That Change Can be Beautiful

“Untuk pelamar beasiswa program magister/dokter spesialis, usia maksimum pada 31 Desember di tahun pendaftaran adalah 35 (tiga puluh lima) tahun.”

Game over, begitu pikir saya saat melihat sebaris kalimat tersebut 2 tahun lalu saat saya mencari-cari peluang beasiswa untuk melanjutkan studi magister saya.

Maksimal 35 tahun. Langsung lemas. Beranak melulu sih, hahaha. Jadi ‘lupa’ mikirin sekolah lagi :p.

Padahal dari kecil saya ini gila sekolah banget. Selalu menganggap saya memang cocoknya menjadi akademisi. Dulu malah punya cita-cita tunggal : menjadi dokter! Saya percaya diri banget deh dengan nilai-nilai akademis saya.

Suami saya selalu bete saking seringnya saya memamerkan buku raport SMA saya di mana tidak satu cawu pun, angka 1 tidak tertera di kolom peringkat kelas. Sapu bersih, Cyin! #benerinPoni.

Selain menjadi akademisi, karena kondisi, akhirnya berbelok menjadi wanita karier. Belum juga ijazah diterima, saya sudah diterima bekerja sekitar 2 minggu setelah melewati ujian terakhir di kampus.

Waktu gadis pula, kepengin banget merasakan sekolah di luar negeri. Pakai sepatu boot, mantel lucu-lucu, nenteng buku dan tas, bergaya dan berfoto di depan kampus bersama teman-teman bule. Ini mau sekolah apa mau ngapain yaaaaaa hahaha.

Sebenarnya, sering juga merasa gagal kalau melihat teman-teman sebaya yang tetap berjuang melanjutkan sekolah sampai ke mana-mana.  Tidak sedikit teman sekolah dulu yang kini menjadi dokter spesialis dan menjadi dosen di kampus mereka.

Setiap melihat foto teman memakai toga merayakan kelulusan S3  mereka, selalu membatin dalam hati, “Duh, S2 saja belum keburu, euy” huhuhu :(.

Challenge What Your Future Hold!

Kini, usia saya 37 tahun, punya 3 anak 😀

berempat-istanbul

Saya masih ingat, hampir 8 tahun yang lalu, di suatu akhir pekan, saya ke kantor untuk mengambil barang-barang yang masih tersisa di meja. Kemarinnya adalah hari terakhir saya setelah duduk di depan bos menyerahkan surat resign sebulan sebelumnya.

Padahal hari terakhir di kantor ketemu teman-teman saya masih biasa-biasa saja. Justru saat memunguti satu persatu barang dari laci meja, memasukkan sepatu olahraga yang sering saya pakai nge-gym di kantor ke dalam plastik, mencabuti notes-notes kecil di dinding meja kerja, membuat saya menangis sesenggukan.

Tidak percaya bahwa saya akhirnya memutuskan berhenti bekerja setelah meniti karier 7 tahun tanpa henti.

Siapa sih yang mengira setelah memutuskan berhenti berkarier, banyak pengalaman baru menanti :). Walau usia tak lagi muda.

Setelah resign, rezeki ke luar negeri ternyata mengalir lewat perjalanan karier suami. Sudah sempat jalan-jalan ke banyak tempat. Walau meleset sedikit. Dulu diimpi-impikan selfie-selfie sendiri karena ceritanya kan lagi kuliah di luar negeri hihihi. Sekarang, di foto mana pun pastinya anak-anak kudu nyempil hahaha.

jalan2-anak2

Seiring dengan petualangan di berbagai negara, saya hidupkan kembali hobi masa kecil saya … menulis :). Kalau dulu hanya terbiasa menulis catatan ringan dalam buku diari untuk koleksi pribadi, sekarang bisa menulis di blog dan berbagi kisah kepada banyak orang via media sosial.

Dari blog, kegiatan menulis saya terus merambah ke media-media cetak. Beberapa kali tulisan-tulisan saya, baik berupa opini-traveling-fiksi, menghiasi media-media cetak nasional. Dengan makin meredupnya era media cetak, kini saya sering juga menjadi content contributor buat beberapa media online.

Dari media cetak, saya pun menerbitkan buku-buku. Sudah 3 buku yang pernah terbit : Bunda of Arabia, Memoar of Jeddah, dan The Davincka Code.

artikel-loreal

Kira-kira setahun yang lalu, saya menjadi getol masak-masak dan bikin kue di dapur. Sesuatu yang sebelumnya saya kerjakan sebatas kewajiban saja. Duh, enggak pernah kebayang bakal bisa masak macam-macam.

Hal ini membuat saya membuat blog khusus untuk kegiatan di dapur. Ada banyak hal yang memang tidak pernah terlambat untuk dimulai ;).

dapur-loreal

 

Dulu, saya ingin sekali menjadi orang yang berpengaruh. Saya pikir saat saya tidak banyak lagi berinteraksi di luar rumah, lagi-lagi game over. Ternyata zaman terus berubah. Bahkan dari rumah pun, kita tetap bisa menyebarluaskan ide/gagasan/semangat.

Apakah ibu di rumah tidak bisa membekali diri dengan pengetahuan politik misalnya? Salah banget ;).

Hingga kini, saya tetap rajin menulis. Walau seringnya di akun media sosial saya, Facebook. Minat utama saya selain traveling dan fiksi adalah isu-isu seputar perempuan, sejarah, dan politik.

Saya sampai punya belasan ribu follower di Facebook :D. Beberapa tulisan saya dishare sampai ribuan kali dengan banyak sekali komentar apalagi jika menyangkut politik, pokoknya seru deh hahaha. Sesuatu yang tidak pernah terbayang sebelumnya.

Dinding-dinding rumah tidak akan menghalangi siapa pun untuk menjadi “influencer” di era digital ini :).

Melangkahkan kaki pulang di hari sabtu itu bersama beberapa kardus berisi barang-barang di kantor yang siap dibawa kembali ke rumah, saya mengira hidup saya akan biasa-biasa saja setelah itu. I thought, “The door has been closed.” 

Untuk kemudian saya sadari beberapa tahun setelahnya, “When one door closes, another opens” ;).

Tetap Optimal Merawat Diri

Saya tetap ngotot menjadi penampilan walau tiap hari disibukkan dengan urusan anak, dapur, menemani suami, intinya lebih banyak berkutat dalam rumah. Mungkin karena alasan lebih banyak di rumah, tidak sedikit ibu-ibu rumah tangga yang tidak menjadikan hal ini sebagai prioritas. Apalagi dengan umur yang makin bertambah.

Menjaga kondisi tubuh, termasuk penampilan, didasari oleh keinginan pribadi. Bukan karena intimidasi dari siapa pun :).

Saya melahirkan anak ke-3 saya, saat usia sudah menjelang 36 tahun. Setelah si bayi berusia 6 bulan, saya rutin berolahraga dan lebih ketat terhadap pola makan untuk mengembalikan berat badan ke angka ideal.

Waktu masih bekerja saya memang rajin menyambangi tempat kebugaran. Tapi kecanggihan era digital sekarang sangat memungkinkan kita tetap bisa melakukan olah tubuh dari rumah sekali pun.

