Istri istri Nabi Muhammad

Istri Istri Nabi Muhammad : Siapa Saja Para Bunda Kaum Muslim dan Latar Belakang Pernikahannya

Mereka yang memilih jalan poligami seringnya berkilah, “Kami mengikuti tuntunan Rasul. Istri istri Nabi Muhammad kan memang banyak.” Iya benar, istri Rasulullah memang tidak hanya 1 :).

Topik poligami, selalu menjadi topik yang bikin uring-uringan buat mayoritas kalangan perempuan muslim hehehe. Saya rasa, kita ini hampir mirip-mirip saja ya sikapnya, “Pada dasarnya kita oke-oke saja kalau suami mau poligami. Suami orang lain ya, asal jangan suami sendiri!” Hahaha.

“Cara Kilat dapat Istri Empat?” begitu kata salah satu judul seminar poligami (gambar : pixabay.com)

 

Topik poligami juga kerap mengundang cemohan dari kalangan di luar Islam untuk mencemooh kehidupan pernikahan dan istri istri Nabi Muhammad. Jangan-jangan sebagian muslim sendiri juga tidak tahu nih :p. Baiklah, mari kita berbagi info ya.

Tolong dikoreksi kalau ada yang salah. Ini rangkuman dari berbagai sumber juga soalnya. Lebih kurangnya mohon dimaafkan *sungkemDuluan*.

Siapa saja para Bunda kaum muslim ini? Usia berapakah mereka dan apa status mereka saat bersanding dengan Rasulullah dalam ikatan pernikahan? Apa saja latar belakang alasan pernikahannya?

 

1 ♥ Bunda Khadija binti Khuwalid ♥

Perempuan istimewa ini berusia 40 tahun saat menikah dengan Rasulullah. Bunda Khadija sudah pernah menikah sebelumnya. Ayah dan suami sebelumnya yang telah wafat duluan termasuk dalam jajaran orang penting di suku asal mereka.

Bunda Khadijah menerima limpahan harta warisan yang cukup besar sepeninggal mereka berdua. Nabi Muhammad menjadi salah satu mitra dagangnya sampai ke tanah Syria. Melihat rekam jejak Nabi Muhammad yang cukup jempolan, Bunda Khadijah pun mengajukan lamaran untuknya.

Iyah, Bunda Khadijah yang melamar Rasulullah yang waktu itu masih berusia 25 tahun. Walau banyak petinggi-petinggi suku yang mengajukan diri, beliau mantap meminang Nabi Muhammad.

Dari pernikahan ini lahir 7 anak, 3 anak laki-laki (Qasim, Tayyib, dan Tahir) meninggal di usia balita. Sedangkan 4 anak perempuan (Zaynab, Ruqayya, Ummu Kalsum, dan Fatimah) bertahan hidup hingga dewasa.

Bunda Khadijah termasuk orang pertama yang spontan dan langsung percaya, tak ragu menyatakan keIslamannya selepas Rasulullah menerima wahyu. Beliau lah yang menemani Rasul melewati masa-masa sulit dakwah di masa pertama. Mengorbankan semua hartanya termasuk untuk membebaskan para budak yang memeluk Islam.

Dalam tekanan yang keras terhadap Rasulullah dan komunitas muslim di Mekkah, Bunda Khadijah meninggal karena sakit di usia 65 tahun. Tahun yang tidak mudah bagi Rasul. Sebelum ditinggalkan oleh perempuan terkasihnya, Paman Nabi yang tak putus melindunginya dari petinggi Quraisy (Abu Thalib) juga meninggal lebih dahulu beberapa bulan sebelumnya.

Tidak terbayang ya, pedihnya hati Rasulullah ditinggal orang-orang tercinta.

Hingga akhir hayatnya, hanya ada Bunda Khadijah dalam kehidupan pernikahan Rasulullah <3. Siapa bilang monogami bukan tuntunan hidup dari Rasulullah? ;).

Istri istri nabi Muhammad
Ilustrasi gambar : pixabay.com

2 ♥ Bunda Saudah binti Sam’a ♥

Kekasih hati yang sudah berpulang lebih dahulu tentu tidak boleh melemahkan semangat dakwah. Juga tidak melepaskan Rasul dari kewajiban mendidik dan membesarkan ke-4 putri tercintanya.

Sekitar 3 tahun selepas perginya Bunda Khadijah, salah satu kerabat menyarankan Rasulullah untuk menikah lagi khususnya untuk membantu urusan rumah tangga dan anak-anak. Rasul galau, siapakah yang layak menggantikan posisi Bunda Khadijah?”

Kerabat tersebut, Khawla, mengusulkan Aisyah binti Abu Bakar. Anak kandung dari sahabat terdekat Rasul. Tapi karena usianya yang masih sangat kecil dianggap belum cocok untuk mengurus rumah dan anak.

Khawla pun mengusulkan Bunda Saudah binti Sam’a, seorang janda berusia separuh baya yang tinggal bersama ayahnya yang sudah sangat tua. Rasulullah langsung menyetujui. Rasulullah menikah untuk kedua kalinya di usia 53 tahun.

Usianya yang tidak muda dan parasnya yang menarik membuat orang-orang bertanya mengapa Rasulullah memilih Bunda Saudah?  Sementara yang dikagumi Rasul adalah keberanian Bunda Saudah yang hijrah ke Abyssinia meninggalkan semua harta dan rumah serta sukses melintasi ganasnya padang pasir.

Bunda Saudah tak pernah bercerai hingga akhir hayat Rasulullah dan terus menyaksikan perkembangan Islam hingga akhir hayatnya di akhir kepemimpinan Umar bin Khatab.

Istri istri nabi Muhammad
Ilustrasi gambar : pixabay.com

3 ♥ Bunda Aisha Binti Abu Bakar ♥

Aisha dinikahi Rasulullah tak lama setelah hijrah ke Madinah. Usia Rasulullah sekitar 54 tahun saat itu. Jadi tak lama setelah menikah Bunda Saudah.

Ada pun usia Aisha sekitar 9 tahun. Nah, usia Aisha ini yang sering dijadikan olok-olokan oleh beberapa kalangan. Padahal mungkin di masa itu, perempuan yang menikah di usia semuda Bunda Aisha bukanlah hal yang ‘aneh’ ;).

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan muslim mengenai usia Bunda Aisha saat dipersunting Rasulullah. Ada juga yang mengklaim usia Bunda Aisha adalah 19 tahun saat menikah dengan Rasulullah.

Terlepas dari kontroversi ini, Bunda Aisha merupakan istri Rasulullah yang terkenal pandai, jiwa muda yang haus ilmu, cepat menangkap keterampilan dan pengetahuan baru, serta fasih berdiskusi dalam perdebatan.

Bersama Abu Hurairah, Abdullah Ibnu Umar, dan Anas Ibnu Malik, Bunda AIsha termasuk dalam 4 perawi hadis utama. Beliau pun merupakan satu-satunya istri Rasulullah yang dinikah dengan status gadis.

