya barat yang merusak masyarakat kita secara umum dan akhlak ke-Islaman kita, namun banyak juga budaya lain baik timur bahkan budaya Arab yang memiliki pengaruh tidak baik. Celakanya, jika itu budaya Arab, maka dapat mendistorsi pemikiran mengenai ahlak yang sebenarnya dituntunkan oleh Al Qur’an dan Hadist, karena kalau sebuah pengaruh berasal dari budaya luar Arab, maka dengan mudah kita bisa mengetahui asal dan kecocokannya dengan Islam. Tetapi bila itu berasal dari Arab, maka banyak orang akan tidak mampu membedakan tindak-tanduk yang sesuai dengan Islam atau tidak. Contoh yang paling terlihat adalah nikah kontrak yang banyak dilakukan di daerah puncak oleh orang2 Arab. Hal ini mendistorsi pandangan bahwa diperbolehkan kawin kontrak. Menurut pendapat saya, ini sama saja dengan nikah Mut’ah yang dilakukan oleh golongan Syiah. Hal ini menjadikan dualisme pandangan, disatu pihak kita memandang nikah Mut’ah sebagai hal buruk, tetapi melakukan juga hal yang mirip dengan nama berbeda, apalagi dilakukan oleh orang Arab (di daerah puncak).

      Kedua, memang merupakan sebuah pil pahit jika kita membicarakan kelemahan dari diri kita sendiri. Apalagi di depan orang lain. Namun dari sudut pandang manapun termasuk keilmuan bahkan secara psikologi hal itu mutlak dilakukan agar kita atau Islam dapat terus maju. Tanpa adanya kritik, dan kemauan untuk dikritik serta mambuka diri akan menyebabkan Islam menjadi stagnan, defensif dan tertutup. Hilanglah kesempatan Islam yang seharusnya menjadi leader di dunia ini. Saya kira inilah sebenarnya penyakit hati yang sering diingatkan ke kita, ketertutupan hati kita.

      Ketiga, saya pikir sifat kemasyarakatan sebenarnya terpisah dari masalah ‘ketuhanan’. Sebuah masyarakat dapat tampak Islami tanpa anggota masyarakat tersebut memeluk agama Islam karena mereka menjalani dengan benar aturan-aturan tertentu yang mirip bahkan sama dengan yang diajarkan oleh Islam. Gejala seperti ini tambah saya pikir bisa memperlihatkan adanya gap dalam jiwa seseorang atau masyarakat dalam menjalankan sebuah aturan atau dalam hal ini ajaran agama Islam. Kita dapat melihat apakah seseorang/masyarakat benar-benar mendalami sebuah aturan/ajaran atau hanya dikarenakan oleh ‘mode’ dan tekanan sosial. Bisa saja misalnya karena ada 2 orang yang sangat Islami yang sholat terus memberikan tekanan sosial ke orang ke 3, sehingga orang ketiga tersebut ‘terpaksa’ sholat. Kemudian ketiga orang tersebut memberikan tekanan sosial ke orang ke 4 dan seterusnya. Akibatnya terdapat banyak sekali orang yang ‘terpaksa’ sholat karena efek tekanan sosial, dan ini akan menyebabkan tidak ada efeknya sholat tersebut ke perilaku sehari-hari. Saya sangat curiga bahwa di Indonesia khususnya hal ini terjadi. Hal ini menyebabkan jika diukur perilakunya dengan perilaku yang diajarkan oleh Islam akan terjadi gap yang sangat besar. Bahkan pada orang-orang yang dianggap sangat ‘Islami’. Saya juga sangat curiga hal ini menyebabkan terjadinya dikotomi antara masalah ketuhanan dan kehidupan sosial, karena sebenarnya yang ketuhanan itu hanya merupakan ‘mode’ atau akibat dari tekanan sosial saja. Orang yang seperti itu akan secara defensif menyatakan yang penting adalah masalah ketuhanan, padahal dalam kenyataannya itu hanya mode saja. Padahal dalam ajaran Islam hal ini tidak benar, kedua hubungan itu harus sejalan dan seharusnya akibat hubungan dengan tuhan yang baik akan menyebabkan hubungan dengan manusia yang baik pula

      Mohon maaf akan masukan saya dan pikiran saya yang kemana-mana ini.