Tidak perlu aktivitas yang berat-berat. Intinya adalah konsistensi (y). Sepuluh menit pun asalkan rutin dilakukan setiap hari mungkin jauh lebih berpengaruh ketimbang berolah raga sejam tapi hanya sekali sebulan hehehe.

pixlr

Yang berat adalah menyemangati diri sendiri sepertinya.

Kita cenderung berlindung di balik alasan, “Ah, sudah tua ini. Wajarlah kalau begini-begini-begini.” Atau menggunakan anak sebagai alasan, “Repot ah di rumah. Digangguin anak melulu.”

Padahal semua tergantung niat dan kesungguhan pribadi saja sih ya. Rutinitas harian bahkan anak-anak harusnya bukan penghalang ;).

mountain-climber-aimar

 

Skin Care vs Make Up?

Saya tidak begitu suka berdandan. Ini nih yang suka ketelisut. Banyak yang menganggap tidak doyan dandan berarti tidak perlu merawat wajah.

Skin care vs Make up adalah 2 hal yang berbeda, lho ;).

Memakai pelembab wajah dan bedak. Hal ini rutin saya lakukan setiap akan ke luar rumah. Sinar matahari dan polusi punya efek tidak sedikit terhadap kesehatan kulit.

Membersihkan wajah tiap hari sebelum tidur juga jangan disepelekan walau rasanya kita jarang beraktivitas di luar rumah. Saya termasuk rewel dalam urusan perawatan wajah walau jarang bersentuhan dengan lipstik, riasan mata, pensil alis, pemerah pipi, dsb hehehe.

mama-banyak

Saya tidak hanya mengandalkan skincare berupa produk-produk kecantikan yang banyak dijual bebas. Sekali atau dua kali seminggu saya mengoleskan bahan-bahan alami seperti madu + jeruk nipis + tomat ke permukaan wajah. Agak repot memang. Tapi hasilnya lumayan banget lho ;).

Asupan makanan juga punya pengaruh besar. Misalnya rajin mengkonsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan. Tidak sukar buat saya karena beberapa tahun belakangan ini saya mempraktikkan pola makan Food Combining yang mayoritasnya memang buah-buahan dan sayuran segar.

Sama seperti perawatan tubuh, lakukan perawatan wajah untuk diri sendiri. Bukan karena pengin dibilang cantik bla bla bla :p.

Keduanya adalah bagian dari kesehatan. Menjaganya termasuk ibadah asalkan tidak berlebihan dan diniatkan sebagai salah satu cara mengucapkan syukur kepada Sang Pencipta <3.

Change Can be Beautiful 😉

Saat ini, di hampir seluruh belahan utara dunia, musim gugur sudah mencapai puncaknya. Beberapa bahkan sudah memasuki musim dingin.

Di musim gugur, daun-daun yang tadinya hijau segar beserta bunga-bunga aneka warna yang mungkin terselip diantaranya mulai berganti rupa. Dedaunan mulai mengering, bunga-bunganya rontok dan layu.

Sepertinya, masa kejayaan sudah akan berlalu :(.

Kita pun, saat memasuki #usiaCantik, 35 tahun ke atas, berpikir seperti itu. Kondisi tidak lagi semuda dan sesegar dahulu.

Saat musim gugur, dedaunan berubah warna menjadi oranye, coklat muda, kuning, ada yang keunguan dan merah marun. Daunnya tidak lagi hijau segar. Tapi lihatlah … perubahan tidak selalu berarti lebih buruk.

musim-guugr

So we’re getting older. Usia mungkin sudah melampaui 35. Banyak hal yang kita harap-harapkan ternyata tidak kejadian. Tapi seperti yang saya bilang tadi, sebenarnya ada jauh lebih banyak pengalaman-keterampilan-pencapaian atau lain-lainnya yang tidak pernah terlambat untuk kita pelajari atau kita raih :).

Musim gugur mengajarkan pada kita, bahwa perubahan bisa menunjukkan hal-hal yang lebih indah. Autumn, the season that teaches us that change can be beautiful :).

Perubahan di #usiaCantik mungkin malah mengantarkan kita kepada hal-hal lain yang tidak terbayang sebelumnya, kepada hal-hal yang ternyata … jauh lebih “cantik” <3.

At least for me, it did happen :).

quote-pic

Tragedi Farkhunda, Antara Agama -Misogini – dan Politik

“Allahu Akbar!” Pekikan ini terdengar saat iring-iringan manusia mengantarkan jenazah Farkhunda ke tempat peristirahatan terakhir.

Ironisnya, pekikan yang sama, “Allahu Akbar” juga digunakan oleh para pelaku saat membunuh Farkhunda beramai-ramai di salah satu pusat kota Kabul, Afghanistan. Dimana dalam kasus ini, kata membantai mungkin lebih tepat.

Gambar : operationworld.org
Gambar : operationworld.org

 

Tanggal 19 Maret 2015, sebuah video amatiran yang direkam oleh banyak orang (ada yang mengklaim ratusan) tersebar viral di media sosial. Orang-orang yang menyebarkan video dengan bangga mengklaim bahwa mereka adalah bagian dari “tim penyelamat agama” oleh seorang perempuan atheis bernama Farkhunda.

Farkhunda dituduh membakar alquran. Massa yang merubung, diklaim sekitar seribu laki-laki, (SERIBU LAKI-LAKI) yang dari usia abege sampai tua, secara spontan memukuli, menampar, menendang, menyeret tubuhnya dengan mobil sejauh ratusan meter, menaruhnya di tepi sungai, melempari batu hingga akhirnya membakar jasadnya.

Setelah insiden ini, orang tua Farkhunda mengakui kalau putri mereka mengidap gangguan jiwa. Belakangan klaim ini tidak benar. Keluarga Farkhunda dipaksa mengatakan soal penyakit jiwa agar mereka terhindar dari amuk massa. Bahkan orang tuanya sempat diminta meninggalkan kota Kabul untuk sementara waktu.

Gambar : thegrindstone.com
Gambar : thegrindstone.com

 

Sehari setelahnya, kaum ulama dan beberapa petinggi pemerintahan ikut mengecam Farkhunda dan “mendukung” pembantaian tersebut sebagai “tindakan membela agama”. Walau presiden menginstruksikan investigasi dan menolak klaim bersalah terhadap Farkhunda sebelum ada bukti.

Hasil investigasi menunjukkan Farkhunda tidak pernah membakar alquran. Tuduhannya palsu.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Di depan sebuah masjid yang juga ramai dikunjungi orang karena berfungsi sebagai tempat wisata, suatu pagi di hari yang sama, Farkhunda menegur seorang laki-laki, Zainuddin, penjual cinderamata di depan masjid.

Farkhunda meminta Zainuddin menghentikan kegiatannya menjual benda-benda kecil yang berisi tulisan-tulisan alquran yang bisa dianggap sebagai jimat. Farkhunda menganggap hal tersebut sebagai bid’ah dan tidak sesuai tuntunan agama.

Zainuddin, bukan hanya penjual cinderamata tapi juga dikenal sebagai ulama lokal di sana. Sementara Farkhunda juga lulusan sebuah sekolah agama yang saat itu juga bekerja sebagai tenaga pengajar agama secara sukarela.

