Di mana Membeli Abaya Madinah yang Murah?

Sebagai alumni Jeddah, walaupun jauh dari kata fashionable, boleh dong membedah soal abaya Madinah di sindang hehehe. Di mana membeli abaya?

Abaya Arab itu apa? Langsung dikasih foto :D. Ini foto para madam di Jeddah sono hihihi. Karena abaya arab saya kurang kece jadilah saya kesampingkan hasrat narsis dengan memasang foto-foto teman-teman sajahhhh :D.

membeli Abaya

Membeli Abaya ?

Kalau yang dicari yang murah. Saat ke Madinah, langsung saja borong abaya. Salah satu tempat yang cukup terjangkau secara lokasi adalah Taiba Market.

Terus terang, saban ke Madinah, saya enggak pernah belanja-belanja. Tapi eike sukses mengulik-ngulik info dari Madam Jeddah yang doyan bolak balik Madinah. Maklum suami punya keluarga di sana ya, Neng.  Kenalin Madamku yang cantik ini, Neng Niera Purnama. Punten Neng, kutulis di blog ya hihihihi.

Geulis pisan, yaaaaa hehehe. Si Eneng juga terkenal dengan abaya-abayanya yang modis-modis ;). Tak salah dong eike memilih informan eh…inforwoman harusnya ya :P.

membeli Abaya

Taiba hotel & market

Lokasinya ada di dekat Hotel Hilton dan Dar Al Aiman Intercontinental. Nama gedungnya, “Taiba Tower.” Kalau sudah masuk, langsung saja ke lantai bawah dengan menggunakan eskalator.

Begitu sampai, langsung disambut jajaran pedagang. Jualannya macam-macam, dari sajadah, baju thobe (baju laki-laki khas Arab yang bentuknya gamis dan biasanya berwarna putih itu), aneka sorban, mainan anak-anak, macam-macam penganan termasuk permen coklat, aneka kurma kemasan dan tentu saja…abaya :).

Abaya di Taiba Tower ini terkenal dengan istilah “Abaya Arba’in”. Belajar bahasa arab sedikit, yuk. Arba’a artitnya 4. Jika ditambah akhiran ‘in’ maksudnya 40. Tapi kalau satu = wahid, bukan berarti 10 = wahidin yaaaa, hahahaha. Angka sepuluh dalam bahasa arab itu = Asara :).

Balik lagi ke si “Abaya Arba’in”. Maksudnya 40? 40 riyal? Iya, Kakaaaa ^_^ *tepukTanganRameRame*. Abaya-abaya di sana kebanyakan dijual dengan harga 40 riyal saja. Kalau tak salah, di  kurs terkini, 1 riyal = 3 ribu rupiah, ya.

Tidak cuma yang harga 40 riyal, sih. Konon, harga maksimal bisa mencapai 200 riyal. Nah, ini juga tergolong murah sebenarnya. Kalau di Jeddah, di jajaran Tahliya Street yang borju, membeli abaya Sehelai saja bisa mencapai ribuan riyal *sesakNapas*.

Tapi, jangan lupa. Ada harga ada rupa :P. Yang harga-harga 40-60 riyal ini kualitasnya tak begitu bagus. Ada teman yang sampai bilang, “Sekali pakai buang.” Hahaha. Enggak segitunya, kok. Mungkin karena kami di Jeddah sehari-harinya ya harus pakai abaya, makanya beli yang kualitasnya agak bagus lah ;).

Kalau hanya untuk oleh-oleh, bolehlah diborong ini si “Abaya Arba’in” hehehe. Corak dan motif juga kece-kece, kok.

Kata si Eneng, suasana belanja di Taiba Market lantai bawah itu cukup nyaman. Full AC yang jelas, sih. Kalau lapar dan haus, bisa ngumpulin tenaga dengan menikmati banyak makanan dan minuman yang dijajakan oleh pedagang-pedagang di situ. Eit, jangan belanjanya saja yang kuat, ibadahnya juga harus “pancen oye” dong, ya ;).

Pokoknya sekarang sudah tahu di mana membeli abaya :D.

Pakai (Bukan) Hitam … Siapa Takut? 

Yap, abaya tak mesti hitam polos. Malah ada juga abaya yang motifnya lumayan ramai. Lihat saja madam-madam di bawah ini. Motif polkadot sampai abstrak, komplit, plit, plit :D.

membeli Abaya arab abaya saudi terbaruQueen’s Building – Balad

Biasanya, kami, para pemukim Saudi, belinya lebih suka yang rata-rata harganya di atas 70 riyal lah. Biasanya kalau harga segini kualitasnya sudah cukup mumpuni.

