Film Dua Garis Biru & How Being a Man is a Privilege!

Padahal film Dua Garis Biru ini rasanya sudah cukup adil menyoroti posisi laki-laki dan perempuan dalam kasus “Kehamilan di Usia Sekolah & di Luar Nikah”.

Mengapa masih saja ada laki-laki yang merasa “tersudut” :p.

Gak papa, kan kujadi punya alasan nge-gas lagi hihihi.

Mari kita singkirkan dulu hegemoni patriarki dan misoginis bla bla bla dari kasus-kasus seperti ini. Saya TETAP bisa MENUNJUKKAN bahwa PEREMPUAN akan menanggung BEBAN yang jauh lebih “PEDIH” dalam urusan ini :(.

Anggap saja kita sudah hidup dalam tatanan masyarakat yang sudah lepas dari isu-isu kesetaraan yadda-yadda-yadda … kemudian kita dihadapkan pada Bima dan Dara (film DUA GARIS BIRU).

film dua garis biru

1. Masalah keperawanan dan ke-PERJAKA-an (saya bahkan tidak yakin apakah istilah PERJAKA ini beneran eksis terkait masalah hubungan intim).

How did you measure it? It’s easier to judge the girls, rite? 🙁

Dulu sempat di lingkungan kerabat ada obrolan iseng menanggapi pasangan pengantin baru terkait hubungan intim (anggap saja dua-duanya perjaka-perawan) …

“Kalau mau lihat malam pertamanya sudah kejadian, lihat saja yang perempuan. Kelihatan kok itu. Dari cara jalannya %$$%#$#@$#…. ” dst dst (gak enak mau nulis lengkap -_-)

Karena kalau yang laki-laki bisa dibilang nyaris tidak akan ada perubahan apa-apa.

Uniknya, kalau memang standar ke-PERJAKA-an itu parameternya apa sudah pernah crot apa belum, jelang abege laki-laki akan mengalami fase MIMPI BASAH (yang seharusnya dialaminya sendiri gak perlu bantuan perempuan mana pun).

MIMPI BASAH akan membuat laki-laki KEHILANGAN KEHORMATAN? Nope. Sebaliknya, semata pertanda bahwa mereka sudah memasuki tahap “dewasa” secara fisik.

Something positive, nothing’s bad about that.

See the point? We can’t see (even feel or measure?) any difference apakah seorang laki-laki masih perjaka atau tidak.

Kalau perempuan? 

Some stupid boys, pernah melecehkan seorang teman perempuan saya yang kebetulan anak dokter yang punya pengetahuan ilmiah tentang hubungan intim dan organ pribadi laki-laki dan di-sharenya di group mailing list.

Anak-anak laki-laki tolol itu merespons dengan japrian kepadanya, “Widih, lu udah pengalaman ni kayaknya. Enak gak? Ajarin dong!”

See? TOLOL, yes? Banget!

2. Tokoh Dara di film Dua Garis Biru … hamil.

“Iya dia yang hamil, tapi bayangin beban mental laki-laki dan keluarganya juga dong!!!!”

APAAAAA???? LU PIKIR PEREMPUAN HAMIL (belum usia matang pula, di luar nikah pula) TIDAK PUNYA BEBAN MENTAL?#zoomInZoomOutMacamLeiliSagitaDiSinetronSinetronJADUL

Cuuuuuy, jangankan anak SMU yang masih lugu begitu, kami saja yang sudah bolak balik tekdung dan brojolan lu kira tidak mengalami perubahan mental saat hamil?

Dan dengan beban mental itu, PEREMPUAN masih harus menanggung BEBAN FISIK.

Oh c’mon, yang hamil siapa, Dear? Yang mual muntah yang bisa terjadi sampai 9 bulan itu siapa? Yang menahan kontraksi saat melahirkan itu yang lakik? Yang dibelek perutnya itu siapaaaaaa? Robot, HAAAA? #garukPakekPisau

Yang punya beban harus NGUMPET dalam rumah menahan MALU karena perubahan fisik yang sungguh sulit disembunyikan itu SIAPAAAAAA.

