Every Little (Good) Thing You Do is Magic ;)

“Every little (good) thing you do is magic”, mungkin itu adalah salah satu pesan penting yang saya bawa sampai sekarang mengenai pertemanan di dunia maya dengan salah satu dari#10finalisSrikandiBlogger2014, Mak Arin- Murtiyarini.

Perhelatan akbar tahunan dari “Kumpulan Emak-emak Blogger” dgelar kembali di tahun 2014 . 10 Finalis telah terpilih. Salah satunya ya si Mak Arin ini :D.

***

Menerbitkan buku secara indie di 2012, “Bunda of Arabia”, stresnya ternyata bukan hanya saat menyusun isinya. Bahkan, puncaknya justru pada saat penjualan. Nyut-nyutan abis, deh, hahaha .

Saat sukses menjual 800 eksemplar cetakan pertama, tetap nekat (meski lebih ke arah emosional) ketika kembali mencetak 800 eksemplar di cetakan ke-2 . Penjualan padat merayap. Hingga akhirnya bosan sendiri.

Suami bilang, “Posting dong di grup-grup ibu-ibu yang kamu ikuti.” Saya ogah-ogahan. Setengah mati saya inbox satu persatu teman-teman di FB yang hanya kenal dari dunia maya saja yang merespons hanya seujung kuku hehehe. Apalagi kalau cuma tahu-tahu datang pasang iklan di grup 😛.

Ya sudahlah. Sudah putus asa juga. Semangat sudah menguap. Saya berandai-andai pagi itu, kalau saya posting dan ada yang merespons, mungkin itu tanda bahwa “Masih ada harapan” . Saya posting di salah satu grup yang juga ada Mak Arin di dalamnya. Waktu itu Mak Arin masih menjadi salah satu ‘guru’ dan turut membagi tips mengenai menembus media cetak 🙂.

Tips-tipsnya memang joss dan enggak pakai basa basi. Segala alamat media, tata cara sampai sedetil-detilnya selalu dibagi tiap minggu. Wajar, Mak Arin menjadi salah satu ‘seleb’ dan ‘cikgu penting’ di sana hehe.

Setelah saya posting, beneran lho, tak lama ada inbox masuk. Kaget sekali. Dari Mak Arin, enggak pakai basa basi, “Saya tertarik membeli bukunya. Transfer ke mana, ya?”

Waduh, jangan ditanya senangnya. Surprise banget. Kenal enggak kok tahu-tahu mau beli bukunya, ya. Padahal Mak Arin juga bukan tipe orang yang gampang kasihan dan sering berbasa basi . Itu menurut saya pribadi ya, Mak Arin. Jangan tersinggung hihihi.

Semangat langsung bangkit lagi. Seminggu penuh, padahal sudah inbox membabi buta , daftar pembeli masih kosong! Tentu menjadi geer tiada terkira saat sang “Ratu Media” (yang belakangan juga sukses menjadi “Ratu Kontes” :P) tiba-tiba tertarik dengan buku indie saya.

Padahal mungkin Mak Arin enggak ada niat sok-sok jadi pahlawan hehe. Buatnya, ya biasa-biasa saja. Kebetulan tertarik dan mau beli. Untuknya, hal ini seperti percikan api kecil yang mungkin tak terlalu bermakna. Sementara saya melihatnya bagai kembang api berhamburan di udara hahahahaha.

Like I’ve said, “Every llittle (good) thing you do is magic” 😉.

Ya namanya juga lagi putus asa. Langit mendadak kelam. Matahari sudah terbenam. Kita sering menangisi matahari yang menghilang dan tidak sadar jika airmata menghalangi pandangan kita untuk bersaksi akan indahnya bintang-bintang di angkasa malam 🙂.

Mungkin, terlalu susah bagi kita untuk bertingkah seperti Sang Surya. Seorang diri memancarkan begitu banyak kebaikan ke seluruh penjuru bumi. Hanya memberi tak harap kembali pula. Berat, bukan? hihihi 😛.

Namun, menurut orang bijak, “Mustahil menjadi orang yang sempurna. Tapi ada jutaan cara untuk menjadi orang yang baik” .

Tidak harus menjadi mentari . Cukup menjadi salah satu bintang-bintang kecil yang pastinya akan selalu mendapat tempat di seluruh penjuru langit :).