Tempat favorit saya dan teman-teman ada di Queen Building’s di daerah Balad. Jadi, kalau dari Corniche Commercial Center, pusat pertokoan yang paling sering disambangi oleh jemaah umrah/haji asal tanah air, lokasi gedungnya di belakang.

Dekat lah pokoknya dari sana. Bingung eike nerangin arah, nih hihihi. Pokoknya tanya-tanya sajalah sama orang-orang sana hihi,”Fen Queen’s Building?” (Di mana Queen Building?). Sumpah booo, dekat banget dari lokasi belanja-belanja Balad yang sudah tenar di tanah air itu.

Penjual abaya ada di lantai dasar dan lantai atasnya. Kalau saya senangnya ke lantai atas itu. Modelnya buanyak banget. Sampai pusing, deh, kalau ke sana. Harganya rata-rata 120-150 riyal. Yang di luar range juga banyak, sih. Tapi, kalau saya pasti mentoknya di harga segituan ajah hihihi.

Nah, salah satu abaya arab yang pernah saya beli di QB adalah yang satu ini :D.

membeli Abaya Madinah
Bareng Tante Nel di Masjid Apung, Corniche Road

Sebenarnya di seputaran Balad, juga banyak sekali tempat-tempat menjual abaya yang tak kalah caemnya dengan harga sangat bersaing :D. Tinggal kuat-kuatnya betis saja diajak jalan-jalan tawaf di Balad :P.aja.

Sekian dulu liputan dari Saudi. Next jalan-jalan pastinya akan kembali dari ranah Irlandia lagi. Ganti-gantian gituuuuu :P.

Abaya Madinah

Eh sebelum itu, saya doakan semoga mendapat rezeki dan kesempatan untuk mengunjungi Tanah Haram :). Setelah ibadahnya dijalani, tentu saja … semoga mabrur dan selamat berburu abaya hehehehe :P.

Jangan lupa subscribe juga ya ke channel youtube saya di sini ^_^.

Ini beberapa vlog saya terkait Arab Saudi, sayang dulu jarang bikin video pas masih tinggal di Saudi. Belum musim sih ya hehehe. Jadi vlognya kebanyakan berupa photo slides saja :).

https://www.youtube.com/watch?v=9hNlteTiEKk

Tumbuhan Cinta Yang di Ladang Kita

Sejak kecil, sudah kepengin go internesyenel macam Kakak AgnesMo gitu deh, hihihi :p. 

Waktu kecil, saya suka membaca buku-buku dongeng terjemahan. Ceritanya, sih, biasa-biasa saja. Tapi saya menikmati gambar-gambar yang menjadi latar dalam buku cerita tersebut. Rumah-rumah kecil bercerobong asap bercat warna-warni pastel. Halamannya luas berumput hijau dengan bunga-bunga aneka warga. Ikut membayangkan rasanya hidup di sana. 

Tak salah bila buku disebut-sebut sebagai “jendela dunia.” Dari serial anak-anak yang kebanyakan ditulis oleh Enid Blyton, saya ikut-ikutan menghafalkan mata-mata uang yang disebut-sebut dalam bukunya … penny, pounds, shilling, pence dsb. 

Salah satu serial favorit di bangku SD itu adalah masa-masa kecil dari Darrell Rivers saat mulai bersekolah. Keenam seri bukunya selalu membuat khayalan saya terbang nun jauh ke Malory Towers, tempat Darrell menghabiskan 6 tahun sekolah dasarnya.

Internet, Jendela Dunia Modern

Walau sekarang saya tetap menggenjot semangat anak-anak untuk membaca buku, tapi era digital memperkenalkan jendela dunia terkini … internet :).

Di rumah, kegiatan bersama anak-anak tidak hanya diisi dengan bermain lego atau membaca macam-macam literatur tentang Dinosaurus (kedua jagoan kecil saya ngefans banget sama binatang purba ini hehehe). Saya suka menemani anak-anak berselancar di dunia maya.

Bertiga, kami duduk, selonjoran atau nongkrong di depan notebook. Kadang, sambil menonton harus sibuk menjelaskan ini itu pada mereka. Saya senang menunjukkan hal-hal yang berkaitan dengan suku Minang dan Bugis. Anak-anak besar di Jakarta, mana mengerti daerah asal ayah dan ibunya kalau bukan kami yang getol mengajarkan kepada mereka ;).

Tak cuma ‘menjelajahi’ nusantara, sesekali mengintip dunia anak-anak dari negara-negara lain via video-video yang bisa diakses di beberapa situs.

Terima kasih kepada internet. Media pembelajaran lebih bervariasi, tidak hanya mengandalkan buku. Anak-anak pun tidak cepat bosan.

Kami menikmati internet via notebook dan bisa di mana saja. Kalau di atas meja agak saya hindari, suka keenakan dan jadinya susah mengalihkan perhatian mereka dari internet.