Situ kan tinggal crot. Mau kabur juga boleh, monggo. SIAPAAAA yang tahuuuuuuuu kalau bukan bacot-bacot orang terdekatmu yang bercerita?

Memangnya ada ya, tanda-tanda perubahan fisik pada laki-laki yang membuat orang yang belum pernah ketemu sama sekali bisa berbisik-bisik, “Ih, liat si FULAN, cara jalannya kek gitu. Pasti dia abis menghamili cewek, deh.”

But at look at the girl :(. No matter how hard she tried, semua bekas-bekas itu akan tampak nyata padanya. Siapa pun bisa bergunjing tentangnya hanya dengan MELIHATnya, “Ih liat deh, kayaknya masih muda, anak SMU tuh, kok buncit hamil gitu? Jangan-jangan ….”

Budaya basa basi orang Asia

Bahkan setelah melahirkan pun. Beberapa kalangan perempuan punya genetik yang membuat perubahan besar pada tubuhnya setelah melahirkan. Some are not. Genetik itu. Buat etnis tertentu ciri ini terlihat jelas.

Tidak percaya? Tanyakan pada Meghan Markle yang masih saja dibully pasca melahirkan karena ukuran pinggul yang berubah drastis. Dibully orang-orang yang sama yang dulu mencibirnya pura-pura hamil.

Dan sekarang tetap disindir jugak, dibanding-bandingkan dengan Kate Middleton yang anak 3 tapi bodi tetap lurus bahkan kurang dari 24 jam setelah melahirkan pun tetap lurus –> ampuni hambaMu ya Allah yang kebanyakan baca berita gosip ini hahahaha.

3. Dan mari kita menapak kembali di dunia nyata. Karena di kehidupan serba liberal macam di Negeri Jantung Dunia, Amerika Serikat pun, patriarki dan semacamnya itu belum hilang sepenuhnya. Percayalah! 

APALAGI DI INDONESIA

Istilah-istilah menyakitkan hati seperti DIGAGAHI (kata GAGAH kan sesuatu yang berkonotasi positif, kok bisa memperkosa dianggap MENGGAGAHI). Itu tindakan pengecut malah -_-.

Buat perempuan ada istilah “KEHILANGAN KEHORMATAN”.

Sebuah kisah nyata tentang anak perempuan usia SMA yang ketahuan hamil di luar nikah dan nyawanya berakhir di tangan kerabatnya sendiri :'(. Karena dia dianggap sudah merusak kehormatan dan nama baik keluarga, maka nyawanya “dihilangkan”.

Kisah nyata ya Allah *nangis*.

Gambar : thegrindstone.com

Keluarga perempuan lebih “emosional” ya karena nomor 1 dan 2 tadi.

Jadi mengertilah, jika kasus seperti Bima dan Dara, ada yang berani bilang kepada Bima, “Kamu sudah merusak masa depan Dara!”

So dear my girls, pahami betul perkara-perkara beginian. Saya tidak kaget soal Bima dan Dara. Orang yang saya kenal langsung yang mengalami hal ini bukan 2-3 orang. Lebih :'(.

DAN …. berhentilah menganggap ini azab yang akan menimpa anak-anak muda yang nakal dan berandalan saja :'(. “ITU SALAH BESAR!”

Pelakunya, kedua belah pihak, bisa datang dari kelompok anak baik-baik (even yang lebih banyak berkeliaran di mushala).

Tell our girls, didik lebih detail karena IN THE END, mau diputer-puter kayak apa, you girls will “suffer” more. Macam pepatah, “Enaknya semenit, susahnya selangit.”

film dua garis biru

Ya syukur kalo enak, kalo kebagian sakitnya doang.