  142. apa yang anda tulis baik, bijaksana; dan sekarang impian itu baru diperjuangkan, hanya saja kita belum menang untuk mengganti undang2 dengan hukum Alloh sepenuhnya.
    lihat, saat rosululloh baru memimpin madinah dulu (walaupun ada kaum yahudi, majusi dan nasrani di wilayah itu), disana tercipta lingkungan yang menentramkan hati sebagaimana yang anda harapkan; dan suatu saat nanti impian itu akan menjadi nyata karena akan datang kepemimpinan islam lagi di bumi (“…kemudian kepemimpinan jabbariyyah adanya atas kehendak Alloh, lalu Alloh mengambilnya jika ia berkehendak; kemudian akan datang kepemimpinan sebagaimana tata-cara (manhaj) nubuwah; kemudian bliau diam” rowahu ahmad).
    semoga kita bisa menjadi penolong tujuan mulia itu, walaupun sampai ahir hayat kita tujuan tersebut belum terlaksana.. amin

    • Menurut saya ada masalah sistemik yang berperan dalam bertatanegara. Saya pikir paling tidak ada 2 komponen yang harus dilihat, yaitu masalah hukum atau bentuk negara, dan budaya atau kultur dari negara itu. Saya ibaratkan wadah dan isi. Keduanya harus selaras atau setidaknya mendekati selaras sehingga keduanya dapat berjalan dengan baik, atau saling mempengaruhi, dimana yang diinginkan adalah hukumnya mempengaruhi kultur sehingga bisa ke arah yang lebih baik. Jika tidak selaras atau sangat jauh bedanya akan terjadi revolusi sosial, masyarakat dengan kultur berbeda akan tertekan dan dengan sedikit percikan akan memberontak (dengan berbagai cara). Kita sudah melihat banyak contohnya dalam sejarah, termasuk di Indonesia.

      Cara terbaik sebenarnya sudah dicontohkan oleh Nabi dalam menyampaikan Islam. Satu demi satu ayat diturunkan dan diteruskan secara bertahap, sehingga masyarakat tidak kaget dan mendapat kesempatan untuk beradaptasi. Tetapi hal ini tidak bisa kita lakukan saat ini karena ajaran Islam telah lengkap dan terdapat pengaruh negatif yang jauh lebih besar dari jaman Nabi yang tidak sejalan. Terus terang saya sendiri tidak tau jawabannya bagaimana adopsi Islam dapat dijalankan dengan baik untuk saat ini. Perlu adanya penelitian sosial dan psikologi untuk hal ini. Tetapi semestinya kita tetap harus mencontoh Nabi sehingga Islam dapat menjadi agama yang mencerahkan bukan dipandang sebagai agama yang opresif.

      Indonesia secara kultur saya pikir sangat berbeda dengan masyarakat Madinah jaman Nabi, oleh karena itu dengan menerapkan tiba-tiba ketatanegaraan seperti di Madinah akan menyebabkan shock terhadap masyarakat, belum lagi masyarakat dunia yang saat ini sudah seakan tanpa batas. Akibatnya dengan mudah diprediksi, pemerintahan tidak akan bertahan lama, digrogoti internal dan eksternal, apalagi masyarakatnya merasa tertekan sehingga secara sadar ataupun tidak akan mendorong jatuhnya pemerintahan

  143. Saya setuju dengan pemahaman sosialnya tetapi kurang setuju dengan mengedepankan liberalisme dalam segala aspek. karena liberalisme lebih mengedepankan kemudahan dapal segala aspek kehidupan dan itu malah jadi salah kaprah nantinya. contoh shalat yang harusnya dikerjakan lebih baik pada waktunya jadi di lalaikan (Dilambatkan kewajibannya) untuk kepentingan dunia terlebih dahulu. jadi intinya saya lebih suka bila kita sebagai umat islam harus bisa memprioritaskan lebih dahulu untuk Tuhan barulah manusia dan hasilnya pun akan baik menjadikan akhlak kita yg terpuji. Barulah itu mengikuti seruan Al-qur’an
    Semoga Allah SWT selalu membimbing kita menjadi umat yang bermartabat. Amiin