Sekecil apa pun, berbuat baik memang jangan ditunda-tunda, ya. Siapa yang tahu yang kecil-kecil itu ternyata merupakan keajaiban besar bagi orang yang dituju. We’ll never know. 

Walau tak ada jaminan juga, sekerlip kecil bintang pasti akan mendapatkan penghargaan yang semestinya. But … “The good you do today, people will often forget tomorrow; Do good anyway!”

People often forget. But I did not hehehe.

Good luck, Mak Arin 😉.

Enjoy the video ^_^.

https://www.youtube.com/watch?v=BTt0XhEpUxY

Kumpulan Emak2 Blogger adalah wadah persatuan dari perempuan-perempuan Indonesia yang doyan ngeblog . Entah anda adalah perempuan kantoran, perempuan yang bekerja dari rumah, perempuan yang dijuluki ibu rumah tangga, perempuan yang pakai ART maupun tidak hihihihi, semuanya ADA dan berbagi cerita.

Selamat juga kepada 9 finalis yang lainnya. Teruslah menebarkan inspirasi positif tanpa membuahkan energi negatif. Sesuai tag kami, “Kami ada untuk berbagi” :).

Mbak arin solo 4

Hidup Tanpa ART di Luar Negeri … Hebatkah?

Beberapa teman yang tinggal di luar negeri ada yang nyinyir dan menganggap ketergantungan pada ART itu budaya ‘manja’ nan feodal.

 

Saya sebenarnya kepengin bilang ke mereka, “Yo wis, pada pulang sana ke Jakarta. Tenteng anak sama suami dan tinggallah di Jakarta dan jalani hidup yang seperti kalian lakukan di luar negeri yang super mandiri dan tidak butuh siapa-siapa itu.” Hehehe.

Hidup tanpa ART di Luar Negeri … hmm?

 

Kalau untuk saya pribadi, ini tak melulu masalah manja atau mental. Karena di Arab Saudi pun, budaya ber-embak ini masih sangat lazim. Apakah ada hubungannya dengan agama? Ya pastinya enggak. Karena di Iran yang juga mayoritas muslim, kehidupannya sudah seperti negara maju, jarang yang pakai embak ^_^.

Masalah pertama, kesenjangan sosial-ekonomi. Bukan masalah budaya feodal juga. Karena saya pernah senyum-senyum mendengar 2 orang ibu-ibu di sekolah anak saya yang berambut pirang yang mengeluh soal mereka capek habis pulang liburan. Mereka terpikir mengambil asisten rumah tangga tapi mereka marah-marah karena upahnya kegedean menurut mereka.

Iyalah, dengar-dengar jasa tukang bersih-bersih rumah bisa 20 euro per jam. 20 euro = 320 ribu rupiah, per jam!!!!

See? Orang-orang bule ini pun sebenarnya ada keinginan juga kok menggunakan jasa embak. Tapi mungkin enggak yang tiap hari gitu hehehe.

Kesenjangan sosial ekonomi yang tinggal di negara-negara berkembang membuat hadirnya tenaga-tenaga kerja murah meriah. Walau sudah mulai banyak yang kapok memakai jasa embak yang stay-at-home, orang-orang mulai melirik jasa tenaga pulang pergi. Atau spesialis nyetrika doang atau nyapu-ngepel doang. Mengapa? Ya karena jauh lebih murah timbang kita yang ngerjain sendiri.

Saya ingat, waktu ngontrak, saya ogah menggunakan jasa tukang bersih-bersih. Kakak saya butuh. Kakak saya juga tidak sempat mencuci bajunya sendiri. Mau beli mesin cuci, ogah juga, siapa yang ngurusin jemur dan nyetrikanya. Jadi, kakak saya punya bibik khusus. Honornya 300 ribu rupiah sebulan untuk mencuci dan menyetrika saja. Jauh lebih murah daripada gaji kakak saya sebulan di kantornya 🙂.

Tentu lain cerita bila si bibik menuntut gaji 3 juta sebulan. See? Kesenjangan ekonomi.

Masalah kedua, fasilitas dan kondisi. Di negara-negara maju macam Irlandia, yang namanya mesin cuci otomatis (pencet dan langsung kering istilahnya hihihi) dan dish washer (mesin pencuci piring) tidak tergolong barang mewah. Setiap apartemen ya standarnya begitu. Kegiatan berbelanja dan fasilitas umum lain dibuat senyaman mungkin.