Anak-anakku sayang (perempuan), take care of yourself, sekuat-kuatnya yang kalian bisa. Kesannya dunia tidak adil, ya. What can I say? Ya mungkin ini “jalan Ninja” kita, sayang <3.

Laki-laki bisa MEMILIH “pergi”. Mereka bisa menghilangkan jejak tanpa kesulitan berarti. Mereka bisa move on dan menemukan pengganti semudah membalikkan telapak tangan tanpa ada yang nyinyirin bahkan.

But there’s no place to hide for you, girls. You are going to bring this for your whole life, sorry to say :'(.

And MOMS, teach our boys, “NO MEANS NO.” LITERALLY!

Saya ingat dulu membaca tulisan Ayu Utami, kira-kira begini, “Pahami kalau kalian (laki-laki) tidak lagi bisa bilang -Loh kan itu sama-sama, gak ada yang maksa dia kok! Suka sama suka-“

Soal tidak paksaan anggap saja bisa iya. Tapi fakta bahwa yang beneran “dirusak” adalah masa depan si perempuan, it’s not something you can deny, Boys.

Mengerti kan sekarang mengapa ada istilah “Being a MAN is a privilege.”

Gunakan PRIVILEGE itu sebaik mungkin. Jangan sampai sebaliknya, ya anak-anakku sayang –> ampe nangis nulisnya inget punya 3 pentungan kecil di rumah.

Pengaruh media sosial

Pengaruh Media Sosial : Dulu vs Sekarang?

Another keluhan era terkini, pengaruh media sosial yang katanya sudah sedemikian merusak hidup kita. Kemarin gadget dianggap merusak masa depan anak. Sekarang medsos dirasa menghancurkan kedamaian para ibu-ibu ???.

Kerennya ibu-ibu zaman dulu, masak pakai tungku, enggak ada kulkas, enggak ada rice cooker, ngurus anak sampai 10, kok hepi-hepi aje.

Ho-oh.

DULU : Tidak sedikit ibu-ibu muda habis melahirkan tahu-tahu membunuh bayinya atau tahu-tahu terlihat seperti orang gila. Kata sekitar, “Ooooo dia kerasukan. Mungkin kurang ibadah.”

NOW : thanks to social media, daripada ibu-ibu Posyandu di-training butuh ongkos belum lagi butuh tenaga banyak dari Sabang sampai Merauke, cukup edukasi pakai artikel-artikel di situs-situs web yang bisa dishare sepuas hati via media sosial.

DULU : Ari Hanggara (eh bener gak ini namanya?) konon mati disiksa oleh ibu tiri. Sudah bolak balik digebukin hingga akhirnya meninggal dunia :(. Nobody knows sampai akhirnya dibikinin film.

NOW : Ya coba aja … netijen siap sedia memviralkan segala sesuatu yang aneh-aneh.

DULU : monggo dicek tingkat kematian ibu dan anak (dalam proses melahirkan) apakah dari tahun ke tahun tidak mengalami perbaikan? Ada apa-apa pas lagi hamil … CLUELESS. Lom tentu juga ada rumkit terdekat.

NOW : mual-muntah hamil muda .. panik? Googling. Eh, keluar darah pas trimester pertama … gimana dong? Googling. Aduh, ini kontraksi sebenernya asli apa palsu dah, kapan lahirannya ini? Googling.

pengaruh media sosial

DULU : Duh, makanan buat bayi apa ya. Ke tetangga entar disangka cupu. Nanya emak dinasihati. Nanya mertua bisa lebih sakit ati. Masa iya kudu bolak balik Posyandu mulu minta menu.

Jauh euy. Kudu melintas 2 sungai mendaki 3 gunung.
(Kelian kira se-Indonesia raya ini jalanannya tol semua).

NOW : Googling aje, Sis!

O ya, ibu saya anaknya 7, korban pernikahan paksa, and nope, she was never boasting around about it. Malah sejak usia dini, menyemangati saya untuk sekolah sampai tinggi-tinggi, setinggi yang saya bisa.

