Bisakah Perempuan Bekerja di Arab Saudi?

Bisakah perempuan bekerja di Arab Saudi ? Bisa dong ah ;). Pilihannya bukan cuman kerjaan ‘domestik’ macam asisten rumah tangga, IRT, ato nanny saja.

Tempat umum yang paling banyak terlihat pekerja wanita (formal) nya? Di rumah sakit!

Mulai dari suster, para admin, resepsionis, bahkan dokter :). Oh ya, pasti pada ngirain obgyn di Jeddah enggak ada yang laki-laki? Tet tooooot :D. Obgyn laki-laki boleh kok di Arab Saudi. Tapi saya dari dulu lebih nyaman jika ditangani dokter perempuan sih ;).

Women in Saudi (gambar : theguardian.com)

Biarpun di rumah sakit Jeddah ini susternya juga banyak yang berjenis kelamin laki-laki, tapi dominasi perempuan tetep terasa. Rempong enggak tuh jadi suster tapi ber abaya ria? Ya enggak pakai abayaaaaa hehehe.

Perawat perempuan pakaiannya ya selayaknya kostum perawat pada umumnya. Mengenakan seragam putih-putih. Tapi di Saudi pakai celana panjang semua. Penutup kepala juga tidak wajib. Mungkin hampir 100% suster di sana berkebangsaan Filipina, tapi ada juga sih orang Indonesia.

Contoh di RS langganan saya sekeluarga, thank God perawat si dokter anak favorit kita itu Ibu Nana, asli Jawa dan sudah bermukim 15 tahun di Jeddah! *glek*. Dokter pun standar yah, pake baju putih gitu, tapi bawahan nya bebas asal panjang, rok juga boleh.

Kalo admin dan resepsionis perempuan seragamnya warna gelap. Ada yang biru, hitam, atau coklat. Penutup kepala juga tidak diharuskan. Celana panjangnya yang wajib. Tapi yang pake cadar juga diperbolehkan.

Saya pernah kebingungan pas dilayani oleh resepsionis perempuan bercadar. Yah, aksen bahasa inggris orang arab kan rada beda yah, ngomongnya cepat, dari balik cadar pulak jadi saya kurang bisa menangkap dengan tepat. Ya sudahlah, pake body language sajahhh hehe.

Kalau di kantor-kantor non rumah sakit? Ya boleh juga.

Sebenarnya kendala utama adalah peraturan Saudi dimana laki-laki dan perempuan tidak boleh campur dalam ruangan yang sama gitu. Nah, kalo kantornya sanggup menyiapkan ruangan terpisah ya boleh-boleh saja.

Di beberapa bank di Saudi ada yang istilahnya “ladies branch” gitu, di mana pegawai di cabang bersangkutan kebanyakan adalah perempuan. Belum pernah masuk ke sana sih, tapi sepertinya melayani nasabah perempuan maupun yang family (suami istri, atau laki-laki yang dateng disertai perempuan).

Di kantor suami saya semasa bekerja di Jeddah juga ada kok karyawan perempuan. Tapi gedungnya enggak sampai terpisah. Ruangannya saja yang dibuat khusus, semacam “women section” gitu. Sepertinya levelnya belum sampe engineer sih, tapi bagian HRD atau administrasi lainnya kalau tidak salah.

Ada pun dalam praktik sehari-harinya para karyawan perempuan boleh-boleh saja sih wara wiri di luar ruangannya. Tapi harapan untuk bertemu jodoh via cinta lokasi sepertinya memang agak mustahil ya di Arab Saudi ini hihihi :p. Lah jadi ngomongin jodoh :p.

Terus, sejak tahun 2010 atau 2011, profesi kasir di supermarket besar juga sudah dibuka untuk perempuan. Pas awal saya tiba di Jeddah kan kasirnya laki-laki semua. Kasir perempuan sendiri harus pake cadar. Wajib,jib jib jib! Pakai seragam abaya hitam plus cadar hitam dan hanya boleh melayani customer perempuan atau family (suami istri, atau laki-laki yang datang disertai perempuan).

Kumpul-kumpul di salah satu rumah teman di Jeddah, 2011 😀

Adapun di toko-toko kecil (minimarket atau bakala/toko kelontong), di restoran atau rumah makan mana aja, dan di butik maupun gerai / toko pakaian baik yang stand alone maupun dalam mal, pegawainya hampir 100% laki-laki. Sudah ada perubahan sih jelang saya mau pergi dari sana, bagian “pakaian dalam perempuan” sudah mempekerjakan pegawai perempuan.

Di beberapa gerai kosmetik juga pegawainya sudah banyak yang perempuan. Karyawan toko sama seperti kasir. Pakai abaya dan cadar. Entah deh kalau sekarang sudah berubah aturannya atau belum.

Di sekolah sendiri, aturan pemisahan laki-laki dan perempuan sudah diterapkan sejak grade 2 (kelas 2 SD). Guru-guru untuk girls section ya perempuan semua dan sebaliknya. Aih, kasian, adik-adik jadi gag ngerasain deh serunya cinta monyet hahahahaha *racuuuunnnn :P*

Tempat-tempat kursus juga pasti dipisah. Di universitas apalagi :P. Tapi sekarang di kota Thuwal kan udah ada KAUST, universitas internasional pertama di Saudi yang menerapkan aturan internasional alias bebas merdeka dari aturan-aturan khas Saudi. Denger-denger sih KAUST ini memang mengandung pro dan kontra yang cukup sengit :P.