Punya 2 anak laki-laki, siap-siap saja dengan drama berantem hampir tiap hari. Kalau tak  mempan dilerai dengan bujukan biasa, internet kembali beraksi hehe. Dialihkan perhatiannya.

Biasanya kalau situasi begini, anak-anak mengambil kesempatan karena tahu mamanya lagi berusaha membujuk. Mereka kompak minta acara notebook-an di atas sofa. Hadeuh…anak-anak -_-.  Baru saja meributkan sebuah boneka dinasaurus, mendadak kompak ngerjain mamanya. Hahaha.

Kalau di atas sofa, seperti saya ceritakan di tulisan yang lalu, kaki pegal menahan notebook di atas paha. Belum lagi kalau mereka merengek minta pindah ke kamar. Di atas tempat tidur, jika notebook digeletakkan begitu saja, alamat bakal berantem lagi. Masing-masing berusaha menguasai keyboard.

Pertaruhan Setiap Ibu 

Saya beruntung bisa terus bersama anak-anak di hampir sepanjang hari. Bagaimana kalau seorang ibu yang harus jauh dari keluarga, ya?

Seperti beberapa teman saya yang melanjutkan sekolah ke luar negeri yang tidak bisa memboyong suami dan anak-anak. Juga teman-teman lain yang harus ke luar kota atau ke luar negeri untuk urusan kantor dan pekerjaan.

Seperti yang selalu saya yakini dan saya tuliskan di banyak kesempatan...every Mom has her own battle :). Hidup ini tidak hitam putih. Begitu banyak mimpi dan harapan serta cara tiap ibu untuk bahagia.

Bukan egois. Simpel saja. Bagaimana mau menumbuhkan cinta di ladang kita untuk suami dan anak-anak kalau tanah tempatnya tumbuh malah gersang?

Mustahil membahagiakan orang lain jika kebahagiaan diri sendiri tak dijaga. Warna-warni cara yang dipilih untuk terus merawat tanah tempat dimana cinta akan bertumbuh. Tanah yang subur akan membuat benih-benih tumbuh sempurna.

Makanya, kurang tepat jika ada istilah untuk sebagian ibu yang dinamakan “Full Time Mother.” Memangnya ada part time mother? Hehehe. Jika kita masih terusik dengan pilihan sendiri dan berusaha untuk memperoleh pengakuan dari orang lain, itu sama saja dengan mempertontonkan ketidakpercayaan diri kita atas pilihan yang telah diambil. Don’t! Berhenti saling merasa yang paling benar :).

Ketika seorang anak telah lahir ke dunia, seorang ibu pun resmi dilahirkan. Siap tidak siap, separuh hati ibu telah tersisih untuk mereka. Mau ibu bekerja di kantor, mau ibu yang memilih berbakti di rumah, mau ibu pelajar, semua keputusan yang lahir akan bermuara dengan pertimbangan si separuh hati tadi. Semuanya, tanpa kecuali.

When you are a mother, you are never really alone in your thoughts. A mother always has to think twice, once for herself and once for her child.
-Sophia Loren –

***

To The Grand Finale!

Jadi, begini toh yang namanya musim gugur. Hehehe. Angin kencang di hampir sepanjang hari selama dua minggu terakhir ini. Dalam satu hari, cuaca bisa sangat moody.

Sejam diguyur hujan lebat, sejam kemudian sangat terik (cerah doang, hawanya mah tetap di bawah 15 derajat), lalu sejam lagi kembali angin kencang plus hujan rintik, lalu berubah menjadi hujan yang jauh lebih ganas. Eh, enggak lama, mendadak terik dan hujan berhenti sama sekali. Serasa langit di atas kota Athlone terkena sindrom PMS. Hahaha.

Kalau angin kencang datang, daun-daun berhamburan jatuh dari atas pohon-pohon yang berjajar di seberang sungai. Nyaris sudah tidak yang warnanya hijau terang. Kalau enggak hijau butek, kekuningan, orange, bahkan ada yang berubah menjadi warna merah.

Sumpah, keren banget. Saban hari merengek ke suami minta difoto di bawah pohon-pohon yang daunnya sudah berserakan di atas tanah. Suami selalu menjawab, “Gila lu, dingin-dingin begini, sering hujan pula, minta foto di luar. Masak sana!” Hahaha.

Musim gugur memang sangat dinanti-nanti…oleh saya maksudnya hihihi. Puluhan tahun hidup di daerah tropis yang hanya kenal kalau enggak kemarau ya musim hujan , pasti kepo dong sama yang namanya musim gugur. Kalau sama salju sudah musuhan hahaha. Badan pantaiku ini sungguh tak sanggup berdamai dengan musim dingin .