Di kota-kota besar negara maju, angkutan umum lengkap dan asoy. Bawa stroller saja bisa banget tuh naik kereta atau naik bus umum. Nah, coba di Jakarta, dijitak gak tuh sama supir Kopaja atau transJ kalau sudah sesak begitu eh berani-beraninya mau masukin stroller hahaha.

Mental ibu-ibunya ya tentu terbangun dari lingkungan tempat mereka berada. Makanya, saya meyakini, ibu-ibu Indonesia yang tinggal di luar negeri dan ‘bawel’ itu (mungkin) sebagian besar tak punya pengalaman menjadi ibu rumah tangga di Jakarta. Mungkin, lho, ya. Soalnya kalau ditanya-tanya memang begitu. Begitu menikah langsung pindah ke luar negeri, melahirkan pun di luar negeri.

Oh well …

akun gosip

Saya juga yakin, ibu-ibu Indonesia yang terbiasa dengan embak jangan risau jika harus tinggal di luar negeri. Saya menjadi buktinya hihihi. Terbiasa hidup dengan orang ketiga (si embak) di Jakarta, saya nyaris tidak mengalami syok apa-apa kok dalam kerjaan rumah tangga begitu pindah ke Jeddah. Itu karena di Jeddah banyak jajanan hahaha.

Tapiiii…dari Jeddah ke Athlone pun ya rasanya biasa-biasa saja alhamdulillah.

 

Justru, saya bersyukur bisa mendapat kesempatan tinggal di luar negeri. Amit-amit kalau sampai menjadikan kesempatan indah ini untuk ‘nyinyir’ pada teman-teman sesama ibu RT di Jakarta yang masih banyak menggunakan asisten.

Takut, ah. Takut rezekinya di luar negeri keburu abis hahahhahaha. Saya maunya pulang ke tanah air kalau tak punya balita lagi.

Kalau anak-anak sudah besar, sudah saya hitung-hitung, nih, insya Allah sanggup hidup tanpa ART sama sekali di Jakarta 😀. Baik yang pulang pergi sekali pun 😉.

Saya menyadari betul, saya sungguh diuntungkan oleh kondisi dan situasi lingkungan di negara-negara maju. Yang membuat ibu-ibu seperti saya tak perlu bertambah puyeng dengan drama asisten yang konon katanya lebih sakit daripada ditinggal pacar hahahahaha.

Dan di atas itu semua, memang tak baiklah menghina-hina orang lain yang kita anggap lebih ‘rendah’ daripada kita. Siapalah kita. Saya kagum sama ibu-ibu RT di Jakarta yang sanggup hidup tanpa ART sama sekali. Tapi juga tak merasa heran dan memaklumi 100% jika ada yang memilih menggunakan jasa orang ketiga, baik yang menginap di rumah maupun yang pulang pergi.

Yang tinggal di luar negeri, mari bersyukur. Yang tinggal di Indonesia (especially Jakarta, karena saya tak punya pengalaman menjadi ibu RT di kota lain hehehe), juga harus bersyukur.

“At some point, you gotta let go, and sit still, and allow contentment to come to you.”
― Elizabeth Gilbert, Eat, Pray, Love

Semua ibu-ibu itu pasti keren, kok. Whether they’re using ART or not, saya jamin, keren semuaaaaaaaaaa <3.

Each Life Unravels Differently

Barusan baca tulisan teman tentang “Kacamata Pelangi” dalam menyikapi ‘pergaulan’ di dunia digital (internet). Kalau dia mengaku tak terlalu berani menulis hal-hal yang kontroversial. Seorang teman lain juga berkomentar, lebih suka menulis yang ‘damai-damai saja’.
Gambar : asacinta.blogspot.com
Gambar : asacinta.blogspot.com

Nah, definisi yang ‘damai-damai saja’ ini seperti apa, ya? Hihihi. Karena kalau sudah menyangkut ‘ranah opini’, percayalah, istilah ‘damai-damai saja’ ini bisa dibilang nyaris tidak ada. Jadi, mungkin maksud mereka, lebih suka menghindari berbagi opini hehehe.