Diajarin KB hahaha. Dipaksa-paksa pakai spiral. Emak saya gemes saya nekat pakai KB alami sampai sekarang ???.

Dinasihati ngapain dah punya anak banyak-banyak. Dibatasi saja. Biar lebih fokus merawat. Sempat hubungan memanas gara-gara beliau tidak rela melihat saya melepaskan pekerjaan dari kantor untuk menjadi ibu rumah tangga.

Jangan DIKIRA senyum di wajah ibu-ibu kita di masa lalu ADALAH PERSETUJUAN MEREKA dan PENERIMAAN MEREKA atas segala sesuatu yang terjadi.

Ya dulu mereka belum punya akun Facebook ajeeee. Belom paham kalau perempuan bisa berdaya berdikari dengan berbagai macam cara walau tetap stay di rumah.

Hidup yang mereka tahu yang cebokin pantat-pantat anak-anaknya, memasak dari pagi sampai malam, sembari menyapu mengepel sampe encok, capek ditelan sendiri, soalnya pilihan apa yang mereka punya????

Zaman dulu ya bisa gitu tepok-tepok paha si kecil ampe bobok sambil ngecek PO lewat Whatsapp dan komen-komen IG. Gak perlu sering-sering keluar rumah, duit bisa ngalir masuk. Abang-abang JNE dah ada yang mau jemput langsung ke rumah.

Buibu, yang kalian gunakan untuk scrolling di medsos dan pencet info sana sini, kepoin foto orang sana sini terus resah sendiri terus cemburu sendiri terus stres sendiri kan JARI-JARI KALIAN SENDIRI.

Pengaruh media sosial

Apa organ tubuh kalian ada yang mengendalikan? NOPE.

You are the remote of your own fingers. Jarimu pilihanmu. Medsos dipakek buat rumpi-rumpi buat banding-bandingin yo cari penyakit ????.

Mau balik ke masa lalu? Monggoooooooo ???. Tinggal deaktivasi atau hapus akun sekalian, beres. Sisain WA buat hal-hal yang penting dan komunikasi kekinian. Tapi FYI, whatsapp tuh sarang hoaks yang paling susah dibendung loh ;).

GENDER SEGREGATION, YAY OR NAY ??

Tantangan untuk memperlakukan kasus perkosaan selayaknya tindakan kriminal yang lain memang sangat berat. Gimana gak berat, yang kontra seringnya justru bagian dari kaum perempuan itu sendiri :(.

Di videonya ini Nandini sarkas ya di awal-awal. Nonton sampai habis. Harusnya sih sarkasnya kelihatan banget. Tapi ada aja komen orang yang salah paham.

Ada kasus perkosaan kakek usia 83 tahun kepada cucu perempuannya yang berusia 12 tahun. Seorang ibu-ibu asal Malaysia berkomentar bahwa kita tidak bisa 100% menyalahkan si Kakek.

Kesalahan bisa jadi ada pada si Nenek yang tidak bisa memuaskan nafsu si Kakek. Sehingga Kakek harus nonton film porno terus Kakek ngaceng terus akhirnya memperkosa cucunya sendiri. Kasihan kan si Kakek? ????

Tapi iya kok. Seambruk apa pun logika ini, ini adalah logika yang sangat umum yang diyakini oleh sebagian kaum perempuan juga loh.

Misalnya teman saya pernah komentar soal cara perempuan pakai baju. Dia pakai ilustrasi begini, ada remaja laki-laki nonton acara tentang liputan di pantai. Terus ada cewe-cewe pakai bikini. Si remaja laki-laki terangsang. Eh terus ketemu anak perempuan tetangga. Diperkosanya. Yang salah : embak-embak di TV yang pakai bikini.

1. Apakah semua remaja laki-laki yang menonton perempuan berbikini di pantai akan otomatis pengin memperkosa? Kalau IYA maka logikanya sudah tepat.