  144. Yah begitulah kurang lebih fenomena sosial di negara2 Arab… 10 tahun tinggal di TimTeng mjd semakin mengerti mengapa agama Islam “turun” di Arab. Memang bener org2 yg tinggal di Islamic countries social skillsnya (etika, sopan santun dll) sangat kurang… plus racist bgt… memperlakukan org lain berbeda-beda…. sangat tergantung dgn nationality background. However… walau mereka habluminnas nya kurang bgt… who knows habluminnAllah mereka lbh baik dr kita. Allah maha adil.. walau mereka begitu tp lihat begitu melimpahnya rejeki materi yg Allah berikan pd negara2 Islam di TimTeng.The best thing is “don’t judge a book by its cover”… jgn lupa dgn QS. Al Hujurat: 11. Anyway, nice posting…

  145. Assalamu alaikum.

    ya negeri paling islami, melihat keislamannya dari sisi apa. dalam tulisan tersebut telah di jelaskan Pertama, ajaran Islam mengenai hubungan seseorang dengan Tuhan dan hubungan sesama manusia, Kedua, sistem ekonomi dan prinsip keadilan dalam politik serta kehidupan sosial, Ketiga, sistem perundang-undangan dan pemerintahan. Keempat, hak asasi manusia dan hak politik. Kelima, ajaran Islam berkaitan dengan hubungan internasional dan masyarakat non-Muslim.

    Dari ke lima indikator tersebut adalah cara mengukur seberapa keislaman sebuah negara.

    memang banyak negara yang memiliki sistem ekonomi dan prinsip keadilan, politik, sosial, pemerintahan, perundang-undangan, ham, HI, hubungan antar masyarakat berbeda agama yang baik.

    Tapi perlu di ingat, masih terdapat hal yang bertentangan dengan islam contoh: dalam kategori hukum terdapat perbedaan dalam pembagian warisan, dan dalam kategori ham kebebasan untuk mengumandangkan adzan. masih banyak lagi yang dapat dicari lagi.

    Selain itu di negara non muslim juga masih ada yang mengalami kekurangan kok dan tidak memenuhi indikator diatas.

    Jadi, tentu setiap sistem memiliki dampak yang berbeda-beda bagi masyarakatnya. hal tersebut sebenarnya tergantung dari bagaimana watak masyarakat itu sendiri. Dorongan dari kalang internasional juga turut mempengaruhi dampak terhadap suatu bangsa. Karenanya, sebagai seorang muslim saya rasa hal ini tidak baik untuk diperdebatkan. Memang kita sesama saudara seiman memiliki berbagaimacam kekurangan. Memang saat ini nilai-nilai keislaman telah bergeser, tapi bukan berarti pesimis dalam memandang suatu negara dengan sistem pemerintahan islam ataupin negara dengan mayoritas kaum muslim.

    Keberhasilan suatu negara tidaklah dilihat dari apa negara tersebut muslim atau bukan, dan penduduknya muslim atau bukan. Tapi dari bagaimana para pemimpin di negara tersebut menjaga kelangsungan negararanya, bagaimana cara pendidik di negara tersebut mengajar anak didiknya, bagaimana menciptakan perekonomian yang adil dan jujur, bagaimana orang tua mendidik anak-anaknya menjadi pribadi yang baik.

    Jika memang sepenuhnya ingin menunjukan keislaman suatu negara, tentu dalam islam sudah diajarkan seperti apa memilih pemimpin yang baik (yang beriman kepada Allah SWT, amanah, jujur dan benar, cerdas, tabligh, dll), bagaimana hak asasi ditegakan (muslim menghormati orang yang sudah memiliki agama), Perekonomian seperti apa, menutup tempat maksiat dan masih banyak lagi.

    karenanya perlu dicerna lebih baik lagi, tulisan tersebut sudah bagus karena mengkritisi dan memberikan teguran kepada kaum muslimin indonesia untuk tidak lupa terhadap habluminannas (hubungan antar manusia), sebagai seorang muslim kita dianjurkan untuk tidak menimbulkan perdebatan, namun tetap ingat bahwa selalu berpanduan kepada Al-Quran dan Hadist. Jadi untuk membangun negara yang baik, alangkah baiknya bagi umat islam bercermin kembali kebada ayat suci Allah SWT. Karena sesungguhnya kebenaran hanya milik Alllah SWT.

  146. Masyaallah, betapa nikmat kalau mengukur ke-Islaman suatu Negara berdasarkan nikmatnya kehidupan.

    Teringat saya suatu perilaku Rasulullah saw. mencium tangan sahabat yang kapalan karena bekerja dengan keras.