Kan bisa menulis tentang perkembangan anak sendiri misalnya, kerajinan-kerajinan tangan (lucu kan, kalau kita posting tentang craft ada yang nyinyir? Sirik iya hihihihi), tentang biografi orang tertentu, intinya yang sifatnya deskriptif tentang hal tertentu. Bukan opini yang pasti . Menulis resep-resep masakan juga bisa dibilang damai atau berbagi tulisan jalan-jalan yang HANYA membahas tentang tempatnya saja.

Dulu, saat menulis tulisan “Every Mom Has Her Own Battle” itu saya merasa damai. Kan tujuannya mendamaikan sekte-sekte para ibu yang makin gencar saja nyinyir menyinyirnya . Ternyata, komentar-komentar yang tidak damai juga banyak hahahaha. Namanya opini, tidak harus seragam tidak mesti semua setuju 😉.

Bahkan yang menyangkut prinsip-prinsip universal seperti keikhlasan, kerja keras dan empati misalnya. Biasanya berbenturan dengan agama hal-hal yang seperti ini . Masih ada semacam sikap, “Dahulukan yang seiman.” Apalagi di negara-negara macam Indonesia yang mayoritasnya masih menganut paham tertentu. Dijamin bakal ‘ramai’ kalau berani mengupas masalah muamalah antar agama. Minimal agak sulit melepaskan diri dari cap ‘liberal’ atau ‘JIL’ yang kayaknya jidat eike sudah penuh dengan cap-cap semacam ini hahahahaha.

Tulisan yang saya maksud adalah tulisan “Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada.” Lumayan capek menghapus komentar-komentar yang ngajak berantem hehehe. Tuh kan, saya ini sebenarnya senang yang damai-damai, kok *pasangSeringaiSerigala* hahhaha.

Ini tulisan ke-2 yang membahas hal yang agak mirip itu, Jika surga dan neraka tak pernah ada versi 2 lah :D. 

Btw, saya pernah menulis semacam sekuel dari “Every Mom Has Her Own Battle” hihihi. Umm..harusnya sih damai, dong, ya . Karena saya ini tergolong stay at home Mom, kok. Tapi saya tak suka membayangkan bila semua perempuan punya pikiran sama seperti saya.

Athlone, 2013
Athlone, 2013

Aduh, bayangkan kalau tidak ada dokter perempuan! Dokter kandungan lah minimal. Dua kali melahirkan, di Jeddah dan Jakarta, saya selalu sreg-nya dengan dokter perempuan hehehe. Perawat juga. Agak risih saja kalau membayangkan seluruh perawat di rumah sakit seluruh dunia adalah laki-laki!

Terus, tidak rela juga kalau dosen-dosen di universitas didominasi oleh laki-laki hehe. Atau customer service di bank-bank laki-laki semua. Iiihhh, kita kan juga pengin curhat panjang lebar tanpa khawatir bakal disangka genit. Eh, saya pernah menolak dilayani CS laki-laki dii sebuah bank swasta karena lebih nyaman ngobrol-ngobrol sama embak-embaknya aja. Keluhannya banyak iniiiiiiii hahahahaha –> emak-emak bawel bermulut silet :P.

Itulah mungkin kelebihan utamanya Pelangi 🙂. Yang digambarkan dengan sangat relevan oleh teman saya tadi. Kita suka lupa, yang membuat sesuatu terlihat indah itu adalah keberagamannya. Aduh, garing banget kalau dunia ini hanya dipenuhi satu pikiran doang . Kalau semua orang pendiam misalnya. Laaah, kan sunyi, yak –> alibi dari perempuan bawel hahahaha.

“Don’t let your luggage define your travels, each life unravels differently.”
― Shane Koyczan
Hidup ini tidak hitam putih. Begitu banyak mimpi dan harapan serta cara tiap ibu untuk bahagia.Bukan egois. Simpel saja. Bagaimana mau menumbuhkan cinta di ladang kita untuk suami dan anak-anak kalau tanah tempatnya tumbuh malah gersang? 🙂
Mari menyikapi dan belajar dari hikmah perbedaan yang memang selamanya akan ada ini.
Mati gaya ini mau nulis panjang-panjang kek biasa hehe. Jadi, singkat saja dan tebar-tebar link tulisan-tulisan lama 😛 dan foto-foto narsis hahaha. 
Mushrifah - Jeddah, 2012
Mushrifah – Jeddah, 2012
***

Let It Go, Let It Go

“Let it go, let it go … couldn’t keep it in, Heaven knows I tried …
Don’t let them know, don’t let them see …”

Film “Frozen” pas sekali menjadi hits kala musim dingin tengah melanda belahan utara dunia.