Kalau ternyata tidak, justru yang menarik dan bisa dieksplore lebih jauh : mengapa ada remaja laki-laki yang nonton acara begituan dan terangsang juga tapi kok ternyata tidak diikuti oleh tindakan ingin memperkosa?

2. Sulit sekali memaksa seluruh dunia untuk ikut berpegang pada nilai yang kita yakini. Even if you are moslem. Karena PERBEDAAN itu adalah keniscayaan bagian dari takdir.

Kalau si remaja laki-laki susah menahan nafsu, ya jangan nonton gituan. Kecuali dia dipaksa ya? “Pokoknya kamu harus nonton, kalau enggak kamu saya bunuh!”

3. Si embak-embak pakai bikini nun jauh di mungkin di Miami – Florida kenal ama si mas-mas remajanya aja enggak kok ya tahu-tahu si embak yang harus menerima siksa api neraka toh ya *pijetKening*.

Justru jangan-jangan loh justru segregasi yang terlalu tajam antara laki-laki dan perempuan sejak lahir kalau perlu (hahaha) yang memicu sulitnya kedua gender ini merasa SETARA. Ingat ya, SETARA, bukan SAMA DENGAN.

Seperti biru vs merah misalnya. Keduanya sama-sama warna. Enggak bisa bilang biru adalah warna yang lebih mulia. Atau merah seharusnya punya tingkatan lebih tinggi daripada biru. NOPE. Keduanya SETARA.

Dalam beberapa hal, biru lebih pas untuk digunakan. Di hal-hal lainnya, merah dianggap lebih cocok. Tapi dalam banyak hal, keduanya banyak kesempatan untuk dianggap “setara” ;).

Wilayah India dan sekitar yang sangat tajam segregasi perempuan vs laki-laki sejak kecil :(. Makanya pelecehan seksual terhadap perempuan di wilayah ini cukup marak. Sulitnya, pelecehan seksual ini sering sekali bebannya diarahkan ke perempuan :(.

Perempuan yang harus tanggung jawab ini itu. Ngurus anak, ngurus rumah, ditambah lagi, ngurus nafsu seks suami, karena ingat, suami selingkuh atau memperkosa perempuan lain tak lain karena istrinya kurang memuaskan -_-.

Lemahnya penegakan hukum di urusan perkosaan (ya gimana dong ya, kadang lapor ke polisi pun, polisi rata-rata laki-laki, dan pernah ada kasus polisinya malah nanya balik, “Kamu kok ngakunya diperkosa udah 2x kok baru lapor sekarang. Doyan kamu ya?”

W O W . . .

Subhanallah. Emang dikiranya begitu habis diperkosa, detik itu juga, kita bisa langsung buru-buru naik angkot lapor polisi gitu ya. Belum lagi kalau pelakunya orang terdekat.

Kasus laki-laki yang memperkosa adik iparnya yang janda yang tinggal menumpang pada mereka. Dilema banget. Nama baik keluarga bisa terancam. Boro-boro si lakik yang kena, jangan-jangan malah si janda ini yang bisa berantem sama kakaknya sendiri.

KOmentar netijen (PEREMPUAN!) juga dahsyat. “Yah, pasti yang salah yang janda lah. Tau sendiri kan janda. Emang bawaannya godain laki orang. Jauh-jauh dari janda lah pokoknya.”

Ya nanti jandanya dinikahin ama suamimu Mbak, kamu salahin juga jandanya.

Makanya menjadi LAKI-LAKI itu memang PRIVILEGE tersendiri ;).

Saya kebayang itu kasus kakek usia 83 tahun anggaplah istrinya 73 tahun. Terus si Kakek masih minta jatah gitu, ya, pada istrinya yang mungkin mereka udah sama-sama pikun. Tapi terus jadi pembenaran buat POLIGAMI ????.