Kesimpulannya, memang buat yang masih galau-galau dalam urusan percintaan janganlah melabuhkan diri ke Saudi hehehehe, merantau gih ke negara laen :P. Tapi yah, era globalisasi sudah mulai merayap masuk ke Saudi. Sekarang era internet iniiiiii. Mungkin perlahan aturan ini bakal dilindas zaman pula pada akhirnya.

Tapi aturan abaya – nya saya merasa cocok aja sih, lumayan untuk menghemat waktu matching in baju-celana ama jilbab (abaya item tinggal sret-sret pake jadi, cocok ama warna kerudung apa ajah ^_^) dan tidak silau iri-irian penampilan (ama ngiri liat model-model rambut paripurna gitu? :p) hehe.

Abaya mah paling mahal juga warnanya sama-sama hitam :p. Jadi “kompetisi” nya bisa dikurangi hanya di seputar tas, sepatu, ama … kacamata hitam kali kalo di Saudi hahaha. We are girls, what do you expect? :p #elapKacamata.

Geng abaya di Obhur, Jeddah 2012 😀
Mengecilkan paha dan bokong dengan squat

Olahraga Mengecilkan Paha dengan “30 day Squat Challenge”

Mamak-mamak anak 3 ngapain sih masih ngeributin ngencengin paha bokong segala macam? Hahaha. Ya emangnya kenapa? Gak dosa kaaaaan :p. Yuk kita cobain nih salah satu olahraga mengecilkan paha.

Pasca melahirkan anak ke-3, saya memang agak putus asa sih dengan berat badan. Ini hamil anak ke-3, ampun deh, berat badan saya sampai tembus ke angka 68 kg *tutupMuka*. Hamil anak pertama dan kedua berat badan saya hanya naik ke angka 60 kg.

Mungkin karena startingnya juga beda, ya. Hamil 1 & 2, startnya sama-sama di angka 51 kg. Sementara anak ke-3, belum hamil aja udah 56 kg hihihi. Makanya pas sudah melahirkan sempat hilang harapan enggak bakal seksi langsing lagi.

Pikir saya mungkin karena faktor umur juga. Alasan saja. Padahal mah karena faktor pola makan yang rusak total pasca mudik lebaran 2014, sekitar 6 bulan sebelum hamil tuh. Di Jakarta kan bebas jajan segala macam, ya. Namanya juga liburan ya wajar lupa Food Combining :p.

Ealah, keterusan sampai balik Irlandia, makan masih jor-joran.

Setelah lahiran anak ke-3, ada nyokap pula datang ke Ireland. Makin-makin dah manja dan rakusnya hahaha. Yang paling bete karena jeans udah enggak muat. Sementara sebelum hamil saja, ukuran jeans saya sudah di angka 8 (ukuran US ya). Muat sih cuma kayak lepet gimanaaa gitu *sedih*.

Tapi serius saya sempat mengira, sudahlah ini pasti karena umur. Sudah di atas 35 tahun (padahal selalu mengaku umur 26! hahaha), ya wajarlah kalau montok-montok sikit :p. Jadi, saya penginnya biar turun dikiiiit aja ukuran celana. Gimana ya cara simpel enggak ribet gak pakai alat gak usah ke gym biar gak usah bayar hahaha.

Dari situ, keingetan meme soal “30 day Squat Challenge”. Sempat lihat di blog siapa gitu. Lihatnya sudah lama, sudah bertahun-tahun yang lalu. Dulu pas lihat ceritanya masih agak langsing jadi ya berlalu begitu saja :p. Gak ada keinginan pengin nyobain. Sekadar ingat saja. INi dia salah satu olahraga mengecilkan paha yang tidak ribet.

Olahraga mengecilkan paha dengan squat

Kegiatan squat ini memang simpel beneran. Tidak perlu alat sama sekali. Bisa dikerjakan di mana saja. Tapi ya masa iya lagi jalan-jalan di mal terus kita tahu-tahu squat gitu ya depan umum hahaha. Di rumah saja yaaaaaa :p.

Bisa di dapur, di kamar tidur, atau di kamar mandi atau mana-mana ajalah yang sifatnya lebih private ;). Yang penting itu konsistensi (y). Tidak harus ratusan kali sih. Tapi coba saja konsisten dilakukan tiap hari, hasilnya mudah-mudahan cetaaarrrr ^_^.

Squat ini kelihatannya mudah tapi sebenarnya ‘tricky’ juga lho. Squat itu sebenarnya mirip banget dengan posisi duduk, cuma enggak ada kursinya aja. Jadi paha kita sebagai penopang berat badan. Ingat ya, PAHA dan bokong sebagai penopang BUKAN LUTUT.

Saya kan dulu sempat maniak nge gym waktu masih gadis hehehe, jadi cukup hati-hati memulai kegiatan-kegiatan seperti ini –> gaya lu! hahaha.

Sebenarnya cari di youtube juga bisa soal gimana cara melakukan squat yang benar. Karena kalau salah lumayan tuh resikonya. Bisa cedera. Ini salah satu referensi yang lumayan (y) :

Kesalahan umum yang sering terjadi dan harusnya dihindari saat melakukan olahraga mengecilkan paha ini misalnya :

1- Posisi lutut yang terlalu maju dari ujung jari kaki. Sebaiknya sih sejajar atau lebih-lebih dikit. Kalau mau, lakukan squat depan kaca. Kalau enggak ada kaca, coba minta tolong direkamin pas melakukan squat dari samping biar tahu apakah posisi lutut sudah benar belum.