Walau menikah sejak muda, Rasulullah dan Bunda Aisha tidak memiliki anak. Terkenal memiliki hubungan yang rapat dengan Bunda Saudah, Bunda Aisha menutup usia di tahun 58 Hijriyah.

Istri istri nabi muhammad
Ilustrasi gambar : pixabay.com

4 ♥ Bunda Hafsah Binti Umar ♥

Bunda Hafsah adalah putri dari salah satu sahabat terdekat Rasulullah, Umar bin Khatab. Di usia 18 tahun, Hafsah sudah menjanda, suaminya gugur dalam Perang Badar.

Umar bin Khatab mencoba membujuk Abu Bakar agar mau menyunting putrinya. Abu Bakar menolak karena tahu bahwa Rasulullah sudah punya rencana menikahi Hafsah. Usman bin Affan juga menolak permintaan yang sama dari Umar. Usman baru ditinggal oleh istrinya Ruqayyah, salah satu putri dari Nabi Muhammad.

Akhirnya, Rasulullah yang menikahi Hafsah di usianya yang ke 56 tahun. Usman bin Affan menikah lagi dengan Ummu Kalsum, putri Rasulullah yang lainnya.

Pernikahan-pernikahan ini mempererat hubungan antara Rasulullah dan para sahabat. Rasulullah menikahi Aisha dan Hafsah, putri-putri dari Abu Bakar dan Umar. Usman menikahi 2 putri Rasulullah demikian pula Ali bin Abi Thalib yang menikahi Fatimah, putri bungsu Rasulullah.

Bunda Hafsah yang hampir seumur dengan Bunda Aisha secara manusiawi sering terlibat saling cemburu. Namun akhirnya, keduanya menjadi sahabat karib.

Bunda Hafsah meninggal di tahun 47 Hijriyah.

Istri istri nabi

5 ♥ Bunda Zainab Binti Khuzayma ♥

Bunda Zainab dinikahi tak lama setelah Rasulullah mempersunting Bunda Hafsah. Di usia ke-56 tahun, Rasul menerima permintaan Zainab (30 tahun) untuk dinikahi yang diajukan setelah Zainab menjanda akibat suaminya yang juga gugur dalam Perang Badar.

Bunda Zainab dikenal sebagai pribadi yang sangat dermawan kepada kaum dhuafa dan anak-anak yatim. Selain itu tak banyak hal yang diketahui tentang beliau yang wafat hanya dalam waktu delapan bulan setelah menikah dengan Rasulullah.

6 ♥ Bunda Hindun binti Abu Umayyah ♥

Bunda Hindun Lebih dikenal dengan Ummu Salamah. Sebelum menikah dengan Rasulullah, Ummu Salamah bersuamikan Abu Salamah bin Abdul Asad dan memiliki 4 orang anak. Abu Salamah meninggal akibat luka parah setelah ikut bertempur dalam Perang Uhud.

Ummu Salamah menolak pinangan Abu Bakar dan Umar sebelum menerima lamaran dari Rasulullah. Itu pun sebelumnya Ummu Salamah mengutarakan kepada Rasulullah tentang sifatnya yang pencemburu dan banyaknya anak yang telah dimilikinya.

Tapi Rasulullah tetap menginginkan untuk menikah dengan Ummu Salamah. Pernikahan pun berlangsung saat usia Rasul mencapai 57 tahun dan Ummu Salamah 29 tahun.

Ummu Salamah dikenal cerdas dan pemberani. Banyak pula merawi hadis walau tidak sedominan Bunda Aisha. Ummu Salamah juga kritis dan banyak bertanya kepada Rasulullah mengenai posisi perempuan dalam Islam termasuk hal warisan dan kewajiban ikut berperang.

Di usia yang tak lagi muda dan punya beberapa anak tidak menghentikan upayanya untuk terus menimba ilmu dan berjuang di jalan agama bersama Rasulullah. Panutan nih buat ibu-ibu yang sudah menikah dan punya anak :). Harus tetap semangat menimba ilmu ;).

Ummu Salamah meninggal di tahun 61 Hijiriyah.

Ilustrasi gambar : pixabay.com

7 ♥ Bunda Zainab binti Jahsy ♥

Perempuan cantik yang berasal dari keturunan Quraisy yang sangat terpandang ini awalnya menikah terlebih dahulu dengan Zaid bin Haritsah. Zaid adalah budak yang dibebaskan dan dianggap kerabat, bahkan dianggap sebagai anak oleh Rasulullah sejak kecil.

Pernikahan Bunda Zainab dan Zaid juga atas inisiatif Rasulullah. Zainab dan keluarga awalnya menolak karena latar belakang Zaid yang dianggap tidak sejajar dengan mereka. Namun, Rasulullah menekankan bahwa harga diri seseorang tidak terkait asal  usul dan keturunan melainkan ketakwaan. Rasulullah bersaksi betapa saleh dan setianya Zaid selama ini kepada beliau.

Budaya kaum Quraisy yang ingin diminimalkan bahkan dihapuskan oleh Rasul adalah kebiasaan mereka membangga-banggakan garis keturunan secara berlebihan.

Walau Zainab akhirnya bersedia namunpernikahannya dengan Zaid tidak harmonis. Beberapa kali Rasulullah meminta Zaid untuk bertahan, akhirnya pasangan tersebut berakhir dengan perceraian.

Di usia 35 tahun, Bunda Zainab pun dinikahi oleh Rasulullah yang saat itu berusia 58 tahun.

Selain cantik dan terdidik, Bunda Zainab juga sangat dermawan. Beliau adalah istri Rasul yang wafat paling awal setelah meninggalnya Rasulullah. Bunda Zainab meninggal di tahun 20 Hijriyah di masa kepemimpinan Umar Bin Khatab.

8 ♥ Bunda Juwairiyah binti Al Harits ♥

Nama aslinya adalah Barrah. Barrah adalah anak dari Al Harits, seorang pemimpin dari Bani Musthaliq yang dikalahkan oleh pasukan muslim dalam sebuah pertempuran. Barrah dan sebagian besar orang-orang dari Bani Musthaliq tertangkap dan menjadi tawanan perang.

Barrah takut jika pasukan muslim menyadari siapa dirinya mereka akan menolak untuk permintaannya untuk dibebaskan dengan sejumlah tebusan. Barrah memaksa untuk bertemu Rasulullah.

Barrah meminta Rasul untuk membantu pembebasan dirinya. Rasul malah melamarnya dan Barrah mengiyakan. Usia Rasul saat itu 58 tahun dan Barrah 20 tahun. Pernikahan ini berlangsung tak lama setelah Rasul menikahi Bunda Zainab. Barrah diberi nama baru, “Juwairiyah”.