Thanks to Food Combining yang membuat stamina tubuh meningkat pesat . Sedingin apa pun, yang namanya masuk angin belum pernah sukses merontokkan daya tahan tubuh . Padahal dulu, suhu panas saja bisa mendadak mual dan kembung coba. Hadeuuhhh .

Melihat situasi di musim gugur dan musim dingin, wajar sekali kalau orang-orang di sini noraknya minta ampun kalau musim panas hehe. Jalan-jalanan penuh saat matahari bersinar sangat terik. Kapal-kapal yang parkir di belakang apartemen, bisa menjadi godaan tersendiri buat suami saya hihihi. Cewe-cewe abegeh berbikini biasanya kumpul-kumpul di atas kapal sambil berjemur saat musim panas menjelang. Pas bulan puasa pula puncak musim panas tahun ini hahaha.

Musim semi juga begitu. Aduh, waktu baru datang, saban lihat pekarangan orang yang banyak bunga-bunganya, saya selalu ribut minta difoto sama suami. Suami suka marah-marah, “Lu ini bukan turis! Lu bakal tinggal di sini. Jangan norak nape?”

Tapi saya, sih, sampai sekarang, kalau menyusuri tepian Sungai Shannon, melihat bebek dan angsa berbaris, burung-burung camar sesekali berkelebat ramai-ramai di udara, rasa noraknya tidak berkurang sedikit pun. Hehehe. Terima kasih Tuhan, diberi kesempatan melihat yang begini-begini yang sedari kecil didamba-damba kala masih tinggal nun jauh di tepian Pantai Losari .

Musim gugur memang identik dengan kemurungan. Muram sekali rasanya, ya. Makin drama dengan suhu yang mulai dingin, daun-daun jatuh berguguran, warna-warna alam berganti menjadi coklat-orens-kuning.

Seperti musim yang terus berputar, begitu juga kehidupan kita selama menginjak bumi *tsaaahhh*. Dikit lagi jadi puisi ini hahaha.

Saya ingat, pertama kali datang ke Jeddah dan ingin membunuh rasa kecewa yang sudah bercampur dengan sepi dan bete dengan membuat kegiatan yang menyenangkan. Waktu itu, daripada stres melihat kaca jendela yang dibuat buram, lagian apa juga yang mau dilihat di luar , saya manfaatkan koneksi internet yang super ciamik dibanding koneksi di tanah air. Yang kalau lama-lama bisa bikin orang yang kesabarannya tipis kayak saya tidak tahan untuk menghajar laptop berkali-kali hahaha. Daripada rusak, ya enggak usah online sekalian .

Begitulah awal mulanya terpikir soal blog Mama Sejagat. Hanya Tuhan yang tahu susahnya mencari kontributor waktu itu hehehe. Saya kaget waktu ada orang yang menuduh saya hendak mencuri tulisan-tulisan di blognya. Santai, Mama. Saya selalu menuliskan nama kontributornya, kok. Walaupun tulisannya biasanya saya edit mati-matian. Begitu pun dengan foto-fotonya (kadang-kadang).

Blog komunitas tapi single fighter. Saya enggak berani menuntut lebih kepada kontributor yang lain. Lagian tak ada honor yang berani saya berikan. Cuma iseng-iseng saja hehehe. Suami suka ngeledek, “Subuh-subuh sudah bangun. Sibuk sendiri depan laptop. Mending kalau ada duitnya.” Hehehe.

Tapi ya gimana, saya senang, euy. Hehehe. Padahal saya sudah lama punya blog sendiri. Tapi memang di blog pribadi dulu enggak niat untuk publikasi. Murni curhat lokal hahaha. Melalui Mama Sejagat, saya belajar banyak tentang cara agar blog kita hitsnya bertambah, cara mendaftarkan blog di search engine. Macam-macamlah. Serius sekali mbak kita ini, padahal sorangan wae, duit pun tak ada. Hahaha.

Kadang suka kesal, sudah berhari-hari, kontributor enggak ada yang mengirim tulisan. Memaksa saya untuk bergerilya lagi, SKSD sana sini cari-cari orang yang kira-kira mau berkontribusi untuk Mama Sejagat. Anak bungsu masih kecil sekali waktu itu, jadi ya, waktu ngeblog hanya tengah malam atau subuh-subuh, saat semuanya masih pada teler di tempat tidur hehehe.

Eike sudah berlatih hidup tanpa embak dan tak pernah terpikir lempar-lempar cucian ke binatu. Padahal kondisi di Jeddah dan pundi-pundi suami sangat-sangat memungkinkan hal ini terjadi. Dalam hati, sudah siap-siap mana tahu suatu hari harus mangkal di negara-negara maju yang tidak kenal bibik dan laundry mahal. Hahahahha. Untung beneran tinggal di Eropa, kalau tidak, sia-sia itu ‘latihan’ di Jeddah hahahha.