Nanti kalau sudah terbiasa tidak perlu lagi ngecek gini-ginian. Pasti terasa kalau caranya sudah benar (y). Kerasa kok kalau salah. Kalau squatnya salah posisi  biasanya lutut jadi sakit, padahal harusnya yang pegal tuh bagian paha :D.

2- Posisi punggung yang membungkuk. Ini juga bisa dicek dari kaca atau minta tolong direkamin hehehe. Punggung harus tetap lurus.

3- Jarak 2 kaki jangan terlalu dekat. Nanti enggak bisa optimal menurunkan badan. Jangan juga terlalu lebar. Pokoknya yang sedang-sedang saja, jadi kayak lagu dangdut ya hihihi.

4- Pernapasan juga teratur. Jangan kayak orang panik :p.

Oiya, biar sukses enggak apa-apa kok pakai sistem “mencicil” hehehe. Misalnya, pagi lakukan 20-3- squat berturut-turut, siang dan malam juga sama. Jadi tidak perlu beruntun dalam satu waktu. Saya sih begitu praktiknya ;). CMIIW ya.

Juga tidak usah terlalu saklek sama jumlah. Kan gentar juga kali melihat angkanya ya hahaha. Tenaaaaaang, ini ada versi beginnernya ;).

Olahraga mengecilkan paha

Hasilnya di saya terlihat sekitar 1-2 bulan. Iyaaaa harus sabar yaaaa ^_^. Enggak bisa simsalabim melihat hasil olahraga mengecilkan paha ini hehehe. Saya dari awal pakai angka 60 per hari. Nah segitu aja terus hahaha. Gak naik-naik. Tapi RUTIN tiap hari. Hampir enggak pernah  bolos ;). Kalau bolos pun, tidak sampai full satu hari :p. Misalnya pagi bolos, tapi siang sama malam tetap dikerjain.

Jadikan kebiasaan dengan menetapkan waktu rutin tiap hari. Misalnya setiap habis salat. Atau setiap mau mandi. Setiap bangun tidur, dan seterusnya. Terserah saja. Kalau waktunya sama terus kan, jadinya lama-lama otomatis saja gak perlu diingatkan ;).

Ukuran jeans saya turun ke angka 4 (ukuran US), horeeeeee *tepukTangan*. Sampai sekarang saya masih rajin squat tiap hari. Tapi udah enggak sebanyak dulu hehehe.  Paling sehari 10-30 kali. Dan sering bolong juga hihihi. Hidup squat, olahraga mengecilkan paha favorit bangeeeet :D.

Dari sini jadi semangat ngecilin lengan (nanti saya tulis ya cara simpelnya juga hihihi), dan balik ke rutinitas .fisik lainnya. Jalan kaki pun sebenarnya ampuh asalkan KONSISTEN (y).

Ingat juga, untuk urusan berat badan, pola makan memegang peranan penting sekitar 70%, sisanya baru dari olah raga hehehe. Makanya, tetap jaga pola makan yaaaaaa ^_^. Apalagi buat kita-kita yang sudah tidak muda lagi iniiiiiii :p. Eh kita, gue doang kali ya hahahaha.

Selamat mencoba ;).

Ini vlog saya tentang peranan olahraga dan pola makan dalam proses menurunkan berat badan :

https://www.youtube.com/watch?v=b_X0xW8MRpg

Jangan lupa subscribe ke youtube channel saya di sini, yes?

Kumpulan Emak Blogger

Mama Yeah

Masih ingat akun ini gak sih? Hihihi.

Akun ini sempat ramai beberapa tahun lalu di kalangan emak-emak. Akun Mamayeah ini dibuat dan popular via Twitter.

Tweet-tweetnya setajam silet, semacam sarkasme sebagai respons kepada makin membahananya perselisihan kaum emak-emak. Ya you knowlah, ASI vs Sufor – Melahirkan normal vs SC – dan yang paling hits tak lekang ditelan zaman … ibu bekerja vs ibu di rumah!

Masih inget beberapa tweet-tweet dari akun si MamaYeah sebelum akhirnya akunnya direport ramai-ramai dan akhirnya dihapus hahaha.

“Eh anakku ketawa! Twitpic ah. Eh anakku makan! Twitpic ah! Eh anakku napas! Twitpic ah. Eh anakku ga ngapa-ngapain! Twitpic ah.”

” #Bangganya setelah jago main ABCKids, sekarang bayiku udh jago ngulik app CNN. Pasti ntar keterima TK internasional. Semua berkat iPad.”

”Haree genee sibuk cari diskonan Pampers di koran? Clodi dong clodi! Save the environment, save the world. Ciyeee…”

“Pa, tabah ya, ternyata kita harus ngemil beras dulu 2 bln. MamaYeah mending mati daripada si buyung nggak sekolah di TK Internasional…”

Sarkas abessss hahahaha .

Ini lagi beberapa yang bikin emosi jiwa tapi tetap ngikik-ngikik hihihi :

“Bosen debat panggilan ibu. Gmn dgn panggilan pembeti? ART? Pembantu? Bedinde? Nanny (nanny niyeee)? Sitter? Suster? Ncus? Mbak? Kok ribet?”

“Baju anak kalian apa? Kalo baju anak-anak kami gabungan antara Gap, Mothercare, H&M Kids, dan jait sendiri. Maklum, super mom.”