Saat berdebat, Zainuddin berteriak kepada orang-orang yang ramai lalu lalang di sana, “Hei, hei kemarilah. Perempuan ini membakar alquran.”

Tuduhan tersebut menyulut perhatian. Dari situ para lelaki mulai berdatangan dan berkerumun. Di sini, sudah banyak yang mulai merekam.

Farkhunda membantah tuduhan tersebut. Tuduhan juga melebar kepada tuduhan antek Amerika, mata-mata, dsb. Massa makin memanas. Hadehhh, enggak di mana-mana ya. Isu beginian selalu “laku dijual” :'(.

Farkhunda dihajar oleh banyak laki-laki sampai babak belur hingga jilbabnya terbuka dan wajah berlumuran darah. Permohonan ampun dan bantahannya sama sekali tidak ditanggapi. Orang makin ramai berteriak-teriak. Jangan nonton videonya kalau enggak kuat.

Polisi pun tidak sanggup menahan serbuan massa. Malah ada indikasi polisi diam saja saat massa makin membludak. Kalau lihat videonya mungkin benar jumlahnya bisa mencapai seribu orang. Seribu laki-laki membantai SATU PEREMPUAN karena tuduhan membakar alquran yang BELUM ADA BUKTINYA.

Watch your anger, gambar : pixabay.com
Watch your anger, gambar : pixabay.com

Polisi-polisi yang dianggap lalai saat kejadian hanya dihukum 1 tahun itu pun dibebaskan setelah beberapa bulan dengan jaminan bersyarat.

Saat pemakaman yang biasanya “terlarang” bagi wanita, jenazah Farkhunda digotong ramai-ramai oleh para perempuan saja. Laki-laki dilarang mendekat.

Ironisnya, para pelaku, massa laki-laki yang diamuk amarah ini bukan kalangan relijius yang biasanya tinggal di daerah-daerah terpencil atau di perbukitan. Mereka adalah orang-orang perkotaan Kabul yang hidup dan besar di daerah urban.

Lebih sadis lagi, sama sekali tidak terlihat tanda-tanda ada yang berusaha menolong apalagi melerai. Malah ramai-ramai merekam!!! . Ya itu tadi, polisi saja tidak terlihat upaya maksimal untuk meredakan massa.

Polisi baru terlihat datang dan membubarkan massa saat jasad Farkhunda sudah dilalap api di tepi sungai. Telat ajeeeee .
Kalau nonton videonya di Youtube terus mantengin komentar-komentarnya, ya pasti isu agama menjadi sasaran empuk deh 🙁. Padahal isu agama dalam hal ini tidak berdiri sendiri. Toh, di berbagai belahan dunia lainjuga banyak negara konflik terlepas apa agama yang mayoritas di sana.

Walau kita juga tidak bisa melepaskan fakta bahwa urusan agama memang masih sering dijadikan “tameng politik” dari dulu sampai sekarang. Unfortunately, it worked very well. Makanya masih banyak yang suka “mencari celah” via ayat-ayat suci .

Tragedi Farkhunda salah satu dari banyak penguat betapa masih beratnya melepaskan Afghanistan dari trauma instabilitas politik bahkan sampai level perang Afghanistan selama beberapa dekade.

Di masa penguasaan komunis via Uni Soviet, ada beberapa peraturan yang melegakan misalnya pelarangan kawin paksa dan pengenalan hak politik bagi perempuan. Tapi korbannya tidak sedikit. Banyak sekali warga yang berseberangan ideologi yang terbunuh dan tertindas.

Dari sini, banyak pihak luar yang mencari kesempatan, misalnya hadirnya kalangan Mujahidin yang disponsori oleh lawan-lawan politik Sovyet untuk membebaskan Afghanistan dari komunisme. Usahanya berhasil. Tapi tidak membuat kondisi politik Afghanistan “adem”.

Perang Afghanistan (gambar ilustrasi saja)
Gambar : pixabay.com

 

Perang Afghanistan adalah perebutan kekuasaan yang terjadi diantara sesama golongan yang tadinya bersatu mengusir komunisme. Hingga akhirnya Taliban berkuasa sejak tahun 1995. Di era Taliban yang mengklaim dirinya sebagai “Moslem Estate”, represi terhadap kaum perempuan benar-benar “berjaya”.

Dari kewajiban menutup tubuh (benar-benar dari ujung rambut ke ujung kaki), batasan dalam menuntut pendidikan, kawin paksa/perkawinan di usia sangat muda, dsb :. Namun, tak sedikit kalangan Islam baik internal maupun di luar Afghanistan yang mengkritik hal ini sebagai “very wrong idea of Islam.”

Taliban mungkin sudah bisa “ditaklukkan”. Tapi efek kehidupan sosial budaya yang mengarah ke misoginisme -nya mungkin butuh satu atau lebih generasi lagi untuk perbaikan ke depan .

Puluhan orang ditangkap dalam insiden ini saat terbukti Farkhunda ‘bersih’. Sedihnya, beberapa bulan kemudian, hukuman mati yang dijatuhkan kepada beberapa orang malah dibatalkan diganti dengan hukuman 10-20 tahun penjara. Itu pun keputusannya berlangsung dalam ruang tertutup, tidak dibuka untuk publik .

Sebenarnya, tidak sedikit dana yang digelontorkan oleh banyak pihak untuk pemulihan kondisi di Afghanistan. Tapi korupsi yang merajalela makin melumpuhkan harapan perbaikan di sana. Penegakan hukum ya masih jauh dari sempurna .

Perlawanan terhadap kelompok Talliban dll masih berlangsung. Sambil melawan kelompok ekstrimis, perjuangan internal juga diwarnai dengan pemberantasan korupsi. Hingga kini, Afghanistan masih masuk dalam 5 besar negara paling korup di dunia.

Korupsi melumpuhkan kondisi ekonomi di sana. Kondisi ekonomi yang stagnan dan cenderung lemah punya andil besar dalam kondisi psikologis yang menjalar kepada budaya dan sosial masyarakat setempat. Apalagi ini negara yang puluhan tahun hidup dalam suasana perang.

Perbaikan tingkat pendidikan seharusnya bisa menjadi salah satu pemutus ketidakberdayaan masyarakat dalam banyak hal. Tapi kalau duitnya diembat sama pejabat ya bagaimana mau memulai semuanya?

Setidaknya Farkhunda memantik semangat perlawanan dari kalangan aktivis perempuan di Afghanistan dan semoga membuka mata masyarakat di sana untuk bersama memperjuangkan hidup ke arah lebih baik. Aamiin.

Farkhunda jauh di sana, itu juga kejadiannya sudah lebih dari setahun yang lalu. Tapi kita bisa memetik banyak pelajaran, ya. Tentang pentingnya stabilitas politik misalnya. Jangan kalian kira Afghanistan ujug-ujug kacau, ya. Itu banyak penyusupnya dari luar . Termasuk negara-negara besar yang berebut pengaruh.

Hal lainnya terkait…berita bohong. Duh, ini nih masih peer banget. Apalagi di tengah terjangan arus informasi yang super deras. Belajar berenang ya teman-teman, jangan sampai tenggelam karenanya .