“Makanya izinkan kami poligami daripada kami perkosa-perkosa anak cucu sendiri ye kaaaaannn…”

Kalian pernah nonton filmnya Charlize Theron “North Country” diangkat dari kisah nyata. Theron menjadi pekerja tambang perempuan. Sampai diperkosa segala. Bukan, bukan karena dia pakai baju seksi. Ya coba aja lu pakai bikini di tambang -_-.

Semata karena laki-laki merasa kehadiran Theron di tambang sebagai ancaman. Dan perkosaan itu adalah hukuman kepada Theron. “Heloooo lu itu cuma perempuan. Girls are weaker so that you know. Nih gue perkosa lu, mau apa lu, mau apa lu ….”

Pernah dengar soal relasi kuasa? Ada artikel ringannya di sini.

Jadi sebenarnya tindakan atau penampilan perempuan justru sering tidak ada hubungannya dengan kasus perkosaan. Dan perkosaan ini bisa melibatkan orang-orang yang sudah saling kenal, loh.

Dosen kepada mahasiswi, om kepada ponakan, kakek kepada cucu.

Perampokan di malam hari juga tidak sedikit yang diikuti dengan tindakan perkosaan kepada tuan rumah perempuan loh. Ya gimana atuhlah, lagi bobok juga kudu pakai gamis dan cadar apa gimana ini ??.

Mendalami masalah-masalah beginian sudah seharusnya disebarluaskan terus. Jangan semua-mua masalah diselesaikan dengan :

1. Memisahkan tangga anak perempuan dan anak laki-laki biar gak colek-colekan.

Ajarkan anak-anak dong untuk saling menghargai, tidak boleh menyentuh badan lawan jenis untuk iseng atau untuk menggoda. Tegakkan aturan, awasi, awasi, awasi! Jangan malaaaaasss.

Mau jalan pintas aje –> Pisahkan saja tangganya! Biar guru yang usah repot-repot mendidik dan mengawasi dan menegakkan peraturan?

2. Bikin edaran wajib pakai jilbab buat murid perempuan. Berlindung di balik aturan agama. Tapi coba aja diskusi panjang lebar pasti ujung-ujungnya ke situ, “Ya itu sebenernya buat kepentingan perempuan sendiri. Untuk keamanan mereka sendiri.”

Wrong!

menghilangkan trauma pelecehan seksual
Gambar : soundgirls.org

Anak laki-laki ya diajarin dong, “NO MEANS NO”. Perkosaan itu tindakan kriminal TIDAK PEDULI SI PEREMPUANNYA LAGI PAKAI BAJU APA.

Mencuri itu tidak boleh walau ada dompet terkapar di jalan tanpa pemilik dan duit ratusan ribu nyembul-nyembul dari dalam dompet.

Why does it so hard to understand?

Btw, segragasi perempuan dan laki-laki di usia sekolah jangan-jangan malah mempertajam stereotip laki-laki dan perempuan. Memperkuat relasi kuasa antara gender.

Waktu kecil, kalau bulan puasa main di masjid teringat dulu ada Pak Ustaz yang bilang ke kami, “Perempuan nanti lebih banyak yang neraka karena calleda’. Makanya ndak boleh itu dekat-dekat laki-laki sama perempuan.” (Calleda’ = centil).

Apa dia akan mengatakan hal yang sama pada kasus perkosaan anak perempuan umur 6 tahun oleh ayah kandungnya sendiri? Secalleda’ apa itu anak umur 6 tahun sampai bisa memperdaya ayahnya untuk memperkosanya?

It was so sad to admit that some of religious belief are part of this mess ???.

La La Land : A Man We Love VS A Man We Need?

Tadinya gak tertarik mau nonton “La La Land”, salah satu nominator The Best Picture Oscar 2017 ini.

First of all, gak doyan film MUSIKAL. Yup, dari dulu kutidak pernah tahu mengapa orang-orang tergila-gila pada film “Sound of Music” :p.

Baca Juga : “Review Film : Love, Rosie”

Alasan kedua, kok ya temanya nampak receh. Sepasang kekasih bertemu dan saling beradu mimpi di kota semacam Hollywood bla bla bla yadda yadda yadda. What’s new?