Gambar : va-mom.com

“Goodnight mommies. Tidurlah biar kuat netekin nanti mlm… Ingat, susu formula adalah minuman setan, dan kalo nggak ASIX, ur a devil mom.”

“Selamat bekerja, working moms! Ninggalin anak niyeee…

“Selamat menyambut hari, para IRT! Ingat, pertanyaan yg paling penting “Gak sayang kuliah tinggi2 ujungnya ngangon anak aje?” IRT niyeee…”

“Shiloh Jolie-Pitt dan Suri Cruise juga robot doang, kok. Tenang aja, bayi kita yg paling sempurna.”

Sayangnya akun ini secara terbuka dan eksplisit menyindir-nyindir beberapa panutan ibu-ibu. Termasuk beberapa blogger-blogger perempuan yang lagi hits saat itu.

Mungkin Mama Yeah ini refleksi dilema Ibu di Kehidupan Nyata vs Tuntutan Parenting di Buku dan Ceramah ini itu oleh ahli nganu dan ngono (hahaha) vs Peer Pressure .

Apalagi dunia digital sekarang ini sangat memungkinkan kita untuk intip-intip sana sini hihihi. Atau sebaliknya, kita yang jadi kepengin diintip-intip .

Saya juga tidak paham sih harusnya “ibu yang baik” itu harus bagaimana. Karena kehadiran media sosial membawa perubahan gaya hidup bagi banyak orang. Termasuk para emak-emak dong ya .

Misalnya kita suka menulis blog tentang perkembangan anak. Maksudnya sih buat kenang-kenangan sendiri, eh ternyata banyak yang baca. Ini mungkin kejadian sama Mbak Astri Nugraha yang punya keluarganugraha dot net.

Working at Home – Mommy (Gambar : www.alexisgrant.com)

 

Saya baca blognya dari tahun 2005, anaknya baru satu. Sampai anaknya 4 tahun2010 Mbak Astri masih rajin ngeblog. Fansnya banyak tapi yang nyinyir juga ada .

Sekarang makin ramai, ya. Walau blogger ibu-ibu sekarang trennya sudah bergeser. Topik-topik yang sering ditulis sudah beda lagi kecenderungannya.

Mungkin sih begini ya, umumnya masa-masa “pencarian jati diri” itu ada di anak pertama . Bingung mau bandingin sama siapa. Jadilah kita bandingin sama hasil pencarian kita di kolom search di Google hihihi.

Dari situ kenalan dengan blog-blog ibu-ibu yang share ini itu tentang anaknya. Atau juga masuk forum-forum di mana para Ibu saling share pengalaman masing-masing. Kalau sekarang juga sudah ramai di Instagram-FB dan media sosial lainnya.

Anak pertama penginnya serba ideal. Kalau perlu, 24 jam kita siap di dapur dan bersumpah setia, “Anak gue enggak boleh makan Indomie seumur hidupnya!” Hahhahaha.

Tempo hari juga ada blogger yang menulis tentang FOMO, Fear of Missing Out. Di mana FOMO ini sebenarnya “penyakit era medsos” yang juga sangat mungkin dialami oleh para ibu-ibu.

FOMO, dalam tingkat kronis, akan terus menerus menghidupkan keinginan untuk mengikuti hal-hal yang orang kebanyakan lakukan. Semacam haus untuk merasakan/mencoba/mendapatkan hal-hal kekinian yang lagi hits.

Kumpulan Emak Blogger
Gambar : bloggingmatters.com

Misalnya ya itu tadi di contoh-contoh Mama Yeah. Lagi rame pakai clodi, rame-rame pengin pake clodi. Beli berlusin-lusin walau menderitanya minta ampun ngajarin embak cara mencuci clodi yang baik dan benar. Mau nyuci sendiri kan pegel, Cyin! Hahaha.

Tapi bedakan dong ya antara kaum FOMO vs mereka yang benar-benar terinspirasi oleh diri sendiri . Tidak sedikit kan yang bela-belain pakai clodi karena memang terdorong oleh hasrat pribadi ingin berkontribusi yang lebih baik untuk lingkungan . Orang-orang seperti ini jelas ada.

Lama-lama menjadi absurd mau menilai siapa yang mau pamer, siapa yang hanya ikut-ikutan, siapa yang beneran idealis. Ribet lah.

Makanya, jangan dibikin susah hidup ini. Dengan segini banyak sumber informasi berhamburan dari mana-mana, hal yang paling rasional dan memungkinkan adalah “menguasai” diri sendiri .

Ibuk-ibuk, kalau lagi PMS atau semacamnya, jangan malah blusukan di timeline. Nanti anak lagi susah makan, ada orang lain yang kebetulan share anaknya gampang makan, jadi sensitip, “Mau pamer aje lu, Nyet!” Kan serem yak hahahaha .

Gambar : ctworkingmoms.com

 

Mustahil kita mau mengatur-atur bagaimana orang lain harus bersikap dalam akun pribadi mereka masing-masing .

Tapi dari sini kan kita juga bisa bercermin. Eh, jangan-jangan kita yang dalam posisi sebaliknya . Tapi ingat, ngomongnya ke diri sendiri ajaaaa, enggak usah di-status-in lagi hahaha.

Hal penting lainnya adalah tidak pernah melupakan kalau status Ibu itu tidak otomatis melepaskan kita dari identitas pribadi kita.

Saya kurang suka dengan istilah, “Anak itu mencerminkan didikan orang tuanya.” Di mana yang paling sering kena “bogem” ya ibunya lah .