Efek berita bohong yang berpotensi menyebar kebencian itu jangan disangka gitu-gitu doang. Selain berujung kepada pembantaian dan pembunuhan kepada satu orang (misalnya kasus Farkhunda), tidak sedikit perang besar di dunia yang salah satu pemantik utamanya adalah … rumor belaka 🙁.

Mobilisasi massa juga harus berhati-hati . Namanya keramaian, apalagi memang tujuannya mau menghujat dan penuh dengan cacian ya pasti potensi bikin orang kejang-kejangnya tinggi.

Salah satu pelaku yang tertangkap karena kelihatan di video di kasus Farkhunda adalah Yaqoob. Usianya masih 16 tahun. Dia bukan anak nakal bahkan sedari kecil rajin bekerja dan sangat melindungi adik-adik perempuannya.

Perang afghanistan
Gambar : pixabay.com

 

Ujug-ujug dia ikut ke dalam keramaian hanya karena mendengar seribu orang berteriak-teriak dan memukuli satu orang perempuan. Yaqoob terlihat melemparkan batu berukuran besar ke tubuh Farkhunda. Orang tua Yaqoob membelanya, “Ya tentu dalam keramaian seperti itu, kita pastilah gampang emosi. Tersulut oleh mayoritas. Dia tidak terpikir bahwa perempuan tersebut tidak bersalah.”

Ya makanya, mbok ya ngumpul-ngumpul itu buat minum teh bareng atau diskusi. Atau memperjuangkan sesuatu yang berfaedah yang bisa menyelamatkan hidup banyak orang atau membawa perbaikan bagi masyarakat. Jangan menghimpun massa untuk mengalirkan amarah 🙁.

Itu di videonya, ada lho anak-anak usia pra remaja yang ikut-ikutan melempar batu dan semacamnya 🙁.

Nama Farkhunda diabadikan sebagai nama jalanan tempat Farkhunda dianiaya dan diseret. Sebuah tugu juga dibuat untuk mengenangnya. Semoga kenangannnya tidak hanya berhenti menjadi label dan bangunan seremonial semata.

Remembering Farkhunda. Remembering the societies where women are still considered as the not more than the second gender .

Masih mempertanyakan mengapa aktivis perempuan suka lebay dan layak didengarkan suaranya?

Gambar : misacor.org
Gambar : misacor.org
Kontroversi make up Alicia

Unpretty

Gegara The Voice 2016, jadi ngeh kalau Alicia Keys sekarang memutuskan untuk tidak pakai make up di depan publik. Terus kenapa? Toh tetap tampil cantik tanpa make up juga dia.

Ya kalau kita-kita yang jelata ini enggak make up -an ya siapa yang peduli hahaha. Sementara beliau kan bagian dari dunia entertainment di mana tebal tipisnya pupuran di muka  memang cukup punya peran.

Tapi makin ke sini dunia per-lenong-an memang makin berkembang. Saya ingat tempo hari ada selegram yang bikin tantangan, “Ayo girls, berani enggak selfie tanpa alis?”

Kontroversi make up Alicia Keys
Gambar : pixabay.com

Tanpa alis? Gimana, gimana? Ealah, maksudnya tanpa PENSIL alis. Jadi alis dibiarin natural. Baru setelah kepo-kepoin ke mana-mana (niat! hahaha), saya jadi paham fenomena si pensil alis ini, especially alis super tebel yang konon namanya alis Sinchan itu :D.

Dari situ ter-upgrade pula soal lipstik jenis Matte yang juga hits beserta lipstik lokal Purbasari yang tadinya saya sangka merek jamu hahaha.

Nyinyir kauuuuuuu. Padahal saya sendiri paling tidak sanggup keluar rumah tanpa…bedak! Hahaha >_<.

Tempo hari bedak saya sempat hilang. Sudah pakaian rapi siap berangkat mau sepedaan di Old Rail dekat rumah, saya panik, “Bedak ilang! Bedak enggak ketemu!”

Suami sudah hafal kalau begini artinya emergency alias SOS! Hahaha. Suami langsung mengerahkan anak-anak untuk ikut mencari! :p. Sepuluh menit kami berempat sibuk nyari sana sini disertai omelan suami, “I’ve told you! Taro barang di tempatnya. Jangan main lempar aja. Kebiasaan sih!”

Perempuan mah kalau diginiin bukannya santai malah ngomel balik! Hahaha. Dia yang clumsy dia yang nyolot :p. Camkan, perempuan mana pernah salah, sih *benerinPoni*.

Bedak enggak ketemu dan saya tetap pergi walau hati gundah bukan kepalang. Besoknya harus ke acara di rumah teman teman, bela-belain abis masak, bedak dicari tetap enggak ketemu, saya lari-larian ke mal beli bedak baru. Hahaha.

Kontroversi make up Alicia Keys
Gambar : pixabay.com

Pembelaan saya terhadap urusan bedak ini bakal saya bahas di akhir tulisan. Bear with me karena chitty-chitty-chat ini seperti biasa bakal panjaaaaang :p.

Back to Neng Alicia dulu lah :D.

Sikapnya mengundang pro dan kontra. Termasuk industri kosmetik yang jadi sensi hehehe.

Alicia menerangkan betapa gimana-gitu nya dese pertama kali memasuki industri musik. Di depan publik, adaaaaaaaa saja komentar yang harus diterimanya. Dibilang terlalu tomboy lah, diminta agak manis dikitlah, terlalu kasar lah endebre-endebre-endebre.

Padahal menurut Alicia, “Helooooo, eike New Yorker. Ya memang begitu kebiasaan orang sana.”

Lama-lama Alicia merasa harus jadi bunglon untuk bertahan di dunia musik. Hal ini mempengaruhi musiknya yang seolah-olah liriknya selalu tentang “persembunyian” atau “topeng” atau itulah-itulah.

Enggak sengaja, di sebuah sesi foto, Alicia berfoto tanpa make up sama sekali. Hal ini bikin dese merasa ‘berbeda’. Di situlah momentumnya. When she finally decided to show up in public with her “make-up free action”.

Ada juga yang nyinyir bahwa Alicia bisa memilih seperti itu karena dia pada dasarnya “naturally beautiful”. Coba dia enggak kece ya pasti bakal takluk pada foundation, pensil alis, matte dkk, hehehe :p.

Dengan kemampuannya di dunia musik, Alicia (di luar urusan fisik) memang sudah cetar sih ya. Penulis lagu, penyanyi, bisa main instrumen, dsb. Namun begitulah persaingan di dunia industri. Tetap saja ketebalan pupuran muka punya pengaruh :p.

Kontroversi make up alicia
Gambar : pixabay.com

Alicia berharap pilihannya bisa menjadi semacam revolusi di dunia hiburan.

Untuk menjawab tuduhan tentang perlawanan terhadap industri kosmetik, Alicia mengeluarkan pernyataan resmi bahwa sikapnya sama sekali bukan “anti kosmetik”.

Di akun Twitternya, Alicia ngetweet, “Y’all, me choosing to be makeup free doesn’t mean I’m anti-makeup. Do you!”