Saat berjalan hampir mencapai pintu gerbang gedung apartemen di kamis pagi kemarin, pemandangan mendadak berubah. Kapas-kapas putih berjatuhan dari langit.

Bukan pertama kali saya bertemu hujan salju. Sudah pernah beberapa kali. Pas sedang tidak ingin keluar rumah pula waktu itu. Mengintip lewat kaca jendela saja. Biasanya … hujan saljunya sedikit dan tidak lama.

Tapi pagi itu, lebat, booooo … Irlandia memang tidak akrab dengan hujan salju. It’s not something common here. Sudah terlanjur mau berangkat ke sekolah. Sempat ingin balik badan untuk berteduh. Dipikir, hujan enggak lama, 5 menit beres.

Untung saya tetap berangkat, salju terus mengguyur lebat sampai 30 menit.

Di jalan, awalnya Nabil heboh, “Mommie, look at your coat, it’s all white. Look at the road! Look at Narda’s stroller.” Norak-norak bergembira lah pokoknya, pertama kali jalan-jalan di bawah guyuran salju. Tapi sumpah, dingin, gilak.

Karena tidak mengira bakal turun salju, saya dan Nabil tidak membawa sarung tangan. Setengah perjalanan, Nabil mulai menggigil, “Mommie, I can’t hold the umbrella. My hands are freezing.”

“Deket lagi kok. Payungnya jangan dilepas.”

Maksudnya dia, dia pengin masukin tangannya ke dalam saku sementara saya tak bisa membantu memegang payung. Eike kan kudu dorong stroller.

Untungnya, sampai sekolah Nabil langsung hepi lagi.

Pulang ke rumah, saking khusyuknya menikmati hujan salju (hahaha), tak sadar tangan sudah memerah. Begitu masuk, rasanya sakit banget. Tapi tetap ya boo, buru-buru nyalain laptop, online di skype, nelepon suami nun jauh di Amerika Latin sana, “Papaaaaaaa, barusan hujan salju. Lebat banget. Ih, seruuuu…”

Suami yang masih muka bantal hanya bisa bengong mendengar bininya koar-koar enggak jelas. Hahaha.

Beberapa menit setiba di rumah telapak tangan sakit banget dan merahnya agak lama baru memudar, tetap saja senyum-senyum sendiri. Dalam hati terus bergumam, “It’s really beautiful. No regret.” 

***

Mungkin, memimpikan berjalan di bawah salju seperti memimpikan gelar seorang ibu. Sebelum hamil, pikir kita, ah, pasti senang banget kalau hamil-melahirkan-merawat anak dan seterusnya. Intinya, diharap yang indah-indahnya saja.

Giliran hamil, mabok berbulan-bulan sepanjang hari. Melahirkan jangan dikira enteng. Mau normal, mau via SC, perjuangannya tetap bikin ngelap keringat. Apalagi giliran merawatnya, du-du-du-du … antara mau bersenandung atau mau jambak-jambak rambut ini hihihi. It’s not easy but still… it’s beautiful 🙂.

Musim dingin berlalu, kala musim semi bergantian musim panas, rasanya pengin melihat salju lagi. Sama dengan punya anak. Begitu sudah lewat masa-masa ‘sulit’, kembali gelendotan ke suami, “Pa, bikin lagi, yuk!” Hahaha.

Menjadi perempuan, dramanya tidak sedikit. Sudah pakemnya hehehe. Dari usia sekolah sirik-sirikan model rambut, pas abege rebutan laki-laik #eh , begitu dewasa – menikah – punya anak, ajang kompetisi berlanjut ke masalah anak.

Waktu masih bekerja sehabis melahirkan dan pas ngantor rutin mengunjungi nursery untuk memompa ASI, ada kejadian unik.

Suatu sore, saya masuk ke dalam ruangan nursery seperti biasa. Tumben, sepi. Saya pikir tidak ada orang, karena ruangannya berbentuk huruf L. Eh, tiba-tiba terdengar suara teman yang lagi menelepon. Kira-kira dia memberikan instruksi seperti ini,

“Iya, kasih saja susu yang itu. Kalau habis, kaleng barunya ada di lemari dapur. Tempat biasa.”