Misalnya saya 7 bersaudara, sifatnya juga 7 kombinasi. Diantara ber7, ada 4 orang yang sangat mudah bergaul. Ada 3 orang yang agak sulit menjalin pertemanan di lingkungan baru. Saya termasuk yang 3 orang ini. Waktu kecil, ada yang makannya gampang, ada yang harus menangis meraung sejam baru mau makan.

Ada yang pendiam, ada yang seperti saya, walau agak susah bergaul tapi cerewetnya naudzubillah hahaha. Ada kakak saya yang depan orang lain seperti patung tapi di dalam rumah paling bisa membuat seisi rumah terpingkal-pingkal.

Adik saya lebih luwes dan sangat plegmatis secara kepribadian. Bandingkan dengan saya yang punya sifat koleris garis keras . Makanya, adik saya jarang berantem secara frontal dengan teman-temannya sementara saya lumayan sering bikin teman-teman saya menangis karena mulut saya yang seperti silet ini hahaha. Sungkem dulu .

Gambar : thestri.cafemom.com

Jadi kami ini cerminan siapa???? APa orang tua saya bunglon apa gimana hahaha.

Makanyaaaaaaa, rileks saja, yes? . Kita lakukan yang terbaik yang kita bisa tapi tidak perlu sampai gimana-gimana banget. Apalagi sampai harus stres lihat anak orang lain.

Mau anak-anak kelak gimana….you are you! . Mereka akan menjadi individu-individu berbeda saat dewasa nanti. Kombinasi dari banyak hal yang akan menjadikan mereka seperti apa.

Banyak faktor lah. Tidak berarti jadi terlalu santai jugaaaaaa . Ya jangan dong. Tanggung jawab jangan lupa .

Have a nice monday, Moms. Jangan lupa bahagia .

Menuju berat badan ideal perempuan

Langkah Langkah Bayi Cara Menurunkan Berat Badan

Cara menurunkan berat badan : Pernah membaca “7 Habits for Highly Effective Teens”? Ini beda lho sama buku satunya lagi yang versi “dewasa”nya.

Kalau versi “for Highly Effective People” itu karangan Stephen Covey. Yang versi “abege”nya ditulis oleh sang anak, Sean Covey. Terjemahan bahasa Indonesianya bagus banget deh . Asyik banget dibacanya.

Nah, di tiap akhir bab, Sean memberikan yang namanya “Langkah-langkah Bayi”.Semacam step by step untuk melatih kebiasaan/habit biar benar-benar menancap dalam keseharian kita.

Langkah-langkah bayi = resolusi-resolusi kecil nan ringan-ringan dan tidak sulit.

Memiliki berat badan ideal –> salah satu resolusi paling populer dari tahun ke tahun hahaha. Apalagi buat perempuan. Makanya tips atau cara menurunkan berat badan menjadi salah satu keyword paling hits di Google :p.

Sering banget rasanya membaca kegagalan resolusi ini dari banyak teman-teman. Mereka sih biasa-biasa saja rata-rata. Malah jadi bahan becandaan.

Tapi dalam hati kecilnya pasti tetap penasaran. Ayoooo ngaku hahaha.

resolusi menuju berat badan ideal perempuan
Gambar : pixabay.com

1. First thing first ya, kita harus sepakat dulu bahwa kelebihan berat badan (yang diukur dengan standar kesehatan dong ya bukan standar peragawati profesional hahaha) berpotensi meningkatkan resiko penyakit buat tubuh kita .

Jadi berhentilah mencari pembenaran dengan, “Biar gendut yang penting sehat” . Namun, tidak selalu berarti kalau gendut pasti tidak sehat. Jangan logical fallacy yaaaaa .

2. “Saya sudah tua, enggak mungkin lah. Memang ini sudah nasib. Sudah potongannya memang begini. Takdir. Ngana dan nganu.” Wrong! Kebiasaan kalian (yang mungkin negatif) itulah yang kalian tuduh sebagai takdir .

Lebih baik mengaku saja, tidak perlu secara terbuka, dalam hati masing-masing saja, “Saya itu bisa kok untuk punya berat badan ideal. Tapi ya gitu deh .. anu… susah mengubah kebiasaan.”

Kalau sudah begini, harapan untuk berubah masih ada ketimbang berlindung di balik alasan, “Ya emang enggak bisa diapa-apain lagi.”

Berhenti membohongi diri sendiri, yes? 😉

3. Jadikan prioritas. Prioritas beneran. Kesehatan itu mahal sekali harganya. Memangnya ada ya yang jual “Jantung Baru”. Kalau kita punya masalah dengan ginjal, pencernaan, segala macam, ada ya toko online yang nawar-nawarin, “Ginjal barunya Sis. Model terbaru, nih.”

cara menurunkan berat badan
Gambar : pixabay.com

Transplantasi itu selain biayanya yang fantastis, ahlinya masih sangat sedikit, ya organnya juga suliiiiiiiit sekali mendapatkannya.

Btw, ini saran cara menurunkan berat badan dari saya BUKan versi ahli gizi dan semacamnya ya hahahaha. Jadi, kalian boleh tidak percaya dan di-skip saja hihihi. Ini murni pengalaman pribadi saja.

[Updated 2019 : ada versi vlognya juga nih soal cara menurunkan berat badan]

https://www.youtube.com/watch?v=b_X0xW8MRpg

Mitos bahwa kalau sudah punya anak ya pasti gendut. Atau ada orang yang ditakdirkan kurus sampai tua walau apa pun yang terjadi.