Maksudnya Alicia mungkin gini, jangan mau “ditekan” oleh standar-standar yang sebenarnya mengekang kita. Kita enggak mau. Tapi melakukannya karena terpaksa. Untuk diterima oleh lingkungan misalnya.

Beda cerita dong ya kalau memang kita hepi-hepi saja bahkan doyan berdandan. Memangnya kenapa kalau ada kepuasan tersendirinya? Yang tahu niat orang dandan ya pribadi masing-masing, yes? ;).

Kalau di keluarga saya sendiri, jangan ditanya itu Mama saya urusan dandan. Juaranya boooo hahaha. Padahal backgroundnya lahir dan besar di kampung, menikah di usia 15, tapi urusan make up, Mama, seingat saya dari kecil, memang hits abis dah :p.

Situ baru ngerti kalau pensil juga bisa buat bikin alis selain buat coret-coret dinding :p, emak gue sudah lincah gambar alis dalam tempo itungan detik hahaha.

Kontroversi make up alicia
Gambar : pixabay.com

Nah, Mama ini yang ngajarin pakai bedak dari SD. Ini gara-gara saya ikut marching band dan harus berpanas-panasan beberapa kali seminggu. Kalau lagi ada pertandingan, bisa tiap hari latihan sepulang sekolah.

Mama tuh ngajarin pakai Nivea (bukan endorse ya ^_^)  plus bedak. Katanya biar kulit enggak terbakar. Waktu saya SMP, saya dan adik pulang pergi sekolah juga jalan kaki. Tapi adik saya ogah pakai bedak-bedakan waktu itu.

Hasilnya? Emak enggak boong yeeee hehehe. Kulit mukanya berbintik-bintik hitam pengaruh efek terpapar sinar matahari langsung sehari-hari.

Lucunya, waktu kecil adik cuek, sekarang walah, terakhir ketemu buat lunch bareng di salah satu mal besar, dese dandan full! Hehehe. Kalau saya, walau dari kecil sudah kenal bedak, sampai gede ya mentoknya di bedak aja hahaha.

Adik saya cukup spesial. Karena dia tidak selalu dandan full. Kalau ketemuannya di rumah atau acara keluarga, dia bisa lho tampil polos even tanpa bedak sama sekali :D. Jadi ya dia tidak tergantung sama kosmetik 100% ;).

Kalau saya mah, ke warung dekat rumah aja mesti banget lho bedakan hahaha. Stabil dong boooo :p. Tapi ya gitu, saya enggak punya lipstik, enggak punya eye shadow, apalagi blush on. Sejak tahu kalau barang beginian ada expired datenya (ya menurut lo? hihihi), saya enggak pernah beli lagi.

Skin care vs kosmetika itu 2 hal yang berbeda lho menurut saya. Tidak doyan make-up tidak berarti kita boleh abai pada kesehatan kulit. Terus aja cari pembenaran si embak bedak satu ini hahaha.

Walau enggak kenal pensil alis dkk, saya rutin pakai pembersih muka tiap hari ;).

Etapi beneraaaaaaaan *ngotot*. Skin care itu buat kesehatan penting. Pilih bedak yang ada perlindungan SPF bla bla itu.

Again, intinya bukan ngajak berdebat enakan pakai make up apa enggak (kalau skin care sebaiknya wajib lhoooo –> ampun Mbak, ampuuuun hahaha *sumpelPakaiBedak*).

Kayaknya sudah cukup banyak ya rentetan peperangan di kalangan perempuan. Janganlah ditambah dengan pertarungan di ranah pensil alis dkk *lelah*.

Saya sendiri, dulu-dulu kalau ke kondangan keluarga selalu maksain ke salon buat didandanin. Bukan MUA yang spesial. Dulu sih bayarnya cuma 50-75 ribu :p. Merasa inferior kalau foto-foto terus kumel sendiri. I thought this is wrong :(. Won’t do that anymore.

Jangan berdandan untuk menjadikannya sebagai booster untuk lebih percaya diri. Something you don’t like but you’re still doing it to “cover” your fear of being unaccepted. Because you believe that’s the ONLY standard of being beautiful. Itu salah ;). Tapi bedak sih wajib ah, apa ini, apa ini, apa iniiiiiiiii hahahaha.

Oh ya, kalau malam-malam lagi iseng enggak bisa tidur, saya main-main dengan aplikasi Insta Beauty yang saya instal di hape :p. Iseng memotret wajah sendiri yang lagi kucel-kucelnya habis bertarung ngurusin anak tengil 3 bijik dari pagi sampai malam hahaha.

Lalu saya touch up foto muka saya dengan berbagai fitur yang ada di aplikasi itu. Idungnya dikecilin (hahaha), muka dibikin tirus, ada pilihan make up yang bisa diatur-atur dari mata sampai ke bibir. Seru yaaaaaaaa :p. What a guilty pleasure :D.

For a moment, saya selalu kagum dengan keajaiban peralatan ngelenong itu walau dalam bentuk photoshop digital. Setelah puas dan mulai ngantuk, foto-fotonya saya hapus semua lalu bobok dengan bahagia ;). Setidaknya bisa merasa berdandan tanpa perlu keluar duit! Nyahahaha.

Bukannya ngaji yaaa sebelum bobok #dikeplakPakaiSajadah.

Suka juga ngikutin perkembangan dunia perlenongan. Nonton-nonton tutorial ini itu. Tapi tetap merasa kece walau cuma nonton doang tanpa perlu diaplikasikan ke wajah sendiri :p. Saya rasa kemampuan berdandan juga merupakan seni tersendiri yang harus diapresiasi.

Gilak, enggak gampang lho ituuuuu jadi Make Up Artist ;).

Kontroversi make up Alicia Keys
Gambar : pixabay.com

Tapi ya balik lagi, jangan terjebak dengan tekanan soal standar kecantikan. You decide it yourself.

Ya seperti yang dibilang sama Neng Alicia tadi, “Do you!”

Judul tulisannya saya ambil dari salah satu judul lagu dari kelompok TLC. Yukkk, abege 90-an mana suaranyaaaaaa :D. Tahu lagu “Unpretty” gak?

Singing …

“You can buy your hair if it won’t grow
You can fix your nose if he says so
You can buy all the make up
That M.A.C. can make
But if you can’t look inside you
Find out who am I too
Be in the position to make me feel
So damn unpretty
I’ll make you feel unpretty too”

Videonya cari di Youtube sendiri yaaaaaaa :D.

Have a nice weekend. Relaaaaaax and do … you! ;).

pixabay-wink

***

 

 

Broadcast Message, Share (NOT)!

Dua tahun terakhir ini, Mama saya belajar bermedia sosial. Tapi akhirnya beliau nyaman dengan WA saja.

Nah, via WA inilah, awalnya sempat tuh si Mama hobi banget forward BM an …. dari mana saja! Soal kesehatanlah, soal anu lah, soal inilah, yang tidak jarang berakhir dengan “Tolong share jika Anda peduli.”

Ada juga yang lebih ‘lebay’, “Tolonglah, setitik perhatian Anda adalah surga bagi mereka. Klik share atau Anda akan menyesal selamanya.”