Setahun pertama menyumbangkan kemampuan menulis untuk blog gratisan semacam Mama Sejagat bagai ‘musim gugur’ saking itu blog kok kayaknya enggak tenar-tenar juga, ya. Hahahaha. Untungnya selalu hepi dalam menjalani, jadi ya, tenar enggak tenar, yang penting batin puas .

Belakangan, ada Isti dari Kurdistan yang sangat tertarik menulis di sana. Dan semoga sanggup melanjutkan tongkat estafetnya, ya. Hehehe. Terus terang, saya sudah punya banyak keinginan lain dimana Mama Sejagat tidak masuk dalam prioritas utama lagi. Jadi Mak Isti, kupercayakan padamu, ya . Saya sih tetap ingin menjadi kontributor tapi ingin melepaskan diri dari embel-embel ‘pimpinan’ .

Siapa tahu anak-anak sudah besar-besar dan mandiri, Mama Sejagat masih ada, pasti akan saya perjuangkan kembali seperti dulu saat pertama memulai pondasinya, 2 tahun yang lalu.

Tak saya sangka, setahun terakhir updatenya pas-pasan, blog ini diliput oleh sebuah koran lokal. Mendadak dapat banyak DM di twitter hehehe. Terharu juga, ya. Jerih payah yang dulu disumbangkan untuk membesarkan Mama Sejagat mulai ada sedikit penghargaan. Walau di luar cuaca musim gugur masih kental, dalam hati berasa musim semi melihat timeline hari minggu kemarin hehehe. Norak, norak, norak 😛.

Pikiran Rakyat, Minggu 3 November 2013
Pikiran Rakyat, Minggu 3 November 2013

Jadi, jerih payah memang pasti akan berbayar. Mau setahun, dua tahun, eventually…pasti akan ada hasilnya . Sekarang, aduh, sampai meluber komentar di blog yang bersedia jadi kontributor. Hajar, Mak Isti hehehehe.

Musim semi tengah menghampiri Mama Sejagat. Mungkin nanti bakal ada-ada lagi episode musim gugurnya. Tapi abis itu masa senang-senangnya juga akan datang silih berganti.

“Fall has always been my favorite season. The time when everything bursts with its last beauty, as if nature had been saving up all year for the grand finale.” -Lauren DeStefano, Wither-

Seperti musim, tahun pun terus berganti. Hari ini, seluruh umat muslim akan kembali memasuki pergantian tahun . Selamat Tahun Baru Hijriyah. Apa resolusi tahun baru teman-teman? .

Kalau tahun yang akan segera kita sudahi ini lebih banyak empet-empetnya daripada senang-senangnya, jangan gentar! Siapa tahu, episode musim gugur yang dituliskan untuk perjalanan tahun yang akan berlalu akan dibayar dengan cantiknya pencapaian di tahun baru nanti. Iya, kan? Jangan-jangan musim semi tengah menanti di 1435 H nanti.

Pokoknya tetap semangatlah. Jangan terlalu letop menghadapi lingkungan. Jangan berani-berani menyalahkan perputaran dunia.

“Life asks no question, it goes on without you. Leaving you behind if you can’t stand the pace.” (Desree – You Gotta Be)

Ikhtiar jalan terus, doa tak akan terputus. Begitulah konon kombinasi dari usaha terbaik seorang muslim dalam menaklukkan dunia .

Selamat tahun Baru 1435 H ^_^. Stand the pace, Buddies ;).

***

Yang Gugur … Akan Selalu Kembali Bersemi

Di hampir semua daratan Eropa, musim gugur tengah merekah. Daun-daun mulai terhempas ke tanah, angin kencang melanda hampir tiap hari, udara dingin mulai menyapa. Bbrrrr….

Tak Peduli Musim Apa, Kehidupan seorang emak ya gitu-gitu aja hihihi

Memangnya kenapa kalau musim gugur? Enggak ngaruh!

Iya, kan? Mau musim hujan, musim kemarau, musim gugur, musim kawin sampai musim duren, seorang ibu tetaplah seorang ibu :D. Yang tiap hari harus sibuk mengurusi ranah domestik kasur-sumur-dapur plus kehidupan sosial di luar rumah.

Saya ingat cerita seorang teman, sesama emak-emak yang juga gemar mencari peruntungan dari hobi menulis. Dalam blognya dia bercerita ingin  menghadiri suatu event yang kebetulan juga mengadakan lomba live tweet.