Kita enggak ngomongin bentuk badan, ya. Itu memang bagian dari takdir. Fokus ke KESEHATAN saja, yuk. Berat badan kurang apa iya jaminan sehat? Tuh suami saya terhitung langsing, tapi kolesterolnya dahsyat . Tapi sekarang sudah berada dalam penanganan “bu dokter” yang tepat hahaha .

Soal cara menurunkan berat badan, sederhananya begini, kalau dulu kalian pernah kurus terus tahu-tahu sekarang gendut jangan nyalahin anak melulu kelesssss . Kebiasaan kalian yang berubah, sayangnya menjadi lebih buruk, dikombinasikan dengan fungsi metabolisme yang menurun .

cara m enurunkan berat badan

Memang deh menyalahkan orang lain/lingkungan/atau siapa pun selain DIRI SENDIRI itu memang lebih asoy. Usaha/bisnis pribadi kita yang misalnya sedang redup pun kok yang salah ya Jokowi #eh hahaha :p.

Informasi penting lainnya, pola makan punya pengaruh yang jauh lebih besar terhadap kontrol berat badan ketimbang OLAH RAGA. Bukan berarti olahraga tidak penting sama sekali yaaaaaaa . Again, jangan logical fallacy melulu .

Pola makan pengaruhnya sekitar 70-80 persen. Olahraga 20-30 %. Apalagi jika usia sudah di atas 30 tahun. Intinya, kalian mau olahraga 10 jam seharii kalau makannya enggak dijaga ya efeknya 20-30% itu saja .

Kesalahan resolusi karena kita sering mengharapkan semua kejadian dalam satu momen luar biasa. Semacam “Booom”, bangun di pagi hari dan berkaca, “Ya ampuuuuun, itu yang di cermin gue apa Gwen Stefani, sih?” #eaaaa.

Mbak Gwen ini ya, saya baru tahu kalau umurnya sudah 46 tahun. Ya ampyun, 46 tahun!!! *pingsan*. Perutnya itu lho Kaaaaak .

SEring banget membuat resolusi cara menurunkan berat badan yang tidak masuk akal macam, “Saya bertekad tidak akan makan gorengan seumur hidup!!!” Hahaha. Kebiasaan makan gorengan bisa 3-5 x sehari mendadak bikin resolusi ajaib begini ya kemungkinan gagalnya tinggi .

“Saya bertekad tidak akan makan nasi putih selama sebulan penuh!” –> mungkin berhasil. Tapii bulan kedua, didera rasa lapar berlipat-lipat, makan nasi putihnya malah kayak orang gila. Berat badan pun naik lagi. Bahkan melebihi berat awal. Nangis kaaaaan hihihi.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Jangan memanipulasi rasa lapar . Selain menyiksa, justru efeknya negatif .

Mulai dengan kebiasaan ringan-ringan saja dulu. Tiap minggu bikin daftar yang isinya minimal 3 resolusi ringan-ringan. Pastikan kita MAMPU menjalaninya tanpa harus dipaksa dan membohongi diri sendiri .

Untuk 1 minggu/ 1 bulan pertama misalnya (contoh aja yaaaa, silakan dibikin sesuai kebutuhan masing-masing) :

1. Dalam satu hari hanya ngemil 3 potong gorengan secara total. Tidak boleh lebih! –> ini misalnya kalau sudah terlalu biasa ngemil gorengan pagi dan sore. Kalau ditotal-total bisa lebih dari 10 potong sehari hihihi.

2. Minum air putih 8 gelas sehari. Tidak boleh kurang. Percaya deh, banyak orang yang masih tidak sadar kalau jumlah konsumsi air putihnya kurang dari 8 gelas 🙂.

3. Makan sayuran segar (tanpa dimasak) MINIMAL satu kali sehari. Misalnya ditambahkan ke makan siang atau makan malam.

4. Kalau sudah biasa minum kopi/teh tiap hari. Kurangi menjadi 2 hari sekali. Ini memang masih menjadi perdebatan. Ada yang memang sakaw kopi dan merasa KOPI adalah segalanya (ada lho yang merasa tidak sanggup ngapa-ngapain kalau tidak minum kopi dalam sehari hehehe).

Cari langkah bayi lainnya kalau kalian merasa minum kopi segelas sehari tidak punya efek apa-apa .

Pilih minimal 3. Ringan, kan? Disiplin selama satu minggu. Enggak usah aneh-aneh dulu.

Kalau bisa dijalankan baru dilanjut lagi dengan yang lebih “berat”. SEkali kalian bisa melewati tantangan ringan ini, kalian jadi lebih percaya diri.

Rayakan “kemenangan kecil” ini tiap minggu . Tapi ingat ya sekali berhasil melewati langkah bayi, kalian tidak mundur lagi . Khilaf sesekali bolehlah. Sesekali yaaaaaa, bukan sekali sehari hahahaha.

Minggu ke-2 dan seterusnya, aturan minggu-minggu sebelumnya YA TETAP BERLAKU. Makin lama rulenya makin banyak tapi kita tetap santai karena menjalaninya sedikit-demi sedikit.

Ya disebut langkah bayi karena analoginya memang berasal dari anak bayi yang baru belajar berjalan. Mereka kan tidak ujug-ujug dari lahir eh tetiba lari-lari begitu saja hahahaha.