Set dah! -_-

Gambar : pixabay.com
Gambar : pixabay.com

 

Waktu Pilpres ya lebih seru lagi toh ya hahaha. Sampai pening saya dijejali isu salah satu capres yang konon anak si ini anak si itu pokoknya durjana banget lah. Yang intinya, Islam pokoknya mau dihancurkan kalau dia menang. Dihancurkan bagaimanya? Ya pokoknya hancur, cur, cur.

Selain topik agama cetar nan sensitif, paling gampang dan mudah dipakai mencekoki orang untuk ketik Amin dan share, adalah topik anak-anak. Misalnya video enggak jelas soal penyiksaan anak.

Topik tentang anak-anak memang cukup cespleng. Sialnya, kalau melihat video aneh-aneh, tanpa pikir panjang kita akan otomatis memaki, “Ibu Jahanam!” atau “Gila ni orang!” atau “Tangkap saja ibu gila ini!”

Menurut sebagian orang, benar atau tidak ya tidak masalah. Yang jelas videonya asli bodo amat konteksnya apa dan menyajikan hal-hal yang “kelihatan” berbahaya.

Tet toooot!!

Jangan share broadcast message
Gambar : pixabay.com

 

Tapi memang saya akui, kalau tema kontroversial soal anak-anak, sulit sekali untuk cepat-cepat mengendalikan akal sehat. Biasanya, refleks aja gitu. Semacam tanggung jawab sosial mungkin? Tapi kita bahkan tidak paham apa yang sebenarnya terjadi?

Masalahnya, sekali broadcast message berita-berita model begini (yang isinya memicu kebencian dan kekerasan di luar batas) menjadi viral, hampir mustahil untuk “menarik”nya kembali 🙁.

Masih ingat kasus anak remaja yang bunuh diri itu?

Saya enggan menyebutkan namanya karena kasus ini masih dipakai oleh akun-akun / fanpage-fanpage pencari jempol di mana kalau dikasih klarifikasinya mereka tetap ngeyel tidak mau menghapus postingan tersebut. Alasannya, biar jadi pembelajaran.

Belajar kok nyebarin fitnah sih? Pakai foto dan nama asli pula :'(.

Sudah terlanjur keenakan sih ya, akun tiba-tiba banyak follower, postingan sudah dishare sampai ribuan, ya siapa juga yang mau hapus? :p.

Anak laki-laki yang bunuh diri. Lalu, seorang yang mengaku kerabat dekat membeberkan kisah hidup si anak yang tinggal bersama neneknya di mana orang tuanya sudah bercerai.

Sasaran utama ya siapa lagi kalau bukan ibunya 🙁.

Gambar : getthelowdown.co.uk
Gambar : getthelowdown.co.uk

 

Standarlah, ibunya dituduh membuang anak, kok anak bisa tinggal sama nenek, ibunya sudah enak-enak sama keluarga baru bla bla bla.

Apa anehnya sih? Saya punya sahabat yang sejak SMP sampai kuliah tinggal bersama neneknya dan hubungannya baik-baik saja dengan orang tuanya yang sudah bercerai yang masing-masing sudah menikah kembali.

Dia tumbuh menjadi anak berprestasi dan tidak mengalami hambatan sosial apa pun.

Beritanya viral sampai belasan ribuan share. Belum lagi akun-akun yang ambil kesempatan dengan copas langsung biar postingannya yang viral.

Sampai-sampai akun media sosial ibunya tersebar luas. Facebook, Twitter yang sempat saya cek. Instagramnya juga ada kalau tidak salah.

Foto-foto atau postingannya yang publik habis diserbu komen-komen yang entah apa yang terjadi pada saya kalau sampai saya yang ada di posisinya huhuhuhu.

Kenal saja tidak. Kok bisa-bisanya ada yang komen panjang lebar memberi nasihat ini itu yang ujung-ujungnya mau memaki-maki.

Saya berkali-kali berkomentar di akun-akun teman-teman yang ikut share dulu, “Mbak kenal tidak dengan keluarga ini?”

“Enggak sih. Saya kan cuma share. Tanya saja sendiri.”

Lah, cuma share tapi captionnya penuh amarah gitu. Padahal tidak kenal.

Belakangan, si Ibu angkat bicara. Karena kaget beritanya menjadi di media sosial. Dia menulis klarifikasi panjang lebar dan beberapa kerabat serta kawan dekatnya menghibur yang bersangkutan.

Si pihak yang diduga pertama kali menyebarkan berita ini ikut memberi klarifikasi. Sedihnya, klarifikasi itu hanya dishare sekitar 100 an saja. Sudah tidak ada yang peduli. Mungkin orang-orang yang tadinya berkomentar setajam silet juga sudah lupa kali bahkan tidak sadar.

Lebih parah, beberapa bulan lalu, beritanya viral lagi. Percuma juga diklarifikasi 🙁. Seperti yang saya bilang tadi, si akun yang memviralkan berita ngotot tidak mau menghapus karena alasan pembelajaran tadi. Sudah banyak yang berkomentar di sana.

Bullshit! Bilang saja sudah keenakan dapat banyak like dan share :p.

Bukan berarti kita harus cuek dengan sekeliling. Hanya saja, misalnya nih kasus foto si abang ojek yang katanya pegang-pegang payudara anak perempuan di sekolahan, itu yang motret boro-boro ngomong ke ortu si anak.

Malah difoto langsung dan diviralkan! Itu juga saya tidak yakin kejadiannya beneran atau tidak. Fotonya blur.

Jangan share broadcast message

Ya otomatis, orang-orang beramai-ramai share dan memaki-maki abang ojek plus orang tuanya. Dari sini bisa berkembang banyak api, orang tua tidak bertanggung jawab kok anak diantar jemput ojek dan sebagainya -_-. Sampai isu : negara ini sudah hancur dan tidak ada yang peduli.

Ujung-ujungnya ya salah siapaaaaaaa…..ayo coba siapa, hahaha.

Coba kita mulai lagi dari awal. Sekilas ini hanya masalah kecil. Halah, kan cuma share, kan cuma komen dikit, kan cuma kasihan, kan cuma … ya pokoknya kan cuma, kan cuma, kan cuma.

Bayangkan kalau beritanya tidak benar :

1. Kalian sudah memfitnah. Bagus kalau belakangan sadar. Ya kalau ngeyel atau tidak ngeh kalau ada klarifikasi? Berlalu begitu saja tanpa sadar.

2. Kalian menebarkan ketakutan. Yes, tadinya orang baik-baik saja, memulai hari dengan gembira, menyuapi anak dan melihat anak berangkat sekolah dengan hati lapang, ya dikasih berita gituan. Langsung lemas dan dunia mau runtuh. Tetiba merasa dunia benaran sudah hancur.

Ikut-ikutan share, ikut-ikutan saling nakut-nakutin di grup-grup. Asyik dah ngerumpi enggak penting yang ujung-ujungnya malah jadi ngeri sendiri, pakai icon nangis seribu bijik! UNTUK BERITA YANG TIDAK JELAS KEBENARANNYA.

gambar : mariaelita.com
gambar : mariaelita.com

 

3. Justru jangan-jangan kalian memberi ide kepada para “penjahat beneran”. Misalnya ada abang ojek yang baca berita itu. Dia langsung senyum licik dalam hati, “Wah, iya juga ya. Ide bagus nih, Kok enggak pernah kepikiran? Asyik juga.”