Beneran, lho. Si emak ini nekat menggotong notebooknya ke acara. Dia kurang nyaman kalau harus mengetik dengan frekuensi tinggi dan cepat jika hanya menggunakan ponsel. Sama seperti saya, dia juga tak bisa jauh-jauh dari notebook dalam urusan menulis. Sekadar update status di media sosial pun, ponsel tetap dibebastugaskan.

Sudah terbayang repotnya itu menenteng tas gede ke mana-mana. Kalau saya, mungkin sudah ogah duluan. Enggak apa-apa, deh, kalau disangka lebay soal penampilan. Ya, namanya juga perempuan.

Saya punya satu tas favorit. Ukurannya lumayan besar. Sayangnya, tak bisa digunakan untuk  benda-benda berat seperti notebook yang saya pakai sekarang. Walau tak modis-modis amat, soal tas selalu menjadi perhatian tersendiri :).

Penampilan tak bisa dipandang enteng. Mood saya juga kadang tergantung outfit, euy :P. Bagi perempuan, tak ada kata mati gaya ;). Saya pribadi menganggapnya lumrah. Asal dalam batas kewajaran. Ingat, modis tak selalu berarti mahal.

Di Rumah? Tak Kalah  Hebohnya

Jangan salah, seharian di rumah juga ada saja yang harus dilakukan. Selain aktivitas rutin di ranah domestik, anak-anak kadang ingin terus ditemani. Harus pintar-pintar mengakali agar mereka tidak rusuh saat saya tengah dikejar deadline dalam urusan tulis menulis.

Seringnya, kedua anak saya ditemani bermain sebentar dulu. Tak lama, dilepas bermain berdua juga tidak masalah.

Tapiiiii…sering juga, begitu melihat saya duduk depan mengetik depan notebook, langsung cari perhatian. Kalau dibiarkan duduk bareng depan meja, bisa keenakan mereka pakai notebook.

Jadi, saya ajak notebook-an di atas sofa.

Pegel -_-. Notebook tebal dan berat
Pegel -_-. Notebook tebal dan berat

Kalau di atas sofa, nanti pelan-pelan diarahkan untuk bermain yang lain dan mandiri. Kadang lumayan lama, kruntelan sama-sama di atas sofa. Kalau saya sukses mengalihkan perhatiannya ke hal lain, saya bisa curi-curi kesempatan menyelesaikan tulisan.

Notebook saya taruh di atas paha. Hadeuh, beraaat -_-. Pegal kalau lama-lama. Kalau sudah pegal, kembali notebook ditaruh di lantai. Nah, sama seperti kalau ditaruh di atas meja, kalau di lantai, anak-anak suka keenakan. Bisa gagal ini acara mengejar deadline. Deadlinenya sih tidak berarti urusan per-duit-an semata.

Kadang, menulis ringan saja bisa jadi deadline buat saya hahahaha :p. Si Lebay satu nih *toyorKepalaSendiri*.

bertiga final

They Don’t Always Happen When You Ask 🙂

Sudah kurang aktif apa kita sepanjang hari. Kesempatan pun telah kita terabas. Peralatan tempur sudah paling kece. Luar rumah, dalam rumah, hajar bleh!

Namun, kadang…hari sudah hampir usai. Usaha kita seolah tak terbayar.

Entah tulisan gagal diselesaikan. Yaeyalah, facebook-an melulu, kali. Hahaha. Entah anak-anak lagi susah disuapi, jadi makin susah mau menyelesaikan tulisan yang kepepet untuk lomba blog yang deadlinenya sudah mepet.

Iya, dengan semua usaha keras yang telah dikerahkan, rencana tak selalu terpenuhi. Tapi apa iya, semua keinginan harus terkabul?

Sekalian saja minta sepanjang tahun adalah musim semi kalau begitu :D. Tapi, ingat. Cantiknya musim semi tak akan terasa tanpa meranggasnya daun-daun di musim gugur. Hangatnya mentari musim panas tak akan ditunggu-tunggu bila tak ada salju yang membuat kita menggigil di sepanjang musim dingin.

Bila hari telah di ujung malam, taruh rapi-rapinotebook di atas meja kembali. Tutup notebooknya. Saatnya istirahat. Bukan berarti kita menyerah dan keberanian sudah menguap.

Courage doesn’t always roar. Sometimes courage is the quiet voice at the end of the day, saying, “I will try again tomorrow.” -MA Radmacher-

Kita sudah melakukan yang terbaik hari ini.

Istirahatlah. Masih ada hari esok ;).

Seperti hujan yang pasti akan berhenti, badai yang akan berlalu, daun-daun yang gugur pun akan kembali tumbuh di musim semi nanti :). Begitulah kehidupan sehari-hari akan terus berputar. Jangan terlampau terpengaruh saat cobaan yang menghampiri. Katanya sih, “Every cloud has a silver lining.” Setelah kesedihan akan ada kebahagiaan.