Apa rencana Rasul? Ternyata pernikahan ini menyebar sampai ke pasukan muslim dan mereka segera menyadari posisi Bani Musthaliq setelah pernikahan tersebut. Para tawanan pun segera dibebaskan untuk menghormati posisi baru mereka sebagai keluarga besar besan Rasulullah.

Pernikahan ini tidak hanya membebaskan Bunda Juwairiyah tapi juga segenap keluarga besar Bani Musthaliq :). Pernikahan yang benar-benar membawa berkah bagi banyak orang.

Bunda Juwairiyah meninggal di tahun 50 Hijriyah.

Istri istri Nabi Muhammad
Ilustrasi gambar : pixabay.com

9 ♥ Bunda Ramla binti Abu Sufyan ♥

Bunda Ramla lebih dikenal dengan nama Ummu Habiba. Ummu Habiba adalah putri dari Abu Sufyan, salah satu penguasa Kaum Quraisy yang cukup keras melakukan perlawanan terhadap Rasulullah dan kaum muslim.

Ummu Habiba menikah dengan Ubaidillah bin Jahsy semasa di Mekkah. Setelah Rasul mulai berdakwah tentang Islam, Ubaidillah tertarik dan mengajak Ummu Habiba untuk  memeluk Islam bersamanya.

Mereka berdua hijrah ke Habasyah. Di Habasyah, Ubaidillah meninggalkan Islam karena putus asa dengan perjuangan Rasul di Mekkah yang belum juga menunjukkan tanda-tanda kesuksesan.

Setelah Ubaidillah meninggal, Ummu Habiba sangat galau. Kini sebatang kara di negara asing sementara tak mungkin pulang ke Mekkah karena keluarga besarnyyang sangat anti Islam. Termasuk ayahnya sendiri.

Rasulullah melamar Ummu Habiba dan mereka dinikahkan via wali sejak Ummu Habiba masih berada di Habasyah di tahun 1 H. Ummu Habiba pindah ke Madinah di mana istri istri nabi yang lainnya juga  berada sekitar tahun 7 H saat usianya 35 tahun dan Rasulullah berusia 60 tahun.

Ummu Habiba meninggal di tahun 44 Hijriyah.

10 ♥ Bunda Safiyya binti Huyayy ♥

Bunda Safiyya adalah anak dari Huyayy ibn Akhtab, salah satu pembesar Bani Nadir (keluarga Yahudi). Kelompok ini diusir dari Madinah karena mencoba membunuh Rasulullah. Di Perang Khaybar yang mempertemukan kubu muslim dan golongan Yahudi yang memberontak ini, Rasul dan pasukan berhasil memenangkan pertempuran.

Ayah dan suami dari Bunda Safiyya termasuk yang terbunuh dalam pertempuran.

Salah satu cara untuk menyelamatkan Bunda Safiyya dari perbudakan yang tentunya sulit setelah beliau mengenyam kehidupan sebagai putri petinggi suku adalah dengan dinikahi oleh Rasulullah. Bunda Safiyya menikah dengan Rasul (yang saat itu berusia 60 tahun) di usia 17 tahun.

Setelah menikah, statusnya sebagai putri Yahudi kerap dicemooh oleh istri istri nabi yang lainnya. Salah satunya Bunda Hafsah yang mendapat teguran langsung dari Rasulullah. Bunda Zainab juga enggan meminjamkan unta kepada Bunda Safiyya yang juga berakhir dengan hukuman dari Rasulullah.

Kehidupan para istri istri Nabi Muhammad pun tidak selalu harmonis 100%.

Bunda Safiyya masih hidup lama setelah Rasulullah wafat. Di saat perseteruan besar antar umat Islam pasca terbunuhnya Utsman bin Affan, Bunda Safiyya berada di “kubu Utsman”.  Bunda Safiyya meninggal di tahun 50 Hijriyah di masa kekhalifahan Muawiyah.

Istri istri Nabi Muhammad
Ilustrasi gambar : pixabay.com

11 ♥ Bunda Maymuna binti Al Harits ♥

Sama seperti istri istri Nabi Muhammad yang sebelum-sebelumnya (kecuali Bunda Aisha), Bunda Maymuna pun sudah menyandang status janda. Sebelumnya sudah menikah dua kali. Pertama sebelum memeluk Islam menikah dengan Ibnu Mas’ud bin Amru bin Ats-Tsaqafi. Berakhir dengan perceraian.

Kedua kalinya menikah dengan Abu Ruham bin Abdul Uzza yang kemudian meninggal lebih dahulu.

Bunda Maymuna mengajukan lamaran kepada Rasululla via kakak perempuannya, Ummu Fadhal. Rasulullah menyetujui penyerahan dirinya dan menikahi Bunda Maymuna di usianya yang ke-60 tahun. Saat itu Bunda Maymuna berusia 36 tahun.

Bunda Maymuna termasuk perempuan yang berperangai tenang dan sejuk sehingga tidak pernah ada konflik apa pun dengan istri istri rasul yang lainnya. Walau Bunda Maymuna termasuk pendatang yang paling akhir.

Turun ayat setelah pernikahannya dengan Bunda Maymuna untuk mencukupkan pernikahan bagi Rasulullah. Maka dari itu dalam beberapa sumber dikatakan Bunda Maymuna adalah istri Rasulullah yang terakhir.

Bunda Maymuna meninggal di tahun 61 Hijriyah. Termasuk salah satu istri yang meninggal paling akhir diantara istri istri Nabi Muhammad yang lainnya.

12 ♥ Bunda Maria Al Qibtiyya ♥

Sebagian sumber memasukkan nama Bunda Maria sebagai istri terakhir Nabi Muhammad. Tidak ada yang tahu pasti berapa usianya dan kapan tepatnya dinikah oleh Rasulullah.

Maria adalah budak dari keturunan Kristen Koptik  yang diberikan oleh salah satu penguasa Mesir kepada Rasulullah.

Tahun 9 H, Bunda Maria melahirkan anak laki-laki yang diberi nama Ibrahim oleh Rasulullah. Hal ini menyebabkan istri istri Nabi yang lain cemburu. Karena diantara semua istri istri nabi, selain Bunda Khadijah, hanya Bunda Maria yang bisa memiliki anak dari Rasulullah.

Ibrahim meninggal saat usianya belum genap 2 tahun. Bunda Maria sendiri meninggal di tahun 16 Hijriyah.

***

Istri istri Nabi Muhammad dimakamkan di pemakaman Baqi, Madinah. Kecuali Bunda Khadijah yang dimakamkan di Mekkah dan Bunda Maymuna yang disemayamkan di Sarif. Semoga Allah merahmati mereka semua <3.

Istri istri Nabi Muhammad dimakamkan di Baqi Madinah
Pemakaman Baqi, Madinah (gambar : wn.com)

 

Love Rosie film

Love, Rosie : While Love Grows Slowly from The Seeds of Friendship

Gila deh baru inget belum posting tulisan iniiiiii :D. Jadi, tempo hari iseng nyari film seru buat ditonton. Udah lama gak pecicilan nonton film. Eeeeh, kok malah jadi kepoin Memento cobak huhuhu.