Tapi mulai dari menangis tiada  henti (hahahaha), belajar melihat, mengenali lingkungan dikit-dikit, tengkurap, duduk, merangkak … dan seterusnya. Tahu-tahu anaknya sudah besar dan tiba-tiba berkata kepada  kita, “Mah, aku rencananya pengin melamar seorang gadis. Menurut Mama gimana?” –> mamanya pingsan! Hahaha.

Btw, prinsip “langkah bayi” ini juga bisa berlaku buat resolusi-resolusi lainnya kok :). Anything.

Seperti pepatah Tiongkok zaman lampau yang satu ini :

“It is better to take many small steps in the right direction than to make a great leap forward only to stumble backward.”

Yuk, yuk,mumpung masih anget-anget nih hawa-hawa tahun baru. Challenge what your future holds, yes? ;).

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Ayam Kremez

Jules terisak-isak sambil curhat, “I don’t want to be buried alone. Paige’ll be with her husband, and Matt’ll be with his new family, and I will be buried with strangers. I’ll be buried in the strangers singles section of the cemetery. Not that that is a reason to stay together. But it’s just, you know, a scary sidebar.”

Ben menyodorkan selembar tisu, “Let’s take that one off your plate right now. You can be buried with me and Molly. I happen to have space, okay?”

Sudah nonton film The Intern? Hehehe.

Saya baru tahu filmnya tadi pagi, suami yang cerita hehehe. Jadi, waktu baru bangun tadi, saya memperlihatkan video kantor tempat saya dulu bekerja pada suami saya.

the-intern

Then we were joking around, “Nih kantor barunya. Keren, ya. Duh kalau aku gak resign, sekarang aku udah jadi manajer kali Bang. Gak perlu pusing abang nyari kerja! You just stay at home with the boys. Nanti aku aja yang kerja di kantor.”

Saya suka becandain, “Coba gue masih kerja.  I can bring big bunch of money. Abang bobok-bobok aja di rumah.”

Suami sih nyenyir saja terus tahu-tahu dese cerita tentang film ini hahaha. Ampun, Bang! #tiarap :p.

Filmnya sendiri bercerita soal seorang intern, a senior intern, a super senior one hehehe, Ben (Robert De Niro). Menjadi intern di sebuah start up company yang CEOnya perempuan muda yang super sibuk extremely smart and super lincah, Jules (Anne Hathaway).

Jujur saya enggak nonton filmnya utuh. Karena saya sudah lama mempersiapkan tulisan Ayam Kremez ini cuma lagi nyari-nyari “punchline” yang pas #eaaaa hihihi. Saya rasa Jules dan Matt (suaminya) bolehlah kita jadikan salah satu contoh :p.

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Jules seorang perempuan bekerja, very bright, super sibuk di kantor. Jadilah anaknya, Paige, dirawat sehari-hari oleh Matt, suami Jules. Matt tidak bekerja biar bisa konsen mengurus rumah dan Paige. Ya iyalah, di luar negeri enggak ada simbok dkk hehehe.

Tadi Jules curhat ke Ben soal Matt yang ternyata berselingkuh. Jules tidak ingin memberitahu Matt jika dia tahu soal perselingkuhan ini. Jules punya kecemasan yang lain.

Ayam Kremez istilah yang muncul untuk mengimbangi Macan Ternak, Mama Cantik Anter Anak ke Sekolah vs Ayah Muda Keren Bikin Gemez hahaha. Ada-ada saja.

Tapi di kota tinggal saya sekarang ini, dan saya rasa di banyak wilayah di negara-negara “mapan”/western countries, fenomena Ayam Kremez berkeliaran bareng anak-anak tanpa kehadiran istrinya adalah fenomena biasa. Kalau di Indonesia, waduh, ada papah-papah muda wara wiri ngurus anak tanpa bini pasti langsung digodain, “Poligami itu boleh lho, Mas!” Hahahaha.

Di sekolah anak saya, rutin banget ketemu beberapa Ayam Kremez –> kremez beneran boooo hahaha, untung suami kagak kalah kremeznya, harus langsung klarifikasi biar kartu ATM enggak disita hahaha. Ketemu di sekolahan pas nganter anak, eh papasan di supermarket pas lagi belanja, pulangnya ketemu lagi pas jemput anak hihihi.

Ada juga yang saban pagi dorong stroller keluar dari gedung apartemen. Paling saling menyapa sebentar dia pun ngacir pergi berdua saja dengan adek bayi dalam stroller. Rutin tiap hari. Siang-siang ngeliat dese masuk gedung dengan segabruk belanjaan. Dari kantong belanjaan nyembul sayur-sayuran semacamnya gitu hehe.

Belum tentu mereka tidak bekerja sama sekali, sih. Ada yang memang part timer. Jadi bisa bekerja fleksibel. Ada yang memang menjual jasa tergantung kebutuhan/order. Istri mereka biasanya bekerja full time menjadi pegawai toko, office girl di mal, dsb. Catet ya, pekerjaan seperti ini gajinya tetap oke banget untuk ukuran sini.

Karena di negara-negara maju, apalagi model Eropa-Australia-Kanada, gap gaji tidak terlalu jomplang hehehe. Bosan banget ya saya ceritain soal ini hehehe.

Hadeeeeh kalau di Jakarta sudah habis tuh bininya dinyinyirin habis-habisan. Syukur-syukur si Ayam Kremez bersangkutan kagak difoto-foto terus disebarin di medsos, “Manaaaaaa istrinya, manaaaaaaa… Perempuan macam apaaaaahhhh…” :p.