    Bagi saya, negara yang paling Islami adalah sebuah tempat dimana Nabi dan ajarannya di perlukan. Dimana Islam itu akan menjadi rakhmat bagi alam semesta. Menjadi penuntun ummat yang kepayahan menghadapi situasi.
    Sebuah tempat yang sama dengan kelahiran islam itu sendiri. Seperti pada zaman Rasulullah yang harus berjuang melawan sistim ekonomi berhala, pembesar semena-mena, ditengah sesatnya masyarakat. Artinya suatu tempat yang bisa menjadikan kita menggunakan agama sebagai tuntunan.

    Mencium Hajar Aswad adalah contoh kecil mencapai tujuan agamawi. Banyak orang mendapat kesempatan menciumnya dengan ma’ruf. Bayangkan kalau ada seseorang meyakini ‘mencium batunya aja kamu tidak sanggup apa lagi masuk surganya..’ yakinlah mencium hajar aswad dapat dilakukan tanpa menyakiti orang lain dan dengan doa plus kesabaran.

    Bagaimana sebuah tempat disebut Islami kalau ajarannya itu sendiri tidak diperlukan. Benar karena Nabi turun untuk merubah akhlak manusianya, bukan tempatnya.

    Terima kasih kepada penulis yang telah meyakinkan saya bahwa Indonesia adalah Negara yang paling Islami. Disini, dinegara ini masih ada perjuangan Pahala dan Dosa. Disini Islam masih dapat membedakan mana yang baik dan yang buruk.

    Rasulullah meninggalkan dunia ini mewarisi Agama yang sempurna dan Akhlak terbaiknya, tidak meninggalkan tempat yang telah penuh kenikmatan.
    Di Indonesia dengan Islami kita dapat merubah diri kita, hari-hari kita menjadi lebih baik.

    Allah lebih tau..

  147. Alangkah indahnya kalau negar-negara Islam lebih Islami dari negara-negara lain. Ayo kita mulai perbaiki dari diri kita sendiri, keluarga, lingkungan dan seterusnya….. Subhanallah

  148. Jika orang menyebutkan bahwa Indonesia, Malaysia, Pakistan, Arab Saudi, Mesir, Kuwait, adalah dunia islam, maka itu adalah tidak benar. Jika orang menyebutkan bahwa Selandia Baru merupakan negeri islami, itu juga tidak benar. Sebuah negara disebut negeri islami, jika dasar hukum, undang2, pedomannya adalah alquran dan as-sunnah dan dijalankan sebaik-baiknya dari mulai pemimpin sampai rakyatnya. Khilafah dengan Manhaj Nubuwah lah, Negeri Islam yang sebenarnya. Kepemimpinan yang dilegitimasi oleh Allah Swt lah khilafah yang sebenarnya, bukan kepemimpinan yang dilegitimasi oleh Dunia Arab, Dunia Barat, atau oleh rakyat atas nama suara terbayak. Negeri seperti itulah yang masuk dalam Dunia Islam, dunia yang menjadikan Allah sebagai Rajanya, Hakimnya, Pelindungnya, Kedaulatannya, Pemimpin Tertingginya, dan Sesembahanya. Jika Anda menemukan sebuah negeri yang rakyatnya sejahtera, damai, aman, baik prilakunya dsb namun semua itu bukan atas dasar Tauhid kepada Allah, maka Allah memandangnya seperti debu yang berterbangan, dan tidak akan berguna di akhirat kelak. Jika Anda menemukan sebuah negeri yang ” katanya ” mayoritas muslim, namun tidak menjadikan Tauhid sebagai Landasannya, tidak menjadikan Alquran-Sunnah sebagai hukumnya, dan menjadikan orang yang tidak bertauhid sebagai pemimpinnya, maka Negara itu bukan Dunia Islam.

    • Rasanya antara negara Islami dan negara Islam berbeda. Kau menurut saya, Negara Islam adalah negara yang menerapkan dasar hukum Islam sebagai landasannya. Tetapi Negara Islami adalah negara yang bila dipandang dari dari sudut pandang Islam, maka negara itu masyarakatnya seakan-akan menerapkan ‘kaidah’ Islam, tetapi belum tentu masyarakatnya beragama Islam atau negaranya adalah negara Islam. Keduanya bisa sama, atau bisa juga tidak. Artinya misalnya negara Islam bisa jadi negara Islami, tetapi mungkin juga tidak, tergantung sifat masyarakat/pemerintahnya. Kuncinya adalah kondisi sosial budaya dari masyarakatnya yang menentukan apakah negara tersebut Islami atau tidak