Memang nih, biasanya juga nonton film manja-manja buat hepi-hepi kok ya bisa-bisanya nyasar ke Memento -_-. Maunya cari hiburan dari nonton pilem kok ya malah pening *usapJidat*.

Oiya, saya paling enggak pinter bikin review atau resensi atau apalah namanya kalau enggak spoiler. Jadi,  kalau belon nonton kali aja kepengin dan benci sama spoiler-spoiler an hentikan langkah Anda sampai di sini saja :D.

Love Rosie film
Gambar : avclub.com

 

First thing about Love, Rosie … Lily Collins nya sumpah kiyut bangeeeeet. Rasanya saya betah nonton film ini juga gara-garanya karena si imut Lily. Ihhhh pengin temenan deh rasanya *sodorin jari kelingking*.

Pemeran Alex-nya juga imut-imut. Ya ampuuuun, jadi pengin satu sekolahan sama kalian deh. Tas ransel mana tas ransel hahaha.

 

Film ini genre drama santai sehari-hari. Walau sebenarnya yang dialami Rosie (Lily Collins) sama sekali tidak bisa dibilang ‘ringan’ *ngelapKeringat*. Btw, ini film 17 tahun ke atas ;).

Ibaratnya makanan, mungkin yang tipe-tipe mindblowing macam Memento dkk (masih dibahas aja hahaha) itu bisa dianggap main course macam steak atau ikan bakar (laaaah :p), sementara “Love, Rosie” yaaaaa selevel puding atau mungkin kerupuk lah.

Nontonnya bisa sambil lipat-lipat baju sambil sesekali bolak balik ke kamar mandi. Sambil makan kacang tidur-tiduran.

Rating dari penonton lumayan untuk film ini, sekitar 7 / 10. Tapi reviewnya dari kritikus film cuma dapat nilai 4 / 10 :p.

But I loooooove it . Sesuai tujuan nonton film ala saya lah. Buat hiburan dan hepi-hepi, bukannya main tebak-tebakan -_-. Cetek, ya. Biarin sih :p.

Sesuai pengantar di judul, ini memang cerita ala-ala friend zone Rosie-Alex yang sudah lengket dari balita. Rumahnya deketan gitu. Nah, situasi tempat tinggal mereka familiar banget rasanya. Sukak deh <3.

Ealah, ternyata kisah ini memang diangkat dari best selling novel yang ditulis oleh novelis Irlandia. Salah satu tempat syutingnya ya di … Dublin! Panteeeeeeees :D.

Kisah dimulai dari tingkat akhir di SMA, Rosie dan Alex flirting-flirting an dengan kecengan masing-masing. Rasanya sih dari sini sudah kelihatan kalau Alex udah ser-seran tapi Rosie-nya cuek aja.

Masing-masing dapat teman kencan. Alex dapat cewek yang termasuk tenar dan paling kece (Bethany), Rosie juga dapat pasangan yang lumayan keren (Greg).

Love Rosie film
Gambar : itcher.com

Dalam keadaan mabuk, Alex sempat mencium Rosie. Alex-nya sih ya hepi. Tapi besoknya pas main ke kamar Rosie (yoih, mereka dari kecil sudah rapet banget), Rosie malah  ngomel-ngomel. Alex berasumsi Rosie bete dengan peristiwa semalam.

Yaela baper aja si Alex. Pan lagi mabok, manalah dese inget –> penontonnya kali yang baper! Hahaha.

Then, Alex kepengin melanjutkan kuliah ke Harvard. Dia mengajak Rosie untuk ikut merantau ke US. Rosie harus membujuk ortunya dulu. Ortu Rosie setuju.

Ternyata … Rosie keterima di Jurusan Perhotelan, sesuai cita-citanya, di Boston University. Rosie hepinya enggak ketulungan.

But then, something ‘big’ happened :(. Rosie hamil (karena Greg). Rosie memutuskan untuk tidak menggugurkan kandungannya dan membatalkan rencana kuliah. Greg-nya malah ngibrit.

Rosie tidak tega cerita ke Alex. Takut Alex enggak jadi ke Harvard karena peristiwa ini. She kept this for herself. She became a single parent.

Tapi akhirnya Alex tahu juga. Berantem sebentar tapi terus baikan lagi. Malah Alex menjadi bapak baptis Katie, anaknya Rosie. Alex sudah tinggal dan bekerja di Boston.

Love Rosie Film
Gambar : comedy.co.uk

Beberapa tahun kemudian, Rosie ke Boston ketemu Alex. Eh, Alex-nya dah punya pacar huhuhu.

Rosie ketemu Greg lagi. Dan begitulah … pokoknya happy ending ;).

Kejadian kayak Rosie-Alex mah standar banget ya dalam kisah-kisah pertemanan perempuan dan laki-laki. Hayo ngaku siapa yang belakangan jodohnya ya sama sohib sendiri *angkatTanganPalingTinggi* :D.

Kalau istilah Jawa-nya, “Witing tresno jalaran soko kulino.” Yang kira-kira terjemahannya, “Cinta hadir karena terbiasa”. Terbiasa ketemu, terbiasa ngobrol, terbiasa curhat dan seterusnya dan seterusnya.

Walau variasi ending hubungan kayak begini yang tidak selalu hepi-hepi joy-joy. Ada juga yang bertepuk sebelah tangan. Ada yang sama-sama suka tapi sama-sama malu-malu ya akhirnya lepas juga dan tidak pernah benar-benar berjodoh. Ada juga yang santai-santai terus dan tetap temenan karib setelah menikah :).

Sebenarnya menarik juga ya melihat respons dari orang tua Rosie waktu dia hamil. Itu apa beneran kayak gitu ya budaya di sana? Karena rasanya sih Ireland masih sarat dengan budaya tabu-tabu an terkait hubungan laki-laki dan perempuan.

Rosie yang tek dung duluan pas lulus SMA bisa santai gitu ya dan mendapat support luar biasa dari orang tuanya :). Coba di Indonesia, halamaaaak :p. Kalau keluarganya berada bisa jadi aborsi atau sudah dikirim kuliah ke luar negeri dan menghindar sementara dari lingkungan pergaulan dan keluarga.

Love Rosie film
Gambar : indianexpress.com

Kalau kejadian ini menimpa perempuan dari keluarga biasa-biasa bahkan menengah ke bawah, duh enggak kebayang deritanya ya :(. Sudahlah mungkin “dibuang” sama keluarga karena dianggap bikin malu, mental juga sudah jatuh duluan, boro-boro mau mikirin kandungan.

Potensi memilih bunuh diri cukup tingggi atau malah terjebak dalam “dunia hitam” saking bingungnya mau ngapain kali, ya? Duh, kenapa jadi sedih.