Saya tahu itu suara siapa. Saya sudah keburu masuk. Saat dia berbalik badan melihat saya, dia mendadak gagap.

Akhirnya saya yang duluan bersuara, “Dicampur? Enggak apa-apa. Gue dulu sebelum lancar mompa, sempat ngasih sufor, lho.”

Dia tersenyum kikuk, “I..iya, nih. Anaknya rakus. ASI pas-pasan.”

Dia menuju pintu, sebelum keluar, dia menengok sebentar dan berbisik malu-malu, “Mbak, jangan cerita ke yang lain, ya.”

“Sip, sip.”

Sebagai sesama ibu-ibu, saya paham maksudnya.

Selama ini, dia sudah masuk ‘geng ASI’. Selalu ikut gencar bercerita soal ASI dan semacamnya. Tak sulit menerka mengapa dia merasa perlu ‘menyembunyikan’ soal si sufor tadi. Maklum, beberapa memang tergolong ‘garis keras’ hehe.

Ada semacam ‘konsekuensi’ yang harus ditanggung kalau sampai ketahuan memberi sufor . Termasuk rasa tengsin karena selama ini sudah ‘berdusta’ kali.

cara memikat hati wanita

Saya sebenarnya tidak setuju dengan beberapa penggiat ASI (terutama yang ‘garis keras’ :P) yang ngotot bahwa kampanye harus gencar dan beruntun karena masih banyak ibu-ibu yang sebenarnya enggak ngasih ASI karena tidak paham. Hm, tidak juga.

Saya tahu tidak sedikit teman-teman yang memutuskan untuk tidak memberi ASI atau sudah berniat memberi ASI hanya sampai usia tertentu yang tidak optimal menurut pakar ASI. Bukan karena mereka tidak paham soal manfaat ASI dll. Heloooo, era internet begini . Mereka pun bukan kalangan tidak berpendidikan. They don’t do that simply because they don’t want to 🙂.

Sebagian tidak malu-malu mengaku, “Repot. Apalagi gue suka bepergian ke luar negeri. Lagian kalau sufor kan bisa ganti-gantian sama suami. Kadang lembur juga gue di kantor. Capek.”

Tentu, tak berarti dia tidak sayang anaknya dong, ah. Mang situ siapa sampai hendak menjudge, “IBU MACAM APAHH KAMUUU?”

Saya pernah memutuskan unsubsribe dari sebuah forum ibu-ibu karena ‘berantem’ dengan seorang aktivis ASI yang berani melabeli sufor sebagai ‘racun’. Padahal kami tahu, isi forum tak cuma ibu-ibu yang tengah berjuang ASI ekslusif. Ini mau kampanye atau nakut-nakutin orang, sih?

Judgement seperti ini yang membuat sebagian lagi merasa gentar untuk jujur. Contohnya ya kasus teman tadi yang akhirnya berakting rajin ikut memompa ASI padahal sebenarnya anaknya sudah mengkonsumi 70% sufor.

Di masa-masa ‘dunia’ memprotes ‘pola didik ala Budaya Timur’ yang dianggap menafikan kebebasan anak, Amy Chua menyeruak dengan bukunya yang menjadi best seller kala itu, “The Battle Hymn of TheTiger Mom.” Amy Chua blak-blakan menuliskan caranya mendidik para gadisnya yang diungkapkannya sebagai, “Cara Ibu Cina.”

Tentu saja, pro kontra bermunculan.

Sempat hits pula masalah homeschooling. Pro kontra calistung di usia balita yang sempat ramai di forum tertentu yang bikin saya geleng-geleng kepala. Ada yang menuduh calistung di usia balita sudah tidak zaman. Tidak ada negara maju yang menerapkan calistung pada anak sekolah usia balita. Kata siapa? Sini, sini, sekolahin anak di Irlandia. Di sini, di sekolah anak saya, dari usia 4 tahun, calistung sudah diajarkan secara ketat.

Belum lagi pertentangan yang hingga kini  masih menduduki posisi jawara dalam urusan nyinyir-nyinyiran ala emak-emak, SAHM vs WM. Repot ini urusannya karena sudah sering bawa-bawa surga dan neraka.

“To believe in your choice you don’t need to prove that other people’s choices are wrong.”– Paulo Coelho

Hal-hal seperti ini yang membuat sebagian ibu jadi gamang. Sibuk mencari pembenaran. Ingat, “Every Mom Has Her Own Battle” . Jangan risau. Tak guna berbohong yang tidak penting.