Waktu itu akhirnya nonton karena pengin banget nonton film tapi dari semua judul yang ada dalam list gak ketemu streaming yang oke. Jadi yah, daripada nonton ngasal-ngasal iseng lihat-lihat nominator Best Picture Oscar. Dan pilihan jatuh pada … La La Land ;).

Btw, berusaha untuk tidak spoiler dalam mereview film. Tapi ini kan film jadul masa belum nonton, sih? 😀

Ini film ringan. Ringan banget. Tapi tidak sereceh yang saya bayangkan. Mungkin sama seperti buku, many times it’s not about WHAT YOU WRITE but HOW YOU WRITE IT. 

Baca Juga : “Review Film : 500 Days of Summer”

Sama kayak memasak juga ya. Dari bahan-bahan yang sama tapi kalau yang masak beda tangan, outputnya juga bisa beda. 

Nontonnya tanpa beban walo baper sangat pas ending. Tidak terlupakan momen mereka saling memandang di scene penghabisan. 

Natural ending sih sebenarnya.  Cuma ya gimana dong yaaaaaa huhuhu.

Baca Juga : “Review Film Korea Pemenang Oscar : PARASITE”

Casual love story antara Sebastian (Ryan Gosling yang emang hobinya maen di pilem-pilem emessshhh, not a fan of his movies tapi inget The Notebook, yes?) dan Mia (Emma Stone).

Mereka berdua enggak sengaja kenalan di masa-masa sedang mencari peruntungan di dunia hiburan di La La Land. 

Seb, tergila-gila dengan musik jazz yang ternyata secara materi kurang menjanjikan. Sementara Neng Mia bolak balik ikut casting sana sini untuk memenuhi impian menjadi aktris nan hits.

Walau sama-sama kebelet jadi seleb, toh tetap saja mereka dari dunia yang berbeda. Awalnya Mia sempat meledek Seb yang dikiranya hanya pemain band iseng-iseng pengisi acara pesta-pesta tanggung ala seleb-wannabe yang lagi pansos-pansos an hihihi. 

Baca Juga : “Review Film : 96, Geliat film-film Kollywood”

Seb juga sempat meledek Mia yang ternyata saat itu memang hanya berprofesi sebagai seorang barista.

SEB : So you’re an actress? I thought you looked familiar. Have I seen you in anything?

MIA : Uhh, the coffee shop on the Warner Brothers lot, that’s a classic.

SEB : Oh I see.

MIA : Yeah.

SEB : So you’re a barista? And I can see how you could then look down on me from all the way up there.

Standar ya. Tapi terhibur banget dengan akting mereka berdua. Mungkin  tantangan juga untuk berakting spesial di adegan-adegan yang sebenarnya sangat standar ini :D. Pas banget jika dua-duanya dapat nominasi Oscar. Emma Stone won anyway ;). 

 

Emma Stone – Pemeran Utama Perempuan Terbaik Oscar 2017, film : La La Land (Gambar : vanityfair.com)

Seb pernah mencoba meninggalkan genre musik kecintaannya dengan ikut kelompok musik yang lagi hits dan akhirnya bisa ikut tur ke mana-mana. Tapi idealisme seringnya gak bisa bohong. 

Baca Juga : “Review Film : The Favorite”

Begitulah kisahnya berjalan. Seb dan Mia bahu membahu menghadapi banyak kekesalan, kekecewaan  

Cerita mengalir sangat asyik. Makanya endingnya terasa menyakitkan. Rasional tapi ya itu … periiiiihhh :p.

Gambar : pixabay.com

Proses menuju ending terasa mendadak. Tapi mungkin di sini ya terserah penafsiran penonton. Lagian apa yang terjadi ya sudah sering lah kita temukan dalam kisah-kisah percintaan dalam dunia selebriti bahkan dalam dunia kita sehari-hari.