  149. Pertanyaan buat kita kenapa negara sekuler lebih manusiawi daripada negara mengaku beragama,,,,,,,apa yang salah ya,,,,,,,moga yang baca ini lebih bertoleransi dan kita lebih damai amin

  150. Saya suka sekali kalimat ini, mbak —->>> qt bukan pemegang daftar siapa yang masuk surga siapa yang masuk neraka.

    sore-sore nyasar kesini, 😀 😀 😀

    • Dilihat dulu atuh indeks penelitiannya berdasarkan apa :). Belum tahu kok udah bilang enggak bermutu duluan hehehehe.

  151. hehe, mbak nya lagi kena syndrome eropa yah…sampe kalang kabut gitu cuap-cuap nya…trabas sana trabas sini…seakan-akan jika sudah “tinggal” di jazirah arab bahkan hingga eropa sudah menjadi orang yang paling “Sholihah”…silahkan dilanjutkan, karena bagi saya sdh lebih cari cukup “agama ku ya agama ku, agama mu ya agama mu”… 🙂

    • saya kok gak merasa tulisan ini menganggap “orang yg sudah tinggal di jazirah arab dan eropa paling sholihah” ya? Dan saya gak merasa penulis menyuruh kita nyampur2in urusan agama lain. yah, memang setiap orang beda pemahaman sih ya.

  152. Pemikiran dalam artikel mba Jihan similar dengan yang sudah lama jadi uneg-uneg saya. Klo pengalaman saya di Jepang, saya sempet terdiam berpikir, kenapa di negara yang katanya mayoritas gak percaya Tuhan ini kok kehidupannya terasa lebih damai dari di Indo yang katanya mayoritas menjalankan ajaran Islam? (note, sebelum ada yg gak paham, saya gak bilang Jepang lebih saleh, ato lebih beriman, ato lebih islam).

    Saya juga cukup nangkep kok, kata-kata negara “lebih Islami” disini bukan berarti lebih beriman, ini memang cuma dilihat dari satu aspek, *but still an important aspect that is. Namanya penelitian, ya ada ruang lingkupnya, dan pasti ada keterbatasannya.

    Tapi saya rasa, tidak perlu membahas terlalu jauh mengenai keterbatasan itu. Tangkap bagian yang bermanfaatnya saja. Ada aspek dalam ajaran Islam, yang sering kita lupakan, dan ini penting (sekali lagi, bukan berarti yg lain gak penting, dan juga bukan mengenyampingkan masalah budaya, pendidikan, dll).

    Let’s say ada yg komen di awal, bahwa di Jepang dan di negara Eropa itu tingkat bunuh dirinya tinggi, ya mungkin klo dibuat penelitian, bisa jadi, karena faith mereka kurang, ato klo mau subjektif, mereka gak beriman.

    Jadi, ya yang paling bagus kita gabungkan donk semua aspeknya. Jadilah negara yang orang-orangnya bisa berperilaku seperti di Jepang dan Eropa (aspek2 “islami”nya), dan beriman seperti di Indonesia (dgn asumsi subjektif, orang Indo lebih beriman, yang mana cuma Tuhan yg tahu). Kita adopt nilai2 yang baiknya, kita combine dengan kebaikan dan kekuatan yang kita punya, kita buang keburukan yang ada pada kita. Gitu, toh? Klo soal sekuler dll ya jangan di adopt donk, kan jelas salah, dan gak usah dibahas.

  153. Assalamualaikum.
    Mbak, Mbak. Sebenarnya saya daritadi pas scrolling comment-comment ke bawah lama sekali itu nungguin penjelasan Mbak Jihan tentang indikator Islam-nya dalam penelitian itu. Intinya cuma di situ sih. Rincian indikator-nya apa Mbak?

    Comment dari embun… –lupa username-nya siapa– yang ngutip dari komentar tokoh peneliti Islam itu coba minta tolong ditanggepin, Mbak. Yang rame ditimpalin sama Manualist sama banyak orang itu lhoo, sebelum saya bisa lebih banyak berkomentar banyak buat tulisannya Mbak Jihan ini.

    Terimakasih!

  154. maaf jika boleh saya admin mengikuti mushab imam mana ya…??

    Kalau berbicara tentang ahklak kehidupan di indonesia maka dalam uud negara nya pun sadah gak jelas..