Etapi sebenarnya sudah ada juga lho pasangan model begini di Jakarta. Saya pernah kenal juga keluarga dengan “sistem seperti ini”. Walau sang suami tidak benar-benar full time di rumah, ada pekerjaan juga. Atau punya usaha yang bisa disambi dari rumah.

Satu  hal yang jelas, pengurusan rumah tangga dominan dipegang oleh suami yang umumnya menjadi tanggung jawab istri (well, setidaknya dalam kacamata “ketimuran” kayak kita-kita ini). Di luar negeri sih tidak ada simbok/nanny, jadi memang kelihatan banget peran suaminya.

Kalau di Jakarta masih bisa dibantu simbok/embak/nenek/eyang/tante dan lain-lain kali ya hehehe.

Saya kurang tahu sudah seberapa besar penerimaan masyarakat terhadap “pertukaran peran” macam ini di Indonesia. Ada yang punya datanya? Hihihihi.

Isunya membentang dari “seberapa jauh efek emansipasi perempuan bla bla bla”, “apa laki-laki benar-benar rela anu-anu-anu”, “menantang kodrat kah” dan seterusnya.

Tapi di film Intern masih kelihatan ya, di “dunia barat” pun hal-hal seperti ini masih menjadi tantangan tersendiri. Belum 100% terlepas menjadi hal umum. Masih bersisa tabu-tabunya dikit.

Jules malah takut kalau dia memilih konfrontasi secara terbuka, Matt malah akan ‘pergi’.

Menurut Jules, Matt pasti mudah menemukan pasangan kembali. Jules meradang sendiri,”I’m not easy.”

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Jadi begini, Matt pun sebenarnya dulu juga bekerja malah kariernya lumayan. Tapi dia mengalah untuk Jules. Jules pun pede menjalani hari-harinya karena dia percaya kepada Matt.

Again ya, jadi perempuan emang repot hihihi.

Dalam kasus ini saja, malah Jules yang disisipin perasaan bersalah dan merasa “deserved”. Makanya dia sempat memilih mau meloloskan penggantinya saja dan ingin ‘step down’ dari perusahaan. Demi menyelamatkan rumah tangganya.

Berat ya menjadi perempuan seperti Jules. Kita ingin mempunyai keluarga -suami dan anak- tapi kita pun ingin “terbang tinggi” dan merasa keduanya sama pentingnya.

Tapi lihatlah, pasti kesenggol melulu kalau menjadi yang model begini. Jangankan adat ketimuran, di film ini saja yang jelas-jelas settingnya di negara yang konon paling liberal, masalah begini ternyata masih kejadian hehe.

Ish, enaknya jadi laki-laki :p. Cari uang buat keluarga dipandang hebat. Mau mengalah demi istri pun tetap dipuji-puji besar hati dan sebagainya.

Kita perempuan? Di rumah dinyinyirin, kerja juga dipelototin hahaha.

Saya pribadi kagum dengan model “Ayam Kremez” begini hehehe. Tentu tidak mudah kan mengorbankan ego alami laki-laki demi perempuan yang kita sayangi <3.

Hal lainnya lagi, kalau pun misalnya suami dan istri sudah sama-sama sepakat lantas bagaimana dengan tekanan lingkungan atau keluarga? Apalagi kalau di  Indonesia ya. Beuh, dua-duanya bisa dihajar habis-habisan tuh hahahaha.

“Istrinya egois amat!!”

“Dasar laki-laki lemah!!”

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

Kalau dalam keluarga saya pribadi, maksud saya antara saya dan suami ya mungkin so far terasa “nyaman” saja. Kita kurang tahu ya ke depannya hehehe. Semoga nyaman terus ya Bang ;).

Ini karena ya dia tipe “I’m a man and let me be the one.” Sementara saya memang yang enjoy aja bangun pagi wara wiri di dapur, ngurus anak di rumah, tentu sambil sambil bertempur di Facebook dong ya hahaha. Kayaknya saban Pilkada sama Pilpres, ribut melulu wall gue hahaha.

Soal keuangan suami cenderung hemat tidak macam-macam jadi kita punya investasi yang alhamdulillah “cukup” lah so far. Dan saya juga bukan tipe yang harus punya baju 2 lemari atau punya tas bermerek atau apalah-apalah.

Jadi tidak ada ‘beban’ tambahan hehehe.

Saya pernah kok berdebat dengan ibu saya soal kemandirian secara finansial. Ibu saya tidak suka “perempuan di rumah” hehehe.

Tapi bagaimana ya, probably because I trust him. Bukan percaya membabi buta gitu-gitu ya bahwa dia akan setia sampai mati bla bla bla. Tapi ya begitu deh, kami berdua merasa nyaman aja gitu :D.

Jangan dikira dia ngupil-ngupil aja pulang kantor hahaha. Ini luar negeri, Men! Kagak ada embak. Pulang kantor ya dia bantuin saya di rumah :p. Weekend dia yang nganterin anak-anakk berenang segala macam sementara saya ngupil di rumah hahaha.

Dia membantu anak-anak mengerjakan peer, do some laundry sometimes, bahkan tidak segan mengganti popok adek bayi.

Ya pada intinya balik lagi. Every family has its own rule, yes? :D.

Selama keduanya sepakat, let’s go on! Yang lain-lainnya bisa ‘menyusul’, yes? ;).