Ish, ini bahasannya berat ah jangan di postingan ini hahaha. Cukupkan sampai di sini ajalah :p.

Filmnya tidak muram sama sekali kok. Pan settingnya memang di negeri-negeri nun jauh di sana ;).

Seneng lihat tampang imut nan mungilnya Lily Collins dan jadi nostalgia Hunger Games karena ngeliat si Alex. Hayoooo pemeran Alex ini kebagian peran apa di trilogi Hunger Games? :D.

Btw, kalian pernah punya sohib lalaki tak sih? :p. Yang benar-benar dekat macam Neng Rosie dan si Aa’ Alex di film Love Rosie ini? Endingnya gimana? #kepoAjah :p.

Film The Help : Courage Sometimes Skips a Generation

Untuk kesekian kalinya nonton film The Help ini. Duh, karena nontonnya benar-benar full kali ini jadi lebih berasa sedihnya .

Yang bikin lebih sedih lagi, rasanya di tahun 2009-2010, sebelum mulai merantau dan masih hidup dalam lingkungan ber-embak di Jakarta, beberapa hal-hal yang ada di The Help masih kejadian di sekitaran kita waktu itu .

Film The Help

Kamar mandinya dipisah. Peralatan makan dipisah, jenis makanan dipisah. Ada yang memanfaatkan jasa asisten rumah tangga untuk SEGALA urusan. Ya masak, ya mengurus anak, ya ini itu dengan gaji seada-adanya.

Dulu ada juga yang enggan menggunakan jasa baby sitter karena gajinya lebih mahal. Dan butuh pengurus rumah tangga juga. Jadilah mengambil satu orang untuk mengerjakan semua-muanya. Gajinya jauh di bawah standar pengurus anak profesional.

Mudah-mudahan sekarang kondisi sudah lebih baik lagi.

The Help ini adalah gambaran kehidupan sehari-hari di Kota Jackson, Missisippi. Negara bagian ini letaknya di belahan selatan dan termasuk dari negara-negara bagian yang tergabung dalam Konfederasi saat Perang Sipil di tahun 1863.

Konfederasi hendak memisahkan diri dari The Union (pemerintah resmi pusat) terkait perselisihan terhadap status warga berkulit hitam yang saat itu umum dijadikan budak.

 

Wilayah selatan menggantungkan hidup dari perkebunan dan partanian yang pengelolaannya dibantu oleh para budak tadi. Sementara ada keinginan dari beberapa pihak yang berdiri di sisi The Union untuk mulai meninggalkan perbudakan dan menerapkan sistem pengupahan untuk memajukan industri di semua wilayah Amerika Serikat.

The Union memenangkan Perang Sipil dan memaksa Konfederasi bergabung kembali. Namun, puluhan tahun sejak Lincoln melakukan amandemen undang-undang terkait status perbudakan, masalah diskriminasi terhadap warga Afro-American terus berlanjut.

Ditandai salah satunya dengan kehadiran kelompok Ku Klux Klan. Kelompok ekstrimis yang mengusung pemahaman akan White-Supremacy, White-Nationalism dan tentu saja … anti imigrasi. Ring a bell? :(.

Tapi film The-Help menyoroti khusus kepada profesi asisten rumah tangga yang didominasi oleh perempuan-perempuan Afro-Amerika di Kota Jackson. Mereka bekerja dari pagi sampai sore dengan upah sangat kecil.

Pekerjaannya ya segala rupa. Mengurus para manula, mengasuh anak, memasak, mengurusi pakaian, dan lain-lain. Double combo. Karena sebagian dari perempuan ini juga harus mengalami kekerasan dalam rumah tangga setelah bekerja penuh seharian.

Tak jarang pula mereka memaksa anak-anak perempuan tertua untuk berhenti bersekolah. Anak-anak ini mengikuti jejak mereka sebagai “simbok” di rumah-rumah orang berkulit putih untuk membantu ekonomi keluarga. Jadi, dari generasi ke generasi ya kerjanya itu-itu juga. Hanya sebagian kecil yang berhasil lepas dari lingkaran yang menyesakkan ini .

Tapi ya kita memang tidak seharusnya menggunakan emosi kita sebagai orang yang hidup di era terkini. Karena di tahun segitu ya kondisi seperti ini dianggap cukup alami. Bukan hal luar biasa bagi mayoritas orang di saat itu.

Sangat sedikit orang seperti tokoh Skeeter di film The Help, perempuan muda yang tengah merintis jalan menjadi penulis dan jurnalis yang berani membujuk para “simbok” ini untuk memberikan testimoni yang jujur mengenai pandangan mereka terhadap profesi mereka selama ini.

Para perempuan Afro-Amerika ini juga canggung dan merasa hal ini di luar kewajaran. Hingga awalnya hanya 1 orang yang berani mengajukan diri sebagai narasumber. Terus menjadi 2 orang setelah berhasil membujuk satu lagi yang baru saja dipecat oleh majikannya karena dianggap kurang ajar memakai kamar mandi sang majikan.

Mungkin juga tidak banyak orang yang meyakini secara penuh dan tanpa rasa bersalah sama sekali seperti si emak sosialita, Hilly. Hilly meyakini secara penuh bahwa kondisi tersebut sangat wajar dan tidak memiliki pertentangan batin sama sekali.

Yang mayoritas ada di lingkungan masyarakat mungkin malah karakter yang dimiliki oleh tokoh Elizabeth dan Charlotte (ibu dari Skeeter).

Film The Help

Elizabeth walau terlihat menikmati kondisi dan juga tidak canggung menyerahkan segepok tanggung kepada asisten rumah tangganya, tapi dia pun tidak benar-benar kontra dengan pandangan Skeeter. Ibaratnya, ikut-ikutan saja. Karena mungkin ya didikan dari kecil dan kondisi lingkungan. Bukan tipe pendobrak. Tidak suka frontal. Tipe cari aman hehehe.

Kita juga sebenarnya ada juga kan yang menyimpan rasa kasihan dan sebenarnya mau-mau juga ngasih gaji lebih dan kenyamanan lain buat si embak di rumah. Misalnya ngasih hari libur sehari di mana si embak boleh piknik dan enggak perlu kerja. Tapi ya gitu, takut dinyinyirin tetangga, yes? *tutupMuka*.

Takut disindir sok tajir sok ini itu. Takut kalau dianggap merusak “harga pasaran” gaji embak. Takut dituduh cemen banget enggak punya embak sampai embak dimanja-manjain berlebihan bla bla bla. Disindir ini sebenarnya mana majikan mana yang embak. Sudah, sudah, jangan curcol, jangan curcol! Pengalaman pribadi banget iniiiii hahaha.

Sementara tokoh Hilly tidak segan-segan menyuarakan ide-idenya kepada publik. Termasuk membuat kamar mandi khusus buat para asisten rumah tangga di … luar bangunan utama rumah! Hilly tipe yang menganggap ya memang embak wajarnya digituin. No hard feeling tapi ya perlakuan seperti itu pantas kok, menurut Hilly.

Charlotte sendiri termasuk sosialita ambisius yang ingin mendapat tempat di perkumpulan ibu-ibu hits. Insiden terjadi saat Charlotte dinobatkan sebagai apa-gitulah, salah satu gelar prestisius di perkumpulan mereka.

Charlotte punya Constantine, asisten rumah tangga yang sudah bekerja selama puluhan tahun di rumahnya. Hubungan mereka cukup akrab dan Charlotte memperlakukan Constantine dengan sangat layak untuk ukuran kondisi lokal saat itu.

Film The Help
Charlotte (baju hijau) saat dikunjungi oleh emak-emak sosialita satu gengnya hehehe. Gambar : hark.com

Constantine sudah sangat tua dan lambat. Saat meladeni tamu-tamu lain, dia terlihat kikuk sehingga membuat para tamu (ibu-ibu geng sosialita tadi) tidak nyaman. Lalu terjadi hal yang tidak mengenakkan.

Ibu-ibu lain mendesak Charlotte untuk memecat Constantine saat itu juga! Dan Charlotte menuruti permintaan mereka, dia memecat Constantine saat itu juga di depan ibu-ibu lainnya. Saking segannya kalau dia dicap macam-macam oleh geng sosialitanya.

Charlotte merasa bersalah dan berusaha mendatangi rumah Constantine keesokan harinya tapi sudah terlambat. Constantine sudah pergi dan pindah ke negara bagian lain.

Hal inilah yang membuat Skeeter berantem dengan ibunya karena Skeeter sedari kecil dibesarkan oleh Constantine.

Ada juga tokoh Celia. My favorite girl! Hahahaha.

Celia berasal dari “daerah pedalaman” dan pertama kalinya memiliki asisten rumah tangga saat bermukim di Kota Jackson. OKB baik hati gitu lah ya hahaha . Celia sangat santai dan lugu dalam memperlakukan Minny, asisten RT yang dipecat oleh Hilly karena urusan kamar mandi tadi.

Celia tidak segan-segan memeluk, makan bareng dengan Minny di meja makan yang sama dengan menu sama persis, pokoknya memperlakukan Minny lebih sebagai teman ketimbang “pembantu” .

Skeeter-Hilly-Elizabeth berumur sebaya dan teman sepermainan sejak kecil. Skeeter juga mengalami tekanan sosial lain karena statusnya sebagai “perawan tua” hahaha. Di tahun segitu, perempuan berkulit putih memang tidak diharapkan untuk berkarier dan sekolah tinggi.

Film The Help
Skeeter – Elizabeth- Hilly (gambar : btlnews.com)

Begitu selesai pendidikan selevel SMA, mereka ya hunting jodoh! Hahaha. Tapi karakter Skeeter memang dibuat untuk mewakili angin perubahan di masanya kali, ya. Perawan tua dan pendobrak zaman . Semacam “Ibu Kartini”nya Kota Jackson? Hehehe.

Filmnya ‘menyentuh’ banget :). Diangkat dari novel dengan judul yang sama. The rest of the story mending nonton sendiri aja deh hehehe.

Karena setelah menonton saya jadi sadar, tidak semua kita dilahirkan menjadi seorang pembaharu, jika berkaca pada tokoh Skeeter.. Berani melawan arus demi memperjuangkan hal yang dirasanya benar. Padahal waktu itu kondisi yang dialami embak-embak berkulit hitam dianggap wajar.

 

Pacarnya Skeeter pun, laki padahal ya, yang tergolong dari keluarga yang berpikiran terbuka dan pendidikan tinggi juga ngamuk-ngamuk ke Skeeter pasca bukunya Skeeter terbit. Dia menuduh Skeeter mencoba bermain api dan menghancurkan tataran kehidupan sosial yang lagi stabil saat itu. Semacam musuh dalam selimut dan berusaha menjatuhkan komunitas kulit putih.

Sementara komunitas perempuan kulit hitam pun tidak terlalu berani menunjukkan dukungan kepada Skeeter karena posisi mereka yang terancam. Kalau sampai frontal, keluarga para perempuan kulit hitam ini pun tidak lepas dari bahaya (bisa mengalami intimidasi yang berujung ke kematian segala lho).

Terbayang ya, resiko yang diambil oleh Neng Skeeter :).

Setidaknya, ibunya sendiri (Charlotte) akhirnya berpihak kepada Skeeter dan mendukungnya penuh, as she said, “Courage sometimes skips a generation. Thank you for bringing it back to our family.”

Kita sendiri apa punya ya keberanian untuk mendobrak hal-hal (hal apa pun!) yang kita tahu sebenarnya salah dan menyakiti orang lain tapi sudah terlanjur melekat dan menjadi kewajaran dalam kehidupan masyarakat sekitar kita? Atau hanya berani diam-diam berdoa dalam hati sambil ikut arus?

Syukur-syukur orang sadar tanpa perlu kita melawan ketidaknyamanan karena menyuarakan hal-hal yang dianggap tabu? Untung sekarang ada medsos sih, ya. Setidaknya kita bisa bersuara di dunia maya. Ye kaaaan, ketimbang kagak ngapa-ngapain hihihi.

Ya, ya, ya, saya paham memang hanya orang-orang spesial yang dianugerahkan keberanian untuk melawan arus. Satu nama yang langsung terbayang itu … Pak Ahok! :).

Kita-kita yang cemen ini dikeroyok di komen-komen status FB saja kadang sudah jiper dan langsung logout, yes? Hahaha. Namun setidaknya dianugerahkan kepada generasi kita dan generasi-generasi mendatang secuil keberanian untuk “bersuara dengan lantang” tanpa takut dengan konsekuensi yang harus dijalani.

Yah di level dunia maya juga enggak apa-apa deh hahahaha. I pray for my self indeed, yang akhir-akhir ini kesulitan menghimpun keberanian untuk menulis hal-hal yang agak-agak “gimana gitu” hehehehe :p.

Ya Allah, mampukan kami semua <3. Please … bring that courage back to all of us. Aamiin.

 

Laki-laki, Suami, dan Bapak

Walau tak pernah bermukim di daerah asal kedua orang tuanya, suami saya dibesarkan dalam suasana “Minang yang kental”. Ada segregasi yang tajam antara “tugas Ibu” vs “tugas Ayah” dalam urusan rumah tangga dan mengurus anak. Setidaknya dari kehidupan sehari-hari mertua saya, itu tergambar dengan sangat jelas.

Ada yang bilang, ini sih budaya orang Sumatera. Secara umum ini budaya ketimuran. Di Asia yang begini-begini mah wajar hehehe. Jangan heran kalau di Indonesia pada khususnya, pasti masih banyak yang ribet kalau misalnya melihat bapak-bapak ngurus anak tanpa istri.

Baca : Ayam Kremes (Ayah Muda Keren Bikin Gemes)

Macam meme yang tempo hari ramai. Ada embak-embak melihat seorang suami sibuk ngurus anak sementara istrinya sibuk belanja, si embak tetiba ingin berbisik ke si suami, “Mas, punya istri 2 itu boleh, lho!”

Budaya ketimuran kita selalu ngotot, anak ya harusnya diurus ibunya, laki-laki mah harusnya cari duit saja. Titik. Belum banyak ruang dalam budaya “ketimuran” kita untuk menerima bahwa ada lhoooooo rumah tangga yang di mana suami dan istri bersedia berbagi tugas dalam HAL APA PUN ;).

Pernah ada tulisan tentang sepasang suami istri di mana istrinya yang bekerja penuh dan suami lebih banyak di rumah, itu nyinyiran dari komentarnya dahsyat bener hahaha.

Ada yang menghina, si suami tidak paham tanggung jawab kepala keluarga. Padahal suami kerja juga. Cuma kebetulan suaminya pekerja lepas atau freelancer jadi memang tidak perlu setiap hari ke luar rumah. Belum lagi sekarang banyak bisnis/pekerjaan yang tetap leluasa dikerjakan dari dalam rumah kan? Well, who knows lah.

Sampai ada yang bilang, “Mereka kan muslim, ya. Apa istrinya enggak takut masuk neraka?”

Piye toh masuk neraka? Sang istri bekerja kan juga untuk membiayai kebutuhan keluarga dong. Untuk kehidupan keluarga yang lebih baik dan seharusnya pasangan tersebut sudah mempertimbangkan plus minus segala macamnya. Itu tergantung niat masing-masing saja mereka bekerja untuk apa. Emang situ Tuhan bisa baca niat orang :p.

Tapi tolong jangan dibawa ke titik sebaliknya juga yaaaaa. Again, ini masalah domestik tiap rumah tangga. Suami saya tipe yang memang tidak suka ada 2 matahari dalam sebuah rumah tangga :). Ya kebetulan dapatnya juga tipe yang kayak saya yang memang lebih senang kongkow-kongkow di rumah hahaha :p.

Saya kangen juga ingin bekerja kantoran kayak dulu. Tapi menikmati juga sih kondisi sekarang. Apalagi sekarang saya lagi suka sekali memasak dan praktik-praktik resep.  Saya kebetulan juga punya hobi menulis yang bisa lah mengais uang jajan dikit-dikit dan bisa dikerjakan full time dari rumah thok :D.

Dan suami sangat mendukung soal ini. Misalnya dia ikut pontang panting dulu jualin buku saya yang terbit indie. Kayaknya lebih semangat suami daripada saya. Padahal hasilnya enggak seberapa. Hanya remah-remah dibanding gajinya dia di kantor hihihi. Tapi itu salah satu bentuk supportnya kepada saya <3.

Suami saya selalu ngajarin untuk menghargai penghasilan dan harus kerja keras kalau mau berhasil. Harus mau capek harus mau berkorban. Sementara saya tipe yang agak-agak kurang persisten hehehe.

Jangan bayangin suami saya tipe bapak-bapak yang benar-benar pulang kantor langsung lempar tas dan minta dipijitin segala macam hahaha. Untuk memasak dia memang anti banget kecuali kalau saya sakit atau pas ngidam tempo hari. Tapi kalau urusan gonta ganti pampers, mandiin anak, nyuapin anak, ikut beberes rumah, suami saya SELALU siap dimintai bantuan :).

Tapi memang terasa dese anaknya patriarkis gitu-gitu :p.

Urusan memasak saya memang tidak keberatan kalau dihandle 100% sama saya :D. Terus terang, suami pernah masakin buat saya tapi saya kan orangnya ya tipe-tipe A bilang A, B bilang B. Jadi, masakannya enggak enak ya saya bilang enggak enak, dese ngambek hahaha.

So far, 80% dari kehidupan pernikahan kami,  dihabiskan di luar Indonesia. Memang sih waktu di Jeddah masih mudah sekali beli-beli makan di luar atau menggunakan jasa asisten rumah tangga.

Kodrat laki laki
BBQ-nite @Jeddah, October 2011

 

Terus pindah ke Ireland. Di Ireland yang merupakan bagian dari wilayah Eropa Barat, gaya hidupnya ya tentu beda banget dengan budaya Asia kita. Di sana kehidupan serba mandiri. Mau tak mau, berbagi tugas dalam kehidupan rumah tangga sangat umum.

Tidak sedikit lho di sana yang kebagian tugas anter jemput anak sekolah dan berbelanja itu malah para suami. “Ayam Kremes” bertebaran di mana-mana hahaha :p. Istrinya yang bekerja full time :D.

Suami saya jadi makin aktif membantu urusan rumah tangga hehehe. Walau ya urusan memasak hampir 100% tanggung jawab saya. Kalau yang lain-lainnya dia selalu mau bantuin. Namanya rumah tangga ya, tidak selalu mulus. Kadang juga ada berantem-berantemnya masalah gini-ginian hehehe.

kesetaraan gender
Gambar : pixabay.com

 

One thing for sure, kita tidak boleh lupa, budaya kita sama budaya satu generasi di atas kita jelas berbeda. Misalnya saya dan suami vs mertua dan orang tua saya. Baik Mama (ibu kandung saya) dan Mami (ibu mertua) masih memegang teguh prinsip “istri harus melayani suami dalam banyak hal”.

Mama saya waktu ke Irlandia rewel bener melihat saya kalau nyiapin makan tuh langsung templokin semua ke dalam piring hahahaha. Maunya kan disiapin di atas meja, nasi dalam mangkok, dan lauk-pauk lengkap dalam wadah masing-masing. Ribet amat, banyak-banyakin cucian piring aje :p. Apalagi ibu mertua hihihi.

Ya, ya, ya kita tahu zaman sudah berubah. Tapi ada hal-hal yang memang tidak bisa kita ubah semudah itu.

Orang tua kita sudah berumur dan tentu sudah sukar diubah pandangannya :). Jadi, tidak ada salahnya kita yang muda-muda ini yang mengalah ;). Toh juga tidak tiap hari.

Waktu mama ada di Irlandia, ya saya biarin deh Mama yang ngatur-ngatur dan saya nurut saja kalau disuruh nunggu makan kalau suami belum pulang :p. Biasanya kalau lapar ya makan duluan, bodo amat hahaha. Di rumah ibu mertua atau di depan beliau juga saya tidak mungkin lah nyuruh-nyuruh suami cebokin anak yang habis pup hahahaha :p.

Pasti sebisa mungkin saya jaga perasaan ibu mertua dengan berusaha mengerjakan hal-hal seperti “itu” tanpa bantuan suami. Walau saya rasa bapak ibu mertua pasti sudah paham kebiasaan kami di luar negeri hidup mandiri tanpa tangan ketiga seperti asisten rumah tangga, kerabat segala macam :). Tetap saja, saya menghindari meminta tolong suami untuk hal-hal yang “begitu-begitu” lah DI DEPAN MERTUA :D.