    Jadi kalau sudah dari stuktur negara yang gak tentu saja pemimpin nya pun pada gk jelas,klau pemimpin nya gk jelas rakyat nya gimana lagi..??
    Tentu saja pada ikut….

    Untuk admid slam kenal…..

  155. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
    Mba saya juga tinggal d middle east,menurut saya ada baiknya mba juga menuliskan kebaikan2 dr org lokal yg prnh mba rasakan,jangan hanya menuliskan yg kurang baiknya aja mba (spt soal diselak antrian)..saya takut akan menggiring opini org2 bahwa semua org lokal pny sifat seperti itu,pdhl tidak semuanya…
    Saya malah alhamdulillah baik2 saja dgn org lokal,anak saya pny bbrp tmn org lokal,dan jika bertemu d sekolah,mrk ramahh sekali..

    Saya juga pernah mba diselak org lokal,y mgk qt krg seneng,tp mba pernah gak dikasih privilege antrian krn mba seorg wanita,saya alhamdulillah pernah mbaa,d imigrasi,d bank..saya gak perlu ikut antrian,lsg dilayani,,krn Islam sangat memuliakan wanita…yg kasian malah yg para pria krn selalu diselak oleh para wanita..dan msh byk kok org lokal yg baik,contohnya pernah sebagian abaya saya tersangkut di luar pintu mobil,dan ada remaja wanita org lokal lsg ngasitau,abaya saya tersangkut,pdhl sy gak kenal…

    Dan Alhamdulillah sudah lbh dr 5 thn suami saya tinggal di middle east dan tetap betahh

    Maaf jika ada kata2 yg kurang berkenan,,saya cuma berbagi pengalaman tinggal d islamic country..

    • Mbak, jangan malas baca dong hehehe. Itu banyak lhooooo tulisan saya tentang Arab Saudi dan Jeddah. Cuma baca satu tulisan sudah menilai orang lain :D. Malah saya sudah menerbitkan 2 buku tentang Jeddah yang isinya positif-positif semua ^_^. Memoar of Jeddah dan Bunda of Arabia.

  156. Terimakasih buat tulisannya yang mencerahkan, buat kami yang lama keluar dari tanah air, ada banyak kesamaan pengalaman, sayangnya saya tidak pandai mengurai kata seperti mbak Vincka, membaca begitu banyak komentar yang beragam membuat saya meyakini bahwa persepsi yang timbul dari sebuah bahasan seperti ini sangat bergantung seberapa luas kita membuka cakrawala berfikir, empati, pengetahuan dan keterbukaan, sebab sebuah penuturan bisa menjadi sumber informasi atau menjadi bahan koreksi, karena tidak semua orang mau dan sanggup dikoreksi, sementara orang cerdas mengambil manfaat sebuah informasi sebagai bahan memperkaya pengetahuan, ketika persepsi sudah terbentuk maka tidak ada yang sanggup merubahnya kecuali orang itu sendiri, maka ketika ada yang berasumsi berbeda dengan hal yang dibahas atau tujuan dari tulisan ini maka kita hanya akan berlapang dada menerima perbedaan tersebut, tapi pada intinya terlihat bahwa banyak saran dan pendapat yang cerdas dan menunjukkan bahwa kita bisa terbuka dan menerima perbedaan dengan baik, tetaplah menulis karena tulisan mampu membuka cakrawala berfikir kita seluas-luasnya…Salam

  157. Baru baca ini gara2 dishare istri gw. Gw blm pernah ke Middle East, tp pengalaman gw pas studi di UK jg mirip spt Jihan waktu di Irlandia. Jd inget pas pelajaran PMP waktu SD katanya org2 barat individualis, sdgkan org Indonesia ramah2. Yg gw rasakan malah sebaliknya. Paling gw rasakan adalah kalo kita nanya jalan. Semua org sana yg gw tanyain pasti menjelaskan dgn detil dan ga mau gw smp salah jalan. Di Jakarta gw jarang sekalian dpt perlakuan spt itu.
    Soal Islam rahmatan lil alamin, gw pernah dapat khutbah yg menarik, ustad yg khutbah bilang, sebenernya kemenangan Islam itu bukan dengan mengislamkan semua orang, tp kalau semua orang sdh setuju bahwa Islam itu rahmatan lil alamin, maka saat itulah Islam menang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *