This Best Feeling in The World ^_^

Waktu pindah kerja, gaji naik. LIngkungan kerja berubah. Isenglah saya meng-upgrade merek kosmetik. Eh, setelah pakai bedak yang agak mentereng, entah kenapa kepikiran gini, “Ish, sayang nih, muka udah agak bagusan, masa sepatu masih gocap!” Hahahhahaha. Apa coba hubungannya? -_-.

kata kata hidup sederhana
Sumpah, ini bukan saya! Hahaha (gambar : commons.wikimedia.org)

Terasa enteng saja mau beli sepatu yang agak bagusan. Merasa berhak. Helooooo … gaji sudah naik toh ya? :p. Punya sepatu agak bagus, pikiran makin korslet, tas gimana tas? Masa mau terus-terusan pakai yang gocapan? Hihihihi. Beli deh tas yang agak bagusan :D.

Dari tas, makin gelisah, “Tas oke, sepatu maknyus, baju gimana baju? Celana gimana celana?”

Pergilah ke toko-toko baju yang agak bagusan. Biasanya kan berkeliaran di ITC ajah hihihihi. Nah, pas beli baju ini kepikiran lagi, “Hm, dalam seminggu harus 5x ganti baju + celana. Enggak lucu dong, hari senin pakai baju mahal, selasa balik ke yang gocapan. Berarti harus agak banyak nih belinya.”

Huaaaaa, lagak lagunya yang sudah punya gaji lebih :D. Bolak balik masuk ruang ganti nenteng-nenteng baju dan celana. Sesuatu yang tidak lazim dilakukan dulu.

Waktu itu saya ingat, kartu ATM saya bermasalah. Kartu kredit ketinggalan di rumah. Uang cash seadanya saja. Bisa sih, keluar sebentar narik tunai di mesin ATM, tapi udah capek gonta ganti baju dan bergaya bak model depan kaca ruang ganti hahhhahahahaha. OKB sekaleeeeee :p.

Untuk ke toko baju dengan leluasa memang hanya memungkinkan dilakukan di hari libur saat weekend. Malas ngajak pacar. Dia bawel hahahaha. Ya sudah, ayo kita tunggu minggu depan.

Best Feeling in the world Gambar : telegraph.co.uk
Gambar : telegraph.co.uk

Sembari menunggu itu makin macam-macam ya pikiran. Dari baju sekarang mau coba upgrade celana/bawahan. Terus diceritain soal krim muka macam-macam sama teman. Ada yang bisa bikin muka jadi kinclong kayak artis gitu lah. Gagal jadi artis, ya tidak mengapalah minimal bisa mirip artis hahahaha.

Nah, terus jadi mikir lagi, apa nanti bakal naik metromini atau KRL ekonomi terus? Sepatu bagus, tas bagus, baju juga sebentar lagi bakal mau dibeli, dan lain-lain apa masih pantas naik metromini? Gengsi dong! :v :v :v.

Terus nanti kalau sudah naik taksi, tempat kos harus pindah dong. Dan apa mungkin dengan penampilan yang nanti dikhayalkan mentereng begitu masih mau makan siang di tempat ecek-ecek? Makin panjang saja ceritanya :D.

Lama-lama saya menertawakan diri saya sendiri. Hahahahahaha. Sampai kapan mau begitu terus? :p.

Subhanallah, lemahnya kita sebagai manusia ya :).

For your info, weekend berikutnya tidak satu pun saya beli baju-baju yang sudah habis-habisan saya jajal di kamar ganti toko seminggu sebelumnya :). Belum apa-apa sudah capek dulu mikirinnya hihihihi.

Sudah terbebani duluan. Kalau baju-baju bagus apa bisa dimasukin laundry kiloan murah meriah standar mahasiswa di sekitaran kos saya? Jangan-jangan saya juga harus mempertimbangkan gimana biaya perawatan bla bla bla nya :D.

Karena untuk urusan tas saja, kakak saya berceramah panjang lebar kalau tas biar awet itu harus begini begitu. Repot amat! Ah, enakan pas tas murmer. Habis pakai bisa langsung lempar sana sini tanpa harus khawatir bakal rusak apa gimana-gimana hihihi. Rusak pun tak perih hati ini mengenang harganya :p.

Dan memang terasa, sekali melangkah, cukup susah untuk direm. Karena tidak ada habisnya. Tas yang dulu dirasa keren seantero jagad raya, hanya dalam tempo sebulan sudah terlihat membosankan. Pengin punya lagi dan lagi. Sepatu juga begitu. Baju apalagi karena mode kan berkembang pesat ya :D.

Saya merasa pantas, merasa berhak. Untung cepat-cepat disentil sama Tuhan hehehehe. Jangan belagu, Neng. Baru gaji segitu :p.

Setelah menikah kalau tak pandai menguasai diri mungkin akan terjebak dalam pusaran yang sama. Contoh : habis beli rumah. Saatnya ngisi rumah. Awalnya mungkin sederhana saja. Punya duit lebih, mulai gonta-ganti. Ganti televisi dulu. Ganti yang gede. Terus terpikir, televisi gede kok sofanya gini doang. Ganti sofa. Eh, sekalian sama meja satu set ah, masa sofa udah keren, mejanya kucel.

Habis itu, merasa perlu punya rak. Abis itu masa sofa set sudah keren ada rak pula, lantainya enggak pakai karpet? Beli karpet baru. Karpet keren, masa lampunya cimik-cimik? Beli lampu kristal! :D.

Hingga akhirnya terasa … kok rumahnya jadi kecil ya? Yaiyalah, beli-beli barang melulu hihihihi. Suami sudah punya duit lebih. Ya beli rumah baru dong. And here we go again. RUmah baru lebih besar. Semua barang-barang tadi terasa tidak cukup. Ganti lagi. Televisi yang lebih besar lagi,, sofa yang lebih mewah lagi, lampu kristal yang susunannya lebih panjang lagi, endebre, endebre, endebre…

Best Feeling in the world (gambar : buyinghouse.info)
Ini juga bukan rumah saya la yaowww! 😀 (gambar : buyinghouse.info)

Mau sampai kapan? :).

Kapan tenangnya hidup? Ada uang lebih, upgrade gaya hidup. Uang lebih banyak lagi, upgrade gaya hidup. Dari isi rumah merembet ke tempat liburan, tempat makan, merek mobil, endebre, endebre, endebre.

Why not? Uangnya ada. We deserve better!

Really???

Ternyata rumusnya bukan begitu. Jangan sampai kita menyandarkan makna hidup pada dinding yang salah. Karena sebaik-baik manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi banyak orang. Bukan merek baju atau tasnya, ya, Kakaaaa hehehe ;).

Karena kalau keinginan terus yang kita ikuti, tidak akan ada habisnya. On and on and on … Harta itu memang cobaan ya ternyata.

Mengapa harus begitu? Uang sedikit, uang banyak, tak ada yang harus diubah ^_^. Suami gaji rupiah, gaji dolar, gaji riyal, gaji euro, merek bedak tidak harus ngikut kurs kan? Hihihihi. Merek parfum tidak harus otomatis berganti begitu angka di tabungan suami melonjak naik :D.

Bagus kalau takdir membawa kita ke posisi yang lebih baik. Tapi kalau sebaliknya. Nasib malah menjatuhkan kita ke bawah? Susah kan? Sudah biasa pakai yang mahal-mahal, makan mewah-mewah, liburan keren-keren, apa sanggup downgrade ke bawah? Belum menahan gengsi dan malu :D.

Mendingan kita biasa-biasa saja terus. Harta berlimpah, harta pas-pasan, tak perlu jor-joran ^_^. Tetap stabil. Sehingga hidup kita tak pernah dikendalikan oleh kemewahan. Tak sebegitu terluka saat tadinya bergelimang harta harus tiba-tiba terhempas jatuh :(. Jangan gengsi naik angkot walau suami sanggup beli pesawat! Ha? Suaminya kerja di mana Mbak? Hahaha.

Banyak barang itu banyak pikiran. Iya gak sih? Pusing saban mau keluar rumah. Mau pakai baju yang mana, jilbab yang mana, tas yang mana. Coba punya mantel cuma satu biji. Setiap mau keluar rumah, tidak rusuh pikiran! Wong cuma punya satu! Hahhahaahha. Satu lagi lah buat emergency in case yang satunya kotor padahal winternya bisa berbulan-bulan ;).

Sepatu punya 10 pasang! Saya jamin pusingnya 5 x lebih berat daripada yang cuma punya 2 pasang! :v :v.

Kalau pesan Warren Buffet, “Manusia yang membuat barang. Bukan barang yang membuat manusia.”

Jangan sampai kita berusaha mengidentifikasi diri kita, menunjukkan diri pada dunia berdasarkan barang yang menempel di badan. Terbalik ittuuhhhh! :D.

Again .. jangan menyandarkan hidup pada dinding yang salah ;).

Ini nasihat buat saya juga hihihihi. Maklumlah, perempuan gitu lho :v :v :v. Pegangan mesti kenceng di musim diskon begini hahahahhhha.

Letakkanlah dunia di tanganmu, bukan di hatimu. Jangan sampai tertukar. Di tanganmu, bukan di hatimu ;).

The best feeling in the world is realizing that you’re perfectly happy without the thing you thought you needed
– marxie

Have a nice weekend ^_^.

kata kata hidup sederhana
Gambar : radioparadise.com

 

Perempuan Bicara Masalah Finansial : Tiga Sisi Mata Uang

Sebentar lagi jenazah akan dibawa pergi untuk prosesi pemakaman. Ruang tamu yang tadinya cukup hening mendadak ribut-ribut. Ibu saya jatuh pingsan. Akhirnya, jenazah bapak diantar tanpa kehadiran Ibu.

Bapak meninggal mendadak. Tiada angin tiada hujan. Tanpa pernah sekali pun dirawat di rumah sakit, tidak pernah terbaring kesakitan di rumah. Pergi begitu saja meninggalkan seorang istri dan ketujuh anak-anaknya. Ketujuh anak-anak yang belum satu pun ‘menetas’. Yang tertua masih duduk di  bangku kuliah, yang bungsu belum genap berusia setahun.

Mungkin, saya pun akan pingsan ketika berada di posisi ibu saat itu.

Gambar : thegrindstone.com
Gambar : thegrindstone.com

Dua puluh dua tahun lalu, malam itu, seperti biasa Bapak berangkat mengendarai Vespa hijau tuanya untuk bermain bulutangkis bersama teman-teman di sebuah lapangan.

Dua jam kemudian, dering telepon mengabarkan kalau bapak tiba-tiba tumbang di lapangan dan langsung dilarikan ke rumah sakit. Lima belas menit setelah itu, telepon kembali berdering. Hanya 5 menit di ruang gawat darurat, serangan jantung membawa Bapak pergi untuk selamanya.

Seperti kondisi Ibu, seorang kerabat perempuan yang saya kenal juga mengalami hal yang sama. Di usia yang terbilang belum terlalu tua dengan anak-anak yang belum beranjak dewasa, mendadak ditinggal pergi oleh suami. Tapi kondisi ibu dan kerabat ini cukup kontras.

Setelah Terhantam Badai Tak Terduga

Gambar : pikiran-rakyat.com  masalah finansial perempuan
Gambar : pikiran-rakyat.com

Selama Bapak ada, Ibu saya cukup aktif menemani beliau mencari nafkah untuk keluarga. Ibu bahkan memiliki usaha jahit sendiri, walau kecil-kecilan. Bapak saya sendiri adalah seorang pedagang eceran yang sudah memiliki kios sendiri di Pasar Sentral yang berlokasi cukup dekat dari rumah.

Tetap saja, pasca kematian Bapak, badai ekonomi perlahan tapi pasti menghantam kehidupan finansial keluarga. Satu demi satu, dari kios di pasar hingga rumah 3 lantai yang kami tempati, harus dijual. Akhirnya, kami berpencar dan tinggal menumpang di rumah-rumah kerabat lain. Jujur saja, saat-saat itu adalah salah satu masa terberat yang harus saya lewati.

Setelah saya dewasa barulah saya mengingat-ingat kembali, di mananya yang salah?

Karena sebenarnya saat Bapak meninggal, barang di kios lagi penuh-penuhnya. Tak ada cicilan apa pun kecuali cicilan barang-barang jualan yang seharusnya bisa dilunasi jika barang sudah terjual. Memang ada pinjaman usah dari bank, tapi nilai jual rumah dan kios serta isinya jauuuuh melebihi utang tersebut. Mengapa bisa bangkrut?

Belakangan saya ketahui, kontrol keuangan ada di Bapak sepenuhnya. Ibu bahkan cukup kesulitan menagih utang-utang para pelanggan yang kebanyakan tinggal di kota-kota lain. Selama ini, semuanya di-handle Bapak. Ibu nyaris tidak pernah memegang kendali masalah finansial saat Bapak masih hidup. Karena meninggalnya pun mendadak, tak pernah ada fase hand over.

Menghidupi 7 anak dengan usaha yang terbilang tidak terlalu besar memang cukup menantang. Entahlah bagaimana dulu Bapak mengelolanya. Sepeninggalnya, tabungan terkikis dengan cepat. Antara kaget, kalut dan tidak siap, ketiga hal itulah yang mungkin harus dihadapi oleh ibu saya.

Asuransi, Sang Penolong di Saat Genting

Sementara kerabat lain yang saya ceritakan tadi adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Dalam artian, beliau tidak memiliki penghasilan apa pun. Pendapatan keluarga bergantung sepenuhnya pada pemberian dari suami, seorang pegawai biasa yang juga memiliki sebuah bisnis sederhana.

Kerabat saya tidak sampai bangkrut. Mendengar cerita dari kerabat lain yang lebih dekat dengannya, saya jadi tahu bahwa kerabat ini cukup lihai mengendalikan keuangan keluarga selepas ditinggal suami. Bisnis suami tetap dijalankan seperti biasa. Malah bisa membeli sebuah properti baru yang dijadikan bisnis kos-kosan dari uang asuransi jiwa suaminya.

Bantuan dari dana asuransi. Inilah yang sama sekali tidak ada dalam keluarga Bapak dan Ibu saya. Faktor pendidikan yang memang tidak tinggi dan lingkungan pergaulan di pasar yang sepertinya belum terjamah mengenai masalah asuransi ini.

Tentu tak mudah bagi seorang perempuan jika harus menghadapi ‘badai’ seperti yang pernah dialami oleh ibu dan kerabat tadi. Namanya perempuan. Setegar-tegarnya mencoba bertahan, pastilah ada saja terselip rasa sedih, tidak siap dan mungkin panik.

Gambar : huffingtonpost.com masalah finansial
Gambar : huffingtonpost.com

Saat masa-masa ‘jeda’ tersebut, memiliki asuransi bisa menjadi salah satu penolong dalam situasi sulit.

Every Money-Talk Has 3  Sides of The Story

Jika umumnya tiap kisah memiliki dua sudut pandang yang bisa berbeda layaknya sekeping mata uang yang memiliki 2 sisi, maka perencanaan keuangan memiliki dimensi lebih.

Selama ini fokus hanya tertuju  kepada sisi pendapatan dan pengeluaran. Terlupakan satu sisi yang tidak kalah pentingnya … pengelolaan keuangan :).

Berbicara finansial tidak otomatis membuat makin besar pendapatan makin sukses dalam hal keuangan. Menjaga sinergi antara pendapatan dan pengeluaran via pengelolalaan itulah yang menjadi intinya.

Dalam rumah tangga saya pribadi, terus terang masalah keuangan lebih  banyak didominasi oleh suami. Tapi saya bukannya sama sekali buta. Saya selalu diberitahu soal apa pun termasuk dimintai persetujuan dalam keputusan finansial  walau satu-satunya pencari nafkah dalam keluarga hanyalah suami. Saya sudah memutuskan berhenti bekerja sejak anak pertama belum berusia setahun.

Tak masalah siapa nahkoda keuangan dalam rumah tangga. Tapi pastikan, saat nahkoda mendadak berhalangan, kapal tidak ‘oleng’ dan tetap bisa melaju dengan baik. Untuk istri yang saat ini tak memegang kendali finansial, tetap harus menyiapkan diri jika suatu hari harus menjadi nahkoda pengganti.

Salah satu cara menyiapkan dana khusus yang bisa cair saat-saat ‘masa pelik’ datang adalah dengan asuransi tadi. Masalah klaim yang kadang dijadikan momok bagi sebagian orang tak usah terlalu dikhawatirkan. Asalkan semua keterangan dan dokumen lengkap, proses klaim dapat berjalan lancar.

Pengelolaan keuangan jangan hanya memperhatikan rutinitas periodik laju uang keluar-masuk. Dalam masalah finansial terkini, investasi menjadi tak terelakkan dalam pengelolaan keuangan. Seperti penekanan di cerita di awal, “Sedia payung sebelum hujan,  sedia bunker sebelum badai.”

Investasi terdiri dari macam-macam level. Biasanya, makin besar keuntungan yang diharapkan di masa depan, makin besar pula resiko yang dihadapi. Pengelolaan resiko ini yang biasanya membuat banyak orang ragu. Padahal, investasi dengan resiko cenderung terukur sudah banyak yang ditawarkan. Salah satunya berinvestasi via asuransi.

Asuransi modern tak hanya menawarkan jaminan ‘pasif’ seperti misalnya asuransi yang bersifat proteksi murni. Salah satu keuntungan memiliki asuransi selain resiko yang fleksibel dan terarah adalah, “sambil menyelam minum air.” Menyiapkan proteksi sekaligus berinvestasi. Baik jangka pendek maupun jangka panjang.

perempuan masalah finansial

    • Untuk proteksi jiwa sekaligus investasi ada banyak pilihan produk. Fungsinya bisa bersifat jangka panjang atau pendek dengan fleksibilitas jumlah premi dan rentang periode yang bisa dipilih.
    • Untuk asuransi pendidikan atau pensiun di masa depan juga ada.
    • Perusahaan- perusahaan asuransi masa kini juga banyak yang menjalin kerjasama dengan bank-bank tertentu dalam penawaran produk asuransi.
    • Asuransi berbasis Shariah yang makin  mendapat tempat di tanah air.

Perempuan Layak Memilih 

Banyak pendapat yang seolah ‘mendiskreditkan’ seorang ibu rumah tangga yang tak punya penghasilan. Sementara saya rasa, kaum perempuan seharusnya boleh mempunyai pilihan. Hal yang paling sering menghantui untuk mengambil keputusan berhenti bekerja adalah ketakutan finansial jika tiba-tiba pencari nafkah keluarga tidak ada lagi. Entah bercerai atau meninggal dunia.

Saya selalu percaya, perempuan diciptakan tak sama. Saya menghargai sesama perempuan yang telah menikah jika memutuskan untuk terus berkarier di kantor demi penghasilan tetap. Saya mendukung penuh. Tapi saya pun menghormati rekan lain yang memutuskan untuk fokus di rumah. Walau seringkali, fokus di rumah tak berarti tak memiliki penghasilan sendiri.

Saya maklum, jika berkaca dari pengalaman beliau, Ibu saya awalnya tidak mendukung niat saya berhenti bekerja. Tapi sejujurnya, saya merasa setelah punya anak, prioritas hidup saya sudah berubah. Setelah sebelumnya, sejak lulus kuliah hingga 7 tahun penuh, merintis karier di kantor. Ini pilihan pribadi yang cocok untuk situasi dan kondisi saya. Perempuan lain tak harus menjalankan hal yang sama.

Apakah memutuskan untuk ikut berkarier di luar rumah, mencari penghasilan dari rumah, menghabiskan waktu berfokus pada anak semata, menekuni hobi tanpa perlu memikirkan materi… perempuan selalu layak untuk memilih tanpa tekanan apa pun :). Mari saling menghargai.

Ibu bekerja tak serta merta sanggup memikul beban keuangan jika mendadak harus ada dalam posisi kepala keluarga. Ibu rumah tangga tanpa penghasilan apa-apa pun bisa pun tak selalu pasti terpuruk jika harus ditinggal oleh sang pencari nafkah. Melek finansial adalah keniscayaan bagi seorang perempuan, apa pun status yang dipilihnya setelah menikah.

Mari menetapkan pilihan dan tetap cerdas menyikapi masalah finansial untuk sekarang, besok, dan seterusnya. Pilihan hari ini … penentuan penting untuk hari esok.

sun life cimbsunlife co id  masalah finansial

 

 

The You and The Me .. The Pina and The Colada :D

“Bawangnya seberapa? Merah sama putih sama banyaknya? Atau berapa per berapa? Terus masukinnya kapan itu jahe, lengkuas, serehnya, bareng-bareng? Tahunya sudah matang gimana? Dari baunya atau lamanya? Daging lembek itu dari lamanya atau harus diapain? Masa semua harus dirasa-rasa doang, sih?”

Sampai-sampai mama saya bete banget kali, tuh, di suatu sesi memasak sambal goreng daging di dapur saya hahahahaha. Nyolot amat yang diajarin.

Happy Cooking Mama ^_^ (gambar : destructoid.com)
Happy Cooking Mama ^_^ (gambar : destructoid.com)

Walau saya selalu merasa saya ini orangnya otak kanan banget tapi entah ya sering juga dalam mempelajari sesuatu saya merasa nyaman dengan metode ‘otak kiri’. Macam belajar menyetir sewaktu masih gadis dulu.

Terbuai dengan sebuah artikel di sebuah majalah perempuan di masa-masa jomblo dulu, “Ayo, tahun ini niatkan mempunyai ketrampilan baru yang anda idam-idamkan tapi belum kesampain sampai sekarang.”

Antara berenang, naik sepeda (roda dua! hahaha) dan menyetir mobil. Berenang waktunya susah dan tempatnya terbatas, naik sepeda apalagi. Saya akhirnya mendaftar kursus menyetir mobil . Mobil enggak punya tapi nekat mau belajar nyetir hahaha.

Gambar : theanimatedwoman.com
Gambar : theanimatedwoman.com

“Bang, ini kalau mau belok setirnya diputar berapa derajat kira-kira?”

“Kalau menekan gas pertama kali sampai angka di depan ini nunjuk berapa?”

“Tekannya kira-kira segimana ya? Berapa centi tuh masuknya?” (Apanya yang masuk, Neng? Hahahhahaha).

“Kecepatan berapa kira-kira baru kita ganti gigi? Apa setiap kenaikan 20 km sudah harus ganti gigi?”

Stres gak tuh instrukturnya? Hahahahhhaha . Mau nyetir atau belajar matematika, Neng?

10 tahun berlalu dan kini kembali menghadapi rasa takut di belakang kemudi barulah saya tersadar. Menyetir mobil itu sama dengan memasak. Sama juga dengan menulis. Semuanya bersifat keterampilan. Yang makin dilatih makin terlatih . Apakah perlu punya bakat khusus untuk menyetir, memasak, atau menulis? Everyone can do it for sure ^_^.

Gambar : listverse.com
Gambar : listverse.com

Jadi ingat film Ratatoulie, “Everyone can cook.”

Ha? Jadi semua orang bisa menjadi pembalap, penulis handal dan masterchef kah? Isssh, gak gitu juga kaleeeee .

Kita berbicara dii tahap BISA bukan MAHIR kan, ya? . Kalau masalah bisa memasak dan bisa menyetir memang awalnya begitu. Ribet dulu biasanya .

Cuma naturally, dalam urusan menyetir, laki-laki lebih berani daripada perempuan. Umumnya . Kadang ada juga anomali. Karena adik saya yang perempuan itu cuma butuh sejam untuk belajar naik sepeda roda dua dan 5 menit untuk muter-muter kompleks pakai sepeda motor hihihi.

Urusan memasak? Dulu itu laptop nangkring di atas meja samping kompor untuk memastikan takaran bumbunya pas hahahaha. Sekarang? Saya lihat resep untuk lihat bahan-bahannya saja. Sekadar memastikan. Ukurannya ya cuma pakai feeling saja 😀.

Kalau sudah tiap hari memasak, sudah terbiasa juga dengan bumbu. Improvisasi bukan hal yang sulit.

Gambar : destructoid.com
Gambar : destructoid.com

Tapiiiiiii … jujur saja, saya memasak MURNI karena KEWAJIBAN . Tidak ada niat membuka katering atau memasak untuk lucu-lucuan, diatur-atur di atas piring, dihias-hias, difoto-foto terus diposting deh! Hehehehe. Nope, it’s not me! .

Kalau bikin kue, I don’t care tampilannya macam mana. Rasanya yang saya fokuskan .

Jika ada yang bilang, perempuan HARUS BISA MEMASAK, I’m in! Benar itu. Pasti bisa kok asal mau apalagi kalau kepepet hihihihi .

Tapi kalau ada yang bilang PEREMPUAN HARUS SUKA MEMASAK! Nah, saya kurang setuju hehehe.

Kalau untuk sekadar bisa, segala macam keterampilan standar itu bisa dipelajari. Tapi untuk menyukainya, butuh sentuhan khusus yang namanya … PASSION!

Saya ketawa-ketawa mendengar teman saya di Jeddah dulu bilang gini, “Ih, kok bisa menulis panjang-panjang begitu sebentar banget. Gimana caranya? Apa gak capek ya? Apa gak bete? Gimana tuh luangin waktunya?”

Saya balas, “Lah lo kok bisa bikin siomay segala macam secepat itu gimana caranya? Gak ribet apa? Gimana tuh bisa punya banyak waktu di dapur begitu?”

“Lah, gue kan emang hobi memasak.”

Exactly. Situ hobi masak, sini hobi nulis! *jabatTangan* 😀.

Gambar : techgirl.co.za
Gambar : techgirl.co.za

Jadi, kalau ada yang bertanya, “Duh, pengin jago masak tapi enggak ada waktunya.”

Itu bokis saja berarti hehehe. Because once you’re really eager about something, you will always have time to pursue it.

Mungkin kalau kepengin sesuatu tapi merasa tidak punya waktu, lupakanlah! . Maybe… simply it’s not your passion .

Dan mengapa pula kita harus dipaksakan seragam harus suka ini itu sih? Mengapa perempuan yang memutuskan di rumah harus belajar menulis? Harus suka memasak? Kudu gemar menjahit?

Ada Yin ada Yang. Kalau semua suka memasak, kasihan dong yang terpikir untuk membuka katering untuk cari tambahan. Terus, yang beli siapa? . Kalau semua suka menjahit, bangkrut deh usaha jahit yang banyak juga terdiri dari usaha rumahan kecil-kecilan.

Such a big pressure kalau kita semua dituntut bisa ini itu . Untuk keadaan kepepet, mau tak mau harus dijalani, tapi kalau enggak kepepet, boleh dong ah langganan katering atau beli-beli pernak pernik lucu-lucu hasil karya teman sendiri atau di segambreng toko online yang tersebar di banyak penjuru dunia maya .

Juga yang lagi ngetren masalah membuka usaha sendiri. Duh, saya paling tidak setuju kalau teman yang mencoba menjajakan bisnisnya dengan cara ‘merendahkan’ mereka yang memilih menjadi karyawan.

“Ih, kok mau ya jadi karyawan seumur hidup?”

Hati-hati dong, kalau semua jadi pengusaha terus itu usaha dijalankan dengan apa? Robot? :p.

Which way to choose? Gambar : sterlingeducation.com
Which way to choose? Gambar : sterlingeducation.com

Kayaknya kereeeeeenn banget kalau kita memutuskan untuk berhenti bekerja dengan siklus rutin 9 to 5 untuk memulai usaha sendiri. Merasa bangga tiada terkira. If it’s your passion then we all are happy for you . You go for it, good luck and wish you all the best *gayaCheerLeader*.

Tapi balik lagi. Kita tidak harus seragam kan, ya .

Kenapa memangnya kalau kerja kantoran? Merasa diperbudak? Tidak bebas? Tidak keren? Tidak bisa kaya? Tidak punya kebebasan financial? bla bla bla … Kebebasan financial has nothing to do with whether you’re an employer or an employee. Salah kaprah banget deh itu .

Tidak mengapa jika sebagian dari kita sudah merasa ‘enough’ dengan rutinitas berkantor.

Jangan sampai kebanggaan itu ujung-ujungnya merendahkan profesi lain, sih, ya harusnya. Dihubung-hubungkan dengan “tangan di atas” yang lebih berkah karena banyak membuka lapangan kerja. Balik lagi, kalau semua sibuk membuka lapangan kerja terus itu lapangannya siapa yang ngisi? Hahahaha 😀.

Mari berpikir positif terus dan menjaga keseimbangan hidup. Tidak hanya untuk diri sendiri tapi juga lingkungan. Saling menyemangati itu yang lebih berkah sepertinya ya 😉.

Saat mudik kemarin menyempatkan diri bertemu emak-emak ribet ini. Ribet tapi langsing dong ya kitaaaaa hahahahaha *gakPentingAmat* . Kampus yang sama di angkatan berbeda-beda, bertemu lagi di gedung yang sama di Gatsu sana. Terus, beberapa tahun bareng, sampai akhirnya mencar lagi.

emak emak ribet

Yang satu baru saja pulang dari Michigan dan masih agak-agak gegar budaya di Jakarta hihihi, good luck for your new business anw, Riniiii :D.

Yang satu juga lagi mudik dari Singapura, ngikut suami yang lagi belajar di sana. Eh, kemaren si Dona kagak sharing cita-citanya apa yak. Mau jadi dokter, insyinyur atau apa nih Dona, ke depannya? hahahaha

Terus yang terakhir … teman saya banyak yang sampai sekarang memilih tetap berkarier di kantor yang itu. HIdupnya tetap berwarna. Udah ganti angka ya statusnya. Gajinya bikin ngiri. Huh, harusnya kemarin ditraktir tuh kita semua hahhahaha. Hebantnya, dia tetap bisa meluangkan waktu menekuni hobi menjahitnya . Eike nih kebagian salah satu hasil karyanya .

Thanks ya, Icha ^_^. Sekarang tas-nya udah ke mana-mana ini hihihi.

Dia masih malu mau memasarkan hasil karyanya, katanya belum bagus. Wah di mata saya yang kemampuan menjahitnya mentok di benerin kancing sama jelujur-in jahitan yang lepas sudah keren banget itu tas-nya ♥.

Lagian gaji udah gede ya, Dear, udahlah itu tas-tasnya kasih-kasihin ke gue aja hahahahaha –> bukan teman yang baik!

tas icha

Justru seru kalau berjumpa dengan yang macam-macam ini. Mengobrol ngalor ngidul tentang impian dan cita-cita masing-masing. Tanpa hendak menjustifikasi kehidupan siapa yang lebih keren dan lebih oke? Suka tidak suka, rumput tetangga selalu lebih hijau, kok, biasanya :p.

Mau jadi apa pun mau memilih jalan yang mana pun, yang harus seragam itu adalah perasaan ikhlas-nya, ya :). Being content all the time is the real challenge for all of us :D. Semangat berbaginya juga ^_^.

“Contentment is natural wealth, luxury is artificial poverty.”
― Socrates, Essential Thinkers – Socrates

Yak, sudah keluar kata mutiaranya. Sudah sahih berarti, ya hihihihi.

Bersyukur selalu dalam perbedaan karena yang pasti … tiap jalan kehidupan punya rahasianya masing-masing ;).

“My point is, life is about balance. The good and the bad. The highs and the lows. The pina and the colada.”
― Ellen DeGeneres

Gambar : pettao.com
Gambar : pettao.com

***

Be a Lamp, or Lifeboard, or a Ladder

Florence Nightingale, “The Lady with The Lamp”, menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mengabdi di dunia medis. Florence, salah satu tokoh peletak dasar dalam ilmu keperawatan modern .

Florence lahir dari keluarga sangat berada. Di masa itu, Eropa nyaris tidak mengenal kalangan menengah. Seringnya ya 2 golongan saja. Kalau enggak tajir mampus, berarti super miskin.

Florence dibesarkan dalam rumah besar, memiliki pelayan-pelayan, sering menghadiri pesta-pesta dansa ala bangsawan, keliling eropa pun pernah dijalaninya bersama keluarga besarnya. Lengkap dengan pelayan-pelayan yang setia mengiringi perjalanan mereka dalam sebuah karavan yang sangat besar.

Di masa remaja, Florence merasa tersentuh dengan kehidupan golongan bawah yang sering disaksikannya sendiri. Hatinya memberontak. Namun, seolah hidup dalam 2 dunia, Florence pun menikmati hura-hura abege ala kalangan ningrat di masa itu .

Untuk beberapa lama Florence sempat melupakan janji sucinya yang dituliskannya dalam buku harian di usia belasan dulu. Untuk mengabdikan hidupnya pada kemanusiaan. Larut dalam kesenangan dan pesta-pesta yang kerap dihadirinya.

Menjelang dewasa, Florence kembali gelisah. Dengan mata kepalanya sendiri dia sedih mendapati kenyataan bahwa saat itu pun bahkan agama seolah ‘melegalkan’ takdir bahwa memang Tuhan menginginkan sebagian orang untuk hidup sebegitu miskinnya.

Perempuan-perempuan dari golongan berada hidup dalam kemewahan luar bisa, memakai baju-baju rajutan bagus yang dijahit semalaman oleh perempuan-perempuan miskin. Yang mungkin harus mengorbankan waktu tidur malam mereka demi menyelesaikan gaun-gaun megah tersebut.

Florence bosan dengan hidupnya yang hanya menghabiskan waktu dengan pesta, atau duduk-duduk di depan perapian hampir sepanjang hari. Mengobrol hal-hal yang tidak penting dengan sesama teman-teman bangsawannya.

Saat itu, perempuan dari keluarga kaya tidak boleh bekerja. Yang boleh bekerja hanyalah perempuan-perempuan dari kalangan bawah saja. Niat Florence untuk bekerja membuat syok ibu dan kakak perempuannya.

Florence nekat bekerja (secara sukarela) di sebuah rumah sakit. Kondisi rumah sakit di masa-masa tersebut sangat mengenaskan. Kotor, jorok dan sangat ramai. Florence sangat tertekan diantara tekanan batinnya sendiri dan penolakan orang tuanya atas niatnya untuk mengabdi bagi masyarakat.

Bertahun-tahun Florence sakit keras karena menuruti permintaan keluarga besarnya dan mengubur mimpi sucinya. Hingga akhirnya ibunya merelakan Florence bergabung di sebuah komunitias gereja untuk mempelajari ilmu keperawatan.

Begitulah awalnya hingga akhirnya Florence meretas jalan mendirikan sekolah-sekolah perawat dan mengobarkan semangat agar perempuan-perempuan dari keluarga berada menyumbangkan tenaga mereka di dunia medis. Sekaligus melawan dominasi patrialikal yang sangat kental di Eropa zaman itu. Menumbangkan paham bahwa perempuan seharusnya duduk-duduk manis dalam rumah saja mengurus keluarga.

Ada 2 hal yang menyebabkan Florence hidup berselibat sepanjang hidup. Pertama, dia merasakan ini sebagai panggilan Tuhan. Kedua, Florence merasa dia tak akan sanggup membagi mimpi besarnya ini kepada siapa pun. Dia tak ingin berbagi beban kepada calon anak-anaknya kelak. Belum lagi situasi saat itu tak membiarkan perempuan kalangan atas meninggalkan anak-anak untuk alasan pengabdian pada masyarakat sekali pun.

perempuan mandiri
gambar : en.wikipedia.org

***

Beberapa tahun lalu seorang teman lama menghubungi melalui pesan singkat via ponsel.  Dari sapaan biasa tahu-tahu jadi curhat.

Dia seorang dokter. Menikah di usia muda sehingga saat meraih gelar dokternya, dia sudah memiliki 3 anak usia balita. Saya nyinyirin keinginannya untuk mengasuh anak saja dan melepas karier sebagai dokter.

Kenapa masuk kedokteran kalau kayak gitu? Di universitas negeri pula. Dia sudah merampas hak orang lain yang mungkin memang lebih cocok dan ingin mengabdikan hidup sebagai dokter.

Lama hubungan terputus, dia kembali curhat. Dia gelisah. Ternyata selama ini dia tidak enak pada keluarga besar dan kenalan yang menghujat niatnya untuk menjadi dokter karena harus banyak meninggalkan anak-anak di rumah dengan pengasuh atau asisten rumah tangga.

Padahal menurutnya, suaminya (yang bukan seorang dokter) sangat mendukung niatnya untuk terus berkarier di dunia medis. Ya saya langsung menyemangatinya bertubi-tubi!

Saya tegaskan padanya, saya ini seorang ibu rumah tangga yang memilih untuk di rumah daripada melanjutkan karier di kantor tidak karena perintah siapa pun. Suami saya saja tahu pasti kok, dia tak akan mungkin bisa memerintah saya berhenti ngantor hehehe.

Ini adalah keputusan saya pribadi. Tidak pernah setitik pun saya merasa saya keren saya hebat saya anu saya itu hanya karena dengan pendidikan mumpuni yang saya milliki saya malah memillih di rumah. Simpel. Wanita karier ternyata bukan panggilan jiwa saya, panggilan jiwanya berantem di fesbuk.

Saya semangati. Saya anjurkan untuk mencari pengasuh anak yang baik atau menitip pada kerabat lain anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Toh, dia mengaku tersiksa juga dan tidak benar-benar ikhlas melepaskan niatnya untuk mengabdi menjadi dokter.

Apa gunanya dia di rumah? Mana bisa membesarkan anak-anak dengan bahagia kalau siksaan batinnya seperti itu?

Alhamdulillah. Walau dia cerita susah sekali mencari beasiswa spesialis yang biayanya selangit itu dan harus bersaing dengan banyak dokter muda, dia akhirnya berhasil. I’m proud of you, my girl. Eike sudah bilang, tidak ada kata terlambat ).

Untuk 2 profesi khusus ini : pengajar dan dokter, saya tak pernah segan-segan meminta teman-teman perempuan saya untuk menguatkan hati dan meneruskan pengabdian untuk masyarakat. Niatnya harus benar tapi hehehe. Kecuali jika dengan ikhlas mereka memilih untuk ‘stay at home’ .

Saya ingat kata-kata Ibu Risma di Mata Najwa tempo hari, “Saya minta Tuhan yang menjaga anak-anak saya.” Saking sibuknya mengurus Surabaya, Ibu Risma mengaku, dia sampai tak punya waktu lagi untuk mengurus para buah hatinya. Aku padamulah Ibu Risma :).

perempuan mandiri
Gambar : indonesiaposnews.com

***

Saya yakin sekali, kita tidak diciptakan seragam. Termasuk kaum perempuan. Menjadi perempuan itu memang serba salah, ya .

Tekanan terbesar justru datang dari peer pressure. It really breaks my heart ketika tempo hari beredar sebuah gambar dengan kata-kata yang menusuk hati. Bahkan untuk saya yang seharusnya tidak perlu tersinggung dengan gambar tersebut.

Kata-katanya halus namun menghujam tepat di ulu hati. Tak heran setelah itu banyak teman-teman perempuan yang berpredikat ‘ibu kantoran’ curhat di status masing-masing hahaha.

Gambar tersebut menyindir ibu-ibu yang menitipkan pengasuhan anaknya kepada pengasuh anak / asisten RT dengan sebuah percakapan seorng anak dan ibunya. Sang anak digambarkan sedih karena sang ibu konon tidak rela menyerahkan perhiasan berharganya kepada para embak tapi menyerahkan pengasuhan anaknya kepada embak.

perempuan mandiri

Why do we have to judge each other? 🙁

Seharusnya kita, para perempuan yang kini sudah punya predikat tambahan sebagai ibu, saling menyemangati untuk menjadi versi terbaik dari diri kita masing-masing.

Daripada menghina mereka, ibu kantoran, yang tak sanggup memberikan ASI kepada buah hati, kita desak saja pemerintah untuk memberikan cuti setahun penuh kepada ibu-ibu bekerja yang baru melahirkan. Seperti di negara-negara maju gitu hehehe. Cuti setahun plus digaji pula. Asoy kan? 

Daripada meremehkan mereka yang lulusan PT ternama tapi memilih berada di rumah, kita desak pemerintah menyediakan internet cepat dan murah. Saya tahu pasti dan bergabung di banyak komunitas di mana isinya adalah stay at home Moms yang tetap aktif nyari duit via internet hihihihi. Blogger dan kuter mana suaranya? Hahaha.

Kita harusnya bersatu menyuarakan hak dan kepentingan kita kepada pemerintah. Bukannya malah perang sendiri dan saling mengobarkan propaganda yang menjatuhkan .

Ingatlah Florence Nightingale yang begitu sulit mendobrak dinding yang membatasi gerak perempuan di zamannya. Ingatlah Ibu Risma yang berbesar hati mengabdikan kemampuannya untuk masyarakat Surabaya lebih kepada baktinya untuk keluarganya sendiri.

Memangnya pengin ya, semua perempuan punya pikiran yang sama? Terus enggak akan ada dokter perempuan? Enggak boleh ada perawat perempuan? Dosen dan guru pun hanya boleh untuk laki-laki saja? Itukah yang kita inginkan?

Di masa sekarang, semua perempuan harusnya bisa menjalani peranan apa pun tanpa tekanan apa-apa . Asal ingat, niatnya harus benar . Kalau bekerja hanya untuk beli sepatu dan tas mahal karena suami enggak mau beliin ya gimana ya, hahahahhahaha *ngakakSambilMelet*.

***

Be a lamp, or a lifeboat, or a ladder.
Help someone`s soul heal.
Walk out of your house like a shepherd.

-Rumi-

Pick your own path. Yakini keputusan sendiri tanpa merasa perlu menghujat orang lain dengan pilihan yang berbeda.

Apakah memilih untuk menjadi stay at home mom, menghabiskan waktu lebih banyak di dapur, menenggelamkan hari dengan buku-buku, berkarier di kantor, mengabdi di rumah sakit, membagi ilmu di sekolah/kampus, menulis di blog, sekadar berbagi tips masak di grup-grup WA (it did help a lot!), whatever it is … just be the best version of your own.

Mari saling melengkapi.

Happy belated international’s women day ^_^.

Perempuan mandiri
Gambar : aware.org

***

If Tomorrow Never Comes

“Sembarangan. Gue enggak pernah ya ngomong kayak gitu. Ibu-ibu Perkakas Dapur yang lain juga enggak pernah nuduh-nuduh gitu.” Suara saya meninggi saking sebalnya mendengar tudingan Dandang barusan.

“Lah, gue juga enggak pernah ngelakuin yang lo ceritain barusan. Kalian tuh yang suka fitnah gue.”

“Mana buktinya?”

“Ya pokoknya gue taulah. Kalian ini hobinya ngomong di belakang. Ketemu gue aja pada enggak mau bisanya cuma jelek-jelekin gue.”

Saya makin naik pitam, “Duh, enggak salah, tuh. Kita enggak ke sini ya karena katanya Mbak Dandang udah enggak mau ngomong sama kita lagi.”

“Enggak kebalik? Kalian kali yang suka suudzon. Katanya gue jutek lah, katanya gue suka marah-marah enggak jelas.”

Tuding-tudingan langsung berakhir saat Parutan Keju, yang memang saya minta khusus untuk menemani saya menemui Dandang, melerai kami.

Benarlah selama ini kalau kisruh diantara Ibu-ibu Perkakas Dapur vs Mbak Dandang dipicu oleh kesalahapahaman. Kesalahpahaman yang dibiarkan berlarut-larut karena tidak adanya pihak yang sudi untuk bertabayyun.

Sebelum ke rumah Dandang, kepada Parutan Keju sudah saya ceritakan semuanya. Sudah saya sebut-sebut nama Panci yang saya curigai sebagai ‘tukang kipas’ diantara kami.

Parutan Keju berusia jauh lebih tua diantara kami dan beliau berada di luar lingkaran pertemanan “Ibu-ibu Perkakas Dapur”.

Karena saya tahu pasti, baik saya maupun Dandang adalah sedikit diantara perkakas lain yang tidak takut berkonfrontasi langsung dengan tegangan tinggi sekali pun. Makanya biar enggak korslet, perlu ada Parutan Keju hehehe.

Perlu lebih dari sejam untuk meyakinkan Dandang kalau saya bisa membuktikan semua cuma salah paham. Pasti enggak gampang untuk Dandang karena ternyata selama ini hubungannya tetap rapat dengan Panci. Padahal Panci mengaku sudah tidak akrab lagi dengan Dandang .

Saya ajak langsung Dandang bertemu Panci.

Yang saya inginkan bukan menghukum Panci, kok. Suwer. Benar-benar hanya ingin mengakhiri ketegangan yang sebenarnya berawal dari perselisihan Dandang vs Wajan & Dandang vs Mangkok. Dengan Mangkok saya tidak begitu dekat. Tapi Wajan adalah sahabat karib saya.

Malah, sebelum pertengkaran ini terjadi, Wajan-Dandang-Panci-Saya bisa dibilang kuartet yang paling karib. Kalau mengaji duduknya berempat rapat-rapat, cekikikan sembunyi-sembunyi hihihi. Pernah kejadian listrik di gedung Dandang dan Panci mati, mereka ngibrit ke rumah Wajan.

Saya, yang sudah bisa mencium aroma makan-makan tentunya ikut absen di rumah Wajan. Hahaha *temanMacamApaaahhh* .

Saya tidak rela melihat hubungan yang dulunya harmonis bisa pecah berkeping-keping. Tak hanya antara Mangkok-Wajan vs Dandang.

Ketidakpedulian saya, Sendok, Piring, Gelas dll membuat semuanya terseret. Tiba-tiba saja, it’s us against Dandang!

Padahal mungkin maksud Sendok dan Piring itu baik. Diamkan saja. Yang penting kita tidak ikut-ikutan. Istilahnya, cari aman sendiri . Saya tahu setelah ribut-ribut, Sendok masih dekat dengan Dandang. Piring yang belakangan juga kena hasut.

Pengajian kami terpecah dua. Kelompok arisan bubar. Aroma permusuhan menyebar luas ke seantero ‘rumah’. Tak hanya di ‘dapur’, di ‘ruang tamu’ sampai ‘ruang tidur’ tahu perang dingin antara kami. Malu rasanya.

Singkat cerita, setelah Panci ‘terdesak’, saya usulkan semuanya bertemu. Saya-Panci-Wajan-Dandang dan Mangkok. Yang lainnya entar-entar saja dulu. Dandang menolak konfrontasi. Ya sudah. Saya bilang yang penting ketemu saja. Peluk-pelukan dan saling minta maaf, tidak usah membahas apa-apa lagi.

Saya pulang. Tanpa sepengetahuan saya, Dandang berbicara dengan Panci. Katanya, Panci menangis. Dandang tidak tega. Pertemuan batal. Konon, Wajan akhirnya menelepon Dandang, Mangkok juga. Anehnya, Wajan sempat marah pada saya. “Lu kenapa sih? Dasar gila urusan! Enggak ada kerjaan lain apa, ya?”

Inilah repotnya. Panci jauh lebih dekat kepada Wajan daripada saya. Manalagi, Wajan ini, walau gampang marah dia tidak terlalu suka berkonfrontasi langsung. Dia tidak mau berdiskusi langsung.

Pada kenyataannya, hubungan kami semua dan Dandang tidak membaik.

Gambar : bubblews.com
Gambar : bubblews.com

Awalnya, Dandang tidak sadar. Saya ingat lho sekitar seminggu setelah konfrontasi itu, Dandang membuat acara buka puasa di kediamannya. Harapannya, kami semua datang.

Entah hasutan apa yang dibuat Panci, perwakilan “Perkakas Dapur” hanya ada saya dan Serbet, yang memang sejak awal memilih tidak ikut-ikutan sama sekali.

Mellihat saya datang, Dandang berseri-seri, katanya, “Wajan mana?”

Aduh, saya tidak tega melihat mukanya yang penuh harapan. Saya bilang saja tidak tahu. Padahal Wajan sudah berdalih kalau dia enggak bisa datang karena suaminya kerja malam .

Sepanjang acara, saban ada yang datang, Dandang sontak menengok ke arah pintu. Tapi, yang ditunggu-tunggu tidak pernah datang . Sedih euy ingatnya.

Di situ saya jadi ketakutan sendiri. Pengecutnya langsung keluar. Saya mulai berhitung-hitung. Panci sepertinya ‘lawan’ yang ‘tangguh’. Tentu saja. Dia sudah lebih dahulu membentangkan sayap pertemenan di ‘dalam dapur’. Temannya banyak sekali. Dari ‘ruang tamu’ sampai ‘ruang tengah’, siapa yang tidak kenal Panci?

Saya waktu itu baru bergabung di ‘rumah’ itu. Siapalah saya. Sudahlah orangnya malas berbasa basi, malas datang ke acara ibu-ibu di luar acara ‘dapur’, saya juga terkenal bermulut silet huhuhu. Sementara Panci bersifat seperti malaikat. Kebaikannya sudah melegenda. Saya kagum kok kepadanya. Sifatnya yang ringan tangan kepada siapa saja tanpa pandang bulu memang patut kita acungi jempol .

Manusia … tidak ada yang sempurna 🙂.

Saya menyerah. Wajan sepertinya mulai menjauh. Mangkok memang terkenal pendiam. Jadi, ketika akhirnya Dandang malah bersikap dingin pada saya saat kami bertemu kembali, ya saya bisa bilang apa 🙁.

Walau sakit hati luar biasa, saya hanya berani mengamuk depan suami hahaha.

‘Dapur’ kami sudah mulai ramai. Saya pasrahkan bila memang Dandang yang memang harus terusir. Maaf ya, Mbak Dandang . Hiks. Enggak sanggup saya kalau harus berselisih dengan Mangkok, Wajan, Sendok, Piring, Gelas dan belakangan datanglah Tatakan Piring, Taplak, Toples dll.

Bersama teman-teman baru, ibarat kata, saya memilih menyembunyikan bangkai dalam lemari dan pura-pura tidak tahu saja. Seperti selama ini yang dilakukan oleh Sendok, Piring, Gelas dll.

Dan itu berlangsung terus selama bertahun-tahun. Yup, bertahun-tahun . Bahkan, Panci terus menyeret Tatakan Piring, Taplak dll ke dalam perang dingin. Sungguh lucu.. Mengingat Tatakan Piring, Taplak dll ini kan bahkan tidak kenal dan belum pernah bertemu dengan Dandang.

Sementara itu, hubungan Dandang dan Panci tetap bagai dua sejoli tak terpisahkan.

Gambar : infodapur.com
Gambar : infodapur.com

***

Beberapa hari lalu Dandang mengirimkan pesan kepada saya. Panjang sekali isinya. Sungguh tidak mengira. Akhirnya, sekali lagi, ada yang membongkar muslihat Panci. Kali ini, semuanya melibatkan diri dan konfrontasi kembali dilakukan terang-terangan langsung di rumah Dandang. Panci sengaja tidak diikutsertakan.

Alhamdulillah. Selesai urusan antara Dandang dan ‘seantero dapur’.

Tapi … masalah lain mulai datang. Ini yang sebenarnya ingin sekali saya hindari dulu . Kisruh dengan Dandang terurai, sekarang seperti terlihat Panci menjadi musuh bersama.

Bukannya sok baik. Kalau untuk saya pribadi, berlarut-larutnya masalah ini ya hasil dari kesalahan kita bersama. Dandang sudah diperingati tapi tetap takluk pada airmata Panci atas nama rasa kasihan.

Saya juga oon bin pengecut. Dulu, sudah melangkah sejauh itu tiba-tiba mundur sendiri. Termakan rasa takut karena enggak kehilangan lebih banyak teman. Istilahnya ya itu tadi cari aman sendiri .

Mangkok, Wajan, Sendok, Piring dan Gelas saya rasa juga sudah bisa membaca situasi. Tapi apa daya. Selama ini, tingkah laku Panci yang bak malaikat di hadapan mereka menimbulkan rasa tidak enak yang bermuara pada ketidakpedulian. Alasan klasik, enggak tega.