Lagipula, apa serunya jika semua yang kita mau langsung terwujud?

Bersyukurlah karena kita tidak memiliki semua yang kita inginkan, karena jika iya, apalagi yang hendak kita cari? -dailynomous-

***

#DearSon, Fly Abandonedly into The Sun

Nabil & Narda (in their baby pose :D)
Nabil & Narda (in their baby pose :D)

***

Memiliki anak laki-laki memang berbeda dengan anak perempuan. Kata ibu mertua, anak perempuan itu sedari kecil sudah bisa dimintai tolong. Misalnya punya adik, kakak perempuan sudah punya inisiatif mengambilkan diaper pengganti saat acara ganti popok. Kalau dibiarkan bermain berdua dengan adik laki-lakinya, naluri si kakak perempuan akan otomatis menjaga adiknya.

As for me, tidak masalah :D. Laki-laki, perempuan, sama saja. Melahirkan anak pertama dan kedua, sejak dalam kandungan, saya tidak pernah berharap jenis kelamin tertentu. Di USG pada trimester ke-2, baik kehamilan pertama dan kedua, saat dokter memberitahu jenis kelamin si janin, rasa bahagianya tetap maksimal ^_^.

Ada pun bila kedua bocah laki-laki saya ini menguras energi mamanya lebih banyak, tidak masalah juga. Panjang lebar tentang ini sudah pernah saya bahas di postingan yang ini, “Because One Day Mommy, I Won’t be This Small.”

Suami saya mengaku. Dia mengharap anak perempuan agar katanya kalau kami sudah tua nanti, ada yang menjaga. Hehehe. Kok sudah diniatin dari sekarang, sih, Bang? :P.

Tapi, alasan suami masuk akal juga. Saya langsung berkaca tidak sebatas kepada ‘rumit’nya hubungan saya dan ibu mertua saya, tapi terhadap hubungan antara mertua perempuan dan menantu perempuannya. Menyadari saya punya 2 anak laki-laki, seketika langsung terpikir, “Sooner or later, my time will come .”

Mama dan anak-anak

***

#DearSon, hamil kalian berdua sama-sama tidak mudah buat mama. Kecele dengan istilah ‘morning sickness’. Because in fact, rasa mual menyerang tidak hanya di pagi hari, tapi di sepanjang hari! Kompak sekali kalian :D. Membuat mama kewalahan dari minggu ke-5 hingga minggu ke-17. Belasan minggu yang penuh ‘warna’lah pokoknya.

Belum lagi ‘persaingan terselubung’ penuh ‘drama’ dengan sesama mama-bunda-ibu lainnya yang tanpa sadar terus berlangsung. Mulai dari masa menyusui (ASI vs sufor), masa MPASI (buatan atau alami), memilih diaper (disposable atau clodi ramah lingkungan yang harganya tidak ramah itu huhuhu :P), jadi SAHM atau WM, etc, etc, etc. Siapa bilang menjadi mama itu murni urusan pribadi, Nak? :P. Therefore, help your wife to get thru this someday, ya ;).

Lalu, ketika kalian masuk sekolah, profesi mama otomatis bertambah. Dari yang tadinya sebagai perawat dan koki, mama harus memainkan peran baru sebagai seorang guru. Aduh, mata pelajaran kalian lumayan berbeda dengan masa kecil mama dulu. Susah, euy. Bahkan kurikulum negeri bule sekarang pun bikin mama lagi-lagi kecele. Kata siapa kurikulum bule enggak seribet di tanah air? :D.

Lalu, kalian akan abege dan remaja, makin sibuklah mama jadi satpam. Hingga akhirnya, kalian akan dewasa kemudian … jatuh cinta kepada perempuan lain.

three

Lalu, kalian akan menikahi pujaan hati kalian dan mengayuh biduk kecil kalian, perlahan menjauhi kami, mama dan papa. Disitulah mungkin mama akan mempertaruhkan rasa keikhlasan mama. Karena mama juga manusia biasa dong, ah.

Masa iya, setelah susah payah merangkai kalian hingga suatu hari menjadi sehebat yang kalian bisa, mama bisa santai-santai saja ketika tiba saatnya harus berbagi cinta dengan perempuan lain. Apalagi jika ternyata, perempuan itu berbeda dengan yang mama harapkan.

Di titik inilah, mama akhirnya sadar, “Apa yang kau tanam itu yang kau tuai.” Mama seharusnya harus pandai-pandai mempersiapkan diri. Dimulai dengan, menjalin hubungan baik dengan oma kalian, mamanya papa :D. Mungkin semua kekhawatiran mama masih dalam angan-angan, sementara oma sudah harus berhadapan langsung dengan kenyataan itu .. sekarang.