Topik ini menjadi salah satu pembahasan dalam buku best seller, “The Tipping Point.” Peristiwa bunuh diri yang diselidiki dan ada kesimpulan bahwa berita orang bunuh diri yang viral malah memicu orang-orang depresi untuk memikirkan hal yang sama.

It gave them the idea.

4. You are judging others! Jangan sembarangan ngasih pendapat untuk hal-hal yang kalian tidak tahu pasti.

Misalnya nih, enggak sengaja melihat ibu toyor kepala anaknya depan umum, langsung bikin foto dan dikasih caption, “Astagfirullah, ibu macam apaaaaahhhhh!!!! Dasar ibu tidak tahu diri. Ibu ngana ibu nganu…”

Do you know the whole story?

Apa kalian kenal dan mengikuti keseharian ibu tadi? Kalian yakin sehari-harinya Ibu itu sudah pasti menyakiti anaknya terus?

You, yourself, as a Mom, sudah sempurna banget ya? Enggak bakal gitu suatu hari kalian yang tentunya manusia biasa ini berada di posisi yang sama?

Terus gimana dong? Diam saja kalau melihat ada yang tidak beres? Kalau melihatnya sekilas, tidak sengaja, tidak kenal pula, dan tidak membahayakan, yang terbaik ya dicuekin.

Cuma lihat ibu-ibu memarahi anaknya dengan membabi buta karena menumpahkan minuman di sebuah rumah makan kok bisa kalian tiba-tiba melabeli beliau sebagai ibu tidak bertanggung jawab?

Kalau dia memukul anaknya dengan kasar dan menurut kalian sudah sangat berbahaya, cegah sebisa mungkin! Jangan malah difotooooooo. Keburu celaka nanti anaknya -_-. Kalian mau membantu atau membuat malu?? Think!

Jangan share broadcast message
Gambar : pixabay.com

 

Kalau tidak urgent banget tapi tetap merasa harus melakukan sesuatu segera dekati langsung kalau berani atau laporkan ke pegawai restoran atau pemilik restoran atau siapalah yang cocok dengan kondisi.

Kalau di lingkungan tinggal ya coba dengan tetangga lain atau ketua RT atau ketua RW. Lebih terarah, terukur dan insya Allah, solusi bisa cepat ditemukan.

Satu contoh bagus pernah ditunjukkan oleh seorang wartawati yang melihat anak kecil lalu lalang di sebuah apartemen elit. Dulu juga viral nih. Tapi ini contoh yang bagus.

Diaper si anak sudah penuh sampai kedodoran di bawah lutut. Si anak itu juga bisa terancam bahaya karena ibunya terlihat tidak peduli dan banyak mobil lalu lalang di sana.

Si wartawati ini mendekati si anak dan berusaha menolongnya. Si Ibu seperti orang gila teriak-teriak tidak jelas dan sama sekali cuek dengan si anak.

Akhirnya dapat cerita dari satpam di sana. Dari sini malah timbul empati karena ternyata si Ibu juga mengalami KDRT dan bla bla bla. Kasusnya juga sampai ke komite perlindungan anak dan semacamnya lah.

Sampai akhirnya nenek si anak yang datang dan mengambilnya. Masalah ibunya saya tidak mengikuti perkembangannya.

See? Ada solusi dan penyelesaian. Malah mencegah kita untuk buru-buru menghakimi ibunya. Akan jadi lebih mudah kalau kita paham detailnya. Tolong si anak, tolong si ibu 🙂.

“There’s a difference between knowing somebody and hearing about somebody. Just because you ‘heard’ doesn’t mean you ‘know'”

Again, think about it 😉.

Budaya basa basi orang Asia

Chitty-chitty Chat

Salah satu kehidupan sosial yang cukup bikin galau buat saya semasa tinggal di Eropa sini adalah sifat mereka yang kurang asyik diajak basa basi . Maklumlah, si mulut lokomitif ini yaaaaa, kalau kenalan tuh adaaaaa aja yang pengin dikepoin hahaha.

Konon katanya masyarakat sindang memang sifatnya lebih individualis. Tapi tidak melulu negatif sih. Ini dalam kaitannya dengan hobi-hobi emak-emak yang doyan chit-chat iniiiiih :D. Sementara orang Asia kan katanya lebih “kolektif”. Semacam senang ngumpul dimana bergosip adalah imbas lanjutannya hahaha.

Budaya basa basi orang Asia
Gambar : pixabay

Parahnya lagi, topik standar untuk bercakap-cakap ala chitty-chitty chat sama orang sini tuh adalah…cuaca!

Kalau beli sayur atau buah di toko depan misalnya. Toko ini persis di depan gedung apartemen, toko yang dikelola oleh bisnis rumahan yang dikelola turun temurun oleh keluarga tertentu. Saya perhatikan yang belanja itu biasanya memang kenal dengan yang jaga toko.

Ya dusun mungil begini yaaaa. Ngesot sana sini ya ketemunya dia lagi-dia lagi hahaha.

Nah, sudah akrab, kenal lama pun, ngobrolnya tuh yang, “Duh, ribet banget ya. Masa tahu-tahu hujan padahal tadi cerah banget.”

Atau, “Wah, enak banget lho katanya cuaca weekend ini. Enak nih buat ngajak anak-anak jalan-jalan.”

Enggak jauh-jauh dari, “Musim dingin tahun ini kok ya dingin ya. Tahun lalu kan enggak dingin-dingin amat.” Kadang gatal pengin nimbrung, “Ya namanya juga musim dingin, Om. Kalau panas ya bukan musim dingin kali yak.” –> lalu ditimpuk sekarung kentang!!! Hahaha.

Pernah di sekolahan saya sudah beberapa kali mengobrol dengan seorang ibu-ibu yang asli Irlandia. Ya, pengin dong melanjutkan ke-kepo-an ke taraf lebih dari sekadar ngomongin mendung kah minggu ini atau tidak-beli jas hujan di mana yang murah dan kece-apakah saya betah di Irlandia karena saya asalnya dari negara tropis bla bla bla.

Saya pun berimprovisasi, “Wah, lihat deh, anak pertama kamu rambutnya agak keriwil ya. Agak beda dengan yang nomor 2.”

Ibunya merespons dengan semangat, “Iyah memang agak beda. Tahu enggak, mereka bukan itu saja lho bedanya?”

“Oh ya? Apaan tuh?”

“Nah, yang gede tuh paling malas kalau disuruh pakai celana panjang. Kalau yang kecil malah susah disuruh pakai celana pendek. Makanya yang besar itu paling senang kalau musim panas. Tahu enggak pas summer dua tahun lalu, itu tuh pas cuacanya lagi…”

Ya Rabbi, cuaca maning, cuaca maniiiiiiing. Hahahaha.

Kalau di Jakarta tuh ya, lagi nunggu antrian dokter misalnya lagi hamil saja saja, baru setengah jam, minimal saya sudah tahu ibu-ibu sebelah saya umurnya berapa, hamil anak ke berapa, rumahnya di mana, dan kenapa dia memilih dokter anu sebagai dokter kandungan #benerinCocot.