Maksudnya jadi gimana  dengan judul tulisannya? Ya makanya nonton sendiri sanaaaaaaaa hahahaha :p. 

 

Tempat Yoga di Jakarta Selatan : Active Barn Kemang

Sudah dua  tahun terakhir sudah ada wacana mau balik ke Jakarta … for good! Walau baru  sekadar wacana, persiapan sudah sangat dini dilakukan, termasuk nyari-nyari tempat yoga di Jakarta Selatan. Amat sangat dini kami kira hahaha.

Belajar nyetir kan juga biar nanti balik ke Jakarta bisa lincah gerak sana sini. Saya takut naik Grab, Gojek, gitu-gitu huhuhu.

Kalau dari posisi tempat tinggal ya paling pas memang wilayah Kemang. Dan dari ubek-ubek Instagram setahun terakhir ini tertarik banget sama Active Barn Kemang. Catat, ini bukan endorsement yaaaaaaa hehehe.

yoga di jakarta selatan active barn kemang

Salah satu resolusi tahun 2019, dan sebenarnya sudah menjadi resolusi rutin sejak 3-4 tahun terakhir (hahahaha) … YOGA!

Gak mudeng-mudeng mau belajar via YOutube. Kok kayaknya ragu aja gitu pemula cuma ngandelin video-video Youtube. Lagian kalau sendirian gak semangat gitu. Ngantuk dan males :p.

Lihat tren emak-emak di Jakarta, yoga rame-rame, kok ya seruuuuuuu ^_^.

Di Active Barn ini juga yang menarik pop up class nya yang macem-macem gitu. Gini ya, kalau nge-gym kan udah puas pas masih gadis dulu #benerinAnduk :p.

Terus LARI bareng juga lagi nge-tren tapi saya gak terlalu suka lari. Enggak kuat dan gak terlalu tertarik. Makanya di Ireland tuh banyakan jalan kaki aja ke mana-mana. Suami yang lebih suka lari.

Pop Up class itu misalnya Hot Yoga, Pound Fit, TRX, Mat Pilates, dan Yin & Yang Yoga. Sebenernya sudah pernah iseng-iseng Pilates via video-video Youtube juga. Ada mirip-miripnya ya sama Yoga.

Active Barn memang menawarkan macam-macam kelas. Tapi tetap saja kelas Yoga-nya lumayan variatif.

yoga di jakarta selatan

Hot Yoga ini yang bikin penasaran. Soalnya bisa bikin keringetan abis. Duh, seru, ya. Di sini juga ada studio-studio Yoga. Tapi mungkin karena kota kecil peminat tidak terlalu  banyak jadi kelas terbatas. Lagian males Yoga bareng emak-emak bule. Pasti ngobrolnya cuacaaaaaa melulu. Gak bisa rumpi-rumpi syantiek -_-.

Selain area Kemang itu dekat dari rumah, di sana kan juga banyak tempat nongki-nongki, ya. Saya perhatikan juga di IG abis yoga bareng-bareng terus cemil-cemil rame-rame jugak. Ecieeee dah mau jadi anak kafe-kafe ini hahaha.

Udah suntuk ini tinggal di dusun, pengin banget punya komunitas emak-emak kalau seandainya pindah ke Jakarta. Harapannya sih bisa pindah ke kota-kota besar lain di luar Indonesia #eh :p.

Gak papah, pokoknya rencana aja dulu. Realisasi bisa kapan-kapan :p.

Bukan berarti sekarang-sekarang udah give up belajar Yoga, ya. Tetap sih rajin pantengin beberapa tutorial yoga via Youtube. Salah satu yang populer itu channelnya Adrienne. Tapi saya kurang suka kalau dese suka ngobrol gitu kalau lagi ngajarin. Tapi ya emang harus diterangin sih ya gerakan-gerakannya.

Kalau ada rekomendasi youtube channel yoga yang ciamik punya, boleh ditulis di komentar ya, Sista-sista sekalian ^_^.