***

#DearSon, mama juga ingin mempersiapkan yang lain. Dari sekarang, mama mati-matian menjaga kesehatan. Sejak awal tahun ini mama serius menjalani pola hidup sehat ala food combining. Tidak semata-mata karena mama ingin sekeren Angeline Jolie (hihihihi), tapi lebih ke alasan kesehatan. Mama ingin tetap bugar di masa tua nanti agar kalian tak perlu mengkhawatirkan mama :).

Foto TUM3

Maafkan mama juga ya, kalau suka kebablasan di depan laptop :P. Walau mama melepaskan karier di kantor tapi tidak ingin mengabaikan kebahagiaan mama sepenuhnya. Mama serius menjalani hobi menulis mama agar di masa tua nanti mama punya kesibukan. Untuk mencegah mama menghabiskan  hampir sepanjang waktu melirik layar ponsel berharap kalian menelepon mama. Dan kalau kalian tidak menelepon, mama takut mama akan berprasangka buruk pada istri kalian.

#DearSon, mama percaya, tak ada kebahagiaan yang bisa mama bagikan untuk kalian bila mama sendiri kesulitan berdamai dengan kebahagiaan mama sendiri. Tapi tenang, sekarang ini, kalian adalah prioritas mama. Tanya sama papa, deh ;). Sebesar apa pun cinta mama untuk kalian, mama minta sedikit pengertian bahwa mama ini tidak sempurna-sempurna amat. Sekali-sekali stres kalau mau ikut lomba blog atau menulis naskah pesanan. Hahaha.

_MG_2571

Biar kelak kalian bisa membanggakan mama di hadapan istri kalian, di depan cucu-cucu mama, “Eh, Nenek itu penulis ternama, lho. Keren ya Nenek. Udahlah langsing dan sehat, jago menulis pula.” Aduh, mama narsis sekali, ya hihihi.

#DearSon, walau sedari sekarang mama berusaha keras memupuk rasa ikhlas dan mempersiapkan diri jika saatnya kalian berlayar di dunia kalian masing-masing, sadarilah. Mungkin di saat itu, sekali-sekali mama akan cemburu atau iri. Sekali lagi, mama manusia biasa :).

But I’ll do my best ;). Untuk membiarkan kalian menjadi yang kalian mau, memilih jodoh yang kalian inginkan, mengikhlaskan apa pun jalan yang kalian pilih, semata-mata karena cinta. Yang konon katanya, “Cinta itu berarti sanggup melihat orang yang kita cintai bahagia walau kita tidak termasuk dalam kebahagiaan itu.”

Tapi mama yakiiiiiin sekali. Cinta kita, antara mama dan kalian, selamanya akan memiliki tempat khusus di hati kita masing-masing. Tempat yang tidak akan terganggu walau kita tak akan bersama dalam satu atap lagi. Suatu hari nanti.

negeri paman syam

#DearSon, pada akhirnya mama mengambil kesimpulan bahwa membesarkan kalian seperti merawat seekor kupu-kupu. Pas banget dengan lirik lagu Tante Mariah Carey yang satu ini,  “Butterfly” :).

Butuh energi lebih untuk membesarkan kalian dari seekor ulat hingga bersayap sempurna. Untuk akhirnya … terbang dan pergi melanglang buana. Itulah yang memang seharusnya kalian lakukan. Pergilah sejauh yang kalian bisa :). Mama sendiri sangat bahagia bisa mendapat kesempatan tinggal di berbagai tempat. My son, pengalaman adalah harta tak ternilai yang harus kalian perjuangkan hingga sejauh mana sayap kalian mampu menerbangkan kalian :).

Fly my son(s), fly away my butterflies, fly abandonedly into the sun :). Adapun mama akan tetap menjadi mama. Selamanya mencintai kalian, sebesar yang mama bisa :).

Now I understand to hold you

I must open up my hands

and watch you …

Spread your wings and prepare to fly

For you have become a butterfly

Fly abandonedly into the sun

(Butterfly, Mariah Carey)

[youtube=https://www.youtube.com/watch?v=xO0DoCqjdYM]

Proyek #DearSon ini digagas oleh para MakMin dari Kumpulan Emak-emak blogger, tempat kami para emak-emak yang jari-jarinya bawel ini bernaung hehehehe. Sistemnya semacam tongkat estafet.

Saya sendiri ditunjuk sebagai pemegang tongkat pertama langsung dari MakMinnya, Mak Indah. Setelah saya, tongkatnya saya lempar ke Mak yang satu ini nih yang bercerita tentang Mas I’am nya di sini :). Monggo dicek langsung ke TKP :D.

***