Weits, menanyakan umur itu juga ada seninya, enggak ujug-ujug, “Situ umurnya berapa, sih?” Ada tips dan triknyaaaaaa #eaaaa.

Ya kalau sesama emak-emak Asia kayaknya seru-seru saja, ya. Makanya, lebih enak mengobrol dengan teman-teman dari India hihihi. Apalagi mereka ini rada-rada narsis, puji-puji dikit negaranya, bisa lancar deh semua pertanyaan kita terjawab dengan komplit #tukangJilatAmat hahaha.

Budaya basa basi orang Asia
Gambar : pixabay.com

Mirip-mirip juga dengan orang Bangladesh atau Pakistan. Mungkin “the same feeling” karena sama-sama pendatang selain kesamaan wilayah.

Sebenarnya soal basa basi ini bisa jadi bumerang juga. Apalagi yang lincah dalam urusan chitty-chitty chat begini ya so pasti perempuan dong ya. Tapi ya gitu, yang lebih  baper juga kaum perempuan. Ya gimana dong hahaha.

Sadar tidak sih sebenarnya seringnya kita bertanya itu bukan karena kepo-kepo amat. Kadang hanya sekadar ingin berbasa basi. Tidak lebih :). Terus pertanyaannya ya kadang terlontar begitu saja, refleks ;).

Seperti misalnya ketemu teman yang habis menikah kira-kira beberapa bulan yang lalu, ketemu lagi ya refleks nanyain, “Eh, sudah hamil belum?”

Sumpah demi Tuhan, serius, itu tuh refleks *tutupMuka*. Apalagi kalau orangnya kebetulan bodinya agak berubah atau agak gemukan ya sok tahunya suka lebih refleks lagi hihihi. Sungkem ya teman-teman.

Saya pernah mendapat pelajaran penting soalnya terkait soal ini.

Waktu masih bekerja papasan di lift dengan teman dari divisi lain yang kebetulan baru saja menikah. Enggak dekat-dekat amat sih. Tapi ya gitu, gatal kali mulut ini mau ngobrol hahaha. Jadilah terlontar pertanyaan terkutuk itu, “Eh gimana, sudah hamil belum?”

Dia sih rasanya biasa saja jawabnya, “Belum nih.”

Gambar : best-pregnancy-advice.com
Gambar : best-pregnancy-advice.com

Tapiiiiiiii, beberapa hari kemudian saya mendapat feedback kurang menyenangkan. Dese curcol ke teman-teman satu divisinya yang kebetulan saya kurang kenal. Tapi dari sini curcol-an nya akhirnya nyampe ke saya juga. Horor juga kesimpulannya, “Idih, pakai jilbab tapi enggak bisa nahan mulut.”

Jadi kaget sih. Dari situ belajar buat enggak asal bacot hahaha.

Nah, ketemu lagi dengan teman lama. Dari kantor lama tepatnya. Kira-kira kami sudah tidak bertemu sekitar 2-3 tahun. Dia ini menikah sudah agak lama tapi belum hamil-hamil. Kami dulu lumayan dekat dan akrab lho semasa masih ngantor bareng :D. Anggap saja namanya Jennifer –> mumpung lagi naik daun kasusnya :p.

Ketemu lagi, eh dia lagi agak gemuk badannya. Walau gatelnya naudzubillah (hahaha), saya pantang bertanya apakah dia sudah hamil apa belum. Ya pasti sedih, ya, buat dianya kalau ternyata belum hamil. Soalnya dia dan suaminya memang pengin banget punya anak dari dulu tapi belum berhasil berdasarkan info terakhir yang saya terima.

Jadilah kita mengobrol soal yang lain-lain.

Tet toooottt, minggu depannya, saya disemprot teman lain yang juga dari kantor lama yang kenal dengan kami berdua, “Lo tuh yeeeeee, kata Jennifer tempo hari kalian ketemu dan makan siang bareng di mal anu. Ngobrol sampai sejam lebih tega-teganya elo gak ngasih dia selamat.”

“Selamat apaan?” Ya tentu dong saya bingung.

“Ish, ish, ish, Jen tuh lagi hamil tauuuuukkk. Lo kan tau dia itu udah lama pengin hamil! Gimana sih? Sensitif dikit napa jadi teman. Dia ampe kesel tuh!”

Hastagaaaaaaa, ini piye toooohhhh hahaha.

Budaya Basa Basi orang Asia
Gambar : pixabay.com

Mbok ya kenapa enggak cerita dari awal aja sih? Malah jadi saya yang disuruh ngasih selamat duluan -_-. Ya begitulah, keribetan di dunia mamah-mamah hihihi.

Tapi saya suka sebal dengan orang-orang Indonesia yang sudah merantau dan mengkritik hobi kepo ini deh -_-. Nyinyiran mereka daripada orang-orang sana-nya :p.

Maksud saya ini kan bagian dari kebudayaan Timur vs Barat yang memang akar perbedaannya cukup tajam. Dalam porsi berlebihan ya memang kurang patut. Tapi hobi nanya ini itu kan tidak melulu berarti negatif ya ^_^.

Perbedaan kan memperkaya. Anggap saja jadi semacam pengetahuan tambahan. Bukan selalu disorot “iniiiii yang benar” atau “ituuuu yang norak, salah, pokoknya ancur dah!”

Merantau kan biar kenal-kenalan bukannya malah membuat seluruh dunia harus ngikut cara hidup standar begini-begitu.

Pada intinya ya orang-orang Asia kehidupan sosialnya lebih bersifat kolektif. Macam slogan, “Asyiknya tuh rame-rame.” Hehehe. And I’m very proud as an Asian regarding this <3.

Ya tentu saja saya sadar diri dan menyeimbangkan mulut lokomotif ini biar bisa balance dengan situasi dan kondisi yang ada hihihi. Toh saya, walau bosan luar biasa, tetap berusaha berbasa basi sesuai standar sini. Saya tabah kok ngomongin cuaca mau sampai sejam jugak huhuhu :p.

Rupa-rupa wajah Asia
Rupa-rupa wajah Asia

Menyesuaikan diri tidak berarti menjadi kacang yang lupa pada kulitnya dong ya :). Hadeeehh, masa hanya gara-gara sudah bertahun-tahun tinggal di negara yang menurut kalian super-duper-keren-pokoknya-mau-sampai-mati-tinggal-di sana kalian mendadak hanya bisa melihat yang negatif-negatif saja dari negeri asal :).

Ngefans sama negara tinggal sekarang tidak berarti harus sok-sok galau dengan negara asal sendiri kan ya ^_^.

Mari menyerap berbagai budaya murni sebagai pengalaman dan pengetahuan. Tentu ada pembelajaran di mana-mana tapi tidak semata-mata jadi perbandingan 2 sisi plek-plek : bagus vs jelek.

Iya enggak, sih? Apa enggak, ya? Yawdah. Kangen nulis ringan-ringan (tapi panjang) aja sih hahaha. Efek karena susah kepo sama orang sini mungkin? Sepertinya -_-.