Gelar ibu kan tidak otomatis membuat kita sempurna. Namanya manusia. Sudah punya anak pun tidak menuntut kita menjadi dewa.

Melahirkan normal atau SC, hendak terus berkarier di luar rumah atau melepaskan kesempatan untuk berdedikasi dari rumah, mau menjadi “Tiger Mom” atau “Rabbit Mom” , ingin memberi ASI sampai profesor hihihi atau memutuskan untuk memberi sufor, berangan-angan homeschooling atau tetap stay di ‘sekolah formal’ … it’s all yours.

Namun, hendaknya disadari. Bersama setiap keputusan, ada konsekuensi yang mengikuti. Be prepared .

Bukan ini yang seharusnya kita perjuangkan, “I would do anything to make YOU happy.”

Mungkin lebih tepat bila kita, ibu-ibu, punya ikrar begini, “I would do anything to make US happy” 

Apa pun pilihannya, bertahan saja dengan keputusan yang dirasa terbaik yang sudah diambil. There were moments when you believed you were the smartest Mom in the world and then incidentally you were hit by the fact that someone else was doing much better somewhere out there. Suddenly, you felt lost. Lesson learned : Being grateful all the time is challenging 🙂.

Rumput tetangga selalu lebih hijau.

” … And the fears that once controlled me
Can’t get to me at all.” -Let It Go-

Apa yang kita takutkan? Lupakan pencitraan. Anak-anak jangan dijadikan ajang kompetisi masing-masing ibunya. Ingat, mereka bukan beban. Mereka separuh hati kita . Seorang ibu tetap menjadi pribadi yang utuh terlepas dari akan menjadi apa anak-anaknya kelak.

Just be yourself, Mommies. Let it go, let it go 🙂.

Seperti apa pun ‘citra Ibu’ yang kita pilih, let’s celebrate our own choices. Selamat hari Ibu 🙂.

***

Diciptakan Alam … Pria dan Wanita

Ditakdirkan bahwa pria berkuasa
Ada pun wanita lemah lembut manja

Begitu kira-kira penggalan lagu lawas, “Sabda Alam”. Enggak familiar? Tapi pasti langsung ngeh dengan lirik yang ini “Wanita dijajah pria sejak dulu…” Itu dari lagu yang sama.

Pria berkuasa, wanita lemah lembut, itu pakem umumnya :D. Diciptakan alam, pria dan wanita :).

Bagi yang mengenal saya secara personal, pernah ketemu langsung dan berinteraksi di dunia nyata, semua juga tahu … lemah-lembut-manja is definitely NOT ME! Hahaha.

Tapi kan itulah gunanya diciptakan macam-macam manusia. Perempuan pun tidak diciptakan seragam ;).

Waktu saya SMA, saya punya sahabat. Dengan perangainya yang anggun, bodinya yang oke, tampangnya yang imut, tak heran yang naksir sampai antre :D. You know who you are. Kapan kita biskal-biskal lagi, Ces :P. Kalau secara umum di tanah air bilangnya curhat (curahan hati), abege Makassar di tahun 90 an bilangnya, biskal (bisikan kalbu) :D.

Pernah suatu hari, untuk kesekian kalinya dia curhat, “Bagaimanami ini. Menelepon terus ki. Malasku’ deh…” (Gimana nih? Dia menelepon terus. Malas, deh).

Saya merespons dengan gemas, “Ka jammoko angkatki telponnya. Kasi tau orang di rumahmu. Kalo meneleponki lagi, bilang saja kau tida’ ada.” (Jangan diangkat teleponnya. Beritahu orang di rumahmu. Kalau dia menelepon, bilang saja kau tidak ada).

“Tauwa. Nda’ tegaku. Kasiannya kodong kalau begitu.” (Aduh, enggak tega. Kasihan dia nanti).

Ya kan saya jadi gatal-gatal sendiri. Apa susahnya sih menolak telepon dari orang yang tidak kita sukai? –> raja tega dari dulu :P. Simpel ya, Bo. Tidak suka, jangan diladenin. Saya pribadi selalu kurang nyaman dengan situasi tidak seimbang macam ini dan selalu ingin buru-buru mengakhiri.