Kecuali terpaksa banget.

Kadang saya juga memposisikan diri sebagai ibu dari anak laki-laki 😀. Koleksi bujang ada 3 nih hahaha. Walau sudah terbiasa hidup “modern” dalam artian segregasi tugas laki-laki dan perempuan dalam rumah tangga tidak setajam di generasi orang tua kita, saya tetap enggak tahan bayangin entar lihat anak saya pontang-panting ngurusin anak sementara bininya kagak ngapa-ngapain hahaha. At least, jangan depan mata eike ya my future in laws hihihi.

Anak-anak laki-laki saya sih sudah digembleng sejak dini buat handle urusan rumah tangga. Boy1 dan Boy2 sudah diajarin menyapu dan beres-beres rumah :D. Sudah rutin mereka bantuin saya tiap hari dalam urusan beginian ;).

Tapi sudah hukum alam ya, semandiri apa pun kita mendidik anak laki-laki kita, tetap saja our boys will be our boys. Belum tentu saat dewasa nanti kita tahan melihat mereka disuruh-suruh sama bininya depan mata kita, yes? Hahahaha.

Makanya, ladies … don’t do that to your Mom-in-law. What you reap is what you sow, yes? 😉

 

Kata kata Untuk Ibu dari The Millennial Generation ;)

Yang cukup ramai dari kasus remaja seperti Afi dan Awkarin adalah respons para orang tua. Termasuk kita semua yaaaaaa (yang nulis jugak hahaha *usapUsapKerutanMata*). Penting nih, sekadar membagi kata kata untuk ibu juga orang tua pada umumnya.

Salah satu imbasnya adalah pihak-pihak yang mulai membanding-bandingkan. Mendadak posting-posting misalnya, anak kedokteran yang lulus umur belasan misalnya. Atau ada juga yang memamerkan putra dari daerahnya yang penemu apalah gitu. Dalam bidang eksakta.

Nah, ini dia, nih. Kita, sebagai orang tua, kerap menjerit betapa tidak adilnya dunia pendidikan yang sering fokus kepada tipe-tipe kecerdasan tertentu. Umumnya, anak-anak yang cerdas dalam ilmu-ilmu pasti/eksakta lebih mendapat tempat.

Kata kata untuk ibu
Gambar : pixabay.com

Tapi tanpa sadar, kita, sebagai orang tua, sendiri, yang mempertegas “kasta” ini . Misalnya di kasus Afi. Anak ini terkenal dalam bidang literasi. Keluar deh komentar-komentar semacam, “Halah cuma nulis gitu-gitu doang. Itu tetanggaku umur 7 tahun sudah kuliah Teknik lho. Lulus cum laude!” –> contoh yaaaaaaa hihihi.

“Iya pada norak. Itu ponakanku ikut lomba bikin robot umur 3 tahun. Menang lho di Jepang. Tapi enggak seheboh ini.” –> contoh lagi yaaaaaaa :p.

Ajegila, 3 tahun bikin robot . Itu #baby3 megang sendok sendiri saja belom bisa hahaha.

Coba pikir-pikir berapa banyak dari generasi kita yang sebenarnya mengikuti jenjang pendidikan akademis yang tidak sesuai passion. Soalnya dulu memang kesempatan lebih terbatas, ya. Pilihan tidak sebanyak sekarang.

Ya intinya seperti ingin meremehkan kemampuan anak-anak yang berprestasi di bidang lain seperti dunia literasi ini. “Halah cuma nulis gitu-gitu doang.” Makanya dibandingin sama dokter lah, anak teknik lah dan seterusnya.

Kalau orang tua zaman dahulu yang berpikiran begini ya wajar mungkin. Sementara di era terkini dunia digital berkembang semakin pesat dan membuka lahan baru bagi generasi sekarang untuk menorehkan prestasi di bidang lain yang dulu belum terpikir.

Anak-anak sekarang cita-citanya mau jadi youtuber booooo hahaha. Saya dulu dari kecil senang menulis, aktif menulis fiksi ala anak-anak waktu SD kelas 2 sampai kelas 5 hihihi. Tapi Mama saya malah bingung dan mengimbau saya untuk fokus belajar saja.

Sekarang? Ada blog ada medsos, banyak media untuk menulis tanpa perlu repot-repot naik angkot ke kantor pos dan kirim naskah untuk nerbitin tulisan biar bisa dibaca orang lain hahaha :p.

Sebagai orang tua kekinian, kita yang seharusnya lebih berpikir terbuka dan mengarahkan anak-anak kita. KIta ini adalah nahkoda dari generasi millennial :D. Jangan malah ikut-ikutan kayak anak kecil. Berkompetisi tidak jelas . Malah ikut menegaskan hal-hal yang sebenarnya ingin kita minimalkan untuk masa depan generasi mendatang.

Mengkritik sewajarnya. Kalau dari saya sih jelas, di kasus Afi, penjiplakannya yang saya tidak suka! Harga mati itu hehehe. Mungkin terbawa pengalaman pribadi . Maklum sama-sama berkecimpung di dunia literasi walau secara akademis saya sebenarnya “jurusan anak robot” hahaha. Saya lulusan Ilmu Komputer .

Tapi saya tidak menyesal sih masuk Fasilkom ;). One of the best decisions I’ve ever made in my life, until now :D.

Balik lagi, Afi jelas anak yang cerdas. Anak yang kuliah kedokteran sejak usia 13 tahun juga cerdas. Anak yang hobinya bikin kue sejak usia 9 tahun dan lebih senang main-main dengan perabotan dapur ya jelas juga cerdas. Sini Nak, bikin vlog resep sama Tante Jihan hahahaha.

Anak-anak yang dari kecil suka otak atik penampilan dan gaya berbusana orang lain walau matematika dan bahasa Inggrisnya sering dapat merah di rapor itu (hahaha) juga cerdas. Sini, saya kenalin sama salah satu kakak kandung saya, yang kini menjadi seorang desainer dengan labelnya sendiri, the one and only, Kakak Dada yang super heits .

Selebgram macam Awkarin dkk itu juga sebenarnya jangan diremehkan, lho . Untung dulu zaman saya masih SMP-SMA belum ada Instagram! Bisa habis waktu buat selfie tuh *ciyumHenpon*. Saya waktu SMP cita-citanya sempat pengin jadi foto model hahaha. But who doesn’t? :p.

“Everybody is a genius. But if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing that it is stupid.” ― Albert Einstein

Fokus di persoalan sebenarnya. Mendidik generasi muda kita untuk tetap mempertahankan perilaku terpuji di tengah gencarnya perubahan zaman yang terus berlari. Diantara banyak kemudahan yang mereka terima kini, kita harus tetap berada di depan untuk mengingatkan. Bukan membully, yes? ;).

Gambar : pixabay.com