Belum lagi semangat bertabayyun masih sangat rendah. Telan saja Panci bilang apa. Dibumbu-bumbui kalau perlu.

Ignorance membawa perselisihan ke level yang lebih tinggi. Bertahun-tahun booo. Dan akhirnya melibatkan hampir seisi dapur.

Sebenarnya, ada apa sih antara Panci dan Dandang? Saya bukan psikolog atau psikiater sih hehe. Tapi, sekilas saya menangkap Panci ini tipe orang yang tidak bisa bilang tidak kepada siapa pun. Dia terobsesi untuk menyenangkan semua orang. Mustahil atuh.

Beberapa tahun pertama di ‘dapur’, Panci hanya ikut-ikut di acara ‘ruang tamu’, ‘ruang tidur’ dll. Panci ingin punya komunitas sendiri. Jadi, ketika akhirnya Wajan, Sendok, Piring, Gelas, saya dll datang mengisi ‘dapur’, dia ingin memegang komando. Maklum paling senior.

The problem is, ada Dandang. Secara leadership, Dandang memang juara banget . That’s why I admire her that much . Untuk menghadapi ibu-ibu yang “terserah kata lo” tapi di belakang doyan ngomel ini, memang perlu banget karakter seperti Dandang hahahahaha.

Singkatnya, ‘komando’ yang diidam-idamkan malah jatuh ke tangan Dandang. Mungkin karena itulah, tanpa sadar Panci ingin menjauhkan Dandang dari kami. Mungkin lho, ya hehehe. Sotoy aja nih eike.

Kalau dikatakan Panci jahat, ya tidak bisa begitu juga. Toh, selama ini, Panci sudah begitu rupa menjaga hubungan baik dengan Dandang sebaik dia mengakrabi “Perkakas Dapur” lainnya . Saya rasa, Panci terjebak dalam dustanya sendiri.

Saya pernah ada dalam situasi seperti itu. Waktu SD, saya ini dikenal sebagai Pabote’ alis Pembual hehehe. Saya bersekolah di sekolah swasta yang banyak dihuni oleh para siswa dari kalangan atas. Ada yang anak dokter, anak pengacara terkenal atau minimal anak dosen.

Saya takut kalau mereka tahu saya cuma anak penjual seprei dan gorden di kios kecil di Pasar Sentral, tidak ada yang mau akrab dengan saya. Hehehe. Padahal teman-teman saya tidak sekerdil itu . Saya saja yang lebay.

Akhirnya, saya suka membual tentang saya yang ikut les bahasa inggris seperti mereka, saya ikut les piano, saya punya tante kaya raya yang sering mengajak saya menginap di rumahnya, pokoknya macam-macamlah.

Sekali berbohong, memang dampaknya luar biasa . Lain kali deh kita cerita soal ini hehehe.

Satu kebohongan harus ditutupi oleh kebohongan yang lain. Seperti saya saat itu, saya rasa begitulah posisi Panci selama ini. Panci jelas bukan tipe yang sanggup ‘menyendiri’. Dia sangat tergantung kepada orang-orang di sekitarnya. Apa pun dia lakukan untuk ‘membeli’ kesetiaan semua orang. Termasuk jika harus bergunjing soal orang lain.

Seharusnya, itulah gunanya teman sejati. Sepatutnya … saya, Wajan, Mangkok, Sendok dll yang harus buru-buru mengembalikan Panci ke arah yang benar. Iya dong, namanya sahabat masa mendiamkan jika ada teman yang sedang terperosok? .

Lagian, jangan lupa kebaikan-kebaikan Panci selama ini . Siapa yang menjaga anak-anak kalian saat kalian naik haji? Siapa yang selalu membawakan makanan tambahan di setiap acara pengajian di berbagai rumah? Siapa yang menjaga anak-anak sulung kalian saat kalian melahirkan? Siapa yang paling sering mengorbankan waktu menemani kalian ke sana kemari? .

Memang. Kalau lagi emosi, yang terbayang yang jelek-jeleknya saja. Saya suka gitu soalnya hahaha. Nah, mumpung lagi waras (which is jarang-jarang hihihi), saya ingin mengingatkan kita semua .

Karena apa yang terjadi pada Panci kan tidak 100% kesalahan dia. Saat Dandang meminta maaf pada saya, saya bilang kepada Dandang kalau saya tak menjamin apa yang dikatakan oleh Panci salah semua. Bisa saja saya memang pernah khilaf mengatakan hal-hal yang kurang baik tentang Dandang kepada Panci.

Soal lidah, kita semua tak luput dari khilaf lah ya. Lidah siapa pun gampang keseleo . Jangan sekarang semuanya dipersalahkan kepada Panci . Tidak fair itu namanya hehehe.

Kalau Wajan dulu selalu menutup ruang diskusi dengan mengatakan, “Biarin aja. Biar waktu nanti menyelesaikan.”

Tapi Saudari-saudariku tercinta, kita bukan penguasa waktu. Waktu tak dikendalikan oleh kita. Kita sering pasrah dan berpikiran, “Lihat besok sajalah.” Bagaimana kalau besok itu ternyata tidak pernah terjadi. If tomorrow never comes, what will happen?

Sudah terlalu lama ya. 3 tahun. Kita tidak lagi muda. Waktu yang panjang yang sudah kita lewati seharusnya menjadi proses penting yang tidak boleh disia-siakan. Jangan ditunda-tunda hehe. Menunda-nunda hanya akan membuat syaitan masuk dari segala celah.

Memaafkan memang bukan sifat sembarangan. Kalau menurut Gandhi, hanya orang-orang besar yang sanggup memaafkan. Kalau orang kerdil, jangankan memaafkan, minta maaf saja tidak akan punya nyali. It’s your choice, kesempatan untuk membuktikan orang seperti apakah kita ini .

Kalau temannya berselisih, minimal jangan ditambah-tambahi atau berkumpul untuk membahas satu orang itu saja. Percaya deh, begitulah dulu awalnya perselisihan dengan Dandang muncul. Sudah cukup, kan? Masih kurang sakit? Masih perlu diulang lagi? .

Untuk yang lain yang tidak merasa terlibat masalah ya kesempatan beramal untuk mendamaikan yang lagi bersitegang. Amar ma’ruf nahi munkar kalau istilah kerennya hehe.

Waktu tak akan selalu berpihak pada kita. Bagaimana bila takdir tak mengizinkan kita bertemu besok? Sementara urusan sesama manusia harus selesai di dunia.

Saya tidak tahu ya perkembangannya seperti apa. Atau mungkin banyak kata-kata dari Panci tentang saya, mohon kebesaran hati dari saudari-saudariku yang cantik dan baik hatinya untuk memaafkan. Sekali lagi, saya enggak bilang Panci bohong. Ya siapa tahu ada yang benar. Maafkan saya. Maafkan Panci.

Panci tidak sempurna. Dandang juga tidak. Saya apalagi, mulut silet boooo hahahahaha. Dan kalau kalian menengok ke dalam kaca dan bercermin, kalian pun akan mendapati hal yang sama .

***

Satu musuh terlalu banyak. Sejuta teman takkan pernah cukup.

Saya tutup dengan lirik lagu favorit dari band jadul ini hehehe…

“Adakah waktu mendewasakan kita
Kuharap masih ada HATI BICARA
Mungkinkah saja terurai satu persatu
Pertikaian yang dulu bagai pintaku
Semoga 🙂”

friends posting