Saya punya satu cara fantastis yang saya lakukan untuk mencegah kode ‘salah alamat’ seperti ini :P. Kalau saya naksir pada seorang teman, seluruh dunia pasti tahu! Hahaha. Cek saja, tidak di SMP, SMA, kuliah sampai ngantor juga begitu. Harapannya, dengan begitu, yang mau ‘maju’ sudah rontok duluan. Jadi, tak perlu ada drama dan semacamnya.

I love drama for sure. I just don’t feel like I wanna be a part of it :P.

Geer banget, macam banyak yang naksir saja. Mending geer daripada minder hihihi :P.

Blak-blakan saja :D. Suka bilang suka. Walau tak umum, perempuan yang ‘maju’ duluan. Konsekuensinya juga berat, sih. Karena seringnya gagal hahahaha.

Repotnya, begitu gagal, dalam hati sudah berdamai, tapi susah memberitahu pada lingkungan bahwa, “All is well. I’m moving on.” Orang-orang tetap saja merasa kasihan. Puk-puk Jihan, cintanya ditolak! Oh heloooo, kalau naksir orang ya jangan satu, dong. Hahahaha.

Dulu pas ngantor, ingat banget. Ceritanya, kecengan eike merit aja gitu hahaha. Setelah itu,  semingguan, sepanjang hari diputerin lagu “Pupus”nya Dewa. Ngeledek banget dah :D. Etapi, lagunya emang bagus, kok. Masih ada yang ingat? 😉

Tentu, tidak semua perempuan seperti saya. Yang tidak malu terbahak-bahak di kantin tanpa menutup mulut sama sekali :D. Yang tidak segan memasang tanda dengan jelas tanpa basa basi “Stop sampai disitu.” jika mendapat ‘serangan salah alamat’ :P. Serta tak ragu menunjukkan rasa suka walaupun pihak seberang belum pasang ancang-ancang hahaha. Masa lalu ya booo … masa lalu :P. Jangan diingkari, mari diambil hikmahnya ^_^.

Jangan salah. Di balik kelembutan dan kemanjaan perempuan, kekuatannya juga tidak main-main :).

Namun adakala prla tak berdaya
Tekuk lutut di sudut kerling wanita

Harta-tahta-wanita konon adalah cobaan terbesar untuk para laki-laki.

Perempuan dan laki-laki itu harusnya saling melengkapi. Bukan adu keren-kerenan hehehe.

Namun lantas, janganlah kelembutan perempuan (pada umumnya) disalahartikan sebagai persetujuan. Menilik kasus yang menimpa seorang sastrawan besar inisial SS, terus terang istilah ‘suka sama suka’ ini mengganggu sekali :(.

Beberapa orang sampai mempertanyakan, “Kok baru berani mengadu setelah hamil berbulan-bulan?”

Perempuan tak sama dengan laki-laki :). Pahami itu dulu. Sepadan tapi tak sama. Manalagi masalah dan hukum yang masih kurang ‘berpihak’ pada kasus-kasus seperti ini.

Gambar : interestingtopics.net
Gambar : interestingtopics.net

Saya pernah membaca sebuah kasus di Amerika Serikat, tentang seorang PSK yang berani melaporkan sebuah pelecehan seksual yang dilakukan pada dirinya. PSK, lho. Kalau di Indonesia pasti sudah dicibir duluan. Betapa hukum negara di sana sudah sedemikian ‘canggih’nya melindungi sebagian besar bentuk kejahatan yang menimpa siapa pun :D. Well, more or less ya. Mana ada hukum yang sempurna kecuali datangnya dari Sang Pencipta ;).

Tak usah saya berpendapat panjang-panjang soal SS. Mari langsung disimak tulisan dari Ayu Utami di link ini. Btw, I’m not her fan, sih :). Tak sedikit pemikirannya yang berseberangan dengan saya.

Tapi, banyak orang menuduh para sastrawan ‘liberal’ (whatever this means, karena penggunaannya sudah mulai seenaknya sih ya *sedih*) berusaha ‘melindungi’ si SS. Ayu Utami punya pendapat berbeda :).

Ayu menuliskannya dengan runut, indah, tidak menuduh dan tidak menghujat :). Monggo dibaca :). Duh, kalau yang nulis sastrawan memang ‘beda’, ya ^_^.

https://ayuutami.com/mengapa-kita-tak-pantas-lagi-bilang-suka-sama-suka/